Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH FARMASI RUMAH SAKIT

PERENCANAAN DAN PENGADAAN


PERBEKALAN FARMASI DI RUMAH SAKIT

Disusun oleh:
Kelompok 1
Fikry Awaluddin
1406664612
Abni Rahmi Nopitasari
Citra Rezza Aurora P.P.
Maipa Deapati
Ika Luluk Tri Wandari
Neneng Nurhalimah
Shinta Puspitasari

1406664114
1406664266
1406664556
1406664455
1406664644
1406664732

PROGRAM PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA
2015

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI....................................................................................................................................i
BAB 1 PENDAHULUAN..............................................................................................................1
1.1

Latar Belakang.............................................................................................................................1

1.2

Perumusan Masalah.....................................................................................................................2

1.3

Tujuan..........................................................................................................................................2

1.4

Metode.........................................................................................................................................2

BAB 2 ISI........................................................................................................................................3
2.1

Perbekalan Farmasi......................................................................................................................3

2.2

Perencanaan.................................................................................................................................3

2.2.1

Tahap Tahap Perencanaan.................................................................................................4

2.2.1.1

Tahap Pemilihan...............................................................................................................4

2.2.1.2

Tahap Kompilasi Pemakaian............................................................................................4

2.2.1.3

Tahap Perhitungan Kebutuhan.........................................................................................4

2.2.1.4

Tahap Proyeksi Kebutuhan...............................................................................................9

2.2.1.5

Tahap Penyesuaian Rencana Pengadaan..........................................................................9

2.3

Pengadaan..................................................................................................................................11

2.3.1

Metode Pelaksanaan Pengadaan.........................................................................................12

2.3.1.1

Pembelian......................................................................................................................12

2.3.1.2

Produksi.........................................................................................................................14

2.3.1.3

Pinjaman........................................................................................................................18

2.3.1.4

Hibah.............................................................................................................................20

2.3.1.5

Menukar.........................................................................................................................24

2.3.1.6

Konsinyasi.....................................................................................................................24

2.3.2

Cara Pengadaan Obat Yang Baik........................................................................................26

BAB 3 KESIMPULAN................................................................................................................29
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................30

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) adalah suatu bagian atau unit atau divisi atau
fasilitas di rumah sakit, tempat penyelenggaraan semua kegiatan pekerjaan kefarmasian
yang ditujukan untuk keperluan rumah sakit itu sendiri. Seperti diketahui, pekerjaan
kefarmasian adalah pembuatan, termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan
pengadaan, penyimpanan dan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan
obat tradisional. Berdasarkan hal-hal tersebut IFRS dapat didefinisikan sebagai suatu
departemen atau unit atau bagian di suatu rumah sakit di bawah pimpinan seorang apoteker
dan dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi persyaratan peraturan
perundang-undangan yang berlaku dan kompeten secara profesional, tempat atau fasilitas
penyelenggaraan yang bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan
kefarmasian, yang terdiri atas pelayanan paripurna, mencakup perencanaan; pengadaan;
produksi; penyimpanan perbekalan kesehatan atau sediaan farmasi; dispensing obat
berdasarkan resep bagi penderita rawat tinggal atau rawat jalan; pengendalian mutu; dan
pengendalian distribusi dan penggunaan seluruh perbekalan kesehatan di rumah sakit;
pelayanan farmasi klinik umum dan spesialis.
Pelayanan kefarmasian di rumah sakit dilakukan oleh tenaga kefarmasian, yang
salah satunya adalah apoteker. Menurut Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
berdasarkan Kepmenkes RI nomor 1197 tahun 2004, salah satu fungsi dari pelayanan
kefarmasian yang dilakukan di rumah sakit adalah pengelolaan perbekalan farmasi yang
meliputi suatu proses yang merupakan siklus kegiatan, dimulai dari pemilihan,
perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian,
penghapusan, administrasi dan pelaporan serta evaluasi yang diperlukan bagi kegiatan
pelayanan. Cakupan dari perbekalan farmasi adalah sediaan farmasi yang terdiri dari obat,
bahan obat, alat kesehatan, reagensia, radio farmasi dan gas medis. Tahap awal yang
penting untuk menjaga ketersediaan obat dan perbekalan farmasi lainnya agar dapat

digunakan pada saat yang tepat adalah tahap perencanaan dan pengadaan perbekalan
farmasi.
1.2 Perumusan Masalah
Bagaimana tahap-tahap penting pada perencanaan perbekalan farmasi?
Bagaimana tahap-tahap penting pada pengadaan perbekalan farmasi?
1.3 Tujuan
Memahami tahap-tahap penting pada perencanaan perbekalan farmasi.
Memahami tahap-tahap penting pada pengadaan perbekalan farmasi.
1.4 Metode
Pembuatan makalah ini menggunakan metode studi pustaka, yaitu melalui buku dan
e-book yang berkaitan dengan tema makalah serta melalui penelusuran situs atau jurnal
yang dapat dipercaya dari media internet.

BAB 2
ISI

2.1 Perbekalan Farmasi


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang
ketentuan dan tata cara pemberian izin apotik, yang dimaksud dengan perbekalan farmasi
adalah obat, bahan obat, obat asli Indonesia (Obat Tradisional), bahan obat asli Indonesia
(bahan Obat Tradisional), alat kesehatan dan kosmetika. Kemudian dalam Keputusan
Menteri Kesehatan No. 1121/MENKES/SK/XII/2008 tentang pedoman teknis pengadaan
obat publik dan perbekalan kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar, perbekalan
kesehatan adalah semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan
upaya kesehatan.

2.2 Perencanaan
Berdasarkan Permenkes No. 58 tahun 2014, perencanaan kebutuhan merupakan
kegiatan untuk menentukan jumlah dan periode pengadaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan hasil kegiatan pemilihan untuk
menjamin terpenuhinya kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan efisien.
Perencanaan dilakukan untuk menghindari kekosongan Obat dengan menggunakan metode
yang dapat dipertanggungjawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang telah ditentukan
antara lain konsumsi, epidemiologi, kombinasi metode konsumsi dan epidemiologi dan
disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
Pedoman perencanaan harus mempertimbangkan:
1. anggaran yang tersedia;
2. penetapan prioritas;
3. sisa persediaan;
4. data pemakaian periode yang lalu;
5. waktu tunggu pemesanan; dan
6. rencana pengembangan.

