Anda di halaman 1dari 37

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Salah satu bidang peternakan di Indonesia yang terus menunjukkan
peningkatan setiap tahunnya adalah peternakan ayam pedaging (broiler). Faktor
penyebab peningkatan ini adalah kemampuan tumbuh ayam pedaging (broiler) yang
cepat sehingga dapat dipanen dalam waktu sekitar 30-40 hari, nilai ekonomis bibit,
mempunyai nilai gizi yang berkualitas, sumber protein dan energi serta produknya
disukai dan dapat diterima oleh konsumen (Susilorini,2008) .
Kemajuan bidang peternakan ayam pedaging ini tentu disertai dengan
berbagai kendala diantaranya adalah penyakit. Berbagai penyakit yang sering timbul
antara lain adalah infectious bronchitis (IB), infectious bursal disease (IBD) ,
Newcastle disease (ND), infectious coryza dan lain-lain. Diantara penyakit tersebut
salah satu penyakit yang cukup ditakuti oleh para peternak ayam broiler adalah
infectious bursal disease (IBD) atau yang lebih kita kenal dengan penyakit Gumboro
(Gumboro disease). Infectious bursal disease (IBD) merupakan penyakit virus akut
yang sangat menular. Penyakit ini ditemukan hampir di setiap daerah peternakan
ayam intensif di seluruh pelosok dunia. Infectious bursal disease adalah penyakit
yang sering menyerang ayam muda yang disebabkan oleh Infectious bursal disease
viruses (IBDV), virus dari genus Avibirnavirus yang memiliki double stranded
segmen RNA. Penyakit gumboro ini biasanya menyerang ayam muda. Penyakit ini
mulai mewabah diindonesia kira-kira sejak tahun 1991 dan menyebar diberbagai
daerah diindonesia terutama pada daerah yang mempunyai populasi ternak yang
besar. Pada suatu peternakan unggas jika pernah terserang penyakit gumboro
biasanya akan terkena infeksi oleh lagi. Penyakit ini juga mempunyai angka
mortalitas dan morbiditas yang bervariasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian gumboro diindonesia antara lain:
Manajemen ( DOC, pakan, umur, kandang, sanitasi, desinfeksi), sistem transportasi
dan peralatan produksi. Virus yang menyebabkan gumboro, dapat mengalami
1

modifikasi genetik sehingga dapat muncul virus bersifat pathogenic variant.


Diindonesia walaupun telah dilakukan vaksinasi dengan berbagai jenis vaksin namun
kejadian kasus gumboro masih tinggi. Penyakit IBD sangat penting dalam industri
ayam pedaging karena dapat menyebabkan imunosupresi sehingga mengakibatkan
penyakit lain dengan mudahnya menginfeksi ayam tersebut.
Koksidiosis adalah salah satu penyakit protozoa yang penting dalam dunia
peternakan yang disebabkan oleh genus Eimeria. Penyakit ini dapat menjadi infeksi
primer, dapat pula menjadi ineksi sekunder yang disebabkan menurunnya system
imun ayam. Infeksi koksidia dan selama siklus hidup yang berasa di mukosa usus,
menyebabkan destruksi epitel

yang diikuti dengan peradangan, menghasilkan

perubahan patologi lokal, penurunan nafsu makan, kekurangan darah dan penurunan
absorpsi nutrient penting untuk tubuh ayam (Shaban, 2012).
Riwayat Kasus
Pada tanggal 16 Desember 2015 telah dilakukan eutanasia dan nekropsi pada
seekor ayam broiler jantan milik Pak Muhawi yang beralamat di Kalibawang,
Kulonprogo, DIY.
Berdasarkan anamnesa diketahui populasi 3000 ekor, kandang panggung,
pakan BR-1 buatan pabrik, sumber air berasal dari sumur, vaksin IBD diumur 3 hari,
Vaksin ND-IB live dan ND killed umur 14 hari, belum dilakukan pengobatan. Ayam
terlihat lemah, lesu, nafsu makan menurun, kloaka kotor, feses ternoda darah,
morbiditas 90 %, mortalitas 20 %.
Tujuan
Tujuan dari Koasistensi Diagnosa Laboratorik ini adalah untuk mengetahui
penyebab penyakit pada ayam broiler dengan melakukan pemeriksaan patologi,
parasitologi, mikrobiologi, dan patologi klinik. Dari pemeriksaan tersebut, diharapkan
dapat memberikan informasi kepada pemilik sehingga dapat dilakukan tindakan
pencegahan terhadap penyakit ayam broiler.
2

TINJAUAN PUSTAKA
Infectious Bursal Disease
Etiologi
Infectious bursal disease (IBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh
Infectious bursal disease viruses(IBDV) dari genus Avibirnavirus, family
Birnaviridae (Eterradossi dan Saif, 2008). Virus tersebut tidak mempunyai envelope,
berbentuk icosahedral dengan diameter 60 nm. Virus IBD merupakan virus RNA utas
ganda, genomnya terbagi menjadi dua segmen. Segmen A memiliki panjang 31293260 bp dan segmen B dengan panjang 2795-2827 bp. Virion mengandung 5 macam
protein yang dikenal VP2, VP3, VP4 dan VP5 (segmen A) dan VP1 (Segmen B)
(Murphy,et all, 1990). Virus IBD sangat stabil pada berbagai kondisi fisik dan agen
kimiawi. Virus IBD resisten terhadap eter dan kloroform, dapat tahan terhadap pelarut
organik tetapi peka terhadap formalin dan kelompok iodofor . Virus dapat diinaktifasi
pada pH 12. Virus ini akan tetap hidup pada suhu 60 0C selama 30 menit, tetapi akan
mati pada suhu 700C selama 30 menit (Eterradossi dan Saif , 2008).
Patogenesis
Jaringan limfoid merupakan target utama virus IBD dengan bursa fabricius
sebagai organ targetnya. Virus IBD juga menyerang organ limpa, tonsil-sekum dan
timus. Pada 4-5 jam post infeksi, virus terlihat dalam makrofak dan sel limfatik
duodenum, jejenum dan sekum. Duodenum, jejenum, dan sekum merupakan tempat
pertama untuk virus berreplikasi. Setelah replikasi terjadi, melalui vena porta virus
kemudian menuju ke hati setelah 5 jam post infeksi yang merupakan viremia primer .
Sel kupfer didalam hati menangkap dan memfagosit partikel virus. Virus yang tidak
terfagosit oleh sel kupfer menuju bursa fabricius melalui pembuluh darah. Sel
limfosit B immature dalam folikel menjadi sel target untuk replikasi IBDV. Folikel
bursa positif terdapat IBDV setelah 13 jam post infeksi . Adanya kerusakan sel-sel
limfoid dari bursa Fabricius sebagai akibat infeksi virus penyebab Gumboro,
3

mengakibatkan adanya penurunan jumlah produksi sel B oleh bursa fabricius, yang
selanjutnya akan berakibat pada terjadinya penurunan reaksi pembentukan zat kebal
tubuh. Enam belas jam post infeksi akan terjadi replikasi virus lebih besar sehingga
menyebabkan viremia sekunder ke organ limfoid lainnya. Gejala klinis dan kematian
biasanya terjadi dalam 64-72 jam post infeksi, (Murphy, et all, 1990). Adanya
kerusakan folikel bursa Fabricius, menyebabkan kemampuan organ tersebut dalam
menghasilkan zat kebal tubuh untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh
mikroorganisme patogen lainnya menjadi kurang optimal, sehingga ayam menjadi
peka dan mudah terserang berbagai macam penyakit
Gejala Klinis
Rute utama penyebaran virus IBD melalui rute oral bersama pakan yang
tercemar virus IBD (Quinn dkk., 2002). Setelah masa inkubasi 2-3 hari, maka ayam
akan mengalami viremia dan demam (Murphy, et all,

