Anda di halaman 1dari 5

Hakekat Cinta Rasul*

‫ت َأْعَماِلَنا َمْن‬ ِ ‫سَنا َوَسّيَئا‬ِ ‫ل ِمنْ ُشُرْوِر َأْنُف‬ ِ ‫سَتْغِفُرُه َوَنُعْوُذ ِبا‬
ْ ‫سَتِعْيُنُه َوَن‬
ْ ‫حَمُدُه َوَن‬ْ ‫ل َن‬ ِ ِ‫حْمَد‬ َ ‫ِإّن اْل‬
‫حّمًدا‬ َ ‫ل َوَأْشَهُد َأّن ُم‬ ُ ‫ي َلُه َأْشَهُد َأْن َل ِإلَه ِإّل ا‬ َ ‫ل َهاِد‬ َ ‫ضِلْل َف‬ ْ ‫ضّل َلُه َوَمْن ُي‬ ِ ‫ل ُم‬ َ ‫ل َف‬ ُ ‫َيْهِدِه ا‬
‫َعْبُدُه َوَرُسْوُلُه‬
.‫ساٍن ِإَلى َيْوِم الّدْين‬ َ ‫حاِبِه َوَمْن َتِبَعُهْم ِبِإْح‬ َ‫ص‬ ْ ‫حّمٍد َوَعلى آِلِه ِوَأ‬ َ ‫صّل َوَسّلْم َعلى ُم‬ َ ‫َاللُهّم‬
‫سِلُمْوَن‬ ْ ‫ل َحّق ُتَقاِتِه َوَل َتُمْوُتّن ِإّل َوَأْنُتْم ُم‬ َ ‫َياَأّيَها اّلَذْيَن آَمُنْوا اّتُقوا ا‬
‫س َواِحَدٍة َوَخَلَق ِمْنَها َزْوَجَها َوَبثّ ِمْنُهَما‬ ٍ ‫س اّتُقْوا َرّبُكُم اّلِذي َخَلَقُكْم ِمْن َنْف‬ ُ ‫َياَأّيَها الَنا‬
‫ل َكاَن َعَلْيُكْم َرِقْيًبا‬ َ ‫ساَءُلْوَن ِبِه َوْاَلْرَحامَ ِإّن ا‬ َ ‫ل اَلِذي َت‬ َ ‫ساًء َواّتُقوا ا‬ َ ‫ِرَجاًل َكِثْيًرا َوِن‬
‫صِلْح َلُكْم َأْعَماَلُكْم َوَيْغِفْرَلُكْم ذُُنْوَبُكْم َوَمْن‬ ْ ‫ل َوُقْوُلْوا َقْوًل َسِدْيًدا ُي‬ َ ‫َياَأّيَها اّلِذْيَن آَمُنْوا اّتُقوا ا‬
... ‫ َأّما َبْعُد‬،‫ل َوَرُسْوَلُه َفَقْد َفاَز َفْوًزا َعِظْيًما‬ َ ‫ُيِطِع ا‬
‫ َوَشّر‬،‫صّلى ال َعَلْيِه َوَسّلَم‬ َ ‫حّمٍد‬ َ ‫ى ُم‬ ُ ‫ى َهْد‬ ِ ‫ َوَخْيَر اْلَهْد‬،‫ل‬ ِ ‫با‬ ُ ‫ث ِكَتا‬ ِ ‫حِدْي‬ َ ‫ق اْل‬ َ ‫صَد‬ْ ‫َفِأّن َأ‬
.‫لَلِة ِفي الّناِر‬
َ‫ض‬َ ‫ َوُكّل‬،‫لَلًة‬ َ‫ض‬ َ ‫حَدَثٍة ِبْدَعٌة َوُكّل ِبْدَعٍة‬ ْ ‫ َوُكّل ُم‬،‫حَدَثاُتَها‬ ْ ‫ْاُلُمْوِر ُم‬
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di masyarakat banyak sekali aktivitas yang mengatas namakan cinta Rasul. Berbagai grup dan
kelompok mengaku cinta Rasul. Bahkan kelompok musik dan artis pun tidak sedikit yang
mengatasnamakan “Cinta Rasul”.

