Anda di halaman 1dari 13

ETIKA BISNIS

(Teori Etika )

Disusun oleh Kelompok I :


1. Putu Sulastra
2. Kadek Suarjana
3. Nengah Mertapa
4. Pande Nyoman Kartika

13810331180412
13810331180415
13810331180418
13810331180426

Kelas : Manajemen Eksekutif (G)

Fakultas Ekonomi Program Studi Manajemen


Universitas Mahasaraswati
Denpasar

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami hadapkan kepada Ida Sang Hyang Widhi yang telah melimpahkan
rahmat serta karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Etika
Bisnis yang berjudul Teori Etika .
Terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah kami ini dengan sebaik-baiknya. Makalah ini kami susun
sedemikian

rupa

sehingga

dapat

memperluas

wawasan

kita

dan

lebih

memahami,menjelaskan dan menerapkan Teori Etika dalam dunia bisnis.


Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih belum sempurna dan terdapat
beberapa kekurangan di dalamnya. Kritik dan saran dari semua pihak diharapkan dapat
digunakan sebagai bahan pembenahan makalah yang kami selesaikan.

DAFTAR ISI

Halaman Judul 1
Kata Pengantar 2
Daftar
Isi....
3
BAB I Pendahuluan. 4
Latar Belakang. 4
Rumusan Masalah.. 4
Tujuan 4
BAB II Pembahasan 5
Pentingnya Teori Etika 5
Pendekatan Teori Etika . 5
Teori Etika Deotologi . . 5
Teori Etika Teleologi. 7
Teori Etika Utilitarianisme .... 8
BAB III Kesimpulan .. 12
Daftar Pustaka .. 13

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Teori Etika menyediakan kerangka yang dapat digunakan untuk memastikan benar tidaknya
keputusan moral. Keputusan moral yang diambil bisa menjadi beralasan ( memiliki moral
reasoning ) berdasarkan suatu Teori Etika . Namun sering terjadi benturan benturan yang di
akibatkan karena pada kenyataanya banyak terdapat teori etika, yang mengakibatkan penilaian
berbeda beda sebagai akibat dari tidak adanya kesepakatan oleh semua orang.
Teori Deontologi sering disebut sebagai etika kewajiban karena berpendapat bahwa tugas
merupakan moral dasar dan tidak tergantung pada konsekuensi yang ditimbulkan, yang terdiri
dari teori hak ( rights) Keadilan ( Justice ), perhatian ( care ), dan keutamaan (Virtue). Teori
Teleologi berpandangan bahwa suatu tindakan benar atau salah tergantung pada konsekuensi
yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut. Teori ini sering juga disebut dengan pendekatan
konsekuensialis. Teori Etika utlitiarianisme berakar dari teori Teleologi dan sering digunakan
untuk menilai kebijakan pemerintah dan komoditas public.

B.

Rumusan masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
A. Bagaimana Pentingnya Teori Etika?
B. Apa Pengertian Teori Deontologi?
C. Apa Pengertian Teori Teleologi?
D. Apa Pengertian Teori Utilitarianisme?

C. Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana pentingnya teori etika, Pengertian Teori Deontologi, Teori
Teleologi dan Teori Utilitarianisme.

BAB. II
PEMBAHASAN
A. Pentingnya Teori Etika
Teori Etika memiliki peranan penting dalam melegitimasi segala perbuatan dan

