Anda di halaman 1dari 7

Perkembangan Klinik Estetika sebagai Sistem Perawatan Kecantikan Medis Modern

Latar

Belakang

Permasalahan

Seiring dengan perkembangan jaman, perkembangan pesat juga terjadi dalam


penyelenggaraan sistem medis. Perkembangan jaman selalu menuntut penyelesaian masalah
yang dihadapi oleh umat manusia dalam aspek kehidupan termasuk kesehatan, hal inilah
yang menjadi pemicu bagi beberapa peneliti untuk terus mengembangkan ilmu seiring
dengan perkembangan jaman tersebut. Dengan asumsi ini, sistem medis mengalami
perkembangan pesat karena ditunjang dengan perkembangan di bidang ilmu dan teknologi
dari waktu ke waktu termasuk ilmu medis seperti ilmu kedokteran dan ilmu farmasi serta
ilmu teknologi dalam pengembangan alat untuk membantu berlangsungnya sistem medis.
Berdasarkan hal tersebut, maka perkembangan pada sistem medis yang sifatnya modern dapat
diukur dari penemuan untuk mengatasi masalah kesehatan secara medis yaitu cara
pencegahan dan pengobatan penyakit, perawatan keadaan sakit dan pemulihan kesehatan
yang efisien dan efektif.
Berkembangnya sistem medis modern kemudian membawa pengaruhnya terhadap segala
aspek kehidupan masyarakat. Terjadi proses di mana pengaruh medis mengalami ekspansi ke
berbagai aspek kehidupan manusia. Yang dimaksud di sini adalah bahwa dalam
kehidupannya manusia sangat bergantung pada sistem medis seperti tergantungnya seorang
ibu yang masih mengandung untuk memeriksakan kandungannya secara rutin ke dokter, dan
tergantungnya seseorang untuk melakukan check up (pemeriksaan) medis secara rutin.
Ketergantungan terhadap sistem medis ini tanpa sadar dialami oleh manusia. Keinginan untuk
menjamin bahwa kondisi tubuhnya sehat membawa ketergantungan terhadap sistem medis
semakin tinggi.
Merasuknya pengaruh sistem medis dalam segala aspek kehidupan manusia juga dapat
dibuktikan dalam acara televisi misalnya berbagai iklan mengenai obat untuk mengatasi
masalah kesehatan sangat beragam. Mulai dari iklan susu kalsium pencegah osteoporosis,
iklan pil pelancar buang air besar, dan yang lebih sering adalah iklan produk kosmetik untuk
membuat kulit wajah putih dan segar. Hal ini menunjukkan bahwa kecantikan pun melibatkan
sistem medis modern untuk perawatannya.
Kecantikan (estetika) menjadi salah satu masalah yang dituntut oleh manusia dan melalui
perkembangan sistem medis modern hal ini dapat diatasi. Perawatan kecantikan (estetika)
secara medis merupakan salah satu bukti bahwa penyelenggaraan sistem medis modern
memiliki pengaruh yang luas. Dalam perkembangannya, ternyata sistem perawatan estetika
banyak diminati oleh perempuan. Oleh karena itu, dalam makalah ini saya sebagai penulis
ingin membahas mengenai sistem perawatan estetika ditinjau dari penyelenggaraan sistem
medis modern dengan konsep medikalisasi secara kompleks.

