Anda di halaman 1dari 25

STATUS PASIEN ANAK

RSUD KABUPATEN BEKASI


BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
IDENTITAS
A. Identitas Pasien
Nama
: An. R
Umur
: 9 tahun
Tempat Tanggal Lahir : Bekasi, 17 Juni 2005
Jenis Kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Alamat
: Kp. Terusan

B. Identitas Orang Tua


Ayah
Nama
Umur
Agama
Alamat
Pekerjaan
Pendidikan
Ibu
Nama
Umur
Agama
Alamat
Pekerjaan
Pendidikan

: Agus Muryanto
: 35 tahun
: Islam
: Kp. Terusan
: Buruh
: SMA
: Dwi Nuraiani
: 32 tahun
: Islam
: Kp. Terusan
: Ibu Rumah Tangga
: SMP

Hubungan dengan orang tua : Anak Kandung


Suku bangsa
: Jawa
II. ANAMNESIS
Dilakukan alloanamnesa bersama ibu dari pasien pada tanggal 16 Mei 2014 di
RSUD Kab. Bekasi Cibitung
KELUHAN UTAMA
Demam sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS)
KELUHAN TAMBAHAN
Tidak dapat BAB 5 hari SMRS, nafsu makan menurun, dan mual.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang ke RSUD Kab. Bekasi dengan keluhan demam sejak 5 hari SMRS.
Demam dirasakan naik turun, meningkat terutama pada malam hari. Terdapat bintikbintik merah di lengan atas dan dahi. Keluhan tersebut disertai pusing dan nyeri pada
seluruh bagian perut. Sakit dirasakan hilang timbul. Pasien mengalami kesulitan untuk
BAB. Pasien menyangkal adanya muntah, diare, batuk, pilek, mimisan dan gusi
berdarah. BAB terakhir 5 hari yang lalu. BAK normal, tidak nyeri saat BAK, berwarna
jernih. Pasien menyangkal bepergian ke luar daerah sebelumnya.
4 hari SMRS pasien berobat ke mantri dan diberi obat demam. Demam turun
setelah minum obat, kemudian naik kembali. Setelah obat habis, pasien merasa tidak
ada perbaikan, maka pasien berobat ke RSUD Kab. Bekasi.
Setelah 4 hari dirawat di RSUD Kab. Bekasi, pasien mengalami perbaikan, dan
muncul ruam-ruam di kaki dan tangan.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Tidak ada anggota keluarga pasien yang mengalami keluhan serupa
RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN
Riwayat kehamilan
Selama kehamilan Ibu melakukan pemeriksaan kehamilan rutin kebidan kurang
lebih 6x dan mendapatkan imunisasi TT 2x. ibu pertama kali periksa kehamilan
pada saat usia 4 bulan kehamilan. Ibu juga menyatakan tidak pernah menderita
sakit selama hamil, obat yang diminum selama hamil yaitu tablet penambah
darah dari bidan.

Riwayat persalinan
An. R lahir ditolong oleh dukun, lahir spontan, langsung menangis, lahir cukup
bulan (9 bulan 4 hari). BBL tidak ditimbang dan untuk panjang badan, LK, LLA,
LD juga tidak diukur karena didukun tidak ada alatnya.

Riwayat pasca persalinan


Ibu pasien rajin membawa pasien ke bidan atau posyandu untuk kontrol anaknya.

RIWAYAT MAKANAN
0 6 bulan
: Susu ASI 100%
6 bulan 8 bulan
: Susu formula + biskuit (70 % - 30%)
8 bulan sekarang : Susu formula + nasi tim (wortel, sayuran, tahu, tempe
terkadang ikan, terkadang ayam) (60 % - 40 %)
RIWAYAT IMUNISASI
Imunisasi
2

An. R sudah lengkap


Usia 1 bulan
Usia 2-3 bulan
Usia 4 bulan
Usia 9 bulan

mendapatkan imunisasi dasar


: BCG
: Hep. B I, II, III, Polio I, II dan DPT I, II
: DPT III dan Polio III
: Polio IV dan Campak

RIWAYAT TUMBUH KEMBANG


1. Pertumbuhan
Ibu menyatakan An. R lahir cukup bulan (9 bulan 4 hari), menurut ibu An. R tumbuh
normal seperti anak- anak yang lain. Ibu menyatakan BBL dan PB tidak diukur, BB
Sekarang : 14 Kg, dengan TB : 100 cm.
2.

Perkembangan
Menurut keterangan ibunya An. R saat usia 11 bln sudah bisa berjalan dengan dipegangi
kedua lengannya. Saat ini semenjak sakit An. R lebih banyak berada di tempat tidur
karena badanya lemas dan anak juga kurang gerak. Perkembangan bahasa An. R sudah
mulai mengoceh sejak usia 6,5 bln dan anak sudah bisa mengucapkan kata-kata dan
menyusun kalimat serta menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya.
SOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN
Sosial Ekonomi:
Pasien tinggal bersama ibu dan ayah kandung. Ayah bekerja sebagai buruh dengan
penghasilan yang tidak tentu, berkisar Rp 1.000.000 1.500.000 sebulan.
Lingkungan:
Pasien tinggal di kawasan kontrakan padat penduduk. Dengan tempat tinggal
berukuran 4 x 3 m2. Kamar mandi terletak di luar rumah pasien dan merupakan kamar
mandi bersama. Ibu pasien juga mengaku sanitasi di sekitar tempat tinggalnya kurang
baik

III. PEMERIKSAAN FISIK


Dilakukan pada tanggal 16 Mei 2014
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: compos mentis
Tanda Vital
Nadi
: 96 x/menit
RR
: 16 x/menit
T
: 36,4 o C
BB
: 14 kg
3

TB

: 100 cm

2. Pemeriksaan Khusus
1. Kulit : kulit kering, tidak bersisik, tidak pucat, tidak sianosis, tidak ikterik, tidak
edema, lemak di bawah kulit kurang, terdapat ruam-ruam di kaki dan tangan.
2. Kepala : rambut hitam
3. Mata : simetris, cekung, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, refleks
cahaya positif
4. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
5. Telinga: bentuk normal, simetris, tidak ada sekret
6. Hidung
: bentuk normal simetris, septum tidak deviasi, tidak ada pernapasan
cuping hidung, tidak ada sekret yang keluar.
7. Tenggorok : tidak ditemukan tanda-tanda peradangan, tonsil T1-T1.
8. Mulut : bibir tidak sianosis, bibir kering.
9. Dada :
a. Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

