Anda di halaman 1dari 41

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, atas
berkat dan rahmatnya yang telah dikaruniakan kepada penulis, sehingga penulis
dapat menyelesaikan Laporan kasus SMF Anastesi dengan judul Terapi Cairan
Perioperatif.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak, rekan sejawat, dan yang terutama dr. Yudianto, SpAn, yang telah
meluangkan waktunya untuk membimbing sehingga laporan kasus ini dapat
selesai dengan baik.
Penulis menyadari laporan kasus ini memiliki banyak kekurangan. Oleh
karena itu kritik dan saran diharapkan demi memperbaiki kekurangan atau
kekeliruan yang mungkin ada. Semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat bagi
rekan dokter muda khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Akhir kata, penulis mengharapkan tugas ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Surabaya, Februari 2015

Penulis

LEMBAR PENGESAHAN
REFERAT
TERAPI CAIRAN PERIOPERATIF

Referat dengan judul Terapi Cairan Perioperatif telah diperiksa dan disetujui
sebagai salah satu tugas dalam rangka menyelesaikan studi kepaniteraan Dokter
Muda di bagian SMF Anastesi

Surabaya,

Februari

Pembimbing

dr.Yudianto Sp.An

2015

DAFTAR ISI

KATA PEGANTAR..... .........................................................................................1


LEMBAR PENGESAHAN...2
DAFTAR ISI..................................................................................3
BAB 1 PENDAHULUAN..4
1.1 Latar Belakang...4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA..6
2.1 Definisi Cairan Tubuh............................................................................6
2.2 Fisiologi Cairan Tubuh dan Elektrolit...................................................6
2.3 Pengaturan Volume Cairan Tubuh.......................................................13
2.4 Perubahan Cairan Tubuh......................................................................17
2.5 Kebutuhan Cairan Maintenance...........................................................23
2.6 Patofisiologi Cairan Tubuh..................................................................25
2.7 Tujuan Terapi Cairan...........................................................................26
2.8 Pilihan Terapi Cairan...........................................................................27
2.9 Terapi Cairan Perioperatif...................................................................32
BAB III KESIMPULAN.40
DAFTAR PUSTAKA41

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Terapi cairan dalam pembedahan sangat penting. Penanganan cairan dibagi


dan salah satunya penanganan cairan perioperatif. Tujuan dari terapi cairan
perioperatif

adalah

menyediakan

jumlah

cairan

yang

cukup

untuk

mempertahankan volume intravaskular yang adekuat agar sistem kardiovaskular


dalam keadaan optimal yaitu dapat menghasilkan aliran darah yang adekuat ke
organ-organ vital dan ke jaringan yang mengalami trauma dan efektif untuk
penyembuhan luka. Volume plasma yang adekuat penting untuk mempertahankan
curah jantung dan perfusi jaringan1.
Dalam keadaan sehat tubuh memiliki mekanisme keseimbangan atau
homeostasis yang mengatur asupan dan pengeluaran air. Terapi cairan adalah
suatu tindakan pemberian air dan elektrolit dengan atau tanpa zat gizi kepada
pasien-pasien yang megalami dehidrasi atau tidak bisa dipenuhi oleh asupan oral
biasa melalui minum atau makanan. Pada pasien-pasien yang mengalami syok
karena perdarahan pasca bedah juga membutuhkan terapi cairan untuk
menyelamatkan jiwanya 2
Pemberian cairan pada pasien perioperatif, kita harus memperhitungkan
kebutuhan cairan basal, penyakit yang menyertai, medikasi, teknik dan obat
anastetik serta kehilangan cairan akibat pembedahan. Cairan dan elektrolit sangat
diperlukan dalam menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. Keseimbangan cairan
dan elektrolit di dalam tubuh merupakan salah satu bagian dari fisiologi
homeostasis3.
Kemampuan tubuh yang sangat besar untuk menyesuaikan diri, tubuh
mempertahankan

keseimbangan

fisiologis

yang

mengakibatkan

adanya

lingkungan sel yang tidak stabil. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti
4

adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh
bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu sama
lain bergantung satu dengan yang lain, jika salah satu terganggu maka akan
berpengaruh pada yang lainnya. Gangguan yang besar terhadap keseimbangan
cairan dan elektrolit dapat secara cepat menimbulkan perubahan terhadap fungsi
kardiovaskuler, neurologis dan neuromuscular4.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Cairan Tubuh

Cairan tubuh adalah cairan suspensi sel di dalam tubuh makhluk


multiseluler seperti manusia atau hewan yang memiliki fungsi fisiologis
tertentu3.
2.2 Fisiologi Cairan Tubuh dan Elektrolit
Air merupakan unsur vital untuk makhluk hidup. Kira-kira 55-60%
dari berat badan orang dewasa terdiri atas air, dan pada bayi dan anak total
air tubuh lebih tinggi lagi yakni 80% pada bayi baru lahir dan 70% pada
anak. Dalam keadaan sehat tubuh memiliki mekanisme keseimbangan atau
homeostasis yang mengatur asupan dan pengeluaran air. Terapi cairan
adalah suatu tindakan pemberian air dan elektrolit dengan atau tanpa zat
gizi kepada pasien-pasien yang megalami dehidrasi atau tidak bisa
dipenuhi oleh asupan oral biasa melalui minum atau makanan. Pada
pasien-pasien yang mengalami syok karena perdarahan pasca bedah juga
membutuhkan terapi cairan untuk menyelamatkan jiwanya 2.
Air dan zat-zat yang terlarut di dalamnya berfungsi sebagai
pengangkut zat makanan ke semua sel tubuh kemudian mengeluarkan
bahan sisa dari dalam tubuh. Selain sebagai media pengangkut zat-zat
tubuh, air juga berperan sebagai regulator suhu serta menjaga agar tubuh
tetap dalam kondisi homeostasis. Untuk dapat menjalankan fungsinya
dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan disekitarnya. Semua
pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut
homeostasis. Jumlah air yang terdapat dalam tubuh berbeda-beda
tergantung umur, jenis kelamin dan derajat obesitas seseorang atau banyak
atau sedikitnya lemak dalam tubuh 1
6

Perubahan jumlah dan komposisi cairan tubuh, yang dapat terjadi


pada perdarahan, luka bakar, dehidrasi, muntah, diare, dan puasa
preoperatif maupun perioperatif, dapat menyebabkan gangguan fisiologis
yang berat. Jika gangguan tersebut tidak dikoreksi secara adekuat sebelum
tindakan anestesi dan bedah, maka resiko penderita menjadi lebih besar.
Seluruh cairan tubuh didistribusikan ke dalam kompartemen intraselular
dan kompartemen ekstraselular. Lebih jauh kompartemen ekstraselular
dibagi menjadi cairan intravaskular dan intersisial4.
Seluruh

cairan

dalam

tubuh

di

distribusikan

ke

dalam

kompartemen intraseluler dan kompartemen ekstraseluler. Lebih jauh


kompartemen ekstraseluler dibagi menjadi cairan intravaskuler, intersisial
dan cairan transeluler5.

