Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN

PRAKTEK KERJA LAPANGAN


DI PUSKESMAS MARON

DI SUSUN OLEH :
NUNING FANANI

NIM: 12.166

AKADEMI FARMASI
PUTERA INDONESIA MALANG
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja
Lapangan (PKL) di Puskesmas Maron ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan penulisan laporan ini adalah sebagai persyaratan untuk
menyelesaikan program D III di Akademi Farmasi Putera Indonesia Malang.

Sehubungan

dengan

terselesaikannya

penulisan laporan ini, saya

mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada pihakpihak, yaitu:


1. Ibu Ernanin Dyah Wijayanti, S.Si.,M.P Selaku Direktur Akademi Farmasi
Putra Indonesia Malang.
2. Bapak Fandi Satria, S Farm.Apt sebagai dosen pembimbing.
3. Bapak dan ibu dosen Akademi Farmasi.
4. Rekan-rekan mahasiswa dan semua pihak yang telah memberikan
bimbingan serta arahan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini belum sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami harapkan. Semoga laporan ini dapat
berguna dan bermanfaat.
Probolinggo, Juni 2015
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

1.1

Kesehatan merupakan kebutuhan yang sangat diperlukan oleh


masyarakat dalam kehidupan. Dengan memiliki hidup yang sehat seseorang
dapat menjalani dan melakukan aktivitasnya dengan baik. Mengingat
pentingnya kesehatan maka perlu adanya peningkatan kesehatan melalui
upaya kesehatan. Upaya kesehatan merupakan setiap kegiatan untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan
derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan
memerlukan upaya yang dilakukan oleh diri sendiri dalam menjaga
kesehatan, tetapi dibutuhkan juga adanya upaya yang menunjang pelayanan

kesehatan lainnya seperti Posyandu, Puskesmas, Apotek, Rumah sakit guna


meningkatkan kesehatan masyarakat.
Salah satu sarana kesehatan yang sering digunakan oleh masyarakat
adalah Puskesmas. Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan
dasar yang menyelenggarakan upaya kesehatan pemeliharaan, peningkatan
kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan
penyakit

(kuratif),

dan

pemulihan

kesehatan

(rehabilitatif),

yang

dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan.


Puskesmas bagian dari elemen kesehatan yang berperan dalam
bidang sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan
kesehatan untuk kepentingan masyarakat, serta dapat dimanfaatkan untuk
pendidikan atau penelitian. Sehingga dibutuhkan tenaga ahli dan tenaga
kesehatan yang berkompeten pada bidangnya masing-masing tersebut. Salah
satu tenaga kesehatan yang melakukan pelayanan kesehatan di puskesmas
adalah Tenaga Teknis Kefarmasian. Diharapkan Tenaga Teknis Kefarmasian
harus memiliki sikap terampil, terlatih dan dapat mengembangkan diri baik
sebagai pribadi maupun sebagai tenaga kesehatan yang

profesional

berdasarkan nilai-nilai yang dapat menunjang upaya pembangunan


kesehatan. Oleh karena itu, dalam mencapai Tenaga Teknis Kefarmasian
seperti yang diharapkan. Maka setiap mahasiswa tingkat III Akademi Putra
Indonesia Malang, di wajibkan untuk melaksanakan Praktek Kerja
Lapangan (PKL) di Puskesmas. Praktek Kerja Lapangan (PKL) sangat
membantu mahasiswa tingkat III sebagai calon Ahli Madya Farmasi untuk
menambah pengetahuan serta mengenal lebih jauh kegiatan kefarmasian dan
kegiatan lain yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan khususnya
dibidang farmasi di puskesmas. Dengan praktek kerja lapangan ini,
diharapkan nantinya dapat memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai
seorang Ahli Madya Farmasi di Puskesmas, Rumah Sakit atau Instansiinstansi lainnya.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum

Tujuan umum dari Praktek Kerja Lapangan adalah untuk memberikan


gambaran secara nyata kepada mahasiswa mengenai kegiatan pelayanan
kesehatan yang dilakukan di Puskesmas.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui dan memahami tentang kegiatan pelayanan resep
di Puskesmas.
2. Untuk mengetahui dan memahami tentang pengelolaan obat di
Puskesmas.
3. Untuk mendapatkan

pengalaman

langsung

tentang

kegiatan

Puskesmas dan mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari selama


perkuliahan melalui kegiatanyang ada di Puskesmas.
4. Untuk mengetahui peran dan fungsi ahli madya farmasi di puskesmas.
1.3 Manfaat
1.3.1 Manfaat bagi mahasiswa :
1. Menjadi sarana bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu yang
didapat selama perkuliahan.
2. Mengetahui dan memahami tentang kegiatan pelayanan resep di
Puskesmas.
3. Mengetahui dan memahami tentang pengelolaan obat di Puskesmas.
4. Mendapatkan pengalaman langsung tentang kegiatan Puskesmas dan
mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari selama perkuliahan
melalui kegiatanyang ada di Puskesmas.
5. Mengetahui peran dan fungsi ahli madya farmasi di puskesmas
1.3.2 Manfaat bagi Istitusi pendidikan
Sebagai parameter penilaian bagi Istitusi Pendidikan kepada mahasiswa
dalam mengaplikasikan ilmu yang didapat selama perkuliahan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Pengertian Puskesmas
Menurut PERMENKES RI Nomor 30 Tahun 2014, Pusat
Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disingkat Puskesmas adalah unit
pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.

2.2

Pelayanan di Puskesmas
Pelayanan kesehatan menyeluruh yang diberikan puskesmas adalah
pelayanan kesehatan menyeluruh yang meliputi pelayanan: kuratif
(pengobatan), preventif (upaya pencegahan), promotif (peningkatan
kesehatan), rehabilitatif (pemulihan kesehatan). Pelayanan yang dilakukan
puskesmas mengingat beberapa fungsi puskesmas. Fungsi puskesmas antara
lain sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya,
membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka
meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat, memberikan pelayanan
kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah
kerjanya.
Sesuai dengan kemampuan tenaga maupun fasilitas yang berbedabeda, maka kegiatan pokok yang dapat dilaksanakan oleh sebuah Puskesmas
akan berbeda-beda. Namun, kegiatan pokok Puskesmas yang dilaksanakan
antara lain :
1.

Klinik Ibu dan Anak (KIA)


Bertujuan untuk tercapainya kemampuan hidup yang sehat melalui
derajat kesehatan yang optimal dan meningkatkan kesehatan ibu, anak
serta keluarga menuju norma keluarga kecil bahagia sejahtera.

Pelayanan yang di lakukan di KIA meliputi pelayanan pada ibu, ibu


hamil, anak dan balita.
2.

Keluarga Berencana (KB)


Pelayanan KB yang dilakukan di pukesmas Pelayanan Kesehatan
Peduli Remaja (PKPR), Imunisasi Calon Pengantin (TT Catin),
Pelayanan KB Pasangan Usia Subur (PUS), Penyuluhan KB. Pelayanan
KB

di

puskesmas di antaranya pelayanan suntik KB, Pil KB,

Pemasangan implan, IUD, Kondom.