Auskultasi

: tidak terlihat iktus kordis


: tidak teraba iktus kordis
: batas kanan atas
: linea parasternalis dextra ICS II
Batas kanan bawah : linea parasternalis dextra ICS IV
Batas kiri atas
: linea parasternalis sinistra ICS II
Batas kiri bawah
: linea midclavicularis sinistra ICS V
: bunyi jantung I-II murni regular

b. Paru
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: bentuk dada normal, simetris, tidak ada retraksi sela iga


: fremitus taktil kanan dan kiri simetris
: sonor di seluruh lapang paru
: suara nafas vesikuler, tidak ada rhonki, tidak ada wheezing

10. Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
Perkusi

: bentuk perut membuncit


: bising usus (+) meningkat
: turgor kurang, hepar dan lien tidak ada pembesaran, ballotement (-),
undulasi (-)
: timpani

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM


JENIS
12 Mei 2014 13 Mei 2014
PEMERIKSAAN
Hemoglobin
12,6
11,8
Leukosit
4.200
3200

14
2014
12,6
4500

Mei 15
2014
12,0
3700

Mei 16
2014
12,9
4800

Mei

Hematokrit
Trombosit

35,9
86

32,7
82

36,8
79

34,2
85

35,4
98

Tes Widal
S. typhi O

S. typhi H

1/80

Paratyphi AO Paratyphi BO 1/80


Paratyphi BH Paratyphi CO Paratyphi CH -

RESUME
Pasien An. R, umur 9 tahun datang ke RSUD Kab. Bekasi dengan keluhan demam sejak 5
hari SMRS. Demam dirasakan terus menerus meningkat terutama saat sore dan malam hari
dan membaik. Keluhan disertai dengan nyeri perut, kesulitan BAB. Pasien mengeluh BAB
terakhir 5 hari yang lalu. Setelah 2 hari panas pasien minum obat panas, tetapi pasien lupa
nama obatnya. Namun tidak ada perbaikan sehingga pasien berobat ke RSUD Kab. Bekasi.
Di hari ke 4 pasien dirawat, muncul ruam di kaki dan tangan.
Pemeriksaan Fisik :
Nadi
RR
T
BB
TB

:
:
:
:
:

96 x/menit
16 x/menit
36,4 o C
14 kg
100 cm

Bradikardi relatif ( - )
Typhoid tounge ( - )

V. DIAGNOSIS KERJA
Demam Berdarah Dengue grade II

Dasar diagnosis : Demam tinggi naik turun yang berlangsung terus menerus,terdapat
manifestasi perdarahan seperti petekie, pada pemeriksaan lab terdapat trombositopenia.

VI. DIAGNOSIS BANDING


Demam typhoid
Dasar tidak mendukung : demam tidak lebih dari 7 hari, tidak terdapat coated tounge.
VII. USULAN TERAPI

IVFD RL 3-4 cc/kgBB/jam


Ranitidine 2-4 mg/kgBB/hari untuk 2x sehari
Ondancentron 3 x ampul
Paracetamol 4 x 2 cth

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Demam Berdarah Dengue
Etiologi
Virus dengue penyebab DBD termasuk famili Flaviviridae, yang berukuran
kecil sekali, yaitu 35-45 nm. Virus dengue serotipe 1,2,3,4 ditularkan melalui vektor
nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes albopictus, Aedes polynesiensis, dan beberapa
spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan. Infeksi dengan salah satu
serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan
tetapi tidak memberi perlindungan terhadap serotipe lain.
Patofisiologi

Manifestasi Klinik

Infeksi virus dengue mengakibatkan menifestasi klinik yang bervariasi mulai


dari asimptomatik, penyakit paling ringan (mild undifferentiated febrile illness),
dengue fever, dengue haemoragic fever, sampai dengue shock syndrom. Walaupun
secara epidemiologis infeksi ringan lebih banyak, tetapi pada awal penyakit hampir
tidak mungkin membedakan infeksi ringan atau berat.
Masa inkubasi dengue antara 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari. Virus memasuki
tubuh manusia
melalui gigitan nyamuk yang menembus kulit. Setelah itu disusul oleh periode tenang selama
kurang lebih 4 hari, dimana virus melakukan replikasi secara cepat dalam tubuh manusia.
Apabila jumlah virus sudah cukup maka virus akan memasuki sirkulasi darah (viraemia), dan
pada saat ini manusia yang terinfeksi akan mengalami gejala panas. Dengan adanya virus
dengue dalam tubuh manusia, maka tubuh akan memberi reaksi. Bentuk reaksi tubuh
terhadap virus ini antara manusia yang satu dengan manusia yang lain dapat berbeda, dimana
perbedaan reaksi ini akan memanifestasikan perbedaan penampilan gejala klinis dan
perjalanan penyakit. Pada prinsipnya, bentuk reaksi tubuh manusia terhadap keberadaan virus
dengue adalah sebagai berikut :
- Bentuk Reaksi Pertama
Terjadi netralisasi virus, dan disusul dengan mengendapkan bentuk netralisasi virus
pada Pembuluh darah kecil di kulit berupa gejala ruam (rash).
- Bentuk Reaksi Kedua
Terjadi gangguan fungsi pembekuan darah sebagai akibat dari penurunan jumlah dan
kualitas komponen-komponen beku darah yang menimbulkan manifestasi perdarahan.
- Bentuk Reaksi Ketiga
Terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya komponen
plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah menuju ke rongga perut berupa
gejala ascites dan rongga selaput paru berupa gejala efusi pleura. Apabila tubuh
manusia hanya memberi reaksi bentuk 1 dan 2 saja maka orang tersebut akan
8

