Anda di halaman 1dari 148

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta Sebagai Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana S1 Pendidikan Biologi

Guna Memperoleh Gelar Sarjana S1 Pendidikan Biologi Oleh : AHMAD MIFTAHUDDIN 05304244067 JURUSAN PENDIDIKAN

Oleh :

AHMAD MIFTAHUDDIN

05304244067

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2010

HALAMAN PERSETUJUAN

Tugas Akhir Skripsi

Oleh Ahmad Miftahuddin 05304244067 Menyetujui, Pembimbing I
Oleh
Ahmad Miftahuddin
05304244067
Menyetujui,
Pembimbing I

Skripsi ini telah memenuhi persyaratan dan siap ujian Disetujui pada tanggal 19 November 2009

Sukarni Hidayati, M.Si. NIP. 130681032

Pembimbing II

November 2009 Sukarni Hidayati, M.Si. NIP. 130681032 Pembimbing II Bernadetta Octavia, M.Si. NIP. 196110061986012001 ii

Bernadetta Octavia, M.Si. NIP. 196110061986012001

ii

PENGESAHAN

SKRIPSI

Disusun Oleh :

Ahmad Miftahuddin

05304244067

Telah Dipertahankan Di Depan Dewan Penguji Skripsi Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta Pada Tanggal 15 Januari 2010 Dan Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Guna Memperoleh Gelar S1 Sarjana Pendidikan Biologi

Dewan Penguji Nama Lengkap : Sukarni Hidayati, M.Si. NIP. 130681032 . . . . .
Dewan Penguji
Nama Lengkap
: Sukarni Hidayati, M.Si.
NIP. 130681032
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
: Bernadetta Octavia, M.Si.
NIP. 1961100619860120
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
: Siti Mariyam, M.Kes.
NIP. 1950092819780320
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
: Anna Rakhmawati, M.Si.
NIP. 197701022001122002
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Jabatan

Ketua Penguji

Sekretaris

Penguji Utama

Penguji Pendamping

Tanggal

21-1-10

21-1-10

22-1-10

22-1-10

. . . . Jabatan Ketua Penguji Sekretaris Penguji Utama Penguji Pendamping Tanggal 21-1-10 21-1-10 22-1-10

iii

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, Saya :

Nama

: Ahmad Miftahuddin

NIM

: 05304244067

Jurusan

: Pendidikan Biologi

Fakultas

: Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Judul Karya Ilmiah

: Upaya Meningkatkan Partisipasi Dan Hasil Belajar

Siswa Melalui Model Pembelajaran Cooperative Learning

Tipe Think – Pair – Share Pada Materi Pokok Virus Kelas

XB SMA Pancasila Purworejo Tahun Ajaran 2009/ 2010

Menyatakan bahwa karya ilmiah ini adalah hasil pekerjaan saya sendiri. Sepanjang

pengetahuan saya tidak berisi materi yang ditulis orang lain sebagai persyaratan

penyelesaian studi di perguruan tinggi, kecuali bagian-bagian tertentu yang saya

ambil sebagai acuan dengan mengikuti tata cara dan etika penulisan karya ilmiah

yang lazim.

Apabila

terbukti

bahwa

menjadi tanggung jawab saya.

pernyataan

iv

ini

tidak

benar,

maka

sepenuhnya

Ahmad Miftahuddin NIM. 05304244067
Ahmad Miftahuddin
NIM. 05304244067

Yogyakarta, 19 November 2009 Penulis

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO :

“Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan” (Mario Teguh). ”Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan”(Thomas A. Edison). ”Jika engkau berada di waktu petang, maka janganlah engkau menunggu pagi. Dan jika engkau berada di waktu pagi maka janganlah engkau menunggu petang. Gunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakit. Dan gunakanlah waktu hidupmu sebelum datang waktu mati” (H.R. Ibnu Umar R.A.)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan kepada :

Kedua Orang tuaku yang tercinta

Kakakku “Mas Faozan” dan Adikku “Fahmi”

Sayangku

Almamaterku

v

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada :

1. Bapak Dr. Ariswan, selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta.

2. Bapak Suhandoyo M.S, selaku Kepala Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

3. Bapak Suratsih, M.Si, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

4. Ibu Sukarni Hidayati, M.Si, selaku Pembimbing I dan Ibu Bernadetta Octavia, M.Si, selaku Pembimbing II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan motivasi dengan penuh kesabaran.

5. Bapak Sukirman M.S, selaku Pembimbing Akademik.

6. Bapak Setyo Tjipto, B.A, selaku Kepala Sekolah SMA Pancasila Purworejo yang telah memberi izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian.

7. Ibu Yuni Wuryanti S.P, selaku Guru Biologi SMA Pancasila Purworejo atas kerja sama yang baik selama penelitian berlangsung.

8. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya karya ini.

Yogyakarta, 19 November 2009

vi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PERSETUJUAN

ii

HALAMAN PENGESAHAN

iii

HALAMAN PERNYATAAN

iv

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN

v

KATA PENGANTAR

vi

DAFTAR ISI

vii

DAFTAR TABEL

ix

DAFTAR GAMBAR

x

DAFTAR LAMPIRAN

xi

ABSTRAK

xii

BAB I PENDAHULUAN

1

A. Analisis Situasi

1

B. Identifikasi Masalah

7

C. Batasan Masalah

8

D. Rumusan Masalah

8

E. Tujuan Penelitian

9

F. Manfaat Penelitian

9

G. Definisi Operasional Variabel

10

BAB II KAJIAN PUSTAKA

12

A.

Kajian Teori

12

1. Hakikat Pembelajaran Biologi………….………………………… 12

2. Pembelajaran Biologi di SMA………….………………………… 13

3. Hasil Belajar………………………….…………………………

15

4. Makna dan Pentingnya Strategi Belajar………………………….

16

5. Model Pembelajaran……………………………………………… 17

19

6. Pembelajaran Kooperatif…………………………………………

vii

7.

Cooperative Learning Tipe Think-Pair-Share….………………

25

8. Materi Pembelajaran Virus………………………….…………… 30

B. Penelitian yang Relevan

. 39

C. Kerangka Berfikir

40

D. Hipotesis

41

BAB III METODE PENELITIAN

42

A. Waktu dan Tempat Penelitian

42

B. Desain Penelitian

42

C. Subjek Penelitian

47

D. Instumen dan Teknik Pengumpulan Data

47

E. Indikator Keberhasilan

48

F. Teknik Analisis Data

49

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

50

A.

Hasil Penelitian

50

B.

Pembahasan

63

BAB V

PENUTUP

69

A.

Kesimpulan

69

B.

Saran

69

DAFTAR PUSTAKA

70

LAMPIRAN-LAMPIRAN

73

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Partisipasi Siswa dalam Kegiatan Diskusi Kelas Siklus I

51

Tabel 2. Hasil Pretest dan Postest Siklus I

52

Tabel 3. Partisipasi Siswa dalam Kegiatan Diskusi Kelas Siklus II

54

Tabel 4.Hasil Pretest dan Postest Siklus II

59

Tabel 5. Hasil Postest Siklus I dan Postest Siklus II

60

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Struktur Tubuh Bakteriofag T4

31

Gambar 2. Siklus Litik dan Lisogenik Bakteriofage

34

Gambar 3. Tanaman tembakau yang sehat dan tanaman tembakau yang terserang TM

36

Gambar 4. Struktur Tobacco Mosaic Virus

36

Gambar 5. Proses Penelitian Tindakan

42

Gambar 6. Persentase Partisipasi Siswa dalam Aspek Ketepatan Berpendapat pada Siklus I dan Siklus II

55

Gambar 7. Persentase Partisipasi Siswa dalam Aspek Menanggapi Pendapat pada Siklus I dan Siklus II

56

Gambar 8. Persentase Partisipasi Siswa dalam Aspek Mempertahankan Pendapat pada Siklus I dan Siklus II