tindakan yang dilihat dari sudut pandang moralitas yang telah disepakati oleh masyarakat.
Dalam prakteknya, terkadang penerapan nilai etika hanya dilakukan sebatas persetujuan
atas standar moral yang telah disepakati untuk tidak dilanggar. Norma moral yang
menjadi standar masyarakat untuk menentukan baik buruknya perilaku dan tindakan
seseorang, terkadang hanya dianggap suatu aturan yang disetujui bersama tanpa
dipertimbangkan mengapa aturan-aturan moral tersebut harus kita patuhi. Untuk itu,
pemikiran-pemikiran yang lebih mendalam mengenai alasan-alasan mengapa kita perlu
berperilaku yang etis sesuai dengan norma-norma moral yang telah disepakati,
melahirkan suatu bentuk teori etika yang menyediakan kerangka untuk memastikan benar
tidaknya keputusan moral kita.
B. Pendekatan Teori Etika
Ada beberapa pendekatan dalam teori etika antara lain :
B.1 Teori Deontologi ( Etika Kewajiban )
Deontologi berasal dari bahasa Yunani, Deon yang berarti diharuskan, yang wajib, sesuai
dengan prosedur ( Magins, 1975:80; Pratley, 1997:173 ) . Teori Deontologi menilai tindakan
itu baik atau buruk berdasarkan aturan aturan, prosedur, atau kewajiban. Etika deontologi
menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik. Misalnya memberikan
pelayanan yang baik pada konsumen,mengembalikan utang sesuai kesepakatan, dsb. Dalam
menilai seluruh tindakan, kemauan baik harus selalu dinilai paling pertama dan menjadi
kondisi dari segalanya.
Ada tiga prinsip yang harus dipenuhi dalam menerapkan teori deontologi, yaitu :
1. Tindakan harus dijalankan berdasarkan aturan, prosedur, dan kewajiban agar
tindakan punya nilai moral.
2. Suatu tindakan sudah dinilai baik apabila dilaksanakan dengan niat baik, walaupun
tujuan tidak tercapai.
3. Dari 2 hal tersebut di atas , kewajiban adalah hal yang penting dari tindakan yang
dilakukan berdasarkan sikap hormat pada hukum moral universal.

Yang termasuk dalam pandangan Teori Deontologi adalah :


a. Teori hak (right)
Teori hak merupakan aspek dari pendekatan deontologi, karena hak selalu
berkaitan dengan kewajiban. Manusia dalam kehidupannya memiliki berbagai
macam hak, yang di antaranya :
Hak Moral atau asasi yang mengidentifikasikan seluruh aktivitas atau
keinginan yang dapat

secara bebas dilakukan tanpa dibatasi oleh norma

hukum. Misalnya hak untuk hidup


Hak Legal yang bersumber dari norma hukum dan dilindungi dalam

lingkungan

yurisdiksi suatu system hukum.


Hak Warganegara, yaitu hak hak yang dapat dinikmati sebagai warga Negara,
seperti hak memilih, dan dipilih.
b. Teori Keadilan (justice)
Memberikan seseorang apa yang menjadi haknya akan menyangkut aspek keadilan (
moral Justice ) yang juga menjadi perhatian dalam pendekatan deontologi
Ada 3 unsur dalam pengertian hakiki antara lain :
Keadilan tertuju pada orang lain.
Keadilan merupakan kewajiban dan harus dilaksanakan, karena berkaitan
dengan hak orang lain.
Keadilan menuntut persamaan ( equality )
c. Perhatian (Care)
Pendekatan lain yang ada dalam teori deontologi adalah Ethics of Care ( teori
memberi perhatian ), misalnya hubungan kekeluargaan, hubungan pertemanan, dan
hubungan yang terkait dengan pekerjaan. Dalam hal ini tidak semua hubungan
menimbulkan kewajiban moral

untuk diberi perhatian. Menurut Velasques

( Satyanugraha, 2003 : 86 ) etika perhatian memberi penekanan pada dua tuntutan


moral yaitu :
Setiap orang berada dalam suatu jaringan hubungan dan seharusnya menjaga dan
memelihara hubungan yang konkret dan bernilai dengan orang orang yang ada
dalam jaringan

Setiap orang seharusnya memberikan perhatian khusus pada mereka yang memiliki
hubungan khusus dengan memperhatikan kebutuhannya, nilainya, keinginannya,
dan kesejahteraan konkret berdasarkan persepektif pribadi dan menggapai secara
positif kebutuhan, nilai, keinginan, dan kesejahteraan mereka.
d. Teori Keutamaan (Virtue Theory)
Teori