3.

Usaha Peningkatan Gizi


Pelayanan gizi meliputi pelayanan konsultasi gizi dan perbaikan gizi,
misalnya pada penderita gizi buruk dan kwashiorkor.

4.

Kesehatan Lingkungan
Bertujuan menciptakan lingkungan yang nyaman, bersih dan sehat
dengan penyediaan air yang baik, pengaturan pembuangan sampah dan
limbah, perumahan sehat serta sanitasi makanan di semua wilayah

5.

6.

Puskesmas.
Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
Pelayanan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, dimana
melakukan tindakan penyakit menular sepaerti misalnya pada DBD.
Pelayanan Kefarmasian
pelayanan yang bertujuan untuk penyediaan obat dalam jumlah dan
jenis yang dibutuhkan serta harga yang terjangkau dengan mutu yang
sesuai dengan ketentuan yang berlaku, tersedianya informasi obat setiap
saat sehingga apabila dibutuhkan dapat diperoleh melalui tenaga yang
terlatih, tersedianya asuhan kefarmasian bagi pasien sehingga merasa
aman dan nyaman dalam menggunakan obat.

7.

Penyuluhan Kesehatan kepada Masyarakat


Bertujuan untuk memberikan penyuluhan dalam rangka promosi

8.

kesehatan kepada masyarakat.


Perawatan Kesehatan Masyarakat
Bertujuan untuk memberikan perawatan kepada masyarakat bagi pasien

9.

rawat jalan maupun rawat inap.


Kesehatan Gigi dan Mulut
Bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut

kepada masyarakat.
10. Kesehatan Jiwa
6

2.3

11. Kesehatan Mata


12. Laboratorium Sederhana
13. Kesehatan Usia Lanjut
14. Fisioterapis
15. Rongent
16. IGD
17. Rawat Inap
Pelayanan Kefarmasian
Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi
dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu
kehidupan pasien.
Pelaksanaan

pelayanan

kefarmasian

memerlukan

Standar

Pelayanan Kefarmasian. Standar Pelayanan Kefarmasian adalah tolok ukur


yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam
menyelenggarakan pelayanan kefarmasian.
Pengaturan Standar Pelayanan

Kefarmasian

di

Puskesmas

bertujuan untuk:
a. Meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian.
b. Menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian.
c. Melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan Obat yang tidak
rasional dalam rangka keselamatan pasien (patient safety).
Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas meliputi standarstandar :
a. Pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai.
b. pelayanan farmasi klinik.
2.3.1 Pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai meliputi : perencanaan
kebutuhan, permintaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian,
pencatatan,

pelaporan,

pengarsipan,

pemantauan

dan

evaluasi

pengelolaan.

2.3.1.1 Perencanaan Kebutuhan Obat Dan Bahan Medis Habis Pakai


Perencanaan merupakan proses kegiatan seleksi obat dan
bahan medis habis pakai untuk menentukan jenis dan jumlah obat
dalam rangka pemenuhan kebutuhan puskesmas. Tujuan perencanaan
adalah untuk mendapatkan:

a. perkiraan jenis dan jumlah obat dan bahan medis habis pakai yang
mendekati kebutuhan
b. meningkatkan penggunaan obat secara rasional
c. meningkatkan efisiensi penggunaan obat
Perencanaan kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai di
Puskesmas setiap periode dilaksanakan oleh ruang farmasi di
Puskesmas. Proses seleksi obat dan bahan medis habis pakai dilakukan
dengan mempertimbangkan pola penyakit, pola konsumsi obat periode
sebelumnya, data mutasi obat, dan rencana pengembangan. Proses
seleksi obat dan bahan medis habis pakai juga harus mengacu pada
Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan Formularium Nasional.
Proses seleksi ini harus melibatkan tenaga kesehatan yang ada
di Puskesmas seperti dokter, dokter gigi, bidan, dan perawat, serta
pengelola program yang berkaitan dengan pengobatan. Proses
perencanaan

kebutuhan

Obat

per

tahun.

Puskesmas

diminta

menyediakan data pemakaian Obat dengan menggunakan Laporan


Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO). Selanjutnya
Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota akan melakukan kompilasi dan
analisa terhadap kebutuhan obat Puskesmas di wilayah kerjanya,
menyesuaikan pada anggaran yang tersedia dan memperhitungkan
waktu kekosongan Obat, buffer stock, serta menghindari stok berlebih.
2.3.1.2 Permintaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Tujuan permintaan obat dan bahan medis habis pakai adalah
memenuhi kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai di puskesmas,
sesuai dengan perencanaan kebutuhan yang telah dibuat. Permintaan
diajukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten, sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang undangan dan kebijakan pemerintah daerah
setempat.
2.3.1.3 Penerimaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Penerimaan obat dan bahan medis habis pakai adalah suatu
kegiatan dalam menerima obat dan bahan medis habis pakai dari
Instalasi Farmasi Kabupaten sesuai dengan permintaan yang telah
diajukan.

Tujuannya adalah agar obat yang diterima sesuai dengan


kebutuhan berdasarkan permintaan yang diajukan oleh puskesmas.
Semua petugas yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan bertanggung
jawab atas ketertiban penyimpanan, pemindahan, pemeliharaan dan
penggunaan obat dan bahan medis habis pakai berikut kelengkapan
catatan yang menyertainya. Petugas penerimaan wajib melakukan
pengecekan terhadap obat dan bahan medis habis pakai yang
diserahkan, mencakup jumlah kemasan/peti, jenis dan jumlah obat,
bentuk obat sesuai dengan isi dokumen (LPLPO), ditandatangani oleh
petugas penerima, dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Bila tidak
memenuhi syarat, maka petugas penerima dapat mengajukan keberatan.
Masa kedaluwarsa minimal dari obat yang diterima disesuaikan dengan
periode pengelolaan di Puskesmas ditambah satu bulan.
2.3.1.4 Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Penyimpanan obat dan bahan medis habis pakai merupakan
suatu kegiatan pengaturan terhadap obat yang diterima agar aman (tidak
hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap
terjamin, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Tujuannya adalah
agar mutu obat yang tersedia di puskesmas dapat dipertahankan sesuai
dengan persyaratan yang ditetapkan. Penyimpanan obat dan bahan
medis habis pakai dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Bentuk dan jenis sediaan
b. Stabilitas (suhu, cahaya, kelembaban)
c. Mudah atau tidaknya meledak/terbakar
d. Narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus
Penyimpanan yang baik ditunjang oleh gudang, pengaturan
penyimpanan obat dan kondisi penyimpanan yang memenuhi syarat.
a. Persyaratan gudang penyimpanan Obat :
1. Ruangan kering tidak lembab
Ruangan kering yang lembab dapat mempengaruhi stabilitas
2.
3.

obat.
Ada ventilasi agar ada aliran udara dan tidak lembab/panas.
Perlu cahaya yang cukup, namun jendela harus mempunyai
pelindung untuk menghindarkan adanya cahaya matahari
langsung.

