Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hemoroid dikenal di masyarakat sebagai penyakit wasir atau ambeien merupakan
penyakit yang sering dijumpai dan telah ada sejak jaman dahulu. Namun masih banyak
masyarakat yang belum mengerti bahkan tidak tahu mengenai gejala-gejala yang
timbul dari penyakit ini. Banyak orang awam tidak mengerti daerah anorektal (anus
dan rektum) dan penyakit-penyakit umum yang berhubungan dengannya. Anus
merupakan lubang di ujung saluran pencernaan dimana limbah berupa tinja keluar dari
dalam tubuh. Sedangkan rektum merupakan bagian dari saluran pencernaan di atas
anus, dimana tinja disimpan sebelum dikeluarkan dari tubuh melalui anus. Sepuluh
juta orang di Amerika dilaporkan menderita hemoroid dengan prevalensi lebih dari
4%.1
Hemoroid terkjadi akibat pembendungan struktur vaskuler normal selama
mengejan. Gejalanya adalah perdarahan, rasa penuh, secret, gatal dan dapat mengalami
thrombosis dengan nyeri hebat, kadang-kadang terkikis melalui kulit.1
Gejala hemoroid dan ketidak nyamanan dapt dihilangkan dengan personel hygiene
yang baik dan menghindari mengejan berlebihan selama defekasi. Diet tinggi serat
yang mengandung buah. Bila tindakan ini gagal laktasif yang berfungsi mengabsorbsi
air saat melewati usus dapat membantu, rendam duduk dengan salep dan supositor
yang mengandung anestesi, astrigen da tirah baring adalah tindakan yang
memungkinkan pembesaran berkurang.1
Kebanyakan penderita dalam jangka waktu lama dan mencari bantuan kesehatan
bila menemukan perubahan pada kebiasaan defekasi atau perdarahan rektal.1

BAB II
1

ISI
2.1 Anatomi
Kanalis analis berasal dari proktoderm yang merupakan invaginasi ektoderm,
sedangkan rectum berasal dari entoderm. Karena perbedaan asal ini maka perdarahan,
persarafan serta pengaliran vena dan limfe nya juga berbeda, demikian pula epitel
yang menutupinya.2
Rektum dilapisi oleh mukosa usus dan dua per tiga bagian distal nya terletak di
rongga pelvik dan terfiksir, sedangkan satu per tiga bagian proksimal terletak di
rongga abdomen dan relatif mobile. Anal canal adalah bagian akhir dari usus besar
dengan panjang 4 cm dari rectum hingga orifisium anal. Setengah bagian bawah dari
anal canal dilapisi oleh epitel skuamosa dan setengah bagian ke atas oleh epitel
kolumnar yang membentuk lajur mukosa yang dinamakan lajur morgagni. Saluran
anal canal berfungsi sebagai pintu masuk ke bagian usus yang lebih proksimal dan
dikelilingi oleh sfingter ani eksterna dan interna (lihat Gambar 1).2
Kanalis analis dan kulit luar disekitarnya kaya akan persarafan sensoris somatik
dan peka terhadap rangsangan nyeri, sedangkan mukosa rectum dipersarafi oleh saraf
autonom dan tidak peka nyeri.2

Gambar 2.1-1. Anatomi rectum dan anal canal3


2.2 Pendarahan
2

Bagian anal canal diperdarahi oleh a. hemoroidalis superior yang berasal dari a.
mesenterika inferior. A. hemoroidalis superior terbagi menjadi dua cabang utama
dextra dan sinistra, dan yang dextra bercabang dua lagi. Letak ketiga cabang membuat
letak hemoroid menjadi khas, yaitu dua buah di setiap perempat sebelah kanan dan
satu buah di seperempat lateral kiri. Sedangkan a. hemoroidalis medialis merupakan
percabangan dari a. iliaka interna bagian anterior dan a. hemoroidalis inferior adalah
percabangan dari a. pudenda interna yang berasal dari a. iliaka interna. A.
hemoroidalis inferior ini lah yang memperdarahi rektum bagian distal dan anus.
Anastomosis pembuluh darah bagian inferior dan superior ini ke pembuluh kolateral
hemoroid inferior dapat menjamin pendarahan di kedua ekstremitas bawah.
Pendarahan di pleksus hemoroidalis merupakan kolateral yang luas dan kaya sekali
darah sehingga perdarahan dari hemoroid interna akan menghasilkan darah segar yang
berwarna merah.2
Vena hemoroidalis superior berasal dari pleksus hemoroidalis internus dan
berjalan ke arah kranial ke dalam vena mesenterika inferior dan seterusnya melalui v.
lienalis ke v.porta. Vena ini tidak berkatup, sehingga tekanan rongga perut menentukan
tekanan di dalamnya. Vena hemoroidalis inferior mengalirkan darah ke dalam v.
pudenda interna dan ke dalam v. iliaka interna dan sistem kava.2

