Anda di halaman 1dari 40

BAB II

LANDASAN TEORI
2.1.

Mengenal Biomassa1
Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses

fotosintetik, baik berupa produk maupun buangan. Contoh biomassa antara lain
adalah tanaman, pepohonan, rumput, limbah pertanian, limbah hutan, tinja dan
kotoran ternak. Selain digunakan untuk tujuan primer serat, bahan pangan, pakan
ternak, minyak nabati, bahan bangunan dan sebagainya, biomassa juga digunakan
sebagai sumber energi (bahan bakar). Yang digunakan adalah bahan bakar
biomassa yang nilai ekonomisnya rendah atau merupakan limbah setelah diambil
produk primernya (Pari dan Hartoyo, 1983).
Sedangkan menurut Silalahi (2000), biomassa adalah campuran material
organik yang kompleks, biasanya terdiri dari karbohidrat, lemak, protein dan
mineral lain yang jumlahnya sedikit seperti sodium, fosfor, kalsium dan besi.
Komponen utama tanaman biomassa adalah karbohidrat (berat kering 75%),
lignin ( 25%) dimana dalam beberapa tanaman komposisinya bisa berbeda-beda.
Energi biomassa dapat menjadi sumber energi alternatif pengganti bahan
bakar fosil (minyak bumi) karena beberapa sifatnya yang menguntungkan yaitu,
dapat dimanfaatkan secara lestari karena sifatnya yang dapat diperbaharui
(renewable resources), relatif tidak mengandung unsur sulfur sehingga tidak
menyebabkan polusi udara dan juga dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan
sumber daya hutan dan pertanian.
Potensi biomassa di Indonesia adalah cukup tinggi. Dengan hutan tropis
Indonesia yang sangat luas, setiap tahun diperkirakan terdapat limbah kayu
sebanyak 25 juta ton yang terbuang dan belum dimanfaatkan. Jumlah energi yang
terkandung dalam kayu itu besar, yaitu 100 milyar kkal setahun. Demikian juga
sekam padi, tongkol jagung, dan tempurung kelapa yang merupakan limbah
pertanian dan perkebunan, memiliki potensi yang besar sekali. Tabel 2.1
1

Tinjauan Pustaka, diakses dari http:/repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17590/10/


Chapter%20II.pdf terakhir diakses 12 Agustus 2015.

memberikan suatu ikhtisar dari potensi energi biomassa yang terdapat di


Indonesia. Jenis energi ini adalah terbarukan, sehingga merupakan suatu produksi
yang tiap tahun dapat diperoleh.
Tabel 2.1. Potensi Energi Biomassa di Indonesia

Sumber Energi
Kayu
Sekam Padi
Tongkol Jagung
Tempurung Kelapa
Potensi Total

Produksi 106 ton/tahun


25.00
7.55
1.52
1.25
35.32

Energi 109 kkal/tahun


100.0
27.0
6.8
5.1
138.9

Sumber : The Potential of Biomass Residues as Energy Sources in Indonesia. Dewi dan Siagian,
(1992).

2.2.

Bahan Biomassa2
Bahan biomassa dapat dibagi menjadi empat kelompok utama antara lain:

2.2.1. Limbah
Limbah yang menjadi salah satu sumber biomassa dapat diperoleh dari
limbah pertanian, limbah perkebunan, limbah industri kehutanan, serta limbah
organik dari pemukiman/ perkotaan. Beragam produk limbah pertanian yang
dapat diperoleh dan dimanfaatkan sebagai sumber biomassa, terutama limbah
yang terjadi pada proses pasca panen dan proses pengolahan hasil panen di pabrik
pengolahan. Contoh sederhana, jerami yang menjadi limbah panen padi akan
dijumpai di lapangan, sedangkan sekam akan diperoleh saat pengolahan gabah di
pabrik beras. Pada perkebunan, limbah juga akan terjadi di saat panen namun akan
lebih besar jumlahnya pada saat pengolahan panen di dipabrik. Limbah juga
terjadi pada perkebunan yang harus melakukan penanaman kembali untuk
mencapai produksi optimumnya. Pada perkebunan kelapa sawit, misalnya, limbah
dari lapangan hanya berupa guguran daun dan pelepah tua atau penggantian
penggantian pohon sawit tua. Namun jumlah dan ragam limbah akan bertambah
pada saat pengolahan tandan buah segar di pabrik kelapa sawit (PKS). Limbah
2

Syukri M NUr dan Jusri Yusuf, Biomassa Bahan Baku and Teknologi Konversi untuk Energi
Terbarukan (Bogor: PT. Insan Fajar Mandiri Nusantara, 2014), hlm. 20-21.

yang dihasilkan dari PKS adalah tandan kosong (22-24%), serabut (12-14.%),
cangkang sawit (5-8%), serta limbah cair atau Palm Oil Mill Efuent (POME)
sebesar 50% untuk setiap ton tandan buah segar (TBS) yang diolah PKS. Limbah
organik pemukiman/kota yang bersumber dari sisa kegiatan masyarakat di tingkat
rumah tangga, restauran, pasar, dan super market merupakan bahan baku
biomassa. Kendati sebuah kota mampu menyediakan limbah dalam jumlah besar,
seperti kota Tangerang dengan 4.000 ton sampah/hari, namun untuk mendapatkan
kualitas dari aspek keseragaman bahan baku, dan teknologi pengolahannya masih
harus memperhatikan aspek regulasi dan kebijakan pemerintah, serta peningkatan
kesadaran bagi masyarakat untuk mengumpulkan dan mengantarkan sampahnya
ke sistem yang sudah diatur oleh pemerintah.
2.2.2. Biomassa Kehutanan
Biomassa kehutanan dapat dibagi menjadi tiga sumber penting yaitu:
1. Serasah hutan terjadi dari komponen pohon seperti daun, ranting, dan dahan,
bahkan pohon yang telah tua dan tidak berfungsi atau mati dan jatuh ke lantai
hutan.
2. Limbah penebangan merupakan sisa batang, ranting, dan dahan yang terjadi
setelah penebang pohon. Sisa biomassa ini umumnya masih segar karena kadar
airnya tinggi sehingga perlu waktu atau sedikit upaya supaya lebih kering.
3. Limbah industri kayu umumnya ditemukan di sentra pengolahan kayu hutan
dalam bentuk serbuk gergaji, potongan kulit kayu, atau potongan kayu yang
tidak lagi bernilai ekonomi.
2.2.3. Tanaman Energi
Tanaman yang khusus dibudidayakan dan didedikasikan khusus untuk
bahan baku energi sebagai prioritas pertama, kemudian untuk penyediaan pangan
sebagai prioritas kedua. Tanaman ini antara lain singkong tahunan, jagung atau
tebu yang ditanam khusus untuk pembuatan etanol. Tanaman yang digunakan
untuk bio oil seperti jarak.

2.2.4. Tanaman Akuatik


Tanaman yang tumbuh pada habitat berair seperti air tawar atau di laut dan
khusus diambil manfaatnya sebagai bahan baku biomassa. Contoh komoditi ini
adalah algae dan eceng gondok.
2.3.

Bomb Kalorimeter3
Kalor jenis4 adalah jumlah energi yang dipindahkan dari suatu benda atau

tubuh ke benda lain akibat dari suatu perbedaan suhu diantara benda atau tubuh
tersebut. Kalor dinyatakan dalam satuan energi joule (J) menurut satuan SI. Kalor
umunya dinyatakan dalam satuan kalori (kkal), yaitu satu kalori adalah jumlah
kalor yang diperlukan untuk meningkatkan suhu 1 gram air sebanyak 1 derajat
celcius pada suhu kamar (293 K). Berikut adalah kalor jenis pada beberapa zat.
Tabel 2.2. Kalor Jenis Beberapa Zat
Kalor Jenis (c)
Kal/goC J/kg K
Air
1.00
4200
Air Laut
0.93
3900
Alkohol
0.55
230
Minyak Tanah
0.52
220
Raksa
0.033
140
Es
0.595
2500
Alumunium
0.214
900
Kaca
0.16
670
Besi
0.11
460
Tabel 2.2. Kalor Jenis Beberapa Zat (Lanjutan)
Zat

Zat
Tembaga
Kuningan
Perak
Emas
Timbal

Kalor Jenis (c)


Kal/goC J/kg K
0.093
390
0.90
380
0.056
230
0.031
130
0.031
130

Sumber: https://arifkristanta.wordpress.com/2012/10/10/kalor/

Imam Tazi, Uji Kalor Bahan Bakar Campuran Bioetanol dan Minyak Goreng Bekas, Jurnal
Neutrino, 2011, hlm. 166.
Laporan Praktikum Fisika Dasar, https://loophee.files.wordpress.com/2011/02/kalorjenis9.pdf, terakhir diakses 13 Agustus 2015.

Kalorimeter bom adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah


kalor (nilai kalori) yang dibebaskan pada pembakaran sempurna (dalam O 2
berlebih) suatu senyawa, bahan makanan, bahan bakar atau khusus digunakan
untuk menentukan kalor dari reaksi-reaksi pembakaran.
Reaksi pembakaran yang terjafi di dalam bom akan menghasilkan kalor
dan diserap oleh air dan bom. Oleh karena tidak ada kalor yang terbuang ke
lingkungan, maka:
qreaksi = (qair + qbom)
Jumlah kalor yang diserap oleh air dapat dihitung dengan rumus :
qair = m x c x T
Keterangan :
m = massa air dalam kalorimeter ( g )
c = kalor jenis air dalam kalorimeter (J / kg.C ) atau ( J / kg. K )
T = perubahan suhu (C atau K )
Jumlah kalor yang diserap oleh bom dapat dihitung dengan rumus :
qbom = Cbom x T
Keterangan :
Cbom = kapasitas kalor bom ( J / g.C ) atau ( J / K )
DT = perubahan suhu (C atau K )
2.4.