4.

Lantai dibuat dari tegel/semen yang tidak memungkinkan

5.
6.
7.
8.

bertumpuknya debu dan kotoran lain, diberi alas papan (palet).


Dinding dibuat licin.
Hindari pembuatan sudut lantai dan dinding yang tajam.
Gudang digunakan khusus untuk penyimpanan obat.
Tersedia lemari/laci khusus penyimpanan narkotika dan

9.

psikotropika yang selalu terkunci.


Sebaiknya ada pengukur suhu

ruangan

dan

pengatur

kelembaban.
10. Kebersihan yang selalu terjaga.
b. Pengaturan penyimpanan obat
1. Obat disusun secara alfabetis dan berdasarkan sediaan
Untuk
mempermudah
dalam
pencarian,
pengambilan,
pengawasan dan pengendalian stok.
2. Obat dirotasi dengan FIFO dan FEFO
FIFO (First In First out) artinya obat yang datang pertama kali
harus dikeluarkan lebih dahulu daripada obat yang datang
kemudian. FEFO (First Expire First Out) artinya obat yang lebih
awal kadaluarsanya harus dikeluarkan lebih dahulu dari obat yang
kadaluarsanya lebih lama. Hal ini sangat penting karena obat yang
sudah terlalu lama biasanya kekuatannya atau potensinya
berkurang dan beberapa obat seperti antibiotik mempunyai batas
waktu pemakaian artinya batas waktu dimana obat mulai
berkurang efektifitasnya.
3. Obat disimpan pada rak
Obat disimpan pada rak dan tidak menyentuh dinding dan lantai
untuk menjaga dari kelembabam dan memudahkan dalam
pengambilan serta menjaga kerapihan.
4. Obat yang disimpan pada lantai harus diletakkan diatas palet
5. Tumpukan dus harus sesuai petunjuk
Dus obat jangan ditumpuk terlalu tinggi untuk mencegah pecah
dan rusak, selain itu untuk mempermuah dalam pengambilan
obat. Penumpukan dus obat sesuai yang tertera pada karton, jika
tidak tertulis maka maksimal ketinggian tumpukan delapan dus.
6. Sera, vaksin, supositoria disimpan dalam lemari pendingin.
2.3.1.5 Pendistribusian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Pendistribusian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan
kegiatan pengeluaran dan penyerahan Obat dan Bahan Medis Habis

10

Pakai secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan sub unit
Puskesmas dan jaringannya.
Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan Obat sub unit
pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas dengan jenis,
jumlah dan waktu yang tepat. Sub-sub unit di Puskesmas dan
jaringannya antara lain:
a. Sub unit pelayanan kesehatan di dalam lingkungan Puskesmas yaitu
Apotik, Balai pengobatan umum, Poli gigi, Poli BKIA, IGD, Rawat
inap
b. Puskesmas Pembantu
c. Puskesmas Keliling
d. Posyandu dan
e. Polindes / Ponkesdes
Pendistribusian ke sub unit (ruang rawat inap, UGD, dan lainlain) dilakukan dengan cara pemberian obat sesuai resep yang diterima,
pemberian obat per sekali minum (dispensing dosis unit) atau
kombinasi, sedangkan pendistribusian ke jaringan puskesmas dilakukan
dengan cara penyerahan obat sesuai dengan kebutuhan.
Pendistribusian obat ke sub-sub unit lain di puskesmas
berdasarkan permintaan dari sub-sub unit lain di puskesmas dan
pendistribusian di sertai dengan Surat Bukti Barang Keluar (SBBK)
yang ditanda tangani oleh petugas yang menyerahkan, yang menerima,
dan mengetahui kepala puskesmas.
2.3.1.6 Pengendalian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Pengendalian obat dan bahan medis habis pakai adalah suatu
kegiatan untuk memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai
dengan strategi dan program yang telah ditetapkan sehingga tidak
terjadi kelebihan dan kekurangan/kekosongan obat di unit pelayanan
kesehatan dasar.
Tujuannya adalah agar tidak terjadi kelebihan dan kekosongan
obat di unit pelayanan kesehatan dasar. Pengendalian Obat terdiri dari:
a) Pengendalian persediaan.
b) Pengendalian penggunaan.
c) Penanganan obat hilang, rusak, dan kadaluwarsa.
2.3.1.7 Pencatatan, Pelaporan Dan Pengarsipan

11

Pencatatan, pelaporan, dan pengarsipan merupakan rangkaian


kegiatan dalam rangka penatalaksanaan obat dan bahan medis habis
pakai secara tertib, baik obat dan bahan medis habis pakai yang
diterima, disimpan, didistribusikan dan digunakan di puskesmas atau
unit pelayanan lainnya.
Tujuan pencatatan, pelaporan dan pengarsipan dipuskesmas
adalah:
a. Bukti bahwa pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai telah
dilakukan
b. Sumber data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian, dan
c. Sumber data untuk pembuatan laporan.
Manfaat pencatatan, pelaporan dan pengarsipan dipuskesmas
adalah:
a. Bahan audit dalam melaksanakan Quality Assurance dari pelayanan
kefarmasian
b. Basis data pencapaian kinerja, penelitian, analisis, evaluasi dan
perencanaan layanan
c. Bahan untuk membuat kebijakan
Pelaporan di Puskesmas berupa Laporan Pemakaian dan
Permintaan Obat (LPLPO). LPLPO yang dibuat oleh petugas
Puskesmas harus tepat data, tepat isi dan dikirim tepat waktu serta
disimpan dan diarsipkan dengan baik. LPLPO juga dimanfaatkan untuk
analisis penggunaan, perencanaan kebutuhan obat, pengendalian
persediaan dan pembuatan laporan pengelolaan obat. Data LPLPO
dibuat 3 (tiga) rangkap, yakni :
a. Dua rangkap diberikan ke Dinkes Kab/Kota melalui Instalasi Farmasi
Kab/Kota,

untuk

diisi

jumlah

yang

diserahkan.

Setelah

ditandatangani disertai satu rangkap LPLPO dan satu rangkap


lainnya disimpan di Instalasi Farmasi Kab/Kota
b. Satu rangkap untuk arsip Puskesmas
Pelaporan yang lain adalah laporan narkotika dan psikotropika.
laporan narkotika dan psikotropika sebagai parameter penggunaan
narkotika dan psikotropika di puskesmas.

