Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

BATU GINJAL
A. Pengertian
Merupakan suatu penyakit yang salah satu gejalanya adalah pembentukan batu di dalam
ginjal
a. Batu saluran kemih adalah adanya batu di traktus urinarius. (ginjal, ureter, atau
kandung kemih, uretra) yang membentuk kristal; kalsium, oksalat, fosfat, kalsium
urat, asam urat dan magnesium.(Brunner & Suddath,2002).
b. Batu ginjal adalah terdapatnya batu dalam sistem pelvis dan kalises ginjal, biasanya
kalsium, yang dapat pula terjadi dalam jaringan ginjal atau nefrokalsinosis (Ovedoff,
David, 2002: 993).
c. Batu ginjal adalah masa keras seperti batu yang terbentuk pada ginjal dan biasanya
menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih tau infeksi (Maupathi,
David, 2000).
Dari beberapa definisi tersebut diatas saya mengambil kesimpulan bahwa batu
saluran kemih adalah adanya batu di dalam saluran perkemihan yang meliputi ginjal,
ureter, kandung kemih dan uretra.

B. Etiologi
Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran urin,
gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi, dan keadaan-keadaan lain yang
masih belum terungkap (idiopatik). Secara epidemiologik terdapat beberapa faktor yang
mempermudah terbentuknya batu pada saluran kemih pada seseorang. Faktor tersebut
adalah faktor intrinsik yaitu keadaan yang berasal dari tubuh orang itu sendiri dan faktor
ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan di sekitarnya
Faktor intrinsik antara lain :
1. Herediter (keturunan) : penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.
2. Umur : penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun
3. Jenis kelamin : jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan
pasien perempuan
Faktor ekstrinsik diantaranya adalah :

1. Geografis : pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih
yang lebih tinggi dari pada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stonebelt.
2. Iklim dan temperatur
3. Asupan air : kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang
dikonsumsi.
4. Diet : Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu.
5. Pekerjaan : penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk
atau kurang aktifitas atau sedentary life.(3)
C. Patofisiologi
Terbentuknya batu biasanya terjadi air kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat
membentuk batu atau karena air kemih kekurangan penghambat pembentukan batu yang
normal. Sekitar 80% batu terdiri dari kalsium sisanya mengandung berbagai bahan,
termasuk asam urat, sistin dan mineral struvit.
Terdapat beberapa teori tentang pembentukan batu pada ginjal, yaitu:
a. Teori inti matrik
Terbentuknya batu ginjal, batu seperti pada saluran kemih atau ginjal memerlukan
substansi organik sebagai inti pebentukan. Matrik organik berasal dari serum dan
protein urine yang memberikan kemungkinan pengendapan kristal sehingga akan
menjadi pembentukan inti.
b. Teori saturasi
Teori ini berkaitan dengan terjadinya kejenuhan substansi bembentukan batu di ginjal,
dalam urine seperti sistin, vantin, asam urat, kalsium oksalat akan mengakibatkan
pembentukan batu.
c. Teori presipitasi- kristal
Terjadinya perubahan pH urine mempengaruhi substansi dalam urine. Pada urine yang
bersifatasam akan mengendap asam urat, garam urat, sistin dan santin. Sedangkan
urine yang bersifat basa akan mengendapkan garam-garam fosfat. Pengendapan ini
baik urine yang bersifat asam maupun basa akan menjadi inti pembentukan batu.
d. Teori berkurangnya faktor penghambat seperti peptisida fosfat, pirofosfat, sistrat,
magnesium akan mempermudah terbentuknya batu pada ginjal

Pathway
Faktor Predisposisi

Endapan zat2 tertentu di traktus urinarius


Stasis urine
Peningkatan tekanan hidrostatik
Distensi piala ginjal dan ureter proximal
Iritasi dan Abrasi organ sekitar (ginjal)
Nyeri (kolik renal atau kolik ureteral)
Infeksi (pielonefritis, cystitis) yg ditandai dg
menggigil, demam dan dysuria
Kerusakan nefron ginjal
Retensi urine, hematuria
Berlanjut
Batu dapat dikeluarkan melalui urine
(diameter 0,5 1 cm), bila tidak
Sepsis
Kerusakan ginjal lebih lanjut
KEMATIAN

