Anda di halaman 1dari 24

H

Vol. VII, No. 15/I/P3DI/Agustus/2015

Kajian Singkat terhadap Isu Aktual dan Strategis

PROSES SELEKSI HAKIM OLEH


KOMISI YUDISIAL
Trias Palupi Kurnianingrum*)

Abstrak
Perbedaan pendapat antara Komisi Yudisial (KY) dan Mahkamah Agung (MA) terkait
dengan proses seleksi hakim agung perlu diselesaikan tanpa harus menimbulkan
benturan di antara kedua lembaga tersebut. Hubungan kedua lembaga tersebut bukan
untuk menerapkan prinsip check and balances, melainkan harus dipandang sebagai
kesatuan dalam satu kekuasaan yang sama, yakni kekuasaan kehakiman. Meskipun
UUD Tahun 1945 tidak menyebutkan KY sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman,
KY berperan sebagai mitra MA dalam menjaga keseimbangan independensi dan
akuntabilitas peradilan sangat dibutuhkan. Revisi UU Kekuasaan Kehakiman
diperlukan untuk menghindari interpretasi yang berbeda antara KY dan MA, agar
kedua lembaga negara tersebut mempunyai batasan kewenangan masing-masing
sehingga tidak tumpang-tindih.

Pendahuluan

kehakiman yang merdeka, bersih, dan


berwibawa. Dalam menjalankan tugasnya KY
juga bersifat mandiri sehingga tidak boleh
diintervensi oleh pihak manapun.
Kewenangan KY dalam pengawasan
terhadap hakim, juga terdapat dalam
beberapa
undang-undang
di
bidang
kekuasaan kehakiman seperti UU No. 49
Tahun 2009 tentang Peradilan Umum,
UU No. 50 Tahun 2009 tentang Peradilan
Agama, dan UU No. 51 Tahun 2009 tentang
Peradilan Tata Usaha. Dalam ketentuan UU
tersebut, KY juga diberikan kewenangan
bersama-sama dengan MA dalam melakukan
seleksi hakim.
Kewenangan KY melakukan seleksi
hakim dianggap sebagai kondisi yang

Pasal 24A ayat (3) Undang-Undang


Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 (UUD Tahun 1945) menyatakan
bahwa calon hakim agung diusulkan
Komisi Yudisial kepada Dewan Perwakilan
Rakyat untuk mendapatkan persetujuan
dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim
agung oleh Presiden. Pengaturan tersebut
menunjukkan bahwa keberadaan KY dalam
sistem ketatanegaraan berkaitan dengan MA
walaupun Pasal 24 ayat (2) UUD Tahun 1945
menegaskan bahwa KY bukan merupakan
pelaksana kekuasaan kehakiman. Pasal
tersebut menegaskan keberadaan KY sebagai
supporting element atau state auxiliary
organ dalam rangka mendukung kekuasaan

*) Peneliti Muda Bidang Hukum, pada Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi (P3DI), Sekretariat Jenderal DPR RI.
E-mail: triaspalupikurnianingrum@yahoo.com
Info Singkat
2009, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI)
Sekretariat Jenderal DPR RI
www.dpr.go.id
ISSN 2088-2351

-1-

akan mengganggu indepensi kekuasaan


kehakiman oleh MA. Proses seleksi hakim
agung yang dilakukan oleh lembaga yang
bukan pelaksana kekuasaan kehakiman
berarti meniadakan keterlibatan MA secara
langsung dalam proses seleksi hakim agung.
Hal ini sekaligus melemahkan MA sebagai
institusi tempat para hakim bernaung.
Keberatan tersebut kemudian berujung
dengan pengajuan judicial review oleh
Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI). Judicial
review diajukan terhadap Pasal 14A ayat (2)
dan ayat (3) UU No. 49 Tahun 2009 tentang
Peradilan Umum, Pasal 13A ayat (2) dan
ayat (3) UU No. 50 Tahun 2009 tentang
Peradilan Agama, serta Pasal 14A ayat (2)
dan ayat (3) UU No. 51 Tahun 2009 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara.
Keberatan MA terhadap kewenangan
seleksi hakim agung oleh KY, kemudian
diungkapkan oleh Wakil Ketua MA (Bidang
Non-Yudisial) Suwardi kepada Ketua
MPR Zulfiki Hasan. Dalam kesempatan
tersebut, Suwardi menyampaikan usul
agar keberadaan KY sebaiknya dihapuskan
dari Bab IX UUD Tahun 1945. Suwardi
berpendapat bahwa masuknya KY dalam
Bab IX UUD Tahun 1945 tentang Kekuasaan
Kehakiman adalah sebuah kecelakaan
konstitusi. Kekuasaan kehakiman harusnya
benar-benar berkuasa tanpa harus diawasi.
Menurut Suwardi, kehadiran KY dalam
proses rekrutmen calon hakim dirasakan
dapat menggangu independensi kekuasaan
kehakiman. Berita ini menyeruak di tengahtengah pengajuan rekomendasi sanksi etik
untuk hakim tunggal Sarpin Rizal kepada
MA terkait cara penanganan perkara praperadilan Komisaris Jenderal Budi Gunawan
melawan KPK. Pada saat yang sama muncul
kasus yang melibatkan sejumlah hakim,
pengacara dan penegak hukum lainnya di
beberapa kota menjadi terpidana dalam
berbagai perkara pidana suap dan korupsi.
Keterlibatan
KY
dalam
seleksi
pengangkatan hakim memang bukanlah
jaminan akan menghasilkan hakim yang
baik. Meskipun begitu, keberadaan KY
akan tetap dapat menggantikan atau
melengkapi peran yang selama ini tidak
dilakukan MA. Dosen Fakultas Hukum Bina
Nusantara, Shidarta, mengatakan peran
yang disinggung tersebut adalah menelusuri
rekam jejak (track record) baik itu prestasi
maupun perilaku yang dimiliki oleh calon

hakim. MA dipandang hanya melihat sebatas


teknis sementara KY justru dibutuhkan
untuk melihat track record seorang hakim.
Terlebih lagi, Pasal 24B ayat (1) UUD Tahun
1945 telah menyebutkan jika KY memiliki
fungsi mengawasi dan menjaga harkat serta
martabat hakim.
Hal senada juga dikemukakan oleh
Saldi Isra, Guru Besar Hukum Tata Negara
Universitas Andalas Padang. Ia menegaskan
bahwa pemberian kewenangan kepada
KY untuk turut melakukan seleksi calon
hakim justru akan memperkuat lembaga
yudikatif yang merdeka, kuat, bersih, dan
profesional sesuai dengan amanah Pasal
24 ayat (1) UUD Tahun 1945. Pasal ini
menegskan bahwa kekuasaan kehakiman
merupakan kekuasaan yang merdeka
untuk
menyelenggarakan
peradilan
guna menegakkan hukum dan keadilan.
Menegaskan keterlibatan dan peran dari
pihak lain yang berpotensi menghadirkan
suatu kekuasaan yang korup, sehingga dapat
mencegah terjadinya atau terbukanya ruang
penyalahgunaan wewenang.

Eksistensi KY
Jika dicermati pembentukan KY
merupakan bentuk kesadaran negara akan
pentingnya pengawasan terhadap perilaku
dan kehormatan hakim. Dosen Fakultas
Hukum Universitas Gadjah Mada, Zainal
Arifin Mochtar, mengatakan gagasan
pembentukan KY telah ada sejak tahun
1968 dengan nama Majelis Pertimbangan
Penelitian Hakim (MPPH). MPPH berfungsi
m e m p e r t i m b a n g k a n d a n m e n g am b i l
keputusan terkait pengangkatan, promosi,
mutasi, dan tindakan indisipliner terhadap
hakim. Perubahan konstitusi pada awal
reformasi berhasil mendaur ulang MPPH ke
dalam sebuah lembaga independen bernama
KY.
Pasal 24A ayat (2) dan Pasal 24B
UUD Tahun 1945 hasil amandemen ke-3
yang ditetapkan dalam sidang tahunan
MPR tanggal 9 November 2001 telah
m e m e r in ta h ka n p e m be n tu ka n K Y .
Keputusan diambil MPR dalam rangka
reformasi Indonesia untuk membangun
fondasi negara demokrasi dan negara
hukum. KY merupakan organ yang
pengaturannya ditempatkan dalam Bab
IX Kekuasaan Kehakiman Pasal 24A ayat
(3) dan Pasal 24B, yang diatur bersama-2-

sama dengan MA dan MK. Pengaturan yang


demikian sekaligus menunjukkan bahwa
menurut UUD Tahun 1945, KY berada
dalam lingkup kekuasaan kehakiman.
Meskipun
bukan
pelaku
kekuasaan,
namun KY memiliki fungsi yang berkaitan
dengan kekuasaan kehakiman di samping
MA. UUD Tahun 1945 telah memberikan
wewenang dan tugas kepada KY untuk
mencalonkan hakim agung kepada DPR dan
untuk menegakkan kehormatan, keluhuran
martabat, serta perilaku hakim.
Kewenangan
KY
dalam
rangka
mengusulkan pengangkatan hakim agung
sebagaimana dimaksud pasal 24B ayat (1)
UUD Tahun 1945 kemudian diatur kembali
dalam Pasal 13 huruf a UU No. 18 Tahun
2011 tentang Perubahan Atas UU No. 22
Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial,
yang menyatakan bahwa mengusulkan
pengangkatan hakim agung dan hakim
ad hoc di Mahkamah Agung kepada DPR
untuk mendapatkan persetujuan. Dengan
demikian maka huruf a ini menegaskan
makna Pasal 24B ayat (1) dan Pasal 24A
ayat (3) UUD Tahun 1945 sebagai satu
rangkaian sistem, sehingga tidak dapat
dipahami secara parsial yaitu dalam satu
kerangka sistem pencalonan, pengusulan
dan pengangkatan hakim agung.
Pasal 13 huruf a kemudian dijabarkan
lebih lanjut dalam Pasal 14 ayat (1) UU No.
18 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas UU
No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial,
yang menyatakan bahwa: (1)
Dalam
melaksanakan
wewenang
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 huruf a, Komisi
Yudisial mempunyai tugas:
a. melakukan pendaftaran calon hakim
agung;
b. melakukan seleksi terhadap calon hakim
agung;
c. menetapkan calon hakim agung; dan
d. mengajukan calon hakim agung.
Pasal tersebut semakin memperjelas
kewenangan KY, bahwa yang dimaksud
dengan mengusulkan pengangkatan hakim
agung sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 24A ayat (3) UUD Tahun 1945,
yaitu terkait dengan calon hakim agung.
Sementara itu, kewenangan penentuan
pengangkatan hakim agung merupakan
kewenangan DPR yang selanjutnya diajukan
kepada Presiden untuk ditetapkan dalam
Keputusan Presiden. Oleh karenanya seleksi

hakim yang dilakukan oleh KY bukanlah


merupakan suatu tindakan intervensi
melainkan harus dipandang sebagai bagian
untuk memperkuat independensi dan
imparsialitas dalam penegakkan hukum dan
keadilan.

