Anda di halaman 1dari 11

ILMU QIRAAT

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu cabang ilmu Al-Quran adalah Qiroatul Quran, hal ini seperti yang kita ketahui
Al-Quran diturunkan dengan berbahasa Quraisy yang mana merupakan bahasa persatuan bangsa
Arab. Namun, meskipun demikian bangsa Arab terdiri dari berbagai suku yang memiliki ciri-ciri
atau perbedaan dalam dialek (lahjah) antara suku yang satu dengan suku yang lain. Hal ini
dikarenakan perbedaaan kondisi alam, seperti letak geografis, dan juga sosio kultural dari
masing-masing suku. Perbedaan dialek inilah yang juga menimbulkan lahirnya bermacammacam bacaan (qiraah) dalam melafalkan Al-Quran.
Namun, seperti yang kita ketahui ilmu Qiroatul Quran tidak banyak dipelajari, hanya
kalangan tertentu saja yang mempelajarinya seperti kalangan akademisi. Hal tersebut disebabkan
karena ilmu ini tidak mempelajari masalah yang berkaitan dengan aspek kehidupan manusia.
Namun, ilmu ini merupakan ilmu yang bermanfaat dalam menggali, menjaga, dan mengajarkan
berbagai cara membaca Al-Quran yang sesuai dengan anjuran Rasulullah. Dan hal lain yang
tidak kalah penting adalah pengetahuan tentang qiraah berperan penting dalam memahami
perbedaan penafsiran terhadap Al-Quran. Sehingga dalam makalah ini akan dibahas tentang
Qiroatul Quran.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Qiraatul Quran?
2. Apa saja yang melatarbelakangi timbulnya perbedaan dalam Qiraatul Quran
3. Bagaimanakah pembagian qiraat, macam-macamnya, dan syarat sahnya qiraat, serta
manfaat adanya perbedaan qiraat?
4. Dan apa keterkaitan Qiraatul Quran dengan Istinbath hukum?
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN QIRAAT
Menurut bahasa (etimologi), qiraat adalah jama dari kata qiraat dan merupakan isim masdar
dari kata qara-a, yang berarti bacaan. Dengan demikian qiraat adalah bacaan atau cara
membaca. [Tim Penyusun MKD, Studi Al-Quran, Surabaya, IAIN Sunan Ampel Press, 2011,
hlm. 192]
Sedangkan menurut istilah, qiraat ialah salah satu aliran dalam mengucapkan Al-Quran yang
dipakai oleh salah seorang imam quro yang berbeda dengan yang lainnya dalam hal ucapan AlQuranul Karim. Qiraat ini berdasarkan sanand-sanadnya sampai kepada Rasulullah S.A.W.
[Mohammad Aly Ash Shabuny, Pengantar Studi Al-Quran, Bandung, PT Almarif, 1984, hlm.
316] Namun, pengertian qiraat bermacam-macam menurut para Ulama.

Berikut ini akan diberikan beberapa pengertian qiraat menurut istilah :


1. Menurut az-Zarqani, qiraat adalah suatu madhhab yang dianut seorang imam dari para
imam qurra yang berbeda dengan yang lainnya dalam pengucapan Al-Quran Al-Karim dengan
kesesuaian riwayat dan jalur-jalurnya, baik perbedaan itu dalam pengucapan huruf-huruf ataupun
pengucapan bentuknya. [ Tim Penyusun MKD, Studi Al-Quran, Surabaya, IAIN Sunan Ampel
Press, 2011, hlm 192]
2. Menurut az-Zarkashi, qiraat adalah perbedaan cara mengucapkan lafaz-lafaz al-Quran,
baik menyangkut huruf-hurufnya atau cara pengucapan huruf-huruf tersebut, seperti takhfif
(meringankan), tatsqil (memberatkan), dan atau yang lainnya. [Dr. Rosihin Anwar, Ulumul
Quran, Bandung, Pustaka Setia, 2006, hlm 147]
3. Menurut Ibn al-Jazari, Qiraat adalah pengetahuan tentang cara-cara melafalkan kalimat AlQuran dan perbedaannya dengan menyandarkan kepada penukilnya. [ Tim Penyusun MKD,
Studi Al-Quran, Surabaya, IAIN Sunan Ampel Press, 2011, hlm 193]
4. Menurut al-Qasthalani , qiraat adalah suatu ilmu yang mempelajari hal-hal yang disepakati
atau diperselisihkan ulama yang menyangkut persoalan lughat, hadzaf, Irab, itsbat, fashl, dan
washl yang kesemuanya diperoleh secara periwayatan. [Dr. Rosihin Anwar, Ulumul Quran,
Bandung, Pustaka Setia, 2006, hlm 147]
B.

