Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Sistim Imun dapat didefinisikan menjadi semua mekanisme yang
digunakan badan untuk mempertahankan keutuhan tubuh sebagai perlindungan
terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan sebagai bahan dalam lingkungan hidup
seperti berbagai bahan organik dan anorganik, baik yang hidup maupun yang
mati, asal hewan, tumbuhan, jamur, bakteri, virus, parasit, berbagai debu dalam
polusi, uap, asap, dan lain-lain iritan.
Sistim imun harus mampu melawan patogen intraseluler seperti virus,
beberapa bakteri dan protozoa serta patogen ektraseluler seperti bakteri dan
toksinnya, parasit dan virus bebas. Pada umumnya sel T atau limfosit T berfungsi
dalam pengenalan dan eliminasi antigen yang ada dalam sel, sedang antibodi yang
diproduksi sel B atau limfosit B yang bekerja sama dengan fagosit dan
komplemen berfungsi dalam eliminasi patogen dan antigen ekstraseluler.
Fungsi sistim imun dapat terganggu, baik primer maupun sekunder,
sehingga menimbulkan ketidakseimbangan yang dapat bermanifestasi menjadi
infeksi berulang, predisposisi terhadap keganasan dan autoimunitas. Jika tubuh
dihadapkan sesuatu yang asing maka tubuh memerlukan ketahanan berupa respon
imun untuk melawan substansi tersebut dalam upaya melindungi dirinya sendiri
dari kondisi yang potensial menyebabkan penyakit. Untuk melakukan hal tersebut
secara efektif maka diperlukan kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri
sehingga dapat memberikan respon pada kondisi asing atau bukan dirinya sendiri.
Pada penyakit autoimmune terjadi karena kegagalan untuk mengenali beberapa
bagian dari dirinya
Autoimunitas atau hilangnya toleransi adalah respon imun terhadap
antigen jaringan sendiri yang disebabkan oleh mekanisme normal yang gagal
berperan untuk pertahanan self-tolerance sel B, sel T atau keduanya.

Dimana penyakit autoimun adalah kerusakan jaringan atau gangguan


fungsi fisiologis yang ditimbulkan oleh respons autoimun. Perbedaan tersebut
adalah penting, oleh karena respons imun dapat terjadi tanpa disertai penyakit atau
penyakit yang ditimbulkan mekanisme lain (seperti infeksi).
1.2

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari pembuatan makalah ini adalah :
a.
b.
c.
d.

1.3

Apakah pengertian dari autoimun ?


Apakah sajakah kriteria dari autoimun ?
Bagaimanakah pembagian penyakit autoimun ?
Faktor sajakah yang mempengaruhi imunitas ?

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan-tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
a.
b.
c.
d.

Untuk
Untuk
Untuk
Untuk

mengetahui pengertian dari autoimun.


mengetahui kriteria-kriteria dari autoimun.
mengetahui pembagian penyakit autoimun.
mengetahui faktor - faktor yang mempengaruhi imunitas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian
Autoimunitas adalah respon imun terhadap antigen tubuh sendiri yang
disebabkan oleh menkanisme normal yang gagal berperan untuk mempertahankan
self-tolerance sel B, sel T atau keduanya. Respon imun yang terlalu aktif
menyebabkan disfungsi imun, menyerang bagian dari tubuh tersebut dan
merupakan kegagalan fungsi sistem kekebalan tubuh yang membuat badan
menyerang jaringannya sendiri. Sistem imunitas menjaga tubuh melawan pada
apa yang terlihatnya sebagai bahan asing atau berbahaya. Bahan seperti itu
termasuk mikro-jasad, parasit (seperti cacing), sel kanker, dan terjadi pada
pencangkokkan organ dan jaringan. Setiap penyakit yang dihasilkan dari seperti
respon imun yang menyimpang, kerusakan jaringan atau gangguan fungsi
fisiologis yang ditimbulkan oleh respon autoimun disebut penyakit autoimun.
Penyakit Autoimun adalah penyakit dimana sistem kekebalan yang
terbentuk salah mengidentifikasi benda asing, dimana sel, jaringan atau organ
tubuh manusia justru dianggap sebagai benda asing sehingga dirusak oleh
antibodi. Jadi adanya penyakit autoimun tidak memberikan dampak peningkatan
ketahanan tubuh dalam melawan suatu penyakit, tetapi justru terjadi kerusakan
tubuh akibat kekebalan yang terbentuk.
Bahan yang bisa merangsang respon imunitas disebut antigen. Antigen
adalah molekul yang mungkin terdapat dalam sel atau di atas permukaan sel
(seperti bakteri, virus, atau sel kanker). Beberapa antigen, seperti molekul serbuk
sari atau makanan, ada di mereka sendiri. Sel sekalipun pada orang yang memiliki
jaringan sendiri bisa mempunyai antigen. Tetapi, biasanya, sistem imunitas
bereaksi hanya terhadap antigen dari bahan asing atau berbahaya, tidak terhadap
antigen dari orang yang memiliki jaringan sendirii. Tetapi, sistem imunitas
kadang-kadang rusak, menterjemahkan jaringan tubuh sendiri sebagai antibodi
asing dan menghasilkan (disebut autoantibodi) atau sel imunitas menargetkan dan

menyerang jaringan tubuh sendiri. Respon ini disebut reaksi autoimun. Hal
tersebut menghasilkan radang dan kerusakan jaringan. Efek seperti itu mungkin
merupakan gangguan autoimun, tetapi beberapa orang menghasilkan jumlah yang
begitu kecil autoantibodi sehingga gangguan autoimun tidak terjadi.
2.2

