Anda di halaman 1dari 22

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Pertemuan ke
Durasi Waktu
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar

:
:
:
:
:
:

Indikator

I.

Menggunakan perkakas bertenaga/operasi digenggam.


X/2
60 Jam x 45 Menit
Menggunakan perkakas bertenaga/operasi digenggam.
1.Menjelaskan jenis dan fungsi perkakas bertenaga
2.Menggunakan macam-macam perkakas bertenaga
1.Perkakas bertenaga yang tepat menurut keperluan tugas pekerjaan
dapat dipilih.
2.Perkakas bertenaga untuk pekerjaan yang sesuai dengan spesifikasi
termasuk pekerjaan finishing seperti kekuatan, ukuran atau bentuk dapat
digunakan.
3.Semua syarat keselamatan sebelum, selama dan sesudah penggunaan
perkakas bertenaga
4.Perawatan berkala terhadap perkakas bertenaga menurut prosedur
operasi, cara dan teknik standar yang dapat dilaksanakan.

TUJUAN PEMBELAJARAN
A. Tujuan Akademik
1.

Siswa mengenal macam-macam perkakas bertenaga

2.

Siswa mengetahui cara atau teknik penggunaan perkakas bertenaga

3.

Siswa Mengetahui cara merawat perkakas bertenaga

B. Tujuan Nilai Karakter


1.

Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama

yang

dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun
dengan pemeluk agama lain (Religius)
2.

Siswa melakukan tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada
berbagai ketentuan dan peraturan (Disiplin)

3.

Siswa

mampu melakukan

perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-

sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta


menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Perilaku yang menunjukkan
upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan
tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. (Kerja keras)
4.

Siswa mampu bersikap dan ber perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas
dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri,
masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang
Maha Esa. (Tanggung Jawab)

II. MATERI PENGAJARAN


A. Mengebor
1. Mata bor (Twist drill)
Mata bor adalah suatu alat pembuat lubang atau alur. Mata bor
diklasifikasikan menurut ukuran, satuan ukuran, simbol-simbol ukuran, bahan dan
penggunaannya. Menurut satuan ukuran, bor dinyatakan dalam mm dan inchi
dengan kenaikan bertambah 0,5 mm, misalnya 5; 5,5; 6; 6,5; 7 atau
dalam inchi dengan pecahan, misalnya 1/16; 3/32; 1/8; 5/32; 3/16 dan
seterusnya, atau bertanda dengan huruf A Z. Nama-nama bagian dari mata bor
dapat dilihat Gambar 1. Sedangkan gambar 68 adalah mata bor pilin dengan sudut
puncak 118 dan kisar sedang digunakan untuk mengebor logam fero, besi

Keterangan:
1. tepi/mata potong

11. mata/puncak

2. kepala

12. sudut bibir ruang antara

3. bibir pengait
4. titik mati
5. tepi/kelonggaran
6. garis tengah
7. bagian sudut potong
8. sudut potong
9. saluran tatal
10. badan
Gambar 1. Bagian mata bor

Gambar 2. Mata bor pilin kisar sedang (sudut mata bor 118 o)
Macam-macam mata bor
Selain mata bor pilin kisar sedang, jenis mata bor pilin lainnya adalah:
a. Mata bor pilin dengan spiral kecil
Mata bor pilin dengan spiral kecil (Gambar 69), sudut penyayatnya 130
digunakan untuk mengebor aluminium, tembaga, timah, seng dan timbal

Gambar 3. Bor pilin spiral kecil


b. Mata bor pilin spiral besar sudut penyayat 130,
Bor pilin dengan spiral besar (Gambar 70), sudut penyayat 130 digunakan
untuk mengebor kuningan dan perunggu.

Gambar 4. Bor pilin kisar besar


c. Mata bor pilin spiral besar sudut penyayat 80
Mata bor pilin dengan spiral besar (Gambar 71), sudut penyayat 80
digunakan untuk mengebor batu pualam/marmer, batu tulis, fiber, ebonite dan
sebagainya

Gambar 5. Bor pilin kisar besar sudut sayat kecil


d. Mata bor pilin spiral besar sudut penyayat 30
Mata bor pilin dengan spiral besar (Gambar 72), sudut penyayat 30
digunakan untuk mengebor jenis bahan karet yang keras (karetkaret bantalan).