Konsep

1. Medikalisasi
Peter Conrad (1945) mendeskripsikan sebagai proses di mana masalah non-medis
didefinisikan dan diperlakukan seperti masalah medis, terutama dalam bentuk penyakit dan
penyimpangan. Kunci medikalisasi terletak pada definisi. Masalah didefinisikan dalam
bentuk medis, dideskripsikan dengan menggunakan definisi medis, dipahami dengan
kerangka kerja medis, atau diperlakukan dengan intervensi medis. Medikalisasi berarti
memediskan dan membuat obatnya.[1] Medikalisasi terkait dengan penyimpangan dari
kehidupan normal.
Beberapa analis menjelaskan perkembangan medikalisasi didorong bahkan dipaksakan oleh
beberapa faktor sosial seperti memudarnya keagamaan, keyakinan terhadap ilmu
pengetahuan, rasionalitas dan pergeseran termasuk meningkatnya prestise dan power yang
dimiliki oleh profesi medis. Para analis melihat masyarakat Barat yang menggunakan
teknologi sebagai solusi untuk memecahkan masalah kemudian memasukkannya dalam
konteks untuk menjelaskan bagaimana medikalisasi terjadi.[2]
Irving K. Zola (1994) memandang medikalisasi sebagai proses dalam kehidupan sehari-hari
yang menjadikan masalah kesehatan semakin penting bagi keberadaan manusia, sehingga
bidang medis telah menjadi suatu institusi pengendalian sosial utama (major institutional of
social control) dalam masyarakat. Zola juga menghubungkannya dengan masalah moral,
yaitu dengan penilaian baik-buruk.[3] Ia menjelaskan dalam kehidupan sehari-hari dapat
diamati pasien yang baik merupakan pasien yang menaati petunjuk petugas kesehatan,
bahwa ada kuman yang jahat, dan bahwa pengidap penyakit tertentu dianggap bersalah
karena telah berperilaku kurang bertanggung jawab, sebagaimana layaknya pernyataa
moral.[4]
Zola menyebutkan empat cara medikalisasi, yaitu:[5]
Semakin berkembangnya upaya pencegahan penyakit, perluasan pengaruh ilmu kesehatan ke
dalam kehidupan masyarakat pun menjadi semakin besar.
Obat tidak lagi digunakan untuk keperluan kuratif belaka melainkan digunakan pula untuk
orang yang sehat untuk keperluan lain.
Petugas kesehatan mempunyai wewenang khas yang tidak dimilki orang lain, yaitu
wewenang unyuk memeriksa tubuh dan pikiran yang merupakan bagian paling pribadi
seseorang.
Ekspansi hal yang dianggap penting oleh ilmu kesehatan ke dalam kehidupan sehari-hari
mencakup istilah perekonomian yang sehat, patologi sosial, dan penyakit masyarakat.
2. Penyakit sebagai Konstruksi Sosial
Diadopsi dari teori post-strukturalis Michael Foucalt, secara sosiologis, perkembangan
medikalisasi dikaji melalui konstruksi sosial yang membangunnya. Konstruksi sosial dapat
mengekspansi kategori-kategori medis yang baru serta melegitimasi secara yuridis sehingga
konsep moral enterpreneurs, professional dominance, danclaims-making[6] tidak dapat

dipisahkan untuk memahami medikalisasi dan perkembangannya. Medikalisasi berkembang


seiring proses sosial sehingga juga merupakan bentuk tindakan kolektif. Dalam medikalisasi,
dokter sebagai profesi medis tidak dapat langsung memberikan penanganan untuk pasien
tanpa keterangan dari pasien sendiri. Sementara itu satu pasien beserta pasien yang lain dapat
memberikan keterangan yang sama terhadap dokter sehingga dokter dapat
menggeneralisasikan dan melakukan claims-making dalam membuat diagnosis.
3. Institusi Kesehatan[7]
Klinik merupakan salah satu institusi kesehatan di mana bukan hanya untuk orang yang
mengalami penyakit tetapi juga untuk orang uang ingin menjaga kondisi tubuhnya agar tetap
sehat. Dokter tidak hanya menyembuhkan penyakit tetapi juga membantu untuk mencegah
suatu penyakit. Pencegahan penyakit yang dilakukan oleh seseorang di klinik menandakan
bahwa secara rutin, seseorang mendatangi klinik tersebut.
4. Iatrogenesis Klinis
Iatrogenesis merupakan penyakit yang dihasilkan oleh kegiatan medis. Menurut Ivan Illich
iatrogenesis klinis mengacu pada penyakit yang diperoleh di dalam rumah sakit, berupa
dampak sampingan tak diinginkan dari pemberian obat atau dari ketidaktahuan, kecerobohan,
malpraktek dokter, mengacu pada tindakan medis yang mengakibatkan penderitaan. Suatu
tindakan medis dapat mengakibatkan akibat sampingan dalam bentuk suatu penyakit tertentu.
[8]