Gambar komposisi cairan tubuh

Cairan intraselular
Cairan yang terkandung di antara sel disebut cairan intraselular. Pada
orang dewasa, sekitar duapertiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di
intraselular (sekitar 27 liter rata-rata untuk dewasa laki-laki dengan

berat badan sekitar 70 kilogram), sebaliknya pada bayi hanya setengah


dari berat badannya merupakan cairan intraselular4.

Cairan ekstraselular
Cairan yang berada di luar sel disebut cairan ekstraselular. Jumlah relatif
cairan ekstraselular berkurang seiring dengan usia. Pada bayi baru lahir,
sekitar setengah dari cairan tubuh terdapat di cairan ekstraselular. Setelah
usia 1 tahun, jumlah cairan ekstraselular menurun sampai sekitar
sepertiga dari volume total. Ini sebanding dengan sekitar 15 liter pada
dewasa muda dengan berat rata-rata 70 kg6.

Cairan Interstitial
Cairan yang mengelilingi sel termasuk dalam cairan interstitial,
sekitar 11- 12 liter pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk
dalam volume interstitial. Relatif terhadap ukuran tubuh, volume
ISF adalah sekitar 2 kali4.

Cairan Intravaskular
Merupakan cairan yang terkandung

dalam pembuluh darah

(contohnya volume plasma). Rata-rata volume darah orang dewasa


sekitar 5-6L dimana 3 liternya merupakan plasma, sisanya terdiri

dari sel darah merah, sel darah putih dan platelet4.


Cairan transeluler
Merupakan cairan yang terkandung diantara rongga tubuh tertentu
seperti serebrospinal, perikardial, pleura, sendi sinovial, intraokular
dan sekresi saluran pencernaan. Pada keadaan sewaktu, volume

cairan transeluler adalah sekitar 1 liter, tetapi cairan dalam jumlah


banyak dapat masuk dan keluar dari ruang transeluler4.

Tabel distribusi cairan tubuh


Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis zat yaitu elektrolit dan non
elektrolit yang penting bagi tubuh diantaranya:
1. Elektrolit
Merupakan zat yang terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus
listrik. Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ino negative
(anion). Jumlah kation dan anion dalam larutan adalah selalu sama7.
Kation
Kation utama dalam cairan ekstraseluler adalah sodium (Na+)
sedangkan kation utama dalam cairan intraseluler adalah potassium
(K+). Suatu sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang

memompa keluar sodium dan potassium ini7.


Anion
Anion utama dalam cairan ekstraseluler adalah klorida (Cl-) dan
bikarbonat (HCO3-) sedangkan anion utama dalam cairan
intraseluler adalah ion fosfat (PO43-).

Keadaan kandungan elektrolit dalam plasma dan cairan intersisial


pada intinya sama maka nilai elektrolit plasma mencerminkan
komposisi dari cairan ekstraseluler tetapi tidak mencerminkan
komposisi cairan intraseluler7.

Natrium
Natrium sebagai kation utama dalam plasma dan cairan
ektraseluler dan paling berperan dalam mengatur keseimbangan
cairan. Kadar natrium plasma: 135-145 mEq/liter. Kadar natrium
dalam plasma diatur lewat beberapa mekanisme:
-

Left atrial stretch reseptor


Central baroreseptor
Renal afferent baroreseptor
Aldosterone (reabsorbsi di ginjal)
Atrial natriuretic factor
Sistem renin angiotensin
Sekresi ADH
Perubahan yang terjadi pada air tubuh total (TBW = Total
Body Water)3
Kadar natirum dalam tubuh 58,5 mEq/kgBB. Ekskresi natrium

dalam urine 100-180 mEq/liter, feses 35 mEq/liter. Kebutuhan


setiap hari = 100 mEq (6-15 gram NaCl). Natrium dapat bergerak
cepat antara ruang intravaskuler dan intersisial maupun ke dalam
dan keluar sel. Apabila tubuh banyak mengeluarkan natrium
(muntah, diare) sedangkan pemasukan terbatas makan akan terjadi
dehidrasi disertai kekurangan natrium. Kekurangan air dan natrium
dalam plasma akan diganti dengan air dan natrium dari cairan
intersisial. Apabila kehilangan cairan terus berlangsung, air akan

10

ditarik dari dalam sel dan apabila volume plasma tetap tidak dapat
dipertahankan maka terjadi kegagalan sirkulasi6.

Kalium
Kalium merupakan kation utama (99%) dalam cairan ekstraseluler
berperan penting dalam terapi gangguan keseimbangan air dan
elektrolit. Jumlah kalium dalam tubuh sekitar 53 mEq/kgBB
dimana 99% dapat berubah-ubah sedangkan yang tidak dapat
berpindah adalahg kalium yang terkait dengan protein dalam sel.
Kadar kalium plasma 3,5-5,0 mEq/kgBB. Keseimbangan kalium
sangat berhubungan dengan konsentrasi H+ ekstraseluler. Ekskresi
kalium lewat urine 60-90 mEq/liter, feses 72 mEq/liter dan keringat
10 mEq/liter7.

Kalsium
Kalsium terdapat dalam makanan dan minuman, terutama susu, 8090% dikeluarkan lewat feses dan sekitar 20% lewat urine. Jumlah
pengeluaran ini tergantung pada intake, besarnya tulang, keadaan
endokrin. Metabolism kalsium sangat dipengaruhi oelh kelenjarkelenjar paratiroid tiroid, testis, ovarium dan hipofisis. Sebagian
besar (99%) ditemukan dalam gigi dan 1% dalam cairan
ekstraseluler dan tidak terdapat dalam sel7.

Magnesium
Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Kebutuhan untuk
pertumbuhan + 10mg/hari. Dikeluarkan lewat urine dan faeces7.

Karbonat

11

Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah


satu hasil akhir daripada metabolism. Kadar bikarbonat di kontrol
oleh ginjal. Sedikit sekali bikarbonat yang akan dikeluarkan urine.
Asam bikarbonat di kontrol oleh paru-paru dan sangat penting
peranannya dalam keseimbangan asam basa7.
2. Non elektrolit
Merupakan zat seperti glukosa dan urea yang tidak terdisosiasi
dalam cairan. Zat lainnya termasuk penting adalah kreatinin dan bilirubin
(Sunatryo, 2004)7.
CIS
Natrium
Kalium
Calcium
Magnesium
Clorida
HCO3
HPO4
SO4
Asam Organik

CES
Plasma
142
4
5
3
103
27
2
1
5

15
150
2
27
1
10
100
20
-

Interstitial
144
4
2,5
1,5
114
30
2
1
5

Tabel komposisi cairan intra dan ekstraseluler


2.3 Pengaturan Volume Cairan Tubuh
Dalam tubuh seorang yang sehat volume cairan tubuh dan komponen
kimia dari cairan tubuh selalu berada dalam kondisi dan batas yang nyaman.
Dalam kondisi normal intake cairan sesuai dengan kehilangan cairan tubuh
yang terjadi. Kondisi sakit dapat menyebabkan gangguan pada keseimbangan
cairan dan elektrolit tubuh. Dalam rangka mempertahankan fungsi tubuh
maka tubuh akan kehilangan cairan antara lain melalui proses penguapan
ekspirasi, penguapan kulit, ginjal (urine), ekresi pada proses metabolisme5.
12

