Anda di halaman 1dari 18

REFERAT

KATETERISASI URETRA

Disusun Oleh :
OLIMVIA DWI JULANDA, S. Ked
Pembimbing :
DR. WAHYU PRABOWO, SP. B
KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA
SURABAYA
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kateterisasi uretra merupakan salah satu tindakan untuk membantu eliminasi urin maupun

ketidakmampuan melakukan urinasi. . Kateterisasi uretra adalah memasukan kateter ke dalam


kandung kemih melalui uretra. Foley membuat kateter menetap pada tahun 1930, kateter tersebut
dapat ditinggalkan menetap untuk jangka waktu terentu karena didekat ujungnya terdapat balon
yang dikembangkan sehingga mencegah kateter terlepas dari kandung kemih. Kateter foley

sampai saat ini masih dipakai secara luas didunia sebagai alat untuk mengeluarkan urin dari
kandung kemih (Purnomo, 2003).
Banyak pasien merasa cemas, takut akan rasa nyeri dan ketidaknyamanan dalam
menghadapi kateterisasi urin. Merekaterlihat emosional menghadapi tindakan-tindakan
pengobatan maupun perawatan terlebih yang berhubungan dengan daerah urogenital yang
dimana kateter menembus masuk kedalam tubuh (Ellis et al, 1996). Philadelphia Menurut
penelitian di Amerika, dari 54 pasien di rumah sakit maupun homecare yang terpasang kateter
indwelling, 72% di antaranya mengalami beberapa komplikasi, antara lain terjadi blocking atau
penyumbatan sehingga aliran urin terganggu, 37% di antaranya mengalami kebocoran urin di
sekitar kateter dan 30% mengalami hematuria. Begitu juga pada pasien yang terpasang kateter
uretra dalam jangka waktu lama (melebihi 3 bulan). (Ockmore K. et al cit Madigan et al, 2003).
Individu yang sehat yang memiliki kandung kemih normal, sisa-sisa metabolisme dibuang keluar
selama berkemih. Berkemih adalah pengeluaran urin dari tubuh, berkemih terjadi sewaktu
sfingter uretra internal dan eksternal di dasar kandung kemih berelaksasi. Derajat regang yang
dibutuhkan untuk menghasilkan efek ini bervariasi diantara individu, beberapa individu dapat
mentoleransi distensi lebih besar tanpa rasa tidak nyaman (Gibson, 2002). Urin yang tidak dapat
dieliminasi secara alamiah dan harus dialirkan keluar, maka kateter dapat langsung dipasang ke
dalam kandung kemih, ureter atau pelvis ginjal. Kateter dapat menjadi tindakan yang
menyelamatkan jiwa, khususnya bila traktus urinarius tersumbat atau pasien tidak dapat
melakukan urinasi
1.2

Tujuan :
Tujuan pembuatan refrat

ini adalah untuk mengetahui definisi kateter, anatomi uretra dan

kandung kemih, Indikasi dan kontraindikasi kateter, jenis-jenis kateter, Pemasangan kateter.

BAB II
ANATOMI

Gambar 1. Anatomi vesika urinaria


2.1 Vesica Urinaria (Kandung Kemih):
Vesika urinaria (kandung kemih) dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet,
terletak di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul.Berfungsi tuk menampung urine
sampai kurang lebih 230-300 ml. Organ ini dapat mengecil atau membesar sesuai isi urine yang
ada. Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan
dengan ligamentum vesika umbilikalis medius.
Bagian vesika urinaria terdiri dari:

Fundus yaitu, bagian yang menghadap ke arah belakang dan bawah, bagian ini terpisah dari
rektum oleh spatium rectovesikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferen, vesika

seminalis dan prostat.


Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
Verteks, bagian yang mancung ke arah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika
umbilikalis.
Dinding kandung kemih terdiri dari lapisan sebelah luar (peritonium), tunika muskularis

(lapisan otot), tunika submukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam). Pembuluh limfe
vesika urinaria mengalirkan cairan limfe ke dalam nadi limfatik iliaka interna dan eksterna.

Lapisan otot vesika urinaria

Lapisan otot vesika urinaria terdiri dari otot polos yang tersusun dan saling berkaitan dan
disebut m. detrusor vesikae. Peredaran darah vesika urinaria berasal dari arteri vesikalis superior
dan inferior yang merupakan cabang dari arteri iliaka interna. Venanya membentuk pleksus
venosus vesikalis yang berhubungan dengan pleksus prostatikus yang mengalirkan darah ke vena
iliaka interna.

