Anda di halaman 1dari 18

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

Fakultas Kedokteran

REFERAT

TEKNIK BIOPSI TUMOR pada THT-KL


Pembimbing :
dr. Yuswandi Affandi, Sp THT-KL
dr. Tantri Kurniawati,Sp THT-KL, M.Kes.

Disusun Oleh:
Christine Merlinda Timotius (112014351)

RUMAH SAKIT BAYUKARTA KARAWANG


ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN
KEPALA DAN LEHER
KEPANITERAAN KLINIK
Periode 4 Mei 2015 s/d 6 Juni 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada TUHAN yang Maha Esa karena atas berkat
rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyusun referat ini dengan baik dan benar serta tepat
waktunya. Selain itu, penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada pembimbing koas,
yaitu dr.Yuswandi Affandi, Sp.THT-KL, karena dengan bimbingan beliau penulis juga
diberikan arahan dalam memahami konten dari referat ini. Juga kepada pembimbing kedua,
yaitu dr.Tantri Kurniawati, Sp.THT-KL, M.Kes. atas ilmu yang beliau bagikan kepada penulis
sehingga penulis mendapatkan pemahaman baru setiap harinya mengenai ilmu kesehatan
telinga, hidung, tenggorokan, kepala dan leher yang sedang penulis dalami saat ini. Mereka
berdua ialah pembimbing yang luar biasa dan sangat besar andilnya dalam membantu penulis
memahami isi dari setiap kata per kata yang penulis cantumkan di dalam referat ini. Didalam
referat ini, penulis akan membahaskan mengenai teknik biopsi tumor pada THT-KL.
Referat ini telah dibuat dengan pencarian melalui buku-buku rujukan dan juga
penelusuran situs medikal serta telah mendapatkan beberapa bantuan dari pelbagai pihak
untuk membantu dalam menyelesaikan tantangan dan hambatan selama proses mengerjakan
referat ini. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan referat ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada referat ini.
Oleh karena itu, penulis mengundang pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang
dapat membangun nilai kerja penulis ini. Kritikan yang membangun dari pembaca sangat
penulis harapkan untuk penyempurnaan referat ini selanjutnya.Semoga referat ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca dan apabila ada kata-kata yang kurang berkenan penulis
memohon maaf sebesar-besarnya. Akhir kata semoga referat ini dapat memberikan manfaat
kepada kita semua.

Karawang, 21 Mei 2015

Penulis

DAFTAR ISI
2

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................................ 2


DAFTAR ISI .............................................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................................................... 4
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Definisi ......................................................................................................................... 5
2.2 Sejarah .......................................................................................................................... 5
2.3 Indikasi ......................................................................................................................... 5
2.4 Kontraindikasi ................................................................................................................. 5
2.5 Alat ............................................................................................................................... 6
2.6 Prosedur ....................................................................................................................... 7
2.6.1 Persiapan ................................................................................................................. 7
2.6.2 Posisi Pasien ................................................................................................................ 7
2.6.3 Anestesi ............................................................................................................... 7
2.6.4 Teknik ................................................................................................................. 8
2.6.5 Perawatan setelah prosedur ............................................................................................................. 9
2.7 Sensitivitas ................................................................................................................... 9
2.8 Komplikasi ................................................................................................................. 10
2.9 Kegunaan dalam klinik .............................................................................................. 10
BAB 3
3.1 Fine Needle Biopsy (FNAB) di bidang THT-KL .......................................................................................... 12
3.2 Hasil Studi mengenai FNAB pada beberapa Penyakit THT-KL ................................................................... 13
BAB IV KESIMPULAN .............................................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 18

