Anda di halaman 1dari 28

PRESENTASI KASUS

OTITIS EKSTERNA DIFUSA

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti


Ujian Kepanitraan Klinik di Bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok
RS Panembahan Senopati Bantul

Disusun oleh :
Dahyanto
20100310169

Diajukan kepada :
dr. I Wayan Marthana, M.Kes Sp.THT

SMF ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROK


RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2015

LEMBAR PENGESAHAN

PRESENTASI KASUS
Otitis Eksterna Difusa

Disusun Oleh :
Dahyanto
20100310169

Telah dipresentasikan dan disetujui


Pada Tanggal :

Agustus 2015

Pembimbing :

dr. I Wayan Marthana, M.Kes Sp.THT

DAFTAR ISI
COVER.............................................................................................................................. 1
LEMBAR PENGESAHAN ...............................................................................................2
DAFTAR ISI .................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................. 4
BAB II LAPORAN KASUS.............................................................................................. 5
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
Embriologi...........................................................................................................................13
Anatomi...............................................................................................................................16
Fisiologi...............................................................................................................................20
Definisi................................................................................................................................ 20
Epidemiologi....................................................................................................................... 21
Etiologi................................................................................................................................ 21
Patofisiologi.........................................................................................................................22
Gejala klinis.........................................................................................................................23
Manifestasi klinis.................................................................................................................24
Histopatologi........................................................................................................................24
Diagnosis Banding...............................................................................................................25
Penatalaksanaan...................................................................................................................25
Komplikasi...........................................................................................................................26
Prognosis..............................................................................................................................26
PEMBAHASAN..................................................................................................................26
KESIMPULAN ...................................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 28

BAB I
PENDAHULUAN
Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis disebabkan oleh
infeksi bakteri, jamur, dan virus. Penyakit ini sering dijumpai pada daerah-daerah yang panas
dan lembab dan jarang terjadi pada iklim-iklim sejuk dan kering.
Patogenesis dari otitis eksterna sangat kompleks. Faktor pencetus dari penyakit ini
seperti keadaan panas, lembab, berenang dan trauma terhadap epitel dari liang telinga luar
merupakan faktor penting untuk terjadinya otitis eksterna. Howke dkk mengemukakan
pemaparan terhadap air dan penggunaan lidi kapas dapat menyebabkan terjadi otitis eksterna
baik yang akut maupun kronik. Penyakit ini merupakan penyakit telinga bagian luar yang
sering dijumpai, disamping penyakit telinga lainnya.
Faktor penyebab timbulnya otitis eksterna antara lain, kelembaban, penyumbatan
liang telinga, trauma local dan alergi. Faktor ini menyebabkan berkurangnya lapisan protektif
yang menyebabkan edema dari epitel skuamosa. Keadaan ini menimbulkan trauma local yang
mengakibatkan bakteri masuk melalui kulit, inflasi dan menimbulkan eksudat. Bakteri
patogen pada otitis eksterna akut adalah pseudomonas (41 %), strepokokus (22%),
stafilokokus aureus (15%) dan bakteroides (11%).
Otitis eksterna merupakan suatu infeksi liang telinga bagian luar yang dapat
menyebar ke pina, periaurikular, atau ke tulang temporal. Biasanya seluruh liang telinga
terlibat, tetapi pada furunkel liang telinga luar dapat dianggap pembentukan lokal otitis
eksterna. Otitis eksterna akut difusa adalah penyakit yang terutama timbul pada musim panas
dan merupakan bentuk otitis eksterna yang paling umum. Otitis eksterna difusa merupakan
tipe infeksi bakteri patogen yang paling umum disebabkan oleh Pseudomonas,
Staphylococcus, Proteus, bahkan jamur. Terjadinya kelembaban yang berlebihan karena
berenang atau mandi menambah maserasi kulit liang telinga dan menciptakan kondisi yang
cocok bagi pertumbuhan bakteri.

BAB I
PRESENTASI KASUS
I.

Identitas Pasien
Nama

: Sdr.A

Usia

: 45 tahun

Jenis kelamin : Laki - laki

II.

Alamat

: Jl. Pandak Trimulyo Bambanglipuro, Bantul

Tgl masuk

: 29 Juli 2015

Anamnesis
Keluhan Utama
Nyeri pada telinga kanan
Keluhan Tambahan
Telinga kanan terasa tidak enak dan penuh
Perjalanan Penyakit
Seorang pasien datang ke poli THT dengan keluhan nyeri pada telinga kanan
sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. OS juga mengeluh rasa tidak enak dan penuh
di telinga yang sama. OS merasakan nyeri jika bagian depan telinga kanan ditekan.
Pada awalnya OS merasa gatal di telinga kanan namun saat pemeriksaan sudah tidak
lagi. OS menyangkal adanya riwayat keluar cairan dari telinga. Riwayat demam
disangkal. OS juga menyangkal berkurangnya pendengaran. OS tidak mengeluh rasa
telinga berdengung. Riwayat gigi berlubang diakui OS namun sekarang sudah
tertangani. OS mengatakan tidak ada keluhan pada sendi rahang. Riwayat nyeri
tenggorokan maupun nyeri menelan disangkal.
OS mengaku keluhan timbul setelah mengorek-ngorek telinganya dengan
cotton bud. OS memang memiliki kebiasaan untuk membersihkan telinga sendiri
setiap hari dengan menggunakan cotton bud yang dilumuri minyak tawon. Riwayat
kemasukan air saat mandi diakui oleh OS. Riwayat batuk pilek disangkal. Riwayat
hobi berenang disangkal. Riwayat kepala atau telinga terpukul juga disangkal.