56

Gambar 9. Persentase Partisipasi Siswa dalam Aspek Menerima Saran pada Siklus I dan Siklus II

57

Gambar 10. Persentase Partisipasi Siswa dalam Aspek Bertanya pada Siklus I dan Siklus II

57

Gambar 11. Persentase Partisipasi Siswa dalam Aspek Menjawab Pertanyaan pada Siklus I dan Siklus II

58

Gambar 12. Nilai Pretest dan Postest Siswa pada Siklus I dan Siklus II

60

Gambar 13. Persentase Jumlah Siswa yang Mendapat Nilai 60 pada Postest Siklus I Dan Siklus II

61

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. RPP Siklus I Pertemuan Ke- 1

1

Lampiran 2. RPP Siklus I Pertemuan Ke- 2

4

Lampiran 3. RPP Siklus II Pertemuan Ke- 3

7

Lampiran 4. RPP Siklus II Pertemuan Ke- 4

10

Lampiran 5. Kisi-kisi Pretest dan Postest Siklus I

13

Lampiran 6. Kisi-kisi Pretest dan Postest Siklus II

14

Lampiran 7. Soal Pretest Siklus I

15

Lampiran 8. Soal Postest Siklus I

18

Lampiran 9. Soal Pretest Siklus II

21

Lampiran 10. Soal Postest Siklus II

23

Lampiran 11. Kunci Jawaban Pretest dan Postest Siklus I dan II

25

Lampiran 12. Nilai Hasil Pretest dan Postest Siklus I dan II

26

Lampiran 13. Lembar Kegiatan Siswa Pertemuan I, II, III, dan IV

27

Lampiran 14. Lembar Jawaban LKS Pertemuan I, II, III, dan IV

38

Lampiran 15. Kisi-kisi Aktivitas Siswa Selama Pembelajaran

53

Lampiran 16. Hasil Penilaian Aktivitas Siswa dalam Diskusi

55

Lampiran 17. Daftar Kelompok Siswa Kelas XB SMA Pancasila Purworejo

57

Lampiran 18.Dokumentasi

58

Lampiran 19. Surat Izin Penelitian

62

xi

Oleh AHMAD MIFTAHUDDIN NIM. 05304244067

ABSTRAK

Tujuan penilitian ini adalah untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran Biologi kelas XB SMA Pancasila Purworejo melalui model Cooperative Learning tipe Think-Pair-Share pada Materi Pokok Virus, meningkatkan hasil belajar Biologi siswa kelas XB SMA Pancasila Purworejo melalaui model Cooperative Learning tipe Think-Pair-Share pada Materi Pokok Virus.

Penelitian ini diselenggarakan melalui model penelitian Tindakan Kelas (Action Research) yang terdiri dari 2 siklus, dengan menggunakan materi pokok Virus. Tiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Tahap perencanaan yaitu penyusunan rencana pembelajaran yang sesuai dengan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Think-Pair-Share, penyiapan lembar observasi, dan LKS. Tahap pelaksanaan adalah pelaksanaan rencana pembelajaran yang telah disusun. Tahap observasi dilakukan dengan menilai partisipasi siswa yang terjadi dalam proses pembelajaran. Tahap refleksi adalah mengetahui sejauh mana tindakan telah dicapai. Serta memecahkan kendala yang dihadapi sebagai acuan siklus berikutnya. Data yang diperoleh dari lembar observasi dianalisis dengan membandingkan antara Siklus I dan Siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Cooperative Learning tipe Think-Pair-Share dapat meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa. Peningkatan partisipasi siswa dari Siklus I ke Siklus II mencapai > 75% untuk semua aspek penilaian. Untuk peningkatan hasil belajar siswa ditunjukkan oleh hasil Postest dari Siklus I ke Siklus II dengan nilai rata-rata pada siklus I sebesar 41,05 dan pada Siklus II sebesar 67,11.

Kata kunci : Model Cooperative Tipe Think-Pair-Share, Peningkatan Partisipasi

Siswa,

Siswa,

Hasil

Belajar

Virus,

dan

Siswa

Kelas

XB

SMA

Pancasila Purworejo.

xii

A. Analisis Situasi

BAB I PENDAHULUAN

Strategi pembelajaran merupakan salah satu tahap pengembangan

silabus. Agar standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tertuang dalam

silabus tercapai, maka guru perlu menerapkan strategi pembelajaran yang

tepat. Perlu diadakan observasi awal terhadap proses pembelajaran yang

berlangsung di kelas untuk mengetahui apakah strategi pembelajaran yang

dipilih guru sudah tepat atau belum. Sekolah yang diobservasi adalah SMA

Pancasila Purworejo. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah di Kabupaten

Purworejo. Selain sekolah tersebut merupakan sekolah swasta yang dikelola

oleh suatu yayasan, sekolah tersebut juga mempunyai input siswa dengan

kemampuan menengah. Hal ini dilihat berdasarkan Surat Keterangan Hasil

Ujian (SKHU) siswa pada waktu mengikuti ujian nasional tingkat SMP yang

tergolong sedang. Selain itu, guru Biologi yang mengajar juga sudah sangat

senior dan jumlah guru Biologi dalam satu sekolah hanya satu sehingga tidak

adanya kolaborasi dengan guru lain yang mengampu mata pelajaran Biologi

dalam satu sekolah. Guru tersebut juga masih mengajar dengan cara-cara lama

yaitu dengan metode ceramah dan pemberian tugas.

Observasi dilakukan selama 3 kali pertemuan di kelas XB karena

berdasarkan informasi guru Biologi bahwa siswa di kelas ini terkenal pasif dan

kurang responsif bila mengikuti pelajaran Biologi. Hal ini diketahui setelah

dilakukan wawancara dengan guru Biologi dan observasi proses pembelajaran.

1

2

Dari hasil wawancara tersebut, diketahui bahwa strategi yang diterapkan guru

selama ini berupa metode ceramah dan pemberian tugas. Menurut guru,

pembelajaran

Biologi

yang

diampunya

tidak

pernah

lepas

dari

metode

ceramah sehingga metode ini lebih banyak digunakan dalam pembelajaran

yang berlangsung di kelas XB. Alasan lebih seringnya digunakan metode

ceramah karena mudah dalam pelaksanaannya dan tidak membutuhkan waktu

yang banyak.

Pelaksanaan metode ceramah di kelas menekankan pada kegiatan

guru memberikan informasi berupa fakta dan konsep sedangkan siswa hanya

mendengarkan bahan informasi dari guru. Akibatnya siswa hanya dapat

menghafal

informasi

tanpa

diberi

kesempatan

untuk

berkembang

mengkonstruksikan pemikirannya, menemukan sendiri fakta dan konsep, serta

menggunakannya

dalam

pemecahan

masalah

sehari-hari.

Siswa

kurang

diberdayakan sehingga menjadi pasif di kelas dan terlihat bosan dengan pola

pembelajaran yang monoton. Fokus pembelajaran tertuju pada guru sehingga

proses pembelajaran lebih bersifat Teacher - Centered Teaching. Selain itu

kreatifitas siswa juga kurang tergali yang dimungkinkan akibat kurangnya

peran aktif siswa dalam belajar Biologi.

Apabila waktu pelajaran telah habis sedangkan materi yang harus

diberikan

pada

saat

itu

belum

terselesaikan

dan

belum

sepenuhnya

tersampaikan pada siswa, maka guru berinisiatif memberikan tugas. Tugas

yang diberikan berupa tugas membaca buku Biologi tentang materi yang

belum sempat disampaikan dan mengerjakan LKS. Pada kenyataannya banyak

3

siswa tidak mengerjakan tugas tersebut di rumah. Siswa mengaku tidak

membaca materi dan tidak seluruhnya mengerjakan LKS. Alasannya karena

tugas membaca tidak akan dicek oleh guru dan tidak mendapat nilai sehingga

sebagian besar tidak melakukannya. Siswa juga tidak mengerjakan tugas jika

tidak diperintah untuk dikumpulkan. Namun apabila guru menginstruksikan

untuk dikumpulkan, baru siswa mau mengerjakan LKS. Itu pun tidak semua

siswa melakukan. Beberapa siswa juga mengaku baru mengerjakan LKS di

sekolah dengan cara menyalin pekerjaan temannya.