1990). Gejala awal yang

terlihat adalah kecenderungan sejumlah ayam untuk mematuk daerah kloaka dan
sekitarnya (Tabbu, 2000). Gejala ini akan diikuti oleh ayam lesu, nafsu makan
menghilang, dan sayap menggantung (Park dkk., 2009 dan Acribasi dkk., 2010).
Selain itu juga sering ditemukan gejala diare encer berwarna keputihan, depresi,
tremor serta kotoran yang menempel pada kloaka (Parede dkk., 2003 dan Tabbu,
2000).
Menurut Tabbu (2000), kasus IBD dibagi menjadi 2 bentuk yaitu infeksi dini
dan infeksi tertunda. Infeksi dini terjadi pada anak ayam umur 1 sampai 21 hari
sedang infeksi yang tertunda pada ayam umur 3 minggu ke atas (3 sampai 10
minggu). Kasus IBD sering pula ditemukan pada ayam yang berumur > 10 minggu
(sekitar 16 minggu), selama bursa fabricius masih berfungsi.
Mortalitas pada kasus IBD sangat bervariasi. Virus galur variant tidak
menimbulkan mortalitas, namun strain klasik dan very virulent virus IBD dapat
menyebabkan mortalitas 10-50% dan 50-100% pada ayam muda peka (Eterradossi
dan Saif , 2008). Pada ayam yang bertahan hidup, pertumbuhan menjadi terhambat
4

dan seringkali ditemukan gejala penyakit lain seperti Newcastle Disease (ND),
kolibasilosis, koksidiosis (Muller dkk., 2003). Infeksi pada ayam yang mempunyai
antibodi maternal menunjukkan gejala sub klinis, namun lesi terlihat secara
histopatologik (Eterradossi dan Saif ,2008).
Perubahan Patologi
Perubahan Makroskopik. Pada awalnya bursa fabricius akan mengalami oedema
dan congesti sehingga ukurannya menjadi lebih besar hingga 2 kali ukuran normal
dan mencapai puncaknya pada hari keempat pasca infeksi (Tabbu, 2000). Ditemukan
adanya eksudat pada lumen bursa yang awalnya berwarna kemerahan dan berubah
menjadi kekuningan (Parede dkk., 2003). Pada hari ke-8 infeksi strain very virulent
IBDv (vvIBDv), bursa akan mengalami atropi dan ukurannya akan menurun sampai
1

/3 dari ukuran normal, demikian juga pada 14 hari pasca infeksi. Jika terjadi

kesembuhan, bursa fabricius akan kembali ke ukuran semula pada hari 21 pasca
infeksi (Eterradossi dan Saif ,2008 dan Tabbu, 2000).
Perubahan Mikroskopik. Perubahan histologik akibat virus IBD dapat ditemukan
pada organ limfoid, meliputi bursa fabricius, limpa, timus, kelenjar harderian, dan
tonsil sekalis (Tabbu, 2000). Strain virus vvIBD menyebabkan lesi yang parah pada
limpa, timus, bursa fabricius, hati, ginjal, jantung, proventrikulus, ventrikulus, dan
seka tonsil. Perubahan yang paling parah ditemukan pada bursa fabricius (Park dkk.,
2009).
Pada hari ke-1 pasca infeksi akan terlihat degenerasi dan nekrosis limfosit di
daerah medulla folikel bursa fabricius. Tahap selanjutnya terjadi penurunan jumlah
sel limfoid pada folikel bursa fabricius bahkan beberapa folikel bursa fabricius
terlihat kosong (Acribasi dkk., 2010). Limfosit yang telah mengalami nekrosis akan
segera digantikan oleh sel heterofil, hancuran sel, dan sel-sel retikuloendotelial yang
telah mengalami hyperplasia (Tabbu, 2000). Infiltrasi heterofil mulai teramati pada
hari ke-2 dan ke-3 pasca infeksi (Acribasi dkk., 2010), sedangkan populasi makrofag
5

meningkat 1 sampai 5 hari pasca infeksi (William and Davison, 2005). Lesi bursa
fabricius juga ditandai dengan adanya oedema dan pengosongan sel limfoid pada
folikel bursa fabricius (Park dkk., 2009). Replikasi virus mengakibatkan kerusakan
yang parah pada bagian medulla dan korteks bursa fabricius. Tejadinya apoptosis
pada sel B di sekitar sel terinfeksi memperparah perubahan morfologi bursa fabricius
(Tizard, 1987).
Diagnosa
Isolasi dan identifikasi virus IBD dapat dilakukan dengan menggunakan telur
ayam berembrio usia 9-11 hari.

Inokulasi virus dilakukan melalui rute

Chorioallantoic membrane (CAM ) (Purchase et all, 1989). Virus IBD galur variant
dapat menyebabkan perubahan pada embrio meliputi splenomegali dan nekrosis pada
hati yang disertai dengan tingkat mortalitas yang rendah. Virus IBD juga dapat
diisolasi pada kultur jaringan, yang terdiri atas limfosit B dan chicken embryo
fibroblast (CEF). Pemeriksaan antibodi terhadap virus IBD dapat dilakukan dengan
uji serologis, meliputi uji ELISA, VN dan AGP (0IE, 2008)
Pencegahan dan Terapi
Listyawati (2002) menyatakan, pengendalian Gumboro pada ayam dapat
dilakukan dengan pengamanan biologis ketat dan pelaksanaan berbagai aspek
manajemen secara optimal untuk menghilangkan sumber infeksi, termasuk vaksinasi
pada tingkat breeder maupun komersial. Seiring dengan berkembangnya vvIBDV
(very virulent Infectious Bursal Disease Virus) beberapa perubahan pada vaksinasi
IBD secara konvensional sangat diperlukan. Perlu diingat bahwa kualitas vaksin
ditentukan oleh cara pembuatan vaksin, distribusi dan penyimpanan vaksin,
kemampuan vaksin menggertak kekebalan ayam dan masa kadaluarsa vaksin. Selain
dari masalah kualitas vaksin, yang harus diperhatikan peternak adalah cara pemberian
vaksin atau metode vaksinasi akan sangat mempengaruhi hasil vaksinasi. Selain itu
faktor lain yang memegang andil keberhasilan vaksinasi adalah keterampilan
6

vaksinator yang terlatih, peralatan vaksinasi beserta sarana maupun prasarana


peternakan ayam yang mendukung, dan status kesehatan ayam sewaktu pelaksanaan
vaksinasi. Semua parameter tersebut di atas memegang kunci penting dalam
penanggulangan penyakit IBD .
Koksidiosis
Etiologi
Koksidiosis adalah penyakit pada hewan yang disebabkan oleh Eimeria sp.
Parasit ini tergolong filum Apicomplexa, kelas Sporozoea, subklas Coccidia, ordo
Eucocidiidae, sub ordo Eimeriina, genus Eimeria. Ookista dari genus ini berisi 4
sporokista, masing-masing dengan sporozoit setelah matang (Gharekhani J,et all,
2014). Koksidia terdapat banyak pada burung-burung piaraan maupun liar yang
dapat menyebabkan penyakit berat pada ayam, angsa dan kalkun. Ada delapan hingga
sepuluh

spesies koksidia yang menyerang ayam piaraan, diantaranya : Eimeria

tenella, E. necatrix, E. acervulina, E. maxima, E. brunette, E. hagani, E. mitis, E.


mivati dan E. praecox. (Gerhold, 2014)

Patogenesis
Infeksi terjadi dengan ditemukannya oosista yang telah bersporulasi. Untuk
terjadinya sporulasi ini diperlukan tempat yang cocok, O 2 yang cukup, kelembaban
yang sedang dan temperatur yang hangat, diperlukan waktu 48 jam. Sporulasi lebih
cepat 28 C dan tidak terjadi sporulasi pada suhu 8 C. Waktu yang diperlukan untuk
bersporulasi minimal 18 jam pada suhu 29 C, 21 jam pada suhu 26,5 28 C dan 24
jam pada suhu 32 C. Sporulasi sempurna dicapai pada waktu 22 24 jam pada suhu
29 C. Oosista akan pecah dan melepaskan sporosista akibat kontraksi ventriculus,
rangsangan karbondioksida, enzim tripsin dan cairan empedu dalam usus kecil.

Sporozoit yang masuk akan menembus epithel, kemudian menembus membran dasar,
menuju tunika propria. Didalam sel epitel, sporozoit menjadi tropozoit dalam waktu
24 jam dan memperbanyak diri secara aseksual dengan skizogoni dan menghasilkan
skizon generasi pertama. Adanya perdarahan hebat yang disebabkan pecahnya
pembuluh darah sekum karena desakan skizon generasi kedua, skizon generasi kedua
pecah dan merozoit keluar dan masuk kedalam lumen usus. Sporozoit akan
berkembang menjadi stasium seksual yaitu makrogamet dan mikrogamet. Fertilisasi
akan menghasilkan zygot yang akan berkembang menjadi oosista dan dikeluarkan
bersama feses (Gerhold, 2014).
Siklus hidup