LATAR BELAKANG TIMBULNYA PERBEDAAN QIRAAH

1. Latar Belakang Historis


Ada dua perbedaan pendapat yang memepermasalahkan tentang kapan tepatnya qiraat itu
diturunkan, pendapat itu antara lain :
-Qiraat mulai diturunkan di Makkah bersamaan dengan turunnya al-Quran. Alasannya adalah
bahwa sebagian besar surat-surat al-Quran adalah Makkiyah di mana terdapat juga di dalamnya
qiraat sebagaimana yang terdapat pada surat-surat Madaniyah. Hal ini menunjukkan bahwa
qiraat itu sudah mulai diturunkan sejak di Makkah. [Tim Penyusun MKD, Studi Al-Quran,
Surabaya, IAIN Sunan Ampel Press, 2011, hlm. 196]
-Qiraat mulai diturunkan di Madinah sesudah peristiwa Hijrah, di mana orang-orang yang
masuk Islam sudah banyak dan saling berbeda ungkapan bahasa Arab dan dialeknya. Pendapat
ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Nasai, Turmudhi, Abu
Daud, dan Malik meriwayatkan dari Umar ibn Khattab, bahwa Rasulullah bersabda :
Bahwa sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan atas tujuh huruf (bacaan), maka bacalah yang
kalian anggap mudah dari ketujuh bacaan tersebut. [ Tim Penyusun MKD, Studi Al-Quran,
Surabaya, IAIN Sunan Ampel Press, 2011, hlm. 196]
Dan seperti yang kita tahu periodesasi qurro telah ada sejak masa sahabat hingga masa tabiin.
Orang-orang yang ahli Quran menerimanya dari orang-orang yang dapat dipercaya, dan orang-