Penyebab Utama Penyakit Autoimun


Reaksi autoimun dapat dicetuskan oleh beberapa hal :
Senyawa yang ada di badan yang normalnya dibatasi di area tertentu
(disembunyikan dari sistem kekebalan tubuh) dilepaskan ke dalam aliran darah.
Misalnya, pukulan ke mata bisa membuat cairan di bola mata dilepaskan ke dalam
aliran darah. Cairan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali mata
sebagai benda asing dan menyerangnya.
Senyawa normal di tubuh berubah, misalnya, oleh virus, obat, sinar matahari, atau
radiasi. Bahan senyawa yang berubah mungkin kelihatannya asing bagi sistem
kekebalan tubuh. Misalnya, virus bisa menulari dan demikian mengubah sel di
badan. Sel yang ditulari oleh virus merangsang sistem kekebalan tubuh untuk
menyerangnya.
Senyawa asing yang menyerupai senyawa badan alami mungkin memasuki badan.
Sistem kekebalan tubuh dengan kurang hati-hati dapat menjadikan senyawa badan
mirip seperti bahan asing sebagai sasaran. Misalnya, bakteri penyebab sakit
kerongkongan mempunyai beberapa antigen yang mirip dengan sel jantung
manusia. Jarang terjadi, sistem kekebalan tubuh dapat menyerang jantung orang
sesudah sakit kerongkongan (reaksi ini bagian dari demam rheumatik).
Sel yang mengontrol produksi antibodi misalnya, limfosit B (salah satu sel darah
putih) mungkin rusak dan menghasilkan antibodi abnormal yang menyerang
beberapa sel badan.
Keturunan mungkin terlibat pada beberapa kekacauan autoimun. Kerentanan
kekacauan, daripada kekacauan itu sendiri, mungkin diwarisi. Pada orang yang
rentan, satu pemicu, seperti infeks virus atau kerusakan jaringan, dapat membuat
kekacauan berkembang. Faktor hormonal juga mungkin dilibatkan, karena banyak
kekacauan autoimun lebih sering terjadi pada wanita

2.3

Mekanisme Kejadian Penyakit Autoimun

Jika tubuh dihadapkan sesuatu yang asing maka tubuh memerlukan


ketahanan berupa respon imun untuk melawan substansi tersebut dalam upaya
melindungi dirinya sendiri dari kondisi yang potensial menyebabkan penyakit.
Untuk melakukan hal tersebut secara efektif maka diperlukan kemampuan untuk
mengenali dirinya sendiri sehingga dapat memberikan respon pada kondisi asing
atau bukan dirinya sendiri. Pada penyakit autoimmune terjadi kegagalan untuk
mengenali beberapa bagian dari dirinya (NIH, 1998).
Ada 80 grup Penyakit autoimmune serius pada manusia yang memberikan
tanda kesakitan kronis yang menyerang pada hampir seluruh bagian tubuh
manusia.

Gejala-gejala

yang

ditimbulkan

mencakup

gangguan nervous,

gastrointestinal, endokrin sistem, kulit dan jaringan ikat lainnya, mata, darah, dan
pembuluh darah. Pada gangguan penyakit tersebut diatas, problema pokoknya
adalah terjadinya gangguan sistem immune yang menyebabkan terjadinya salah
arah sehingga merusak berbagai organ yang seharusnya dilindunginya.
2.4

Diagnosa
Pemeriksaan darah yang menunjukkan adanya radang dapat diduga
sebagai gangguan autoimun. Misalnya, pengendapan laju eritrosit (ESR)
seringkali meningkat, karena protein yang dihasilkan dalam merespon radang
mengganggu kemampuan sel darah merah (eritrosit) untuk tetap ada di darah.
Sering, jumlah sel darah merah berkurang (anemia) karena radang mengurangi
produksi mereka. Tetapi radang mempunyai banyak sebab, banyak di antaranya
yang bukan autoimun. Dengan begitu, dokter sering mendapatkan pemeriksaan
darah untuk mengetahui antibodi yang berbeda yang bisa terjadi pada orang yang
mempunyai gangguan autoimun khusus. Contoh antibodi ini ialah antibodi
antinuclear, yang biasanya ada di lupus erythematosus sistemik, dan faktor
rheumatoid atau anti-cyclic citrullinated peptide (anti-CCP) antibodi, yang
biasanya ada di radang sendi rheumatoid. Antibodi ini pun kadang-kadang
mungkin terjadi pada orang yang tidak mempunyai gangguan autoimun, oleh
sebab itu dokter biasanya menggunakan kombinasi hasil tes dan tanda dan gejala
orang untuk mengambil keputusan apakah ada gangguan autoimun.

2.5

Pengobatan

Pengobatan memerlukan kontrol reaksi autoimun dengan menekan sistem


kekebalan tubuh. Tetapi, beberapa obat digunakan reaksi autoimun juga
mengganggu kemampuan badan untuk berjuang melawan penyakit, terutama
infeksi.
Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresan), seperti
azathioprine, chlorambucil, cyclophosphamide, cyclosporine, mycophenolate, dan
methotrexate, sering digunakan, biasanya secara oral dan seringkali dalam jangka
panjang. Obat ini menekan bukan hanya reaksi autoimun tetapi juga kemampuan
badan untuk membela diri terhadap senyawa asing, termasuk mikro-jasad
penyebab infeksi dan sel kanker. Konsekwensinya, risiko infeksi tertentu dan
kanker meningkat.
Sering kortikosteroid seperti prednison diberikan secara oral. Obat ini
mengurangi radang sebaik menekan sistem kekebalan tubuh. Kortikosteroid yang
digunakan dalam jangka panjang memiliki banyak efek samping. Kalau mungkin
kortikosteroid dipakai untuk waktu yang pendek sewaktu gangguan mulai atau
sewaktu gejala memburuk. Tetapi kadang-kadang harus dipakai untuk jangka
waktu tidak terbatas.
Gangguan autoimun tertentu (seperti multipel sklerosis dan gangguan
tiroid) juga diobati dengan obat lain daripada imunosupresan dan kortikosteroid.
Pengobatan untuk mengurangi gejala juga mungkin diperlukan.
Etanercept, infliximab, dan adalimumab menghalangi aksi faktor tumor
necrosis (TNF), bahan yang bisa menyebabkan radang di badan. Obat ini sangat
efektif dalam mengobati radang sendi rheumatoid, tetapi mereka mungkin
berbahaya jika digunakan untuk mengobati gangguan autoimun tertentu lainnya,
seperti multipel sklerosis. Obat ini juga bisa menambah risiko infeksi dan kanker
tertentu.
Obat baru tertentu secara khusus membidik sel darah putih. Sel darah putih
menolong pertahanan tubuh melawan infeksi tetapi juga berpartisipasi pada reaksi
autoimun. Abatacept menghalangi pengaktifan salah satu sel darah putih (sel T)
dan dipakai pada radang sendi rheumatoid. Rituximab, terlebih dulu dipakai
melawan kanker sel darah putih tertentu, bekerja dengan menghabiskan sel darah
putih tertentu (B lymphocytes) dari tubuh. Efektif pada radang sendi rheumatoid