Definisi Briket5
Menurut Kurniawan dan Marsono (2008), briket merupakan gumpalan

arang yang terbuat dari bahan lunak yang dikeraskan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi sifat briket arang adalah berat jenis bahan atau berat jenis serbuk
arang,

kehalusan

serbuk,

suhu

karbonisasi,

tekanan

pengempaan,

dan

pencampuran formula bahan baku briket. Proses pembriketan adalah proses


pengolahan yang mengalami perlakuan penumbukan, pencampuran bahan baku,
pencetakan dengan sistem hidrolik dan pengeringan pada kondisi tertentu,
5

Tinjauan Pustaka, http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28807/4/Chapter II.pdf,


terakhir diakses 12 Agustus 2015.

sehingga diperoleh briket yang mempunyai bentuk, ukuran fisik, dan sifat kimia
tertentu.
Briket adalah bahan bakar padat yang dapat digunakan sebagai sumber
energi alternatif yang mempunyai bentuk tertentu. Pemilihan proses pembriketan
tentunya harus mengacu pada segmen pasar agar dicapai nilai ekonomi, teknis dan
lingkungan yang optimal. Pembriketan bertujuan untuk memperoleh suatu bahan
bakar yang berkualitas yang dapat digunakan untuk semua sektor sebagai sumber
energi pengganti. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan di dalam pembuatan
briket antara lain (Himawanto, 2003) adalah :
1.

Bahan Baku
Briket dapat dibuat dari bermacam-macam bahan baku, seperti ampas tebu,
sekam padi, serbuk gergaji, dll. Bahan utama yang harus terdapat di dalam
bahan baku adalah selulosa. Semakin tinggi kandungan selulosa semakin
baik kualitas briket, briket yang mengandung zat terbang yang terlalu tinggi
cenderung mengeluarkan asap dan bau tidak sedap.

2.

Bahan Perekat
Untuk merekatkan partikel-partikel zat dalam bahan baku pada proses
pembuatan briket maka diperlukan zat perekat sehingga dihasilkan briket
yang kompak.
Teknologi pembriketan secara sederhana didefinisikan sebagai proses
densifikasi untuk memperbaiki karakteristik bahan baku. Sifat-sifat penting
dari briket yang mempengaruhi kualitas bahan bakar adalah sifat fisik, kimia
dan daya tahan briket, sebagai contoh adalah karakteristik densitas, ukuran
briket, kandungan air, dan kadar abu.
Energi yang terkandung dalam briket tergantung dari konsentrasi metana

(CH4). Semakin tinggi kandungan metana maka, semakin besar kandungan energi
(nilai kalor) pada briket, dan sebaliknya semakin kecil kandungan metana semakin
kecil nilai kalor (Djojonegoro, 1992).
Syarat briket yang baik adalah briket yang permukaannya halus dan tidak
meninggalkan bekas hitam di tangan. Selain itu, sebagai bahan bakar briket juga
harus memenuhi kriteria :

Mudah dinyalakan

Emisi gas hasil pembakaran tidak mengandung racunk

Kedap air dan tidak berjamur bila disimpan dalam waktu yang lama

Menunjukkan upaya laju pembakaran yang baik.


Briket yang baik juga harus memenuhi standard yang telah ditentukan

Kualitas briket yang dihasilkan menurut standar mutu Inggris dan Jepang dapat
dilihat pada tabel berikut. Sebagai data pembanding, sehingga dapat diketahui
kualitas briket yang dihasilkan dalam penelitian ini.
Tabel 2.3. Kualitas Mutu Briket Arang
Jenis Analisa
Kadar Air (%)
Kadar Abu (%)
Kerapatan (gr/cm3)
Nilai Kalor (kal/gr)

Inggris
3.59
5.9
0.48
7289

Briket Arang
Jepang
Amerika
6-8
6.2
3-6
8.3
1-1.2
1
6000-7000
6230

Indonesia
7.57
5.51
0.4407
6814.11

Sumber: Departemen Kehutanan dan Perkebunan (1994) dalam Bahri, S (2007)

2.5.

Jenis Bahan Perekat6


Prinsipnya hanya ada dua jenis golongan bahan perekat yaitu perekat

organik dan nonorganik. Masing-masing jenis mempunyai keunggulan dan


kelemahan tersendiri.
1.

Perekat Aci
Perekat aci terbuat dari tepung tapioka yang mudah dibeli di toko makanan
dan di pasar. Perekat ini biasa untuk mengelem perangko dan kertas. Cara
membuatnya sangat gampang yaitu cukup mencampurkan tepung tapioka
dengan air, lalu mendidihkannya di atas kompor. Selama pemanasan tepung
diaduk terus-menerus agar tidak mengumpal. Warna tepung yang semula
putih akan berubah menjadi transparan setelah beberapa menit dipanaskan
dan terasa lengket di tangan. Biaya pembuatan lem aci murah, tetapi produk
yang sudah jadi sering ditumbuhi oleh jamur parasit sehingga terkesan

Oswan Kurniawan, Superkarbon Bahan Bakar Alternatif Pengganti Minyak Tanah dan Gas
(Jakarta: Penebar Swadaya, 2008), hlm.27-30.

bulukan. Fenomena demikian merupakan kerugian yang sangat besar bagi


produsen karbon. Untuk mencegah munculnya jamur, perlu ditambahkan
bahan kimia yang bersifat antifungi dalam pembuatan lem. Antifungsi
2.

tersebut ditambahkan saat adonan dididihkan.


Perekat Tanah Liat
Tanah liat atau tanah merah kering bisa dipakai sebagai perekat karbon.
Caranya adalah tanah tersebut diayak halus, seperti tepung lalu diberi air
sampai lengket. Namun, penampilan briket superkarbon yang menggunakan
perekat ini menjadi kurang menarik dan membutuhkan waktu lama untuk
mengeringkannya. Selain itu, briket agak sulit menyala ketika dibakar.
Namun, dari segi biaya pembuatan bisa dikatakan yang paling murah dan

3.

praktis karena tidak perlu dicampur dengan air panas.


Perekat Getah Karet
Daya lekat geah karet lebih kuat dibandingkan dengan lem aci maupun tanah
liat. Namun, ongkos produksinya relatif lebih mahal dan agak sulit
mendapatkannya karena harus membeli. Cara menggunakan getah karet
sebagai perekat yaitu getah karet cair yang baru disadap dari pohon
disiramkan ke atas bubuk arang lalu diaduk dengan alat pengaduk atau mixer
hingga rata. Adonan tersebut segera di masukkan ke dalam alat pencetak
sebelum getah karetnya mengering. Briket superkarbon yang telah jadi ini
akan menghasilkan asap tebal berwarna hitam dan beraroma kurang sedap
jika dibakar. Oleh karena itu model perekat ini jarang dipilih produsen oleh

4.

produsen karbon.
Perekat Getah Pinus
Getah pinus hampir mirip dengan getah karet yang hanya dapat dijumpai di
hutan pinus milik perhutani. Keunggulan penggunaan lem dari getah pinus
terletah pada daya benturan briket yang kuat. Meskipun dijatuhkan dari
tempat yang tinggi briket tetap utuh. Sebelum digunakan getah pinus
dipanaskan sampai mencair dan kelihatan bening. Selanjutnya bubuk arang
kering dicelupkan ke dalam cairan lem lalu di aduk rata. Adonan yang telah
rata kemudian dituangkan ke dalam cetakan. Beberapa menit kemudian
adonan akan mengeras seperti bata dan mengilap serta mudah menyala jika

dibakar. Namun asap yang keluar cukup banyak dan menyebarkan bau yang
agak menusuk hidung.
Perekat Pabrik
Perekat pabrik adalah lem khusus yang diproduksi oleh pabrik yang

5.

berhubungan langsung dengan industri pengolahan kayu seperti tripleks,


multipleks dan furniture. Lem-lem tersebut mempunyai daya lekat yang
sangat kuat, tetapi kurang ekonomis jika diterapkan pada superkarbon kecuali
untuk melayani pesanan khusus dari konsumen. Misalnya pembuatan briket
arang yang ditujukan untuk ekspor harus memenuhi standar perdagangan
internasional yang mencakup kadar air, kadar abu, kadar terikat, materi volatil
serta jumlah kalori yang dilepaskan setiap kilogramnya.

2.6.

Pencetakan dan Pengempaan Briket7


8

Alat pencetak briket sangat penting dam proses pembuatan briket.