Gambar 6. Bor pilin kisar besar sudut lancip


Macam-macam mata bor pembenam
Selain jenis mata bor untuk mengebor lubang, juga termasuk jenis bor yaitu
bor pembenam (counterbor). Mata bor pembenam (Gambar 7 a) ini digunakan untuk
membuat lubang versing kepala sekrup bentuk tirus, Gambar 7 a dan b untuk lubang
baut terbenam kepala lurus dan menyiku digunakan mata bor pembenam Gambar 7
c.

Gambar 7. Bor pembenam

Gambar 8. Mata bor pembenam kepala baut

Bentuk kepala mata bor


Bentuk kepala mata bor (Gambar 9) ada beberapa macam, tetapi jenis yang
banyak digunakan adalah bentuk lurus dan bentuk tirus.

Gambar 9. Bentuk kepala mata bor


Sudut mata bor
Sudut mata bor dapat diukur menggunakan kaliber (mal) bor (Gambar 76)
untuk mengetahui apakah sudut yang dibentuk kedua sisinya sama, karena apabila
sudut tersebut tidak sama akan mempengaruhi hasil pengeboran, tidak halus dan
mata bor cepat tumpul.

Gambar 10. Kaliber mata bor


Gambar 11. Sudut mata bor
Keterangan:

Sudut puncak (point angle) = 59 + 59 = 118

Sudut beban potong (lip clearance)= 8 12

Sudut pemusat (dead center) = 120 135

Pengikatan mata bor


Cara pengikatan mata bor pada mesin bisanya dilakukan menggunakan
cekam bor universal (Gambar 12) untuk mata bor bertangkai lurus sampai diameter

13 mm, sedangkan untuk diameter yang lebih besar biasanya digunakan sarung
pengurang (Gambar 13).

Gambar 12. Penjepit bor

Gambar 13. Sarung Pengurang

Mesin bor
Mesin bor yang digunakan pada kerja bangku ada dua jenis yaitu mesin bor
bangku (Gambar 14) untuk pekerjaan-pekerjaan yang kecil sampai sedang dan
mesin bor tiang (Gambar 15) untuk pekerjaan yang lebih besar.
Keterangan:
1. Tombol
2. Tuas penekan
3. Tuas pengikat
4. Alas mesin bor
5. Meja mesin bor
6. Penjepit bor
7. Pengaman
8. Mur penyetel
9. Rumah sabuk kecepatan
Gambar 14. Mesin bor bangku

Keterangan:
1. Tuas pengatur kecepatan
2. Tuas penekan
3. Sumbu bor
4. Meja mesin bor
5. Tiang
6. Landasan/bantalan

Gambar 15. Mesin bor tiang


Untuk pekerjaan pengeboran diluar bengkel atau pekerjaan yang diperlukan
keluwesan dengan bahan yang tetap (tidak berubah) dapat digunakan bor pistol
(Gambar 82) atau bor dada (Gambar 83 dan 84). Bor pistol digerakkan oleh motor
listrik sedangkan bor dada digerakkan secara manual dan biasanya menggunakan
mata bor

Kecepatan putaran mata bor


Kemampuan sayat mata bor dipengaruhi oleh jenis bahan dan ukuran
diameter serta jenis bahan yang dibor. Kemampuan ini dapat kita peroleh secara
efisien dengan cara mengatur kecepatan putaran pada mesin berdasarkan hasil

perhitungan jumlah putaran dalam satu menit atau Revolution Per Menit (RPM).
Kecepatan putaran mata bor dapat dihitung dengan rumus :

Di mana :

N 1000.CS
.D

= Kecepatan putaran mesin dalam satuan putaran/menit (rpm)

Cs

= Cutting speed (kecepatan potong) dalam satuan m/menit

= 22/7

= Diameter mata bor dalam satuan mm

1000

= Konversi dari satuan meter pada Cs ke milimeter


Cutting Speed (Cs) untuk setiap jenis bahan sudah dibakukan berdasarkan

jenis bahan alat potong. Tabel 4 memperlihatkan cutting speed untuk mata bor.

