Anda di halaman 1dari 6

kebijakan pelayanan kamar operasi

KEBIJAKAN
PELAYANAN INSTALASI BEDAH SENTRAL
A. FALSAFAH DAN TUJUAN
1.

Falsafah
Menciptakan

pelayanan

pembedahan

yang

mencerminkan

koordinasi

yang

berkesinambungan antara pelayanan medis dan keperawatan sehingga tercipta


pelayanan yang berkualitas yang berdampak pada pendapatan rumah sakit dan
kesejahteraan karyawan.
2.

Tujuan
a. Tujuan Umum
Terwujudnya pelaksanaan pelayanan pembedahan di RS yang berpenampian,
berprofesi dan beretik, serta memenuhi standart mutu untuk menjadi pusat
pelayanan rujukan unggulan di Wilayah Jawa Timur Bagian Barat pada 2010.
b. Tujuan Khusus

Mewujudkan pelayanan pembedahan yang berorientasi padakan pelanggan

Mewujudkan pelayanan pembedahan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan


yang berdampak pada peningkatan pendapatan rumah sakit dan kesejahteraan
karyawan

Mengembangkan komunikasi antar disiplin ilmu di IBS

Mewujudkan suasana kondusif terhadap pengembangan profesionalisme yang


ada di Instalasi Bedah Sentral RS.

3.

Informed consent.
1) Setiap pasien yang akan dilakukan tindakan pembedahan di IBS terlebih
dahulu harus dilakukan pengambilan Informed Consent sesuai dengan
keijakan tentang persetujuan dan penolakantindakan medis (INFORMED
CONSENT)Di Rumah Sakit
2) Informed Consent harus disertai penjelasan pembedahan yang dapat
memberikan rasa aman pada pasien.
3) Pelaksanaan Informed Consent sesuai dengan SOP Informed Consern

4.

Rumah Sakit menyelengarakan pelayanan pembedahan di IBS sesuai permintaan/


kebutuhan masyarakat

5.

Penyelenggaraan

pelayanan

pembedahan

dibawah

koordinasi

Instalasi

bedah

sentral(IBS) Pelayanan IBS berdasarkan pada kerjasama antar disiplin ilmu, secara rinci
diatur dalam buku Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral.
B. ADMINISTRASI DAN PENGELOLA
1. Rumah Sakit menetapkan IBS sebagai koordinatr pelayanan pembedahan, sesuai
dengan

Struktur

Organisasi

Instalasi

bedah

Sentral.

Pengorganisasian

IBS

selengkapnya diatur dalam Pedoman Organisasi Instalasi Bedah Sentral


2. Tindakan pembedahan di IBS dilaksanakan kejasama antara dokter bedah dan dokter
anestesi. Dokter bedah dan anestesi bekerja sesuai hak dan kuwajibannya sesuai
dengan kebijakan direktur tentang hak dan kuwajiban dokter bedah dan anestesi.(Uraian
Tugas SMF).
3. Pelayanan Anestesi di Instalasi bedah Sentral dikakukan oleh Dr Anestesi dan Penata
Anestesi sesuai kebutuhan IBS melaksanakan Program Dalin .
4. Program Infeksi Nokomial di Instalasi Bedah Sentral dipantau oleh Komite Dalin RS dan
dilaksanakan oleh staf IBS sesuai SPO Dalin dan SPO IBS
C. STAF DAN PIMPINAN
1. Perencanaan Tenaga di IBS dilakukan berdasarkan penghitungan kebutuhan tenaga
menurut Depkes RI tahun 2005 dengan berdasarkan jumlah pasien. Perencanaan
tenaga meliputi tenaga medis, keperawatan, dan non keperawan
2. IBS dikepalai oleh seorang dokter dalam kelompok bedah, yang diusulkan melalui
komite medik. Kepala IBS ditetapkan oleh direktur melalui keputusan diektur
3. Staf Medis:
Penempatan Staf medis yang bekerja di IBS melalui rekrutmen dan kredensial dari
Komite Medik
Tenaga medis yang bekerja harus meiliki ijin kerja (dari pimpinan RS ?)
4. Kepala keperawatan:
a. Kepala / Koordinator keperawatan di Kamar Operasi adalah perawat dengan
kualifikasi pendidikan minimal DIII keperawatan, pelatihan PGD dan manajemen
kamar operasi serta pengalaman bekerja di Kamar Operasi 3 tahun
b. Koordinator Keperawaan ditetapkan oleh direktur dengan Keputusan direktur

