Anda di halaman 1dari 20

Mekanisme Keseimbangan Asam-Basa dan

gangguannya

Citra anggar kasih masang


10-2010-139
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara no.6 Jakarta Barat. Email : citramasang@yahoo.co.id

Pendahuluan
Ion hidrogen adalah proton tunggal bebas yang dilepaskan dari atom hidrogen.
Molekul yang mengandung atom atom hidrogen yang dapat melepaskan ion hidrogen
dalam larutan dikenal sebagai asam. Satu contoh asam adalah asam hidroklorida ( HCL ),
yang berionasi dalam air membentuk ion- ion hidrogen ( H+ ) dan ion klorida ( CL- ) demikian
juga, asam karbonat ( H2CO3) berionisasi dalam air membentuk ion H+ dan ion bikarbonat
( HCO3-).
Basa adalah ion atau molekul yang menerima ion hidrogen. Sebagai contoh, ion bikarbonat
( HCO3-), adalah suatu basa karena dia dapat bergabung dengan satu ion hidrogen untuk
membentuk asam karbonat ( H2CO3). Demikian juga ( HPO4 ) adalah suatu basa karena dia
dapat menerima satu ion hidrogen untuk membentuk ( H 2PO4 ). Protein- protein dalam tubuh
juga berfungsi sebagai basa karena beberapa asam amino yang membangun protein dengan
muatan akhir negatif siap menerima ion-ion hidrogen. Protein hemoglobin dalam sel darah
merah dan protein dalam sel-se tubuh yang lain merupakan basa-basa tubuh yang paling
penting.
Istilah basa sering digunakan secara sinonim dengan alkali. Alkali adalah suatu
molekul yang terbentuk dari kombinasi satu atau lebih logam alkali natrium, kalium, litium,
dan seterusnya dengan ion yang sangat mendasar seperti ion Hidroksil ( OH - ). Bagian dasar
Page | 1

dari molekul-molekul ini bereaksi secara tepat dengan ion-ion hidrogen untuk
menghilangkanya dari larutan dan oleh karena itu, merupakan basa-basa yang khas untuk
alasan yang serupa, istilah alkolis merujuk pada kelebihan pengeluaran ion-ion hidrogen
dari cairan tubuh, sebaliknya penambahan ion-ion hidrogen yang berlebihan dikenal
sebagaiasidosis

Struktur anatomi pernapasan


Secara mikroskopik
Saluran penghantar udara yang membawa udara ke dalam paru adalah hidung,
faring, laring, trakea, bronkus, dan bronkiolus. Saluran pernapasan dari hidung sampai
bronkiolus dilapisi oleh membran mukosa bersilia. Ketika masuk rongga hidung,
udara disaring, dihangatkan, dan dilembabkan. Ketiga proses ini merupakan fungsi
utama dari mukosa respirasi yang terdiri dari epitel toraks bertingkat, bersilia dan
bersel goblet. Permukaan epitel diliputi oleh lapisan mukus yang disekresi oleh sel
goblet dan kelenjar mukosa.
Partikel debu yang kasar disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalam
lubang hidung, sedangkan partikel yang halus akan terjerat dalam lapisan mukus.
Gerakan silia mendorong lapisan mukus ke posterior di dalam rongga hidung, dan ke
superior di dalam sistem pernapasan bagian bawah menuju ke faring. Dari sini
partikel halus akan tertelan atau dibatukkan keluar. Lapisan mukus memberikan air
untuk kelembaban, dan banyaknya jaringan pembuluh darah di bawahnya akan
menyuplai panas ke udara inspirasi. Jadi udara inspirasi telah disesuaikan sedemikian
rupa sehingga udara yang mencapai faring hampir bebas debu, bersuhu mendekati
suhu tubuh, dan kelembabanya mencapai 100%.1
Pharynx (TEKAK)
Pharynx adalah sebuah pipa musculomembranosa, panjang 12-14 cm, membentang
dari basis cranii sampai setinggi vertebra cervical 6 atau tepi bawah cartilago cricoidea.
Paling lebar dibagian superior, berukuran 3,5 cm. Disebelah caudal dilanjutkan dengan
oesophagus (kerongkongan). Pada batas pharynx dengan oesophagus lebarnya menjadi
sekitar 1,5 cm; tempat ini merupakan bagian tersempit saluran pencernaan, selain appendix
vermiformis. Disebelah cranial pharynx dibatasi oleh bagian posterior corpus ossis
sphenoidales dan pars basilaris ossis occipitalis. Disebelah dorsal dan lateral pharynx terdapat
jaringan penyambung longgar yang menempati spatium perypharyngeale. Di sebelah dorsal,
Page | 2

jaringan penyambung longgar tersebut memisahkan pharynx dari fascia alaris (lembar depan
fascia prevertebralis). Disebelah ventral, pharynx terbuka ke dalam rongga hidung, mulut dan
larynx; dengan demikian dinding anteriornya tidak sempurna.2
Udara mengalir dari faring menuju laring atau kotak suara. Laring terdiri dari
rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot-otot dan mengandung pita suara.
Ruang berbentuk segitiga diantara pita suara (yaitu glotis) bermuara ke dalam trakea dan
membentuk bagian antara saluran pernapasan atas dan bawah. Glotis merupakan pemisah
antara saluran pernapasan bagian atas dan bawah. Meskipun laring terutama dianggap
berhubungan dengan fonasi, tetapi fungsinya sebagai organ pelindung jauh lebih penting.
Pada waktu menelan, gerakan laring ke atas, penutupan glotis, dan fungsi seperti pintu dari
epiglotis yang berbentuk daun pada pintu masuk laring, berperan untuk mengarahkan
makanan dan cairan masuk ke dalam esofagus. Jika benda asing masih mampu masuk
melampaui glotis, fungsi batuk yang dimiliki laring akan membantu menghalau benda dan
sekret keluar dari saluran pernapasan bagian bawah.1

