Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN OTITIS


MEDIA SUPURATIF KRONIS

OLEH:
PUTU NIHITA TRISA
14.901.0970

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI
2015

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN OTITIS


MEDIA SUPURATIF KRONIK
I.

KONSEP DASAR PENYAKIT


A. DEFINISI
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba
eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media sering diawali dengan infeksi
pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ket elinga tengah
melalui tubaeustachius (Kusuma, Hardi & Amin Huda Nurarif, 2013).
Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah stadium dari penyakit telinga tengah
dimana terjadi peradangan kronis dari telinga tengah, mastoid dan membran timpani tidak
intak (perforasi) dan ditemukan sekret (otorea), purulen yang hilang timbul. Istilah kronik
digunakan apabila penyakit ini hilang timbul atau menetap selama 2 bulan atau lebih (Fung,
K, 2004). OMSK adalah infeksi di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan
sekret yang keluar dari telinga tengah terus-menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin
encer atau kental, bening atau berupa nanah (Efiaty, 2007).

B. EPIDEMIOLIGI
Prevalensi OMSK pada beberapa negara antara lain disebabkan, kondisi sosial,
ekonomi, suku, tempat tinggal yang padat, higiene dan nutrisi yang jelek.
Kebanyakan melaporkan prevalensi OMSK pada anak termasuk anak yang
mempunyai kolesteatom, tetapi tidak mempunyai data yang tepat, apalagi insiden
OMSK saja, tidak ada data yang tersedia. Otitis media kronis merupakan penyakit
THT yang paling banyak di negara sedang berkembang. Di negara maju seperti
Inggris sekitar 0, 9% dan di Israel hanya 0, 0039%. Di negara berkembang dan
negara maju prevalensi OMSK berkisar antara 1-46%, dengan prevalensi tertinggi
terjadi pada populasi di Eskimo (12-46%), sedangkan prevalensi terendah terdapat
pada populasi di Amerika dan Inggeris kurang dari 1% (Lasminingrum L, 2000).
C. ETIOLOGI
Kejadian OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada
anak, jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring
(adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba
Eustachius. Fungsi tuba Eustachius yang abnormal merupakan faktor predisposisi
yang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan downs syndrom. Faktor host yang
berkaitan dengan insiden OMSK yang relatif tinggi adalah defisiensi immun
sistemik. Penyebab OMSK antara lain:

1. Lingkungan
Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas, tetapi
mempunyai hubungan erat antara penderita dengan OMSK dan sosioekonomi,
dimana kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden yang lebih tinggi.
Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara
umum, diet, tempat tinggal yang padat.
2. Genetik
Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah insiden
OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor
genetik. Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media, tapi
belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder.
3. Otitis media sebelumnya
Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis
media akut dan atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa
yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi
kronis.
4. Infeksi
Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak
bervariasi pada otitis media kronik yang aktif menunjukkan bahwa metode kultur
yang digunakan adalah tepat. Organisme yang terutama dijumpai adalah Gramnegatif, flora tipe-usus, dan beberapa organisme lainnya.
5. Infeksi saluran napas bagian atas
Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas
atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan
menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada
dalam telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri.
6. Autoimun
Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap
otitis media kronis.
7. Alergi
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi
dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian
penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteria atau toksintoksinnya, namun hal ini belum terbukti kemungkinannya.
8. Gangguan fungsi tuba eustacius
Pada otitis kronis aktif, dimana tuba eustachius sering tersumbat oleh edema
tetapi apakah hal ini merupakan fenomen primer atau sekunder masih belum
diketahui. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk

mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba


tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal.
D. KLASIFIKASI
1. Tipe tubotimpani = tipe jinak = tipe aman = tipe rhinogen.
Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa dan
gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. Beberapa faktor
lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius, infeksi
saluran nafas atas, pertahanan mukosa terhadap infeksi yang gagal pada pasien
dengan daya tahan tubuh yang rendah, di samping itu campuran bakteri aerob
dan anaerob, luas dan derajat perubahan mukosa, serta migrasi sekunder dari
epitel skuamous. Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi atas:
a. Penyakit aktif
Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya didahului
oleh perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius, atau
setelah berenang di mana kuman masuk melalui liang telinga luar. Sekret
bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen. Ukuran perforasi bervariasi
dan jarang ditemukan polip yang besar pada liang telinga luas. Perluasan
infeksi ke sel-sel mastoid mengakibatkan penyebaran yang luas dan
penyakit mukosa yang menetap harus dicurigai bila tindakan konservatif
gagal untuk mengontrol infeksi.
b. Penyakit tidak aktif
Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan
mukosa telinga tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa tuli
konduktif ringan. Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo, tinitus, and
atau suatu rasa penuh dalam telinga.
2. Tipe atikoantral = tipe ganas = tipe tidak aman = tipe tulang
Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Penyakit atikoantral
lebih sering mengenai pars flasida dan khasnya dengan terbentuknya kantong retraksi
yang mana bertumpuknya keratin sampai menghasilkan kolesteatom.
Kolesteatom adalah suatu massa amorf, konsistensi seperti mentega, berwarna putih,
terdiri dari lapisan epitel bertatah yang telah nekrotis. Kolesteatom dapat dibagi atas
2 tipe yaitu kolesteatom kongenital dan kolesteatom didapat.
a. Kolesteatom kongenital
Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital adalah:
1) Berkembang dibelakang dari membran timpani yang masih utuh.

2) Tidak ada riwayat otitis media sebelumnya.


3) Pada mulanya dari jaringan embrional dari epitel skuamous atau dari
epitel undiferential yang berubah menjadi epitel skuamous selama
perkembangan. Kongenital kolesteatom lebih sering ditemukan pada
telinga tengah atau tulang temporal, umumnya pada apeks petrosa.
Dapat menyebabkan fasialis parese, tuli saraf berat unilateral, dan
gangguan keseimbangan.
b. Kolesteatom didapat
1) Primary acquired cholesteatoma.
Koelsteatom yang terjadi pada daerah atik atau pars flasida
2) Secondary acquired cholesteatoma.
Berkembang dari suatu kantong retraksi yang disebabkan peradangan
kronis biasanya bagian posterosuperior dari pars tensa. Khasnya
perforasi marginal pada bagian posterosuperior. Terbentuknya dari
epitel kanal aurikula eksterna yang masuk ke kavum timpani melalui
perforasi membran timpani atau kantong retraksi membran timpani
pars tensa.
Oleh karena tuba tertutup terjadi retraksi dari membrane plasida,
akibat pada tempat ini terjadi deskuamasi epitel yang tidak lepas, akan
tetapi bertumpuk di sini. Lambat laun epitel ini hancur dan menjadi
kista. Kista ini tambah lama tambah besar dan tumbuh terus kedalam
kavum timpani dan membentuk kolesteatom. Ini dinamakan primary
acquired cholesteatom atau genuines cholesteatom. Mula-mula
belum timbul peradangan, lambat laun dapat terjadi peradangan.
Primary dan secondary acquired cholesteatom ini dinamakan juga
pseudo cholesteatoma, oleh karena ada pula congenital kolesteatom.
Ini juga merupakan suatu lubang dalam tenggorok terutama pada os
temporal. Dalam lubang ini terdapat lamel konsentris terdiri dari
epitel yang dapat juga menekan tulang sekitarnya. Beda kongenital
kolesteatom, ini tidak berhubungan dengan telinga dan tidak akan
menimbulkan infeksi.
Bentuk perforasi membran timpani akibat OMSK antara lain:
1. Perforasi sentral

Lokasi pada pars tensa, bisa antero-inferior, postero-inferior dan posterosuperior, kadang-kadang sub total.
2. Perforasi marginal
Terdapat pada pinggir membran timpani dengan adanya erosi dari anulus
fibrosus. Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi
total. Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom
3. Perforasi atik
Terjadi pada pars flasida, berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma
(Ballenger JJ, 1997).
E. TANDA DAN GEJALA
1. Telinga berair (otorrhoe)
Sekret bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan encer) tergantung
stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas kelenjar sekretorik
telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe jinak, cairan yang keluar mukopus
yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah
oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Keluarnya sekret biasanya hilang
timbul. Meningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan infeksi saluran nafas atas atau
kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi atau berenang. Pada OMSK
stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Sekret yang sangat bau,
berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan produk
degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil, berwarna putih, mengkilap. Pada
OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang
karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah
berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan
tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa
nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis.
2. Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanya di jumpai
tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan pendengaran mungkin
ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena daerah yang sakit ataupun
kolesteatom, dapat menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Bila tidak
dijumpai kolesteatom, tuli konduktif kurang dari 20 db ini ditandai bahwa rantai
tulang pendengaran masih baik. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran
menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari 30 db. Beratnya ketulian tergantung
dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem

pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli
konduktif berat karena putusnya rantai tulang pendengaran, tetapi sering kali juga
kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang
didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati. Penurunan fungsi kohlea biasanya
terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui
jendela bulat (foramen rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis
supuratif. Bila terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat, hantaran
tulang dapat menggambarkan sisa fungsi kokhlea.
3. Otalgia (nyeri telinga)
Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada merupakan suatu tanda
yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus.
Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret,
terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses
otak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder.
Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis,
subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis.
4. Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Keluhan
vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding
labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan
udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi
hanya karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih
mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga
akan meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi
serebelum.
F. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi dari OMSK masih belum diketahui secara pasti, tetapi dalam hal
ini diduga merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi
yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Perforasi
sekunder pada OMA dapat terjadi kronis tanpa kejadian infeksi pada telinga tengah.
Otitis media sering diawali dengan penyumbatan pada saluran eustasius yang
terjadi akibat infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang
menyebar ke telinga tengah. Penyumbatan ini juga dapat diakibatkan oleh tumor.

Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di


saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya
saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah
putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai
hasilnya terbentuklah nanah dan menyumbat saluran eustasius. Selain itu
pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang
dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.
Jika lendir bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga
dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di
telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami
umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat
menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan
normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan
yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena
tekanannya.

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Otoscope untuk melakukan auskultasi pada bagian telinga luar
2. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpani
3. Kultur dan uji sensitifitas ; dilakukan bila dilakukan timpanosentesis (Aspirasi jarum
dari telinga tengah melalui membrane timpani).
4. Otoskopi pneumatik (pemeriksaan telinga dengan otoskop untuk melihat gendang
telinga yang dilengkapi dengan udara kecil). Untuk menilai respon gendang telinga
terhadap perubahan tekanan udara
H. KOMPLIKASI
Otitis media supuratif mempunyai potensi untuk menjadi serius karena
komplikasinya yang sangat mengancam kesehatan dan dapat menyebabkan
kematian. Tendensi otitis media mendapat komplikasi tergantung pada kelainan
patologik yang menyebabkan otorea. Biasanya komplikasi didapatkan pada pasien
OMSK tipe maligna, tetapi suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akut oleh
kuman yang virulen pada OMSK tipe benigna pun dapat menyebabkan komplikasi.
Komplikasi intra kranial yang serius lebih sering terlihat pada eksaserbasi akut dari
OMSK berhubungan dengan kolesteatom. Adam dkk mengemukakan klasifikasi
sebagai berikut:
1. Komplikasi di telinga tengah yaitu perforasi persisten, erosi tulang pendengaran
dan paralisis nervus fasial.
2. Komplikasi telinga dalam yaitu fistel labirin, labirinitis supuratif dan tuli saraf
(sensorineural).
3. Komplikasi ekstradural yaitu abses ekstradural, trombosis sinus lateralis dan
petrositis.
4. Komplikasi ke susunan saraf pusat yaitu meningitis, abses otak dan hidrosefalus
otitis.
I. PENATALAKSANAAN
Penanganan lokal meliputi pembersihan hati hati telinga menggunakan
mikroskop dan alat penghisap. Pemberian tetes antibiotika atau pemberian bubuk
antibiotika sering membantu bila da cairan purulen. Antibiotika sistemik biasanya
tidak diresepkan kecuali pada kasus infeksi akut.
Timpanoplasti. Tujuan timpanoplasti adalah mengembalikan fungsi telinga
tengah, menutup lubang perforasi telinga tengah, mencegah infeksi berulang, dan
memperbaiki pendengaran.timpanoplasti dilakukan melalui kanalis auditorius
eksternus, baik secara transkanal atau melalui insisi post aurikuler. Pembedahan
biasanya dilakukan pada pasien rawat jalan dengan anastesi yang umum.