Gambar 2.2-1. Perdarahan rectum dan anal canal3


2.3 Penyaluran Limfe
3

Pembuluh limfe dari kanalis membentuk pleksus halus yang menyalurkan isinya
menuju ke kelenjar limfe inguinal, selanjutnya dialirkan ke kelenjar limfe iliaka.
Sedangkan pembuluh limfe dari rectum diatas garis anorektum berjalan seiring dengan
v. hemoroidalis superior dan selanjutnya ke kelenjar limfe mesenterika inferior dan
aorta. Operasi radikal untuk eradikasi ca rectum dan anus didasarkan pada anatomi
saluran limfe ini.2
2.4 Persarafan
Persarafan motorik sfingter ani interna berasala dari serabut saraf simpatis
(n.hipogastrikus) yang menyebabkan kontraksi usus dan serabut saraf parasimpatis
(n.splanknikus) yang menyebabkan relaksasi usus. Kedua jenis serabut saraf ini
membentuk pleksus rektalis. Sedangkan muskulus levator ani dipersarafi oleh
n.sakralis 3 dan 4. N.pudendalis mempersarafi sfingter ani eksterna dan
m.puborektalis. Defekasi sepenuhnya dikontrol oleh n.splanknikus (parasimpatis),
sedangkan kontinensia dikontrol oleh n.pudendalis dan n.splanknikus pelvik.2
2.5 Fisiologi Anorektum
Muskulus puborektal dan tonus sfingter ani eksterna berfungsi untuk menutup
saluran anal ketika istirahat. Jika ada peristaltik yang kuat seperti akan flatus, akan
menimbulkan regangan, sehingga untuk menghambatnya diperlukan kontraksi sfingter
eksterna dan m.puborektal yang kuat secara sadar. Kontinensia dan defekasi
merupakan fungsi dari anorektum. Kontinensia adalah kegiatan pengeluaran isi rektum
secara terkontrol pada waktu dan tempat yang diinginkan dan bergantung pada
konsistensi feses, tekanan di dalam anus dan rektum serta sudut anorektal. Jika feses
dalam keadaan cair, dengan tekanan didalam anus berkisar antara 25 100 mmHg
pada saat istirahat, tekanan di rektum 5 20 mmHg dan sudut antara rektum dan anus
> 80 derajat, maka feses akan sukar dipertahankan.
Dalam keadaan normal rektum kosong, pemindahan feses dari kolon sigmoid ke
dalam rektum akan menimbulkan keinginan untuk defekasi. Rektum memeiliki
kemampuan yang khas untuk mengenal dan memisahkan bahan padat, cair, dan gas.
Defekasi sendiri terjadi akibat refleks peristaltis rektum, dibantu oleh mengedan dan
4

relaksasi sfingter ani eksterna. Adapun syarat mutlak untuk defekasi normal adalah
keutuhan peristaltik dan rektum, keutuhan sensibilitas rektum untuk merasakan isinya,
keutuhan persarafan sfingter ani eksterna untuk kontraksi dan relaksasi, keutuhan
refleks defekasi, serta kemampuan mengedan. Koordinasi pengeluaran isi rektum
sangat kompleks, namun dapat dikelompokkan atas 4 tahapan :

Tahap awal berupa propulsi isi kolon yang lebih proksimal ke rektum, seiring

dengan peristaltic kolon dan sigmoid (2-3 x/hari) serta refleks gastrokolik.
Tahap kedua adalah sampling refleks atau rectal-anal inhibitory reflex, yakni
upaya anorektal mengenali isi rektum dan merelaksasi sfingter ani interna secara

involunter.
Tahap ketiga adalah relaksasi sfingter ani eksterna secara involunter, relaksasi ini

terjadi akibat kegagalan kontraksi sfingter ani sendiri.