Intake Cairan
Selama aktifitas dan temperatur yang sedang, seorang dewasa minum kirakira 1500 ml per hari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500 ml
per hari sehingga kekurangan sekitar 1000 ml per hari diperoleh dari
makanan, dan oksidasi selama proses metabolisme. Pengatur utama intake
cairan adalah melalui mekanisme haus. Pusat haus dikendalikan berada di
otak sedangkan rangsangan haus berasal dari kondisi dehidrasi intraseluler,
sekresi angiotensin sebagai respon dari penurunan tekanan darah,
perdarahan yang mengakibatkan penurunan volume darah. Perasaan kering
di mulut biasanya terjadi bersama dengan sensasi haus walaupun kadang
terjadi secara sendiri. Sensasi haus akan segera hilang setelah minum
sebelum proses absorbsi oleh tractus gastrointestinal8.
Rata-rata cairan perhari
1) Air minum : 1500-2500 ml.
2) Air dari makanan : 750 ml.
3) Air dari hasil oksidasi atau metabolisme : 200 ml.

Output Cairan
Kehilangan cairan tubuh melalui empat rute (proses) yaitu:
1. Urine
Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekresi melalui tractus
urinarius merupakan proses output cairan tubuh yang utama.
Dalam kondisi normal output urine sekitar 1400-1500 ml per 24
jam, atau sekitar 30-50 ml per jam pada orang dewasa. Pada orang
yang sehat kemungkinan produksi urine bervariasi dalam setiap

13

harinya, bila aktivitas kelenjar keringat meningkat maka produksi


urine akan menurun sebagai upaya tetap mempertahankan
keseimbangan dalam tubuh8.
2. IWL (Invisible Water Loss)
IWL terjadi melalui paru-paru dan kulit, Melalui kulit dengan
mekanisme difusi. Pada orang dewasa normal kehilangan cairan
tubuh melalui proses ini adalah berkisar 300-400 mL per hari, tapi
bila proses respirasi atau suhu tubuh meningkat maka IWL dapat
meningkat8.
3. Keringat
Berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang
panas, respon ini berasal dari anterior hypotalamus, sedangkan
impulsnya ditransfer melalui sumsum tulang belakang yang
dirangsang oleh susunan syaraf simpatis pada kulit8.
4. Feses
Pengeluaran air melalui feces berkisar antara 100-200 mL per hari,
yang diatur melalui mekanisme reabsorbsi di dalam mukosa usus
besar (kolon)8.
Cara menghitung balance cairan:
a) Balance cairan = intake cairan output cairan
b) Intake / cairan masuk = Output / cairan keluar + IWL (Insensible Water
Loss)2
Keterangan :
Intake / Cairan Masuk : mulai dari cairan infus, minum, kandungan cairan
dalam makanan pasien, volume obat-obatan, termasuk obat suntik, obat yang

14

di drip, albumin dll. Output / Cairan keluar : urine dalam 24 jam, jika Klien
dipasang kateter maka hitung dalam ukuran di urinbag, jika tidak terpasang
maka Klien harus menampung urinenya sendiri, biasanya ditampung di botol
air mineral dengan ukuran 1,5 liter, kemudian feses. IWL (insensible water
loss(IWL) : jumlah cairan keluarnya tidak disadari dan sulit diitung, yaitu
jumlah keringat, uap hawa nafas. Berikut cara menghitung IWL2.
Cara menghitung IWL pada orang dewasa :
a.

IWL = (15 X BB)


24 jam

Rumus IWL dalam kenaikan suhu :


b.

[(10% x CM) x Jumlah Kenaikan Suhu] + IWL normal


24 jam

Keterangan :
CM = Cairan masuk9
Faktor-faktor keseimbangan cairan dan elektrolit
a. Umur
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan
berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan.
Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan
cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan
keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung6.
b. Iklim
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban
udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan
elektrolit melalui keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di

15

lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L per


hari6.
c. Diet
Diet seseorang berpengaruh terhadap intake cairan dan elektrolit. Ketika
intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak
sehingga akan serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal
keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga
hal ini akan menyebabkan edema6.
d. Stress
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan
pemecahan glikogen otot. Mekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan
retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume
darah6.
e. Kondisi sakit
Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan
dan elektrolit tubuh misalnya :
1) Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui
IWL.
2) Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses
regulator keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
3) Klien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan
pemenuhan

intake

cairan

karena

kehilangan

kemampuan

memenuhinya secara mandiri 6


2.4 Perubahan Cairan Tubuh
Perubahan cairan tubuh dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu :
1. Perubahan volume
Defisit volume

16

untuk

Defisit volume cairan ekstraselular merupakan perubahan cairan tubuh


yang paling umum terjadi pada pasien bedah. Penyebab paling umum adalah
kehilangan cairan di gastrointestinal akibat muntah, penyedot nasogastrik,
diare dan drainase fistula. Penyebab lainnya dapat berupa kehilangan cairan
pada cedera jaringan lunak, infeksi, inflamasi jaringan, peritonitis, obstruksi
usus, dan luka bakar. Keadaan akut, kehilangan cairan yang cepat akan
menimbulkan tanda gangguan pada susunan saraf pusat dan jantung. Pada
kehilangan cairan yang lambat lebih dapat ditoleransi sampai defisi volume
cairan ekstraselular yang berat terjadi9.
Dehidrasi sering dikategorikan sesuai dengan kadar konsentrasi serum
dari natrium menjadi isonatremik (130-150 mEq/L), hiponatremik (<139
mEq/L) atau hipernatremik (>150 mEq/L). Dehidrasi isonatremik
merupakan yang paling sering terjadi (80%), sedangkan dehidrasi
hipernatremik atau hiponatremik sekitar 5-10% dari kasus. Dehidrasi
Isotonis (isonatremik) terjadi

ketika kehilangan cairan hampir sama

dengan konsentrasi natrium terhadap darah. Kehilangan cairan dan natrium


besarnya relatif sama dalam kompartemen intravaskular maupun
kompartemen ekstravaskular8.
Dehidrasi hipotonis (hiponatremik) terjadi ketika kehilangan cairan
dengan kandungan natrium lebih banyak dari darah (kehilangan cairan
hipertonis). Secara garis besar terjadi kehilangan natrium yang lebih
banyak dibandingkan air yang hilang. Karena kadar natrium serum rendah,
air

di

kompartemen

intravaskular

berpindah

ke

kompartemen

ekstravaskular, sehingga menyebabkan penurunan volume intravaskular.