Keutamaan

(Virtue

Theory

menggunakan

keutamaan

seperti

kejujuran,kebranian,integritas,kepedulian,kesabaran pengendalian diri dan kejelekan


seperti ketidakjujuran,keserakahan dan kekejaman sebagai awal untuk moral
reasoning. Menurut Satyanugraha,2003:89 Keutamaan didefinisikan sebagai watak
yang telah dimiliki seseorang dan yang memungkinkanya untuk bertingkah laku baik
secara moral.
B.2 Teori Teleologi ( Etika Tujuan atau Manfaat )
Teleologi berasal dari bahasa Yunani, telos yang berarti tujuan, sasaran, hasil, akibat
(Magins, 1975:79-80; Pratley, 1997:173). Teori tersebut menilai suatu tindakan itu baik
atau buruk dari sudut tujuan, hasil, sasaran atau keadaan optimum yang dapat dicapai.
Teleologi ini dianut oleh pengikut utilitarianisme.
Tujuan,hasil,sasaran atau akibat bisa dilihat dari dua segi yaitu apa dan untuk siapa
tujuan, hasil, sasaran, atau akibat tersebut. dan jika dilihat dari sudut apa tujuan, hasil,
sasaran, atau akibat tersebut dikenal dua versi teleologi yaitu :
a. Hedonisme ( hedone, dalam bahasa yunanai berarti kenikmatan)
b. Eudaimonisme (dalam bahasa Yunani berarti jiwa yang baik , eudaimonia, berarti
kebahagiaan) (Magnis, 1975:80; Bertens, 1997:235-242)
Aristoteles menyatakan bahwa setiap tindakan manusia mempunyai tujuan, dimana
tujuan tersebut dapat terbagi menjadi dua macam tujuan antara lain :
1. tujaun yang dicari untuk tujuan selanjutnya (tujuan antara )
2. Tujuan demi tujuan itu sendiri
Oleh karena itu , prinsip yang dipegang adalah " bertindaklah sedemikian rupa sehingga
dapat mencapai kebahagiaan", dengan tindakan yang merealisasikan bakat dan
kesanggupan manusia

( self-realization or self - actualization). Jika Dilihat. dari sudut

untuk siapa hasil atau akibat itu, maka hedonisme maupun eudaimonisme tergolong
egois, sehingga disebut juga egoisme etis. Dalam hubungan ini, egoisme dibedakan
menjadi dua antara lain :

1. Egoisme hedonistic (hedonisme egois) yaitu berlaku kaidah " Bertindaklah


sedemikian rupa

sehingga mencapai kenikmatan yang paling besar bagimu atau

hindari semua ketidaknikmatan".


2. Egoisme eudaimonistic yaitu berlaku kaidah " bertindaklah sehingga mencapai
kebahagiaan terbesar bagimu".
Egoisme juga dibedakan menjadi :
1. Egoisme yang mencolok atau egoisme psikologis yang hanya melihat kepentingan
diri sendiri.
2. Egoisme kelompok ( in-group egoism ) yang melihat kepentingan kelompok terbatas
3. Egoisme yang dicerahi ( enlightened egoism ) atau pengejaran kepentingan sendiri
dan kepentingan pihak lain melalui negosiasi untuk kepentingan bersama ( Pratley,
1997:180-202 ). Pandangan ini dianggap lebih tepat sebagai moral bisnis karena
menghargai hak-hak pihak luar yang berkepentingan dimana secara spesifik egoisme
yang dicerahi menuntut pelaku bisnis untuk mengikuti standar moral yang didasarkan
atas pengejaran kepentingan diri sendiri dan pihak lain melalui negosiasi.
B.3 Etika Utilitarianisme
Etika Utilitarianisme berakar pada teori teleologi dan merupakan sekian banyak aliran
(teori) etika normatif yang digunakan untuk menilai etis tidaknya suatu tindakan.
a. Kriteria dan Prinsip Etika Utilitarianisme
Menimbang biaya dan keuntungan sosial
Utilitarianisme berasal dari bahasa latin utilis,yang berarti,berguna,berfaedah dan
menguntungkan. Menurut aliran ini prinsip pokok yang harus dikedepankan dalam
berbuat adalah asas manfaat/keuntungan. the greatest happines of the greatest
number . Kegunaan/keuntungan menjadi prinsip,norma,kreteria dan cita-cita moral.
Dengan demikian utilitarianisme merupakan sebuah istilah umum untuk semua
pandangan yang menyatakan bahwa tindakan dan kebijakan perlu dievaluasi
berdasarkan keuntungan dan biaya yang dibebankan kepada masyarakat.
Pendekatan utlitarianisme sering disebut pendekatan konsekuensialis karena
menekankan kepentingan konsekuensi atas keputusan yang di ambil. Dengan demikian
istilah utilitarianisme digunakan untuk semua teori yang mendukung pemilihan
tindakan atau kebijakan yang memaksimalkan keuntungan atau menekan biaya. David
hume,jeremy bentham,dan john stuart adalah sebagian dari penggagas aliran ini.
Banyaknya analis yang meyakini bahwa cara terbaik untuk mengepaluasi kelayakan

