Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) merupakan salah satu pembangkit
listrik yang memakai bahan bakar batubara. Salah satu PLTU terbesar yakni PLTU
Suralaya, yang beroperasi untuk memasok listrik Jawa dan Bali. PLTU Suralaya
menggunakan bahan bakar batubara dikarenakan bekerja selama 24 jam setiap
harinya, sehingga dibutuhkan bahan bakar yang tahan lama seperti batubara.
Pemanfaatan batubara seperti ini perlu mengetahui tentang macam kualitas yang
dimiliki batubara itu sendiri.
Dengan diketahui kualitas batubara dimaksudkan agar spesifikasi mesin atau
peralatan yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar sesuai dengan mutu
batubara yang akan digunakan, sehingga mesin-mesin tersebut dapat berfungsi
optimal dan tahan lama. Seiring dengan meningkatnya permintaan batubara oleh
PLTU Suralaya dengan kualitas tertentu, ini menjadi tantangan tersendiri bagi
perusahaan pertambangan batubara. Dikarenakan kualitas batubara di Pit itu
berbeda-beda, maka perlu adanya pencampuran batubara (coal blending) dan
kontrol kualitas (quality control) untuk memperoleh kualitas tertentu yang diminta
PLTU Suralaya. Namun perlu diketahui terlebih dahulu kualitas batubara dari
tiap seam yang akan di blending melalui analisis Laboratorium. Sehingga melalui
perhitungan tertentu akan diperoleh pendugaan kualitas hasil blending.
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui proses pencampuran
(blending) bahan baku batubara berbeda kualitas untuk memenuhi pasokan
kebutuhan PLTU Suralaya unit 1-4.
1.3 Rumusan Masalah
Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
perbandingan campuran batubara antara batubara kualitas rendah dengan batubara
kualitas tinggi untuk di blending, sehingga didapatkan kualitas yang diminta oleh
PLTU Suralaya unit 1-4.

1.4 Sistematika Penulisan


Proses penyelesaian seminar industri ini dengan menggunakan study literatur
dimana penulis menggabungkan data-data primer dan data sekunder.
1.5 Pembatasan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang ditemukan dalam penelitian ini maka peneliti
ingin membatasi permasalahan tersebut yakni pada bagian pencampuran batubara
beda kualitas yang sesuai dengan kebutuhan PLTU Suralaya unit 1-4.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian Batubara

Batubara adalah batuan sedimen yang terbentuk dari sisa-sisa macam


tumbuhan yang merupakan material organik dan telah mengalami dekomposisi
atau penguraian oleh adanya proses biokimia dan geokimia sehingga berubah baik
sifat fisik maupun sifat kimianya. Genesa batubara berdasarkan tempat terjadinya
dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Teori Insitu
Bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terjadinya di tempat
dimana tumbuh-tumbuhan itu berada (terjadi di tempat itu juga) yang
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: penyebarannya luas dan kualitasnya
baik (karena kadar abunya rendah).
2. Teori Drift
Bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terjadinya di tempat lain
dari tumbuh-tumbuhan asal itu berada karena sudah tertransportasi, yang
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: penyebarannya tidak luas tapi
banyak, kualitasnya kurang baik karena banyak mengandung pengotor.
Batubara adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil. Pengertian
umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari
endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk
melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon,
hidrogen dan oksigen. Batubara juga adalah batuan organik yang memiliki
sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam
berbagai bentuk.

2.2 Umur Batubara


Pembentukan batubara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi
pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta
tahun yang lalu (jtl), adalah masa pembentukan batubara yang paling produktif
3