Deskripsi

Dikutip dari Ratna Amini. Sistem Perawatan Kecantikan Prof. Dr. H. Djedje Hidayatullah
dan Perkembangannya di Masyarakat. Skripsi: Jurusan Antropologi Universitas Indonesia.
2004.
Fenomena menarik tentang berbagai upaya yang dilakukan perempuan untuk mempercantik
diri. Hal senada dikemukakan oleh Dr. Irene Setiadi (Ahli Kulit dan Pemilik Salon Carmelita
di Kelapa Gading, Jakarta Utara) bahwa perempuan Indonesia dan juga perempuan di
belahan dunia lainnya ingin tampil cantik dengan melakukan berbagai upaya, mulai dari
perawatan tubuh sehari-hari sampai melakukan rekonstruksi bagian tubuh tertentu. (Kompas,
2003).[9] Di Indonesia sendiri saat ini, fenomena meningkatnya intensitas dan kompleksitas
upaya mempercantik diri yang dilakukan sebagian perempuan terutama di perkotaan terlihat
jelas dalam berbagai iklan di media cetak maupun eletronik dan berkembangnya berbagai
tempat yang memberikan jasa perawatan kecantikan.[10]
Dalam iklan di televisi dan media cetak, misalnya, dapat dijumpai berbagai produk yang
ditawarkan untuk perawatan diri, mulai dari produk-produk yang dihasilkan oleh industri
kosmetika modern seperti Ponds, Oil of Olay untuk pemutih kulit, dan sebagainya; atau
produk yang terbuat dari bahan-bahan alami Indonesia seperti berbagai produk kosmetika
perawatan kecantikan dari Mustika Ratu dan Sariayu, produk jamu khusus perempuan seperti
Jamu Kunyit Asem Nyonya Meneer dan sebagainya; hingga produk dan perawatan
kecantikan dari dokter, seperti Dr. Murad, Ristra, dan sebagainya (Abdullah, 1998).[11] Di
media cetak juga tidak jarang terdapat iklan-iklan yang berkaitan dengan tempat-tempat yang

memberikan jasa perawatan kecantikan seperti Ristra, Erha Clinic, dan Natasha yang berada
di kota-kota besar di Indonesia.
Terdapat juga tempat-tempat yang memberikan perawatan kecantikan berupa salon
kecantikan, praktik dokter, dan praktik tradisional. Dalam konteks Indonesia, perawatan di
salon kecantikan umumnya dilakukan oleh ahli kecantikan yang telah mendapatkan
pendidikan tata kecantikan yang biasanya dilaksanankan oleh sekolah atau lembaga nonpemerintah seperti sekolah-sekolah kecantikan (Wasitaatmadja, 1997). Sistem perawatan
pada praktik dokter dilakukan dengan berpedoman pada pranata-pranata medis modern
(biomedis) yang ditangani oleh para profesional (dokter) yang memiliki berbagai keahlian
seperti dokter ahli kulit, bedah plastik, dan bedah kosmetik yang praktiknya telah diuji secara
klinis dan dapat dipertanggungjawabkan hasilnya.[12]
Jumlah pengguna produk dan pengguna tempat-tempat perawatan kecantikan yang tersebar di
berbagai kota besar di Indonesia ini cukup banyak. Produk-produk seperti pil pelangsing,
pemutih wajah, tata rias wajah, dan sebagainya banyak diminati oleh perempuan-perempuan
Indonesia. (Kompas, 2001). Pasien-pasien yang mendatangi beberapa tempat perawatan
kecantikan pun cukup ramai. Di klinik dokter Affandi Semarang misalnya, pasien yang
datang rata-rata berjumlah 30 orang perhari dengan tujuan untuk rekonstruksi bagian wajah.
(Gatra, 1999).
Upaya mempercantik diri yang dilakukan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan
bukanlah tidak mungkin akan menimbulkan penyakit bahkan kematian. Misalnya
penggunaan produk-produk kosmetika kecantikan yang belum teruji secara klinis, bukan
tidak mungkin dapat menimbulkan efek samping yang membahayakan kesehatan manusia,
seperti kanker kulit. Diperlukannya seorang dokter ahli, karena tindakan rekonstruksi bagian
tubuh merupakan pekerjaan yang tidak dapat dilakukan sembarangan, tetapi diperlukan suatu
keahlian khusus yang telah teruji dan dapat dipertanggungjawabkan secara klinis. Banyak
efek negatif yang berkaitan dengan kesehatan akibat tindakan rekonstruksi bagian tubuh yang
tidak dilakukan dokter ahli, dalam beberapa bulan berselang misalnya, akan timbul
pembengkakan, peradangan kronis, bahkan kanker kulit (Gatra, 1999; Kompas, 2003).
Bahkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terhadap beberapa produk pemutih
menunjukkan bahwa di antara produk-produk pemutih yang beredar di pasaran tidak sedikit
yang mengandung logam berat, seperti merkuri yang bersifat karsinogenik atau menyebabkan
kanker kulit (Agustina, 2002).