BAB I
3

PENDAHULUAN
Biopsi aspirasi jarum halus atau Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) adalah suatu
metode atau tindakan pengambilan sebagian jaringan tubuh manusia dengan suatu alat
aspirator berupa jarum suntik yang bertujuan untuk membantu diagnosis berbagai penyakit
tumor. Tindakan biopsi aspirasi ditujukan pada tumor yang letaknya superfisial dan papable
misalnya tumor kelenjar getah bening, tiroid, kelenjar liur, payudara, dan lain-lain.
Sedangkan untuk tumor pada organ dalam misalnya tumor pada paru, ginjal, hati, limpa dan
lain-lain dilakukan dengan bantuan CT scan. (1,2)
Dengan metode FNAB diharapkan hasil pemeriksaan patologis seorang pasien dapat
segera ditegakkan sehingga pengobatan ataupun tindakan operatif tidak membutuhkan waktu
tunggu yang terlalu lama. Tindakan FNAB ini dapat dilakukan oleh seorang dokter terlatih
dan dapat dilakukan di ruang praktek sehingga ini sangat bermanfaat bagi pasien rawat jalan.
Untuk mendiagnosa limfoma maligna pada kelenjar getah bening, ketepatannya tinggi pada
lesi tumor yang derajat keganasannya high-grade. Bila dilakukan pada jaringan hati ketepatan
diagnosisnya 67-100%. Rata-rata 80% lesi keganasan di jaringan hati dapat didiagnosis
secara tepat sehingga sesuai dengan dugaan adanya korelasi antara analisis sitologi dengan
hasil pemeriksaan klinis yang baik.
Pada makalah ini penulis menjelaskan manfaat biopsi aspirasi jarum halus pada
bidang telinga hidung tenggorok kepala dan leher. Selain itu juga menjelaskan secara khusus
indikasi, dan komplikasi pada bidang THT-KL dan beberapa hasil studi tentang penggunaan
biopsi aspirasi jarum halus di bidang THT-KL.

BAB 2
FINE NEEDLE ASPIRATION BIOPSY (FNAB)
2. 1. Definisi
Fine-needle aspiration biopsy (FNAB) atau biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH)
adalah suatu prosedur diagnostik untuk mengidentifikasi benjolan atau massa yang superfisial
(di bawah kulit). Cara biopsi ini adalah sebuah jarum halus yang berongga dimasukkan ke
dalam massa tersebut kemudian sel-sel yang terambil diwarnai dan dilihat dibawah
mikroskop. (1,2)
Biopsi aspirasi jarum halus adalah prosedur operasi minor yang sangat aman dan
sangat kurang invasif dibandingkan dengan biopsi yang lain.Biopsi jarum halus membantu
membedakan lesi inflamasi, reaktif, atau fibrosis dari neoplasma serta lesi neoplastik jinak
dari yang ganas. Biopsi jarum halus relatif aman, sederhana, dan hemat biaya, dan itu
ditoleransi dengan baik oleh kebanyakan pasien. Namun, teknik yang tepat diperlukan untuk
memastikan hasil yang akurat. Karena ada resiko akibat halusnya jarum, sel yang terambil
menjadi sedikit dan sel yang patologis bisa tidak terambil. (2,3)
2.2. Sejarah
Biopsi aspirasi jarum halus ini pertama kali dilakukan di Amerika Serikat pada tahun
1891 di Maimonides Medical Center, yang meminimalisir biopsi dengan operasi terbuka dan
perawatan setelah biopsi. Sekarang ini, biopsi aspirasi jarum halus digunakan secara luas
untuk mendiagnosis kanker.
2. 3. Indikasi
Secara umum, biopsi aspirasi jarum halus digunakan untuk mengidentifikasi benjolan
atau massa yang mencurigakan yang terlihat atau teraba di bawah kulit, atau yang terdeteksi
oleh alat-alat pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen, mammografi atau ultrasonografi.
2. 4. Kontraindikasi
Tidak ada kontraindikasi absolut untuk FNAB. Jika masaa dekat dengan organ atau
struktur yang vital, FNAB dapat dilakukan dengan bimbingan CT scan atau USG jika
tersedia.(1,2)

Gambar 2.1. FNAB dengan Bantuan USG(4)

Pasien dengan gangguan pembekuan darah perlu mendapat perhatian khusus. Perlu
dilakukan konsultasi medis dan pengobatan yang tepat sebelum prosedur. Pada pasien yang
menggunakan antikoagulan, sebaiknya dihentikan terlebih dahulu sebelum prosedur. Apabila
antikoagulan tidak dapat dihentikan dengan aman, harus dipertimbangkan penggunaan jarum
dengan diameter sekecil mungkin, gesekan sesedikit mungkin dan atau menggunakan
panduan ultrasonografi untuk mengidentifikasi dan menghindari pembuluh darah.(2,3)
2. 5. Alat(1)
Alat yang dibutuhkan terlihat pada gambar :

Gambar I1.2. Alat-alat FNAB(1)

Jarum: Sebagian besar literatur menggunakan jarum 22-27 Gauge dengan panjang

yang sesuai dengan hub yang transparan atau bening.