Tabel 4. Cutting Speed untuk mata bor


Jenis bahan
Alumunium dan paduannya
Kuningan dan Bronze
Bronze liat
Besi tuang lunak
Besi tuang sedang
Tembaga
Besi tempa
Magnesium dan paduannya
Monel
Baja mesin
Baja lunak
Baja alat
Baja tempa
Baja dan paduannya
Stainless steel

Contoh 1 : Berapa kecepatan

Carbide Drills
Meter/menit

HSS Drills
Meter/menit

200 300
200 300
70 100
100 150
70 100
60 100
80 90
250 400
40 50
80 100
60 70
50 60
50 60
50 70
60 70

80 150
80 150
30 50
40 75
30 50
25 50
30 45
100 200
15 25
30 55
25 35
20 30
20 30
20 35
25 35

putaran (n) mata bor diameter 10 untuk

mengebor baja lunak (St.37)?Jawab : Dari tabel 3, CS untuk baja lunak (St.37) pada
kolom HSS adalah 25 s.d 35 m/menit. Jika CS diambil 30 m/menit, maka N = 30.
1000/. 10 = 954 rpm
Contoh 2 : Berapa kecepatan putaran (n) mata bor diameter 10 untuk
mengebor baja alat ? Jawab : Dari tabel 3, CS untuk baja alat pada kolom HSS
adalah 20 30 m/menit. Jika CS diambil 25 m/menit, maka
N = 25. 1000/. 10 = 795 rpm
Dari kedua contoh di atas, dapat kita simpulkan bahwa diameter mata bor
yang sama jika digunakan untuk jenis bahan yang berbeda maka kecepatan

putarannya pun

berbeda. Semakin keras bahan yang dikerjakan, semakin rendah

putarannya. Demikian pula halnya dengan diameter mata bor yang berbeda
digunakan untuk jenis bahan benda kerja yang sama, maka kecepatan putarannya
pun berbeda. Semakin kecil diameter mata bor, semakin tinggi kecepatan
putarannya.

Selain

kecepatan

putaran,

kecepatan

pemakanan

pun

harus

diperhatikan agar tidak terjadi beban lebih. Berikut ini tabel kecepatan pemakanan
pengeboran untuk berbagai diameter
Table 5. Kecepatan pemakanan (feeding)
Diameter mata bor dalam
mm
Hingga 3
3 sd 6
6,5 sd 8,5
8,5 sd 25
Lebih dari 25

Kecepatan pemakanan
mm/putaran
0,025 sd 0,05
0,05 sd 0,1
0.1 sd 0,2
0,2 sd 0,4
0,4 sd 0,6

Langkah pengeboran
Pengeboran

dilaksanakan berdasarkan kebutuhan pekerjaan. Untuk

pekerjaan yang presisi, awal pengeboran dimulai dengan senter bor. Selain itu untuk
diameter lubang yang besar, pengeboran dilaksanakan secara bertahap, mulai dari
diameter kecil hingga diameter besar.
Contoh: Pengeboran diameter lubang 20 mm, pengeboran awal bisa dimulai
dengan mata bor diameter 10 kemudian 15 dan terakhir 20 mm. Di samping
pengeboran secara bertahap, penjepitan benda kerja untuk pengeboran lubang besar
harus kuat. Bentuk benda kerja yang dibor tentunya bervariasi demikian pula dengan
posisi lubang pada benda kerja

2. Las oksi asetilen / OAW (Oxy Acetylene Welding)


Las Asetilin (las karbit) adalah cara pengelasan dengan menggunakan nyala
api yang didapat dari pembakaran asetilin dan oksigen. Las Asetilen digunakan untuk
menyambung dua bagian logam secara permanen. Dalam penyambungan dua logam
ini dapat dilakukan tanpa bahan pengisi atau dengan tambahan bahan pengisi. Hal
ini tergantung pada ketebalan pelat yang disambungkan dan jenis sambungan yang
diinginkan. Selain digunakan untuk menyambung Las asetilin digunakan juga untuk
pemotongan logam. Untuk penyambungan digunakan pembakar (Torch) sedang
untuk memotong digunakan pembakaran pemotong (Cutting Torch)
Bahan bakar gas yang biasa dipergunakan pada pengelasan gas ialah asetilin
atau gas karbit (C2H2), hidrogen dan gas mapp (stabilized methyla cetylene
propadiene), ialah gas asetilin yang telah distabilkan. Dari bermacam-macam bahan
bakar, maka asetilin adalah yang paling banyak dipergunakan, karena:
- Asetilin dapat mudah dibuat melalui generator asetilin.