Tahap terakhir berupa peninggian tekanan intra abdomen secara volunter dengan

menggunakan diafragma dan otot dinding perut, hingga defekasi dapat terjadi.2
2.6 Definisi
Hemoroid adalah pelebaran vena di dalam pleksus hemoroidales yang tidak
merupakan keadaan patologis, hanya apabila menimbulkan keluhan atau penyulit
diperlukan tindakan.2
Hemoroid adalah dilatasi varikosus vena dari plexus hemorrhoidal inferior dan
superior.3
Hemoroid dibedakan menjadi dua, interna dan eksterna. Hemoroid interna
adalah pleksus vena hemoroidales superior diatas garis mukokutan dan ditutupi oleh
mukosa. Sering terdapat pada tiga posisi primer, yaitu kanan depan, kanan belakang,
dan kiri lateral, sedangkan hemoroid yang lebih kecil terdapat diantara ketiga letak
primer tersebut. Hemoroid eksterna merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus
hemoroid inferior yang terdapat di bagian distal garis mukokutan di dalam jaringan
dibawah epitel anus.2

2.7 Etiologi

Penyebab hemoroid tidak diketahui, konstipasi kronis dan mengejan saat


defekasi mungkin penting. Mengejan menyebabkan pembesaran dan prolapsus
sekunder bantalan pembuluh darah hemoroidalis. Jika mengejan terus menerus,
pembuluh darah menjadi dilatasi secara progresif dan jaringan submukosa kehilangan
perlekatan normalnya dengan sfingter internal dibawahnya, yang enyebabkan
prolapsus hemoroid yang klasik dan berdarah. Selain itu faktor penyebab hemoroid
yang lain yaitu kehamilan, kurang makanan yang berserat, dan lain-lain.2
2.8 Epidemiologi
Penyakit hemoroid dapat terjadi pada semua umur, tetapi paling banyak terjadi
pada umur 45-65 tahun dan jarang terjadi pada usia dibawah 20 tahun. Pada laki-laki
dan perempuan memiliki prevalensi yang sama. Resiko dari hemoroid akan meningkat
seiring dengan bertambahnya usia.2
2.9 Faktor Resiko
Faktor resiko hemoroid adalah:5
1. Keturunan: dinding pembuluh darah yang lemah dan tipis.
2. Anatomi: vena daerah anorektal tidak mempunyai katup dan pleksus
hemoroidalis kurang mendapat sokongan otot dan vasa disekitarnya.
3. Pekerjaan: orang yang harus berdiri atau duduk lama, atau harus mengangkat
barang berat, mempunyai prediposisi untuk hemoroid.
4. Umur: pada usia tua timbul degenerasi dari seluruh jaringan tubuh, juga otot
sfingter menjadi tipis dan atonis.
5. Endokrin: misalnya pada wanita hamil ada dilatasi vena ekstremitas dan anus
(sekresi hormon relaksin).
6. Mekanis: semua keadaan yang mengakibatkan timbulnya tekanan yang tinggi
dalam rongga perut, misalnya penderita hipertrofi prostat.
7. Fisiologis: bendungan pada peredaran darah portal, misalnya pada penderita
dekompensasio kordis atau sirosis hepatis.
2.10 Gejala Klinis

Gejala klinis hemoroid dibagi berdasarkan jenis hemoroid, yaitu:6,7


a. Hemoroid Interna
Perdarahan, akibat trauma oleh feses yang keras, darah berwarna merah segar
dan tidak bercampur dengan feses. Dalam keadaan perdarahan yang parah

bisa menimbulkan anemia.


Rasa tidak nyaman dibagian anus
Prolaps dan keluarnya mucus
Gatal, atau pruritus anus karena kelembaban yang terus menerus dan

rangsangan mucus.
b. Hemoroid Eksterna
Rasa terbakar
Nyeri, jika terjadi thrombosis yang luas dengan udem dan radang.
Gatal atau pruritus anus
2.11 Patofisiologi
Kebiasaan mengedan lama dan berlangsung kronik merupakan salah satu risiko
untuk terjadinya hemorrhoid. Peninggian tekanan saluran anus sewaktu beristirahat
akan menurunkan venous return sehingga vena membesar dan merusak jar. ikat
penunjang Kejadian hemorrhoid diduga berhubungan dengan faktor endokrin dan usia.
Hubungan terjadinya hemorrhoid dengan seringnya seseorang mengalami konstipasi,
feses yang keras, multipara, riwayat hipertensi dan kondisi yang menyebabkan venavena dilatasi