D. FASILITAS DAN PERALATAN


1. Rancang bangun kamar operasi sesuai dilaksanakan sesuai dengan standart penilaian
instrument akreditasi rumah sakit. RSU Dr. Soedono Madiun menyediakan kamar
operasi emergency agar dapat dicapai secara cepat, lokasi kamar operasi emergency
secara lebih rinci dijelaskan di Sub Bab Denah Ruangan Buku Pedoman Pelayanan IBS
2. Pelayanan kamar operasi dibedakan menjadi dua pelayanan yaitu elektif dan
emergency; pelayanan elektif diberikan di kamar operasi IBS lantai III sedangkan
pelayanan gawat darurat di berikan di kamar operasi emergency.
3. Pelayanan IBS dilegkapi dengan Depo Farmasi di kamar operasi untuk memenuhi
kebutuhan obat-obatan maupun bahan habis pakai yang diperlukan dalam rangka
pembedahan di kamar operasi.
4. Pelayanan IBS dilegkapi dengan peralatan komunikasi (telepon wireless) dalam rangka
kemudahan komunikasi di kamar operasi, secara rinci diatur dalam SPO komunikasi
konsultasi, SOP komunikasi dengan unit lain.
5. IBS menyediakan peralatan sesuai daftar peralatan yang berada dan digunakan di IBS
dan secara terperinci dijelaskan di Sub Bab fasilitas dan peralatan buku pedoman
pelayanan IBS.
6. Peralatan yang ada dikamar operasi digunakan sesuai dengan juknis penggunaan yang
tersedia di masing-masing alat.
7. Penggunaan Peralatan yang ada di kamar operasi diatur secara rinci sesuai dengan
SPO masing-masing peralatan
8. Pemeliharaan peralatan dilakukan oleh.. sesuai dengan SPO.. secara rinci diatur
dalam program pemeliharaan peralatan kedokteran dan program pengamanan (safe
practice).
9. Pembersihan dan sterilisasi kamar operasi dilaksanakan sesuai dengan SPO
Pembersihan

dan

sterilisasi

berdasarkan

program

sterilisasi

kamar

operasi.

E. KEBIJAKAN DAN PROSEDUR


1. Pelayanan kamar operasi diberikan secara berencana (electif) dan pelayanan gawat
darurat emergency. Pelayanan elektif dilaksanakan di IBS, sedang pelayanan gawat
darurat dilaksanakan di kamar operasi emergency
2. Pelayanan dan Pengelolaan Kamar Operasi dilaksanaan mengacu pada Kebijakan dan
prosedur tertulis. Kebijakan dan Prosedur di IBS dipasang di Kamar Operasi

3. Prosedur pengelolaan dan pelayanan kamar operasi secara rinci diatur dalam tiap-tiap
SPO. SPO di IBS meliputi:
a. SPO pasien sewaktu tiba di kamar operasi meliputi:
b. SPO pemeriksaan identitas pasien sewaktu tiba di kamar operasi
c. PO pemastian teknik serta lokasi operasi
d. SPO izin operasi (informed consent).
e. SPO pencatatan meliputi:
f.

SPO pencatatan kecelakaan/kegagalan

g. SPO pelaporan kepada yang berwenang.


h. SPO Penjadwalan pasien meliputi:
i.

SPO Penjadwalan operasi elektif

j.

SPO Penjadwalan operasi darurat

k. SPO menunda opersai


l.

