Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN KLIEN DENGAN ABORTUS

A. Definisi
Abortus adalah pengeluaran atau ekstraksi janin atau embrio yang berbobot 500
gram atau kurang, dari ibunya yang kira kira berumur 20 sampai 22 minggu
kehamilan
Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana masa gestasi
belum mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin mampu hidup di luar
kandungan dengan berat badan kurang dari 1000 gram atau umur kehamilan kurang
dari 28 minggu
B. Etiologi
Berbagai penyakit ibu dapat menimbulkan abortus misalnya :
1.

Infeksi yang terdiri dari :


a) Infeksi akut
1) Virus, misalnya cacar, rubella, dan hepatitis.
2) Infeksi bakteri, misalnya streptokokus.
3) Parasit, misalnya malaria.
b) Infeksi kronis
1) Sifilis, biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua.
2) Tuberkulosis paru aktif.

2.

Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah, air raksa, dll.

3.

Penyakit kronis, misalnya :


a. hipertensi jarang menyebabkan abortus di bawah 80 minggu,
b. nephritis
c. diabetes angka abortus dan malformasi congenital meningkat pada wanita
dengan diabetes. Resiko ini berkaitan dengan derajat control metabolic pada
trisemester pertama.
d. anemia berat
e. penyakit jantung
f. toxemia gravidarum yang berat dapat menyebabkan gangguan sirkulasi pada
plasenta

4.

Trauma, misalnya laparatomi atau kecelakaan dapat menimbulkan abortus

Stase Maternitas.........1

5.

Kelainan alat kandungan hipolansia, tumor uterus, serviks yang pendek, retro
flexio utero incarcereta, kelainan endometriala, selama ini dapat menimbulkan
abortus.

6.

Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil, sehingga menyebabkan


hiperemia dan abortus

7.

Uterus terlalu cepat meregang (kehamilan ganda,mola)

C. Epidemiologi
Frekuensi Abortus sukar ditentukan karena Abortus buatan banyak tidak
dilaporkan, kecuali apabila terjadi komplikasi. Abortus spontan kadang-kadang hanya
disertai gejala dan tanda ringan, sehingga pertolongan medik tidak diperlukan dan
kejadian ini dianggap sebagai terlambat haid. Diperkirakan frekuensi Abortus spontan
berkisar 10-15%. Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% bila diperhitungkan wanita
yang hamil sangat dini, terlambat haid beberapa hari, sehingga seorang wanita tidak
mengetahui kehamilannya. Di Indonesia, diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun,
dengan demikian setiap tahun 500.000-750.000 abortus spontan.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) diperkirakan 4,2 juta Abortus dilakukan

setiap tahun di Asia Tenggara, dengan perincian :


1,3 juta dilakukan di Vietnam dan Singapura
antara 750.000 sampai 1,5 juta di Indonesia
antara 155.000 sampai 750.000 di Filipina
antara 300.000 sampai 900.000 di Thailand
Di perkotaan Abortus dilakukan 24-57% oleh dokter,16-28% oleh bidan/ perawat,
19-25% oleh dukun dan 18-24% dilakukan sendiri. Sedangkan di pedesaan Abortus
dilakukan 13-26% oleh dokter, 18-26% oleh bidan/perawat, 31-47% oleh dukun dan
17-22% dilakukan sendiri.
Cara Abortus yang dilakukan oleh dokter dan bidan/perawat adalah berturut-turut:
kuret isap (91%), dilatasi dan kuretase (30%) sertas prostaglandin / suntikan (4%).
Abortus yang dilakukan sendiri atau dukun memakai obat/hormon (8%), jamu/obat
tradisional (33%), alat lain (17%) dan pemijatan (79%).
Data dan lapangan menunjukkan bahwa ternyata sekitar 70-80% wanita yang
meminta tindakan aborsi legal ternyata dalam status menikah, karena tidak
menginginkan kehamilannya. Sisanya antara lain dan kalangan remaja puteri, yang
walaupun lebih sedikit namun menunjukkan kecenderungan meningkat, terutama di
kota besar atau di daerah tertentu seperti di Sulawesi Utara dan Bali. Bila ditinjaulebih