Persarafan vesika urinaria


Persarafan vesika urinaria berasal dari pleksus hipogastrika inferior. Serabut ganglion

simpatikus berasal dari ganglion lumbalis ke-1 dan ke-2 yang berjalan turun ke vesika urinaria
melalui pleksus hipogastrikus. Serabut preganglion parasimpatis yang keluar dari nervus
splenikus pelvis yang berasal dari nervus sakralis 2, 3 dan 4 berjalan melalui hipogastrikus
inferior mencapai dinding vesika urinaria.

Sebagian besar serabut aferen sensoris yan g keluar dari vesika urinaria menuju sistem
susunan saraf pusat melalui nervus splanikus pelvikus berjalan bersama saraf simpatis melalui
pleksus hipogastrikus masuk kedalam segmen lumbal ke-1 dan ke-2 medula spinalis.

Gambar 2. Anatomi Uretra laki-laki


2.2 Uretra Laki-laki
Pad laki-laki uretra berjalan berkelok kelok melalaui tengah-tengah prostat kemudian
menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang fubis ke bagian penis panjangnya berbentuk
pipa, panjang 17-22,5 cm, sebagai saluran pengeluaran urine yang telah ditampung di dalam
vesica urinaria (kandung kencing) ke luar badan (dunia luar) dan saluran semen. Uretra pada
laki-laki terdiri dari:
a. Uretra prostatia
b. Uretra membranosa
c. Uretra kevernosa
Lapisan uretra laki-laki terdiri lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan
submukosa.
Uretra mulai dari orifisium uretra interna di dalam vesika urinaria sampai orifisium
eksterna. Pada penis panjangnya 17,5-20 cm yang terdiri dari bagian-bagian berikut:

Uretra prostatika merupakan saluran terlebar panjangnya 3 cm, berjalan hampir


vertikulum melalui glandula prostat , mulai dari basis sampai ke apaks dan lebih dekat ke
permukaan anterior.
Uretra pars membranasea ini merupakan saluran yang paling pendek dan paling dangkal,
berjalan mengarah ke bawah dan ke depan di antara apaks glandula prostata dan bulbus uretra.
Pars membranesea menembus diagfragma urogenitalis, panjangnya kira-kira 2,5 cm, di belakang
simfisis pubis diliputi oleh jaringan sfingter uretra membranasea. Di depan saluran ini terdapat
vena dorsalis penis yang mencapai pelvis di antara ligamentum transversal pelvis dan
ligamentum arquarta pubis.
Uretra pars kavernosus merupakan saluran terpanjang dari uretra dan terdapat di dalam
korpus kavernosus uretra, panjangnya kira-kira 15 cm, mulai dari pars membranasea sampai ke
orifisium dari diafragma urogenitalis. Pars kavernosus uretra berjalan ke depan dan ke atas
menuju bagian depan simfisis pubis. Pada keadaan penis berkontraksi, pars kavernosus akan
membelok ke bawah dan ke depan. Pars kavernosus ini dangkal sesuai dengan korpus penis 6
mm dan berdilatasi ke belakang. Bagian depan berdilatasi di dalam glans penis yang akan
membentuk fossa navikularis uretra.
Oriifisium uretra eksterna merupakan bagian erektor yang paling berkontraksi berupa
sebuah celah vertikal ditutupi oleh kedua sisi bibir kecil dan panjangnya 6 mm. glandula uretralis
yang akan bermuara ke dalam uretra dibagi dalam dua bagian, yaitu glandula dan lakuna.
Glandula terdapat di bawah tunika mukosa di dalam korpus kavernosus uretra (glandula pars
uretralis). Lakuna bagian dalam epitelium. Lakuna yang lebih besar dipermukaan atas di sebut
lakuna magma orifisium dan lakuna ini menyebar ke depan sehingga dengan mudah
menghalangi ujung kateter yang dilalui sepanjang saluran. (Putz,R & Pabst,R 1996 Sobotta ,
Williams, P.L 1995 Grays anatomy )