menderita demam dengue, sedangkan apabila ketiga bentuk reaksi terjadi maka orang
tersebut akan mengalami demam berdarah dengue.
Manifestasi klinis infeksi dengue fever ditandai gejala-gejala klinik berupa
demam, nyeri pada seluruh tubuh, ruam dan perdarahan. Demam yang terjadi pada
infeksi virus dengue ini timbulnya mendadak, tinggi (dapat mencapai 39-40 oC) dan
dapat disertai dengan menggigil. Begitu mendadaknya, sering kali dalam praktik
sehari-hari kita mendengar cerita ibu bahwa pada saat melepas putranya berangkat
sekolah dalam keadaan sehat walafiat, tetapi pada saat pulang putranya sudah
mengeluh panas dan ternyata panasnya langsung tinggi. Pada saat anak mulai panas
ini biasanya sudah tidak mau bermain. Demam ini hanya berlangsung sekitar lima
hari. Pada saat demamnya berakhir, sering kali dalam bentuk turun mendadak (lysis),
dan disertai dengan berkeringat banyak. Saat itu anak tampak agak loyo. Kadangkadang dikenal istilah demam biphasik, yaitu demam yang berlangsung selama
beberapa hari itu sempat turun di tengahnya menjadi normal kemudian naik lagi dan
baru turun lagi saat penderita sembuh (gambaran kurva panas sebagai punggung
unta).
Gejala panas pada penderita infeksi virus dengue akan segera disusul dengan
timbulnya keluhan nyeri pada seluruh tubuh. Pada umumnya yang dikeluhkan adalah
nyeri otot, nyeri sendi, nyeri punggung, dan nyeri pada bola mata yang semakin
meningkat apabila digerakkan. Karena adanya gejala nyeri ini, di kalangan
masyarakat awam ada istilah flu tulang. Dengan sembuhnya penderita gejala-gejala
nyeri pada seluruh tubuh ini juga akan hilang.
Ruam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini dapat timbul pada saat awal
panas yang berupa flushing, yaitu berupa kemerahan pada daerah muka, leher, dan
dada. Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4 sakit berupa bercak-bercak merah kecil
seperti bercak pada penyakit campak. Kadang-kadang ruam tersebut hanya timbul
pada daerah tangan atau kaki saja sehingga memberi bentuk spesifik seperti kaos
tangan dan kaki. Yang terakhir ini biasanya timbul setelah panas turun atau setelah
hari ke-5.
Pada infeksi virus dengue apalagi pada bentuk klinis DHF selalu disertai
dengan tanda perdarahan. Hanya saja tanda perdarahan ini tidak selalu didapat secara
spontan oleh penderita, bahkan pada sebagian besar penderita tanda perdarahan ini
muncul setelah dilakukan tes tourniquet. Bentuk-bentuk perdarahan spontan yang
dapat terjadi pada penderita demam dengue dapat berupa perdarahan kecil-kecil di
kulit (petechiae), perdarahan agak besar di kulit (echimosis), perdarahan gusi,
perdarahan hidung dan kadang-kadang dapat terjadi perdarahan yang masif yang
dapat berakhir pada kematian.
Berkaitan dengan tanda perdarahan ini, pada anak-anak tertentu diketahui oleh
orangtua mereka bahwa apabila anaknya menderita panas selalu disertai dengan
perdarahan hidung (epistaksis). Dalam istilah medis dikenal sebagai habitual
epistaksis, sebagai akibat kelainan yang bersifat sementara dari gangguan berbagai
infeksi (tidak hanya oleh virus dengue). Pada keadaan lain ada penderita anak yang
apabila mengalami sakit panas kemudian minum obat-obat panas tertentu akan disusul
9

dengan terjadinya perdarahan hidung. Untuk penderita dengan kondisi seperti ini,
pemberian obat-obat panas jenis tertentu tersebut sebaiknya dihindari.
Eksantema Subitum
Definisi
Exanthem subitum mempunyai nama lain Roseola infantum, Sixth disease dan
Campak bayi merupakan suatu penyakit jinak pada anak-anak yang biasanya terjadi
pada usia kurang dari 2 tahun, yang menyebabkan ruam yang diikutidengan demam
selama 3 hari. Roseola adalah penyakit yang menyerang bayi usia 9-12 bulan yang
ditandai dengan demam tinggi selama 3 hari yang diikuti munculnya ruam makulo
papuler. Roseola infantum adalah suatu penyakit virus menular pada bayi atau anakanak yang sangat muda, yang menyebabkan ruam dan demam tinggi.
Etiologi
HHV-6 adalah agen etiologi pada sekurang-kurangnya 80-92% kasus
Exanthema subitum. HHV-6 merupakan salah satu dari tujuh virus herpes manusia.
Diameter virus ini besar (185-200 nm), berselubung, merupakan virus DNA helai
ganda sekitar 170 kilobasa. Pada mulanya diisolasi dari sel darah perifer manusia,
bereplikasi pada sel T manusia baik sel CD4 maupun CD8 ,monosit, megakariosit, sel
pembunuh alamiah, sel glia, dan sel epitel serta sel salivarius. HHV-6 ini mempunyai
2 varian, yaitu human herpes virus varian A yang tidak menyebabkan suatu penyakit,
dan human herpes virus varian B yang paling banyak menyebabkan infeksi HHV-6
primer. Virus ini menyebar melalui air ludah (droplet) dan sekret genital.
Patofisiologi
HHV-6 sering terdeteksi dalam saliva manusia dan kadang pada sekretgenital.
Infeksi primer dapat disertai dengan gejala-gejala atau dapat tidak bergejala. Viremia
dapat dideteksi pada 4-5 hari pertama Roseola klinis dengan rata-rata sel terinfeksi
103per 106 sel mononuklear. Jumlah virus dalam darah dihubungkan secara langsung
dengan keparahan penyakit.Terdapat respon imun kompleks yang tersusun dari
induksi berbagai sitokin (interferon alfa dan gamma, interleukin beta, faktor nekrosis
tumor alfa), respon antibodi, dan reaktivitas sel-T. Hilangnya viremia primer, demam,
dan munculnya ruam biasanya dihubungkan dengan munculnya antibodi anti-HHV-6
neutralisasi serum dan mungkin menaikkan aktivitas sel pembunuh alami.Antibodi
transplasenta melindungi bayi muda dari infeksi. Infeksi sel sumsumtulang in vitro
menekan diferensiasi sel pendahulu dari semua deretan sel. Infeksi HHV-6 in vitro
menghambat respon limfoproliferatif sel mononuklear darah perifer manusia.Kadar
antibodi yang tinggi pada orang dewasa, seiring dengan pelepasanvirus dalam ludah,
dan deteksi asam nukleat virus dalam kelenjar ludah dan selmononuklear darah
perifer pada anak yang seropositif dan orang dewasamendukung keadaan latensi
HHV-6 yang hidup lama. Sifat reaktivasi penyakitdapat terjadi pada anak yang lebih
tua dan orang dewasa, terutama pada merekayang mempunyai defek pada imunitas
seluler, seperti pada penderita transplanatau AIDS2.