17

Dehidrasi hipertonis (hipernatremik) terjadi ketika kehilangan cairan


dengan kandungan natrium lebih sedikit dari darah (kehilangan cairan
hipotonis). Secara garis besar terjadi kehilangan air yang lebih banyak
dibandingkan natrium yang hilang. Karena kadar natrium tinggi, air di
kompartemen

ekstraskular berpindah ke kompartemen intravaskular,

sehingga meminimalkan penurunan volume intravaskular. Terapi untuk


dehidrasi (rehidrasi) dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan
cairan untuk rumatan, defisit cairan dan kehilangan cairan yang sedang
berlangsung9.
Strategi untuk rehidrasi adalah dengan memperhitungkan defisit cairan,
cairan rumatan yang diperlukan dan kehilangan cairan yang sedang
berlangsung disesuaikan4 .

Kelebihan volume
Kelebihan volume cairan ekstraselular merupakan suatu kondisi akibat

iatrogenik (pemberian cairan intravena seperti NaCl yang menyebabkan


kelebihan air dan NaCl ataupun pemberian cairan intravena glukosa yang
menyebabkan kelebihan air) ataupun dapat sekunder akibat insufisiensi
renal (gangguan pada GFR), sirosis, ataupun gagal jantung kongestif.
Kelebihan cairan intaseluler dapat terjadi jika terjadi kelebihan cairan
tetapi jumlah NaCl tetap atau berkurang6.
2. Perubahan konsentrasi

Hiponatremia

18

Jika < 120 mg/L maka akan timbul gejala disorientasi, gangguan
mental, letargi, iritabilitas, lemah dan henti pernafasan, sedangkan jika
kadar < 110 mg/L maka akan timbul gejala kejang, koma. Hiponatremia
ini dapat disebabkan oleh euvolemia (SIADH, polidipsi psikogenik),
hipovolemia (disfungsi tubuli ginjal, diare, muntah, third space losses,
diuretika), hipervolemia (sirosis, nefrosis). Keadaan ini dapat diterapi
dengan restriksi cairan (Na+ 125 mg/L) atau NaCl 3% ssebanyak (140X)xBBx0,6 mg dan untuk pediatrik 1,5-2,5 mg/kg10.
Koreksi hiponatremia yang sudah berlangsung lama dilakukan scara
perlahan lahan, sedangkan untuk hiponatremia akut lebih agresif. Untuk
menghitung Na serum yang dibutuhkan dapat menggunakan rumus:

Hipernatremia
Jika kadar natrium > 160 mg/L maka akan timbul gejala berupa

perubahan mental, letargi, kejang, koma, lemah.

Hipernatremi dapat

disebabkan oleh kehilangan cairan (diare, muntah, diuresis, diabetes


insipidus, keringat berlebihan), asupan air kurang, asupan natrium
berlebihan. Terapi keadaan ini adalah penggantian cairan dengan 5%
dekstrose dalam air sebanyak {(X-140) x BB x 0,6}: 14010.

19

Hipokalemia
Jika kadar kalium < 3 mEq/L. Dapat terjadi akibat dari redistribusi akut

kalium dari cairan ekstraselular ke intraselular atau dari pengurangan


kronis kadar total kalium tubuh. Tanda dan gejala hipokalemia dapat
berupa disritmik jantung, perubahan EKG (QRS segmen melebar, ST
segmen depresi, hipotensi postural, kelemahan otot skeletal, poliuria,
intoleransi glukosa. Terapi hipokalemia dapat berupa koreksi faktor
presipitasi (alkalosis, hipomagnesemia, obat-obatan), infus potasium
klorida sampai 10 mEq/jam (untuk mild hipokalemia ;>2 mEq/L) atau
infus potasium klorida sampai 40 mEq/jam dengan monitoring oleh EKG
(untuk hipokalemia berat;<2mEq/L disertai perubahan EKG, kelemahan
otot yang hebat)6. Rumus untuk menghitung defisit kalium:

Hiperkalemia
Terjadi jika kadar kalium > 5 mEq/L, sering terjadi karena insufisiensi

renal atau obat yang membatasi ekskresi kalium (NSAIDs, ACE-inhibitor,


siklosporin, diuretik). Tanda dan gejalanya terutama melibatkan susunan
saraf pusat (parestesia, kelemahan otot) dan sistem kardiovaskular
(disritmik, perubahan EKG). Terapi untuk hiperkalemia dapat

20

berupa

intravena kalsium klorida 10% dalam 10 menit, sodium bikarbonat 50-100


mEq dalam 5-10 menit, atau diuretik, Hemodialisis.6
3. Perubahan komposisi

Asidosis respiratorik (pH< 3,75 dan PaCO2> 45 mmHg)


Kondisi ini berhubungan dengan retensi CO2 secara sekunder untuk
menurunkan ventilasi alveolar pada pasien bedah.

Kejadian akut

merupakan akibat dari ventilasi yang tidak adekuat termasuk obstruksi


jalan nafas, atelektasis, pneumonia, efusi pleura, nyeri dari insisi abdomen
atas, distensi abdomen dan penggunaan narkose yang berlebihan.
Manajemennya melibatkan koreksi yangadekuat dari defek pulmonal,
intubasi endotrakeal, dan ventilasi mekanis bila perlu. Perhatian yang ketat
terhadap higiene trakeobronkial saat post operatif adalah sangat penting7.

Alkalosis respiratorik (pH> 7,45 dan PaCO2 < 35 mmHg)


Kondisi ini disebabkan ketakutan, nyeri, hipoksia, cedera SSP, dan
ventilasi yang dibantu. Pada fase akut, konsentrasi bikarbonat serum
normal, dan alkalosis terjadi sebagai hasil dari penurunan PaCO2 yang
cepat. Terapi ditujukan untuk mengkoreksi masalah yang mendasari
termasuk sedasi yang sesuai, analgesia, penggunaan yang tepat dari
ventilator mekanik, dan koreksi defisit potasium yang terjadi7.

Asidosis metabolik (pH<7,35 dan bikarbonat <21 mEq/L)

21

Kondisi ini disebabkan oleh retensi atau penambahan asam atau


kehilangan bikarbonat. Penyebab yang paling umum termasuk gagal ginjal,
diare, fistula usus kecil, diabetik ketoasidosis, dan asidosis laktat.
Kompensasi awal yang terjadi adalah peningkatan ventilasi dan depresi
PaCO2. Penyebab paling umum adalah syok, diabetik ketoasidosis,
kelaparan,

aspirin yang berlebihan dan keracunan metanol. Terapi

sebaiknya ditujukan terhadap koreksi kelainan yang mendasari. Terapi


bikarbonat hanya diperuntukkan bagi penanganan asidosis berat dan hanya
setelah kompensasi alkalosis respirasi digunakan7.