Gambar 1. Pharynx
Larynx merupakan saluran udara yang bersifat sphincter dan juga organ pembentuk
suara, membentang antara lidah sampai trachea atau pada laki-laki dewasa setinggi vertebra
cervical 3 sampai 6, tetapi sedikit lebih tinggi pada anak dan perempuan dewasa. Larynx
berada di antara pembuluh-pembuluh besar leher dan di sebelah ventral tertutup oleh kulit,
fascia-fascia dan otot-otot depressor lidah. Kearah atas larynx terbuka ke dalam
laryngopharynx dinding posterior larynx menjadi dinding anterior laryngopharynx. Ke arah
bawah, laring dilanjutkan sebagai trakea.2

Page | 3

Gambar 2. Larynx
Trakea disokong oleh cincin tulang rawan berbentuk seperti sepatu kuda yang
panjangnya kurang lebih 12,5 cm (5 inci). Permukaan posterior trakea agak pipih
dibandingkan sekelilingnya karena cincin tulang rawan di daerah itu tidak sempurna, dan
letaknya tepat di depan esofagus. Akibatnya, jika suatu pipa endotrakea (ET) bulat yang kaku
dengan balon yang digembungkan dimasukkan selama ventilasi mekanik, dapat timbul erosi
di posterior membran tersebut, dan membentuk fistula trakeoesofageal. Erosi bagian anterior
menembus cincin tulang rawan dapat juga timbul tetapi tidak sering. Pembengkakan dan
kerusakan pita suara juga merupakan komplikasi dari pemakaian pipa ET. Tempat trakea
bercabang menjadi bronkus utama kiri dan kanan dikenal sebagai karina. Karina memiliki
banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan batuk berat jika dirangsang.1
Trakea merupakan sebuah pipa udara yang terbentuk dari tulang rawan dan selaput
fibro-muskular, panjangnya sekitar 10-11 cm, sebagai lanjutan dari larynx, membentang
mulai setinggi cervical 6 sampai tepi atas vertebra thoracal 5. Ujung caudal trakhea terbagi
menjadi bronkus principalis (primer, utama) dexter dan sinister. Trachea terletak hampir
dibidang sagital, tetapi biasanya bifurkasi trachea sedikit terdesak ke arah kanan oleh arcus
aortae. Selama inspirasi dalam, mungkin bifurkasi ini turun sampai setinggi vertebra thoracal
6. Bentuk trachea sedikit kurang silindrik, karena datar di sebelah posterior. Lebar trachea
kira-kira 2 cm dan proyeksinya membentang hampir vertikal pada garis tengah dari cartilago
cricoidea menuju angulus sterni, sedikit mengarah ke kanan. Brochus principalis dexter
melintas dari trachea menuju hilus di kanan bawah, sejauh 2,5 cm; proyeksi hilus ini berada
belakang ujung sternal cartilago costae ketiga. Brochus principalis sinister melintas 5 cm
Page | 4

serong menuju kiri bawah ke arah hilus, yang berproyeksi di sebelah dorsal cartilago costae
ketiga kiri 3,5 cm dari garis tengah.2

Gambar 3. Trachea
Bronkus utama kiri dan kanan tidak simetris. Bronkus utama kanan lebih pendek dan
lebih lebar dibandingkan dengan bronkus utama kiri dan merupakan kelanjutan dari trakea
yang arahnya hampir vertikal. Sebaliknya, bronkus utama kiri lebih panjang dan lebih sempit
dibandingkan dengan bronkus utama kanan dan merupakan kelanjutan dari trakea dari sudut
yang lebih tajam. Bentuk anatomik yang khusus ini mempunyai keterlibatan klinis yang
penting. Satu pipa ET yang telah dipasang untuk menjamin patensi jalan udara akan mudah
meluncur ke bawah, ke bronkus utama kanan, jika pipa tidak tertahan dengan baik pada mulut
atau hidung. Jika terjadi demikian, udara tidak dapat memasuki paru kiri dan akan
menyebabkan kolaps paru (atelektasis). Namun demikian, arah bronkus kanan yang hampir
vertikal tersebut memudahkan masuknya kateter untuk melakukan pengisapan yang dalam.
Selain itu, benda asing yang terhirup lebih sering tersangkut pada percabangan bronkus kanan
karena arahnya vertikal. Cabang utama bronkus kiri dan kanan bercabang lagi menjadi
bronkus lobaris dan kemudian bronkus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi
bronkus yang ukurannya semakin kecil sampai akhirnya menjadi bronkiolus terminalis, yaitu
saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Bronkiolus trminalis
memiliki garis tengah kurang lebih 1 mm. Bronkiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang
rawan, tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran
udara ke bawah sampai tingkat bronkiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena
fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru.