Independensi dan Akuntabilitas


Kekuasaan Kehakiman
Kekuasaan
kehakiman
sebaiknya
tidak menjadi kekuasaan yang tertutup
dan
tidak
tersentuh.
Kekuasaan
kehakiman yang besar dan luas harus
dapat dipertanggungjawabkan dan oleh
karenanya harus transparan. Independensi
dan akuntabilitas kekuasaan kehakiman
dipe r l u k a n
bersama-sama,
tidak
bersinggungan satu dengan yang lainnya.
Dalam
rangka
pengawasan
terhadap
etika dan perilaku hakim, maka KY dan
MA harus memiliki hubungan sinergis
sebagaimana diatur dalam Pasal 41 UU
No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman. Oleh karena itu, kedua
lembaga tersebut sewajarnya harus bekerja
sama. Apalagi, Putusan MK No. 05/PUUIV/2006 mengenai pengujian UU No. 22
Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dan
pengujian UU No. 4 Tahun 2004 tentang
Kekuasaan Kehakiman telah memperkuat
posisi KY sebagai mitra (partner) MA dalam
menjaga keseimbangan independensi dan
akuntabilitas peradilan.
Putusan MK tersebut menegaskan
bahwa KY bukan merupakan pelaksana
kekuasaan kehakiman, melainkan sebagai
supporting element atau state auxiliary
organ. Oleh karena itu, dengan semangat
konstitusional dimaksud, prinsip check
and balances tidak benar jika diterapkan
dalam pola hubungan internal kekuasaan
kehakiman. Karena itu, hubungan checks
and balances tidak dapat berlangsung
antara MA sebagai principal organ dengan
KY sebagai auxiliary organ. Dalam
perspektif yang demikian maka hubungan
antara KY sebagai supporting organ dan
MA sebagai main organ dalam bidang
pengawasan perilaku hakim
seharusnya
lebih tepat dipahami sebagai hubungan
kemitraan (partnership) tanpa mengganggu
kemandirian masing-masing.
Sebagai bahan perbandingan, Pasal
165 ayat (2) Konstitusi Afrika Selatan
tahun 1996 menegaskan bahwa kekuasaan
-3-

kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka


yang berada di tangan pengadilan dan hanya
tunduk kepada konstitusi dan undangundang yang berlaku, yang harus ditegakkan
secara imparsial tanpa rasa takut, pilih kasih
dan prasangka. Pasal 178 ayat (2) Konstitusi
Afrika Selatan memerintahkan pembentukan
KY (Judicial Service Commission atau JSC).
JSC berwenang antara lain mengangkat
hakim dan menyelidiki aduan mengenai
pejabat kehakiman di samping memberikan
masukan kepada pemerintah mengenai
masalah-masalah yudisial dan administrasi
kehakiman. Pasal 177 ayat (1) Konstitusi
tersebut juga mengatur seorang hakim
dapat diberhentikan hanya apabila JSC atau
National Assembly (DPR) berkesimpulan
bahwa hakim tersebut tidak memiliki
kompetensi yang cukup atau melakukan
kesalahan yang serius. Sementara di Italia,
KY dikenal dengan sebutan Consiglio
Superiore della Magistratura (CSM).
Ia bertugas secara khusus menjamin
kemandirian
lembaga
kehakiman.
Kewenangan CSM diatur di dalam Pasal
107 Konstitusi Italia, di antaranya terkait
kewenangan disiplin. Pasal 107 alenia 1
Konstitusi Italia misalnya, menyebutkan
bahwa hakim hanya dapat dibebaskan
dari tugas atau penempatan melalui
putusan CSM. Selain itu CSM berwenang
untuk menjatuhkan sanksi kepada hakim
apabila terbukti melakukan pelanggaran.
Kewenangan lain yang juga dimiliki
oleh CSM adalah melakukan seleksi dan
pengangkatan hakim, melakukan pelatihan
dan pendidikan hakim, melakukan mutasi
dan promosi hakim, melakukan evaluasi
kinerja hakim dan sebagainya.

KY untuk melakukan seleksi hakim


janganlah dipandang sebagai bentuk
intervensi melainkan sebagai bagian untuk
memperkuat
independensi
kekuasaan
kehakiman.
Revisi
UU
Kekuasaan
kehakiman diperlukan untuk mencegah
melebarnya konflik antara KY dan MA,
serta dalam rangka mempertegas batasan
kewenangan masing-masing.

Referensi
Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang No. 18 Tahun 2011 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang No. 22
Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.
Undang-Undang No. 48 Tahun 2009
tentang Kekuasaan Kehakiman.
Komisi Yudisial, Kompas, Rabu tanggal 29
Juli 2015.
Uji Materi Pelibatan KY Dalam Seleksi
Hakim Sudah Seharusnya, Kompas,
Rabu tanggal 29 Juli 2015.
Ketua MA: Komisi Yudisial Jangan
Melampaui
Kewenangan
Yang
Diberikan,
http://www.tribunnews.
com, diakses tanggal 6 Agustus 2015.
Ketua MA Beri Sinyal Rekrutmen Hakim
Tidak Libatkan KY, http://news.detik.
com, diakses tanggal 5 Agustus 2015.
Agar MA dan KY Harmonis: Ini Syarat Dari
Ketua MA, http://www.hukumonline.
com/, diakses tanggal 5 Agustus 2015.
Eks Ketua MK: Peran KY Seleksi Hakim
Tidak Ganggu Kekuasaan Kehakiman,
http://news.detik.com, diakses tanggal 4
Agustus 2015.

Penutup
Keterlibatan KY dalam proses seleksi
hakim agung tidaklah menyalahi aturan.
Hubungan antara MA dan KY bukanlah
untuk menerapkan prinsip check and
balances, melainkan harus dipandang
sebagai kesatuan mengingat MA dan KY
berada dalam satu kekuasaan yang sama,
yakni kekuasaan kehakiman. Meskipun
UUD Tahun 1945 tidak menyebutkan KY
sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman,
peran KY sebagai mitra MA dalam
menjaga
keseimbangan
independensi
dan akuntabilitas peradilan sangatlah
dibutuhkan. Dengan demikian, tindakan
-4-

HUBUNGAN INTERNASIONAL

Vol. VII, No. 15/I/P3DI/Agustus/2015

Kajian Singkat terhadap Isu Aktual dan Strategis

KESEPAKATAN NUKLIR IRAN


DAN IMPLIKASINYA
Poltak Partogi Nainggolan*)

Abstrak
Tercapainya kesepakatan nuklir Iran disambut pro dan kontra. Pihak penentang
berupaya menggunaan hak veto di Kongres (Senat) AS dan PBB. Sedangkan pihak
pendukung meyakini kemampuan Pentagon untuk mencegah pelanggaran Iran dengan
memberikan sanksi militer dan embargo ekonomi lebih berat. Walaupun hasil yang
telah dicapai dinilai sebagai bad deal, Pemerintahan Obama melihatnya sebagai
langkah maju untuk bisa mengontrol secara transparan dan mengendalikan hasrat
Iran secara terarah dalam mengembangkan kemampuan nuklirnya untuk kepentingan
pembangunan.

Pendahuluan

pembangunan,
bukan
pengembangan
senjata strategis dan pemusnah massal.
Dalam kesepakatan yang dituangkan dalam
sebuah resolusi yang akan dibahas di PBB
itu, Iran telah setuju untuk mengekang
program nuklinya dalam jangka panjang,
dengan kompensasi sanksi ekonomi AS
dan negara-negara barat (Barat) atas Iran
dicabut secara bertahap. Dalam forum itu
juga disepakati, Iran akan memberi akses
pada inspektur/pengawas PBB di bawah
Badan Pengawas Atom Internasional (IAEA),
pada pertengahan Oktober 2015, untuk
bertemu dengan para ilmuwan Iran, tempattempat militer dan ke dokumen-dokumen
yang selama ini dicurigai Barat sebagai
program rahasia pengembangan senjata
nuklir Iran.

Kesepakatan nuklir Iran dengan AS


telah berhasil dicapai pada 14 Juli 2015 di
Wina, Austria, dengan dukungan 5 (lima)
negara besar pemegang hak veto PBB
(Perserikatan
Bangsa-bangsa)
lainnya,
yang selama ini mengikuti perundingan,
yaitu Rusia, Prancis, Inggris, Tiongkok,
dan Jerman. Kesepakatan yang sangat
bergantung pada persetujuan AS (Amerika
Serikat) dan Iran tersebut, telah berlangsung
secara intensif dan mengalami proses
pasang-surut dan pembicaraan yang alot,
yang sempat mengalami kebuntuan selama
12 tahun terakhir.
Kesepakatan itu telah memberikan
konsesi bagi Iran untuk mengembangkan
energi
nuklirnya
untuk
kepentingan

*) Profesor Riset masalah-masalah hubungan internasional, politik, demokrasi, dan keamanan, pada Bidang Hubungan Internasional,
Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI, Email: pptogin@yahoo.com.
Info Singkat
2009, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI)
Sekretariat Jenderal DPR RI
www.dpr.go.id
ISSN 2088-2351

-5-

senator Demokrat asal New Jersey, Robert


Menendez, berpendapat sama bahwa
kesepakatan yang dicapai itu sejak awal,
tidak berarti apa-apa buat Barat, atau akan
mampu mengendalikan perilaku Iran,
terkait ambisi pengembangan nuklirnya,
agar berperilaku seperti diharapkan. Sebab,
kesepakatan dibuat berdasarkan pilihan si
pelaku yang sulit dikendalikan perilakunya,
ibarat memakai serigala untuk menjaga
ayam peliharaan.
Pandangan
yang
anti
terhadap
keputusan ini tampak secara merata di
kalangan komunitas Yahudi di Israel
maupun AS. Benyamin Netanyahu sejak
jauh-jauh hari ketika perundingan masih
berjalan tersendat dan belum mencapai
kemajuan signifikan telah memperlihatkan
penentangannya, karena ketidakpercayaan
atas sikap rezim konservatif Iran sejak
Ayatullah Khomeini. Sikap Israel semakin
anti terhadap program nuklir Iran, sekalipun
negerinya juga mengembangkan program
nuklir tanpa terkontrol PBB dan Barat,
yang tidak berkompromi sama sekali
setelah pemimpin Iran, Ahmadinejad,
mengeluarkan
kebijakan
nir
Israel,
dan menyatakan holocaust itu rekayasa
kebohongan Barat untuk membenarkan
pencaplokan Palestina dan tanah-tanah
Arab.
Komunitas Yahudi dan kelompok lobi
mereka yang kuat di AS, yang mengklaim
mewakili
berbagai
kepercayaan
dan
kelompok
politik,
segera
melakukan
demonstrasi secara masif di AS, seperti New
York, lokasi markas besar PBB. Kesepakatan
nuklir Iran dinilai mengundang holocaust
kembali. Sementara, kemungkinan Israel,
sebagai pengembang nuklir di kawasan, yang
juga dapat memicu holocaust, diabaikan.
Sikap penentangan belum termasuk
yang ditunjukkan dalam opini-opini di
media internasional, yang berpengaruh,
terutama yang sahamnya dikontrol oleh
kalangan Yahudi. Kesepakatan itu dinilai
sebagai bad deal buat AS, sebab opini
penentang di AS yang amat prejudice
melihat, jika para ayatullah di Iran
mempunyai senjata nuklir, mereka pasti
akan menggunakannya.

Sebelum ini, pada tahun 2011, Iran


telah dilaporkan oleh IAEA bahwa ia telah
menyalahgunakan program pengembangan
uraniumnya untuk mengembangkan senjata
nuklir, berbeda dengan yang diharapkan
dunia. Sekalipun Iran membantah, sampai
awal Juli 2015, ketika kesepakatan final
belum tercapai, AS dan sekutunya belum
setuju mencabut sanksi embargo ekonomi
atas Iran, dan baru sebatas meringankan
sanksi atas Iran. Bahkan kini, di dalam
negeri, implementasi kesepakatan yang
diperjuangkan Pemerintahan Obama, lewat
negosiasi intensif dan kerja keras Menlu
John Kerry dan mitranya dari Iran, Menlu
Mohammad Javad Zarif, masih menunggu
persetujuan Kongres AS.