Pengaruh terbesar terletak pada kepadatan dan stuktur briket. Struktur briket atau
bentuk

dari

briket

dalam

proses

pencetakan

berpengaruhnya

terhadap

pembakaran.
9

Jumlah kalor yang dihasilkan yang tinggi diperoleh pada perlakuan

bentuk briket lubang yang berbeda nyata dengan bentuk perlakuan briket bentuk
pejal. Jumlah kalor rendah yang dihasilkan diperoleh pada perlakuan bentuk
briket pejal. Perbedaan jumlah kalor yang dihasilkan antara briket pejal dan
berlubang disebabkan karena briket yang berbentuk lubang menghasilkan bara
(nyala api) yang lebih baik dibanding dengan briket pejal. Hal ini disebabkan
karena pada briket berlubang terjadi suatu aliran udara melalui rongga briket
sehingga akan memacu proses pembakaran.
Pencetakan bertujuan memperoleh bentuk yang seragam dan memudahkan
dalam pengemasan serta penggunaannya. Pencetakan briket akan memperbaiki
7
8

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28807/4/Chapter II.pdf, op.cit


Thomas Saputro, Makalah Pembuatan Briket dari Kotoran Ternak,
http://www.ilmuternak.com/2014/09/makalah-pembuatan-briket-dari-kotoran.html, terakhir
diakses 13 Agustus 2015.
M. Syahrul, Pengaruh Bentuk, Kerapatan dan Kadar Lempung terhadap Produksi Kalor
Briket Sekam Padi, Marina Chimica Acta Vol 3. No.1, 2002, hlm. 8.

penampilan dan menambah nilai ekonomisnya. Ada berbagai macam alat pencetak
yang

dapat

dipilih,

tergantung

tujuan

penggunaannya.

Setiap

cetakan

menghendaki kekerasan atau kekuatan pengempaan tertentu.


Pengempaan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas
biomassa

sebagai

sumber

energi.

Pengempaan

briket

bertujuan

untuk

meningkatkan kerapatan, memperbaiki sifat fisik briket, dan menurunkan masalah


penanganan seperti penyimpanan dan pengangkutan. Dipasaran bebas ditemukan
berbagai bentuk briket yang spesifikasinya sesuai dengan jumlah industri atau
usaha yang ada, tergantung dari penggunaannya. Berbagai bentuk cetakan briket
yaitu :

1.

Bentuk Silinder
Ciri-ciri: sisinya membentuk lingkaran, permukaan atas dan bawah rata,
bagian tengah kadang ada yang berlubang, paling mudah dicetak, dan ukuran
diameter bervariasi.

2.

Bentuk Kubus
Ciri-ciri: semua sisi sama panjang, sama lebar, dan sama tinggi, tidak ada
lubang ditengahnya, mudah dicetak, dan tepinya membentuk sudut.

3.

Bentuk Persegi Panjang


Ciri-ciri: berbentuk segi empat menyerupai bata, bagian tengah kadang ada
yang berlubang, dan sisi yang satu lebih panjang dari yang lain.

4.

Bentuk Heksagonal
Ciri-ciri: sisinya membentuk segi enam sama panjang, bagian tengah
berlubang, dan biasanya diproduksi untuk ekspor.

5.

Bentuk Piramid
Ciri-ciri: sisinya membentuk segi tiga, bagian atas meruncing dan bawah rata,
dan tidak ada lubang di setiap sisi.

2.7.

10

Proses Pembuatan Briket10

Pembuatan Briket Arang, www.madanitec.com, terakhir diakses 12 Agustus 2015

Proses pembuatan briket bioarang memang agak rumit, namun sebenarnya


tidak terlalu sulit untuk dipraktekkan. Proses sederhana yang dapat dilakukan
adalah sebagai berikut :
1. Menghancurkan bioarang menjadi serbuk/bubuk yang halus dengan alat
penghancur bioarang atau dapat juga secara sederhana dengan menggunakan
penumbuk, misalnya lesung dan alu (alat penumbuk padi), kemudian bioarang
yang tersedia ditumbuk hingga halus menjadi tepung/bubuk arang. Bioarang
dapat juga menggunakan arang remukan yang biasa dibuang oleh para penjual
di pasar karena tidak dapat diamanfaatkan. Selanjutnya kumpulkan tebung
arang yang terbentuk pada tempat khusus, misalnya ember.
2. Siapkan kanji dan encerkan dengan air hangat sehingga menjadi adonen
seperti bubur sebagai bahan perekat (lem kanji).
3. Campurkan lem kanji dengan tepung arang dengan perbandingan (1 : 9)
sehingga menjadi adonan yang lengket. Agar pemakaian bioarang lebih hemat
adonan ini dapat ditambah ampas kelapa, serbuk gergaji, kertas bekas, bubuk
ampas jarak pagar sisa proses pembuatan biodisel dan semacamnya.
Selanjutnya adonan diaduk-aduk agar semua bahan tercampur rata dan cukup
lengket.
4. Adonan yang sudah lengket kemudian dicetak pada alat pencetak. Caranya
seperti pada penggunaan mesin pecetak briket bioenergi.
5. Briket bioarang ini di jemur 2- 3 hari sampai betul-betul kering.
2.8.

Pengeringan Briket11
Briket hasil cetakan masih memiliki kadar air yang sangat tinggi sehingga

perlu

dikeringkan.

Pengeringan

bertujuan

mengurangi

kadar

air

dan

menggeraskan hingga aman dari gangguan jamur dan benturan fisik. Berdasarkan
caranya ada 2 metode pengeringan, yakni pengeringan alami dan pengeringan
buatan.
1. Pengeringan Alami

11

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28807/4/Chapter II.pdf, op.cit.

Briket dapat dikeringkan dengan penggunaan sinar matahari atau penjemuran


hasil cetakan disusun dalam tampah atau keranjang kawat yang berlubang, lalu
dihamparkan di tempat terbuka sehingga sinar matahari bebas masuk. Selama
penjemuran, briket dibolak-balik agar panasnya merata.
2. Pengeringan Buatan
Salah satu sarana pengeringan buatan adalah dengan menggunakan oven.
Pengeringan oven diterapkan untuk menurunkan kadar air karbon dengan cepat
tanpa terhalang oleh faktor iklim dan cuaca. Oven menggunakan elemen
pemanas sebagai komponen utamanya.

2.9.

Uji Kualitas Briket12


Tahap pengujian briket adalah tahap melakukan uji karakteristik briket

untuk mengidentifikasi apakah briket yang dihasilkan berkualitas bagus yang


sesuai dengan SNI, langkah-langkah pengujian yang dilakukan meliputi kadar
abu, kadar air, kadar karbon, nilai kalor, kerapatan massa, kuat tekan, lama nyala
api, dan laju pembakaran.
2.9.1. Kadar Air
Penetapan kadar air merupakan suatu cara untuk mengukur banyaknya air
yang terdapat di dalam suatu bahan. Kadar air sampel ditentukan dengan metode
oven caranya adalah bahan ditimbang dengan timbangan analisis dengan berat ba
han dalam cawan alumunium yang telah diukur bobot keringnya secara
teliti, kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 105 oC sampai beratnya
konstan. Bahan didinginkan dalam desikator dan timbang kembali. Kadar air
bahan dapat dihitung sebagai berikut :

12

Mislaini R. Santosa dan Swara Pratiwi Anugrah, Studi Variasi Komposisi Bahan Penyususn
Briket dari Kotoran Sapid an Limbah Pertanian, http://www.opi.lipi.go.id/data/1228964432/
data/13086710321319787133.makalah.pdf, terakhir diakses 12 Agustus 2015.

Keterangan:
b = berat cawan + sampel sebelum dioven (g)
c = berat cawan + sampel setelah dioven (g)
2.9.2. Kadar Abu dan Kadar Karbon
Pengukuran kadar abu merupakan residu anorganik yang terdapat dalam
bahan. Abu dalam bahan ditetapkan dengan menimbang sisa mineral sebagai hasil
pembakaran (abu sisa pembakaran) bahan organic pada suhu 550 C. Prinsip kerja
metode ini dengan cara sebagai berikut :
1.

Sampel ditimbang dan dimasukkan ke dalam cawan porselen.

2.

Sampel dipanaskan sampai menjadi arang dan tidak mengeluarkan asap.

3.

Kemudian diabukan di dalam tanur pada suhu 600 oC hingga menjadi abu.

4.

Sampel dinginkan dalam desikator selama 15 menit dan timbang segera


setelah mencapai suhu ruang.

Perhitungan :

2.9.3. Nilai Kalor


Kalor merupakan suatu kuantitas atau jumlah panas baik yang diserap
maupun dilepaskan oleh suatu benda. Nilai kalor diperoleh dari briket dengan data
laboratorium. Prosedur kerja untuk menentukan nilai kalori yaitu :
a.

Sampel dibuat pelet dan ditimbang, kemudian pelet tersebut dimasukkan ke


dalam cawan pembakar tepat di bawah lengkungan kawat sumbu yang kedua
ujungnya telah diikatkan pada kedua elektroda.

b.

Rangkaian tersebut kemudian dimasukkan ke dalam bomb yang sebelumnya


telah diisi akuades sebanyak 1 ml ke dalam bomb, selanjutnya ditutup rapat

dan dialiri gas oksigen melalui katup kurang lebih 35 atm. Bomb dimasukkan
ke dalam kalorimeter yang telah diisi air sebanyak 2 liter, dan dihubungkan
dengan unit pembakar.
c.

Kalorimeter ditutup dan termometer dipasang pada tutup kalorimeter,


sehingga skala bagian bawah tepat pada angka 19 C. Temperatur konstan
pengaduk listrik dihidupkan dan dibiarkan selama 5 menit, kemudian sumber
tegangan arus 23 volt dihidupkan untuk membakar kawat sumbu dan
cuplikan. Pada saat ini temperatur diamati maka temperatur akan naik dengan
cepat, setelah itu konstan dan akhirnya sedikit demi sedikit akan turun,
kemudian sumber tegangan pembakar dan pengaduk dimatikan.