Analisa

Fenomena mengenai upaya yang dilakukan perempuan untuk mempercantik diri melalui
sistem perawatan kecantikan (estetika) secara medis yang telah diuraikan di bagian deskripsi
dapat dianalisa dengan konsep medikalisasi yang dijelaskan oleh Peter Conrad dan Irving
Zola. Medikalisasi kecantikan yang berujung pada sistem perawatan kecantikan secara medis
kemudian membentuk institusi kesehatan.

Kecantikan awalnya memiliki sifat yang subjektif, namun seiring dengan banyaknya
sosialisasi wajah dan kulit yang cantik adalah yang terang, bersinar, bersih, tidak berminyak,
dan putih membuat ramainya upaya untuk mempercantik diri secara medis. Sesuai dengan
penjelasan Peter Conrad maka kecantikan mengalami medikalisasi. Kecantikan wajah dan
kulit awalnya bersifat non-medis karena kondisi wajah dan kulit merupakan hasil keturunan
genetis yang natural yang tidak menimbulkan masalah. Namun, seiring dengan banyaknya
iklan wajah dan kulit yang menggambarkan cantik dinilai dari kebersihannya dari jerawat
serta warnanya yang putih dan terang membuat sifat-sifat kebalikannya yaitu kulit wajah
terdapat jerawat dan terlihat gelap serta kusam menjadi penyimpangan dari sifat cantik
tersebut. Penyimpangan dari sifat cantik ini kemudian dianggap sebagai penyakit dan menjadi
masalah bagi perempuan. Masalah mengenai peyimpangan kecantikan wajah serta kulit yang
berjerawat, kering, kusam, gelap, atau terlalu berminyak dipahami secara biomedis mengenai
sebab akibatnya dengan menggunakan kerangka kerja medis. Dalam hal ini berarti maslaah
kecantikan mengalami intervensi secara medis. Pemahaman masalah kecantikan secara
biomedis juga kemudian ditemukan solusinya melalui obat dengan kata lain memediskan.
Penjelasan ini merupakan analisa dengan menggunakan kerangka medikalisasi Conrad.
Medikalisasi kecantikan (estetika) tidak hanya diselenggarakan tetapi juga diminati melihat
data yang telah diuraikan dalam bagian deskripsi. Diminatinya sistem perawatan kecantikan
secara medis terjadi karena faktor sosial yaitu meningkatnya kepercayaan masyarakat
terhadap ilmu pengetahuan yaitu medis sebagai sistem yang dapat mencegah dan mengobati
masalah kecantikan. Kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan yaitu medis juga merupakan
bentuk rasionalitas, yang menyatakan bahwa memang masalah kecantikan kulit serta wajah
jerawat, kusam, gelap, kering, terlalu berminyak hanya dapat diatasi melalui biomedis karena
terkait dengan kerangka kerja sistem tubuh yang cenderung bersifat biologis dan medis.
Conrad mengadopsi dari teori post-strukturalis juga menyertai fokus sosiologis mengenai
medikalisasi sebagai satu bentuk konstruksi sosial. Dapat dilihat bahwa kasus medikalisasi
kecantikan (estetika) merupakan hasil konstruksi sosial oleh para kapitalis sebagai
profesional yang dominan bekerja sama dengan dokter sebagai ahli bidang medis. Melalui
kepentingannya untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan produk-produk kosmetik
medis yang menunjang kecantikan, maka pihak ini melakukan ekspansi dengan cara
menanamkan makna-makna dalam masyarakat mengenai definisi kecantikan melalui iklaniklan di televisi. Pemaknaan kecantikan yang disosialisasikan melalui iklan tersebut
kemudian tertanam dalam mayarakat sehingga para perempuan pada umumnya menyatakan
penyimpangan kecantikan berupa banyaknya jerawat, kulit terlihat kusam, gelap, kering, dan
terlalu berminyak menjadi suatu yang harus diatasi melalui perawatan kecantikan (estetika)
medis. Jumlah beberapa perempuan yang memiliki anggapan yang sama mengenai
penyimpangan kecantikan menjadi suatu penyakit dan harus ditangani secara medis
merupakan suatu bentuk tindakan kolektif. Dengan keadaan seperti ini, dalam penanganannya
pada sistem perawatan kecantikan secara medis, dokter akan menerima keterangan yang sama
dan mempengaruhi diagnosis yang diberikan oleh dokter pada pasien tersebut. Keteranagan
diagnosis itu mencakup obat-obatan yang dapat membuat wajah dan kulit lebih terang, putih,
tidak berminyak dengan pencegahan-pencegahan terkena sinar matahari, bakteri dari polusi
dan sebagainya yang dapat meningkatkan kecantikan. Dapat disimpulkan bahwa pihak yang
berkuasa, yang mampumengkonstruksi sosial serta mampu mempengaruhi struktur sosial
dalam kasus ini kapitalis dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan material, mereka
melakukan Selling Sickness[13] atau menjual penyakit supaya masyarakat dapat membeli
produk obat (medis) untuk menyembuhkannya.