10

Gejala Klinis
Infeksi HHV-6 mulai dengan gejala mendadak, demam setinggi 39,4-41,20C,
fontanella anterior mencembung sehingga dapat timbul kejang. Kejangdapat terjadi
pada stadium pra-eruptif Roseola. Mukosa faring mungkin sedikit meradang dan
sedikit koryza, biasanya anak tampak relatif baik walaupun demam.Demam turun
dengan cepat pada hari ke 3-4, ketika suhu kembali normal,erupsi berbentuk
makulopapular tampak diseluruh tubuh, mulai pada badan,menyebar ke lengan dan
leher, dan melibatkan muka dan kaki. Ruam menghilangdalam 3 hari. Deskuamasi
jarang dan tidak ada pigmentasi. Limfonodi dapat membesar terutama di daerah
servikal tetapi tidak meluas seperti pada ruam rubella. Berikut uraian gejala klinis
roseola terkait HHV-6 :
Demam
Tingkat maksimum : 39-400C
Lamanya
: 3-4 hari ( kisaran 1-7 hari )
Ruam
Hari kemunculan
: 3-5 hari sesudah mulai demam
Lamanya
: 3-4 hari ( kisaran 1-6 hari )
Tandanya
: Makular , menyatu (seperti campak),40% ;
Papular (seperti rubella),55%.
Tempat
: Leher,perut,badan,punggung,tungkai
Tanda dan Gejala terkait
Adenopati oksipital atau servikal
30-35%
Tanda atau gejala pernapasan
50-55%
Diare ringan
55-70%
Kejang
5-35%
Edema palpebra
0-30%
Pencembungan fontanella anterior
26-30%
Faringitis papuler
65%
Diagnosis
Penegakan diagnosis dibuat dari gambaran klinis berupa adanya demam tinggi selama
3-4 hari dan setelah demam turun akan muncul ruam makulopapuler di seluruh tubuh , mulai
dari badan , menyebar ke lengan dan leher , dan melibatkan muka dan kaki. Ruam ini tidak
menimbulkan rasa gatal dan akan menghilang dalam waktu 2-3 hari tanpa adanya
hiperpigmentasi . Dapat terjadi pembengkakan limfonodi servikal ,retroaurikular dan
oksipital . Limfa juga agak membesar.Pemeriksaan laboratorium menunjukan leukopenia dan
leukositosis relatif. Adanya HHV-6 dapat ditemukan dengan kultur darah, tes serologi atau
PCR.
Komplikasi
11

Beberapa komplikasi dari Eksantema Subitum ialah : Kejang demam , Encephalitis ,


Meningitis
Prognosis
Prognosis Eksantema Subitum ialah : Dubia ( tidak dapat diramalkan ) karena pada
anak dengan keadaan umum baik dan imunokompeten dapat bertahan tanpa adanya
komplikasi , akan tetapi pada anak dengan imunosupressed maka infeksi dapat menjadi
kronis dan timbul komplikasi yang dapat menyebabkan kematian.
Pengobatan
Tidak ada terapi antivirus yang tersedia untuk infeksi HHV-6.Akan tetapi pada tahun
2002 Rapaport et al, melaporkan bahwa terapi profilaksis menggunakan Gansiklovir dapat
digunakan untuk mencegah reaktivasi HHV-6 pada pasien yang mendapat transplantasi
sumsum tulang.
Terapi yang direkomendasikan adalah terapi suportif. Antipiretik dapat membantu
dalam mengurangi demam. Dapat menggunakan asetaminofen atau ibuprofen. Pada bayi dan
anak muda yang cenderung untuk konvulsi , pemberian sedatif ketika mulai muncul demam
mungkin efektif sebagai profilaksis terhadap kejang.
Setelah demam turun, sebaiknya anak dikompres dengan menggunakan handuk atau
lap yang telah dibasahi dengan air hangat guna menjaga tidak terjadinya demam kembali.
Jangan menggunakan es batu, air dingin, alkohol maupun kipas angin.
VARISELA
Definisi
Varisela di masyarakat dikenal dengan sebutan Cacar Air. Varicella adalah penyakit yang
disebabkan oleh virus dan sangat menular, terutama terjadi pada anak-anak. Penyakit ini
harus dibedakan dengan penyakit Cacar (Variola) yang memiliki angka kematian cukup
tinggi. Secara klinis penyakit ini ditandai dengan adanya erupsi vesikuler pada kulit atau
selaput lendir. Walaupun manifestasinya ringan, tapi pada anak-anak yang sistem kekebalan
tubuhnya belum sempurna, penyakit ini dapat menjadi berbahaya.
Etiologi
Varisela disebabkan oleh virus Herpes varicela atau disebut juga varicella zoster virus (VZV).
Varicella terkenal juga dengan nama chichen pox atau cacar air. Varicella penyakit virus pada
anak sangat menular.
Manifestasi Klinis
Gambaran Klinis Varicella Biasa
-

Stadium Prodormal
1-2 hari
Febris sedang (tidak tinggi)
Malaise / lesu
12

Stadium Eruptio (Ruam)


Makula papula vesikula (dew drop on a rose petal) pustula lalu pecah
menjadi keropeng yang lepas dalam waktu 1 minggu.
Gatal
Erupsi ini mulai centripedal di tubuh (dada & punggung) menyebar secara
centrifugal dalam 3 4 hari sampai tersebar ke seluruh tubuh
Erupsi ini terjadi bergerombolan
Pada suatu saat beberapa bentuk (makula, papula, vesikula, pustula) sekaligus
ditemukan.
Kenaikan febris mendahului gerombolan baru.
Stadium Konvelesens / Penyembuhan
Febris mereda
Lesi menjadi kering
Keropeng mulai lepas
Bekasnya hypopigmentasi

Gambaran Klinis Prenatal


-

2 % bayi dari ibu yang menderita varicella pada trimester pertama atau kedua
Tubuh kecil
13

Bekas lesi pada kulit


Hypoplasia anggota badan
Mikrokefali & Atrofi korteks otak

Gambaran Klinis Perinatal


-

Pada bayi lahir dari ibu yang mulai ruam varicella 0 4 hari sebelum persalinan
Angka mortalitas: 30%
Varicella Zoster Immune Globulin (VZIG) diberi segera, prognosis bayi ini sangat
baik.

