Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Pekerjaan
Agama
No. RM
Alamat
Tanggal MRS

: Ny. N
: 62 tahun
: Perempuan
: Ibu Rumah Tangga
: Islam
: 343XXX
: Tukurejo
: 29 Juli 2015

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
BAB disertai darah dan lendir
2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke RSUD Karanganyar dengan keluhan BAB disertai lendir dan
darah sejak 5 hari SMRS. Darah yang keluar bercampur dengan feses, berwarna
merah segar. Pasien juga selama 3 hari tidak bisa duduk karena nyeri pada daerah
anus.
Selama 4 bualan terakhir pasien sering mengeluhkan BAB yang disertai lendir
dan darah serta didapatkan adanya nyeri pada daerah anus. Darah yang keluar
bercampur dengan feses berwarna merah segar. Setiap kali ke toilet untuk BAB,
pasien mengaku harus mengedan dan membutuhkan waktu yang lama untuk
mengeluarkan feses. Feses yang keluar sedikit-sedikit dan bentuknya lebih kecil.
Kadang-kadang disertai benjolan yang keluar saat BAB, harus dimasukkan dengan
jari setelah BAB. Nyeri dirasakan hilang timbul pada daerah anus yang menjalar ke
perut, nyeri dirasakan terutama ketika BAB. Perut juga terasa kembung setiap harinya
namun masih bisa kentut.
Terjadi perubahan pola BAB pada pasien, yaitu sempat mengalami obstipasi
selama 1 bulan dan diikuti dengan diare secara bergantian. Pasien mengaku selama
diare dengan frekuensi sering 5 kali dalam sehari.
Selain itu pasien mengeluh nafsu makan menurun, merasa lemas, letih dan
berat badan turun drastis dalam 1 bulan terakhir dari 64kg menjadi 56kg. pasien juga
mengakui jarang mengkonsumsi sayur dan buah-buahan, dan pasien pernah
mengalami demam selama 3 hari.
3. Riwayat penyakit dahulu
- Riwayat Penyakit Serupa

: diakui
1

4.
-

Riwayat Alergi
Riwayat Mondok
Riwayat Penyakit asma
Riwayat Hipertensi
Riwayat DM
Riwayat operasi
Riwayat penyinaran
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Penyakit serupa
Riwayat DM
Riwayat Hipertensi
Riwayat Alergi
Riwayat Keluarga dengan kanker

C. PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALIS
o Keadaan umum
o Kesadaran
o Tanda Vital
- Tekanan darah
- Nadi
- Suhu
- Pernafasan
o Kepala
- Mata
-

Telinga

Hidung

- Mulut
o Leher
o Thorax
- Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

Auskultasi
-

Paru
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: disangkal
: diakui
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: diakui
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: diakui (ibu)

: Tampak sakit sedang


: Compos mentis
: 110/70 mmHg
: 80x/menit
: 36,5C
: 20x/menit
: Normocephal
: pupil isokor, konjungtiva anemis (+/+), sklera
ikterik (-/-), reflek cahaya (+/+)
: normotia (+/+), otorhea (-/-), nyeri tekan
pre/retroaurikula (-/-), nyeri tarik aurikula (-/-)
: normosepta (+/+), rinorhea (-/-), devisiasi
septum (-/-)
: oral hygine cukup baik, faring hiperemis (-)
: KGB dan tiroid tidak teraba membesar

: Ictus cordis tidak tampak


: Ictus cordis tidak teraba
: Batas kanan : ICS V linea sternalis dextra
Batas kiri
: ICS V 1-2 cm medial linea
midclavicularis sinistra
Batas atas
: ICS II linea parasternalis
Sinistra
: BJ I/II regular, murmur (-/-), gallop (-/-)
: bentuk dada kanan dan kiri simetris, gerak
dinding dada simetris
: vocal fremitus simetris
: sonor pada seluruh lapang paru
: suara nafas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (/-)
2

Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
Perkusi
Ekstremitas

: Datar
: peristaltik (+) meningkat
: Nyeri tekan (+) dibagian perut sebelah kanan
: Timpani
: akral hangat pada keempat ekstremitas

Status Lokalis Regio Anal


Inspeksi
: Tidak tampak kelainan
Palpasi
: Tidak tampak kelainan
Rectal Toucher
o Tonus sfingter ani
o Mukosa rectum

