Anda di halaman 1dari 8

-

KE DAFTAR ISI
ISSN 0216-3128

252

EV ALUASI

KANDUNGAN

Purwanto A., dkk

AI DALAM AIR SUNGAI

DIY DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI

CODE

UV-VIS

Purwanto,A., Samin BK., Supriyanto,c.


Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN

ABSTRAK
EVALUASI KANDUNGAN Al DALAM AIR SUNGAI CODE D.I. YOGYAKARTA DENGAN METODE
SPEKTROFOTOMETRI
UV-VIS. Telah di/akukan evaluasi kandungan aluminium dalam air sungai Code
dengan metode spektrofotometri
ultra lembayung-tampak
(UV-Vis). Prinsip met ode ini adalah ion
aluminium direaksikan dengan eriokrom sianin R dalam larutan bufer asetat pH 6,0 terbentuk kompleks
berwarna merah. Serapan maksimum kompleks AI-eriokrom sianin pada panjang gelombang (A) 536 nm.
Agar diperoleh hasi/ pengujian yang valid di/akukan validasi alat dan metode dengan menentukan presisi,
akurasi dan batas deteksi. Optimasi metode diperoleh bahwa waktu kestabi/an kompleks 5 -20 menit.
volume pengompleks 2,0 mL. Kurva standard linier pada kisaran konsentrasi 50-250 p.p.b. Alat dan metode
mempunyai presisi dan akurasi yang baik, dengan ni/ai akurasi 99,4 %; presisi 1,9; dan batas deteksi II
ppb. Cuplikan air diambi/ pada musim penghujan dan musim kemarau di II titik IOkasi dari sumber mata
air G. Turgo, hingga selatan kota YORYakarta. Kandungan aluminium dalam air sungai Code pada nll/sim
penghujan tertinggi di titik 10kasi jembatan Tungkak adalah 209,0 .:t 2.2 p.p.b. pada musim kemarall
tertinggi di titik lokasijembatan Karang Kajen adalah 8,6 .:t 0, I p.p.b.
Kata kunci: aluminium, Sungai Code, Spektrofotometri
UV-Vis.

ABSTRACT
DETERMINATION
OF ALUMINUM
FROM CODE RIVER WATER AT YOGYAKARTA
BY UV-VIS
SPECTROPHOTOMETRY
METHOD.
The evaluation of aluminum in Code river water by ultra violetvisible spectrophotometry method has been carried out. Principle of this method is that aluminum ion reacts
with eriochrome cyanine R in buffer acetate solution at pH 6.0, to form the red-violet colour. Complex of Al
ion with eriochrome cyanine gives maximum absorbance at wave length (A) 536 nm. To obtain the valid test
result, the instrumentation and analysis method validation covering the determination of precision,
accuration and limit of detection should be done. The optimation of analysis were:
time of stability
complex, volume of complexing agent. It was found that time of stability complex is 5-20 minutes. optimum
volume of 0,01 % eriochrome cyanine R is 2.0 mL. The standard curve is linier at the range concentration
10 - 250 p.p.b. Instrument and method of analysis have good precision and good accuracy with the number
of accuracy is 99.4 %, precision is 1.9, and limit of detection is II p.p.b. It was found that the highest
aluminum content in Code river water at rainy season is in Tungkak of209.0.:t 0.2 pp.b .. and of dry season
is in Karang Kajen of 8.6.:t 0.1 pp. b.

Keyword: aluminum, Code river, lJV-Vis spectrophotometry

PENDAHULUAN

ungai
Code melewati
yang mengalir
melalui kota
Yogyakarta
ban yak perkampungan,
setiap kampung mempunyai perlakuan yang
berbeda-beda terhadap sungai Code. Air sungai
Code dan sungai-sungai lain di Yogyakarta, tidak
lagi jemih, banyak limbah yang di buang ke sungai
Code. Kepedulian warga setempat dalam menjaga
kebersihan sungai juga belum tampak.
Selain
sumber pencemar dari limbah rumah tangga,
diperkirakan
adanya pencemaran
dari limbah
keraj inan kulit, batik, pabrik karoseri mobil dan
dari rumah sakit. Peningkatan jumlah limbah yang