2.2.1

Tahap Tahap Perencanaan

2.2.1.1 Tahap Pemilihan


Fungsi pemilihan adalah untuk menentukan obat yang benar-benar diperlukan
sesuai dengan pola penyakit. Untuk mendapatkan perencanaan obat yang tepat, sebaiknya
diawali dengan dasar-dasar seleksi kebutuhan obat yang meliputi :
a. Obat dipilih berdasarkan seleksi ilmiah, medik dan statistik yang memberikan efek
terapi jauh lebih baik dibandingkan resiko efek samping yang akan ditimbulkan.
b. Jenis obat yang dipilih seminimal mungkin, hal ini untuk menghindari duplikasi dan
kesamaan jenis. Apabila terdapat beberapa jenis obat dengan indikasi yang sama
dalam jumlah banyak, maka kita memilih berdasarkan Drug of Choice dari penyakit
yang prevalensinya tinggi.
c. Jika ada obat baru, harus ada bukti yang spesifik untuk efek terapi yang lebih baik.
d. Hindari penggunaan obat kombinasi kecuali jika obat tersebut mempunyai efek yang
lebih baik dibandingkan obat tunggal.
2.2.1.2 Tahap Kompilasi Pemakaian
Kompilasi pemakaian obat adalah rekapitulasi data pemakaian obat di unit
pelayanan kesehatan, yang bersumber dari Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan
Obat (LPLPO). Kompilasi pemakaian obat dapat digunakan sebagai dasar untuk
menghitung stok optimum.
2.2.1.3 Tahap Perhitungan Kebutuhan
Dalam merencanakan kebutuhan obat perlu dilakukan perhitungan secara tepat.
Perhitungan kebutuhan obat dapat dilakukan dengan menggunakan metode konsumsi dan
atau metode morbiditas.
1. Metode Konsumsi

Metode konsumsi adalah metode yang didasarkan atas analisa data


konsumsi obat tahun sebelumnya. Untuk menghitung jumlah obat yang dibutuhkan
berdasarkan metode konsumsi perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Pengumpulan dan pengolahan data.
2) Analisa data untuk informasi dan evaluasi.
3) Perhitungan perkiraan kebutuhan obat.
4) Penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana.

Untuk memperoleh data kebutuhan obat yang mendekati ketepatan, perlu


dilakukan analisa trend pemakaian obat 3 (tiga) tahun sebelumnya atau lebih. Datadata yang perlu dipersiapkan untuk perhitungan dengan metode konsumsi.

Daftar obat

Stok awal, sisa stok, stok pengaman

Penerimaan, pengeluaran

Hilang,kadaluarsa,rusak

Kekosongan obat

Pemakaian rata2 obat pertahun

Waktu tunggu

Perkembangan pola kunjungan

Rumus perhitungan metode konsumsi :


A = ( B+C+D)- E
A = Rencana pengadaan

C = Stok pengaman 10 % 20 %

B = Pemakaian rata-rata x 12

D = Waktu tunggu 3 6 bulan

bulan

E = Sisa stok

Contoh perhitungan :

Selama tahun 2007 (Januari Desember) pemakaian Parasetamol tablet di


Rumah Sakit sebanyak 2.500.000 tablet untuk pemakaian selama 10 bulan.
Pernah terjadi kekosongan selama 2 bulan.

Sisa stok per 31 Desember 2007 adalah 100.000 tablet (E)

Pemakaian rata-rata Parasetamol tablet perbulan tahun 2007 adalah 2.500.000


tablet / 10 = 250.000 tablet.

Pemakaian Parasetamol tahun 2007 (12 bulan) = 250.000 tablet x 12 =


3.000.000 tablet ( B)

Pada umumnya stok pengaman berkisar antara 10% - 20% (termasuk untuk
mengantisipasi kemungkinan kenaikan kunjungan).

Misalkan berdasarkan evaluasi data diperkirakan 20% = 20% x 3.000.000 tablet


= 600.000 tablet (C)

Pada umumnya waktu tunggu berkisar antara 3 s/d 6 bulan. Misalkan leadtime
diperkirakan 3 bulan = 3 x 250.000 tablet = 750.000 tablet (D)

Kebutuhan Parasetamol tahun 2007 adalah:


=b+c+d
= 3.000.000 tablet + 600.000 tablet + 750.000 tablet
= 4.350.000 tablet.

Rencana pengadaan Parasetamol untuk tahun 2008 adalah:


= (B + C + D )- E
= 4.350.000 tablet 100.000 tablet
= 4.250.000 tablet
= 4250 kaleng/botol @ 1000 tablet.

2. Metode Morbiditas.
Metode morbiditas adalah perhitungan kebutuhan obat berdasarkan pola
penyakit. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah perkembangan pola penyakit,
waktu tunggu, dan stok pengaman.
Langkah perhitungan :

1. Menetapkan pola morbiditas penyakit berdasarkan kelompok umur-penyakit.


Kegiatan yang harus dilakukan :
Pengisian (formulir 4) terlampir dengan masing-masing kolom diisi:
Kolom 1 : Nomor urut.
Kolom 2 : Nomor kode penyakit.
Kolom 3 : Nama jenis penyakit diurutkan dari atas dengan jumlah paling

besar.
Kolom 4 : Jumlah penderita anak dibawah 5 tahun.
Kolom 5 : Jumlah penderita dewasa.

Kolom 6 : Jumlah total penderita anak dan dewasa.

2. Menyiapkan data populasi penduduk


Komposisi demografi dari populasi yang akan diklasifikasikan berdasarkan jenis
kelamin untuk umur antara :
0 s/d 4 tahun.
5 s/d 14 tahun.
15 s/d 44 tahun

45 tahun.

3. Menyediakan data masing-masing penyakit pertahun untuk seluruh populasi pada


kelompok umur yang ada.
4. Menghitung frekuensi kejadian masing-masing penyakit per tahun
5. Menghitung jenis, jumlah, dosis, frekuensi dan lama pemberian obat
menggunakan pedoman pengobatan yang ada.
6. Menghitung jumlah yang harus diadakan untuk tahun anggaran yang akan datang
Contoh perhitungan Metode Morbiditas :
1) Menghitung masing-masing obat yang diperlukan per penyakit. Sebagai contoh
pada pedoman pengobatan untuk penyakit diare akut pada orang dewasa dan
anak-anak digunakan obat oralit dengan perhitungan sebagai berikut :

Anak-anak :
Satu episode diperlukan 15 (lima belas) bungkus oralit @ 200 ml. Jumlah
episode 18.000 kasus. Maka jumlah oralit yang diperlukan = 18.000 x 15
bungkus = 270.000 bungkus @ 200 ml.
Dewasa :
Satu episode diperlukan 6 (enam) bungkus oralit @ 1 liter. Jumlah episode
10,800 kasus. Maka jumlah oralit yang diperlukan = 10.800 x 6 bungkus =
64.800 bungkus @ 1000 ml / 1 lite
2) Pengelompokan dan penjumlahan masing-masing obat (hasil langkah a).
Sebagai contoh : Tetrasiklin kapsul 250 mg digunakan pada berbagai kasus
penyakit. Berdasarkan langkah pada butir a, diperoleh obat untuk :
Kolera diperlukan
= 3.000 kapsul
Disentri diperlukan
= 5.000 kapsul
Amubiasis diperlukan
= 1.000 kapsul
Infeksi saluran kemih
= 2.000 kapsul
Penyakit kulit diperlukan
=
500 kapsul
Jumlah Tetrasiklin diperlukan
= 11.500 kapsul
3. Metode Kombinasi
Merupakan gabungan dari metode konsumsi dan

metode epidemiologi.

