Anda di halaman 1dari 14

ANGGARAN FLEKSIBEL

Anggaran adalah pendekatan yang formal dan sistematis dalam pelaksanaan


tanggungjawab manajemen di dalam perencanaan, koordinasi dan pengawasan.
Anggaran disusun setelah semua tujuan dan program kerja disusun. Ada tiga
kegunaan dari anggaran ini, yakni :
1. Dapat dipakai untuk merumuskan anggaran sebelum adanya data taksiran
tingkat aktivitas.
2. Dapat dipakai setelah adanya data untuk menghitung berapa seharusnya
biaya untuk tingkat aktivitas aktual.
3. Membantu manajemen dalam menghadapi ketidak pastian dengan
memampukan mereka untuk melihat taksiran hasil dalam kisaran
aktivitas tertentu.
Anggaran fleksibel adalah suatu alternative bagi anggaran tetap. Anggaran
fleksibel atau variabel (flexible or variable budget) menyesuaikan pendapat,
biaya dan beban dengan volume aktual yang dialami, serta membandingkan
jumlah tersebut dengan hasil aktual. Anggaran fleksibel memasukkan perubahan
volume untuk menyediakan dasar perbandingan yang sah dengan biaya aktual.
Anggaran fleksibel dihitung pada akhir periode ketika keluaran aktual telah
diketahui. Anggaran Fkeksibel memungkinkan para manajer mehitung varians
yang memberikan lebih banyak informasi dibanding informasi varians dari sebuah
anggaran statis.
Anggaran fleksibel disusun berdasarkan kepada pola prilaku biaya, dimana
biaya terlebih dahulu dipisahkan menjadi dua kelompok, yaitu: Biaya tetap dan
Biaya Variabel. Anggaran ini disebut fleksibel karena dapat disesuaikan dengan
volume kegiatan sebenarnya terjadi, sehingga dalam pelaksanaan evaluasi dapat
dilakukan dengan lebih tetap dan akurat. Anggaran ini mengaitkan volume
aktivitas dengan jumlah rupiah yang dianggarkan. Bermanfaat terutama dalam
menaksir dan mengendalikan biaya pabrik dan beban operasi.Sebuah anggaran
yang fleksibel dapat membantu manajer untuk membuat perbandingan lebih valid.
Hal ini dirancang untuk menunjukkan pendapatan yang diharapkan dan
pengeluaran diizinkan untuk jumlah aktual unit yang diproduksi dan dijual.
Anggaran Fleksibel membandingkan dengan pengeluaran aktual dan pendapatan
adalah mungkin untuk membedakan efisiensi asli.
Sebelum anggaran fleksibel dapat dihasilkan, manajer harus
mengidentifikasi biaya tetap dan yang variable. Pengeluaran diperbolehkan pada

biaya variabel kemudian dapat meningkat atau menurun sebagai tingkat


perubahan aktivitas. "Biaya tetap" adalah biaya-biaya yang tidak akan menambah
atau mengurangi rentang aktivitas tertentu. Sebuah anggaran yang fleksibel
diharapkan menunjukkan pendapatan dan biaya untuk berbagai tingkat produksi
atau aktivitas penjualan. Ini jauh lebih berguna daripada statis anggaran , yang
tetap pada jumlah tunggal aktivitas perusahaan diasumsikan, yang kemungkinan
akan menyimpang jauh dari aktivitas yang sebenarnya selama periode anggaran.
Sebaliknya, sebuah perusahaan dengan menggunakan anggaran fleksibel dapat
membandingkan hasilnya dengan model yang relevan sepanjang masa anggaran.
Sebuah anggaran fleksibel ini juga berguna untuk perencanaan selama periode
lebih lama dari siklus anggaran, karena mudah untuk model skenario yang
berbeda dan melihat bagaimana mereka mempengaruhi pendapatan dan
keuntungan tingkat.