Gambar 1. Morfologi, predileksi dan lesi yang ditimbulkan oleh Eimeria.sp


yang sering menginfeksi unggas (Anonim 1, 2012)
Eimeria maxima
Ditemukan pada usus halus ayam di seluruh dunia. Oosista ovoid 21-42X1630 m. Waktu sporulasi 30 jam - 2 hari. Meront berlokasi di atas inti sel hospes. Ada
3 generasi meront yaitu generasi I terbentuk 48 jam setelah infeksi, Generasi II pada
hari ke 3, generasi III terbentuk pada hari ke 4. Stadium seksual ditemukan di bawah
inti sel hospes. Periode prepaten 5-6 hari. Eimeria ini merupakan spesies patogenitas
rendah. Luka utama adalah hemoragi di usus halus. Terdapat enteritis kataralis,isi
usus kental merah muda-tua, kadang disertai bercak darah.
Eimeria brunetti
Biasa ditemukan di usus halus ayam. Oosista ovoid 14-34 X 12-26 m.
Dinding licin dan tidak ada mikropil. Waktu sporulasi 18 jam - 2 hari. Periode
prepaten 6-7 hari Ada 3 generasi meront. Pada infeksi hebat dinding usus menebal,
eksudat kataral merah muda pada 4-5 hari setelah infeksi. Tinja cair dan bercampur
darah disertai lisis sel. Pada infeksi awal terdapat hemoragi yang melanjut menjadi
nekrotik enteritis.
Eimeria mitis
Ditemukan pada usus halus ayam di seluruh dunia. Oosista agak bulat: 1021X9-18 m. Waktu sporulasi 18 jam - 2 hari. Stadium endogen ada didalam sel-sel
vili. Perbedaan dengan spesies lainnya adalah bahwa stadium seksual dan aseksual
terjadi bersama-sama. Periode prepaten 4-5 hari, spesies ini merupakan spesies yang
kurang pathogen.
9

Eimeria necatrix
Ditemukan pada usus halus ayam di seluruh dunia. Oosista ovoid 12-29 X 11 24 m. Waktu sporulasi 18 jam - 2 hari. Ayam terinfeksi karena makan oosista
bersporulasi. Ada 3 generasi meront : G I : 2,5-3 hari stih infeksi., G II : 5 - 8 hari
setelah infeksi. Periode prepaten 6-7 hari. E.necatrix merupakan penyebab
koksidiosis menahun dengan efek jaringan parut dalam usus halus lebih lama. Sarang
kecil putih ditemukan pada hari ke 4 setelah infeksi. Usus halus dapat mebengkak
berisi darah dan material beku. Dinding usus sangat menebal dan kehilangan sifat
kontraktilnya. Kematian terjadi 5-7 hari setelah infeksi.

Gejala Klinis
Infeksi dini koksidiosis biasanya ditunjukkan adanya feses ayam yang
berwarna coklat gambir dengan konsistensi semacam pasta atau sedikit encer. Gejala
klinis yang ditunjukkan ayam yang terserang koksidiosis antara lain nafsu makan
turun, pertumbuhan terhambat, ayam terlihat pucat, bulunya kusam dan depresi.
Perdarahan di usus itu disebabkan robeknya pembuluh darah di epithel
oleh schizont atau merozoit saat menembus menuju lumen usus. Perdarahan ini
biasanya terlihat pada hari ke-4 pasca infeksi dan hari ke-5-6 perdarahan terlihat lebih
banyak (terjadi perdarahan hebat di usus). Jika tidak mati, ayam akan memasuki fase
penyembuhan pada hari ke-8-9. Lokasi dan tingkat keparahan perdarahan berbedabeda antar spesies Eimeria sp (Gerhold, 2014)
Perubahan Patologi
Perubahan makroskopik dan mikroskopik yang ditimbulkan berbeda-beda tergantung
speciesnya .
10

1. Eimeria acervulina
Mukosa usus tipis dan tertutup oleh plak berwarna putih, usus berwarna pucat
dan mengandung cairan. Pada infeksi ringan, lesi terbatas hanya di dudodenum.
Namun pada infeksi berat lesi terlihat sepanjang usus. Pada pemeriksaan
mikroskopik terlihat adanya makrogamet dan mikrogamet pada epitel mukosa.
Pada
2.

infeksi

berat,

vili

rusak

dan

mukosa

mengalami

penebalan.

Eimeria brunetti
Pada infeksi ringan, terlihat perdarahan petechie di mukosa. Sedangkan pada

infeksi berat mukosa rusak dan terdapat nekrosis koagulasi di seluruh mukosa
usus. Pemeriksaan histopatogis, terlihat adanya skizon dan infiltrasi sel radang
pada usus bagian depan.
3.

Eimeria maxima

Terlihat enteritis ringan sampai berat pada jejunum dan ileum, kadang-kadang
disertai penebalan dinding usus. Secara mikroskopik oosista sangat besar dan
berwarna kuning keemasan, terlihat edema dan infiltrasi sel radang pada mukosa
usus.
4.

Eimeria mitis
Ileum terlihat pucat dan lunak. Secara mikroskopik ditemukan skizon dan

gametosit
5.

pada

superficial

mukosa.

Oosista

bulat

dan

kecil.

Eimeria mivati
Pada awal infeksi, terlihat lesi di duodenum dan dapat melanjut sampai sekum

dan kloaka. Lesi yang ditimbulkan mirip dengan Eimeria acervulina.


6.

Eimeria necatrix
Usus bagian tengah akan membengkak, mukosa menebal dan lumen terisi

cairan darah dan hancuran jaringan. Terlihat plak atau perdarahan petechie pada
bagian serosa.
7.

Eimeria praecox
Perubahan makroskopik terlihat lumen berisi cairan kadang-kadang

mengandung mukus. Terlihat hemoragi petechie pada bagian mukosa duodenum.


11

8.

Eimeria tenella
Terlihat hemoragi petchie pada bagian serosa, dinding sekum menebal dan

kadang-kadang terdapat massa mengkeju di lumen sekum. Secara mikroskopik,


terjadi infiltrasi heterofil pada submukosa, skizon pada lamina propria. Pada
infeksi berat terjadi kerusakan jaringan, kelenjar sekum, lapisan mukosa maupun
muskularis. (Gerhold, 2014)
Diagnosa
Dilakukan dengan cara menemukan koksidia melalui pemeriksaan feses.
Diagnosa dapat dilakukan dengan melihat gejala klinis apabila infeksi berat (diare
berdarah). Nekropsi

pada hewan yang mati, mukosa usus dikerok,ditambahkan

sedikit Nacl fisiologis kemudian dilihat di bawah mikroskop. Sporulasi dilakukan


dengan memasukan feses ke dalam larutan Kalium Bikhromat 2,5 % dalam cawan
petri. Kemudian diidentifikasi bentuk dan waktu sporulasi. Kerokan epitel usus juga
perlu dilakukan untuk menemukan koksidia dan lokasi perdarahan. Perhitungan Oosit
per gram (OPG) dapat dilakukan untuk melihat tingkat keparahan yang ditimbulkan
(Gussem, 2007)
Pencegahan dan Terapi
Oosista koksidia sangat tahan terhadap lingkungan yang tidak akan
bersporulasi jika tidak ada oksigen. Antiseptik tidak efektif terhadap koksidiosis.
Oosista dapat dirusak oleh sinar ultraviolet. Ayam yang dipelihara di atas panggung
sangat sedikit dicemari koksidiosis

daripada dipelihara di atas lantai. Apabila

berjangkit, ayam harus dipisahkan dari kelompoknya, sisanya diobati dengan


koksidiostat. Pemberian vaksin koksidiosis (Coccivax)

yang berisi oosista E.

acervulina, E. brunneti, E. hagani, E. maxima, E. mivati, E. praecox, E. necatrix, E.


tenella dalam air minum pada ayam umur 4-10 hari mampu mengebalkan ayam
(Anonim 2, 2008).