Dalam metode ini, anggaran yang diperlukan disesuaikan dengan yang tersedia.
Penyusunan perencanaan mengacu pada :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

DOEN, formularium, standar treatmen, kebijakan setempat


Data catatan medik / rekam medik
Anggaran
Penetapan prioritas
Pola penyakit
Sisa persediaan
Data penggunaan periode yang lalu
Rencana pengembangan

4. Metode Anggaran
Data yang diperlukan rawat jalan dan rawat inap :

Pasien Rawai Inap :

Perlu data BOR (tempat tidur terpakai)


jumlah pasien RI x biaya obat/tempat tidur

Perlu

Pasien Rawat Jalan

data

jumlah kunjungan x biaya obat/kunjungan

kunjungan

2.2.1.4 Tahap Proyeksi Kebutuhan


Proyeksi Kebutuhan Obat adalah perhitungan kebutuhan obat secara
komprehensif dengan mempertimbangkan data pemakaian obat dan jumlah sisa stok pada
periode yang masih berjalan dari berbagai sumber anggaran.
2.2.1.5 Tahap Penyesuaian Rencana Pengadaan
Dengan melaksanakan penyesuaian rencana pengadaan obat dengan jumlah
dana yang tersedia maka informasi yang didapat adalah jumlah rencana pengadaan, skala
prioritas masing-masing jenis obat dan jumlah kemasan, untuk rencana pengadaan obat
tahun yang akan datang. Beberapa teknik manajemen untuk meningkatkan efektivitas dan
efisiensi penggunaan dana dalam perencanaan kebutuhan obat adalah dengan cara :
a. Analisa ABC.
Berdasarkan berbagai pengamatan dalam pengelolaan obat, yang paling
banyak ditemukan adalah tingkat konsumsi pertahun hanya diwakili oleh relatif
sejumlah kecil item. Sebagai contoh, dari pengamatan terhadap pengadaan obat
dijumpai bahwa sebagian besar dana obat (70%) digunakan untuk pengadaan, 10%
dari jenis/item obat yang paling banyak digunakan sedangkan sisanya sekitar 90%
jenis/item obat menggunakan dana sebesar 30%. Oleh karena itu analisa ABC
mengelompokkan item obat berdasarkan kebutuhan dananya, yaitu :
Kelompok A : Adalah kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya
menunjukkan penyerapan dana sekitar 70% dari jumlah dana obat keseluruhan.

Kelompok B : Adalah kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya
menunjukkan penyerapan dana sekitar 20%.
Kelompok C : Adalah kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya
menunjukkan penyerapan dana sekitar 10% dari jumlah dana obat keseluruhan.
Langkah-Langkah menentukan kelompok A, B dan C.
1. Hitung jumlah dana yang dibutuhkan untuk masing-masing obat dengan cara
2.
3.
4.
5.
6.
7.

mengalikan kuantum obat dengan harga obat


Tentukan rankingnya mulai dari yang terbesar dananya sampai yang terkecil
Hitung persentasenya terhadap total dana yang dibutuhkan
Hitung kumulasi persennya
Obat kelompok A termasuk dalam kumulasi 70%
Obat kelompok B termasuk dalam kumulasi > 70% s/d 90%
Obat kelompok C termasuk dalam kumulasi > 90% s/d 100%

b. Analisa VEN.
Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dana obat yang
terbatas adalah dengan mengelompokkan obat yang didasarkan kepada dampak tiap
jenis obat pada kesehatan. Semua jenis obat yang tercantum dalam daftar obat
dikelompokkan kedalam tiga kelompok berikut :
Kelompok V : Adalah kelompok obat yang vital, yang termasuk dalam kelompok ini
antara lain:

Obat penyelamat (life saving drugs).

Obat untuk pelayanan kesehatan pokok (vaksin, dll).

Obat untuk mengatasi penyakit-penyakit penyebab kematian terbesar.


Kelompok E : Adalah kelompok obat yang bekerja kausal, yaitu obat yang bekerja
pada sumber penyebab penyakit.
Kelompok N : Merupakan obat penunjang yaitu obat yang kerjanya ringan dan biasa
dipergunakan untuk menimbulkan kenyamanan atau untuk mengatasi keluhan ringan.

Penggolongan obat sistem VEN dapat digunakan untuk :


1. Penyesuaian rencana kebutuhan obat dengan alokasi dana yang tersedia. Obatobatan

yang

perlu

ditambah

atau

dikurangi

dapat

didasarkan

atas

pengelompokan obat menurut VEN.


2. Dalam penyusunan rencana kebutuhan obat yang masuk kelompok V agar
diusahakan tidak terjadi kekosongan obat. Untuk menyusun daftar VEN perlu
ditentukan lebih dahulu kriteria penentuan VEN. Kriteria sebaiknya disusun
oleh suatu tim. Dalam menentukan kriteria perlu dipertimbangkan kondisi dan
kebutuhan masing-masing wilayah.
Kriteria yang disusun dapat mencakup berbagai aspek antara lain:
a. Klinis
b. Konsumsi
c. Target kondisi
d. Biaya
Langkah-langkah menentukan VEN
1. Menyusun kriteria menentukan VEN
2. Menyediakan data pola penyakit
3. Merujuk pada pedoman pengobatan
2.3 Pengadaan
Pengadaan merupakan proses penyediaan obat yang dibutuhkan di rumah sakit
dan untuk unit pelayanan kesehatan lainnya yang diperoleh dari pemasok eksternal melalui
pembelian dari manufaktur, distributor, atau pedagang besar farmasi. Pengadaan bertujuan
untuk mendapatkan perbekalan farmasi dengan harga yang layak, dengan mutu yang baik,
pengiriman barang terjamin dan tepat waktu, proses berjalan lancar, dan tidak memerlukan
tenaga serta waktu berlebihan.

2.3.1

Metode Pelaksanaan Pengadaan

2.3.1.1 Pembelian
Dalam Permenkes No. 58 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit disebutkan bahwa untuk Rumah Sakit pemerintah pembelian Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai harus sesuai dengan ketentuan
pengadaan barang dan jasa yang berlaku. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
pembelian adalah:
1. Kriteria Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai, yang
meliputi kriteria umum dan kriteria mutu obat.
2. Persyaratan pemasok.
3. Penentuan waktu pengadaan dan kedatangan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai.
4. Pemantauan rencana pengadaan sesuai jenis, jumlah dan waktu.
Secara umum metode pembelian dapat dilakukan melalui cara berikut:
a. Secara tender (oleh Panitia Pembelian Barang Farmasi)
Pembelian dengan penawaran yang kompetitif (tender) merupakan suatu
metode penting untuk mencapai keseimbangan yang tepat antara mutu dan harga,
apabila ada dua atau lebih pemasok yang memenuhi syarat memasarkan suatu produk
tertentu yang memenuhi spesifikasi yang ditetapkan apoteker. Dalam memilih
pemasok, apoteker harus mendasarkan pada beberapa kriteria, yakni harga, berbagai
syarat, ketepatan waktu pengiriman, mutu pelayanan, dapat dipercaya, kebijakan
tentang barang yang dikembalikan, dan pengemasan. Akan tetapi, kriteria yang paling
utama harus selalu ditempatkan pada mutu obat dan reputasi pemanufaktur.