: Kekuatan mencengkram berkurang


: Licin, teraba masa ukuran 6x6 cm arah jam

8-9 pada posisi LLD, konsistensi keras, permukaan berbenjol, rapuh,


terfiksir, tidak terdapat nyeri tekan, dan didapatkan bleeding.
o Sarung tangan
: feses (+), lendir (+), sedikit darah (+)
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan
HEMATOLOGI
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
Eritrosit
MPV
PDW
INDEX
MCV
MCH
MCHC
HITUNG JENIS
Limfosit%
Monosit%
Eosinofil%
Basofil%
Gran%
GULA DARAH
Gula
Darah

Hasil

29 Juli 2015
Nilai Rujukan

Satuan

9,0 (L)
26,4 (L)
27,07 (H)
505 (H)
3,37 (L)
7,0
15,5

12,00 16,00
37,00 47,00
5-10
150-300
4,50 5,50
6,5 12,00
9,0 17,0

g/dl
%
103/ ul
103/ ul
103/ ul
fL

78,4 (L)
26,7 (L)
34,1

82,0 92,0
27,0 31,0
32,0 37,0

fL
Pg
g/dl

6,3 (L)
6,3
4,2
0,1
88,9 (H)

25,0 40,0
3,0 9,0
0,5 5,0
0,0 1,0
50,0 70,0

%
%
%
%
%

96

70-150

mg/dl

Sewaktu

Pemeriksaan
HEMATOLOGI
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
Eritrosit
MPV
PDW
INDEX
MCV
MCH
MCHC
HITUNG JENIS
Limfosit%
Monosit%
Eosinofil%
Basofil%
Gran%
GOLONGAN

Hasil

30 Juli 2015
Nilai Rujukan

Satuan

7,7 (L)
22,7 (L)
17,50 (H)
372 (H)
2,88 (L)
7,2
15,7

12,00 16,00
37,00 47,00
5-10
150-300
4,50 5,50
6,5 12,00
9,0 17,0

g/dl
%
103/ ul
103/ ul
103/ ul
fL

78,7 (L)
26,7 (L)
34,0

82,0 92,0
27,0 31,0
32,0 37,0

fL
Pg
g/dl

7,5 (L)
3,8
0,7
0,2
87,8(H)
AB

25,0 40,0
3,0 9,0
0,5 5,0
0,0 1,0
50,0 70,0

%
%
%
%
%

DARAH
E. DIAGNOSIS BANDING
o Carcinoma Rektum
o Polip Rekti
o Hemorrhoid
F. DIAGNOSIS KERJA
o Suspek Carcinoma Rektum
G. PENATALAKSANAAN
o Transfusi PRC 2 kolf
o Inf Nacl 0,9% 20 tpm
o Inj Transamin 3x1
o Inj Vit K 2x1
o Inj Cefoperazon 2x1
o Drip Dexketoprofen 3x1
H. PROGNOSIS
o Ad vitam
: bonam
o Ad fungsionam
: dubia ad malam
o Ad sanationam
: dubia ad malam
I. FOLLOW UP
30 Juli 2015
S
O

Keterangan
Darah keluar saat BAB (+), nyeri anus (+), mencret (+), kembung (+), mual
(-), muntah (-)
KU/Kesadaran: TSS/CM
TD: 110/70 mmHg
N: 80x/menit
4

S: 360 C
P: 20x/menit
Pemeriksaan fisik:
Kepala
Mata
Leher
Thorax
Jantung
Paru
Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
Perkusi
Extremitas

: normosefali
: konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)
: KGB dan tiroid tidak teraba membesar
: S1S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
: Suara nafas vesikuler, ronchi (-/-), wheezing (-/-)
: datar
: bising usus (+) meningkat
: supel, nyeri tekan (+), hepar dan lien tidak teraba
: timpani
: teraba hangat pada keempat extremitas, udem (-/-)

Status lokalis regio anal


Inspeksi
: tidak tampak kelainan
Palpasi
: tidak tampak kelainan
A
P

31 Juli 2015
S
O

Susp. Ca Rekti
Bed rest
Cek keadaan umum dan tanda vital
Inf Nacl 0,9% 20 tpm
Inj as traneksamat 3x1
Inj Vit K 2x1
Inj Cefoperazon 2x1
Drip Dexketoprofen 3x1

Keterangan
Darah keluar saat BAB (+), nyeri anus (+), badan terasa lemas (+),perut,
kembung (+), pusing (+, )mual (-), muntah (-)
KU/Kesadaran: TSS/CM
TD: 110/70 mmHg
N: 80x/menit
S: 360 C
P: 20x/menit
Pemeriksaan fisik:
Kepala
: normosefali
Mata
: konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)
Leher
: KGB dan tiroid tidak teraba membesar
Thorax
Jantung
: S1S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Paru
: Suara nafas vesikuler, ronchi (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen
Inspeksi
: datar
Auskultasi
: bising usus (+) meningkat
5

