Anda di halaman 1dari 19

PENDAHULUAN

Perdarahan antepartum didefinisikan sebagai perdarahan yang terjadi pada


kehamilan di atas 24 minggu keatas dan sebelum terjadinya persalinan. Keadaan
ini merupakan kondisi gawat darurat bagi ibu maupun janinnya. Penyebab
perdarahan antepartum antara lain plasenta previa dan solusio plasenta.1,2
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah
rahim sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari Ostium Uteri Internum
(OUI).3 Secara global prevalensi plasenta previa yaitu 5,2 per 1000 kehamilan
dengan kejadian tertinggi didapatkan pada wanita Asia dengan prevalensi yaitu
12,2 per 1000 kehamilan.3-5 Di Indonesia sendiri, angka kejadian plasenta previa
pada tahun 2005 berjumlah 4.726 dari 170.725 kehamilan patologis di rumah sakit
(2.77%).6
Penyebab terjadinya plasenta previa belum diketahui secara pasti.
Beberapa faktor resiko yang dihubungkan dengan kejadian plasenta previa antara
lain riwayat merokok, paritas tinggi, usia lanjut, cacat rahim misalnya bekas
bedah sesar, kerokan dan miomektomi.3 Plasenta previa dibagi antara lain plasenta
previa totalis yaitu OUI tertutup sepenuhnya oleh plasenta, plasenta previa parsial
yaitu OUI sebagiannya tertutup oleh plasenta, plasenta previa marginal yaitu tepi
plasenta berada pada pinggiran OUI, Low lying placenta (LLP) yaitu plasenta
tertanam di segmen bawah rahim, tetapi tepi plasenta tidak mencapai pinggiran
OUI serta Vasa previa yaitu pembuluh plasenta melewati OUI, terletak di antara
leher rahim dan bagian bawah janin.7

Ciri yang menonjol pada plasenta previa yaitu perdarahan uterus melalui
vagina yang tidak disertai nyeri. Perdarahan biasanya terjadi pada akhir
trisemester kedua ke atas dan berhenti tanpa pengobatan serta dapat muncul
setelah beberapa hari atau minggu kemudian. Diagnosis pasti plasenta previa
dapat ditegakkan melalui USG secara trans abdominal maupun trans vaginal.3,7,8
Penanganan plasenta previa dapat secara aktif berupa seksio sesarea
maupun konservatif tergantung pada luas dan keparahan perdarahan, umur
kehamilan dan kondisi janin, posisi plasenta dan janin, dan apakah perdarahan
telah berhenti.3,9,10
Beberapa

penelitian

lain

dari

negara-negara

berkembang

juga

menunjukkan bahwa wanita hamil yang dipersulit oleh plasenta previa cenderung
memiliki bayi prematur, berat badan lahir rendah, sesak napas, dan memerlukan
perawatan neonatal intensif, sedangkan bayi lahir mati atau neonatal juga dapat
terjadi. Untuk lebih spesifik, risiko kematian perinatal pada wanita dengan
plasenta previa diperkirakan 4% sampai 8%, tetapi, jika disertai dengan
prematuritas, angka kematian bisa meningkat sampai 50%.11
Berikut ini akan dibahas sebuah laporan kasus mengenai plasenta previa di
RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado.

LAPORAN KASUS

Identitas
Nama

: Ny. R.T

Umur

: 22 tahun

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Sea Jaga VI

Suku

: Minahasa

Bangsa

: Indonesia

Agama

: Kristen Protestan

Nama Suami

: Tn. Y.D

Pekerjaan

: Wiraswasta

MRS

: 9 Februari 2015

Anamnesis
Keluhan Utama
Keluar darah bergumpal-gumpal dari jalan lahir.
Riwayat Penyakit Sekarang
Keluar darah bergumpal-gumpal dari jalan lahir sejak 4 jam sebelum masuk

rumah sakit.
Nyeri perut bagian bawah ingin melahirkan belum dirasakan
Pelepasan lendir campur darah (-)
Pelepasan air dari jalan lahir tidak ditemukan
Pergerakan janin dirasakan sejak masuk rumah sakit
Buang air besar dan buang air kecil biasa.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat penyakit jantung, paru, ginjal, hati, kencing manis, darah tinggi
disangkal.