Tender terbagi menjadi:


1) Tender terbuka

Tender terbuka berlaku untuk seluruh rekanan yang terdaftar dan sesuai
dengan kriteria yang telah ditentukan. Pada penentuan harga, metoda ini lebih
menguntungkan, tapi memerlukan staf yang kuat, waktu yang lama dan perhatian
penuh. Metode ini biasanya dilakukan oleh RS negeri dengan dana dari
APBN/APBD. Untuk melakukan tender terbuka ini perlu sebuah panitia tersendiri
dan penilaian yang mantap terhadap distributor (mutu produk dan harga).
Keuntungan dari metode tender terbuka ini adalah stabilitas harga terjamin
dan harga lebih murah dan persediaan/stock barang untuk jangka waktu tertentu
terjaga (aman). Sedangkan kerugiannya adalah proses lama (problem kekosongan
obat), membutuhkan tempat penyimpanan yang luas, dan resiko obat macet.
2) Tender terbatas
Tender terbatas dikenal juga dengan lelang tertutup. Hanya dilakukan pada
rekanan tertentu yang sudah terdaftar dan mempunyai riwayat yang baik. Harga
masih dapat dikendalikan, tenaga dan beban kerja lebih ringan bila dibandingkan
dengan tender terbuka.
b. Kontrak
Disebut juga pengadaan dengan negosiasi, dimana pembeli melakukan
pendekatan pada beberapa supplier (biasanya 3 atau lebih) untuk menentukan harga.
Pembeli juga dapat melakukan tawar-menawar dengan para supplier untuk
memperoleh harga atau pelayanan tertentu.
Metode ini memiliki keuntungan yakni bisa dilakukannya negosiasi harga
dan service delivery yang telah ditetapkan. Kerugian dari metode kontrak ini adalah
proses yang lama dalam bernegosiasi.

c. Secara langsung dari pabrik/distributor/pedagang besar farmasi/rekanan

Pembelian langsung biasanya dilakukan untuk pembelian dalam jumlah


kecil dan perlu segera tersedia. Pengadaan obat dengan pembelian langsung sangat
menguntungkan karena di samping waktunya cepat, juga:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

volume obat tidak begitu besar sehingga tidak menumpuk atau macet di gudang
harganya lebih murah karena langsung dari distributor atau sumbernya
mendapatkan kualitas seperti yang diinginkan
bila ada kesalahan mudah mengurusnya
dapat kredit
memperpendek lead time
sewaktu-waktu kehabisan atau kekurangan obat dapat langsung menghubungi
distributor
Pengadaan perbekalan farmasi menggunakan metode pembelian langsung

meliputi pengadaan rutin dengan pembelian harian, atau menyesuaikan jika ada
penawaran khusus, dan pengadaan non rutin (insidental) berkaitan dengan pembelian
obat yang tidak ada di formularium tetapi diresepkan oleh dokter dilakukan ke apotek
rekanan, PBF atau RS lain. Pembelian barang-barang yang dibutuhkan dilakukan
dengan membuat surat pesanan langsung pada distributor utama dari produk yang
dikehendaki.
2.3.1.2 Produksi
Menurut Departemen Kesehatan (2004), produksi sediaan farmasi dirumah sakit
merupakan kegiatan membuat, mengubah bentuk dan pengemasan kembali sediaan
farmasi steril atau non-steril untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah
sakit. Dalam Permenkes No. 58 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit disebutkan bahwa Instalasi Farmasi Rumah Sakit dapat memproduksi
sediaan tertentu apabila:
1.
2.
3.
4.
5.

Sediaan Farmasi tidak ada di pasaran.


Sediaan Farmasi lebih murah jika diproduksi sendiri.
Sediaan Farmasi dengan formula khusus.
Sediaan Farmasi dengan kemasan yang lebih kecil/repacking.
Sediaan Farmasi untuk penelitian.

6. Sediaan Farmasi yang tidak stabil dalam penyimpanan/harus dibuat baru (recenter
paratus).

Sediaan yang dibuat di Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan mutu dan
terbatas hanya untuk memenuhi kebutuhan pelayanan di Rumah Sakit tersebut.
Kegiatan produksi yang dilakukan oleh sub instalasi produksi farmasi ada dua, yaitu:
1. Produk Obat Steril
Pembuatan produk steril terbagi menjadi :
a. Produksi steril adalah proses mencampur atau meracik bahan obat steril dan
dilakukan di dalam ruang steril.
b. Aseptic dispensing adalah teknik aseptic yang dapat menjamin ketepatan sediaan
steril yang dibuat dan bebas kontaminasi.

Kegiatan produksi steril yang akan dilakukan sub instalasi produksi farmasi:
a. Total Parenteral Nutrition (TPN)
Total parenteral nutrition adalah membuat atau mencampur bahan nutrisi
yang berisi asam amino, karbohidrat dan lipid yang steril dengan kadar yang
sesuai kebutuhan masing-masing pasien, sehingga dihasilkan sediaan yang steril.
Ruang untuk TPN bertekanan positif dari pada di luar karena obat ini tidak
berbahaya hanya saja dalam pembuatannya harus steril.
b. IV admixture
Merupakan proses pencampuran obat steril ke dalam larutan intravena
steril untuk menghasilkan suatu sediaan steril yang bertujuan untuk penggunaan
intra vena (i.v). Ruang lingkup dari IV admixture :
1) Pelarutan serbuk steril
2) Menyiapkan suntikan IV sederhana (tunggal)
3) Menyiapkan suntikan IV kompleks
Keuntungan IV admixture antara lain:
1) Terjaminnya sterillitas produk
2) Terkontrolnya kompatibilitas obat
3) Terjaminnya kondisi penyimpanan yang optimum sebelum dan sesudah
pencampuran

c. Obat Sitostatika
Obat sitostatika adalah obat yang digunakan dalam pengobatan kanker
(antineoplastik). Peracikan obat kanker atau sitostatika adalah kegiatan
rekonstitusi (pencampuran) obatobat sitostatik dan menyiapkan agar siap
digunakan dengan mempertimbangkan dasardasar keamanan bagi pekerja dan
lingkungan serta prinsip dasar pencampuran obat steril.
Obat ini diberikan pada bagian produksi obat steril maksimal sehari
sebelum dilakukan kemoterapi. Sebelum obat dibuat harus dilakukan pengecekan
apakah pasien jadi dikempoterapi pada waktu yang telah ditentukan atau tidak.
Jika tidak maka obat tidak boleh disiapkan, karena obat harus diberikan segera
setelah direkonstitusi mengingat ketidakstabilan obat dan jika terlalu lama
disimpan maka obat menjadi rusak.
Dalam formulir permintaan obat sitostatika tercantum data pasien meliputi
nama, nomor medical record, ruangan, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan,
umur, luas permukaan tubuh, diagnosis, nama dokter dan paraf dokter, dan data
permintaan obat yang meliputi nama obat, dosis, cara pemberian, volume, jumlah
(ampul/vial), pelarut, volume pelarut, volume akhir, expire date, dan alat
kesehatan yang digunakan.
Rekonstitusi obat sitostatika dilakukan secara aseptik di ruang steril di
dalam laminar air flow. Dalam CPOB, ruang yang digunakan untuk kegiatan steril
disebut ruang kelas II, tidak boleh mengandung lebih dari 350.000 partikel
berukuran 0,5 mikron atau lebih, 2000 partikel berukuran 5 mikron atau lebih,
serta tidak lebih dari 100 mikroba setiap meter kubik udara. Tekanan udara di
ruangan ini semakin ke dalam atau semakin mendekati laminar air flow harus
semakin negatif. Hal ini untuk mencegah keluarnya obat yang direkonstitusi dan
agar tidak mengkontaminasi personil yang mengerjakannya. Personil yang
mengerjakan harus memakai pakaian steril model khusus, penutup kepala,
masker, kacamata, sarung tangan, dan penutup kaki.
2. Produk Obat Non Steril