12

2.3.1.8 Pemantauan dan evaluasi pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis
Pakai
Pemantauan dan evaluasi pengelolaan Obat dan Bahan Medis
Habis dilakukan secara periodik dengan tujuan untuk :
a. Mengendalikan dan menghindari terjadinya kesalahan dalam
pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai sehingga dapat
menjaga kualitas maupun pemerataan pelayanan
b. Memperbaiki secara terus-menerus pengelolaan obat dan bahan
medis habis pakai
c. Memberikan penilaian terhadap capaian kinerja pengelolaan
2.3.2 Pelayanan Farmasi Klinik
Pelayanan farmasi klinik merupakan bagian dari pelayanan
kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien
berkaitan dengan obat dan bahan medis habis pakai dengan maksud
mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.
Pelayanan farmasi klinik di Puskesmas bertujuan untuk :
1. Meningkatkan mutu dan memperluas cakupan Pelayanan Kefarmasian
di Puskesmas.
2. Memberikan pelayanan kefarmasian yang dapat menjamin efektivitas,
keamanan dan efisiensi obat dan bahan medis habis pakai.
3. Meningkatkan kerjasama dengan profesi kesehatan lain dan kepatuhan
pasien yang terkait dalam pelayanan kefarmasian.
4. Melaksanakan kebijakan obat di puskesmas

dalam

rangka

meningkatkan penggunaan obat secara rasional.


Pelayanan farmasi klinik meliputi berbagai kegiatan yaitu :
1. Pengkajian resep, penyerahan obat, dan pemberian informasi obat
2. Pelayanan informasi obat (PIO)
2.3.2.1 Pengkajian Resep, Penyerahan Obat, dan Pemberian Informasi Obat
a) Pengkajian resep
Setelah menerima resep, dilakukan skrining dengan tahapan
kegiatan pengkajian resep dimulai dari seleksi persyaratan
administrasi, persyaratan farmasetik dan persyaratan klinis baik
untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan.
1. Persyaratan administrasi meliputi:
a. Nama, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien.
Nama dan alamat pasien dengan jelas sebagai identitas pasien
bertujuan supaya tidak terjadi kekeliruan dalam penyerahan

13

obat. Umur dan berat badan pasien bertujuan untuk


menghitung dosis pemakaian obat.
b. Nama, dan paraf dokter, nomor izin praktek dokter .
Nama, Alamat, nomor izin praktek dokter, Nomor telepon
dokter bertujuan untuk menyatakan keabsahan resep dan
mengkonsultasikan apabila obat yang diminta dalam resep
mengalami kosong stok dan bias diganti dengan obat lain yang
kandungannya sama. Untuk berkomunikasi dengan dokter
apabila kita mengalami keraguan dalam resep / penulisan resep
kurang jelas.
c. Tanggal resep
Bertujuan untuk mencegah pelayanan resep yang sudah terlalu
lama bahkan mungkin sudah lebih dari satu tahun. Tanggal
yang telah terlalu dikawatirkan tidak akan sesuai dengan
kondisi pasien pada saat pemakaian obat. Selain itu tanggal
penulisan resep ini bertujuan untuk mempermudah dalam
pengarsipan.
d. Ruangan/unit asal resep
Ruangan/unit asal resep untuk mengetahui asal resep sehingga
dapat mempermudah pada saat terjadi keraguan pada apa ang
tertulis dalam resep.
2. Persyaratan farmasetik meliputi:
a. Bentuk dan kekuatan sediaan
b. Dosis dan jumlah obat.
c. Stabilitas dan ketersediaan.
d. Aturan dan cara penggunaan.
e. Inkompatibilitas (ketidakcampuran obat).
3. Persyaratan klinis meliputi:
a. Ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan obat
b. Duplikasi pengobatan.
c. Alergi, interaksi dan efek samping obat.
d. Kontra indikasi.
e. Efek adiktif.
4. Konsultasikan dengan dokter apabila ditemukan keraguan pada
resep atau obatnya tidak tersedia

b) Penyiapan obat
14

Setelah memeriksa resep, dilakukan hal-hal sebagai berikut :


1. Menyiapkan obat sesuai dengan permintaan pada resep
2. Menghitung kebutuhan jumlah obat sesuai dengan resep
3. Mengambil obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan dengan
memperhatikan nama obat, tanggal kadaluarsa dan keadaan fisik
obat
4. Melakukan peracikan obat bila diperlukan
5. Memberikan etiket : Warna putih untuk obat dalam/oral Warna
biru untuk obat luar dan suntik dan menempelkan label kocok
dahulu pada sediaan bentuk suspensi atau emulsi. Pemberiaan
etiket tiap masing masing kemasan dan penulisan harus benar
dan jelas untuk mencegah kesalahan pada pemakaian obat.
6. Memasukkan obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah untuk
obat yang berbeda untuk menjaga mutu obat dan penggunaan
yang salah.
c) Penyerahan Obat
Kegiatan penyerahan (Dispensing) dan pemberian informasi
obat merupakan kegiatan pelayanan yang dimulai dari tahap
menyiapkan/meracik obat, memberikan label/etiket, menyerahan
sediaan

farmasi

dengan

informasi

yang

memadai

pendokumentasian. Tujuan kegiatan penyerahan:


a. Pasien memperoleh Obat sesuai dengan
b.

disertai

kebutuhan

klinis/pengobatan.
Pasien memahami tujuan pengobatan dan mematuhi intruksi
pengobatan.

Setelah penyiapan obat, dilakukan hal-hal sebagai berikut :


1. Sebelum obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan
pemeriksaan kembali mengenai penulisan nama pasien pada
etiket, cara penggunaan serta jenis dan jumlah obat (kesesuaian
2.
3.
4.
5.

antara penulisan etiket dengan resep).


Memanggil nama dan nomor tunggu pasien.
Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien.
Menyerahkan obat yang disertai pemberian informasi obat
Memberikan informasi cara penggunaan obat dan hal-hal lain
yang terkait dengan obat tersebut, antara lain manfaat obat,

15

makanan dan minuman yang harus dihindari, kemungkinan efek


6.

samping, cara penyimpanan obat, dll.


Penyerahan obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan
cara yang baik dan sopan, mengingat pasien dalam kondisi tidak

7.

sehat mungkin emosinya kurang stabil.


Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau

8.

keluarganya.
Membuat salinan resep sesuai dengan resep asli dan diparaf oleh

9.

apoteker (apabila diperlukan).


Menyimpan resep pada tempatnya dan mendokumentasikan
yang memudahkan untuk pelaporan.

2.3.2.2 Pelayanan Informasi Obat (PIO)


Pelayanan

Informasi

Obat

(PIO)

merupakan

kegiatan

pelayanan yang dilakukan oleh Apoteker/ Tenaga Teknis Kefarmasian


untuk memberikan informasi secara akurat, jelas dan terkini kepada
dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya dan pasien.
Pelaksanaan Pelayanan Informasi Obat (PIO) memiliki
beberapa tujuan. Tujuan Pelayanan Informasi Obat (PIO) :
a. Menyediakan informasi mengenai obat kepada tenaga kesehatan lain
di lingkungan Puskesmas, pasien dan masyarakat.
b. Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan

yang

berhubungan dengan obat (contoh: kebijakan permintaan obat oleh


jaringan dengan mempertimbangkan stabilitas, harus memiliki alat
penyimpanan yang memadai).
c. Menunjang penggunaan obat yang rasional.
Kegiatan Pelayanan Informasi Obat (PIO) yang dilakukan di
puskesmas :
1. Memberikan dan menyebarkan informasi kepada konsumen secara
pro aktif dan pasif.
2. Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga kesehatan melalui
telepon, surat atau tatap muka.
3. Membuat buletin, leaflet, label Obat, poster, majalah dinding dan
lain-lain.
4. Melakukan kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat jalan dan rawat
inap, serta masyarakat.