Anamnesis Kebidanan
Riwayat Kehamilan Sekarang
Riwayat muntah pada kehamilan muda (-), bengkak (-), penglihatan
terganggu (-), sakit kepala (-), kencing terlalu sering (-), buang air besar tidak
teratur (-), perdarahan (+) bergumpal-gumpal, keputihan (-).
Pemeriksaan Ante Natal (PAN)
PAN sebanyak 5x di Puskesmas Bahu.
Suntik TT 2 kali.

Riwayat Haid
Haid pertama dialami pada usia 14 tahun dengan siklus yang tidak teratur
dan lamanya haid setiap siklus 7 hari. HPHT tanggal 22 Juli 2014, taksiran
tanggal partus 29 April 2015.

Riwayat Keluarga
Penderita menikah 1 kali. Pernikahan ini sudah berlangsung 2 tahun.
Penderita belum mempunyai anak. Riwayat gemeli tidak ada.

Keluarga Berencana

Penderita tidak pernah ikut KB sebelumnya. Sesudah melahirkan akan


melakukan KB implan.

Riwayat Kehamilan Terdahulu


1. Hamil ini (2014). Riwayat mengonsumsi rokok dan alkohol disangkal.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik Umum
Status Praesens

Keadaan umum
Kesadaran
Tekanan darah :
Nadi
Pernapasan
Suhu badan
BB/TB
Gizi

: Cukup
: Compos mentis
120/70 mmHg
: 84 x/menit
: 20 x/menit
: 36,5 oC
: 52 kg / 146 cm
: Cukup
Kepala :
Kepala bentuk simetris, kedua konjungtiva
tidak anemis, kedua sklera tidak ikterik, telinga normal,
tidak ada sekret yang keluar dari liang telinga, hidung
bentuk normal dan tidak ada sekret, tenggorokan tidak
hiperemis, karies dentis (-).
Leher
:
Tidak

ditemukan

pembengkakan

kelenjar getah bening.


Dada
:
Bentuk simetris normal.
Jantung :
Bunyi jantung I dan II normal, tidak
terdengar bising jantung.
Paru-paru
:
Tidak

ditemukan

rhonki

dan

wheezing di kedua lapangan paru.


Abdomen :
hepar dan lien sukar di evaluasi.

Alat kelamin
Anggota gerak
Refleks
:

:
Alat kelamin wanita normal.
:
Edema (-)
Refleks fisiologis normal, refleks

patologis negatif.

Status Obstetri
Pemeriksaan Luar

TFU
Letak janin
BJA
His
TBBA

:
:
:
:
:

23 cm
letak kepala punggung kiri
135-140 x/menit
tidak ada
1300-1500 gram

Pemeriksaan Inspekulo
Stosel dibersihkan, tidak tampak perdarahan aktif dari OUE, OUE tertutup.

Pemeriksaan Laboratorium
Hb

: 11,3 gr %

Leukosit

: 11.700/mm3

Trombosit : 282.000/mm3
Hematokrit : 35,1 %
Eritrosit

: 3,93 x 106/L

Pemeriksaan USG
Janin intrauterine tunggal hidup letak kepala
Taksiran berat badan janin: 1400-1500 gram
Implantasi plasenta di corpus posterior meluas hingga OUI
Kesan: Hamil 30-31 minggu dengan plasenta previa

Resume Masuk
G3P2A0, 34 tahun, masuk rumah sakit tanggal 9 Februari 2015 dengan
keluhan keluar darah bergumpal-gumpal dari jalan lahir sejak 4 jam sebelum
masuk rumah sakit. Pelepasan air dari jalan lahir (-). Pergerakan janin (+) SMRS.
Riwayat penyakit jantung, paru, ginjal, hati, kencing manis, darah tinggi
disangkal. BAK/BAB biasa. Menarche umur 14 tahun, siklus tidak teratur,
lamanya haid 7 hari. HPHT tanggal 22 Juli 2014, taksiran tanggal partus 29 April
2015. Rencana partus di RS. PAN 5x di Puskesmas Bahu. Suntik TT 2 kali. Tidak
ada riwayat gemeli. Perkawinan 1 kali dengan suami sekarang, perkawinan sudah
berlangsung 2 tahun.
Status Praesens : KU: Cukup; Kes: CM
T: 120/70 mmHg; N: 84 x/menit; R: 20x/menit; SB: 36,5 OC
Status Obstetri