orang yang dapat dipercaya tersebut mendapatkannya dari imam, dan dari imam
mendapatkannya dari sahabat, hingga akhirnya semuanya berasal dari Rasulullah
SAW.Sedangkan mushaf-mushaf tersebut tidaklah bertitik dan berbaris, dan bentuk kalimat di
dalamnya mempunyai beberapa kemungkinan berbagai bacaan. [M. Ali Ash-Shabuny, Pengantar
Studi Al-Quran, Bandung, PT. Almarif, 1984, hlm. 317]
Periwayatan dan Talaqqi ( si guru membaca dan murid mengikuti bacaan tersebut) dari orangorang yang thiqqah dan dipercaya merupakan kunci utama pengambilan qiraat al-Quran secara
benar dan tepat sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya [ Tim
Penyusun MKD, Studi Al-Quran, Surabaya, IAIN Sunan Ampel Press, 2011, hlm 197] Diantara
sahabat yang populer dengan bacaannya adalah : Ubay, Aly, Zaid ibnu Tsabit, Ibnu Masud, Abu
Musa Al-Asyary, dan lain-lain. [M. Ali Ash-Shabuny, Pengantar Studi Al-Quran, Bandung, PT.
Almarif, 1984, hlm. 317]
Para sahabat dalam hal pengambilan qiraah sendiri dari Rasulullah berbeda-beda, ada yang
membaca satu huruf, ada yang dua huruf/bacaan, ada pula yang lebih. Kemudian mereka
berpencar ke daerah-daerah dengan keadaan bahwa qiraat mereka berbeda satu sama lain,
mereka menyebarluaskannya kepada tabiin. Sehingga terjadilah perbedaan qiraah masingmasing tabiin karena mereka mengambil qiraah dari sahabat yang berebeda pula.
Keadaan ini terus berlangsung sehingga muncul para imam qiraat yang termashur, yang
mengkhususkan diri dalam qiraah-qiraah tertentu dan mengajarkan qiraah mereka masingmasing. [Tim Penyusun MKD, Studi Al-Quran, Surabaya, IAIN Sunan Ampel Press, 2011, hlm
199]
Itulah sejarah timbulnya qiroah dan macam-macamnya sekalipun ada perbedaan, itu hanya
berkisar pada hal yang ringan dibanding dengan jumlah yang disepekatinya, sebagimana
dimaklumi. Dan perbedaan ini masih dalam batasan-batasan huruf sabah di mana Al-Quran
diturunkan dari Allah.[M. Ali Ash-Shabuny, Pengantar Studi Al-Quran, Bandung, PT. Almarif,
1984, hlm. 318]
Perkembangan selanjutnya ditandai dengan munculnya masa pembukuan ilmu qiraat. Kata
Sayuthy, orang pertama yang mengarang masalah qiraat ialah Abu Ubaid Al Qain bin Salim,
sudah itu Abu Jafar bin Jarir At Thabariy, sudah itu Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin
Umar Al Dajuniy, sudah itu Abubakar bin Mujahid, sudah itu ada orang-orang lain baik yang
hidup di masanya maupun sesudahnya menyusun bermacam-macam jama dan mufrad,
meringkaskan dan memperluas. Kini ahli-ahli qiraat itu tidak terhitung-hitung jumlahnya.
[Manaul Quthan, Pembahasan Ilmu Al-Quran, Jakarta, Rineka Cipta, 1993, hlm.190]
2. Latar Belakang Cara Penyampaian (kafiyat al ada)
Perbedaan qiraat dilihat dari segi cara penyampaian ada beberapa perbedaan. Hal ini terjadi
akibat salah satu atau beberapa sebab berikut : [Kamaluddin Marzuki, Ulum Al-Quran,
Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 1992, hlm110]

Perbedaan dalam irab atau harakat kalimat tanpa perubahan makna dan bentuk kalimat.
Misalnya pada firman Allah yang berbunyi :
...mereka yang kikir dan menyuruh orang yang berlaku kikir... (Q.S. Ali Imran ayat 180)
Kata yang berarti kikir di sini bisa dibaca fathah pada huruf Ba-nya sehingga menjadi bi albakhli, bisa pula dibaca dengan dhammah pada huruf Ba-nya sehingga menjadi bi al-bukhli.
Perbedaan pada irab dan harakat (baris) kalimat sehingga mengubah maknanya. Misalnya
pada firman Allah yang berbunyi :
...Wahai Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami (Q.S Saba ayat 19)
Kata yang diterjemahkan menjadi jauhkanlah di atas adalah kata karena statusnya sebagai
Fiil Amar. Boleh juga dibaca yang berarti kedudukannya menjadi Fiil Madhi, sehingga bila
diIndonesiakan, kata itu menjadi jauh.
Perbedaan pada perubahan huruf tanpa berubah irab dan bentuk tulisannya, sementara
maknanya berubah. Misalnay firman Allah:
..Lihatlah tulang belulang, bagaimana Kami menyusunnya kembali.(Q.S. Al-Baqarah, ayat 259)
Kata ( Kami menyusunnya kembali) yang ditulis dengan huruf Zay diganti dengan huruf
Ra ( )sehingga menjadi berbunyi yang berarti Kami hidupkan kembali.
Perubahan pada kalimat dengan perubahan pada bentuk tulisannya, tetapi tanpa perubahan
maknanya. Misalnya pada firman Allah:
Dan gunung-gunung bagaikan bulu-bulu yang bertebaran..(Q.S. Al-Qariah ayat 5)
Beberapa qiraat mengganti kata dengan
, sehingga yang mulanya bermakan bulubulu berubah menjadi bulu-bulu domba. Perubahan seperti ini, berdasarkan ijma ulama tidak
dibenarkan, karena bertentangan dengan Mushhaf Utsmaniy.
Perbedaan pada kalimat di mana bentuk dan maknanya berubah pula. Misalnya pada kata:
menjadi
Perbedaan pada mendahulukan kata dan mengakhirinya. Misalnya pada firman Allah yang
berbunyi:
Dan datanglah sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya (Q.S. Qaf, ayat 19)
Konon, menurut suatu riwayat, Abu Bakar pernah membacanya menjadi: . Abu Bakar menggeser
kata Al-Maut ke belakang, sementara kata Al-Haq ia majukan ke tempat yang ia geser ke
belakang. Setelah mengalami pergeseran ini, bila kalimat itu diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia menjadi Dan datanglah sekarat yang benar-benar dengan kematian. Qiraat
semacam ini, juga tidak bisa dipakai, karena jelas menyalahi ketentuan yang berlaku.