Palpasi
Perkusi
Extremitas

: supel, nyeri tekan (+), hepar dan lien tidak teraba


: timpani
: teraba hangat pada keempat extremitas, udem (-/-)

Status lokalis regio anal


Inspeksi
: tidak tampak kelainan
Palpasi
: tidak tampak kelainan
A
P

1 Agustus 2015
S
O

Susp. Ca Rekti
Bed rest
Cek keadaan umum dan tanda vital
Inf Nacl 0,9% 20 tpm
Inj as traneksamat 3x1
Inj Vit K 2x1
Inj Cefoperazon 2x1
Drip Dexketoprofen 3x1

Keterangan
Darah keluar saat BAB (+), nyeri anus (+), badan terasa lemas (+),perut,
kembung (+) dan mulas (+), pusing (+), mual (-), muntah (-)
KU/Kesadaran: TSS/CM
TD: 130/70 mmHg
N: 80x/menit
S: 360 C
P: 20x/menit
Pemeriksaan fisik:
Kepala
: normosefali
Mata
: konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)
Leher
: KGB dan tiroid tidak teraba membesar
Thorax
Jantung
: S1S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Paru
: Suara nafas vesikuler, ronchi (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen
Inspeksi
: datar
Auskultasi
: bising usus (+) meningkat
Palpasi
: supel, nyeri tekan (+), hepar dan lien tidak teraba
Perkusi
: timpani
Extremitas
: teraba hangat pada keempat extremitas, udem (-/-)
Status lokalis regio anal
Inspeksi
: tidak tampak kelainan
Palpasi
: tidak tampak kelainan

A
P

Susp. Ca Rekti
Bed rest
Cek keadaan umum dan tanda vital
Inf Nacl 0,9% 20 tpm
6

Inj as traneksamat 3x1


Inj Vit K 2x1
Inj Cefoperazon 2x1
Drip Dexketoprofen 3x1
Rujuk ke bagian Bedah Digestive

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Karsinoma rektum adalah kanker yang terjadi pada rektum. Rektum terletak di
anterior sakrum and coccyx panjangnya kira kira 15 cm. Rectosigmoid junction terletak pada
bagian akhir mesocolon sigmoid. Bagian sepertiga atasnya hampir seluruhnya dibungkus oleh
peritoneum. Di setengah bagian bawah rektum keseluruhannya adalah ektraperitoneral.
Vaskularisasi rektum berasal dari cabang arteri mesenterika inferior dan cabang dari arteri
iliaka interna. Vena hemoroidalis superior berasal dari pleksus hemorriodalis internus dan
berjalan ke kranial ke vena mesenterika inferior dan seterusnya melalui vena lienalis ke vena
porta. Ca Recti dapat menyebar sebagai embulus vena kedalam hati. Pembuluh limfe dari
rektum diatas garis anorektum berjalan seiring vena hemorriodalos superior dan melanjut ke
kelenjar limfa mesenterika inferior dan aorta. Operasi radikal untuk eradikasi karsinoma
rektum dan anus didasarkan pada anatomi saluran limfa ini. Dinding rektum terdiri dari 5
lapisan, yaitu mukosa yang tersusun oleh epitel kolumner, mukosa muskularis, submukosa,
muscularis propria dan serosa.
7

EPIDEMIOLOGI
Di USA Ca kolorektal merupakan kanker gastrointestinal yang paling sering terjadi
dan nomor dua sebagai penyebab kematian di negara berkembang. Tahun 2005, diperkirakan
ada 145,290 kasus baru kanker kolorektal di USA, 104,950 kasus terjadi di kolon dan 40,340
kasus di rektal. Pada 56,300 kasus dilaporkan berhubungan dengan kematian, 47.700 kasus
Ca kolon dan 8,600 kasus Ca rectal. Ca kolorektal merupakan 11 % dari kejadian kematian
dari semua jenis kanker.
Diseluruh dunia dilaporkan lebih dari 940,000 kasus baru dan terjadi kematian pada
hampir 500,000 kasus tiap tahunnya. (World Health Organization, 2003). Menurut data di RS
Kanker Dharmais pada tahun 1995-2002, kanker rektal menempati urutan keenam dari 10
jenis kanker dari pasien yang dirawat di sana. Kanker rektal tercatat sebagai penyakit yang
paling mematikan di dunia selain jenis kanker lainnya. Namun, perkembangan teknologi dan
juga adanya pendeteksian dini memungkinkan untuk disembuhkan sebesar 50 persen, bahkan
bisa dicegah. Dari selutruh pasien kanker rektal, 90% berumur lebih dari 50 tahun. Hanya 5%
pasien berusia kurang dari 40 tahun. Di negara barat, laki laki memiliki insidensi terbanyak
mengidap kanker rektal dibanding wanita dengan rasio bervariasi dari 8:7 - 9:5.
Insiden karsinoma kolon dan rektum di Indonesia cukup tinggi demikian juga angka
kematiannya. Insiden pada pria sebanding dengan wanita, dan lebih banyak pada orang muda.
8