Syringe 10ml. Jarum suntik yang lebih besar belum terbukti memberikan hisap yang

lebih besar.
Pistol grip jarum suntik, ini sangat dianjurkan dan memungkinkan daya hisap lebih

seragam dan manipulasi jarum lebih mudah.


Kapas yang mengandung alkohol atau iodium.
Kaca slide untuk membuat sediaan.

2. 6. Prosedur
6

2. 6. 1. Persiapan
Beberapa persiapan dibutuhkan sebelum melakukan prosedur(5) :

Tidak menggunakan aspirin atau obat anti-inflamasi non-steroid (misalnya ibuprofen,

naproxen) selama satu minggu sebelum prosedur.


Asupan makanan dihentikan beberapa jam sebelum prosedur.
Tes darah rutin (termasuk tes pembekuan darah) dilakukan dua minggu sebelum

biopsi.
Pastikan riwayat penggunaan obat antikoagulan darah.
Antibiotik profilaksis dapat diberikan.
Sebelum prosedur dimulai, tanda-tanda vital (denyut nadi, tekanan darah, suhu,
pernafasan) diperiksa. Pada keadaan tertentu mungkin dibutuhkan pemasangan jalur
intravena, pasien sangat gelisah mungkin perlu diberikan obat penenang dengan jalur
intravena. Untuk pasien yang tidak terlalu gelisah dapat diberikan obat oral (Valium)
dapat diresepkan sebelum prosedur.
2. 6. 2. Posisi Pasien
Posisi

pasien sangat menentukan keberhasilan dari biopsi. Pasien diposisikan

sedemikian rupa sehinga massa dapat dipalpasi secara optimal. Jika massa sulit dipalpasi
maka dapat dilakukan biopsi dengan bantuan ultrasonografi atau CT. (2)
2. 6. 3. Anastesi
Penggunaan anestesi lokal sebelum biopsi jarum halus bergantung pada kebijaksanaan
masing-masing dokter. Beberapa penulis tidak merekomendasikan penggunaan anestesi lokal
sebelum biopsi jarum halus, terutama untuk massa dangkal. Mereka mencatat bahwa suntikan
anestesi lokal dapat menyebabkan rasa sakit sesakit biopsi jarum halus itu sendiri. Selain itu,
infiltrasi anestesi lokal bisa membuat massa kecil lebih sulit untuk teraba. Seorang penulis
merekomendasikan penempatan es kecil di kulit di atasnya sebelum biopsi. Untuk anak-anak,
penerapan 30-60 menit topikal anestesi sebelum prosedur dapat mengurangi rasa sakit dan
kecemasan.(1,2)
Penulis

lain

berpendapat

bahwa

penggunaan

anestesi

lokal

mengurangi

ketidaknyamanan pasien dan kecemasan. Lidocaine 1-2% dengan atau tanpa epinefrin
1:100.000 adalah obat pilihan. Kadang-kadang, infiltrasi lebih dalam anestesi diperlukan jika
massa target meradang.(1,2)
2. 6. 4. Teknik