dan dalam penelitain untuk berbagai gangguan autoimun lainnya. Obat lain yang
ditujukan melawan sel darah putih sedang dikembangkan.
Plasmapheresis digunakan untuk mengobati sedikit gangguan autoimun.
Darah dialirkan dan disaring untuk menyingkirkan antibodi abnormal. Lalu darah
yang disaring dikembalikan kepada pasien. Beberapa gangguan autoimun terjadi
tak dapat dipahami sewaktu mereka mulai. Tetapi kebanyakan gangguan autoimun
kronis.

Obat

sering

diperlukan

sepanjang

hidup

untuk

mengontrol

gejala. Prognosis bervariasi bergantung pada gangguan.


2.6

Kriteria Autoimun
Terdapat 6 butir yang diperlukan untuk menentukan criteria autoimunitas
Tabel 2.6.1 Kriteria Autoimun
No

Kriteria

Catatan
Kriteria

ditemukan

pada

kebanyakan

penyakit endokrin autoimun. Lebih sulit


Autoantibodi atau sel T
1

ditemukan pada antigen sasaran yang tidak

autoreaktif dengan spesifitas diketahui seperti pada AR. Autoantibodi


untuk organ yang terkena

lebih mudah ditemukan dibandingkan sel

ditemukan pada penyakit

T autoreaktif, tetapi autoantibody dapat


juga ditemukan pada beberapa subyek
normal.

Autoantibodi atau sel T


2

ditemukan di suatu jaringan


dengan kondisi cedera
Ambang auto-antibody atau

respons dari sel T yang


menggambarkan aktivitas
penyakit
Penurunan respons

autoimun memberikan
perbaikan penyakit

Benar pada beberapa penyakit endokrin,


LES dan beberapa glomerulonefritis.
Hanya ditemukan pada penyakit autoimun
sistemik akut dengan kerusakan jaringan
progresif
vaskulitis

cepat

seperti

sistemik

pada

atau

LES,

penyakit

antiglomerulus membrane basal.


Keuntungan imunosupresi terlihat pada
beberapa
imunosupresan

penyakit,
tidak

terbanyak

nonspesifik

dan

berupa antiinflamasi.

10

Ditemukan pada model hewan. Pada


Transfer antibody atau sel T
5

ke pejamu sekunder
menimbulkan penyakit
autoimun pada resipien

manusia dengan transfer transplasentral


antibodi IgG autoreaktif selama kehamilan
trimester terakhir dan dengan timbulnya
penyakit autoimun pada resipien transplant
sumsum

tulang

bila

donor

memiliki

penyakit autoimun.
Banyak protein self menginduksi respon
Imunisasi dengan
6

autoantigen dan kemudian


induksi respons autoimun
menimbulkan penyakit

autoimun pada hewan bila disuntikkan


dengan ajuvan yang benar. Lebih sulit
dibuktikan pada manusia, tetapi imunisasi
rabies dengan jaringan otak mamalia yang
terinfeksi

(tidak

infeksius)

dapat

menimbulkan ensefalomielitas autoimun.


Bukti terbaik adanya autoimunitas pada manusia adalah transfer pasif
IgG melalui plasenta yang terjadi pada kehamilan trisemester ketiga. Hal ini dapat
menerangkan terjadinya penyakit autoimun sementara pada janin dan neonates
(Tabel 2.2).
Tabel 2.6.2 Penyakit yang dapat diinduksi IgG dan dapat ditransfer melalui plasenta
Antibodi Maternal yang

Penyakit yang diinduksi pada Neonatus


berperan
Hormon yang menstimulasi tiroid
Penyakit Grave neonates
Molekul adhesi membrane basal
Pemfigoid neonates
epidermal
Sel darah merah
Anemia hemolitik
Trombosit
Trombositopenia
Reseptor asetilkolin
Miastenia gravis neonates
Lupus kulit neonates dan heart block
Ro dan La
congenital komplit
Serta contoh beberapa penyakit autoimun dan autoantigennya terlihat
pada Tabel 2.3.