Perbedaan dengan menambah atau mengurangi huruf, seperti pada firman Allah:

Kata dalam ayat ini dibuang. Dan pada ayat serupa yang tanpa justru ditambah.
C. PENYEBAB PERBEDAAN QIRAAT
Sebab-sebab munculnya beberapa qiraat yang berbeda, antara lain :
1. Perbedaan qiraat nabi, artinya dalam mengajarkan al-Quran kepada para sahabatnya, nabi
memakai beberapa versi qiraat. Misalnya nabi pernah membaca surat as-Sajadah ayat 17 sebagai
berikut :
Pada kata ()dalam ayat ini, nabi membaca dengan ta ( ) biasa.
[http://pintania.wordpress.com/qiraatul-quran/]
2. Pengakuan dari nabi terhadap berbagai qiraat yang berlaku di kalangan kaum muslimin
waktu itu, hal ini menyangkut dialek di antara mereka dalam mengucapkan kata-kata di dalam
al-Quran. Contohnya ketika seorang Hudzail membaca di hadapan Rasul atta hin. Padahal ia
menghendaki hatta hin ( [Dr. Rosihin Anwar, Ulumul Quran, Bandung, Pustaka Setia, 2006,
hlm 157]
3. Adanya lahjah atau dialek kebahasaan di kalangan bangsa arab pada masa turunnya alQuran. [Ibid, hlm.157]
4.

Perbedaan syakh, harakah atau huruf. Contohnya pada surat al-Baqarah ayat 222.

Kata yang digaris bawahi bisa dibaca yathurna dan bisa dibaca yatthoh-har-na. jika dibaca
qiraat pertama, maka berarti : dan jangalah kamu mendekati mereka (istri-istrimu) sampai
mereka suci (berhenti dari haidh tanpa mandi terlebih dahulu). Sedangkan qiraat kedua berarti:
dan janganlah kamu mendekati mereka (istri-istrimu) sampai mereka bersuci (berhenti dari
haidh dan telah mandi wajib terlebih dahulu.[http://pintania.wordpress.com/qiraatul-quran/]

D.

SYARAT-SYARAT SAHNYA QIRAAT DAN MACAM-MACAM QIRAAT

1. Syarat-syarat Sahnya Qiraat


Sebelum kita mengetahui macam-macam qiraat, kita perlu mengetahui syarat-syarat sahnya
qiraat yang menentukan diterima atau tidaknya sebuah qiraat.
Kriteria atau syarat-syaratnya adalah sebagai berikut : [Kamaluddin Marzuki, Ulum Al-Quran,
Bandung, PT Remaja Rosdakarya,1992, hlm. 106]
a. Mutawattir, yaitu qiraat yang diturunkan dari beberapa orang dan tidak mungkin terjadi
kebohongan.
b. Sesuai dengan kaidah bahasa Arab.
c. Sesuai dengan tulisan Mushhaf Utsman.
d. Mempunyai sanad yang sahih.