Mempersiapkan Anggaran Fleksibel


Sebelum suatu anggaran fleksibel dibuat, diperlukan suatu rumus untuk
menggambarkan setiap akun dalam setiap departemen atau pusat biaya. Setiap
rumus mengindikasikan biaya tetap dan atau tarif biaya variable untuk sebuah
akun. Poris variable dari rumus adalah suatu tarif biaya dalam hubungannya
dengan ukuran aktifitas tertentu, seperti jam tenaga kerja, jam mesin, atau unit
produksi. Jumlah biaya tetap dan tariff biaya variable tetap konstan dalam rentang
aktifitas yang relevan.
Setelah aktifitas actual diketahui diakhir periode, rumus digunakan untuk
menghitung jumlah kelonggaran anggaran untuk volume aktivitas actual yang
dicapai. Suatu anggaran yang disesuaikan ke aktivitas actual disebut dengan
anggaran yang dilonggarkan (allowable budget) atau kelonggaran anggaran
(budget allowance). Anggaran yang dilonggarkan dapat digunakan untuk
menghitung varians pengeluaran dan varians kapasitas penganggur, yang ketika
dijumlahkan sama dengan jumlah overhead yang dibebankan terlalu tinggi atau
terlalu rendah untuk departemen atau pusat biaya tersebut. Varins-varians ini
digunakan dalam mengevaluasi kinerja dari setiap departemen atau pusat biaya.
1. Varians pengeluaran adalah selisih antara biaya actual dengan kelonggaran
anggaran (suatu anggaran yang disesuaikan untuk mencerminkan tingkat
aktivitas actual). Jika kelonggaran anggaran adalah estimasi yang wajar
atas jumlah yang sebaiknya digunakan untuk tingkat aktivitas actual yang
dialami, maka varians pengeluaran dapat dipandang sebagai ukuran dari
efisiensi. Varians pengeluaran dipicu oleh perbedaan antara harga yang
dianggarkan dengan harga actual, serta kuantitas dari pos-pos biaya. Jika

seorang manajer mengendalikan salah satu antara biaya atau kuantitas,


maka manajer tersebut mengendalikan varians pengeluaran.
2. Varians kapasitas menganggur adalah perbedaan antara kelonggaran
anggaran untuk aktivitas actual dan jumlah biaya yang dibebankan,
dengantarif yang telah ditentukan sebelumnya, produk yang diproduksi
selama periode tersebut atau kedepartemen pengguna untuk jasa yang
diberikan. Varians kapasitas yang menganggur adalah jumlah biaya
overhead tetap dianggarkan yang dibebankan terlalu tinggi atau terlalu
rendah. Varians tersebut merupakan ukuran dari penggunaan kapasitas
karna dipicu oleh selesih antara tingkat aktivitas yang digunakan untuk
menghitung tariff overhead yang ditentukan sebelum nya (tarif penagihan)
dengan tingkat aktivitas actual yang dialami. Jika seorang meneger
mengendalikan tingkat kapasitas yang digunakan maka meneger tersebut
mengendalikan varians kapasitas menganggur.

Langkah-langkah pembuatan anggaran fleksibel


Anggaran Fleksibel disusun di akhir periode (April 2003) setelah
tingkat keluaran aktual sebesar 10.000 jaket diketahui. Bisa dikatakam
bahwa anggaran fleksibel merupakan anggaran yang akan disiapkan webb
di awal periode anggaran seandainya webb bisa memperkirakan dengan
benar tingkat keluaran aktual sebesar 10.000 jaket. Dalam penyusunan
anggaran fleksibel :
1. Harga jual yang dianggarkan sama dengan anggaran statis, yakni
sebesar $120 per jaket.
2. Biaya variabel yang dianggarkan sama dengan yang digunakan di
anggaran statis yakni sebesar $88.
3. Biaya tetap yang dianggarkan sama dengan jumlah pada
anggaran statis sebesar $276.000 (Karena 10.000 jaket yang
diproduksi berada pada kisaran relevan antara 0 hingga 12.000
jaket, yang merupakan kisaran berlakuny biaya tetap sebesar
$276.000).
Satu-satunya perbedaan antara anggaran statis dan anggaran fleksibel
adalah anggaran statis disusun untuk keluaran 12.000 jaket, sementara
anggaran fleksibel disusun berdasaran keluaran aktual 10.000 jaket. Dalam
penyusunan anggaran fleksibel untuk 10.000 jaket, semua biaya
diasumsikan variabel atau tetap terhadap jumlah jaket yang diproduksi.
Webb menyusun anggaran fleksibel dalam tiga langkah.
Langkah 1 : Tentukan Kuantitas keluaran Aktual.
Pada bulan april 2003, webb memproduksi dan menjual 10.000 jaket.