16

5. Melakukan pendidikan dan/atau pelatihan bagi tenaga kefarmasian


dan tenaga kesehatan lainnya terkait dengan obat dan bahan medis
habis pakai.
6. Mengoordinasikan penelitian terkait obat dan kegiatan pelayanan
kefarmasian.
Informasi obat yang lazim diperlukan pasien dalam Pelayanan
Informasi Obat (PIO) :
a. Waktu penggunaan obat, misalnya berapa kali obat digunakan dalam
sehari, apakah di waktu pagi, siang, sore atau malam. Dalam hal ini
termasuk apakah obat diminum sebelum atau sesudah makan.
b. Lama penggunaan obat, apakah selama keluhan masih ada atau harus
dihabiskan meskipun sudah terasa sembuh. Obat antibiotika harus
dihabiskan untuk mencegah timbulnya resistensi.
c. Cara penggunaan obat yang benar akan menentukan keberhasilan
pengobatan. Oleh karena itu pasien harus mendapat penjelasan
mengenai cara penggunaan obat yang benar terutama untuk sediaan
farmasi tertentu seperti obat oral, obat tetes mata, salep mata, obat
tetes hidung, obat semprot hidung, tetes telinga, suppositoria dan
krim/salep rektal dan tablet vagina.
d. Efek yang akan timbul dari penggunaan obat, misalnya berkeringat,
mengantuk, kurang waspada, tinja berubah warna, air kencing
berubah warna, dan sebagainya
e. Hal-hal lain yang mungkin timbul, misalnya interaksi obat dengan
obat lain atau makanan tertentu dan kontraindikasi obat tertentu
dengan diet rendah kalori, kehamilan dan menyusui serta
kemungkinan terjadinya efek obat yang tidak dikehendaki.
2.3.2.3 Konseling
Merupakan suatu proses untuk mengidentifikasi

dan

penyelesaian masalah pasien yang berkaitan dengan penggunaan obat


pasien rawat jalan dan rawat inap, serta keluarga pasien. Tujuan
dilakukannya konseling adalah memberikan pemahaman yang benar
mengenai obat kepada pasien/keluarga pasien antara lain tujuan
pengobatan, jadwal pengobatan, cara dan lama penggunaan obat, efek
samping, tanda-tanda toksisitas, cara penyimpanan dan penggunaan
obat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan konseling :

17

a. Membuka komunikasi antara tenaga farmasi dengan pasien.


b. Menanyakan hal-hal yang menyangkut obat yang dikatakan oleh
dokter kepada pasien dengan metode pertanyaan terbuka (openended
question), misalnya apa yang dikatakan dokter mengenai obat,
bagaimana cara pemakaian, apa efek yang diharapkan dari obat
tersebut, dan lain-lain.
d. Memperagakan dan menjelaskan mengenai cara penggunaan obat
e. Verifikasi
akhir,
yaitu
mengecek
pemahaman
pasien,
mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang berhubungan
dengan cara penggunaan obat untuk mengoptimalkan tujuan terapi.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pelaksaan
konseling di puskemas :
a. Kriteria pasien:
1. Pasien rujukan dokter.
2. Pasien dengan penyakit kronis.
3. Pasien dengan obat yang berindeks terapetik sempit dan poli
farmasi.
4. Pasien geriatrik.
5. Pasien pediatrik.
6. Pasien pulang sesuai dengan kriteria di atas.
b. Sarana dan prasarana :
1. Ruangan khusus
2. Kartu pasien/catatan konseling
Setelah dilakukan konseling, pasien yang memiliki kemungkinan
mendapat risiko masalah terkait obat misalnya komorbiditas,
lanjut usia, lingkungan sosial, karateristik obat, kompleksitas
pengobatan, kompleksitas penggunaan obat, kebingungan atau
kurangnya pengetahuan dan keterampilan tentang bagaimana
menggunakan obat dan/atau alat kesehatan perlu dilakukan
pelayanan kefarmasian di rumah (home pharmacy care) yang
bertujuan tercapainya keberhasilan terapi obat.
2.3.2.4 Visite Pasien / visite mandiri
merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap yang
dilakukan secara mandiri atau bersama tim profesi kesehatan lainnya
terdiri dari dokter, perawat, ahli gizi, dan lain-lain.
tujuan visite mandiri pada pasien rawat inap di puskesmas oleh
tenaga farmasi antara lain :

18

1. memeriksa obat pasien.


2. memberikan rekomendasi kepada dokter dalam pemilihan obat
dengan mempertimbangkan diagnosis dan kondisi klinis pasien.
3. memantau perkembangan klinis pasien yang terkait dengan
penggunaan obat.
4. berperan aktif dalam pengambilan keputusan tim profesi kesehatan
dalam terapi pasien. kegiatan yang dilakukan meliputi persiapan,
pelaksanaan, pembuatan dokumentasi dan rekomendasi.
Kegiatan visite mandiri pada pasien rawat inap di puskesmas
oleh tenaga farmasi antara lain : :
a. Untuk pasien baru
1. Apoteker memperkenalkan diri dan menerangkan tujuan dari
kunjungan.
2. Memberikan informasi mengenai sistem pelayanan farmasi dan
jadwal pemberian obat.
3. Menanyakan obat yang sedang digunakan atau dibawa dari
rumah, mencatat jenisnya dan melihat instruksi dokter pada
catatan pengobatan pasien.
4. Mengkaji terapi obat lama dan baru untuk memperkirakan
masalah terkait obat yang mungkin terjadi.
b. Untuk pasien lama dengan instruksi baru
1. Menjelaskan indikasi dan cara penggunaan obat baru.
2. Mengajukan pertanyaan apakah ada keluhan setelah pemberian
obat.
c. Untuk semua pasien
1. Memberikan keterangan pada catatan pengobatan pasien.
2. Membuat catatan mengenai permasalahan dan penyelesaian
masalah dalam satu buku yang akan digunakan dalam setiap
kunjungan.
Kegiatan visite bersama tim ( dokter, perawat, ahli gizi, tenaga
kesehatan lain) yang dilakukan di puskesmas :
a. Melakukan persiapan yang dibutuhkan seperti memeriksa catatan
pegobatan pasien dan menyiapkan pustaka penunjang.
b. Mengamati dan mencatat komunikasi dokter dengan pasien
dan/atau keluarga pasien terutama tentang obat.
c. Menjawab pertanyaan dokter tentang obat.