Tanda Patognomonik
Eksantema pada varisela ditandai dengan beberapa karakteristik yaitu (1) evolusi cepat dari
bentuk makula papula vesikula dan krusta, (2) distribusi terutama terjadi pada bagian
sentral badan, (3) terdapatnya berbagai stadium eksatema pada suatu saat di suatu daerah area
badan, (4) erupsi juga terjadi di kulit kepala dan selaput mukosa.

MENINGOKOKUS
Definisi
14

meningitis meningococcal merupakan infeksi yang berat dan cepat, yang disebabkan oleh
Diplococcus pneumonia, Neisseria meningitis dan Haemophilus influenza . Infeksi ini
umumnya terjadi akibat bakteri yang berasal dari infeksi saluran nafas bagian atas memasuki
aliran darah.
Etiologi
Meningitis pyogenic akut merupakan suatu respon inflamasi terhadap infeksi
bakteria yang mengenai pria dan arakhnoid. Tiga organisme utama yang dapat
menyebabkan meningitis pyogenic adalah Diplococcus pneumonia, Neisseria
meningitis dan Haemophilus influenzae .
Insiden dari type bakteri penyebab bervariasi menurut umur penderita. Pada
Neonatal (0-2 bula) bakteri peneybab meningitis adalah Streptococcus Group B. E.
Coli, Staph. Aureus, Enterobacter dan pseudomonas. Pada anak-anak sering
disebabkan oleh Haemophilus influenzae, N. Meningitidis dan S. pneumoniae. Pada
dewasa muda (6-20 tahun) yaitu N. meningitidis. S. pneumonia dan H. influenzae.
Sedangkan pada dewasa (>20 tahun) adalah S. pneumonia, N. Meningitidis,
Sterptococcus dan Staphylococcus.
Manifestasi Klinis
Gejala paling umum infeksi Neisseria meningitidis (Meningokokus) adalah meningitis.
Ketika terkena meningitis meningococcal, jaringan yang melapisi otak dan medula spinalis
(meninges) mengalami infeksi dan membengkak. Gejala lain yang dapat muncul berupa
demam, sakit kepala, dan kaku pada leher. Selain itu juga dapat terjadi mual, muntah,
fotofobia (peningkatan sensitivitas pada cahaya), dan gangguan status mental. Gejala-gejala
ini dapat muncul dengan cepat dan menghilang dalam waktu beberapa hari. Biasanya gejala
mulai muncul dalam waktu 3-7 hari setelah paparan bakteri.
Pada bayi, gejala klasik seperti demam, sakit kepala, dan kekakuan pada leher bisa tidak ada
atau sulit untuk dikenali. Bayi mungkin tampak kurang aktif, rewel, muntah, atau sulit
makan.
Gejala lain yang dapat terjadi pada infeksi meningococcal adalah infeksi pada darah
(septikemia atau bakteremia), dimana bakteri memasuki aliran darah dan bertambah banyak,
kemudian merusak dinding pembuluh-pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan
pada kulit dan organ-organ tubuh.
Gejala-gejala yang dapat terjadi meliputi :
rasa lelah
muntah
menggigil
rasa dingin pada tangan dan kaki
nyeri pada otot, sendi, dada, atau perut
pernafasan yang cepat
diare
pada stadium lanjut dapat ditemukan adanya ruam ungu gelap pada kulit

15

Sumber : http://aapredbook.aappublications.org
Tanda Patogmonik
Gejala prodormal pada penyakit sangat bervariasi, biasanya kemerahan pada
kulit timbul dalam 24 jam pertama. Gejala awal dapat berupa demam, muntah,
kelemahan umum, gelisah dan kemungkinan adanya kaku kuduk.
Pada penderita, eksatema makulopapular timbul mendahului timbulnya petekie serta
purpura, yang dapat juga terlihat bersamaan. Tidak dikenal distribusi khusus eksantema ini.
Kuman dapat ditemukan pada pemeriksaan dengan pewarnaan Gram pada darah,
cairan serebrospinal.
URTIKARIA
Definisi
Urtikaria atau dikenal juga dengan hives adalah kondisi kelainan kulit
berupa reaksi vaskular terhadap bermacam-macam sebab, biasanya disebabkan oleh
suatu reaksi alergi, yang mempunyai karakteristik gambaran kulit kemerahan
(eritema) dengan sedikit oedem atau penonjolan (elevasi) kulit berbatas tegas yang
timbul secara cepat setelah dicetuskan oleh faktor presipitasi dan menghilang
perlahan-lahan. Dalam istilah awam lebih dikenal dengan istilah kaligata atau
biduran. Meskipun pada umumnya penyebab urtikaria diketahui karena rekasi alergi
terhadap alergen tertentu, tetapi pada kondisi lain dimana tidak diketahui
penyebabnya secara signifikan, maka dikenal istilah urtikaria idiopatik.
Etiologi
Urtikaria umumnya sering dicetuskan oleh beberapa faktor presipitan di bawah ini :
1 Obat-obatan atau Bahan kimia. Penisilin dan derivatnya kemungkinan merupakan
penyebab obat paling sering dari urtikaria akut, tetapi obat-obatan lainnya, apakah
melalui oral, injeksi, inhalasi, atau, topikal juga dapat menyebabkan reaksi urtikaria.
2 Makanan. Makanan merupakan penyebab yang umum dari urtikaria akut. Terutama
adalah makanan seafood, sedangkan makanan lainnya yang sering dilaporkan adalah
strawberry, cokelat, kacang, keju, telur, gandum, dan susu.