: TFU

: 23 cm

Letak janin : kepala punggung kiri


BJA

: 135-140 x/menit

His

: tidak ada

TBBA

: 1300-1500 gram

Pemeriksaan Inspekulo

: Stosel dibersihkan, tidak tampak perdarahan aktif

dari OUE, OUE tertutup


Pemeriksaan USG

: Janin intrauterine tunggal hidup letak kepala,

taksiran berat badan janin: 1400-1500 gram, implantasi plasenta di corpus


posterior meluas hingga OUI

Diagnosis Kerja
G1P0A0, 22 tahun, hamil 29-30 minggu belum inpartu + plasenta previa totalis
Janin intrauterin, tunggal hidup letak kepala.

Sikap/Terapi/Rencana

Rawat Konservatif
Bed Rest
Dexametason 2X2 amp IM (selama 2 hari)
Pro USG, Lab, Crossmatch
Observasi TNRS, His, BJJ
Bila perdarahan aktif, SC Cito
Konseling, informed consent
Sedia donor
Lapor konsulen
Advis rawat konservatif + bila perdarahan aktif lakukan SC Cito

Follow Up
10 Februari 2015, 15.00
S: tidak ada keluhan, perdarahan (-)
O: Keadaan umum: cukup

Kesadaran: Compos mentis

Conjunctiva anemis (-/-), his tidak ada, bunyi jantung janin ada
130-140 x/menit, pergerakkan janin dirasakan, perdarahan aktif tidak ada.
A: G1P0A0, 22 tahun, hamil 29-30 minggu belum inpartu + plasenta previa totalis
Janin intrauterin, tunggal hidup, letak kepala.
P: Rawat Konservatif

Bed Rest
Dexametason 2X2 amp IM (selama 2 hari)
Observasi TNRS, His, BJJ
Bila perdarahan aktif, SC Cito

11 Februari 2015, 06.00


S: tidak ada keluhan, perdarahan (-)
O: Keadaan umum: cukup

Kesadaran: Compos mentis

Conjunctiva anemis (-/-), his tidak ada, bunyi jantung janin ada
145-150 x/menit, pergerakkan janin dirasakan, perdarahan aktif tidak ada.
A: G1P0A0, 22 tahun, hamil 29-30 minggu dengan plasenta previa totalis
Janin intrauterin, tunggal hidup, letak kepala.
P: Rawat Konservatif

Bed Rest
Bila perdarahan aktif, SC Cito
Observasi tanda-tanda perdarahan
Observasi tanda vital, his, BJJ

12 Februari 2015, 06.00


S: tidak ada keluhan, perdarahan (-)
O: Keadaan umum: cukup

Kesadaran: Compos mentis

Conjunctiva anemis (-/-), his tidak ada, bunyi jantung janin ada
145-150 x/menit, pergerakkan janin dirasakan, perdarahan aktif tidak ada.
A: G1P0A0, 22 tahun, hamil 29-30 minggu dengan plasenta previa totalis
Janin intrauterin, tunggal hidup, letak kepala.
P: Rawat Konservatif

Bed Rest
Bila perdarahan aktif, SC Cito
Observasi tanda-tanda perdarahan
Observasi tanda vital, his,BJJ

13 Februari 2015, 06.00

S: tidak ada keluhan, perdarahan (-)


O: Keadaan umum: cukup

Kesadaran: Compos mentis

Conjunctiva anemis (-/-), his tidak ada, bunyi jantung janin ada
130-140 x/menit, pergerakkan janin dirasakan, perdarahan aktif tidak ada.
A: G1P0A0, 22 tahun, hamil 29-30 minggu dengan plasenta previa totalis
Janin intrauterin, tunggal hidup, letak kepala.
P: Rawat Konservatif