Perspektif Kontra dan


Konsekuensinya
Sikap skeptis menunjukkan pihak
yang menentang tidak percaya IAEA
akan mampu menyelesaikan tugasnya
dalam 2 bulan untuk melakukan verifikasi
di Iran, mengingat selama 1 dasawarsa
lebih, IAEA telah gagal merampungkan
tugasnya melakukan investigasi secara
komprehensif
dan
memuaskan
atas
program
pengembangan
nuklir
Iran.
Dalam kesepakatan, IAEA juga harus
mempublikaskan laporan investigasinya
kepada
dunia.
Sikap
oposisi
atas
kesepakatan yang dicapai, datang jauhjauh hari dari kalangan ekstrim anti-Iran di
AS, terutama anggota Kongres dan politisi
Partai Republik, lawan dari Obama. Aksi
penentangan yang keras diperlihatkan
dalam rapat-rapat di Kongres dalam
beberapa bulan terakhir, melanjutkan sikap
penentangan yang meningkat sejak awal
tahun 2015.
Beberapa senator tidak percaya
atas sikap Iran, karena dapat lebih dulu
mengintervensi rencana investigasi IAEA
mengingat Iran akan melakukan sendiri
langkah dalam mengambil sampel tanah di
sebuah lokasi komplek militer, yang disebut
Parchin, tempat alat-alat atau bekas-bekas
bahan ledakan dicurigai telah ditemukan.
Dengan perkembangan itu, mereka belum
mempercayai sikap Iran untuk melakukan
pengujian sendiri. Sebagaimana dikatakan
Senator James Rich (Republik, Idaho)
dalam dengar pendapat di Kongres AS,
keputusan ini dinilai bodoh sekali. Bahkan,

Perspektif Pro dan Konsekuensinya


Pemerintah
Obama
menyatakan,
keputusan dibuat berdasarkan pengetahuan
-6-

AS terhadap aktifitas nuklir Iran di masa


lalu. Bersama IAEA, AS memiliki informasi
relevan, sehingga telah menyiapkan langkahlangkah khusus yang memungkinkan para
inspektur mereka untuk membangun
kepercayaan
bahwa
berita
mengenai
aktifitas nuklir Iran di masa lalu itu tidak
ada. Menurut Menlu Kerry, menghentikan
persetujuan nuklir Iran justru memberikan
Iran jalan untuk mengembangkan senjatasenjata nuklirnya. Pihak Iran sendiri sudah
setuju untuk selama-lamanya untuk tidak
mengambil manfaat dari upaya pengayaan
uranium dan plutonium bagi pengembangan
senjata nuklir. Dalam pemantauan dan
verifikasi, juga tidak ada kebijakan sunset
untuk Iran, untuk 10, 15 tahun, dan
selamanya.
Argumen
yang
tidak
lazim
berpendapat, kesepakatan nuklir Iran
harus didukung, justru untuk mengurangi
radikalisme
di
Timur-Tengah,
yang
datang dari kebijakan AS, yang didukung
Israel, yang anti-Iran dan pengembangan
nuklir untuk pembangunan. Pendapat itu
beralasan karena kebijakan nuklir Iran
didukung tidak hanya oleh pemerintah
negara dengan mayoritas Muslim di
Asia, seperti Indonesia, namun juga
oleh parlemen negara dengan penduduk
mayoritas Muslim. Sikap yang berkembang
di kalangan APA (Asian Parliamentary
Assembly) dan PUICC (Parliamentary
Union of Islamic Conference Countries)
dalam resolusi-resolusi yang dikeluarkan
selama ini, menjadi bukti. Indonesia sendiri
merupakan pendukung yang loyal atas
hak rakyat Iran untuk mengembangkan
nuklir bagi pembangunan kesejahteraan
mereka, di setiap konferensi internasional,
bahkan di tingkat terdekat, yang Iran bukan
merupakan anggotanya, seperti ASEAN,
AIPA, dan lain-lain.
Menlu Kerry, Menkeu Jack Lew, dan
Menteri Energi Ernez Moniz akan bersaksi
di depan Komisi Hubungan Luar Negeri
Senat AS tentang kesepakatan nuklir ini.
Mereka telah mem-brief Senat dan DPR
dalam rapat tertutup, dan para pejabat
Obama telah melakukan percakapan telepon
dengan para anggota Kongres AS. Mereka
meyakinkan Kongres bahwa Pentagon siap
menjatuhkan sanksi, jika Iran melanggar
kesepakatan yang telah diperjuangkan
Pemerintah Obama itu. Karenanya, Menlu

Kerry
telah
meyakinkan
Pemerintah
Arab Saudi tidak perlu mengembangkan
diri menjadi kekuatan nuklir di kawasan
untuk menyaingi Iran. Karena, membuat
kebi j a k a n y a n g b e r t i t i k - t o l a k d a r i
pengandaian sangat tidak beralasan dan
misleading. Sementara, buat Rusia dan
Tiongkok, tercapainya kesepakatan nuklir
Iran memberi kesempatan mereka untuk
mengkonsolidasikan
pengaruh
mereka
di Timur Tengah dengan memanfaatkan
tenaga AS.

Sikap Negara Lain dan Indonesia


Negara
tetangga
Iran
dengan
mayoritas Sunni merupakan pihak yang
menentang pencabutan embargo terhadap
Iran. Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain, dan
Qatar, yang selama ini berkonflik dalam
proxy wars mereka di Lebanon, Irak,
Suriah, Yaman, dan lain-lain, berpandangan
bahwa pengembangan nuklir Iran akan
mendorong perlombaan senjata strategis
dan pemusnah massal di Timur Tengah
karena Iran dan Israel selama ini dicurigai
mengembangkan kapasitas rudal mereka
dalam program pengayaan uranium.
Sebagai konsekuensinya, Arab Saudi
dan Yordania terus meng-up grade
kapabilitas
alutsista
mereka
dalam
pengadaan jet tempur terbaru asal AS.
Karena itulah, selain Menlu AS Kerry, Menlu
Iran Zarif juga perlu melakukan tur keliling
ke negara di kawasan untuk menghilangkan
kekuatiran mereka, agar kesepakatan nuklir
Iran tidak memunculkan proxy wars di
tempat-tempat lain dan memperparahnya
konflik sektarian
Kesepaktan nuklir Iran justru
akan
memperkuat
kontrol
terhadap
penyalahgunaan
pengembangan
nuklir
untuk pembangunan. Negara lain tidak
diberikan sanksi, karena perkembangan
kapasitasnya
belum
dikuatirkan
dan
kondisinya masih terkontrol Barat, terutama
karena masih bersikap transparan, dengan
kehadiran rezim yang demokratis. Selain
itu, mereka juga masih bersikap koperatif
dengan tekanan AS.
Indonesia
menyambut
baik
kesepakatan yang dicapai dengan Iran,
karena sikap inilah yang diperjuangkan
sejak lama dalam berbagai fora dunia,
baik oleh pemerintah maupun parlemen
(DPR). Dengan tercapainya kesepakatan,
-7-

Referensi

Indonesia hanya perlu mengingatkan Iran


agar konsisten menghormatinya, sehingga
pembangunan kesejahteraan rakyat Iran
dapat diwujudkan. Jadi, tekanan Indonesia
kini tidak lagi diarahkan pada AS namun
terhadap Iran.

Al-Hadar, Smith. Dampak Kesepakatan


Nuklir Iran, Kompas, 5 Agustus 2015: 7.
Ferguson, Niall. The Iran Deal and the
Problem of Conjecture, The Wall Street
Journal, July 27, 2015: 11.
Firmansyah, Teguh. Iran Dekati Negara
Timur-Tengah, Republika, 28 Juli
2015:15.
Herman, Arthur. The Moscow-BeijingTeheran Axis, The Wall Street Journal,
August 5, 2015: 11.
Muhaimin, Jenderal Teheran: Iran 100
kali Lebih Benci pada AS, http://
international.sindonews.com/
read/1025310/43/jenderal-teheraniran-100-kali-lebih-benci-padaas-1437549113, 22 Juli 2015, diakses
pada 27 Juli 2015.
Nuke deal brings thousands to Times
Square protest, The Jakarta Post, July
24, 2015.
Solomon, Jay. Iran May Not Disclose Secret
Weapons History, The Wall Street
Journal, July 28, 2015: 8.
Teheran Berusaha Rangkul Negara-negara
Arab, Kompas, 27 Juli 2015: 8.
Zengerie, Patricia and Doina Chiacu. Kerry:
Scrapping Iran deal would mean a path
to nuclear weapons, The Jakarta Post,
July 30, 2015:12.

Penutup
Kongres AS akan memulai 2 bulan
reviewnya atas hasil kesepakatan nuklir
Iran. Para anggotanya ingin tahu lebih
banyak info tentang kapan sanksi atas
Iran dicabut, sebarapa besar dana cash
yang segera mengalir ke Iran, dan juga
kemampuan AS untuk menindak, jika Iran
melanggar kesepakatan. Mereka menyadari
leverage yang dimiliki AS akan berganti
dalam tempo 9 bulan, dengan pencabutan
sanksi dan mengalirnya dana cash Iran,
yang diperkirakan hanya mencapai US$29
miliar, dari semula yang dicurigai Israel
melebihi US$100 miliar. Jumlah dana
itulah yang membuat kekuatiran Israel pada
Iran, mengalir ke kelompok milisi di Timur
Tengah, seperti Hezbollah di Lebanon,
Hamas dan Jihad Islami di Palestina, selain
Pemerintah Assad di Suriah. Sedangkan Iran
mengungkapkan, dana itu akan digunakan
untuk investasi minyak, gas bumi, industri
kimia dan strategis.
Apa yang diharapkan (dunia) bisa
meleset, jika Arab Saudi dan negara dengan
mayoritas Sunni lainnya tidak sepakat dan
mendukung Menlu Kerry. Begitu pula,
perkembangan yang buruk akan terjadi,
jika Iran mengalirkan dana cash-nya untuk
pemerintah otoriter Assad dan kaum
milisi minoritas Syiah yang berkonflik di
Bahrain dan lain-lain. Pertemuan tertutup
Menlu Kerry di Kongres telah memberikan
manfaat. Namun demikian, pertanyaan lain
masih muncul: sampai Kongres AS bisa
menyetujuinya menjadinya sebuah UU pada
17 Oktober 2015. Jika gagal, sanksi embargo
ekonomi atas Iran tidak akan dicabut AS,
dan kesepakatan nuklir Iran dibatalkan.

-8-

KESEJAHTERAAN SOSIAL

Vol. VII, No. 15/I/P3DI/Agustus/2015

Kajian Singkat terhadap Isu Aktual dan Strategis

PRAKTIK BULLYING DALAM MASA ORIENTASI PESERTA


DIDIK BARU DAN UPAYA PEMERINTAH MENGATASINYA
Sulis Winurini*)

Abstrak
Hampir setiap awal tahun ajaran baru, praktik bullying menjadi isu di dalam kegiatan
orientasi siswa baru, yang sekarang bernama Masa Orientasi Peserta Didik Baru
(MOPDB). Hingga kini, tindak kekerasan yang dilakukan siswa senior terhadap
siswa junior masih terlihat, baik yang berupa fisik, verbal, maupun nonverbal. Untuk
mencegah praktek ini terjadi kembali, pemerintah telah melakukan upaya, di antaranya
adalah menetapkan Permendikbud Nomor 55 Tahun 2014 disertai Surat Edaran Nomor
59389/MPK/PD/2015. Upaya untuk melibatkan semua pihak telah terlihat namun untuk
mengoptimalisasi pelaksanaan kegiatan orientasi, pengawasan tetap diperlukan.