2. Macam-macam Qiraat
a. Macam-macam Qiraat dari Segi Kuantitas atau Jumlah [M. Aly Ash-Shabuny, Pengantar
Studi Al-Quran, Bandung, PT. Almaarif, 1996, hlm. 320]
Qiraat Sabah (Qiraat Tujuh)
Qiraat sabah (tujuh) adalah qiraat yang dinisbatkan kepada imam yang tujuh dan terkenal,
yaitu :Nafi, Ashim, Hamzah, Abdullah bin Amir, Abdullah ibnu Katsir, Abu Amer ibnu Ala
dan Ali Al-Kisaiy.
Qiraat Asyar (Qiraat Sepuluh)
Qiraat asyar adalah qiraat yang tujuh ditambah dengan qiraat, Abi Jafar, Yacub, dan Khalaf.
Qiraat Arba Asyar (Qiraat Empat Belas)
Qiraat arba asyar yaitu qiraat yang sepuluh ditambah dengan empat qiraat; Hasan Al-Bashry,
Ibnu Mahish, Yahya Al-Yazidy, dan Asy-Syambudzy.
b. Macam-macam Qiraat dari Segi Kualitas
Qiraat Mutawattir
Qiraat mutawattir adalah qiraat yang diriwayatkan oleh orang banyak yang tidak mungkin
terjadi kesepakatan di antara mereka untuk berbuat kebohongan. [Tim Penysun MKD, Studi AlQuran, Surabaya, IAIN Sunan Ampel Press, 2011, hlm. 202] Qadhi Jalaluddin Al-Bulqiny
menyatakan bahwa qiraat tujuh adalah qiraat mutawattir.
Qiraat Masyhur
Qiraat masyhur adalah qiraat yang sanadnya sahih karena diriwayatkan oleh tokoh yang adil,
dhabith (memepunyai ketelitian tulisan atau hafalan yang baik), sesuai dengan kaidah bahasa
Arab dan sesuai dengan tulisan Mushhaf Utsman. Selain itu, qiraat bisa dikatakan masyhur juga
mempunya riwayat yang berasal dari qari yang tsiqat, dan qari yang terkenal di kalangan para
qari lainnya. Yang membedakan qiraat masyhur dan qiraat mutawattir hanya pada derajatnya
yang tidak memenuhi kriteria riwayat yang mutawattir. [Kamaluddin Marzuki, Ulum Al-Quran,
Bandung, PT Remaja Rosdakarya,1992, hlm. 108] Misalnya ialah qiraat yang diperdebatkan
periwayatannya dari imam qiraat sabah, di mana sebagian ulama meyakini bahwa qiraat itu
diriwayatkan dari salah satu imam qiraat sabah dan sebagian lagi mengatakan bukan dari
mereka. Qiraat mutawattir dan qiraat masyhur boleh digunakan dalam membaca Al-Quran dan
shalat.
Qiraat Ahad
Qiraat Ahad yaitu tidak sah sanadnya. Berlain-lainan bentuk hurufnya. Atau tidak karuan bahasa
Arabnya, atau tidak termasyhur. Yang begini tidak boleh dibaca.
Qiraat Shaz
Qiraat Shaz adalah qiraat yang sanadnya tidak sahih. Yakni tidak memenuhi persyaratan yang
diminta untuk keabsahan sebuah qiraat. Misalnya tidak mutawattir, atau tidak sesuai dengan