dibuang ke sungai berpengaruh terhadap kualitas


air sungai tersebut.
Air merupakan
kebutuhan
utama bagi
makluk hidup.
Air yang relatif bersih sangat
didambakan oleh manusia, baik untuk keperluan
hidup sehari-hari, untuk keperluan industri, sanitasi
dan untuk keperluan kota. Air menjadi masalah
yang perlu mendapatkan perhatian yang seksama.
Akhir-akhir ini sulit untuk mendapatkan air bersih,
terutama
di
kota-kota
besar
yang
padat
penduduknya. Menurut SK Menteri Kesehatan RI
No. 418/MENKES/PER/IX/1990
syarat mutu air
minum antara lain kandungan maksimum(I):
AI:

Prosiding PPI - PDiPTN 2006


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juil 2006

Purwanto A., dkk.

ISSN 0216 - 3128

0,2 mglL; Mn: 0, I mglL, Cr (VI) : 0,05 mglL, Cu


: ],0 mglL, Zat organik (KMn04) = 10 mglL.
Metode
analisis
unsur ke]umit (trace
element) secara spektrofotometri
ultra violettampak (UV-Vis) merupakan metode analisis yang
berdasarkan pada pembentukan warna yang kuat
antara
un sur analit
dengan
pereaksi
yang
digunakan. Dengan menggunakan pereaksi warn a
menjadi lebih peka sehingga
batas deteksinya
menjadi
rendah.
Prinsip penentuan
yaitu
berdasarkan
terbentuknya
kompleks
berwarna
merah hingga merah muda dari reaksi kompleks
antara ion aluminium dengan eriokrom sianin R
dalam media larutan bufer asetat antara pH 3,8
hingga 6,5 yang mempunyai serapan maksimum
pada panjang gelombang 535 nm(2).
Tujuan percobaan ini adalah mengevaluasi
kadar
aluminium
dalam
air sungai
Code
Yogyakarta dengan metode spektrofotometri UVVis. Diperkirakan kandungan ]ogam terlarut da]am
aliran sungai merupakan unsur ke]umit (trace
element)
maka penentuan kandungan aluminium
diperlukan pemilihan metode analisis yang peka
dan mampu mendeteksi kurang dari I ppm. Untuk
menaikkan kepekaan pengukuran, dengan dibuat
senyawa kompleks menggunakan pereaksi warn a
(dye agent) eriokrom sianin R.
Agar diperoleh data pengujian yang valid
pada kondisi optimum dilakukan validasi alat dan
metode analisis dengan menentukan harga presisi,
akurasi dan batas deteksi.
Dalam laboratorium
pengujian yang mengadopsi peraturan dari SNI-1917025-2000 data hasil uji dikatakan valid apabila
data uji tersebut mempunyai presisi dan akurasi
yang baik (3). Kesalahan da]am analisis kimia akan
berakibat fatal, karena kesa]ahan analisis kimia
akan menimbulkan kesalahan dalam pembahasan,
perhitungan,
penentuan
diagnose,
kesa]ahan
pengambilan
keputusan.
Laboratorium
harus
memvalidasi metode tidak baku, metode yang
dikembangkan, metode baku yang digunakan di
luar lingkup yang dimaksudkan.(3)

TAT A KERJA
Bahan

253

Peralatan
Seperangkat a]at spektrometer UV-Vis, pH
meter "WTW", neraca analitik digital "Mettler",
kompor listrik, motor pengaduk magnit, mikro pipet
ukuran 10 - ]00 ~L, dan 50-250 ~L, beker teflon
ukuran
50 mL, pera]atan
gelas
dan alat
laboratorium ]ainnya (Iabu, beker, dan pipet).
Peralatan sampling air dan sedimen antara lain :
GPS, pH meter, Jerigen plastik bertutup, ember
plastik, gelas beker, botol semprot, akuades,
gayung berskala, rol meter (meteran), pipet ukur
dan propipet,.
Cara

