Anda di halaman 1dari 7

NAMA

: DIAH NURLAILI

NIM

: 7101412175

PRODI

: PENDIDIKAN AKUNTANSI B 2012

KONSEP LABA (INCOME)


A. PENGERTIAN LABA
Laba merupakan selisih pengukuran pendapatan dan biaya. Menurut IAI dalam
Konsep dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (IAI, 1994),Income
(Penghasilan) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam
bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang
mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari konstribusi penanam modal
(paragraph 70).
Fisher (1912) dan Bedford (1965) menyatakan ada tiga konsep laba yang umum
digunakan dalam ekonomi, konsep laba tersebut antara lain:
1. Phychic income, menunjukan konsumsi barang/ jasa yang dapat memenuhi
kepuasan dan keinginan individu.
2. Real income, menunjukkan kenaikan dalam kemakmuran ekonomi yang
ditunjukkan oleh kenaikan cost of living.
3. Money income, menunjukkan kenaikan untuk konsumsi sesuai dengan biaya
hidup (cost of living).
Secara operasional laba akuntansi didefinisikan sebagai perbedaan antara
pendapatan yang direalisasi dari transaksi yang terjadi selama satu periode dengan
biaya yang berkaitan dengan pendapatan tersebut. Belkaoui (1993) menyebutkan
bahwa laba akuntansi memiliki lima karakteristik sebagai berikut:
1. Laba akuntansi didasarkan pada transaksi actual terutama yang berasal dari
penjualan barang/ jasa.
2. Laba akuntansi didasarkan pada postulat periodisasi dan mengacu pada kinerja
perusahaan selama satu periode tertentu.

3. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip pendapatan yang memerlukan


pemahaman khusus tentang definisi, pengukuran dan pengakuan pendapatan.
4. Laba akuntansi memerlukan pengukuran tentang biaya dalam bentuk cost
historis.
5. Laba akuntansi menghendaki adanya penandingan antara pendapatan dengan
biaya yang relevan dan berkaitan dengan pendapatan tersebut.
B. TUJUAN PELAPORAN LABA
Tujuan pelaporan laba adalah untuk menyediakan informasi yang bermanfaat
bagi pihak yang berkepentingan. Informasi tentang laba perusahaan dapat digunakan :
1. Sebagai indikator efisiensi pengunaan dana yang tertanam dalam perusahaan
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

yang diwujudkan dalam tingkat kembalian (rate of return on invested capital).


Sebagai pengukur prestasi manajemen.
Sebagai dasar penentuan besarnya pengenaan pajak.
Sebagai alat pengendalian alokasi sumber daya ekonomi suatu Negara.
Sebagai dasar kompensasi dan pembagian bonus.
Sebagai alat motivasi manajemen dalam pengandalian perusahaan.
Sebagai dasar untukkenaikan kemakmuran.
Sebagai dasar pembagian deviden.

C. PENGUKURAN DAN PENGAKUAN LABA


Pengukuran terhadap laba merupakan penentuan jumlah rupiah laba yang
dicatat dan disajikan dalam laporan keuangan. Pengukuran besarnya laba
sangattergantung pada besarnya pendapatan dan biaya. Karena laba adalah bagian dari
pendapatan, maka konsep penghimpunan dan realisasi pendapatan juga berlkau untuk
laba. Dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan ,IAI (1994)
menyebutkan bahwa (income) akan diakui apabila kenaikan manfaat ekonomi di masa
mendatang yang berkaitan dengan peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban telah
terjadi dan jumlahnya dapat diukur dengan andl (pragraf 92).
Secara konseptual ada tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur
laba. Pendekatan tersebut adalah pendekatan transaksi, pendekatan kegiatan dan
pendekatan mempertahankan capital atau kemakmuran.
1. Pendekatan Transaksi
Pendekatan transaksi menganggap bahwa perubahan aktiva/ hutang (laba)
terjadi hanya karena adanya transaksi, baik internal maupun eksternal. Transaksi
ekternal timbul karena adanya transaksi yang melibatkan perubahan aktiva/ hutang