19

d. Mencatat semua instruksi atau perubahan instruksi pengobatan,


seperti obat yang dihentikan, obat baru, perubahan dosis dan lainlain.
Hal-hal yang perlu diperhatikan kegiatan visite bersama tim di
puskesmas:
a. Memahami cara berkomunikasi yang efektif.
b. Memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan pasien dan tim.
c. Memahami teknik edukasi.
d. Mencatat perkembangan pasien. Pasien rawat inap yang telah pulang
ke rumah ada kemungkinan terputusnya kelanjutan terapi dan
kurangnya kepatuhan penggunaan obat. Untuk itu, perlu juga
dilakukan pelayanan kefarmasian di rumah (home pharmacy care)
agar terwujud komitmen, keterlibatan, dan kemandirian pasien dalam
penggunaan obat sehingga tercapai keberhasilan terapi obat.
2.3.2.5 Pemantauan dan Pelaporan Efek Samping Obat (ESO)
Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obat
yang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal
yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan
terapi atau memodifikasi fungsi fisiologis. Tujuan:
a. Menemukan efek samping obat sedini mungkin terutama yang berat,
tidak dikenal dan frekuensinya jarang.
b. Menentukan frekuensi dan insidensi efek samping obat yang sudah
sangat dikenal atau yang baru saja ditemukan.
Adapun kegiatan pemantauan dan pelaporan efek samping obat

(ESO) :
1. Menganalisis laporan efek samping obat.
2. Mengidentifikasi obat dan pasien yang mempunyai resiko tinggi
mengalami efek samping obat.
3. Mengisi formulir monitoring efek samping obat (MESO).
4. Melaporkan ke pusat monitoring efek samping obat nasional.
Faktor yang perlu diperhatikan dalam pemantauan dan
pelaporan efek samping obat (ESO) :
a. Kerja sama dengan tim kesehatan lain.
b. Ketersediaan formulir Monitoring Efek Samping Obat.
2.3.2.6 Pemantauan Terapi Obat (PTO)

20

Merupakan proses yang memastikan bahwa seorang pasien


mendapatkan

terapi

obat

yang

efektif,

terjangkau

dengan

memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping. Tujuan


pemantauan terapi obat :
a. Mendeteksi masalah yang terkait dengan obat.
b. Memberikan rekomendasi penyelesaian masalah yang terkait dengan
obat.
Kriteria pasien pemantauan terapi obat (PTO) di puskesmas
antara lain :
a. Anak-anak dan lanjut usia, ibu hamil dan menyusui.
b. Menerima obat lebih dari 5 (lima) jenis.
c. Adanya multidiagnosis.
d. Pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hati.
e. Menerima obat dengan indeks terapi sempit.
f. Menerima obat yang sering diketahui menyebabkan reaksi obat yang
merugikan.
Kegiatan yang dilakukan pada pemantauan terapi obat (PTO)
di puskesmas:
a. Memilih pasien yang memenuhi kriteria.
b. Membuat catatan awal.
c. Memperkenalkan diri pada pasien.
d. Memberikan penjelasan pada pasien.
e. Mengambil data yang dibutuhkan.
f. Melakukan evaluasi.
g. Memberikan rekomendasi.
2.3.2.7 Evaluasi Penggunaan Obat
Merupakan kegiatan untuk mengevaluasi penggunaan obat
secara terstruktur dan berkesinambungan untuk menjamin obat yang
digunakan sesuai indikasi, efektif, aman dan terjangkau (rasional).
Tujuan:
a. Mendapatkan gambaran pola penggunaan obat pada kasus tertentu.
b. Melakukan evaluasi secara berkala untuk penggunaan obat tertentu.
2.4

Personalia
Sumber daya manusia penyelengaraan pelayanan kefarmasian di
puskesmas minimal harus dilaksanakan oleh 1 (satu) orang tenaga Apoteker
sebagai penanggung jawab, yang dapat dibantu oleh Tenaga Teknis
Kefarmasian sesuai kebutuhan. Jumlah kebutuhan Apoteker di Puskesmas
dihitung berdasarkan rasio kunjungan pasien, baik rawat inap maupun rawat
21

jalan serta memperhatikan pengembangan Puskesmas. Rasio untuk


menentukan jumlah Apoteker di Puskesmas adalah 1 (satu) Apoteker untuk
50 (lima puluh) pasien perhari.
Semua tenaga kefarmasian harus memiliki surat tanda registrasi
dan surat

izin praktik untuk melaksanakan pelayanan kefarmasian di

fasilitas pelayanan kesehatan termasuk Puskesmas, sesuai dengan ketentuan


peraturan perundang undangan. Semua tenaga kefarmasian di Puskesmas
harus selalu meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku dalam
rangka menjaga dan meningkatkan kompetensinya. Upaya peningkatan
kompetensi tenaga kefarmasian dapat dilakukan melalui pengembangan
profesional berkelanjutan.
Semua tenaga kefarmasian di Puskesmas melaksanakan Pelayanan
Kefarmasian berdasarkan Standar Prosedur Operasional (SPO) yang dibuat
secara tertulis, disusun oleh Kepala Ruang Farmasi, dan ditetapkan oleh
Kepala Puskesmas. SPO tersebut diletakkan di tempat yang mudah dilihat.
Jenis SPO dibuat sesuai dengan kebutuhan pelayanan yang dilakukan pada
Puskesmas yang bersangkutan.
2.5

Sarana dan Prasarana


Sarana dan Prasarana Sarana yang diperlukan untuk menunjang
pelayanan kefarmasian di Puskesmas meliputi sarana yang memiliki fungsi :
1. Ruang penerimaan resep
Ruang penerimaan resep meliputi tempat penerimaan resep, 1 (satu) set
meja dan kursi, serta 1 (satu) set komputer, jika memungkinkan. Ruang
penerimaan resep ditempatkan pada bagian paling depan dan mudah
terlihat oleh pasien.
2. Ruang pelayanan resep dan peracikan (produksi sediaan secara
terbatas)
Ruang pelayanan resep dan peracikan atau produksi sediaan secara
terbatas meliputi rak obat sesuai kebutuhan dan meja peracikan. Di ruang
peracikan disediakan peralatan peracikan, timbangan obat, air minum (air
mineral) untuk pengencer, sendok obat, bahan pengemas obat, lemari
pendingin, termometer ruangan, blanko salinan resep, etiket dan label
obat, buku catatan pelayanan resep, buku-buku referensi/standar sesuai
kebutuhan, serta alat tulis secukupnya. Ruang ini diatur agar

22

mendapatkan

cahaya

dan

sirkulasi

udara

yang

cukup.