Biopsi aspirasi jarum halus adalah prosedur sederhana yang memerlukan waktu
beberapa menit. Sangat ideal jika ada ahli patologi pada saaat aspirasi dilakukan, hal ini
memungkinkan penilaian langsung dari kecukupan spesimen. Jika sel-sel tidak cukup,
aspirasi dapat diulang. Kadang-kadang diagnosis dapat dibuat dengan segera.(2)
Kulit yang akan dibiopsi dibersihkan dengan kapas yang mengandung isopropil
alkohol 70%. Untuk operator dengan tangan kanan dominan, massa digenggam dengan
tangan kiri dan diusahakan stabil.(2)
Sebuah jarum suntik siap pakai dengan jarum 23-gauge terpasang ditempatkan tepat
di bawah permukaan kulit. Tekanan negatif dibuat dengan menarik plunger jarum
suntik.Jarum dimasukkan pada massa dan ditarik berulang tanpa keluar dari kulit, kira-kira
sebanyak enam kali. Jika yang ditemukan adalah kista, maka harus benar-benar dievakuasi,
dengan cairan dan kapsul dikirim untuk sitologi. Ingat bahwa cairan kista mungkin mendilusi
spesimen dan membuat interpretasi sitologi tidak mungkin dilakukan. Dengan demikian,
sangat ideal bila mengasipirasi bagian padat dari massa.(2)

Gambar 2.3. Teknik FNAB

Setetes kecil cairan yang telah disedot ditempatkan pada slide kaca, seperti yang
ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Sebuah smear dilakukan dengan meletakkan satu
8

slide kaca di atas setetes cairan dan menarik slide terpisah untuk menyebarkan cairan, seperti
yang ditunjukkan pada gambar kedua di bawah. Sediaan yang basah ditempatkan di dalam
ethyl alkohol 95% dan lakukan pewarnaan dan teknik sesuai teknik Papanicolau. Sediaan ini
dapat memberi informasi detail dan dapat menentukan dimana asal dari tumor metastasis.
Spesimen dikeringkan dengan udara kemudian diwarnai dengan pewarnaan Wright- Giemsa
apabila diagnosis banding meliputi tumor kelenjar saliva, limfoproliperatif, dan atau lemak.
Setelah itu sediaan siap dilihat dibawah mikroskop dan dievaluasi secara sitologis.(2)

Gambar 2.4. Teknik pembuatan preparat dari hasil FNAB

2. 6. 5. Perawatan setelah prosedur


Analgesik ringan dapat diberikan setelah prosedur untuk mengurangi rasa sakit. Obatobatan seperti aspirin tidak dianjurkan untuk dikonsumsi sampai dengan 48 jam setelah
prosedur kecuali ada indikasi yang kuat.
2. 7. Sensitivitas
Biopsi aspirasi maupun biopsi biasa memiliki dua macam hasil yaitu positif dan
negatif. Dikenal ada dua istilah positif yaitu true positive dan false positive, demikian
pula dengan hasil negatif, terdapat true negative dan false negative.(9)
a. True positive : bila memberikan hasil yang sesuai dengan keadaan penyakitnya,
misalnya menemukan keganasan pada keadaan yang benar-benar ganas. True
positive inilah yang seringkali disebut sensitivitas suatu pemeriksaan.
b. True negative : tidak ditemukannya suatu hasil pada keadaan yang emang benarbenar tidak ada penyakitnya.
c. False positive : Adalah bila memberikan hasil pada keadaan yang idak ada
penyakitnya seperti misalnya memberikan hasil keganasan padahal sebenarnya
hanya pertumbuhan yang jinak.
9