11

Tabel 2.6.3 Contoh beberapa auto-antigen dan penyakit yang berhubungan


No
1
2

Self Antigen
Reseptor hormon

Contoh
Reseptor TSH
Reseptor insulin

Penyakit
Hiper/hipo-tiroidisme
Hiper/hipo-glikemia

Reseptor

Reseptor

Miastenia gravis

neurotransmitor

asetilkolin
Molekul adhesi sel Penyakit kulit dengan

Molekul adhesi

Protein plasma

epidermal
lepuh
Faktor VIII
Hemofilia didapat
2-Glikoprotein I Sindrom
dan

protein antifosfolipid

antikoagulan lain
SDM
(Antigen Anemia hemolitik
Protein permukaan sel
Trombositopenia
multiple)
lain
Trombosit
purpura
Peroksidase tiroid
Hipotirodisme
Steroid
21 Kegagalan
hidroksilasi

adrenokortikal

(korteks adrenal)
Dekarboksilase

(penyakit Addison)
Diabetes autoimun

glutamate (sel
6

Enzim intraselular

pulau Langerhans)
Enzim lisosom (sel

Vaskulitis sistemik
Sirosis bilier primer

fagositik)
Enzim
mitokondrial
(terutama
dehidrogenase

2.7

piruvat)
Ds-DNA
Molekul
intraselular Histon
Topoisomerase I
yang berperan dalam Sintase amino asil
transkripsi dan translasi t-RNA
Protein sentromer

LES
LES
Skleroderma difus
Polimiositis
Skleroderma
yang
terbatas

Pembagian penyakit autoimun

12

A. Pembagian penyakit autoimun menurut organ


Penyakit autoimun dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu yang organ
spesifik dan yang non-organ spesifik. Spectrum penyakit autoimun terlihat pada
Tabel 2.3.1
Tabel 2.7.1 Spektrum Penyakit Autoimun

ORGAN SPESIFIK

ORGAN NON SPESIFIK

Tiroiditis Hashimoto

Kolitis Ulseratif

Miksedem primer

Sindrom Sjogren

Tiroksikosis

Artritis Reumatoid

Anemia pernisiosa

Dermatomiositis

Gastritis atrofi autoimun

Skelroderma

Penyakit Addison

LE diskoid

Menopause prematur

Sirosis biliar primer

Diabetes juvenil

Lupus eritematosus sistematik (LES)

Tumpang tindih dapat terjadi di ujung spectrum :


a. Penderita anemia pernisiosa dapat pula mengandung auto-antibodi terhadap
tiroid
b. Penderita arthritis rheumatoid dan LES sering mengandung anti-DNA
c. Jarang ditemukan 2 penyakit dari ke-2 ujung spectrum pada satu penderita.
Penyakit autoimun organ spesifik
Contoh alat tubuh yang menjadi sasaran penyakit autoimun adalah
kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, lambung dan pangkrean. Pada penyakit-penyakit
tersebut, dibentuk antibodi terhadap jaringan alat tubuh. Pada hal ini adanya
antibodi yang tumpang tindih (overlapping), misalnya antibodi terhadap kelenjar
tiroid dan antibodi terhadap lambung sering ditemukan pada satu penderita.
Kedua antibodi tersebut jarang ditemukan bersamaan dengan antibodi yang nonorgan spesifik seperti antibodi terhadap komponen nucleus dan nucleoprotein.

13

Penderita anemia pernisiosa lebih cenderung menderita penyakit tiroid


autoimun dibanding dengan orang normal dan juga sebaliknya penderita dengan
penyakit tiroid autoimun lebih cenderung untuk juga menderita anemia pernisiosa.
Pada anemia pernisiosa ditemukan antibodi yang menghalangi absorpsi
normal vitamin B12. Pada keadaan normal, vitamin B12 tidak langsung di absorpsi,
tetapi harus diikat dahulu oleh protein yang disebut faktor intrinsik (F1).
Kompleks vitamin B12 dan F1 tersebut baru dapat diangkut melewati selaput
lendir intestinal.
Penyakit autoimun non-organ spesifik
Penyakit autoimun yang non-organ spesifik terjadi karena dibentuknya
antibodi terhadap autoantigen yang tersebar luas di dalam tubuh, misalnya DNA.
Antibodi yang tumpah tindih ditemukan pula pada golongan penyakit
autoimun pada kedua ujung spectrum misalnya anti-DNA dapat ditemukan pada
golongan penyakit rheumatoid seperti arthritis rheumatoid dan lupus eritematosus
sistemik.
Pada penyakit autoimun yang non-organ spesifik, sering juga dibentuk
kompleks imun yang dapat diendapkan pada dinding pembuluh darah, kulit, sendi,
dan ginjal, serta menimbulkan kerusakan pada alat tersebut. Tempat endapan
kompleks imun di dalam ginjal bergantung pada ukuran kompleks yang ada di
dalam sirkulasi.
Perbedaan antara penyakit autoimun yang organ spesifik dan yang nonorgan spesifik terlihat pada Tabel 3.5
Tabel 2.7.2 Perbedaan antara penyakit autoimun organ spesifik dan non-organ spesifik
Organ Spesifik
Antigen

Non-organ Spesifik

Terdapat di dalam alat tubuh


tertentu

Tersebar di seluruh tubuh


Penimbunan

Kerusakan

Antigen dalam alat tubuh

Tumpang tindih

Dengan

antibodi

kompleks

sistemik terutama dalam

ginjal, sendi, dan kulit


organ Dengan antibodi non-

spesifik dan penyakit lain

organ

spesifik

dan

14

penyakit lain.
B. Pembagian penyakit autoimun menurut mekanisme

Antibodi dan autoimun sendiri menimbulkan kerusakan pada jaringan.

Ada penyakit yang menimbulkan kerusakan jaringan. Jaringan yang rusak


merupakan neoantigen dan menimbulkan respon imun.

Ada faktor-faktor lain yang sekaligus menimbulkan kerusakan jaringan


dan autoimunitas.
Autoantibodi meningkat dengan usia dan hal ini tidak selalu disertai dengan

penyakit autoimun. Autoantibodi dapat primer, langsung menimbulkan penyakit


(sindrom Goodpasture) atau timbul sekunder akibat kerusakan jaringan rusak dan
melepas self antigen yang dapat menimbulkan respons yang sementara (misalnya
akibat infark jantung).
Meskipun autoantibodi tidak selalu patogenik, kehadirannya dapat berarti
sebagai petanda dalam diagnosis. Berbagai uji autoantibodi telah dapat dilakukan
dalam laboratorium imunologi dan adanya antibodi tersebut dapat meramalkan
atau mempunyai arti diagnostik untuk penyakit autoimun.
Penyakit autoimun dapat dibagi menurut mekanisme sebagai berikut :
A.
a.

b.
c.