Gambar 3. Uretra Wanita


2.3 Uretra Wanita :
Uretra pada wanita terletak di belakang simfisis pubis berjalan miring sedikit ke arah atas, Pipa
saluran ini mempunyai panjang 3-4 cm yang hanya berfungsi untuk pengeluaran urine, dimulai
dari orificium urethra internum dengan m. sphincter vesicae dan berakhir pada ostinum urethra
eksternum yang bermuara di sebelah ventrocaudal dari vestibulum vaginae di
linea mediana. Vestibulum vaginae merupakan ruangan yang dibatasi kanan-kiri oleh labia
minora, ventrocranial oleh frenulurn clitoridis dan dorsocaudal oleh frenulum labiorum
minorum. Introitus vaginae (ostium vaginae) terletak tepat ventrocranial dari frenulum
labiorum minorum. Dindingnya terdiri atas tunica muscularis dan tunica mucosa. Tunica
muscularis merupakan serabut otot melingkar lanjutan stratum circulare m. sphinter vesica.
Tunica mucosa mempunyai plicae longitudinales. Epithelium dekat dengan orificium urethrae
internum bersifat transisionil dan ke distal menjadi epitheluim columnare. Ke dalam urethra
bermuara glandulae urethrales yang terdapat di dalam epithel dan merupakan lacunae. Di dalam
tela submucosa terdapat serabut-serabut kenyal dan banyak venae. Glandulaeparaurethrales
bermuara di kanan dan kiri dari orificium urethre eksternum.Saluran uretra perempuan pada

posisi tidur (supinasi) mempunyai kedudukan mendekati sudut lurus dari vestibulum vaginae ke
vesicae urinaria. (Putz,R & Pabst,R 1996 Sobotta , Williams, P.L 1995 Grays anatomy )
2.4 Dinding uretra terdiri dari 3 lapisan :
a) Lapisan otot polos, merupakan kelanjutan otot polos dari Vesika urinaria mengandung
b) jaringan elastis dan otot polos. Sphincter urethra menjaga agar urethra tetap tertutup.
c) Lapisan submukosa, lapisan longgar mengandung pembuluh darah dan saraf.
d) Lapisan mukosa.

a)
b)
c)
d)

Dinding kandung kemih terdiri dari:


Lapisan sebelah luar (peritoneum).
Tunika muskularis (lapisan berotot).
Tunika submukosa.
Lapisan mukosa (lapisan bagian dalam)
(Putz,R & Pabst,R 1996 Sobotta , Williams, P.L 1995 Grays anatomy )

BAB III
KATETERISASI URETRA
3.1 Definisi
Kateter adalah selang yang dimasukkan ke dalam kandung kemih untuk mengalirkan
urine. Kateter ini biasanya dimasukkan melalui uretra kedalam kandung kemih, namun metode
lain yang disebut pendekatan suprapubik, dapat digunakan (Marrelli, 2007, p.265).
3.2 Indikasi pemasangan kateter:
Diagnostik :
o Mengambil sample urin untuk kultur urin
o Mengukur residu urine
o Memasukan bahan kontras untuk pemeriksaan radiology
o Urodinamik
o Monitor produksi urine atau balance cairan.
o Mengukur urin yg keluar pada situasi kegawatandaruratan atau saat operasi
o Drainase pascaoperatif pada kandung kemih, darah vagina atau prostat.

Terapi :
o Retensi urine
o Self interniten kateterisasi (CIC)
o Memasukan obat-obatan kedalam kandung kemih
o Viversi urine
o Sebagai splin
3.3 Kontraindikasi :
Kontraindikasi mutlak pada kateterisasi uretra adalah jejas pada uretra, apakah dicurigai atau
terkofirmasi. Injury atau jejas pada uretra biasanya terjadi pada pasien yang mengalami trauma
yang berhubungan dengan pelvis atau pasien dengan patah tulang pelvis, pengukuran urin yang
keluar pada situasi kegawatdaruratan atau saat operasi. Pada pemeriksaan fisik ditemukan darah
pada meatus uretra dan gross hematuri untuk menghilangkan darah dan gumpalannya dari
kantung kemih, perineal hematoma, dan prostat yang melayang. Gambaran prostat yang
melayang biasanya dikaburkan dengan adanya hematoma pelvis yang besar atau dapat juga
disebabkan pasien menolak dilakukan pemeriksaan karena rasa sakit pada area tersebut. Bila hal
ini terjadi, urethrography retrograde harus dilakukan sebelum pemasangan kateter,.(Gousse,
Angelo & Shlamovitz, 2011 & M. Beynon, T. ,2005). Kozier (2010) menyebutkan kontraindikasi
pemasangan kateter yaitu: adanya penyakit infeksi di dalam vulva seperti uretritis gonorhoe dan
pendarahan pada uretra.
Relatif kontraindikasi dari pemasangan kateter uretra adalah striktur baru saja dilakukan
pembedahan uretra atau kandung kemih, dan pasien yang tidak kooperatif. . (Gousse, Angelo
E.,et al.2011)