dengan pihak luar perusahaan. Transaksi internal timbul dari pemakaian atau
konversi aktiva dalam perusahaan.
2. Pendekatan Kegiatan
Pendekatan kegiatan didasarkan pada konsep peristiwa/ kegiatan dalam arti
luas, tidak dibatasi pada kegiatan dengan pihak luar. Dalam penerapannya,
pendekatan ini merupakan perluasan dari pendekatan transaksi. Hal ini disebabkan
pendekatan kegiatan dimulai dengan transaksi sebagai dasar pengukuran.
Perbedaannya adalah bahwa pendekatan transaksi didasarkan pada proses
pelaporan yang mengukur transaski dengan pihak luar.
3. Pendekatan Mempertahankan Kemakmuran
Dalam pendekatan ini laba diukur dan diakui setelah capital awal dapat
dipertahankan. Dalam konsep mempertahankan kemakmuran, capital disini
dimaksudkan sebagai capital dalam arti kekayaan bersih. Jadi capital diartikan
sebagai kelompok kekayaan tanpa memperhatikan siapa yang memiliki kekayaan
tersebut.
Capital yang digunakan dalam konsep ini adalah capital netto (net-worth)
atau aktiva netto. Laba dapat diukur dari selisih antara tingkat kemakmuran pada
akhir periode dengan tingkat kemakmuran pada awal periode.
a. Nilai (Unit Pengukuran)
Nilai menunjukkan preferensi seseorang terhadap barang tertentu karena
adanya manfaat yang diharapkan dari barang tersebut. Harga pasar dianggap
sebagai nilai yang paling objektif untuk mengukur suatu barang. Secara umum
nilai capital dapat diukur dengan menggunakna cost historis, current cost
maupun replacement cost.
b. Jenis Kapital
Dalam kauntansi, capital secara umum diartikan sebagai aktiva neto, yaitu
selisih antara jumlah aktiva dan jumlah hutang. Laba tidak akan diperoleh bila
jumlah capital awal tidak dapat dipertahankan. Pada dasarnya capital dapat
ditinjau dari dua sudut pandang yaitu finansial dan fisik.
1) Capital Finansial
Capital finansial lebih memusatkan perhatian pada nilai moneter dari
aktiva disbanding nilai hutang. Oaeh karena itu, capital ini menunjukkan
konstribusi pemilik ke dalam perusahaan yang mendanai aktiva tersebut.

Akuntansi konvesional pada dasarnya menggunakan konsep capital


finansial.
2) Capital Fisik
Capital fisik memusatkan perhatian pada kemampuan (sumber-sumber
ekonomi) yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan laba melalui
kegiatan produksi barang/ jasa. Atas dasar capital fisik, capital
menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mencapai tingkat kapasitas
fisik produksi pada akhir periode yang sama dengan kamampuan pada
awal periode. Kapasitas produksi dapat berupa aktiva nonmoneter
dimiliki perusahaan, volume produksi, dan volume penjualan.
Perbedaan utama capital fisik dan capital finansial terletak pada perlakuan
terhadap perubahan nilai aktiva dan hutang dalam penentuan laba. Menurut
konsep capital finansial perubahan nilai aktiva dan hutang merupakan bagian
laba.
c. Skala Pengukuran
Skala menunjukkan seberapa besar informasi yang dihasilkan oleh sejumlah
angka tertentu. Nilai atau unit pengukur yang digunakan dalam akuntansi
melibatkan dimensi waktu. Oleh Karena itu, skala pengukuran alam akuntansi
dapat dibagi menjadi dua yaitu skala nominal dan skala daya beli konstan:
1) Skala Nominal
Unit pengukur ini menggunakan jumlah rupiah (nominal) yang telah
terjadi dan dicatat dalam akuntansi tanpa memperhatikan perubhn daya
beli. Skala ini digunakan dalam model kuntansi konvensional.
2) Skala Daya Beli Konstan
Unit pengukur yang digunakan adalah unit moneter yang nilainya
dinyatakan dalam bentuk daya beli. Oleh karena daya beli uang berubah,
maka unit moneter sebagai indikator nilai ekonomi dari barang juga
berubah.
Kesulitan utama apabila konsep ini digunakan adalah masalah
pengukuran aktiva neto pada awal dan akhir periode. Namun, ada beberapa
metode yang dapat digunakan untuk menilai aktiva neto. Metode tersebut
adalah kapasitas aliran kas harapan, penilaian harga pasar perusahaan, jumlah

setara kas terkini, harga input historis, harga input terkini, dan daya beli
konstan.
D. ELEMEN LABA
Ada dua konsep yang digunakan untuk menentukan elemen laba perusahaan,
antara lain:
1. Konsep Laba Periode (Earning)
Konsep laba periode memusatkan perhatian pada laba operasi periode berjalan
yang berasal dari kegiatan normal perusahaan. Oleh karena itu, yang termasuk
elemen laba adalah peristiwa atau perubahan nilai yang dapat dikendalikan
manajemen dan berasal dari keputusan periode berjalan.
2. Laba Komprehensif (Comprehensive Income)
Laba komprehensif adalah total perubahan aktiva bersih (ekuitas) perusahaan
selama satu periode, yang berasal dari semua transaksi dan kegiatan lain dari
sumber selain sumber yang berasal dari pemilik (FASB dalam SFAC No. 3 dan 6).
Pengertian laba komprehensif adalah hamper sama dengan pengertian laba bersih
yang penyusunannya menggunakan konsep all-inclusive.
Lba periode dan laba komprehensif mempunyai komponen utama yang sama
yaitu pendapatan, biaya, untung, dan rugi. Akan tetapi keduanya tidak sama karena
beberapa komponen tertentu yang menjadi elemen laba komprehensif tidak
dimasukkan dalam perhitungan laba periode. Komponen tersebut adalah:
a. Pengaruh penyesuaian akuntansi tertentu untuk periode lalu yang dialami
dalam periode berjalan diperlukan sebagai penentu besarny laba bersih.
b. Perubahan aktiva bersih tertentu lainnya yang diakui dalam periode berjalan
seperti untung rugi perubahan harga pasar investasi saham sementara, dan
untung atau rugi penjabaran mata uang asing.
E. ELEMEN NON-OPERASIONAL
Kemampuan untuk membedakan elemen operasional dan elemen nonoperasional merupakan upaya penting