Page | 5

Setelah bronkiolus terminalis terdapat asinus yang merupakan unit fungsional paru,
yaitu tempat pertukaran gas. Asinus terdiri dari (1) bronkiolus respiratorius, yang terkadang
memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya, (2) duktus alveolaris, seluruhnya
dibatasi oleh alveolus, (3) sakus alveolaris terminalis, yaitu struktur akhir paru.1

Secara makroskopik
a. Organ pernapasan
Hidung.
Berbentuk piramid; pangkalnya berkesinambungan dengan dahi dan ujung bebasnya
disebut puncak hidung. Ke arah inferior hidung memiliki dua pintu masuk berbentuk bulat
panjang. Yakni nostril atau nares, yang terpisah oleh septum nasi. Permukaan infero-lateral
hidung berakhir sebagai alae nasi yang bulat. Ke arah medial permukaan lateral ini berlanjut
pada dorsum nasi di tengah. Penyangga hidung terdiri atas tulang dan tulang-tulang rawan
hialin. Rangka bagian tulang terdiri atas os nasale, processus frontalis maxillae dan bagian
nasal ossis frontalis. Rangka tulang rawannya terdiri atas cartilago septi nasi, cartilago nasi
lateralis dan cartilago ala nasi major dan minor, yang bersama-sama dengan tulang
didekatnya saling dihubungkan.
Otot yang melapisi hidung merupakan bagian dari otot wajah. Otot hidung tersusun
dari M. Nasalis dan M. Depressor septi nasi.
Thorax (DADA).
Merupakan bagian superior batang badan, antara leher dan perut. Mempunyai bentuk
kerucut yang terpancung horizontal. Di dalam thorax ini terkandung rongga thorax. Rongga
thorax memiliki akses masuk ke dalam lewat pintu atas dan pintu bawah thorax. Pintu atas
thorax (apertura thoracis superior) yang sempit, terbuka dan berkesinambungan dengan leher;
pintu bawah thorax (apertura thoracis inferior) yang relatif luas, tertutup oleh diaphragma.
Hampir separuh bagian bawah dinding thorax lebih banyak melindungi alat dalaman perut
daripada alat dalaman dada. Oleh karena itu, batas-batas rongga thorax lebih kecil daripada
batas dinding thorax yang tampak dari sebelah luar.
Fungsi thorax terpenting adalah pernapasan. Thorax tidak hanya berisi paru-paru,
tetapi juga memberikan kepentingan bagi mekanik pernapasan, yakni melalui diaphragma,
Page | 6

dinding thorax dan iga-iga, sehingga efektif thorax memindahkan udara ke dalam dan keluar
paru-paru. Thorax juga melindungi jantung, paru-paru, dan pembuluh-pembuluh darah besar.2

Gambar 4. Thorax

b. Saluran pernapasan.
Sistem penapasan mencakup saluran pernapasan yang berjalan ke paru, paru itu
sendiri, dan struktu-struktur thorax (dada) yang terlibat menimbulkan gerakan udara
masuk keluar paru melalui saluran pernapasan. Saluran pernapasan adalah saluran yang
mengangkut udara antara atmosfer dan alveolus, tempat terakhir yang merupakan satusatunya tempat pertukaran gas-gas antara udara dan darah dapat berlangsung. Saluran
pernapasan berawal di saluran hidung (nasal). Saluran hidung berjalan ke faring
(tenggorokan), yang berfungsi sebagai saluran bersama bagi sistem pernapasan maupun
sistem pencernaan. Terdapat dua saluran yang berjalan dari faring-trakea (windpipe),
tempat lewatnya udara keparu, dan esofagus, saluran tempat lewatnya makanan ke
lambung. Udara dalam keadaan normal masuk ke faring melalui hidung, tetapi udara juga
dapat masuk melalui mulut jika hidung tersumbat; jadi, anda dapat bernapas melalui
mulut sewaktu anda terkena pilek. Karena faring berfungsi sebagai saluran bersama untuk
makanan dan udara, terdapat mekanisme-mekanisme refleks untuk menutup trakea
selama proses menelan, sehingga makanan masuk ke esofagus dan tidak ke saluran napas.
Esofagus tetap tertutup, kecuali sewaktu menelan, untuk mencegah udara masuk ke
lambung sewaktu kita bernapas.
Pada saat udara mengalir cepat melewati pita suara yang tegang, pita suara tersebut
bergetar untuk menghasilkan bermacam-macam bunyi. Pada saat menelan, Pita suara
Page | 7

mengambil posisi rapat satu sama lain untuk menutup pintu masuk ke trakea. Trakea
terbagi dua cabang, bronkus kanan dan kiri. Di dalam setiap paru, bronkus terus
bercabang-cabang menjadi saluran napas yang semakin sempit, pendek, dan banyak,
seperti percabangan pohon. Cabang terkecil dikenal sebagai bronkiolus. Di ujung-ujung
bronkiolus terkumpul alveolus, kantong udara kecil tempat terjadinya pertukaran gas-gas
antara udara dan darah.