Sekitar 75 % ditemukan di rektosigmoid.


ETIOLOGI DAN FAKTOR PRESDIPOSISI
Price dan Wilson (1994) mengemukakan bahwa etiologi karsinoma rektum sama
seperti kanker lainnya yang masih belum diketahui penyebabnya. Akan tetapi, terdapat
beberapa factor presdiposisi yang ditengarai mengakibatkan munculnya karsinoma rekti,
antara lain:
Diet tinggi lemak, rendah serat
Usia lebih dari 50 tahun
Riwayat pribadi mengidap adenoma atau adenokarsinoma kolorektal
mempunyai resiko lebih besar 3 kali lipat.
Riwayat keluarga satu tingkat generasi dengan riwayat kanker kolorektal
mempunyai resiko lebih besar 3 kali lipat.
Familial polyposis coli, Gardner syndrome, dan Turcot syndrome, pada semua
pasien ini tanpa dilakukan kolektomi dapat berkembang menjadi kanker rektal
Resiko sedikit meningkat pada pasien Juvenile polyposis syndrome, PeutzJeghers syndrome, dan Muir syndrome.
Terjadi pada 50 % pasien Kanker kolorektal Herediter nonpolyposis

Inflammatory bowel disease


Kolitis Ulseratif (resiko 30 % setelah berumur 25 tahun)
Crohn disease, berisiko 4 sampai 10 kali lipat.
PATOGENESIS
Polip jinak pada kolon atau rektum
|
menjadi ganas
|
menyusup serta merusak jaringan normal kolon
|
meluas ke dalam struktur sekitarnya
|
bermetastatis dan dapat terlepas dari tumor primer menyebar ke bagian tubuh yang lain
9

dengan cara :
1. Limfogen ke kelenjar parailiaka, mesenterium dan paraaorta
2. Hematogen terutama ke hati
3. Perkontinuitatum (menembus ke jaringan sekitar atau organ sekitarnya) misalnya :
ureter, buli-buli, uterus, vagina, atau prostat dan dapat mengakibatkan peritonitis
karsinomatosa.

PATOLOGI
Secara makroskopis terdapat tiga tipe karsinoma rektum: pertama, tipe polipoid atau vegetatif
yang tumbuh menonjol ke dalam lumen usus dan berbentuk bunga kol, kedua tipe skirus
(keras) yang dapat mengakibatkan penyempitan sehingga terjadi stenosis dan gejala
obstruksi, ketiga adalah bentuk ulseratif yang terjadi karena nekrosis di bagian sentral.
MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala yang mungkin muncul pada kanker rektal antara lain ialah :

Perubahan pada kebiasaan BAB atau adanya darah pada feses. Darah berwarna
merah segar

Diare, konstipasi atau merasa bahwa isi perut tidak benar benar kosong saat BAB
Feses yang lebih kecil dari biasanya
Keluhan tidak nyaman pada perut seperti sering flatus, kembung, rasa penuh pada
perut atau nyeri
Penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya
Mual dan muntah,
Gejala anemia seperti rasa letih dan lesu
10

Pada tahap lanjut dapat muncul gejala pada traktus urinarius dan nyeri pada
daerah gluteus.
METASTASIS
Metastase ke kelenjar limfa regional ditemukan pada 40-70% kasus pada saat
direseksi. Invasi ke pembuluh darah vena ditemukan pada lebih 60% kasus. Metastase sering
ke hepar, cavum peritoneum, paru-paru, diikuti kelenjar adrenal, ovarium dan tulang.
Metastase ke otak sangat jarang, dikarenakan jalur limfatik dan vena dari rektum menuju
vena cava inferior, maka metastase kanker rektum lebih sering muncul pertama kali di paruparu
DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan dibantu dengan
pemeriksaan penunjang.

