Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

CA. NASOFARING
DI RUANG RAJAWALI 5A RSUP Dr. KARIADI SEMARANG

Disusun oleh :
Bella Ayu Soraya
P.17420113045

PRODI DIII KEPERAWATAN SEMARANG

JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2015

I.

KONSEP DASAR

A. Pengertian
Karsinoma nasofaring adalah keganasan pada nasofaring yang berasal dari
epitel mukosa nasofaring atau kelenjar yang terdapat di nasofaring.
Carsinoma Nasofaring merupakan karsinoma yang paling banyak di THT.
Sebagian besar klien datang ke THT dalam keadaan terlambat atau stadium lanjut.
Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas di daerah kepala dan leher
yang terbanyak di temukan di Indonesia. Hampir 60% tumor ganas kepala dan
leher merupakan karsinoma nasofaring, kemudian di ikuti oleh tumor ganas hidung
dan sinus paranasal (18%), laring (16%), dan tumor ganas rongga mulut, tonsil,
hipofaring dalam prosentase rendah.
B. Etiologi
Kaitan Virus Epstein Barr dengan ikan asin dikatakan sebagai penyebab utama
timbulnya penyakit ini. Virus ini dapat masuk dalam tubuh dan tetap tinggal disana
tanpa menyebabkan suatu kelainan dalam jangka waktu yang lama.
Untuk mengaktifkan virus ini dibutuhkan suatu mediator kebiasaan untuk
mengkonsumsi ikan asin secara terus menerus mulai dari masa kanak-kanak,
merupakan mediator utama yang dapat mengaktifkan virus ini sehingga
menimbulkan Ca Nasofaring. Mediator yang berpengaruh untuk timbulnya Ca
Nasofaring :
1. Ikan asin, makanan yang diawetkan dan nitrosamine.

2. Keadaan social ekonomi yang rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup.


3. Sering kontak dengan Zat karsinogen ( benzopyrenen, benzoantrance, gas kimia,
asap industri, asap kayu, beberapa ekstrak tumbuhan).
4. Ras dan keturunan (Malaysia, Indonesia)
5. Radang kronis nasofaring

C. Patofisologi
Pada kanker nasofaring ini disebabkan oleh virus Epstein-Barr melalui
mediator ikan asin, makanan yang diawetkan (mengandung nitrosamine), kontak
dengan zat karsinogen (asap industri, gas kimia) dan juga dapat dikarenakan radang
kronis daerah nasofaring. Setelah itu, virus masuk berkembang biak kemudian
menyerang bagian telinga dan hidung khususnya. Dengan hidupnya virus EpsteinBarr didaerah nasofaring (dekat telinga dan hidung), membuat sel-sel kanker
berkembang sehingga membuat terjadinya sumbatan atau obstruksi pada saluran
tuba eusthacius dan hidung. Sumbatan yang terjadi dapat menyebabkan baik
gangguan pendengaran maupun gangguan penghidu, sehingga merupakan gangguan
persepsi sensori.

Pathway
(TERLAMPIR)

D. Tanda dan Gejala


Simtomatologi ditentukan oleh hubungan anatomic nasofaring terhadap
hidung, tuba Eustachii dan dasar tengkorak
a.

Gejala Hidung :

Epistaksis : rapuhnya mukosa hidung sehingga mudah terjadi perdarahan.

Sumbatan hidung. Sumbatan menetap karena pertumbuhan tumor kedalam


rongga nasofaring dan menutupi koana, gejalanya : pilek kronis, ingus
kental, gangguan penciuman.

b. Gejala telinga

Kataralis/ oklusi tuba Eustachii : tumor mula-mula dofosa Rosen Muler,


pertumbuhan tumor dapat menyebabkan penyumbatan muara tuba
( berdengung, rasa penuh, kadang gangguan pendengaran)

c.

Otitis Media Serosa sampai perforasi dan gangguan pendengaran

Gejala lanjut

Limfadenopati servikal : melalui pembuluh limfe, sel-sel kanker dapat


mencapai kelenjar limfe dan bertahan disana. Dalam kelenjar ini sel tumbuh
dan berkembang biak hingga kelenjar membesar dan tampak benjolan
dileher bagian samping, lama kelamaan karena tidak dirasakan kelenjar
akan berkembang dan melekat pada otot sehingga sulit digerakkan.