16

4
5
6

7
8

Gigitan dan sengatan serangga. Gigitan serangga, sengatan nyamuk, kutu, atau labalaba, dan kontak dengan ngengat, lintah, dan ubur-ubur dapat menyebabkan timbulnya
urtikaria.
Agen Fisik. Urtikaria juga dapat merupakan akibat dari paparan panas, dingin, radiasi,
dan cidera fisik.
Inhalan. Nasal spray, insect spray, inhalasi dari debu, bulu-bulu binatang atau karpet,
dan serbuk merupakan beberapa faktor pencetus melalui inhalasi.
Infeksi. Adanya fokus infeksi sering dipertimbangkan, cepat atau lambat, pada kasus
kronik, dan pada penyebab yang tidak biasa. Sinus, gigi geligi, tonsil, kandung
empedu, dan saluran genitourinaria sebaiknya diperiksa.
Penyakit dalam. Urtikaria dapat timbul pada penyakit hati, parasit usus, kanker,
demam rematik, dan lainnya.
Psikis. Setelah semua penyebab urtikaria kronik telah disingkirkan, masih terdapat
sejumlah kasus yang muncul berhubungan dengan stress atau nervous, cemas, atau
kelelahan.
Sindroma Urtikaria Kontak. Respon yang tidak lazim ini dapat diakibatkan karena
kontak antara kulit dengan obat-obatan, bahan kimia, makanan, serangga, hewan, dan
tanaman.

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis urtikaria yaitu berupa munculnya ruam atau lesi kulit berupa
biduran yaitu kulit kemerahan dengan penonjolan atau elevasi berbatas tegas dengan
batas tepi yang pucat disertai dengan rasa gatal (pruritus) sedang sampai berat, pedih,
dan atau sensasi panas seperti terbakar. Lesi dari urtikaria dapat tampak pada bagian
tubuh manapun, termasuk wajah, bibir, lidah, tenggorokan, dan telinga. Diameter lesi
dapat bervariasi dari sekitar 5 mm (0,2 inchi) sampai dapat sebesar satu piring makan.
Ketika proses oedematous meluas sampai ke dalam dermis dan atau subkutaneus dan
lapisan submukosa, maka ia disebut angioedema. Urtikaria dan angioedema dapat
terjadi pada lokasi manapun secara bersamaan atau sendirian. Angioedema umumnya
mengenai wajah atau bagian dari ekstremitas, dapat disertai nyeri tetapi jarang
pruritus, dan dapat berlangsung sampai beberapa hari. Keterlibatan bibir, pipi, dan
daerah periorbita sering dijumpai, tetapi angioedema juga dapat mengenai lidah dan
faring. Lesi individual urtikaria timbul mendadak, jarang persisten melebihi 24-48
jam, dan dapat berulang untuk periode yang tidak tentu.

17

Tanda Patogmonik
Lesi urtikaria dapat berupa papul-papul merah pea-sized (sebesar kacang
polong) sampai gambaran circinate (lingkaran) besar dengan batas-batas kemerahan
dan putih di sentral yang dapat menutupi seluruh bagian dari badan. Vesikel-vesikel
dan bula dapat tampak dalam kasus yang berat, bersamaan dengan efusi hemoragik.
Bentuk berat dari urtikaria disebut juga angioedema. Ia dapat mengenai seluruh
bagian tubuh, seperti bibir atau tangan. Oedem glotis dan bronkospasme merupakan
komplikasi yang serius yang dapat mengancam nyawa. Kasus-kasus akut dapat ringan
atau berat tetapi biasanya hilang dengan atau tanpa pengobatan dalam beberapa jam
atau hari. Bentuk kronik dapat mengalami remisi dan eksaserbasi dalam hitungan
beberapa bulan atau tahun.
Morbilli
Definisi
Morbili atau campak adalah penyakit akut yang sangat menular, disebabkan oleh infeksi virus
yang umumnya menyerang anak. Etiologi penyakit ini adalah virus Campak, genus
Morbillivirus, family Paramyxoviridae. Virus campak berada di sekret nasofaring dan di
dalam darah, minimal selama masa tunas dan dalam waktu yang singkat sesudah timbulnya
ruam.
Epidemiologi
Di Indonesia, menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) campak menduduki tempat
ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada bayi (0,7%) dan tempat ke-5 dalam urutan
10 macam penyakit utama pada anak usia 1-4 tahun (0,77%).
Dari penelitian retrospektif, dilaporkan bahwa campak di Indonesia ditemukan sepanjang
tahun. Studi kasus campak yang dirawat inap di rumah sakit selama kurun waktu lima tahun
(1984-1988), memperlihatkan peningkatan kasus pada bulan Maret dan mencapai puncak
pada bulan Mei, Agustus, September, dan Oktober.
Campak menyebabkan penurunan daya tahan tubuh secara umum, sehingga mudah terjadi
infeksi sekunder atau penyulit. Penyulit yang sering dijumpai adalah bronkopneumonia
(75,2%), gastroenteritis (7,1%), ensefalitis (6,7%), dan lain-lain (7,9%).
Manifestasi klinis dan diagnosis

18

Campak memiliki gejala klinis khas yaitu terdiri dari 3 stadium yang masing-masing
mempunyai ciri khusus:
1. Stadium masa tunas yang berlangsung kira-kira 10-12 hari.
2. Stadium prodromal dengan gejala 3C: coriza, cough, conjunctivitis disertai demam
tinggi dalam beberapa hari, dan ditemukan enantem pada mukosa pipi (bercak
Koplik) sebagai tanda patognomonik dari campak.
3. Stadium akhir dengan timbulnya ruam yang memiliki ciri khas. Eksantema yang
terjadi biasanya berwarna coklat kemerahan, timbul pertama kali di daerah leher,
belakang telinga dan muka, kemudian meluas ke bawah melibatkan dada, perut,
punggung, dan kemudian ekstremitas. Eksantema ini akan memenuhi seluruh tubuh
dalam 3 hari. Lesi di muka, dada dan punggung cenderung bergabung menjadi
kemerahan yang besar tanpa batas yang tegas. Sedang pada ekstremitas masih terlihat
secara sendiri-sendiri. Eksantema ini akan memudar pada hari ke 5 atau ke 6 yang
diikuti terjadinya deskuamasi.
Meskipun demikian, menentukan diagnosis perlu ditunjang data epidemiologi. Tidak semua
kasus manifestasinya sama dan jelas. Sebagai contoh, pasien yang mengidap gizi kurang,
ruamnya dapat sampai berdarah dan mengelupas atau bahkan pasien sudah meninggal
sebelum ruam timbul. Pada kasus gizi kurang juga dapat terjadi diare yang berkelanjutan.
19