Alkalosis metabolik (pH>7,45 dan bikarbonat >27 mEq/L)


Kelainan ini merupakan akibat dari kehilangan asam atau penambahan

bikarbonat dan diperburuk oleh hipokalemia. Masalah yang umum terjadi


pada pasien bedah adalah hipokloremik, hipokalemik akibat defisit volume
ekstraselular. Terapi yang digunakan adalah sodium klorida isotonik dan
penggantian kekurangan potasium. Koreksi alkalosis harus gradual selama
perode 24 jam dengan pengukuran pH, PaCO2 dan serum elektrolit yang
sering7.
2.5 Kebutuhan Cairan Maintenance

Dewasa: 3500 ml/24 jam (30-40 ml/kg BB/hari)


Kebutuhan cairan/jam :

22

Anak-anak :
10 Kg I

: 100 cc/kg BB/ 24 jam

10 Kg II

: 50 cc/kg BB/ 24 jam

10 Kg >

: 20 cc/kg BB/ 24 jam

Cara Menghitung Tetes Cairan :

Tetesan Makro : 1 mL ~ 20 tetes (terumo)


1 mL ~ 15 tetes (otsuka)

Tetesan Mikro : 1 mL ~ 60 tetes

Misal : Bayi, BB 5Kg. Kebutuhan cairan/hari :


100 mL x 5 Kg / hari = 500 mL/hari

Maintenance :

500 mL/hr x 20 tetes/mL = 500 tetes makro/mnt


24 jam/hr x 60 mnt/jam

72

23

= + 7 tetes makro/mnt

500 mL/hr x 60 tetes/mL = 500 tetes mikro/mnt


24 jam/hr x 60 mnt/jam

24

= + 21 tetes mikro/mnt

2.6 Patofisiologi Cairan Tubuh


Tugas peredaran darah yang sangat penting adalah oksigenasi jaringan.
Bila oksigen tak cukup (hipoxia/anoxia) glukosa hanya dapat dipecah menjadi
asam laktat. Ini berakibat kadar laktat naik belebihan (excess lactate). Pada
shock yang berakibat angka kematian yang tinggi. Cara lain untuk
menentukan hypoxia ialah dengan mengukur pemakaian oksigen dalam
semenit (oxygen consumption). Turunnya pemakaian oksigen berarti
terjadinya hypoxia. Peredaran darah yang baik berarti oksigenasi jaringan
baik. Perfusi yang baik memerlukan cardiac output yang baik. Cardiac output
yang baik menimbulkan tensi yang baik11.
Setelah perdarahan, tubuh akan bereaksi dalam 3 tahap:
1. Tahap vasokonstriksi : utk menghindari kematian, peredaran darah
(perfusi) terpusat pd organ vital (otak & jantung) dengan mengorbankan
perfusi lain (perifer, ginjal). Pada perdarahan ringan (< 10 % vol drh)
perfusi organ vital masih bisa dipertahankan.
2. Tahap hemodilusi : vol darah mjd normal kembali krn tjd kenaikan vol
plasma dlm wkt 24 48 jam.

24

Vol. erythrocyt blm kembali tjd hemodilusi Hb turun.


3. Tahap produksi erythrocyt : perlu wkt 3 4 minggu utk

mjd

normal

kembali. Percobaan binatang dapat hidup dengan 35 % jumlah


erythrocyt, tetapi akan mati bila vol plasma < 70 % N11.

Perkiraan Kehilangan Cairan dan Darah11

Cara mengatasi perdarahan 11

25

2.7 Tujuan Terapi Cairan


- Untuk mengganti kekurangan air & elektrolit
- Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pada:
Px tidak mau makan
Px tdk bisa makan &
Px tidak boleh makan
-

Untuk mengatasi shock :


hypovolemic, anaphylactic, cardiogenic & septic
- Untuk mengatasi kelainan yg ditimbulkan karena
terapi yg diberikan kurang adekuat 10

26

2.8

Pilihan Terapi Cairan

1. Cairan kristaloid
Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler (CES =
CEF).Keuntungan dari cairan ini antara lain harga murah, tersedia dengan
mudah disetiap pusat kesehatan, tidak perlu dilakukan cross match, tidak
menimbulkan alergi atau syok anafilaktik, penyimpanan sederhana dan dapat
disimpan lama. Cairan kristaloid bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali
cairan koloid) ternyata sama efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk
mengatasi defisit volume intravaskuler. Waktu paruh cairan kristaloid di
ruang intravaskuler sekitar 20-30 menit. Beberapa penelitian mengemukakan
bahwa walaupun dalam jumlah sedikit larutan kristaloid akan masuk ruang
interstitiel sehingga timbul edema perifer dan paru serta berakibat
terganggunya oksigenasi jaringan dan edema jaringan luka, apabila seseorang
mendapat infus 1 liter NaCl 0,9%11.
Penelitian lain menunjukkan pemberian sejumlah cairan kristaloid dapat
mengakibatkan timbulnya edema paru berat. Selain itu, pemberian cairan

27

kristaloid berlebihan juga dapat menyebabkan edema otak dan meningkatnya


tekanan intra kranial.Karena perbedaan sifat antara koloid dan kristaloid
dimana kristaloid akan lebih banyak menyebar ke ruang interstitiel
dibandingkan dengan koloid maka kristaloid sebaiknya dipilih untuk
resusitasi defisit cairan di ruang interstitiel. Larutan Ringer Laktat merupakan
cairan kristaloid yang paling banyak digunakan untuk resusitasi airan walau
agak hipotonis dengan susunan yang hampir menyerupai cairan intravaskuler.
Laktat yang terkandung dalam cairan tersebut akan mengalami metabolisme
di hati menjadi bikarbonat. Cairan kristaloid lainnya yang sering digunakan
adalah NaCl 0,9%, tetapi bila diberikan berlebih dapat mengakibatkan
asidosis hiperkloremik (delutional hyperchloremic acidosis) dan menurunnya
kadar bikarbonat plasma akibat peningkatan klorida11.
2. Cairan koloid
Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut plasma
substitute

atau plasma

expander.

Di dalam

cairan

koloid

terdapat

zat/bahan yang mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik


yang menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama (waktu paruh 36 jam) dalam ruang intravaskuler. Oleh karena itu koloid sering digunakan
untuk

resusitasi

cairan

secara

cepat

terutama

pada

syok

hipovolemik/hermorhagik atau pada penderita dengan hipoalbuminemia berat


dan kehilangan protein yang banyak (misal luka bakar). Kerugian dari plasma
expander yaitu mahal dan dapat menimbulkan reaksi anafilaktik (walau
jarang) dan dapat menyebabkan gangguan pada cross match11.
Berdasarkan pembuatannya, terdapat 2 jenis larutan koloid:
a. Koloid alami
Fraksi protein plasma 5% dan albumin manusia ( 5 dan2,5%).Dibuat
dengan cara memanaskan plasma atau plasenta 60C selama 10

