Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 PENGERTIAN
Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversible
dimana trakea dan bronki berespons dalam secara hiperaktif terhadap
stimulasi tertentu..
Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya
respontrakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi
adanyapenyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah
baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan ( The American Thoracic
Society ).
Asma

dimanifestasikan

dengan

penyempitan

jalan

nafas,

yang

mengakibatkan dispnea, batuk dan mengi. Tingkat penyempitan jalan nafas


dapat berubah baik secara spontan atau karena terapi. Asma berbeda dari
penyakit paru obstruktif dalam hal bahwa asma adalah proses reversible.
(Brunnert & Suddarth.2001: 611)
1.2 KLASIFIKASI
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi
3 tipe, yaitu :
1. Ekstrinsik (alergik)
Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor
pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obatobatan (antibiotic danaspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering
dihubungkan dengan adanyasuatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh
karena itu jika ada faktor-faktorpencetus spesifik seperti yang disebutkan di
atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik.
2. Intrinsik (non alergik)
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus
yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga
disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma

ini menjadilebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat
berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan
mengalami asma gabungan.
3. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari
bentuk alergik dan non-alergik.
1.3 ETIOLOGI
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi
timbulnya serangan asma bronkhial.
1. Faktor predisposisi
Genetik, dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum
diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan
penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita
penyakit alergi. Karenaadanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah
terkena penyakit asmabronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus.
Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
2. Faktor presipitasi
a. Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan
ex: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
2) Ingestan, yang masuk melalui mulut
ex: makanan dan obat-obatan
3) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit
ex: perhiasan, logam dan jam tangan
b. Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi
asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu
terjadinyaserangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan
musim,seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini
berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu.

c. Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu
juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala
asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami
stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah
pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya
belum bisa diobati.
d. Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma.
Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang
bekerja dilaboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu
lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
e. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan
aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya
terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.
1.4 TANDA DAN GEJALA
Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan
gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan
dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot
bantu pernafasan bekerja dengan keras. Gejala klasik dari asma bronkial ini
adalah sesak nafas, mengi ( whezing ), batuk, dan pada sebagian penderita
ada yang merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu dijumpai
bersamaan. Pada serangan asma yang lebih berat , gejala-gejala yang timbul
makin banyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran,
hyperinflasi dada, tachicardi dan pernafasan cepat dangkal . Serangan asma
seringkali terjadi pada malam hari.

1.5 PATOFISIOLOGI
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang
menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas
bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada
asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang
alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E
abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila
reaksi dengan antigen spesifikasinya.
Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat
pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus
kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut
mmeningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel
mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat,
diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan
leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari
semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada dinding
bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen
bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan
tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. Pada asma , diameter
bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena
peningkatan tekanan dalam paru selama ekspirasi paksa 3 menekan bagian
luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan
selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi
berat terutama selama ekspirasi.
Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan
adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea.
Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat
meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara
ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest.

1.6

KOMPLIKASI
Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah :
1. Status asmatikus adalah setiap serangan asma berat atau yang kemudian
menjadi berat dan tidak memberikan respon (refrakter) adrenalin dan atau
aminofilin suntikan dapat digolongkan pada status asmatikus. Penderita
harus dirawat dengan terapi yang intensif.
2. Atelektasis adalah pengerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat
penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat
pernafasan yang sangat dangkal.
3. Hipoksemia adalah tubuh kekurangan oksigen, defisiensi oksigen darah
4. Emfisema adalah penyakit yang gejala utamanya adalah penyempitan
(obstruksi) saluran nafas karena kantung udara di paru menggelembung
secara berlebihan dan mengalami kerusakan yang luas.

1.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium
1. Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya:
a. Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal
eosinopil.
b. Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari
cabang bronkus.
c. Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
d. Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat
mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus
plug.
2. Pemeriksaan darah
a. Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula
terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.
b. Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
c. Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3
dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.
3. Pencetus :
a.

Allergen

b. Olahraga
c.