kaidah bahasa Arab, atau tidak sesuai dengan tulisan Mushhaf Utsman. [Ibid, hlm 108] Qiraat
ini tidak boleh digunakan dalam membaca Al-Quran maupun dalam shalat.
Qiraat Maudhu
Qiraat ini hanya dinisbatkan kepada orang yang mengucapkannya tanpa asal-usul yang pasti dan
bahkan tanpa asal-usul sama sekali. Misalnya qiraat yang dikumpulkan oleh Muhammad bin
Jafar al-Khuzai dan ia mengatakannya bersumber dari Abu Hanifah, padahal bukan. [Ibid,
hlm.109] Ini juga tidak boleh digunakan dalam membaca Al-Quran maupun dalam shalat.
Qiraat Shabih bi al-Mudraj
Qiraat Shabih bi al-Mudraj adalah qiraat yang menyerupai kelompok Mudraj dalam hadith,
yakni qiraat yang telah memperoleh sisipan atau tambahan kalimat yang merupakan tafsir dari
ayat tersebut. Contohnya bacaan qiraat Ibnu Abbas. [Tim Penysun MKD, Studi Al-Quran,
Surabaya, IAIN Sunan Ampel Press, 2011, hlm. 204] Qiraat ini juga tidak dapat digunakan
dalam membaca Al-Quran maupun shalat.
c. Macam-macam Qiraat Berdasarkan Kemuttawattiran Qiraat [Ibid, hlm 204-205]
Qiraat yang telah disepakati kemuttawattirannya tanpa ada perbedaan pendapat di antara
para ahli qiraat, yaitu para imam qiraat yang tujuh orang (Qiraat Sabah)
Qiraat yang diperselisihkan oleh para ahli qiraat tentang kemuttawattirannya, namun
menurut pendapat yang sahih dan mashhur, bahwa qiraat tersebut meuttawattir, yaitu qiraat
para imam qiraat yang tiga (Imam Abu Jafar, Imam Yaqub, dan Imam Khalaf).
Qiraat yang disepakati ketidakmuttawattirannya (qiraat shaz), yaitu qiraat selain dari
qiraat para imam yang sepuluh (qiraat Asharah).
Seperti halnya di dalam menetapkan hukum syara ulama beristinbathkepada riwayat-riwayat
yang bersanad sahih, demikian pula di dalam penerimaan sebuah qiraat. Sesuatu qiraat hanya
bisa diterima apabila terbukti bernarasumber (diambil dari sumber utama) dari generasi
sebelumnya melalui belajar membaca qiraat tersebut-cara ini dikenal dengan istilah
musyafahah, mendengar, sehingga sanad-nya benar-benar menyambung dengan sahabat
Rasulullah SAW yang mengambil (belajar) qiraat pada Rasulullah SAW. Dengan sanad
meyambung ini dengan Rasulullah ini membuat para ulama menganggap qiraat-qiraat yang
dapat diterima itu tauqifiy. Artinya bukan dibikin oleh tokoh tertentu dan bahkan buatan
Rasulullah sendiri. Tetapi datang dari dan sesuai dengan yang diajarkan Allah kepada Rasulullah
melalui Jibril a.s.[Kamaluddin Marzuki, Ulum Al-Quran, Bandung, PT Remaja
Rosdakarya,1992, hlm. 106]
Dengan diyakininya qiraat sebagai sesuatu yang tauqifiy, maka anggapan qiraat itu ikhtiariyah
(ditetapkan melalui prose ijtihad) tidak dapat diterima oleh ulama-ulama qiraat. Mereka
mebantah, misalnya anggapan Al-Zamakhasyariy yang mengatakan bahwa qiraat merupakan
produk tokoh-tokoh yang fasih membaca Al-Quran dan mempunyai kemampuan berbahasa
yang baik. [Ibid, hlm. 106]