Langkah 2 : Hitung Anggaran Fleksibel untuk pendapat


berdasarkan anggaran Harga jual dan kuantitas keluaran aktual.
Pendapatan pada anggaran Fleksibel
$120 per jaket x 10.000 jaket = $ 1.200.000

Langkah 3 : Hitung Anggaran Fleksibel untuk biaya


berdasarkan anggaran biaya variabel perUnit keluaran,
kuantitas keluaran aktual, dan anggaran biaya tetap.
Biaya variabel dengan anggaran fleksibel
Bahan baku langsung, $60 per jaket x 10.000 jaket $ 600.000
Tenaga kerja langsung, $16 per jaket x 10.000 jaket
160.000
Biaya tak langsung variabel, $12 per jaket x10.000 jaket 120.000
Total biaya variabel anggaran fleksibel
880.000
Biaya tetap anggaran fleksibel
276.000
Total biaya anggaran fleksibel
$1.156.000
Tiga langkah ini memungkinkan webb menyusun anggaran
fleksibel seperti ditunjukkan pada tampilan 1.1, kolom 3. Webb
menggunakan anggaran fleksibel untuk maju ke analisis variansi
level 2 yang merinci varians anggaran statis untuk laba operasi
sebesar $93.100.

Varians
Varians merupakan perbedaan antara jumlah berdasarkan hasil aktual
dan jumlah yang dianggarkan yakni jumlah aktual dan jumlah yang
diperkirakan berdasarkan anggaran. Jumlah yang dianggarkan merupakan
acuan perbandingan yang dilakukan.
Varians membantu para manajer dalam perencanaan dan pembuatan
kebijakan pengendalian. Para manajer menggunakan informasi varians
untuk mengalokasikan pekerjaan mereka, mereka biasanya memberikan
sedikit saja perhatian pada hal-hal yang memiliki varians dalam jumlah
besar. Sebagai contoh, misalkan biaya-biaya aktual yang berkaitan dengan
produk sisa dan produk yang dikerjakan ulang pada pabrik Maytag jauh
melebihi anggarannya. Varians yang terjadi ini akan menuntun manjer
untuk mencari penyebab dan mengambil tindakan tindakan korektif
dini,untuk memastikan bahwa operasi dimasa mendatang mehasilkan lebih
sedikit produk sisa dan produk yang membutuhkan pengerjaan ulang.
Varians juga bisa digunakan dalam evaluasi kinerja. Manejer
manajer lini produksi pada Maytag bisa memperoleh insentif efisiensi
yang dinilai setiap kuartal atas pencapaian biaya operasi yang
dianggarkan.
Adakalanya Varians mendorong perubahan strategi. Tingkat kerusakan
yang melampaui batas untuk sebuah produk baru bisa jadi menunjukan
cacat pada desain produk. Para eksekutif perusahaan mungkin selanjutnya
bisa mengevaluasi ulang strategi-strategi produk mereka.

A. Varians Anggaran
Penjualan

Fleksibel

dan Varians Volume

Varians anggaran fleksibel adalah perbedaan antara hasil aktual dan


jumlah anggaran fleksibel yang bersesuaian berdasarkan tingkat
keluaran aktual pada periode anggatran tersebut.
Varians volume penjualan adalah perbedaan antara jumlah
anggaran fleksibel dan jumlah anggaran statis yang bersesuaian.