Cuaca

d. Emosi
Pemeriksaan radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu
serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni
radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta
diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka
kelainan yang didapat adalah sebagai berikut :
a. Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan
bertambah.

b. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen


akan semakin bertambah.
c. Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru
Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
d. Bila

terjadi

pneumonia

mediastinum,

pneumotoraks,

dan

pneumoperikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen


pada paru-paru.
1.8

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan asma :
1) Posisikan pasien semifowler.
2) Oksigen nasal atau masker dan terapi cairan parenteral.
3) Adrenalin 0,1- 0,2 ml larutan : 1 : 1000, subkutan. Bila perlu dapat
diulang setiap 20 menit sampai 3 kali.
4) Dilanjutkan atau disertai salah satu obat tersebut di bawah ini ( per oral)
:
a. Golongan Beta 2- agonist untuk mengurangi bronkospasme :
Efedrin

: 0,5 1 mg/kg/dosis, 3 kali/ 24 jam

Salbutamol

: 0,1-0,15 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam

Terbutalin

: 0,075 mg/kg/dosis, 3-4 kali/ 24 jam

Efeknya tachycardia, palpitasi, pusing, kepala, mual, disritmia, tremor,


hipertensi dan insomnia, . Intervensi keperawatan jelaskan pada orang tua
tentang efek samping obat dan monitor efek samping obat.
b. Golongan

Bronkodilator,

untuk

dilatasi

bronkus,

mengurangi

bronkospasme dan meningkatkan bersihan jalan nafas.


Aminofilin : 4 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
Teofilin

: 3 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam

Pemberian melalui intravena jangan lebih dari 25 mg per menit. Efek


samping

tachycardia,

dysrhytmia,

palpitasi,

iritasi

gastrointistinal,

rangsangan sistem saraf pusat; gejala toxic; sering muntah, haus, demam

ringan, palpitasi, tinnitis, dan kejang. Intervensi keperawatan; atur aliran


infus secara ketat, gunakan alat infus kusus misalnya infus pump.
c. Golongan steroid, untuk mengurangi pembengkakan mukosa bronkus.
Prednison

: 0,5 2 mg/kg/hari, untuk 3 hari (pada serangan hebat).

ASUHAN KEPERAWATAN TEORI ASMA


1. Pengkajian
Anamnesis
Pengkajian mengenai nama, umur dan jenis kelamin perlu dilakukan pada
klien dengan asma. Serangan asma pada usia dini memberikan implikasi
bahwa sangat mungkin terdapat status atopic. Serangan pada usia dewasa
dimungkinkan

adanya

factor

non-atopik.

Tempat

tinggal

yang

menggambarkan kondisi tempat klien berada. Berdasarkan tempat alamat


tersebut, dapat diketahui pula factor yang memungkinkan menjadi pencetus
serangan asma. Status perkawinan dan gangguan emosional yang timbul
dalam keluarga atau lingkungan merupakan factor pencetus serangan asma.
Pekerjaan serta suku bangsa juga dapat dikaji untuk mengetahui adanya
pemaparan bahan allergen. Hal ini yang perlu dikaji dari identitas klien ini
adalah tanggal masuk rumah sakit (MRS), nomor rekam medis, asuransi
kesehatan dan diagnosis medis.
Keluhan utama meliputi sesak nafas, bernafas terasa berat pada dada,
adanya keluhan sulit untuk bernafas.
Riwayat Penyakit Saat Ini
Klien dengan serangan asma datang mencari pertolongan terutama dengan
keluhan sesak nafas yang hebat dan mendadak, kemudian diikuti dengan
gejala-gejala lain seperti wheezing, pengugunaan otot bantu pernafasan,
kelelahan, gangguan kesadaran, sianosis dan perubahan tekanan darah.
Serangan asma mendadak secara klinis dapat dibagi menjadi tiga stadium.
Stadium pertama ditandai dengan batul-batuk berkala dan kering. Batuk ini
terjadi karena iritasi mukosa yang kental dan mengumpul. Pada stadium ini
terjadi edema dan pembengkakan bronkus. Stadium kedua ditandai dengan
batuk disertai mukus yang jernih dan berbusa. Klien merasa sesak nafas ,
berusah

untuk

nafas

dalam,

ekspirasi

memanjang

diikuti

bunyi

mengi(wheezing). Klien lebih suka duduk dengan tangan diletakkan pada


pinggir tempat tidur, tampak pucat, gelisah, dan warna kulit mulai membiru.