Praktik Bullying dalam MOPDB

Pendahuluan

MOPDB adalah kegiatan tahunan rutin


yang diselenggarakan sekolah pada jenjang
SMP dan SMA untuk memperkenalkan siswa
dengan sekolah barunya. Menurut Peraturan
Mendikbud Nomor 55 Tahun 2014 tentang
Masa Orientasi Peserta Didik Baru Di Sekolah,
masa orientasi diperlukan bagi siswa baru
dalam rangka pengenalan program sekolah,
lingkungan sekolah, cara belajar, dan konsep
pengenalan diri sebagai pembinaan awal ke arah
terbentuknya kultur sekolah yang kondusif bagi
proses pembelajaran lebih lanjut sesuai dengan
tujuan pendidikan nasional.
Dalam perjalanannya, kegiatan orientasi
sering disalahgunakan siswa senior, yang
notabene panitia orientasi, sebagai sarana
pelampiasan dendam dan aksi negatif terhadap
siswa junior. Dengan mengatasnamakan
senioritas, siswa senior menggunakan abuse
of power. Mereka menerapkan tata tertib
yang ketat terhadap siswa junior yang mana

Praktik bullying dalam kegiatan Masa


Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB), yang
dulunya bernama Masa Orientasi Siswa (MOS),
masih menjadi sorotan dalam dunia pendidikan.
Dipicu oleh kematian Evan C. Situmorang,
siswa SMP di Bekasi, yang tewas setelah
mengikuti MOPDB, praktik bullying kembali
menjadi isu. Berita terakhir menyebutkan,
penyebab kematian Evan C Situmorang bukan
karena
keikutsertaannya
dalam
MOPDB.
Kendati demikian, bukan berarti isu bullying
di dalam MOPDB berhenti begitu saja. Isu ini
tetap mendapat perhatian mengingat ia sudah
dianggap sebagai menu utama dalam kegiatan
orientasi dari tahun ke tahun dan bahkan
beberapa kali menjadi penyebab kematian siswa
baru. Bagaimana praktik bullying dalam MOPDB
terjadi di Indonesia saat ini dan bagaimana
peranan pemerintah selama ini terhadap
penyelenggaraan MOPDB menjadi pertanyaan
yang akan dijawab melalui tulisan ini.

*) Peneliti Muda Psikologi pada Bidang Kesejahteraan Sosial, Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi (P3DI), Sekretariat
Jendral DPR RI, Email: suliswinurini@yahoo.com.
Info Singkat
2009, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI)
Sekretariat Jenderal DPR RI
www.dpr.go.id
ISSN 2088-2351

-9-

barunya. Di tahun 2012, Muhammad Najib,


seorang siswa Sekolah Pelayaran Menengah
Pembangunan di Jakarta, dipaksa jalan kaki
sejauh lima kilometer ketika mengikuti MOPDB.
Akibat kelelahan yang sangat berat, nyawa
Muhammad Najib tidak dapat tertolong.
Bullying tidak bisa dibiarkan. Dalam
proses pembelajaran apapun, tujuan pendidikan
tidak akan tercapai apabila disertai pengalaman
bullying. Penelitian-penelitian yang telah
dilakukan selama ini mengungkapkan bahwa
siswa dengan pengalaman bullying mengalami
kesejahteraan psikologis yang rendah sehingga
berpengaruh kepada prestasi akademik dan
kualitas kehidupannya, baik di sekolah maupun
di luar sekolah. Riauskina, Djuwita dan Soesetio
(2005) mengungkapkan, siswa yang menjadi
korban bullying merasa marah tetapi tidak
berani melawan, dendam, tertekan, takut,
malu, ingin menangis, sedih selama di-bully.
Pada umumnya, mereka mengalami gangguan
penyesuaian sosial dan gangguan psikologis
seperti merasa stres, depresi dan selalu merasa
terancam.

pelanggarannya akan diikuti pemberian sanksi,


baik berupa sanksi mental maupun fisik. Dalam
tata tertib tersebut, siswa junior diwajibkan
mengerjakan setumpuk
tugas yang berat.
Sayangnya, tata tertib dan tugas-tugas yang
dimaksud sering sekali tidak berhubungan
dengan tujuan kegiatan orientasi sesungguhnya.
Pada banyak kasus, kegiatan orientasi
bahkan sering diisi dengan kekerasan.
Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
pada tahun 2012 di sembilan Provinsi, yaitu
Sumatera Barat, Lampung, Jambi, Banten, Jawa
Tengah, DIY, Jawa Barat, Jawa Timur, dan
Kalimantan Timur, ditemukan angka kekerasan
yang cukup tinggi di sekolah. Dari total 1026
responden, 87,6% anak mengaku pernah
mengalami kekerasan di lingkungan sekolah
dalam berbagai bentuk. Dari angka 87,6%
tersebut, sebanyak 29,9% kekerasan dilakukan
oleh guru, 42,1 % dilakukan oleh teman sekelas,
dan 28,0 % dilakukan oleh teman lain kelas.
Hasil penelitian tersebut menambahkan bahwa
pada umumnya kekerasan terjadi pada saat
kegiatan orientasi berlangsung di sekolah.
Kekerasan yang terjadi dalam kegiatan
orientasi
diistilahkan
bullying.
Menurut
Riauskina, Djuwita dan Soesetio (2005),
bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan
berulang-ulang oleh seseorang atau sekelompok
siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa
dan siswi lain yang lebih lemah dengan tujuan
menyakiti orang tersebut. Menurut Yayasan
Semai Jiwa Amini (2012), bullying terbagi
menjadi tiga. Pertama, fisik, seperti memukul,
menampar, dan memalak atau meminta
dengan paksa apa yang bukan miliknya.
Kedua, verbal, seperti memaki, menghina,
menjuluki, meneriaki, menuduh, menyoraki,
menggosip, dan mengejek. Ketiga, psikologis,
seperti memandang sinis, memandang penuh
ancaman, memandang merendahkan, memelototi,
mencibir, mempermalukan di depan umum,
mengintimidasi, mengucilkan, mengabaikan,
dan mendiskriminasi.
Dari tahun ke tahun, bullying muncul
dalam kegiatan orientasi, baik dalam bentuk
fisik, verbal maupun psikologis, yang masingmasing bahkan bisa berdampak pada kematian.
Contoh kasus bullying dalam masa orientasi
beberapa tahun terakhir yang berakibat pada
kematian, yaitu, tewasnya Roy Aditya Perkasa
di tahun 2009 pada hari kedua MOPDB.
Kematiannya ditengarai karena tingkat stres
yang tinggi akibat beban tugas yang terlalu
berat. Di tahun 2011, Amanda Putri Lubis, siswi
SMA di Tangerang Selatan tewas. Ia diduga
menjadi korban MOPDB setelah mengeluhkan
sesak napas usai mengikuti MOPDB di sekolah

Upaya Pemerintah Mengatasi Bullying


di dalam MOPDB

Pengentasan bullying tentunya tidak


bisa dilepaskan dari peran pemerintah dalam
menetapkan dan melaksanakan kebijakan.
Mengenai penetapan kebijakan, secara umum,
perlindungan siswa di sekolah dari perilaku
bullying terakomodasi dalam Undang-Undang
Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak. Dalam Pasal 54 disebutkan
bahwa anak di dalam dan di lingkungan satuan
pendidikan wajib mendapatkan perlindungan
dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan
seksual dan kejahatan lainnya yang dilakukan
oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama
peserta didik, dan/atau pihak lain.
Terkait MOPDB, melalui Permendiknas
Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar
Pengelolaan Pendidikan Oleh Satuan Pendidikan
Dasar dan Menengah, sudah ada penekanan
mengenai pelaksanaan kegiatan orientasi
tanpa kekerasan. MOS ditetapkan sebagai
bagian dari pengelolaan pendidikan dengan
penekanan orientasi yang bersifat akademik dan
pengenalan lingkungan tanpa kekerasan dengan
pengawasan guru. Kemudian, pada tahun 2014,
aturan terperinci mengenai MOS yang berubah
nama menjadi MOPDB dikeluarkan, yaitu
Permendikbud Nomor 55 Tahun 2014 tentang
Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB) di
Sekolah menggantikan Kepmendiknas Nomor
112/U/2001 tentang Masa Orientasi Siswa di
Sekolah.
- 10 -

Permendikbud Nomor 55 Tahun 2014


memberi penjelasan yang lebih spesifik mengenai
larangan bullying di dalam MOPDB. Peraturan
tersebut
menyebutkan,
sekolah
dilarang
melaksanakan masa orientasi yang mengarah
kepada tindakan kekerasan, pelecehan dan/
atau tindakan destruktif lainnya yang merugikan
siswa baru baik secara fisik maupun psikologis,
baik di dalam maupun di luar sekolah. Peraturan
tersebut juga menyebutkan adanya sanksi bagi
kepala sekolah dan guru yang membiarkan
terjadinya penyimpangan dan/atau pelanggaran
serta menekankan peran dinas pendidikan
provinsi/kabupaten/kota
dalam
kegiatan
orientasi di sekolah.
Dalam rangka merealisasikan Permendikbud
Nomor 55 Tahun 2014,
Mendikbud
mengeluarkan Surat Edaran Nomor 59389/
MPK/PD/2015 yang ditujukan kepada gubernur,
bupati, dan wali kota seluruh Indonesia. Surat
edaran ini menekankan adanya keterlibatan
berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat
hingga daerah, beserta masyarakat, untuk
mencegah bullying di dalam kegiatan orientasi.
Ada dua poin penting yang dijelaskan dalam
surat edaran tersebut berkenaan dengan
pencegahan dan penindakkan aksi bullying.
Pertama, para gubernur, bupati, dan wali
kota diminta untuk menginstruksikan kepada
kepala dinas pendidikan untuk mengantisipasi
sekaligus memastikan pelaksanaan kegiatan
orientasi siswa baru sesuai dengan tujuannya,
tanpa disertai aksi bullying dalam bentuk
apapun, di dalam maupun di luar sekolah,
memastikan kepala sekolah dan para pelaksana
di sekolah mengetahui isi Permendikbud
Nomor 55 Tahun 2014 dan menjadi pihak yang
bertanggung jawab sepenuhnya atas penyiapan
dan pelaksanaan kegiatan orientasi, melakukan
tindakan dan/atau hukuman disiplin sesuai
kewenangan dinas pendidikan terhadap sekolah
dan kepala sekolah yang membiarkan praktik
bullying terjadi.
Kedua, Mendikbud menghimbau kepada
masyarakat khususnya orang tua/wali peserta
didik untuk memantau dan mengawasi
pelaksanaan kegiatan orientasi. Orang tua/wali
diminta melaporkan jika ada penyimpangan
misalnya, melalui laman khusus terkait yang
disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan atau melalui dinas pendidikan
setempat.

Kabupaten Bantul, misalnya, diisi dengan


pengenalan tradisi dan budaya Jawa melalui
aneka jenis lomba. Beberapa lomba di antaranya
mewiru atau melipat kain panjang batik, lomba
bahasa Jawa Krama Inggil, lomba sinoman
atau menyajikan makanan dan minuman
sesuai tradisi Jawa, serta beberapa permainan
tradisional, seperti egrang dan dakon. Lomba
berbahasa Jawa Krama Inggil, misalnya, bisa
menanamkan sikap sopan santun kepada
murid-murid. Siswa yang tidak ikut lomba
diajak oleh pihak sekolah berkegiatan lain,
yakni membersihkan corat-coret di bangunan
sekitar sekolah. Mereka juga diajak memberikan
bantuan kepada panti asuhan di Bantul.
Di sisi lain, pada beberapa kasus, praktik
bullying masih terlihat. Di salah satu SMA di
Tangerang, misalnya, kekerasan fisik memang
sudah dihindari di dalam MOPDB. Namun
demikian, seperti sudah menjadi tradisi dalam
MOPDB, masih ada kewajiban bagi siswa
baru untuk mengenakan ornamen aneh dan
mengerjakan tugas-tugas yang tidak logis.
Siswa baru diwajibkan berdandan seperti badut,
mengenakan kaos kaki berbeda warna, sepatu
bertali rafia, tas yang terbuat dari karung.
Mereka diminta membawa kardus bekas seberat
3 kg, membawa pisang ukuran 5 cm di hari
Sabtu, 10 cm di hari Senin, 13 cm di hari Selasa,
dan 15 cm di hari Rabu. Selain itu mereka
diminta membawa bekal tempe, tahu, telur
dengan waktu makan yang dihitung. Apabila
tidak habis, nasi dituangkan ke kepala mereka.
Selain itu, kasus kematian juga masih
muncul. Kasus yang muncul baru-baru ini
bersamaan dengan kasus kematian Evan C
Situmorang adalah kasus kematian M. Arief
Husein, siswa SMP di Bintan. Ia diduga tewas
karena kekerasan fisik di dalam MOPDB.
Sebelum meninggal, ia mengaku kepada orang
tuanya mendapatkan pukulan dan tendangan
di dada serta perut dari kakak kelasnya pada
saat MOPDB. Masih menurut orang tuanya, ia
kehausan saat mengikuti kegiatan dan minta izin
minum kepada kakak kelasnya, tetapi ia justru
dipukuli.
Gambaran beberapa kasus tersebut di
atas menunjukkan bahwa saat ini sejumlah
sekolah telah memiliki perhatian serius
terhadap pelaksanaan kegiatan orientasi siswa
baru. Mereka mengubah tradisi kegiatan
orientasi, yaitu dengan mengisi kegiatan
kreatif, menghindari kegiatan destruktif, sesuai
dengan kebijakan dan himbauan pemerintah.
Dengan demikian, tujuan kegiatan diarahkan
ke tujuan yang sebenarnya, yaitu sebagai sarana
pembentukan kultur yang kondusif bagi proses
belajar-mengajar. Kendati begitu, tidak bisa
menutup mata, praktik bullying masih terlihat