Untuk

mengatasi

siswa

yang

pasif,

guru

menerapkan

metode

pembelajaran

yang

lain

yaitu

diskusi.

Dari

hasil

observasi

yang

telah

dilakukan, diskusi yang berlangsung di kelas XB lebih mengarah pada

kegiatan tanya-jawab antara guru dengan siswa. Guru berharap siswa akan

berpartisipasi aktif apabila dirangsang dengan pertanyaan-pertanyaan. Namun

yang

terjadi

adalah

siswa

kurang

dapat

berpartisipasi

aktif

dan

kurang

responsif terhadap pertanyaan yang telah diajukan guru karena hanya beberapa

siswa yang antusias untuk menjawab. Siswa lain hanya diam bahkan ada

beberapa

yang

ngobrol

sendiri.

Alasan

mengapa

siswa

enggan

untuk

menjawab pertanyaan guru karena merasa tidak ditunjuk, siswa baru akan

berpartisipasi untuk menjawab pertanyaan apabila ditunjuk oleh guru.

Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan dan berusaha menggiring

siswa pada konsep yang harus dikuasai sehingga pertanyaan yang diajukan

kepada siswa lebih pada penguasaan teori yang akan diajarkan. Banyak siswa

yang kurang berpartisipasi aktif menjawab pertanyaan karena merasa bahwa

4

pertanyaan yang diajukan guru belum pernah diajarkan sebelumnya sehingga

banyak yang tidak terjawab. Hal ini dimungkinkan karena siswa belum

mempunyai bekal yang cukup untuk menjawab. Bahan pelajaran memang

belum sepenuhnya dikuasai karena siswa juga belum menyiapkan bahan yang

akan

diajarkan

terlebih

dahulu.

Oleh

karena

itu,

isi

pertanyaan

perlu

dipertimbangkan terlebih dahulu dengan mengetahui kondisi awal siswa. Guru

sendiri

tidak

berusaha

untuk

mengungkap

pengalaman

siswa

melalui

pertanyaan-pertanyaan yang diajukan namun menghendaki siswa langsung

menguasai

konsep.

Hal

ini

dapat

mengakibatkan

tidak

berkembangnya

pemikiran

siswa

bila

diharuskan

menghafal

konsep

saja

tanpa

dapat

menghubungkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.

Kurang responsifnya siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan

guru, tidak disiapkan materi pelajaran dari rumah, tidak dikerjakannya tugas

yang diberikan guru merupakan beberapa indikasi rendahnya partisipasi siswa

dalam belajar. Metode ceramah dan pemberian tugas terbukti belum dapat

membuat

siswa

berpartisipasi

aktif.

Maka

perlu

diterapkan

strategi

pembelajaran lain yang dapat menghidupkan suasana kelas, mengarahkan

siswa pada aktivitas belajar dan tidak mengharuskan siswa menghafal fakta

dan konsep.

Berdasarkan

kesepakatan

dengan

guru

dan

melihat

keleluasaan

waktu yang diberikan maka dipilih materi pokok virus. Materi pokok virus

merupakan materi yang sulit untuk dipelajari karena materi ini merupakan

materi yang sulit untuk dibayangkan dalam bentuk nyata. Sehingga guru akan

5

kesulitan dalam menentukan metode mengajar yang tepat dalam penyampaian

materi tersebut karena guru sudah terbiasa dengan metode ceramah.

Berdasarkan kurikulum SMA materi pokok virus diajarkan di kelas

X

pada

semester

ganjil.

Standar

Kompetensi

dari

materi

ini

adalah

“Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peran virus dalam kehidupan“.

Kompetensi Dasar tersebut dikembangkan menjadi 4 indikator hasil belajar,

yaitu :

1. Mendeskripsikan ciri-ciri virus.

2. Mendeskripsikan replikasi virus.

3. Mendeskripsikan klasifikasi virus.

4. Mengelompokkan peran virus dalam kehidupan.

Dari analisis Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator,

diperoleh

informasi

yang

meliputi

menggambarkan

atau

menguraikan,

menggolongkan dan mengkomunikasikan hasil dengan berbagai cara. Oleh

karena itu, kegiatan pembelajaran lebih diarahkan pada penggalian informasi

yang dimiliki oleh siswa daripada ceramah. Peranan guru bukan hanya sebagai

penyampai informasi, melainkan menyiapkan situasi agar anak didik dapat

bertanya dan menyampaikan informasi yang mereka miliki sehingga siswa

dapat

menemukan

fakta

dan

konsep

sendiri.

Proses

belajar

melibatkan

berbagai aktivitas baik fisik, mental, maupun intelektual. Interaksi yang terjadi

selama proses pembelajaran adalah antara siswa dengan persoalan yang

dipelajari.

Guru

lebih

banyak

memainkan

peran

sebagai

motivator

dan

fasilitator untuk membantu kelancaran proses belajar. Dalam hal ini guru perlu

6

memberi peluang seluas-luasnya agar siswa dapat belajar lebih bermakna

dengan memberi respon yang mengaktifkan semua siswa secara positif dan

edukatif.

Guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran diharapkan peka terhadap

dinamika pembelajaran di kelasnya. Dengan demikian, guru dapat melakukan

perubahan-perubahan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang selama

ini

telah

dilakukannya

menjadi

sesuai

dengan

kondisi

perubahan

yang

ditemukan saat itu, sehingga tindakan yang dilakukannya nantinya dapat

menjadi titik terang untuk mengatasi permasalahan yang muncul akibat

perubahan tersebut dan memperbaiki proses pembelajaran secara keseluruhan.

Guru perlu melakukan penelitian tindakan kelas untuk memperbaiki

kualitas

pembelajaran

di

kelasnya.

Penelitian

tindakan

kelas

merupakan

serangkaian prosedur yang disesuaikan dengan situasi kelas yang dihadapi.

Guru

melakukan

tindakan-tindakan

yang

membuat

siswa

menjadi

lebih

banyak terlibat dalam pembelajaran, menarik perhatian siswa, dan dalam

tindakan itulah terkandung ide-ide kreatif seorang guru untuk memodifikasi

penyampaian konsep agar siswanya mampu menangkap esensi materi yang

disampaikan dengan keaktifan sendiri.

Seperti yang disampaikan pada teori Piaget dalam Eriyanti, (2009: 2)

pengalaman-pengalaman

fisik

dan

manipulasi

lingkungan

penting

bagi

terjadinya

perubahan-perubahan

perkembangan.

Selain

itu,

Piaget

juga

berkeyakinan

bahwa

interaksi

sosial

dengan

teman

sebaya,

khususnya

berargumentasi, berdiskusi, membantu memperjelas pemikiran, yang pada

7

akhirnya, membuat pemikiran itu menjadi lebih logis, sehingga peran guru

menurut Piaget sebagai fasilitator dan bukan pemberi informasi. Dengan

demikian, guru harus mampu menciptakan keadaan siswa untuk belajar

sendiri. Artinya guru tidak sepenuhnya mengajarkan suatu bahan ajar kepada

siswa, tetapi guru dapat membangun siswa yang mampu belajar dan terlibat

aktif dalam belajar.

Pembelajaran

kooperatif

tipe

Think-Pair-Share

merupakan

pembelajaran yang melibatkan kelompok, dengan melakukan banyak diskusi

antar siswa. Dengan cara demikian, siswa dapat lebih berpartisipasi aktif dan

dapat

menemukan

konsep-konsep

yang

diinginkan

dengan

sendirinya.

Sehingga siswa akan memahami konsep tersebut dengan baik dan tidak

sekedar hafalan.

B. Identifikasi Masalah

Dari

masalah

situasi

yang

telah

dikemukan

sebelumnya,

pembelajaran yang berlangsung di kelas XB SMA Pancasila Purworejo lebih

banyak didominasi oleh guru (Teacher-Centered Teaching). Guru lebih sering

menggunakan metode ceramah untuk menanamkan konsep kepada siswa.

Akibatnya

siswa

terbatas

pada

kegiatan

mendengarkan,

mencatat,

dan

menjawab

pertanyaan

bila

guru

mengajukan

pertanyaan

sehingga

siswa

kurang mendapat peran dalam belajar. Siswa hanya bekerja berdasarkan

perintah guru dan berfikir menurut cara yang digariskan guru. Untuk itulah

perlu dirancang strategi belajar yang menekankan keaktifan siswa baik secara

8

fisik, mental, maupun intelektual.

Berdasarkan kondisi tersebut, maka masalah yang dapat diidentifikasi

antara lain :

1.

Guru masih menggunakan metode ceramah yang tidak menarik siswa

untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.

 

2.

Belum

diterapkannya

suatu

model

pembelajaran

yang

memberikan

kesempatan

pada

siswa

untuk

terlibat

secara

aktif

dalam

proses

pembelajaran.

C. Batasan Masalah

Untuk mempersempit lingkup penelitian berdasarkan identifikasi

masalah di atas, maka perlu adanya pembatasan masalah. Penelitian ini

dibatasi pada bagaimana upaya guru dalam meningkatkan partisipasi dan hasil

belajar siswa dalam belajar biologi melalui model Cooperative Learning tipe

Think-Pair-Share.

Hasil belajar siswa dibatasi dengan hasil nyata yang diperoleh dari

pengukuran yang dapat dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajaran

Biologi. Aspek yang diukur hanya aspek kognitif dan afektif. Hasil afektif

yang diperoleh berupa hasil partisipasi siswa dan hasil kognitif yang terdiri

dari soal C1 sampai C3 dengan Materi Pokok Virus.

D. Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini dirumuskan masalah sebagai berikut :

9

1. Apakah penerapan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Think-

Pair-Share (TPS) dapat meningkatkan partisipasi siswa kelas XB SMA

Pancasila Purworejo pada materi pokok virus?

2. Adakah

peningkatan

hasil

belajar

siswa

kelas

XB

SMA

Pancasila

Purworejo melalui model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Think-

Pair-Share (TPS)?

E. Tujuan Penelitian

Dalam penelitian ini bertujuan untuk :

1. Meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran Biologi kelas

XB SMA Pancasila Purworejo melalui model Cooperative Learning tipe

Think-Pair-Share pada Materi Pokok Virus.

2. Meningkatkan hasil belajar Biologi siswa kelas XB SMA Pancasila

Purworejo melalaui model Cooperative Learning tipe Think-Pair-Share

pada Materi Pokok Virus.

F. Manfaat Penelitian

1. Bagi Guru : melalui model Cooperative Learning tipe Think – Pair –

Share membantu Guru meningkatkan partisipasi siswa dan nilai hasil

belajar dalam proses belajar mengajar.

2. Bagi dunia pendidikan : memberikan sumbangan dalam meningkatkan

efektivitas proses pembelajaran di sekolah menengah atas.

10

3. Bagi siswa : secara psikologis menghindarkan siswa dari kebosanan

terhadap proses pembelajaran yang sering digunakan guru.

4. Bagi peneliti lain : penelitian ini digunakan sebagai bahan rujukan untuk

peneliti

lebih

lanjut

pembelajaran Biologi.

guna

pengembangan

G. Definisi Operasional Variabel

dan

peningkatan

proses

1. Pembelajaran kooperatif : belajar dengan pendekatan pengajaran melalui

kelompok kecil untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar

dalam mencapai tujuan.

2. Think – Pair – Share : merupakan teknik dari cooperative learning yang

mendorong

partisipasi

individual

dan

dapat

diterapkan

pada

semua

tingkatan

dan

ukuran

kelas.

Siswa

menyelesaikan

pertanyaan

menggunakan tiga tahap yang berbeda :

Think : siswa berpikir sendiri tentang pertanyaan yang telah diberikan

membentuk ide-ide dari mereka sendiri.

Pair : siswa berkelompok berpasangan untuk mendiskusikan pencapaian

mereka. Tahap ini memberi kesempatan siswa untuk mengartikulasikan

ide-ide mereka dan untuk berpikir dengan yang lain.

Share : siswa berpasangan membagi ide – ide mereka dengan kelompok

yang

lebih

besar,

mempresentasikan.

seperti

kelas

sering

kali

siswa

lebih

senang

11

3.

Partisipasi

siswa

yang

dimaksud

dalam

penelitian

ini

merupakan

keikutsertaan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran Biologi serta

kualitasnya, yang meliputi :

 

a. Ketepatan berpendapat

b. Menanggapi pendapat

c. Mempertahankan pendapat

 

d. Menerima saran

 

e. Mengajukan pertanyaan

 

f. Menjawab pertanyaan

4.

Hasil Belajar : sesuatu yang diperoleh setelah dilaksanakannya program

pengajaran kaitanya dengan seberapa jauh tujuan pembelajaran dapat

dicapai

yang

diwujudkan

dalam

bentuk

nilai.

Hasil

belajar

dalam

penelitian ini berupa ranah kognitif yang berupa hasil postest dan ranah

afektif yang berupa partisipasi siswa selama proses pembelajaran.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Hakikat Pembelajaran Biologi

Proses pembelajaran Biologi tidak akan terlepas dari dua proses

yang saling berkaitan, yaitu proses belajar dan proses mengajar yang

harmonis. Guru harus dapat menciptakan suasana yang kondusif bagi

siswa agar siswa merasa betah dan termotivasi untuk belajar.

Menurut Waluyo, (2000: 4) pada hakikatnya pembelajaran meliputi :

a. Peristiwa

pembelajaran

terjadi

apabila

subyek

didik

secara

aktif

berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur oleh pendidik.

Di dalam interaksi pembelajaran (belajar-mengajar) setiap peserta

didik diperlakukan sebagai manusia yang bermanfaat, berminat dan

berpotensi perlu diwujudkan secara optimal.

b. Proses pembelajaran yang efektif memerlukan strategi dan media

pembelajaran yang tepat.

c. pembelajaran

Program

dirancang

dan

dilaksanakan

sebagai

suatu

sistem.

d. Proses dan produk belajar perlu memperoleh perhatian seimbang di

dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

e. Materi pengajaran dan sistem penyampaiannya selalu berkembang.

Menurut Wahyuni dalam Susilo, (2007: 7) belajar Biologi berarti

belajar tentang sikap, proses, dan produk ilmiah. Pembelajaran Biologi

12

13

bagi siswa adalah mengajak siswa untuk mengungkapkan gejala alam dan

persoalannya, sehingga mereka dapat memaknai dan mengetahui setiap

gejala alam dan persoalan yang dihadapi. Belajar Biologi tidak hanya

sekadar mentransfer pengetahuan secara inovatif dengan cara menghafal

konsep-konsep dan teori-teori atau gejala, tetapi harus melibatkan unsur

proses/ aktivitas serta mental/ fisik, agar siswa memperoleh pengalaman

nyata.

Aspek Biologi mengkaji berbagai persoalan yang berkaitan dengan

berbagai

fenomena

makhluk

hidup

pada

berbagai

tingkat

organisasi

kehidupan, dan interaksinya dengan faktor lingkungan dalam dimensi

ruang dan waktu. Biologi harus ditinjau dari seluruh aspek secara utuh.

Baik menyangkut objek, persoalan, maupun tingkat organisasi kehidupan

yang sesuai untuk siswa (Suratsih, 2002: 80). Untuk mempelajari Biologi

sebagai ilmu, siswa dapat melakukannya melalui produk dan proses

Biologi. Salah satu produk Biologi adalah konsep dan memahami konsep

berarti merupakan hal penting dalam belajar Biologi.

2. Pembelajaran Biologi di SMA

Menurut Piaget dalam Subali, (2006: 2) siswa SMA berada pada

tahapan operasional formal yaitu umur 11 tahun sampai dewasa. Pada fase

ini anak sudah berfikir tentang hal-hal yang bersifat abstrak.

pada fase ini memiliki ciri-ciri:

Anak-anak

a. Suatu hal yang abstrak menjadi hal yang dapat dimengerti, mereka dapat berfikir luas tidak terbatas hanya pada hal-hal yang bersifat nyata

14

saja.

b. Proses berpikir lebih dari hypothetical – deductive. Anak-anak dapat membedakan bahwa suatu hipotesis merupakan suatu yang perlu diuji kebenarannya.

c. Mampu melakukan refleksi.

d. Dapat mengontrol variabel.

Beberapa indikator kompetensi dasar yang harus dicapai siswa

SMA kelas X pada pelajaran biologi materi pokok virus berdasarkan

KTSP antara lain :

a. Mendeskripsikan ciri-ciri virus.

b. Mendeskripsikan replikasi virus.

c. Mendeskripsikan klasifikasi virus.

d. Mengelompokkan peran virus dalam kehidupan.

Mempelajari Biologi artinya mempelajari struktur keilmuannya

yang di dalamnya terdapat komponen - komponen yang saling berkaitan

satu sama lain. Adapun komponen - komponen tersebut Menurut Mayer,

(1978) dalam Subali, (2006: 5) menyatakan strukstur keilmuan Biologi

didasarkan pada hasil yang dirumuskan oleh tim BSCS sebagai berikut :

Menurut Carl Woese (1977) struktur keilmuan Biologi memiliki

objek berupa kerajaan/ kingdom (Solomon, et al. 2005: 10) :

a. Animalia (hewan)

b. Plantae (tumbuhan)

c. Fungi

d. Protista

e. Eubacteria

f. Archaebacteria

Ke-enam objek tersebut dikaji dari tingkat molekul, sel, jaringan

dan organ, individu, populasi, komunitas, sampai tingkat bioma. Adapaun

persoalan yang dikaji meliputi 9 tema dasar yaitu :

a. Biologi (sains)

15

b. Sejarah konsep biologi

c. Evolusi

d. Keanekaragman dan keseragaman

e. Genetik dan keberlangsungan hidup

f. Organisme dan lingkungan

g. Perilaku

h. Struktur dan fungsi

i. Regulasi

Ilmu merupakan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi manusia,

khususnya Biologi. Karena Biologi mempunyai daya dukung terhadap

manusia

untuk

mempertahankan

kelangsungan

hidupnya.

Dengan

demikian Biologi menjadi sangat penting untuk dikenal dan dipelajari

melalui pembelajaran Biologi di sekolah khususnya di SMA. Dalam

pembelajaran Biologi, struktur keilmuan Biologi mempunyai pengaruh

pada

proses

pembelajarannya.

Tidak

semua

fenomena

Biologi

dapat

diamati secara langsung. Dengan demikian diperlukan suatu pendekatan

untuk memperoleh informasi fenomena sesungguhnya. Pendekatan yang

dilakukan dalam proses pembelajaran Biologi mengacu pada struktur

keilmuan Biologi. Hal ini membawa konsekuensi agar pendidik (guru) me-

mahami terlebih dahulu struktur keilmuan Biologi secara menyeluruh.

3. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa

setelah menerima pengalaman belajar yang berupa ranah kognitif, afektif,

maupun psikomotor. Upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana

tujuan pembelajaran atau hasil pembelajaran yang telah ditetapkan tercapai

atau tidak, dilakukan melalui penilaian. Hasil-hasil belajar yang diinginkan

16

harus dijabarkan ke dalam indikator-indikator tentang seberapa jauh siswa

memiliki karakteristik yang akan diukur, sehingga jelas apa yang akan

diukur (Jacobs, 1982: 256).

4. Makna dan Pentingnya Strategi Belajar

Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis

besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah

ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi dapat diartikan

sebagai pola-pola umum kegiatan guru – anak didik dalam perwujudan

kegiatan belajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan (Djamarah,

1996: 5). Strategi belajar merujuk pada perilaku dan proses-proses berpikir

yang digunakan oleh siswa yang mempengaruhi apa yang dipelajarinya,

termasuk ingatan dan proses metakognitif.

Tujuan

utama dari strategi belajar adalah mengajar siswa untuk

belajar mandiri. Siswa mandiri mampu secara cermat mendiagnosis suatu

situasi belajar tertentu, bisa memonitor keefektifan strategi tersebut, serta

cukup termotivasi untuk terlibat dalam situasi belajar tersebut sampai ma-

salah itu terselesaikan.

Mengajar yang baik mencakup mengajari siswa bagaimana belajar,

bagaimana mengingat, bagaimana berpikir, dan bagaimana memotivasi

diri sendiri. Mengajar siswa cara belajar adalah tujuan pendidikan yang

penting dan mungkin yang paling utama. Mereka menyadari bahwa

pendidik belum berhasil mencapai tujuan ini. Perlu waktu lebih banyak

17

untuk

mengajari

siswa

bagaimana

belajar,

bagaimana

berpikir,

dan

bagaimana memotivasi diri sendiri.

Mengajarkan strategi belajar berpedoman

pada premis bahwa

keberhasilan siswa banyak bergantung pada kemahiran mereka untuk

belajar

sendiri

dan

untuk

memonitor

belajarnya

sendiri.

Hal

ini

menunjukan

pentingnya

diajarkan

kepada

siswa,

strategi-strategi

pembelajaran

dan

belajar

dimulai

dari

kelas-kelas

sekolah

dasar

dan

berlanjut pada sekolah menengah dan perguruan tinggi. Siswa harus

mempelajari

strategi-strategi

yang

tersedia

mengunakannya dengan benar.

5. Model Pembelajaran

dan

tahu

kapan

Menurut Mulyani Sumantri dalam Yunita M., (2005: 11) model

mengajar adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang

sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai

tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang

pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan

aktivitas belajar mengajar. Sedangkan menurut Joyce dan Weill (1989: 9)

terdapat 22 model mengajar yang dapat dikelompokkan menjadi

empat hal pokok, yaitu :

1. Mengolah Informasi

Model mengajar ini menekankan pada peserta didik agar mampu

mengolah informasi dari lingkungannya, dapat merumuskan masalah

18

dan dapat mengambangkan pemecahan masalah baik menggunakan

lambang verbal maupun non verbal.

2. Pembelajaran Individu

Model mengajar ini menekankan berorientasi pada

individu sebagai

sumber ide – ide pendidikan. Penekanan diberikan pada proses dimana

individu menyusun dan mengorganisasikan realita. Disini berperan

kehidupan

pribadi,

emosional,

dan

organisasi

internal

dalam

mempengaruhi hubungan dengan lingkungan.

 

3. Pembelajaran Sosial

 

Model

ini

menekankan

bahwa

kemampuan

peserta

didik

untuk

melakukan hubungan dengan orang lain.

4. Modifikasi Tingkah Laku

Model mengajar ini berhubungan erat dengan teori belajar yang

dikembangkan

oleh

Skiner,

model

ini

mementingkan

penciptaan

sistem lingkungan belajar yang memaklumkan manipulasi tingkah laku

secara efektif sehingga terbentuk tingkah laku yang dikehendaki.

Proses belajar mengajar merupakan inti dari pendidikan. Dalam

proses

belajar

mengajar

dapat

berlangsung

jika

adanya

interaksi

pendidikan siswa, guru, dan lingkungan belajar. Sehingga dibutuhkan

model

pembelajaran

yang

dapat

membantu

terjadinya

proses

belajar

mengajar yang efektif. Melalui model pembelajaran inilah dirancang

pedoman untuk membuat rencana pembelajaran.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran

19

dalam penelitian ini adalah kerangka konseptual yang menggambarkan

prosedur secara sistematis yang mengorganisasikan pengalaman belajar

yang berfungsi sebagai pedoman dalam membuat rancangan pembelajaran

untuk mencapai tujuan pembelajaran.

6. Pembelajaran Kooperatif

Menurut

Johnson

&

Johnson

(1987:

17)

menjelaskan

bahwa

pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pengajaran yang menekankan

adanya kerjasama, yaitu kerjasama antar siswa dalam kelompoknya untuk

belajar. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu kelompok kecil siswa

yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah,

menyelesaikan tugas, atau mengerjakan suatu masalah tidak secara sendiri-

sendiri dan tidak juga memecahkan masalah hanya salah seorang diantara

mereka.

Pembelajaran

kooperatif

menekankan

pada

kehadiran

teman

sebaya

yang

berinteraksi

antar

sesamanya

dalam

sebuah

tim

untuk

menyelesaikan suatu masalah.

 
 

Menurut

Slavin

(1995:

6)

ada

tiga

karakteristik

dalam

pembelajaran kooperatif, yaitu :

a. Murid bekerja dalam kelompok – kelompok belajar yang kecil (4-6

orang anggota).

b. Murid didorong untuk saling membantu dalam mempelajari bahan

yang bersifat akademik atau dalam melakukan tugas – tugas kelompok.

20

Model pembelajaran kooperatif menurut Arend yang dirangkum

tim

restrukturisasi

kurikulum

PBM

(1998)

menyatakan

bahwa

pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri :

a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan

materi belajarnya.

b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan akademis

tinggi, sedang, rendah, serta berasal dari ras, budaya, suku, jenis

kelamin yang berbeda.

c. Penghargaan

lebih

berorientasi

(Yunita M., 2005: 13).

pada

kelompok

daripada

individu

Tujuan dari penerapan model pembelajaran kooperatif menurut

Rachmadiarti (2003: 7) paling tidak mempunyai tiga tujuan penting yaitu

hasil

belajar

akademik,

penerimaan

terhadap

keragaman

dan

pengembangan

ketrampilan

kooperatif.

Tujuan

yang

pertama

adalah

meningkatkan hasil belajar akademik dimana siswa dituntut untuk dapat

menyelesaikan tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa

model ini unggul dalam membantu siswa menguasai konsep-konsep yang

sulit. Model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan

penialaian

siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang

berhubungan

dengan

hasil

belajar.

Pembelajaran

kooperatif

memberi

peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk

bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan

melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif belajar untuk meng-

21

hargai satu sama lain.

Tujuan

ketiga

dari

pembelajaran

kooperatif

ialah

untuk

mengajarkan siswa ketrampilan kerjasama dan kolaborasi. Ketrampilan ini

sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat dimana mereka saling

melakukan kerjasama dalam organisasi dan saling melakukan kerjasama

tergantung

satu

sama

lain

dengan

kondisi

kebudayaan

yang

beranekaragam.

Pembelajaran

kooperatif

juga

bertujuan

untuk

meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran

kooperatif adalah suatu pembelajaran yang menekankan kerjasama antar

anggota

kelompok

kecil

siswa

untuk

saling

membantu

dalam

menyelesaikan tugas, mempelajari bahan yang bersifat akademik untuk

mencapai tujuan bersama.

Ada

bermacam-macam

diantaranya yaitu :

model

pembelajaran

kooperatif,

a. Student Teams Archievement Divisions (STAD)

Dalam model ini siswa dikelompokkan menjadi kelompok – kelompok

kecil (4 orang anggota) yang heterogen (campuran menurut prestasi,

jenis kelamin, suku, dan ras.). Kemudian guru memberikan tugas

kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Untuk

anggota

kelompok

yang

tahu

menjelaskan

kepada

anggota

yang

lainnya

sampai

semua

anggota

kelompok

dalam

kelompok

itu

mengerti.

Kemudian

guru

memberikan

kuis/

pertanyaan

kepada

22

seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis/ pertanyaan tidak boleh saling

membantu.

b. Jigsaw

Model ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan – kawannya

dari Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan

kawan-kawannya. Dalam penerapannya siswa dibagi berkelompok

dengan anggota 5-6 siswa yang heterogen. Materi pelajaran diberikan

kepada siswa dalam bentuk teks dan tiap siswa bertanggung jawab

untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. Para

anggota dari berbagai tim yang berbeda memiliki tanggung jawab

untuk mempelajari suatu bagian akademik yang sama dan selanjutnya

berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut.

Kumpulan

siswa

semacam itu

disebut

“kelompok

pakar”

(expert

group) selanjutnya para siswa yang berada dalam kelompok pakar

kembali ke kelompok semula (home teams) untuk mengajar anggota

lain mengenai materi yang telah dipelajari dalam kelompok pakar.

Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam home teams, para siswa

dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari.

Dalam metode Jigsaw versi Slavin, penskoran dilakukan seperti dalam

metode STAD. Individu atau tim yang memperoleh skor tinggi diberi

penghargaan oleh guru.

c. Group Investigation (GI)

Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang

23

paling

kompleks

dan

paling

sulit

untuk

dilaksanakan

dalam

pembelajaran

kooperatif.

Metode

ini

melibatkan

siswa

sejak

perencanaan,

baik

dalam

menentukan

topik

maupun

cara

untuk

mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa

untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun

dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Para guru

yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi

kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6

siswa

dengan

karakteristik

yang heterogen.

Pembagian

kelompok

dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat

terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin

dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik

yang

telah

dipilih,

kemudian

menyiapkan

dan

menyajikan

suatu

laporan di depan kelas secara keseluruhan.

d. Metode Struktural

Metode ini dikembangkan oleh Spencer Kagan dan kawan-kawannya.

Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan metode lainnya, metode

struktural menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang

untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Metode ini terdiri dari

dua macam model, yaitu :

1. Numbered Head Together (NHT)

Metode yang dikembangkan Spencer Kagan ini melibatkan para

siswa dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran

24

dan mengecek atau memeriksa pemahaman merekamengenai isi

pelajaran

tersebut.

Pertama,

kelas

dibagi

menjadi

beberapa

kelompok yang terdiri 3-5 siswa dan memberi mereka nomor

sehingga setiap siswa dalam tim tersebut memiliki nomor berbeda.

Kemudian guru memberikan pertanyaan yang bervariasi, dari yang

bersifat spesifik hingga yang bersifat umum. Para siswa berfikir

bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang

mengetahui jawaban tersebut. Terakhir, guru menyebut satu nomor

dan para siswa dari tiap kelompok yang sama mengangkat tangan

dan menyiapkan jawaban untuk seluruh siswa.

2. Think – Pair – Share (TPS)

Think – Pair – Share (TPS) atau Berpikir-Berpasangan-Berbagi

merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk

mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur yang dikembangkan

ini

dimaksudkan

alternatif

terhadap

struktur

kelas

tradisional.

Struktur ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam

kelompok kecil (2-6 orang anggota) dan lebih dirincikan oleh

penghargaan kooperatif daripada penghargaan individual.

Pada kesempatan ini ditekankan pembahasan penelitian adalah

pada model Think-Pair-Share (TPS) karena model tersebut yang akan

diaplikasikan dalam penelitian ini.

25

7. Cooperative Learning Tipe Think – Pair – Share

a. Makna strategi Think-Pair-Share

Model Think-Pair-Share (TPS) pertama kali dikembangkan oleh

Frank Lyman dan rekan-rekannya di Universitas Maryland pada tahun

1985. Mereka menyatakan bahwa Think-Pair-Share merupakan suatu cara

yang efektif untuk mengganti suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi

bahwa

semua

resitasi

atau

diskusi

membutuhkan

pengaturan

untuk

mengendalikan kelas secara keseluruhan dan prosedur yang digunakan

dalam Think-Pair-Share dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir

untuk merespons dan untuk saling membantu ( Arend, 2008: 15).

Menurut Slavin (2009: 257) “Think-Pair-Share” adalah sebuah

metode

sederhana

tetapi

sangat

berguna.

Ketika

guru

menerangkan

pelajaran

di

depan

kelas,

siswa-siswa

duduk

berpasangan

dalam

kelompoknya. Guru memberikan pertanyaan ke seluruh kelas. Siswa

diperintah

berpasangan

dengan

masing-masing

pasangannya

untuk

mencari kesepakatan jawaban. Terakhir, guru menyuruh siswa untuk ber -

bagi jawaban dengan seluruh kelas.

“The Think-Pair-Share strategy is a cooperative learning technique that encourages individual participation is applicable across all grade levels and class size. Students think through questions using three distinct steps :

Think : student think independently about the question. That has been posed, forming ideas of their own. Pair : student are grouped in pairs to discuss their throughts. This step allows student to articulate their ideas and to consider those of others. Share : student pairs share their ideas with a larger group, such as the whole class. Often, students are more comfortable presenting ideas to group with the support of a partner” (Anonim, 2009: 1 )

26

Strategi

Think-Pair-Share

adalah

merupakan

teknik

dari

cooperative learning yang mendorong partisipasi individual dan dapat

diterapkan pada semua tingkatan dan ukuran kelas. Siswa menyelesaikan

pertanyaan menggunakan tiga tahap yang berbeda :

Think : siswa berpikir sendiri tentang pertanyaan yang telah diberikan

membentuk ide-ide dari mereka sendiri.

Pair : siswa berkelompok berpasangan untuk mendiskusikan pencapaian

mereka. Tahap ini memberi kesempatan siswa untuk mengartikulasikan

ide-ide mereka dan untuk berpikir dengan yang lain.

Share : siswa berpasangan membagi ide – ide mereka dengan kelompok

yang

lebih

besar,

seperti

kelas

sering

kali

siswa

lebih

senang

mempresentasikan

ide-idenya

ke

kelompok

dengan

dorongan

dari

pasangan.

Definisi lainnya dari Think-Pair-Share (TPS) adalah :

Think-Pair-Share is cooperative discussion strategy where students about the content and discuss ideas before sharing with a whole group. If it roduces the elements of “think time” and peer interaction, wich are two important features of cooperative learning. Think-Pair-Share’s purpose is to help students process informations, develop communication skills, and refine their thinking. (Anonim, 2009: 1 )

Think-Pair-Share adalah strategi kerjasama dalam bentuk diskusi

dimana siswa berbicara tentang isi dan ide-ide diskusi sebelum berbagi

dengan seluruh kelompok. Hal ini mengenalkan elemen dari ”waktu

berpikir” dan interaksi sesama, yang mana ada dua hal yang penting dari

cooperative

learning.

Maksud

dari

Think–Pair–Share

adalah

untuk

27

membantu

siswa

memproses

informasi,

membangun

kemapuan

komunikasi dan menyempurnakan cara berpikir mereka.

Think-Pair-Share

eksplisit

untuk

memberi

memiliki

prosedur

siswa

waktu

lebih

yang

ditetapkan

secara

banyak

untuk

berpikir,

menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Misalkan membaca suatu

tugas atau suatu situasi penuh teka-teki telah dikemukakan. Dan guru

menginginkan siswa memikirkan secara lebih mendalam tentang apa yang

telah dijelaskan atau dialami. Guru memilih Think-Pair-Share sebagai

ganti tanya-jawab kelas. Dengan metode klasikal yang memungkinkan

hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk ke seluruh kelas.

Teknik ini memberikan kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak

kepada siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada

orang lain. Teknik ini dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan

untuk semua tingkatan usia anak didik (Arend, 2008: 15).

b. Langkah – Langkah dalam Think – Pair – Share (TPS)

Langkah – langkah yang diterapkan pada Think-Pair-Share adalah

sebagai berikut (Arend, 2008: 15) :

Langkah 1) : Thinking (Berpikir) guru mengajukan suatu pertanyaan atau

masalah yang dikaitkan dengan pelajaran dan meminta siswa

untuk memikirkan pertanyaan/ masalah secara mandiri dalam

beberapa saat.

Langkah 2) : Pairing (Berpasangan), selanjutnya guru meminta siswa

untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka

28

pikirkan

pada

tahap

pertama.

Interaksi

pada

tahap

ini

diharapkan dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu

pertanyaan atau berbagai ide jika persoalan khusus telah

diidentifikasi. Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dari 4

atau 5 menit untuk berpasangan.

Langkah 3) : Sharing (Berbagi) guru meminta kepada pasangan untuk

berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka

bicarakan. Hal ini dilakukan secara bergiliran dari pasangan

demi

pasangan

dan

dilanjutkan

sampai

sebagian

besar

pasangan mendapat kesempatan untuk melaporkan.

Menurut Anita Lie langkah-langkah dalam penerapan model Think-Pair-

Share adalah :

a. Guru

membagi

siswa

dalam

kelompok-kelompok

berempat

dan

memberikan tugas kepada semua kelompok.

b. Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri.

c. Siswa berpasangan dengan satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi

dengan pasangannya.

d. Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa

mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada

kelompok berempat (Setiyowati, 2007: 28).

Secara singkat, langkah-langkah dalam Think-Pair-Share diuraikan

sebagai berikut:

The teacher set a problem or ask for a response to the reading. The students think alone for a specified time.

29

The student form pair to discuss the problem or give responses. Some responses may be shared with the class. ( Anonim, 2002: 1)

Guru menyajikan sebuah masalah atau pertanyaan yang memerlukan

jawaban untuk dibacakan.

Siswa berpikir sendiri dalam waktu sesaat.

Siswa

berpasangan

jawaban.

untuk

mendiskusikan

masalah

atau

memberikan

Beberapa jawaban kemudian dibagikan ke seluruh kelas.

Pembelajaran kooperatif memiliki perbedaan dengan pembelajaran

individual. Ketiga macam pembelajaran itu berbeda dalam hal struktur

pencapaian tujuannya yaitu sebagai berikut :

a. Pembelajaran Kooperatif, tiap-tiap individu ikut andil menyumbang

pencapaian tujuan. Siswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai

jika siswa lainnya juga mencapai tujuan tersebut.

b. Pembelajaran Kompetitif, pada pembelajaran ini seorang siswa dapat

mencapai

tujuan

jika

siswa

lain

tidak

mencapai

tujuan

tersebut.

Dengan demikian setiap usaha yang dilakukan oleh individu untuk

mencapai tujuan mereka saingan bagi individu lainnya.

c. Pembelajaran Individual, menurut Herawati Susilo menerangkan dalam

pembelajaran

ini

tujuan

yang

dicapai

oleh

seorang

siswa

secara

individual tidak memiliki konsekuensi terhadap pencapaian tujuan

siswa lainnya (Yunita M., 2005: 15).

30

8. Materi Pembelajaran Virus

a.

Ciri-ciri

Ciri-ciri virus meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi.

1.

Ukuran dan bentuk

Virus merupakan partikel yang sangat kecil berukuran diameter ± 9 nm

– setengah dari ukuran ribosom. Virus yang berukuran relatif besar

berdiameter sekitar 230 nm (0,23 mm), contohnya virus vaksinia (Kimbal,

1999: 849). Ukuran virus yang sangat kecil tersebut menjadikan virus

hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron. Bahkan

virus yang paling besar sekalipun sulit dilihat dengan mikroskop cahaya.