d. False negative : yaitu tidak ditemukannya keganasan pada keadaan yang


sebenarnya ada keganasan.
2. 8. Komplikasi
Biopsi aspirasi jarum halus memiliki tingkat morbiditas yang sangat rendah. Dalam
beberapa penelitian besar, hanya sejumlah komplikasi kecil dicatat, komplikasi parah jarang
terjadi. Komplikasi biasanya tergantung pada tempat biopsi. Komplikasi umum yang dapat
terjadi antara lain(1,2) :
1. Hematoma merupakan komplikasi yang signifikan dan paling umum. Hematoma
kebanyakan hilang tanpa pengobatan. Risiko hematoma diyakini dapat dikurangi
dengan penggunaan jarum 23 gauge atau lebih kecil . Tekanan langsung pada tempat
biopsi setelah prosedur juga dianjurkan.
2. Infeksi setelah biopsi jarum halus jarang. Menyapu kulit dengan kapas alkohol atau
yodium dianjurkan sebelum biopsi jarum halus untuk meminimalkan kemungkinan
infeksi.
2. 9. Kegunaan dalam Klinik
Melihat dari beberapa keuntungan teknik biopsi aspirasi dan jarangnya komplikasi,
teknik ini sangat berguna dalam(9) :
1. Dengan biopsi aspirasi dapat ditegakkan diagnosa secara cepat sehingga pengobatan
dapat diberikan dengan segera. Biopsi aspirasi sebaiknya dilakukan pada penderitapenderita sebagai berikut :
a. Pembesaran kelenjar getah bening leher tetapi tumor primernya tidak
diketemukan pada pemeiksaan endoskopi atau pemeriksaan sinar tembus.
b. Menentukan metastase dari dua tumor primer atau pembesaran kelenjar yang
tidak biasanya seperti letaknya yang kontralateral.
c. Setelah pengobatan baik operasi dan radiasi kemudian timbul lagi dengan
pembesaran kelenjar getah bening yang baru sehingga perlu ditentukan apakah
ini suatu metastase atau rekurensi.
d. Dengan adanya biopsi aspirasi dapat dipakai untuk menentukan adanya
peradangan akut atau kronis, baik yang spesifik, nonspesifik maupun
granulomatosa.
2. Biopsi aspirasi dapat dipakai untuk menentukan stadium keganasan, misalnya dalam
tumor primer yang sulit diketahui.

10

3. Kegunaan ekonomis terutama bagi daerah yang jauh dari fasilitas yang memadai
biopsi aspirasi lebih menguntungkan terutama untuk mengurangi ketergantungan
pemakaian alat-alat canggih.

11

BAB III
FINE NEEDLE ASPIRATION BIOPSY (FNAB) DI BIDANG THT-KL
3.1. Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) di Bidang THT-KL
Pada bidang THT-KL, FNAB sangat berguna untuk mendiagnosis massa atau
benjolan pada leher. Seringkali dilakukan biopsi pada lesi jelas bahwa terletak pada atau di
mukosa. Massa leher yang dibiopsi biasanya teraba, Namun, pada beberapa kasus tempat
benjolan tidak jelas atau massa leher tidak mudah teraba, maka pencitraan diperlukan.
Ultrasonografi, CT, dan MRI telah digunakan untuk memandu lokasi perangkat biopsi atau
untuk memaksimalkan kemungkinan mendapatkan jaringan yang patologis.(6)
Massa di kepala atau leher dapat menunjukkan suatu penyakit yang serius, seperti
kanker. Meskipun tidak selalu terjadi, suatu massa mungkin membutuhkan biopsi jarum halus
untuk diagnosis. Usia, jenis kelamin, dan kebiasaan, seperti merokok dan minum, juga faktor
penting yang membantu dalam diagnosis massa. Gejala sakit telinga, peningkatan kesulitan
menelan, penurunan berat badan, atau riwayat gangguan tiroid atau kanker kulit sebelumnya
(karsinoma sel skuamosa) juga perlu digali dengan anamnesis yang baik untuk membantu
diagnosis suatu massa.(7)
Indikasi untuk diagnosis dengan biopsi jarum halus pada bidang THT termasuk halhal berikut(1,7):

Kelenjar getah bening perubahan reaktif, limfoma, kanker metastatik.


Kelenjar tiroid nodul soliter atau dominan, curiga akan keganasan, limfoma, dan

goiter toksik.
Kelenjar saliva neoplasma jinak maupun ganas, limfoma, lesi inflamasi, dan kista
Lesi leher kistik kista duktus branchial dan tiroglosus.
Massa lain paratiroid neoplasma, kista dermoid, dan teratoma.
Massa di dalam mulut
Setiap benjolan atau masa selain di atas yang terdapat di leher yang dapat dipalpasi
atau pencitraan (seperti USG) jika mereka tidak bisa dipalpasi.
Prosedur FNAB pada pasien THT-KL sama dengan prosedur FNAB di bagian lain,

namun yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa kebanyakan FNAB pada pasien THT
adalah mengambil spesimen dari massa pada leher. Leher merupakan bagian tubuh di mana
terdapat banyak struktur-struktur penting seperti pembuluh darah, saraf, otot dan sebagainya
12

sehingga diperlukan kehati-hatian yang lebih. Jika hal-hal tersebut luput dari perhatian,
makan akan menimbulkan komplikasi seperti(1) :