Oleh karena itu marilah pada kesempatan kali ini, kita bertakwa kepada Allah  dengan taat
yang sebenar-benarnya termasuk dalam mencintai Rasulullah , sebagai Nabi sekaligus Rasul

ْ ‫من يط ِع ٱلرسول فقْد أطاع ٱل ۖ و من تو ّ َل فما أْرسْلنـك عل‬


yang terakhir. Allah  berfirman,
ً
‫يْم حِفيظا‬
َ ِ َ َ َ ٰ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َّ َ َ َ َ َ َ ُ َّ ِ ُ َ
“Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa
yang berpaling (dari kebenaran), maka Kami tidak mengutusmu (wahai Rasul) untuk menjadi
pemelihara bagi mereka.” (QS. an-Nisa`: 80)

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,


Cinta Rasul merupakan sesuatu yang harus dilakukan oleh setiap orang yang mengaku beriman.
Pertama, karena itu adalah perintah Rasulullah . Kedua, karena tidak sempurna iman seorang
sebelum mencintai Rasulullah melebihi kecintaan terhadap segalanya. Diriwayatkan dari Anas ,
Rasulullah  bersabda,
‫س َاْجَمِعْيَن‬
ِ ‫ب ِاَلْيِه ِمْن َواِلِدِه َو َوَلِدِه َو الّنا‬
ّ ‫َل ُيْؤِمُن َاَحُدُكْم ُحّتى َاُكْوَن َاَح‬
“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintai daripada
orang tuanya, anaknya dan seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari, Muslim)
Hadits di atas merupakan petunjuk tentang wajibnya mencintai Rasulullah  dengan kualitas
cinta tertinggi, yakni kecintaan yang benar-benar melekat di hati, yang mengalahkan kecintaan
kita terhadap apa pun dan siapa pun di dunia ini. Bahkan terhadap orang-orang terdekat
sekalipun, seperti: anak, istri, ibu dan bapak. Bahkan cinta Rasul itu harus pula mengalahkan
kecintaan kita terhadap diri sendiri.

Dalam sebuah hadits, Umar bin Khattab  berkata kepada Nabi ,


“Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah adalah orang yang paling aku cintai daripada segala
sesuatu selain diriku sendiri”. Nabi bersabda, “Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-
Nya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Maka Umar pun berkata kepada
beliau, “Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Maka Nabi  bersabda,
“Sekarang (telah sempurna kecintaanmu/imanmu padaku) wahai Umar.” (HR. Bukhari)

Jadi, cinta Rasul adalah perintah agama. Tidak boleh kita mengekspresikan cinta kepada Rasul
sesuai dengan selera dan hawa nafsu sendiri, tanpa memperhatikan tuntunan dari Rasulullah .
Sebab jika cinta rasul itu diekspresikan secara serampangan tanpa mengindahkan syari'at agama,
maka bukan pahala yang kita raih, tetapi dosa yang kita dapatkan.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,


Cinta Rasul tidaklah berupa kecenderungan sentimentil dan romantisme pada saat-saat khusus
dengan acara-acara tertentu. Tidak juga dengan seremonial dengan undangan-undangan formal.
Namun cinta itu haruslah benar-benar murni dari lubuk hati seorang mukmin, dan senantiasa
terpatri di dalam hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi hidup, melahirkan amal shalih
dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa.

Orang yang mengaku cinta kepada Rasulullah  memiliki tanda-tanda. Di antara tanda-tandanya
adalah sebagai berikut.

1. Mentaati Rasulullah  dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.


Allah  berfirman,
ْ ْ
‫كْم عنه َُفٱنَتو۟ا ۚ وٱ ّ َتُقو۟ا ٱَّل ۖ ِإ ّ َن‬ ‫ذوه و ما َنٰـ‬
ُ ‫ل فَخ‬ ‫كم ٱلرسو‬ ‫وما ءاَتٰـ‬
َ َ ُ َ ُ َ َ َ ُ ُ ُ ُ َ ّ ُ ُ َ َ َ
ْ
‫ب‬ ِ ‫د ٱلِعَقا‬
ُ ‫ٱَّلَ َشِدي‬
“Apa yang diberikan Rasul kepada mu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagi mu,
maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras
siksaannya.” (QS. al-Hasyr: 7)

Bahkan hakikat cinta Rasul adalah taat kepada Rasul dan mengikuti sunnah-sunnahnya. Dan
siapa yang taat kepada Rasulullah  berarti taat kepada Allah . Sebagaimana firman Allah 
yang telah dibacakan pada awal khutbah. Seorang pencinta sejati Rasulullah , manakala ia
mendengar Rasulullah  bersabda memerintahkan sesuatu, maka ia akan segera menunaikannya.
Ia tidak akan meninggalkannya meskipun itu bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya.