Varians volume penjualan untuk laba operasi


Jumlah anggaran fleksibel jumlah anggaran statis

Varians Anggaran Fleksibel


Varians anggaran fleksibel = Hasil aktual Jumlah anggaran fleksibel
Tampilan 1.1 menunjukkan analisis varians berdasarkan anggaran
fleksibel pada level 2 untuk webb. Varians pada level 2 memecah
varians level 1 yang tidak menguntungkan untuk laba operasi pada
anggaran statis sebesar $93.100 ke dalam 2 bagian : Varians anggaran

fleksibel sebesar $29.100 U dan varians volume penjualan sebesar


$64.000 U.
Level 1

Varians anggaran statis


$93.100 U

Level 2
Varians anggaran fleksibel

Varians volume penjualan

$29.100 u

$64.000 U

TAMPILAN 1.1
ANALISIS LEVEL 2
Hasil
Aktual
(1)
Jumlah unit terjual
Pendapatan
Biaya Biaya
Variabel
Bahan baku
langsung
Tenaga kerja
langsung
Biaya tidak
langsung-variabel
Total biaya variabel
Margin kontribusi
Biaya biaya tetap
Laba operasi

Varians
Anggaran
Fleksibel
(2)=(1)-(3)

Anggaran
Fleksibel
(3)

Varians
Volume
Penjualan
(4)=(3)(5)
2.000 U
$240.000 U

Anggaran
Statis
(5) +

10.000
$1.250.00
0

0
$50.000 F

10.000
$1.200.00
0

621.600

21.600 U

600.000

120.000 F

720.000

198.000

38.000 U

160.000

32.000 F

192.000

130.500

10.500 U

120.000

24.000 F

144.000

950.100
299.900
285.000

70.100 U
20.100 U
9.000 U
$ 29.100 U

880.000
320.000
276.000
$ 44.000

$
14.900

$ 29.100 U

$
$

Varians anggaran fleksibel

12.000
$1.140.00
0

176.000 F 1.056.000
64.000 U
384.000
0
276.000
64.000 U $
108.000
64.000 U

Varians volume penjualan

$ 93.100 U
Varians anggaran statis

*F = efek yang menguntungkan terhadap laba operasi


U = efek yang tidak menguntungkan

B. VARIANS BIAYA LANGSUNG


Pada kenyataannya jarang sekali pengeluaran biaya produksi
sesungguhnya sama dengan standar. Pada umumnya terdapat
perbedaan antara biaya standar dengan pelaksanaan, yang disebut
sebagai selisih atau varians. Selisih adalah perbedaan antara biaya
menurut standar (anggaran) dengan biaya aktual ( yang sesungguhnya
terjadi ). Selisih merupakan petunjuk tentang adanya ketidak tepatan,
sehingga manajemen perlu menganalisis penyebab terjadinya selisih.
Jika pelaksanaan sesungguhnya menyimpang terus-menerus dari
standar dengan jenis penyimpangan yang sama, maka bisa jadi
terdapat ketidak tepatan dalam standarnya. Namun jika penyimpangan
tersebut tidak terjadi terus menerus dan dengan pola yang berbedabeda, berarti terjadi kesalahan dalam pelaksanaan (biaya aktual).
Analisis yang kita akan bahas menitik beratkan pada selisih yang
terjadi pada biaya produksi, yang meliputi analisis selisih terhadap
biaya bahan baku dan analisis selisih terhadap biaya tenaga kerja
langsung.
C. Varian Bahan Baku
Varians bahan baku adalah selisih bahan baku actual dengan bahan
baku berdasrkan standar yang diperkirakan, Bastian Bustami dan Nurlela
(2009:274). Dalam varians bahan baku dapat dianalisis menjadi :
1. Varians harga bahan baku
Adalah selisih harga bahan baku actual dengan harga bahan baku
berdasarkan standar yag diperkirakan. Perusahaan biasanya menghitug
varians harga bahan baku pada saat berbeda dengan pencatatan harga
beli bahan baku atau harga pemakaian bahan baku. Kemungkinan
penyebab varians bahan baku tidak menguntungkan adalah :
a. Fluktuasi harga pasar bahan baku yang cukup tajam.
b. Jauhnya pemasok, sehingga tingginya biaya angkut yang
dibebankan ke perusahaan.
c. Gagalnya memanfaatkan potongan tunai yang diberikan pemasok.

2.