12

MATERI DAN METODE


Materi
Materi yang digunakan pada kasus ini adalah seekor ayam broiler yang
berumur 26 hari dengan nomor protokol A-431. Peralatan yang digunakan adalah
seperangkat alat nekropsi hewan meliputi nampan plastik, object glass, deck glass,
spuit, tabung Eppendorf, seperangkat alat untuk nekropsi (gunting, scalpel, pinset,
gunting tulang), plastik, cawan petri, gelas beker, mortir, pipet, tabung reaksi, tabung
ukur, konikel, mikroskop, pipet leukosit, pipet eritrosit, kamar hitung, sentrifus,
mikrohematokrit, mikropipet, TS-meter, dan spektrofotometer.
Bahan

yang

digunakan

dalam

pemeriksaan

ini

adalah

ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA), methanol, giemsa, buffer fosfat, NaCl


fisiologis, kalium bikromat, gula jenuh, reagen Rees Ecker, minyak emersi, formalin
10%, phosphate buffer saline (PBS), antibiotik (Chloramphenicol), antifungal
(Ketoconazole), dan telur ayam berembrio (TAB) umur 10 hari.
Metode
Metode yang digunakan meliputi anamnesa, pemeriksaan fisik dan
pengambilan darah yang dilakukan sebelum ayam dieuthanasi. Anamnesa dilakukan
dengan sistem tanya jawab dengan pemilik mengenai keadaan hewan sebelum
dinekropsi. Sesaat sebelum dinekropsi dilakukan pemeriksaan fisik terhadap hewan
yang akan dinekropsi dan diamati gejala klinis yang timbul. Setelah pemeriksaan
fisik, dilakukan pengambilan darah melalui vena brachialis menggunakan spuit 3 cc.
Sebelumnya, lokasi pengambilan darah diolesi dengan alkohol 70% agar steril dan
meningkatkan vasodilatasi vena. Kemudian, jarum dimasukkan ke dalam vena
13

dengan sudut 45o. Pada saat pengoleksian darah, dilakukan handling pada ayam untuk
mengurangi gerakan ayam yang dapat melaserasi vena, dan menimbulkan hematoma
atau lebih parah, terjadi perdarahan. Setelah pengoleksian sampel darah selesai
dilakukan, diletakkan kapas diatas lokasi pengambilan darah dan sayap ayam
dikembalikan seperti normal untuk menjaga tekanan darah (Samour, 2013).
Sampel darah segar yang didapat, dibuat preparat apus darah dengan cara
meletakan satu tetes darah diatas object glass, kemudian darah diapuskan dengan
object glass lainnya dengen sudut 30-40o. Selanjutnya, difiksasi dengan methanol
hingga kering dan dicat dengan Giemsa. Sebanyak 0.5-1 ml sampel darah
dimasukkan

ke

dalam

tabung

Eppendorf

yang

telah

berisi

antikogulan

ethylenediaminetetra-acetic acid (EDTA) (1.5 mg/ml darah) (Samour, 2013).


Preparat apus darah digunakan untuk menghitung diferensial leukosit dan
pemeriksaan parasit darah. Sampel darah yang diberi antikoagulan EDTA digunakan
untuk pemeriksaan darah rutin. Pemeriksaan darah rutin yang dilakukan meliputi
penghitungan jumlah total eritrosit dan leukosit, protein plasma (TPP), fibrinogen,
kadar hemoglobin (Hb). Perhitungan Mean Corpuscular Volume (MCV), Mean
Corpuscular

Haemoglobin

(MCH)

dan

Mean

Corpuscular

Haemoglobin

Concentration (MCHC) dilakukan jika terjadi anemia untuk mengetahui klasifikasi


jenis anemia.
Euthanasi dilakukan dengan cara emboli intrakardial yaitu dengan
memasukkan spuit berisi udara ke dalam jantung. Setelah ayam mati, dilakukan
nekropsi dengan membuka rongga tubuh ayam. Setelah rongga tubuh terbuka, amati
perubahan makroskopis pada organ-organ dalam. Organ yang dicurigai terdapat
perubahan, dipotong dan dimasukkan dalam pot organ yang berisi formalin 10%.
Sampel ini berguna untuk pemeriksaan mikroskopik dengan pembuatan preparat
histopatologi dari organ-organ yang dicurigai mengalami perubahan (Tadrous, 2007).
Penghitungan Packed Cell Volume (PCV) ditentukan dengan menghitung
nilai PCV menggunakan hematocrit reader. Darah yang telah mengandung EDTA
diambil menggunakan mikrohematokrit. Mikrohematokrit disumbat pada ujungnya,
14

kemudian disentrifuse selama 5 menit dengan kecepatan 3000 rpm lalu dibaca dengan
hematocrit reader. Perhitungan PCV merupakan salah satu analisis hematologi yang
penting karena PCV menunjukkan hasil objektif dalam mengestimasi jumlah eritrosit
pada sampel. Penggunaan PCV juga esensial untuk perhitungan mean corpuscular
volume (MCV) dan mean corpuscular hemoglobin concentration (MCHC) (Samour,
2013).
Nilai Total Protein Plasma (TPP) dihitung dengan memotong lapisan plasma
pada mikrohematokrit yang telah digunakan untuk penghitungan nilai PCV. Plasma
tersebut kemudian diteteskan pada TS-meter untuk dibaca hasilnya (Harvey, 2001).
Pengukuran

nilai

fibrinogen

dilakukan

dengan

memanaskan

mikrohematokrit yang sebelumnya digunakan untuk penghitungan nilai PCV.


Mikrohematokrit dipanaskan dalam waterbath bersuhu 56-58oC selama 2 menit,
kemudian disentrifus lagi selama 5 menit dengan kecepatan 3000 rpm.
Mikrohematokrit dipatahkan dan plasma diteteskan pada TS-meter untuk dihitung
nilai TPP. Nilai fibrinogen didapatkan dengan mencari selisih antara TPP awal
(sebelum dipanaskan) dengan TPP akhir (setelah dipanaskan) (Harvey, 2001).
Pada metode pengukuran hemoglobin secara manual, sangat esensial
dilakukan penghilangan nukleus, karena adanya nukleus dapat menyebabkan hasil
yang tidak valid. Nukleus dapat dihilangkan melalui sentrifugasi berkecepatan
lambat. Namun, karena beberapa hemoglobin masih dapat berikatan dengan nukleus
maka dapat diatasi dengan mengestimasi hemoglobin sebagai cyanmethemoglobin
menggunakan larutan Drabskin cyanide-ferricyanide atau sebagai oxyhemoglobin
menggunakan larutan amonia (Samour, 2013).
Proses dimulai dengan menyiapkan 2 tabung reaksi khusus. Tabung pertama
diisi dengan larutan Drabkin sebanyak 5 ml dan digunakan sebagai blanko. Tabung
kedua diisi dengan 5 ml larutan Drabkin dan ditambah dengan 0,02 ml darah,
kemudian divortex dan disentrifus. Pembacaan dilakukan dengan menggunakan
spektrofotometer dengan panjang gelombang 540 nm yang sebelumnya telah
dikalibrasi dengan menggunakan blanko. Tabung kedua dimasukkan setelah alat
15

selesai dikalibrasi. Pembacaan dilakukan dengan melihat jarum yang ada pada alat
tersebut. Angka yang ditunjuk jarum kemudian dikonversikan dengan menggunakan
tabel yang sudah tersedia untuk mengetahui nilai Hb (Harvey, 2001).
Penghitungan total eritrosit dilakukan dengan menggunakan hemositometer.
Proses dimulai dengan mengambil sampel darah yang sudah dicampur EDTA dengan
pipet Thoma eritrosit sampai angka 0,5 kemudian dilanjutkan dengan menghisap
reagen NaCl fisiologis sampai angka 101 (pengenceran 200 kali). Pipet Thoma
kemudian digoyang-goyang minimal 20 kali hingga darah dengan reagen tercampur
sempurna. Setelah tercampur, 2-3 tetes pertama campuran dibuang, kemudian
diteteskan pada kamar hitung hemositometer yang sebelumnya telah ditutup dengan
deck glass, dan periksa dengan mikroskop. Daerah yang akan dihitung dicari dengan
melihat kamar hitung dengan menggunakan perbesaran lemah. Daerah penghitungan
eritrosit terletak dalam kotak besar di tengah yang didalamnya terdapat 25 kotak
kecil. Mikroskop kemudian dialihkan ke perbesaran kuat. Eritrosit dihitung pada 5
kotak (kiri atas, kanan atas, kiri bawah, kanan bawah, dan tengah) yang masingmasing memiliki 16 kotak kecil. Jumlah eritrosit yang terhitung kemudian dikalikan
dengan 10.000 (Rosenfeld dan Dial, 2010).
Penghitungan total leukosit dilakukan dengan menggunakan hemositometer.
Proses dimulai dengan mengambil sampel darah yang sudah dicampur EDTA dengan
pipet Thoma leukosit sampai angka 0,5 kemudian dilanjutkan dengan menghisap
reagen Rees-Ecker sampai angka 11 (pengenceran 20 kali). Pipet Thoma kemudian
digoyang-goyang kurang lebih 3 menit hingga darah dengan reagen tercampur
sempurna. Setelah tercampur, 2-3 tetes pertama campuran tersebut dibuang. Sampel
tersebut kemudian diteteskan pada kamar hitung hemositometer yang sebelumnya
telah ditutup dengan deck glass. Hemositometer kemudian diletakkan di bawah
mikroskop. Daerah yang akan dihitung dicari dengan melihat kamar hitung dengan
menggunakan perbesaran lemah. Daerah penghitungan leukosit adalah 4 kotak besar
yang masing-masing di pojok kanan atas, kanan bawah, kiri atas, dan kiri bawah yang
masing-masing terdiri dari 16 kotak kecil. Mikroskop kemudian dialihkan ke
16