Bed Rest
Bila perdarahan aktif, SC Cito
Observasi tanda-tanda perdarahan
Observasi tanda vital, his,BJJ

14 Februari 2015, 06.00


S: tidak ada keluhan, perdarahan (-)
O: Keadaan umum: cukup

Kesadaran: Compos mentis

Conjunctiva anemis (-/-), his tidak ada, bunyi jantung janin ada
145-150 x/menit, pergerakkan janin dirasakan, perdarahan aktif tidak ada.
A: G1P0A0, 22 tahun, hamil 29-30 minggu dengan plasenta previa totalis
Janin intrauterin, tunggal hidup, letak kepala.
P: Rawat Konservatif

Bed Rest
Bila perdarahan aktif, SC Cito
Observasi tanda-tanda perdarahan
Observasi tanda vital, his,BJJ

15 Februari 2015, 09.00


S: tidak ada keluhan, perdarahan (-)
O: Keadaan umum: cukup

Kesadaran: Compos mentis

10

Conjunctiva anemis (-/-), his tidak ada, bunyi jantung janin ada
145-150 x/menit, pergerakkan janin dirasakan, perdarahan aktif tidak ada.
A: G1P0A0, 22 tahun, hamil 29-30 minggu dengan plasenta previa totalis
Janin intrauterin, tunggal hidup, letak kepala.
P: Rawat Konservatif

Bed Rest
Bila perdarahan aktif, SC Cito
Observasi tanda-tanda perdarahan
Observasi tanda vital, his,BJJ

16 Februari 2015, 06.00


S: tidak ada keluhan, perdarahan (-)
O: Keadaan umum: cukup

Kesadaran: Compos mentis

Conjunctiva anemis (-/-), his tidak ada, bunyi jantung janin ada
145-150 x/menit, pergerakkan janin dirasakan, perdarahan aktif tidak ada.
A: G1P0A0, 22 tahun, hamil 29-30 minggu dengan plasenta previa totalis
Janin intrauterin, tunggal hidup, letak kepala.
P: Rawat Konservatif

Bed Rest
Informed consent keluarga apabila ada tanda-tanda perdarahan harus
segera ke rumah sakit dan adanya kemungkinan SC bila terjadi perburukan

keadaan.
Rawat jalan.

11

DISKUSI

Pada kasus ini akan dibahas mengenai:


1.
2.
3.
4.

Diagnosis
Penanganan
Komplikasi
Prognosis

1. Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan kebidanan,
serta pemeriksaan penunjang, penderita didiagnosis dengan G1P0A0, 22 tahun,
hamil 29-30 minggu dengan plasenta previa totalis, janin intrauterin tunggal hidup
letak kepala.
Dari anamnesis didapatkan bahwa kehamilan ini merupakan
kehamilan yang pertama (gravida I), hari pertama haid terakhir yaitu 22 Juli 2014.
Kemudian dilakukan pemeriksaan Leopold dan didapatkan janin letak kepala,
dengan TFU = 23 cm. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan obstetrik tersebut,
dapat dihitung taksiran tanggal partus dengan rumus Neagle disimpulkan bahwa
saat masuk rumah sakit, kehamilan belum memasuki usia aterm yaitu hamil 29-30
minggu.
Ciri yang menonjol pada plasenta previa yaitu perdarahan uterus melalui
vagina yang tidak disertai nyeri. Perdarahan biasanya terjadi pada akhir
trisemester kedua ke atas dan berhenti tanpa pengobatan serta dapat muncul
setelah beberapa hari atau minggu kemudian. Diagnosis pasti plasenta previa
dapat ditegakkan melalui USG secara transabdominal maupun transvaginal.3,7,8