Kegiatan yang dilakukan dalam produksi non steril yaitu pembuatan, pengenceran,
dan pengemasan kembali.
a. Pembuatan
Sub instalasi produksi farmasi memproduksi obat non steril berdasarkan
master formula. Produksi obat dilakukan dengan mengisi formulir pembuatan
obat. Tahapan pembuatan obat dilakukan berdasarkan urutan seperti contoh yang
terdapat pada formulir pembuatan obat dan pada setiap tahap pembuatan harus
diparaf oleh petugas yang mengerjakannya.
Formulir pembuatan obat dibuat berdasarkan per item obat. Pengemasan
dan pemberian etiket dilakukan setelah produksi obat atau pengenceran antiseptik
selesai dibuat dan diperiksa kembali.
Setelah selesai pengemasan, maka harus mengisi lembaran atau formulir
pengemasan yang berisi tanggal produksi, nama obat, nomor produksi, volume
dan kemasan, kemudian diparaf. Selanjutnya formulir pembuatan obat, formulir
pengemasan dan etiket diparaf atau diberi cap oleh penanggung jawab sebagai
tanda bahwa obat sudah diperiksa dan dapat didistribusikan.
b. Pengenceran
Pengenceran dilakukan berdasarkan urutan seperti yang terdapat pada
formulir obat dan pada setiap tahap harus diparaf oleh petugas yang
mengerjakannya. Pengenceran misalnya pembuatan alkohol 70% dari alkohol
95%.

c. Pengemasan Kembali
Pengemasan kembali misalnya Betadine dan Rivanol dari kemasan besar
menjadi kemasan yang lebih kecil.

2.3.1.3 Pinjaman
Pinjaman adalah setiap penerimaan dalam bentuk uang, barang dan atau jasa yang
diperoleh dari pemberi pinjaman yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu.
Pinjaman bisa berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.
Pinjam Pakai adalah pemanfaatan Aktiva Tetap /asset oleh Mitra untuk jangka
waktu tertentu dengan membayar kompensasi, sepanjang sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan pemanfaatan Aktiva Tetap tidak dapat dilaksanakan dengan cara
lain. Aktiva Tetap adalah aktiva berwujud yang digunakan dalam operasional suatu
lembaga tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan
memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun.
Bentuk kerjasama pendayagunaan asset dengan cara pinjam pakai terbagi menjadi dua,
yaitu :
1. Sewa
Sewa adalah pemanfaatan Aktiva Tetap/asset oleh Mitra dalam jangka waktu tertentu
dan mendapatkan imbalan uang tunai (PERMEN BUN NO 06/2011). Pemilik asset/
Aktiva Tetap berhak mendapatkan imbalan uang tunai berupa sewa bulanan atau
tahunan yang dibayarkan sekaligus dimuka yg dituangkan dalam perjanjian. Selama
jangka waktu sewa:
Asset yang disewakan wajib diasuransikan atas nama pemilik asset dengan beban
mitra, sepanjang dapat dijamin oleh perusahaan asuransi dan/atau didasarkan pada
peraturan perundang-undanagn yang berlaku.
Biaya pemelihaaan, kewajiban perpajakan, dan/atau biaya-biaya lain yang
ditimbulkan atas asset yang disewakan menjadi beban Mitra.
Mitra wajib memelihara objek Sewa, termasuk sarana dan/atau prasarana yang
melekat dengan objek Sewa.
Pada saat berakhimya Sewa, Mitra wajib menyerahkan objek Sewa kepada
pemiliknya dalam keadaan baik/layak fungsi dan menjamin bebas dari segala
tuntutan hukum dan hak-hak pihak ketiga.
2. KSO (Kerjasama Operasional) & KSU (Kerjasama Usaha)

Kerjasama Operasional (KSO) merupakan perjanjian antara dua pihak atau


lebih dimana masing-masing sepakat untuk melakukan suatu usaha bersama
dengan menggunakan asset dan atau hak usaha yang dimiliki dan bersama-sama
menanggung resiko usaha tersebut. KSO bersifat sementara, hanya untuk
melaksanakan suatu proyek tertentu dan bukan merupakan subjek pajak. Dengan
melihat Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor 06 tahun 2011 pada pasal 1 ,
prinsip kerjasama ini adalah bagi hasil yang saling menguntungkan antara pemilik
asset dengan mitra kerjasama, dimana pemilik asset ikut terlibat dalam manajemen
pengelolaan. Sementara pada sistem Kerja Sama Usaha (KSU) tidak ikut terlibat
dalam manajemen pengelolaan.
Ketentuan kerjasama KSO & KSU :
Pembayaran kompensasi KSU dilakukan di depan (up-front fee).
Asset yang dikerjasamakan wajib diasuransikan atas nama pemilik asset dengan
beban KSO/KSU.
Biaya pemeliharaan, kewajiban perpajakan , dan/atau biaya-biaya lain yang
ditimbulkan atas asset yang dikerjasamakan menjadi beban KSO/KSU
Manajemen KSO dan KSU wajib menyampaikan laporan tentang perkembangan
KSO/KSU pemilik asset secara periodik sesuai dengan perjanjian kerjasama.
Selama jangka waktu kerjasama, manajemen KSO dan KSU wajib memelihara
asset yang menjadi obyek KSO/KSU.
Pada saat berakhirnya kerjasama, manajemen KSO dan KSU wajib menyerahkan
asset yang menjadi obyek KSO/KSU kepada pemilik asset dalam keadaan
baik/layak fungsi dan menjamin bebas dari segala tuntutan hukum dan hak-hak
pihak ketiga.
Hak dan kewajiban pemilik asset dan mitra ditetapkan dalam perjanjian
kerjasama.
KSO dapat dibedakan menjadi:
-

Separate Legal Entity yakni KSO dengan entitas hukum terpisah dapa berbentuk
badan hukum termasuk JO (Joint Operation).