A. Mekanisme Pernapasan dan Fungsi saluran pernapasan


Hubungan timbal balik antara tekanan atmosfer, tekanan intraalveolus, dan tekanan
intrapleura penting dalam mekanika pernapasan. Udara mengalir masuk dan keluar paru
selama proses bernapas dengan mengikuti penurunan gradien tekanan yang berubah
berselang-seling antara alveolus dan atmosfer akibat aktivitas siklik otot-otot pernapasan
terdapat tiga tekanan berbeda yang penting pada ventilasi :
1. Tekanan atmosfir (barometrik) adalah tekanan yang ditimbulkan oleh berat udara
di atmosfer terhadap benda-benda dipermukaan bumi. Tekanan atmosfer
berkurang seiring dengan penambahan ketinggian di atas permukaan laut.
2. Tekanan intra-alveolus, yang juga dikenal sebagai tekanan intrapulmonalis, adalah
tekanan di dalam alveolus. Karena alveolus berhubungan dengan atmosfer melalui
saluran pernapasan, udara dengan cepat mengalir mengikuti penurunan gradien
tekanan setiap kali terjadi perbedaan antara tekanan intra-alveolus dan tekanan
atmosfer; udara terus mengalir sampai tekanan keduanya seimbang (ekuilibrium).
3. Tekanan intrapleura adalah tekanan di dalam kantung pleura. Tekanan ini juga
dikenal sebagai tekanan intratoraks, yaitu tekanan yang terjadi di luar paru di
dalam rongga toraks. Tekanan intrapleura biasanya lebih kecil dari pada tekanan
atmosfer, rata-rata 756 mmHg saat istirahat.3

a. Difusi gas.
Tahap kedua dari proses pernapasan mencakup proses difusi gas-gas melintasi
membran alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0,5 um). Kekuatan
pendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan
fase gas. Tekanan parsial O2 (PO2) dalam atmosfer pada permukaan laut besarnya
sekitar 159 mmHg (21% dari 760 mmHg). Namun, pada waktu O 2 sampai di
trakea, tekanan parsial ini akan mengalami penurunan sampai sekitar 149 mmHg
karena dihangatkan dan dilembabkan oleh jalan napas (760-47 x 0,21 = 149).

Page | 8

Tekanan parsial uap air pada suhu tubuh adalah 47 mmHg. Tekanan parsial O2
yang diinspirasi akan menurun kir-kira 103 mmHg pada saat mencapai alveoli
karena tercampur dengan udara dalam ruang mati anatomik pada saluran jalan
napas. Ruang mati anatomik ini dalam keadaan normal mempunyai volume
sekitar 1 ml udara per pound berat badan ideal (misal, 150 ml/150 pound lakilaki). Tekanan parsial O2 dalam darah vena campuran (PVO2) di kapiler paru kirakira sebesar 40 mmHg. PO2 kapiler lebih rendah daripada tekanan dalam alveolus
(PAO2 = 103 mmHg) sehingga O2 mudah berdifusi ke dalam aliran darah.
Perbedaan tekanan antara darah dan PaCO2 yang jauh lebih rendah (6 mmHg)
menyebabkan CO2 berdifusi ke dalam alveolus. CO2 ini kemudian dikeluarkan ke
atmosfer, yang konsentrasinya pada hakekatnya nol.
Dalam keadaan beristirahat normal, difusi dan keseimbangan antara O 2 di
kapiler darah paru dan alveolus berlangsung kira-kira 0,25 detik dari total waktu
kontak selama 0,75 detik. Pemindahan gas secara efektif antara alveolus dan
kapiler paru membutuhkan distribusi merata dari udara dalam paru dan perfusi
(aliran darah) dalam kapiler.4

b. Transportasi gas.
Sebagian besar O2 dalam darah diangkut oleh hemoglobin. Oksigen yang diserap
oleh darah di paru harus diangkut ke jaringan agar dapat digunakan oleh sel-sel.
Sebaliknya CO2 yang diproduksi oleh sel-sel harus diangkut keparu untuk
dieliminasi.
Transpor O2 dalam darah
O2 dapat diangkut dari paru ke jaringan-jaringan melalui dua jalan: secara fisik
larut dalam plasma atau secara kimia berikatan dengan Hb sebagai oksiHb
(HbO2). Ikatan kimia O2 dengan Hb ini bersifat reversibel, dan jumlah
sesungguhnya yang diangkut dalam bentuk ini mempunyai hubungan nonlinear
dengan tekanan parsial O2 dalam darah arteri (PaO2), yang ditentukan oleh jumlah
O2 yang secara fisik larut dalam plasma darah. Selanjutnya, jumlah O 2 yang secara
fisik larut dalam plasma mempunyai hubungan langsung dengan tekanan parsial
O2 dalam alveolus (PAO2).
Pada tingkat jaringan, O2 akan melepaskan diri dari Hb ke dalam plasma dan
berdifusi dari plasma ke sel-sel jaringan tubuh untuk memenuhi kebutuhan
jaringan yang bersangkutan.
Transpor CO2 dalam darah
Page | 9

Homeostasis CO2 juga suatu aspek penting dalam kecukupan respirasi.