Jika

memungkinkan disediakan pendingin ruangan (air conditioner) sesuai


kebutuhan
3. Ruang penyerahan obat
Ruang penyerahan obat meliputi konter penyerahan obat, buku
pencatatan penyerahan dan pengeluaran obat. Ruang penyerahan obat
dapat digabungkan dengan ruang penerimaan resep.
4. Ruang konseling
Ruang konseling meliputi satu set meja dan kursi konseling, lemari
buku, buku-buku referensi sesuai kebutuhan, leaflet, poster, alat
bantu konseling, buku catatan konseling, formulir jadwal konsumsi
obat (lampiran), formulir catatan pengobatan pasien (lampiran), dan
lemari arsip (filling cabinet), serta 1 (satu) set komputer, jika
memungkinkan.
5. Ruang penyimpanan obat dan bahan medis habis pakai
Ruang penyimpanan harus memperhatikan kondisi
temperatur,

kelembaban,

ventilasi,

pemisahan

untuk

sanitasi,
menjamin

mutu produk dan keamanan petugas. Selain itu juga memungkinkan


masuknya cahaya yang cukup. Ruang penyimpanan yang baik perlu
dilengkapi dengan rak/lemari obat, pallet, pendingin ruangan (ac),
lemari

pendingin,

lemari

penyimpanan

khusus

narkotika

dan

psikotropika, lemari penyimpanan obat khusus, pengukur suhu,


dan kartu suhu.
6. Ruang arsip
Ruang arsip dibutuhkan untuk menyimpan dokumen yang berkaitan
dengan

pengelolaan

obat

dan

bahan

medis

habis

pakai

dan

pelayanan kefarmasian dalam jangka waktu tertentu. Ruang arsip


memerlukan

ruangan

memelihara

dan

khusus

menyimpan

yang

memadai

dokumen

dan

dalam

aman

untuk

rangka

untuk

menjamin penyimpanan sesuai hukum, aturan, persyaratan, dan


teknik manajemen yang baik.
Sarana dan prasarana yang harus dimiliki puskesmas untuk
meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian adalah sebagai berikut:
1.
2.

Papan nama yang dapat terlihat jelas oleh pasien


Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien
a. Tersedia tempat duduk yang cukup

23

4.

b. Ruangan yang bersih


c. Ventilasi yang memadai
d. Cahaya yang cukup
e. dll
Peralatan dan perlengkapan penunjang pelayanan kefarmasian
a. Timbangan gram dan miligram
b. Mortir-stamper
c. Gelas ukur
d. Corong
e. Rak alat-alat
f. Etiket,
g. Kantong obat
h. dll
Tersedia tempat dan alat yang memadai untuk melakukan peracikan

5.
6.

obat.
Tersedia ruang penyimpanan obat sesuai dengan persyaratan
Tersedia tempat penyimpanan obat khusus seperti lemari es untuk

3.

supositoria,

serum,

dan

vaksin,

serta

lemari

terkunci

untuk

penyimpanan narkotika sesuai dengan peraturan perundangan yang


7.

berlaku.
Tersedia kartu stok untuk masing-masing jenis obat dan/atau perangkat
komputer agar mutasi obat, termasuk tanggal kadaluarsa obat, dapat

8.

dipantau dengan baik.


Tempat penyerahan obat yang memadai, yang memungkinkan untuk

9.

melakukan konseling atau pelayanan informasi obat.


Tersedia tempat dan alat untuk mendisplai informasi obat dalam upaya

meningkatkan pengetahuan pasien


a. Tempat memasang poster
b. Tempat brosur, leaflet, booklet, majalah kesehatan.
c. dll
10. Tersedia sumber informasi serta literatur obat yang memadai dan up to
date untuk pelayanan informasi obat.
a. Farmakope Indonesia edisi terakhir
b. Informasi Spesialite Obat Indonesia (ISO)
c. Informasi Obat Nasional Indonesia (IONI)

24

BAB III
TINJAUAN UMUM PUSKESMAS
3.1

Keadaan Umum Dan Lingkungan

3.1.1

Administrasi dan Pemerintahan


Puskesmas Maron dalam

kiprahnya

sebagai

fasilitas

kesehatan bagi masyarakat luas, Kecamatan Maron terdiri dari 18 desa,


yang menjadi wilayah kerja sebanyak 13 desa. Puskesmas Maron
didukung oleh 13 Desa yang tersebar yang ada di Kecamatan Maron yaitu
Desa Brabe, Desa Brani kulon, Desa Brani Wetan, Desa Gerongan, Desa
Kedung sari, Desa Maron Kidul, Desa Maron Wetan, Desa Maron Kulon,
Desa Puspan, Desa Satrean, Desa Sumber Dawe, Desa Sumber poh, Dan
Desa Wonorejo. Sub unit pelayanan kesehatan Puskesmas Maron 3 Pustu
dan 8 Polindes, antara lain : Pustu Brabe, Pustu Brani Wetan, Pustu
Kedung sari, Polindes Brani kulon, Polindes Gerongan, Ponkesdes Maron
Kidul, Polindes Maron Kulon, Polindes Puspan, Polindes Satrean, Polindes
Sumber Dawe, Polindes Sumber poh, Dan Polindes Wonorejo.
3.1.2 Geografis
Kecamatan Maron berbatasan dengan :
Utara
: Kecamatan Gending dan Pajarakan
Timur
: Kecamatan Pajarakan, Krejengan dan Gading
Selatan
: Kecamatan Tiris
Barat
: Kecamatan Banyuanyar

25

Luas tanah dan jumlah rumah tangga perdesa :


No.

Desa

Jml. Rumah

Luas tanah

tangga
1

Maron wetan

Maron kulon

172,337
1211
170,750
730

Maron kidul

485,325
1787

Wonorejo

410,249
1662

Brabe

539,750
1704

Sumberdawe

254,872
816

Sumberpoh

163,275
767

Kedungsari

229,000
818

Puspan

112,950
484

10

Brani wetan

673,542
1434

11

Brani kulon

178,518
833

12

Satreyan

500,000
1655

13

Gerongan

312,508
496

Jumlah

4.203,076
14397

26

Jumlah pendudukan Menurut Kepadatan Per Desa


NO

DESA

Maron wetan

LUAS (Km2) PENDUDUK


1,7

KEPADATAN
2303,6

2390
2

Maron kulon

1,7

Maron kidul

4,9

2512

1363,4
1132,4

5838
4

Wonorejo

4,1

Brabe

5,4

Sumberdawe

2,6

Sumberpoh

1,6

Kedungsari

2,3

6851

1304,3
943,0

1521
5692

930,3
1374,4

4837
1163,3
3459
9

Puspan

1,1

10

Brani wetan

6,7

4319

1304,4
590,9

2673
11

Brani kulon

1,8

12

Satreyan

5,0

3107

1365,7
963,0

6022
13

Gerongan
Jumlah

3,1
42,0

1665
50886

489,6
1084,3

Penduduk menurut Jenis Kelamin & Sex Ratio Per Desa


NO

DESA

LAKI-LAKI

27

PEREMPUAN SEX RATIO

Maron wetan

Maron kulon

Maron kidul

Wonorejo

Brabe

Sumberdawe

Sumberpoh

Kedungsari

Puspan

10

Brani wetan

11

Brani kulon

12

Satreyan

13

Gerongan
Jumlah

1,995

2,096

95.18

1,165

1,223

95.26

3,074

3,229

95.20

2,639

2,770

95.27

3,018

3,168

95.27

1,180

1,240

95.16

1,705

1,791

95.20

1,338

1,405

95.23

768

807

95.17

2,342

2,459

95.24

1,411

1,482

95.21

2,480

2,606

95.17

767

806

95.16

24.569

26.297

95.72

3.1.3 Sumberdaya
NO.

TENAGA

JUMLAH

1.