KSO tanpa pembentukan entitas hukum terpisah

Bentuk operasional KSO:

BOT (Build, Operate,Transfer)


BTO (Build, Transfer, Operate)
Keuntungan penerapan KSO dalam pengadaan Alat Kesehatan di Rumah sakit:
Peningkatan pelayanan (prestige)
Grafik pelayanan operasional mningkat
Grafik BOR meningkat
Mengurangi pengeluaran tak terduga yang berhubungan dengan biaya
maintenance alat karena maintenance alat ditanggung investor.
2.3.1.4 Hibah
Hibah merupakan segala bentuk penerimaan baik dalam bentuk uang, barang dan
atau jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar kembali, yang
berasal dari dalam negeri maupun luar negeri (pp No10 tahun 2011). Hibah luar negeri
adalah penerimaan negara yang diperoleh dari lembaga keuangan internasional maupun
negara-negara sahabat dalam bentuk devisa dan atau devisa yang dirupiahkan maupun
dalam bentuk barang dan atau jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu
dibayar kembali (Keppres No.80 tahun 2003).
Perjanjian Hibah adalah kesepakatan tertulis mengenai hibah antara penerima dan
Pemberi Hibah yang dituangkan dalam dokumen perjanjian pemberian hibah atau
dokumen lain yang dipersamakan). Untuk mempermudah dalam proses penerimaan hibah
maka hibah juga dikelompokkan kedalam dua jenis yakni Hibah yang direncanakan
dan/atau hibah langsung. Hal tersebut ditujukan supaya tidak menimbulkan proses
birokkrasi yang rumit yang yang dapat menimbulkan disinsentif bagi calon pemberi
Hibah karena terkesan

dipersulit. Hibah yang direncanakan adalah Hibah yang

dilaksanakan melalui mekanisme perencanaan. Hibah langsung adalah Hibah yang


dilaksanakan tidak melalui mekanisme perencanaan. Perjanjian hibah paling sedikit
memuat jumlah, peruntukan dan ketentuan & persyaratan. Kedua alternatif penerimaan
Hibah tersebut, diharapkan dapat menjembatani perbedaan kepentingan dari pihak calon
pemberi Hibah yang menghendaki kemudahan dalam pemberian Hibah dan dari
kepentingan pihak penerima Hibah yang menghendaki

penerimaan Hibah harus

mengikuti ketentuan yang berlaku, serta dapat dipertanggungjawabkan kepada semua


pemangku kepentingan (stakeholders). Guna menjamin terwujudnya penerimaan Hibah
yang transparan dan akuntabel, maka penerimaan Hibah tersebut perlu ditatausahakan
dengan baik, diadministrasikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan,
dilakukan publikasi informasi, dilakukan monitoring, evaluasi, dan pengawasan secara
terus-menerus. Publikasi informasi mengenai Hibah paling sedikit meliputi (pp No10
tahun 2011) :

kebijakan tentang Hibah;


jumlah, posisi, dan komposisi jenis mata uang Hibah;
sumber dan penerima Hibah; dan

jenis Hibah.

Permasalahan (Kepmenkes RI No 059/MENKES/SK/I/2011):


1. Obat dan perbekalan kesehatan sering tidak sesuai dengan situasi darurat yang terjadi,
baik dari aspek pola penyakit, maupun tingkat pelayanan kesehatan yang tersedia.
Obat dan perbekalan kesehatan tersebut sering tidak dikenal oleh tenaga kesehatan
setempat maupun pasien, bahkan kadang-kadang tidak memenuhi standar pengobatan
yang berlaku.
2. Obat dan perbekalan kesehatan sering tiba tanpa terlebih dahulu dipilih dan diberi
label dalam bahasa lokal/inggris, bahkan tanpa ada nama generiknya.
3. Kualitas obat dan perbekalan kesehatan kadangkala tidak sesuai dengan standar yang
berlaku di Negara penerima.
4. Pihak pemberi hibah kadang tidak menghiraukan prosedur administrasi Negara
penerima.
5. Pihak pemberi hibah sering menyebutkan nilai obat lebih tinggi dari yang semestinya
6. Jumlah obat dan perbekalan kesehatan tidak sesuai kebutuhan, akibatnya beberapa
obat berlebih harus dimusnahkan. Hal tersebut akan menimbulkan maslah pada
Negara penerima.
Prinsip utama dalam proses pemberian hibah obat dan perbekalan kesehatan menurut
WHO yaitu :
1. Obat dan perbekalan kesehatan harus memberikan keuntungan yang sebesar-besarnya
bagi Negara penerima. Secara implicit harus berdasarkan kebutuhan dan oleh
karenanya obat dan perbekalan kesehatan yang tidak diinginkan perlu ditolak.

2. obat dan perbekalan kesehatan harus mengacu kepada keperluan dan sesuai dengan
otoritas penerima, dan harus mendukung kebijaksanaan

pemerintah dibidang

kesehatan dan sesuai dengan persyaratan administrasi yang berlaku.


3. Tidak boleh terjadi standar ganda penetapan kualitas jika kualitas salah satu item obat
dan perbekalan kesehatan tidak diterima oleh Negara donor, sebaiknya hal ini juga
diberlakukan di Negara penerima.
4. Harus adanya komunikasi yang efektif antara Negara donor dan penerima, hibah
harus berdasarkan permohonan dan sebaiknya tidak dikirimkan tanpa adanya
pemberitahuan.
Persyaratan teknis hibah obat dan perbekalan kesehatan (Kepmenkes RI No
059/MENKES/SK/I/2011) adalah sebagai berikut.
1. Masa kadaluarsa obat dan perbekalan kesehatan
Masa kadaluarsa obat dan perbekalan kesehatan sebaiknya adalah minimal dua tahun
pada saat diterima oleh penerima hibah. Hal ini dimaksudkan agar obat dan
perbekalan kesehatan tersebut dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan program
maupun situasi darurat. Oleh karenanya sebaiknya pihak pemberi hibah sudah
mengkonfirmasi masa kadaluarsa obat dan perbekalan kesehatan yang akan dikirim.
2. Obat dan perbekalan kesehatan yang akan diterima harus berasal dari sumber resmi.
Obat dan perbekalan kesehatan yang diberikan sebaiknya merupakan obat dan
perbekalan kesehatan yang telah terdaftar atau mempunyai izin edar di negeri
pemberi atau mendapat pengakuan dari WHO, atau lembaga independen lainnya. Hal
ini diperlukan untuk menjamin keamanan dari obat dan perbekalan kesehatan yang
akan diterima oleh programmer kesehatan. Selain itu pihak pemberi hibah juga harus
menyertakan sertifikat GMP (Good Manufacturing Practice) dan sertifikat analisa
dari produsen obat dan perbekalan ksesehatan yang akan dihibahkan.
3. Obat yang diterima harus sesuai dengan Daftar Obata Esensial Nasional (DOEN)
Diperlukan agar tidak mengganggu program penggunaan obat esensial di fasilitas
pelayanan kesehatan.
4. Kekuatan/ potensi/dosis dari obat sebaiknya sama dengan obat yang biasa digunakan
oleh petugas kesehatan.
Diperlukan agar petugas kesehatan tidak bingung dengan kekuatan sediaan dari obat
hibah.
5. Semua obat dan perbekalan kesehatan hibah sebaiknya mempunyai label dalam
Bahasa Indonesia / Bahasa Inggris agar mudah dimengerti.