suatu keputusan bisnis dengan mengandalkan pada analisis biaya keuntungan


utilitarian.
Utilitarianisme Tradisional
Jeremy bentham ( 1748-1832) sering dianggap pendiri utilitarianisme tradisional.
Bentham berusaha mencari dasar objektif dalam membuat keputusan yang mampu
memberikan norma yang dapat diterima publik dalam menetapkan kebijakan peraturan
sosial. Cara yang paling menjanjikan dalam memproleh dasar objektif adalah dengan
melihat pada berbagai kebijakan yang dapat ditetapkan dan membandingkan
keuntungan serta konsekuensi-konsekuensinya.
Prinsip utilitarianisme adalah suatu tindakan yang dianggap benar,jika dari sudut
pandang etis jumlah total utilitas yang dihasilkan dari tindakan tersebut lebih besar dari
jumlah utilitas jumlah total yang lain. Tindakan yang tepat adalah dengan
melaksanakan proyek-proyek yang dari hasil penelitian objektif, terbukti mampu
menghasilkan keuntungan yang lebih besar bagi semua anggota masyarakat dengan
biaya paling kecil. Namun bukan berati tindakan benar mampu menghasilkan utilitas
paling besar bagi yang bertindak, tetapi suatu tindakan yang di anggap benar jika
mampu menghasilkan utilitas paling besar bagi semua orang yang berpengaruh
didalamnya, yang artinya prinsip utilitarian tidak membenarkan bahwa keuntungan
lebih besar dari biayanya. Maka didapatkan analisis terakhir bahwa tindakan benar
adalah tindakan yang mapu menghasilkan keuntungan- keuntungan yang dapat
diperoleh dari semua tindakan alternatif lain.
Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam situasi tertentu :
1.

Tentukan tindakan-tindakan altetnatif apa yang harus dilakukan dalam situasi


tersebut.
2.
Untuk tindakan alternatif ditentukan keuntungan,biaya langsung,serta tidak
langsung yang akan diperoleh dari tindakan tersebut dimasa yang akan datang.
3.
Alternatif yang memberikan utilitas wajib dipilih sebagai tindakan yang
secara etis tepat.
Utilitarianisme juga menjadi dasar teknik analisis biaya keuntungan ekonomi yang
mana digunakan untuk menentukan tingakat kelayakan investasi dalam suatu proyek,
utilitarianisme sangat mengutamakan sikap efisiensi dari seseorang.
Ada tiga kreteria prinsip etika utilitarianisme ( keraf,1998:94) :
1. Manfaat, yaitu kebijakan yang mampu mendatangkan manfaat atau kegunaan
tertentu.
9