Stadium ketiga ditandai dengan hampir tidak terdengarnya suara nafas karean
aliran udara kecil, tidak ada batuk, pernafasan menjadi dangkal dan tidak
teratur, irama nafas meningkat karena asfiksia.
Perawat perlu mengkaji obat-obatan yang bias diminum klien dan
memeriksa kemvali setiap jenis obat apakah masih relevan untuk digunakan
kembali.
Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit yang pernah diderita pada masa-masa dahulu seperti adanya
ineksi saluran pernafasan atas, sakit tenggorokan, amandel, sinusitis, dan
polip hidung. Riwayat serangan asma, frekuensi, waktu dan alergen-alergen
yang dicurigai sebagai pencetus serangan, serta riwayat pengobatan yang
dilakukan untuk meringkan gejala asma.
Riwayat Penyakit Keluarga
Pada klien dengan serangan asma perlu dikaji tentang riwayat penyakit
asma atau penyakit alergi yang lain pada anggota keluarga karena
hipersensitivitas pada penyakit asma ini lebih ditentukan oleh factor genetic
dan lingkungan.
Riwayat Alergi
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan
ex: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
2) Ingestan, yang masuk melalui mulut
ex: makanan dan obat-obatan
3) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit
ex: perhiasan, logam dan jam tangan
Pengkajian Psiko-Sosio-Kultural
Kecemasan dan koping yang tidak efektif sering didapatakan pada klien
dengan asma bronchial. Status ekonomi berdampak pada asuransi kesehatan

dan perubahan mekanisme peran dalam keluarga. Gangguan emosional sering


dipandang sebagai salah satu pencetus bagi serangan asma baik gangguan itu
berasal dari rumah tangga, lingkungan sekitar, sampai lingkungan kerja.
Seorang dengan beban hidup yang berat lebih berpotensial mengalami
serangan asma. Berada dalam keadaan yatim piatu, mengalami ketidak
harmonisan hubungan dengan orang lain, sampai menghalangi ketakutan
tidak dapat menjalani peranan seperti semula.
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum
Perawat juga perlu mengkaji tentang kesadarn klien, kecemasan, kegelisahan,
kelemahan suara bicara, denyut nadi, frekuensi pernafasan yang meningkat,
penggunaan otot-otot bantu pernafasan, sianosis, batuk dengan lendir lengket, dan
posisi istirahat klien.
a.

Sistem Pernapasan
Inspeksi
Pada klien asma terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi pernafasan,
serta penggunaan otot bantu pernafasan. Inspeksi dada terutama untuk
melihat postur bentuk dan kesimetrisan, adanya peningkatan diameter
anteroposterior, retraksi otot-otot interkostalis, sifat dan irama pernafasan dan
frekuensi pernafsan.
Palpasi
Pada palpasi biasanya kesimetrisan, ekspansi, dan taktil fremitus normal.
Perkusi
Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan
diafragma menjadi datar dan rendah.
Auskultasi
Terdapat suara vesikuler yang meningkatkan disertai dengan ekspirasi lebih
dari 4 detik atau lebih dari 3 kali inspirasi, dengan bunyi nafas tambahan
utama wheezing pada akhir ekspirasi.

b. Sistem Kardiovaskuler
Perawat perlu memonotori dampak asma pada status kardiovaskuler meliputi
keadaan hemodinamik seperti nadi,tekanan darah, dan CRT.
c.

Sistem Persyarafan
Pada saat inspeksi,tingkat kesadarn perlu dikaji. Di samping itu, diperlukan
pemeriksaan GCS untuk menentukan tingkat kesadaran klien apakah compos
mentis,somnolen, atau koma.

d. Sistem Perkemihan
Pengukuran volume output urine perlu dilakukan karena berkaitan dengan
intake cairan. Oleh karena itu, perawat perlu memonotor ada tidaknya
oligouria, karena hal tersebut merupakan tanda awal dari syok.
e.

Sistem Pencernaan
Dikaji adanya edema ekstremitas, tremor dan tanda-tanda infeksi pada
ekstremitas karena dapat merangsang serangan asma. Pengkaji tentang status
nutrisi klien meliputi jumlah, frekuensi dan kesulitan-kesulitan dalam
memenuhi kebutuhannya. Pada klien dengan sesak nafas,sangat potensial
terjadi kekurangan pemenuhan kebutuhan nutrisi,hal ini karena terjadi dipnea
saat makan, laju metabolisme, serta kecemasan yang dialami klien.

f.

Sistem Muskuloskeletal
Dikaji adanya edema ekstremitas,tremor dan tanda-tanda infeksi pada
ekstremitas karena dapat merangsang serangan asma. Pada integumen perlu
dikaji adanya permukaan yang kasar, kering, kelainan pigmentasi, turgor
kulit,kelembapan,mengelupas atau bersisik, pendarahan, pruritus,eksim,dan
adanya bekas atau tanda urtikaria atau dermatitis. Pada rambut, dikaji warna
rambut, kelembapan, dan kusam. Perlu dikaji pula tentang bagaimana tidur
dan istirahat klien yang meliputi berapa lama. (Muttaqin,2008)

2.