dimana hampir seluruh deposit batubara (black coal) yang ekonomis di belahan
bumi bagian utara terbentuk.
Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl, juga terbentuk endapan-endapan batubara
yang ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung
terus hingga ke Zaman Tersier (70 - 13 jtl) di pelbagai belahan bumi lain
2.3 Klasifikasi Batubara
Secara umum batubara digolongkan menjadi lima tingkatan, yaitu:
1. Peat
Peat ditandai dengan kondisi fisik berwarna kecoklatan dan struktur
berpori, memiliki kadar air sangat tinggi, nilai kalori sangat rendah,
kandungan sulfur sangat tinggi, dan kandungan abu sangat tinggi. Nilai
kalori peat adalah 1.700-3.000 kcal/kg.
2. Lignite
Lignite ditandai dengan kondisi fisik berwarna hitam dan sangat rapuh,
nilai kalori rendah, kandungan air tinggi, kandungan abu tinggi, dan
kandungan sulfur tinggi. Nilai kalori lignite adalah 1.500-4.500 kcal/kg.
3. Bituminous / sub-bituminous coal
Bituminous / sub-bituminous ditandai dengan warna hitam mengkilat,
struktur kurang kompak, kandungan karbon tinggi, nilai kalori tinggi,
kandungan air sedikit, kandungan abu sedikit, dan kandungan sulfur
sedikit. Nilai kalori bituminous / sub-bituminous adalah 7.000-8.000
kcal/kg.
4. Anthracite
Anthracite ditandai dengan warna hitam sangat mengkilat, struktur
kompak, kandungan karbon sangat tinggi, nilai kalor sangat tinggi,
kandungan air sangat sedikit, kandungan abu sangat sedikit, dan
kandungan sulfur sangat sedikit. Nilai kalori anthracite lebih besar atau
sama dengan 8.300 kcal/kg.
2.4 Analisis Batubara

Cara yang dilakukan untuk mengetahui mutu/kualitas batubara berkaitan


dengan pemanfaatannya. Pada prinsipnya dikenal 2 jenis pengujian, yaitu Analisis
Proksimat (Proximat Analysis) dan Analisis Ultimat (Ultimate Analysis).
1. Analisis Proksimat
Yang perlu diketahui adalah Kandungan Air Bawaan (Inherent
Moisture), Kandungan Abu (Ash Content), Zat Terbang (Volatile Matter),
Karbon Tertambat (Fixed Carbon), dan Total Sulfur (Total Sulfur).
2. Analisa Ultimat (Ultimate Analysis)
Analisis Ultimat adalah analisis untuk menentukan kelas batubara.
Analisis ini adalah cara paling sederhana untuk menunjukkan unsur
pembentuk batubara yang penting. Pada analisis ultimat terdapat 5 unsur
yang dianalisis yaitu: Karbon (C), Hidrogen (H), Sulfur(S), Nitrogen (N)
dan Oksigen (O).
2.5 Parameter Analisis Kualitas Batubara
Parameter analisis kualitas batubara yang dipakai adalah sebagai berikut:
1. As Received (ar)
Pada basis as received (ar) dihitung atas dasar lokasi dimana sampel di
ambil. Berarti semua hasil analisis dihitung dengan memasukkan
kandungan air total dari sampel. Hal ini mungkin dilakukan jika batubara
dalam keadaan basah.
2. Air Dry Based (adb)
Pada basis adb, sampel batubara yang dianalisis ditempatkan di udara
terbuka, kandungan air totalnya secara perlahan akan mencapai
kesetimbangan dengan kelembaban udara. Jika kandungan air permukaan
dari sampel ini kemudian ditentukan maka diperoleh kandungan air dalam
basis adb.
3. Dry Based (db)

Pada basis dry, artinya sampel batubara dalam keadaan kering maka
kandungan air permukaan dan kandungan air bawaannya adalah nol.
4. Dry Ash Free (daf)
Pada basis daf, nilai kualitas batubara pada kondisi batubara tersebut
kering dan bebas dari ash.
5. Dry Mineral Matter Free (dmmf)
Pada basis dmmf analisis dilakukan untuk memberikan gambaran
mengenai komposisi organik murni, artinya volatile mineral matter
dianggap sama dengan nol.
2.6 Kualitas Batubara Pada Pemanfaatannya
Untuk mengetahui kualitas dari batubara itu sendiri maka dapat diketahui
dengan menggunakan parameter-parameter dari batubara. Parameter-parameter
dari batubara adalah sebagai berikut:
1. Kandungan Air
Kandungan air dalam batubara secara umum ada 2 yaitu air permukaan
(free moisture) dan kandungan air bawaan (inherent moisture). Kandungan
air permukaan secara mekanis terdapat dalam permukaan dan retakanretakan serta kapiler-kapiler besar (makro kapiler) batubara dan
mempunyai tekanan gas normal. Jumlah kandungan air bebas secara
prinsip tergantung dari kondisi yaitu dari lembab sampai kering. Hal
tersebut juga tergantung dari penambangan, benefisiasi, transportasi,
penanganan dan penyimpanan juga distribusi ukuran butirnya. Kandungan
air bawaan berada pada mikro pori, yang mempunyai tekanan lebih rendah
dari tekanan uap normal. Kandungan air bawaan ini patut diketahui, karena
dapat digunakan untuk mengindikasi peringkat batubara. Batubara makin
tinggi kandungan bawaannya, peringkatnya makin rendah.
2. Kandungan Abu