- Asetilin dengan oksigen menghasilkan suhu nyala api paling tinggi dibandingkan
nyala api oksigen dengan bahan bakar lain.
Gas asetilin dibuat dengan jalan mencampur karbit (calsium carbida) dengan
air. Prosesnya secara kimia adalah sebagai berikut:
CaC2 + 2H2O -

C2H2 + Ca(OH)2 + kalor

Sifat-sifat gas asetilen adalah tidak berwarna, tidak beracun, mudah terbakar
dan berbau. Massa jenis gas asetilen: 1,17 Kg/m 3. berikut penguraian gas
pengelasan:
Gas bakar:

- Asetilen (C2H2)
- Propan (C3H8)
- Gas bumi

Gas pengelasan

Oksigen (O2)

Gambar 16. Peralatan las gas asetilen


Gas asetilen dapat diperoleh dari pasaran yang disimpan dalam
tabung gas khusus. Penyimpanan gas asetilen dalam tabung memiliki
tekanan kerja menengah yaitu 1,5 bar. Selain itu gas asetilen juga dapat
diproduksi secara konvensional menggunakan generator asetilen dengan cara
mereaksikan antara air (H2O) dengan karbid (CaC2). Pada generator asetilen
memiliki tekanan kerja rendah: 0,2 bar, terdapat beberapa macam generator
asetilen:
- Generator asetilen sistem tetes
- Generator asetilen sistem celup
- Generator asetilen sistem lempar

Gambar 17. Pembakar (Torch / Brander)


Peralatan las gas secara umum:
a. Tabung gas oksigen
b. Tabung asetilen / generator asetilen
c. Regulator
d. Selang gas
e. Torch / Brander
f. Peralatan pengaman
Generator asetilen sistem tetes
Pada praktikum kali ini kita menggunakan generator asetilen sistem tetes,
untuk lebih jelasnya lihat gambar berikut

5
6
4

7
8
9

3
1

10
2
11
12

Gambar 18. Generator asetilen sistem tetes


Keterangan:
1. Laci karbid

7. Keran penghubung gas ke waterlock

2. Plat pengaman laci

8. Pipa pengaman waterlock

3. Keran pengisi air

9. Saluran gas ke pembakar (torch)

4. Badan pesawat

10. Badan waterlock

5. Pipa pengaman ruang gas

11. Keran penduga

6. Pengisi waterlock (kunci air)

12. Tutup untuk pemeriksaan

Cara pemakaian:
Isi tangki dengan air setinggi batas air yang ada
Isi waterlock dan kerangan penduga / cerat penduga dalam keadaan terbuka,
sehingga air akan keluar kalau air sudah cukup isinya
Isi laci karbid dengan gumpalan karbid sesuai dengan ukuran yang telah
ditentukan, kemudian tutup kembali rapat-rapat
Buka kran pengisi air, kalau air dalam tangki sudah naik, buka kran
penghubung gas dan generator asetilen sudah siap dipakai

Cara kerja generator asetilen


Bila kran pengisi air dibuka, berarti tutup laci terkunci oleh plat pengaman, air
akan keluar dan menyiram gumpalan karbid dan terjadilah proses penguraian
gas
Gas karbid akan keluar lewat pipa penyalur keluar keruang gas
Bila proses pembuatan gas terlalu banyak maka pipa pengaman akan
mengeluarkan air yang menyembur. Sebaiknya kalau terjadi demikian kran
pengisi air ditutup, dalam jangka waktu tertentu akan terhenti sendiri hal ini
untuk menghemat gas karbid
Gas karbid akan mengalir dari ruangan gas ke waterlock saat itu gas akan
melewati air berarti terjadi proses pendinginan, setelah terkumpul pada ruang
gas waterlock gas mengalir ke pembakar (torch)
Bila terjadi api balik (flash back) air yang ada pada waterlock akan
menyembur keluar karena mendapat tekanan berlebih, sebaiknya waterlock
segera diisi air lagi dengan posisi cerat penduga terbuka untuk memastikan
waterlock terisi cukup air karena bila berlebih air akan masuk pada selang dan
menyumbat aliran gas