Pelaksanaan Kegiatan MOPDB Saat Ini

Dampak positif upaya pemerintah terhadap


pencegahan praktik bullying di dalam MOPDB
tergambar dari perubahan tradisi kegiatan
orientasi yang dilakukan sejumlah sekolah.
Masa orientasi siswa di SMKN 1 Pundong,

- 11 -

di beberapa sekolah lainnya. Meskipun sudah


dihindari, untuk beberapa kasus tertentu,
bullying fisik yang berakibat pada kematian
masih ditemukan, begitupun halnya dengan
bullying psikologis berupa penugasan untuk
menjadi bahan lelucon. Masih munculnya kasus
semacam ini bisa dikarenakan beberapa faktor,
yaitu pemahaman mengenai bullying yang masih
terbatas, pengawasan di dalam kegiatan orientasi
yang masih kurang, kontrol masyarakat yang
masih lemah, dan lain sebagainya. Dengan kata
lain, himbauan Mendikbud yang dikoordinasikan
melalui gubernur, bupati, dan wali kota kepada
dinas pendidikan masih belum direalisasikan
secara maksimal.

Penutup

Dalam proses pembelajaran, MOPDB


masih perlu dilaksanakan. Supaya selaras dengan
tujuannya, pemerintah berupaya memperbaiki
pelaksanaannya yang selama ini dipenuhi
dengan praktik bullying. Salah satu upaya yang
dilakukan adalah melaksanakan Permendikbud
Nomor 55 tahun 2014 berikut Surat Edaran
Nomor 59389/MPK/PD/2015. Upaya ini perlu
mendapat apresiasi karena praktik bullying
dalam MOPDB telah dihindari sejumlah sekolah
meskipun belum maksimal karena terbukti
masih ada satu atau dua kasus bullying yang
bermunculan. Untuk itu, ada beberapa hal yang
perlu dilakukan, yaitu pertama, perlu upaya
untuk melakukan sosialisasi anti-bullying secara
terus-menerus kepada semua pihak di sekolah
dan masyarakat. Kegiatan orientasi akan jauh
lebih baik jika dijadikan sarana sosialisasi antibullying mengingat tujuan dari kegiatan itu
sendiri, yaitu pengenalan kultur lingkungan
sekolah. Untuk mendukung sosialisasi antibullying secara terpadu, gerakan nasional antibullying dipandang perlu dilakukan. Kedua,
dalam rangka menciptakan lingkungan sekolah
yang bebas bullying, perhatian terhadap
perilaku bullying hendaknya tidak hanya pada
MOPDB saja, melainkan pada seluruh kegiatan
belajar-mengajar di setiap jenjang pendidikan.
Ketiga, perlu penguatan partisipasi aktif dari
masyarakat. Keempat, DPR RI, khususnya
Komisi X yang bermitra dengan Kemendikbud,
perlu
melakukan
pengawasan
terhadap
pelaksanaan kegiatan orientasi. Satu atau dua
kasus bullying yang muncul baru-baru ini perlu
menjadi sarana penguatan fungsi pengawasan
tersebut termasuk di dalamnya keperluan untuk
meneliti kasus-kasus lain yang muncul tetapi
tidak terungkap.

Referensi
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 Tentang
Standar Pengelolaan Pendidikan Oleh
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
Permendikbud Nomor 55 Tahun 2014 tentang
Masa Orientasi Peserta Didik Baru Di
Sekolah
Surat
Edaran
Nomor
59389/MPK/PD/
Tahun 2015 tentang Pencegahan Praktik
Perpeloncoan, Pelecehan dan Kekerasan
Pada Masa Orientasi Peserta Didik Baru di
Sekolah
Intan Indira Riauskina, Ratna Djuwita, Sri
Rochani Soesetio. "Gencet-Gencetan Di Mata
Siswa/ Siswi Kelas 1 SMA: Naskah Kognitif
Tentang Arti, Skenario, dan Dampak GencetGencetan", Jurnal Psikologi Sosial, Vol 12
Nomor 01, September 2005
Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa). 2008.
Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan
Lingkungan Sekitar Anak. Jakarta: PT
Grasindo.
Daftar MOS Maut Di Indonesia, http://www.
pedidikanindonesia.com/2015/08/daftarmos-berujung-maut-di-indonesia.html,
diakses pada tanggal 4 Agustus 2015
Kekerasan di Sekolah Pernah Dialami 87,6
Persen Siswa, http://2010.kemenkopmk.
go.id/content/kekerasan-di-sekolah-pernahdialami-876-persen-siswa, diakses pada
tanggal 4 Agustus 2015
Evolusi
perpeloncoan,
kezaliman
yang
terlembaga,
http://www.merdeka.com/
peristiwa/evolusi-perpeloncoan-kezalimanyang-terlembaga.html, diakses pada tanggal
4 Agustus 2015
Masa Orientasi Siswa Jadi Masa Menakutkan
atau Menyenangkan, http://print.kompas.
com/baca/2015/08/04/Masa-OrientasiSiswa%2c-Jadi-Masa-Menakutkan-atauMenyenangkan, diakses pada tanggal 4
Agustus 2015
Masih Ada Perpeloncoan Saat Masa Orientasi
Sekolah,"
http://news.metrotvnews.com/
read/2015/07/29/151846/masih-adaperpeloncoan-saat-masa-orientasi-sekolah,
diakses pada tanggal 4 Agustus 2014
"Lagi, Polisi Selidiki MOS", Kompas, Selasa, 4
Agustus 2015.

- 12 -

EKONOMI DAN KEBIJAKAN PUBLIK

Vol. VII, No. 15/I/P3DI/Agustus/2015

Kajian Singkat terhadap Isu Aktual dan Strategis

MENGURAI PENYEBAB DAN SOLUSI


PELEMAHAN NILAI TUKAR RUPIAH
Lukman Adam *)

Abstrak
Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah terus menguat dalam setahun terakhir. Fakta tersebut
tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Secara eksternal, mata uang rupiah dapat terus menurun
seiring dengan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (Fed Rate) yang akan terjadi secara
bertahap, yaitu di bulan September dan tahun depan. Sejumlah langkah harus segera
dilakukan, yaitu merevisi aturan BI mengenai devisa hasil ekspor, memperbaiki neraca
transaksi berjalan, dan mendorong pertumbuhan sektor riil, memperbaiki koordinasi antarlembaga pemerintahan, menambah pasokan dolar AS, dan menegakkan UU No. 7 Tahun
2011 tentang Mata Uang. Bagi DPR, tindakan yang perlu dilakukan adalah mengawasi
kebijakan moneter dan fiskal yang memengaruhi nilai tukar rupiah.

Pendahuluan

Pelemahan rupiah tidak lepas dari tingginya


permintaan atau kebutuhan akan dolar AS di
dalam negeri. Di sisi lain, kebutuhan dolar AS
belum cukup diimbangi dengan pasokan atau
persediaan dolar AS di negeri ini. Oleh karena
itu, upaya menekan kebutuhan akan dolar AS
di dalam negeri perlu dilakukan. Di sisi lain,
upaya mendorong kegiatan ekonomi yang
bisa menambah pasokan dolar AS pun juga
diperlukan.
Cadangan devisa Indonesia sekarang ini
sekitar 108 miliar dolar AS yang digunakan untuk
kebutuhan membiayai impor dan membayar
utang pemerintah. Dalam kondisi pasar uang
sekarang ini, kebijakan intervensi ke pasar
untuk memborong rupiah akan sia-sia. Pasokan
dolar AS berbentuk cadangan devisa sangat
disayangkan jika dipakai untuk intervensi di pasar
uang. Melepas devisa sejumlah 6 miliar dolar AS
atau Rp78 triliun, tidak bisa melawan kekuatan
investor asing membeli dolar AS.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus


mengalami fluktuasi dalam setahun terakhir.
Dalam perdagangan tanggal 5 Agustus 2015, nilai
tukar rupiah ditutup terdepresiasi 0,32 persen ke
level Rp13.515 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar
rupiah tersebut tidak bisa dibiarkan berlarutlarut. Menurunnya nilai tukar rupiah dapat dilihat
pada Gambar 1.
Pelemahan yang terus-menerus akan
mempersulit perencanaan bisnis, akibatnya
perhitungan biaya produksi menjadi kacau. Hal
ini membuat perhitungan harga jual produk yang
masih menggunakan bahan baku impor menjadi
serba sulit dan tidak pasti. Sebagai contoh bisnis
industri pengolahan. Menurut Suryamin, Kepala
Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan
masih dibayang-bayangi perlambatan ekonomi
global maupun permintaan domestik dan nilai
tukar rupiah yang masih berfluktuasi dengan
kecenderungan melemah.

*) Peneliti Muda Ilmu Kebijakan pada Bidang Ekonomi dan Kebijakan Publik, Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi
Setjen DPR RI, Email: mada.kenn@gmail.com.
Info Singkat
2009, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI)
Sekretariat Jenderal DPR RI
www.dpr.go.id
ISSN 2088-2351

- 13 -

Gambar 1. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS


Sumber: http://www.tradingeconomics.com/indonesia/currency

Denni Puspa Purbasari, Dosen Fakultas


Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada,
menuturkan Bank Indonesia (BI) mengetahui
apakah pelemahan nilai tukar rupiah ini
berdasarkan
kondisi
fundamental
ekonomi
atau spekulasi. BI mengetahui seberapa besar
permintaan valuta asing dan dari mana saja
permintaan tersebut. Purbasari juga menegaskan
bahwa pemerintah juga diharapkan mengambil
langkah tepat dalam menenangkan pasar
keuangan. Sering sekali investor melihat pola
komunikasi dan cara pejabat pemerintah
menyampaikan pernyataan yang tidak sinkron
pada publik soal perkembangan perekonomian.
Agus DW Martowardojo, Gubernur BI,
menjelaskan nilai tukar rupiah melemah karena
penguatan dolar AS yang terus berlanjut. Namun
demikian, rupiah tidak melemah sendirian dan
pelemahannya tidak lebih dalam dibandingkan
dengan mata uang sejumlah negara lain. Depresiasi
rupiah sejak awal tahun hingga Juli 2015 hanya
sebesar 8,5 persen, sedangkan Brasil, Turki, dan
beberapa negara lain, ada yang melampaui 10 atau
15 persen.
Apabila dibandingkan dengan Tabel 1, pada
triwulan I 2015 terlihat bahwa penurunan nilai
tukar rupiah lebih rendah dibandingkan dengan
nilai tukar ringgit Malaysia yang menurun sebesar
7,19 persen. Sementara itu, mata uang peso Filipina
dan baht Thailand mengalami penguatan masingmasing sebesar 0,84 persen dan 0,21 persen.
Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Asset
Management, menilai pelemahan nilai tukar yang
berujung pada penambahan biaya produksi bisa
saja dibebankan pada masyarakat lewat kenaikan
harga produk. Namun demikian, saat daya beli
masyarakat tergerus, langkah tersebut berisiko
tidak terjualnya produk. Atas situasi tersebut,
Lana menyampaikan pentingnya kebutuhan
integrasi kebijakan fiskal dan moneter yang cukup
kuat untuk menggodok kebijakan yang mampu
menstimulus daya beli masyarakat dan menjaga
stabilitasi nilai tukar rupiah dalam waktu dekat.