BAB IV
JENIS-JENIS KATETER
Ada tiga macam kateter kandung kemih, yaitu :

Kateter dengan selang pembuangan satu buah : kateter dengan satu lumen dipakai untuk

tujuan satu kali.


Kateter dengan dua buah : kateter dengan dua lumen adalah kateter yang ditinggal tetap
disitu satu lumen dipakai sebagai saluran pembuangan urine, lumen yang lain dipakai
untuk mengisi dan mengosongkan balon yang dipasang pada ujungnya. Balon ini diisi
jika kateter dimasukkan dengan cara yang tepat. Jumlah air destilasi tertentu, yang
menyebabkan kateter tidak dapat tergeser dan tetap berada dalam kandung kemih. Baru

setelah kateter akan dilepas, balon ini harus dikosongkan.


Kateter tiga buah saluran pembuangan. : kateter dengan tiga lumen, terutama dipakai
untuk tujuan membilas kandung kemih. Disini satu lumen dipakai untuk memasukkan
cairan pembilas, satu sebagai saluran pembuangan cairan, dan satu untuk balon
penampungan. Saluran pembuangan ini dinamakan lumen. Kateter dengan tiga lumen
dengan sendirinya akan memiliki garis tengah (jadi lebih gemuk) yang lebih besar
dibanding kateter dengan satu lumen. (Smeltzer & Bare,2005)Menurut Hegner dan
Caldwell (2003).

Gambar 1 dan 2 : Macam-macam bahan foley dan saluran kateter

Gambar 1 : Jenis Kateter

Gambar 2 : Pembagian Kateter

Keterangan :
A.
B.
C.
D.
E.

Foley Kateter
Robinson Kateter
Tiemann Kateter
Malecot Kateter
Pezzer Kateter

Menurut Hegner dan Caldwell (2003), ada dua jenis kateter yang digunakan untuk mendrainase
urin, yaitu:
a) Kateter french adalah selang berlubang. Biasanya terbuat dari karet yang lembut atau
plastik. Kateter ini digunakan untuk mengeringkan kandung kemih dan tidak terus
menerus berada di kandung kemih.
b) Kateter foley mempunyai balon di sekeliling bagian lehernya. balon ini diberi udara (air)
setelah kateter masuk ke kandung kemih. Kateter ini dikenal juga sebagai kateter retensi
atau indweling.
Menurut Murwani (2009,p.42), terdapat 5 jenis kateter berdasarkan bahan yang digunakan, yaitu:
a. Kateter plastik : digunakan sementara karena mudah rusak dan tidak fleksibel.
b. Kateter latex/karet : digunakan untuk penggunaan/pemakaian dalam jangka waktu sedang
(kurang dari 3 minggu).

c. Kateter silikon murni/teflon : untuk penggunaan jangka waktu lama 2-3 bulan karena
bahan lebih lentur pada meatus uretra.
d. Kateter PVC (Polyvinylchloride) : sangat mahal, untuk penggunaan 4-6 minggu,
bahannya lembut, tidak panas dan nyaman bagi uretra.
e. Kateter logam: digunakan untuk pemakaian sementara, biasanya pada pengosongan
kandung kemih pada ibu yang melahirkan.
Ukuran kateter :
1.

Anak

: 8-10 French (Fr)

2.

Wanita Dewasa : 14.-16 Fr Panjang kateter 3,7 - 7

3.

Laki-laki Dewasa : 16-18 Fr panjang Kateter 14-20

Ukuran kateter dinyatakan dalam skala Cherieres (French). Ukuran ini merupakan ukuran
diameter luar kateter. 1 Cheriere (Ch) atau 1 French (Fr) = 0,33 mm atau 1 mm = 3 Fr.