hubungannya dengan kejadian hemmorhoid masih belum jelas

hubungannya.
Hemorhoid interna yang merupakan pelebaran cabang-cabang v. rectalis superior
(v. hemoroidalis) dan diliputi oleh mukosa. Cabang vena yang terletak pada colllum
analis posisi jam 3,7, dan 11 bila dilihat saat paien dalam posisi litotomi mudah sekali
menjadi varises. Penyebab hemoroid interna diduga kelemahan kongenital dinding
vena karena sering ditemukan pada anggota keluarga yang sama. Vena rectalis superior
merupakan bagian paling bergantung pada sirkulasi portal dan tidak berkatup. Jadi
berat kolom darah vena paling besar pada vena yang terletak pada paruh atas canalis
ani. Disini jaringan ikat longgar submukosa sedikit memberi penyokong pada dinding
vena. Selanjutnya aliran balik darah vena dihambat oleh kontraksi lapisan otot dinding
7

rectum selama defekasi. Konstipasi kronik yang dikaitkan dengan mengedan yang
lama merupakan faktor predisposisi. Hemoroid kehamilan sering terjadi akibat
penekanan vena rectalis superior oleh uterus gravid. Hipertensi portal akibat sirosis
hati juga dapat menyebabkan hemoroid. Kemungkinan kanker rectum juga
menghambat vena rectalis superior.
Hemoroid eksterna adalah pelebaran cabang-cabang vena rectalis (hemorroidalis)
inferior waktu vena ini berjalan ke lateral dari pinggir anus. Hemorroid ini diliputi
kulit dan sering dikaitkan dengan hemorroid interna yang sudah ada. Keadaan klinik
yang lebih penting adalah ruptura cabang-cabang v. rectalis inferior sebagai akibat
batuk atau mengedan, disertai adanya bekuan darah kecil pada jaringan submukosa
dekat anus. Pembengkakan kecil berwarna biru ini dinamakan hematoma perianal.2,5,7
2.12

Klasifikasi
Hemoroid interna : berada di atas linea dentata, ditutupi oleh epitel trasisional dan
kolumnar
Hemoroid interna diklasifikasikan menjadi 4 derajat yaitu :

Derajat I : Tonjolan masih di lumen rektum, biasanya keluhan penderita adalah


perdarahan

Derajat II : Tonjolan keluar dari anus waktu defekasi dan masuk sendiri setelah
selesai defekasi.

Derajat III : Tonjolan keluar waktu defekasi, harus didorong masuk setelah
defekasi selesai karena tidak dapat masuk sendiri.

Derajat IV : Tonjolan tidak dapat didorong masuk/inkarserasi.2,7

Gambar 2.12-1. Derajat hemorrhoid8

Hemoroid eksternal berada di bawah linea dentata, ditutupi oleh epitel skuamosa.
Hemoroid eksterna diklasifikasikan:2,7
Akut : Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus
dan sebenarnya merupakan hematoma, walaupun disebut hemoroid trombosis
eksterna akut. Bentuk ini sangat nyeri dan gatal karena ujung-ujung syaraf
pada kulit merupakan reseptor nyeri
kronik/skin tag berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari
jaringan penyambung dan sedikit pembuluh darah.

Hemoroid campuran merupakan gabungan dari hemoroid internal dan ekstern


Tabel 2.12-1 Perbedaan gejala hemoroid sesuai stadium.2,7
Derajat Berdarah

Menonjol

Reposisi

II

Spontan

III

Manual

IV

Tetap

2.13 Diagnosis Hemoroid


Diagnosis hemoroid dapat dilakukan dengan melakukan:

a. Anamnesis
Pada anamnesis biasanya didapati bahwa pasien menemukan adanya darah segar
pada saat buang air besar. Selain itu pasien juga akan mengeluhkan adanya gatal-gatal
pada daerah anus. Pada derajat II hemmoroid internal pasien akan merasakan adanya
massa pada anus dan hal ini membuatnya tidak nyaman. Pasien akan mengeluhkan
nyeri pada hemoroid derajat IV yang telah mengalami thrombosis.
Pendarahan yang disertai dengan nyeri dapat mengindikasikan adanya thrombosis
hemoroid eksternal, dengan ulserasi thrombus pada kulit, Hemorrhoid internal
biasanya timbul gejala hanya ketika mengalami prolapsus sehingga terjadi ulserasi,
pendarahan, atau thrombosis. Hemorroid eksternal bisa terjadi tanpa gejala atau dapat
9