Mastoidektomi. Tujuan pembedahan mastoid adalah untuk mengangkat


kolesteatoma, mencapai struktur yang sakit, dan menciptakan telingan yang aman,
kering dan sehat. Mastoidektomi biasanya dilakukan melalui insisi post aurikuler,
dan infeksi dihilangkan dengan mengambil secara sempurna sel udara mastoid.
Mastoidektomi ke dua mungkin diperlukan 6 bula setelah yang pertama untuk
mengecek kekambuhan kolesteatoma

II.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
Data yang muncul saat pengkajian:
1. Sakit telinga/nyeri
2. Penurunan/tak ada ketajaman pendengaran pada satu atau kedua telinga
3. Tinitus
4. Perasaan penuh pada telinga
5. Suara bergema dari suara sendiri
6. Vertigo, pusing.
7. Tanda-tanda vital (suhu bisa sampai 40o C), demam
8. Kemampuan membaca bibir atau memakai bahasa isyarat
9. Toleransi terhadap bunyi-bunyian keras
10. Cairan telinga; hitam, kemerahan, jernih, kuning
11. Adanya riwayat infeksi saluran pernafasan atas, infeksi telinga sebelumnya.
B. DIAGNOSA
Pre-op:
1. Perubahan sensori-persepsi: pendengaran b/d gangguan penghantar bunyi pada
organ.
2. Nyeri kronis b/d agen cedera biologis.
3. Hipertermi b/d infeksi pada telinga tengah dan tuba eutachius ditandai dengan
suhu tubuh meningkat.
4. Gangguan citra diri b.d adanya penyakit kronis (keluarnya nanah dan paralisis
nervus facialis).
5. Anxietas b/d tindakan penanganan dan rencana oprasi.
6. Kurang pengetahuan b/d kurang terpajan terhadap informasi.
Post-op:
1. Nyeri akut b/d agen cedera fisik akibat insisi pembedahan.
2. Risiko infeksi b/d pertahanan primer tidak adekuat.
C. TINDAKAN KEPERAWATAN
Pre-op:
1. Gangguan persepsi sensori: pendengaran b.d gangguan penghantar bunyi pada
organ.
Tujuan dan Kriteria Hasil: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24
jam diharapkan gangguan komunikasi berkurang atau hilang dengan KH:
a. Px dapat mendengarkan dengan jelas saat dilakukan tes pendengaran
b. Px tidak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi
c. Px mengatakan telinganya tidak berdenging lagi
d. Px dapat menerima pesan melalui metode pilihan misalnya komunikasi
tulisan, bahasa lambang.

e. Px dapat berbicara dengan jelas dan mendengar dengan baik.


f. Px akan memakai alat bantu dengar (jika sesuai)

2.

INTERVENSI
Pandang pasien jika sedang berbicara.

RASIONAL
Menunjukkan perhatian serta

Berbicara jelas dan tegas pada pasien

penghargaan.
Mempermudah pasien untuk menerima

tanpa perlu berteriak.


Gunakan tanda-tanda non verbal (mis.

stimulus.
Membantu pasien untuk

Ekspresi wajah, menunjuk, atau

mempersepsikan informasi.

N
e
i

menggerakkan tubuh) dan bentuk


komunikasi lainnya.
Intruksikan kepada keluarga atau orang

Tehnik komunikasi efektif dapat

terdekat pasien tentang bagaimana

membantu keluarga dan pasien

teknik komunikasi yang efektif.

berkomunikasi.

Kolaborasi dalam penggunaan alat

Alat pendengaran dapat membantu

bantu pendengaran, bila pasien

pasien untuk mendengar.

menginginkan
kronis b.d inflamasi pada jaringan telinga tengah
Tujuan dan Kriteria Hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24
jam diharapkan nyeri px terkontrol atau hilang dengan KH:
a. Px tidak mengeluh nyeri pada telinga
b. Px tidak meringis
c. TTV normal (N=60 - 100x/mnt; T=120/80mmHg; S=36,40-37,50C; RR=16d.
e.
f.
g.

20x/mnt)
Px dapat berkonsentrasi dengan baik
Skala nyeri 1-0
Px terlihat rileks
Pada saat palpasi pada area mastoid tidak terasa nyeri, daun telinga ditarik

tidak nyeri.
h. Pada saat inspeksi dengan otoscope terlihat membrana thympani normal.
INTERVENSI
Kaji keluhan nyeri dengan PQRST.