kerja

Penentuan

waktu kestabilan kompleks

Disiapkan 2 buah labu takar 10 mL, untuk


larutan blangko dan larutan uji. Keda]am labu
takar untuk larutan uji dimasukkan 200 ~L larutan
standard AI 10 p.p.m., sehingga konsentrasi AI 200
p.p.b. Ditambahkan berturut-turut : 2,0 mL bufer
asetat pH 6,0; 0,2 mL asam askorbat 0, I %, 0,2
mL H2S04 0,02 N,
khusus larutan blangko
ditambah 0,2 mL larutan EDTA 0,01 M. Masingmasing larutan ditambah 2 mL pereaksi eriokrom
sianin 0,01 %, dan volume ditepatkan dengan
akuatrides sampai tanda tera, saat penambahan stop
watch dihidupkan. Diukur serapannya pada A 536
nm untuk setiap selang waktu: 2, 4, 6, 8 hingga
35 menit. Dibuat grafik an tara serapan terhadap
waktu, ditentukan waktu kestabilannya.
Optimasi volume pengompleks
Disiapkan 10 buah labu takar ]0 mL, 5 buah
untuk larutan blangko dan 5 buah untuk larutan uji,
masing-masing diisi dengan 100 ilL AI(IIl) 10
p.p.m. Ditambahkan berturut-turut:
2,0 mL bufer
asetat pH 6,0; 0,2 mL asam askorbat 0, I %, 0,2
mL H2S04 0,02 N, khusus untuk ]arutan blangko
ditambah 0,2 mL EDT A 0,0 I M, Kemudian
ditambahkan larutan pengompleks eriokrom sianin
0,0 I %, dengan variasi volume : 0,5;
],0; 1,5;
2,0 dan 2,5 mL, ditambah akuatrides sampai
tanda tera dan reaksi ditunggu 5 hingga 10 men it.
Diukur serapannya pada A 536 nm, untuk setiap
volume pengompleks yang berbeda. Dibuat grafik
antara volume eriokrom sianin terhadap serapan,
ditentukan volume optimum pengompleks.
Pembuatan kurva standard

Larutan standar AI konsentrasi 1000 ppm


buatan Merck, standar A] 10 ppm, eriokrom sianin
R (C23HIsNa309S), natrium asetat, asam asetat, asam
sulfat, asam fluorida, asam askorbat buatan Merck,
Standard reference materials (SRM) Soil-7 buatan
IAEA,
akuatrides buatan laboratorium P3TM
BATAN, dan cuplikan air sungai Code Yogyakarta.

Disiapkan 6 buah labu takar ]0 mL, masingmasing diisi dengan larutan standard AI(" I) 10
p.p.m. dengan variasi volume : 0 (b]anko), 50,
100,
150, 200,
250 dan 300 ilL sehingga
konsentrasi AI da]am larutan: 0; 50; 100; ]50 ;
200 ; 250 dan 300 p.p.b. Ditambahkan berturutturut 2,0 mL bufer asetat pH 6,0; 0,2 mL asam

Prosiding PPI - PDIPTN 2006


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2006

254

ISSN 0216-3128

askorbat 0, %, 0,2 mL H2S04 0,02 N, khusus


untuk larutan blangko ditambah 0,2 mL larutan
EDT A 0,0 M. Masing-masing larutan ditambah
2,0 mL eriokrom sianin 0,01 %, dan volume
ditepatkan dengan akuatrides sampai tanda tera,
dan reaksi ditunggu 5 hingga 10 menit. Diukur
serapannya pada 'A 534 nm, dan larutan blangko
sebagai pembanding. Dibuat kurva standard antara
konsentrasi terhadap serapan, dihitung persamaan
regresi linier hubungan antara konsentrasi dengan
serapan.