Jika melihat penjelasan Irving Zola mmaka dapat ditambahkan bahwa masalah kecantikan
berhubungan dengan masalah moral, akibat sosialisasi ukuran kecantikan tersebut maka
penilaian baik adalah wajah dan kulit yang terang, putih, dan tidak berminyak, serta halus,
sedangkan penilaian buruk adalah pada wajah yang berjerawat dengan kulit yang gelap,
kusam, dan berminyak. Hal ini juga terkait bahwa seseorang juga dinilai tidak memiliki
tanggung jawab atau dinilai kurang bersih karena memiliki wajah yang berjerawat, gelap, dan
kasar. Faktor ini juga yang mendorong seseorang dan sebagian besar perempuan untuk
merawat wajah dan kulitnya secara medis dengan menggunakan produk kosmetik oleh ahli
dermatologis dan ada juga yang melakukan perawatan kecantikan secara medis dengan
dokter.
Empat cara medikalisasi yang diuraikan oleh Zola dapat dicontohkan dalam kasus ini.
Berekembangnya upaya pencegahan penyakit telah menyebar sampai pada perawatan
kecantikan sehingga pengaruh ilmu kesehatan semakin memeprluas perannya dalam
kehidupan sehari-hari. Selain itu, obat yang digunakan untuk merawat kecantikan secara
medis bukan merupakan keperluar kuratif untuk menjadi sehat namun bergeser fungsinya
yaitu untuk meningkatkan kecantikan. Yang terakhir yaitu ekspansi hal yang menjadikan
konsep penyakit juga diwujudkan dalam kecantikan, Lawan kata dari makna cantik
merupakan jelek atau buruk yang sifatnya subjektif, namun seiring dengan medikalisasi maka
makna jelek/buruk menjadi suatu makna penyakit karena dikaitkan secara biomedis.
Seiring dengan medikalisasi kecantikan (estetika) maka meningkat juga penggunaan sistem
untuk perawatan kecantikan secara medis. Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya klinik praktek
dokter spesialis kulit mandiri dan pusat perawatan kulit seperti yang sudah diuraikan dalam
deskripsi. Banyaknya pengadaan sistem perawatan kecantikan secara medis ini
memperlihatkan bahwa terdapat institusionalisasi kesehatan dalam upaya untuk
meningkatkan kecantikan dengan sistem medis modern ditandai dengan banyaknya klinik
yang membuka praktek untuk perawatan kecantikan secara medis bahkan menggunakan
teknologi kesehatan. Klinik perawatan kecantikan medis tidak hanya digunakan sebagai
penyembuhan berbagai macam penyakit kulit tetapi juga digunakan untuk mencegah
datangnya jerawat, memutihkan kulit, serta menghindari keriput menjelang usia tua. Namun,