ditandai dengan rasa tidak nyaman, nyeri akut, atau pendarahan akibat ulserasi dan
thrombosis.9
b. Pemeriksaan fisik hemorrhoid
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya pembengkakan vena yang
mengindikasikan hemoroid eksternal atau hemoroid internal yang mengalami prolaps.
Hemoroid internal derajat I dan II biasanya tidak dapat terlihat dari luar dan cukup
sulit membedakannya dengan lipatan mukosa melalui pemeriksaan rektal kecuali
hemoroid tersebut telah mengalami thrombosis.
Daerah perianal juga diinspeksi untuk melihat ada atau tidaknya fisura, fistula,
polip, atau tumor. Selain itu ukuran, perdarahan, dan tingkat keparahan inflamasi juga
harus dinilai.9
c. Pemeriksaan Penunjang Hemoroid
1. Anuskopi
Dengan cara ini kita dapat melihat hemoroid interna. Pasien dalam posisi litotorni.
Anuskopi dan penyumbatnya dimasukkan ke dalam anus sedalam mungkin, penyumbat
diangkat dan penderita disuruh bernafas panjang. Benjolan hemoroid akan menonjol pada
ujung anuskopi. Bila perlu penderita disuruh mengejan agar benjolan dapat terlihat
sebesar-besarnya. Pada anuskopi dapat dilihat warna selaput lendir yang merah meradang
atau perdarahan, banyak benjolan, letak dan besarnya benjolan.
2. Proktosigmoidoskopi / Kolonoskopi Total
Pemeriksaan ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa keluhan bukan
disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat yang lebih tinggi
(rektum/sigmoid/kolon).
Pemeriksaan laboratorium feses perlu dilakukan untuk mengetahui adanya darah samar (occult
bleeding).2,10
2.14 Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Konservatif
10

Sebagian besar kasus hemoroid derajat I dapat ditatalaksana dengan pengobatan


konservatif. Tatalaksana tersebut antara lain koreksi konstipasi jika ada, meningkatkan
konsumsi serat, laksatif, dan menghindari obat-obatan yang dapat menyebabkan kostipasi
seperti kodein.
Penelitian meta-analisis akhir-akhir ini membuktikan bahwa suplemen serat dapat
memperbaiki gejala dan perdarahan serta dapat direkomendasikan pada derajat awal
hemoroid. Perubahan gaya hidup lainnya seperti meningkatkan konsumsi cairan,
menghindari konstipasi dan mengurangi mengejan saat buang air besar dilakukan pada
penatalaksanaan awal dan dapat membantu pengobatan serta pencegahan hemoroid, meski
belum banyak penelitian yang mendukung hal tersebut.
Kombinasi antara anestesi lokal, kortikosteroid, dan antiseptik dapat mengurangi gejala
gatal-gatal dan rasa tak nyaman pada hemoroid. Penggunaan steroid yang berlama-lama
harus dihindari untuk mengurangi efek samping. Selain itu suplemen flavonoid dapat
membantu mengurangi tonus vena, mengurangi hiperpermeabilitas serta efek antiinflamasi
meskipun belum diketahui bagaimana mekanismenya.Dapat diberikan pada semua kasus
hemoroid terutama hemoroid interna derajat 1, disebut juga terapi konservatif, diantaranya
adalah :

Koreksi konstipasi dengan meningkatkan konsumsi serat (25-30 gram sehari) dan

menghindari obat yang dapat menyebabkan konstipasi.


Meningkatkan konsumsi cairan (6-8 gelas sehari)
Menghindari mengejan saat buang air besar, dan segera ke kamar mandi saat

merasa akan buang air besar, jangan ditahan karena akan memperkeras feses.
Rendam duduk dengan air hangat yang bersih dapat dilakukan rutin dua kali
sehari selama 10 menit pagi dan sore selama 1 2 minggu, karena air hangat

b.
o
o
o
o
o

dapat merelaksasi sfingter dan spasme.