D. Manifestasi Klinis
Batu ginjal dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai dengan gejala berat. Umumnya
gejala berupa obstruksi aliran kemih dan infeksi. Gejala dan tanda yang dapat ditemukan
pada penderita batu ginjal antara lain :
1. Tidak ada gejala atau tanda
2. Nyeri pinggang, sisi, atau sudut kostovertebral
3. Hematuria makroskopik atau mikroskopik
4. Pielonefritis dan/atau sistitis
5. Pernah mengeluarkan baru kecil ketika kencing
6. Nyeri tekan kostovertebral
7. Batu tampak pada pemeriksaan pencitraan
8. Gangguan faal ginjal.
Efek Batu Pada Saluran Kemih :
Ukuran dan letak batu biasanya menentukan perubahan patologis yang terjadi pada
traktus urinarius :
a. Pada ginjal yang terkena
- Obstruksi

- Infeksi
- Epitel pelvis dan calis ginja menjadi tipis dan rapuh.
- Iskemia parenkim.
- Metaplasia
b. Pada ginjal yang berlawanan
- Compensatory hypertrophy
- Dapat menjadi bilateral
E. Pemeriksaan Penunjang
-

Radiologi
Secara radiologi, batu dapat radiopak atau radiolusen. Sifat radiopak ini berbeda
untuk berbagai jenis batu sehingga dari sifat ini dapat diduga batu dari jenis apa
yang ditemukan. Radiolusen umumnya adalah jenis batu asam urat murni.
Pada yang radiopak pemeriksaan dengan foto polos sudah cukup untuk menduga
adanya batu ginjal bila diambil foto dua arah. Pada keadaan tertentu terkadang
batu terletak di depan bayangan tulang, sehingga dapat luput dari penglihatan.
Oleh karena itu foto polos sering perlu ditambah foto pielografi intravena
(PIV/IVP). Pada batu radiolusen, foto dengan bantuan kontras akan menyebabkan
defek pengisian (filling defect) di tempat batu berada. Yang menyulitkan adalah
bila ginjal yang mengandung batu tidak berfungsi lagi sehingga kontras ini tidak
muncul. Dalam hal ini perludilakukan pielografi retrograde

Ultrasonografi (USG)
Dilakukan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP, yaitu pada
keadaan-keadaan; alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun dan
pada wanita yang sedang hamil (3). Pemeriksaan USG dapat untuk melihat semua
jenis batu, selain itu dapat ditentukan ruang/ lumen saluran kemih. Pemeriksaan
ini juga dipakai unutk menentukan batu selama tindakan pembedahan untuk
mencegah tertinggalnya batu

Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari kelainan kemih yang dapat
menunjang adanya batu di saluran kemih, menentukan fungsi ginjal, dan
menentukan penyebab batu.

Menurut Nasution , Yusum (2001, 299) pemeriksaan yang diperlukan adalah


a. Pemeriksaan urin
Guna mengetahui komponen-komponen yang ada di dalamnya.
b. Pemeriksaan darah lengkap
Dibutuhkan untuk mengetahui kadar darah terutama kandungan ureum dan
kreatinin darah yang berperan dalam menunjukan adanya gangguan pada ginjal
atau tidak.
c. Pemeriksaan BNO- IVP
Untuk mengetahui komponen-komponen didalamnya ginjal dan kandung kemih.
d. Pemeriksaan radiologi (USG, CT-Scan, MRI)
Dengan pemeriksaan radiologi ini, dapat teridentifikasi batu-batu yang kecil yang
sulit ditemukan dengan cara konvensional.

F. Komplikasi
Beberapa komplikasi dari nekrolitiasis
a. Retensi urine
b. Hidroureter
c. Hidronefrosis
d. Abses ginjal
e. Pleonefrosis
f. Urosepsis
g. Gagal ginjal
h. Sumbatan : akibat pecahan batu
i. Infeksi : akibat diseminasi partikel batu ginjal bakteri akibat obstruksi
j. Kerusakan fungsi ginjal : akibat sumbangan yang lama sebelum pegobatan dan
pengangkatan batu ginjal
G. Penatalaksanaan
TUJUAN
a. Menghilangkan batu
b. Menentukan jenis batu
c. Mencegah kerusakan nefron