Stase Maternitas.........2

lanjut, penyebab kehamilan yang tidak diinginkan antara lain meliputi kegagalan KB,
alasan ekonomi, kehamilan di luar nikah atau kehamilan akibat perkosaan dan insest.
Abortus terkomplikasi berkontribusi terhadap kematian ibu sekitar 15%. Data
tersebut seringkali tersembunyi di balik data kematian ibu akibat perdarahan atau
sepsis. Data lapangan menunjukkan bahwa sekitar 60-70% kematian ibu disebabkan
oleh perdarahan, dan sekitar 60% kematian akibat perdarahan tersebut, atau sekitar 3540% dan seluruh kematian ibu, disebabkan oleh perdarahan postpartum. Sekitar1520% kematian ibu disebabkan oleh sepsis. Manajemen aktif kala III dalam persalinan
normal dikatakan dapat mencegah sekitar 50% perdarahan postpartum,atau sekitar 1720% kematian ibu. Dengan demikian, paket intervensi berupa pelayanan paska
keguguran dan pertolongan persalinan yang bersih dengan manajemen aktif kala III
dapat berkontribusi dalam mencegah kematian ibu sampai sekitar 50%.
D. Klasifikasi
1. Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa tindakan), yaitu :
a. Abortus imminens : Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada
kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan
tanpa adanya dilatasi serviks.
b. Abortus insipiens : Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20
minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil
konsepsi masih dalam uterus.
c. Abortus inkompletus : Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.
d. Abortus kompletus : Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.
2. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat), yaitu :
Menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Pada
umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandungan apabila kehamilan
belum mencapai umur 28 minggu, atau berat badan bayi belum 1000 gram,
walaupun terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup.

E. Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan nerkrosis
jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing
Stase Maternitas.........3

dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing


tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus desidua
secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8
sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan
sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu
janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk
seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes
ovum),janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi
atau fetus papiraseus.
F. Tanda & Gejala
1. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu
2. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun,
tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil,
suhu badan normal atau meningkat
3. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil
konsepsi
4. Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang akibat
kontraksi uterus
5. Pemeriksaan ginekologi :
a. Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi,
tercium bau busuk dari vulva
b. Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau sudah
tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau
jaringan berbau busuk dari ostium.
c. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak
jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia

Stase Maternitas.........4

kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan
adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri.

G. Komplikasi
1. Perdarahan (haemorrogrie)
2. Perforasi
3. Infeksi dan tetanus
4. Payah ginjal akut
5. Syok, yang disebabkan oleh syok hemoreagrie (perdarahan yang banyak) dan
syok septik atau endoseptik (infeksi berat atau septis)
6. Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan
pembekuan darah
H. Pemeriksaan Penunjang
1. Tes Kehamilan
Positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus
2. Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
3. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

I. Penatalaksanaan Medis
Teknik aborsi dibedakan menjadi dua jenis yaitu:
1. Teknik bedah
a. Kuretose / dilatasi
Kurotase ( kerokan ) adalah cara menimbulkan hasil konsepsi memakai alat
kuretase (sendok kerokan) sebelum melakukan kuratase, penolong harus
melakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan letak uterus, keadaan
serviks. Mengan isi uterus dengan mengerok isinya disebut kuretase tajam
sedangang mengosongkan uterus dengan vakum disebut kuretase isap .
b. Aspirasi haid

Stase Maternitas.........5

Aspirasi rongga endometrium menggunakan sebuah kanula karman 5 atau 6


mm fleksibel dan tabung suntik, dalam 1 sampai 3 minggu setelah
keterlambatan haid disebut juga induksi haid, haid instan dan mini abortus.
c. Laporotomi
Pada beberapa kasus, histerotomi atau histerektomi abdomen untuk abortus
lebih disukai daripada kuretase atau induksi medis. Apabila ada penyakit yang
cukup significanpada uterus, histerektomi mungkin merupakan terpa ideal.
2. Teknik medis
a. Oksitosin
b. Prostaglandin
c. Urea hiperosomik
d. Larutan hiperostomik intraamnion.
J. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama,
umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan,
perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat
b. Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan
pervaginam berulang
c. Riwayat kesehatan , yang terdiri atas :
1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke
Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di
luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
2) Riwayat kesehatan masa lalu
d. Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh
klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut
berlangsung.
e. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah
dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah
ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya.
f. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari
genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan
penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
g. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi,
lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta
kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya
Stase Maternitas.........6

h. Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak


klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan
kesehatan anaknya.
i. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi
yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.
j. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi
oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.
k. Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit,
eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik
sebelum dan saat sakit.
Pemeriksaan fisik, meliputi :
a. Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas
pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung.
Hal yang diinspeksi antara lain :
mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap
drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa
tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan
fifik, dan seterusnya
b. Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.
1) Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat
kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.
2) Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan
posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor.
3) Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri
yang abnormal
c. Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada
permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau
jaringan yang ada dibawahnya.
1) Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang
menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.
2) Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya
refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada
kontraksi dinding perut atau tidak
d. Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan
stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang
terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan

Stase Maternitas.........7

darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut
jantung janin.
Pemeriksaan laboratorium :
a. Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap
smear.
b. Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah
klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB
jenis apa.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan: Agen injuri biologi
b. Intoleransi aktivitas b.d Kelemahan menyeluruh
c. Resiko perdarahan dengan faktor resiko abortus
d. Risiko infeksi dengan faktor resiko Pertahan primer tidak adekuat
e. Ansietas b.d. ancaman perubahan status kesehatan
f. Defisiensi pengetahuan berhubungan tidak familier dengan sumber informasi
3. Rencana Tindakan
No
1.