perbesaran kuat untuk memudahkan penghitungan leukosit. Jumlah leukosit yang


terhitung kemudian dikalikan dengan 50 (Rosenfeld dan Dial, 2010).
Pemeriksaan parasitologi dilakukan menggunakan sampel feses, usus, apus
darah, dan ektoparasit. Pemeriksaan feses dilakukan dengan metode natif, sentrifus,
dan Mc Master. Metode natif dilakukan dengan cara menggerus sedikit feses dan
ditambah air secukupnya. Teteskan larutan tersebut di atas obyek gelas dan tutup
dengan deck glass, lalu amati di bawah mikroskop (10x10). Metode sentrifus
dilakukan dengan cara mencampur 2-3 gram feses dengan air, tuangkan ke dalam
tabung sentrifus bagian dan sentrifus selama 5 menit. Buang supernatan dan
tambahkan NaCl jenuh bagian tabung sentrifus serta diaduk dengan pengaduk.
Sentrifus kembali selama 5 menit, letakkan pada rak tabung dan tambahkan NaCl
jenuh diatas cairan hingga permukaannya cembung dan biarkan selama 3 menit.
Tempelkan obyek gelas pada permukaan cembung, balik dengan cepat dan segera
amati di bawah mikroskop (10x10). Metode Mc Master dilakukan dengan
memasukkan 1 gram feses ke dalam gelas beker dan tambahkan 14 ml air dan diaduk
hingga rata. Sebanyak 0,3 ml campuran feses ini dimasukkan ke dalam dobel obyek
gelas yang telah berisi 0,3 ml gula jenuh. Campuran tersebut, diaduk dengan jarum
dan diamkan selama 3 menit. Amati di bawah mikroskop (10x10) dan hitung telur
oosista. Hasilnya penghitungan dikalikan dengan 50. Pencarian parasit pada usus
dilakukan dengan cara memisahkan usus dari penggantungnya terlebih dahulu.
Kemudian usus dibuka secara perlahan menggunakan gunting dengan bagian gunting
yang tumpul berada di dalam lumen usus. Mukosa usus dikerok dengan
menggunakan punggung skalpel dan hasil kerokan ditampung di dalam tabung berisi
akuades, biarkan hingga terjadi pengendapan, supernatan dibuang dan diganti dengan
cairan fisiologis kemudian didiamkan beberapa saat supaya cacing mengendap.
Ulangi cara ini sebanyak 3 kali, lalu endapan dituang ke dalam cawan petri dan
lakukan pengamatan ada tidaknya cacing. Pencarian parasit darah dilakukan dengan
cara membuat preparat apus darah. Preparat apus darah kemudian difiksasi dengan
metanol dan dicat dengan larutan Giemsa selama 30-60 menit. Preparat kemudian
17

dikeringkan dan diamati di bawah mikroskop. Pemeriksaan ektoparasit dengan cara


memeriksa keberadaan ektoparasit pada kulit dan bulu (Levine, 1994).
Pemeriksaan mikrobiologi untuk isolasi dan identifikasi Infectious bursa;
disease viruses (penyebab IBD) menggunakan sampel bursa fabrisius. Tahapan isolasi
meliputi pembuatan suspensi virus, inokulasi suspensi virus pada telur ayam
berembrio (TAB), dan panen embrio dan membran korioallantois. Tahapan
identifikasi menggunakan metode Agar Gel Presipitation Test (AGPT) (Purchase
dkk., 1989).
Suspensi virus didapatkan dengan membuat suspensi 10% gerusan bursa
fabrisius dalam PBS. Suspensi tersebut kemudian disentrifus 3000 rpm selama 10
menit, diambil supernatan, lalu diberi antibiotik Chloramphenicol (50 g/ml) dan
antifungal Ketoconazole kemudian dibiarkan selama 2 jam pada suhu ruang.
Kemudian suspensi dapat disimpan pada suhu 4oC (Purchase dkk., 1989).
Inokulasi virus dilakukan pada TAB yang negatif terhadap antibodi IBD.
Telur ayam berembrio umur 10 hari sebelumnya disiapkan, diteropong untuk melihat
viabilitas dari embrio kemudian diberi tanda pada kantung udara dan letak embrio.
Telur kemudian dilubangi pada kedua titik tersebut, satu diatas kantung udara dan
yang lain di daerah letak embrio. Bagian tersebut didesinfeksi dengan iodine sebelum
dilubangi untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Setelah terbentuk lubang baru
dilakukan pembentukan rongga udara baru pada daerah yang terdapat embrio untuk
medapatkan Chorioallantoic membrane (CAM). Telur ditempatkan pada posisi
horizontal setelah kedua sisi terbentuk lubang. Pada sisi lubang pertama (kantung
udara) diberi alat, rubber tubing untuk menarik udara yang ada di dalam telur
sehingga pembentukan kantong CAM yang ada di bagian sisi horizontal telur dapat
terlihat lebih baik. Penarikan udara dilakukan secara hati-hati. Peneropongan telur
dapat dilakukan untuk memastikan apakah CAM telah terbentuk (Purchase dkk.,
1989).
Setelah rongga udara baru terbentuk (CAM), sampel terduga virus IBD
kemudian diinokulasikan ke dalam CAM sebanyak 0,2 cc melalui lubang tersebut.
18

Proses akhir yaitu menutup lubang dengan cairan paraffin encer. Telur kemudian
dimasukkan ke dalam inkubator dengan posisi horizontal dengan rongga CAM berada
pada sisi sebelah atas. Masa inkubasi normal virus IBD pada CAM adalah 3-7 hari
(Rosenberger dkk., 2008).
Pemanenan virus diawali dengan melakukan desinfeksi pada semua telur
yang akan dipanen, alat pemanen, dan operator. Proses selanjutnya dilakukan dengan
memecah kerabang telur menjadi dua bagian sama besar secara horizontal
menggunakan gunting steril. Antara kerabang dan CAM dipisahkan dan dijaga agar
tidak ruptur pada proses ini. Proses selanjutnya yaitu memindahkan CAM dan embrio
ke cawan petri steril menggunakan pinset yang steril. Cairan allantois diabaikan
karena antigen terbanyak terdapat pada CAM dan embrio (Saif dkk., 2008). CAM dan
embrio dicuci hingga bersih menggunakan PBS steril dan diamati perubahan secara
makroskopik.
Suspensi virus terduga IBD hasil pasase yang telah siap diuji menggunakan
AGP. Tahapan uji AGP mengacu pada metode yang dilakukan oleh Raharjo, 2005.
Agar yang digunakan untuk uji ini yaitu 10 ml Purified Agar Semisolid 1% yang
mengandung 8% sodium azide dengan pH 7,2 0,1. Pengenceran dilakukan dengan
penambahan PBS steril. Setelah itu agar direbus hingga suhu mencapai sekitar 90 oC.
Agar diteteskan diatas permukaan kaca benda hingga rata pada saat agar masih panas
dan ditunggu hingga membeku. Pada permukaan agar dibuat sumuran (wells)
menggunakan suatu cetakan dengan diameter tiap sumuran 4mm. Jumlah sumuran
yang dibuat diseasuaikan dengan kebutuhan. Satu lubang di tengah untuk tempat
serum yang mengandung antibodi terhadap IBD, dan beberapa lubang yang
mengelilingi sebagai tempat suspensi virus terduga IBD. Jumlah serum yang
mengandung antibodi terhadap IBD dan suspensi virus terduga IBD yang akan diuji
sebanyak 5l sama banyak untuk tiap sumurannya. Agar gel tersebut kemudian
diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu ruang dengan diberi kapas basah pada bagian
dasarnya untuk menjaga kelembapan. Hasil positif ditunjukkan dengan adanya

19

presipitasi diantara sumuran yang mengandung antigen dan antibodi spesifik


(Mahmood, 2006).

HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Hasil Pemeriksaan Laboratorium Patologi Anatomi


Berdasarkan pemeriksaan patologi, maka broiler dengan nomor protokol A431 mengalami proventrikulitis kronis, pneumonia interstisialis kronis, hepatitis
kronis, typhlitis akut , nephritis interstisialis kronis, dan bursitis kloakalis kronis.
Hasil Pemeriksaan Laboratorium Parasitologi
Berdasarkan pemeriksaan Laboratorium Parasitologi, ayam broiler dengan
nomor protokol A-431 terinfestasi Eimeria tenella.
Hasil Pemeriksaan Laboratorium Mikrobiologi
Berdasarkan pemeriksaan Laboratorium Mikrobiologi, ayam broiler dengan
nomor protokol A-431 terisolasi dan teridentifikasi Infectious bursal disease viruses
(penyebab Infectious Bursal Disease).
Hasil Pemeriksaan Laboratorium Patologi Klinik
Berdasarkan pemeriksaan Laboratorium Patologi Klinik, ayam broiler dengan
nomor protokol A-431 mengalami polisitemia, heterofilia, eosinofilia, dan
limfopenia.