Purwanl0 A., flkk

tidak ada perbedaan atau pergeseran I.i antara


literatur dengan percobaan.
Sehingga dalam
percobaan
selanjutnya
dilakukan
pembacaan
serapan pad a panjang gelombang ('A) 536 nm.
Scrapan

o.:Wo

r---:

n.2~() .....
n.2oo

.... i-

0.1.50

n,I()(j
n.nsu

0.000

Sampling air sungai


Pengambilan cuplikan (sampling) air dan
sedimen dilakukan di sebelas titik lokasi mulai dari
sumber mata air yaitu di Gunung Turgo, ke selatan
memasuki kota Yogyakarta, hingga selatan kota
Yogyakarta yaitu di daerah Wonokromo.
Pad a
setiap lokasi pengambilan cuplikan diukur letak
lokasi (derajad Bujur Timur dan Lintang Selatan)
menggunakan GPS V, suhu dan pH. Air sungai
diambil di 2 tepi dan di tengah masing-masing 4
liter, sedimen diambil 1 kg. Cuplikan air setelah
diukur pH nya, ditambahkan pengawet HN03 pekat
mL tiap liter contoh.

Penentuan Al dalam cuplikan


lokasi sampling cuplikan air sungai
Dari
diambil 2 liter dimasukkan ke dalam gelas beker,
dipanaskan pada suhu 90C, dipekatkan hingga
volume 50 mL (pemekatan 40 kali). Disiapkan
sejumlah labu takar 10 mL, masing-masing diisi
dengan sejumlah volume tertentu cuplikan hasil
pemekatan. Ditambah 2,0 mL bufer asetat pH 6,0 ;
2,0 mL asam askorbat 0, %, dan 0,2 mL larutan
H2S04
0,02 N. Kemudian ditambahkan 2,0 mL
pereaksi eriokrom sianin 0,01 %,
ditambah
akuatrides sampai tanda batas dan reaksi ditunggu 5
-] 0 menit.
Larutan blanko dibuat dengan
penambahan 0,2 mL larutan EDT A 0,0
M.
Diukur serapannya pada 'A 536 nm dan larutan
blangko sebagai pembanding. Dihitung konsentrasi
aluminium
dalam
cuplikan
menggunakan
persamaan regresi linier dari kurva standard.

II

HASIL DAN PEMBAHASAN


Panjang
sian in

gelombang

('A)

kompleks

Al-eriokrom

Serapan kompleks ion aluminium dengan


eriokrom sianin dalam larutan bufer asetat pH 6,0
di scan dari panjang gelombang ('A) 190 nm hingga
800 nm. Dari spektra serapan terhadap panjang
gelombang
diperolch bahwa scrapan maksimum
terjadi pada panjang gelombang 536 nm. Dari
pengamatan panjang gelombang diperoleh bahwa

..0.050
..(J.lOn

3011

350

4()()

450

500

550

Panjang gelombang

wn

(.50

7011

no

~HU

( nm )

Gambar J. Spektra larutan Al


bufer asetat pH 6,0

100 ppb

Waktu kestabilan kompleks AI-eriokrom

da/am

sianin

Pengamatan
waktu kestabilan kompleks
dilakukan terhadap
AI 200 p.p.b. dalam bufer
asetat pH 6,0 ; volume pengompleks eriokrom
sian in 0,0 % adalah 2,0 mL. Serapan kompleks
dicatat pada panjang gelombang ('A) 534 nm untuk
setiap selang waktu tertentu. Waktu pengamatan
serapan dari men it kedua sampai 30 men it dari saat
direaksikan. Kurva antara waktu reaksi (men it)
terhadap serapan disajikan pada Gambar 2 berikut :

0.365
0.360

c'"
@"

0.355

'n-e'.

,
it

'e'. i ..
-.i

i -.i '.

it

0.350

<I)

en 0.345

0.335
0340

t1----------------. --.. -j

2 3 4 5 6 7 8 9 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30

----+

Waktu (menit)

Gambar 2. Serapan Al 200 p.p.b. diamat; pada


536 nm denga" waktu 2-30 me"it.