Diagnosis campak dapat ditegakkan secara klinis, sedangkan pemeriksaan penunjang sekedar
membantu; seperti pada pemeriksaan sitologik ditemukan sel raksasa pada lapisan mukosa
hidung dan pipi, dan pada pemeriksaan serologi didapatkan IgM dan IgG yang distimulasi
oleh infeksi campak, muncul bersama-sama diperkirakan 12 hari setelah infeksi dan
mencapai titer tertinggi setelah 21 hari. Kemudian IgM menghilang dengan cepat sedangkan
IgG tinggal tidak terbatas dan jumlahnya terus terukur. Keberadaan Imunoglobulin kelas IgM
menunjukkan pertanda baru terkena infeksi atau baru mendapatkan vaksinasi, sedangkan IgG
menunjukkan bahwa pernah terkena infeksi walaupun sudah lama. Antibodi IgA sekretori
juga dapat dideteksi dari sekret nasal dan terdapat di seluruh saluran nafas. Daya efektifitas
vaksin virus campak yang hidup dibandingkan dengan virus campak yang mati adalah adanya
IgA sekretori yang hanya dapat ditimbulkan oleh vaksin virus campak hidup.

Rubella (German measles)


Definisi
Rubella menjadi terkenal karena sifat teratogeniknya. Rubella merupakan suatu penyakit
virus yang umum pada anak dan dewasa muda, yang ditandai oleh suatu masa prodromal
yang pendek, pembesaran kelenjar getah bening servikal, suboksipital dan postaurikular,
disertai erupsi yang berlangsung 2-3 hari. Pada anak yang lebih besar dan orang dewasa dapat
terjadi infeksi berat disertai kelainan sendi dan purpura. Kelainan prenatal akibat rubella pada
kehamilan muda dilaporkan pertama kali oleh Gregg di Australia pada tahun 1941. Rubella
pada kehamilan muda dapat mengakibatkan abortus, bayi lahir mati, dan menimbulkan
kelainan kongenital yang berat pada janin. Sindrom rubella masih merupakan masalah dan
terus diusahakan eliminasinya.
Rubella disebabkan oleh suatu RNA virus, genus Rubivirus, family Togaviridae. Virus dapat
diisolasi dari biakan jaringan penderita. Secara fisiokimiawi virus ini sama dengan anggota
virus lain dari famili tersebut, tetapi virus rubella secara serologik berbeda. Pada waktu
terdapat gejala klinis virus dapat ditemukan pada sekret nasofaring, darah, feses dan urin.
Manifestasi Klinis
Masa Inkubasi
Masa inkubasi berkisar antara 14-21 hari. Dalam beberapa laporan lain waktu inkubasi
minimum 12 hari dan maksimum 17 sampai 21 hari.
Masa Prodormal
Pada anak biasanya erupsi timbul tanpa keluhan sebelumnya, jarang disertai gejala dan tanda
pada masa prodromal. Namun pada remaja dan dewasa muda masa prodromal berlangsung 15 hari dan terdiri dari demam ringan, sakit kepala, nyeri tenggorok, kemerahan pada
konjungtiva, rhinitis, batuk dan limfadenopati. Gejala ini segera menghilang pada waktu
erupsi timbul. Gejala dan tanda prodromal biasanya mendahului erupsi di kulit 1-5 hari
20

sebelumnya. Pada beberapa penderita dewasa gejala dan tanda tersebut dapat menetap lebih
lama dan bersifat lebih berat. Pada 20% penderita selama masa prodromal atau hari pertama
erupsi, timbul suatu enantema, Forschheimer spot, yaitu macula atau ptekie pada palatum
molle, bisa saling merengkuh sampai seluruh permukaan faucia. Pembesaran kelenjar linfe
bisa timbul 5-7 hari sebelum timbul eksantema, khas mengenai kelenjar suboksipital,
postaurikular dan servikal, dan disertai nyeri tekan.
Masa Eksantema
Seperti pada rubeola, eksantema mulai retroaurikular atau pada muka dan meluas secara
kraniokaudal ke bagian lain dari tubuh lebih cepat dari campak, biasanya dalam 24-48 jam
sudah menyeluruh. Mula-mula berupa macula yang berbatas tegas dan kadang-kadang cepat
meluas dan menyatu, memberikan bentuk morbilliform. Pada hari kedua eksantema di muka
menghilang, diikuti hari ke-3 di tubuh dan hari ke-4 di anggota gerak. Eksantema pada
rubella berwarna merah muda. Kemerahan ini jarang bergabung sehingga terlihat sebagai
bintik-bintik merah kecil. Pada 40% kasus infeksi rubella terjadi tanpa eksantema. Meskipun
sangat jarang, dapat terjadi deskuamasi posteksantematik.
Limfadenopati merupakan suatu gejala klinis yang penting pada rubella. Biasanya
pembengkakan kelenjar getah bening berlangsung selama 5-8 hari. Pada penyakit rubella
tanpa penyulit sebagian besar penderita sudah dapat beraktivitas seperti biasa pada hari ke-3.
Sebagian kecil penderita masih terganggu dengan nyeri kepala, sakit mata, rasa gatal selama
7-10 hari.

Scarlet Fever
Scarlet fever pada streptococcus berkaitan dengan exotoxin group A,B dan C, sedang pada
staphylococcus aureus berkaitan dengan Toxic Shock Syndrome Toxin ( TSST1 dan TSST2 ).
Manifestasi klinik penyakit ini adalah demam dan ruam yang sering di golongkan pada jenis
ruam morbili. Pada kelompok usia 3-12 tahun, tonsillitis oleh karena Streptococcus sering
tanpa disertai dengan ruam namun gambaran klinik, komplikasi maupun prognosisnya mirip
sehingga di kelompokkan ke scarlet fever. Inkubasi manifestasi klinik ini sekitar 2-4 hari,
ditandai dengan panas mendadak, nyeri tenggorok, muntah, menggigil, nyeri kepala, lemas
dan segera disusul dengan keluarnya ruam yang spesifik. Pipi terlihat membara (flushing),
sekitar mulut yang pucat, ruam yang lebih padat di leher, lidah merah (seperti strawberry),
sering disertai nyeri perut. Demam mencapai puncak pada hari ke 2, menurun pada hari ke 4
seiring dengan hilangnya nyeri menelan, namun masih disertai dengan ruam. Pemberian
antibiotika akan mempercepat penurunan demam. Enanthem termasuk pada tonsil, faring,
lidah dan palatum.Tonsil membesar, merah dengan bercak eksudat, pada kasus yang berat
eksudat menempel banyak pada tonsil seperti pada difteri. Lidah berubah penampilan dan
warna sesuai dengan perjalanan sakit: pada hari 1 dan ke 2, lidah tengah tampak seperti
mantel bulu keputihan dengan pinggir yang merah, papil di tengah yang edematus dan merah
akan menonjol, menjadi ciri strawberry tongue putih yang bila nanti mengelupas menjadi
21