yang diperlukan dalam mengevaluasi hasil

kegiatan tahun berjalan dan periode masa lalu dan untuk memprediksi hasil kegiatan di
masa yang akan datang. Elemen non-operasional terdiri dari:
1. Extraordinary Items
Extraordinary items adalah peristiwa atau transaski yang memiliki
pengaruh material, dan diharapkan jarang terjadi serta tidak berasal dari factor

yang sifatnya berulang-ulang dalam kegiatan usaha normal perusahaan. Elemen


laporan keuangan dikatakan sebagai extraordinary items jika memenuhi dua syarat
berikut:
a. Tidak umum (Unusual) artinya peristiwa atau transaksi yang medasari
elemen tersebut harus memiliki tingkat abnormal yang tinggi dan tidak
berkaitan dengan kegiatan normal perusahaan yang berlangsung terus
menerus, sesuai dengan kondisi lingkungan tempat perusahaan menjalankan
kegiatannya.
b. Jarang terjadi (infrequency of occurrence) artinya peristiwa atau transaksi
yang mendasari elemen tersebut merupakan tipe transaski yang diharapkan
jarang terjadi di masa mendatang, sesuai dengan kondisi lingkungan tempat
perusahaan menjalankan kegiatannya.
2. Penghentian Segmen Bisnis
Segmen bisnis merupakan komponen dari entitas yang kegiatannya
menunjukkan lini bisnis terpisah atau berdasarkan kelas konsumen. Kegiatan yang
membedakan segmen adalah kegiatan yang secara fisik dan operasional dapat
dipisahkan dari aktiva lain, hasil usaha, dan kegiatan lain dari entitas pelopor.
Untung atau rugi yang akan diakui dalam segmen ini adalah:
a. Laba atau rugi kegiatan segmen mulai tanggal pengukuran sampai tanggal
pemberhentian.
b. Untung atau rugi penghentian segmen.
3. Perubahan Akuntans
Perubahan akuntansi yang dilakukan perusahaan kemungkinan dapat
mempengaruhi laoran keuangan baik tahun berjalan maupun trend yang terdapat
dalam laporan keuangan komparatif. Perubahan akuntansi dapat dikelompokkan
menjadi tiga jenis yaitu:
a. Perubahan prinsip akuntansi, yaitu perubahan yang terjadi dimana perubahan
memilih metode akuntansi yang berbeda dengan metode yang digunakan
sebelumnya.
b. Perubahan estimasi akuntansi, yaitu perubahan taksiran jumlah tertentu atas
jumlah taksiran yang telah ditentukan pada periode sebelumnya (misalnya
taksiran umur ekonomi aktiva tetap, taksiran piutang tak tertagih).

c. Perubahan entitas pelapor, yaitu perubahan yang berkaitan dengan status


entitas pelapor sebagai akibat konsolidasi, perubahan anak perusahaan tertentu
atau perusahaan jumlah perusahaan yang dikonsolidasikan.
4. Penyesuaian Periode Sebelumnya
Jumlah penyesuaian periode sebelumnya dibebankan atau dikreditkan ke
saldo laba ditahan awal periode. Transaksi/ peristiwa akan diklasifikasikan sebagai
penyesuaian periode sebelumnya jika transaksi/ peristiwa tersebut memenuhi
kriteria berikut ini:
a. Dapat diidentifikasi secara khusus dan berkaitan langsung dengan kegiatan
bisnis periode sebelumnya.
b. Tidak berkaitan dengan peristiwa ekonomi yang terjadi setelah tanggal
laporan keuangan periode sebelumnya.
c. Ditentukan terutama oleh individu selain pihak menejemen.
d. Tidak terpengaruh oleh estimasi yang layak sebelum penentuan tersebut
dilakukan.
Berkaitan dengan perubahan prinsip akuntansi, penyesuaian periode
sebelumnya tetap diperlukan untuk kasus berikut ini:
1) Perubahan metode penilaian persediaan dari LIFO ke metode lainnya.
2) Perubahan metode akuntansi kontrak konstruksi jangka panjang.
3) Perubahan kea tau dari metode full cost untuk akuntansi industry minyak dan
gas.
4) Perubahan dari akuntansi penghentian, penggantian, perbaikan ke akuntansi
depresiasi dalam akuntansi untuk rel kereta api.
5) Perubahan dari metode cost ke metode equity untuk investasi saham.

Anda mungkin juga menyukai