2.2.Nyala Api
Dalam las asetilen terdapat beberapa macam nyala api yaitu:

Gambar 19. Api carburizing

Api yang dihasilkan oleh campuran yang terlalu banyak acetylene atau
kekurangan oksigen, tanda-tandanya Bentuk kerucut nyala tumpul di sekitar
kerucutnya terlihat kabut putih pemakaian Untuk mengelas permukaan yang
dikeraskan dengan memakai bahan tambah.

Gambar 20. Api oxidizing


Nyala api oksidasi adalah nyala kelebihan oksigen tanda-tandanya kerucut
nyala meruncing dan pendek Warna nyala inti putih kemilau keunguan bersuhu
sekitar 6000 F pemakaian Untuk mengelas potong

Gambar 21. Api netral


Yang dimaksud dengan nyala netral ialah perbandingan campuran asetilen
dengan oksigen seimbang, tanda-tandanya kerucut nyala meruncing dan pendek
bentuk kerucut nyala tumpul di sekitar kerucutnya tidak ada kelebihan asetilin,
temperatur daerah kerja mencapai 3200oC.

Cara mematikan nyala las:


Tutup katup pengeluaran gas asetilen pada pembakar las, maka nyala las
akan mati
Segera tutup katup gas oksigen setelah nyala las mati
Setelah selesai digunakan, pembakar las sebaiknya disimpan pada tempat
yang aman untuk menghindari kerusakan yang mungkin terjadi
Simbol dasar pengelasan
Bentuk
daerah las
Flens ganda
Flens tunggal

Simbol
dasar

Keterangan

Kampuh persegi
Kampuh V tunggal, bentuk
X (kampuh V ganda)

Kampuh serong tunggal,


bentuk K (kampuh serong
ganda)

Kampuh J tunggal, kampuh


J ganda

Kampuh U tunggal, bentuk


H (kampuh U ganda)
Bentuk V melebar, bentuk
X melebar
Bentuk-V melebar, bentukK melebar

Sudut

Meliputi Las dengan pengelasan dibaliknya,


las flash, las friksi dsb
Untuk pengelasan dengan kampuh V
ganda, cantumkan simbol ini secara
simetris pada kedua sisi garis dasar.
Meliputi las dengan pengelasan dibaliknya,
las flash, las friksi dsb.
Untuk pengelasan dengan kampuh serong
ganda, cantumkan simbol ini secara
simetris pada kedua sisi garis dasar. Garis
vertical simbol harus terletak di sebelah kiri.
Meliputi las dengan pengelasan dibaliknya,
las flash, las friksi dsb.
Untuk pengelasan dengan kampuh J
ganda, cantumkan simbol ini secara
simetris pada kedua sisi garis dasar. Garis
vertikal simbol harus terletak di sebelah kiri
Untuk pengelasan dengan kampuh U
ganda, cantumkan simbol ini secara
simetris pada kedua sisi garis dasar
Untuk pengelasan dengan bentuk X
melebar, cantumkan simbol ini secara
simetris pada kedua sisi garis dasar
Untuk pengelasan dengan bentuk K
melebar, cantumkan simbol ini secara
simetris pada kedua sisi garis dasar. Garis
vertikal simbol harus terletak di sebelah kir
Garis vertikal simbol harus terletak di
sebelah kiri Untuk rangkaian las sudut
terputus-putus, cantumkan simbol ini secara
simetris pada kedua sisi garis dasar Untuk
las sudut terputus-putus yang berselangseling, bagaimanapun, simbol-simbol di
sebelah kanan dapat digunakan

Plug/slot
Rigi las, las buildup
Titik, Proyeksi, Lapisan

Gambar 22. Sambungan tumpul / Butt joint

Untuk las buildup, letakkan dua simbol ini


bersisian
Simbol ini menyatakan las-lasan dengan
pengelasan sambungan tumpang, las busur
listrik, pengelasan elektron dsb. Tidak
termasuk pengelasan sudut. Untuk
pengelasan lapisan, letakkan dua simbol ini
bersisian