28

jamuntuk membunuh virus hepatitis dan virus lainnya. Fraksi protein


plasma selainmengandung albumin (83%) juga mengandung alfa
globulin dan betaglobulin.Prekallikrein activators (Hagemans factor
fragments) seringkaliterdapat dalam fraksi protein plasma dibandingkan
dalam albumin. Oleh sebabitu pemberian infuse dengan fraksi protein
plasma seringkali menimbulkan hipotensi dan kolaps kardiovaskuler12.
b. Koloid sintesis
Dextran
Dextran 40 (Rheomacrodex) dengan berat molekul 40.000 dan
Dextran70 (Macrodex) dengan berat molekul 60.000-70.000 diproduksi
oleh bakteriLeuconostocmesenteroides B yang tumbuh dalam media
sukrosa. Walaupun Dextran 70 merupakan volume expander yang lebih baik
dibandingkan dengan Dextran 40, tetapi Dextran 40 mampu memperbaiki
aliran darah lewat sirkulasimikro karena dapat menurunkan kekentalan
(viskositas) darah. Selain ituDextran mempunyai efek anti trombotik
yang dapat mengurangi platelet adhesiveness, menekan aktivitas faktor
VIII, meningkatkan fibrinolisis dan melancarkan aliran darah.
Pemberian Dextran melebihi 20 ml/kgBB/hari dapatmengganggucro
match, waktu perdarahan memanjang (Dextran 40) dan gagalginjal.
Dextran dapat menimbulkan reaksi anafilaktik yang dapat dicegah
yaitudengan memberikan Dextran 1 (Promit) terlebih dahulu12.
Hydroxylethyl Starch (Hetastarch)
Tersedia dalam larutan 6% dengan berat molekul 10.000 - 1.000.000
rata-rata 71.000, osmolaritas 310 mOsm/L dan tekanan onkotik 30 30
mmHg. Pemberian500 ml larutan ini pada orang normal akan
dikeluarkan 46% lewat urin dalamwaktu 2 hari dan sisanya 64% dalam

29

waktu 8 hari. Larutan koloid ini juga dapatmenimbulkan reaksi


anafilaktik dan dapat meningkatkan kadar serum amilase (walau
jarang).Low molecullar weight Hydroxylethyl starch (Penta-Starch)
miripHeta starch, mampu mengembangkan volume plasma hingga 1,5
kali volumeyang diberikan dan berlangsung selama 12 jam. Karena
potensinya sebagai plasma volume expander yang besar dengan
toksisitas yang rendah dan tidak mengganggu koagulasi maka
Penta starch dipilih sebagai koloid untuk resusitasicairan pada penderita
gawat12.

Gelatin
Larutan koloid 3,5-4% dalam balanced electrolyte dengan berat
molekul rata-rata 35.000 dibuat dari hidrolisa kolagen binatang. Ada 3
macam gelatin, yaitu:
-

Modified fluid gelatin (Plasmion dan Hemacell)


Urea linked gelatin
Oxypoly gelatin ,merupakan plasma expanders dan banyak
digunakan pada penderita gawat. Walaupun dapat menimbulkan
reaksi anafilaktik (jarang)terutama dari golongan urea linked

gelatin12
3. Transfusi darah
Respon tubuh terhadap perdarahan tergantung pada volume,
kecepatan, dan lama perdarahan. Keadaan pasien sebelum perdarahan akan
berpengaruh pada respon yang diberikan. Pada orang dewasa sehat,
perdarahan 10% jumlah volume darah tidak menyebabkan perubahan
tanda-tanda fisiknya. Frekuensi nadi, tekanan darah, sirkulasi perifer dan

30

tekanan vena sentral tidak berubah. Reseptor dalam jantung akan


mendeteksi penurunan volume ini dan menyebabkan pusat vasomotor
menstimulasi sistem saraf simpatik yang selanjutnya menyebabkan
vasokonstriksi. Penurunan tekanan darah pada ujung arteri kapiler
menyebabkan perpindahan cairan ke dalam ruang interstitial berkurang9.
Penurunan perfusi ginjal menyebabkan retensi air dan ion Na+. Hal
ini menyebabkan volume darah kembali normal dalam 12 jam. Kadar
protein plasma cepat menjadi normal dalam waktu 2 minggu, kemudan
akan terjadi hemopoesis ekstra yang menghasilkan eritrosit. Proses
kompensasi ini sangat efektif sampai perdarahan sebanyak 30%.Pada
perdarahan yang terjadi di bawah 50% atau hematokrit masih di atas 20%,
darah yang hilang masih dapat diganti dengan cairan koloid atau
kombinasi koloid dengankristaloid yang komposisinya sama dengan darah
yaitu Ringer Laktat. Namun bila kehilangan darah > 50% biasnya
diperlukam transfusi 13.
2.9 Terapi Cairan Perioperatif
Tujuan utama terapi cairan perioperatif adalah untuk mengganti defisit
pra bedah, selama pembedahan dan pasca bedah diamana saluran pencernaan
belum berfungsi secara optimal disamping untuk pemenuhan kebutuhan
normal harian. Terapi dinilai berhasil apabila pada penderita tidak ditemukan
tanda-tanda hipovolemik dan hipoperfusi atau tanda-tanda kelebihan cairan
berupa edema paru dan gagal nafas. Defisit cairan perioperatif timbul sebagai
akibat puasa pra-bedah yang kadangkadang dapat memanjang, kehilangan
cairan yang sering menyertai penyakit primernya, perdarahan, manipulasi

31

bedah, dan lamanya pembedahan yang mengakibatkan terjadinya sequestrasi


atau translokasi cairan. Pada periode pasca bedah kadang-kadang perdarahan
dan atau kehilangan cairan (dehidrasi) masih berlangsung, yang tentu saja
memerlukan perhatian khusus. Puasa pra-bedah selama 12 jam atau lebih
dapat menimbulkan defisit cairan (air dan elektrolit) sebanyak 1 liter pada
pasien orang dewasa8.
Terapi cairan operatif meliputi :
1. Pengganti defisit Pra bedah
Defisit cairan karena persiapan pembedahan dan anestesi (puasa,
lavement) harus diperhitungkan dan sedapat mungkin segera diganti pada
masa pra-bedah sebelum induksi. Setelah dari sisa defisit yang masih ada
diberikan pada jam pertama pembedahan, sedangkan sisanya diberikan pada
jam kedua berikutnya. Kehilangan cairan di ruang ECF ini cukup diganti
dengan ciran hipotonis seperti garam fisiologis, Ringer Laktat dan Dextrose.
Pada penderita yang karena penyakitnya tidak mendapat nutrisi yang cukup
maka sebaiknya diberikan nutrisi enteral atau parenteral lebih dini lagi.
Penderita dewasa yang dipuasakan karena akan mengalami pembedahan
(elektif) harus mendapatkan penggantian cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam
lama puasa. Defisit karena perdarahan atau kehilangan cairan (hipovolemik,
dehidrasi) yang seringkali menyertai penyulit bedahnya harus segera diganti
dengan melakukan resusitasi cairan atau rehidrasi sebelum induksi anestesi9.