Diagnosa
Keperawa
tan
Nyeri
akut
berhubun
gan
dengan:
Agen
injuri
biologi

Tujuan

Intervensi

Setelah dilakukan tinfakan NIC :


keperawatan selama .
Pasien tidak mengalami 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif termasuk lokasi,
nyeri, dengan kriteria
karakteristik, durasi, frekuensi,
hasil:
kualitas dan faktor presipitasi
2. Observasi reaksi nonverbal dari
1.
Mampu
ketidaknyamanan
mengontrol nyeri.
3. Bantu pasien dan keluarga untuk
2.
Melapork
mencari
dan
menemukan
an
bahwa
nyeri
dukungan
berkurang
dengan 4. Kontrol lingkungan yang dapat
menggunakan
mempengaruhi nyeri seperti suhu
manajemen nyeri
ruangan,
pencahayaan
dan
3.
Mampu
kebisingan
mengenali nyeri (skala, 5. Kurangi faktor presipitasi nyeri
intensitas,
frekuensi 6. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
dan tanda nyeri)
menentukan intervensi
4.
Menyatak 7. Ajarkan tentang teknik non
an rasa nyaman setelah
farmakologi:
napas
dala,
nyeri berkurang
relaksasi, distraksi, kompres
5.
Tanda
hangat/ dingin
vital dalam rentang 8. Berikan
analgetik
untuk
normal
mengurangi nyeri: ...
6.
Tidak
9. Tingkatkan istirahat
Stase Maternitas.........8

mengalami
tidur

2.

Intolerans
i aktivitas

gangguan

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama
.
Pasien
bertoleransi
terhadap
aktivitas dengan Kriteria
Hasil :

b.d
Kelemaha
n
menyelur
uh
1.

Berpartisi
pasi dalam aktivitas
fisik tanpa disertai
peningkatan
tekanan
darah, nadi dan RR
2.
Keseimba
ngan aktivitas dan
istirahat

Resiko
perdarah
an
dengan
faktor
resiko
abortus

NOC
Setelah dilakukan
tindakan asuhan
keperawatan pada pasien
selama 1 x 24 jam
diharapkan perdarahan
tidak terjadi dengan
kriteria hasil :
a. Tanda tanda

10. Berikan informasi tentang nyeri


seperti penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan berkurang dan
antisipasi ketidaknyamanan dari
prosedur
11. Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali
NIC :
1. Observasi adanya pembatasan klien
dalam melakukan aktivitas
2. Kaji
adanya
faktor
yang
menyebabkan kelelahan
3. Monitor nutrisi dan sumber energi
yang adekuat
4. Monitor pasien akan adanya
kelelahan fisik dan emosi secara
berlebihan
5. Monitor respon kardivaskuler
terhadap
aktivitas
(takikardi,
disritmia, sesak nafas, diaporesis,
pucat, perubahan hemodinamik)
6. Monitor pola tidur dan lamanya
tidur/istirahat pasien
7. Bantu klien untuk mengidentifikasi
aktivitas yang mampu dilakukan
8. Bantu untuk memilih aktivitas
konsisten yang sesuai dengan
kemampuan fisik, psikologi dan
sosial
9. Bantu untuk mengidentifikasi dan
mendapatkan
sumber
yang
diperlukan untuk aktivitas yang
diinginkan
10. Bantu untuk mendpatkan alat
bantuan aktivitas seperti kursi roda,
krek
NIC
1. Kaji adanya perdarahan
2. Monitor tanda-tanda vital
3. Antisipasi terjadinya perlukaan /
perdarahan.
4. Anjurkan keluarga klien untuk
lebih banyak mengistirahatkan
klien
5. Monitor hasil darah, Trombosit
6. Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian therapi ,pemberian
Stase Maternitas.........9

infeksi tidak ada


b. Tidak ada lecet
atau kemerahan
pada kulit
c. Jumlah trombosit
normal

cairan intra vena

4.