Gambar 23. Sambungan T / Fillet joint

Gambar 24. Posisi pengelasan sambungan T / Fillet joint

Gambar 25. Posisi pengelasan sambungan tumpul / Butt joint


3. Las Listrik
Las listrik adalah cara penjelasan dengan menggunakan tenaga listrik sebagai
sumber panasnya. Beberapa macam proses las yang termasuk kelompok las listrik.
a. Las listrik dengan elektroda karbon
b. Las listrik dengan elektroda berselaput
c. Las listrik TIG (Tungsten Inert Gas)
d. Las listrik MIG (Metal Inert Gas)
e. Las listrik Submerged

Gambar 26. Penempatan perkakas las listrik

Alat-alat utama las busur listrik


1. Kabel tenaga
Pemilihan kabel tenaga yang digunakan untuk menginstal disesuaikan
dengan bebannya (trafo las nya) berupa ampere dan tegangan input trafo las. Hal ini
menyangkut ukuran kawat, panjang kabel, dan jenis kawatnya (serabut/tidak).
Selanjutnya dalam menginstall harus kuat dan tidak mudah lepas, sehingga aliran
listrik dapat mengalir maksimal dan tidak panas.

2. Trafo las
Pemilihan trafo las pada saat akan membeli, harus dipertimbangkan tentang
kebutuhan maksimal (beban pekerjaan yang akan dikenakan kepada trafo las
tersebut. Apabila beban pekerjaannya besar maka langkah pemilihannya adalah
dapat dipertimbangkan tentang tegangan input: 3PH, 2PH atau 1PH; Ampere output,
dipertimbangkan dari diameter elektroda yang akan digunakan. dan yang paling
penting adalah duty cycle dari trafo tersebut. dalam hal ini pilihlah trafo las yang
memiliki duty cycle yang tinggi untuk ampere yang tinggi, misal duty cycle 100%
untuk arus sampai dengan 200 A. langkah berikutnya gunakan tang ampere untuk
mengecek kesesuaian out put arus pengelasan pada indikator dengan kenyataannya
yang terlihat pada tang ampere.
Jenis trafo las juga perlu dipertimbangkan apakah trafi AC atau DC. hal ini
terkait dengan jenis elektroda yang akan digunakan. jika menggunakan multi
electrode, pilihlah trafo DC. Cara mengoperasikan trafo las terlebih dahulu harus
dilihat instalasinya. kabel tenaga ke trafo las, kabel massa, kabel elektroda dan
kondisi trafo sendiri, apakah pada tempat yang kering atau basah. setelah diketahui
instalasinya baik, maka saklar utama pada kabel tenaga di on kan, selanjutnya saklar
pada trafo las di on kan. pastikan kabel massa dan kabel elektroda tidak dalam
kondisi saling berhubungan. atur arus pengelasan yang dibutuhkan dan selanjutnya
gunakan untuk mengelas. Apabila proses pengelasan telah selesai, trafo las
dimatikan kembali.

3. Kabel elektroda dan kabel massa


Kabel elektroda dan kabel massa harus menggunakan kabel serabut
sehingga lentur dengan ukuran disesuaikan dengan ampere maksimum trafo las
(lihat ketentuan pada tabel) kabel las. Kabel elektroda dan kabel massa harus
terkoneksi )terinstall dengan kuat dengan trafo las agar aliran arus pengelasan
sesuai dengan ketentuan yang tertera dalam indikator ampere pada trafo las.
Penggunaan kabel elektroda dan kabel massa pada saat pengelasan harus
disiapkan dengan benar, yaitu dalam kondisi terurai, tidak tertekuk dan saling

berlilitan. Dengan kondisi semacam ini maka aliran arus pengelasan akan maksimal.
Jika sudah tidak dipakai, trafo las dimatikan dan kabel las digulung dan diletakkan
dengan benar tidak saling berbelit agar mudah dalam penggunaan di waktu yang
lain.

