Anda di halaman 1dari 6

[MENYELESAIKAN AUDIT]

A. PENERAPAN PENGUJIAN TAMBAHAN ATAS PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN


Pendekatan auditor dalam memperoleh bukti sehubungan dengan tujuan penyajian dan
pengungkapan konsisten dengan pendekatan dalam memperoleh bukti yang berkaitan dengan transaksi
dan saldo, diantaranya yaitu :

Melakukan prosedur untuk mendapatkan pemahaman atas pengendalian untuk tujuan penyajian dan

pengungkapan sebagai bagian dari prosedur penilaian resiko.


Melakukan pengujian pengendalian yang berhubungan dengan pengungkapan saat penilaian awal

resiko pengendalian berada di bawah maksimum.


Melakukan prosedur subtantif

B. TELAAH ATAS KEWAJIBAN KONTIJENSI DAN KOMITMEN


Kewajiban Kontinjensi adalah potensi utang di masa depan kepada pihak luar atas jumlah yang
belum dapat ditentukan yang dihasilkan dari aktivitas yang telah dilakukan. Terdapat tiga kondisi yang
diperlukan atas munculnya kewajiban kontijensi, yaitu :
1. Terdapat potensi pembayaran di masa mendatang kepada pihak luar atau penurunan nilai asset yang
dihasilkan dari kondisi sekarang.
2. Terdapat ketidakpastian jumlah pembayaran atau penurunan nilai di masa mendatang.
3. Hasilnya akan diperoleh dari kejadian di masa mendatang.
Adapun menurut PSAK 57 dijelaskan tiga tingkatan kemungkinan keterjadian dan perlakuan
atas laporan keuangan yang dapat digunakan sebagai standard evaluasi dalam mempertimbangkan dan
melakukan penilaian secara profesional bagi auditor terhadap kondisi pelaporan klien.
Standar audit mensyaratkan bahwa manajemen, bukan auditor, bertanggung jawab atas
identifikasi dan penetuan perlakuan akuntansi yang tepat untuk kewajiban kontinjensi dan pada dasarnya
dalam pengungkapan atas kontijensi dapat dilakukan atas kerjasama pihak manajemen dengan auditor.
Perhatian auditor terhadap kewajiban kontinjensi meliputi tuntutan yang tertunda untuk pelanggaran

paten, kewajiban produk, dan lainnya, perselisihan pajak penghasilan, garansi produk, diskonto
wesel tagih, jaminan untuk kewajiban orang lain, saldo letter of credit yang beredar yang tidak
digunakan. Tujuan utama auditor dalam melakukan verifikasi kewajiban kontijensi adalah :

Mengevaluasi perlakuan akuntansi atas kewajiban kontinjensi


Mengidentifikasi praktek kontinjensi yang belum diidentifikasi manajemen (tujuan penyajian dan
pengungkapan untuk kelengkapan).

Prosedur Audit Untuk Menemukan Kontijensi


Langkah

pertama

dalam

melakukan

audit

kontijensi

adalah menentukan

apakah

terdapat

kontijensi (tujuan penyajian dan pengungkapan atas keterjadian). Seperti pada kenyataannya lebih sulit
menemukan transaski yang tidak tercatat daripada melakukan verifikasi atas informasi yang tercatat.