Kelumpuhan saraf laring yang mengikuti biopsi jarum halus dari kelenjar tiroid
jarang. Satu penelitian melaporkan 4 : 10000 pasien dengan kelumpuhan pita suara
setelah biopsi jarum halus dari nodul tiroid. Perubahan suara pada pasien terjadi 1
atau 2 hari setelah biopsi jarum halus, dan kelumpuhan pita suara dapat dikonfirmasi
oleh laringoskopi fleksibel. Kelumpuhan pada semua pasien menghilang spontan

dalam 6 bulan.
Tusukan yang menembus trakea saat biopsi jarum halus dari kelenjar tiroid dapat
menyebabkan batuk dan hemoptisis ringan. Gejala-gejala tersebut hanya sesaat dana

dan akan sembuh dalam beberapa menit.


Dalam sejumlah kecil kasus, biopsi jarum halus telah dikaitkan dengan infark dan
nekrosis dari massa leher dibiopsi. Sebagian besar kasus infark diikuti biopsi jarum

halus kelenjar tiroid.


Perluasan sel-sel ganas akibat biopsi jarum halus merupakan keprihatinan teoritis
tetapi tampaknya sangat langka dan tidak memiliki makna klinis signifikan bila

digunakan jarum berukuran 23 gauge atau lebih kecil.


Kasus kematian akibat biopsi massa leher telah dilaporkan. Kematian tersebut
disebabkan biopsi jarum halus pada tumor badan karotid. Penyebab langsung adalah
trombosis dari arteri karotis interna. Untuk alasan ini, kebanyakan dokter enggan
untuk melakukan biopsi jarum halus ketika diagnosis tumor badam karotid dicurigai.
Tumor ini dan tumor Glomus lainnya lebih baik diidentifikasi oleh pencitraan. Saat
ini, MRI adalah studi pencitraan pilihan diikuti dengan CT. Angiografi tetap berguna
jika diagnosis tidak jelas atau jika curiga terjadi embolisasi.

3.2. Hasil Studi Mengenai FNAB pada Beberapa Penyakit THT-KL


Meskipun FNAB mungkin bukan metode pilihan untuk semua massa leher, studi
menunjukkan keuntungan FNAB untuk diagnosis beberapa penyakit tertentu :

Karsinoma sel skuamosa leher


Pada tahun 1990, Schwarz dan rekan menunjukkan bahwa FNAB memiliki
sensitivitas 92% dan nilai 100% prediksi positif untuk diagnosis karsinoma sel
skuamosa

dari kepala dan leher. Dalam laporan tahun 1991 Birchall dan rekan

menunjukkan bahwa FNAB dari massa leher adalah 100% spesifik untuk karsinoma
13

sel skuamosaleher. Kekuatan prediksi dari FNAB dalam mendiagnosis karsinoma sel
skamosa kepala dan leher memungkinkan dokter untuk mempersempit pencarian

tumor primer.(1)
Nodul tiroid
Prevalensi nodul tiroid dapat mendekati 70% dalam populasi. Insiden
bervariasi menurut usia dan metode deteksi. Insiden karsinoma dalam nodul tiroid
kurang dari 10% di sebagian besar populasi.Banyak studi telah meneliti penggunaan
FNAB dalam diagnosis massa yang mencurigakan untuk keganasan tiroid. Pada tahun
1991, Klemi dan koleganya menguji 186 aspirasi dari kelenjar tiroid. Di antara
histologi-dikonfirmasi kasus, FNAB nodul tiroid memiliki spesifisitas 100%,
sensitivitas 55%, dan akurasi 95%.(1)

Gambar 3.1. FNAB pada kelenjar tiroid.