Dokter Umum

2.

Dokter Gigi

3.

Apoteker

28

4.

Perawat

15

5.

Perawat Gigi

6.

Bidan induk

Bidan desa

12

7.

Gizi

8.

Fisioterapi

9.

Radiologi

10.

Refraksionis Optician

11.

Asisten Apoteker

12.

Analis Laboratorium

13.

Penyuluh

14.

Tenaga Kusta/TBParu/Lansia

1/1/1

15.

Tenaga Adm.SMA/SMP/SD

5/1/-

16.

Pengemudi

3.1.4 Sarana
NO

Desa

1
2
3
4
5
6
7
8

Maron wetan
Maron kulon
Maron kidul
Wonorejo
Brabe
Sumberdawe
Sumberpoh
Kedungsari

PUSKESMAS PUSKESMAS
INDUK
PEMBANTU
1
1
1

29

POLINDES
PONKESDES
1
1
1
1
1
1

9
10
11
12
13
3.2

Puspan
Brani wetan
Brani kulon
Satreyan
Gerongan

1
-

1
1
1
1

VISI Dan Misi Puskesmas Maron

3.2.1

Visi
Sejalan dengan visi Cabang Dinas Kesehatan Puskesmas Maron juga
mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia, maju, mandiri, demokrasi,
berkeadilan dan sejahtera lahir batin dan dengan memperhatikan situasi
keadaan kesehatan saat ini visi pembangunan kesehatan Puskesmas Maron

adalah :
Menuju masyarakat sehat dan mandiri melalui tata kelola yang baik
3.2.2 Misi
Guna mewujudkan visi Pembangunan Kesehatan diwilayah Kesehatan
Puskesmas Maron, ditetapkan misi sbb :
a. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan.
b. Mendorong kemandirian hidup sehat masyarakat.
c. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
3.2.3 Kebijakan Mutu
Kebijakan mutu Puskesmas berkomitmen memberikan kepuasan kepada
masyarakat melalui pelayanan yang mudah, ramah, dan selalu melakukan
pembangunan citra puskesmas dan peningkatan sumber daya manusia.
3.2.4
3.3

Slogan Puskesmas Maron

Puskesmas Maron melayani dengan hati


Alur pelayanan di Puskesmas Maron
Alur pelayanan di Puskesmas Maron

Laboratorium

KIA
Pasien

Loket
kasir

Rongent

BP Umum

Fisioterapis

Poli Gigi

Refraksionis
mata

IGD

Apotek
Rawat inap

30

BAB IV
PEMBAHASAN
Puskesmas Maron merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan
kabupaten Probolinggo yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan
kesehatan di wilayah kerja Kecamatan Maron. Puskesmas Maron merupakan
Puskesmas yang cukup berkembang dengan fasilitas yang dimiliki untuk
pelayanan rawat jalan dan rawat inap.
Sistem Administrasi sudah menggunakan komputerisasi dengan aplikasi
Simpustronik secara online. Aplikasi ini menginput data pasien dari data pribadi
pasien, diagnosa, dan terapi pengobatan serta resep sudah tercetak melalui aplikasi
simpus tronik. Adanya keterbatasan tenaga paramedis, maka tenaga yang
menginput adalah tenaga umum. Tenaga umum memiliki kelemahan dalam
pemahaman tentang diagnosa dan terapi pengobatan, sehingga mengakibatkan
sering terjadi kesalahan dalam proses pengetikan. Terjadinya kesalahan dalam
pengetikan tentang diagnosa dan terapi pengobatan dapat mengakibatkan
kesalahan pemberian obat sehingga dapat menyebabkan hal-hal yang fatal.
Sarana dan prasarana puskesmas dalam pelayanan kefarmasian masih
perlu peningkatan. Keterbatasan sarana dan prasarana pelayanan kefarmasian di
Puskesmas. Tempat penerimaan resep, pelayanan dan peracikan resep, penyerahan
obat, pelayanan informasi obat memadai, ruang tunggu karena masih dilakukan
pada satu tempat dalam satu ruangan. Belum adanya ruang tunggu yang nyaman
bagi pasien, dimana ruang tunggu masih berada dalam apotek yang cukup sempit.
Hal ini mengakibatkan ketidaknyamanan pada pasien yang pada akhirnya merujuk
pada tingkat kepuasan pasien di pelayanan kefarmasian belum maksimal.
Pada ruang penyimpanan obat (gudang obat) belum adanya pengatur
kelembaban dan pengukur suhu untuk mencegah terjadinya kerusakan obat, hal

31

ini mengakibatkan suhu ruangan yang tidak terpantau dengan baik yang
mengakibatkan tidak terjaminnya stabilitas obat selama penyimpanan.
Belum adanya lemari penyimpanan khusus obat golongan narkotika dan
psikotropika, dimana penyimpanan obat golongan narkotika dan psikotropika
diletakkan di rak bersama dengan obat-obat yang lain. Hal ini mengakibatkan
keamanan narkotika dan psikotropika tidak terjamin.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil dari kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) Tenaga
Teknis Kefarmasian di Puskesmas Maron, dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:

32

1. PKL Tenaga Teknis Kefarmasian adalah sarana pelatihan kerja yang


sangat bermanfaat bagi Diploma III Tenaga Teknis Kefarmasian guna
mempersiapkan diri sebagai bekal pengalaman di dunia kerja sehingga
siap menjadi tenaga yang profesional dalam bidang kefarmasian.
2. Kegiatan Pelayanan Kefarmasian yang telah dilakukan adalah pelayanan
administrasi yang meliputi perencanaan, permintaan, penerimaan,
penyimpanan, pendistribusian dan pencatatan/pelaporan serta pelayanan
farmasi klinik.
5.2

Saran
1. Puskesmas Maron hendaknya dapat menambah jumlah personil Tenaga
farmasi agar dapat melaksakan pelayanan kefarmasian yang optimal.
2. Untuk gudang obat belum adanya pengatur kelembaban dan pengukur
suhu, sehingga perlu pengadaan pengatur kelembaban dan pengukur suhu
agar obat tidak lembab dan rusak.
3. Untuk penyimpanan obat golongan psikotropika dan narkotika harus
lebih sesuai tempat penaruhannya, sehingga perlu pengadaan lemari
penyimpanan narkotika agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
4. Dalam hal distribusi obat sebaiknya menggunakan wadah khusus untuk
distribusi obat-obat termolabil baik itu dari gudang ke instalasi farmasi
maupun dari instalasi ke maupun ke unit pelayanan lain.

33