Riwayat penyakit dahulu


-

OS baru pertama kali merasakan keluhan seperti ini.

Riwayat alergi obat, makanan, debu, maupun udara dingin disangkal oleh OS.

Riwayat dirawat di RS, operasi THT disangkal oleh OS.

Riwayat penyakit keluarga


OS mengatakan bahwa dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit
yang sama.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum

: Baik.

Kesadaran

: Compos mentis.

Berat badan

: 68 Kg

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Respirasi

: 24 x/menit

Suhu

: 36,0 C

Kepala

: tidak ditemukan kelainan

Mata

: Conjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

THT

: seusai status lokalis

Leher

: perbesaran kelenjar getah bening (-)

Thorak

: Cor : S1S2 tunggal, reguler, murmur (-)


Po

IV.

: Ves +/+, Rh -/-, Wh -/-

Abdomen

: distensi (=), Bising usus (+) normal

Ekstremitas

: akral hangat +/+, edema -/-

STATUS LOKALIS THT


TELINGA
KANAN

KIRI

Normal

Normal

Deformitas (-)

Deformitas (-)

Kelainan Kongenital

Tidak ada

Tidak ada

Tumor

Tidak ada

Tidak ada

Bentuk Daun Telinga

Nyeri tekan tragus

Nyeri

Tidak nyeri

Penarikan daun telinga

Nyeri

Tidak nyeri

Valsava test

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Toyinbee test

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Regio mastoid

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Liang telinga

Sempit, nanah (-), serumen (-),


sekret (-), hiperemis (+), oedem
(+)

Lapang, nanah (-),


serumen (-), sekret (-),
hiperemis (-), oedem (-)

Sulit dinilai

MT intak, hiperemis (-),


edema (-), refleks cahaya
(+) jam 7

Membran timpani

Kesan :
-

Telinga kanan nyeri tekan tragus (+), nyeri tarik auricula (+), canalis
auricularis eksternus sempit, edema (+), hiperemis (+), membran timpani sulit
dinilai

Telinga kiri dalam batas normal

HIDUNG DAN SINUS PARANASAL

Bentuk

: Normal, tidak ada deformitas

Tanda peradangan

: Hiperemis (-), Panas (-), Nyeri (-), Bengkak (-)

Vestibulum

: Hiperemis -/-, sekret -/-

Cavum nasi

: Lapang +/+, edema -/-, hiperemis -/-

Konka inferior

Meatus nasi inferior : Eutrofi/eutrofi

Konka medius

: Eutrofi/eutrofi
: Eutrofi/eutrofi
7

Meatus nasi medius : Sekret -/-

Septum nasi

: Deviasi -/-

Pasase udara

: Hambatan -/-

Daerah sinus frontalis: Tidak ada kelainan, nyeri tekan (-)

Daerah sinus maksilaris

: Tidak ada kelainan, nyeri tekan (-)

RHINOPHARYNX (RHINOSKOPI POSTERIOR) - Tidak dilakukan pemeriksaan

Koana

:-

Septum nasi

:-

Muara tuba eustachius

:-

Torus tubarius

:-

Konka inferior dan media

:-

Dinding posterior

:-

PEMERIKSAAN TRANSILUMINASI
Sinus frontalis, grade:
Sinus maksilaris, grade:

KANAN
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

KIRI
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

TENGGOROK
PHARYNX
Dinding pharynx : merah muda, hiperemis (-), granular (-)
Arkus pharynx : simetris, hiperemis (-), edema (-)
Tonsil
:
- Ukuran T1/T1 tenang
- Hiperemis -/- Kripta melebar -/- Detritus -/- Perlengketan -/ Uvula
: letak di tengah, hiperemis (-)
Gigi
: gigi geligi lengkap, caries (-)
Lain-lain
: radang ginggiva (-), post

V.

nasal drip (-)


LEHER
Kelenjar limfe submandibula
Kelenjar limfe servikal
RESUME

: tidak teraba membesar


: tidak teraba membesar

Dari anamnesis didapatkan OS, seorang laki-laki berumur 45 tahun, datang


dengan nyeri di telinga kanan sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. OS juga mengeluh
telinga terasa tidak enak dan penuh. OS mengaku merasa nyeri jika bagian depan telinga
kanan ditekan. Pada awalnya telinga kanan terasa gatal namun saat pemeriksaan sudah
tidak lagi. OS sering membersihkan telinga dengan mengoreknya menggunakan cotton
bud. Riwayat kemasukan air diakui OS. Riwayat hobi berenang disangkal.
Dari pemeriksaan fisik telinga ditemukan telinga kanan nyeri tekan tragus (+),
nyeri tarik auricula (+), CAE sempit, hiperemis (+), edema (+), KGB regional membesar
(-).
Telinga kiri dalam batas normal

VI.