12

Penggunaan USG transvaginal telah secara substansial meningkatkan


akurasi diagnostik plasenta previa. Studi yang dilakukan dalam membandingkan
transabdominal dengan pencitraan transvaginal, Smith (1997), Taipale (1998) dan
rekan-rekan menemukan teknik transvaginal lebih unggul.7 Pada 60% wanita
dengan plasenta previa yang menjalani sonografi transabdominal (TAS) mungkin
memiliki reklasifikasi posisi plasenta ketika mereka melakukan sonogravi
transvaginal (TVS). Dengan TAS, plasenta bagian posterior sulit dievaluasi,
kepala janin dapat mengganggu visualisasi segmen bawah rahim, dan obesitas
serta pengisian berlebih dari kandung kemih juga mengganggu akurasi. Oleh
karena ini, TAS dikaitkan dengan tingkat diagnosis plasenta previa yang salah
hingga 25%. Akurasi untuk TVS yang tinggi (sensitivitas 87,5%, spesifisitas
98,8%, nilai prediksi positif 93,3%, nilai prediksi negatif 97,6%), menjadikan
TVS sebagai standar emas untuk diagnosis plasenta previa.8
Pada pasien ini dilakukan USG dan didapatkan hasil adanya implantasi
plasenta di corpus posterior meluas hingga OUI sehingga penderita didagnosis
dengan plasenta previa.

13

Hasil USG pasien tanggal 9 Februari 2015

Penanganan
Penanganan plasenta previa tergantung pada tingkat keparahan perdarahan,
umur kehamilan dan kondisi janin, posisi plasenta dan janin, dan apakah
perdarahan telah berhenti. Prinsip utama untuk pra rumah sakit dan gawat darurat
perawatan wanita dengan plasenta previa adalah memastikan stabilitas
hemodinamik serta memantau kondisi janin secara terus menerus, jika
tersedia.3,9,10
Pada usia kehamilan prematur( kehamilan < 37 minggu) tujuan utama
terapi yaitu mempertahankan kehamilan sampai tercapainya pematangan paru
pada janin. Selain itu, pasien dapat diobati secara rawat jalan serta diedukasi
apabila terjadi perdarahan, penderita harus segera pergi ke rumah sakit untuk
evaluasi. Memantau hemoglobin dan hematokrit, pemberian zat besi serta folat,
dan transfusi jika perlu (misalnya, kadar hemoglobin <8 g / dL) untuk anemia.
Pemberian tokolitik dapat diberikan dalam beberapa kasus perdarahan ringan dan
prematuritas. Salah satu studi menunjukkan bahwa penggunaan tokolitik

14

meningkatkan usia kehamilan dan berat badan lahir bayi tanpa menyebabkan efek
samping pada ibu dan janin.2,13
Jika usia janin cukup matang (kehamilan >37 minggu) dan pasien dalam
kondisi inpartu atau jika terdapat perdarahan berat maka tindakan yang diambil
yaitu terminasi kehamilan. Dengan catatan, pasien harus mendapat cairan
kristaloid dan/atau darah, serta dia harus dipindahkan ke ruang operasi untuk
dilakukan section cesarean cito.3,13
Penanganan plasenta previa pada pasien ini yaitu dengan perawatan
konservatif berupa bed rest; injeksi dexametason 2X2 ampul IM (selama 2 hari);
Observasi TNRS, His, BJJ; serta bila perdarahan aktif, SC Cito. Penanganan yang
diberikan ini bertujuan untuk menstabilkan hemodinamik pasien serta
mematangkan paru janin karena kehamilan pasien masih kurang dari 37 minggu.
Perdarahan dari jalan lahir pada pasien ini telah berhenti sejak perawatan hari
pertama hingga hari ketujuh dirawat serta hemodinamik dari pasein dan janinnya
sendiri stabil sehingga pasien dirawat jalan sehingga kehamilan dapat
dipertahankan hingga aterm. Selain itu, pasien juga diedukasi agar segera kembali
ke rumah sakit apabila terjadi perdarahan lagi.2,3

Komplikasi
Komplikasi untuk bayi yaitu kelahiran prematur (dan komplikasi yang
dihasilkan dari itu) adalah komplikasi yang paling umum dari plasenta previa.
Kelahiran prematur terjadi pada hampir dua pertiga dari kasus plasenta previa
karena perdarahan yang berat. Selain itu kelainan letak anak juga dapat terjadi
pada plasenta previa.3,12
Untuk ibu, dapat terjadi perdarahan yang bisa mengakibatkan syok apabila
tidak segera diatasi serta beresiko tinggi untuk plasenta akreta dan solusio plasenta