Massa kelenjar ludah


Penggunaan FNAB untuk terisolasi massa kelenjar ludah secara luas diterima.
Namun demikian, ahli bedah diperingatkan untuk menginterpretasikan hasil
FNABsesuai dengan kondisi klinis. Hasil baik negatif palsu dan positif palsu ditemui.
Interpretasi patologi kelenjar ludah cukup sulit (tumor yang paling umum adalah
"pleomorfik" adenoma) dan membutuhkan pengalaman lebih banyak dari interpretasi
beberapa massa leher lainnya.(1)

Pembesaran kelenjar limfe leher


o Limfoma
Ketika evaluasi sitologi menunjukkan lesi limfoid, studi lebih lanjut mungkin
penting untuk menyingkirkan limfoma. Meskipun FNAB 98% spesifik tumor dan
95% sensitif terhadap adanya tumor di leher sebagian massa, diagnosis yang tidak
14

tepat dapat ditemui ketika mencoba untuk membedakan limfoma dari limfadenitis
reaktif.(1)
Diagnosis seluler akurat dari limfoma tertentu tergantung pada perubahan
dalam arsitektur kelenjar getah bening, yang memerlukan pemeriksaan morfologi
dari seluruh node. Namun, ketika cytoarchitecture sebelumnya spesimen limfoma
diketahui, FNAB handal dalam memprediksi kekambuhan.(1)
Beberapa laporan menunjukkan bahwa Hodgkin limfoma dapat akurat
didiagnosis oleh FNAB. Hodgkin limfoma didiagnosis pasti dengan keberadaan
sel Reed-Sternberg. Peran FNAB dalam diagnosis limfoma non-Hodgkin masih
kontroversial. Hasil diagnostik FNAB rendah karena sulit membedakan limfoma
non-Hodgkin dari tiroiditis limfositik dan karsinoma tiroid anaplastik. Studi yang
menggabungkan FNAB dengan flowcytometry dan imunohistokimia dapat
meningkatkan ketepatan diagnosis limfoma tanpa perlu biopsi eksisi.(1)
o Infeksi
FNAB secara rutin digunakan untuk diagnosis histologis massa leher
neoplastik. Namun, penggunaan FNAB dalam diagnosis lesi inflamasi terbatas.
FNAB kemungkinan dapat digunakan untuk mengisolasi organisme individu atau
setidaknya memungkinkan untuk budaya organisme menyinggung. Sebuah array
laporan kasus dan seri kasus telah menunjukkan penggunaan untuk FNA dalam
diagnosis penyakit menular leher. Beberapa penyebab d2dentifikasi meliputi
Staphylococcusaureus, Escherichia coli, dan Bacteroides fragilis, Cryptococcus,
Mycobacterium,

Coccidioides,

Bacteroides,

Streptococcus,

Haemophilus,

Pseudomonas, dan spesies Citrobacter, dan infeksi Cytomegalovirus, sifilis, dan


actinomycosis.(1)
Limfadenitis TB dapat bermaniestasi menjadi massa leher. Spesimen FNAB
memiliki bukti sitologi konsisten dengan TBC. Delapan puluh persen dari
spesimen FNAB positif untuk TB telah dikonfirmasi oleh biopsi terbuka.
Gambaran histologis meliputi peradangan granulomatosa dan atau nekrosis
kaseosa.

Sensitivitas

FNAB

untuk

TB

meningkat

dari

70-90%

bila

dikombinasikan dengan tes kulit. (1)


o Metastasis tumor ganas bagian tubuh lain
FNAB digunakan pada pembesaran kelenjar getah bening leher yang diduga
akibat metastase keganasan dari tumor pada bagian tubuh yang lain. (8,11)
15

Karsinoma nasofaring dapat bermetastasis ke kelenjar getah bening leher dalam


bentuk benjolan.(10) Demikian pula dengan tumor ganas yang lain, diagnostik pasti
dapat ditegakkan dengan FNAB pada pembesaran kelenjar getah bening di leher.
(11)

Metastasis dari tumor ganas karsinoma sel skuamosa rongga mulut, orofaring,
hipofaring, laring, dan nasofaring adalah ke rangkaian kelenjar limfa jugularis
superior.Adanya massa tumor yang berada di preaurikula umumnya disebabkan
oleh tumor primer dari kelenjar parotis atau metastasis tumor ganas dari kulit
muka, kepala, dan telinga homolateral.Pada kelenjar submental dapat berasal dari
tumor ganas di kulit hidung atau bibir, atau dasar mulut bagian anterior.Pada
segitiga submandibula dapat disebabkan oleh tumor primer pada kelenjar
submandibula atau metastasis tumor yang berasal dari kulit muka homolateral,
bibir, rongga mulut, atau sinus paranasal.(12)
Pada daerah jugularis interna superior, dapat berasa dari tumor ganas di
rongga mulut, nasofaring, orofaring posterior, nasoaring, dasar lidah atau laring.
Tumor dari daerah jugularis bagian bawah umunya berupa tumor pada subglotis,
laring tiroid atau esofagus bagian servikal.