6. Obat dan perbekalan kesehatan sebaiknya memenuhi aturan Internasional Pengiriman


barang
Setiap obat dan perbekalan kesehatan yang dikirim hendaknya disertai dengan detil
isi karton yang menyebutkan secara spesifik bentuk sediaan, jumlah, nomor batch,
tanggal kadaluarsa, volume, berat dan kondisi penyimpanan yang khusus. Berat
karton sebaiknya tidak lebih dari 50 kg. hal ini diperlukan untuk memdahkan dalam
penyimpanan dan pendistribusian obat dan perbekalan kesehatan ke fasilitas-fasilitas
pelayanan kesehatan.
7. Pengeluaran dari pelabuhan
Obat dan perbekalan kesehatan hibah bisa mendapat fasilitas pembebasan tariff pajak
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
8. Biaya
pengiriman
dari
Negara
pemberi
hibah,

transport

lokal,

pergudanga/penyimpanan yang baik, serta urusan bea cukai sebaiknya dibayar oleh
pihak/Negara pemberi hibah
Hal tersebut sebaiknya diinformasikan dari awal untuk menghindari terjadinya
masalah yang tidak diinginkan.
9. Pemusnahan obat dan perbekalan kesehatan hibah
Pemusnahan dilakuakn sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Prinsip yang harus diperhatikan dalam menerima pinjaman dan hibah adalah (PP Nomor
10 Tahun 2011) :

transparan

akuntable

efisien dan efektif

kehati hatian

Tidak disertai ikatan politik

Tidak mengganggu keamanan & stabilitas negara

2.3.1.5 Menukar
Menukar merupakan cara pemenuhan kebutuhan dengan jalan menukarkan barang
yang dimiliki dengan barang yang dimiliki oleh pihak lain yang dibutuhkan oleh
organisasi/perusahaan. Pemilihan metode/ cara ini harus mempertimbangkan faktor saling
menguntungkan di antara kedua belah pihak dan barang yang dipertukarkan harus

merupakan barang yang sifatnya kelebihan/ berlebihan yang dipandang tidak memiliki
daya guna untuk perusahaan. Cara ini cukup efektif dalam rangka untuk meningkatkan
efektifitas barang-barang yang dimiliki oleh organisasi/ perusahaan. Barang-barang yang
berlebih menjadi tidak mubazir karena tidak terpakai tetapi dapat ditukar dengan barang
lain yang lebih berguna.
2.3.1.6 Konsinyasi
Konsinyasi merupakan suatu perjanjian dimana salah satu pihak yang memiliki
barang menyerahkan sejumlah barang kepada pihak tertentu untuk dijualkan dengan
harga dan syarat yang diatur dalam perjanjian. Pengadaan dengan cara konsinyasi dalam
pengertian sehari-hari dikenal dengan pengadaan dengan system penitipan. Pihak yang
menyerahkan barang (pemilik) disebut Konsinyor/consignor/ pengamanat. Pihak yang
menerima barang Konsinyasi disebut Konsinyi/ Consigner/ Komisioner. Bagi konsinyor
barang yang dititipkan kepada konsinyi untuk dijualkan disebut barang konsinyasi
(konsinyasi keluar/consigment out). Konsinyasi biasanya dilakukan untuk produk baru
yang belum atau jarang dijual di rumah sakit. Dalam konsinyasi, PBF menitipkan barang
di rumah sakit, kemudian pembayaran baru dilakukan apabila barang titipan tersebut
telah terjual. Selama barang konsinyasi belum terjual, hak milik tetap di tangan pemilik.
Terdapat 4 hal yang merupakan ciri dari pengadaan konsinyasi yaitu :
1) Barang Konsinyasi harus dilaporkan sebagai persediaan oleh konsinyor, karena hak
untuk barang masih berada pada konsinyor.
2) Pengiriman barang konsinyasi tidak menimbulkan pendapatan bagi konsinyor dan
sebaliknya.
3) Pihak konsinyor bertanggung jawab terhadap semua biaya yang berhubungan dengan
barang konsinyasi kecuali ditentukan lain.
4) Konsinyasi dalam batas kemampuannya berkewajiban untuk menjaga keamanan dan
keselamatan barang-barang komisi yang diterimanya.
Pengadaan barang dengan cara konsinyasi mempunyai keuntungan-keuntungan
tertentu dibandingkan dengan pengadaan secara langsung barang-barang kepada

perusahaan pengecer atau kepada pedagang. Adapun keuntungan pengadaan barang


secara konsinyasi bagi konsinyor, antara lain:
1.

Konsinyasi merupakan suatu cara untuk lebih memperluas pasaran yang dapat
dijamin oleh seorang produsen, pabrikan atau distributor, terutama apabila:
a. Barang-barang yang bersangkutan baru diperkenalkan, permintaan produk tidak
menentu dan belum terkenal
b. Penjualan pada masa-masa yang lalu tidak menguntungkan
2. Resiko-resiko tertentu dapat dihindari oleh konsinyor. Barang-barang konsinyasi
tidak ikut disita apabila terjadi kebangkrutan dari konsinyi sehingga resiko kerugian
dapat ditekan.
3. Harga barang yang bersangkutan tetap dapat dikontrol oleh konsinyor. Hal ini
disebabkan kepemilikan atas barang tersebut masih ditangan konsinyor sehingga
harga masih dapat dijangkau oleh konsumen.
Sedangkan bagi konsinyi lebih menguntungkan pengadaan dengan cara konsinyasi
karena alasan-alasan sebagai berikut :
1. Konsinyi tidak dibebani resiko menanggung kerugian bila gagal dalam penjualan
barang-barang konsinyasi
2. Konsinyi tidak mengeluarkan biaya operasi penjualan konsinyasi karena semua biaya
akan diganti /ditanggung oleh konsinyor
3. Kebutuhan akan modal kerja dapat dikurangi, sebab konsinyi hanya berfungsi sebagai
penerima dan penjual barang konsinyasi untuk konsinyor
4. Konsinyi berhak mendapatkan komisi dari hasil penjualan barang konsinyasi
Dengan tetap mengendalikan harga eceran produk, konsinyor mengharapkan
penjualannya dapat meningkat karena konsinyi ahli di bidang perdagangan barang yang
bersangkutan. Pihak konsinyi, tanpa risiko kerusakan barang, fluktuasi harga dan biaya
modal kerja, dapat meningkatkan penghasilannya dari hasil komisi penjualan barang
konsinyasi.
Cara pelaksanaan konsinyasi pada umumnya sebagai berikut :

1. Konsinyor datang kepada konsinyi untuk menawarkan barang yang akan dijadikan
barang konsinyasi
2. Konsinyi memeriksa keadaan barang konsinyasi terutama mengenai jenis dan jumlah
serta mutu dari barang tersebut.
3. Konsinyi meawarkan harga transaksi atas barang yang akan dijualnya, harga transaksi
ini disampaikan kepada konsinyor.
4. Jika kedua pihak telah setuju atas perjanjian yang diberikan, maka pengadaan barang
konsinyasi dapat dilakukan.