medikalisasi kecantikan dengan menggunakan sistem perawatan kecantikan secara medis
dapat menyebabkan iatrogenesis. Seperti yang telah diuraikan dalam deskripsi, medikalisasi
kecantikan yang menggunakan medis di mana sebagian adalah obat sebagai pengobatannya
juga banyak yang mengandung logam berat termasuk merkuri yang dapat mengakibatkan
kanker kulit. Kanker kulit merupakan salah satu efek samping penyakit yang dapat
disebabkan oleh penggunaan obat-obat yang sebenarnya ditujukan untuk penyembuhan
penyakit.

Kesimpulan

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat sistem medis
melakukan ekspansi pengaruhnya terhadap aspek kehidupan masyarakat. Hal ini
mempengaruhi penyelenggaraan sistem medis modern semakin meluas dalam aspek
kehidupan manusia, salah satunya yaitu sistem perawatan kecantikan (estetika) secara medis.

Kecantikan (estetika) merupakan hal yang bersifat non-medis sebelumnya, namun seiring
dengan perkembangan sistem medis modern, terjadi medikalisasi dalam bidang kecantikan
(estetika). Munculnya permasalahan penyakit yang sebenarnya hanya perbedaan ukuran
kecantikan saja, namun karena sosialisasi makna cantik yang banyak terdapat di iklan televisi
membuat jerawat, kulit kusam, gelap, berminyak, serta kering menjadi dianggap sebagai
suatu penyakit. Anggapan seperti ini merupakan suatu bentuk konstruksi sosial terhadap
pentingnya merawat kecantikan yang sebelumnya bersifat non-medis kemudian menjadi
medis di mana maslaah dapat diatasi dengan obat. Seiring dengan hal ini juga maka
meningkatnya upaya-upaya yang dilakukan oleh para perempuan untuk melakukan perawatan
kecantikan secara medis dengan menggunakan produk kosmetik dari dermatologis,
memeriksakan kecantikannya di dokter spesialis kulit dan pusat perawatan kecantikan medis
serta dengan teknologi modern secara rutin. Namun, medikalisasi perawatan kecantikan tidak
terlepas dengan iatrogenesis.

Daftar

Pustaka

Conrad, Peter. The Medicalization of Society: on the Transformation of Human Conditions.


2007.
Sunarto, Prof. Dr. Kamanto. Sosiologi Kesehatan: Modul. 2001. Pusat Penerbitan Universitas
Terbuka.
Amini, Ratna. Sistem Perawatan Kecantikan Prof. Dr. H. Djedje Hidayatullah dan
Perkembangannya di Masyarakat. Skripsi: Jurusan Antropologi Universitas Indonesia. 2004
http://ezinearticles.com/?Health-Institution&id=503185
http://www.kompas.com/read/xml/2008/01/16/17255885
http://rumahherbalku.wordpress.com/2009/10/02/medikalisasi--medicalization-of-society/