Berikan posisi yang nyaman pada pasien

RASIONAL
Memberikan informasi untuk membantu
dalam menentukan pilihan atau keefektifan
intervensi
Dapat mengurangi rasa nyeri pasien.

Tingkatkan periode tidur tanpa gangguan

Dapat mengurangi rasa nyeri pasien

Ajarkan pasien
distraksi
Kolaborasi:

Meningkatkan relaksasi dan mengurangi


nyeri
Diberikan untuk menghilangkan nyeri dan

teknik

relaksasi

dan

Berikan obat sesuai indikasi (Analgetik)

memberiakn relaksasi mental dan fisik.

3. Hipertermi b.d infeksi pada telinga tengah dan tuba eutachius


Tujuan dan Kriteria Hasil: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama (...x...)
diharapkan suhu tubuh pasien turun atau kembali normal dengan KH:
a. Suhu px normal 36,50-37,50C
b. Akral teraba hangat
c. Px terlihat rileks
d. Nadi normal (60 - 100x/mnt)
INTERVENSI
Pantau suhu pasien (derajat dan pola),
perhatikan menggigil/diaphoresis
Pantau Suhu lingkungan, batasi/tambahkan
linen tempat tidur, sesuai indikasi
Berikan kompres hangat pada bagian
telinga luar, hindari penggunaan alcohol
Kolaborasikan dengan dokter atau tenaga
kesehatan lain utk pemberian paracetamol
(penurun panas) sesuai indikasi

RASIONAL
Suhu 38,90-41,10 menunjukkan proses
penyakit infeksi akut
Suhu ruangan atau jumlah selimut harus
diubah untuk mempertahankan suhu
mendekati normal
Dapat membantu mengurangi demam
Pemberian paracetamol dapat menurunkan
suhu tubuh klien

4. Gangguan citra diri b.d adanya penyakit kronis (keluarnya nanah dan paralisis
nervus facialis).
Tujuan dan Kriteria Hasil: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24
jam diharapkan diharapkan pasien bisa beradaptasi terhadap perubahan
tubuhnya.dengan KH:
a. Pasien dapat menerima kenyataan situasi dirinya
b. Pasien mampu memasukan perubahan dalam konsep diri tanpa harga diri
negatif
INTERVENSI
Diskusikan arti perubahan dengan pasien,
identifikasi persepsi situasi/harapan yang
akan datang.
Catat bahasa tubuh non verbal, peilaku
negatif. Kaji pengerusakan diri.
Catat reaksi emosi, contoh: kehilangan,
depresi, marah.
Pertahankan tindakan tenang dan
meyakinkan.

RASIONAL
Alat dalam mengidentifikasi masalah untuk
memfokuskan perhatian dan intervensi
secara konstruktif.
Dapat menunjukan depresi atau
keputusasaan, kebutuhan untuk pengkajian
lanjut.
Pasien dapat mengalami depresi cepat atau
reaksi syok dan menyangkal.
Dapat membantu menghilangkan takut
pasien akan kematian.

5. Ansietas b/d tindakan penanganan dan rencana oprasi.


Tujuan dan Kriteria Hasil: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24
jam diharapkan kecemasan px hilang atau terkontrol dengan KH:
a. Pasien dapat menerima secara nyata kondisi penyakit dengan positif.
b. Pasien menunjukkan rileks dan melaporkan penurunan ansietas sampai
tingkat ditangani.
c. Mengatakan perasaan dan cara yang sehat untuk menghadapi masalah.
d. Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah dan penggunaan sumber
secara efektif.
INTERENSI
1. Evaluasi tingkat ansietas, catat respon
verbal dan non verbal pasien. Dorong
ekspresi bebas akan emosi.