15

dan komplikasi selama kelahiran sesar adalah komplikasi yang paling umum dari
plasenta previa.3,12
Prognosis
Pada kasus ini prognosisnya adalah dubia karena masih adanya resiko
terjadinya perdarahan kembali yang dapat mengancam nyawa ibu dan janin.
Prognosis untuk bayi adalah dubia ad malam karena dapat lahir secara
prematur.
Prognosis untuk kehamilan berikutnya adalah dubia ad malam karena
adanya riwayat plasenta previa pada kehamilan ini, maka kemungkinan terjadi
plasenta previa dan plasenta akreta di kehamilan berikut cukup besar.

16

PENUTUP

Kesimpulan
1. Diagnosis pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang.
2. Pada penanganan kasus ini dilakukan perawatan konservatif karena usia
kehamilan yang masih premature serta perdarahan telah berhenti sejak hari
pertama dirawat serta hemodinamik dari pasien dan janin yang stabil sehingga
kehamilan dapat dipertahankan hingga usia kehamilan aterm.
3. Prognosis pada kasus ini dubia karena masih adanya resiko terjadinya
perdarahan kembali yang dapat mengancam nyawa ibu dan janin.
Saran
Perlu adanya usaha-usaha untuk memberikan penerangan kepada
masyarakat mengenai pentingnya PAN (pemeriksaan antenatal) untuk mencegah
terjadinya keterlambatan diagnosis plasenta previa, serta edukasi kepada
masyarakat terutama ibu untuk hamil di usia produktif, tidak merokok dan
memegang prinsip dua anak cukup.
Disarankan pasien harus segera ke rumah sakit apabila terjadi perdarahan
kembali serta melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin pada kehamilan
berikutnya, karena plasenta previa dapat terjadi kembali.

DAFTAR PUSTAKA

17

1. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Antepartum


Haemorrhage. NHS Evidence. Green Top-Guideline 2011;63:1-23.
2. Sakornbut E, Leeman L, Fontaine P. Late Pregnancy Bleeding. Am Fam
Physician 2007;75:1199-206.
3. Saifuddin AB, Rachimhadi T,Wiknjosastro GH, editor. Ilmu Kebidanan. Ed. 4.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo. Jakarta, 2010: 495-503.
4. Rowe T. Plecenta Previa. J Obstet Gynaecol Can 2014;36(8):667668.
5. Cresswell JA, Ronsmans C, Calvert C, Filippi V. Prevalence of placenta
praevia by world region: a systematic review and meta-analysis. Trop Med Int
Health 2013;18(6):712-24.
6. Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2005. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta. 2007.
7. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY.
Obstetrical Hemorrhage. In: Twickler DM, Wendel GD, editors : Williams
Obstetrics; volume 2; 23rd edition. USA : McGraw-Hill Companies.2010.
8. Armson A, Farine D, Lindsay LK, Morin V, Pressey T, Delisle MD, et al.
Diagnosis and Management of Placenta Previa. J Obstet Gynaecol Can
2007;29(3):2616.
9. Shiel WC. Pregnancy: Placenta Previa [internet]. 2014. [dikutip: 23 Februari
2015].
Akses:
http://www.medicinenet.com/pregnancy_placenta_previa/
page3.htm
10. Genovese F, et al. Management and Time of Delivery in Asymptomatic
Complete Placenta Previa: A Case Report and Review of Literature. Gynecol
Obstet 2012;2(4):1-4.
11. Berhan Y. Predictors of Perinatal Mortality Associated with Placenta Previa
and Placental Abruption: An Experience from a Low Income Country. Journal
of Pregnancy 2014;1:1-10.
12. Stuebe A. Pregnancy Complications: Placenta Previa[internet]. 2012. [dikutip:
23
Februari
2015].
Akses:
http://www.healthline.com/health/pregnancy/preterm-labor-delivery-placentaprevia#Symptoms4
13. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Placenta previa, placenta
acreta, and vasa previa: Diagnosis and management. NHS Evidence. Green
Top-Guideline 2011;27:1-26.

18

19

Anda mungkin juga menyukai