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa 1:
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan bronkhokonstriksi,
bronkhospasme ditandai dengan sekresi mucus yang kental, adanya
wheezing,RR meningkat (lebih dari 22x/mnt), HR meningkat (lebih dari
100x/mnt), napas dangkal dan cepat, menggunakan otot bantu napas.

Tujuan :
Bersihan jalan napas kembali efektif setelah di lakukan tindakan keperawatan
selama .x 24 jam
Kriteria Hasil :
1. Klien dapat mendemonstrasikan batuk efektif.
2. Tidak ada suara nafas tambahan dan wheezing.
3. Pernapasan klien normal ( 16 -20 x /menit) tanpa adanya pengguanaan
otot bantu napas.
4. Frekuensi nadi 60-120 x /menit.
Intervensi:
Mandiri :
1.) Posisikan pasien untuk mengoptimalkan pernapasan ( posisi semi fowler)
Rasional : posisi semi fowler dapat memberikan kesempatan pada proses
ekspirasi paru.
2.) Kaji Warna, kekentalan dan jumlah sputum
Rasional : karekteristik sputum dapat menunjukkan barat ringannya
obstruksi.
3.) Atur posisi semifowler
Rasional : posisi semi fowler meningkatkan ekspansi paru.
4.) Ajarkan cara batuk efektif dan terkontrol
Rasional : batuk yang terkontrol dan efektif

dapat memudahkan

pengeluaran secret yang melekat dijalan napas.


5.) Bantu klien latihan napas dalam.
Rasional : ventilasi maksimal membuka lumen jalan nafas dan
meningkatkan gerakan secret kedalam jalan nafas besar untuk
dikeluarkan.
6.) Pertahankan intake cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali tidak
diindikasikan
Rasional : Hidrasi yang adekuat membantu mengencerkan secret dan
mengefektifkan pembersihan jalan nafas.
7.) Lakukan fisioterapi dada dengan teknik postural dranase, perkusi,fibrasi
dada.

Rasional : fisioterapi dada merupakan strategi untuk mengeluarkan


secret.
Kolaborasi :
1.) Kolaborasi pemberian obat bronkodilator
Rasional : Pemberian bronkodilator via inhalasi akan langsung menuju
area broncus yang mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi.
2.) Kolaborasi dengan dokter pemberian obat agen mukolitik dan
ekspektoran
Rasional : agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan
secret paru untuk memudahkan pembersihan. Agen ekspektoran akan
memudahkan secret lepas dari perlengketan jalan napas .
3.) Kolaborasi dengan dokter pemberian obat kortikostiroid.
Rasional : kortikosteroid berguna pada keterlibatan luas dengan
hipoksemia dan menurunkan reaksi inflamasi akibat edema mukosa dan
dinding bronkus.
Diagnosa 2
Pola napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan energy/kelelahan di
tandai

dengan

sesak

napas,

takipnea,

orthopnea,

tarikan

interkostal/penggunaan otot napas tambahan untuk bernapas, napas pendek,


napas pursed-lip.
Tujuan :
Pola nafas kembali efektif setelah di lakukan tindakan keperawatan selama
x 24
Kriteri Hasil :
1. Pernapasan klien normal (16-20x/menit) tanpa adanya penggunaan otot
bantu napas.
2. Tidak terdapat suara nafas tambahan atau wheezing.
3. Status tanda vital dalam batas normal.
- nadi 60 - 100x /menit
- RR 16-20 x/mnt
4. Klien dapat mendemonstrasikan teknik distraksi pernapasan.

Intervensi:
Mandiri :
1.) Posisikan pasien untuk mengoptimalkan pernapasan ( posisi semi fowler)
Rasional : posisi semi fowler dapat memberikan kesempatan pada proses
ekspirasi paru.
2.) Pantau kecepatan, irama, kedalaman pernapasan dan usaha respirasi.
Rasional : Memantau pola pernafasan harus dilakukan terutama pada
klien dengan gangguan pernafasan .
3.) Perhatikan pergerakan dada , amati kesimetrisan, penggunaan otot-otot
bantu napas, serta retraksi otot supraklavikular dan interkostal.
Rasional : melakukan pemeriksaan fisik pada paru dapat mengetahui
kelainan yang terjadi pada klien .
4.) Auskultasi bunyi napas, perhatikan area penurunan / tidak adanya ventilasi
dan adanya bunyi napas tambahan.
Rasional : Adanya bunyi napas tambahan mengidentifikasikan adanya
gangguan pada pernapasan.
4.) Pantau peningkatan kegelisahan, ansietas, dan tersengal-sengal.
Rasional : Ansietas dapat memicu pola pernapasan seseorang.
6.) Anjurkan napas dalam melalui abdomen selama periode distress
pernapasan.
Rasional : Teknik distraksi dapat merileksasikan otot otot pernapasan.
Kolaborasi :
1) Kolaborasi dengan dokter pemberian bronkodilator.
Rasional : pemberian bronkodilator via inhalasi akan langsung menuju
area bronkus yang mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi.
Diagnosa 3
Pertukaran gas berhubungan dengan kelelahan otot respiratory ditandai
dengan dispnea, peningkatanPCO2, peningkatan penggunaan otot bantu
napas.
Tujuan :