E. Klasifikasi Histopatologi menurut WHO (1982)

a. Tipe WHO 1
- Karsinoma sel skuamosa (KSS)
- Deferensiasi baik sampai sedang.
- Sering eksofilik (tumbuh dipermukaan).
b. Tipe WHO 2

- Karsinoma non keratinisasi (KNK).


- Paling banyak pariasinya.
- Menyerupai karsinoma transisional
c. Tipe WHO 3
- Karsinoma tanpa diferensiasi (KTD).
- Seperti antara lain limfoepitelioma, Karsinoma anaplastik, Clear Cell
Carsinoma, varian sel spindel.
- Lebih radiosensitif, prognosis lebih baik.

F. Penentuan Stadium

TUMOR SIZE (T)

Tumor primer

T0

Tidak tampak tumor

T1

Tumor terbatas pada satu lokasi saja

T2

Tumor dterdapat pada dua lokalisasi atau lebih tetapi masih terbatas pada rongga
nasofaring

T3

Tumor telah keluar dari rongga nasofaring

T4

Tumor teah keluar dari nasofaring dan telah kmerusak tulang tengkorak atau saraf-

saraf otak

Tx

Tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap

REGIONAL LIMFE NODES (N)

N0

Tidak ada pembesaran

N1

Terdapat pembesarantetapi homolateral dan masih bisa digerakkan

N2

Terdapat pembesaran kontralateral/ bilateral dan masih dapat digerakkan

N3

Terdapat pembesaran, baik homolateral, kontralateral maupun bilateral yang sudah


melekat pada jaringan sekitar

METASTASE JAUH (M)

M0

Tidak ada metastase jauh

M1

Metastase jauh

Stadium I : T1 No dan Mo
Stadium II : T2 No dan Mo
Stadium III : T1/T2/T3 dan N1 dan Mo atau T3 dan No dan Mo

Stadium IV : T4 dan No/N1 dan Mo atau T1/T2/T3/T4 dan N2/N3 dan


Mo atau T1/T2/T3/t4 dan No/N1/N3/N4 dan M1

G. Pemeriksaan Penunjang

1. Nasofaringoskopi
a. Rinoskopi posterior dengan atau tanpa kateter
b. Biopsi multiple
c. Radiologi :Thorak PA, Foto tengkorak, Tomografi, CT Scan, Bone
scantigraphy (bila dicurigai metastase tulang)
d.Pemeriksaan Neuro-oftalmologi : untuk mengetahui perluasan tumor
kejaringan sekitar yang menyebabkan penekanan atau infiltrasi kesaraf otak,
manifestasi tergantung dari saraf yang dikenai.

2. Dapat dilakukan pemeriksaan diantaranya yaitu :


a. Foto tengkorak, yaitu foto bagian/ potongan anteriposterior, lateral, dan waters
menunjukkan massa jaringan lunak didaerah nasofaring
b. Foto dasar tengkorak dapat terlihat destruksi atau erosi tulang didaerah fosa
serebri media.
c. CT scan daerah kepala dan leher terlihat adanya massa dengan terlihat adanya
kesuraman. CT scan dengan kontras menunjukkan massa yang besar mengisi
sisi posterior dari rongga hidung dan nasofaring dengan perluasan ke sisi kiri
dalam daerah nasofaring.

d. Biopsi dari hidung dan mulut. Biopsi sedapat mungkin diarahkan pada tumor/
daerah yang dicurigai. Biopsi minimal dilakukan pada dua tempat (kiri dan
kanan), melalui rinoskopi anterior, bila perlu dengan bantuan cermin melalui
rinoskopi posterior. Bila perlu Biopsi dapat diulang sampai tiga kali. Bila tiga
kali Biopsi hasil negatif, sedang secara klinis mencurigakan dengan karsinoma
nasofaring, biopsi dapat diulang dengan anestesi umum. Biopsi melalui
nasofaringoskopi dilakukan bila klien trismus atau keadaan umum kurang
baik. Biopsi kelenjar getah bening leher dengan aspirasi jarum halus dilakukan
bila terjadi keraguan apakah kelenjar tersebut suatu metastasis.
e. Pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, ginjal untuk
melihat/mendeteksi metastasis.