RASIONAL
1. Ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat,
meningkatkan perasaan sakit, penting dalam
prosedur diagnostik dan kemungkinan
pembedahan.
2. Jelaskan prosedur atau asuhan yang
2. Rasa takut akan ketidaktahuan diperkecil dengan
diberikan. Ulangi penjelasan dengan
informasi atau pengetahuan dan dapat
sering atas sesuai kebutuhan.
meningkatkan penerimaan dialisis.
3. Dorong menyatakan perasaan. Berikan 3. Membuat hubungan terapeutik. Membantu
umpan balik.
pasien/ orang terdekat dalam mengidentifikasi
masalah yang menyebabkan stress.
4. Tunjukkan indikator positif
4. Meningkatkan perasaan berhasil atau maju
pengobatan, contoh perbaikan nilai
laboratorium, TD stabil, berkurangnya
kelelahan.

5. Berikan lingkungan yang tenang pada


pasien.
6. Bantu pasien belajar mekanisme
koping baru, misal : tehnik mengatasi
stress, keterampilan organisasi.

5. Memindahkan pasien stress dari luar,


meningkatkan relaksasi, membantu menurunkan
ansietas.
6. Belajar cara baru untuk mengatasi masalah dapat
membantu dalam menurunkan stress dan
ansietas, meningkatkan kontrol penyakit.

6. Kurang pengetahuan b/d kurang terpajan terhadap informasi


Tujuan dan Kriteria Hasil: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24
jam diharapkan kebutuhan informasi px dapat terpenuhi dengan KH:
a. Px tidak terlihat kebingungan
b. Px tahu tentang penyakit dan penatalaksanaan penyakitnya
c. Px kooperatif
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji tingkat pengetahuan px tentang Untuk lebih terarah dalam memberikan pendidikan
penyakit dan prosedur tindakan.
yang sesuai dengan tingkat kemampuan.
Cari sumber untuk meningkatkan Keluarga perlu dilibatkan untuk menurunkan
penerimaan informasi, spt keluarga.
resiko misinterpretasi thd informasi yg diberikan.
Jelaskan tentang terapi yang akan Memberikan
px
pengetahuan
tentang
diberikan seperti miringotomi dan juga penatalaksanaan penyakitnya sehingga dapat
pepengobatan.
kooperatif dalam tindakan penanganan.
Berikan informasi pada px dan keluarga Menurunkan resiko komplikasi
untuk menjalani perawatan rumah
meliputi pencegahan.
Berikan motivasi dan dukungan moral
Untuk meningkatkan keinginan px untuk
melaksanakan prosedur tindakan dan meningkatkan
keyakinan px untuk sembuh.

Post-op:
1. Nyeri akut b/d agen cedera fisik akibat insisi pembedahan.
Tujuan Dan Kriteria Hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24
jam diharapkan nyeri px hilang atau terkontrol dengan KH:
a. Px tidak mengeluh nyeri pada telinga
b. Px tidak meringis
c. TTV normal (N=60 - 100x/mnt; T=120/80mmHg; S=36,40-37,50C; RR=1620x/mnt)
d. Px dapat berkonsentrasi dengan baik
e. Skala nyeri 1-0
f. Px terlihat rileks
INTERVENSI

1. Beri posisi tidur yang menyenangkan


pasien.

2. Ganti balutan setiap pagi sesuai tehnik


aseptic

RASIONAL
1. Dapat menurunkan intensitas nyeri
.
2. Melindungi pasien dari kontaminasi
silang selama penggantian balutan.
Balutan basah bertindak sebagai penyerap
kontaminasi eksternal dan menimbulkan
rasa tidak nyaman.

3. Observasi apakah ada perdarahan


4. Kolaborasi dalam pemberian obat
analgetik.

3. Perdarahan pada jaringan, inflamasi lokal


atau
terjadinya
infeksi
dapat
meningkatkan rasa nyeri.
4. Mengurangi nyeri pasien

2. Resiko terjadinya infeksi pada luka berhubungan dengan pertahanan primer


tidak adekuat.
Tujuan Dan Kriteria Hasil: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ... x
24 jam diharapkan infeksi tidak terjadi dengan KH:
a. Tidak terdapat tanda-tanda radang (kalor, rubor, dolor, tumor, fungsiolesa).
b. Luka mengering.
INTERVENSI
1. Observasi tanda vital tiap 4 jam.

1.

2. Obserpasi balutan setiap 2 4 jam,

2.

periksa terhadap perdarahan dan bau.

3. Ganti balutan dengan teknik aseptic.

4. Kolaborasi dalam pemberian obat


antibiotik

3.

4.