Tirah baring untuk membantu mempercepat berkurangnya pembengkakan.
Terapi Farmako
Salep anastetik local
Kortikosteroid
Laksatif
Analgesik
Suplemen flavonoid, membantu mengurangi tonus vena dan mengurangi

hiperpermeabilitas serta efek antiinflamasi.


c. Terapi Pembedahan
11

Hemorrhoid Institute of South Texas (HIST) menetapkan indikasi tatalaksana

pembedahan hemoroid antara lain :


Hemoroid interna derajat II berulang
Hemoroid derajat III dan IV dengan gejala
Mukosa rektum menonjol keluar anus
Hemoroid interna derajat I & II dengan penyerta seperti fisura
Kegagalan penatalaksanaan konservatif
Permintaan pasien
Adapun jenis pembedahan yang sering dilakukan yaitu :2,7
Skleroterapi
Teknik ini dilakukan dengan menginjeksikan 5 % fenol dalam minyak
nabati yang tujuannya untuk merangsang. Lokasi injeksi adalah
submukosa hemoroid. Efek dari injeksi adalah edema, reaksi inflamasi
dengan proliferasi fibroblast dan thrombosis intravascular. Reaksi ini akan
menyebabkan fibrosis pada submukosa hemoroid sehingga akan
mencegah atau mengurangi prolapsus jaringan hemoroid. Terapi ini
disertai anjuran makanan tinggi serat dapat efektif untuk hemoroid interna
derajat I dan II. Teknik ini murah dan mudah dilakukan, tetapi jarang

dilaksanakan karena tingkat kegagalan yang tinggi.


Ligasi dengan gelang karet (Rubber band ligation)
Biasanya teknik ini dilakukan untuk hemoroid yang besar atau yang
mengalami prolaps. Dengan bantuan anuskop, mukosa diatas hemoroid
yang menonjol dijepit dan ditarik atau dihisap kedalam tabung ligator
khusus. Efek dari teknik ini adalah nekrosis iskemia, ulserasi, dan scarring
yang akan menghasilkan fiksasi jaringan ikat ke dinding rektum.

Komplikasi nya dapat terjadi perdarahan setelah 7-10 hari dan nyeri.
Bedah beku
Teknik bedah beku dilakukan dengan pendinginan hemoroid pada suhu
yang sangat rendah. Teknik ini tidak dipakai secara luas karena mukosa yg
nekrosis sukar ditentukan luasnya. Teknik ini lebih cocok untuk terapi

paliatif pada karsinoma rektum yang inoperable.


Hemoroidektomi
Teknik dipakai untuk hemoroid derajat III atau IV dengan keluhan
menahun, juga untuk penderita denga perdarahan berulang dan anemia
yang tidak sembuh dengan terapi lain yang lebih sederhana. Prinsipnya
12

adalah eksisi hanya dilakukan pada jaringan yang benar-benar berlebihan,


dan pada anoderm serta kulit yang normal dengan tidak mengganggu
sfingter anus. Selama pembedahan sfingter anus biasanya dilatasi dan
hemoroid diangkat dengan klem atau diligasi dan kemudian dieksisi.

Infrared thermocoagulation.
Sinar infra merah masuk ke jaringan dan berubah menjadi panas.
Manipulasi instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengatur
banyaknya jumlah kerusakan jaringan. Prosedur ini menyebabkan
koagulasi, oklusi, dan sklerosis jaringan hemoroid. Teknik ini singkat dan
dengan komplikasi yang minimal.

Bipolar Diathermy.
Menggunakan energi listrik untuk mengkoagulasi jaringan hemoroid dan
pembuluh darah yang memperdarahinya. Biasanya digunakan pada
hemoroid internal derajat rendah.

Laser haemorrhoidectomy.

Doppler ultrasound guided haemorrhoid artery ligation.

Teknik ini dilakukan dengan menggunakan proktoskop yang dilengkapi


dengan doppler probe yang dapat melokalisasi arteri. Kemudian arteri
yang memperdarahi jaringan hemoroid tersebut diligasi menggunakan
absorbable suture. Pemotongan aliran darah ini diperkirakan akan
mengurangi ukuran hemoroid.

2.15 Komplikasi
1. Trombosis, edema dan inflamasi bantalan anus interna. Terjadi bila bantalan anus
prolaps dan terbendung oleh sfingter. Trombosis dan edema akan menetap di luar,
kadang tertutup oleh kulit perianal yang edematous. Tekanan yang meningkat di luar
dan di dalam kanalis anus menyebabkan nyeri sehingga penderita menghindari duduk.
Setelah edema dan inflamasi sembuh akan menyisakan skin tag atau polip fibrosis.
Apabila hemoroid keluar, dan tidak dapat masuk lagi (inkarserata/terjepit) akan mudah
terjadi infeksi yang menyebabkan sepsis dan dapat mengakibatkan kematian.