SPO menambahkan pasien pada jadwal operasi yang sudah ada.

m. SPO ketidaksesuaian penghitungan bahan dan/atau alat sebelum dan sesudah


operasi.
n. SPO Laporan operasi dibuat dalam rekam medis pasien
o. SPO Pelaksanaan pengendalian infeksi dikamar operasi
p. SPO Pemeliharaan dan perbaikan peralatan di kamar operasi
q. SPO pelayanan anestesi di kamar operasi pada masa pra, saat dan pasca operasi.
4. Kesinambungan logistic di kamar operasi diatur secara rinci dalam program
pengendalian logistic.
5. Secara berkala dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pengelolaan dan pelayanan di
kamar operasi.
F. PENGEMBANGAN STAF DAN PROGRAM PENDIDIKAN
1. IBS dapat dimanfaatkan untuk pendidikan dan pendidikan berkelanjutan bagi petugas.
Secara rinci diatur dalam Program pendidikan dan pelatihan IBS
2. Pengembangan staf di IBS dilakukan berdasarkan kebutuhan pelayanan Kamar Operasi
dan rumah sakit.
3. Setiap tahun ditetapkan Program Diklat IBS. Program terdiri dari Program Orientasi
Pegawai Baru dan Program Pendidikan dan Pengembangan Staf.

4. IBS menetapkan Program Pendidikan dan Pelatihan dengan berkoordinasi dengan


Bidang Diklit sesuai dengan anggaran meliputi;
a. Orientasi Pegawai Baru

Setiap karyawan baru atau pindahan dari unit lain di IBS wajib mengikuti
Program Orientasi pegawai sesuai dengan program orientasi pegawai baru RS
dan program orientasi pegawai baru IBS dan TOR orientasi pegawai baru.

Program orientasi dilakukan secara bertahap sesuai SPO Orientasi di IBS

Evaluasi pelaksanaan orientasi dilakukan setiap tahun oleh PJ SDM IBS

b. Pendidikan dan Pelatihan Staf IBS

Rencana pelatihan disusun oleh IBS berdasarkan Data kebutuhan pelatihan


(Training Need Assessment). Rencana berupa program pelatihan diajukan ke
Bidang Diklit untuk dilaksanakan sesuai anggaran yang tersedia

Jenis pelatihan adalah pelatihan yang dapat menunjang ketrampilan maupun


keahlian dalam rangka meningkatkan pelayanan di kamar operasi, yaitu
Pelatihan Dasar-dasar Bedah Umum, Pelatihan Keahlian Spesifikasi, Pelatihan
Manajemen kamar operasi, serta pendelegasian pada pertemuan-pertemuan
ilmiah secara rutin.

Pelaksanaan diklat dibawah koordinasi Bidang Diklit

Monitoring pasca pelatihan dilakukan Ka. IBS untuk melihat implikasi pelatihan di
IBS.

Evaluasi pasca pelatihan dilakukan terhadap peserta oleh Ka. IBS atau PJ SDM
IBS, sedangkan tindakl lanjut dilakukan berdasarkan evaluasi dari hasil
koordinasi IBS dengan Bidang Dikit

Program pendidikan dan pelatihan bagi staf di IBS dievaluasi tiap tahun oleh Ka.
Unit sebagai acuan dalam penyusunan progam berikutnya dengan terus melihat
Data kebutuhan pelatihan (Training Need Assessment).

G. EVALUASI DAN PENINGKATAN MUTU


1. Upaya penilaian kemampuan dan hasil pelayanan di kamar operasi;
a. IBS melakukan upaya penilaian kemampuan dan hasil pelayanan secara rinci di
jabarkan dalam sebuah laporan tahunan IBS
b. Hasil penilaian pelayanan IBS yang berupa laporan tahunan IBS disampaikan
kepada direktur dalam rangka rekomendasi tindak lanjut.

2. Data pasien dan tindakan anestesi tercatat dalam dokumen rekam medis dengan
lengkap, jelas dan benar. Proses pencatatan dokumen diatur secara rinci di PSO
tentang pencatatan rekam medis anestesi.
3. Kelengkapan dokumen anestesi dievaluasi secara rutin tiap tahun dengan bekerja sama
dengan bagian rekam medis, dalam rangka peningkatan mutu pelayanan anestesi di
kamar operasi.