H. Penatalaksanaan
a. Radioterapi : Sebelumnya persiapan pasien dengan oral hygiene, dan apabila
infeksi/kerusakan gigi harus diobati terlebih dahulu. Dosis yang diberikan 200
rad/hari sampai 6000-6600 rad untuk tumor primer, sedangkan kelenjar leher
yang membesar diberi 6000 rad. Jika tidak ada pembesaran kelenjar diberikan
juga radiasi efektif sebesar 4000 rad. Ini dapat diberikan pada keadaan kambuh
atau pada metastasis tulang yang belum menimbulkan keadaan fraktur patologik.
Radiasi dapat menyembuhkan lesi, dan mengurangi rasa nyeri.
b. Kemoterapi : Sebagai terapi tambahan dan diberikan pada stadium lanjut.
Biasanya dapat digabungkan dengan radiasi dengan urutan kemoterapi-radiasikemoterapi. Kemoterapi yang dipakai yaitu Methotrexate (50 mg IV hari 1 dan
8); Vincristin (2 mg IV hari1); Platamin (100 mg IV hari 1); Cyclophosphamide
(2 x 50 mg oral, hari 1 s/d 10); Bleomycin (15 mg IV hari 8). Pada kemoterapi
harus dilakukan kontrol terhadap efek samping fingsi hemopoitik, fungsi ginjal
dan lain-lain.
c. Operasi : Tindakan operasi berupa diseksi leher radikal, dilakukan jika masih ada
sisa kelenjar pasca radiasi atau adanya kekambuhan kelenjar, dengan syarat
bahwa tumor primer sudah dinyatakan bersih.

I. Pencegahan
Pemberian vaksinasi pada penduduk yang bertempat tinggal didearah dengan
resiko tinggi. Memindahkan (migrasi) penduduk dari daerah dengan resiko tinggi
ketempat lainnya. Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah, mengubah cara
memasak makanan untuk mencegah akibat yang timbul dari bahan-bahan yang
berbahaya, penyuluhan mengenai lingkungan hidup yang tidak sehat, meningkatkan
keadaan sosial/ekonomi dan berbagai hal yang berkaitan dengan kemungkinankemungkinan faktor penyebab. Melakukan tes serologik lgA-anti VCA dan lgA anti
EA secara massal dimsa yang akan datang bermanfaat dalam menemukan karsinoma
nasofaring secara lebih dini.
II.

MANAJEMEN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN

1. Wawancara
Menurut Sjamsuhidajat (1998), Mansjoer (1999), Iskandar (1989),
informasi yang perlu didapatkan pada wawancara adalah sebagai berikut :
a.

Menanyakan kepada pasien mengenai gejala-gejala yaitu pada telinga


(sumbatan muara tuba dan otitis media) atau adanya gangguan
pendengaran. Selain itu, tanyakan pada pasien mengenai gejala hidung
seperti epistaksis dan sumbatan hidung.

b. Menanyakan kepada pasien apakah mempunyai riwayat kanker,


kebiasaan makan makanan yang asin-asin, mengenai keadaan sosial
ekonomi yang rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup. Apakah
pasien sering kontak dengan zat karsinogen, juga adanya radang
kronis.

2. Identitas

Identitas klien yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa,
status marital, pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk RS, tanggal pengkajian,
No Medrec, diagnosis dan alamat.

Identitas penanggung jawab yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin,


pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.

3. Riwayat kesehatan

Keluhan utama
Biasanya didapatkan adanya keluhan suara agak serak, kemampuan
menelan terjadi penurunan dan terasa sakit waktu menelan atau nyeri dan rasa
terbakar dalam tenggorok.

Riwayat kesehatan sekarang


Merupakan informasi sejak timbulnya keluhan sampai klien dirawat di
RS. Menggambarkan keluhan utama klien, kaji tentang proses perjalanan
penyakit sampai timbulnya keluhan, faktor apa saja memperberat dan
meringankan keluhan dan bagaimana cara klien menggambarkan apa yang
dirasakan, daerah terasanya keluhan, semua dijabarkan dalam bentuk PQRST.

Riwayat kesehatan dahulu


Kaji tentang penyakit yang pernah dialami klien sebelumnya yang ada
hubungannya dengan penyakit keturunan dan kebiasaan atau gaya hidup.