Varians Penggunaan Bahan


Adalah selisih antar kuantitas actual yang digunakan untuk
produksi dengan pemakaian bahan berdasarkan standar yang telah
ditetapkan, menggunakan harga beli bahan baku standar. Untuk
kebutuhan pengendalian, jika terjadi varians harus segera disolusi
secepat mungkin walaupun ada kemungkinan tidak dapat dihitung
sampai pekerjaan selesai, karena varians sangat besar pengaruhnya
pada baiay operasi. Kemungkinan terjadinya varians tidak
menguntungkan :
a.
b.
c.
d.

Kehilangan bahan baku saat penanganan tahap awal proses.


Pemborosan selama pemrosesan.
Terjadi kerusakan bahan dan sisa bahan berlebihan.
Perubahan spesifikasi produk yang belum disesuaikan dengan
standar.
e. Penggantian bahan baku dari standar yang ditetapkan.
Sedangkan Supriyono (2008:103) mengemukakan bahwa varians
bahan baku dapat dianalisis menjadi :
1. Standar Harga Bahan Baku.
Adalah harga bahan baku persatuan bahan baku yang seharusnya
terjadi dalam pembelian bahan baku. Penyebab terjadinya selisih :
a. Fluktuasi harga pasar bahan baku yang bersangkutan.
b. Kontrak dan jangka waktu pembelian yang menguntungkan atau
tidak menguntungkan.
c. Pembelian dari supplier yang lokasinya lebih menguntungkan
atau tidak menguntungkan.
d. Kegagalan dalam memanfaatkan potongan pembelian.
e. Tambahan pembayaran bahan baku adanya pembelian khusus
yang dilaksanakan.

2. Kuantitas Bahan Baku


Adalah kuantitas bahan baku yang seharusnya dipakai dalam
pengolahan satu satuan produk teetentu. Penyebab terjadinya selisih
adalah :

a. Perubahan rancangan produk, peralatan atau metode perolehan


produk yang belum dinyatakan standar.
b. Pemakaian bahan baku subtitusi yang menguntungkan atau
merugikan.
c. Selisih hasil dari bahan baku yang mengakibatkan kuantitas yang
dipakai lebih besar atau lebih kecil disbanding standar.
d. Kerugian bahan baku karena rusak, yang disebabkan karyawan
tidak terlatih, tidak diawasi atau teledor saat bekerja.
Manfaat dari adanya selisih harga, adalah :
a. Selisih harga bahan baku pada dasarnya adalah tanggung jawab
dari bagian pembelian karena bagian tersebut telah membeli
bahan baku dengan harga lebih tinggi atau lebih rendah dari
banding standar. Oleh karena itu selisih harga bahan baku dapat
dipakai nilai investasi bagian pembelian.
b. Perhitungan selisih harga bahan baku dapat bermanfaat untuk
harga bahan baku terhadap laba yang diperoleh perusahaan.
Manfaat adanya selisih kuantias bahan baku, adalah :
a. Menilai departemen produksi atau pabrik
b. Untuk mengukur pengaruh akibat efisiensi pemakaian bahan baku
terhadap laba yang diperoleh perusahaan.
Selisih harga bahan/material = (harga bahan standar - harga
bahan sesungguhnya) x Jumlah bahan sesungguhnya per satuan
dibeli / digunakan.
Selisih Pemakaian Bahan/material = (pemakaian
bahan
standar - pemakaian bahan) x Jumlah bahan sesungguhnya per
satuan dibeli / digunakan.
Contoh kasus :
PT. Agung Bakery membeli bahan baku sebanyak 40.000 kg dengan harga per kg
aktual Rp 3500,00. Total bahan yang digunakan untuk memproduksi adalah
35.000 kg dan harga standar per kg-nya adalah Rp. 3000,00. Berapakah selisih
penggunaan bahan yang timbul?
Penyelesaian :
Selisih Bahan Baku :
Materia
l

Kuantitas

Harga

TOTAL

Standar

35.000

Rp 3000,00

Rp 105.000.000,00

Aktual

40.000

Rp 3500,00

Rp 140.000.000,00

Selisih

5.000

Rp 500,00

Rp 35.000.000,00 (U)