2.9.4. Kerapatan (Density)


Kerapatan massa dapat dilakukan perhitungan dengan persamaan berikut:

Keterangan:
= kerapatan (g/cm3)
m = massa (g)
V = volume silinder (cm3)
2.9.5. Kuat Tekan
Uji kuat tekan dilakukan dengan menggunakan force gauge untuk
mengetahui kekuatan briket dalam menahan beban dengan tekanan tertentu. Kuat
tekan briket dapat dihitung dengan persamaan :

2.9.6. Nyala Api

Uji nyala api dilakukan untuk mengetahui berapa lama waktu briket habis
sampai menjadi abu. Pengujian lama nyala api dilakukan dengan cara briket
dibakar seperti pembakaran terhadap arang. Pencatatan waktu dimulai ketika
briket menyala hingga briket habis atau telah menjadi abu. Pengukuran ini waktu
menggunakan stopwatch.
2.9.7. Laju Pembakaran Briket
Laju pembakaran briket adalah kecepatan briket habis sampai menjadi abu
dengan berat tertentu. Laju pembakaran dapat dihitung dengan menggunakan
rumus :

2.9.8. Efisiensi
Efisiensi briket diperoleh dengan menggunakan nilai kalori pada masingmasing perlakuan komposisi kotoran sapi dan limbah pertanian. Efisiensi diukur
dengan menggunakan rumus :

Keterangan:
Output = jumlah total energi untuk memasak air (kal)
Input = nilai kalor dari berat briket yang digunakan (kal)
Energi untuk memasak air merupakan nilai kalor atau panas yang
dihasilkan briket sampai air mendidih atau sampai suhu tertentu dengan rumus :
Q = m . c . t
Keterangan:
Q = jumlah panas untuk mendidihkan air (kal)
c = panas jenis air (kal/g.0C)
m = massa briket (g)

t = kenaikan suhu (0C)


2.10.

Kegunaan Briket13
Briket bioarang merupakan bahan bakar alternatif yang cukup berkualitas.

Bahan bakar ini dapat dimanfaatkan dengan teknologi yang sederhana, tetapi
panas (nyata api) yang dihasilkan cukup besar, cukup lama dan aman. Bahan
bakar ini cocok digunakan oleh para pedagang atau pengusaha yang memerlukan
pembakaran terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama.

2.11.

Desain Eksperimen14
Desain eksperimen yaitu suatu rancangan percobaan (dengan tiap langkah

tindakan yang benar-benar terdefinisikan) sedemikian sehingga informasi yang


berhubungan dengan atau diperlukan untuk persoalan yang sedang diteliti dapat
dikumpulkan. Dengan kata lain, desain sebuah eksperimen merupakan langkahlangkah lengkap yang perlu diambil jauh sebelum eksperimen dilakukan agar data
yang semestinya diperlukan dapat diperoleh sehingga akan membawa kepada
analisis objektif dan kesimpulan yang berlaku untuk persoalan yang dibahas.
2.11.1. Tujuan Desain Eksperimen
Desain

suatu

eksperimen

bertujuan

untuuk

memperoleh

atau

mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang diperlukan dan berguna


dalam melakukan penelitian persoalan yang akan dibahas. Meskipun demikian,
dalam rangka usaha mendapatkan semua informasi yang berguna, hendaknya
desain dibuat sesederhana mungkin. Penelitian juga hendaknya dilakukan

13

14

Nodali Ndraha, Uji Komposisi Bahan Pembuat Briket Bioarang Tempurung Kelapa dan
Serbuk Kayu Terhadap Mutu yang Dihasilkan, http:/repository.usu.ac.id/bitstream/
123456789/7528/1/10E00091.pdf, terakhir diakses 12 Agustus 2015.
Sudjana. Desain dan Analisis Eksperimen. (Bandung: Tarsito, 1994). hlm. 1-7

seefisien mungkin mengingat waktu, biaya, tenaga dan bahan yang harus
digunakan.
2.11.2. Prinsip Dasar dalam Desain Eksperimen
Memahami prinsip-prinsip dasar yang lazim digunakan dan dikenal, maka
sebelumnya perlu dikenal istilah yang berkaitan dengan prinsip-prinsip tersebut,
di antaranya adalah perlakuan, kekeliruan eksperimen, dan unit eksperimen.
1.

Perlakuan adalah sekumpulan kondisi eksperimen yang akan digunakan


terhadap unit eksperimen dalam ruang lingkup desain yang dipilih. Perlakuan

2.

ini bisa berbentuk tunggal atau terjadi dalam bentuk kombinasi.


Unit eksperimen merupakan unit yang dikenai perlakuan tunggal (mungkin
merupakan gabungan beberapa faktor) dalam sebuah replikasi eksperimen

3.

dasar.
Kekeliruan eksperimen menyatakan kegagalan dari dua unit eksperimen
identik yang dikenai perlakuan untuk memberikan hasil yang sama. Ini bisa
terjadi karena, misalnya kekeliruan waktu menjalankan eksperimen, variasi
antara unit eksperimen dan pengaruh gabungan semua faktor tambahan yang
mempengaruhi karakteristik yang sedang dipelajari. Tentu saja kekeliruan
eksperimen ini hendaknya diusahakan supaya terjadi sekecil-kecilnya. Cara
yang lazim ditempuh untuk menguranginya antara lain dengan jalan
menggunakan bahan eksperimen yang homogen, menggunakan informasi
yang sebaik-baiknya tentang variabel yang telah ditentukan dengan tepat,
melakukan eksperimen seteliti-telitinya dan menggunakan desain eksperimen
yang lebih efisien.
Prinsip-prinsip dasar eksperimen terdiri dari tiga prinsip yaitu sebagai

berikut :
1.

Replikasi, di sini diartikan pengulangan eksperimen dasar. Replikasi ini


diperlukan karena beberapa hal yaitu :
a. Memberikan taksiran kekeliruan eksperimen yang dapat dipakai untuk
menentukan panjang interval konfiden (selang kepercayaan)
b. Menghasilkan taksiran yang lebih akurat untuk kekeliruan eksperimen
c. Memungkinkan untuk diperoleh taksiran yang lebih baik mengenai efek
rata-rata suatu faktor.

2.

Pengacakan, hal ini menyebabkan pengujian menjadi berlaku yang


menyebabkan pula memungkinkannya data dianalisis, dengan anggapan
seolah-olah asumsi tentang independen dipenuhi. Pengacakan memungkinkan
kita untuk melanjutkan langkah-langkah berikutnya dengan anggapan soal
independen sebagai suatu kenyataan. Selain untuk memperkecil adanya
korelasi antar pengamatan, pengacakan juga merupakan suatu cara untuk

3.

menghilangkan bias.
Kontrol lokal merupakan langkah-langkah yang berbentuk penyeimbangan,
pemblokan unit-unit eksperimen yang digunakan dalam desain. Kontrol lokal
menyebabkan desain lebih efisien, yaitu menghasilkan prosedur pengujian
dengan kuasa yang lebih tinggi.

2.11.3. Desain Eksperimental Faktorial 2 x 2 x 2 Model Acak15


Untuk eksperimen yang meliputi tiga buah faktor, misalnya faktor-faktor
A, B, dan C yang masing-masing terdiri dari a, b, dan c taraf, bila eksperimennya
dilakukan dengan menggunakan desain acak sempurna, dalam tiap kombinasi
perlakuan terdapat n buah unit eksperimen atau observasi, maka model linier yang
tepat untuk desain eksperimen a x b x c ini adalah:
Yijkl = + Ai + Bj + ABij + Ck + ACik + BCjk + ABCijk + l(ijk)
Dengan: i = 1, 2, , a
j = 1, 2, , b
k = 1, 2, , c
l = 1, 2, , n
Yijkl
= variabel respon hasil observasi ke-l yang terjadi karena pengaruh
bersama taraf ke-i faktor A, taraf ke-j faktor B, dan taraf ke-k faktor

Ai
Bj
Ck
ABij
ACik
BCjk
ABCijk

=
=
=
=
=
=
=
=

C.
rata-rata yang sebenarnya (berharga konstan)
efek taraf ke-i faktor A
efek taraf ke-j faktor B
efek taraf ke-k faktor C
efek interaksi antara taraf ke-i faktor A dan taraf ke-j faktor B
efek interaksi antara taraf ke-i faktor A dan taraf ke-k faktor C
efek interaksi antara taraf ke-j faktor B dan taraf ke-k faktor C
efek terhadap variabel respon yang disebabkan oleh interaksi antar
taraf ke-i faktor A, taraf ke-j faktor B, dan taraf ke-k faktor C

15

Ibid, hlm.126

l(ijk)

efek unit eksperimen ke l dikarenakan oleh kombinasi perlakuan

(ijk)
Seperti biasa diasumsikan l(ijk) DNI (0, 2).
Untuk keperluan ANAVA, maka jumlah kuadrat-kuadrat semua nilai
pengamatan Y2 dan jumlah kuadrat-kuadrat untuk rata-rata R y dihitung seperti
halnya untuk eksperimen dua faktor.
a

j1

k 1

l 1

i 1

j1

k 1

Y2
i 1

Ry

2
Yijkl

Yijkl

l 1

, dengan dk abcn

abcn

, dengan dk 1

Jumlah kuadrat-kuadrat lainnya yang diperlukan akan mudah dapat


dihitung apabila data hasil observasi dipecah dan disusun dalam beberapa buah
Jabc = jumlah kuadrat-kuadrat antara sel untuk daftar a x b x c

J ijk2 n R y

i 1

j1

k 1

Dengan:
b

l 1

j1

Yijkl J ijk

Jik

= elemen dalam sel (ik) dari daftar a x c =

Jbc

= jumlah kuadrat-kuadrat antara sel untuk daftar b x c


b

=
j1

Jjk

J 2jk
c

k 1

j1

an R y

= elemen dalam sel (jk) dari daftar b x c =

i 1

l1

i 1

Yijkl J ijk

Jumlah kuadrat-kuadrat untuk sumber variasi perlakuan A adalah:

A i2
a

Ay

i 1

Ai

bcn R y , dengan dk a 1

= jumlah semua nilai observasi untuk taraf ke-i faktor A


=

j1

k 1

l 1

Yijkl

j1

k 1

J ijk J ij J ik
j1 k 1

Jumlah kuadrat-kuadrat untuk sumber variasi perlakuan B adalah:

B 2j
b

acn R y , dengan dk b 1

By

Bj

= jumlah semua nilai observasi untuk taraf ke-j faktor B


=

j1

i 1

k 1

i 1

k 1

Yijkl J ijk J ij J jk
l 1

i 1 k 1

Jumlah kuadrat-kuadrat untuk sumber variasi perlakuan C adalah:

C 2k
c

Cy

k 1

Ck

abn R y , dengan dk c 1

= jumlah semua nilai observasi untuk taraf ke-k faktor C


=

i 1

j1

l 1

Yijkl

i 1

j1

J ijk J ik J jk
i 1 j1

Selanjutnya jumlah kuadrat-kuadrat interaksi adalah:


ABy = Jab Ay By , dengan dk = (a 1)(b 1)
ACy = Jac Ay Cy , dengan dk = (a 1)(c 1)
BCy = Jbc By Cy , dengan dk = (b 1)(c 1)
ABCy= Jabc Ay By Cy ABy ACy BCy ,
dengan dk = (a 1) (b 1)(c 1)
Ey = Y2 Ry Ay By Cy ABy ACy BCy ABCy
dk = abc (n 1)
Sebagaimana halnya dalam desain a x b di mana pengujian yang tepat
ditentukan oleh sifat taraf faktor-faktor, maka dalam hal ini pun sifat taraf faktor
tetap dan acak akan menentukan statistik F untuk pengujian yang diperlukan.
Asumsi lain yang berlaku dalam model acak ini adalah:
Ai ~DNI (0, 2 A ) ;
Bj~DNI (0, 2 B ) ;

Ck~DNI (0, 2 C ) ;

ABij~DNI (0, 2 AB ) ;

ACik~DNI (0, 2 AC ) ;
BCjk~DNI (0, 2 BC ) ;

ABCijk~DNI (0, 2 ABC ) ;


Dan dari asumsi-asumsi di atas maka hipotesa nol yang dapat diuji adalah :
H01 : 2 A =0 ;
H02 : 2 B =0 ;

H03 : 2 C =0 ;

H04 : 2 AB =0 ;

H05 : 2 AC =0 ;
H06 : 2 BC =0 ;

H07 : 2 ABC =0 ;
Maka semua hipotesis nol diatas dapat diuji dengan menggunakan:
F = AB/ABC

untuk hipotesis H04

F = AC/ABC

untuk hipotesis H05

F = BC/ABC

untuk hipotesis H06

F = ABC/E

untuk hipotesis H07

Sedangkan untukH01, H02, H03 tidak ada uji eksak yang dapat digunakan.
Daerah kritisnya ditentukan oleh:
F ((a 1)(b 1), (a 1)(b 1)(c 1)) untuk hipotesis H04,
F ((a 1)(c 1), (a 1)(b 1)(c 1)) untuk hipotesis H05,
F ((b 1)(c 1), (a 1)(b 1)(c 1)) untuk hipotesis H06, dan
F((a 1)(b 1)(c 1),abc(n 1))

untuk hipotesis H07

Kriterianya adalah tolak hipotesis nol jika F ini terlalu kecil.


Daftar ANAVA untuk desain eksperimen a x b x c dapat dilihat dalam
Tabel 2.4.

Tabel 2.4. Daftar ANAVA Desain Eksperimen a x b x c Desain Acak


Sempurna (n Observasi Tiap Sel)
Sumber Variasi

Dk

JK

KT

Rata-rata
Perlakuan:
A
B
C
AB
AC

Ry

a1
b1
c1

Ay
By
Cy

A
B
C

( a 1 ) ( b 1 )
( a 1) ( c 1 )
( b 1 ) ( c 1)
( a 1 )( b 1 )( c 1)
a b c ( n 1)
abcn

ABy
ACy
BCy
ABCy
Ey
Y2

AB

BC
ABC
Kekeliruan
Jumlah
Sumber: Sudjana, 1994

AC
BC
ABC
E
-

F
Tidak ada uji
eksak yang
dapat
digunakan
Ditentukan
oleh sifat taraf
faktor

2.12.

Standard Operating Procedure16


Standard Operating Procedure (SOP) pada dasarnya adalah pedoman

yang berisi prosedur-prosedur operasional standard yang ada di dalam suatu


organisasi yang digunakan untuk memastikan bahwa setiap keputusan, langkah
atau tindakan dan penggunaan fasilitas pemrosesan yang dilaksanakan oleh orangorang di dalam suatu organisasi, telah berjalan secara efektif, konsisten, standard
dan sistematis.
2.12.1. Standard Operating Procedure (SOP) sebagai Pedoman Prosedur17
Setiap organisasi memiliki kebutuhan yang khas, oleh karena itu SOP
sebagai manual prosedur operasional standar di dalam organisasi harus disusun
agar memenuhi tujuh kriteria yang disebut The Seven Criterias of Manual. Tujuh
kriteria inilah yang menyebabkan SOP suatu organisasi berbeda dengan SOP
organisasi lain. Tujuh kriteria manual tersebut adalah:
1. Khas atau spesifik (Specific)
Tidak ada satupun organisasi yang mempunyai kesamaan seratus persen. Jika
ingin menggunakan manual prosedur organisasi lain, maka yang harus
dilakukan adalah mengadaptasikannya (to adapt) bukan mengadopsi (to
adopt).
2. Lengkap prosedur (Complete)
Makna dari lengkap prosedur pada dasarnya ada dua, yaitu lengkap secara
vertikal dan lengkap secara horizontal. Yang harus dipenuhi pertama kali
adalah lengkap secara vertkal, dimana semua yang harus dicakup oleh sebuah
SOP harus dicakup. Untuk lengkap secara horizontal, yang harus diperhatikan
adalah prosedur-prosedur yang sangar erat kaitannya dan terikat oleh kebijakan
yang sama.
3. Jelas dan mudah dipahami (Understandable)
Jelas dan mudah dipahami merupakan syarat mutlak agar prosedur dan
perintah-perintah dan langkah-langkah yang ada di dalamnya diintepretasikan
dan dipersepsikan sama oleh semua pengguna.
4. Layak terap (Applicable)
16

17

Rudi M. Tambunan, Standard Operating Procedures (SOP), (Maiestas Publishing, Cet. 1,


Januari, 2008), hlm. 3
ibid. hlm. 124-137

Tekanan tentang layak terap perlu dinyatakan karena menyangkut dukungan


(enforcement) manajemen organisasi serta juga budaya organisasi termasuk
tidak adanya penolakan berubah dari para pengguna atau pelaksana prosedur.
5. Layak kontrol (Controllable)
Tanpa kontrol, SOP tidak akan efektif dan kontrol harus dilakukan secara wellcontrolled. Kondisi yang over-controlled ataupun under-controlled tidak akan
baik bagi organisasi dan malah bisa menimbulkan birokrasi yang tidak perlu.
6. Layak audit (Auditable)
Audit sangat penting dilakukan guna menunjang efektivitas evaluasi kegiatankegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi.
7. Layak ubah (Changeable)
SOP memang disusun dan disajikan berdasarkan kebutuhan terkini organisasi,
tetapi juga harus memperhitungkan kebutuhan masa datang organisasi. SOP
tidak disusun untuk secara terus menerus diubah tetapi bagaimana pedoman
SOP disusun untuk dapat mengantisipasi perubahan-perubahan organisasi
paling tidak untuk tiga sampai lima tahun ke depan.
2.12.3. Manfaat-manfaat Teknis SOP18
Manfaat-manfaat teknis yang diperoleh olh organisasi dengan menyusun
dan menerapkan SOP secara efektif di dalam keseluruhan fungsi kegiatan adalah
sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Memastikan standarisasi kebijakan.


Memastikan standarisasi pelaksanaan prosedur operasional standar.
Memastikan standarisasi validasi.
Memastikan standarisasi kontrol.
Memastikan standarisasi pelaporan.

2.12.4. Daftar Simbol Bagan Arus19


Dalam teknik bagan arus, dikenal berbagai kelompok symbol, sesuai
kegunaannya dimana setiap symbol mewakili makna kegiatan atau peran tertentu.
Pemanfaatan symbol symbol secara efektif sesuai langkah prosedur yang
diwakili, akan menentukan efektivitas bagan arus. Kelompok symbol dimaksud
adalah:
18
19

Ibid. hlm.176-177
Ibid. hlm. 324

1. Simbol bagan arus dasar (basic flowchart symbols)


2. Simbol penyimpanan (storage flowchart symbols)
3. Simbol bagan arus penghubung kegiatan dalam prosedur (activity connector
flowchart symbols)
4. Simbol bagan arus kegiatan rinci dalam proses (detail-activity in process
fowchart symbols)
5. Simbol bagan arus alur atau garis penghubung (flow lines flowchart symbols)
6. Simbol bagan arus untuk menunjukkan perangkat keras yang digunakan di
dalam sistem dan prosedur (computer hardware symbols)
Tabel 2.5. Simbol Bagan Arus Dasar
Simbol

Keterangan
Persiapan (Preparation)

Data

Proses (Process)

Persiapan (Preparation)

Keputusan (Decision)

Proses Utuh (Predefined Process)

Masukan Manual (Manual Input)

Dokumen (Documents)

Kegiatan Manual (Manual


Operation)

Tabel 2.4. Simbol Bagan Arus Dasar (Lanjutan)


Simbol

Keterangan
Kartu (Card)

Proses Pengganti (Alternate Process)


Sumber: Rudi M. Tambunan, 2008

Berikut ini adalah contoh SOP.