d. Mengendalikan infeksi
e. Mengurangi infeksi
TINDAKAN
a. Pengurangan nyeri
b. Analisa batu
c. Terapi nutrisi dan medikasi
d. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy)
e. Pengangkatan Batu
1. Terapi medis dan simtomatik
Terapi medis berusaha untuk mengeluarkan batu atau melarutkan batu. Terapi
simtomatik berusaha untuk menghilangkan nyeri. Selain itu dapat diberikan
minum yang berlebihan/ banyak dan pemberian diuretik.
2. Litotripsi
Pada batu ginjal, litotripsi dilakukan dengan bantuan nefroskopi perkutan untuk
membawa tranduser melalui sonde kebatu yang ada di ginjal. Cara ini disebut
nefrolitotripsi. Salah satu alternatif tindakan yang paling sering dilakukan adalah
ESWL. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) yang adalah tindakan
memecahkan batu ginjal dari luar tubuh dengan menggunakan gelombang kejut.
3. Tindakan bedah
Tindakan bedah dilakukan jika tidak tersedia alat litotripsor, alat gelombang kejut,
atau bila cara non-bedah tidak berhasil.

H. Pencegahan
Cara penanggulangan batu ginjal dan kemih bervariasi. Yang utama dicari kasusnya,
letak dan ukuran batunya. Kemudian baru ditentukan diatasi dengan cara yang mana yang
paling tepat atau kombinasi berbagai cara. Kalau letak batu sulit dijangkau atau terlalu
besar, jalan satu-satunya dengan pembedahan. Kalau ginjal yang ditumbuhi batu mulai
rusak, harus diangkat, agar ginjal yang masih sehat tidak ikut rusak.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya batu ginjal yaitu:
a. Obat diuretik thiazid (misalnya trichlormetazid) akan mengurangi pembentukan batu
yang baru.
b. Dianjurkan untuk banyak minum air putih (8-10 gelas per hari)
c. Diet rendah kalsium seperti ikan salam, sarden, keju, sayur kol. Makin tinggi kalsium,
kian tinggi pula eskresinya yang menambah pembentukan kristalisasi garam-garam
kapur.

d. Untuk meningkatkan kadar sitrat (zat penghambat pembentuk batu kalsium) di dalam
air kemih, diberikan kalsium sitrat.
e. Kadar oksalat yang tinggi dalam air kemih, yang menyokong terbentuknya batu
kalsium, merupakan akibat mengkonsumsi makanan yang kaya oksalat (misalnya
bayam, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh). Oleh arena itu asupan makanan
tersebut dikurangi.
f. Pengobatan

penyakit

yang

dapat

menimbulkan

batu

ginjal

seperti

hyperparatiroidisme, sarkoidosis, keracunan vitamin D, asidosis tubulus renalis atau


kanker.
g. Dianjurkan mengurangi asupan daging, ikan dan unggas, jeroan karena makanan
tersebut menyebabkan meningkatnya kadar asam urat di dalam air kemih.
h. Untuk mengurangi pembentukan asam urat biasa diberikan allopurinol.
i. Kurangi minuman bersoda dan es teh karena mengandung asam osfalat yang akan
meningkatkan pembentukan batu dalam ginjal.
j. Mulailah berolahraga dan kurangi berat badan.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN BATU GINJAL

1. Pengkajian
a. Anamnesis
Anamnesa harus dilakukan secara menyeluruh. Keluhan nyeri harus dikejar mengenai
onset kejadian, karakteristik nyeri, penyebaran nyeri, aktivitas yang dapat membuat
bertambahnya nyeri ataupun berkurangnya nyeri, riwayat muntah, gross hematuria,
dan riwayat nyeri yang sama sebelumnya. Penderita dengan riwayat batu sebelumnya
sering mempunyai tipe nyeri yang sama.
b. Pemeriksaan Fisik
-

Penderita dengan keluhan nyeri kolik hebat, dapat disertai takikardi, berkeringat,
dan nausea.

Masa pada abdomen dapat dipalpasi pada penderita dengan obstruksi berat atau
dengan hidronefrosis.

Bisa didapatkan nyeri ketok pada daerah kostovertebra, tanda gagal ginjal dan
retensi urin.

Demam, hipertensi, dan vasodilatasi kutaneus dapat ditemukan pada pasien


dengan urosepsis

c. Keluhan nyeri dan ketidaknyaman (intensitas, lokasi, sifat, dan frekuensi)


d. Keluhan gangguan abdomen (mual, muntah, diare, dan distensi abdomen)
e. Tanda2 UTI : menggigil, demam, dysuria, sering berkemih, hesistancy

f. Tanda2 Obstruksi : dysuria, polyuria jumlah sedikit, oliguria atau anuria


g. Observasi konsistensi urine 24 jam : endapan batu, darah (hematuria)
h. Riwayat penyakit dahulu (infeksi), pengobatan, riwayat dehidrasi, immobilisasi
i. Riwayat Kesehatan Keluarga
j. Pola Nutrisi (intake makanan)

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri b.d. inflamasi, obstruksi dan abrasi traktus urinarius
b. Gangguan pola berkemih (BAK) : spesifik b.d. terbentuknya batu di (spesifik)
c. Resiko kurang volume cairan b.d. ketidakadekuatan intake cairan (mual/muntah) efek
iritasi syaraf abdominal/pelvic karena batu ginjal/ureter
d. Kurang pengetahuan ttg kondisi, prognosa penyakit, program pengobatan dan
pencegahan kekambuhan batu renal
e. Resiko komplikasi : infeksi, sepsis, gga, dll b.d. proses abrasi/iritasi sekunder
pembentukan batu di . (spesifik)

3. Intervensi Keperawatan
PRE OPERATIF
a. Nyeri b.d. inflamasi, obstruksi dan abrasi traktus urinarius
DS:
- Klien mengatakan nyeri di daerah perut bagian bawah tembus ke belakang
DO :
-

Klien tampak meringis

Nyeri tekan pada perut bagian bawah (daerah sympisis)

Klien tampak mengelus-elus daerah perut bagian bawah

Tujuan: Nyeri berkurang/teratasi


Criteria hasil:
-

Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang.

Ekspresi wajah tampak rileks

Klien dapat mengontrol nyeri dengan melakukan teknik napas dalam.

Intervensi :
PENGURANGAN NYERI / KETIDAK- NYAMANAN
-

Kaji karakteristik dan skala nyeri

Beri pendampingan dan posisi nyaman

Kaji TTV

Cegah injury saat nyeri (kolik) timbul, spt aktivitas dapat mengurangi nyeri, bantu
saat ambulasi

Ajarkan/anjurkan tehnik relaksasi, distraksi

Kolaborasi pemberian analgetik

b. Gangguan pola berkemih (BAK) : spesifik b.d. terbentuknya batu di (spesifik)


DS :
-

Klien mengatakan merasa susah BAK, BAK tidak lancar, sering BAK terputusputus

Klien sering merasa ingin BAK tapi tidak bisa keluar

DO :
-

Hematuria

Retensi urine

Distensi pada abdomen bagian bawah (daerah sympisis)

Tujuan : Gangguan eliminasi urine, retensi urine berkurang/teratasi


Criteria hasil :
-

Klien dapat BAK spontan

Produksi urine kembali normal 30- 50 cc /jam

Kandung kemih kosong saat di palpasi

Intervensi :
POLA BERKEMIH KEMBALI NORMAL
-

Monitor I O adekuat

Monitor karakteristik, frekuensi & jumlah urine dlm 24 jam

Anjurkan intake cairan adekuat (bila tdk ada kontraindikasi)

Kolaborasi px penunjang dan persiapan pasien utk tindakan medis

c. Resiko kurang volume cairan b.d. ketidakadekuatan intake cairan (mual/muntah) efek
iritasi syaraf abdominal/pelvic karena batu ginjal/ureter
Tujuan : intake dan output cairan seimbang.
Criteria hasil :
-

Tidak mual, muntah.

Berat badan normal

Intervensi :
PENCEGAHAN KURANG VOLUME CAIRAN
-

Monitor I O adekuat

Kaji keluhan mual, muntah, observasi karakteristik muntah

Observasi dan anjurkan keadekuatan intake cairan dalam batas toleransi jantung
dan ginjal, k/p timbang BB

Kolaborasi pemberian cairan infus, pemeriksaan lab, antiemetik

d. Kurang pengetahuan ttg kondisi, prognosa penyakit, program pengobatan dan


pencegahan kekambuhan batu renal
DS :
-

Klien mengatakan tidak tahu tentang penyebab penyakitnya

DO :
-

Klien bertanya tentang dan kondisi penyakitnya.