Penentuan
waktu
kestabilan
kompleks
dengan tujuan untuk mengetahui berapa lama
kompleks itu terbentuk dan berapa lama waktu
kestabilannya.
Waktu kestabilan ini berpengaruh
terhadap kedapat-ulangan
(reproducible),
bila
waktu
kestabilannya
lama
maka
kedapatulangannya makin baik. Dari Gambar 2 terlihat
bahwa
kompleks
antara
aluminium
dengan
eriokrom sianin dengan volume pengompJeks 2,0
mL, diperoleh waktu kestabilan dari menit ke 4
hingga 30 menit.
Keasaman (pH) larlltan
bcrpcngaruh terhadap waktu kcstabilan kompleks,
daJam larutan asam misalnya pada pH 3,8 diperoleh
hasil dengan kedapat-lIlangan yang kurang baik

Prosiding PPI - PDIPTN 2006


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2006

ISSN 0216 - 3128

Punvallto A., dkk.

dibandingkan pada pH 5,5. Keberadaan aluminium


dalam air alam dikontrol oleh pH, pada pH di atas
netral yang dominan adalah bentuk hidroksida
terlarut dari AI(OH)4-, sedangkan kation AI+J
dominan dalam suasana asam (2).

Variasi volume pengompleks


0,01 %

eriokrom

sianin R

Variasi volume pengompleks


terhadap
larutan
AI(III)
100 p.p.b.,
dengan
variasi
penambahan volume eriokrom sianin dari
0,5
hingga 2,5 mL, dan serapan dicatat untuk setiap
variasi volume pada panjang gelombang 534 nm.
Kurva volume pengompleks (mL) terhadap serapan
ditunjukkan pada Gambar 3.
0.J50

Serapan

O.JOO

0.250
0.200
0.150
0.100
0.050
0.0

0.5

1.0

1.5

2.0

2.5

3.0

Vol. Eriokrom sianin (mL)

Gambar 3. Variasi volume pengompleks eriokrom


sianin 0,01 %
Reaksi kompleks
antara AI+J dengan
eriokrom sianin R terbentuk antara satu mol ion
X = 32,1157
AI+J dengan tigaBlanko
mol ligand, dengan persamaan
(Y)
463
reaksi sebagai berikut(4)n:572=7

255

Reference Material Soil-7 adalah : 46,733 1,917


mg/g, sedangkan kadar AI dalam sertifikat adalah
47 mg/g, atau dalam kisaran konsentrasi 44 - 51
mg/g(7)
Jadi hasil analisis masuk kisaran
konsentrasi yang tertera dalam sertifikat. Metode
dengan nilai bias, presisi, persen RSO, dan persen
o lebih kecil serta nilai akurasi (persen recovery)
dekat dengan 100% dikatakan lebih efektif, Bias,
presisi, persen RSO, dan persen 0 menunjukkan
besamya deviasi hasil validasi dengan nilai
sesungguhnya.
Hasil validasi dengan Soil-7
diperoleh akurasi (persen recovery) 99,4 %, dan
presisi 1,94.
Penentuan

batas deteksi

Penentuan

batas

deteksi

alat

dilakukan

dengan rilengukur serapan 7 buah lamtan blanko


pada A. 534 nm, dihitung konsentrasi AI dengan
menggunakan persamaan regresi dari kurva standar.
Oihitung standar deviasi dari tujuh pengukuran,
batas deteksi alat ( Instrument Detection Limit,
IDL) adalah tiga kali standar deviasi(8).
Penentuan batas deteksi metode (MOL)
dilakukan dengan mengukur serapan 7 buah larutan
AI spike pada A. 534 nm, dihitung konsentrasi AI.,
dihitung standar deviasi. Batas deteksi metode
(Methods Detection Limit, MOL) adalah 3,14 kali
standar
deviasi.
Serapan
lam tan blanko
ditunjukkan pad a tabel I, dan serapan lamtan AI
spike ditunjukkan pada tabel 2.
Tabel t.Serapan blanko, untuk menghitung IDL
dan standar - deviasi
(Xi- X )2
4,3805
12,8266
2,6631
1,9732
0,024549,8293
0,02110
0,01241
0,01208
0,01642
0,03064
0,02318
4,2323
8,2841
9,2184
6,1818
22,6174
11,7868
0,2213
4,0628
L2,5695
= 56.1512
[AI1(Xd
]*,
ppb
Serapan

Al J+ + 3C2JHIsNaJ09S -+ [AI(C2JHI5NaJ09S)J] J+
Pad a penambahan volume pengompleks 0,5
dan 1,0 mL serapannya belum maksimal masih
menunjukkan kenaikan. Hal ini disebabkan jumlah
ligand yang ditambahkan belum cukup untuk
membentuk kompleks, reaksi belum sempuma
sehingga serapannya keci\.
Oari Gambar 3
diperoleh bahwa dengan volume pengompleks 1,5
hingga 2,0 mL memberikan serapan yang besar.
Sehingga pada percobaan selanjutnya pembuatan
kurva standard dan analisis cuplikan digunakan
volume pengompleks 2,0 mL.