Tabel 1. Rata-Rata Nilai Tukar Beberapa


Negara ASEAN terhadap Dolar AS (dalam %)
Negara

Jan '14 Vs Q3 '14 Vs Q1 '15 Vs


Des '13
Q2 '14
Q4 '14

Indonesia

-0.70

-1.20

-0.42

Malaysia

-1.74

1.31

-7.19

Filipina

-1.83

0.60

0.84

Thailand

-1.80

1.03

0.21

Ket: Q= Kuartal, Vs= Versus.


Sumber: Laporan Kebijakan Moneter: Ekonomi, Moneter,
dan Keuangan (Bank Indonesia, beragam tahun)

Di atas itu semua, turunnya nilai tukar


rupiah terhadap dolar AS sudah berlangsung sejak
tahun 2014. Tulisan singkat ini akan mengkaji
beberapa penyebab pelemahan tersebut berikut
solusi yang perlu dilakukan.

Penyebab Melemahnya Nilai Tukar


Rupiah

Secara alami, nilai tukar mata uang


dipengaruhi oleh kondisi penawaran-permintaan
(supply-demand) pada mata uang tersebut. Jika
permintaan meningkat, sementara penawarannya
tetap atau menurun, maka nilai tukar mata
uang itu akan mengalami kenaikan. Sebaliknya
jika penawaran pada mata uang itu meningkat,
sementara permintaannya tetap atau menurun,
maka nilai tukar mata uang itu akan melemah.
Faktor penyebab melemahnya nilai tukar
rupiah dapat dibagi menjadi faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal mencakup halhal sebagai berikut. Pertama, kebijakan transaksi
berjalan (total ekspor barang dan jasa dikurangi
impor barang dan jasa) yang mengalami defisit
sejak 2012 (lebih banyak impor daripada ekspor)
seperti dapat dilihat pada Tabel 2.
Defisit berjalan ini dikhawatirkan membuat
pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi tidak
berkesinambungan. Untuk mengurangi defisit
transaksi berjalan tersebut, tampaknya otoritas
moneter
memilih
langkah
memperlambat

- 14 -

Tabel 2. Transaksi Berjalan Indonesia Tahun 2010 Triwulan I 2015


(dalam miliar dolar AS)
2010

2012

5.1

-24.4

2013

2014

2015

Q1

Q2

Q3

Q4

Q1

Q2

Q3

Q4

Q1

-29.1

-10.1

-8.6

-4.3

-4.1

-8.8

-6.9

-5.7

-3.9

Sumber: Statistik Keuangan dan Ekonomi Indonesia, Triwulan I 2015 (Bank Indonesia)

pertumbuhan ekonomi dan membiarkan rupiah


cenderung melemah.
Kedua, keluarnya sebagian besar investasi
portofolio asing dari Indonesia yang menurunkan
nilai tukar rupiah karena dalam proses ini
investor asing menukar rupiah dengan mata uang
utama dunia, seperti dolar AS untuk diputar dan
di investasikan di negara lain. Hal ini berarti
akan terjadi peningkatan penawaran atas mata
uang rupiah. Peristiwa tersebut akan simetris
dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
yang akan cenderung menurun sejalan dengan
kecenderungan penurunan nilai rupiah.
Ketiga, politik anggaran negara terkait
utang.
Melemahnya
rupiah
tidak
hanya
berdampak pada kenaikan harga komoditas impor
saja, namun juga dari utang luar negeri, karena
utang luar negeri ditetapkan dengan mata uang
asing dan masih ada yang tidak diasuransikan
(lindung nilai). Akibatnya, karena utang harus
dibayar dengan mata uang dolar AS, sedangkan
nilai tukar rupiah dipastikan melemah, maka
besaran utang otomatis meningkat.
Faktor
eksternal
lebih
disebabkan
menguatnya
ekonomi
Amerika
Serikat
(AS). Pertumbuhan ekonomi AS yang kuat
menimbulkan spekulasi Bank Sentral AS (The
Fed) akan segera menaikkan suku bunga (Fed
Rate). Sementara di Eropa, Jepang, dan Tiongkok
justru sedang membutuhkan dukungan kebijakan
moneter untuk mencegah perekonomiannya jatuh
ke masa resesi. Dengan kata lain, suku bunga di
AS cenderung mengalami kenaikan, sedangkan
suku bunga di negara lain cenderung tetap atau
bahkan menurun. Suku bunga yang tinggi di AS
telah memicu aliran dana ke aset-aset dalam dolar
AS (selain saham dan obligasi).
Selain itu, kekhawatiran ekonomi global
akan terus melambat telah membuat investor
dunia mencari tempat yang aman untuk investasi
mereka. Turunnya harga minyak dunia yang
terjadi akhir-akhir ini dikhawatirkan berdampak
negatif
terhadap
negara-negara
seperti
Rusia sehingga dapat memperburuk kondisi
perekonomian global. Dalam keadaan seperti
ini, bentuk yang dianggap paling aman untuk
berinvestasi adalah aset dalam bentuk dolar AS.
Ariston Tjendra, Kepala Riset PT Monex
Investindo Futures, menilai kenaikan Fed Rate
akan dilakukan secara bertahap, yaitu di bulan
September dan tahun depan. Selain itu, The

Fed melalui Dennis Lockhart, Presiden The Fed


wilayah Atlanta menyatakan tidak ada masalah
dalam perekonomian AS yang membuat pihaknya
harus menahan kenaikan Fed Rate.

Solusi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Hendri Saparini, pengamat ekonomi,


menyebutkan pemerintah sudah seharusnya
bertindak cepat untuk mengatasi pelemahan
rupiah, melalui implementasi berbagai kebijakan
yang mendorong peningkatan devisa ekspor,
yang pada akhirnya berdampak meningkatkan
pendapatan devisa dalam negeri. Sayangnya,
apabila kita cermati pasokan dolar AS dari ekspor
saat ini tidak bisa diharapkan, karena sedang
lesunya pasar global. Di satu sisi menekan impor
juga akan menghemat dolar AS. Namun demikian,
langkah ini sekaligus juga bisa membuat aktifitas
industri berbasis bahan baku impor melesu,
sehingga dapat menyebabkan peningkatan
pengangguran. Selain itu, sangat sulit untuk
menekan atau menghentikan aktivitas impor di
era perdagangan bebas seperti sekarang.
Hal menarik dari uraian Hendri Saparini
adalah aturan Bank Indonesia (BI) tentang devisa
hasil ekspor (DHE) saat ini belum menunjukkan
DHE riil dari eksportir Indonesia. Sebaliknya ia
hanya sekedar untuk kepentingan pencatatan
dan pelaporan administratif ke BI. BI seharusnya
mewajibkan eksportir untuk mengendapkan
(hold) DHE di dalam negeri minimal 3-6 bulan.
Banyak DHE milik eksportir Indonesia yang
masih terparkir di luar negeri (Singapura), yang
seharusnya segera kembali masuk ke dalam
negeri. Hal ini perlu dilakukan untuk memperkuat
portofolio devisa negara. Hal nyata yang perlu
dilakukan pemerintah untuk menanggulangi
pelemahan
rupiah,
menurutnya
adalah
menegakkan UU No 7 Tahun 2011 tentang Mata
Uang. UU tersebut dengan tegas menetapkan
bahwa setiap transaksi harus dilakukan dengan
mata uang rupiah, dan sejumlah negara tetangga
telah menerapkan kebijakan menggunakan mata
uang mereka untuk menjaga nilai kredibilitas
mata uangnya. Bila berhasil dilaksanakan
sepenuhnya, tentu rupiah akan terjaga dari
tekanan fluktuasi.
Didiek J. Rachbini, Ketua LP3E Kadin,
menyebutkan perlu perbaikan neraca transaksi
berjalan untuk meredam gejolak rupiah.
Bahkan, pelemahan ini merupakan pertama
- 15 -

kalinya setelah sekian lama neraca perdagangan


mengalami defisit. Defisit neraca perdagangan
terjadi karena Indonesia masih melakukan ekspor
barang mentah.
Hanya sayangnya, menurut Didiek, saat
ini pemerintah seperti lepas tangan dan tidak
cukup solutif mengatasi pelemahan rupiah
dengan mencari-cari alasan untuk menenangkan
masyarakat. E g o s e k t o r a l a n t a r l e m b a g a
pemerintahan juga masih sangat tinggi, masingmasing masih ingin berebut kewenangan. Hal
ini yang harus segera dicarikan solusi mengatasi
pelemahan rupiah secara signifikan, terpadu, dan
cepat.
Selain itu, A. Prasetyantoko, ekonom,
mengatakan
untuk
mengatasi
pelemahan
nilai tukar rupiah itu tidak bisa dilakukan dari
kebijakan moneter yang berlebihan, atau dengan
menaikkan BI Rate secara terus-menerus.
Pemerintah
bersama
kementerian
terkait
seharusnya mampu mengeluarkan kebijakan
yang bisa mendorong pertumbuhan di sektor
riil. Sejauh ini obat mengatasi pelemahan
rupiah hanya satu arah, yaitu berasal dari BI.
Masalahnya, kenaikan BI Rate yang terjadi secara
terus-menerus akan berdampak struktural.
Menekan kebutuhan dolar AS di dalam
negeri juga bisa dengan menekan keperluan
dolar AS untuk wisata ke luar negeri. Devisa
yang dipasok dari wisatawan asing ke Indonesia
mencapai sekitar 10 miliar dolar AS. Sebaliknya,
kebutuhan dolar AS untuk berbagai perjalanan
ke luar negeri juga mencapai angka miliaran
dolar AS. Dengan begitu, pasokan dolar AS dari
wisatawan asing kembali tersedot keluar. Dalam
konteks ini, himbauan agar masyarakat sedapat
mungkin mengurangi berwisata ke luar negeri
perlu digalakkan. Selain itu, upaya lain yang dapat
dilakukan termasuk upayamendorong pasokan
dolar AS dari tenaga kerja Indonesia.

Penutup

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS


terus menurun dalam setahun terakhir dan
diperkirakan akan terus menurun seiring
kenaikan Fed Rate yang akan terjadi secara
bertahap, yaitu di bulan September dan tahun
depan. Faktor penyebab melemahnya nilai tukar
rupiah adalah faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal terdiri dari: (1) kebijakan
transaksi berjalan yang mengalami defisit
sejak tahun 2012; (2) keluarnya sebagian besar
investasi portofolio asing dari Indonesia; dan
(3) politik anggaran negara terkait utang. Faktor
eksternal terdiri dari: (1) menguatnya ekonomi AS
dan (2) perlambatan ekonomi global. Solusi agar
pelemahan nilai tukar rupiah tidak terus terjadi
adalah kombinasi kebijakan fiskal dan moneter,

serta kebijakan lain yang diperlukan. Bentuk


kombinasi kebijakan fiskal dan moneter adalah: (1)
merevisi aturan BI mengenai devisa hasil ekspor
dengan mewajibkan eksportir mengendapkan DHE
di dalam negeri minimal 3 6 bulan; (2) mencegah
defisit transaksi berjalan; dan (3) mendorong
pertumbuhan sektor riil. Kebijakan lainnya terdiri
dari: (1) memperbaiki koordinasi antar lembaga
pemerintahan; (2) menambah pasokan dolar AS
melalui menarik kunjungan wisatawan asing ke
Indonesia dan mencegah perjalanan wisata orang
Indonesia ke luar negeri dengan membawa mata
uang dolar AS yang cukup banyak, serta mendorong
pasokan dolar AS dari tenaga kerja Indonesia; dan
(3) menegakkan UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata
Uang.
Bagi DPR, tindakan yang perlu dilakukan
adalah mengawasi kebijakan pemerintah terhadap
kebijakan moneter dan fiskal yang memengaruhi
nilai tukar. Serangkaian kebijakan yang juga perlu
diawasi secara khusus menyangkut kebijakankebijakan devisa hasil ekspor, hilirisasi untuk sektor
pertambangan dan pertanian, koordinasi antarlembaga pemerintahan, dan penegakan aturan
mengenai mata uang.