Riwayat kesehatan keluarga


Kaji apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama
dengan klien atau adanya penyakit keturunan, bila ada cantumkan genogram.

4. Dasar Data Pengkajian Pasien


a.

Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan dan/atau keletihan, perubahan pada pola istirahat dan
jam kebiasaan tidur pada malam hari, adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi tidur misal nyeri, ansietas, berkeringat malam.

b. Neurosensori
Gejala : gangguan pendengaran dan penghidu, adanya pusing, sinkope.
c.

Nyeri / kenyamanan
Gejala : nyeri terjadi pada bagian nasofaring, terasa panas.

d. Pernapasan
Gejala : Adanya asap pabrik atau industri
Tanda : pada pemeriksaan penunjang dapat terlihat adanya sumbatan seperti
massa.
e.

Makanan /cairan
Gejala : anoreksia, mual/muntah.
Tanda : perubahan pada kelembaban/turgor kulit.

5. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi : Pada bagian leher terdapat benjolan, terlihat pada benjolan warna
kulit mengkilat.
b. Palpasi : Pasien saat dipalpasi adanya massa yang besar, selain itu terasa
nyeri apabila ditekan.

c. Pemeriksaan THT:
1. Otoskopi : Liang telinga, membran timpani.
2. Rinoskopia anterior :
Pada tumor endofilik tak jelas kelainan di rongga hidung, mungkin
hanya banyak sekret.
Pada tumor eksofilik, tampak tumor di bagian belakang rongga
hidung, tertutup sekret mukopurulen, fenomena palatum mole negatif.
3. Rinoskopia posterior :
Pada tumor indofilik tak terlihat masa, mukosa nasofaring tampak
agak menonjol, tak rata dan paskularisasi meningkat.
Pada tumor eksofilik tampak masa kemerahan.
4. Faringoskopi dan laringoskopi : Kadang faring menyempit karena
penebalan jaringan retrofaring; reflek muntah dapat menghilang.
5. X foto : tengkorak lateral, dasar tengkorak, CT Scan

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b/d agen injuri fisik (pembedahan).
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan
pemasukan nutrisi..
3. Risiko infeksi b/d tindakan infasive, imunitas tubuh menurun
4. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b/d misintepretasi
informasi, ketidak familiernya sumber informasi.

5. Harga diri Rendah b/d perubahan perkembangan penyakit, pengobatan


penyakit.

C. INTERVENSI

No

Diagnosa

Nyeri akut

Tujuan

Setelah dilakukan askep

Intervensi

Manajemen nyeri :

selama 3 x 24
jam tingkat
kenyamanan klien
meningkat, dan
dibuktikan dengan level
nyeri: klien dapat
melaporkan nyeri pada

1. Lakukan pegkajian nyeri secara


komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas dan faktor presipitasi.
2. Observasi reaksi nonverbal dari
ketidaknyamanan.

petugas, frekuensi nyeri,


ekspresi wajah, dan

3. Gunakan teknik komunikasi

menyatakan kenyamanan

terapeutik untuk mengetahui

fisik dan psikologis, TD

pengalaman nyeri klien

120/80 mmHg, N: 60-

sebelumnya.

100 x/mnt, RR: 1620x/mnt

4. Kontrol faktor lingkungan yang


mempengaruhi nyeri seperti

Control

suhu ruangan, pencahayaan,

nyeri dibuktikan dengan

kebisingan.

klien melaporkan gejala


nyeri dan control nyeri.

5. Kurangi faktor presipitasi nyeri.


6. Pilih dan lakukan penanganan
nyeri (farmakologis/non
farmakologis)..
7. Ajarkan teknik non

farmakologis (relaksasi,
distraksi dll) untuk mengetasi
nyeri..
8. Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri.
9. Evaluasi tindakan pengurang
nyeri/kontrol nyeri.
10.Kolaborasi dengan dokter bila
ada komplain tentang
pemberian analgetik tidak
berhasil.
11.Monitor penerimaan klien
tentang manajemen nyeri.
Administrasi analgetik :.
1. Cek program pemberian
analogetik; jenis, dosis, dan
frekuensi.
2. Cek riwayat alergi..
3. Tentukan analgetik pilihan, rute
pemberian dan dosis optimal.
4. Monitor TTV sebelum dan
sesudah pemberian analgetik.
5. Berikan analgetik tepat waktu
terutama saat nyeri muncul.

