Anda di halaman 1dari 10

Pemeriksaan Darah Laboratorium Forensik

Dalam setiap melakukan visum, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk


memperjelas dan membuktikan kebenaran suatu kasus. Karena sebenarnya,
pada setiap kejadian kejahatan hampir selalu ada barang bukti yang tertinggal,
seperti yang dipergunakan oleh seorang ahli hukum kenamaan Italia yang
bernama E. Ferri, 1859-1927, bahwa ada yang dinamakan saksi diam yang
terdiri antara lain atas :
1. Benda atau tubuh manusia yang telah mengalami kekerasan.
2. Senjata atau alat yang dipakai untuk melakukan kejahatan.
3. Jejak atau bekas yang ditinggalkan oleh si penjahat pada tempat kejadian.
4. Benda-benda yang terbawa oleh si penjahat baik yang berasal dari benda
atau tubuh manusia yang mengalami kekerasan maupun yang berasal dari
tempat kejadian.
5. Benda-benda yang tertinggal pada benda atau tubuh manusia yang
mengalami kekerasan atau ditempat kejadian yang berasal dari alat atau senjata
yang dipakai ataupun berasal dari si penjahat sendiri.
Bila saksi diam tersebut diteliti dengan memanfaatkan berbagai macam ilmu
forensik (forensic sciences) maka tidak mustahil kejahatan tersebut akan dapat
terungkap dan bahkan korban yang sudah membusuk atau hangus serta
pelakunya akan dapat dikenali. Sebagai contoh, pada kasus infantisida, untuk
kepentingan pengadilan perlu diketahui apakah bayi tersebut lahir hidup
kemudian meninggal karena pembunuhan atau memang lahir mati, dengan
mudah dapat kita ketahui dengan melakukan pemeriksaan hidrostatik, dimana
bila jaringan paru yang dicelupkan ke dalam air tawar tersebut mengapung
maka bayi tersebut dilahirkan dalam keadaan hidup.
1. Pemeriksaan Laboratorium Forensik Darah
Pemeriksaan bercak darah merupakan salah satu pemeriksaan yang paling
sering dilakukan pada laboratorium forensik. Karena darah mudah sekali
tercecer pada hampir semua bentuk tindakan kekerasan, penyelidikan terhadap
bercak darah ini sangat berguna untuk mengungkapkan suatu tindakan kriminil.
Pemeriksaan darah pada forensik sebenarnya bertujuan untuk membantu
identifikasi pemilik darah tersebut.
Sebelum dilakukan pemeriksaan darah yang lebih lengkap, terlebih dahulu kita
harus dapat memastikan apakah bercak berwarna merah itu darah. Oleh sebab
itu perlu dilakukan pemeriksaan guna menentukan :
a. Bercak tersebut benar darah
b. Darah dari manusia atau hewan
c. Golongan darahnya, bila darah tersebut benar dari manusia
Untuk menjawab pertanyaan pertanyaan diatas, harus dilakukan pemeriksaan
laboratorium sebagai berikut :

a. Persiapan
Bercak yang menempel pada suatu objek dapat dikerok kemudian direndam
dalam larutan fisiologis, atau langsung direndam dengan larutan garam fisiologis
bila menempel pada pakaian.
b. Pemeriksaan Penyaringan (presumptive test)
Ada banyak tes penyaring yang dapat dilakukan untuk membedakan apakah
bercak tersebut berasal dari darah atau bukan, karena hanya yang hasilnya
positif saja yang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Prinsip pemeriksaan penyaringan:
H2O2 > H2O + On
Reagen -> perubahan warna (teroksidasi)
Pemeriksaan penyaringan yang biasa dilakukan adalah dengan reaksi benzidine
dan reaksi fenoftalin. Reagen dalam reaksi benzidine adalah larutan jenuh Kristal
Benzidin dalam asetat glacial, sedangkan pada reaksi fenoftalin digunakan
reagen yang dibuat dari Fenolftalein 2g + 100 ml NaOH 20% dan dipanaskan
dengan biji biji zinc sehingga terbentuk fenolftalein yang tidak berwarna.
Hasil positif menyatakan bahwa bercak tersebut mungkin darah sehingga perlu
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan hasil negative pada kedua reaksi
tersebut memastikan bahwa bercak tersebut bukan darah.
1. Reaksi Benzidine (Test Adler)
Dulu Benzidine test pada forensic banyak dilakukan oleh Adlers (1904). Tes
Benzidine atau Test Adler lebih sering digunakan dibandingkan dengan tes
tunggal pada identifikasi darah lainnya. Karena merupakan pemeriksaan yang
paling baik yang telah lama dilakukan. Pemeriksaan ini sederhana, sangat
sensitif dan cukup bermakna. Jika ternyata hasilnya negatif maka dianggap tidak
perlu untuk melakukan pemeriksaan lainnya.
Cara pemeriksaan reaksi Benzidin:
Sepotong kertas saring digosokkan pada bercak yang dicurigai kemudian
diteteskan 1 tetes H202 20% dan 1 tetes reagen Benzidin.
Hasil:
Hasil positif pada reaksi Benzidin adalah bila timbul warna biru gelap pada kertas
saring.
2. Reaksi Phenolphtalein (Kastle Meyer Test)
Prosedur test identifikasi yang sekarang ini, mulai banyak menggunakan
Phenolphtalein. Pada penelitian yang dilakukan oleh Kastle (1901,1906), zat ini
menghasilkan warna merah jambu terang saat digunakan pada test identifikasi
darah.
Cara Pemeriksaan reaksi Fenolftalein:
Sepotong kertas saring digosokkan pada bercak yang dicurigai langsung
diteteskan reagen fenolftalein.
Hasil:
Hasil positif pada reaksi Fenoftalin adalah bila timbul warna merah muda pada

kertas saring.

c. Pemeriksaan Meyakinkan/Test Konfirmasi Pada Darah


Setelah didapatkan hasil bahwa suatu bercak merah tersebut adalah darah maka
dapat dilakukan pemeriksaan selanjutnya yaitu pemeriksaan meyakinkan darah
berdasarkan terdapatnya pigmen atau kristal hematin (hemin) dan
hemokhromogen.
Terdapat empat jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memastikan
bercak darah tersebut benar berasal dari manusia, yaitu :
1. Cara kimiawi
Terdapat dua macam tes yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa yang
diperiksa itu bercak darah, atas dasar pembentukan kristal-kristal hemoglobin
yang dapat dilihat dengan mata telanjang atau dengan mikroskopik. Tes tersebut
antara lain tes Teichmann dan tes Takayama.
a. Test Teichman (Tes kristal haemin)
Pertama kali dilakukan oleh Teicmann (1853). Test diawali dengan memanaskan
darah yang kering dengan asam asetat glacial dan chloride untuk membentuk
derivate hematin. Kristal yang terbentuk kemudian diamati di bawah mikroskop,
biasanya Kristal muncul dalam bentuk belah-belah ketupat dan berwarna coklat.
(1)
Cara pemeriksaan:
Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca obyek tambahkan 1 butir
kristal NaCL dan 1 tetes asam asetat glacial, tutup dengan kaca penutup dan
dipanaskan.
Hasil:
Hasil positif dinyatakan dengan tampaknya Kristal hemin HCL yang berbentuk
batang berwarna coklat yang terlihat dengan mikroskopik. (1)
Kesulitan :
Mengontrol panas dari sampel karena pemanasan yang terlalu panas atau terlalu
dingin dapat menyebabkan kerusakan pada sampel.
b. Test Takayama (Tes kristal B Hemokromogen)
Apabila heme sudah dipanaskan dengan seksama dengan menggunakan
pyridine dibawah kondisi basa dengan tambahan sedikit gula seperti glukosa,
Kristal pyridine ferroprotoporphyrin atau hemokromogen akan terbentuk. (2)
Cara kerja:
Tempatkan sejumlah kecil sampel yang berasal dari bercak pada gelas objek dan
biarkan reagen takayama mengalir dan bercampur dengan sampel. Setelah fase
dipanaskan, lihat di bawah mikroskop.
Hasil :
Hasil positif dinyatakan dengan tampaknya kristal halus berwarna merah jambu
yang terlihat dengan mikroskopik.

Kelebihan:
Test dapat dilakukan dan efektif dilakukan pada sampel atau bercak yang sudah
lama dan juga dapat memunculkan noda darah yang menempel pada baju.
Selain itu test ini juga memunculkan hasil positif pada sampel yang mempunyai
hasil negative pada test Teichmann.
Selain dua tes tersebut terdapat juga tes yang digunakan untuk memastikan
bercak tersebut berasal dari darah, yaitu :
c. Pemeriksaan Wagenaar
Cara pemeriksaan:
Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca obyek, letakkan juga sebutir
pasir, lalu tutup dengan kaca penutup sehingga antara kaca obyek dan kaca
penutup terdapat celah untuk penguapan zat. Kemudian pada satu sisi
diteteskan aseton dan pada sisi lain di tetes kan HCL encer, kemudian
dipanaskan.
Hasil:
Hasil positif bila terlihat Kristal aseton hemin berbentuk batang berwarna coklat.
Hasil negative selain menyatakan bahwa bercak tersebut bukan bercak darah,
juga dapat dijumpai pada pemeriksaan terhadap bercak darah yang struktur
kimiawinya telah rusak, misalnya bercak darah yang sudah lama sekali, terbakar
dan sebagainya.
2. Cara serologik
Pemeriksaan serologik berguna untuk menentukan spesies dan golongan darah.
Untuk itu dibutuhkan antisera terhadap protein manusia (anti human globulin)
serta terhadap protein hewan dan juga antisera terhadap golongan darah
tertentu.
Prinsip pemeriksaan adalah suatu reaksi antara antigen (bercak darah) dengan
antibody (antiserum) yang dapat merupakan reaksi presipitasi atau reaksi
aglutinasi.
a. Test Presipitin Cincin
Test Presipitin Cincin menggunakan metode pemusingan sederhana antara dua
cairan didalam tube. Dua cairan tersebut adalah antiserum dan ekstrak dari
bercak darah yang diminta untuk diperiksa.
Cara pemeriksaan :
Antiserum ditempatkan pada tabung kecil dan sebagian kecil ekstrak bercak
darah ditempatkan secara hati-hati pada bagian tepi antiserum. Biarkan pada
temperatur ruang kurang lebih 1,5 jam. Pemisahan antara antigen dan antibody
akan mulai berdifusi ke lapisan lain pada perbatasan kedua cairan.
Hasil:
Akan terdapat lapisan tipis endapan atau precipitate pada bagian antara dua
larutan. Pada kasus bercak darah yang bukan dari manusia maka tidak akan
muncul reaksi apapun.
b. Reaksi presipitasi dalam agar.
Cara pemeriksaan :

Gelas obyek dibersihkan dengan spiritus sampai bebas lemak, dilapisi dengan
selapis tipis agar buffer. Setelah agak mengeras, dibuat lubang pada agar
dengan diameter kurang lebih 2 mm, yang dikelilingi oleh lubang-lubang sejenis.
Masukkan serum anti-globulin manusia ke lubang di tengah dan ekstrak darah
dengan berbagai derajat pengenceran di lubang-lubang sekitarnya. Letakkan
gelas obyek ini dalam ruang lembab (moist chamber) pada temperature ruang
selama satu malam.
Hasil :
Hasil positif memberikan presipitum jernih pada perbatasan lubang tengah dan
lubang tepi.
Pembuatan agar buffer :
1 gram agar; 50 ml larutan buffer Veronal pH 8.6; 50 ml aqua dest; 100 mg.
Sodium Azide. Kesemuanya dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer, tempatkan
dalam penangas air mendidih sampai terbentuk agar cair. Larutan ini disimpan
dalam lemari es, yang bila akan digunakan dapat dicairkan kembali dengan
menempatkan labu di dalam air mendidih. Untuk melapisi gelas obyek,
diperlukan kurang lebih 3 ml agar cair yang dituangkan ke atasnya dengan
menggunakan pipet.
Selain dua tes tersebut terdapat juga tes yang digunakan untuk mengkonfirmasi
bercak darah tersebut, yaitu :
3. Pemeriksaan Mikroskopik
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat morfologi sel darah merah.
Cara pemeriksaan :
Darah yang masih basah atau baru mengering ditaruh pada kaca obyek
kemudian ditambahkan 1 tetes larutan garam faal, dan ditutup dengan kaca
penutup, lihat dibawah mikroskop.
Cara lain, dengan membuat sediaan apus dengan pewarnaan Wright atau
Giemsa.
Hasil :
Pemeriksaan mikroskopik kedua sediaan tersebut hanya dapat menentukan
kelas dan bukan spesies darah tersebut.
Kelas mamalia mempunyai sel darah merah berbentuk cakram dan tidak berinti,
sedangkan kelas lainnya berbentuk oval atau elips dan tidak berinti Bila terlihat
adanya drum stick dalam jumlah lebih dari 0,05%, dapat dipastikan bahwa darah
tersebut berasal dari seorang wanita.
Kelebihan:
Dapat terlihatnya sel sel leukosit berinti banyak. Dapat terlihat adanya drum
stick pada pemeriksaan darah seorang wanita.
Pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan setelah suatu bercak merah benar
bercak darah dan benar bercak darah manusia, meliputi :
Penentuan Golongan Darah
American Association of Blood Banks mendefinisikan golongan darah sebagai
kumpulan antigen yang diproduksi oleh alel gen. Bagaimanapun, golongan darah

secara genetic dikontrol dan merupakan karakteristik yang seumur hidup dapat
diperiksa karena berbeda pada tiap individual.
Darah yang telah mengering dapat berada dalam pelbagai tahap kesegaran.
Bercak dengan sel darah merah masih utuh.
Bercak dengan sel darah merah sudah rusak tetapi dengan aglutinin dan
antigen yang masih dapat di deteksi;
Sel darah merah sudah rusak dengan jenis antigen yang masih dapat dideteksi
namun sudah terjadi kerusakan aglutinin.
Sel darah merah sudah rusak dengan antigen dan agglutinin yang juga sudah
tidak dapat dideteksi.
Bila didapatkan sel darah merah dalam keadaan utuh
Penentuan golongan darah dapat dilakukan secara langsung seperti pada
penentuan golongan darah orang hidup, yaitu dengan meneteskan 1 tetes
antiserum ke atas 1 tetes darah dan dilihat terjadinya aglutinasi. Aglutinasi yang
terjadi pada suatu antiserum merupakan golongan darah bercak yang diperiksa,
contoh bila terjadi aglutinasi pada antiserum A maka golongan darah bercak
darah tersebut adalah A.

Bila sel darah merah sudah rusak


Penentuan golongan darah dapat dilakukan dengan cara menentukan jenis
aglutinin dan antigen. Antigen mempunyai sifat yang jauh lebih stabil
dibandingkan dengan aglutinin. Di antara system-sistem golongan darah, yang
paling lama bertahan adalah antigen dari system golongan darah ABO.
Penentuan jenis antigen dapat dilakukan dengan cara absorpsi inhibisi, absorpsi
elusi atau aglutinasi campuran. Cara yang biasa dilakukan adalah cara absorpsi
elusi dengan prosedur sebagai berikut:
Cara pemeriksaan :
2-3 helai benang yang mengandung bercak kering difiksasi dengan metil alcohol
selama 15 menit. Benang diangkat dan dibiarkan mengering. Selanjutnya

dilakukan penguraian benang tersebut menjadi serat-serat halus dengan


menggunakan 2 buah jarum. Lakukan juga terhadap benang yang tidak
mengandung bercak darah sebagai control negative.
Serat benang dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi. Ke dalam tabung pertama
diteteskan serum anti-A dan kedalam tabung kedua serum anti-B hingga serabut
benang tersebut teredam seluruhnya. Kemudian tabung-tabung tersebut
disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu 4 derajat Celcius selama satu
malam.
Lakukan pencucian dengan menggunakan larutan garam faal dingin (4 derajat
Celcius) sebanyak 5-6 kali lalu tambahkan 2 tetes suspense 2% sel indicator (sel
daram merah golongan A pada tabung pertama dan golongan B pada tabung
kedua), pusing dengan kecepatan 1000 RPM selama 1 menit. Bila tidak terjadi
aglutinasi, cuci sekali lagi dan kemudian tambahkan 1-2 tetes larutan garam faal
dingin. Panaskan pada suhu 56 derajat Celcius selama 10 menit dan pindahkan
eluat ke dalam tabung lain. Tambahkan 1 tetes suspense sel indicator ke dalam
masing-masing tabung, biarkan selama 5 menit, lalu pusing selama 1 menit
pada kecepatan 1000 RPM.
Hasil :
Pembacaan hasil dilakukan secara makroskopik. Bila terjadi aglutinasi berarti
darah mengandung antigen yang sesuai dengan antigen sel indicator.
Pemeriksaan golongan darah juga dapat membantu mengatasi kasus paternitas.
Hal ini berdasarkan Hukum Mendel yang mengatakan bahwa antigen tidak
mungkin muncul pada anak, jika antigen tersebut tidak terdapat pada salah satu
atau kedua orang tuanya. Orang tua yang homozigotik pasti meneruskan gen
untuk antigen tersebut kepada anaknya. (Anak dengan golongan darah O tidak
mungkin mempunyai orang tua yang bergolongan darah AB).
Perlu diingat bahwa Hukum Mendel tetap berdasarkan kemungkinan
(probabilitas), sehingga penentuan ke-ayah-an dari seorang anak tidak dapat
dipastikan, namun sebaliknya kita dapat memastikan seseorang adalah bukan
ayah seorang anak (singkir ayah/paternity exclusion).
Bila dicurigai penyebab kematian adalah keracunan maka dapat
dilakukan pemeriksaan darah sebagai berikut :
1. Pemeriksaan CO (karbon monoksida)
a. Untuk penentuan COHb secara kualitatif dapat dikerjakan uji difusi alkali.
i. Ambil 2 tabung reaksi. Masukkan ke dalam tabung pertama 1-2 tetes darah
korban dan tabung kedua 1-2 tetes darah normal sebagai kontrol. Encerkan
masing-masing darah dengan menambahkan 10 ml air sehingga warna merah
pada kedua tabung kurang lebih sama.
ii. Tambahkan pada masing-masing tabung 5 tetes larutan NaOH 10-20%, lalu
dikocok. Darah normal segera berubah warna menjadi merah hijau kecoklatan
karena segera terbentuk hematin alkali, sedangkan darah yang mengandung
COHb tidak berubah warnanya untuk beberapa waktu, tergantung pada

konsentrasi COHb, karena COHb lebih bersifat resisten terhadap pengaruh alkali.
COHb dengan kadar saturasi 20% memberi warna merah muda (pink) yang
bertahan selama beberapa detik, dan setelah 1 menit baru berubah warna
menjadi coklat kehijauan.
iii. Perlu diperhatikan bahwa darah yang dapat digunakan sebagai kontrol dalam
uji dilusi alkali ini haruslah darah dengan Hb yang normal. Jangan gunakan darah
foetus karena dikatakan bahwa darah foetus juga bersifat resisten terhadap
alkali.
b. Dapat pula dilakukan uji formalin (Eachloz-Liebmann).
Darah yang akan diperiksa ditambahkan larutan formalin 40% sama banyaknya.
Bila darah mengandung COHb 25% saturasi maka akan terbentuk koagulat
berwarna merah yang mengendap pada dasar tabung reaksi. Semakin tinggi
kadar COHb, semakin merah warna koagulatnya. Sedangkan pada darah normal
akan terbentuk koagulat yang berwarna coklat.
c. Cara Gettler-Freimuth (semi-kuantitatif)
Prinsipnya sebagai berikut :
Darah + Kalium ferisianida CO dibebaskan dari COHb
CO + PdCl2 + H2O Pd + CO2 + HCl
Paladium (Pd) ion akan diendapkan pada kertas saring berupa endapan
berwarna hitam. Dengan membandingkan intensitas warna hitam tersebut
dengan warna hitam yang diperoleh dari pemeriksaan terhadap darah dengan
kadar COHb yang diketahui, maka dapat ditentukan konsentrasi COHb secara
semi kuantitatif.
2. Pemeriksaan Alkohol
Bau alkohol bukan merupakan diagnosis pasti keracunan. Diagnosis pasti hanya
dapat ditegakkan dengan pemeriksaan kuantitatif kadar alkohol darah. Kadar
alkohol dari udara ekspirasi dan urin dapat dipakai sebagai pilihan kedua. Untuk
korban meninggal sebagai pilihan kedua dapat diperiksa kadar alkohol dalam
otak, hati, atau organ lain atau cairan tubuh lain seperti cairan serebrospinalis.
Penentuan kadar alkohol dalam lambung saja tanpa menentukan kadar alkohol
dalam darah hanya menunjukkan bahwa orang tersebut telah minum alkohol.
Pada mayat, alkohol dapat didifusi dari lambung ke jaringan sekitarnya termasuk
ke dalam jantung, sehingga untuk pemeriksaan toksikologik, diambil darah dari
pembuluh darah vena perifer (kubiti atau femoralis).
Salah satu cara penentuan semikuantitatif kadar alkohol dalam darah yang
cukup sederhana adalah teknik modifikasi mikrodifusi (Conway), sebagai
berikut :
Letakkan 2 ml reagen Antie ke dalam ruang tengah. Reagen Antie dibuat dengan
melarutkan 3,70 gr kalium dikromat ke dalam 150 ml air. Kemudian tambahkan
280 ml asam sulfat dan terus diaduk. Encerkan dengan 500 ml akuades.
Sebarkan 1 ml darah yang akan diperiksa dalam ruang sebelah luar dan
masukkan 1 ml kalium karbonat jenuh dalam ruang sebelah luar pada sisi

berlawanan.
Tutup sel mikrodifusi, goyangkan dengan hati-hati supaya darah bercampur
dengan larutan kalium karbonat. Biarkan terjadi difusi selama 1 jam pada
temperatur ruang. Kemudian angkat tutup dan amati perubahan warna pada
reagen Antie.
Warna kuning kenari menunjukkan hasil negatif. Perubahan warna kuning
kehijauan menunjukkan kadar etanol sekitar 80mg %, sedangkan warna hijau
kekuningan sekitar 300mg %.
Kadar alkohol darah yang diperoleh dari pemeriksaan belum menunjukkan kadar
alkohol darah pada saat kejadian. Hasil ini akibat dari pengambilan darah
dilakukan beberapa saat setelah kejadian, sehingga yang dilakukan adalah
perhitungan kadar alkohol darah saat kejadian. Meskipun kecepatan eliminasi
kira-kira 14-15 mg%, namun pada perhitungan harus juga dipertimbangkan
kemungkinan kesalahan pengukuran dan kesalah perkiraan kecepatan eliminasi.
Gruner (1975) menganjurkan angka 10 mg% per jam digunakan dalam
perhitungan. Sebagai contoh, bila ditemukan kadar alkohol darah 50mg% yang
diperiksa 3 jam setelah kejadian, akan memberikan angka 80 mg% pada saat
kejadian.
Interpretasi Hasil pada Tes Edson.
aktifitas AchE darah : 75% 100% dari normal(Tidak ada keracunan)
50% 75% dari normal(Keracunan ringan)
25% 50% dari normal(Keracunan)
0% 25% dari normal(Keracunan berat)
Cara Acholest :
Ambil serum darah korban dan teteskan pada kertas Acholest bersamaan
dengan kontrol serum darah normal. Pada kertas Acholest sudah terdapat Ach
dan indikator. Waktu perubahan warna pada kertas tersebut dicatat. Perubahan
warna harus sama dengan perubahan warna pembanding (serum normal) yaitu
warna kuning telur.
Interpretasi :
Kurang dari 18 menit tidak ada keracunan
20-35 menit keracunan ringan
35-150 menit keracunan berat
Kromatografi lapisan tipis (TLC)
Kaca berukuran 20 x 20 cm, dilapisi dengan absorben gel silikat atau dengan
aluminium oksida, lalu dipanaskan dalam oven 110 derajat celcius selama 1 jam.
Filtrat yang akan diperiksa (hasil ekstraksi dari darah atau jaringan korban)
diteteskan dengan mikropipet pada kaca. Disertai dengan tetesan lain yang
telah diketahui golongan dan jenis serta konsentrasinya sebagai pembanding.
Ujung kaca TLC dicelupkan ke dalam pelarut, biasanya n-Hexan. Celupan tidak

boleh mengenai tetesan tersebut di atas. Dengan daya kapilaritas maka pelarut
akan ditarik ke atas sambil melarutkan filtrat-filtrat tadi. Setelah itu kaca TLC
dikeringkan lalu disemprot dengan reagensia Paladium klorida 0,5% dalam HCl
pekat, kemudian dengan Difenilamin 0,5% dalam alkohol.
Hasilnya :
Warna hitam (gelap) berarti golongan hidrokarbon terklorinasi. Warna hijau
dengan dasar dadu berarti golongan organofosfat. Untuk menentukan jenis
dalam golongannya dapat dilakukan dengan menentukan Rf masing-masing
bercak.
Rf = jarak yang ditempuh bercak
Jarak yang ditempuh pelarut
Angka yang didapat dicocokan dengan standar, maka jenisnya dapat ditentukan.
Dengan membandingkan besar bercak dan intensitas warnanya dengan
pembanding, dapat diketahui konsentrasi secara semikuantitatif.
4. Pemeriksaan Sianida
Uji kertas saring.
Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan asam pikrat jenuh, biarkan hingga
menjadi lembab. Teteskan satu tetes isi lambung atau darah korban, diamkan
sampai agak mengering, kemudian teteskan Na2CO3 10 % 1 tetes. Uji positif bila
terbentuk warna ungu.
Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan HNO3 1%, kemudian ke dalam larutan
kanji 1% dan keringkan. Setelah itu kertas saring dipotong-potong seperti kertas
lakmus. Kertas ini dipakai untuk pemeriksaan masal pada pekerja yang diduga
kontak dengan CN. Caranya dengan membasahkan kertas dengan ludah di
bawah lidah. Uji positif bila warna berubah menjadi biru. Hasil uji berwarna biru
muda meragukan sedangkan bila warna tidak berubah (merah muda) berarti
tidak dapat keracunan.
Kertas saring dicelup ke dalam larutan KCL, dan dipotong kecil-kecil. Kertas
tersebut dicelupkan ke dalam darah korban, bila positif maka warna akan
berubah menjadi merah terang karena terbentuk sianmethemoglobin

Anda mungkin juga menyukai