Gambar 2.1. Contoh SOP Pembayaran Kasir


2.13.

Pemanfaatan Bungkil dan Kulit Biji Karet Sebagai Bahan Bakar

Alternatif Biobriket dengan Perekat Tetes Tebu20


2.13.4. Pendahuluan
Kebutuhan energi semakin besar seiring bertambahnya jumlah penduduk,
sedangkan perkembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Indonesia masih
tergolong lambat walaupun peranannya dalam bauran energi nasional sudah lama
dirasakan kebutuhannya. Padahal potensinya cukup besar, namun pemanfaatannya
belum optimal. Berbagai kebijakan yang mendukung telah dikeluarkan untuk
mendorong pengembangan energi baru terbarukan ini, akan tetapi hal ini masih
belum maksimal.
Biobriket merupakan bahan bakar padat yang terbuat dari campuran
biomassa, bahan bakar padat ini merupakan bahan bakar alternatif yang paling
murah dan dapat dikembangkan secara massal dalam waktu yang relatif singkat.
Biobriket dapat digunakan untuk menggantikan sebagian dari pemanfaatan
minyak tanah. Bahan baku pembuatan arang biobriket pada umumnya berasal dari
limbah pertanian, peternakan dan perhutanan. Pada pembuatan biobriket
memerlukan campuran biomassa, selama ini campuran biomassa dalam
pembuatan biobriket antara lain ampas tebu, jerami, jarak, ampas aren, tempurung
kelapa, sabut kelapa dan serbuk gergaji. Sedangkan pada penelitian ini

20

Ahmad Lathief Lang Lang Buana dan I Wayan Susila, Pemanfaatna Bungkil dan Biji Karet
Sebagai Bahan Bakar Alternatif Biobriket dengan Perekat Tetes Tebu, Jurnal Teknik Mesin
Volume 03 No. 03., 2015, hlm 1-9.

menggunakan bahan baku bungkil dan kulit biji karet karena pemanfaatan dari
limbah pembuatan biodiesel dari biji karet ini belum banyak
digunakan.
Tanaman karet (havea brasiliensis) adalah salah satu komoditi perkebunan
yang produk utamanya berupa getah (lateks), sedangkan hasil produksi yang
berupa biji sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Hanya
pengembangannya saat ini baru sampai pada pembuatan biodiesel dari biji karet.
Tingginya potensi biji karet ditunjukkan dengan data bahwa 1 (satu) hektar
tanaman karet (populasi sekitar 500 pohon), umur lebih dari 10 tahun dapat
menghasilkan lebih dari 5 ton biji dalam satu musim berbuah. Jika kadar lemak
yang dikandung biji karet sebesar 32%, maka dapat dihasilkan sekitar 1,5 ton
biodiesel per hektar. Jika kandungan biji karet 32%nya adalah lemak maka
sisanya sebesar 68% adalah bungkil dan kulit yang bisa dimanfaatkan sebagai
bahan baku biobriket. Pada penelitian ini, hasil karakteristik pembakaran biobriket
dari campuran di atas dengan metode pencampuran zat aditif ini akan
dibandingkan dengan karakteristik umum briket batubara menurut nilai standar
mutu briket batubara di empat Negara ini, yang ditunjukkan pada tabel 2.6. seperti
berikut :
Tabel 2.6. Nilai Standar Mutu Briket Batubara
No
.
1
2
3
4
5

Karakteristik
Kadar Air (%)
Kadar Abu (%)
Kerapatan (g/cm3)
Kuat Tekan (kg/cm3)
Nilai Kalor (Kal/gr)

Jepang

Standar Mutu
Inggris
Amerika

68
34
57
8 10
1 1.2
0.46 0.84
60
12.7
5000-6000
5870

6
16
1 1.2
62
4000-6500

SNI
8
10
0.5 0.6
50
5600

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimanakah cara pembuatan


biobriket berbahan dasar bungkil dan kulit biji karet dengan perekat tetes tebu.
Bagaimanakah perbandingan ideal biobriket berbahan dasar bungkil dan biji karet
dengan perekat tetes tebu. Bagaimanakah hasil pengujian biobriket yang meliputi
nilai kalor (heating value), kadar abu (ash content), kadar air (water content),

kerapatan (density) dan kuat tekan (compressive strength) dari biobriket berbahan
baku campuran bungkil dan kulit biji karet dengan zat perekat tetes tebu.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan biobriket
berbahan dasar bungkil dan kulit biji karet dengan perekat tetes tebu. Untuk
mengetahui perbandingan ideal biobriket berbahan dasar bungkil dan biji karet
dengan perekat tetes tebu dan untuk mengetahui hasil pengujian biobriket yang
meliputi nilai kalor (heating value), kadar abu (ash content), kadar air (water
content), kerapatan (density) dan kuat tekan (compressive strength) dari biobriket
berbahan baku campuran bungkil dan kulit biji karet dengan zat perekat tetes tebu.
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai salah satu bahan bakar alternatif
yang dapat mengurangi krisis sumber daya alam. Memanfaatkan limbah
pembuatan biodiesel berbahan baku biji karet khususnya pada bagian bungkil dan
kulit biji karet dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat umum mengenai
pemanfaatan bungkil dan kulit biji karet sebagai bahan pembuat biobriket.
2.13.2. Peralatan dan Bahan
Berikut adalah variabel variabel pada penelitian ini
1.

Variabel Bebas
Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi terhadap timbulnya
variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah biobriket yang
berbahan dasar limbah kulit biji karet dan campuran bungkil biji karet dengan
pengikat tetes tebu (molase)
Tabel 2.7. Perbandingan Komposisi Campuran Bahan Dasar Biobriket.
Bahan Baku

No.

2.

Sampel

Kulit Biji Karet

Bungkil Biji Karet

1
2
3
4
5

90%
70%
50%
30%
10%

10%
30%
50%
70%
90%

Variabel terikat

Perekat
Tetes Tebu
(Molase)
20%
20%
20%
20%
20%

Variabel terikat merupakan variabel yang menjadi akibat karena adanya


variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah nilai kalor
(heating value), kadar abu (ash content), kadar air (water content), kerapatan
(density) dan kuat tekan (compressive strength) biobriket.

3.

Variabel Kontrol
Variabel kontrol merupakan variabel yang dikendalikan sehingga pengaruh
variabel bebas terhadap variabel terikat tidak dipengaruhi oleh faktor luar
yang tidak diteliti. Variabel control dalam penelitian ini adalah:
a. Suhu Pengarangan yang dikontrol adalah 110C.
b. Tekanan pengepresan maksimal sebesar 200 bar.
c. Sampel berbentuk tabung dengan tinggi 5cm dan diameter 5 cm
menghasilkan volume sebesar 78,5 cm3.
Instrumen penelitian merupakan peralatan uji yang digunakan untuk

memperoleh data penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini


adalah:
1.

Mesin press
a. Merk : ENERPAC RO106
b. Spesifikasi Alat : Tekanan Maksimal 10.000 psi atau 700 bar

2.

Timbangan Digital
a. Merk : ACIS excellence in measurement
b. Tingkat Ketelitian :0,001gram mengukur nilai kalor bahan bakar padat
maupun cair

3.

Solenoid dan Thermocontrol untuk mengontrol suhu pengarangan tetap


110C.

4.

Ayakan (10 mesh)


Digunakan untuk memisahkan serbuk arang kasar dan halus sehingga ukuran
serbuk menjadi sama atau homogen, serbuk arang yang masih terlalu besar

perlu dihaluskan lagi sampai masuk dalam ayakan yang memiliki ukuran 10
mesh.
Alat penelitian merupakan komponen yang digunakan untuk membantu
menyelesaikan proses produksi dalam pembuatan bahan penelitian.
1.

Drum, kompor, tabung LPG dan Thermocouple serta sensor bimetal yang
digunakan untuk membakar bahan baku menjadi arang

2.

Blender atau penggiling untuk menghaluskan kulit biji karet dan bungkil
biji karet hingga menjadi serbuk arang.

3.

Wadah pencampur yang digunakan untuk mencampur bahan biobriket.

4.

Oven digunakan untuk proses pengeringan biobriket yang sudah dicetak.

2.13.5. Prosedur Penelitian


Berikut ini adalah prosedur penelitian yang dilakukan.
1.

Mempersiapkan alat dan bahan


a. Alat alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah drum, ayakan,
timbangan, heater, mesin pres hidrolik. Bahan bahan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah kulit biji karet, bungkil biji karet, air dan tetes
tebu.
b. Membakar 10 kilogram kulit biji karet dan 10 kilogram bungkil biji karet
yang akan dilakukan didalam drum secara bergantian.
c. Menghaluskan kulit biji karet dan bungkil biji karet hingga menjadi tepung
arang.
d. Mengayak serbuk arang kulit biji karet dan bungkil biji karet dengan
ayakan 10 mesh hingga menjadi tepung arang yang homogen.

2.