Pertukaran gas kembali efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan


selamax24 jam.
Kriteria Hasil :
1. Klien dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi dalam pernapasan.
2. Frekuensi napas 16-20 x /menit dan tidak sesak napas.
3. Frekuensi nadi 60-120 x /menit.
4. Kulit tidak pucat ( PaO2 kurang dari 50 mm Hg.PaCO2 lebih dari 50 mm
Hg dan PH 7,35-7,40 ).
5. Saturasi oksigen dalam darah lebih dari 90%.
Intervensi:
1.) Pantau status pernapasan tiap 4 jam,hasil GDA,intake dan output.
Rasional : untuk mengindenfikasi indikasi ke arah kemajuan atau
penyimpangan dari hasil klien.
2.) Tempatkan klien pada posisi semi fowler
Rasional: posisi tegak memungkinkan ekspansi paru lebih baik.
3.) Berikan pengobatan yang telah ditentukan serta amati bila ada tandatanda toksisitas.
Rasional : pengobatan untuk mengembalikan kondisi bronchus seperti
kondisi sebelumnya.
4.) Tingkatkan aktifitas secara bertahap, jelaskan bahwa fungsi pernapasan
akan meningkat dengan aktivitas.
Rasional : Mengoptimalkan fungsi paru sesuai dengan kemampuan
aktivitas individu.
Kolaborasi:
1.) Berikan terapi intravem sesuai anjuran (kolaborasi dengan dokter)
Rasional : Untuk memungkinkan dehidrasi yang cepat dan tepat
mengikuti keadaan vaskuler untuk pemberian obat-obat darurat.
2.) Berikan oksigen melalui kanula nasal 4 L/menit selanjutnya sesuaikan
dengan hasil PaO2.
Rasional : pemberian oksigen mengurangi beban otot-otot pernafasan.

Diagnosa 4:
Intoleransi

aktivitas

berhubungan

dengan

ketidakseimbangan

antara

kebutuhan dan suplai oksigen ditandai dengan kelelahan, dispnea, sianosis


Tujuan :
Dalam waktu x24 jam setelah diberikan intervensi klien dapat melakukan
aktivitas sesuai kebutuhan.
Kriteria hasil :
1.

Klien dapat beraktivitas sesuai kebutuhannya.

2.

Pernapasan klien normal (16-20 x/menit) dan tidak sesak napas.

3.

Frekuensi nadi 60-120 x /menit.

4.

Klien dapat mendemonstrasikan teknik distraksi yang diajarkan.

Intervensi :
1.) Jelaskan aktivitas dan factor ysng dapat meningkatkan kebutuhan oksigen
Rasional : merokok ,suhu ekstrem dan stress menyebabkan vasokonstriksi
pembuluh darah dan meningkatkan beban jantung .
2.) Ajarkan progam relaksasi
Rasional : mempertahankan, memperbaiki pola nafas teratur .
3.) Buat jadwal aktivitas harian ,tingkatkan secara bertahap.
Rasional : mepertahankan pernapasan lambat dengan tetap memperhatikan
latihan fisik memungkinkan peningkatan kemampuan otot bantu
pernapasan
4.) Ajarkan teknik napas efektif.
Rasional : meningkatkan oksigenasi tanpa mengorbankan banyak energi .
5.) Pertahan kan terapi oksigen tambahan .
Rasional : mempertahankan, memperbaiki dan meningkatkan konsentrasi
oksigen darah.
6.) Kaji respon abnormal setelah aktivitas.
Rasional : respon abnormal meliputi nadi , tekanan darah , dan pernafasan
yang meningkat .
7.) Beri waktu istirahat yang cukup.
Rasional : meningkatkan daya tahan klien, mencegah kelelahan .
Kolaborasi :

1) Kolaborasikan dengan fisioterapi untuk melakukan latihan /aktivitas harian


sesuai jadwal.
Rasional: latihan/aktivitas harian memungkinkan kemampuan otot bantu
nafas. (Doengoes,2000)