1. Anamnesis
BAB berdarah, merah segar, berlendir dan berbau disertai gangguan kebiasaan BAB
(diare selama beberapa hari yang disusul konstipasi selama beberapa hari). Nyeri pada
saat BAB, tenesmus, dan pada kasus yang lebih lanjut ileus obstruksi.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Dipastikan dengan pemeriksaan colok dubur. Teraba tumor berbenjol, rapuh,
tukak, mudah berdarah. Bila letaknya rendah (2/3 bawah) dapat dicapai dengan
baik, bila letaknya tinggi (1/3 atas) biasanya tidak dapat diraba. Dari pemeriksaan
colok dubur ditetapkan mobilitasnya untuk mengetahi prospek pembedahan. bila
dapat digerakkan u berarti masih terbatas pada mukosa rektum saja. Bila sudah
terfiksasi, biasanya sudah terjadi penetrasi hingga ke struktur ekstrarektal seperti
kelenjar prostat, buli-buli, dinding posterior vagina atau dinding anterior uterus.
3. Pemeriksaan penunjang
Proktosigmoidoskopi

11

Dilakukan pada setiap pasien yang dicurigai menderita karsinoma usus besar. Jika
tumor terletak di bawah, bisa terlihat langsung. Karsinoma kolon di bagian
proksimal sering berhubungan dengan adanya polip pada daerah rektosigmoid.
Koloskopi
Diperiksa dengan alat yang sekaligus dapat digunakan untuk biopsi tumor.
Sistoskopi
Indikasi sistoskopi adalah adanya gejala atau pemeriksaan yang mencurigai invasi
keganasan ke kandung kencing.
Barium colon in loop
Dengan menggunakan kontras akan tampak gambaran apple core appearance
Biopsi
Jika ditemukan tumor dari salah satu pemeriksaan diatas, biopsi harus dilakukan.
Secara patologi anatomi, adenocarcinoma merupakan jenis yang paling sering
yaitu sekitar 90 sampai 95% dari kanker usus besar. Jenis lainnya ialah karsinoma
sel skuamosa, carcinoid tumors, adenosquamous carcinomas, dan undifferentiated
tumors.

Klasifikasi modifikasi Dukes


TNM Stadium

Stadium

Deskripsi

T1 N0 M0

Tumor terbatas pada submucosa

T2 N0 M0

B1

Tumor terbatas pada muscularis propria

T3 N0 M0

B2

Penyebaran transmural

T2 N1 M0

C1

T2, pembesaran kelenjar mesenteric

T3 N1 M0

C2

T3, pembesaran kelenjar mesenteric

T4

C2

Penyebaran ke organ yang berdekatan

Any T, M1

Metastasis jauh

12

DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding untuk karsinoma rectum antara lain: polip, proktitis, fisura anus,
hemmoroid, dan karsinoma anus.
TERAPI
Prinsip prosedur untuk karsinoma rektum antara lain
1. Low anterior resection / anterior resection. Insisi lewat abdomen, kolon kiri atau
sigmoid dibuat anastomosis dengan rectum
Bila letaknya 12 cm diatas anus dilakukan reseksi anterior
Bila letaknya krang dari 12 cm dari anus, T1, diferensiasi baik, dilakkan eksisi
local
Bila 6-12 cm diatas anus:
o Stage II

: reseksi anterior rendah

o Stage II/III : terapi kombinasi multiple + reseksi anterior rendah


Bila < dari 6 cm dari anus
o Stage I diferensiasi baik : reseksi abdomino perineal
o Stage II/III

: terapi kombinasi + RAP

2. Prosedur paliatif, dibuat stoma saja


3. Reseksi abdomino perineal / amputasi rekti (Milles Procedure). Bagian Distal
sigmoid, rektosigmoid, dan rektum direseksi, kemudian dibuat end kolostomi
13