Percobaan
a. Mencampurkan tepung arang kulit biji karet dengan bungkil biji karet dan
larutan perekat tetes tebu dengan komposisi yang sudah dijelaskan dalam
variabel penelitian menggunakan mixer agar campurannya homogen.
b. Memasukkan adonan ke dalam cetakan kemudian mencetak campuran
biobriket menggunakan mesin press dengan tekanan 200 bar (200,8756
kg/cm) menjadi padatan.

c. Mengeluarkan

hasil

cetakan

padatan

biobriket

dan

melakukan

penimbangan pada biobriket untuk mendapatkan berat awal biobriket


d. Mengeringkan biobriket dengan menggunakan oven dengan suhu 110C
selama 3 jam.
e. Melakukan penimbangan kembali terhadap biobriket yang telah kering
untuk mendapatkan berat akhir biobriket

3.

Analisa
Analisa yang dilakukan meliputi kadar air (water content), kadar abu (ash
content), nilai kalor (heating value), kerapatan (density) dan kuat tekan
(compressive strength) biobriket.
a. Analisa Kadar Air
Dilakukan penimbangan 1 gram sampel dalam botol timbang yang telah
diketahui beratnya, meratakan sampel kemudian dimasukkan ke dalam
oven yang telah diatur suhunya (115C 5C) selama 3 jam. Setelah 3 jam
sampel didinginkan dalam desikator kemudian ditimbang bobot tetap.
Perhitungan :
Kadar air (%) = [ (A - B) / A ] x 100 (1)
Dimana :
A = Bobot sampel yang digunakan(gram)
B = Bobot sampel setelah proses pemanasan (gram)
b. Analisa Kadar Abu
Dilakukan penimbangan 2-3 gram contoh ke dalam cawan platina yang
telah diketahui bobotnya. Membuat sampel menjadi abu, setelah semua
arang hilang, nyala diperbesar atau dipindahkan ke dalam tanur (800 900C) selama 2 jam. Bila seluruh contoh telah menjadi abu, cawan
didinginkan dalam desikator, kemudian timbang bobot tetap.
Perhitungan :
Kadar Abu (%) = [(A - B) /C] x 100 (2)
Dimana :

A = Berat cawan dan sisa abu (gram)


B = Berat cawan (gram)
C = Berat sampel yang digunakan (gram)
c. Analisa Nilai Kalor
1)

Menyiapkan 2 liter air, kemudian memasukkan ke dalam oval bucket.

2)

Menimbang 1 gram dari briket yang diuji, kemudian memasukkan ke


dalam combustion capsule.

3)

Memasang kawat sepanjang 10 cm sehingga mengenai briket yang


diuji tanpa mengenai permukaan besi combustion capsule dengan
menggunakan bantuan bomb head support capsule.

4)

Menimbang 3 gram bahan bakar (biobriket) yang diuji dalam


combustion capsule tadi bersama dengan kawat, ke dalam oxygen
bomb.

5)

Menghubungkan semua peralatan bomb calorimeter dengan listrik.

6)

Mengisi oxygen

bomb

dengan oksigen

bertekanan 15 atm

menggunakan bantuan autocharger.


7)

Setelah selesai, memasukkan oxygen bomb ke dalam oval bucket yang


terisi air.

8)

Kemudian memasukkan oval bucket ke dalam adiabatic calorimeter,


lalu tutup.

9)

Memindahkan posisi switch ke posisi on.

10) Menyamakan suhu dari air di oval bucket dengan suhu water jacket
dengan mengunakan switch hot/cold.
11) Setelah sama, mencatat suhu yang terjadi.
12) Kemudian membakar bahan bakar yang diuji tersebut.
13) Beberapa saat kemudian, mencatat kembali suhu yang terjadi pada air
(catat temperatur maksimum yang tercapai). Setelah itu menghitung
selisih temperature air pada kondisi awal dengan kondisi setelah
terjadi pembakaran.
14) Selisih tersebut dikalikan dengan standard benzoid (kal/gr)
15) Mencatat nilai kalor dari bahan bakar yang diuji diketahui

d. Analisa Rapat Massa (Density)


Pengujian ini dilakukan dengan mendeterminasi berapa rapat besarnya
dimensi volumetrik biobriket dari limbah kulit biji karet dan bungkil biji
karet.
Kerapatan biobriket =/
Volume biobriket =
Dimana :
= Kerapatan biobriket (g/cm)
= Massa biobriket (gram)
= Jari jari (cm)
= Tinggi biobriket (cm)
= Volume biobriket (cm)
e. Analisa Kuat Tekan
Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan mesin press. Biobriket
dibebani beban tertentu sampai hancur.
4.

Analisis Data
Analisis data menggunakan metode deskriptif, yaitu dengan mendeskripsikan
atau menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai realita
yang diperoleh selama pengujian.Data hasil penelitian yang diperoleh
dimasukkan dalam tabel dan ditampilkan dalam bentuk grafik.

2.13.4. Hasil dan Pembahasan


Data hasil penelitian yang disajikan adalah nilai dari hasil pengujian pada
masing-masing sampel. Hasil dalam penelitian ini meliputi beberapa pengujian
yang diantaranya meliputi kadar abu, kadar air, kerapatan, kuat tekan, dan nilai
kalor. Data dan hasil analisis dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk nilai
Tabel 2.8. Spesifikasi Biobriket
No

Kulit Biji

Bungkil

Karet (%)

Biji
Karet

Ukuran
Diameter
Tinggi
(cm)

(cm)

Berat (g)
Awal
Akhir
dioven

dioven

(%)
1
2
3
4
5
1.

90
30
50
70
10

10
70
50
30
90

4.2
4.2
4.2
4.2
4.2

4.6
4.7
4.8
4.7
5

(g)

(g)

62
63
61
62
63

55
55
56
54
57

Kadar Abu
Abu merupakan bagian sisa dari proses pembakaran yang sudah tidak
memiliki unsur karbon, abu ini berpengaruh kurang baik terhadap nilai kalor
yang dihasilkan dalam biobriket. Semakin tinggi kadar abu yang ada dalam
biobriket maka semakin rendah kualitas dari biobriket karena kandungan abu
yang tinggi dapat menurunkan nilai kalor.
Hasil pengujian kadar abu biobriket yang berasal dari campuran kulit biji
karet dan bungkil biji karet dapat dilihat pada tabel 2.8. Pengujian kadar abu
ini menggunakan merk mesin PARR dengan model PARR 1241 220V 50Hz
tahun 1987 yang dibuat USA, berat pengujian kadar abu minimal 1 gram
dalam setiap sampel yang diujikan.
Tabel 2.8. Pengujian Kadar Abu Biobriket

No
1
2
3
4
5

Kulit Biji Karet


(%)
90
70
50
30
10

Bungkil
Biji Karet
(%)
10
30
50
70
90

Kadar
Abu (%)
5.00
5.16
6.20
6.58
8.05

Kadar abu tertinggi adalah pada sampel 5 dengan komposisi bahan 10% kulit
biji karet + 90% bungkil biji karet dengan kadar abu sebesar 8,05%,
sedangkan untuk kadar abu terendah adalah pada sampel 1 dengan komposisi
bahan 90% kulit biji karet + 10% bungkil biji karet dengan kadar abu sebesar
5%. Dari hasil kadar abu tersebut maka selisih antara kadar abu terendah

dengan kadar abu tertinggi sebesar 3,05%. Nilai kadar abu secara umum telah
memenuhi Standar Mutu dari Jepang yaitu sebesar 5-7%. Pada sampel 1, 2, 3
dan 4 yang masing-masing memiliki kadar abu sebesar 5,00%, 5,16%,
6,20%, 6,58% telah memenuhi Standar Mutu Jepang. Sedangkan pada
komposisi sampel 5 dengan kadar abu sebesar 8,05% telah memenuhi
Standar Mutu Inggris.
Ditunjukkan bahwa semakin banyak jumlah bungkil biji karet yang
dimasukkan

dalam

komposisi

biobriket

maka

akan

menyebabkan

bertambahnya kadar abu. Sebaliknya semakin banyak jumlah kulit biji karet
yang ditambahkan kedalam biobriket maka akan menyebabkan kadar abu
semakin menurun. Besarnya kadar abu dalam biobriket akan berpengaruh
pada nilai kalor yang dihasilkan.
2.

Kadar Air
Kadar air adalah jumlah air yang masih terdapat didalam biobriket setelah
dilakukannya proses pemanasan. Besar dan kecilnya kadar air berpengaruh
pada nilai kalor yang ada di dalam biobriket. Hasil pengujian dapat dilihat
pada tabel 2.9. Pengujian kadar air ini menggunakan merk mesin Shimadzu
dengan model Moisture Balance MOC120H tahun 2011, berat pengujian
kadar air minimal 1 gram dalam setiap sampel yang akan diujikan.
Tabel 2.9. Pengujian Kadar Air Biobriket

No
1
2
3
4
5

Kulit Biji Karet


(%)
90
70
50
30
10

Bungkil
Biji Karet
(%)
10
30
50
70
90

Kadar Air
(%)
5.53
6.06
6.58
6.77
6.91

Dapat dilihat bahwa kadar air tertinggi adalah pada sampel 5 dengan
komposisi bahan 10% kulit biji karet + 90% bungkil biji karet dengan kadar
abu sebesar 6,91%, sedangkan untuk kadar air terendah adalah pada sampel 1
dengan komposisi bahan 90% kulit biji karet + 10% bungkil biji karet dengan

kadar abu sebesar 5,53%. Dari hasil kadar air tersebut maka selisih antara
kadar air terendah dengan kadar air tertinggi sebesar 1,38%. Telah memenuhi
Standar Mutu Jepang yaitu sebesar 6-8%. Perbandingan nomor sampel ideal
terdapat dalam sampel 2, 3, 4 dan 5 dengan kadar air masing-masing sebesar
6,06%, 6,58%, 6,77% dan 6,91%. Dari perbandingan sampel ideal tersebut
masuk dalam kategori Standar Mutu Jepang. Sedangkan pada sampel 1
dengan komposisi 10% kulit biji karet + 90% bungkil biji karet menghasilkan
kadar air sebesar 5,53%, hasil kadar air pada sampel ini merupakan hasil
kadar air terendah dibandingkan dengan nomor sampel lainnya. Ditunjukkan
bahwa semakin banyak jumlah kulit biji karet yang dimasukkan dalam
komposisi biobriket maka akan menyebabkan bertambahnya kadar air.
Besarnya kadar air dalam biobriket akan berpengaruh pada nilai kalor yang
dihasilkan dan penyalaan awal biobriket.
3.