Risiko
infeksi
dengan
faktor
resiko
Pertahan
primer
tidak
adekuat

Setelah dilakukan tindakan NIC :


keperawatan selama
pasien tidak mengalami 1. Pertahankan teknik aseptif
2. Batasi pengunjung bila perlu
infeksi dengan kriteria 3. Cuci tangan setiap sebelum dan
hasil:
sesudah tindakan keperawatan
4. Gunakan baju, sarung tangan
1. Klien bebas dari tanda
sebagai alat pelindung
dan gejala infeksi
5. Tingkatkan intake nutrisi
2. Menunjukkan
6. Berikan terapi antibiotik
kemampuan
untuk 7. Monitor tanda dan gejala infeksi
mencegah timbulnya
sistemik dan lokal
infeksi
8. Pertahankan teknik isolasi k/p
3. Menunjukkan perilaku 9. Inspeksi kulit dan membran
hidup sehat
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
10. Monitor adanya luka
11. Dorong masukan cairan
12. Dorong istirahat
13. Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi

5.

Ansietas
b.d.
ancaman
perubaha
n status
kesehatan

Setelah dilakukan tindakan NIC


keperawatan selama X
Menurunkan Cemas
24 jam kecemasan orang
tua berkurang / hilang,
1.
Gunakan pendekatan dengan
dengan criteria :
konsep atraumatik care
2.
Jangan memberikan jaminan
tentang prognosis penyakit
NOC
3.
Jelaskan semua prosedur dan
dengarkan
keluhan
Mengotrol cemas
klien/keluarga
4.
Pahami
harapan
a. Klien/keluarga
pasien/keluarga dalam situasi
mampu
stres
mengidentifikasi dan
5.
Temani pasien/keluarga untuk
mengungkapkan
memberikan
keamanan
gejala cemas.
dan mengurangi takut
b. Mengidentifikasi,
6.
Bersama
tim
kesehatan,
mengungkapkan, dan
berikan informasi mengenai
menunjukkan teknik
diagnosis, tindakan prognosis
untuk
mengontrol
Stase Maternitas.........10

cemas
c. Vital sign (TD, nadi,
respirasi) dalam batas
normal
d. Postur tubuh, ekspresi
wajah, bahasa tubuh,
dan tingkat aktivitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan.
e. Menunjukkan
peningkatan
konsentrasi
dan
akurasi dalam berpikir

7.

Anjurkan
keluarga
untuk
menemani
anak
dalam
pelaksanaan
tindakan
keperawatan
Lakukan massage pada leher
dan punggung, bila perlu
Bantu
pasien
mengenal
penyebab kecemasan
Dorong pasien/keluarga untuk
mengungkapkan
perasaan,
ketakutan, persepsi tentang
penyakit

8.
9.
10.

Indikator skala :
1. Tidak pernah
dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
6.

Defisiensi
pengetah
uan
berhubun
gan tidak
familier
dengan
sumber
informasi

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama X 24 jam
keluarga mengerti tentang
kondisi pasien, dengan
criteria hasil

NOC
Knowledge : Diease
proses (1803)
a.

Kel
uarga
menyatakan
pemahaman
tentang
penyakit
kondisi
prognosis dan program
pengobatan
b.
Kel
uarga
mampu
menjelaskan
faktor
resiko penyakit anak
c.
Kel

NIC
Teaching : Diease process
1.

Berikan
penilaian tentang penyakit
pengetahuan pasien tentang
proses penyakit yang spesifik
2.
Jelaskan
patofisiologi dari penyakit dan
bagaimana
hal
ini
berhubungan dengan anatomi
fisiologi dengan cara yang
tepat
3.
Gambarkan
tanda dan gejala yang biasa
muncul pada penyakit, dengan
cara yang tepat
4.
Identifikasikan
kemungkinan dengan cara
yang tepat

Stase Maternitas.........11

uarga
mampu
menjelaskan tanda dan
gejala penyakit anak
d.
Kel
uarga
mampu
menjelaskan kembali
apa yang dijelaskan
perawat/ tim kesehatan
lainya
Indikator skala :
1. Tidak pernah
dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan

Daftar Pustaka
.
1. Hamilton, C. M. 1995. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6, EGC: Jakarta.
2. Johnson, Marion et al. 1997. Nursing Outcomes Classification (NOC). USA : Mosby.
3. Mansjoer, A. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media Aesculapius : Jakarta
4. McCloskey, Joanne C., Bulechek, Gloria M. 1997. Nursing Intervention
Classification (NIC). USA : Mosby.
5. Nanda. 2012. Nursing Diagnosis : Definitions & Classifications.
Stase Maternitas.........12

6. Normahendi,

W.A.

2007.

Abortus.

http://fkuii.org/tiki

download_wiki_attachment.php?attId=964&page=Wulan%20Asih%20Normahendri
7. Saifuddin AB. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Edisi Keempat. Jakarta: BPSP, 2008
8. Smeltzer & Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Ed.8 Volume 2.
Jakarta ; EGC.

Stase Maternitas.........13