Transpor CO2 dari jaringan ke paru untuk dibuang dilakukan dengan tiga cara.
Sekitar 10% CO2 secara fisik larut dalam plasma, karena tidak seperti O2, CO2
mudah larut dalam plasma. Sekitar 20% CO2 berikatan dengan gugus amino pada
Hb (karbaminohemoglobin) dalam sel darah merah, dan sekitar 70% diangkut
dalam bentuk bikarbonat plasma (HCO3-). Keseimbangan asam basa tubuh ini
sangat dipengaruhi oleh fungsi paru dan homeostasis CO2.1,3

B. Tes Fungsi Paru.


Tes paling sederhana untuk menilai fungsi paru adalah spirometri. Evaluasi fungsi
paru memberikan informasi tentang status fungsional. Evaluasi ini membantu
menetapkan derajat kebugaran dan kelemahan. Hal yang paling mendasar pada tes ini
adalah kapasitas vital (FVC), volume ekspresi paksa pada detik pertama (FEV1), dan
perbandingan kedua hasil tersebut (FEV1/FVC). FVC adalah seluruh volume udara
yang bisa dikeluarkan secara paksa dari paru setelah dilakukan ekspirasi maksimum.
Kapasitas vital relaksasi (lambat) mungkin memberikan penilaian lebih baik
mengenai volume udara yang terperangkap pada obstruksi jalan napas kronis dan
mudah untuk diukur seperti kedua nilai ini. dan FEV1 adalah volume udara yang
dikeluarkan pada detik pertama manuver tersebut. manuver tersebut mengharuskan
pasien untuk memulai dari kapasitas paru total (TLC) sebelum menghembuskan udara
keluar. Retriksi paru (,isalnya fibrosis) menurunkan FVC dan sedikit FEV1, maka
rasio FEV1 : FVC (FEV%) cenderung rendah pada penyakit paru obstruktif (misalnya
bronkritis kronis dan asma) dan normal atau tinggi pada alveolitis fibrosa. Nilai tes ini
memberikan hasil yang berbeda menurut jenis kelamin, umur, tinggi badan, dan ras.
Hasil perorangan perlu diintrepresentasikan dengan membandingkannya dengan nilai
normal yang diperkirakan dari seseorang dengan jenis kelamin, umur, ras, dan tinggi
badan yang sama. Nilai utamanya adalah untuk memnatau perkembangan penyakit
interstisial, termasuk alveolitis fibrosa dan memastikan diganosis perdarahan paru.
Umumnya, FEV1 bertambah dengan pertumbuhan paru sampai dengan usia 20-25
tahun, selanjutnya menurun 25-30 ml/tahun. Perokok dan kelompok pekerja terpajan
iritan debu atau gas tertentu menunjukan adanya percepatan penurunan FEV1. Nilai
FVC atau FEV1 sebesar 80% atau melebihi nilai yang diperkirakan biasanya
dianggap normal. Tes fungsi paru bisa menunjukkan obstruksi saluran pernapasan
atau bisa normal. Pengukuran aliran puncak serial bermanfaat dalam menegakkan
diagnosis, dan seringkali menunjjukkan pola klasik penurunan di pagi hari. Pada
Page | 10

penderita asma yang telah diketahui, pengukuran aliran puncak bermanfaat dalam
menentukan berat penyakit. Merokok jelas berhubungan dengan perkembangan
berbagai penyakit paru-paru serta dengan bertambahnya volume penutupan
(CV=closing volume). Merokok sangat mempengaruhi bersihan mukosa iliaris
saluran pernapasan serta membentukan sekresi yang lebih kental dan lengket. Usia
lanjut juga berhubungan dengan pengurangan volume paru-paru, volume ekspirasi
paksa (FEV) dan kecepatan aliran, serta elasitas paru-paru.5-7

Gambar 5. Tes fungsi paru

Mekanisme Asam dan Basa


Semua sel hidup pada tubuh manusia dikelilingi oleh lingkungan cair yang disebut cairan
ekstraselular (CES). Komposisi kimiawi dari CES diatur di dalam batas-batas sempit yang
memberikan lingkungan optimal untuk mempertahankan fungsi sel normal. Konsentrasi ion
yang paling tepat keteraturannya dalam cairan ekstrasel adalah ion hidrogen. Penyimpangan
dari konsentrasi ion hidrogen dapat mengganggu reaksi normal metabolisme selular dengan
mengubah keefektifan enzim, hormon, dan pengatur kimiawi fungsi sel lain.
Keseimbangan asam basa adalah homeostasis dari kadar hidrogen (H+) pada cairan tubuh.
Asam terus menerus diproduksi dalam metabolisme yang normal. Asam adalah suatu subtansi
yang mengandung satu atau lebih ion H+ yang dapat dilepaskan dalam larutan (donor proton).
Page | 11