BAB V
PEMASANGAN KATETER

V.I Alat-alat yang dibutuhkan :


1. Xilocain jelly / instilagel
2. Kassa steril
3. Handscoon steril
4. Savlon cair
5. Kateter sesuai ukuran
6. Urine bag
7. Spuit 10 ml
8. Aquadest
9. Duk bolong steril
10. Bengkok / nierbecken
11. Pinset anatomis steril
12. Plester / Hipavix
V.2 Prinsip- prinsip pemasangan kateter :
1. Gantle/ lembut.
2. Asepsis &antiseptic.
3. Lubrikasi yang adekuat.
4. Gunakan ukuran kateter yang lebih kecil / sesuai.
V.3 Tata cara pemasangan kateter :
1. Pastikan alat yang dibutuhkan sudah tersedia lengkap.
2. Jelaskan tujuan pemasangan kateter kepada pasien.
3. Operator mencuci tangan dengan sabun terlebih dahulu pada air kran mengalir, Operator
memakai hand schoen secara aseptic.
4. Penderita posisi terlentang
5. Operator sebelah kiri pasien
6. Asepsis & antisepsis alat genitalia dengan betadine dan kassa steril menggunakan
pingset.

7. Pasang duk bolong steril


8. Pegang penis dengan kasa steril pakai tangan kiri

9. Meatus uretra eksternus dilakukan aseptic & antiseptic dengan betadin.


10. Kateter yang sudah tersedia diolesi dengan jelly secukupnya lalu dimasukan kedalam
orifisium uretra eksterna.
11. Pelan- pelan kateter didorong masuk, kira-kira didaerah bulbo membranacea ( spinkter
uretra eksterna ) akan terasa ada tahanan,dalam hal ini pasien disuruh untuk nafas dalam
supaya spinkter uretra eksterna jadi relaks.
12. Kemudian kateter terus didorong masuk kebuli-buli ditandai dengan keluarnya urine dari
lobang kateter.
13. Sebaiknya kateter terus didorong sampai percabangan kateter menyentuh meatus uretra
eksterna.
14. Balon kateter dikembangkan dengan 5-10 cc
15. Jika kateter menetap dihubungkan dengan pipa penampung (urine bag ).
16. Kateter difiksasi dengan plester pada kulit proksimal atas di daerah inguinal dan
usahakan agar penis mengarah ke lateral. Hal ini untuk mencegah nekrosis akibat tekanan
pada bagian ventral uretra didaerah penoskrotal.

Prosedur diatas adalah untuk pria, pada wanita biasanya jarang dijumpai kesulitan karena
uretranya lebih pendek. Biasanya kesulitannya mencari muara uretra, kadang karena stenosis
pada muara uretra.
Bila terjadi kesulitan pemasangan karena ketegangan spinkter eksterna karena pasien
kesakitan atau ketakutan dapat diatasi dengan :
1. Menekan tempat tertahan tadi dengan ujung kateter kira-kira beberapa menit sampai
terjadi relaksasi spinkter.
2. Pemberian anestesi topikal berupa campuran lidokain hidroklorida 2% dengan jelly 1020cc,dimasukan peruretra sebelum melakukan kateterisasi.
3. Pemberian sedativa parenteral sebelum kateterisasi.
V.4 Komplikasi pemasangan kateter antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Bakterial Shock
Striktur uretra
Ruptur uretra
Perforasi buli-buli
Pendarahan
Balon pecah atau tidak bisa dikempeskan.

V.5 Perawatan kateter urine sangat penting dilakukan pada klien dengan tujuan untuk
mengurangi dampak negatif dari pemasangan kateterisasi urine seperti infeksi dan radang pada
saluran kemih, dampak lain yang mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar manusia perawatan
yang dilakukan meliputi : menjaga kebersihan kateter dan alat vital kelamin, menjaga kantong