Tujuan : Klien menunjukkan perubahan pengetahuan


Kriteria hasil :
-

Klien tahu tentang penyakitnya dan tujuan tindakan/pengobatan

Klien dan keluarga berpartisipasi dalam pengobatan dan perawatan

Intervensi :
MENINGKATKAN PENGETAHUAN PASIEN DAN KELUARGA
-

Kaji tingkat pengetahuan & latar belakang pendidikan pasien dan keluarga

Beri pend kesehatan utk pencegahan kekambuhan batu renal, spt :

Patuhi program diet

Pertahankan intake cairan 3 4 l/hr, khususnya ap dlm jumlah cukup pd sore hari
utk mencegah urine pekat pd malam hari

Hindari kondisi dehidrasi (aktivitas >>, berjemur)

Hindari menahan BAK

Lapor bila timbul tanda2 infeksi

Kolaborasi medik utk pemberian IC adekuat

Beri reinforcement atas respon positif pasien dan keluarga

e. Resiko komplikasi : infeksi, sepsis, gga, dll b.d. proses abrasi/iritasi sekunder
pembentukan batu di . (spesifik)
Tujuan : tidak terjadi infeksi atau sepsis
Criteria hasil :
-

Tidak ada edema

Tidak ada infeksi atau sepsis

Intervensi :
PENCEGAHAN KOMPLIKASI
-

Kaji tanda2 awal terjadinya infeksi atau sepsis (menggigil, demam, dsb)

Kaji tanda2 terjadinya GGA (karakteristik dan jumlah urine / 24 jam, edema,
px.penunjang, dsb)

POST OPERASI
a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya/rusaknya kontinuitas jaringan
DS :
-

Klien mengatakan nyeri pada daerah bekas operasi

DO :
-

Klien tampak gelisah

Ekspresi wajah klien tampak meringis

Klien tampak berhati-hati dengan daerah bekas operasi

TTV dalam keadaan abnormal

Tujuan : Nyeri hilang/berkurang dalam jangka waktu 3 hari perawatan

Criteria hasil :
-

Nyeri berkurang/hilang

Klien tampak rileks

Tanda-tanda vital dalam batas normal

Intervensi :
1. Kaji tingkat nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0 - 10).
2. Observasi tanda-tanda vital
3. Berikan tindakan kenyamanan seperti perubahan posisi.
4. Ajarkan teknik latihan napas dalam, pedoman imajinasi.
5. Penatalaksanaan analgetik sesuai indikasi.

b. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang pengobatan dan


perawatan selanjutnya.
DS :
-

Klien mengatakan merasa cemas dengan kondisi/keadaan penyakitnya.

DO :
-

Klien tampak gelisah, cemas

Ekspresi wajah nampak tegang

Tanda-tanda vital dalam keadaan abnormal

Tujuan : Ansietas teratasi dalam jangka waktu 3 hari perawatan.


Kriteria Hasil :
-

Cemas berkurang/hilang

Klien nampak tenang

Intervensi :
1. Buat hubungan saling percaya dengan klien/orang terdekat.
2. Berikan informasi tentang penyakitnya dan teknik pengobatannya.
3. Bantu pasien/orang terdekat untuk menyatakan masalah/perasaan.
4. Beri penguatan informasi klien yang telah diberikan sebelumnya.

c. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan insisi bedah/ adanya luka operasi
dan prosedur invasive.
DS : DO :
-

Nampak adanya luka operasi dibalut perban.

Terpasang infuse

Terpasang kateter

Terpasang drain

Tujuan : Infeksi tidak terjadi dan mencapai waktu penyembuhan


Kriteria hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi
Intervensi :
1. Awasi tanda-tanda vital, perhatikan demam ringan, menggigil, nadi dan
pernafasan cepat, gelisah.
2. Observasi daerah luka operasi.
3. Lakukan perawatan luka dengan menggunakan teknik aseptik dan septic.
4. Ganti balutan dengan sering, pembersihan dan pengeringan kulit sepanjang masa
penyembuhan.
5. Kolaborasikan pemberian antibiotik sesuai indikasi

4. Evaluasi
a. Nyeri teratasi
b. Pola berkemih (BAK) normal
c. Volume cairan adekuat (tidak terjadi dehidrasi)
d. Pengetahuan pasien dan keluarga bertambah
e. Tidak terjadi komplikasi

DAFTAR PUSTAKA
Sjamsuhidrajat R, 1 W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 2004. 756-763.
Brunner & Suddarth (2002). Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8, volume 2,
EGC.Jakartta.

Purnomo BB. Dasar-Dasar Urologi. Edisi Ke-2. Jakarta : Perpustakaan Nasional


republik Indonesia. 2003. 62-65.
Tanagho EA, McAninch JW. Smiths General Urology. Edisi ke-16. New York :
Lange Medical Book. 2004. 256-283.