20

DISKUSI
Ayam broiler dengan nomor protokol A.431 diduga menderita Infectious
Bursal Disease dan Koksidiosis. Adanya dugaan penyakit tersebut didasarkan atas
gejala klinis yang didukung dengan hasil pemeriksaan berbagai organ baik secara
patologi maupun histopatologi dan dikonfirmasi dengan isolasi dan identifikasi agen
penyebab penyakit. Adapun organ-organ yang diamati perubahannya meliputi kulit,
jejunum, sekum dan bursa fabricius.
Pemeriksaan Laboratorium Patologi
Pulmo. Pemeriksaan makroskopis pulmo menunjukan warna merah kehitaman,
konsistensi kenyal dengan bidang irisan rata, dan uji apung melayang. Pemeriksaan
mikroskopis menunjukkan terjadi kongesti dengan infiltrasi eritrosit dan infiltrasi
limfosit diantara dinding para bronki yang bersifat muktifokal.

(a) (b)

21

Gambar 2. (a) Makroskopik pulmo , terlihat warna pulmo kehitaman . (b) Perubahan
mikroskopik menunjukkan adanya infiltrasi limfosit diantara dinding para
bronki yang bersifat multifocal.
Pulmo yang terinfeksi virus IBD menurut Eterradossi dan Saif (2008)
mengalami kongesti yang parah dan terdapat infiltrasi limfosit. Perubahan
makroskopik dan mikroskopik menurut literatur ini sesuai dengan perubahan yang
ditemukan pada kasus.
Hepar. Pemeriksaan makroskopis hepar menunjukan warna kecoklatan, tepi lobus
tumpul, konsistensi kenyal, dan bidang irisan rata. Pemeriksaan mikroskopis
menunjukkan adanya infiltrasi limfosit dan granulosit yang bersifat multifokal. Hepar
ayam yang diinfeksi virus IBD biasanya bengkak, kongesti sebagian yang
menimbulkan efek belang sampai nekrosis (OIE, 2008). Tepi lobus yang tumpul
mengindikasikan bahwa terjadi kebengkakan hati. Perubahan makroskopik dan
mikroskopik menurut literatur ini sesuai dengan perubahan yang ditemukan pada
kasus.
Proventrikulus. Pemeriksaan makroskopis proventrikulus menunjukkan mukosa
perbatasan proventrikulus dan ventrikulus mengalami nekrosis dan hemoragi dengan
diameter 3-4 cm. Pemeriksaan mikroskopis menunjukan adanya nekrosis dan
perdarahan, infiltrasi limfosit dan granulosit di pars mukosa. Menurut tabbu (2000),
pada kasus IBDV terkadang terlihat adanya perdarahan pada mukosa di daerah
perbatasan antara proventrikulus dan ventrikulus. Perubahan makroskopik dan
mikroskopik menurut literatur ini sesuai dengan perubahan yang ditemukan pada
kasus.
Sekum. Perubahan makroskopis menunjukan bagian serosa berwarna merah muda,
mukosa berwarna kemerahan, lumen berisi feses berwarna cokelat kehijauan.
22

Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan adanya nekrosis epitel, perdarahan, dan


kumpulan Eimeria sp. stadium gametogoni di daerah mukosa.

(a)

(b)

Gambar 3. (a) Makroskopik sekum, menunjukkan ada penebalan dan hiperemi pada
mukosa . (b) Perubahan mikroskopik menunjukan adanya (1) perdarahan ,
(2) Nekrosis epitel dan (3) ditemukan stadium gametogoni Eimeria
tenella.
Menurut Gussem, 2007, gambaran makroskopik sekum yang terkena
koksidiosis akan mengalami hiperemi pada pembuluh darah mesenterik dan
pembuluh darah serosa intestinum. Terlihat hemoragi petchie pada bagian serosa,
dinding sekum menebal dan kadang-kadang terdapat massa mengkeju di lumen
sekum. Secara mikroskopik, menurut Dinev, 2014, stadium Eimeria tenella dapat
ditemukan dalam sel epitel intestinal. Terjadi infiltrasi heterofil pada submukosa,
skizon pada lamina propria. Pada infeksi berat terjadi kerusakan jaringan, kelenjar
sekum, lapisan mukosa maupun muskularis (Gerhold, 2014). Perubahan makroskopik
dan mikroskopik menurut literatur ini sesuai dengan perubahan yang ditemukan pada
kasus.

23

Ren. Pemeriksaaan makroskopis ren menunjukan warna kecoklatan, konsistensi


rapuh, bidang irisan rata. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan adanya infiltasi
limfosit diantara jaringan interstisial yang bersifat multifokal. Menurut Tabbu, 2000
perubahan mikroskopis pada ginjal bersifat tidak spesifik dan mungkin berhubungan
dengan dehidrasi yang parah. Menurut Eterradossi dan Saif ,2008, pada ayam yang
dibunuh dan diperiksa ketika terjadi infeksi, ginjal biasanya terlihat normal. Beberapa
ahli melaporkan bahwa lesi pada ginjal hanya ditemukan <5% ayam yang diperiksa.
Lesi pada ginjal meliputi timbunan material menyerupai kapur didalam tubuli dan
ureter yang disertai infiltrasi limfosit yang bersifat ringan di pembuluh darah..
Perubahan makroskopik dan mikroskopik yang tidak terlalu menciri menurut literatur
ini sesuai dengan perubahan yang ditemukan pada kasus.
Bursa

Fabricius.

Pemeriksaan

makroskopik

bursa

fabricius

menunjukkan

kebengkakan dan hiperemi dari bursa fabricius. Bursa fabricius yang telah diamati
bagian serosanya kemudan diiris untuk mengetahui kondisi plika. Plika bursa
mengalami nekrosis yang ditunjukkan dengan kerapuhan plika. Pemeriksaan
histopatologi bursa fabricius menunjukkan terdapat pelebaran jaringan ikat
interfolikuler bursa. Selain itu terdapat nekrosis limfosit dalam folikel dan disertai
dengan adanya vakuola-vakuola di dalam folikel bursa. Selain itu terdapat infiltrasi
sel radang heterofil pada folikel bursa fabricius dan jaringan ikat interfolikuler.
Perubahan patologi pada bursa fabricius ditunjukkan pada Gambar 3.
Lesi makroskopis ini sesuai dengan pendapat Tabbu (2000), yang
menjelaskan bahwa pada awalnya bursa fabricius akan mengalami oedema dan
congesti sehingga ukurannya menjadi lebih besar hingga 2 kali ukuran normal dan
mencapai puncaknya pada hari keempat pasca infeksi. Hari ke-8 infeksi strain very
virulent IBDv (vvIBDv), bursa akan mengalami atropi dan ukurannya akan menurun
sampai 1/3 dari ukuran normal, demikian juga pada 14 hari pasca infeksi. Jika terjadi
kesembuhan, bursa fabricius akan kembali ke ukuran semula pada hari 21 pasca
infeksi (Eterradossi dan Saif, 2008 dan Tabbu, 2000). Pada hari ke-1 pasca infeksi
24

akan terlihat degenerasi dan nekrosis limfosit di daerah medulla folikel bursa
fabricius. Tahap selanjutnya terjadi penurunan jumlah sel limfoid pada folikel bursa
fabricius bahkan beberapa folikel bursa fabricius terlihat kosong (Acribasi dkk.,
2010). Pada hari ke-3 post infeksi (48 jam post infeksi), lesi pada bursa fabricius
menciri dengan adanya nekrosis folikuler dan inflamasi akut dengan edema,
hemorragi dan infitrasi heterofil . Infiltrasi heterofil mulai teramati pada hari ke-2 dan
ke-3 pasca infeksi (Acribasi dkk., 2010). Replikasi virus mengakibatkan kerusakan
yang parah pada bagian medulla dan korteks bursa fabricius. Perubahan mikroskopik
menurut literatur ini sesuai dengan perubahan yang ditemukan pada kasus.
3

4
1
2

(a)
(b)
Gambar 4. Makroskopik bursa fabricius (a) menunjukkan kebengkakan dan
kemerahan (1). Perubahan mikroskopik (b) menunjukkan adanya nekrosis
dan vakuolisasi dalam folikel bursa (2), pelebaran jaringan ikat
interfolikuler (3), infiltrasi heterofil (4).
Pemeriksaan Laboratorium Parasitologi
Hasil pemeriksaan parasitologi terhadap feses secara natif dan sentrifuse
ditemukan oosista Eimeria tenella. Pemeriksaan kerokan mukosa usus bagian sekum
secara natif dan sentrifuse ditemukan oosista Eimeria tenella dan Penghitungan oosit
per gram (OPG) dengan metode Mc Master menunjukkan jumlah oosista yang
terhitung adalah 254.250 oosista per gram feses. Pemeriksaan preparat apus darah
tidak ditemukan adanya parasit darah.
Oosista yang ditemukan melalui pemeriksaan feses dan kerokan mukosa
sekum menunjukan ciri-ciri Oosista berbentuk ovoid, ukuran 23,37 19,2 m, waktu
25

sporulasi 24 jam. Menurut Grifith (1978), Oosista Eimeria tenella berbentuk ovoid,
ukuran 14 31 9 25 m, waktu sporulasi 18 jam 2 hari. Dinding oosista tidak
mempunyai mikrofil (Soulsby, 1982). Stuktur oosista Eimeria sp. yang sudah
bersporulasi berisi 4 sporosista yang masing- masing berisi 2 sporozoit.