Referensi

"Nilai Tukar Rupiah, Prospek Bisnis Penuh


Tantangan", Bisnis Indonesia, 6 Agustus 2015.
"Pasokan Dollar AS', Kompas, 6 Agustus 2015.
"Pelemahan Rupiah Tak Boleh Dibiarkan", Kompas,
5 Agustus 2015.
Penyebab Menurunnya Nilai Tukar Mata Uang
Rupiah,
http://www.fundbisnis.com/
penyebab-menurunnya-nilai-tukar-mata-uangrupiah-terhadap-dollar-amerika/html, diakses
tanggal 6 Agustus 2015.
The Fed bicara kurs tengah tembus Rp 13500
per dolar AS, http://www.cnnindonesia.com/
ekonomi/20150805151412-78-70242/the-fedbicara-kurs-tengah-tembus-rp-13500-perdolar-as/, diakses tanggal 6 Agustus 2015.
Solusi Rupiah Harus Cepat: Trio Defisit Jadi
Ancaman Serius Pemerintah, http://www.
neraca.co.id/article/51611/solusi-rupiahharus-cepat-trio-defisit-jadi-ancaman-seriuspemerintah, diakses tanggal 6 Agustus 2015.
Bank Indonesia. 2015. Laporan Kebijakan Moneter:
Ekonomi, Moneter, dan Keuangan Triwulan I
2015.
_____________. 2014. Laporan Kebijakan
Moneter: Ekonomi, Moneter, dan Keuangan
Triwulan III 2014.
_____________. 2013. Laporan Kebijakan
Moneter: Ekonomi, Moneter, dan Keuangan
Triwulan IV 2013.
_______________. 2015. Statistik Keuangan dan
Ekonomi Indonesia, Triwulan I 2015.
- 16 -

PEMERINTAHAN DALAM NEGERI

Vol. VII, No. 15/I/P3DI/Agustus/2015

Kajian Singkat terhadap Isu Aktual dan Strategis

CALON TUNGGAL
DALAM PILKADA SERENTAK 2015
Aryojati Ardipandanto*)

Abstrak
Pilkada serentak tahun 2015 mengalami kendala teknis. Di beberapa daerah tercatat
hanya ada satu pasangan calon. Awalnya, ada 11 kabupaten/kota yang memiliki
calon tunggal. Bahkan, ada daerah yang sama sekali tidak mengajukan pasangan
calon kepala daerah. Setelah KPU memperpanjang masa pendaftaran, jumlahnya
berkurang menjadi hanya di 7 daerah. Persoalan muncul ketika UU tentang Pilkada
saat ini belum mencantumkan ketentuan mengenai apa yang harus dilakukan bila
terjadi fenomena calon tunggal. Mengingat waktu pentahapan pilkada serentak itu
terus berjalan, Pemerintah, DPR RI, dan KPU serta Bawaslu perlu duduk bersama
untuk mencarikan solusinya. Alternatif-alternatif yang ada menyangkut penerbitan
sebuah Perppu, perpanjangan masa pendaftaran, dan merevisi UU tentang
Pilkada. Akhirnya, berdasarkan rekomendasi Bawaslu, KPU memperpanjang masa
pendaftaran calon untuk menghindari penundaan pelaksanaan Pilkada serentak
hingga tahun 2017. Kasus ini menunjukkan dua sisi kelemahan yang harus segera
diperbaiki, yaitu masalah pengkaderan di tubuh partai politik dan masalah substansi
UU tentang Pilkada yang harus segera diperbaiki.

Pendahuluan

walaupun figur petahananya sangat kuat, yaitu


pasangan Tri Rismaharini-Wisnu Sakti Buana,
namun koalisi Majapahit yang terdiri atas Partai
Demokrat, Gerindra, PKB, Golkar, PKS, dan
PAN masih berupaya untuk memunculkan calon
penantang. Di Jawa Tengah pun masih ada calon
tunggal. Di Kab. Boyolali, misalnya, calon yang
maju hanyalah pasangan Senosamudra-M.Said
Hidayat, yang diusung PDIP. Di Solo, ada duet
F.X.Hadi Rudyatmo-Achmad Purnomo, yang
juga dari PDIP. Sedangkan di Demak, hanya
ada pasangan Harwanto-Maskuri, yang diusung
koalisi Gerindra, PAN, dan Demokrat.
Komisi
Pemilihan
Umum
(KPU)
menyatakan bahwa jumlah daerah yang memiliki

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)


serentak 2015 akan digelar di 269 wilayah dengan
rincian 9 provinsi, 224 kabupaten (kab), dan
36 kota. Dari 269 daerah tersebut, paling tidak
ada 11 kab./kota yang figur calon petahananya
kuat, yaitu Serang, Bantul, Boyolali, Surabaya,
Situbondo, Banyuwangi, Pacitan, Kediri, Kutai
Kartanegara, Jembrana, dan Denpasar.
Belakangan diduga bahwa akan ada
paling tidak 3 daerah yang mungkin akan terjadi
penundaan pilkada akibat terlalu kuatnya
calon petahana, yaitu di Kutai Kartanegara,
Kalimantan Timur, Kab. Bantul, DI Yogyakarta,
dan Banyuwangi, sedangkan di Kota Surabaya,

*) Peneliti Pertama Politik pada Bidang Politik Dalam Negeri, Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Setjen DPR
RI, Email: aryojati.ardipandanto@gmail.com.
Info Singkat
2009, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI)
Sekretariat Jenderal DPR RI
www.dpr.go.id
ISSN 2088-2351

- 17 -

yakni akhirnya berujung dengan penundaan


pilkada di daerah yang hanya punya calon tunggal
sampai tahun 2017.
Pemerintah sendiri sebetulnya telah
menyiapkan draf rancangan perppu tersebut.
Salah satu poin dalam perppu menurut Menteri
Hukum dan Hak Asasi Yasonna Laoly akan
diatur soal jumlah dukungan. Pasangan calon tak
boleh mendapat dukungan lebih dari 50-60 %
suara. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari
terjadinya praktek beli suara. Laoly mengatakan
terbitnya perppu juga dimaksudkan untuk
menjaga hak dipilih.
Menurut Mendagri Tjahjo Koemolo,
partai politik (parpol) tidak dapat disalahkan
apabila tidak mengajukan calon. Kasus yang
sama terhadap para calon, sehingga calon yang
pada awalnya menyatakan kesiapannya untuk
mencalonkan diri, tiba-tiba mundur karena takut
menghadapi petahana (incumbent). Meminta
parpol memecah diri juga tidak mungkin. Bagi
mereka, pencalonan diri yang dipastikan bakal
kalah juga dianggap sia-sia. Ada juga yang alasan
yang terkait dengan tingginya biaya Pilkada.
Oleh karena itu, Mendagri menjelaskan, KPU
tetap berpegang pada pilihan penundaan pilkada
hingga 2017 bagi daerah yang hanya memiliki
satu pasangan calon.
Akhirnya, Presiden Jokowi memilih tidak
menerbitkan Perppu untuk menyelesaikan
masalah Pilkada serentak. Ketua DKPP Jimly
Assiddiqie menyatakan bahwa dengan adanya
sikap dari Presiden tersebut, itikad baik yang
tersisa adalah hanya datang dari KPU dan
Bawaslu. KPU setelah mendapat rekomendasi
dari Bawaslu akhirnya resmi mengumumkan
pendaftaran tambahan untuk 7 daerah yang
hanya memiliki pasangan calon tunggal. Namun
demikian, KPU hanya mengalokasikan 3 hari
untuk pendaftaran, dan 3 hari untuk sosialisasi.
Pendaftaran untuk Pilkada di 7 daerah yang
ditunda kembali dibuka selama 3 hari, mulai
Minggu tanggal 9 Agustus 2015 s.d. Selasa
tanggal 11 Agustus 2015. Ketua KPU Husni
Kamil Malik mengakui sosialisasi yang hanya
3 hari, yaitu dari Kamis tanggal 6 Agustus
2015 s.d Sabtu tanggal 8 Agustus 2015 cukup
mepet, mengingat tahapan Pilkada yang harus
dilaksanakan. Ketua KPU mengingatkan seluruh
jajaran KPU di daerah untuk mengoptimalkan
waktu yang tersedia. Pasalnya, jika ada satu saja
tahapan tidak berjalan sesuai rencana, maka
berpengaruh terhadap tahapan lainnya.
Ketua KPU mengatakan rekomendasi
dari Bawaslu sudah sesuai aturan dan menjadi
landasan
yang
cukup
untuk
kebijakan
perpanjangan penambahan waktu ini. Kekuatan
rekomendasi sudah dilegitimasi dalam UU.

calon tunggal dalam Pilkada serentak 2015,


sampai Sabtu, 1 Agustus 2015 pukul 19.30 WIB,
berkurang menjadi 11 daerah dari sebelumnya
12 daerah. Jumlah daerah dengan pasangan
calon tunggal berkurang menjadi 11 karena
ada penambahan satu pasangan calon di Kab.
Serang, Banten. 11 daerah yang masih memiliki
calon tunggal: Kab. Asahan di Sumatera Utara,
Kab.Tasikmalaya di Jawa Barat, Kota Surabaya,
Kab.Blitar di Jawa Timur, Kab. Purbalingga
di Jawa Tengah, Kab. Pacitan di Jawa Timur,
Kab. Minahasa Selatan di Sulawesi Utara, Kota
Mataram, Kota Samarinda, Kab. Timor Tengah
Utara di NTT dan Kab. Pegunungan Arfak di
Papua Barat. Sementara daerah yang sama sekali
tidak memiliki pasangan calon adalah Kab.
Bolaang Mongondow Timur di Sulawesi Utara.
Sesuai Surat Edaran Nomor 403 Tahun
2015 tentang Perpanjangan Masa Pendaftaran
menegaskan
bahwa
daerah-daerah
yang
memiliki kurang dari dua pasangan calon kepala
daerah, harus melakukan perpanjangan masa
pendaftaran dengan istilah "3-3-3". Apabila
dalam masa tiga hari pendaftaran (26-28 Juli)
tidak ada atau kurang dari dua pasangan calon
yang mendaftar, maka akan dilakukan jeda
pendaftaran selama tiga hari (29-31 Juli). Setelah
selesai masa jeda untuk sosialisasi, KPU provinsi
dan kabupaten/kota akan membuka kembali
pendaftaran selama tiga hari (1-3 Agustus).
Setelah KPU memperpanjang waktu pendaftaran
pilkada serentak, ternyata dari 269 daerah yang
menggelar pilkada, ada 7 daerah yang belum
bisa dilanjutkan prosesnya karena hanya ada
satu pasangan calon yang mendaftar di masingmasing KPU daerah. Yakni di Kab. Tasikmalaya,
Blitar, Kota Mataram, Kota Samarinda, Kab.
Timor Tengah Utara, Kab. Pacitan, serta Kota
Surabaya.