2.3.2

Cara Pengadaan Obat Yang Baik


1. Pengadaan berdasarkan nama generic
Biasanya dikenal dengan INN (International Nonpropriety Name), telah
menjadi standar pembelian obat yang berada di berbagai perusahaan. Nama bermerek
dari supplier biasanya saling berkompetisi, tetapi mereka sama-sama menawarkan
obat generic dengan harga yang bersaing, karena mereka berharap dapat menguasai
sector pasar tersebut. Hal ini sangat beralasan sebab semua obat yang disupply untuk
system kesehatan akan dilabel dengan persyaratan sesuai dengan INN secara terus
menerus.

2. Pengadaan terbatas untuk daftar obat esensial atau daftar formularium


Langkah pertama yang dilakukan untuk menghindari duplikasi obat generic
yaitu dengan cara membuat dua pilihan utama pada daftar pengadaan. Kombinasi
pertama merupakan formula standar di rumah sakit seperti program pembelian regular
seperti obat cometidine, famotidine, dan ranitidine (dan obat-obatan alnti ulcer
lainnya) mungkin merupakan kompnen substansial yang sangat penting di
formularium RS, kemudian obat-obatan ini dijumlahkan dengan menggabungkan
dengan satu formula obat lainya dan kombinasi dari estimasi volume penjualan,
sehingga jumlah obat terpilih menjadi lebih besar.Langkah kedua adalah termasuk
memasukkan data pada formularium berdasarkan kategori terapi dan akan dilakukan
tender untuk memilih subkategorinya.

3. Supplier yang memiliki kualifikasi yang baik


Untuk memilih supplier yang baik, kita harus mengevaluasi apakah supplier
tersebut sudah terdaftar di agensi internasional, uji pembelian pada jumlah uang yang
sedikit, dan pertemuan yang tidak formal untuk lebih mengenal supplier tersebut lebih
lanjut. Pengadaan yang sukses berasal dari agensi yang juga sukses, hal ini
ditunjukkan dengan adanya tampilan supplier yang berkualitas dalam menyuplai
bahan yang dibutuhkan. Cirri lain supplier yang baik adalah kemasan dan label obat
yang selalu baik dan lengkap, mempunyai salinan registrasi yang jelas, adanya
koresponden, serta pembeli bias mengajukan complain bila merasa kurang puas
dengan pelayanan yang ditawarkan oleh supplier.
4. Pengadaan yang bersaing
Supplier yang mempunyai daya saing yang tinggi adalah kunci untuk
mendapatkan harga yang bersaing, memperoleh sector pemasaran yang jelas untuk
pembelian yang sifatnya sedikit dan mendadak.
5. Komitmen penjualan yang baik
Komitmen penjualan yang baik harus senantiasa dimonitor dan ditingkatkan,
jika tidak akan menyebabkan beberapa kelompok supplier gagal sebab harga yang
ditawarkannya lebih tinggi disbanding pesaing yang lain.
6. Jumlah permintaan berdasarkan estimasi kebutuhan saat ini
Ketika keuangan tidak tersedia untuk melakukan pembayaran pada obat yang
akan dibeli, sangat dibutuhkan pengurangan daftar obat sesuai dengan system
kesehatan yang ada. Berdasarkan system kesehatan, ada tiga alat yang dapat
dilakukan, yaitu analisis VEN, analisis ABC, dan analisis katagori terapi.
7. Pembayaran dan manajemen keuangan yang baik

System manajemen keuangan yang efektif dan efesien sangat penting bagi
prioritas pengadaan obat. Bisa menyediakan obat ketika dibutuhkan dan dapat
membayar pada waktu yang diinginkan mempunyai efek yang positif untuk
mengurangi kekurangan stock.
8. Tranparansi dan penulisan prosedur
Ketika ada satu tender kefarmasian yang tidak berguna, hal ini
mengindikasikan adanya ketidak adilan, mungkin ada perubahan dalam proses tender
yang tidak diketahui oleh salah satu supplier dan menyebabkan masalah yang kronis.
Entah hal tersebut benar atau salah, tapi hal ini dapat merusak pelayanan kesehatan
yang ada, dan pasien akan kehilangan kepercayaan dirinya.
9. Audit tahunan
Setidaknya, dalam setahun sekali pihak pengadaan harus melakukan audit.
Hal ini bertujuan untuk melakukan pengujian dan verifikasi yang berasal dari buku
akuntasi dan catatan pembelian yang sesuai dengan prosedur audit. Internal audit
dilakukan oleh auditor yang berasal dari pemerintah atau organisasi tertentu. Auditor
harus bekerja dengan adil dan harus menyertakan komentar pada pihak manajemen
jika ada hal yang tidak sesuai dengan pembukuan akuntasi yang ada.
BAB 3
KESIMPULAN
Perencanaan dan pengadaan merupakan tahap awal yang penting dalam siklus
pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit, untuk menjaga ketersediaan obat dan perbekalan
farmasi lainnya agar dapat digunakan pada saat yang tepat. Pada perencanaan, terdapat lima
tahap penting, yaitu tahap pemilihan, kompilasi pemakaian, perhitungan kebutuhan, proyeksi
kebutuhan, dan penyesuaian rencana pengadaan yang harus ditentukan dengan tepat. Dalam
menghitung kebutuhan perbekalan di rumah sakit, dapat dilakukan dengan beberapa metode
yaitu, metode konsumsi, metode morbiditas, serta metode kombinasi keduanya. Dan pada
penyesuaian rencana pengadaan, dapat dilakukan dengan analisis ABC dan analisis VEN.
Kemudian dilanjutkan dengan proses pengadaan, yang dapat dilakukan dengan cara pembelian,

produksi, meminjam, hibah, menukar, dan konsinyasi. Apoteker sebagai pihak yang berperan
dalam ketersediaan obat, bahan obat dan perbekalan kesehatan lainnya harus cermat dan teliti
dalam menjalani berbagai tahapan yang harus dilalui. Hal ini dilakukan agar obat, bahan obat
dan perbekalan kesehatan lainnya yang tersedia sesuai dengan yang dibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA
Epstein, J. B., and Jermakowics, K. E., 2007, Wiley IFRS, Interpretation and Application of
International Financial Reporting Standards, USA, Wiley.
Wild,Tony, 2003, Consignment Stock, The IOM Knowledge Bank Issue Number 4.
Kepmenkes No.1121/MENKES/SK/XII/2008 Tentang Pedoman Teknis Pengadaan Obat
Publik dan Perbekalan Kesehatan Untuk Pelayanan Kesehatan Dasar
Permenkes No.58 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit

Siregar, Charles J. P. 2003. Farmasi Rumah Sakit: Teori Penerapan. Jakarta: EGC.
Departemen Kesehatan. 2004. Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta: DirJen
Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua
Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor
Barang/Jasa Pemerintah

54

Tahun

2010 Tentang Pengadaan

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 Tentang Perubahan Keempat
Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2011 Tentang Tata Cara
Pengadaan Pinjaman Luar Negeri Dan Penerimaan Hibah
Salinan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER-06/MBU/2011
Tentang Pedoman Pendayagunaan Aktiva Tetap Badan Usaha Milik Negara
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 059/MENKES/SK/I/2011 tentang
Pedoman Pengelolaan Obat Dan Perbekalan Kesehatan Pada Penanggulangan Bencana