Evaluasi Kewajiban Kontijensi Yang Telah Diketahui

AUDITING

Page 1

[MENYELESAIKAN AUDIT]
Jika auditor menyimpulkan bahwa terdapat kewajiban kontijensi, maka harus mengevaluasi signifikansi
potensi utang dan sifat pengungkapan yang diperlukan dalam laporan keuangan untuk memperoleh bukti
atas keterjadian atas hak dan kewajiban dalam tujuan penyajian dan pengungkapan. Untuk kontijensi
yang membutuhkan pengungkapan, auditor juga menelaah konsep penjelasan tambahan untuk
memastikan bahwa informasi yang diuangkapkan dapat dipahami dan dinyatakan dengan wajar sesuai
kondisi kontijensi.
Prosedur Audit Untuk Menemukan Komitmen
Penelitian untuk mencari komitmen yang belum diketahui biasanya dilakukan sebagai bagian dari audit
atas masing-masing area audit. Misalkan, dalam melakukan verifikasi penjualan, auditor seharusnya
waspada atas adanya komitmen penjualan.
Tanya Jawab Dengan Pengacara Klien
Prosedur utama yang diandalkan auditor untuk mengungkapkan tuntutan hukum yang diketahui atau
klaim lain terhadap klien dan mengidentifikasi klaim tambahan yaitu Tanya jawab dengan pengacara
klien. Auditor mengandalkan keahlian dan pengetahuan pengacara mengenai masalah hukum guna
memberikan pendapat professional atas hasil tuntutan hukum yang diharapkan dan kemungkinan jumlah
kewajiban kewajiban termasuk biaya sidang.
C. TELAAH KEJADIAN SETELAH TANGGAL NERACA
Telaah kejadian setelah tanggal neraca harus dilakukan auditor untuk menelaah transaksi dan
kejadian yang muncul setelah tanggal neraca untuk menentukan apakah terdapat transaksi atau kejadian
yang mempengaruhi penyajian dan pengungkapan pada laporan periode berjalan. Prosedur audit ini
disyaratkan di PSA 46 (SA 560). Tanggung jawab auditor atas telaah kejadian setelah tanggal neraca
biasanya terbatas pada periode awal, yaitu pada tanggal neraca dan berakhir pada tanggal laporan
auditor. Oleh karena tanggal laporan auditor merupakan saat penyelesaian prosedur audit yang penting di
kantor klien, maka telaah kejadian setelah tanggal neraca harus diselesaikan mendekati akhir audit.
Jenis-Jenis Kejadian Setelah Tanggal Neraca
Ada dua kejadian yang harus dipertimbangkan oleh manajemen dan dievaluasi oleh auditor yaitu:
1. Kejadian yang berdampak langsung pada Laporan Keuangan dan membutuhkan penyesuaian.
Kejadian setelah tanggal neraca seperti berikut ini, memerlukan penyesuaian atas saldo akun
pada laporan keuangan tahun berjalan jika jumlahnya material;
a) Pernyataan kebangkrutan oleh pelanggan atas saldo piutang dagang yang beredar karena kondisi
keuangan pelanggan memburuk.
b) Penetapan proses litigasi pada nilai yang berbeda dengan nilai yang ditetapkan pada pembukuan.
c) Penghentian asset tetap yang tidak digunakan dalam operasi pada nilai di bawah nilai buku.
d) Penjualan investasi pada harga di bawah harga perolehan.

AUDITING

Page 2

[MENYELESAIKAN AUDIT]
2. Kejadian yang tidak berdampak langsung pada Laporan Keuangan, tetapi memerlukan
pengungkapan.
Kejadian ini memberikan kondisi yang tidak terjadi pada tanggal neraca yang dilaporkan,
tetapi tidak signifikan namun tetap memerlukan pengungkapan meskipun tidak memerlukan
penyesuaian akun. Akun ini biasanya diungkapkan dengan penjelasan tambahan, tetapi terkadang
bisa cukup signifikan sehingga memerlukan pengungkapan pada laporan keuangan tambahan
(supplemental financial statements) yang memasukkan dampak kejadian seolah-olah kejadian
tersebut muncul pada tanggal neraca.
Pengujian Audit
Prosedur audit untuk menelaah kejadian setelah tanggal neraca terbagi dalam dua kategori yaitu:
1. Prosedur yang biasanya terintegrasi sebagai bagian dari verifikasi saldo akun akhir tahun.
Prosedur ini meliputi pengujian pisah batas dan penilaian yang dilakukan sebagai bagian dari
pengujian perincian saldo. Misal auditor memeriksa transaksi penjualan dan pembelian setelah
tanggal neraca untuk menentukan apakah pisah batasnya akurat.
2. Prosedur yang dilakukan khususnya untuk menemukan kejadian atau transaksi yang harus diakui
sebagai kejadian setelah tanggal neraca.
Kategori pengujian kedua adalah pengujian yang khusus menyediakan informasi untuk menguji
saldo akun tahun berjalan atau penjelasan tambahan sebagai pengujian kelengkapan untuk tujuan
penyajian dan pengungkapan. Pengujian tersebut meliputi:

Tanya jawab dengan Manajemen


Koresondensi dengan Pengacara
Telaah atas Laporan Internal yang dibuat setelah tanggal neraca
Telaah atas pencatatan yang dibuat setelah tanggal neraca
Permintaan surat representasi

Penetapan Tanggal Ganda


Biasanya auditor menentukan bahwa kejadian setelah tanggal neraca yang memengaruhi laporan
keuangan periode berjalan terjadi setelah pekerjaan lapangan selesai, tetapi sebelum laporan audit
diterbitkan. Auditor memiliki dua pilihan atas perluasan pengujian kejadian setelah tanggal neraca, yaitu:
1. Memperluas seluruh kejadian setelah tanggal neraca ke batas tanggal yang baru.
2. Membatasi telaah kejadian setelah tanggal neraca sehubungan dengan kejadian baru setelah tanggal
neraca.