Bentuk virus dapat beraneka ragam, yaitu bulat, batang, polihedral (segi

banyak) dan ada yang seperti huruf T (Aryulina, dkk 2007: 45).

2.

Struktur dan fungsi

Virus bukan merupakan sel, melainkan berupa partikel yang disebut

virion. Virus tidak memiliki bagian-bagian sel seperti membran plasma,

sitoplasma, dan inti sel. Virus terdiri dari asam nukleat dan kapsid.

Beberapa jenis virus yang lebih kompleks terdiri dari asam nukleat,

kapsid, dan ekor. Virus yang memiliki struktur lebih kompleks tersebut

contohnya virus T4, yaitu virus yang menginfeksi bakteri. Pada virus jenis

ini asam nukleat yang terbungkus dalam kapsid membentuk suatu struktur

yang sering disebut sebagai kepala.

31

31 Gambar 1. Struktur tubuh bakteriofag T4 http://id.wikipedia.org/w iki/Berkas:Phage_S-PM2.png Kapsid merupakan kulit
31 Gambar 1. Struktur tubuh bakteriofag T4 http://id.wikipedia.org/w iki/Berkas:Phage_S-PM2.png Kapsid merupakan kulit

Gambar 1. Struktur tubuh bakteriofag T4

Kapsid merupakan kulit protein yang menyelubungi asam nukleat.

Kapsid

dapat

berbentuk

batang,

polihedral

atau

bentuk

yang

lebih

kompleks. Kapsid terbentuk dari banyak sub unit protein yang disebut

kapsomer. Beberapa virus memiliki struktur selubung yang berasal dari

membran sel inang. Selain protein selubung yang dikodenya dan protein

kapsid, beberapa virus juga membawa beberapa molekul enzim di dalam

kapsidnya (Campbell, 2002: 342).

Asam nukleat virus dapat berupa DNA atau RNA saja dan tidak ada

yang memiliki keduanya. Virus dengan asam nukleat DNA, memliki DNA

dalam bentuk heliks ganda (double helix). Virus DNA contohnya virus

cacar,

virus

herpes

simpleks

(HSV),

virus

SV 4 O

yang

menginfeksi

primata,

menyebabkan

tumor

pada

sel-sel

rodensia

dan

sejumlah

bakteriofag.

Pada

sebagian

besar

virus

dengan

asam

nukleat

RNA,

memiliki RNA dalam bentuk untaian tunggal. Virus RNA contohnya virus

polio, rabies, ensefalitis equine, influenza, gondong, dan campak. Asam

nukleat baik DNA maupun RNA berfungsi sebagai pembawa kode genetik

32

virus (Kimball, 1999: 850).

Ekor merupakan tabung yang memanjang dari bagian kepala dan

memiliki

serabut-serabut

di

ujung

lainnya.

Serabut-serabut

ekor

ini

berfungsi

sebagai

penerima

rangsang

(reseptor)

dan

berperan

untuk

menginfeksi inang.

b. Cara hidup dan replikasi virus

Virus seringkali dikatakan sebagai makhluk tak hidup, namun dapat

melakukan salah satu aktivitas yang hanya terdapat pada makhluk hidup

yaitu melakukan replikasi. Sebagai suatu partikel yang bersifat parasit

obligat, virus hanya dapat melakukan replikasi di dalam sel makhluk hidup

lainnya (sel inang). Virus yang terisolasi akan berupa kristal dan tidak

dapat melakukan replikasi. Hal ini lebih menunjukkan virus juga tidak

memiliki

enzim

untuk

melakukan

metabolisme

dan

tidak

memiliki

ribosom atau peralatan lainnya untuk membuat proteinnya sendiri.

Nicklin,

(1999:

131),

tahap-tahap

replikasi

virus

yaitu

adsorbsi

(penempelan) virus pada sel inang, penetrasi (memasukkan asam nukleat),

sintesis (pembentukan), perakitan dan lisis (pemecahan sel inang).

Replikasi atau siklus hidup virus dapat dibedakan menjadi dua tahap

yaitu siklus litik dan siklus lisogenik.

1. Siklus litik terdiri dari tahap-tahap berikut :

a). Tahap

adsorbsi

adalah

tahap

pada

saat

partikel

virus

(virion)

melekatkan ekor pada sel yang diserangnya. Tempat pelekatan virus

pada sel inang terjadi pada reseptor (protein khusus pada membran

33

plasma sel inang yang mengenali virus).

b). Tahap penetrasi adalah tahap pada saat materi genetik virus masuk ke

dalam sitoplasma sel inang.

c). Tahap sintesis adalah tahap terjadinya perbanyakan partikel virus di

dalam sel yang diinfeksi. Sel inang akan dikendalikan oleh materi

genetik dari virus sehingga sel dapat membuat komponen virus, yaitu

asam nukleat dan protein untuk kapsid.

d). Tahap perakitan adalah tahap penyusunan asam nukleat dan protein

virus menjadi partikel virus yang utuh.

e). Tahap lisis adalah tahap partikel-partikel virus keluar (release) dari sel

inang dengan memecahkan sel inang setelah memproduksi lisozim.

2. Siklus lisogenik terdiri dari tahap-tahap berikut :

a). Tahap

adsorbsi

adalah

tahap

pada

saat

partikel

virus

(virion)

melekatkan ekor pada sel yang diserangnya. Tempat pelekatan virus

pada sel inang terjadi pada reseptor (protein khusus pada membran

plasma sel inang yang mengenali virus).

b). Tahap injeksi/ penetrasi adalah tahap pada saat

masuk ke dalam sitoplasma sel inang.

materi genetik virus

c). Tahap penggabungan adalah tahap DNA virus menyisipi atau berga-

bung ke dalam DNA sel inang yang berbentuk sirkuler.

d). Tahap replikasi adalah tahap DNA virus ikut bereplikasi ketika bakteri

membelah diri. Bakteri akan menghasilkan dua sel anakan yang

masing-masing mengandung profag.

34

34 Gambar 2. Siklus Litik dan Lisogenik Bakteriofage http://118.98.216.59/subdom/modul/bahan/sma_bio_virus-

Gambar 2. Siklus Litik dan Lisogenik Bakteriofage

c.

Habitat

Virus

sebagai

suatu

partikel

yang

bersifat

parasit

obligat,

yaitu

menunjukkan ciri kehidupan hanya jika berada pada sel organisme lain

(sel inang). Sel inang virus berupa bakteri, mikroorganisme eukariot

(seperti protozoa dan jamur), sel tumbuhan, sel hewan, dan sel manusia.

Virus yang menyerang tumbuhan dapat masuk ke dalam tumbuhan lain

terutama melalui perantara serangga. Virus yang menyerang hewan atau

manusia dapat masuk ke dalam tubuh hewan atau manusia lain melalui

makanan, minuman, udara, darah, luka, gigitan, atau udara (Aryulina, dkk

35

d.

Klasifikasi

Klasifikasi virus tidak mengikuti sistem Linnaeus, melainkan sistem

Internasional Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV) atau Komite

Internasional untuk Taksonomi Virus. Klasifikasi virus terbagi dalam tiga

tingkat takson, yaitu famili, genus, dan spesies. Nama famili untuk untuk

diakhiri dengan viridae, sedangkan nama genus diakhiri dengan virus.

Nama spesies menggunakan bahasa Inggris dan diakhiri dengan virus

(Aryulina, dkk 2007: 48).

Menurut Aryulina, dkk (2007: 49), virus diklasifikasikan berdasarkan

jenis asam nukleatnya maupun jenis sel inang. Berdasarkan jenis asam

nukleatnya,

virus

dibedakan

manjadi

virus

DNA

dan

virus

RNA.