B.

Penyakit autoimun melalui antibodi


Anemia hemolitik autoimun :

Antibodi panas

Antibodi dingin
Miastenia gravis
Tirotoksikosis

Penyakit autoimun melalui kompleks imun


a.

Lupus eritematosus sistemik (LES)

b.

Artritis reumatoid (AR)

c.

Penyakit autoimun melalui sel

15

d.

2.8

Penyakit autoimun melalui komplemen

Faktor Imun Yang Berperan Pada Autoimun


Tabel 2.8.1 Faktor Imun Yang Berperan Pada Autoimun
No

Faktor Imun

Keterangan
a. Antigen sendiri yang karena letak
anatominya tidak terpajan dengan sel B
atau sel T dari system imun
b. Pada keadaan normal dilindungi dan

Sequestered antigen

tidak ditemukan untuk dikenal sistem


imun
c. Contoh : Uveitis pasca trauma &

orchitis

pasca

vasektomi

diduga

disebabkan respons autoimun terhadap


Sequestered antigen
a. Infeksi yang meningkatkan respons
MHC, kadar sitokin yang rendah
(misalnya
2

Gangguan presentasi

TGF-)

dan

gangguan

respons terhadap IL-2


b. Respon Imun selular terhadap mikroba
dan antigen asing lainnya dapat juga
menimbulkan kerusakan jaringan di

tempat infeksi atau pajanan antigen


Ekpresi MHC-II yang tidakc. Ekspresi MHC-II yang tidak pada
benar

tempatnya biasanya hanya diekpresikan


pada APC dapat mensensitasi sel Th
terhadap peptide yang berasal dari sel
atau tiroid dan mengaktifkan sel atau
Tc atau Th1 terhadap self antigen
d. Contoh : Sel pangkreas pada
penderita

dengan

IDDM

mengekpresikan kadar tinggi MHC-I


dan MHC-II, sedang subyek sehat sel

16

mengekspresikan MHC-I yang lebih


sedikit

dan

tidak

mengekpresikan

MHC-II sama sekali


a. Autoimunitas dapat terjadi oleh karena
aktivasi sel B poliklonal oleh virus
(EBV), LPS dan parasit malaria yang
4

Aktivasi sel B poliklonal

dapat

merangsang

sel

secara

langsung
b. Antibodi yang dibentuk terdiri atas
berbagai autoantibody
a. Penelitian
pada
model

hewan

menunjukkan bahwa CD4 merupakan


efektor utama pada penyakit autoimun
b. Untuk seseorang menjadi rentan
5

Peran CD4 dan reseptor terhadap autoimunitas harus memiliki


MHC

MHC dan TCR yang dapat mengikat


antigen sel sendiri
c. Contoh :Pada tikus EAE ditimbulkan
oleh Th1 CD4 yang spesifik untuk
antigen
Th1
menunjukkan

peran

pada

autoimunitas, sedang pada Th2 tidak


6

Keseimbangan Th1-Th2

hanya melindungi terhadap induksi


penyakit tetapi juga terhadap progress
penyakit
a. Gangguan

mekanismenya

menimbulkan upregulasi atau produksi


sitokin yang tidak benar sehingga
7

menimbulkan efek patofisiologik


b.
Sitokin dapat menimbulkan translasi
Sitokin pada autoimunitas
berbagai faktor etiologis kedalam
kekuatan

patogenik

dan

mempertahankan inflamasi fase kronis


serta destruksi jaringan

17

18

BAB III
PEMBAHASAN
3.1

Faktor Lingkungan
Faktor-faktor lingkungan dapat memicu autoimunitas seperti mikroba,
hormone, radiasi UV, oksigen radikal bebas, obat dan agen bahan lain seperti

a.

logam
Kemiripan molekular dan infeksi
Hubungan antara infeksi mikroba (virus, bakteri) dan autoimunitas yang terjelas
ditimbulkan oleh adanya kemiripan (mimicracy).

b.

Hormon
Studi epidemiologi menemukan bahwa wanita lebih cenderung menderita
penyakit autoimun disbanding pria. Wanita pada umumnya juga memproduksi
lebih banyak antibody dibanding pria yang biasanya merupakan respons
proinflamasi Th1.

c.

Obat
Banyak obat berhubungan dengan efek samping berupa idiosinkrasi dan
patogenesisnya terjadi melalui komponen autoimun.

d.

Radiasi UV
Radiasi UV dapat menimbulkan modifikasi struktur radikal bebas self antigen
yang meningkatkan imunogenesitas.

e.

Oksigen radikal bebas


Bentuk lain dari kerusakan fisis dapat mengubah imunogenesitas self antigen
terutama kerusakan self molekul oleh radikal bebas oksigen yang menimbulkan
sebagian proses inflamasi. Pemicu lainnya adalah stress psikologi dan faktor
makanan.

19

f.

Logam
Berbagai logam seperti Zn, Cu, Cr, Pb, Cd, Pt, perak dan metalloid (silikon)
diduga dapat menimbulkan efek terhadap system imun, baik in vitro maupun in
vivo dan kadang serupa autoimunitas.

3.2

Prinsip Pengobatan Penyakit Autoimun


Pengobatan penyakit autoimun pada umumnya belum memuaskan. Dua
strategi utama adalah menekan respons imun atau menggantikan fungsi organ
yang terganggu/rusak. Adapun yang biasa dilakukan adalah dengan cara berikut
ini.