D. AKUMULASI BUKTI AKHIR


Melakukan Prosedur Analitis Akhir

AUDITING

Page 3

[MENYELESAIKAN AUDIT]
Saat melakukan prosedur analitis selama tahap telah akhir, yang disyaratkan dlam standar audit,
rekanan biasanya membaca laporan keuangan, termasuk penjelasan tambahan, dan mempertimbangkan
hal berikut :
a) Kecukupan bukti yang dikumpulkan atas saldo akun yang tidak lazim atau tidak diharapkan atau
hubungan yang teridentifikasi selama perencanaan atau selama pelaksanaan audit.
b) Saldo akun yang tidak lazim atau tidak diharapkan atau hubungan yang tidak teridentifikasi
sebelumnya.
Hasil dari prosedur analitis akhir bisa jadi mengindikasikan bahwa bukti audit tambahan dibutuhkan.
Mengevaluasi Asumsi Kelangsungan Usaha
Auditor membuat penilaian pada awalnya sebagai bagian dari perencanaan, tetapi bisa saja mengubah
hasil penilaian bila ada informasi baru. Misalnya, penilaian awal atas kelangsungan usaha akan direvisi
bila ada temuan auditor selama masa audit bahwa perusahaan tidak dapat membayar utang, kehilangan
konsumen utama, atau memutuskan untuk menjual aset penting untuk membayar utang.
Memperoleh Surat Representasi Manajemen
Tiga tujuan suat representasi klien tersebut adalah :
1. Menekankan kepada manajemen bahwa mereka bertanggung jawab atas penilaian laporan keungan.
2. Mengingatkan manajemen atas potensi salah saji atau hal yang tidak dimasukkan dalam laporan
keuangan.
3. Mendokumentasikan jawaban dari manajemen atas tanya jawab mengenai berbaagai spek dalam
audit.
SA 333 menyebutkan empat kategori penting yang perlu dimasukkan. Keempat kategori tersebut
beserta contohnya, adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Laporan keuangan
Kelengkapan informasi
Pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan
Kejadian setelah tanggal neraca

Mempertimbangkan Informasi yang Menyertai Laporan Keuangan Dasar


Saat auditor menerbitkan opini atas informasi tambahan yang menyertai laporan keuangan,
materialitasnya sama dengan yang digunakan dalam membuat opini terhadap laporan keuangan dasar.
Akibatnya, prosedur tambahan yang diperlukan tidak seluas saat auditor menerbitkan opini atas
informasi yang diambilnya sendiri, seperti atas laporan akun atau bagian tertentu. Auditor memberikan
tambahan kata-kata pada laporan standar auditor saat menyatakan opini untuk tambahan informasi,
seperti contoh berikut :
Audit kami dilakukan dengan membentuk opini atas laporan keuangan dasar secara
keseluruhan. Informasi yang menyertai pada halaman x sampai y disajaikan sebagai analisis
tambahan dan bukan bagian penting dalam laporan keuangan dasar. Informasi ini ditujukan
untuk memenuhi prosedur audit yang diterapkan pada audit laporan keuangan dasar dan,