Salah satu dari asam kuat adalah asam hidroklorida (HCL), hampir terurai sempurna dalam
larutan, sehingga melepaskan lebih banyak ion H+. Asam lemah, seperti asam karbonat
(H2CO3), hanya terurai sebagian dalam larutan sehingga lebih sedikit ion H+ yang dilepaskan.
pH adalah pencerminan rasio antara asam terhadap basa dalam cairan ekstrasel. pH dalam
serum dapat diukur dengan pH meter, atau dihitung dengan mengukur konsentrasi bikarbonat
dan karbondioksida serum dan menempatkan nilai-nilainya ke dalam persamaan Henderson
Hasselbach.
pH = pK + log H- /CO2
Proses metabolisme dalam tubuh menyebabkan terjadinya pembentukan dua jenis asam ,
yaitu mudah menguap (volatil) dan tidak mudah menguap (non volatil). Asam volatil dapat
berubah menjadi bentuk cair maupun gas.
Basa adalah subtansi yang dapat menangkap atau bersenyawa dengan ion hidrogen
sebuah larutan (akseptor proton). Basa kuat, seperti natrium hidroksida (NaOH), terurai
dengan mudah dalam larutan dan bereaksi kuat dengan asam. Basa lemah seperti natrium
bikarbonat (NaHCO3), hanya sebagian yang terurai dalam larutan dan kurang bereaksi kuat
dengan asam.
Pengaturan ion hidrogen yang tepat bersifat penting karena hampir semua aktifitas sistem
enzim dalam tubuh dipengaruhi oleh konsentrasi ion hidrogen. Oleh karena itu perubahan
konsentrasi hidrogen sesungguhnya merubah fungsi seluruh sel dan tubuh. Konsentrasi ion
hidrogen

dalam

cairan

tubuh

normalnya

dipertahankan

pada

tingkat

yang

rendah,dibandingkan dengan ion-ion yang lain,konsentrasi ion hidrogen darah secara normal
dipertahankan dalam batas ketat suatu nilai normal sekitar 0,00004 mEq/liter. Karena
konsentrasi ion hidrogen normalnya adalah rendah dan karena jumlahnya yang kecil ini tidak
praktis, biasanya konsentrasi ion hidrogen disebut dalam skala logaritma dengan
menggunakan satuan pH.
pH = log 1/H+
pH = -log H+
Normal H+ adalah 0,00000004 Eq/liter. Oleh karena itu pH normal adalah:
pH = -log (0,00000004)
Page | 12

pH = 7,4
Dari rumus diatas, bahwa pH berhubungan terbalik dengan konsentrasi ion hidrogen. Oleh
karena itu pH yang rendah berhubungan dengan konsentrasi ion hidrogen yang tinggi dan pH
yang

tinggi

berhubungan

dengan

konsentrasi

ion

hidrogen

yang

rendah

Seseorang dikatakan asidosis saat pH turun dari nilai normal dan dikatakan alkolosis saat pH
diatas nilai normal. Batas rendah nilai pH dimana seseorang dapat hidup beberapa jam adalah
sekitar 6,8 dan batas atas adalah sekitar 8,0.

2.6 Pengaturan Perubahan Konsentrasi Ion Hidrogen


Ada 3 sistem utama yang mengatur konsentrasi ion hidrogen dalam cairan tubuh untuk
mencegah asidosis atau alkalosis:
1. Sistem penyangga asam basa kimiawi cairan tubuh
2. Pusat pernafasan
3. Ginjal
Saat terjadi perubahan dalam konsentrasi ion hidrogen , sistem penyangga cairan tubuh
bekerja dalam waktu singkat untuk menimbulkan perubahan-perubahan ini. Sistem
penyangga tidak mengeliminasi ion-ion hidrogen dari tubuh atau menambahnya kedalam
tubuh tetapi hanya menjaga agar mereka tetep terikat sampai keseimbangan tercapai kembali.
Kemudian sistem pernafasan juga bekerja dalam beberapa menit untuk mengeliminasi
CO2 dan oleh karena itu H2CO3 dari tubuh. Kedua pengaturan ini menjaga konsentrasi ion
hidrogen dai perubahan yang terlalu banyak sampai pengaturan yang ketiga bereaksi lebih
lambat. Ginjal dapat mengeliminasi kelebihan asam dan basa dari tubuh. Walaupun ginjal
relatif lambat memberi respon, dibandingkan sistem penyangga dan pernafasan, ginjal
merupakan sistem pengaturan asam-basa yang paling kuat selama beberapa jam sampai
beberapa hari.
2.7 Sistem Penyangga Ion Hidrogen dalam Cairan Tubuh
Penyangga adalah zat apapun yang secara terbalik dapat mengikat ion-ion hidrogen, yang
segera bergabung dengan asam basa untuk mencegah perubahan konsentrasi ion hidrogen
Page | 13

yang berlebihan. Sistem ini bekerja sangat cepet dan menghasilkan efek dalam hitungan
detik.
Ada 4 sistem penyangga dalam cairan tubuh:
1.

Sistem penyangga bikarbonat-asam karbonat


Sistem penyangga utama dalam tubuh adalah sistem penyangga bikarbonat-asam

karbonat. Sistem ini bekerja dalam darah untuk menyangga pH plasma. Apabila ion-ion
hidrogen bebas ditambahkan ke dalam darah yang mengandung bikarbonat maka ion-ion
bikrbonat akan mengikat ion hidrogen dan berubah menjadi asam karbonat H2CO3. Hal ini
menyebabkan ion hidrogen bebas sedikit dalam larutan sehingga penurunan pH darah dapat
dicegah.
2.

Sistem penyangga fosfat


Asam fosforik H2PO42- adalah suatu asam lemah ,asam ini terurai dalam plasma

menjadi fosfat HPO42- dan ion hydrogen. Fosfat adalah suatu asam lemah sistem penyangga
ini digunakan oleh ginjal untuk menyangga urin sewaktu ginjal mengeksresikan ion hidrogen.
3.

Sistem protein
Sistem penyangga terkuat dalam tubuh. Karena mengandung gugus karboksil yang

berfungsi sebagai asam dan gugus amino yang berfungsi sebagai basa.
4.