4. Pull through operation. Teknik ini sulit, bila tidak cermat dapat menyebabkan
komplikasi antara lain inkontinensia alvie.
5. Fulgurasi (elektrokogulasi) untuk tumor yang keluar dari anus dan unresektabel.
Pengobatan medis untuk karsinoma kolorektal paling sering dalam bentuk pendukung/terapi
ajuvan yang mencakup kemoterapi, radiasi dan atau imunoterapi
KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin terjadi yaitu obstruksi usus parsial atau lengkap, perforasi,
perdarahan, dan penyebaran keorgan lain.
PROGNOSIS
Secara keseluruhan 5-year survival rates untuk kanker rektal adalah sebagai berikut :
Stadium I - 72%
Stadium II - 54%
Stadium III - 39%
Stadium IV - 7%
50% dari seluruh pasien mengalami kekambuhan yang dapat berupa kekambuhan lokal,
jauh maupun keduanya. Kekambuhan lokal lebih sering terjadi. Penyakit kambuh pada 530% pasien, biasanya pada 2 tahun pertama setelah operasi. Faktor faktor yang
mempengaruhi terbentuknya rekurensi termasuk kemampuan ahli bedah, stadium tumor,
lokasi, dan kemapuan untuk memperoleh batas - batas negatif tumor.
Tumor poorly differentiated mempunyai prognosis lebih buruk dibandingkan dengan
well differentiated. Bila dijumpai gambaran agresif berupa signet ring cell dan karsinoma
musinus prognosis juga buruk.
Rekurensi lokal setelah operasi reseksi dilaporkan mencapai 3-32% penderita. Beberapa
faktor seperti letak tumor, penetrasi dinding usus, keterlibatan kelenjar limfa, perforasi
rektum pada saat diseksi dan diferensiasi tumor diduga sebagai faktor yang mempengaruhi
rekurensi lokal.
KOLOSTOMI
Kolostomi (colostomy) berasal dari kata colon dan stomy. Colon (kolon)
merupakan bagian dari usus besar yang memanjang dari sekum sampai rektum dan stomy
(dalam bahasa Yunani stoma berarti mulut). Kolostomi dapat diartikan sebagai suatu
14

pembedahan dimana suatu pembukaan dilakukan dari kolon (atau usus besar) ke luar dari
abdomen. Feses keluar melalui saluran usus yang akan keluar di sebuah kantung yang
diletakkan pada abdomen. Pembedahan kolostomi biasanya memakan waktu dua hingga
empat jam, tergantung dari tingkat kesulitan, adanya infeksi, atau beratnya trauma misalnya
apabila penyebabnya adalah trauma kolon.
Kolostomi dapat dibuat sementara ataupun permanen. Kolostomi sementara dapat
digunakan ketika bagian kolon perlu diperbaiki/disembuhkan, misalnya setelah trauma atau
pembedahan. Setelah kolon membaik/sembuh, kolostomi dapat ditutup, dan fungsi usus
dapat kembali normal. Kolostomi permanen (disebut juga end colostomy) biasanya
diperlukan pada beberapa kondisi tertentu, termasuk sekitar 15% kasus kanker kolon. Jenis
kolostomi ini biasanya digunakan saat rektum perlu diangkat akibat suatu penyakit ataupun
kanker. Sebagian besar feses akan lebih lunak dan lebih encer dibandingkan feses yang keluar
secara normal lewat anus. Konsistensi feses tergantung dari letak segmen usus yang dipakai
pada tindakan kolostomi. Letak kolostomi pada abdomen bisa dimana saja sepanjang letak
kolon, namun biasanya dilakukan pada bagian kiri bawah, di daerah kolon sigmoid. Namun
dapat pula dibuat dilokasi kolon asendens, transversum, dan desendens. Letak kolostomi
sebaiknya dipilih dengan hati-hati sebelum tindakan operasi. Sebaiknya hindari lokasi yang
memiliki jaringan lemak yang tebal dan terdapat skar.
Tujuan Kolostomi
Umumnya kolostomi dilakukan pada pembedahan kanker, namun kadang-kadang
diperlukan pada penyakit infeksi usus dan penyakit divertikulum, dan pada pembedahan yang
darurat untuk perforasi atau obstruksi pada usus. Indikasi kolostomi ialah dekompresi usus
pada obstruksi, stoma sementara untuk bedah reseksi usus pada radang, atau perforasi, dan
sebagai anus setelah reseksi usus distal untuk melindungi anastomosis distal.