Penentuan

presisi dan akurasi

Akurasi
dan
presisi
metode
analisis
ditentukan menggunakan
standard pembanding
Soil-7, Oari percobaan dengan 6 kali pengulangan
diperoleh bahwa kadar AI rerata dalam Standard

[AI]* dihitung dengan pers. Y = 0,00223 X 0,00266 r = 0,999


Sd =3,0592 IDL adalah 3 kali standar deviasi =
9,1775
Hasil penentuan batas deteksi metode
(MOL) diperoleh 10,9 ppb.
Berdasarkan harga

Prosiding PPI PDIPTN 2006


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2006

256

ISSN 0216 - 3128

!!!!!!!!!

akurasi dan presisi dapat dikatakan bahwa metoda


Spektrofotometri
UV-Vis untuk uji aluminium
dalam air mempunyai validitas yang cukup baik.

Tabel 2. Sera pan AI spike untuk


MDL dan standar deviasi

- -

X = 21,4329

koefisicn korelasi

(r)

Analisis cuplikan air


Cuplikan air sungai Code 2 liter dipanaskan
pada suhu 90 c, dipekatkan 40 kali. Hasil
pemekatan dipipet volume tertentu untuk dianalisis.
Dihitung kadar aluminium dalam cuplikan dengan
persamaan regresi linier dari kurva standar.
Dengan memperhatikan
faktor pemekatan dan
pengenceran, hasil analisis ditunjukkan pada Tabel
3 dan Tabel 4 pada lampiran.

menghitung
( Xi -

0,04765
0,04482
0,06010
25,8030
18,9392
0,04117
0,04515
0,06088
0,05283
1,4944
19,0978
6,2186
17,2996
17,0842
[AI]*
19,0874
(Xi)
5,5013
26,1534
22,2829
22,5373
1,2197
.20,2104
L
= 72,899
Serapan

Y = 0,0036 X - 0,0010,
0,9974

Purwanto A., dkk

)2

KESIMPULAN

[AI]* dihitung dengan persamaan:


Y = 0,00223
X - 0,00266
r = 0,999
Sd = 3,4857 Limit deteksi metode (MOL) = 3,14
X Sd = 10,945
Linieritas

konsentrasi

terhadap

DAFT AR PUST AKA

serapan

Kurva standar aluminium dibuat dengan


kisaran konsentrasi 50 - 250 p.p.b. Serapan diamati
pada panjang gelombang 534 nm untuk setiap
variasi konsentrasi aluminium,
kurva standar
ditunjukkan pad a Gambar 4.

1.000

Kandungan aluminium dalam air sungai


Code yang diambil pada musim penghujan tertinggi
adalah 209 2 ppb, sedangkan di sumber mata air
Gunung Turgo adalah 1,6 0,4 ppb. Kandungan
aluminium dalam air sungai Code yang diambil
pada musim kemarau tertinggi adalah 8,6 0, I
ppb, sedangkan di sumber mata air Gunung Turgo
tidak terdeteksi. Kandungan aluminium tersebut
belum melebihi ambang batas yang diijinkan.

r----

I.

W ARDHANA, W.A., Dampak Pencemaran


Lingkungan, Edisi pertama, Penerbit Andi
Offset, Yogyakarta, (1995). Hal. 293.

2.

SANDELL, E.B., Colorimetric Determination


of Trace of Metals, Third edition, Reversed
and Enlarged, Interscience Publishers, Inc"
New York (1959), p. 238-240.

3.

ANONIM;
Persyaratan Umum Kompetensi
Laboratorium Pengujian dan Laboratorium
Kalibrasi,
SN1
19-17025-2000,
Badan
Standardisasi Nasional, Jakarta (2000).

4.