E. MANFAAT ADANYA PERBEDAAN QIRAAT [Tim Penysun MKD, Studi Al-Quran,


Surabaya, IAIN Sunan Ampel Press, 2011, hlm. 213]
1. Meringankan umat Islam dan memudahkan mereka untuk membaca Al-Quran.
2. Menunjukkan betapa terjaganya dan terpeliharanya Al-Quran dari perubahan dan
penyimpanagn, padahal kitab ini mempunyai banyak segi bacaan yang berbeda-beda.
3. Dapat menjelaskan hal-hal yang mungkin masih global atau samar dalam qiraat lain, baik
qiraat itu mutawattir, mashhur, ataupun shadh.
4. Bukti kemukjizatan Al-Quran dari segi kepadatan maknanya, karena setiap qiraat
menunjukkan suatu hukum syara tertentu tanpa perlu adanya pengulangan lafaz.
5. Meluruskan aqidah sebagian orang yang salah.
6. Mendukung autentisitas Al-Quran, karena akan terhindar dari cara baca yang menyimpang.
7. Perbedaan qiraat bisa berakibat pada perbedaan huruf, bentuk kata, susunan kalimat, irab,
penambahan dan pengurangan kata yang melahirkan perbedaan makna dan pengaruhnya kepada
hukum yang diproduksinya.
8. Fleksibilitas terhadap pembacaan Al-Quran oleh Nabi SAW pada masanya antara lain
dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Karena itu pada masa kinipun, fleksibilitas
yang sama harus tersedia dalam pemahaman dan penafsiran firman Tuhan sejalan dengan
kebutuhan Muslim saat ini.
F. KETERKAITAN QIROATUL QURAN TERHADAP ISTINBATH HUKUM
Istinbath hukum dapat diartikan sebagai upaya melahirkan ketentuan-ketentuan hukum baik
dalam Al-Quran maupun Sunnah. Hal ini tidak terlepas dari ayat-ayat hukum dalam Al-Quran.
Ayat-ayat hukum ialah ayat-ayat Al-Quran yang mengatur dan berkaitan dengan tingkah laku
dan perbuatan manusia secara lahir. Ada ayat-ayat hukum yang termasuk ibadah yaitu yang
mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT dan ada ayat hukum yang termasuk muamalah
yaitu mengatur hubungan manusia dengan manusia lain secara horisontal.
[http://dewinina.wordpress.com/2008/11/22/ilmu-qiraat/]
Perbedaan qiraat seperti yang kita tahu bisa disebabkan oleh perbedaan huruf, bentuk kata,
susunan kalimat, irab, penambahan dan pengurangan kata. Yang pada akhirnya perbedaanperbedaan itu menyebabkan pula perbedaan arti yang berpengaruh terhadap istinbath hukum.
Misal perbedaan qiraat pada surat Al-Maidah ayat 6:
Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai dengan siku dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan
kedua mata kaki
Berdasarkan ayat di atas, sebagian ulama memahami wajib membasuh kedua kaki dan sebagian
lain membedakan dengan menyapunya. Nadi, Ibnu Amr, dan Al Kisai membaca dengan

nasb (fathah lam). Sedangkan Ibnu Katsir, Abu Amir, dan Hamzah membaca dengan jarr (kasrah
lam).
Dengan demikian dapat dikatakan besarnya pengaruh perbedaan qiraat dalam proses penetapan
hukum. Sebagian qiraat berfungsi sebagai penjelasan kepada ayat yang mujmal (bersifat global)
menurut qiraat lain atau penafsiran dan penjelasan terhadap maknanya. Bahkan, tidak jarang,
perbedaan qiraat menimbulkan perbedaan penetapan hukum di kalangan ulama. Menurut
Musthafa Said Al-Khinn penyebab pertama timbulnya perbedaan pendapat para ulama adalah
qiraat. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tentang berbagai qiraat sangat
perlu bagi seorang yang akan mengistinbath hukum dan menafsirkan ayat-ayat Alquran.
[http://dewinina.wordpress.com/2008/11/22/ilmu-qiraat/]

BAB III
KESIMPULAN
Dari penjelasan-penejlasan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan tentang Qiraatul Quran,
antara lain :
1. Qiraatul Quran memiliki definisi yaitu salah satu cabang ilmu Al-Quran yang berarti
perbedaan cara melafadzkan Al-Quran baik perbedaan menyangkut hurufnya maupun cara
melafadzkan huruf-huruf di dalam Al-Quran.
2. Latar belakang timbulnya perbedaan qiraat ada dua macam yaitu:
a. Latar belakang historis
b. Latar belakang cara penyampaiannya
3. Penyebab perbedaan qiraat ada beberapa macam, yaitu :
a. Perbedaan qiraat nabi, artinya dalam mengajarkan al-Quran kepada para sahabatnya, nabi
memakai beberapa versi qiraat.
b. Pengakuan dari nabi terhadap berbagai qiraat yang berlaku di kalangan kaum muslimin
waktu itu, hal ini menyangkut dialek di antara mereka dalam mengucapkan kata-kata di dalam
al-Quran.
c. Adanya lahjah atau dialek kebahasaan di kalangan bangsa arab pada masa turunnya alQuran.
d. Perbedaan syakh, harakah atau huruf.
4.