Kerapatan
Nilai bakar dari bahan bakar padat itu ditentukan oleh kerapatan yang ada
didalam bahan bakar padat. Kerapatan merupakan suatu besaran turunan
yang digunakan untuk melambangkan perbandingan antara massa benda
dengan volume dari suatu benda.
Hasil perhitungan kerapatan biobriket yang berasal dari campuran bungkil
biji karet dn bungkil biji karet dapat dilihat pada tabel 2.10. Pengujian
kerapatan dilakukan dengan menggunakan jangka sorong dan timbangan
digital kemudian melakukan perhitungan dengan menggunakan rumus
kerapatan.
Tabel 2.10. Pengujian Kerapatan Biobriket

No
1
2
3
4
5

Kulit Biji Karet


(%)
90
70
50
30
10

Bungkil
Biji Karet
(%)
10
30
50
70
90

Kerapatan
(g/cm3)
0.86
0.84
0.84
0.82
0.82

Dapat dilihat bahwa nilai kerapatan tertinggi adalah pada sampel 1 dengan
komposisi bahan 90% kulit biji karet + 10% bungkil biji karet dengan
kerapatan sebesar 0,86 g/cm3, sedangkan untuk nilai kerapatan terendah
adalah pada sampel 4 dan 5 dengan komposisi bahan 10% kulit biji karet +
90% bungkil biji karet dengan kerapatan sebesar 0,82g/cm3. Dari hasil
kerapatan tersebut maka selisih antara kerapatan terendah dengan kerapatan
tertinggi sebesar 0,04 g/cm3.
Nilai kerapatan secara umum masuk dalam kriteria Standart Mutu Inggris
sebesar 0,46 - 0,84. Semakin besar nilai kerapatan pada biobriket maka nilai
kalori yang ditimbulkan juga semakin besar.
4.

Kuat Tekan
Kuat tekan merupakan suatu parameter yang digunakan untuk melihat
kualitas fisik dari biobriket. Semakin besar nilai kuat tekan yang dihasilkan
oleh biobriket maka daya tahan atau kekompakan dari biobriket semakin
besar sehingga biobriket tidak akan mudah pecah.
Hasil pengujian kuat tekan pada biobriket yang berasal dari campuran kulit
biji karet dan bungkil biji karet dapat dilihat pada tabel 2.11. Pengujian kuat
tekan ini menggunakan mesin Autograph dengan merk Shimadzu model
SFL-100kNAG dengan kekuatan sekali pengujian maksimal sebesar 100kN /
10tonf.
Tabel 2.11. Pengujian Kuat Tekan Biobriket

No
1
2
3
4
5

Kulit Biji Karet


(%)
90
70
50
30
10

Bungkil

Kuat

Biji Karet

tekan

(%)
10
30
50
70
90

(kgf/cm2)
14.45
13.87
13.42
13
12.90

Dapat dilihat bahwa nilai kuat tekan tertinggi adalah pada sampel 1 dengan
komposisi bahan 90% kulit biji karert + 10% bungkil biji karer dengan kuat
tekan sebesar 14,45 kgf/cm2, sedangkan untuk nilai kuat tekan terendah

adalah pada sampel 5 dengan komposisi bahan 10% kulit biji karet + 90%
bungkil biji karet dengan kuat tekan sebesar 12,90 kgf/cm2. Dari hasil kuat
tekan tersebut maka selisih antara kuat tekan terendah dengan kuat tekan
tertinggi sebesar 1,55 kgf/cm2.Nilai kuat tekan ecara umum masuk dalam
kriteria Standart Mutu Inggris yaitu sebesar 12,7 kg/cm2. Perbandingan ideal
antara komposisi biobriket dari kulit biji karet dan bungkil biji karet terdapat
pada sampel 5 sebesar 12,90 kg/cm2 dengan perbandingan 10% kulit biji
karet + 90% bungkil biji karet. Semua sampel masuk masuk dalam Standar
Mutu Inggris dengan nilai kuat tekan sebesar 14,45 kg/cm2, 13,87 kg/cm2,
13,41 kg/cm2, 13 kg/cm2 dan 12,90 kg/cm2
5.

Nilai Kalor
Nilai kalor adalah energi kalor yang dapat dibebaskan oleh suatu bahan bakar
dengan terjadinya reaksi/ proses pembakaran, digunakan untuk mengetahui
nilai panas pembakaran

dapat dihasilkan sebagai bahan bakar. Semakin

tinggi nilai kalor maka semakin baik mutu dan kualitasnya., lihat pada tabel
2.12. Pengujian nilai kalor ini menggunakan merk mesin PARR dengan
model PARR 1241 220V 50Hz tahun 1987 yang dibuat USA, berat pengujian
nilai kalor minimal 1 gram dalam setiap sampel yang diujikan.
Tabel 2.12. Pengujian Nilai Kalor Biobriket

No
1
2
3
4
5

Kulit Biji Karet


(%)
90
70
50
30
10

Bungkil

Nilai

Biji Karet

Kalor

(%)
10
30
50
70
90

(kal/g)
5650.661
5600.829
5568.281
5400.432
5312.049

Maka dapat dilihat bahwa nilai kalor tertinggi adalah pada sampel 1 dengan
komposisi bahan 90% kulit biji karet + 10% bungkil biji karet dengan nilai
kalor sebesar 5650,661 kal/g, sedangkan untuk nilai kalor terendah adalah
pada sampel 5 dengan komposisi bahan 10% kulit biji karet + 90% bungkil
biji karet dengan nilai kalor sebesar 5312,049 kal/g. Dari hasil nilai kalor

tersebut maka selisih antara nilai kalor terendah dengan nilai kalor tertinggi
sebesar 338,612 kal/g.
Berdasarkan hasil pengujian nilai kalor pada tabel 2.12 maka dapat dilihat
bahwa sampel 1 sebesar 5650,661 kal/g memenuhi Standar Mutu SNI sebesar
5600 kal/g. Menurut Standar Mutu Jepang dan Amerika dengan nilai 5000
kal/g 6000 kal/g dan 4000 6500 kal/g, semua sampel memenuhi kriteria
dengan nilai kalor berurutan sebesar 5650,661 kal/g, 5600,829 kal/g,
5568,281 kal/g, 5400,432 kal/g, 5312,049.
Nilai kalor sangat berpengaruh terhadap mutu dari biobriket, semakin tinggi
nilai kalor yang dihasilkan maka akan semakin baik kualitas yang didapat.
Nilai kalor ini berbanding terbalik dengan nilai kadar air dan kadar abu,
dimana jika nilai kalor semakin tinggi maka kadar air dan kadar abu akan
semakin rendah.
2.13.5. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, pengujian, analisa, dan pembahasan yang
telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1.

Pembuatan

biobriket

dilakukan

dengan

meminimalisir

kadar

air

menggunakan cara pengarangan hingga bahan dasar pembuatan biobriket


menjadi arang, agar bisa dilakukan pencetakan maka bahan dasar pembuatan
biobriket harus dihaluskan terlebih dahulu hingga berbentuk serbuk halus dan
disortir menggunakan ayakan berukuran 10 mesh. Setelah itu bahan dasar
pembuatan biobriket yang telah disortir ditimbang sesuai variable yang telah
ditentukan dan bahan dasar yang telah menjadi serbuk halus dicampur
dengan perekat tetes tebu sebanyak 10% dari berattotal bahan dasar.
Campuran bahan dasar dan perekat dicetak dan dipress dengan tekanan
200bar. Biobriket yang masih basah dikeringkan menggunakan oven dengan
suhu 120o C selama 2 jam. Setelah itu dilakukan pengujian nilai kalor, kadar
air, kadar abu, kuat tekan dan kerapatan.

2.

Perbandingan terbaik biobriket dari campuran kulit biji karet dan bungkil biji
karet terdapat pada sampel 1 dengan komposisi 90% kulit biji karet + 10%
bungkil biji karet.

3.

Nilai Kerapatan terbaik pada sampel 1 dengan komposisi 90% kulit biji karet
+ 10% kulit biji karet sebesar 0,86 g/cm3. Nilai kuat tekan terbaik pada
sampel 1 sebesar 14,45 kg/cm2. Nilai kalor terbaik pada sampel 1 sebesar
5650,661 kal/gr. %. Nilai kadar abu terbaik pada sampel 1 dengan komposisi
90% kulit biji karet + 10% bungkil biji karet dengan nilai 4,95%. Nilai kadar
air terbaik pada sampel 1 dengan komposisi 90%kulit biji karet+10% bungkil
biji karet sebesar 5,53%.