merah berkilau dengan papil yang menonjol dan akan menjadi strawberry tongue merah.
Palatum dan uvula tampak merah dan bengkak disertai dengan petechiae. Exanthem keluar
sebagai ruam erythromatous yang bila ditekan akan menjadi pucat, exanthem di kulit
membuat kulit terasa kasar. Ciri exanthem scarlet fever: menyebar cepat ke seluruh tubuh
dalam waktu 24 jam, lesi jarang dimuka, pipi halus, merah membara (flushed) dengan
circumoral palor, makin pada pada lipatan ketiak, pelipatan paha dan pantat, terjadi
hyperpigmentasi yang tipis, membentuk garis melintang (Pastias line), bertahan sampai
ruam menghilang. Ruam yang berat akan menyebar pada perut, tangan, kaki dan mengalami
deskuamasi setelahnya. Deskuamasi berurutan sesuai dengan keluarnya dan tangan/kaki
menjadi terakhir, antara minggu ke-2 dan ke-3.Ruam dan desquamasi sering di tafsirkan
sebagai campak atau Kawasaki. Desquamasi adalah salah satu gejala, luas dan lamanya
sesuai dengan intensitas dari ruam. Proses dimulai dari muka, kemudian disusul oleh badan
dan terakhir ekstremitas, yang memerlukan waktu hingga 3 minggu disertai dengan telapak
tangan dan kaki.Pada kasus scarlet fever yang berat, proses desquamasi dapat berlangsung
hingga 8 minggu. Pemeriksaan darah menunjukkan leukositosis dengan 95 %
polymorphonuclear dan pada minggu ke dua dapat terjadi eosinophilia sampai 20 %.
Diagnosis pasti dengan kultur swab tenggorok atau RADT.

22

Tabel 1. Eksantema pada Infeksi Virus yang Umum menurut Lembo

23

Tabel 2. Eksantema pada Infeksi Bakteri yang Umum menurut Lembo

Sumber:
Lembo RM. Fever and rash. Dalam: Kliegman RM, Greenbaum LA, Lye PS, editor. Practical strategies in pediatric diagnosis and therapy. Edisi kedua. Elsevier Saunders.
Philadelphia, 2004; 997-1015.

24

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. Pendekatan diagnostik penyakit eksantema akut. Dalam: Soedarmo SPS, Garna
H, Hadinegoro SRS, Satari HI, editor. Buku ajar infeksi & pediatri tropis. Edisi kedua. Ikatan Dokter
Anak Indonesia. Jakarta, 2002; 100-8.
Belazarian L, Lorenzo ME, Pace NC, Sweeney SM, Wiss KM. Exanthematous viral diseases.
Dalam: Wollf K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editor. Fitzpatricks
dermatology in general medicine. Edisi ketujuh. Mc-Graw Hill Medical. New York, 2008; 851-72.
El-Radhi AS, Caroll J, Klein N, et al. Fever in common infectious diseases. Dalam: El-Radhi
AS, Caroll J, Klein N, editor. Clinical manual of fever in children. Springer-Verlag. Berlin, 2009; 117-21.
El-Radhi AS, Caroll J, Klein N. Differential dignosis of febrile diseases. Dalam: El-Radhi AS,
Caroll J, Klein N, editor. Clinical manual of fever in children. Springer-Verlag. Berlin, 2009; 279-80.
Fisher RG, Boyce TG. Moffets pediatric infectious diseases. A problem oriented approach.
Edisi keempat. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia, 2005; 374-412.
Garg A, Levin NA, Bernhard JD. Structure of skin lesions and fundamentals of clinical
diagnosis. Dalam: Wollf K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editor.
Fitzpatricks dermatology in general medicine. Edisi ketujuh. Mc-Graw Hill Medical. New York, 2008;
23-40.
Krugman S. Diagnosis of acute exanthematous diseases. Dalam: Gershon AA, Hotez PJ,
Katz SL, editor. Krugmans infectious diseases of children. Edisi kesebelas. Mosby. Philadelphia,
2004; 925-32.
Lau AS, Uba A, Lehman D. Infectious diseases. Dalam: Rudolph AM, Kamei RK, Overby KJ,
editor. Rudolphs fundamentals of pediatrics. Edisi ketiga. Mc-Graw Hill. New York, 2002; 379-86.
Lembo RM. Fever and rash. Dalam: Kliegman RM, Greenbaum LA, Lye PS, editor. Practical
strategies in pediatric diagnosis and therapy. Edisi kedua. Elsevier Saunders. Philadelphia, 2004;
997-1015.
Long SS. Mucocutaneous symptom complexes. Dalam: Long SS, Pickering LK, Prober CG,
editor. Principles & practice of pediatric infectious diseases. Edisi ketiga. Churchill Livingstone.
Philadelphia, 2008; 118-23.
Maldonado Y. Measles. Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, editor. Nelson
textbook of pediatrics. Edisi keenam belas. WB Saunders Company. Philadelphia, 2000; 946-51.
Mancini AJ. Skin infections and exanthems. Dalam: Rudolph CD, Rudolph AM, Hostetter MK,
Lister G, Siegel NJ, editor. Rudolphs pediatrics. Edisi kedua puluh satu. Mc-Graw Hill. New York,
2002; 1217-31.
Ramundo MB. Fever and rash. Dalam: Grace C, editor. Medical management of infectious
diseases. Marcel Decker Inc. New York, 2003; 129-50.
Weston WL, Lane AT, Morelli
Mosby. St. Louis, 2002; 9-14, 89-118.

JG. Color textbook of pediatric dermatology. Edisi ketiga.

25