Selisih bahan baku sebesar Rp 35.000.000,00 merupakan selisih tidak


menguntungkan karena jumlah bahan baku yang digunakan lebih besar dari
standar yang telah ditetapkan.
Analisa sebab-sebab selisih :
a. Selisih Harga Bahan
[harga bahan standar - harga bahan sesungguhnya] x Jumlah
bahan sesungguhnya per satuan dibeli / digunakan
Rp 500,00 X 40.000 = Rp 20.000,00
(Tidak Menguntungkan , karena harga standar lebih kecil dari harga
aktual)
b. Selisih Pemakaian Bahan =
[pemakaian bahan standar-pemakaian bahan] x harga bahan
standar sesungguhnya per satuan
5000 X Rp 3000,00 = Rp 15.000.000,00
(Tidak Menguntungkan, karena kuantitas standar lebih kecil dari kuantitas
aktual)
Contoh 2
Contoh

Anggaran

Fleksibel

Perusahaan ABC memiliki anggaran sebesar $ 10 juta pendapatan dan biaya $ 4


juta dari barang yang dijual. Dari $ 4 juta dalam biaya proyek yang dianggarkan
pokok penjualan, $ 1 juta tetap, dan $ 3 juta bervariasi secara langsung dengan
pendapatan. Dengan demikian, bagian variabel dari beban pokok penjualan adalah
30% dari pendapatan. Setelah periode anggaran telah selesai, ABC menemukan
bahwa penjualan sebenarnya $ 9 juta. Jika menggunakan anggaran fleksibel,
bagian tetap dari harga pokok penjualan masih akan $ 1 juta, namun bagian
variabel akan turun menjadi $ 2,7 juta, karena selalu 30% dari pendapatan.
Hasilnya adalah bahwa anggaran fleksibel menghasilkan biaya yang dianggarkan
pokok penjualan sebesar $ 3,7 juta pada tingkat pendapatan $ 9 juta, bukan $ 4
juta yang akan tercantum dalam anggaran statis.

D. Varian Tenaga Kerja Langsung


Varian tenaga kerja langsung, merupakan hasil dari total biaya tenaga
kerja langsung dri suatu periode yang berbeda dengan total biaya tenaga
kerja langsung standar untuk output pada periode tersebut.
Varian tenaga kerja langsung dibagi menjadi dua komponen:
1. Varian tarif tenaga kerja langsung, adalah selisih antara tarif upah
aktual yang dibayarkan dengan tarif standar dikalikan jumlah jam
tenaga kerja langsung aktual dalam operasi.
2. Varian efisiensi tenaga kerja langsung, adalah selisih antara jumlah
jam tenaga kerja langsung yang digunakan untuk n\bekerja denga total
jam kerja standar untuk unit yang diproduksi dikalikan tarif upah
tenaga kerja langsung standar per jam.
Selisih upah langsung adalah perbedaan antara upah langsung standar
dengan upah langsung yang sesungguhnya dibayarkan (aktual). Penyebab
selisih upah langsung adalah
1. Selisih tarif upah = (Tarif standar per jam kerja - Tarif aktual per
jam kerja) jam kerja aktual
2. Selisih penggunaan jam kerja/ selisih efisiensi = (Jam kerja standar Jam kerja aktual) tarif standar per jam
Contoh Penyusunan.
Diperoleh data dari perusahaan mengenai anggaran dan realisasi tenaga
kerja langsung untuk Januari 2011 sebagai berikut :
Anggaran bulan Januari 2011
a. Produksi 14.000 unit
b. Standard efisiensi tenaga kerja = 2 jam per unit
c. Tarif upah tenaga kerja direncanakan Rp. 42 per jam
Laporan akuntansi untuk tenaga kerja langsung
a. Produksi 15.000 unit
b. Jam kerja sesungguhnya 30.250 jam
c. Tarif upah tenaga kerja langsung sesungguhnya Rp. 45 per jam.