13

2. Trombosis hemoroid eksterna. Pada pemeriksaan terlihat benjolan yang licin, keras dan
nyeri, berwarna kebiruan, terletak di luar kanalis anus dan tidak berhubungan dengan
hemoroid interna.
3. Dermatitis perianal akibat iritasi perianal, hygiene buruk akibat adanya skin tag, serta
akibat reaksi alergi obat topikal.
4. Perdarahan akut pada umumnya jarang terjadi, hanya terjadi apabila yang pecah adalah
pembuluh darah besar.
5. Anemia defisiensi besi akibat perdarahan berulang. Yang lebih sering terjadi yaitu
perdarahan kronis, dan apabila berulang dapat menyebabkan anemia karena jumlah
eritrosit yang diproduksi tidak dapat mengimbangi jumlah yang keluar.6

2.16 Pencegahan
Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya hemoroid antara lain dengan
jalankan pola hidup sehat, olahraga secara teratur misalnya berjalan, makan makanan berserat,
hindari terlalu banyak duduk, jangan merokok, minum minuman keras dan narkoba, minum air
yang cukup, sebisa mungkin menggunakan wc jongkok.
2.17 Prognosis
Dengan terapi yang sesuai, semua hemoroid simptomatis dapat dibuat menjadi
asimptomatis. Pendekatan konservatif hendaknya diusahakan terlebih dahulu pada semua kasus.
Hemoroidektomi pada umumnya memberikan hasil yang baik. Sesudah terapi penderita harus
diajari untuk menghindari obstipasi dengan makan makanan serat agar dapat mencegah
timbulnya kembali gejala hemoroid.10

14

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hemorrhoid adalah keadaan dimana vena di dalam plexus hemorrhoidalis melebar.
Pelebaran vena ini bisa disebabkan oleh berbagai keadaan, dimulai dari kebiasaan defekasi yang
lama, mengejan terlalu lama, keturunan, kebiasaan makan, hingga akibat penuaan. Hemorrhoid
terdiri dari hemorrhoid internal dan eksternal. Gejala yang biasa dikeluhkan adalah buang air
besar dengan darah segar, terdapat benjolan (apabila hemorrhoid eksternal), maupun gatal di
daerah anus.
Penatalaksanaan hemorrhoid diprioritaskan terapi konservatif terlebih dahulu seperti
makan makanan berserat, konsumsi air banyak, mengubah kebiasaan defekasi, serta mengubah
pola hidup sehat. Namun apabila dengan terapi konservatif tidak berhasil dapat dilakukan terapi
pembedahan, salah satu yang sering dilakukan adalah rubber band ligation.

15

BAB IV
Daftar Pustaka
1. Schwartz, Seymour l. 1994. Principles of Surgery Jilid 2 Edisi 6. New York: McGrawHill Company.
2. Sjamsuhidajat. R, Wim De Jong. 2003. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.h.788-92.
3. Frank, H , Netter , M.D., 1995.Interactive Atlas of Human Anatomy , Ciba Medical
Educations & Publications
4. Dorland, W.A Newman. 2010.Kamus Kedokteran Dorland. Ed.31.Jakarta : EGC
5. Silvia A.P, Lorraine M.W. Hemoroid. Dalam: Konsep-konsep Klinis Proses Penyakit,
edisi IV, Patofisiologi vol.1. Jakarta: EGC. 2005. h. 467.
6. Makmun D. Hemoroid. Dalam: Rani A.A, Simadibrata M, Syam A.F. Buku Ajar
Gastroenterologi. Jakarta: Interna Publishing. 2011. h. 503-11.
7. Nelson, Heidi MD., Roger R. Dozois, MD., Anus, in Sabiston Text Book of Surgery,
Saunders Company, Phyladelphia 2001
8. Diunduh dari: http://curehemorrhoidsite.com/images/hemorrhoids3874.png, 14 Juli 2015.
9. Gleadle, Jonathan. Pengambilan Anamnesis. Dalam: At a Glance Anamnesis dan
Pemeriksaan Fisik. Jakarta : Penerbit Erlangga. 2007. h.1-17.

16

10. Simadibrata M. Hemoroid. Dalam: Sudoyo A.W, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M,


Setiati S (editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 1. Edisi ke-4. Jakarta: Interna
Publishing. 2009. h. 587-90.

17