Sistem penyangga hemoglobin


Hemoglobin mengikat ionion hidrogen bebas sewaktu beredar melewati sel sel

yang bermetabolisme secara aktif.. Dengan mengikuti ion hydrogen bebas maka peningkatan
konsentrasi ion hidrogen bebas dalam darah dapat diperkecil dan pH darah vena hanya turun
sedikit apabila dibandingkan dengan darah arteri. Sewaktu darah mengalir melalui paru, ion
ion hidrogen terlepas dari hemoglobin dan berikatan dengan bikarbonat untuk menjadi asam
karbonat yang terurai menjadI CO2 dan air. CO2dikeluarkan melalui ekspirasi sehingga ionion hidrogen yang dihasilkan oleh proses metabolisme dapat dieliminasi.
2.8 Keseimbangan Asam dan Basa dalam Cairan Tubuh
Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan pengaturan konsentrasi ion H bebas
dalam cairan tubuh. pH rata-rata darah adalah 7,4, pH darah arteri 7,45 dan darah vena 7,35.
Page | 14

Jika pH darah < 7,35 dikatakan asidosis, dan jika pH darah > 7,45 dikatakan alkalosis. Ion H
terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. Ion H secara normal dan kontinyu
akan ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber, yaitu:
1.

Pembentukan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan

bikarbonat.
2.

Katabolisme zat organik

3.

Disosiasi asam organik pada metabolisme intermedia, misalnya pada metabolisme

lemak terbentuk asam lemak dan asam laktat, sebagian asam ini akan berdisosiasi
melepaskan ion H.
2.9 Akibat Ketidak Seimbangan Asam dan Basa dalam Cairan Tubuh
Ada 4 kategori ketidak seimbangan asam-basa, yaitu:
1.

Asidosis respiratori, disebabkan oleh retensi CO2 akibat hipoventilasi. Pembentukan

H2CO3 meningkat, dan disosiasi asam ini akan meningkatkan konsentrasi ion H.
2.

Alkalosis

respiratori,

disebabkan

oleh

kehilangan

CO2 yang

berlebihan

akibat hiperventilasi. Pembentukan H2CO3 menurun sehingga pembentukan ion H menurun.


3.

Asidosis metabolik, asidosis yang bukan disebabkan oleh gangguan ventilasi paru.

Diare akut, diabetes mellitus, olahraga yang terlalu berat, dan asidosis uremia akibat gagal
ginjal akan menyebabkan penurunan kadar bikarbonat sehingga kadar ion H bebas
meningkat.
4.

Alkalosis metabolik, terjadi penurunan kadar ion H dalam plasma karena defisiensi

asam non-karbonat. Akibatnya konsentrasi bikarbonat meningkat. Hal ini terjadi karena
kehilangan ion H karena muntah-muntah dan minum obat-obat alkalis. Hilangnya ion H akan
menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk menetralisir bikarbonat, sehingga kadar
bikarbonat plasma meningkat.
Gangguan Keseimbangan Asam Basa
Asidosis Respiratorik
A.

Pengertian

Page | 15

Asidosis Respiratorik adalah keasaman darah yang berlebihan karena penumpukan


karbondioksida dalam darah sebagai akibat dari fungsi paru-paru yang buruk atau pernafasan
yang lambat.
Kecepatan dan kedalaman pernafasan mengendalikan jumlah karbondioksida dalam
darah. Dalam keadaan normal, jika terkumpul karbondioksida, pH darah akan turun dan
darah menjadi asam.
Tingginya kadar karbondioksida dalam darah merangsang otak yang mengatur
pernafasan, sehingga pernafasan menjadi lebih cepat dan lebih dalam.
B.

Penyebab
Asidosis respiratorik terjadi jika paru-paru tidak dapat mengeluarkan karbondioksida

secara adekuat. Hal ini dapat terjadi pada penyakit-penyakit berat yang mempengaruhi paruparu, seperti:

Emfisema

Bronkitis kronis

Pneumonia berat

Edema pulmoner

Asma.
Selain itu, seseorang dapat mengalami asidosis respiratorik akibat narkotika dan obat

tidur yang kuat, yang menekan pernafasan Asidosis respiratorik dapat juga terjadi bila
penyakit-penyakit dari saraf atau otot dada menyebabkan gangguan terhadap mekanisme
pernafasan.
Asidosis Metabolik
A.

Pengertian

Asidosis Metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan, yang ditandai dengan rendahnya
kadar bikarbonat dalam darah. Bila peningkatan keasaman melampaui sistem penyangga pH,
darah akan benar-benar menjadi asam.

Page | 16

Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan menjadi lebih dalam dan lebih cepat
sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara
menurunkan jumlah karbon dioksida. Pada akhirnya, ginjal juga berusaha mengkompensasi
keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih.
Tetapi kedua mekanisme tersebut bisa terlampaui jika tubuh terus menerus menghasilkan
terlalu banyak asam, sehingga terjadi asidosis berat dan berakhir dengan keadaan koma.
B.