6. Evaluasi efektifitas analgetik,


tanda dan gejala efek samping.

Ketidakseimbangan Setelah dilakukan askep


nutrisi kurang dari
selama 324 jam klien
kebutuhan tubuh
menunjukan status
nutrisi

Manajemen Nutrisi
1. kaji pola makan klien
2. Kaji adanya alergi makanan.

adekuat dibuktikan
dengan BB stabil tidak
terjadi mal nutrisi,

3. Kaji makanan yang disukai


oleh klien.

tingkat energi adekuat,


masukan nutrisi adekuat

4. Kolaborasi dg ahli gizi untuk


penyediaan nutrisi terpilih
sesuai dengan kebutuhan
klien.
5. Anjurkan klien untuk
meningkatkan asupan
nutrisinya.
6. Yakinkan diet yang
dikonsumsi mengandung
cukup serat untuk mencegah
konstipasi.
7. Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi dan
pentingnya bagi tubuh klien.
Monitor Nutrisi
1. Monitor BB setiap hari jika
memungkinkan.
2. Monitor respon klien terhadap

situasi yang mengharuskan


klien makan.
3. Monitor lingkungan selama
makan.
4. Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak bersamaan
dengan waktu klien makan.
5. Monitor adanya mual muntah.
6. Monitor adanya gangguan
dalam proses mastikasi/input
makanan misalnya perdarahan,
bengkak dsb.
7. Monitor intake nutrisi dan
kalori.

Risiko infeksi

Setelah dilakukan askep

Konrol infeksi :

selama 3 x 24 jam tidak


terdapat faktor risiko
infeksipada klien
dibuktikan dengan status

1. Bersihkan lingkungan setelah


dipakai pasien lain.
2. Pertahankan teknik isolasi.

imune klien adekuat:


bebas dari gejala infeksi,

3. Batasi pengunjung bila perlu.

angka lekosit normal (411.000),

4. Intruksikan kepada keluarga


untuk mencuci tangan saat
kontak dan sesudahnya.
5. Gunakan sabun anti miroba
untuk mencuci tangan.

6. Lakukan cuci tangan sebelum


dan sesudah tindakan
keperawatan.
7. Gunakan baju dan sarung
tangan sebagai alat pelindung.
8. Pertahankan lingkungan yang
aseptik selama pemasangan
alat.
9. Lakukan perawatan luka dan
dresing infus setiap hari.
10.Tingkatkan intake nutrisi.
11.berikan antibiotik sesuai
program.
Proteksi terhadap infeksi
1. Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan lokal.
2. Monitor hitung granulosit dan
WBC.
3. Monitor kerentanan terhadap
infeksi..
4. Pertahankan teknik aseptik
untuk setiap tindakan.
5. Pertahankan teknik isolasi bila
perlu.

6. Inspeksi kulit dan mebran


mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase.
7. Inspeksi kondisi luka, insisi
bedah.
8. Ambil kultur jika perlu
9. Dorong masukan nutrisi dan
cairan yang adekuat.
10.Dorong istirahat yang cukup.
11.Monitor perubahan tingkat
energi.
12.Dorong peningkatan mobilitas
dan latihan.
13.Instruksikan klien untuk
minum antibiotik sesuai
program.
14.Ajarkan keluarga/klien tentang
tanda dan gejala infeksi.
15.Laporkan kecurigaan infeksi.
16.Laporkan jika kultur positif.

Kurang
pengetahuan
tentang penyakit
dan perawatan nya

Setelah dilakukan askep

Teaching : Dissease Process

selama 324 jam,


pengetahuan klien
meningkat.