Gambar 5. Oosista Eimeria tenella berbentuk ovoid, ukuran 23,37 19,2 m,


dengan waktu sporulasi 24 jam.
Hasil identifikasi parasit saluran pencernaan ayam broiler dengan nomor
protokol A-431 menunjukkan bahwa endoparasit yang menginfestasi ayam broiler A431 adalah Eimeria tenella.
Pemeriksaan Laboratorium Mikrobiologi
Konfirmasi agen penyebab Infectious Bursal Disease (IBD) dilakukan dengan
jalan isolasi dan identifikasi virus. Antigen virus IBD dapat ditemukan melalui organ
yang dihubungkan dengan gejala klinis. Organ-organ tersebut meliputi bursa
fabricius, hati, limpa, dan organ lainnya (Eterradossi dan Saif, 2008). Menurut
Rosenberger dkk. (2008), sampel terbaik untuk isolasi virus IBD yaitu dari bursa
fabricius. Bursa fabricius dibuat suspensi virus yang kemudian akan diinokulasikan

26

pada telur ayam berembrio. Inokulasi virus IBD dilakukan melalui rute
Chorioallantoic membrane (CAM) pada TAB yang berusia 9-11 hari (Eterradossi dan
Saif, 2008).
Hasil inokulasi virus pertama menunjukkan embrio menjadi lebih kecil,
terdapat kongesti pada kutan, hemorragi pada cerebral, kerontokan bulu, hemorragi
pada sendi kaki dan toe joint. Perubahan pada embrio ini sesuai dengan pendapat
Rosenberger dkk. (2008) bahwa lesi makroskopik yang dapat teramati pada embrio
ayam yang telah diinokulasikan virus IBD klasik berupa kongesti kutaneus, terkadang
juga teramati adanya hemoraghi pada daerah persendian jari kaki dan daerah serebral.
Sementara itu pada CAM tidak ditemukan adanya perubahan, namun terkadang
dijumpai adanya hemoraghi pada area tertentu (Eterradossi dan Saif, 2008 dan
Rosenberger dkk, 2008) .

A. B.
Gambar 6. Embrio A merupakan embrio hasil inokulasi pertama dan embrio B
merupakan hasil passase I. Embrio hasil inokulasi dan passase I samasama menjadi lebih kecil, terdapat kongesti pada kutan, hemorragi pada
cerebral, kerontokan bulu, hemorragi pada sendi kaki dan toe joint.

27

Gambar 7. CAM A merupakan hasil inokulasi pertama dan CAM B merupakan hasil
passase I. Keduanya menunjukkan adanya hemorragi.
Peneguhan

diagnosa

dilakukan

dengan

tahapan

identifikasi

virus

menggunakan Uji Agar Gel Presipitasi Test (AGPT). Uji Agar Gel Presipitasi Test
merupakan suatu uji serologis primer yang dapat mendeteksi secara spesifik adanya
suatu antigen terlarut (Mahmood, 2006), tetapi uji ini tidak dapat mendeteksi adanya
berbagai macam serotipe (Eterradossi dan Saif, 2008 dan Tabbu, 2000). Uji ini
merupakan uji lanjutan dalam identifikasi Virus Infectious bursal disease. Uji AGPT
menggunakan suspensi hasil gerusan dari embrio hasil inokulasi. Dipilihnya gerusan
embrio karena pada bagian ini terdapat jumlah antigen IBD paling banyak dibanding
bagian yang lain (Eterradossi dan Saif, 2008 dan Rosenberger dkk., 2008). Uji AGPT
ini menggunakan antigen yang diperoleh dari sampel gerusan embrio dan CAM
hasil inokulasi, yang diujikan dengan

antiserum IBDV yang diperoleh dari Dr.

drh.M.Haryadi Wibowo MP. Antiserum diletakkan di sumuran tengah, sedangkan


keempat sumuran lain diisi dengan antigen. Hasil uji AGP sampel gerusan embrio
hasil pasase IBD dengan serum antibodi spesifik menunjukkan adanya garis presipitat
28

pada media agar yang menunjukkan bahwa antigen bersifat spesifik dengan antibodi
yang diujikan (Gambar 8).
Hasil isolasi dan identifikasi sampel bursa fabricius ayam broiler dengan
nomor protokol A-431 menunjukkan bahwa virus yang berhasil diisolasi dan
diidetifikasi adalah Infectious bursal disease viruses. (penyebab IBD).
A

Gambar 8. A merupakan antigen yang diperoleh dari gerusan embrio, sedangkan B


adalah antiserum. Terlihat adanya presipitat dari keempat sumuran yang
berisi antigen dari sampel gerusan embrio dan CAM hasil inokulasi.

Pemeriksaan Laboratorium Patologi Klinik


Berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratorium Patologi Klinik, ayam broiler
dengan nomor protokol A-431 mengalami Polisitemia, heterofilia, eosinofilia, dan
limfopenia.
Pada kasus IBD, terjadi Bifase limfopenia dan respon heterofilia terhadap
kerusakan jaringan (Oladede,et all, 2005). Gambaran darah yang lain yaitu terjadi
peningkatan PCV dan eosinophilia. Peningkatan PCV pada kasus IBD dapat
disebabkan karena dehidrasi, yang merupakan salah satu gejala klinis yang terlihat
dari IBD sehingga mengakibatkan peningkatan nilai hematokrit (Oladede, et
all,2005). Limfopenia terjadi pada 24 hingga 96 jam post infeksi. Limfopenia terjadi
pada penyakit virus akut. IBDV menyebabkan destruksi dari sel Limfosit B dalam
Bursa fabricius, dimana bursa fabricius merupakan tempat maturasi dan diferensiasi
29

dari sel Limfosit B sebelum bermigrasi ke peredaran darah. Antigen IBDV dapat
ditemukan didalam Bursa fabricius dalam waktu 11 jam post infeksi (Oladede, et all,
2005).
Heterofilia terjadi pada ayam yang terinfeksi IBDV sebagai respon dari
kerusakan jaringan, terutama ketika terjadi fagositosis debris jaringan (Oladede, et all,
2005). Esinofilia terjadi pada kasus awal IBD, berhubungan dengan destruksi
jaringan, terutama jaringan seperti kulit, paru-paru, traktus gastrointestinal dan
saluran reproduksi betina (Oladede, et all, 2005). Jaringan tersebut memiliki
kandungan mast cell yang tinggi, dan selama destruksi jaringan terjadi, sel mast
melakukan degranualsi dan merilis histamine yang akan menarik keluar eosinophil.
Pada kasus IBD, terindikasi destruksi jaringan sel limfosit B dalam Bursa Fabricius
yag mengakibatkan eosinophilia. Selain itu, pada Ayam Broiler A.431 mengalami
koksidiosis, sehingga terdapat destruksi jaringan pada gastrointestinal bagian sekum
yang mengakibatkan eosinophilia (Oladede, et all, 2005).