Diagnosis
Otitis externa difusa auricularis dextra
Dasar diagnosis:
Diagnosis kerja otitis eksterna difusa akut diambil berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik yang didapatkan pada OS.
Anamnesis:
- Rasa nyeri, penuh, tidak enak di telinga kanan
- Rasa gatal yang terjadi mendahului nyeri telinga
- OS mengaku kemasukan air saat mandi
- Riwayat kebiasaan: OS suka membersihkan telinga setiap hari dengan cotton bud
Pemeriksaan fisik telinga:
- Telinga kanan nyeri tekan tragus (+), nyeri tarik auricula (+), CAE sempit, hiperemis
(+), edema (+)
- Pendengaran normal

VII.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yaitu :

Irigasi liang telinga menggunakan H2O2 3%

Dipasang tampon Sofra-Tulle selama dua hari

Antibiotik : Siprofloksasin tab 500 mg 2x1 selama 5 hari


Otopain 2 dd II tetes telinga dextra

Analgetik: Asam mefenamat tablet 500 mg 3x1

Kortikosteroid: Dexametason tab 3x1

Anjuran :

Saat mandi atau berenang jangan sampai kemasukan air ke dalam telinga

Pasien dilarang mengorek ngorek telinga dengan instrumen yang tidak tepat
seperti cotton bud

Kontrol ke poliklinik THT 2 hari kemudian untuk pelepasan tampon atau


tampon bisa diepas sendiri setelah dua hari.

VIII. Prognosis
Dubia ad bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
10

I.

Embriologi
Pembentukan telinga dimulai dari pembentukan telinga dalam, telinga tengah
dan terakhir pembentukan telinga luar.
a. Telinga Dalam
Pada manusia, telinga dalam embrio berkembang kira-kira pada umur 22 hari
sebagai penebalan ektoderm permukaan pada kedua sisi rhombencephalon. Penebalan
ini disebut plakoda otik. Plakoda otik kemudian berinvaginasi membentuk vesikula
otik atau otokista.

Gambar 1. Perkembangan vesikula auditori

Pada tahap perkembangan selanjutnya vesikula otik bagian ventral membentuk


sacculus dan cochlearis dan bagian dorsal membentuk utriculus, canalis semisircularis
dan ductur endolimphatikus. Pembentukan saluran-saluran tersebut disebabkn karena
adanya bagian-bagian tertentu dari daerah tersebut yang berdegenerasi.

11

Gambar 2. Perkembangan telinga dalam

Ductus cochlearis yang sedang tumbuh menembus mesenkim di sekitarnya


dan berpilin seperti bentuk spiral. Sekarang ductus cochlearis tetap berhubungan
dengan sacculus melalui ductus reuniens.
Ductus semisircularis, urticle, sacculus, ductus endolimphatikus, utricosaccular, ductus reuniens dan ductus cochlearis diisi dengan cairan endolimph,
Sedangkan semua struktur membran dari saluran tersebut dinamakan membran
labirin. Dinding sel membran labirin sangat tipis dan terdiri atas sel-sel epitel tunggal
yang ditutupi oleh lapisan serabut jaringan ikat yang dibentuk dari mesenkim di
sekitarnya. Beberapa dari sel-sel epitel dimodifikasi menjadi sel-sel rambut (sel-sel
neuroepitel) dan beberapa menjadi sel-sel pendukung. Dasar dari sel-sel neuroepitel
dikelilingi oleh ujung serabut saraf yang datang dari ganglion spinal dan ganglion
vestibular. Ganglion tersebut berhubungan dengan otak melalui serabut saraf yang
dibentuk oleh saraf auditori. Semua membran labirin pertama ditransformasi menjadi
rawan kemudian menjadi tulang. Dengan cara ini semua membran labirin ditutupi
oleh tulang dan disebut tulang labirin. Ruang di antara membran labirin dan tulang
labirin berisi cairan perilimph.