penampumg urine dengan tidak meletakan lebih tinggi dari buli-buli dan tidak agar tidak terjadi
aliran balik urine ke buli-buli dan tidak sering menimbulkan saluran penampung karena
mempermudah masuknya kuman serta mengganti kateter dalam jangka waktu 7-12 hari.
Semakin jarang kateter diganti, resiko infeksi makin tinggi, penggantian kateter urine tergantung
dari bahan kateter urine tersebut sebagai contoh kateter urine dengan bahan latteks silicon paling
lama dipakai 10 hari,sedang bahan silicon dapat dipakai selama 12 hari. Pada tahap
pengangkatan kateterisasi urine perlu diperhatikan agar balon kateter urine telah kempis. Selain
itu menganjurkan klien menarik nafas untuk mengurangi ketegangan otot sekitar saluran kemih
sehingga kateterisasi urine dapat diangkat tanpa menyebabkan trauma berlebihan
V.6 Proses pelepasan sebagai berikut:
1. Persiapan penderita (pemberitahuan dan porsi) bila sadar supaya menarik nafas dalam2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

dalam.
Persiapan alat dan bahan
Melakukan cuci tangan
Memakai sarung tangan
Melakukan desinfeksi pada orifer uretera dan melepas fiksasinya.
Melakukan pelepasan fiksasi pada pipa kateter dan pipa urine bag.
Menyedot cairan dalam balon kateter dengan spuit dan pastikan betul-betul telah habis
Menarik kateter secara perlahan-lahan sambil memberi perintah menarik nafas panjang

dan memperhatikan adanya kesakitan.


9. Menaruh kateter tercabut pada bengkok.

DAFTAR PUSTAKA
1. Purnomo, B. (2003). Dasar-dasar urologi (edisi kedua). Jakarta : Infomedika.
2. Ellis, et al. (1996). Modules for Basic Nursing Skills. Lipincott.
3. Gibson, J. (2002). Fisiologidan anatomi moderenuntuk perawat (ed. 2). Jakarta : EGC.
4. Ganong, W. F. (1998). Buku ajar fisiologi kedokteran (ed. 17). Jakarta : EGC.
5. Female Urethral Catheterization Rafael Ortega, M.D., Linda Ng, M.D., Pavan Sekhar, B.S.,
and Michael Song, M.A.The New England Journal of Medicine Downloaded from nejm.org
on May 25, 2015. For personal use only. No other uses without permission. Copyright
2008 Massachusetts Medical Society. All rights reserved.
6. Male Urethral Catheterization,Todd W. Thomsen, M.D., and Gary S. Setnik, M.D The New
England Journal of Medicine Downloaded from nejm.org on May 26, 2015. For personal use
only. No other uses without permission. Copyright 2006 Massachusetts Medical Society.
All rights reserved.
7. Smeltzer, S. C. & Bare, B. G. (2001). Buku ajar keperawatan medical bedah Brunner &
Suddarth (ed. 8). Jakarta : EGC.
8. Smeltzer S. C. & Bare B. G. (2005). Keperawatan medikal bedah (vols:2-3) (Agung
waluyo,penerjemah). Jakarta: EGC
9. Potter, P. A. & Perry A.G. (2005). Buku ajar keperawatan fundamental.(vols 1-2). Jakarta:
EGC.

10. Kozier, B., Erb, G., Berman, A., Synder, S.J. (2010). Buku ajar keperawatan fundamental
(Esty wahyuningsih, penerjemah). Jakarta: EGC
11. Mundy, Anthony R. and Andrich, Daniela E. Urethral strictures. BJU International.
2010;107,6-26.
12. Tijani KH, Adesanya AA, Ogo CN. The new pattern of urethral stricture disease in Lagos,
Nigeria. Niger Postgrad Med J. 2009 Jun;16(2):162-5.
13. M. Beynon, T. de Laat, J. Greenwood. Urethral Catheterization Section 1: Male
Catheterization. European Association of Urology Nurses. 2005
14. Gousse, Angelo E.,et al. Urethral Strictures in

Males.

Avaible

from:

http://emedicine.medscape.com/article/450903-overview. (Akses: 29 Desember 2011)


15. Shlamovitz, Gil Z, et al. Urethral Catheterization in Men. Avaible from:
http://emedicine.medscape.com/article/80716-overview#showall.

(Akses:

29

Desember

2011)
16. Afdal. 2007. Kateterisasi Uretha. Faculty of Medicine University of Riau. Arifin Achmad
General Hospital of Pekanbaru Pekanbaru, Riau.
17. Putz, R & Pabst, R. 1996 Sobotta: Atlas of Human Anatomy, Williams & Wilkins, Baltimore.
18. Williams, P.L. 1995. Gray's Anatomy the Anatomical Basis of Medicine and Surgery.
Churchild Livingstone, New York.