Batubara terdiri dari 3 unsur yaitu: air, material batubara (coal matter)
dan material bukan batubara (mineral matter). Mineral matter terdiri dari 2
macam yaitu mineral matter bawaan (inherent mineral matter) serta
material mineral dari luar batubara (extraneous mineral matter). Inherent
Mineral Matter berhubungan dengan tumbuh-tumbuhan yang hidup di
rawa-rawa dan sulit dipisahkan dari batubara, biasanya berjumlah 0,51,0%. Extraneous Mineral Matter terjadi saat waktu penambangan
(parting), yang terbawa waktu banjir ke lapisan batubara pada waktu
pembentukannya. Extraneous Mineral Matter dapat dipisahkan dari
batubara dengan proses pencucian.
3. Zat Terbang
Zat terbang terdiri dari Combustible gasses (gas-gas yang mudah
terbakar) seperti gas hidrogen, CO, dan CH 4 serta gas-gas yang dapat
dikondensasikan seperti tar dengan sejumlah kecil gas-gas yang tidak
terbakar seperti CO2 dan air yang terbentuk dari hasil dehidrasi dan
kalsinasi. Zat terbang juga dapat digunakan sebagai ukuran untuk
menentukan peringkat batubara. Pengaruhnya dalam preparasi batubara
ialah jika kandungan zat terbang tinggi (>24%) maka batubara akan mudah
terbakar. Untuk mengatasi hal tersebut sebaiknya batubara tidak dilakukan
penggerusan terlalu halus, karena sangat berpotensi untuk mudah meledak.
4. Karbon Tetap (Fixed Carbon)
Sebagai komponen dari analisa proksimat, Fixed Carbon dihitung
dari:
FC = 100 (A + VM + IM)
Rasio Fixed carbon dengan Volatile matter (zat terbang) disebut dengan
FR (Fuel Ratio). FR juga dapat digunakan sebagai pegangan untuk
menentukan peringkat batubara.
5. Nilai Kalor

Nilai kalor dari batubara merupakan jumlah panas dari komponen yang
terbakar seperti karbon, hidrogen, dan sulfur dikurangi dengan panas
reaksi eksotermis dan endotermis yang terjadi dari pembakaran komponen
pengotor.
6. Kandungan Sulfur
Sulfur merupakan zat pencemar, maka adanya sulfur yang tinggi sangat
tidak dikehendaki.
Ada 3 macam bentuk sulfur yaitu:

Pyritic Sulfur (FeS2) biasanya berjumlah 20 - 80 % dari total sulfur

dan berasosiasi dengan abu batubara.


Organic Sulfur biasanya berjumlah relatif dan bervariasi antara 20 80 % dari total sulfur. Sulfur organik terikat secara kimia dengan

subtansi dan zat-zat lain.


Sulphate sebagian besar terdiri dari kalsium sulfat dan besi sulfat.

2.7 Pengaruh Kualitas Batubara


Batubara merupakan bahan baku pembangkit energi yang dipergunakan untuk
industri. Mutu dari batubara akan sangat penting dalam menentukan peralatan
yang dipergunakan. Untuk menentukan kualitas batubara, beberapa hal yang harus
diperhatikan adalah:
High Heating Value (HHV)
High Heating Value sangat berpengaruh terhadap pengoperasian
alat seperti:
- Pulverizer
- Pipa batubara, wind box
- Burner
Semakin tinggi High Heating Value maka aliran batubara setiap
jamnya semakin rendah, sehingga kecepatan coal feeder harus
disesuaikan.
Total Moisture

Kandungan moisture mempengaruhi jumlah pemakaian udara


primernya, pada batubara dengan kandungan moisture tinggi akan
membutuhkan udara primer lebih banyak guna mengeringkan
batubara tersebut pada suhu keluar mill tetap.
Volatile Matter
Kandungan volatile

matter

mempengaruhi

kesempurnaan

pembakaran dan intensitas nyala api. Kesempurnaan pembakaran


ditentukan oleh :
Fuel ratio=

Carbon
Volatile Matter

Semakin tinggi fuel ratio maka carbon yang tidak terbakar


semakin banyak.
Ash Content
Kandungan abu akan terbawa bersama gas pembakaran melalui
ruang bakar dan daerah konveksi dalam bentuk abu terbang atau
abu dasar. Sekitar 20% dalam bentuk abu dasar dan 80% dalam
bentuk abu terbang.Semakin tinggi kandungan abu dan tergantung
komposisinya

mempengaruhi

tingkat

pengotoran

(fouling),

keausan dan korosi peralatan yang dilalui.