12

b. Telinga Tengah

Gambar 3. Pembentukan telinga tengah

Dibentuk dari kantung faring I yang tumbuh dengan cepat ke arah lateral.
Bagian distal kantung disebut processus tubotympaticus, kemudian melebar
membentuk cavum tympani sederhana, sedangkan bagian proksimal tetap sempit dan
membentuk saluran eustachius yang menghubungkan cavum tympani dengan
nasofaring.
c. Telinga Luar

13

Gambar 4. Pembentukan telinga luar


Meatus akustikus eksternus terbentuk dari perkembangan first pharingeal groove
bagian dorsal. Pada awal bulan ke-tiga, terjadi proliferasi sel-sel epitel di bawah
meatus yang nantinya akan membentuk sumbat meatus. Lalu pada bulan ke-tujuh,
sumbat meluruh dan lapisan epitel di lantai meatus berkembang menjadi gendang
telinga definitif. Gendang telinga dibentuk dari lapisan epitel ektoderm di dasar
acoustic meatus, lapisan epitel endoderm di cavum timpani dan lapisan intermediate
jaringan ikat yang membentuk stratum fibrosum. Sedangkan aurikula terbentuk dari
hasil proliferasi mesenkim di ujung dorsal arkus faring I dan II yang mengelilingi first
pharyngeal groove dan membentuk auricular hillock yang berjumlah tiga di masingmasing sisi eksternal acoustic meatus dan kemudian auricullar hillock akan bersatu
lalu membentuk auricula definitif. Pada awalnya, telinga luar berada di regio leher
bawah. Setelah terbentuk mandibula, telinga luar naik ke samping kepala setinggi
dengan mata.

II.

Anatomi

Gambar 5. Anatomi telinga

1. Telinga luar
Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran
timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang
telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar,
14

sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kirakira 2,5 - 3cm.
Kulit liang telinga
Pada sepertiga bagian luar kulit telinga terdapat banyak kelenjar serumen dan
rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh liang telinga. Pada dua pertiga bagian
dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen. Kanalis auricularis externus dilapisi
oleh kulit yang terikat erat pada tulang rawan dan tulang yang mendasarinya karena
tidak adanya jaringan subkutan di area tersebut. Dengan demikian daerah ini menjadi
sangat peka. 3
Liang telinga sebenarnya mempunyai lapisan kulit yang sama dengan lapisan
kulit pada bagian tubuh lainnya yaitu dilapisi epitel skuamosa. Kulit liang telinga
merupakan lanjutan kulit daun telinga dan kedalam meluas menjadi lapisan luar
membran timpani.
Lapisan kulit liang telinga luar lebih tebal pada bagian tulang rawan dari pada
bagian tulang. Pada liang telinga rulang rawan tebalnya 0,5 1 mm, terdiri dari
lapisan epidermis dengan papillanya, dermis dan subkutan merekat dengan
perikondrium. Epidermis dari liang telinga bagian tulang rawan biasanya terdiri dari 4
lapis yaitu sel basal, skuamosa, sel granuler dan lapisan tanduk.
Lapisan liang telinga bagian tulang mempunyai kulit yang lebih tipis, tebalnya
kira-kira 0,2 mm, tidak mengandung papilla, melekat erat dengan periosteum tanpa
lapisan subkutan, berlanjut menjadi lapisan luar dari membran timpani dan menutupi
sutura antara tulang timpani.
Otot daun telinga terdiri dari 3 buah otot ekstrinsik dan enam buah otot
intrinsik. Otot ekstrinsik terdiri m.aurikularis anterior, m.aurikularis superior dan m.
aurikularis posterior. Otot-otot ini menghubungkan daun telinga dengan tulang
tengkorak dan kulit kepala. Otot-otot ini bersifat rudimenter, tetapi pada beberapa
orang tertentu ada yang masih mempunyai kemampuan untuk menggerakan daun
telinganya keatas dan kebawah dengan menggerakan otot-otot ini. Otot intrinsik
terdiri dari m. helisis mayor, m. helisis minor, m. tragikus, m.antitragus, m. obligus
aurkularis, dan m.transpersus aurikularis. Otot-otot ini berhubungan bagian-bagian
daun telinga.

Perdarahan
15

Arteri-arteri dari daun telinga dan liang telinga luar berasal dari cabang
temporal superfisial dan aurikular posterior dari arteri karotis eksternal.
Permukaan anterior telinga dan bagian luar liang telinga didarahi oleh cabang
aurikular anterior dari arteri temporalis superfisial. Suatu cabang dari arteri auricular
posterior mendarahi permukaan posterior telinga. Banyak dijumpai anastomosis
diantara cabang-cabang dari arteri ini. Pendarahan kebagian lebih dalam dari liang
telinga luar dan permukaan luar membrana timpani adalah oleh cabang aurikular
dalam arteri maksilaris interna.
Vena telinga bagian anterior, posterior dan bagian dalam umumnya bermuara
kevena jugularis eksterna dan vena mastoid. Akan tetapi, beberapa vena telinga
mengalir kedalam vena temporalis superficial dan vena aurikularis posterior.
Sistem limfatik
Kelenjar limfa regio tragus dan bagian anterior dari auricula mengalir ke
kelenjar parotid, sementara bagian posterior auricular mengalir ke kelenjar
retroauricular. Regio lobulus mengalir kelenjar cervicalis superior.
Persarafan
Persarafan telinga luar bervariasi berupa tumpang tindih antara saraf-saraf
kutaneus dan kranial. Cabang aurikular temporalis dari bagian ketiga saraf trigeminus
(N.V) mensarafi permukaan anterolateral permukaan telinga, dinding anterior dan
superior liang telinga dan segmen depan membrana timpani.Permukaan posteromedial
daun telinga dan lobulus dipersarafin oleh pleksus servikal nervus aurikularis mayor.
Cabang aurikularis dari nervus fasialis (N.VII), nervus glossofaringeus (N.IX) dan
nervus vagus (N.X) menyebar ke daerah konka dan cabang-cabang saraf ini menyarafi
dinding posterior dan inferior liang telinga dan segmen posterior dan inferior
membrana timpani.
2. Telinga Tengah
Telinga tengah merupakan bangunan berbentuk kubus yang terdiri dari:

Membran timpani; yaitu membran fibrosa tipis yang berwarna kelabu


mutiara. Berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga
dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga.

16

Membran timpani dibagi atas 2 bagian yaitu bagian atas disebut pars
flaccida (membrane Sharpnell) dimana lapisan luarnya merupakan lanjutan
epitel kulit liang telinga sedangkan lapisan dalam dilapisi oleh sel kubus
bersilia, dan pars tensa merupakan bagian yang tegang dan memiliki satu
lapis lagi ditengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit
serat elastin.

Tulang pendengaran; yang terdiri dari maleus, inkus dan stapes.


Tulang pendengaran ini dalam telinga tengah saling berhubungan.

Tuba eustachius; yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan


nasofaring.

3. Telinga Dalam

Gambar 6. Anatomi telinga dalam


Telinga dalam terdiri dari koklea yang berupa dua setengah lingkaran dan
vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau puncak koklea
disebut helikotrema, yang berfungsi menghubungkan perilimfa skala timpani dengan
skala vestibule.
Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan
membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak skala
vestibule sebelah atas, skala timpani sebelah bawah dan skala media (duktuskoklearis)
diantaranya. Skala vestibule dan skala timpani berisi perilimfa sedangkan skala media
berisi endolimfa. Dasar skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli (Reissner
17

Membrane) sedangkan skala media adalah membran basalis. Pada membran ini
terletak organ corti yang mengandung organel-organel penting untuk mekanisme saraf
perifer pendengaran. Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang
diebut membran tektoria, dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri
dari sel rambut dalam, sel rambut luar dan kanalis Corti, yang membentuk organ
Corti.
III.

Fisiologi
Proses pendengaran diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun
telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang koklea.
Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui
rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplikasikan melalui daya ungkit
tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan daya
tingkap lonjong. Energi getar yang diamplikasi ini akan diteruskan ke stapes yang
akan menggetarkan tingkap lonjong sehigga perilimfa pada skala vestibuli bergerak.
Getaran ini diteruskan melalui membrane Reissner yang mendorong edolimfa,
sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membran
tektoria. Proses ini proses ini merupakan rangsang mekanik yang akan menyebabkan
terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi
pelepasan ion bermuatan lisrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses
depolarisasi sel rambut, sehingga neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan
menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nucleus
auditoris sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.

18

Gambar 7. Fisiologi pendengaran


IV.

Definisi
Otitis eksterna difus dikenal dengan swimmer ear (telinga perenang) atau
telinga cuaca panas (hot weather ear) adalah infeksi pada 2/3 dalam liang telinga
akibat infeksi bakteri yang menyebabkan pembengkakan stratum korneum kulit
sehingga menyumbat saluran folikel.

V.

Etiologi
Organisme yang paling sering ditemukan pada pasien dengan otitis eksterna
difusa adalah bakteri gram negatif Pseudomonas aeruginosa (Bacillus pyocaneus) dan
staphylococci. Yang lebih jarang ditemukan adalah bakteri streptococci dan Proteus
vulgaris. Selain itu, jamur dapat terlibat dalam infeksi pada telinga luar, yaitu jamur
Candida albicans dan Aspergillus niger. Otitis eksterna difusa dapat juga terjadi
sekunder pada otitis media supuratif kronis. 3,6
Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya otitis eksterna, yaitu : 2,4,7

Derajat keasaman (pH)


pH pada liang telinga biasanya normal atau asam, pH asam berfungsi
sebagai protektor terhadap kuman. Peningkatan pH menjadi basa (di atas
6.0) akan mempermudah terjadinya otitis eksterna yang disebabkan oleh
karena proteksi terhadap infeksi menurun.

Udara
Udara yang hangat dan lembab lebih memudahkan kuman dan jamur
mudah tumbuh.

Trauma
Trauma ringan misalnya mengorek-ngorek telinga dengan benda tumpul
seperti cotton bud merupakan faktor predisposisi terjadinya otitis
eksterna.