Tumor pada kelenjar limfa

suboksopital biasanya berupa metastasis tumor yang berasal dari kulit kepala
bagian posterior atau tumor promer di aurikula. Massa di supraklavikula,
biasanya oleh karena tumor primer di infraklavikula, tumor esofagus bagian
servikal, atau tumor tiroid.(12)
Pembesaran kelenjar getah bening leher juga bisa disebabkan oleh metastasis
dari tumor ganas payudara, paru, dan organ intraabdomen.

16

BAB IV
KESIMPULAN
Fine-needle aspiration biopsy (FNAB) atau biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH)
adalah suatu prosedur diagnostik untuk mengidentifikasi benjolan atau massa yang superfisial
(di bawah kulit), atau yang dapat terdeteksi oleh pencitraan. Cara biopsi ini adalah sebuah
jarum halus yang berongga dimasukkan ke dalam massa tersebut kemudian sel-sel yang
terambil diwarnai dan dilihat dibawah mikroskop.
Pada bidang THT-KL, FNAB sangat berguna untuk mendiagnosis massa atau
benjolan pada leher. Massa di kepala atau leher dapat menunjukkan suatu penyakit yang
serius, seperti kanker. Namun bisa juga infeksi atau kelainan kongenital. FNAB sangat
berguna untuk membedakan hal-hal tersebut. Secara umum, FNAB pada bidang THT-KL
tidak jauh berbeda seperti di bidang lainnya. Prosedur, indikasi, kontraindikasi tidak berbeda,
yang berbeda hanya komplikasinya, karena pada leher banyak terdapat struktur penting yang
dapat terganggu jika teknik FNAB tidak benar.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Boone J,

Mullin DP. Biopsy, Fine Needle, Neck Mass. Available at:

http://emedicine.medscape.com/article/1520111-overview#a03. Accessed May 20th


2015.
2. Johnson

JT.

Fine-Needle

Aspiration

of

Neck

Masses .

Available

at:

http://emedicine.medscape.com/article/1819862-overview. Accessed May 20th 2015.


3. Ji XL. Fine-needle aspiration cytology of liver diseases. Available
at:http://www.wjgnet.com/1007-9327/5/95.asp. Accessed May 20th 2015.
4. The American Association of Endocrine Diseases. Thyroid Nodule, Fine Needle
Aspiration

Biopsy.

Available

at:

http://endocrinediseases.org/thyroid/

nodule_fna.shtml. Accessed May 20th 2015.


5. Clinical Center National Institutes Of Health. Patient Education, Preparing of Needle
Aspiration Biopsy. Available at: www.cc.nih.gov/ccc/patient.../needle.pdf. Accessed
May 20th 2015.
6. Bailey BJ, Johnson JT, Newlands SD. Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 4 thed.
USA: Lippincott William and Wilkins. 2006.
7. American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery. Fine Needle
Aspiration.

Available

at:

http://www.entnet.org/HealthInformation/fineNeedle

Aspiration.cfm Accessed May 20th 2015.


8. Katz AE. Manual of Otolaryngology-Head and Neck Therapeutics. USA : Lea &
Febiger. 1986.
9. Soeseno B. Biopsi Aspirasi Jarum Halus Pada Kelenjar Getah Bening Leher Akibat
Metastase Tumor Ganas Kepala dan Leher. Bandung : Fakultas Pascasarjana
Universitas Padjajaran. 1989.
10. Roezin A, Adham M. Karsinoma Nasofaring. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. 6thed. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2007.
11. Hermani M, Abdurrachman H. Tumor Laring. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. 6thed. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2007.
12. Roezin A. Sistem Aliran Limfa Leher. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. 6thed. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2007.

18