4. Pemegang elektroda dan penjepit massa


Penjepit elektroda dan penjepit massa dibuat dari bahan yang mudah
menghantarkan arus listrik. bahan yang biasa digunakan adalah tembaha. Pada
pemegang elektroda pada mulutnya sudah dibentuk sedemikian rupa sehingga
memudahkan tukang las memasang/menjepit pada pemegang elektroda. Dalam
penggunaannya elektroda harus ditempat pada sela-sela yang ada, dapat diposisikan
dengan sudut 180 derajat, 90 derajat atau 45 derajat terhadap pemegang elektroda.
Sedang pada penjepit massa dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mencengkeram
dengan kuat pada benda kerja. Penjepit elektroda maupun penjepit massa tidak
diperkenankan terkena busur las. Pada penjepit elektroda, penggunaan elektroda
disisakan 1 inch sehingga tidak sampai habis menyentuh pemegang elektroda.
Sedangkan pemegang massa tidak diperkenankan untuk menjadi tempat mencopa
elektroda/menyalaka elektroda agar tidak rusak. Penjepit benda kerja ditempatkan
pada dekat benda kerja atau meja las dengan kuat agar aliran listrik dapat
maksimal/tidak banyak arus yang terbuang.

4. Mesin Gerinda
Menggunakan gerinda dengan tepat sesuai dengan prosedur
a. Cara penggunaan

Perhatikanlah tegangan jaringan listrik :


Tegangan dan frekwensi jaringan listrik harus sesuai dengan tegangan dan
frekwensi yang tercantum pada label tipe mesin.
Cara menghidupkan

: Tombol untuk menghidupkan dan mematikan mesin 2


didorong ke depan.

Cara mematikan

: Tombol 2 dilepaskan

Cara mengunci mesin : Tombol untuk menghidupkan dan mematikan mesin 2


didorong ke depan dan bagian depan ditekan sampai
terkunci.
Cara mematikan

: Tombol untuk menghidupkan dan mematikan mesin 2


ditekan disebelah belakang tombol kembali pada posisi
mati.

PERCOBAAN !
Periksalah

mata

gerinda

sebelum

digunakan.

Mata

gerinda

harus

dipasangkan dengan betul dan harus bisa berputar dengan bebas. Biarkan mesin
berjalan tanpa beban selama paling sedikit 30 detik sebagai percobaan. Mata gerinda
yang rusak, sembul atau menyebabkan getaran jangan dipergunakan.

b. Petunjuk-petunjuk untuk penggunaan


o Usahakan supaya benda yang dikerjakan tidak goyang. Pakailah alat
pemegang, jika benda yang dikerjakan tidak cukup berat.
o

Janganlah membebankan mesin terlalu berat sehingga mesin berhenti.

Mata gerinda dan mata potong menjadi sangat panas pada waktu
dipergunakan. Jangan memegangnya, jika belum menjadi dingin.

Mengikis/Menggerinda secara kasar

Dengan sudut kerja antara 30o

sampai 40o

pada waktu mengikis didapatkan hasil pekerjaan yang paling bagus. Mesin
ditekankan dengan tekanan ringan dan digoyang-goyangkan. Dengan
demikian benda yang dikerjakan tidak menjadi panas, warna permukaan dari
benda yang telah dikerjakan tidak berubah dan penampang menjadi lebih
halus.
o

Jangan sekali-kali mempergunakan mata potong untuk mengikis.

c. Cara merawat dan membersihkan mesin gerinda tangan


Sebelum memulai semua pekerjaan pada mesin, tariklah steker dari
stopkontak. Mesin

dan lubang ventilasi harus selalu bersih supaya mesin bisa

dipergunakan secara baik dan aman. Pada penggunaan yang luar biasa jika

mengerjakan bahan logam bisa terjadi debu yang konduktif di dalam mesin. Isolasi
keselamatan mesin bisa menjadi berkurang.
Dalam hal-hal demikian kami anjurkan supaya dipergunakan sarana
penghisapan yang stasioner, lubang ventilasi sering-sering dibersihkan (ditiup) dan
pemakaian sakelar pengaman terhadap arus penyimpangan (FI). Jika pada suatu
waktu mesin ini tidak bisa berjalan meskipun mesin telah diproduksikan dan diperiksa
dengan teliti, maka reparasinya harus dilakukan oleh Service Center perkakasperkakas listrik Bosch yang sah.