Berenang

19

Terutama jika berenang pada air yang tercemar. Air kolam renang
menyebabkan maserasi kulit dan merupakan sumber kontaminasi yang
sering dari bakteri.

VI.

Patofisiologi
Saluran telinga dapat membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang
sel-sel kulit yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga. Membersihkan
saluran telinga dengan cotton bud bisa mengganggu mekanisme pembersihan ini dan
bisa mendorong sel-sel kulit yang mati ke arah gendang telinga sehingga kotoran
menumpuk disana.
Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan
penimbunan air yang masuk ke dalam liang telinga ketika mandi atau berenang.
Terjadinya kelembaban yang berlebihan karena berenang atau mandi menambah
maserasi kulit liang telinga dan menciptakan kondisi yang cocok bagi pertumbuhan
bakteri. Perubahan ini dapat juga menyebabkan rasa gatal di liang telinga sehingga
menambah kemungkinan trauma karena garukan.

Gambar 8. Patofisiologi terjadinya otitis eksterna difusa


VII.

Gejala Klinis
Gejala klinis yang terjadi pada pasien dengan otitis eksterna difusa antara lain: 4,6
20

Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan yang umum pada tahap awal
dari otitis eksterna difusa dan sering mendahului terjadinya rasa sakit dan nyeri tekan
daun telinga.
Gatal merupakan gejala klinik yang sangat sering dan merupakan pendahulu
rasa sakit yang berkaitan dengan otitis eksterna akut. Pada kebanyakan penderita rasa
gatal disertai rasa penuh dan rasa tidak enak merupakan tanda permulaan peradangan
suatu otitis eksterna akuta. Pada otitis eksterna kronik merupakan keluhan utama.
Rasa sakit di dalam telinga bisa bervariasi dari yang hanya berupa rasa tidak
enak sedikit, perasaan penuh di dalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga rasa
sakit yang hebat, serta berdenyut. Meskipun rasa sakit sering merupakan gejala yang
dominan, keluhan ini juga sering merupakan gejala sering mengelirukan. Kehebatan
rasa sakit bisa agaknya tidak sebanding dengan derajat peradangan yang ada. Ini
diterangkan dengan kenyataan bahwa kulit dari liang telinga luar langsung
berhubungan dengan periosteum dan perikondrium, sehingga edema dermis menekan
serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit yang hebat. Lagipula, kulit dan tulang
rawan 1/3 luar liang telinga bersambung dengan kulit dan tulang rawan daun telinga
sehingga gerakan yang sedikit saja dari daun telinga akan dihantarkan ke kulit dan
tulang rawan dari liang telinga luar dan mengkibatkan rasa sakit yang hebat dirasakan
oleh penderita otitis eksterna. Nyeri terutama ketika daun telinga ditarik, nyeri tekan
tragus, dan ketika mengunyah makanan. Rasa gatal dan nyeri disertai pula keluarnya
sekret encer, bening sampai kental purulen tergantung pada kuman atau jamur yang
menginfeksi. Pada jamur biasanya akan bermanifestasi sekret kental berwarna putih
keabu-abuan dan berbau.
Kurang pendengaran mungkin terjadi pada akut dan kronik dari otitis
eksterna akut. Edema kulit liang telinga, sekret yang sorous atau purulen, penebalan
kulit yang progresif pada otitis eksterna yang lama, sering menyumbat lumen kanalis
dan menyebabkan timbulnya tuli konduktif. Keratin yang deskuamasi, rambut,
serumen, debris, dan obat-obatan yang digunakan ke dalam telinga bisa menutup
lumen yang mengakibatkan peredaman hantaran suara.
VIII. Manifestasi Klinis
Pemeriksaan fisik pada pasien biasanya menunjukkan:
21

Kulit MAE edema dan hiperemis merata sampai ke membran timpani


dengan sekret pada CAE. Jika terjadi edema CAE yang hebat, membran
timpani dapat tidak tampak.

Nyeri tekan tragus (+)

Nyeri tarik auricula (+)

Adenopati regional yang nyeri tekan

Menurut MM. Carr secara klinik otitis eksterna terbagi :


a. Otitis Eksterna Ringan :
Kulit liang telinga hiperemis dan eksudat, liang telinga menyempit
b. Otitis Eksterna Sedang :
Liang telinga sempit, bengkak, kulit hiperemis dan eksudat positif
c. Otitis Eksterna Komplikasi :
Pina/Periaurikuler eritema dan bengkak
d. Otitis Eksterna Kronik :
Kulit liang telinga/pina menebal, keriput, eritema positif
Otitis eksterna akut berlangsung kurang dari 4 minggu atau terjadi kurang dari
4 kali dalam setahun, sedangkan otitis eksterna kronis berlangsung selama lebih dari 4
minggu atau terjadi lebih dari 4 kali dalam satu tahun. Pada penderita DM atau pasien
dengan immunocompromised, otitis eksterna dapat berkembang menjadi tipe maligna.
IX.