Sulfur Content
Kandungan sulfur berpengaruh terhadap tingkat korosi sisi dingin
yang terjadi pada elemen pemanas udara, terutama apabila suhu
kerja lebih rendah dari letak embun sulfur, disamping berpengaruh
terhadap efektifitas penangkapan abu pada peralatan electrostatic
precipator.
Coal Size
Ukuran butir batubara dibatasi pada rentang butir halus dan butir
kasar. Butir paling halus untuk ukuran < 3 mm, sedangkan ukuran
paling kasar sampai 50 mm. Butir paling halus dibatasi Dustness
dan tingkat kemudahan diterbangkan angin sehingga mengotori

lingkungan. Tingkat Dustness dan kemudahan beterbangan masih


ditentukan pula oleh kandungan moisture batubara.
Hardgrove Grindability Index (HGI)
Kapasitas mill (pulverizer) dirancang pada Hardgrove grindability
index tertentu, maka untuk HGI lebih rendah kapasitasnya lebih
rendah dari nilai patoknya untuk menghasilkan fineness yang
sama.
Ash Fushion Temperature
Ash Fushion Temperature akan mempengaruhi tingkat fouling,
slagging dan operasi soot blower.
2.8 Batubara Untuk Pembangkit Listrik
Batubara merupakan bahan bakar padat yang terbentuk secara alamiah akibat
pembusukan sisa tanaman purba dalam waktu jutaan tahun. Oleh karena itu,
karateristik dan kualitas sangat bervariasi dan tidak homogen dibandingkan
dengan bahan bakar yang telah mengalami proses pengolahan dalam pabrik
seperti misalnya bahan bakar minyak. Selain tingkat pembatubaraan atau
peringkat (rank), kualitas suatu endapan batubara juga dipengaruhi oleh
lingkungan pengendapannya. Batubara peringkat yang lebih tinggi seperti
batubara bituminus dan antrasit mempunyai nilai kalor tinggi dan kadar rendah.
Sebaliknya, batubara peringkat rendah seperti lignit dan subbituminus mempunyai
kadar air tinggi dan nilai kalor rendah. Di samping itu, lingkungan pengendapan
dan cara penambangan dapat mempengaruhi kadar abu serta karateristik abu
(komposisi dan titik leleh abu). Tambahan lagi, batubara peringkat rendah
umumya mempunyai kecenderungan swabakar yang tinggi dan mempunyai sifat
fisik yang rendah (mudah hancur). Hal ini mengakibatakan kualitas endapan
batubara bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya, atau bahkan dapat bervariasi
dari lapisan satu ke lapisan lainnya pada daerah ata cekungan geologis yang sama.
Karakteristik pembakaran batubara dalam sebuah pembangkit listrik terutama di
pengaruhi oleh (Reid, 1991):

Kualitas atau karakteritik batubara

10

Batasan yang ditentuan oleh desian boiler, posisi burner, konfigurasi

fisik dan luas perpindahan panas dalam ketel uap (boiler)


Kondisi operasional

Mengingat hal tersebut di atas maka, idealnya desain suatu pembangkit listrik
berbahan bakar batubara dibuat berdasarkan kualitas batubara yang akan
digunakan. Atau sebaliknya, batubara yang dipasok untuk sebuah pembangkit
listrik seharusnya sesuai dengan spesifikasi yang dipersyarakan. Sering terjadi,
keterlambatan pasokan batubara sesuai spesifikasi menyebabkan digunakannya
batubara lain yang kualitasnya tidak memenuhi spesifikasi. Hal ini dapat
mengganggu kelancaran pengoperasian pembangkit listrik.
Beberapa pengaruh yang terjadi jika menggunakan batubara di luar
spesifikasi (off design) pada pembangkit yang telah ada (exiting) di antarany
adalah kinerja penggerus, pengendapan abu (slagging dan fouling) dan
karakteristik dan efesiensi pembakaran. Kinerja mesin penggerus (pulverizer)
biasanya berhubungan dengan nilai kalor dan sifat ketergerusan (HGI, hardgrove
grindability index) (Savage, 1974). Apabila digunaan batubara dengan kalor lebih
rendah dari spesifikasi, mka diperlukan jumlah batubara yang lebih banyak,
sehingga penggerus kemungkinan perlu ditambah atau penggerus cadangan perlu
diopersikan.
2.9 Blending
2.9.1 Pengertian Blending
Blending ialah suatu tahapan yang masih masuk dalam proses pengolahan
batubara, pengertian blending yaitu suatu proses pencampuran beberapa batubara
yang memiliki kualitas atau kualitas yang berbeda sehingga membentuk satu
batubara dengan kualitas tertentu yang diinginkan. Target kualitas yang ingin
dicapai dalam blending berbeda-beda. Ada yang menjadikan Sulfur sebagai target
pencapaian ada juga yang menjadikan kalori sebagai acuan target yang ingin
dicapai.
Rumus dasar perhitungan blending :

11

(Batubara A x P) +( Batubara B x P )
n
=

Batubara C

Dimana :
Batubara A = Batubara yang akan dicampur
Batubara B = Sebagai pencampur batubara A
Batubara C = Batubara dari hasil pencampuran
n

= Banyaknya batubara dari pencampur dan yang dicampur

= Parameternya

2.9.2 Perhitungan Blending


Proses perhitungan blending yang perlu diperhatikan dalam menghitung dan
mengkalkulasi

blending

adalah

bahwa

hanya

kualitas

yang

bersifat kuantitatif yang bisa langsung dihitung dengan kumulatif. Sedangkan


kualitas yang kualitataif tidak bisa dihitung secara matematika. Perhitungan hasil
pencampurannya lebih bersifat probablilty atau kemungkinan saja, dan tidak dapat
dipastikan Parameter kuantitatif adalah parameter yang dalam satuannya terdapat
unsur berat seperti Calorific Value ( Kcal/kg ), TM, IM, Ash, VM, dan Ultimate
semuanya dinyatakan dalam persen ( % ) berat dan lain lain.
Blending merupakan cara terbaik untuk memperbaiki dan menyatukan sifat
dan kualitas batubara dari daerah atau jenis yang berbeda, sehingga
memungkinkan dapat memenuhi persyaratan konsumen. Biasanya blending
dilakukan antara batubara peringkat rendah dan peringkat tinggi, kadar abu tinggi
dan kadar abu rendah, kadar belerang tinggi dan belerang rendah. Dalam suatu
pembangkit listrik, sistem bending dapat memberikan banyak keuntungan di
antaranya :

Meningkatakan kelenturan (fleksibilitas) dan memperluas kisaran batubara

yang dapat digunakan;


Diverifikasi pasokan batubara untuk keamanan pasokan;
Membantu mengatasi masalah yang terjadi apabila digunakan batubara di
luar spesifikasi.
12

Kualitasi batubara campuran (hasil blending) umumnya dihitug berdasarkan


rata-rata berat data analisis dan pengujian yang diperoleh dari masing-masing
batubara individu (yang dicampur). Data kualitas tersebut kemudian digunakan
untuk memprediksi karakteristik pembakaran dalam katel uap. Namun tidak
semua parameter kualitas batubara campuran dapat diprediksi menggunakan data
kualitas hasil perhitungan rata-rata berat. Parameter-parameter air, kadar abu, zat
terbang, karbon padat, karbon total, hidrogen, sulfur, nitrogen, oksigen, klorin,
kadar maseral, dan nilai kalor cenderug bersifat aditif, sehingga dapat
menggunakan perhitungan tersebut. Sedangkan nilai muai bebas, titik leleh abu
dan HGI umumnya cenderung bersifat nonaditif. Menurut Hower (1988) HGI
dapat bersifat aditif hanya untuk blending antara batubara peringkat yang sama.
Sedangkan Riley (1989) menyatakan bahwa HGI dapat bersifat aditif asalkan
perbedaan nilai HGI masing-masing batubara di-blending tidak lebih dari 10.
2.9.3 Blending Plan
Sebelum pelaksanaan blending dilakukan, maka hal utama yang harus
dilakukan adalah membuat blending plan atau simulasi blending. Dimana dalam
blending plan terdapat target kualitas yang ingin dicapai, kualitas masingmasing batubara yang akan di blending, atau kebutuhan kualitas batubara yang
harus ditambang dan harus dicampurkan untuk memenuhi kualitas target yang
sudah ditentukan. Hal ini sangat penting dilakukan dalam rangka efiensi dari
blending tersebut. Dalam menyusun suatu blending plan hal-hal yang perlu
diperhatikan dan ditentukan yaitu:

Parameter yang bersifat kualitatif


Sensitifitas blending
Strategi pencampuran

2.9.4 Parameter Yang Bersifat Kualitatif


Dalam mensimulasikan kualitas blending, yang harus diperhatikan adalah
bahwa tidak semua parameter kualitas batubara dapat disimulasikan dengan
perhitungan cumulative. Parameter yang tidak bisa dihitung secara cumulative
adalah parameter yang bersifat kualitatif. Untuk menentukan dari hasil blending

13

untuk jenis parameter tersebut maka harus dibuat simulasi composite, yaitu
dengan mencampurkan batubara yang akan diblending dengan proporsi blending
yang sudah ditentukan, kemudian dianalisa. Hasil analisa tersebut merupakan
prediksi kualitas hasil blending.
2.9.5 Sensifitas Blending
Sensitifitas blending adalah tingkat pengaruh dari suatu batubara blending
terhadap hasil blending. Sensifikasi blending ini menjadi hal yang sangat penting
dan perlu diperhatikan terutama pada blending batubara dengan rasio kuantitas
blending yang cukup tinggi. Sensitifitas blending ini sangat erat kaitannya dengan
efeinsi blending tersebut. Suatu blending yang dilakukan dengan rasio kuantitas
yang cukup besar akan menjadi tidak berarti karena pengaruhnya tidak cukup
signifikan dalam merubah kualitas asal.
2.9.6 Strategi Pencampuran
Pencampuran suatu blending yang baik adalah dengan mencampurkan dua
atau lebih batubara menggunakan unit loading rate terkecil. Sistem pencampuran
Sistem pencampuran atau blending yang mungkin terjadi dengan tingkat homogen
yang mengecil secara berurutan.
Unit Pencampuran
1.
2.
3.
4.

Belt conveyor
Bucket Loader
Dump Truck
Barge

Unit Rasio Pencampuran


Fee rate (tph)
Jumlah Bucket
Jumlah Dump truck
Jumlah Barge

Dari unit pencampur yang pertama merupakan blending yang paling homogen
karena memiliki unit loading terkecil perhitungan waktu. Sedangkan unit
pencampur kedua sampai keempat memiliki unit loading besar sesuai dengan alat
yang digunakan untuk melakukan blending batubaranya. Selain itu, blending
dengan menggunakan unit seperti pada unit pencampur kedua dan ketiga harus
memperhitungkan jarak masing-masing batubara yang diblending. Karena

14

pencampuran harus dilakukan pada waktu yang sama, atau paling tidak berurutan
pada tiap satuan rasio.

BAB III Pake METODOLOGI PENELITIAN


3.1
BAB III ganti BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
3.1 Spesifikasi Batubara untuk PLTU Suralaya Unit 1-4
Spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya yang didasarkan atas kualitas
batubara Air Laya. Spesifikasi tersebut (Kannan, 1985) sesuai untuk batubara
peringkat subbituminus dengan nilai kalor dan kadar air masing-masing 5.242
kal/g (as received) dan 23,60 % dengan pembatasan nilai kalor minimum 4.225
kal/g dan kadar air maksimum 28,30%. Yang dimaksud dengan batas minimum

15

nilai kalor adalah batubara dengan nilai kalor 4.225 kal/g masih dapat digunakan
dan menghasilkan keluaran (daya) listrik sesuai kapasitas pembangkit asalkan
seluruh fasilitas penanganan (handling) dan penggiling (mill) dijalankan. Batubara
dengan nilai kalor lebih rendah dari batas minimum tersebut juga bisa digunakan,
tetapi keluaran listrik akan turun walaupun semua fasilitas penanganan penggiling
batubara dijalankan. Parameter kualitas bersifat aditif lainnya, yakni kadar abu
dan kadar belerang masing-masing 7,80% (maksimum 12,80%) dan 0,40%
(maksimum 0,90%). Sedangkan parameter kualitas yang non-aditif, yakni
diantaranya HGI 61,8 (minimum 48), titik leleh abu 1.279C (minimum 1010C),
indeks penerakan medium dan indeks fouling tinggi.
Tabel 3.1 Spesifikasi Batubara Untuk PLTU Suralaya Unit 1-4
Tabel 3.1 (Slamet Suprapto)

Parameter (as received)


Kadar air, %
Kadar abu, %
Nilai Kalor, kal/g
Sulfur, %
HGI
Titik leleh abu
(Deformasi awal), oC
Indeks penerakan
Indeks fouling

Minimum
4,225
48
1.010

Maksimum
28,30
12,80
0,90
-

Rata-rata
23,60
7,80
5.242
0,40
61,8
1.279

Medium
tinggi

3.2 Kualitas Batubara Indonesia


Data kualitas batubara indonesia yang terdiri atas batubara peringkat rendah,
dapat dilihat pada tabel 3.2 (Asosiasi Pertambangan Baubara Indonesia, 2008).
Batubara peringkat rendah mempunyai nilai kalor dicirikan terutama oleh
tingginya kadar air dan rendahnya nilai kalor. Dari data dua contoh batubara
peringkat peringkat rendah yang dikaji, batubara Peranap dan Bara Mutiara Prima
mempunyai kadar air total masing-masing 49% dan 30% dan dengan nilai kalor
3.234 kal/g dan 4.400 kal/g (as received ). Namun demikian, kadua batubara

16

tersebut termasuk bersih dengan masing-masing kadar abu 1,19% dan 4,30% dan
kadar belerang 0,11% dan 0,30%. Edua batubara tersebut mempunyai sifat
ketergerusan menengah, yakni masing-masing 54 dan 60. Titik leleh abu batubara
Peranap cukup rendah, yakni dengan deformasi awal 1.200 oC dibanding abu
batubara Bara Mutiara Prima yang deformasi awalnya sebesar 1.350 oC. oleh
karena itu, indeks penerakan batubara Peranap termasuk klasifikasi tinggi dan
batubara Bara Mutiara Prima termasuk rendah. Sedangkan indeks

fouling

keduanya termasuk klasifikasi rendah.


Apabila kedua batubara peringkat digunakan untuk PLTU Suralaya unit 1-4,
maka parameter kualitas yang tidak memenuhi spesifikasi adalah nilai kalornya.
Normalnya untuk mengoperasikan 1 unit kapasitas 400 MW menggunakan
batubara Air laya dibutuhkan 170 ton batubara/jam. Apabila digunakan batubara
Bara Mutiara Prima, maka untuk menghasilakan listrik yang sama dibutuhkan
202 ton batubara/jam. Sedangkan jika menggunakan batubara Peranap, maka
dibutuhkan 275 ton batubara/jam. Mesin penggiling yang tersedia untuk 1 unit
400 MW tersebut tersedia sebanyak 5 buah yang masing-masing berkapasitas 65
ton batubara/jam. Normalnya, apabila digunakan batubara Air laya hanya
dioperasikan 3 buah mesin, sehingga 2 mesin lainnya untuk cadangan. Apabila
digunkan batubara Bara Mutiara Prima dibutuhkan 4 mesin, sedangkan 1 mesin
untuk cadangan. Tetapi apabila digunakan batubara Peranap, maka seluruh mesin
harus dioperasikan, sehingga tidak ada cadangan. Pengoperasian seluruh mesin
penggerus tersebut dapat menimbulkan risiko gangguan terhadap operasi
pembangkit listrik mengingat perlunya waktu perawatan setiap mesin. Oleh
karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan blending plant guna
meningkatkan nilai kalor batubara peringkat rendah yang tersedia.
Data kualitas batubara peringkat tinggi yang dikaji adalah sebanyak 14 buah,
berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Selain dicirikan oleh tingginya nilai kalor
dan rendahnya kadar air, batubara-batubara tersebut umumnya mempunyai sifat
ketergerusan rendah atau sulit digerus dengan HGI kurang dari 50. Batubara
Danau Mas Hitam mempunyai HGI bervariasi antara 40-60. Sedangkan batubara
Kartia Selabumi yang mempunyai HGI tinggi atau mudah digerus, yakni sebesar

17

80. Tetapi batubara ini juga mempunyai nilai bebas yang tiggi yakni 9, tidak
seperti umumnya batubara Indonesia yang mempunyai nilai muai bebas rendah.
Kadar abu dan kadar belerang batubara peringkat tinggi bervariasi, masingmasing antara 2,0% sampai 19,48% dan 0,15% sampai 2,56%. Sedangkan data
indeks penerakan dan indeks fouling hanya tersedi untuk batubara Kartika
Selabumi dan Lana Harita. Batubara Kartika Selabumi mempunyai indeks
penerakan dan indeks fouling klasifikasi rendah. Sedangkan untuk batubara
Lana Harita klasifikasi rendah dan medium.
Tabel 3.2 Data Kualitas Batubara Indonesia Perigkat Rendah
Parameter

Peranap
(Sumsel)

Kadar Air, %

49,00

Bara Mutiara Prima


(Sumsel)
30,0

Kadar Abu, %

1,19

4,30

Nilai Kalor, kal/g

3.234

4.400

Sulfur, %

0,11

0,30

HGI

54

60

Deformasi awal abu, oC

1.200

1.350

Indeks Penerakan

Tinggi*

Rendah*

Indeks fouling
Rendah*
Sumber: Slamet Suprapto, 2008

Rendah*

3.3 Blending Batubara


Blending yang dilakukan didasarkan pada pencampuran kalori rendah dengan
kalori tinggi atau antara batubara peringkat rendah dengan peringkat tinggi.
berdasarkan data kualitas batubara Indonesia blending antara peringkat rendah
dengan peringkat tinggi dapat dimungkinkan untuk memenuhi persyaratan nilai
kalor sebesar 5.242 kal/g (as received) dan parameter yang bersifat aditif lainnya,
seperti misalnya kadar air, kadar abu dan kadar belerang.

Yang perlu

dipertimbangkan adalah HGI batubara peringkat tinggi, yang ternyata kebanyakan

18

kurang dari 50. Walaupun HGI batubara peringkat rendah umumnya tinggi,
mengingat parameter ini cenderung nonaditif maka HGI hasil blending belum
tentu sesuai dengan perhitungan. Apabila nilai HGI hasil blending ternyata lebih
rendah dari perhitungan maka kapasitas atau keluaran penggerus turun atau
kehalusan produk penggerusan dapat menurun. Menurunnya keluaran penggerus
dapat menurunkan keluaran listrik. Sedangkan menurunnya kehalusan batubara
dapat menyebabkan menurunnya efisiensi pembangkit dan meningkatnya kadar
karbon tak terbakar dalam bau batubara. Untuk mengkaji lebih mendalam, maka
pengujian penggerusan dan pembakaran skala yang lebih besar seperti skala meja
atau skala yang lebih mendekati kapasitas nyata di lapangan perlu dilakukan
sebelum mengaplikasikannya pada kondisi sebenarnya.
Batubara Kartika Selabumi mempunyai nilai kalor cukup tinggi, yaitu 7.889
kal/g dan juga HGI yang cukup tinggi yakni 80, tetapi nilai muai bebasnya sangat
tinggi mencapai 9. Normalnya, nilai muai bebas batubara untuk pembangkit listrik
maksimum 4 (Rance, 1975). Tambahan lagi nilai muai bebas merupakan
parameter nonaditif, sehingga karakteristik pembakaran batubara hasil blending
batubara ini tidak dapat diprediksi dari masing-masing batubara yang akan diblending.
Selain HGI, karakteristik abu yakni kecenderungan penerakan dan fouling
juga perlu dipertimbangkan. Mengingat data dan indeks penerakan dan indeks
fouling kebanyakan tidak tersedia, maka parameter tersebut perlu dilengkapi.
Apalagi jika hasil uji di laboraterium dan perhitungan menyatakan kecenderungan
kedua indeks tersebut termasuk klasifikasi tinggi, maka uji pembakaran pada
kondisi yang mendekati ketel uap perlu dilakukan. Pengendapan terak abu terjadi
di daerah ruang bakar atau radiasi, sedangkan endapan fouling terjadi pada daerah
yang lebih dingin yakni pada pipa-pipa ketel uap. Apabila terak abu yang
menempel di dinding tungku(ruang bakar) sulit diambil maka perpindahan panas
ke dinding akan menurun dan selanjutnya efisiensi pembakaran juga menurun
(Elliot, 1981).

19

Endapan fouling yang terjadi pada pipa ketel uap menyebabkan penyempitan
pada deretan pipa yang selanjutnya mempercepat laju alir gas buang. Hal ini dapat
menyebabkan naiknya suhu gas buang dan juga erosi terhadap pipa ketel uap.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari hasil pembahasan mengenai blending dapat disimpulkan :

20

Kegiatan blending merupakan salah satu kegiatan pengendalian mutu


kualitas batubara dari dua jenis atau lebih batubara yang dicampurkan
dengan kualitas berbeda untuk memperoleh satu jenis batubara dengan

kualitas yang sesuai dengan spesifikasi dalam permintaan konsumen.


Dalam suatu proses blending yang akan merubah nilai parameter hasil
blendingnya ialah banyak batubara pencampur dan batubara yang akan
dicampur untuk mencapai hasil sesuai dengan permintaan.

4.2 Saran
-

Dalam proses pengambilan batubara perlu diperhatikan lagi hal kebersihan

karena sangat mempengaruhi nilai parameter batubara tersebut.


Dalam pencampuran batubara tersebut harus dilakukan pencampuran yang
benar-benar homogen.

21