15

Pembagian Kolostomi
A. Berdasarkan Penggunaannya
1. Kolostomi Permanen
Kolostomi permanen diperlukan ketika tidak terdapat lagi segmen usus bagian distal
setelah dilakukan reseksi atau untuk alasan tertentu usus tidak dapat disambung lagi.
Kolostomi dibuat untuk menggantikan fungsi anus bila anus dan rectum harus diangkat.
Kolostomi permanen harus hati-hati ditempatkan untuk memudahkan dalam penganganan
jangka panjang. Kolostomi permanen biasanya dibuat pada kolon kiri pada fossa iliaka
kiri. Kolostomi permanen dilakukan pada beberapa kondisi tertentu, termasuk sekitar
15% oleh karena kasus kanker kolon. Kolostomi ini biasanya digunakan saat rektum perlu
diangkat akibat suatu penyakit ataupun kanker.
2. Kolostomi Sementara
16

Kolostomi sementara sering dilakukan untuk mengalihkan aliran feses dari daerah distal
usus. Setelah masalah pada usus bagian distal telah teratasi, maka kolostomi dapat ditutup
kembali.
Kolostomi sementara berguna untuk:
a. Mengatasi obstruksi pada operasi elektif maupun tindakan darurat. Kolostomi
dilakukan untuk mencegah obstruksi komplit usus besar bagian distal yang
menyebabkan dilatasi bagian proksimal.
b. Melakukan proteksi terhadap anastomosis kolon setelah

reseksi. Kolostomi

sementara dibuat, misalnya pada penderita gawat abdomen dengan peritonitis yang
telah dilakukan reseksi sebagian kolon. Pada keadaan demikian, membebani
anastomosis baru dengan pasase feses merupakan tindakan yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, untuk pengamanan anastomosis, aliran feses
dialihkan sementara melalui kolostomi dua stoma yang disebut stoma double barrel.
Dengan cara Hartman, pembuatan anastomosis ditunda sampai radang di perut telah
reda.
c. Kolostomi sementara dapat berguna untuk mengistirahatkan segmen usus bagian
distal yang terlibat pada proses inflamasi misalnya abses perikolik, fistula anorektal.
B. Tipe Kolostomi
1. Kolostomi loop
Jenis kolostomi ini didesain sehingga baik segmen distal maupun proksimal usus
terdapat pada permukaan kulit.
2. Kolostomi double barrel
Pada kolostomi double barrel, dibuat dua stoma yang terpisah pada dinding abdomen.
Stoma bagian proksimal berhubungan dengan traktus gastrointestinal yang lebih atas
dan akan menjadi saluran pengeluaran feses. Stoma bagian distal berhubungan dengan
rectum. Kolostomi double barrel termasuk jenis kolostomi sementara. Kolostomi
double barrel mudah dan aman digunakan pada neonatus dan bayi.

3. Kolostomi devided
Kolostomi ini sering dibuat pada sigmoid pada karsinoma rektum yang tak dapat
diangkat, sehingga karsinoma tersebut tidak teriritasi oleh tinja.
17

4. Kolostomi terminal
Tipe ini dilakukan bila diperlukan untuk membuang kolon karena terlalu
membahayakan bila dilakukan anastomosis yang memudahkan timbulnya sepsis.
Kontinuitas dapat diperbaiki kemudian hari bila sepsis telah dapat diatasi dan kondisi
penderita lebih baik.
5. Sekostomi dengan pipa (tube)
Sekostomi merupakan kolostomi sementara. Berguna untuk dekompresi gas dalam
usus. Sekostomi tidak cocok untuk diversi aliran feses. Saat ini sekostomi jarang
digunakan karena stoma sering tersumbat oleh feses dan seringkali diperlukan irigasi
untuk kembali melancarkan.
Komplikasi
1. Nekrosis kolostomi.
Hal ini diakibatkan tidak adekuatnya suplai darah. Komplikasi ini biasanya
terlihat 12-24 jam setelah pembedahan dan biasa diperlukan pembedahan
tambahan untuk menanganinya.
2. Kolostomi retraksi.
Disebabkan karena tidak cukupnya panjang stoma. Komplikasi ini dapat ditangani
dengan menyediakan kantong khusus. Memperbaiki stoma dapat pula menjadi
pilihan penanganan.
3. Parastomal hernia.
Keadaan ini dapat timbul akibat letak stoma pada dinding abdomen yang lemah
atau dibuat terbuka terlalu besar pada dinding abdomen.
4. Prolaps
Keadaan ini sering diakibatkan pembukaan yang terlalu besar pada dinding
abdomen atau fiksasi usus yang tidak cukup kuat pada dinding abdomen.
Pembedahan ulang untuk mengatasi prolaps dengan mengambil vaskularisasi yang
melampaui segmen usus yang disuplai.
5. Obstruksi
Obstruksi dapat terjadi akibat udem ataupun timbunan feses.
Teknik Irigasi Dalam Penanganan Kolostomi
18