Histopatologi
Pada otitis eksterna difusa akut tampak adanya gambaran hiperkeratosis
epidermis, parakeratosis, akanthosis, erosi, spingiosis, hiperplasia stratum korneum
dan stratum germinativum, edema, hiperemis, infiltrasi leukosit, nekrosis, nekrosis
fokal diikuti penyembuhan fibroblastik pada dermis dan aparatus kelenjar berkurang,
serta aktifitas sekretoris kelenjar berkurang.

X.

Diagnosis Banding
Diagnosis banding dari keadaan yang serupa dengan otitis eksterna antara lain
meliputi :
- Otitis eksterna nekrotik
- Otitis eksterna bullosa
- Otitis eksterna granulosa
- Perikondritis yang berulang
- Furunkulosis dan karbunkulosis

XI.

Penatalaksanaan
22

Otitis eksterna difusa harus diobati dalam keadaan dini sehingga dapat
menghilangkan edema yang menyumbat liang telinga. Dengan demikian, biasanya
perlu disisipkan tampon berukuran x 5 cm kedalam liang telinga mengandung obat
agar mencapai kulit yang terkena. Setelah dilumuri obat, tampon kasa disisipkan
perlahan-lahan dengan menggunakan forsep aligator. Penderita harus meneteskan
obat tetes telinga pada kapas tersebut satu hingga dua kali sehari. Dalam 48 jam
tampon akan jatuh dari liang telinga karena lumen sudah bertambah besar. Polimiksin
B dan colistemethate merupakan antibiotik yang paling efektif terhadap Pseudomonas
dan harus menggunakan vehiculum hidroskopik seperti glikol propilen yang telah
diasamkan bahan kimia lain, seperti gentian violet 2% dan perak nitrat 5% bersifat
bakterisid dan bisa diberikan langsung ke kulit liang telinga. Setelah reaksi
peradangan berkurang, dapat ditambahkan alcohol 70% untuk membuat liang telinga
bersih dan kering.
Terapi sistemik hanya dipertimbangkan pada kasus berat; dianjurkan untuk
melakukan pemeriksaan kepekaan bakteri. Antibiotik sistemik khususnya diperlukan
jika dicurigai danya perikondritis atau kondritis pada tulang rawan telinga.
Pasien harus diingatkan mengenai kemungkinan kekambuhan yang mungkin
terjadi pada pasien, terutama setelah berenang. Untuk menghindarinya pasien harus
menjaga agar telinganya selalu kering, dengan cara menggunakan alkohol encer
secara rutin tiga kali seminggu. Pasien juga harus diingatkan agar tidak menggaruk /
membersihkan telinga dengan cotton bud terlalu sering.
XII.
-

Komplikasi
Perikondritis
Selulitis
Dermatitis aurikularis

XIII. Prognosis
Otitis eksterna adalah suatu kondisi yang dapat diobati biasanya sembuh
dengan cepat dengan pengobatan yang tepat. Paling sering, otitis ekserna dapat
dengan mudah diobati dengan tetes telinga antibiotik. Otitis eksterna kronis yang
mungkin memerlukan perawatan lebih intensif. Otitis eksterna biasanya tidak
memiliki komplikasi jangka panjang atau serius.

23

24

BAB IV
PEMBAHASAN
Seorang pasien datang ke poli THT dengan keluhan nyeri pada telinga kanan sejak 4
hari sebelum masuk rumah sakit. OS juga mengeluh rasa tidak enak dan penuh di telinga
yang sama. OS merasakan nyeri jika bagian depan telinga kanan ditekan. Pada awalnya OS
merasa gatal di telinga kanan. OS menyangkal adanya riwayat keluar cairan dari telinga.
Riwayat demam disangkal. OS juga menyangkal berkurangnya pendengaranataupun rasa
telinga berdengung. OS mengaku keluhan timbul setelah mengorek-ngorek telinganya dengan
cotton bud. OS memang memiliki kebiasaan untuk membersihkan telinga sendiri setiap hari
dengan menggunakan cotton bud yang dilumuri minyak tawon. Riwayat kemasukan air saat
mandi diakui oleh OS. Menurut literatur penyebab otitis eksterna dapat berasal dari infeksi,
genetik (anatomi MAE), lingkungan ( tropis-kering berdebu), trauma (korek-korek telinga),
dimana sebelumnya pasien memiliki kebiasaan mengkorek-korek telinga karena telinga
terasa gatal. Hal ini yang kemungkinan dapat menyebabkan trauma ringan sehingga terjadi
perubahan pada kulit liang telinga yang memudahkan terjadinya infeksi kuman, dimana pada
sepertiga luar liang telinga banyak mengandung adneksa kulit seperti folikel rambut, kelenjar
sebasea dan kelenjar serumen.
Dari pemeriksaan fisik status lokalis terdapat nyeri tarik aurikula (+), MAE sempit,
hiperemis (+), edema (+), terdapat sekret purulen, deskuamasi, pendengaran normal,
membran timpani sulit dievaluasi, hal ini sesuai dengan gejala otitis ekterna difusa yaitu nyeri
tekan tragus, nyeri tarik aurikula, liang telinga yang sempit akibat edema, terdapat sekret
yang berbau dan terdapat gangguan pendengaran yang terjadi karena liang telinga yang
edema dan menyumbat liang telinga
Terapi farmakologis yang diberikan pada pasien ini adalah ciprofloxacin mg 2x1 selama 5 hari,
asam mefenamat 500 mg 3x1, dan dexametason tab 3x1. Otitis eksterna difusa harus diobati