Pengontrolan metabolik

Sebagian besar pendekatan pengobatan, ditujukan untuk memanipulasi respons


imun. Namun demikian pada banyak penyakit spesifik organ, upaya memperbaiki
metabolisme biasanya mencukupi, misalnya pemberian tiroksin pada miksudema
primer, insulin pada diabetes juvenile, vitamin B12 pada anemia pernisiosa, dll.

Obat anti inflamasi

Penderita dengan gejala miastenia berat memberikan respons baik terhadap steroid
dosis tinggi demikian pula penyakit autoimun berat yang lain, misalnya SLE dan
nefritis kompleks imun dimana obatobat itu mengurangi lesi inflamasi.
Pada arthritis rheumatoid, selain steroid obat anti inflamasi seperti salisilat dan
obat sintetik penghambat prostaglandin yang takterhitung banyaknya digunakkan
secara luas. Sulfasalazin, penisilamin, garam emas dan antimalaria seperti
klorokuin semuanya mendapat tempat penting dalam pengobatan tetapi cara
kerjanya tidak diketahui.
Pengobatan dengan cara menghambat mediator lain yang terlibat dalam kerusakan
jaringan akibat reaksi imunologik mungkin berhasil bila dapat diperoleh antagonis
limfokin dan komplemen. Penelitian tentang netralisasi TNF dengan antibodi
monoclonal sedang dilakukan, dengan harapan menghasilkan manfaat jangka
panjang dengan cara memperbaiki jaring-jaring sitokin.
20

Obat Imunosupresan
Pada dasarnya, karena siklosforin menghambat sekresi limfokin oleh sel T,

ia disebut obat anti inflamasi dank arena limfokin seperti IL-2 pada keadaan
tertentu juga dapat meningkatkan proliferasi, siklosporin juga dapat dianggap obat
anti mitotic. Obat ini telah terbukti bermanfaat pada uveitis, diabetes dini tipe I,
sindroma nefrotik dan psoriasis, dan terbukti menunjukkan manfaat moderat pada
purpura trombositopenia idiopatik, SLE, polimiositis, penyakit Crohn, sirosis
bilier primer dan miastenia gravis. Pada uji klinik obat dengan cara double blind
acak, siklosporin menunjukkan penekanan gejala penyakit secara bermakna
selama 12 bulan walaupun tidak lengkap pada kelompok penderita arthritis
rheumatoid yang sebelumnya refrakter.
Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresan), seperti
azathioprin, chlorambucil, cyclosporine, mycophenolate, dan methotrexate, sering
digunakan biasanya dikombinasi dengan steroid, digunakan secara efektif
misalnya pada SLE, arthritis rheumatoid, hepatitis kronik aktif dan anemia
hemolitik autoimun. Siklofosfamida dosis tinggi puls ACTH yang diberikan i.v
atau iradiasi total kelenjar limfe, yang berdampak pada system imun perifer, dapat
memperlambat atau menghentikan penyakit pada sekitar dua pertiga penderita MS
progresif selama 12 tahun, dan ini merupakan indikasi bahwa penyakit
disebabkan mekanisme imunologik. Hal ini didukung dengan penemuan yang
membuktikan bahwa IFN menyebabkan kekambuhan peyakit pada sebagian
besar penderita.
Strategi pengontrolan imunologik
a.

Dengan Manipulasi seluler


Beberapa ahli melakukan pendekatan dengan pemberian reseptor anti IL-2 untuk
mengurangi sel T aktif. Penguatan antigen jelas merupakan peristiwa
berkelanjutan pada penyakit autoimun, sehingga anti CD4 seharusnya dapat
dipakai sebagai obat yang ideal bagi penyakit ini kalau sel T masih mampu
menerima sinyal tolerogenik alami untuk menghentikan reaksi. Hal ini mungkin
tidak terjadi pada setiap kasus tetapi pengobatan ini merupakan cara yang baik
untuk menguji apakah mekanisme pengenalan CD4 masih normal. Manfaat anti
21

CD4 akan lebih ditingkatkan bila ditunjang oleh pemberian non-depleting antiLFA-1.
b. Pengontrolan idiotip dengan antibodi
Aktivitas imunosupresif yang kuat dari antibodianti-idiotip menimbulkan banyak
harapan

akan

kemungkinan

mengendalikan

produksi

antibodi

dengan

memprovokasi interaksi yang tepat dalam sistem imun. Lebih banyak perubahan
nyata diperoleh dengan pengobatan menggunakkan autoantibodi monoclonal
(idiotip) yang dihasilkan oleh strain autoimun bersangkutan.
c. Vaksinasi dengan idiotip sel T
Vaksinasi sel T telah digunakkan sebagai proteksi terhadap timbulnya dibetes
pada mencit NOD dan timbulnya arthritis setelah sensitasi dengan kolagen tipe II.
Juga dimungkinkan untuk menghentikan arthritis yang diinduksi dengan adjuvant
freund menggunakkan klon sel T yang telah dilemahkan yang timbul sebagai
respons terhadap protein mikobakteri 65 kDa yang dipanaskan.
d. Manipulasi menggunakan antigen
Tujuannya adalah menampilkan antigen yang bersalah dalam konsentrasi yang
cukup dan dalam bentuk demikian rupa hingga ia menghentikan respons autoimun
yang sedang berlangsung.
e. Plasmaferesis
Penggantian plasma untuk menurunkan derajat endapan kompleks imun pada SLE
hanya menghasilkan manfaat sementara tetapi bermanfaat pada kasus arthritis
yang membahayakan. Hasil yang baik dijumpai pada sindroma Goodpasture bila
tindakan ini diterapkan bersama sama dengan obat anti mitotic, rasionalnya
adalah meningkatkan kecenderungan membelah diri pada sel sel yang reaktif
terhadap antigen, karena dampak umpan balik negative IgG akan berkurang bila
protein plasma dikeluarkan.