Beberapa pasien yang menggunakan kolostomi memilih untuk mengeluarkan feses ke


kantong stoma dengan menggunakan teknik irigasi kolon. Beberapa hari sekali, pasien
mengalirkan sekitar satu liter air melewati kolostomi dengan saluran/pipa khusus, dan air
akan lewat keluar dengan tujuan untuk mengosongkan dan membersihkan kolon.
Pada kolostomi sigmoid biasanya pola defekasi sama dengan semula. Banyak
penderita mengadakan pembilasan sekali sehari sehingga mereka tidak terganggu oleh
pengeluaran feses dari stomanya. Kolostoma pada kolon tranversum mengeluarkan isi usus
beberapa kali sehari karena isi kolon transversum tidak padat, sehingga lebih sulit diatur.

BAB III
ANALISIS KASUS

19

Pada kasus ini, pasien 62 tahun datang dengan keluhan BAB disertai darah dan lendir
serta nyeri pada anus. Melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, pasien ini didiagnosa menderita
tumor rectum yang diduga merupakan karsinoma rectum.
Pada anamnesis, pasien mengeluh BAB disertai darah dan lendir serta nyeri pada anus
sejak 4 bulan yang lalu. Setiap kali ke toilet untuk BAB, pasien mengaku harus mengedan
dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengeluarkan feses. Feses yang keluar sedikitsedikit dan bentuknya lebih kecil menyerupai kotoran kambing. Pasien sering merasa tidak
puas saat BAB. Nyeri hilang timbul terutama saat BAB pada daerah anus yang menjalar ke
perut. Terjadi perubahan pola defekasi yaitu sempat konstipasi selama 1 bulan diikuti diare
setelahnya. Berat badan dirasa juga berkurang. Sebelum sakit, pasien sering makan makanan
berlemak dan jarang makan sayur dan buah.
Pada pemeriksaan fisik di daerah anal-perianal dengan colok dubur dapat diraba benjolan
dengan ukuran 6x6 cm, konsistensi keras, berbenjol-benjol,rapuh dan didapatkan bleeding
tidak dapat digerakkan, nyeri tekan (-).
Pemeriksaan colok dubur sangat penting untuk dilakukan karena dengan pemeriksaan ini,
dapat diketahui beberapa hal penting yaitu keadaan tumor, mobilitas tumor dan ekstensi
penjalaran. Pada pasien dengan karsinoma rektum, ada 2 gambaran khas dari pemeriksaan
colok dubur, yaitu indurasi dan adanya suatu penonjolan tepi.

BAB IV
KESIMPULAN

20

Karsinoma rektal berasal dari epitel hampir sama dengan neoplasma kolon, jenis
terbanyak adalah adenokarsinoma. Umumnya didahului oleh kondisi pramaligna seperti
adenomatous, villous polyp, familial adenomatous polyposis dan kolitis ulseratif.
Karsinoma kolorektal masih merupakan penyebab kematian kedua untuk kanker
terutama di Amerika Serikat. Skrening awal untuk mengarahkan diagnosa Karsinoma
kolorektal penting dilakukan untuk meningk
atkan survivalnya. Skrening awal yang dapat dilakukan yaitu: pemeriksaan darah
samar di feses, sigmodoskopi, kombinasi darah samar feses dan sigmoidoskopi, kolonoskopi,
dobel kontras barium enema.
Penyebab pasti

karsinoma rektal belum diketahui, diduga dipengaruhi beberapa

komponen genetik dan faktor lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

21

Colon cancer. Available at http://health.yahoo.com/topic/other/other/article/mayoclinic/. Di


akses tanggal 7 Agustus 2015
De Jong, W & Sjamsuhidajat. 2010. Usus halus, appendiks, kolon, dan anorektum. Dalam
Buku ajar ilmu bedeah. Edisi 2. Jakarta: EGC. Hal 646-53.
Hassan, Isaac., 2006. Rectal carcinoma. Available from

www.emedicine.com. Di akses

tanggal 7 Agustus 2015


Toribara, N,W., Sleisenger, M.H., 2004. Screening For Colorectal Cancer. The New England
Journal

of

Medicine.

Available

from:

http://www.nejm.org/doi/full/10.1056

/NEJM199503303321306 diakses tanggal 9 Agustus 2015


Zinner, Schwartz, Ellis. 2001. Rectal Cancer. In Maingotss Abdominal operation. 10th
edition. 2001. Singapore: McGraw-Hill. P1455-99

22