Penyebab
Penyebab asidosis metabolik dapat dikelompokkan kedalam 3 kelompok utama adalah:

1. Jumlah asam dalam tubuh dapat meningkat jika mengkonsumsi suatu asam atau suatu
bahan yang diubah menjadi asam. Sebagian besar bahan yang menyebabkan asidosis bila
dimakan dianggap beracun. Contohnya adalah metanol (alkohol kayu) dan zat anti beku
(etilen glikol).Overdosis aspirin pun dapat menyebabkan asidosis metabolik.
2. Tubuh dapat menghasilkan asam yang lebih banyak melalui metabolisme.Tubuh dapat
menghasilkan asam yang berlebihan sebagai suatu akibat dari beberapa penyakit; salah satu
diantaranya adalah diabetes melitus tipe I. Jika diabetes tidak terkendali dengan baik, tubuh
akan memecah lemak dan menghasilkan asam yang disebut keton. Asam yang berlebihan
juga ditemukan pada syok stadium lanjut, dimana asam laktat dibentuk dari metabolisme
gula.
3

Asidosis metabolik bisa terjadi jika ginjal tidak mampu untuk membuang asam dalam jumlah
yang semestinya. Bahkan jumlah asam yang normalpun bisa menyebabkan asidosis jika
ginjal tidak berfungsi secara normal. Kelainan fungsi ginjal ini dikenal sebagai asidosis
tubulus renalis, yang bisa terjadi pada penderita gagal ginjal atau penderita kelainan yang
mempengaruhi kemampuan ginjal untuk membuang asam.

Penyebab utama dari asidois metabolik: Gagal ginjal

Asidosis tubulus renalis (kelainan bentuk ginjal)

Ketoasidosis diabetikum

Asidosis laktat (bertambahnya asam laktat)

Bahan beracun seperti etilen glikol, overdosis salisilat, metanol, paraldehid,

Page | 17

asetazolamid atau amonium klorida

Kehilangan basa (misalnya bikarbonat) melalui saluran pencernaan karena


diare, leostomi atau kolostomi.

Alkalosis Respiratorik
A. Definisi
Alkalosis Respiratorik adalah suatu keadaan dimana darah menjadi basa karena pernafasan
yang cepat dan dalam, sehingga menyebabkan kadar karbondioksida dalam darah menjadi
rendah.
B.

Penyebab

Pernafasan yang cepat dan dalam disebut hiperventilasi, yang menyebabkan terlalu
banyaknya jumlah karbondioksida yang dikeluarkan dari aliran darah. Penyebab
hiperventilasi yang paling sering ditemukan adalah kecemasan. Penyebab lain dari alkalosis
respiratorik adalah:

rasa nyeri

sirosis hati

kadar oksigen darah yang rendah

demam

overdosis aspirin.

Alkalosis Metabolic
A. Definisi
Alkalosis Metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena
tingginya kadar bikarbonat.
B. Penyebab
Alkalosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan terlalu banyak asam. Sebagai contoh adalah
kehilangan sejumlah asam lambung selama periode muntah yang berkepanjangan atau bila
Page | 18

asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti yang kadang-kadang dilakukan di
rumah sakit, terutama setelah pembedahan perut).
Pada kasus yang jarang, alkalosis metabolik terjadi pada seseorang yang mengkonsumsi
terlalu banyak basa dari bahan-bahan seperti soda bikarbonat. Selain itu, alkalosis metabolik
dapat terjadi bila kehilangan natrium atau kalium dalam jumlah yang banyak mempengaruhi
kemampuan ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah.
Penyebab utama akalosis metabolik:

Penggunaan diuretik (tiazid, furosemid, asam etakrinat)

Kehilangan asam karena muntah atau pengosongan lambung

Kelenjar adrenal yang terlalu aktif (sindroma Cushing atau akibat penggunaan
kortikosteroid).8

Kesimpulan
Asam-Basa merupakan 2 golongan zat kimia yang sangat penting dalam kehidupan seharihari. Sifat asam-basa suatu larutan dapat ditentukan dengan mengukur pHnya. pH merupakan
suatu parameter yang digunakan untuk menentukan tingkat keasaman suatu larutan. Dimana
pH normal adalah 7,35-7,45, jika pH nya kurang atau lebih dari normal maka terjadi
gangguan asam-basa.

Daftar Pustaka
Page | 19

1. Price S. A dan Wilson L. M, Patofisiologi, Konsep Klinis Prose-proses penyakit, Edisi


ke-6, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2005, h. 736-78
2. Gunardi S, Anatomi Sistem Pernapasan, Edisi ke-1, Jakarta, Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 2009, h. 2-56
3. Sherwood L, Fisiologi Manusia, dari Sel ke Sistem, Edisi ke-2, Jakarta, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2001, h. 412-46
4. Silbernagl S, Atlas Berwarna dan Teks Fisiologi, Edisi ke-4, Jakarta, Penerbit
Hipokrates, 2000, h. 78-83
5. Rubenstein D, Wayne D, Bradley J, Kedokteran Klinis, Edisi ke-6, Jakarta, Penerbit
Erlangga, 2007, h. 60-1
6. Jeyaratnam J, Koh D, Praktik Kedokteran Kerja, Edisi ke-3, Jakarta, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2009, h. 72-4
7. Davey P, At a Glance Medicine, Edisi ke-1, Jakarta, Penerbit Erlangga, 2006, h. 180
8. Djojodibroto R. D, Respirologi, Respiratory Medicine, Edisi ke-1, Jakarta, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, 2009, h. 53-9

Page | 20