2. Manfaat terbesar, yaitu kebijakan tindakan yang mampu menghasilkan atau


mendatangkan manfaat terbesar dibandingkan dengan alternatif lainnya.
3. Manfaat terbesar diterima oleh sebanyak mungkin orang yaitu kebijakan yang
bermanfaat bagi lebih banyak orang. Jadi, suatu tindakan dapat dikatakan baik,
apabila tidak hanya mendatangkan manfaat terbesar, tetapi juga manfaat terbesar
bagi semua banyak orang.
b. Nilai positif utilitarianisme
Etika utilitarianisme memiliki daya tarik tersendiri, etika yang menggambarkan apa
yang sesungguhnya dilakukan oleh orang yang rasional dalam mengambil
keputusan, khususnya keputusan moral,termasuk dalam bidang bisnis. Ada tiga milai
positif etika utilitarianisme, menurut keraf ( 1998:96 ) yaitu
1. Rasional, yaitu : memberikan kreteria yang objektif dan rasional
2. Otonom, yaitu: sangat menghargai kebebasan setiap pelaku moral untuk
berpikir dan bertindak serta tidak ada paksaan.
3. Universal, yaitu : dinilai bermoral jika bermanfaat bagi banyak orang.
c. Etika utilitarianisme sebagai proses dan standar penilaian
Secara umum dapat dipakai dalam dua wujud yang berbeda yaitu :
1. Sebagai proses pengambilan keputusan
Etika ini dipakai untuk melakukan perencanaan penyusunan program serta
seleksi setiap alternatif setiap diambil yang digunakan untuk mengatur target
atau sasaran yang akan dicapai.
2. Sebagai standar penilaian
Etika ini benar-benar digunakan untuk menilai apakan tindakan atau kebijakan
yang ditetapkan tersebut memang baik atau tidak.
d. Kelemahan etika utilitarianisme
Masalah penilaian
Suatu rangkaian masalah dalam kaitannya dengan utilitarianisme terfokus pada
hambatan yang dihadapi saat menilai atau mengukur utilitas, namum pendapat ini
tidak berlakukan secara universal sebab, nilai guna tidak mungkin bernilai
seragam pada semua manusia. Dengan sifat humanistik dan universal yang
diembannya, maka moral tidak akan pernah mungkin dinilai menurut versi
kegunaan,manfaat,dan keuntungan.

10

Tanggapan utilitarian terhadap masalah penilaian


1. Kaum utulitarian menyatakan bahwa meskipun utilitarianisme idiealnya
mensyaratkan penilaian-penialian yang akurat dan dapat dikuantifikasikan atas
biaya dan keuntungan,namun persyaratan ini dapat diperlonggar jika penilaian
seperti itu tidak dapat dilakukan.
2. Utilitarianisme juga bisa salah menurut para kritikus, apabila diterapkan pada
situasi yang berkaitan dengan keadilan sosial.
Tanggapan utilitarian terhadap pertimbangan hak dan keadilan
Kaum utilitarian mengajukan versi utilitarisme alternatif yang cukup penting yang
disebut rule-utilitarianism ( peraturaan utiliatarianism ) menurutnya bahwa sebuah
tindakan tertentu mampu memaksimalkan utilitas dalam kondisi tertentu, tidak
berarti bahwa tindakan itu benar dari sudut pandang etis. jadi teori ini memiliki
pertimbangan yang dapat diringkas kedalam dua prinsip :
1. Suatu tindakan yang dikatakan benar dari sudut pandang etis, hanya jika tindakan
tersebut dinyatakan dalam peraturan moral yang benar.
2. Sebuah peraturan moral dikatakan benar jika utilitas total yang dihasilkannya, dan
jika semua orang mengikuti peraturan tersebut lebih besar dari jumlah total yg
diperoleh serta semua orang mengikuti peraturan moral alternatif lainnya.

11

BAB III
Kesimpulan
Teori Etika menyediakan kerangka untuk memastikan benar tidaknya keputusan moral
kita.

Norma moral yang menjadi standar masyarakat untuk menentukan baik buruknya

perilaku dan tindakan seseorang, terkadang hanya dianggap suatu aturan yang disetujui
bersama tanpa dipertimbangkan mengapa aturan-aturan moral tersebut harus kita patuhi.
Menurut teori Etika Denteologi suatu tindakan itu bernilai moral karena tindakan itu
dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan terlepas dari tujuan
atau akibat tindakan itu. Teori Etika Teleologi menilai suatu tindakan itu baik atau buruk dari
sudut tujuan,hasil,sasaran atau keadaan optimim yang dapat dicapai. Sedangkan menurut
Teori Teori Utilitarianime menyatakan bahwa tindakan yang benar dalam situasi adalah
tindakan yang menghasilkan utilitas besar dibandingkan kemungkinan tindakan lainnya.

12

Daftar Pustaka :
Sutrisna Dewi, 2011 Etika Bisnis penerbit Udayana University Press 2011
http://ruehanafi.blogspot.com/2014/06/pengertian-dan-pentingnya-teori-etika.html

13