SANDEL, E.B. and ONISHI, H., Photometric


Determination of Trace of Metals General

Serapan

0.887

0.800

.............................................................................
--..",-c.<~.

0.600

.... r...~.. ~~

Y = 0,0036 X - 0,001

0.400
0.200
0.000
.{)200 r
a

~/

~~!.~

,,--::<.~

0.57.3.

"'"

"",/"""

;;;.~~
/~

Aspects, Fourth edition, Part I, Jhon Willey and


Sons Publishers, Inc., New York (1978) .

.:::::::

50

100

150

200

250

5.

SHULL, K,E. and GUTHAN, G.R., Method


for Determination of Aluminum in Water.
APHA Standard Methods,18lh Edition (1992),
http:/www.chemetrics.com
/a nalytes/alu m in um,h tm I

6.

ANON 1M,
Standard
Method for The
Examination of Water and Waste Water, APHA
Standard Methods, 181h Edition (1992).

Konsentrasl AI (ppb)

Gambar 4. Kurva standar A/(III) konsentrasi 50250 p.p.b. serapan diamat; pada
panjang gelombang 534 nm
Dari kurva standar diperoleh hubungan linier
antara konsentrasi lawan serapan dengan persamaan
garis:

Prosldlrtg PPI - PDIPTN 2006


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2006

ISSN 0216 - 3128

Purwanto A., dkk.


7.

ANONIM,
International
Atomic
Energy
Agency,
Certificate
Reference
Materials
IAEA/Soil 7, Vienna, Austria (1984).

8.

http://www.wcaslab.com/tech/detlim.htm

9.

http://en.wikipedia.orglwiki/accuracv
cition

Purwanto

Tujuan penelitian
ini berkailan
dengan
hipotesa, sehubungan dengan meningkatnya
indus/ri dan /eknologi apakah ada kenaikan
logam-Iogam B-3 dan anorganik lainnya.
Dari hasil ana/isis diperoleh bahwa kadar AI
di hulu sungai sangat kecil, setelah memasuki
dan melewati perkotaan kadarnya naik, dan
di hilir sungai menurun lagi.

Metoda
ana/isis
menggunakan
Spektrofotometri
UV-Vis
mempunyai
keuntungan
yailu
operasional
alatnya
sederhana,
mudah pengerjaannya
namun
kelemahannya tidak dapat mengana/isis multi
unsur seperti AAS, AAN. Sehingga metode ini
kurang ekonomis dihanding metode AAS dan

and pre

Triyono
Mohon dijelaskan dampak dari kandungan AI
yang berlebihan di lingkungan di kali code,
terutama terhadap manusia ?

AAN.

Supriyanto
o

Purwanto
o

A.

TANYAJAWAB

257

C.

Apakah metode penentuan AI dalam air sungai


Code sudah dilakukan validasi metode ?

A.

Logam Aluminium tidak bersifat racun dan


tidak berbahaya seperti logam : Hg, Cr(V/),
Pb,
Cd,
akan
tetapi
sesuai
dengan
per.\}'aratan kualitas air minum menurut
peraturan
MENKES
R/
No.
4/6/MENKES/IX/1990
kadar maksimum yang
diperbolehkan 0,2 mg/L. Bila kandungan AI
di lingkungan kali Code tinggi, secara tidak
langsung
akan
berpengaruh
terhadap
kesehatan manusia.

Riil Isaris
o

Apakah tujuan penelitian ini berkaitan dengan


suatu hipotesa atau ada market demand?

Bagaimana analisis ekonomi metoda ini


dibandingkan
metoda kimia lain, apakah
cukup kompetitif?

Purwanto

A.

Metode ana/isis AI dalam


air secara
Spektrofotometri
UV-Vis
mengacu
dari
Standard
Method 35lJO-AI B, di/akukan
optimasi metode. Pada kondisi optimum
dilakukan va/idasi alat dan metode dengan
merientukan presisi,
akurasi
dan batas
deteksi.

Presisi suatu metode diuji dengan beberapa


kali pengulangan
ana/isis
bila variasi
hasilnya
kecil,
maka
kecermatan
pengukurannya
tinggi.
Akurasi
(persen
recovery) ditentukan dengan menganalisis
bahan pembanding bersertifikat (CRM) yang
diketahui dengan pasti kadar unsur yang
terean/um dalam sertifikat
(/rue value).
Penentuan batas deteksi alat dan metode bisa
dihaca di makalah.