AUDITING

Page 4

[MENYELESAIKAN AUDIT]
dalam opini kami, disajikan dengan wajar dalam segala hal yang sifatnya material
sehubungan dengan laporan keuangan dasar secara keseluruhan.
E. EVALUASI HASIL
Bukti Yang Tepat Dan Memadai
Jika auditor memutuskan bahwa bukti yang memadai tidak terpenuhi dalam rangka memutuskan apakah
laporan keuangan disajikan secara wajar, maka mereka memiliki dua pilihan: (1) mengakumulasikan
bukti tambahan atau (2) menerbitkan opini dengan pengecualian atau tidak memberikan opini.
Bukti Pendukung Opini Auditor
Jika auditor percaya bahwa terdapat kecukupan bahan bukti tetapi tidak menjamin kesimpulan mengenai
penyajian laporan keuangan yang awajar, auditor sekali lagi mempunyai dua pilihan: laporan harus
direvisi hingga auditor puas atau memberikan pendapat wajar tanpa syarat atau menolak untuk
memberikan pendapat harus diterbtikan. Perhatikan bahwa pilihan disini berbeda dengan yang dibahas
dalam kasus ketidakcukupan bahan bukti yang diperoleh.
Pengungkapan Laporan Keuangan
Sebagai bagian dari telaah akhir dalam pengungkapan laporan keuangan, banyak KAP mensyaratkan
adanya penyelesaian daftar pembanding laporan keuangan untuk setiap audit. Kuesioner ini didesain
untuk mengingatkan auditor tentang masalah yang biasanya muncul dalam laporan keuangan dan
memfasilitasi telaah akhir untuk keseluruhan audit oleh seorang rekanan independen.
Telaah Dokumentasi Audit
Ada tiga alasan mengapa staf firma audit yang berpengalaman harus menelaah dokumentasi
audit pada saat penyelesaian audit:
a.
b.
c.
d.
e.

Untuk mengevalusi kinerja karyawan yang belum berpengalaman.


Memastikan bahwa proses audit memenuhi standar kinerja
Menghilangkan kerancuan yang sering muncul dalam penilaian auditor
Telaah independen
Ringkasan evaluasi bukti

F. PENERBITAN LAPORAN AUDIT


Sebagian besar auditor dalam mengaudit menerbitkan laporan standar tanpa pengecualian dengan katakata baku. KAP biasanya memiliki bentuk baku laporan audit dan hanya di ganti nama klien, judul
laporan keuangan, dan tanggalnya. Apabila KAP memutuskan bahwa laporan standar tanpa pengecualian
tidak memadai, maka pembahasan lebih lanjut dilakukan antara rekanan dalam KAP dan juga klien. KAP
memiliki manual laporan audit komprehensif yang membantu mereka dalam memilih kata-kata yang
tepat dalam laporan jika diperlukan oleh auditor.
G. BERKOMUNIKASI DENGAN KOMITE AUDIT DAN MANAJEMEN
Pembahasan Tentang Kecurangan dan Tindakan Ilegal
PSA 32 (SA 316) dan PSA 31 (SA 317) mensyaratkan auditor untuk menyampaikan seluruh kecurangan
dan tindakan illegal kepada komite audit dan kelompok lain yang sejenis, meskipun tidak material.

AUDITING

Page 5

[MENYELESAIKAN AUDIT]
Tujuannya adalah untuk membantu komite audit dalam melakukan tugas pengawasan atas laporan
keuangan.
Pembahasan Tentang Kurangnya Pengendalian Internal
Auditor harus menyampaikan perihal kurangnya pengendalian internal dan kelemahan material dalam
desain atas pengoperasian pengendalian internal secara tertulis kepada pihak yang bertanggung jawab
atas tata kelola.
Pembahasan Hal Lainnya Kepada Komite Audit
PSA 48 (SA 380) mensyaratkan auditor untuk menyampaikan informasi tambahan yang diperoleh selama
audit kepada pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, biasanya adalah komite audit. Tujuan dari
penyampaian ini adalah agar komite audit dan pihak lain yang bertanggung jawab atas tata kelola
mengetahui tentang informasi penting dan relevan mengenai proses laporan keuangan dan memberikan
kesempatan kepada komite audit untuk membahas hal-hal penting dengan auditor.
Surat Manajemen (Management Letter)
Surat manajemen ditujukan untuk menginformasikan kepada klien mengenai rekomendasi KAP guna
meningkatkan bisnis klien. Rekomendasi biasanya berfokus pada efisiensi pengoperasian perusahaan.
H. Penemuan Fakta Setelah Tanggal Neraca
Audit dikatakan selesai ketika auditor menerbitkan laporan audit dan menyelesaikannya seluruh
pembahasan dengan manajemen dan komite audit. Terkadang auditor menemukan bahwa setelah audit
laporan keuangan diterbitkan terjadi salah saji material dalam laporan keuangan. Pada saat terdapat
penemuan fakta setelah penerbitan laporan audit terjadi, auditor berkewajiban untuk memastikan bahwa
pengguna laporan keuangan mendapatkan informasi atas salah saji tersebut. Jika auditor mengetahui
salah saji sebelum pelaporan audit diterbitkan, maka auditor akan memaksa manajemen untuk
melakukan koreksi salah saji atau menerbitkan laporan audit yang berbeda.

AUDITING

Page 6