Atas dasar data tersebut dapat disusun :

a.Laporan pelaksanaan tenaga kerja langsung bulan Januari 2011


Keterangan
Produksi
DLH
Jam T.K.L.
Tarif upah
Biaya T.kerja
Keterangan

Anggaran
14.000
2
30.000
Rp. 42

Realisasi
15.000
2.0167
30.250
Rp.45

Rp. 1.260.000 Rp.1.361.250

Jumlah
1.000
0,0167
250
Rp.3

Prosentase
7.15
0.835
0.83
7.15

Rp.101.250

8.0

Anggaran

Anggaran yg
Realisasi
Jumlah Prosentase
disesuaikan
Produksi
14.000
15.000
15.000
DLH
2
2
2.0167
0,0167
0.835
Jam T.K.L.
28.000
30.000
30.250
250
0.83
Tarif upah
Rp. 42
Rp.42
Rp.45
Rp.3
7.1
Total Biaya Rp. 1.176.000 Rp.1.260.000 Rp.361.250 Rp.101.250
8.04

Analisa Varian.
Varian efisiensi : ( 30.000 -.30.250 ) x Rp. 42 = Rp. 10.500 ( Rugi )
Varian tariff upah : ( Rp. 45 Rp. 45 ) x 30.250 = Rp. 90.750( rugi )
Total varian biaya tenaga kerja langsung
= Rp.101.250 ( rugi )
PENGENDALIAN MANAJEMEN
Pengendalian manajemen merupakan beberapa bentuk kegiatan perencanaan
dan pengendalian kegiatan yang terjadi pada suatu organisasi. Pengendalian
manajemen merupakan kegiatan yang berada tepat di tengah dua kegiatan lainnya.
Dua kegiatan yang dimaksud adalah perumusan strategik yang dilakukan
manajemen puncak dan pengendalian tugas yang dilakukan manajemen paling
bawah. Pengendalian manajemen dalam hal ini tidak berarti bahwa setiap
tindakan/kegiatan harus sama dengan rencana. Pada prosesnya bisa saja berubah
karena perbedaan waktu antara rencana dan kegiatan. Tujuan pengendalian
manajemen adalah menjamin bahwa strategi yang dijalankan sesuai dengan tujuan
organisasi yang akan dituju. Jika apabila seorang manajer menemukan cara yang
lebih baik dalam operasi sehari-harinya, pengendalian manajemen seharusnya
tidak melarang manajer tersebut melakukan dengan cara yang menurut dia benar.
Anggaran fleksibel adalah kunci untuk memberikan umpan balik secara
lebih sering yang dibutuhkan para manjer untuk menerapkan pengendalian dan
secara efektif menjalankan rencana perusahaan. Anggaran fleksibel merupakan

alat pengendalian yang sangat bagus karena anggaran ini memungkinkan pihak
manajemen untuk menghitung berapa biaya yang seharusnya untuk tingkat aktual
output tersebut. Perbedaan antara jumlah aktual dan jumlah anggaran fleksibel
disebut sebagai variansi anggaran fleksibel. Anggaran fleksibel menyediakan
suatu ukuran efisiensi dari seorang manajer.
Dengan penggunaan analisis varian yang meliputi varian bahan baku, varian
tenaga kerja langsung, dan varian biaya overhead pabrik maka perusahaan lebih
mudah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian aktivitas produksi
perusahaan. Perusahaan dapat mengetahui ada tidaknya penyimpangan atau selisih
biaya-biaya produksi. Kemungkinan perusahaan dapat mencari alternatif tindakan
korektif untuk mennyikapi permasalahan yang ada. Dengan demikian proses
produksi dapat berjalan dengan baik dan tujuan perusahaan dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA
Rayburn, Gayle L. 1999. Akuntansi Biaya dengan Menggunakan Pendekatan
Manajemen Biaya. Edisi Keenam: Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.

Horngren, Charles T.dkk. 2004. Akuntansi Biaya Penekanan Manajerial. Edisi


Kesebelas. Jakarta: PT Indeks.
J.Blocher, Edward. 2007. Manajemen Biaya`Penekanan Strategis. Edisi Ketiga.
JakartA: Salemba Empat
Carter, William K dan Milton. 2004. Akuntansi Biaya. Edisi 13. Jakarta: Salemba
Empat

Anda mungkin juga menyukai