Alternatif Upaya Solutif

Terkait dengan pilkada di 7 daerah yang


hanya punya satu calon yaitu
Kab. Blitar,
Kab. Tasikmalaya, Kota Mataram, Kab.Timor
Tengah Utara, Kota Surabaya, Kab.Pacitan, dan
Kota Samarinda, Menteri Koordinator Politik,
Hukum, dan Keamanan, Tedjo Edhi Purdijatno,
mengatakan ada tiga opsi sebagaimana
didiskusikan dengan Presiden Joko Widodo.
Pertama, adalah menerbitkan perppu
supaya pilkada di 7 daerah tersebut bisa tetap
dilaksanakan meskipun hanya diikuti satu
pasangan calon. Kedua, adalah memperpanjang
lagi masa pendaftaran meskipun KPU sudah
memperpanjang masa pendaftaran sampai 3
Agustus 2015 setelah sebelumnya ditutup pada
28 Juli 2013. Ketiga, tetap melaksanakan pilkada
sesuai Peraturan KPU Nomor 12 Tahun 2015,
- 18 -

juga sangat ditentukan oleh DPP parpol. Hal


ini semakin diperkuat di dalam UU politik yang
terkait dengan parpol dan pilkada. Walaupun
PDIP sebagai contoh melakukan sekolah
partai untuk mempersiapkan para bakal calon
kepala daerah yang berasal dari partainya, secara
keseluruhan semua partai belum melakukan
pendidikan politik, rekrutmen politik, dan
kaderisasi politik yang baik. PKS mungkin adalah
partai yang masih melakukan kaderisasi politik
secara berjenjang dengan baik. Namun, dalam
hal penentuan siapa menjadi bakal calon kepala
daerah, semua parpol masih mengandalkan
sebagaimana yang diistilahkan Peneliti LIPI
Ikrar Nusa Bhakti sebagai 'politik keroyokan'
agar dukungannya semakin kuat menghadapi
satu atau gabungan parpol yang memiliki calon
amat kuat untuk memenangi pilkada.
Dari sisi keberanian politik, fenomena
yang menarik terkait munculnya kasus calon
tunggal dalam pilkada adalah bahwa para
pengurus di sebagian besar parpol lebih banyak
mengajukan para bakal calon kepala daerahnya
atas dasar hitung-hitungan untung rugi finansial
dan kalah menang politik, ketimbang keberanian
untuk maju terus pantang mundur, menang atau
kalah. Padahal, kita tahu bahwa seorang calon
kepala daerah yang kuat, apakah incumbent
atau bukan, dapat saja dikalahkan seorang
calon underdog seperti yang terjadi dalam kasus
pilgub di Jawa Barat saat Ahmad Heryawan
mengalahkan Agum Gumelar, atau saat Ganjar
Pranowo meluluhlantakkan petahana Bibit
Waluyo pada Pilgub Jawa Tengah.
Wacana untuk menunda pilkada di
beberapa wilayah pun dihembuskan oleh parpol
atau kelompok parpol yang tidak mampu
memilih pasangan bakal calon kepala daerah
yang dapat menantang dan mengalahkan
pasangan petahana yang kuat. Bila kita cermati,
bisa jadi alasan politik di balik penundaan
pilkada itu ialah jika pilkada ditunda pada 2017,
berarti calon petahana tidak akan memiliki
posisi dan karisma politik yang cukup kuat
sehingga dapat dikalahkan pada kontestasi
politik tersebut. Sungguh tepat bila ditegaskan
bahwa strategi politik seperti itu secara belum
tentu menjadi kenyataan. Rakyat tentunya
sudah cukup jeli untuk mengetahui dengan
pasti parpol atau kelompok parpol mana yang
mengorbankan kepentingan rakyat. Jangan lupa
bahwa jika pilkada ditunda dan kepala daerah
dijabat seorang caretaker, ia tidak memiliki
otoritas untuk membuat kebijakan strategis
pembangunan di wilayah itu yang berarti
kepentingan rakyat akan terganggu.
Jadi, ke depan, parpol harus lebih
merapikan sistem kaderisasinya, sehingga

Jadi bagi KPU, landasan rekomendasi Bawaslu


sudah cukup untuk kebijakan tersebut. Husni
menjelaskan bahwa alasan KPU menerima
rekomendasi dari Bawaslu adalah karena
memiliki dasarnya yaitu UU 15 Tahun 2011
tentang Penyelenggara Pemilihan Umum.
Dalam UU itu mengatur mandat Bawaslu untuk
memberikan rekomendasi. Komisioner KPU
Hadar Nafis Gumay mengatakan keputusan
tersebut sudah berdasarkan pertimbangan yang
sesuai aturan, sehingga alasan adanya intervensi
pihak-pihak tertentu menjadi tidak berdasar.
Pertanyaannya, bagaimana bila setelah
itu 7 daerah tersebut tetap hanya memiliki
1 pasangan calon? KPU menegaskan akan
diterapkan Peraturan KPU (PKPU) Nomor 12
Tahun 2015 yaitu Pilkada yang bersangkutan
harus ditunda sampai tahun 2017, kecuali jika
Perppu dikeluarkan.

Langkah Strategis ke Depan

Calon tunggal berbahaya bagi demokrasi.


Calon tunggal mengandaikan tidak ada
kompetisi. Padahal, semakin banyak calon yang
bersaing, kualitas demokrasi akan semakin
baik. Keberadaan calon tunggal bisa berarti
tingginya tingkat kepercayaan publik terhadap
seorang tokoh. Namun demikian, kondisi ini juga
menyelipkan kemungkinan adanya politik uang
karena ada kemungkinan calon tunggal telah
untuk tidak mengajukan calon lain.
a. Aspek Partai Politik

Fenomena calon tunggal menunjukkan


kaderisasi partai gagal. Hal ini memperlihatkan
betapa partai kesulitan memiliki calon-calon
alternatif. Sesungguhnya mengajukan sebanyak
mungkin calon alternatif untuk maju dalam
pilkada merupakan sebuah investasi bagi partai.
Partai akan memiliki kader-kader masa depan
yang punya pengalaman kompetisi. Adapun
kurangnya calon dari jalur independen bisa
dimaklumi karena persyaratan dukungan yang
jauh lebih banyak dibanding dalam pilkada
sebelumnya.
Selanjutnya, bila dikaji lebih lanjut, upaya
untuk menunda pelaksanaan pilkada serentak
pada 9 Desember 2015, baik secara keseluruhan
di semua daerah atau hanya di sebagian daerah
pemilihan, menunjukkan betapa sebagian parpol
di Indonesia tidak menjalankan peran dan
fungsinya secara baik.
Gejala yang mengemuka tampaknya
adalah sejak 1998 bicara mengenai desentralisasi
dan otonomi daerah di bidang pemerintahan,
parpol justru memperkuat konsep sentralisasi
kekuasaan di tangan Dewan Pimpinan Pusat
Partai. Penentuan para bakal calon kepala daerah
- 19 -

akan bermunculan calon-calon yang memiliki


kapasitas dan kapabilitas yang tinggi, yang
memiliki program-program alternatif untuk
dapat dijadikan faktor penarik kepercayaan dari
masyarakat. Masyarakatlah yang akan menilai
dari banyak tawaran-tawaran program dari para
calon tadi, dan dengan demikian, demokrasi
berjalan dengan seharusnya.

UU tentang Pilkada harus dilakukan guna


mengantisipasi berbagai permasalahan teknis
yang akan ditemukan di lapangan. Tidak hanya
masalah kemungkinan munculnya calon tunggal,
tetapi juga perlu diperhitungkan permasalahanpermasalahan lainnya yang mungkin terjadi
dalam pelaksanaan Pilkada. Pemerintah, DPR RI,
dan Penyelenggara Pemilu harus duduk bersama
untuk merumuskan hal ini.

b. Aspek Peraturan Perundang-undangan

Saat ini, sudah tidak ada waktu lagi untuk


merevisi UU tentang Pilkada guna mengatasi
masalah calon tunggal Pilkada. Namun, ke
depan memang UU tentang Pilkada perlu
disempurnakan guna memberikan koridor
hukum bila hal seperti ini terjadi. Dalam UU
yang berlaku saat ini memang tak diatur secara
tegas bagaimana bila setelah perpanjangan waktu
masih tetap hanya memiliki satu pasangan calon.
UU tentang Pilkada ke depan harus lebih
bersifat antisipatif, sehingga segala resiko
dan kemungkinan teknis yang terjadi dalam
pelaksanaan Pilkada dapat diantisipasi dengan
baik. Ke depan, dukungan terhadap kemudahan
persyaratan bagi calon independen harus
digalakkan. UU tentang Pilkada juga harus
direvisi untuk memenuhi spirit ini.
Jadi, sebetulnya ada 2 poin penting yang
dapat dilakukan untuk merevisi peraturan
perundang-undangan yang ada tentang Pilkada.
Pertama,
peraturan-peraturan
yang
ada
harus mendukung penguatan pengajuan calon
independen. Kedua, peraturan-peraturan dalam
UU tentang Pilkada harus mengakomodasi nilainilai demokrasi. Nilai-nilai demokrasi sebetulnya
sudah tampak pada spirit UU yang sekarang,
dimana dinyatakan bahwa minimal harus ada
2 pasangan calon untuk pelaksanaan Pilkada.
Calon tunggal bila tidak hati-hati meskipun
itu dengan alasan sang pemimpin didukung
dan dicintai oleh mayoritas masyarakat daerah
setempat dapat membahayakan demokrasi. Pada
awalnya memang seakan-akan tidak menjadi
masalah, tetapi bila dibiarkan berlarut-larut,
tidak mustahil hal ini lama-lama suatu saat akan
merembet pada pemilihan Presiden. Bila itu
terjadi, maka tidak ada demokrasi lagi. Yang ada
adalah penguasaan individu terhadap parpol.
Imbasnya adalah kembali kepada peringatan
Lord Acton : Power tends to corrupt, and
absolutely power corrups absolutely. Ini adalah
untuk menyelamatkan suara rakyat.

Referensi

UU Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan


atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015
tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati,
dan Walikota menjadi Undang-Undang.
UU Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara
Pemilihan Umum.
Peraturan KPU Nomor 12 Tahun 2015 tentang
Perubahan atas Peraturan Komisi Pemilihan
Umum Nomor 9 Tahun 2015 tentang
Pencalonan Pemilihan Gubernur dan Wakil
Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau
Walikota dan Wakil Walikota.
"Golkar Ajak Parpol Sepaham Soal Calon Tunggal
Pilkada",
http://www.cnnindonesia.com/
politik/20150731142016-32-69332/golkarajak-parpol-sepaham-soal-calon-tunggalpilkada/ , diakses 7 Agustus 2015.
"KPU akan Buat Kesepakatan Soal Pengajuan
Calon dari Parpol yang Dualisme", http://
us.news.detik.com/berita/2968168/jk-kpuakan-buat-kesepakatan-soal-pengajuancalon-dari-parpol-yang-dualisme, diakses 4
Agustus 2015.
"KPU Pastikan Pilkada Serentak diikuti Semua
Parpol", http://www.republika.co.id/berita/
nasional/politik/15/07/29/ns7qjx313-kpupastikan-pilkada-serentak-diikuti-semuaparpol , diakses 4 Agustus 2015.
"Mendagri : Pendaftaran Calon di Pilkada
Picu Kehebohan Luar Biasa", http://
www.beritasatu.com/politik/295443mendagri-pendaftaran-calon-di-pilkadapicu-kehebohan-luar-biasa.html , diakses 4
Agustus 2015.
"Pilkada Serentak Hak Konstitusional Pasangan
Tunggal tak Hilang", http://kabar24.bisnis.
com/read/20150803/15/458950/pilkadaserentak-hak-konstitusional-pasangantunggal-tak-hilang , diakses 4 Agustus 2015.

Penutup

Dalam kondisi saat ini, pentahapan


Pilkada tetap harus dilakukan dengan mengacu
pada peraturan perundang-undangan yang
ada. Namun untuk kedepan, revisi terhadap
- 20 -