Syarat-syarat sahnya qiraat, yaitu :

a. Mutawattir, yaitu qiraat yang diturunkan dari beberapa orang dan tidak mungkin terjadi
kebohongan.
b. Sesuai dengan kaidah bahasa Arab.
c. Sesuai dengan tulisan Mushhaf Utsman.
d. Mempunyai sanad yang sahih.
5.
a.

Macam-macam Qiraat, antara lain:


Menurut jumlahnya :
Qiraat Sabah (Qiraat Tujuh)
Qiraat Asyar (Qiraat Sepuluh)
Qiraat Arba Asyar (Qiraat Empat Belas)

b.

Menurut kualitasnya :
Qiraat Mutawattir
Qiraat Masyhur
Qiraat Ahad
Qiraat Shadz
Qiraat Maudhu
Qiraat Shabih bi al-Mudraj

c. Qiraat Berdasarkan Kemuttawattiran Qiraat


Qiraat yang telah disepakati kemuttawattirannya tanpa ada perbedaan pendapat di antara
para ahli qiraat.
Qiraat yang diperselisihkan oleh para ahli qiraat tentang kemuttawattirannya, namun
menurut pendapat yang sahih dan mashhur, bahwa qiraat tersebut mutawattir.

Qiraat yang disepakati ketidakmuttawattirannya (qiraat shaz).


6. Manfaat Perbedaan Qiraat
a. Meringankan umat Islam dan memudahkan mereka untuk membaca Al-Quran.
b. Menunjukkan betapa terjaganya dan terpeliharanya Al-Quran dari perubahan dan
penyimpanagn, padahal kitab ini mempunyai banyak segi bacaan yang berbeda-beda.
c. Dapat menjelaskan hal-hal yang mungkin masih global atau samar dalam qiraat lain, baik
qiraat itu mutawattir, mashhur, ataupun shadh.
d. Bukti kemukjizatan Al-Quran dari segi kepadatan maknanya, karena setiap qiraat
menunjukkan suatu hukum syara tertentu tanpa perlu adanya pengulangan lafaz.
e. Meluruskan aqidah sebagian orang yang salah.
f. Mendukung autentisitas Al-Quran, karena akan terhindar dari cara baca yang menyimpang.
g. Perbedaan qiraat bisa berakibat pada perbedaan huruf, bentuk kata, susunan kalimat, irab,
penambahan dan pengurangan kata yang melahirkan perbedaan makna dan pengaruhnya kepada
hukum yang diproduksinya.
h. Fleksibilitas terhadap pembacaan Al-Quran oleh Nabi SAW pada masanya antara lain

dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Karena itu pada masa kinipun, fleksibilitas
yang sama harus tersedia dalam pemahaman dan penafsiran firman Tuhan sejalan dengan
kebutuhan Muslim saat ini.
7. Keterkaitan Qiraat terhadap Istinbath Hukum
Perbedaan antara satu qiraat dan qiraat lainnya bisa terjadi pada perbedaan huruf, bentuk katam
susunan kalimat, Irab, penambahan dan pengurangan kata. Perbedaan-perbedaan ini sudah tentu
memiliki sedikit atau banyak perbedaan makna yang selanjutnya berpengaruh terhadap hukum
yang diistinbathkannya.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya. Studi Al-Quran. Surabaya : IAIN Sunan
Ampel Press. 2011
Marzuki, Kamaluddin. Ulum Al-Quran. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 1992
Quthan, Manaul. Pembahasan Ilmu Al-Quran I. Jakarta : Rineka Cipta. 1993
Ash-Shabuny, M. Ali. Pengantar Studi Al-Quran. Bandung : PT Almaarif. 1984
Anwar, Rosihin.Ulumul Quran, Bandung: Pustaka Setia. 2006
http://pintania.wordpress.com/qiraatul-quran/
http://dewinina.wordpress.com/2008/11/22/ilmu-qiraat/