Prosiding PPI - PDIPTN 2006


Pustek Akselerator dan Proses Bahan BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2006

258

ISSN 0216-3128

LAMPIRAN
Tabel3. Hasil analisis cuplikan air sungai Code musim penghujan
5195,9666
20
40
253,086
KxP'encer
2regresi
P'enceran
-21,485
Kon/P'kat
0,23602
2123,4282
2117,7676
2142,8360
127,3609
789\
7838,6637
5094,4378
61,3691
416,9942
52,9442
53,5709
0,25
53,200
0,335
124,067
0,436
0,263
0,329
0,369
195,967
2,890
197,299
127,361
1,153
7,671
53.571
52,944
-4,2970
0,07336
9,0436
1,566
1,690
0,31294
0,36719
0,89293
0,74469
0,95795
0,92926
0,24663
0,57729
210,4977
64,4430
259,9254
260,8361
210,0867
4915,4548
164,9635
1917,0235
1916,8553
197,2986
7930,4913
198,2623
4878,1667
122,8864
6598,5417
6730,4428
168,2611
295,4832
76,4778
95,8512
80,6500
97,1345
95,8428
53,0857
-40,0347
59,0966
306,8455
5227,7055
322,2148
83,3988
5198,5081
5216,7215
8256,9196
8403,4664
8419,9092
0,25
0,5
7,705
10,022
130,358
48,138
209,003
0,25
210,498
210,087
0,372
-0,537
-1,001
48,567
4,403
10,425
129,963
47,921
198,262
121,954
122,886
164,964
168,261
173,684
10,081
2,243
9,560
8,055
7,387
(kali)
206,4230
261,3853
121,9542
1942,6903
6947,3429
173,6836
403,2502
382,3889
-8,0069
197,176
168,969
0,25
0,5
206,423
130,693
130,418
47,926
Lokasi-0,00293
-39,2921
45,2178
75,1437
15,0287
67,5922
13,5184
-7,8584
0,389
-0,840
-0,982
1,130
1,879
(A)
(mL)
[AI]
+2,9453
Sd(ppb)
(p.p.b.)
(p.p.b.)
Rerata
(p.p.b.)
Dipipet
Serapan
J

0,88864
0,55322
0,24879
0,37177

Proslding PPI - PDIPTN 2006


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2006

Purwanto A., dkk

ISSN 0216 - 3128

Purwanto A., dkk.

259

Tabel 4. Hasil analisis cuplikan air sungai Code musim kemarau

-- 442rewesi
5(All
4422Sd
Kon/P'kat
1,221
P'enceran
Serapan
4
0,07552
0,31
1,399
0,06\86
0,23875
2,5
21,629\
1,287
85,9427
206,5555
82,6222
214,8568
5,376
223,6752
19,5396
48,8489
0,09
0,21
54,0728
\,352
5,371
5,592
5,\64
-0,01518
43,2716
0,\9\
\08,1791
0,40
0,18
7,6356
2,704
8,584
348,4028
340,73\4
\33,9958
0,183
0,\1
7,4079
3,441
3,350
8,518
-0,01526
89,4701
Lokasi-0,00612
23,7497
26,3392
1,565
0,11
65,8480
59,3742
1,484
1,646
0,02924
22,3870
13,4580
1,042
33,6450
55,9676
0,841
-0,01527
14,1831
35,4578
0,886
0,01332
0,290
19,7032
7,8813
0,493
(kali)
3,0542
0,
0,38866
\4799
\39,3611
136,2926
55,0556
53,5983
3,165
\37,6389
2,9632
8,710
136,3941
340,9853
8,525
Rerata(ppb)
KxP'encer
(p,p,b,)
(p,p,b,)
(p,p,b,)
Dipipet
+
(mL)
(A)

-0,01508
0,05580
0,24838
-0,00046
0,37990

KE DAFTAR ISI

Prosiding PPI - PDIPTN 2006


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2006