32

Status cairan harus dinilai dan dikoreksi sebelum dilakukannya


induksi

anastesi

untuk

mengurangi

perubahan

kardiovaskuler

dekompensasi akut. Penilaian status cairan ini didapat dari :


a. Anamnesa : apakah ada perdarahan, muntah, diare, rasa haus, kencing
terakhir, jumlah dan warnanya.
b. Pemeriksaan fisik. Dari pemeriksaan fisik akan didapat tanda obyektif
dari status cairan, seperti tekanan darah, nadi, BB, kulit, abdomen,
mata dan mukosa.
c. Laboratorium meliputi pemeriksaan elektrolit, BUN, hematokrit,
hemoglobin dan protein.
Defisit cairan dapat diperkirakan dari berat ringannya dehidrasi yang
terjadi.
a. Fase awal pasien yang sadar akan mengeluh haus, nadi biasanya
meningkat sedikit, belum ada gangguan cairan dan komposisinya
secara serius. Dehidrasi pada fase ini terjadi jika kehilangan kirakira 2% BB (1500 ml air).
b. Fase moderat, ditandai rasa haus. Mukosa kering, otot lemah, nadi
cepat dan lemah. Terjadi pada kehilangan cairan 6% BB.
c. Fase lanjut/dehidrasi berat, ditandai adanya tanda shock cardio
sirkulasi, terjadi pada kehilangan cairan 7-15% BB. Kegagalan
penggantian cairan dan elektrolit biasanya menyebabkan kematian
jika kehilangan cairan 15% BB atau lebih.
Cairan preoperatif diberikan dalam bentuk cairan pemeliharaan.
Pada dewasa 2 ml/kgBB/jam. Atau 60 ml ditambah 1 ml/kgBB
untuk berat badan lebih dari 20 kg. Pada anak-anak 4 ml/kg pada
10 kgBB pertama ditambah 2 ml/kg untuk 10 kgBB kedua dan
ditambah 1 ml/kg untuk berat badan sisanya kecuali penilaian

33

terhadap keadaan umum dan kardiovaskuler, tanda rehidrasi


tercapai ialah dengan adanya produksi urin 0,5-1 ml/kgBB 6
2. Terapi cairan selama pembedahan
Terapi cairan selama operasi meliputi kebutuhan dasar
cairan dan penggantian sisa defisit pra operasi ditambah cairan
yang

hilang

selama

operasi.

Berdasarkan beratnya

trauma

pembedahan dikenal pemberian cairan pada trauma ringan, sedang


dan berat. Pada pembedahan dengan trauma ringan diberikan
cairan 2 ml/kgBB/jam. Untuk kebutuhan dasar ditambah 4 ml/kg
BB/jam sebagai pengganti akibat trauma pembedahan. Cairan
pengganti akibat trauma pembedahan sedang 6 ml/kgBB/jam dan
pada trauma pembedahan berat 8 ml/kg BB/jam. Cairan pengganti akibat
trauma pembedahan pada anak, untuk trauma pembedahan ringan 2
ml/kg BB/jam, sedang 4 ml /kgBB /jam dan berat 6 ml /kgBB /jam14.
Pemilihan jenis cairan intravena tergantung pada prosedur
pembedahan dan perkiraan jumlah perdarahan. Perkiraan jumlah
perdarahan yang terjadi selama pembedahan sering mengalami
kesulitan

dikarenakan

adanya

perdarahan

yang

sulit

diukur/tersembunyi yang terdapat di dalam luka operasi, kain kasa,


kain operasi dan lain-lain. Dalam hal ini cara yang biasa digunakan
untuk memperkirakan jumlah perdarahan dengan mengukur jumlah
darah di dalam botol suction ditambah perkiraan jumlah darah di
kain kasa dan kain operasi. Satu lembar duk dapat menampung 100
- 150 ml darah, sedangkan untuk kain kasa sebaiknya ditimbang
sebelum dan setelah dipakai, dimana selisih 1 gram dianggap sama
dengan 1 ml darah. Perkiraan jumlah perdarahan dapat juga diukur

34

dengan pemeriksaan

hematokrit

dan

hemoglobin

secara

serial. Pada perdarahan untuk mempertahankan volume intravena


dapat diberikan kristaloid atau koloid sampai tahap timbulnya
bahaya karena anemia. Pada keadaan ini perdarahan selanjutnya
diganti dengan transfusi sel darah merah untuk mempertahankan
konsentrasi hemoglobin ataupun hematokrit pada level aman,yaitu
Hb 7 10 g/dl atau Hct 21 30%. 20 25% pada individu sehat
atau anemia kronis11.
Kebutuhan transfusi dapat ditetapkan pada saat prabedah
berdasarkan nilai hematokrit dan EBV. EBV pada neonatus
prematur 95 ml/kgBB, fullterm 85ml/kgBB, bayi 80 ml/kgBB dan pada
dewasa laki-laki 75 ml/kgBB, perempuan 85ml/kgBB15.
Untuk menentukan jumlah perdarahan yang diperlukan agar
Hct menjadi 30%dapat dihitung sebagai berikut :
a. EBV
b. Estimasi volume sel darah merah pada Hct prabedah (RBCV preop)
c. Estimasi volume sel darah merah pada Hct 30% prabedah (RBCV%)
d. Volume sel darah merah yang hilang, RBCV lost = RBCV
preop RBVC30%)
e. Jumlah darah yang boleh hilang = RBCV lost x 3
Transfusi dilakukan jika perdarahan melebihi nilai RBCV lost x 3.
Selain cara tersebut di atas, beberapa pendapat mengenai penggantian
cairan akibat perdarahan adalah sebagai berikut15 :
Berdasar berat-ringannya perdarahan :
a. Perdarahan ringan, perdarahan sampai 10% EBV, 10 15%, cukup
digantidengan cairan elektrolit.

35

b. Perdarahan sedang, perdarahan 10 20% EBV, 15 30%, dapat


digantidengan cairan kristaloid dan koloid.
c. Perdarahan berat, perdarahan 20 50% EBV, > 30%, harus diganti
dengantransfusi darah (Suntoro, 2002).
Jumlah penggantian cairan selama pembedahan dihitung berdasarkan
kebutuhan dasar ditambah dengan kehilangan cairan akibat pembedahan
(perdarahan, translokasi cairan dan penguapan atau evaporasi). Jenis cairan
yang diberikan tergantung kepada prosedur pembedahannya dan jumlah
darah yang hilang15.
a) Pembedahan yang tergolong kecil dan tidak terlalu traumatis misalnya
bedah mata (ekstrasi, katarak) cukup hanya diberikan cairan rumatan
saja selama pembedahan.
b) Pembedahan dengan trauma ringan misalnya: appendektomi dapat
diberikan cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar
ditambah 4 ml/kgBB/jam untuk pengganti akibat trauma pembedahan.
Total yang diberikan adalah 6 ml/kgBB/jam berupa cairan garam
seimbang seperti Ringer Laktat atau Normosol-R.
c) Pembedahan dengan trauma sedang diberikan cairan sebanyak 2
ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 8 ml/kgBB/jam untuk
pembedahannya. Total 10ml/kgBB/jam16.
3. Terapi Cairan dan Elektrolit Pasca Bedah
Nutrisi parenteral bertujuan menyediakan nutrisi lengkap, yaitu
kalori, protein dan lemak termasuk unsur penunjang nutrisi elektrolit,
vitamin dan traceelement. Pemberian kalori sampai 40 50 Kcal/kg
dengan protein 0,2 0,24 N/kg. Nutrisi parenteral ini penting, karena pada
penderita paska bedah yangtidak mendapat nutrisi sama sekali akan