Adapun orang yang dengan mudahnya menyalahi dan meninggalkan perintah-perintah Rasulullah
, serta menerjang berbagai kemunkaran yang telah dilarang oleh beliau, maka pada dasarnya ia
hanya mencintai dirinya sendiri. Sehingga kita saksika ia dengan mudahnya meninggalkan shalat
5 waktu, puasa Ramadhan, meninggalkan pakaian muslimah yang menutup auratnya dengan
sempurna, dan lain sebagainya. Padahal Nabi  sangat mengagungkan syari'at Islam yang telah
diajarkannya.
2. Menolong dan mengagungkan Rasulullah .
Hal ini sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh para sahabat Rasulullah, sebelum dan sesudah
beliau wafat. Para sahabat menyebarkan dan mengagungkan sunnah-sunnah Rasulullah  di
tengah-tengah kehidupan umat manusia betapa pun ringangan dan tantangan yang dihadapinya.
Untuk itu kita harus sering serta banyak membaca atau mempelajari hadits Nabi dan kisah-kisah
perjalanan hidup beliau.

3. Tidak menerima seusatu pun perintah dan larangan kecuali melalui Rasulullah .
Termasuk di dalamnya rela dengan apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah , serta tidak
merasa sempit dada dengan sesuatu pun yang datang dari sunnah-sunnahnya. Adapun selain
beliau, termasuk para ulama dan shalihin, maka mereka adalah para pengikut Nabi. Tidak seorang
pun dari mereka yang boleh diterima perintah dan larangannya kecuali berdasarkan apa yang
datang dari Rasulullah .

4. Mengikuti dan menghidupkan Sunnah Rasulullah serta mengikuti beliau dalam segala
hal.
Termasuk mencontoh beliau dalam tata cara shalat, wudhu dan berbagai macam ibadah lainnya.
Juga dalam akhlak dan adab, seperti: kasih sayang, rendah hati, dermawan, kesabaran, zuhud,
adab berpakaian, bergaul, dan lain-lain.

5. Memperbanyak shalawat terhadap Nabi  kapan saja dan di mana saja berada.
Allah  berfirman,

‫لين ءامُنو۟ا ص ّ ُلو۟ا عَلْيِه و‬


ِ َ ّ ‫كتهۥ يص ّ ُلون عَل ٱلنّ َِبي ۚ يٰـ ٓأ َُيا ٱ‬ ‫ئ‬ٓ ‫إن ٱل و ملـ‬
َ َ َ َ َ َ َ ّ َ ِّ َ َ َ ُ ُ َ ِ ٰ َ َ َ َ َّ َّ ِ
َ
‫سِّلُمو۟ا ت َْسِليًما‬
َ
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang
yang beriman, bershalawatlah kamu sekalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya.” (QS. al-Ahzab: 56)

Rasulullah  bersabda,
‫شًرا‬
ْ ‫ل َعَلْيِه ِبَها َع‬
ُ ‫صّلى ا‬
َ ،‫لًة‬
َ‫ص‬َ ‫صّلى َعَلّي‬
َ ‫َمْن‬
“Barangsiapa bershalawat atasku satu kali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.”
(HR. Muslim)

6. Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Nabi .


Mereka yang dicintai oleh Nabi , seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, 'Aisyah  dan lain-
lain seperti yang disebutkan Nabi  dalam haditsnya. Sejalan dengan itu, kita harus membenci
orang-orang yang dibenci oleh Nabi . Dan termasuk pula mencintai segala sesuatu yang dicintai
oleh Nabi  termasuk dalam hal ucapan, perbuatan dan sesuatu yang lain.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,


Itulah tanda-tanda orang yang cinta kepada Rasulullah . Kalau tidak memenuhi itu, berarti
pengakuan kita sekedar ucapan tanpa bukti atau omong kosong belaka, meskipun kita melakukan
berbagai aktivitas dengan mengatasnamakan “Cinta Rasul”.

‫ت َفاْسَتْغِفُرْوُه ِإّنُه ُهَو‬


ِ ‫سِلَما‬
ْ ‫سِلِمْينَ َواْلُم‬
ْ ‫ساِئِر اْلُم‬
َ ‫ل ِلي َوَلُكْم َوِل‬
َ ‫َأُقْوُل َقْوِلي َهذا َأْسَتْغِفُر ا‬
‫اْلَغُفْوُر الّرِحْيِم‬
Khutbah Kedua

‫ت َأْعَماِلَنا َمْن‬
ِ ‫سَنا َوَسّيَئا‬
ِ ‫ل ِمنْ ُشُرْوِر َأْنُف‬
ِ ‫سَتْغِفُرُه َوَنُعْوُذ ِبا‬
ْ ‫سَتِعْيُنُه َوَن‬
ْ ‫حَمُدُه َوَن‬
ْ ‫ل َن‬
ِ ِ‫حْمَد‬َ ‫ِإّن اْل‬
‫حّمًدا‬َ ‫ل َوَأْشَهُد َأّن ُم‬
ُ ‫ي َلُه َأْشَهُد َأْن َل ِإلَه ِإّل ا‬َ ‫ل َهاِد‬ َ ‫ضِلْل َف‬ْ ‫ضّل َلُه َوَمْن ُي‬ ِ ‫ل ُم‬َ ‫ل َف‬
ُ ‫َيْهِدِه ا‬
،‫َعْبُدُه َوَرُسْوُلُه وبعد‬
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Agar supaya kita bisa mencintai Rasulullah , hendaknya kita ingat bahwa Nabi  adalah orang
yang paling baik dan berjasa kepada kita, bahkan dibandingkan dengan orang tua kita sendiri.
Beliaulah yang mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya, yang menyampaikan agama
dan kebaikan kepada kita dan yang memperingatkan kita dari kemunkaran dan bahaya api neraka.