22

3.3

Systemic Lupus Erythematosus


Lupus adalah suatu kondisi inflamasi kronik yang disebabkan oleh
penyakit autoimun. Penyakit lupus terjadi akibat produksi anti-bodi yang
berlebihan, sehingga tidak berfungsi menyerang virus, kuman atau bakteri yang
ada di tubuh, melainkan justru menyerang sistem kekebalan sel dan jaringan tubuh
sendiri. Penyakit lupus dibedakan menjadi tiga jenis yaitu lupus pada jaringan
kulit saja (diskoid lupus), lupus yang menyerang organ-organ dalam (lupus
eritematosus sistemik) dan Lupus yang disebabkan akibat penggunaan obatobatan.
SLE merupakan penyakit radang atau inflamasi multisystem yang
disebabkan oleh banyak factor dan dikarakterisasi oleh adanya gangguan
disregulasi system imun berupa peningkatan system imun dan produksi
autoantibody terhadap dsDNA, berbagai macam ribonukleoprotein inraseluler,
sel-sel darah, dan fosfolipidyang dapat merusak jaringan melalui mekanisme
pengaktifan komplemen (Joe,2009).
A. Jenis Kelainan
Darah terdiri dari cairan darah dan komponen darah. Komponen darah
terdiri dari sel darah merah, sel darah putih dan pembeku darah. Sel darah
putih (lekosit) terdiri dari limfosit, netrofil batang, netrofil segmen dan
monosit. Cairan darah (plasma) terdiri dari protein dan faktor-faktor
pembekuan. Ketidaknormalan sel darah dan faktor-faktor pembekuan sering
ditemukan pada penderita lupus eritematosis sistemik.
Faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya kelainan darah pada
lupus eritematosus sistemik adalah :
a. Adanya inflamasi/peradangan yang berlangsung terus-menerus
(kronik)
b. Adanya proses imun (reaksi antbodi dengan sel-sel darah)
c. Adanya perarahan saluran cerna yang bersifat kronik karena efek
samping obat-obatan

23

Berikut ini penjelasan secara singkat tentang kelainan-kelainan darah


yang sering didapatkan pada lupus eritematosus sistemik :
1. Anemi hemolitik imun
Anemi hemolitik imun adalah anemi yang disebabkan adanya peningkatan
penghancuran sel darah merah karena adanya antibodi pada permukaan sel
darah merah. Antibodi ini dapat dideteksi dengan pemeriksaan Coombs
dari darah.
2. ITP (Immune thrombocytopenic purpura)
ITP atau Purpura trombositopeni imun adalah berkurangnya jumlah
trombosit (trombositopeni) dengan penyebab proses imun (adanya zat anti
terhadap trombosit).
3. Sindroma Evans
Merupakan kumpulan gejala yang disebabkan karena anemi hemolitik
imun dan berkurangnya trombosit. Pengobatan sama dengan pengobatan
anemi hemolitik imun dan purpura trombositopeni imun.
4. Sindroma antifosfolipid
Sindroma antifosfolipid adalah sekumpulan gejala karakteristik adanya
penyumbatan pembuluh darah (pembuluh darah balik/vena dan nadi/arteri)
dan /atau gangguan kehamilan yang berhubungan dengan tingginya zat
anti terhadap plasma protein yang berikatan dengan fosfolipid anion
(antibodi antifosfolipid). Terdapat 3 jenis antibodi antifosfolipid yaitu:
lupus antikoagulan, antibodi antikardiolipin dan antibodi 2- glikoprotein.
B. Terapi Pengobatan
Hasil pengobatan yang diinginkan untuk pasien dengan SLE adalah dua
hal yaitu:
1. Mengelola gejala dan menginduksi remisi selama terjadinya lonjakan
penyakit
2. Pemeliharaan remisi selama mungkin diantara lonjakan penyakit.
Banyaknya variasi dalam presentasi klinis dari penyakit, pengobatan
dilakukan berbeda-beda dan sangat individual. Perawatan yang optimal untuk

24

pasien dengan SLE dapat dilakukan dengan pengobatan nonfarmakologi dan


farmakologi.
a. Terapi Non-Farmakologi
Beberapa

langkah

nonfarmakologi

dapat

digunakan

untuk

mengelola gejala dan membantu mengelola remisi. Fatigue merupakan


gejala umum pada pasien dengan lupus. Keseimbangan dalam istirahat
dan berolahraga, sambil menghindari kelelahan, sangat penting dalam
mengelola fatigue. Menghindari merokok mungkin sangat penting
karena hidrazin dalam asap tembakau mungkin menjadi pemicu lupus.
Tidak ada diet khusus yang diketahui mempengaruhi perjalanan lupus.
Namun, turunan minyak ikan mungkin mencegah keguguran pada
wanita hamil dengan antibodi antifosfolipid, tetapi kecambah alfalfa
(alfalfa sprouts) harus dihindari karena mengandung asam amino Lcanavanine yang diduga mengubah respon sel T dan B dan dapat
memperburuk lupus. Banyak pasien dengan SLE akan perlu untuk
membatasi paparan sinar matahari dan menggunakan tabir surya untuk
memblok efek buruk sinar ultraviolet. Jumlah pembatasan paparan sinar
matahari bersifat individual (Dipiro et al., 2005).
b. Terapi Farmakologi

Obat anti inflamasi nonsteroid


Sebagaimana dibahas sebelumnya Bahwa gejala seperti
demam, arthritis,dan serositis adalah

yang paling umum terjadi

pada pasien dengan penyakit LSE. Oleh karena itu, pengobatan


pasien

dengan

gejala

awal bisa diobati

dengan

anti-

inflamasi. Dosis yang digunakan untuk terapi ini harus diatur


sedemikian rupa agar dapat memberikan efek anti-inflamasi. Akan
tetapi obat anti inflamasi dapat menyebabkan penurunan fungsi
ginjal apabila digunakan berlebihan hal ini karena obat anti
inflamasidapat menurunkan aliran darah ginjal dan besar filtrasi di
glomerulus (DiPiro et al., 2005).