30

PATOGENESIS
Ayam Broiler AKontaminasi patogen melalui Ayam
Infectius bursal disease

viremia

Bursa
Fabrisius

Cloacal
Bursitis

Nekrosis
Limfosit

Heterofilia

Limfositope
nia
Efek
Imunosupre
sif

Infeksi
sekunder
oleh Eimeria
tenella

Esinofilia

Oosista Eimeria
tenella

Enteritis
parasitika
Gangguan asupan
nutrisi
31

Ayam lemah dan


pertumbuhan terganggu

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Berdasarkan

hasil

anamnesa,

pemeriksaan

laboratorium

patologi,

parasitologi, mikrobiologi dan patologi klinik, ayam buras dengan nomor protokol A431 terinfeksi Infectious bursal disease dan Koksidiosis.
Saran
Pencegahan dan pengendalian dapat dilakukan dengan perbaikan manajemen
pemeliharaan, antara lain isolasi hewan datang dan yang sakit, sanitasi kandang,
lingkungan dan peralatan, serta perbaikan ventilasi kandang yang baik. Sebelum
mengisi kandang dengan kelompok baru, alas sekam kandang dikeluarkan, semua
peralatan kandang dikeluarkan dan dicuci dengan deterjen lalu spray dengan
formaldehide 4%. Istirahatkan kandang selama dua minggu. Perhatikan suhu,
kelembaban, ventilasi, kepadatan kandang serta kualitas litter atau sekam.
Pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi. Vaksinasi IBD dapat dilakukan
dengan pemberian beberapa kali vaksin hidup atau gabungan beberapa kali vaksin
hidup dan vaksin inaktif. Vaksinasi dengan virus hidup yang dilemahkan dapat
dilakukan pada hari ke-7 sampai minggu ke-2 atau ke-3. Jika antibody asal induk
rendah dan virulensi lapangan sangat tinggi, maka vaksin IBD harus dilakukan
seawal mungkin. Vaksinasi IBD pada anak ayam umur sehari hendaknya
menggunakan virus IBD galur tidak virulen (mild) dan dapat dilakukan secara
suntikan, bersama-sama dengan vaksin MD (Tabbu, 2000). Vaksinasi awal (priming)
pada parent stock dan calon ayam petelur dengan vaksin IBD hidup perlu dilakukan
sebelum pemberian vaksin inaktif.
Pengobatan terhadap penyakit viral hanya ditujukan untuk mengobati infeksi
bakteri sekunder. Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik seperti

32

enrofloxacin dosis 10 mg/kg BB untuk 3 sampai 5 hari. Pengobatan suportif dapat


dilakukan dengan pemberian multivitamin dan asam amino konsentrasi tinggi untuk
mempercepat proses kesembuhan. Pengobatan untuk infestasi koksidia dapat
dilakukan dengan pemberian preparat sulfonamide.

33

Daftar Pustaka
Acribasi, M., Jung, A., Heller, E.D., dan Rautenschlein, S. 2010. Differences in
Genetic Background Influence the Induction of Innate and Acquired Immune
Responses in Chinckens Depending on the Virulence of the Infecting
Infectious bursal disease viruses(IBDv) Strain. Vet. Immunol. Immunopathol.
135: 79 92.
Anonim 1. 2012. Characteristics of Eimeria species . Diakses dari
http://www.uoguelph.ca/omafra_partnership/ktt/en/johnbarta/
Characteristics-of-Eimeria-species.asp?_mid_=26492 pada
tanggal 15 Februari 2015.

Anonim 2. 2008. Koksidiosis & Necrotic Enteritis. Diakses dari


http://info.medion.co.id pada tanggal 15 Februari 2015
Eterradossi,N., Saif, Y. M. 2008. Infectious Bursal Disease. Dalam Saif,Y.M, Fadly,
A.M., Glisson, J.R., McDougald,L. R., Nolan, l.K., Swayne, D. E. (eds)
Disease of Poultry : Twelfth Edition. lowa state : University Press. Hal: 185199
Griffith, H.J. 1978. A Handbook of Veterinary Parasitology. Minneapolis
: University of Minnesota Press.
Gerhold,R.W.2014. Overview of Coccidiosis in Poultry. Diakses dari
http://www.merckmanuals.com/vet/poultry/coccidiosis/overview_of_coccidio
sis_in_poultry.html pada tanggal 15 februari 2015
Gharekhani J ,Zivar Sadeghi-Dehkordi,and Mohammadali Bahram. 2014. Research
Article Prevalence of Coccidiosis in Broiler Chicken Farms in Western Iran.
Hindawi Publishing Corporation Journal of Veterinary Medicine. Vol 2014
Gussem,M,D. 2007. Coccidiosis in poultry: review on diagnosis, control, prevention
and interaction with overall gut health . Alpharma Animal Health on 16th
European Symposium on Poultry Nutrition.

34

Harvey, J.W. 2001. Atlas of Veterinary Hematology. Philadelphia : WB Saunders


company. Hal.: 6-8.
Levine, N.D. 1994. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Penerjemah: Soeprapto,
S. Judul Buku Asli : Textbook of Veterinary Parasitology. Cetakan Kedua
1994. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Hal.: 252-265.
Listyawati D. 2002. Diagnosis dan Kontrol gumboro. Poultry Indonesia, 272 : 90- 91

Mahmood, M.S., and Siddique, M. 2006. Comparative Efficacy of RT-PCR, AGPT,


and Reverse Passive Haemagglutination Assay for the Detection of
Infectious bursal disease virusesin Broilers. Pakistan Vet.J. 26 (4): 167
170.
Muller, H., Islam, M.R., dan Raue, R. 2003. Research on Infectious Bursal Diseasethe past, the present and the future. Vet Mikrobiologi. 97 : 153-156.
Murphy, F.A., Gibbs, E.P.J., Horzinek, M.C., dan Studdert, M.J. 1990. Veterinary
Virology: Third Edition. California: Academic Press. Hal.: 405 407.
Oladede, O,A. D.F. Adene1 T.U. Obi1. H.O. Nottidge1 A.I. Aiyedun 2005.
Sequential Hematological Study of Experimental Infectious bursal disease
virusesInfection in Chickens, Turkeys and Ducks. Revue lev. Md. vt.
Pays trop., Nigeria 2005, 58 (4) : 211-215
Parede, L.H., Sapats, S., Gould, G., Rudd, M., Lowther, S. dan Ignjantovic, L. 2003.
Characterization of Infectious bursal disease virusesIsolates from Indonesia
Indicates the Existence of Very Virulent Strain with Unique Genetic
Changes. Avian Pathol. 32(5) : 511 518.
Park, J.H., Sung, H.W., Yoon, B.I.I., dan Kwon, H.M. 2009. Protection of Chincken
Againts Very Virulent IBDV Provided by In Ovo Priming with DNA Vaccine
and Boosting with Killed Vaccine and Adjuvant Effects of Plasmid-Encoded
Chicken Interleukin 2 and Interferon . J. Vet Sci. 10 (2) : 131 139.

35

Purchase, H.G., Lawrence, H.A., Domermuth, C.H. dan Pearson, J.E. 1989. A
Laboratory Manual for The Isolation and Identification of Avian Pathogens.
3rd ed. Iowa USA : Kendall Hunt Publishing Company. Hal.: 121-123.
Quinn, P.J., Markey, B.K., Carter, M.E., Donnelly, W.J.C., dan Leonard, F.C. 2002.
Veterinary Mycrobiology and Microbial Disease. Iowa: Blackwell Science.
Hal.: 295 297, 373 374.
Rosenberger, J.K., Saif, Y.M., and Jackwood, D.J. 2008. Infectious Bursal Disease. A
Laboratory Manual for the Isolation, Identification, and Characterization of
Avian Pathogens, Fifth Edition. Hal.: 188-189.
Rosenfeld, A.J. dan Dial, S.M. 2010. Clinical Pathology for The Veterinary Team.
Iowa, USA : Wiley-Blackwell. Hal.: 20,21,22,25.
Samour, J. 2013. Clinical avian medicine : diagnostic value of hematology. Dalam
situs www.avianmedicine.net/content/uploads/2013/08/22_hematology.pdf
Diakses pada tanggal 1 April 2015.
Shaban, KH. S, 2012 .Immunosuppressive Potential of Acute Caecal Coccidiosis as
well as Anticoccidial Vaccine on Antibody Titers Induced by Newcastle
Disease and Infectious Bursal Disease Viruses Vaccines in Broiler Chickens.
Researcher, 2012;4(4).
Soulsby, E.J.L. 1982. Helminths, Athropods and Protozoa of Domesticated Animal 7th
edition. London : E.L.S.B. and Bailliere. Hal.: 87, 162, 163, 164.
Susilorini T E. 2008. Budidaya 22 Ternak Potensial. Jakarta: Penebar Swadaya
Tabbu, C. R. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya. Volume I. Yogyakarta :
Penerbit Kanisius. Hal.: 52-69, 245-370.
Tadrous, P.J. 2007. Diagnostic Criteria Handbook in Histopathology. West Sussex,
England : Wiley & Sons Ltd. Hal.: 6-7.
Tizard, I.R. 1987. Veterinary Immunology an Introduction. Seventh Edition. Amerika:
Saunders. Hal.: 198 200.
William, A.E., dan Davison, T.F. 2005. Enhanced Immunopathology Induced by Very
Virulent Infectious Bursal Disease Virus. Avian Pathol. 34 : 4 14.

36

37