Kita pun perlu merenungkan perjalanan hidup Nabi , jihad beliau dan kesabaran beliau dalam
berdakwah, serta apa saja yang telah beliau korbankan demi tegaknya agama ini.

Kemudian marilah kita merenungkan akhlak beliau, sifat dan sikapnya yang sempurna, rendah
hati kepada kaum mukminin namun tegas dan keras terhadap kaum munafik dan musyrikin.
Beliau juga memiliki sifat pemberani, dermawan dan penyayang. Cukuplah sanjungan Allah 
kepada beliau dalam firman-Nya,

‫ظٍي‬
ِ ‫ك لََعّلَٰى خُل ٍُق ِع‬
َ َ‫َو ِإّن‬
“Dan sungguh engkau memiliki akhlak yang agung.” (QS. al-Qalam: 4)

Terakhir kita perlu mengetahui kedudukan Nabi  di sisi Allah . Beliaulah orang yang paling
mulia di antara segenap umat manusia, penutup para nabi dan diistimewakan pada hari kiamat
atas segenap para nabi untuk memberikan syafa'at yang agung. Beliau memiliki kedudukan
terpuji, orang yang pertama kali membuka pintu surga, serta banyak keutamaan beliau lainnya.

َ‫ ِإّنك‬،‫ت َعَلى ِإْبَراِهْيَم َوَعَلى آِل ِإْبَراِهْيَم‬ َ ‫صّلْي‬


َ ‫حّمٍد َكَما‬ َ ‫حّمٍد َوَعَلى آِل ُم‬ َ ‫صّل َعَلى ُم‬ َ ّ‫َالّلُهم‬
‫ت َعَلى ِإْبَراِهْيَم َوَعَلى آِل‬ َ ‫حّمٍد َكَما َباَرْك‬ َ ‫حّمٍد َوَعَلى آِل ُم‬ َ ‫ َوَباِرْك َعَلى ُم‬.‫جْيٌد‬ ِ ‫َحِمْيٌد َم‬
.‫جْيٌد‬
ِ ‫ك َحِمْيٌد َم‬ َ ‫ ِإّن‬،‫ِإْبَراِهْيَم‬
َ ‫ ِإّن‬،‫ت‬
‫ك‬ ِ ‫ت ْاَلْحَياِء ِمْنُهْم َوْاَلْمَوا‬ِ ‫ َواْلُمْؤِمِنْيَن َواْلُمْؤِمَنا‬،‫ت‬ ِ ‫سِلَما‬ْ ‫سِلِمْيَن َواْلُم‬ْ ‫َالّلُهمّ اْغِفْر ِلْلُم‬
.‫ت‬
ِ ‫ب الّدَعَوا‬ ُ ‫جْي‬ِ ‫ب ُم‬ ٌ ‫َسِمْيعٌ َقِرْي‬
‫صًرا َكَما َحَمْلَتُه َعَلى ّالِذْيَن ِمْن‬ ْ ‫حِمْل َعَلْيَنا ِإ‬ ْ ‫سْيَنا َأْو َأْخَطْأَنا َرّبَنا َوَل َت‬
ِ ‫َرّبَنا َلُتَؤاِخْذ َنا ِإْن َن‬
‫صْرَنا َعَلى‬ ُ ‫ت َمْوَلَنا َفاْن‬َ ‫ف َعّنا َواْغِفْر َلَنا َواْرَحْمَنا َأْن‬ ُ ‫حّمْلَنا َماَل َطاَقَة َلَنا ِبِه َواْع‬ َ ‫َقْبِلَنا َرّبَنا َوَل ًت‬
.‫اْلَقْوِم اْلَكاِفِرْيَن‬
.‫ والمد ل رب العالي‬.‫ب الّناِر‬ َ ‫سَنًة َوِقَنا َعَذا‬ َ ‫سَنًة َوِفي ْاَلِخَرِة َح‬ َ ‫َرَبَنا َءاِتَنا ِفي الّدْنَيا َح‬
* M. Mujib Ansor, SH, Rubrik Khutbah Qiblati edisi 06 tahun IV, hal 36 – 39; dengan beberapa perubahan redaksi
kalimat