RASIONAL
Respon
autonomik
meliputi
TD,
respirasi, nadi yang berhubungan
denagan keluhan / penghilang nyeri .
Abnormalitas tanda vital perlu di
observasi secara lanjut.
Deteksi dini terjadinya proses infeksi dan
/ pengawasan penyembuhan luka oprasi
yang ada sebelumnya.
Mencegah meluas dan membatasi
penyebaran luas infeksi atau kontaminasi
silang.
Antibiotik dapat mencegah timbulnya
infeksi

D. IMPLEMENTASI
Implementasi yang dilakukan sesuai dengan intervensi atau tindakan
keperawatan yang telah ditentukan sebelunya.
E. EVALUASI
Pre-op:
1. Dx. 1:
a. Gangguan komunikasi berkurang atau hilang.
b. Px dapat mendengarkan dengan jelas saat dilakukan tes pendengaran
c. Px tidak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi
d. Px mengatakan telinganya tidak berdenging lagi
e. Px dapat menerima pesan melalui metode pilihan misalnya komunikasi
tulisan, bahasa lambang.
f. Px dapat berbicara dengan jelas dan mendengar dengan baik.
g. Px akan memakai alat bantu dengar (jika sesuai)
2. Dx. 2:
a. Nyeri px terkontrol atau hilang.
b. Px tidak mengeluh nyeri pada telinga
c. Px tidak meringis

d. TTV normal (N=60 - 100x/mnt; T=120/80mmHg; S=36,40-37,50C; RR=16e.


f.
g.
h.

20x/mnt)
Px dapat berkonsentrasi dengan baik
Skala nyeri 1-0
Px terlihat rileks
Pada saat palpasi pada area mastoid tidak terasa nyeri, daun telinga ditarik

tidak nyeri.
i. Pada saat inspeksi dengan otoscope terlihat membrana thympani normal.
3. Dx. 3:
a. Suhu px normal 36,50-37,50C
b. Akral teraba hangat
c. Px terlihat rileks
d. Nadi normal (60 - 100x/mnt)
4. Dx. 4:
a. Pasien bisa beradaptasi terhadap perubahan tubuhnya.
b. Pasien dapat menerima kenyataan situasi dirinya
c. Pasien mampu memasukan perubahan dalam konsep diri tanpa harga diri
negatif
5. Dx. 5:
a. Kecemasan px hilang atau terkontrol.
b. Pasien dapat menerima secara nyata kondisi penyakit dengan positif.
c. Pasien menunjukkan rileks dan melaporkan penurunan ansietas sampai
tingkat ditangani.
d. Mengatakan perasaan dan cara yang sehat untuk menghadapi masalah.
e. Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah dan penggunaan sumber
secara efektif.
6. Dx. 6:
a.
b.
c.
d.

Kebutuhan informasi px dapat terpenuhi.


Px tidak terlihat kebingungan
Px tahu tentang penyakit dan penatalaksanaan penyakitnya
Px kooperatif

Post-op:
1. Dx. 1:
a.
b.
c.
d.

Nyeri px terkontrol atau hilang.


Px tidak mengeluh nyeri pada telinga
Px tidak meringis
TTV normal (N=60 - 100x/mnt; T=120/80mmHg; S=36,40-37,50C; RR=16-

e.
f.
g.
2. Dx, 2:
a.
b.

20x/mnt)
Px dapat berkonsentrasi dengan baik
Skala nyeri 1-0
Px terlihat rileks
Infeksi tidak terjadi.
Tidak terdapat tanda-tanda radang (kalor, rubor, dolor, tumor, fungsiolesa).

c. Luka mengering.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan
Pedoman

Untuk

Perencanaan

Dan

Pendokumentasian

Perawatan

Pasien.

Jakarta: EGC
Efiaty, Nurbaiti, Jenny, Ratna. 2007. Buku Ajar Ilm Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorokan, Kepala dan Leher Ed. 6. Jakarta: FKUI
Fung, K. 2004. Otitis Media Cronik. http://www.medline.com
Kusuma, Hardi & Amin Huda Nurarif. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan Diagnosa
Medis & Nanda NIC NOC. Jakarta: Mediaction Publishing

Nanda, Nursing Diagnoses : Definition and Classification 2013-2014


Smetlzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal Bedah, vol. 3 Ed 8. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai