Anda di halaman 1dari 31

KESIAPAN MASYARAKAT INDONESIA MENUJU

MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015


3 Oktober 2012 pukul 19:16

KESIAPAN MASYARAKAT INDONESIA MENUJU MASYARAKAT EKONOMI ASEAN


2015
Oleh :
Arip Perbawa
Manajemen FEB Unpad 2012
Indonesia adalah salahsatu Negara terbesar populasinya yang ada di kawasan ASEAN.
Masyarakat Indonesia adalah Negara Heterogen dengn berbagai jenis suku, bahasa dan
adat istiadat yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Indonesia mempunyai
kekuatan ekonomi yang cukup bagus, pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia (4,5%)
setelah RRT dan India. Ini akan menjadi modal yang penting untuk mempersiapkan
masyarakat Indonesia menuju AEC tahun 2015.
Sebagai salah satu dari tiga pilar utama ASEAN Community 2015, ASEAN
EconomicCommunity yang dibentuk dengan misi menjadikan perekonomian di ASEAN
menjadi lebih baik serta mampu bersaing dengan Negara-negara yang perekonomiannya
lebih maju dibandingkan dengan kondisi Negara ASEAN saat ini. Selain itu juga dengan
terwujudnya ASEAN Community yang dimana di dalamnya terdapat AEC, dapat
menjadikan posisi ASEAN menjadi lebih strategis di kancah Internasional, kita
mengharapkan dengan dengan terwujudnya komunitas masyarakat ekonomi ASEAN ini
dapat membuka mata semua pihak, sehingga terjadi suatu dialog antar sektor yang dimana
nantinya juga saling melengkapi diantara para stakeholder sektor ekonomi di Negaranegara ASEAN ini sangat penting. Misalnya untuk infrastruktur, jika kita berbicara tentang
infrastruktur mungkin Indonesia masih sangat dinilai kurang, baik itu berupa jalan raya,
bandara, pelabuhan, dan lain sebagainya. Dalam hal ini kita dapat memperoleh manfaat
dari saling tukar pengalaman dengan anggota ASEAN lainnya.
Jika dilihat dari sisi demografi Sumber Daya Manusia-nya, Indonesia dalam menghadapi
ASEAN Economic Community ini sebenarnya merupakan salah satu Negara yang
produktif. Jika dilihat dari faktor usia, sebagian besar penduduk Indonesia atau sekitar 70%
nya merupakan usia produktif. Jika kita lihat pada sisi ketenaga kerjaan kita memiliki 110
juta tenaga kerja (data BPS, tahun 2007), namun apakah sekarang ini kita utilize dengan
tenaga kerja kita yang berjumlah sekitar 110 juta itu.
Untuk itu kita harus mampu meningkatkan kepercayaan diri bahwa sebetulnya apabila kita
memiliki kekuatan untuk bisa bangkit dan terus menjaga kesinambungan stabilitas ekonomi
kita yang sejak awal pemerintahan Presiden Susilo Bamabang Yudhoyono ini terus
meningkat, angka kemiskinan dapat ditekan seminim mungkin, dan progres dalam bidang
ekonomi lainnya pun mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Dengan hal tersebut
banyak sekali yang bisa kita wujudkan terutama dengan merealisasikan ASEAN Economy
Community 2015 nanti. Stabilitas ekonomi Indonesia yang kondusif ini merupakan sebuah
opportunity dimana Indonesia akan menjadi sebuah kekuatan tersendiri, apalagi dengan
sumber daya alam yang begitu besar, maka akan sangat tidak masuk akal apabila kita
tidak bisa berbuat sesuatu dengan hal tersebut.
Melihat kondisi ekonomi Indonesia yang stabil dan mengalami peningkatan yang signifikan
dalam beberapa tahun belakangan ini, saya menyimpulkan bahwa mengenai kesiapan
Indonesia dalam menyongsong ASEAN Economic Community, bisa dikatakan siap, dapat

dilihat dari keseriusan pemerintah dalam menangani berbagai masalah pada bidang
ekonomi baik itu masalah dalam negeri ataupun luar negeri.
Selain itu, posisi Indonesia sebagai Chair dalam ASEAN pada tahun 2012 ini berdampak
sangat baik untuk menyongsong terealisasinya ASEAN Economic Community. Dari dalam
negeri sendiri Indonesia telah berusaha untuk mengurangi kesenjangan ekonomi
Kesenjangan antara pemerintah pusat dengan daerah lalu mengurangi kesenjangan antara
pengusaha besar dengan UKM dan peningkatan dalam beberapa sektor yang mungkin
masih harus didorong untuk meningkatkan daya saing.
Berkaca pada salah satu statement ASEAN Community bahwa Masyarakat ASEAN 2015
adalah Warga ASEAN yang cukup sandang pangan, cukup lapangan pekerjaan,
pengangguran kecil tingkat kemiskinan berkurang melalui upaya penanggulangan
kemiskinan yang kongkrit. Pemerintah Indonesia sampai dengan pada saat ini terus
berusaha untuk mewujudkan masyarakat Indonesia itu sendiri makmur dan berkecukupan
sebelum memasuki AEC kelak.
ASEAN pada awalnya hanyalah sebuah organisasi regional yang bentuk kerjasamanya
loose atau tidak longgar, namun dengan adanya ASEAN Charter maka Negara-negara
ASEAN ini membentuk suatu masyarakat ASEAN yang mempunyai tiga pilar utama yaitu,
ASEAN Economic Community, ASEAN Security Community, ASEAN Socio-Cultural
Community dengan tujuan terciptanya stabilitas, perdamaian dan kemakmuran bersama di
kawasan. Pada awalnya ASEAN Community ini akan diwujudkan pada tahun 2020, namun
di percepat menjadi tahun 2015 yang mana waktu realisasinya tinggal 3 tahun lagi.
ASEAN Economic Community (AEC) sebenarnya merupakan bentuk integrasi ekonomi
yang sangat potensial di kawasan maupun dunia. Barang, jasa, modal dan investasi akan
bergerak bebas di kawasan ini. Integrasi ekonomi regional memang suatu kecenderungan
dan keharusan di era global saat ini. Hal ini menyiratkan aspek persaingan yang
menyodorkan peluang sekaligus tantangan bagi semua negara. Skema AEC 2015 tentang
ketenagakerjaan, misalnya, memberlakukan liberalisasi tenaga kerja profesional papan
atas, seperti dokter, insinyur, akuntan dsb. Celakanya tenaga kerja kasar yang merupakan
kekuatan Indonesia tidak termasuk dalam program liberalisasi ini. Justru tenaga kerja
informal yang selama ini merupakan sumber devisa non-migas yang cukup potensional
bagi Indonesia, cenderung dibatasi pergerakannya di era AEC 2015.
Ada tiga indikator untuk meraba posisi Indonesia dalam AEC 2015. Pertama, pangsa
ekspor Indonesia ke negara-negara utama ASEAN (Malaysia, Singapura, Thailand,
Pilipina) cukup besar yaitu 13.9% (2005) dari total ekspor. Dua indikator lainnya bisa
menjadi penghambat yaitu menurut penilaian beberapa institusi keuangan internasional daya saing ekonomi Indonesia jauh lebih rendah ketimbang Singapura, Malaysia dan
Thailand. Percepatan investasi di Indonesia tertinggal bila dibanding dengan negara
ASEAN lainnya. Namun kekayaan sumber alam Indonesia yang tidak ada duanya di
kawasan, merupakan local-advantage yang tetap menjadi daya tarik kuat, di samping
jumlah penduduknya terbesar yang dapat menyediakan tenaga kerja murah.
Sisa krisis ekonomi 1998 yang belum juga hilang dari bumi pertiwi, masih berdampak
rendahnya pertumbuhan investasi baru (khususnya arus Foreign Direct Investment) atau
semakin merosotnya kepercayaan dunia usaha, yang pada gilirannya menghambat
pertumbuhan ekonomi nasional. Hal tersebut karena buruknya infrastruktur ekonomi,
instabilitas makro-ekonomi, ketidakpastian hukum dan kebijakan, ekonomi biaya tinggi dan
lain-lain. Pemerintah tidak bisa menunda lagi untuk segera berbenah diri, jika tidak ingin
menjadi sekedar pelengkap di AEC 2015. Keberhasilan tersebut harus didukung oleh
komponen-komponen lain di dalam negeri. Masyarakat bisnis Indonesia diharapkan
mengikuti gerak dan irama kegiatan diplomasi dan memanfaatkan peluang yang sudah

terbentuk ini. Diplomasi Indonesia tidak mungkin harus menunggu kesiapan di dalam
negeri. Peluang yang sudah terbuka ini, kalau tidak segera dimanfaatkan, kita akan
tertinggal, karena proses ini juga diikuti gerak negara lain dan hal itu terus bergulir. Kita
harus segera berbenah diri untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia Indonesia yang
kompetitif dan berkulitas global. Menuju tahun 2015 tidaklah lama, Sudah siapkah kita akan
Tantangan dan peluang bagi kalangan profesional muda kita/mahasiswa untuk tidak
terbengong-bengong menyaksikan lalu-lalang tenaga asing di wilayah kita?.
Tantangan Indonesia kedepan adalah mewujudkan perubahan yang berarti bagi kehidupan
keseharian masyarakatnya. Semoga seluruh masyarakat Indonesia kita ini bisa membantu
untuk mewujudkan kehidupan ekonomi dan sosial yang layak agar kita bisa segera
mewujudkan masyarakat ekonomi ASEAN tahun 2015.

Sumber/refferensihttp://www.bi.go.id/biweb/resources/gerai_info/index.html#/Gerai%20Info
%2028/0
http://www.jurnas.com/halaman/10/2011-11-19/189568
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/162082739.pdf

Bagikan
Junaidi Cintakasih, Muchlisin Wirausaha Muda, Putri Widi Sari dan 104 lainnya
menyukai ini.

47 berbagi

Arip Perbawa

Apa yang harus Anda ketahui tentang Masyarakat Ekonomi


Asean
Terbaru 27 Agustus 2014 - 15:35 WIB

Facebook
Twitter
Google+
Kirim kepada teman
Print page

Pekerja di Indonesia akan menghadapi persaingan dari pekerja-pekerja lain di Asia Tenggara.

Persaingan di bursa tenaga kerja akan semakin meningkat menjelang


pemberlakuan pasar bebas Asean pada akhir 2015 mendatang.
Ini akan mempengaruhi banyak orang, terutama pekerja yang berkecimpung pada sektor
keahlian khusus.

Berita terkait

Burger King beli restoran Kanada

Pariwisata halal melonjak di Turki

IHSG menguat pasca putusan MK


Link terkait

Topik terkait

Bisnis,

Ekonomi

Berikut lima hal yang perlu Anda ketahui dan antisipasi dalam menghadapi pasar bebas
Asia Tenggara yang dikenal dengan sebutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
Apa itu Masyarakat Ekonomi Asean?
Lebih dari satu dekade lalu, para pemimpin Asean sepakat membentuk sebuah pasar
tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015 mendatang.
Ini dilakukan agar daya saing Asean meningkat serta bisa menyaingi Cina dan India untuk
menarik investasi asing. Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk
meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan.
Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)
ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke
negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat.
Bagaimana itu mempengaruhi Anda?

Berbagai profesi seperti tenaga medis boleh diisi oleh tenaga kerja asing pada 2015
mendatang.

Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa,
tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya.
Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, menjelaskan bahwa
MEA mensyaratkan adanya penghapusan aturan-aturan yang sebelumnya menghalangi
perekrutan tenaga kerja asing.
"Pembatasan, terutama dalam sektor tenaga kerja profesional, didorong untuk
dihapuskan," katanya.
"Sehingga pada intinya, MEA akan lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk
mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga
asingnya."
Apakah tenaga kerja Indonesia bisa bersaing dengan negara Asia Tenggara lain?
Sejumlah pimpinan asosiasi profesi mengaku cukup optimistis bahwa tenaga kerja ahli di
Indonesia cukup mampu bersaing.
Ketua Persatuan Advokat Indonesia, Otto Hasibuan, misalnya mengatakan bahwa tren
penggunaan pengacara asing di Indonesia malah semakin menurun.

"Oke jabatan dibuka, sektor diperluas, tetapi syarat diperketat. Jadi buka
tidak asal buka, bebas tidak asal bebas."
Dita Indah Sari

"Pengacara-pengacara kita, apalagi yang muda-muda, sudah cukup unggul. Selama ini
kendala kita kan cuma bahasa. Tetapi sekarang banyak anggota-anggota kita yang sekolah
di luar negeri," katanya.
Di sektor akuntansi, Ketua Institut Akuntan Publik Indonesia, Tarko Sunaryo, mengakui ada
kekhawatiran karena banyak pekerja muda yang belum menyadari adanya kompetisi yang
semakin ketat.
"Selain kemampuan Bahasa Inggris yang kurang, kesiapan mereka juga sangat tergantung
pada mental. Banyak yang belum siap kalau mereka bersaing dengan akuntan luar negeri."
Bagaimana Indonesia mengantisipasi arus tenaga kerja asing?

Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, menyatakan tidak
ingin "kecolongan" dan mengaku telah menyiapkan strategi dalam menghadapi pasar
bebas tenaga kerja.
"Oke jabatan dibuka, sektor diperluas, tetapi syarat diperketat. Jadi buka tidak asal buka,
bebas tidak asal bebas," katanya.
"Kita tidak mau tenaga kerja lokal yang sebetulnya berkualitas dan mampu, tetapi karena
ada tenaga kerja asing jadi tergeser.
Sejumlah syarat yang ditentukan antara lain kewajiban berbahasa Indonesia dan sertifikasi
lembaga profesi terkait di dalam negeri.

Permintaan tenaga kerja jelang MEA akan semakin tinggi, kata ILO.

Apa keuntungan MEA bagi negara-negara Asia Tenggara?


Riset terbaru dari Organisasi Perburuhan Dunia atau ILO menyebutkan pembukaan pasar
tenaga kerja mendatangkan manfaat yang besar.
Selain dapat menciptakan jutaan lapangan kerja baru, skema ini juga dapat meningkatkan
kesejahteraan 600 juta orang yang hidup di Asia Tenggara.
Pada 2015 mendatang, ILO merinci bahwa permintaan tenaga kerja profesional akan naik
41% atau sekitar 14 juta.
Sementara permintaan akan tenaga kerja kelas menengah akan naik 22% atau 38 juta,
sementara tenaga kerja level rendah meningkat 24% atau 12 juta.
Namun laporan ini memprediksi bahwa banyak perusahaan yang akan menemukan
pegawainya kurang terampil atau bahkan salah penempatan kerja karena kurangnya
pelatihan dan pendidikan profesi.

Link terkait
Berita ter
Kategori: Berita

Masyarakat Ekonomi Asean 2015: Penonton atau


Pemain?

Beberapa waktu yang lalu Direktorat Jenderal Kerjasama Asean Kementrian Luar
Negeri bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melaksanakan
kegiatan sosialisasi menuju Masyarakat Ekonomi Asean 2015 bertempat di Gedung
Grhadika Bhakti Praja, Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah yang diwakili oleh Asisten
Pemerintahan, Dirjen Kerjasama Asean Kementrian Luar Negeri, Perwakilan Duta
Besar Indonesia untuk negara-negara Asean, Bupati/Walikota se-Jawa Tengah, SKPD
Provinsi Jawa Tengah, Institusi Penanaman Modal dan Perekonomian Kabupaten/Kota
se-Jawa Tengah, Kadin Jawa Tengah dan pelaku usaha di Jawa Tengah. Dalam forum
tersebut dipaparkan peningkatan daya saing industri dan perekonomian oleh Prof. FX.
Sugiyanto (pengamat bisnis dari Universitas Diponegoro Semarang), Kadin Indonesia
tentang peluang dan tantangan asean economic community, prosedur penggunaan
Surat Keterangan Asal (SKA) dalam free trade area oleh Bp Farid Amir dari Direktorat
Fasilitasi Ekspor dan Impor Perdagangan Luar Negeri Kementrian Perdagangan,
potensi kerjasama ekonomi Indonesia-Singapura oleh Bp Arianto Surojo dari
perwakilan KBRI Singapura, potensi kerjasama Indonesia-Brunei Darussalam oleh
perwakilan KBRI Bandar Seri Begawan, dan peluang kerjasama ekonomi IndonesiaFilipina oleh Bp Vivianto Tampubolon dari atase perdagangan Manila.
Beberapa hal yang disampaikan, dibahas dan didiskusikan dalam forum tersebut
adalah :

Kegiatan Sosialisasi Menuju Masyarakat Ekonomi Asean 2015 bertujuan untuk


memberikan informasi dan pemahaman kepada seluruh stake holder di Provinsi
Jawa Tengah berkaitan dengan kesepakatan/perjanjian asean free trade
area (AFTA) agar mampu bersaing secara sehat di berbagai bidang, dengan area
Asean sebagai pasar tunggal, pembebasan bea tarif masuk antar negara, dengan
kerjasama yang saling menguntungkan;

Masyarakat Ekonomi Asean 2015 tersebut mulai dirintis oleh para pemimpin
negara Asean (yang beranggotakan 10 negara) sejak tahun 2003;

Pemberlakuan action dari Masyarakat Ekonomi Asean 2015 bertujuan untuk


memenuhi target MDGs (milenium development goals);

Semakin disadari oleh dunia bahwa negara-negara Asean merupakan engine


of grow bagi ekonomi dunia;

Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean 2015 tersebut bisa menjadi


tantangan, peluang dan ancaman, bergantung kesiapan seluruh stake holder suatu
negara, sehingga Indonesia harus mampu memanfaatkan momentum tersebut
sebagai tantangan dan peluang dengan meningkatkan daya saing, dengan
menjadi pemain bukan penonton.

Beberapa hal yang menjadi kendala bagi Indonesia adalah lemahnya daya
saing, infrastruktur dan konektivitas antar daerah;

Jumlah usaha kecil dan menengah di Jawa Tengah sebanyak 7,8 juta, dengan
3,6 juta merupakan UKM non-pertanian. Jawa Tengah juga banyak
memiliki cluster-cluster unggulan sehingga Pemerintah Daerah seyogyanya
senantiasa mendorong pertumbuhan dan daya saingnya;

Beberapa hambatan Indonesia ekspansi ke negara Asean yang lain adalah


kurangnya upaya promosi, sejumlah produk Indonesia identik dengan produk
negara lain, kurangnya kompetensi tenaga kerja dan fluktuasi nilai tukar mata
uang;

Beberapa peluang Indonesia ekspansi ke negara Asean yang lain adalah


sumberdaya yang melimpah, kejenuhan terhadap barang impor murah dari China,
dan upah tenaga yang masih relatif murah. Peluang tersebut antara lain industri
perikanan, makanan dan minuman, otomotif, industri kreatif, industri militer, industri
perlengkapan olah raga, sektor konstruksi, sektor ketenagakerjaan, pengolahan
hasil laut/perikanan, sektor kesehatan, sektor pertanian dan sektor energi;

Beberapa komoditi ekspor Indonesia ke Singapura : minyak dan gas, bahan


perhiasan dari logam mulia, suku cadang pesawat terbang, kertas, minyak kelapa
sawit mentah, sayur dan buah-buahan segar, produk pertanian (keladi, talas, ubi
kayu), produk perkebunan (kopi, kakao, jambu mente), ikan hias, produk makanan
olahan, produk alas kaki, produk spa / aromatherapy, produk kosmetik, produk
kerajinan, produkfurniture, produk perikanan dan peralatan hotel;

Beberapa komoditi ekspor Indonesia ke Filipina : pupuk urea, komponen dan


suku cadang kendaraan bermotor, helmet, produk olahan plastik, makanan
minuman (kopi, teh, kakao, kecap manis, coklatpowder, tepung terigu, meises),
kendaraan bermotor (Toyota Innova dan Avanza), batubara, nikel, pasir kwarsa,
dan furniture;

Beberapa komoditi ekspor Indonesia ke Brunei Darussalam : beras, sayur


mayur, buah-buahan, pupuk, traktor, dokter, perawat, produk olahan hasil
laut/ikan/air tawar, tenaga kerja dan sektor konstruksi.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus segera mempersiapkan diri
menyongsong pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean 2015, dengan segala
potensi yang dimiliki dan usaha untuk selalu berbenah diri menuju daerah yang
beribadat, maju, mandiri, sejahtera, tangguh, berdaya saing dan pro investasi,
sehingga sangat terbuka peluang untuk bekerjasama dan bersinergi positif tidak hanya
dengan daerah lain atau investor secara nasional, tetapi juga secara regional (Asean)
dan internasional.

< Sebelumnya

Berikutnya >

Layanan

Perizinan

Izin Usaha Kepariwisataan

Hubungi Kami

Pengaduan

Biaya Perizinan

Jam Pelayanan

Free business joomla templates


Subsidi Dicabut Demi Rakyat: Kebohongan Yang Nyata

Di tengah hiruk-pikuk kampanye Pilpres, Bank Dunia kembali menekan Pemerintah


Indonesia dan presiden terpilih agar bisa mengurangi subsidi energi, khususnya subsidi
BBM, bahkan menghapuskannya. Bank Dunia meminta presiden baru nanti bisa
menaikkan harga BBM subsidi menjadi Rp 8.500/liter. Menurut Direktur Kemiskinan Bank
Dunia untuk Asia Pasifik Timur, Sudhir Shetty, menyatakan kesejahteraan bisa dirasakan
semua orang asalkan subsidi BBM dikurangi, bahkan dihilangkan, kemudian dialihkan ke
program masyarakat miskin yang membutuhkan. Ini perlu dipikirkan oleh pengambil
keputusan, tegasnya dalam Seminar Bank Dunia, Indonesia: Avoiding The Trap, Senin
23/6) di Hotel Mandarin, Jakarta.
Demi Rakyat, Subsidi Dihapus?
Kenaikan BBM selalu diikuti dengan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok dan naiknya
tarif angkutan umum. Akibtanya, daya beli masyarakat berkurang atau terjadi inflasi.
Kenaikan BBM juga akan membangkrutkan industri kecil dan menengah. Dampaknya
adalah terjadinya PHK. Bisa dipastikan, kenaikan BBM justru meningkatkan jumlah rakyat
miskin.
Karena itulah setiap rencana kenaikan BBM selalu diikuti dengan janji Pemerintah untuk
memberikan kompensasi bagi rakyat miskin yang terkena dampak kenaikan BBM.
Kompensasi bisa dalam bentuk bantuan tunai langsung atau janji mengalihkan anggaran
subsidi untuk peningkatan belanja infrastruktur yang diklaim bisa meningkatkan
kesejahteraan rakyat.
Namun, itu semua sebenarnya hanya kebohongan yang selalu di ulang-ulang. Faktanya
sebenarnya, setiap kenaikan BBM berdampak pada peningkatan jumlah orang miskin dan
pengangguran. Pada awal tahun 2006 (setahun setelah kenaikan harga BBM 30% pada
tahun 2005), misalnya, jumlah orang miskin melonjak menjadi 39,05 juta (17,75%). Artinya,
program BLT yang digelontorkan saat itu tidak berhasil menekan dampak kenaikan harga
BBM. Begitu juga tahun 2013. Menurut Menteri Perencaan Pembangunan Nasional
(PPN)/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana, akibat kenaikan harga BBM bersubsidi,
jumlah orang miskin baru mencapai 4 juta jiwa. (Kompas.com, 27/5/2013).
.
Di Balik Pesan Berulang Bank Dunia
Bank Dunia dan para ekonom kapitalis tak pernah kenal lelah. Mereka terus-menerus

menyerang kebijakan subsidi BBM. Berbagai dalih mereka kemukakan. Tujuannya agar
kenaikan BBM diterima oleh rakyat. Mereka bahkan selalu mengatakan demi kepentingan
rakyat atau untuk kesejahteraan rakyat saat akan menaikkan BBM.
Sungguh ironis, penghapusan subsidi atau kenaikan harga BBM terus dilakukan ini meski
merugikan dan menyengsarakan sebagian besar rakyat. Lalu sebenarnya untuk
kepentingan siapa penghapusan subsidi BBM tersebut?
Sejak masa pemerintahan Orde Baru hingga pemerintahan SBY, IMF dan World Bank terus
memberikan utang baik dalam bentuk utang proyek maupun dana segar. Utang proyek
adalah utang dalam bentuk fasilitas berbelanja barang dan jasa secara kredit. Adapun
utang yang berupa dana segar dari World Bank hanya diberikan dengan skema SAP
(Struktural Adjustment Project). Pencairan SAP ini mensyaratkan Pemerintah untuk
melakukan perubahan kebijakan yang mengarah pada kebijakan untuk:
1. Mengurangi peran Pemerintah dalam menyediakan barang publik seperti listrik maupun
pelayanan umum seperti pendidikan dan kesehatan.
2. Memberikan keleluasaan pada pemilik modal untuk mengelola barang publik dan
pelayanan umum sebagaimana mengelola perusahaan yang bertujuan mengejar dan
menumpuk keuntungan.
Karena itu dapat dimengerti jika arah kebijakan Pemerintah akan condong ke pasar,
yakni pada kepentingan para pemilik modal, bukan condong ke rakyat.
Lalu muncullah Undang-undang Migas. Sejak UU No. 22/2001 tentang migas diundangkan,
perlahan-perlahan migas akan diliberalisasi. Mulai 2005 harga beberapa jenis bahan bakar
minyak (BBM) sudah bisa dinaikkan secara bertahap sesuai mekanisme pasar. Karena itu
kenaikan BBM merupakan salah satu amanat UU Migas No. 22/2001. UU ini menyerahkan
harga migas pada mekanisme pasar seperti yang disebutkan dalam pasal 2: Menjamin
efektivitas pelaksanaan dan pengendalian usaha Pengola-han, Pengangkutan,
Penyimpanan, dan Niaga secara akuntabel yang diselenggarakan melalui mekanisme
persaingan usaha yang wajar, sehat dan transparan.
Pasal ini dikuatkan dengan Perpres No. 5/ 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional Pasal
3c: Penetapan kebijakan harga energi ke arah harga keekonomian, dengan tetap
mempertim-bangkan bantuan bagi rumah tangga miskin dalam jangka waktu tertentu.

Ketentuan ini diimplementasikan dalam blue print Pengembangan Energi Nasional 20062025 Kementerian ESDM: Program utama: (1) Rasionalisasi harga BBM (dengan alternatif)
melakukan penyesuaian harga BBM dengan harga internasional.
Karena itulah sejak Tahun 2008, Organisasi Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi
(OECD) sudah mengejar-ngejar Pemerintah Indonesia agar memastikan penghapusan
subsidi BBM. Pada 1 November 2010, Sekjend OECD, Angel Gurria, menemui sejumlah
pejabat tinggi Indonesia, termasuk Wapres Boediono dan Menkeu waktu itu, Agus
Martowardoyo. OECD menyakinkan Pemerin-tah Indonesia agar segera menghapus
subsidi BBM dan listrik hingga 2014.
Forum G-20 di Pittsburgh (2009) dan Gyeongju (2010) juga mendesak penghapusan
subdisi BBM. Di Gyeongju, Korea Selatan, Pemerintah Indonesia menjanjikan akan
melaksanakan penghapusan subdisi energi, khususnya BBM dan TDL, mulai pada tahun
2011. Maka dari itu, kenaikan BBM sebenarnya tidak ada kaitannya dengan defisit
anggaran, fiskal yang tidak sehat maupun naiknya harga minyak mentah dunia. Semua itu
hanya dijadikan alat atau momentum untuk menutupi alasan sebenarnya, yaitu liberalisasi
secara menyeluruh di bidang migas dan energi.
Kesejahteraan Rakyat dalam Persfektif Islam.
Sistem kapitalis telah gagal memberikan kesejahteraan kepada umat manusia baik secara
materi maupun non materi. Dalam indikator ekonomi, rasio gini Indonesia tahun 2013
menyentuh angka 0,41. Artinya, 1% penduduk menikmati 41% pendapatan, kekayaan atau
sumberdaya. Kondisi ini menggambarkan ketimpangan yang luar biasa antara penduduk
kaya dan penduduk miskin. Jadi, walaupun Indonesia negara kaya, jumlah penduduk
miskinnya saat itu melebihi 100 juta orang. Adapun mereka yang secara ekonomi tergolong
menengah dan kaya, walaupun secara materi kebutuhan pokoknya terpenuhi bahkan
sampai kebutuhan sekunder dan tersiernya bisa mereka nikmati, ternyata banyak yang
tidak merasakan kebahagian dan kesejahteraan sehingga hidupnya penuh dengan tekanan
alias stres.
Karena itulah kesejahteraan dalam pandangan Islam bukan hanya dinilai dengan ukuran
material saja. Kesejahteraan juga dinilai dengan ukuran non-material seperti kebutuhan
spiritual yang terpenuhi, nilai-nilai moral yang terpelihara dan keharmonisan sosial yang
tercipta.
Dalam pandangan Islam, masyarakat dikatakan sejahtera bila terpenuhi dua kriteria.

Pertama: kebutuhan pokok setiap individu rakyat terpenuhi; baik pangan, sandang, papan,
pendidikan maupun kesehatannya. Kedua: agama, harta, jiwa, akal dan kehormatan
manusia terjaga dan terlindungi.
Dalam pandangan syariah Islam kewajiban mewujudkan kesejahteraan merupakan tugas
bersama individu, masyarakat dan negara.
Secara individual, setiap Muslim didorong untuk mengoptimalkan potensi yang ada pada
dirinyatubuh, akal, waktu dan usiayang merupakan anugerah Allah SWT. Setiap
individu didorong agar menggunakan kaidah kausalitas untuk mewujudkan kesejahteraannya. Agar tercukupi kebutuhannya, setiap lelaki dewasa wajib bekerja. Setiap orang wajib
memperhatikan siapa saja keluarga dan kerabatnya yang menjadi tanggungannya. Negara
dapat melakukan intervensi ketika ada seseorang yang malas bekerja atau terlantar.
Padahal ada anggota keluarganya yang berada.
Negara memiliki peran yang sangat besar dalam mewujudkan kesejahteraan, yaitu melalui
kebijakan politik ekonomi Islam. Semua ini diwujudkan dalam bentuk politik anggaran,
politik pertanian, politik industri dan lain-lain.
Adapun masyarakat memiliki fungsi utama, yakni kontrol sosial. Mereka harus bisa ikut
memastikan individu bisa terus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
Mereka juga berperan dalam mengawasi dan mengoreksi pemerintahan agar istiqamah
dalam menerapkan syariah Islam yang menjamin pemenuhan kesejahteraan di
masyarakat.
Dengan demikian kesejahteraan tidak hanya buah sistem ekonomi semata. Kesejahteraan
juga buah dari sistem hukum, sistem politik, sistem budaya, dan sistem sosial. Allah SWT
telah menjadikan agama ini sebagai dnul kmil, agama yang sempurna. Syariahnya
mengatur seluruh aspek kehidupan baik politik, ekonomi, hukum, sosial maupun budaya.
Bila syariah diterapkan secara kaffah oleh Daulah Khilafah, niscaya kesejahteraan hakiki
akan terwujud dalam kehidupan ini. Demikianlah sebagaimana firman Allah SWT:



Jika penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan membukakan pintu
keberkahan dari langit dan bumi untuk mereka. Akan tetapi, mereka mendustakan ayatayat Kami. Karena itu Kami menyiksa mereka atas apa yang mereka lakukan (QS al-Araf
[7]: 96).

WalLahu alam bi ash-Shawab. []


==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Profile Amir Hizbut Tahrir: http://www.youtube.com/watch?v=vJcjmn18Hzs
Jika Saudara/i ingin mengkaji Islam dan berdakwah bersama HIZBUT TAHRIR
INDONESIA silahkan mengisi form yang kami sediakan di http://hizbut-tahrir.or.id/gabung/
Insya Allah, syabab Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi anda. (jika
lebih dari 2 minggu, saudara/i bisa memberitahukan lewat pesan inbox)
==============================
Website : www.hizbut-tahrir.or.id
Youtube
Akal-akalan, Program Irit BBM
Konsep membatasi penjualan BBM demi irit, sebenarnya hanya program tipu-tipu
Tidak mau menambah alokasi anggaran untuk subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM),
pemerintah menggelontorkan beleid irit bensin. Pembatasan mengonsumsi BBM akan
berlaku di beberapa wilayah Indonesia seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Bali.
Kebijakan irit BBM ini meluncur setelah pemerintah dan anggota dewan sepakat
memangkas kuota BBM subsidi dari 48 juta kiloliter (kl) menjadi 46 juta kl. Untuk menjaga
konsumsi BBM bersubsidi tidak melebihi kuota, pemerintah lalu menerbitkan Surat Edaran
BPH Migas Nomor 937/07/Ka BPH/2014 tanggal 24 Juli 2014, tentang pengendalian
konsumsi BBM bersubsidi.
Dalam surat tersebut ada empat cara yang ditempuh, sebagai langkah pengendalian.
Pertama, peniadaan solar bersubsidi di Jakarta Pusat mulai 1 Agustus. Kedua,
pembatasan waktu penjualan solar bersubsidi di seluruh SPBU di Jawa, Sumatera,
Kalimantan, dan Bali mulai 4 Agustus 2014 dari pukul 18.00 sampai 08.00 WIB.
Ketiga, tidak hanya solar di sektor transportasi, mulai 4 Agustus 2014, alokasi Solar
bersubsidi untuk Lembaga Penyalur Nelayan (SPBB/SPBN/SPDN/APMS) juga dipotong

sebesar 20 persen dan penyalurannya mengutamakan kapal nelayan di bawah 30 GT.


Keempat, terhitung mulai 6 Agustus 2014, penjualan premium di seluruh SPBU yang
berlokasi di jalan tol ditiadakan.
Pembatasan penjualan bahan BBM bersubsidi ke masyarakat tersebut, menurut pengamat
transportasi Djoko Stidjowarno, merupakan akal-akalan pemerintah. Sebab, meski ada
program tersebut, BBM bersubsidi akan tetap habis, meski waktunya saja yang tertunda.
Konsep membatasi penjualan BBM demi irit, sebenarnya hanya program tipu-tipu. Tetap
saja BBM habis, cuma tidak segera, karta Djoko.
Lepas Tangan
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai kebijakan pembatasan penjualan
BBM subsidi salah kaprah dan tidak sesuai prosedur. Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia
Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik, Natsir Mansyur menganggap pemerintah
lepas tangan dalam pengambilan kebijakan strategis. Apalagi penyerahan pembatasan
penjualan BBM subsidi kepada BPH Migas melalui surat edaran justru menimbulkan risiko
salah tafsir di kalangan masyarakat. Pembatasan ini bukan urusan BPH migas, atau
Pertamina, ini urusan negara, yang bicara harusnya otoritas negara, jadi yang bicara
menteri dan presiden, katanya.
Karena itu Kadin meminta kepada BPH Migas menarik surat edaran tersebut dan
berkomunikasi dengan pelaku usaha terutama transportasi mengenai mekanisme
pembatasan BBM Subsidi yang lebih tepat.
Pembatasan pembelian BBM subsidi, secara langsung memang bakal berdampak pada
berbagai kegiatan. Salah satunya bisnis transportasi. Wakil Ketua Kamar Dagang dan
Industri (Kadin) DKI Jakarta, Sarman Simanjorang menilai, kebijakan pembatasan solar ini
sangat berdampak pada bisnis yang bergerak dalam bidang transportasi seperti kendaraan
umum dan angkutan logistik yang menggunakan bahan bakar solar.
Secara otomatis pembatasan ini memaksa angkutan umum untuk menggunakan solar non
subsidi atau Pertamina Dex yang harganya lebih mahal. Bahkan dampaknya adalah
kenaikan harga barang-barang, selanjutnya bakal menimbulkan inflasi. Karena itu
pengusaha berharap pemerintah mendatang mampu mengambil langkah yang tepat soal
subsidi BBM.
Sementara itu Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh

Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman menilai, pembatasan justru akan menimbulkan


ketidakseimbangan dari sisi biaya pengusaha. Yang dapat kesempatan subsidi bisa
murah. Tapi yang tidak dapat akan mahal. Sesalnya.
Kebijakan ini akan memberikan dampak pada kenaikan biaya distribusi. Imbasnya,
berpotensi menaikan harga jual barang di pasaran. Pembatasan ini membuat pengusaha
paling tidak memerlukan waktu hingga 3 bulan menyesuaikan harga barang yang
diproduksinya.
Karena itu, menurutnya, jika pemerintah ingin melakukan penghapusan subsidi BBM, maka
harus dilakukan pada semua jenis BBM. Jika mau naik naikkan semua sehingga fair.
Kalau dibatasi seperti ini kan jadi tidak jelas siapa yang dapat subsidi, siapa yang tidak
dapat, tegasnya. Inilah buah pemerintah yang liberal tapi tak punya konsep. [] Joe Lian
==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
===

Dirosah Syariyyah XVI, Haram Pembatasan BBM


Para ulama bersepakat menolak kebijakan pemerintah ini, karena selain menyalahi Syariat
Islam kebijakan ini pun akan semakin menyengsarakan rakyat. Asing Untung Rakyat Buntung!
HTI Press. Rencana kenaikan Harga BBM dan pencabutan subsidi BBM masih menuai tanda
tanya. Walau sudah direncanakan bulan April 2012 pemerintah masih terkesan ragu-ragu sebab
mereka tidak mempunyai alasan yang kuat untuk melaksanakan kebijakan ini. Apa lagi sudah
tercium bau Liberalisasi dalam kebijakan ini, tentulah banyak kalangan menolak. Sebab, alasan
yang dipakai tidak masuk akal dan hanya berupa tipu-tipu pemerintah.
Menyikapi hal tersebut, Lajnah Tsaqofiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia kembali
menyelenggarakan Dirosah Syariyyah edisi ke-16 dengan tema Haram Halal Pembatasan
BBM, Sabtu (18/02) di Kantor DPP HTI Crown Palace Jakarta. Peserta yang hadiri diantaranya
dari kalangan Ulama, Habaib, Asatidz dan tokoh-tokoh masyarakat Jakarta dan sekitarnya,
Ruang Aula kegiatan pun penuh sesak dan tidak dapat menampung jumlah peserta yang
antusias mengikuti acara.
Dr. Arim Nasim Ketua Lajnah Maslahiyah DPP HTI sebagai pembicara pertama menjelaskan
kenapa kebijakan pemerintah ini harus ditolak, menurutnya kebijakan pembatasan subsidi BBM
dan kenaikan harga, sama saja meliberalisasi sektor migas menuju liberalisasi migas secara
kaffah, ujarnya.
Pengakuan pemerintah yang saat itu diwakili oleh menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam
upayanya meliberalisasi sektor migas di Indonesia, Purnomo berujar, Liberalisasi sektor Hiliir
migas membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran
migas, tidak hanya di sektor Hulu pemerintah juga berniat meliberalisasi sektor Hilir, ini

mengakibatkan dominasi yang luar biasa oleh para investor asing untuk menguasai sumber
daya alam indonesia khususnya Migas. Hasilnya Asing Untung Rakyat Buntung!
Akibatnya membebani rakyat, harga BBM bisa melambung tinggi sesuai dengan harga
internasional, akibat kenaikan harga BBM akan diikuti dengan kenaikan harga barang dan jasa,
urainya.
Subsidi BBM yang tidak tepat sasaran menjadikan alasan lain pemerintah untuk mencabut
Subsidi BBM, dikarenakan besarnya Subsidi yang membebani APBN. tentunya pendapat
seperti ini sangat menyesatkan, sebab yang selama ini membebani APBN itu bukan subsidi,
tetapi utang negara yang hanya dinikmati oleh segelintir orang, ditambah lagi bunga utang
tersebut, jelasnya.
Sedangkan, Ustadz Syamsuddin Ramadhan an-Nawiy kebijakan pembatasan BBM bersubsidi
Haram! Dikarenakan pertama, Kebijakan pembatasan BBM bersubsidi merupakan dampak dari
kebijakan privatisasi yang diharamkan dalam islam, syariat islam melarang individu menguasai
barang tambang yang depositnya melimpah, seperti tambang garam, migas, nikel dan barangbarang tambang lainnya, jelasnya.
Beliau mengutip hadist Rasulullah saw, sesungguhnya, Abyad bin Hammal mendatangi
Rasulullah saw, dan meminta beliau saw agar memberikan tambang garam kepadanya. Ibnu alMutawakkil berkata,Yakni tambang garam yang ada di daerah Marib. Nabi saw pun
memberikan tambang itu padanya. Ketika, Abyad bin Hammal ra terlah pergi, ada seorang lakilaki yang ada di majelis itu berkata, tahukah anda, apa yang anda telah berikan kepadanya?
Sesungguhnya anda telah memberikan kepadanya sesuatu seperti air yang mengalir (al-maa al
idd). Ibnu al-Mutawakkil berkata,Lalu Rasulullah saw mencabut kembali pemberian tambang
garam itu darinya (Abyad bin Hammal), tutur beliau.
Alasan kedua menurut beliau, kebijakan pembatasan BBM bersubsidi menjadi jalan bagi orang
kafir menguasai kaum muslim, ini membuka jalan bagi orang kafir menguasai kaum muslimin,
padahal Allah telah berfirman dalam surah An-Nisaa ayat 141 bahwa dan sekali-kali Allah tidak
akan pernah menjadikan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai kaum Mukmin,
jelasnya.
Ada pun alasan ketiga dan keempat kenapa kebijakan ini Haram, dikarenakan kebijakan
pembatasan BBM bersubsidi merupakan kebijakan Diskriminatif dan mendzalimi rakyat dan
juga kebijakan ini lahir dari sekularisme dan Liberalisme,dalam hadist riwayat Bukhari dan
Muslim, siapa saja yang mengerjakan suatau perbuatan yang tidak atas perintah kami, maka
perbuatan itu tertolak, jelasnya.
Pernyataan sikap Ulama
Selain itu, diakhir sesi acara para Ulama, Habaib Asatidz dan tokoh masyarakat membacakan
dan menanda tangani pertanyaan sikap ulama atas kebijakan kenaikan BBM. Pernyataan sikap
ini dibacakan oleh Habib Kholil bin Abu Bakar, yang isinya berbunyi.
Pertama, para ulama Menolak kebijakan pembatasan BBM bersubsidi maupun pengurangan
subsidi BBM (kenaikan Harga BBM).
Kedua, para ulama menyeru pemerintah untuk membatalkan kebijakan ini, sekaligus
menganulir semua produk undang-undang yang mengokohkan liberalism di indonesia, seperti
UU Migas, UU SDA, UU PMA dan lain-lainya.
Ketiga, para ulama mengajak seluruh komponen umat islam, khususnya penguasa dan politisi,
partai, ormas, serta elemen-elemen umat islam yang lain, untuk bersama-sama menolak
kebijakan kenaikan harga BBM yang dzalim dan khianat ini. dan mengajak umat khususnya

Ulama, untuk berada di garda terdepan dalam menjaga dan melindungi kepentingan islam dan
kaum muslim, dan terus berjuang menegakkan Syariah dan Khilafah sebagai satu-satunya
solusi untuk mengantarkan bangsa ini menuju keadaan yang lebih baik.[] fm

Pembatasan BBM, Untuk Siapa ?

Oleh : Arim Nasim


Direktur Pusat Kajian dan Pengembangan Ekonomi Islam
FPEB Universitas Pendidikan Indonesia Bandung
Walaupun mendapat penolakan dari berbagai kalangan baik akademisi maupun
pengusaha, pemerintah tetap akan memberlakukan pembatasan konsumsi BBM
subsidi mulai 1 April 2012, sebagaimana dikatakan oleh Wakil Menteri Keuangan,
Mahendra Siregar , pemerintah akan mengatur konsumsi BBM subsidi bagi mobil
plat merah mulai April 2012 (PR ,07/01/2012) . Dari kalangan akademisi seperti
qurtubi menolak upaya pemerintah melakukan pembatasan BBM bersubsidi karena
sama saja dengan menaikan BBM 100 % karena mereka yang selama ini
mengkonusmsi Premium dipaksa membeli pertamax yang harganya 2 kali lipat.
Sedangkan dari kalangan pengusaha khususnya usaha Mikro Kecil dan Menengah
(UMKM) menolak pembatasan konsumsi BBM subsidi ini seperti yang disampaikan
Ketua Koperasi Perajin Kaus Suci Bandung Marnawi, Kalau ini diberlakukan akan
semakin memukul daya saing produk UMKM. Bukan hanya biaya produksi yang
bertambah karena biaya transportasi, tapi bahan baku juga pasti akan ikut-ikutan
naik. Kondisi tersebut, menurut dia, dipastikan akan membuat pelaku UMKM
menaikkan harga jualnya. Namun, di sisi lain, daya beli masyarakat dipastikan akan
merosot. Dalam kondisi itu, masyarakat dipastikan akan memilih produk impor yang
harganya lebih murah. Kalau akademisi banyak yang menolak, pengusaha kecil dan
rakyat banyak yang dirugikan , lalu untuk kepentingan siapa pembatasan BBM
bersubsidi tersebut ?

Klasik
Wacana pembatasan konsumsi BBM subsidi ini sudah bergulir sejak 2010. Namun,
program ini berkali-kali gagal dilaksanakan. Terakhir, pembatasan akan
dilaksanakan pada November 2011 kembali diundur hingga April mendatang.
Alasan yang selalu dikemukakan pemerintah adalah Subsidi membebani anggaran
dan tidak tepat sasaran. Sebagaimana yang disampaikan oleh pemerintah Realisasi
konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi selama 2011 mengakibatkan
anggaran subsidi negara untuk BBM membengkak dari 129,7 triliun menjadi 160
triliun rupiah. Padahal kalau mau jujur justru yang menjadi beban APBN adalah
Utang negara dan bunganya, untuk bunganya saja tahun 2011 sebesar 107 Trilyun,
belum lagi penggunaan APBN yang sarat dengan korupsi dan inefesiensi. Hashim
Djojohadikusumo menyebutkan sejumlah pos pengeluaran yang tidak efektif, antara
lain anggaran vakansi, termasuk untuk studi banding ke luar negeri sebesar Rp 21 T
untuk perjalanan pejabat Negara setiap tahun, anggaran bantuan sosial sebesar Rp
61 triliun dan 63 trilyun anggaran bantuan sosial melalui kementerian dan lembaga
tidak ada rinciannya secara jelas digunakan untuk program dan proyek apa saja.
Sementara alasan penggunaan premium banyak dinikmati orang kaya juga tidak
tepat berdasarkan data Susenas 2010 yang dilakukan Badan Pusat Statistik, 65
persen BBM bersubsidi dikonsumsi oleh kalangan menengah bawah dengan
pengeluaran per kapita di bawah 4 dollar AS dan miskin dengan pengeluaran per
kapita di bawah 2 dollar AS. Sementara itu, 27 persen digunakan kalangan
menengah, 6 persen kalangan menengah atas dan 2 persen kalangan kaya.
Akar masalah
Pembatasan BBM bersubsidi sebenarnya merupakan satu bagian dari paket
liberalisasi migas. Liberalisasi migas merupakan kebijakan pemerintah untuk
memberikan peluang bahkan menyerahkan pengelolaan migas mulai dari kegiatan
hulu sampai hilir kepada pihak swasta sebagaimana yang tercantum dalam UU
MIGAS No. 22/2001 pasal 9: Kegiatan Usaha Hulu dan Kegiatan Usaha Hilir
dilaksanakan oleh: badan usaha milik negara; badan usaha milik daerah; koperasi;
usaha kecil; badan usaha swasta.
UU MIGAS inilah sebenarnya yang menjadi akar masalah karut marutnya
pengelolaaan Migas, dampak dari UU MIGAS ini menurut Dirjen Migas Evita legowo
dikuasainya Migas oleh perusahaan asing sebesar 70 %, 16, 2 % oleh swasta lokal
dan hanya 13,8 % yang digarap oleh pertamina. Karena itulah perusahaan asing
yang menguasai migas tersebut menginginkan secepatnya bisa masuk ke
pemasaran BBM tanpa ada hambatan yaitu adanya BBM bersubsidi dari pemerintah
sehingga mereka dapat mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya melalui
penguasaan produksi migas dari industri hulu sampai hilir atau dari mulai produksi
sampai distribusi dan pemasarannya. Oleh karena itu Kebijakan pembatasan
BBM bersubsidi bahkan menghapuskannya adalah kebijakan yang sangat
dinantikan oleh Shell, Total dan SPBU Asing lainnya yang sudah ada di
Indonesia dan sekarang pemerintah akan memenuhi keinginan mereka.
Prorakyat
Kalau benar bahwa pemerintah dan DPR ini bekerja untuk rakyat maka yang harus
dilakukan bukan saja membatalkan pembatasan pemakaian BBM Subsidi maupun

kenaikan BBM tapi yang harus dilakukan adalah membatalkan UU MIGAS No. 22
tahun 2001 dan menggembalikan pengelolaan Migas kepada Pertamina dengan
pengelolaan yang profesional dan bebas korupsi, maka setelah itu dilakukan baru
berfikir tentang energi alternatif maupun konversi dari Minyak Ke Gas, karena
selama liberalisasi masih dijalankan walaupun terjadi konversi tetap akan muncul
masalah lagi ketika Gas tersebut dikuasai oleh Swasta atau asing , saat ini saja
banyak perusahaan dan sejumlah industri yang menjerit-jerit kekurangan pasokan
gas karena hampir 60 % hasil gas di exspor, termasuk yang dialami PLN, akibat
kekurangan gas, pembangkit listrik tenaga gas PLN terpaksa menggunakan BBM
yang biaya jauh lebih mahal. Padahal menurut catatan PLN, jika Januari-September
2011, PLTG yang ada menggunakan gas maka anggaran yang dapat dihemat
setidaknya Rp5 triliun.(Sumber : Pikiran Rakyat, 24 Januari 2012)

Baca juga :
1.

HTI Nilai Pembatasan BBM Akal Bulus Pencari Fulus

2.

Pembatasan BBM Bersubsidi Bisa Kerek Inflasi ke 5 Persen

3.

DPD HTI Surabaya: Pembatasan BBM Bersubsidi = Liberalisasi BBM

4.

Pembatasan BBM Bersubsidi: Demi Kepentingan Asing !

5.

Kado Penguasa untuk Rakyat di Tahun Baru 2011: Kenaikan Harga BBM
Lewat Pembatasan Subsidi

Artikel ini diposting pada tanggal 9 February 2012 pukul 15:49 pada kategori Analisis.

Komentar:

Pembatasan BBM Bersubsidi atau Kenaikan BBM: Kebijakan


Khianat dan Dzalim Terhadap Rakyat

Beban hidup rakyat dipastikan semakin


bertambah berat dengan keluarnya kebijakan pemerintah tentang pembatasan
BBM bersubsidi, ataupun pengurangan subsidi BBM (kenaikan harga BBM). Sebab,
kebijakan ini dipastikan akan disusul oleh kenaikan harga kebutuhan pokok, barang,
dan jasa yang berarti meningkatnya biaya dan beban hidup rakyat. Padahal,
sebelumnya, rakyat sudah menanggung beban berat akibat privatisasi PSO (public
service obligation) yang telah merambah pada pelayanan public dasar, seperti air,
listrik, kesehatan, dan pendidikan. Ironisnya lagi, kebijakan pembatasan BBM
bersubsidi -yang ujungnya adalah pencabutan subsidi BBM secara total- bukanlah
kebijakan yang lahir dari aspirasi rakyat, akan tetapi lahir akibat adanya campur

tangan dan intervensi asing. Atas dasar itu, kebijakan ini tidak hanya mendzalimi
rakyat, lebih dari itu, kebijakan pembatasan BBM bersubsidi telah membuka jalan
bagi asing untuk menguasai sepenuhnya sector energy di Indonesia.
Lantas, bagaimana pandangan syariat Islam terhadap kebijakan pembatasan BBM
bersubsidi atau kenaikan harga BBM?

Pembatasan BBM Bersubsidi atau Kenaikan


Harga BBM: Haram
Jika diteliti secara jernih dan mendalam, dapatlah disimpulkan bahwa hukum
pembatasan BBM bersubsidi dan kenaikan harga BBM adalah haram. Adapun alasan
keharaman dua opsi kebijakan itu adalah sebagai berikut:
1. Kebijakan Tersebut Adalah Turunan Dari Kebijakan Haram Privatisasi
Pada dasarnya, kebijakan pembatasan BBM bersubsidi maupun kenaikan harga BBM
merupakan akibat dari kebijakan privatisasi dan liberalisasi tambang minyak dan
gas bumi yang diharamkan syariat Islam. Pasalnya, tambang minyak dan gas bumi
termasuk dalam kategori kepemilikan umum (collective property)yang dari sisi
kepemilikan tidak boleh diserahkan kepada individu, atau hanya bisa diakses oleh
individu-individu tertentu. Negara dilarang menyerahkan atau menguasakan harta
milik umum kepada seseorang atau perusahaan swasta. Negara juga dilarang
memberikan hak istimewa bagi individu atau perusahaan swasta untuk
mengeksploitasi, mengolah, dan memonopoli pendistribusiaannya. Ketentuan ini
didasarkan pada alasan-alasan berikut ini.
Pertama, Nabi saw menarik kembali tambang garam yang diberikannya kepada
Abyad bin Hamal, setelah beliau mengetahui depositnya melimpah ruah bagaikan
air mengalir. Imam Abu Dawud menuturkan sebuah hadits dari Ibnu al-Mutawakkil
bin Abd al-Madaan, dari Abyad bin Hamal ra, bahwasanya ia berkata:

Sesungguhnya, Abyad bin Hamal mendatangi Rasulullah saw, dan meminta beliau
saw agar memberikan tambang garam kepadanya. Ibnu al-Mutawakkil
berkata,Yakni tambang garam yang ada di daerah Marib. Nabi saw pun
memberikan tambang itu kepadanya. Ketika, Abyad bin Hamal ra telah pergi, ada
seorang laki-laki yang ada di majelis itu berkata, Tahukan Anda, apa yang telah
Anda berikat kepadanya?Sesungguhnya, Anda telah memberikan kepadanya
sesuatu yang seperti air mengalir (al-maa al-idd). Ibnu al-Mutawakkil berkata,
Lalu Rasulullah saw mencabut kembali pemberian tambang garam itu darinya
(Abyad bin Hamal).[HR. Imam Abu Dawud]
Imam Abu Dawud juga menuturkan sebuat riwayat dari Mohammad bin Yahya bin
Qais al-Marabiy dari Abyad bin Hammal ra, bahwasanya dia berkata;


:






:

Sesungguhnya Abyad bin Hammal ra berkunjung kepada Nabi saw, dan Rasulullah
saw memberinya tambang garam. Ketika Abyad bin Hammal telah pergi, seorang
laki-laki berkata, Ya Rasulullah, tahukah Anda apa yang telah Anda berikan
kepadanya? Sesungguhnya Anda telah memberinya sesuatu seperti air mengalir.
Abyad bin Hammal berkata, Rasulullah saw menarik kembali pemberian itu. [HR.
Imam Abu Dawud]
Hadits di atas menjelaskan bahwasanya tambang yang depositnya melimpah tidak
boleh dialihkan kepemilikannya kepada individu atau swasta. Seandainya tidak ada
larangan dalam masalah ini, niscaya Rasulullah saw tidak menarik kembali apa
yang telah diberikannya kepada orang lain. Sebab, dalam hadits lain, Rasulullah
saw melarang seseorang untuk menarik kembali barang yang telah diberikan
kepada orang lain, kecuali pemberian orang tua kepada anaknya.
Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits bahwasanya Nabi saw bersabda:

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya ia berkata, Rasulullah saw
bersabda, Tidak ada bagi kami perumpamaan yang lebih buruk bagi orang yang
menarik kembali hadiahnya, seperti anjing yang menjilat muntahannya kembali.
[HR. Imam Bukhari]
Dari Ibn Umar dan Ibn Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda:




Tidak halal bagi seseorang memberikan suatu pemberian, kemudian dia
mengambil kembali pemberiannya, kecuali apa yang diberikan orang tua kepada
anaknya. Perumpamaan orang yang memberikan suatu pemberian lalu menarik
kembali pemberiannya bagaikan anjing yang makan, setelah kenyang ia muntah,
kemudian memakan muntahannya kembali. [HR Abu Dawud, al-Nasa'i, Ibn Majah,
dan al-Tirmidziy]
Dalam hadits di atas, Rasulullah saw menyebut tidak halal perbuatan menarik
kembali barang yang telah diberikan kepada orang lain. Rasulullah saw mencela
perbuatan tersebut dengan menyamakannya dengan anjing yang memakan
kembali makanan yang telah dimuntahkannya. Ini berarti tindakan menarik kembali
pemberian yang telah diberikan -sebagaimana dipahami jumhur ulama adalah
haram, kecuali orang tua terhadap anaknya.
Jika Rasulullah saw melarang menarik kembali barang pemberian, sementara beliau
sendiri melakukannya, dan itu dilakukan setelah beliau mengetahui bahwa
tambang yang diberikan itu depositnya melimpah (al-maa`u al-iddu), maka semua
itu menunjukkan bahwa benda tersebut tidak boleh dimiliki secara pribadi. Jika
sudah terlanjur dimiliki, negara harus menariknya kembali. Sebab, orang tersebut
telah menguasai suatu benda yang oleh syariat dikategorikan sebagai milik
bersama.

Larangan tersebut tidak terbatas pada tambang garam saja. Sebab yang
menjadi illat tidak diperbolehkannya tambang garam dimiliki secara pribadi adalah
karena jumlahnya yang berlimpah (al-maau al-iddu). Jika pelarangan itu ditujukan
kepada dzat garamnya, tentu Rasulullah saw sejak awal menolak permintaan Abyad
bin Hamal untuk memiliki tambang garam. Akan tetapi Rasulullah saw baru
melarang tambang garam itu dimiliki secara perorangan, setelah mendapatkan
penjelasan dari para sahabat bahwa tambang garam yang beliau berikan itu
bagaikan air yang tak terbatas. Cakupan tambang itu bersifat umum, meliputi
setiap barang tambang apa pun jenisnya tatkala jumlah (depositnya) sangat banyak
atau tidak terbatas.
Kedua, kaum Muslim memiliki hak, andil, dan bagian yang sama terhadaptambang
minyak dan gas bumi. Menguasakan atau memberi hak istimewa kepada individu
atau perusahaan swasta untuk mengolah dan mendistribusikannya sama artinya
telah merampas hak, andil, dan kesetaraan pihak lain. Imam Ahmad dan Imam Abu
Dawud, Imam An Nasaaiy, dan lain-lain, menuturkan sebuah hadits bahwasanya
Rasulullah saw bersabda:

Manusia itu berserikat (bersama-sama memiliki) dalam tiga hal: air, padang
rumput, dan api. [HR Ahmad, Abu Dawud, An Nasaaiy, dll). Dalam hadits yang
diriwayatkan Ibn Majah dari Ibn Abbas ada tambahan,"Dan harganya haram":


"Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal; air, padang rumput, dan api, dan harganya
haram".[HR. Imam Ibnu Majah]
Dalam hadits tersebut dinyatakan bahwa kaum Muslim berserikat terhadap tiga
jenis barang, yakni air, padang rumput, dan api. Kata al-syuraka merupakan bentuk
jamak dari kata al-syarik, berasal dari kata al-syirkah atau al-musyarakah yang
berarti khilt [al-milkayn (campuran dua kepemilikan) atau sesuatu yang dimiliki oleh
dua orang atau lebih]. Imam Ibnu Mandzur dalam Kitab Lisaan
al-Arab menyatakan:

Asy-Syirkah wa al-Syarikah sama saja, yakni mukhaalithah al-syarikain


(bercampurnya dua peserikat). Dikatakan, Isytaraknaa (kami berserikat),
maknanya adalah tasyaaraknaa (kami saling berserikat).Wa qad isytaraka alrajulaan (dua orang laki-laki berserikat), artinya adalah tasyaaraka (keduanya saling
berserikat), dan satu dengan yang lain saling berserikatDiriwayatkan dari Nabi
saw bahwasanya beliau bersabda, Manusia saling berserikat dalam tiga hal,
padang rumput, air, dan api. Abu Manshur berkata, Makna al-naar (api) adalah
kayu yang digunakan untuk membakar dan ditebang dari tempat yang jauh.

Demikian juga air yang berasal dari mata air, dan padang rumput yang tumbuh
yang tidak ada pemiliknya, maka, seluruh manusia memiliki hak yang sama di
dalamnya..[Imam Ibnu Mandzur, Lisaan al-Arab, juz 10/448]
Kata al-syurakaa dengan makna bercampurnya kepemilikan, juga disitir di
dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman:

Jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam
yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah
dibayar utangnya. [TQS An Nisaa' (4): 12]
Imam al-Baidlawiy menafsirkan frase [Fahum shuraka' fi tsuluts'] dengan:

[Falikulli waahid minhumaa al-sudus fain kaanuu aktsara min dzaalik fahum
syurakaa` fi al-tsuluts]: disamakan antara laki-laki dan wanita dalam bagian
(perolehan)..[Imam al-Baidlawiy, Anwaar al-Tanziil wa Asraar al-Ta`wiil, juz 1/435]
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa makna syurakaa`
adalah sama-sama memiliki bagian dan andil yang sama. Tidak disebut
perserikatan (syurakaa) jika orang-orang yang berserikat dalam sebuah
perserikatan tidak memiliki kesamaan dan kesetaraan dengan pihak lain dalam
urusan yang diperserikatkan.
Walhasil, jika dinyatakan al-muslimun syuraka fi tsalats, berarti seluruh kaum
Muslim sama-sama memiliki hak, andil, dan bagian yang sama dalam tiga jenis
benda yang disebutkan dalam hadits di atas, yakni: air, padang rumput, dan api.
Tidak boleh ada yang dilebihkan atau diistimewakan antara satu dengan yang lain
dalam hal kepemilikan dan pemanfaatan tiga barang tersebut. Kesamaan dan
kesetaraan dalam tiga barang ini tentu saja tidak akan pernah bisa diwujudkan jika
benda itu menjadi milik pribadi. Sebab, ketika tiga barang itu dimiliki secara pribadi,
niscaya akan menghalangi orang lain untuk memanfaatkannya. Selain itu, redaksi
dan harganya haram dalam riwayat Ibn Majah menunjukkan bahwa ketiga jenis
benda tersebut tidak boleh diperjualbelikan.
Ketiga, di dalam kitab-kitab fikih mutabar, para ulama juga sepakat mengenai
larangan menjual kelebihan air (fadllu al-maa`). Ketentuan ini didasarkan pada
hadits yang dituturkan dari Iyas bin Abd, bahwasanya ia berkata:

Sesungguhnya Nabi saw melarang menjual kelebihan air. [HR Lima kecuali Ibn
Majah dan disahihkan al-Tirmidziy]. Di dalam riwayat lain, dituturkan dari Jabir ra,
bahwasanya ia berkata:

Rasulullah saw melarang menjual kelebihan air.[HR. Imam Muslim dan lain-lain]
Imam al-Qusyairiy menyatakan bahwa hadits riwayat dari Iyas bin Abd adalah
hadits yang memenuhi syarat Imam Bukhari dan Muslim. Sedangkan hadits Jabir ra
juga dituturkan dalam Shahih Muslim, yang lafadznya sama dengan hadits riwayat
Iyas bin Abd ra.

Menurut Imam Asy Syaukaniy, hadits ini menunjukkan haramnya menjual kelebihan
air, yakni kelebihan dari kecukupan (kebutuhan) orang yang memiliki. Tidak ada
perbedaan apakah air itu berada di tanah mubah atau tanah yang sudah dimiliki
(secara individu), untuk diminum atau lainnya, untuk keperluan ternak atau
menyirami kebun, dalam bepergian atau tidak. Di dalam Kitab Nail al-Authar, Imam
Asy Syaukaniy menyatakan:

Dua hadits di atas menunjukkan haramnya menjual kelebihan air. Yakni, kelebihan
air dari kecukupan pemiliknya. Dzahir hadits tersebut menunjukkan tidak ada
perbedaan antara air yang terdapat di tanah yang mubah, atau tanah yang telah
dimiliki; dan sama saja apakah air itu untuk minum, atau untuk yang lainnya, dan
sama saja apakah air itu untuk (memenuhi) kebutuhan hewan gembalaan atau
untuk pertanian, dan sama saja apakah ada di dataran, atau tempat lain. [Imam
]Asy Syaukani, Nail al-Authar, juz 8/183
Imam An Nawawiy dalam Kitab Syarah Shahih Muslim menyatakan:

(


)










) :
(




( ) :


)
(

) :

Adapun perkataannya (nahaa Rasulullah saw an bai fadll al-maa`/Rasulullah saw


melarang menjual kelebihan air) dan dalam riwayat lain (an bai` dliraab al-jamal,
wa an bai` al-ardl lituhrats/Rasul saw melarang mengambil upah dari penaburan
benih (sperma ) onta, dan Rasul menyewakan tanah untuk pertanian), dan dalam
riwayat lain disebutkan (laa yumnaa` fadlu al-maa` liyumna` bihi alkalaa`/janganlah ditahan kelebihan air hingga padang rumput tercegah (untuk
mendapatkan) kelebihan air tersebut), dan dalam riwayat lain (laa tubaa` fadll almaa` liyubaa` bihi al-kalaa`/janganlah dijual kelebihan air untuk pengairan padang
rumput). Adapun larangan menjual kelebihan air sehingga padang rumput tercegah

untuk mendapatkan kelebihan air tersebut, maknanya adalah ada seseorang


memiliki sumur yang dimilikinya di sebuah dataran. Di dalam sumur itu ada air
berlebih dari (kadar) kebutuhannya, dan di dekatnya ada padang rumput yang tidak
ada air (untuk mengairinya) kecuali air tersebut; sehingga pemilik ternak tidak
mungkin mengembalakan ternaknya kecuali ada bagi mereka pengairan dari sumur
tersebut. Pemilik sumur itu dilarang menahan kelebihan air untuk hewan
ternak.Kelebihan air itu wajib disedekahkan untuk ternak tanpa kompensasi. Sebab,
jika ia melarang mendermakan kelebihan air miliknya, maka orang-orang akan
tercegah untuk mengembalakan ternak mereka di padang rumput tersebut, karena
takut ternak-ternak mereka akan kehausan. Atas dasar itu, pencegahan dirinya
untuk mendermakan kelebihan air itu, akan mencegah gembalaan di padang
rumput. Adapun riwayat pertama (nahaa an bai` fadll al-maa`) bisa dibawa kepada
dua pengertian, yakni karena alasan menahan kelebihan air itu untuk mengairi
padang rumput, dan bisa juga dibawa kea rah pengertian pada selain padang
rumput. Dan larang tersebut menjadi nahyu tanziih. Para ulama madzhab kami
berpendapat: wajib mendermakan kelebihan air yang ada di dataran dengan syarat,
sebagaimana kami telah sebutkan, (pertama): tidak ada sumber air lain yang bisa
mencukupi; (kedua): (kewajiban mendermakan kelebihan air itu) untuk kebutuhan
binatang ternak, bukan untuk mengairi pertanian.; (ketiga), pemilik sumur itu tidak
membutuhkan kelebihan air tersebut. [Imam An Nawawiy, Syarah Shahih Muslim,
juz 5/414]
Adapun qarinah yang menunjukkan bahwa larangan menjual kelebihan air adalah
larangan yang bersifat pasti (jaazim), sehingga berimplikasi pada hukum haram,
adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Amr bin Syuaib dari
bapaknya, dari kakeknya, dari Nabi saw, bahwasanya beliau saw bersabda:

Barang siapa menghalangi (orang lain untuk mengambil atau memanfaatkan)


kelebihan air atau kelebihan padang rumputnya, maka Allah Azza wa Jalla akan
menghalangi keutamaanNya kepada dia pada hari kiamat.[HR. Imam Ahmad]
Hadits-hadits yang menuturkan tentang larangan menjual kelebihan air,
menunjukkan bahwa seorang Muslim dilarang mencegah orang lain untuk
mengakses barang-barang yang sudah menjadi hajat hidup orang banyak, yang
mana pencegahan itu bisa menimbulkan madlarrah bagi kehidupan masyarakat.
Dari sinilah dapat dipahami bahwa mengalihkan harta kepemilikan umum kepada
individu atau perusahaan swasta yang menyebabkan masyarakat tidak mampu
mengakses harta kepemilikan tersebut adalah tindakan haram.
Keempat, larangan memindahkan kepemilikan umum kepada individu atau swasta
juga ditunjukkan oleh hadits-hadits yang berbicara tentang kepemilikan umum atas
harta benda yang secara tabiat pembentukannya menghalangi dimiliki secara
pribadi. Dari Aisyah ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

Kota Mina menjadi tempat mukim siapa saja yang lebih dahulu sampai di sana.
[HR Imam Tirmidziy, Ibn Majah, dan al-Hakim dari Aisyah ra].

Hadits tersebut menyatakan bahwa Mina dapat ditinggali siapa pun yang terlebih
dahulu datang. Ketentuan hadits ini menunjukkan bahwasanya seluruh kaum
Muslim memiliki hak yang sama atas kota Mina. Pasalnya, jika Mina menjadi milik
individu, niscaya orang yang datang terlebih dahulu tidak berhak mendiami Mina .
Inilah sebagian argumentasi yang menunjukkan haramnya melakukan privatisasi
barang-barang milik umum (milkiyyah al-aamah), serta kebijakan-kebijakan yang
menginduk kepadanya, semacam kebijakan pembatasan BBM bersubsidi.
2. Kebijakan Pembatasan BBM Bersubsidi Maupun Kenaikan Harga BBM
Menjadi Jalan Bagi Orang Kafir Menguasai Kaum Muslim.
Kebijakan pembatasan BBM bersubsidi maupun kenaikan harga BBM akan membuka
jalan selebar-lebarnya bagi asing untuk menguasai kekayaan bangsa ini. Sebab,
kebijakan pembatasan BBM bersubsidi maupun kenaikan harga BBM tidak saja
menguntungkan korporasi-korporasi minyak asing, lebih dari itu, kebijakan ini
semakin menguatkan eksistensi perusahaan-perusahaan asing di Indonesia. Tidak
terhenti di situ saja, dengan terkuasainya migas oleh perusahaan-perusahaan asing,
orang-orang kafir barat memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mendominasi
dan mengintervensi kebijakan-kebijakan ekonomi maupun politik pemerintah.
Keadaan seperti ini tentu saja bertentangan dengan syariat Islam. Sebab, syariat
Islam telah melarang kaum Muslim memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk
menguasai kaum Muslim. Ketentuan ini didasarkan pada firman Allah swt:

dan sekali-kali Allah tidak akan pernah menjadikan jalan bagi orang-orang kafir
untuk menguasai kaum Mukmin.[TQS An Nisaa` (4):141]
Imam Asy Syaukani dalam Kitab Fath al-Qadir menafsirkan frase [wa lan yaj'al alAllah li al-Kaafiriin ala al-Mu`miniin sabiila] sebagai berikut:


{
}

:
: : .
: .

{
} :



:






} :

: [ 30 : { ]





: .
.


.
Ayat ini berlaku di hari kiamat jika yang dimaksud dengan al-sabiil adalah alnashr (pertolongan) dan al-ghalb(kemenangan); atau berlaku di dunia jika yang
dimaksud dengan al-sabiil adalah al-hujjah (argumentasi).Ibnu Athiyah berkata,
Seluruh ulama ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hal itu adalah
hari kiamat.Ibnu al-Arabiy berkata, Penafsiran seperti itu lemah dikarenakan
tidak adanya faedah dari khabar tersebut. Sebabnya, orang menyangka bahwa
kalimat yang terakhir dikembalikan kepada kalimat awalnya, yakni firman Allah
swt [wallahu yahkumu bainahum yauma al-qiyaamah], dan hal ini telah
melenyapkan faedah kalimat tersebut. Sebab, (penafsiran seperti itu) mengulangulang makna dari kalamNya. Dinyatakan pula bahwa makna ayat tersebut adalah:
sesungguhnya Allah swt tidak akan pernah menjadikan jalan bagi orang-orang kafir
untuk menghapuskan negara kaum Muslim, melenyapkan pengaruh mereka, dan
merusak kesucian mereka; sebagaimana makna yang tersebut dalam sebuah hadits
shahih, Dan tak ada seorang musuh pun dari selain kaum Muslim yang mampu
mengalahkan kaum Muslim, dan merusak kesucian mereka, walaupun seluruh
manusia bersatu untuk mengalahkan mereka, hingga mereka saling memerangi
satu dengan yang lain, dan mencela satu dengan yang lain. Dan ada pula yang
menyatakan bahwa sesungguhnya Allah tidak menjadikan jalan bagi orang-orang
kafir untuk menguasai kaum Mukmin selama kaum Mukmin masih menjalankan
kebenaran dan tidak ridlo dengan kebathilan, dan tidak meninggalkan aktivitas
mencegah dari kemungkaran; sebagaimana Allah swt berfirman, Dan apa
musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri.[TQS Asy Syura (42):30]. Ibnu al-Arabiy menyatakan, Dan penafsiran ini
sangatlah bagus.Dan ada pula yang menyatakan, Sesungguhnya Allah tidak
menjadikan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai kaum Mukmin secara
syariy. Jika terjadi (kaum Mukmin dikuasai oleh kaum kafir), maka keadaan itu
bertentangan dengan syariat. Inilah ringkasan pendapat yang dinyatakan oleh ahli
ilmu mengenai ayat ini. Dan ayat ini layak dijadikan hujjah untuk banyak masalah.
[Imam Asy Syaukaniy, Fath al-Qadiir, juz 2/321-322]
Makna yang paling tepat adalah; secara syariy kaum Muslim diharamkan dikuasai
oleh kaum kafir.Pasalnya, realitas menunjukkan bahwasanya kaum Muslim pernah
dikuasai dan dikalahkan oleh kaum kafir; seperti kekalahan kaum Muslim dari
bangsa Tartar, pasukan Salib, dan negara-negara imperialis barat.Untuk itu,
penafian yang terdapat di dalam ayat di atas harus dibawa ke arah penafian hukum,
bukan penafian atas realitasnya.Kesimpulan seperti ini didapatkan dengan mengkaji
dalalah yang terkandung pada ayat tersebut. Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani
rahimahullah ketika memberi contoh tentang dalaalah al-iqtidla, menyatakan:

) :

(



.
)(

.
.
Contoh yang lain adalah firman Allah swt [wa lan yaj'al al-Allahu li al-kaafiriin ala
al-Mukminiin sabiila]. Sesungguhnya, adanya jalan bagi kaum kafir untuk
menguasai kaum Mukmin kadang-kadang terjadi secara factual. Hal itu pernah
terjadi pada masa Rasulullah saw di Mekah, karena kaum Muslim yang hidup di sana
dikuasai oleh pemerintahan kaum kafir. Hal itu juga terjadi pada masa sesudah
Nabi saw. Negeri Andalusia di mana kaum Muslim hidup di dalamnya telah dikuasai
oleh pemerintahan orang-orang kafir, dan hal itu juga terjadi pada masa sekarang .
Penafian adanya jalan bagi kaum kafir untuk menguasai kaum Mukmin dengan
lafadz lan yang berfaedah pada penafian yang bersifat abadi (selama-lamanya)
untuk mencegah terjadinya hal tersebut. Oleh karena itu, penafian tersebut harus
diarahkan pada penafian hukum, yakni penafian terhadap perkara yang boleh (nafiy
al-jawaaz).Artinya, diharamkan adanya jalan bagi orang kafir menguasai kaum
Mukmin. Hal ini termasuk perkara yang menjadi konsekuensi logis (dari) syariat
untuk menjamin kebenaran sebuah khabar.[Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani, Asy
Syakhshiyyah al-Islaamiyyah, juz 3/183]
Kebijakan pembatasan BBM bersubsidi yang menjadi derivasi kebijakan privatisasi
sector migas telah membuka jalan selebar-lebarnya bagi kaum kafir untuk
menguasai kaum Muslim.Oleh karena itu, kebijakan ini harus ditolak untuk
membebaskan negeri ini dari penjajahan kaum kafir.
3. Kebijakan Pembatasan BBM Bersubsidi dan Kenaikan Harga BBM adalah
Kebijakan Diskriminatif dan Mendzalimi Rakyat
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, kebijakan pembatasan BBM bersubsidi
-yang ujung-ujungnya adalah pencabutan subsidi secara menyeluruh jelas-jelas
akan menambah beban hidup rakyat. Padahal, sebelumnya rakyat sudah harus
menanggung beban berat akibat kebijakan privatisasi yang telah merambah pada
sektor pelayanan public (public service obligation), seperti pendidikan, kesehatan,
kelistrikan, air, dan pelayanan publik lainnya.Atas dasar itu, kebijakan pembatasan
BBM bersubsidi yang jelas-jelas memberatkan rakyat adalah haram. Ketentuan ini
didasarkan pada sabda Rasulullah saw:

Barangsiapa menyempitkan (urusan orang lain), niscaya Allah akan menyempitkan


urusannya kelak di hari kiamat.[HR. Imam Bukhari]
Dituturkan dari Ummul Mukminiin Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw pernah
berdoa:

Yaa Allah, barangsiapa memiliki hak mengatur suatu urusan umatku, lalu ia
menyempitkan mereka, maka sempitkanlah dirinya; dan barangsiapa memiliki hak

untuk mengatur suatu urusan umatku, lalu ia memperlakukan mereka dengan baik,
maka perlakukanlah dirinya dengan baik.[HR. Imam Ahmad dan Imam Muslim]
Imam An Nawawiy, dalam Syarah Shahih Muslim, mengomentari hadits ini sebagai
berikut:

Hadits ini berisi pencegahan yang paling jelas dari perbuatan menyempitkan
urusan manusia, sekaligus dorongan yang sangat besar untuk berbuat lemah
lembut kepada manusia. Hadits-hadits yang semakna dengan hadits ini sangatlah
banyak.[Imam An Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, juz 6/299]
Selain karena alasan di atas, kebijakan pembatasan BBM bersubsidi merupakan
kebijakan yang diskriminatif. Pasalnya, kebijakan ini akan berakibat pada
tertutupnya akses sebagian masyarakat untuk mendapatkan BBM yang murah.
Padahal, semua orang memiliki hak, andil, dan bagian yang sama terhadap hartaharta yang termasuk dalam kepemilikan umum, tanpa membedakan lagi perbedaan
status social, warna kulit, suku, dan bahasa. Negara berkewajiban mengelola harta
kepemilikan umum sesuai dengan syariat Islam hingga semua orang bisa
mendapatkan bagian dan akses yang sama. Kebijakan pembatasan BBM
bersubsidi, jelas-jelas akan menutup akses sebagian orang untuk mendapatkan
pasokan BBM.
Masalah lain yang sering dilupakan adalah, tidak ada istilah subsidi pemerintah
dalam perkara-perkara yang menjadi hak seluruh rakyat. Migas adalah hak seluruh
kaum Muslim, bukan hanya hak Negara maupun sekelompok orang.Rakyat bukanlah
pihak yang wajib dibelaskasihani dengan adanya subsidi.Sebab, rakyat adalah
pemilik sejati migas, bukan negara.Hubungan negara dengan rakyat dalam masalah
ini bukanlah hubungan antara penjual dan pembeli, maupun hubungan antara si
kaya yang memberi subsidi kepada yang miskin.Negara adalah institusi yang
ditunjuk oleh syariat untuk mengelola kepemilikan umum agar seluruh kaum Muslim
bisa mendapatkan bagian yang setara dalam hal pemanfaatan, akses, dan
pembagian.Imam Ahmad menuturkan sebuah hadits dari Amr bin Syuaib dari
bapaknya, dari kakeknya, dari Nabi saw, bahwasanya beliau saw bersabda:

Barang siapa menghalangi (orang lain untuk mengambil atau memanfaatkan)


kelebihan air atau kelebihan padang rumputnya, maka Allah Azza wa Jalla akan
menghalangi keutamaanNya kepada dia pada hari kiamat.[HR. Imam Ahmad]
4. Kebijakan Pembatasan BBM Bersubsidi Maupun Kenaikan Harga BBM
Adalah Kebijakan yang Lahir dari Sekulerisme-Liberalisme
Kebijakan pembatasan BBM bersubsidi maupun kenaikan harga BBM bukanlah
kebijakan yang lahir dari Islam, tetapi, lahir dari sekulerisme-liberalisme yang
nyata-nyata bertentangan dengan Islam. Padahal, seorang Muslim diwajibkan
untuk berbuat di atas dasar Islam, bukan atas dasar paham atau pemikiran lain.
Di dalam hadits shahih, Nabi saw bersabda:

Siapa saja yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak atas perintah kami,
maka perbuatan itu tertolak.[HR. Imam Bukhari dan Muslim]
Sesungguhnya, sejak negeri ini menerapkan paham demokrasi-sekulerisme;
sebagian besar kebijakan public yang diterapkan di negeri ini tegak di atas paham
demokrasi-sekuler, bukan Islam. Akibatnya, semua kebijakan yang ada di negeri ini
bertentangan dengan Islam, baik dari sisi asas maupun perinciannya. Kebijakan
pembatasan BBM bersubsidi maupun kenaikan harga BBM, dari sisi asasnya adalah
kebijakan bathil. Sebab, kebijakan ini lahir dari paham kapitalismesekulerisme.Adapun dari sisi perinciannya, telah terbukti bahwa kebijakan ini
bertentangan dengan syariat Islam yang mengatur pengelolaan harta kepemilikan
umum. Oleh karena itu, kebijakan pembatasan BBM bersubsidi maupun kenaikan
harga BBM jelas-jelas bertentangan dengan aqidah dan syariat Islam.
KESIMPULAN
Kebijakan pembatasan BBM bersubsidi maupun kebijakan kenaikan harga BBM
merupakan salah satu dari sekian banyak kebijakan yang bertentangan dengan
syariat Islam dan merugikan rakyat. Masih banyak kebijakan-kebijakan publik lain
yang harus disikapi oleh kaum Muslim, wa bil khusus, oleh para alim ulama.
Jika diteliti dan dikaji kembali secara teliti, munculnya kebijakan-kebijakan yang
bertentangan dan syariat tersebut disebabkan karena negeri ini menjadikan paham
kapitalis-sekuler sebagai asas penyelenggaraan urusan negara; dan menerapkan
hukum-hukum kufur buatan barat sebagai aturan untuk mengatur urusan rakyat.
Selama asas dan sistem penyelenggaraan negara masih didasarkan pada
kapitalisme-sekulerisme, kaum Muslim akan tetapi berada dalam kubangan
persoalan. Oleh karena itu, tuntutan kaum Muslim tidak boleh terhenti hanya pada
pencabutan kebijakannya saja, akan tetapi, harus diarahkan pada penggantian asas
dan sistem yang mendasari penyelenggaraan urusan negara dan rakyat. Wallahu
al-Mustaan wa Huwa Waliyu al-Taufiq.[]

Anda mungkin juga menyukai