36

kehilangan protein 75 125 gr/hari.Hipoalbuminemia menyebabkan


edema jaringan, infeksi dan dehisensi luka operasi, terjadi penurunan
enzym pencernaan yang menyulitkan proses realimentasi 11
Terapi cairan perioperatif meliputi pemberian cairan rumatan /
pemeliharaan (maintenance), defisit cairan karena puasa dan defisit cairan
saat operasi11.
Terapi cairan pasca bedah ditujukan terutama pada hal-hal di bawah ini:
a. Pemenuhan kebutuhan dasar/harian air, elektrolit dan kalori/nutrisi.
Kebutuhan air untuk penderita di daerah tropis dalam keadaan basal
sekitar 50 ml/kgBB/24jam. Pada hari pertama pasca bedah tidak
dianjurkan pemberian kalium karena adanya pelepasan kalium dari
sel/jaringan yang rusak, proses katabolisme dan transfusi darah.
Akibat stress pembedahan, akan dilepaskan aldosteron dan ADH
yang cenderung menimbulkan retensi air dan natrium. Oleh sebab
itu, pada 2-3 hari pasca bedah tidak perlu pemberian natrium.
Penderita dengan keadaan umum baik dan trauma pembedahan
minimum, pemberian karbohidrat 100-150 mg/hari cukup memadai
untuk memenuhi kebutuhan kalori dan dapat menekan pemecahan
protein sampai 50% kadar albumin harus dipertahankan melebihi 3,5
gr%. Penggantian cairan pasca bedah cukup dengan cairan hipotonis
dan bila perlu larutan garam isotonis. Terapi cairan ini berlangsung
sampai penderita dapat minum dan makan17.
b. Mengganti kehilangan cairan pada masa pasca bedah:
Akibat demam, kebutuhan cairan meningkat sekitar 15% setiap
kenaikan 1C suhu tubuh.

37

Adanya pengeluaran cairan lambung melalui sonde lambung

atau muntah.
Penderita dengan hiperventilasi atau pernapasan melalui

trakeostomi dan humidifikasi17.


c. Melanjutkan penggantian defisit cairan pembedahan dan selama
pembedahan yang belum selesai. Bila kadar hemoglobin kurang dari
10 gr%, sebaiknya diberikan transfusi darah untuk memperbaiki
daya angkut oksigen17.
d. Koreksi terhadap gangguan keseimbangan yang disebabkan terapi
cairan tersebut. Monitoring organ-organ vital dilanjutkan secara
seksama meliputi tekanan darah, frekuensi nadi, diuresis, tingkat
kesadaran, diameter pupil, jalan nafas, frekuensi nafas, suhu tubuh
dan warna kulit17.

BAB III

38

KESIMPULAN

Air merupakan unsur vital untuk makhluk hidup. Kira-kira 55-60% dari
berat badan orang dewasa terdiri atas air, dan pada bayi dan anak total air tubuh
lebih tinggi lagi yakni 80% pada bayi baru lahir dan 70% pada anak. Air dan zatzat yang terlarut di dalamnya berfungsi sebagai pengangkut zat makanan ke
semua sel tubuh kemudian mengeluarkan bahan sisa dari dalam tubuh.
Dalam keadaan sehat tubuh memiliki mekanisme keseimbangan atau
homeostasis yang mengatur asupan dan pengeluaran air. Terapi cairan adalah
suatu tindakan pemberian air dan elektrolit dengan atau tanpa zat gizi kepada
pasien-pasien yang megalami dehidrasi atau tidak bisa dipenuhi oleh asupan oral
biasa melalui minum atau makanan.
Tujuan utama terapi cairan perioperatif adalah untuk mengganti defisit pra
bedah, selama pembedahan dan pasca bedah diamana saluran pencernaan belum
berfungsi secara optimal disamping untuk pemenuhan kebutuhan normal harian.
Terapi dinilai berhasil apabila pada penderita tidak ditemukan tanda-tanda
hipovolemik dan hipoperfusi atau tanda-tanda kelebihan cairan berupa edema
paru dan gagal nafas.

39

DAFTAR PUSTAKA

1. Arifin H. Penggantian Cairan Yang Hilang Selama Perioperatif. Panduan


Tatalaksana Terapi Cairan Perioperatif. IDSAI, 2009; 69-79.
2. Leksana Ery. Cairan tubuh. Terapi Cairan dan Elektrolit, Semarang ;
2004 : 1-14.
3. Holte K, Kehlet H. Compensatory fluid administration for preoperative
dehydrationdoes it improve outcome? Acta Anaesthesiol Scand. 2002; 46:
1089 93.
4. Candra S, Aditianingsih D. Terapi Cairan Pada Anestesi Spinal. Panduan
Tata Laksana Cairan Perioperatif. IDSAI. 2009; 248-49
5. Barash P. Clinical anestesia, 4th ed, Philadelphia : lipincott Company;
2001:1201-2.
6. Heitz U, Horne MM. Fluid, electrolyte and acid base balance. 5th ed.
Missouri:
Elsevier-mosby; 2005.p3-227
7. Guyton, R., Hall,J., 2008, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.
Jakarta : EGC : 307-308.
8. Rassam SS, Counsell DJ. Periopertive electrolyte and fluid balanced.
Continuing education in anaesthesia, critical care & pain volume 5 number
5; 2005.
9. Latief AS, dkk,2002. Petunjuk praktis anestesiologi: terapi cairan pada
pembedahan. Ed Kedua. Bagian anestesiologi dan terapi intensif, FKUI.

40

10. Mulyono, I., Jenis-jenis Cairan , dalam Symposium of Fluid and Nutrition
Therapy inTraumatic Patients, Bagian Anestesiologi FK UI/RSCM,
Jakarta.
11. Sunatrio S. Tatalaksana cairan intra operatif dan pilihan cairan. Naskah
lengkap KONAS IDSAI Makasar 2004; 56-73.
12. Warjoatmodjo, K., 2000. Anestesiologi dan Reanimasi. Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi., Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta : 226-233.
13. Silbernagl F, Lang F. Color atlas of pathophysiology. Stuttgart: Thieme;
2000: 122-3.
14. Pandey CK, Singh RB. Fluid and electrolyte disorders. Indian J.Anaesh.
2003;47(5):380-387.
15. Adelmen,R.D., Solhaug, M.J., 2000, Patofisiologi Cairan Tubuh dan
Terapi Cairan. In: Behrman, R.E., KLiegman, R.M., Arvin, Ann.M., Ilmu
Kesehatan Anak Nelson ed 15, Jilid 2. Jakarta : EGC: 258-266.
16. Suntoro, A, Terapi Cairan Perioperatif, dalam Muhiman, M. dkk., Anestesiologi,
CV.Infomedika, Jakarta.
17. Hartanto, W.W., 2007. Terapi Cairan dan Elektrolit Perioperatif. Bagian
Farmakologi Klinik dan Terapi Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran.

41