1. Kaji tingkat pengetahuan klien


dan keluarga tentang proses

Knowledge : Illness

penyakit

Caredg kriteria :
2. Jelaskan tentang patofisiologi
1 Tahu Diitnya

penyakit, tanda dan gejala


serta penyebab yang mungkin

2 Proses penyakit
3. Sediakan informasi tentang
3 Konservasi energi
4 Kontrol infeksi
5 Pengobatan

kondisi klien
4. Siapkan keluarga atau orangorang yang berarti dengan
informasi tentang

6 Aktivitas yang

perkembangan klien

dianjurkan
5. Sediakan informasi tentang
7 Prosedur pengobatan
8 Regimen/aturan
pengobatan

diagnosa klien
6. Diskusikan perubahan gaya
hidup yang mungkin
diperlukan untuk mencegah

9 Sumber-sumber
kesehatan
10.Manajemen penyakit

komplikasi di masa yang akan


datang dan atau kontrol proses
penyakit
7. Diskusikan tentang pilihan
tentang terapi atau pengobatan
8. Jelaskan alasan
dilaksanakannya tindakan atau
terapi
9. Dorong klien untuk menggali
pilihan-pilihan atau
memperoleh alternatif pilihan

10. Gambarkan komplikasi yang


mungkin terjadi
11. Anjurkan klien untuk
mencegah efek samping dari
penyakit
12. Gali sumber-sumber atau
dukungan yang ada
13. Anjurkan klien untuk
melaporkan tanda dan gejala
yang muncul pada petugas
kesehatan
14. kolaborasi dg tim yang lain.

Harga diri rendah

Setelah dilakukan askep

PENINGKATAN HARGA DIRI

selama 324 jam klien


menerima keadaan
dirinya
Dengan criteria :

1. Monitor pernyataan pasien


tentang harga diri
2. Anjurkan pasien utuk
mengidentifikasi kekuatan

Mengatakan
penerimaan diri &
keterbatasan diri

3. Anjurkan kontak mata jika


berkomunikasi dengan orang
lain

Menjaga postur yang


terbuka

4. Bantu pasien mengidentifikasi


respon positif dari orang lain.

Menjaga kontak mata


5. Berikan pengalaman yang
Komunikasi terbuka

meningkatkan otonomi pasien.


6. Fasilitasi lingkungan dan

Menghormati orang lain

aktivitas meningkatkan harga


diri.

Secara seimbang dapat


berpartisipasi dan

7. Monitor frekuensi pasien

mendengarkan dalam

mengucapkan negatif pada diri

kelompok

sendiri.

Menerima kritik yang


konstruktif

8. Yakinkan pasien percaya diri


dalam menyampaikan
pendapatnya

Menggambarkan
keberhasilan dalam
kelompok social

9. Anjurkan pasien untuk tidak


mengkritik negatif terhadap
dirinya

Menggambarkan
kebanggaan terhadap
diri

10. Jangan mengejek / mengolok


olok pasien
11. Sampaikan percaya diri
terhadap kemampuan pasien
mengatasi situasi
12. Bantu pasien menetapkan
tujuan yang realistik dalam
mencapai peningkatan harga
diri.
13. Bantu pasien menilai kembali
persepsi negatif terhadap
dirinya.
14. Anjurkan pasien untuk
meningkatkan tanggung jawab
terhadap dirinya.

15. Gali alasan pasien mengkritik


diri sendiri
16. Anjurkan pasien mengevaluasi
perilakunya.
17. Berikan reward kepada pasien
terhadap perkembangan dalam
pencapaian tujuan
18. Monitor tingkat harga diri

D. IMPLEMENTASI

Implementasi / pelaksanaan pada klien dengan gangguan THT : kanker


Nasofaring dilaksanakan sesuai dengan perencanaan perawatan yang meliputi
tindakan-tindakan yang telah direncanakan oleh perawat maupun hasil kolaborasi
dengan tim kesehatan lainnya serta memperhatikan kondisi dan keadaan klien.

E.

EVALUASI
Evaluasi dilakukan setelah diberikan tindakan perawatan dengan melihat
respon klien, mengacu pada kriteria evaluasi, tahap ini merupakan proses yang
menentukan sejauah mana tujuan telah tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3. EGC.
Jakarta
Guyton, Athur C, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran , Edisi 9, EGC, Jakarta
Iskandar.N, 1989, Tumor Telinga-Hidung-Tenggorokan, Diagnosis dan
Penatalaksanaan, Fakultas Kedokteran Umum, Universitas Indonesia, Jakarta
NANDA International, 2001, Nursing Diagnosis Classification 2005 2006, USA
Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC.
Jakarta.
Doenges, M. G. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.
Sjamsuhidajat & Wim De Jong. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC : Jakarta.