dalam keadaan dini sehingga dapat menghilangkan edem yang menyumbat liang telinga.
Untuk tujuan ini biasanya perlu disisipkan tampon berukuran x 5 cm kedalam liang telinga
mengandung obat agar mencapai kulit yang terkena. Setelah dilumuri obat, tampon kasa
disisipkan perlahan-lahan dengan menggunakan forsep hartmann yang kecil. Penderita harus
meneteskan obat tetes telinga pada kapas tersebut satu hingga dua kali sehari. Dalam 48 jam
tampon akan jatuh dari liang telinga karena lumen sudah bertambah besar. Untuk pengobatan
otitis eksterna difusa membutuhkan kepatuhan penderita terutama dalam menjaga kebersihan liang
telinga. Pembersihan liang telinga dengan mengkorek-korek telinga dengan menggunakan benda yang

25

dapat menimbulkan trauma tidak dianjurkan. Kadang-kadang diperlukan obat-obatan antibiotika


sistemik, Mengurangi rasa sakit, peradangan dan edema dapat diberikan obat golongan kortikosteroid
seperti dexametason, asam mefenamat diberikan sebagai analgetik.

Prognosis pada pasien ini adalah ad bonam karena setelah diatasi penyebab dan
dilakukan terapi farmakologis yang adekuat diharapkan peluang terjadinya rekurensi akan
lebih minimal.

26

BAB V
KESIMPULAN

Otitis eksterna merupakan peradangan liang telinga akut maupun kronis yang
disebabkan infeksi bakteri, jamur, dan virus. Faktor yang mempermudah radang telinga luar
ialah perubahan pH di liang telinga menjadi basa, keadaan udara yang lembab dan hangat,
serta faktor predisposisi yaitu trauma ringan ketika mengorek telinga.
Otitis ekterna difusa mengenai kulit liang telinga bagian dua pertiga dalam. Tampak
kulit liang telinga hiperemis dan edema yang tidak jelas batasannya. Bakteri penyebabnya
yang tersering adalah Pseudomonas.
Gejala otitis eksterna difusa adalah nyeri tekan tragus, liang telinga sangat sempit, kadang
kelenjar getah bening regional dapat membesar, dan tedapat nyeri tekan.
Pengobatannya degan membersihkan liang telinga, memasukkan tampon yang
mengandung antibiotika ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik dengan kulit yang
meradang. Kadang diperlukan pula obat antibiotika sistemik.

27

DAFTAR PUSTAKA
1. Abdullah, F. 2003. Uji Banding Klinis Pemakaian Larutan Burruwi Saring dengan
Salep Ichthyol (Ichthammol) pada Otitis Eksterna Akut. Available from :
www.usudigitallibrary.com. Accessed: 31 juli 2015
2. Ballanger, Jhon. 1996. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan, Kepala dan Leher
Edisi 13. Jakarta: Binarupa Aksara.
3. Kartika,
Henny.
2008.
Otitis
Eksterna.
Availble
http://library.usu.ac.id/modules.php&id. Accessed: 02 agustus 2015

from

4. Carr, MM. 2000. Otitis Eksterna. Available from : http://www.


icarus.med.utoronto.ea/carr/manual/otitisexterna. htm. Accessed: 02 Agustus 2015
5. Suardana, W. dkk. 1992. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit Telinga,
Hidung dan Tenggorok RSUP Denpasar. Lab/UPF Telinga Hidung dan Tenggorok FK
Unud. Denpasar.
6. Soepardie EA, Iskandar N, Bashirudin J, Restuti RD, editor. 2008. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta: FK UI.
7. Kotton, C. 2004. Otitis Eksterna. Available from : http:sav-ondrugs.
com/shop/templates/encyclopedia/ ENCY/ artcle/000622. asp. Accessed: 31 juli 2015
8. Sosialisman & Helmi. 2001. Kelainan Telinga Luar dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta.
9. Ardan, Juliarti, Satwika, et al. 2008, Sinopsis Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok. Available from : http://www.THTUB.pdf.co.id. Accessed: 2 Agustus 2015
10. Stppler
M.
Swimmers
Ear
Infection.
Available
at:
http://www.medicinenet.com/otitis_externa/article.htm. Accessed: 2 Agustus 2015

28