Bagian-bagian mesin gerinda


(a)

Roda untuk penyetelah pendahuluan kecepatan putaran (Tipe E/CE)

(b)

Tombol untuk menghidupkan dan mematikan mesin

(c)

Gagang tambahan

(d)

Tombol penahan poros kerja

(e)

Poros kerja

(f)

Kap pelindung

(g)

Baut

(h)

Flens untuk poros kerja (pada poros kerja M 14 dengan ring-O)

(i)

Mata gerinda/mata potong

(j)

Mur untuk poros kerja

(k)

Mur untuk poros kerja yang dibuka dan dan dikunci dengan tangan (untuk
poros kerja M 14)

(l)

Pelindung tangan

(m)

Piringan karet

(n)

Daun ampelas

(o)

Mur untuk poros kerja

(p)

Mangkok sikat kawat

(q)

Mata gerinda potong intan

(r)

Mistar jarak dengan kap pelindung untuk penghisapan

(s)

Flens untuk poros kerja M 10

Gambar 24. Gerinda Tangan


III. METODE PEMBELAJARAN
1. Pendekatan

: Pengajaran Langsung atau Konstruktivisme

2. Metode

: Ceramah,Tanyajawab,Simulasi,Praktek dan Pengamatan

IV. KEGIATAN PEMBELAJARAN


A. Pendahuluan

Mengkoordinasikan siswa untuk siap belajar

Mengadakan apersepsi tentang materi yang akan dibahas

Menyampaikan materi yang akan dibahas

Menjelaskan gejala realitas yang ada

Memotivasi dan menjelaskan tujuan pembelajaran

B. Kegiatan Inti

Melakukan pengamatan obyek

Melakukan study pustaka

Melakukan penyajian data

Melakukan analisa data

Membuat kesimpula

C. Tindak Lanjut

Menerapkan konsep

Pengembangan konsep

Memberikan evaluasi

Penugasan ( PR )

V. SUMBER BELAJAR
1. Sumber

: Lingkungan,Buku Referensi,Nara Sumber

2. Alat

: Peralatan Lab,Alat Peraga,Alat Sederhana

3. Bahan

: Alat Tulis (Alat habis pakai)

VI. PENILAIAN / EVALUASI


(KKM KK5 = 75)
A. Soal
1. Sebutkan macam macam perkakas bertenaga; !
2. Sebutkan bagian-bagian mesin bor bangku !
3. Jelaskan secara berurutan langkah-langkah pengeboran diameter lubang 20mm!
4. Sebutkan alat-alat utama las busur listrik!
5. Suatu elektroda mempunyai kode E 60 1 3 jelaskan kode tersebut !
B. Kunci Jawaban
1. a. Macam-macam mesin bor dan bor tangan
b. mesin gerinda
c. las acetyline dan las busur

2.
1. Tombol
2. Tuas penekan
3. Tuas pengikat
4. Alas mesin bor
5. Meja mesin bor
6. Penjepit bor
7. Pengaman
8. Mur penyetel
9. Rumah sabuk kecepatan

3. Pengeboran diameter lubang 20 mm, pengeboran awal bisa dimulai dengan mata
bor diameter 10 kemudian 15 dan terakhir 20 mm. Di samping pengeboran
secara bertahap, penjepitan benda kerja untuk pengeboran lubang besar harus
kuat. Bentuk benda kerja yang dibor tentunya bervariasi demikian pula dengan
posisi lubang pada benda kerja
4. a. Kabel Power
b. Trafo las
c. Kabel elektroda
d. Kabel massa
e. Pemegang elektroda
f. Pemegang /penjepit massa
5.

C. Kriteria Penilaian

NO. SOAL

JAWABAN BENAR

10

20

30

15

25

JUMLAH

100

SKOR

JUMLAH SKOR PEROLEHAN


NILAI AKHIR =

X 100
JUMLAH SKOR MAXIMAL

Mengetahui,
Kepala SMK PGRI 3 Karawang

H.Obang Norbayu,SH

Karawang, September 2014


Guru Mata Pelajaran,

Ahadiat,S.Pd,SST