25

Obat antimalaria
Obat

antimalaria

hydroxychloroquinetelah

seperti
digunakan

klorokuin
dengan

sukses

dan
dalam

pengelolaan lupus diskoid danSLE. Secara umum, manifestasi dari


SLE yang dapat diobati dengan antimalaria adalah artralgia,
Pleuritis, peradan ganringan, kelelahan dan leukopenia. Karena
obat ini tidak efektif dengan segera, maka paling baik digunakan
dalam jangka panjang. Response terhadap

klorokuin adalah 1

sampai 3 bulan, sedangkan efek maksimal hydroxyl chloroquine


mungkin akan terjadi setelah 3 sampai 6 bulan. Dosis dan durasi
terapi tergantung pada respon pasien. Saat ini direkomendasikan
dosis antimalaria pada SLE adalah hydroxychloroquine 200-400
mg / hari dan klorokuin 250-500 mg / hari. Efek samping dari obat
ini adalah sakit kepala, gugup, insomnia, dermatitis, pigmen
perubahan

pada kulit dan rambut, gangguan pencernaan , dan

toksisitas okular (DiPiro et al.,2005).

Kortikostiroid
Terapi kortikosteroid

telah

dilakukan pada

pasien

dengan nefritis lupus parah. Tujuan pengobatan kortikosteroid


pada LSE adalah untuk menekan penyakit dengan menggunakan
dosis obat serendah mungkin.
Pada pasien dengan kategori penyakit ringan, terapi dosis
rendah dengan menggunakan prednisone 10-20 mg / hari. Untuk
pasien dengan penyakit yang lebih berat (anemia hemolitik yang
parah atau keterlibatan jantung) memerlukan dosis obat yang lebih
tinggi yaitu 1-2mg/kg prednison per hari (DiPiro et al., 2005).

Obat sitotoksik
Siklofosfamid dan azatioprin biasanya digunakan sebagai
imuno supresan bila dikombinasikan dengan

kortikosteroid.

Meskipun keduanya dikenal untuk menekan dan menstabilkan


aktivitas penyakit extrarenal, banyak evaluasi bahwa agen ini telah

26

difokuskan

untuk

mengobati

nefritis

lupus.

Berdasarkan

percobaan terkontrol,kombinasi prednison dan siklofosfamid telah


menjadi standar pengobatan untuk lupus nefritis fokal dan difus
proliferatif. Cyclophosphamide ditambah kortikosteroid akan
mempertahankan fungsi
ginjal. Ketika

ginjal dan

digunakan

dengan

mengurangi risiko
kortikosteroid

gagal
dosis

cyclophosphamide adalah 1-3 mg / kg untuk terapi oral dan 0,51,0g/m2


Rute yang

dari luas permukaan tubuh untuk terapi


paling

umum digunakan adalah

intravena.

siklofosfamid

intravena, meskipun ada sedikit bukti bahwa intravena lebih baik


dari pemberian oral.
Sedangkan Azathioprine diberikan secara oral dengan dosis 1 sampai 3
mg / kg per hari, dan sering dikombinasikan dengan kortikosteroid untuk penyakit
parah. Laporan penggunaan obat sitotoksik lain untuk lupus dalam beberapa tahun
terakhir

adalah

methotrexate, mofetil

mycophenolate, mechlorethamine

(mustard nitrogen), klorambusil, dan siklosporin (DiPiro et al., 2005).

27

BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan
Adapun yang dapat disimpulkan dari penjelasan pada bab sebelumnya, adalah:
a. Autoimunitas atau hilangnya toleransi adalah respon imun terhadap antigen
jaringan sendiri yang disebabkan oleh mekanisme normal yang gagal
b.

berperan untuk pertahanan self-tolerance sel B, sel T atau keduanya.


Kriteria autoimun meliputi autoantibodi atau sel T autoreaktif dengan
spesifitas untuk organ yang terkena ditemukan pada penyakit, autoantibodi
dan atau sel T ditemukan di jaringan dengan cedera, ambang autoantibody
atau respons sel T menggambarkan aktivitas penyakit, penurunan respons
autoimun memberikan perbaikan penyakit, transfer antibody atau sel T ke
pejamu sekunder menimbulkan penyakit autoimun pada resipien, imunisasi
dengan autoantigen dan kemudian induksi respons autoimun menimbulkan

c.

penyakit.
Penyakit autoimun dapat dibagi dalam organ spesifik dan sistemik. Organ
spesifik melibatkan respons autoimun terutama terhadap organ tunggal atau

d.

kelenjar. Penyakit sistemik diarahkan ke jaringan dengan spectrum luas.


Peran genetik, faktor imun, serta faktor lingkungan berperan pada

e.

autoimunitas.
Faktor-faktor lingkungan yang berperan pada autoimunitas adalah mikroba,
hormone, radiasi UV, oksigen radikal bebas, obat dan agen bahan lain seperti

f.

logam
Prinsip pengobatan autoimun meliputi menekan respons imun atau
menggantikan fungsi organ yang terganggu atau rusak.

28

DAFTAR PUSTAKA
1) Anief. Moh. 2000. Imunologi Dasar Edisi ke-8. Yogyakarta ; Gajah Mada
University Press.
2) Garna Baratawidjaja, Karnen. 2000. Imunologi Dasar Edisi keempat.
Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
3) Joe. 2009. Systemic lupus erytematosus (SLE) atau lupus
4) Utomo, Wicaksono N. 2012. Hubungan Antara Aktivitas Penyakit Dengan
Status Kesehatan Pada Pasien LES ( Lupus Eritematosus Sistemik ) di RSUP
dr. Kariadi, Semarang.
http://eprints.undip.ac.id/37818/1/Wicaksono_N._Utomo_G2A008193_Lap.
KTI.pdf

29