Anda di halaman 1dari 35

Prosedur Pelayanan di Unit Gawat

Darurat R.S.I.A. Buah Hati


Pamulang
R.S.I.A. Buah HatiPamulang
Jl. Raya Siliwangi, no: 189
PamulangTangerang Selatan

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No. Dokumen : 1

No.Revisi :

Halaman : 1 2

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
. Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Pelayanan di Unit Gawat Darurat adalah Pelayanan yang diberikan


kepada pasien dengan kondisi kegawatan atau kedaruratan sehingga
perlu mendapatkan pelayanan sesegera mungkin dengan mengikuti
standar yang ada.

B. Tujuan

Sebagai acuan dalam memberikan pelayanan pasien di Unit Gawat


Darurat.

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis


Standar Pelayanan Minimal
Standar Therapy R.S.I.A. Buah Hati Pamulang.

D. Prosedur

1. Dokter dan Perawat penanggung jawab UGD


2. Melakukan Triage Apakah pasien termasuk kasus gawat darurat /
gawat tidak darurat / darurat tidak gawat / tidak gawat tidak
darurat..?
3. Menangani kegawat daruratan pasien gawat darurat umum atau
psikiatrik.
4. Membuat dan mengisi status Rekam Medik pasien
5. Mengisi formulir pemeriksaan penunjang medik sesuai indikasi
( Laboratorium / Radiologi / Elektromedik )
6. Dokter jaga konsul kepada dokter spesialis jaga sesuai indikasi
7. Setelah keadaan umum stabil pasien segera dikirim ke ruangan rawat
inap R.S.I.A. Buah Hati Pamulang, tetapi jika R.S. tidak
mempunyai fsilitas ruangan yang dinginkan ( sesuai indikasi ), maka
segera segera dirujuk ke R.S. dengan fasilitas yang memadai untuk
pasien tsb.
8. Memberikan tindakan therapy pada pasien darurat tidak gawat dan
memperbolehkan pulang serta disarankan control ke poliklinik
R.S.I.A. Buah Hati Pamulang yang sesuai dengan indikasi pasien
9. Melakukan Observasi 2 jam bila pasien meninggal di UGD dan
memberitahukan keluarga pasien untuk dibawa pulang
10.Memberitahu keluarga pasien untuk membawa pulang bila pasien tiba
di UGD dalam keadaan sudah meninggal.
1

E. Unit Terkait

- Instalasi Rawat Inap / HCU / NICU / Perina


- Instalasi Rawat Jalan / Poliklinik
- Instalasi Farmasi
- Instalasi Laboratorium
- Instalasi Radiologi
- Instalasi Rekam Medik
- Administrasi Pasien ( Pendaftaran dan Kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status Rekam Medik


2. Blanko Resep ( 3 rangkap )
3. Blanko Laboratorium
4. Blanko Radiologi
5. Form masuk rawat inap
6. Form masuk HCU / NICU / Perina
7. Surat Rujukan ( 3 rangkap )
8. Surat Kontrol ( 3 rangkap )
9. Surat Kematian ( 3 rangkap )

Prosedur Penerimaan Pasien


di Unit Gawat Darurat
No. Dokumen : 2

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :

Halaman : 3 4

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
. Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Alur penerimaan pasien adalah prosedur dimana pasien memerlukan


pelayanan di Unit Gawat Darurat; mulai saat pasien dating sampai pulang
atau alih rawat / rujuk.

B. Tujuan

Sebagai acuan dalam menerima pasien baru maupun ulangan yang


memerlukan pelayanan Gawat Darurat.

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis


Standar Pelayanan Minimal
Standar Therapy R.S.I.A. Buah Hati Pamulang.

D. Prosedur

1. Pasien diterima oleh perawat UGD, melakukan primary survey (ABC)


dan menempatkan pasien di ruang Triage
2. Perawat UGD menganjurkan pengantar / keluarga pasien untuk
mendaftar ke bagian administrasi pendaftaran
3. Perawat melakukan pemeriksaan tanda tanda vital sesuai dengan
SOP pengkajian keperawatan dan kemudian melapor ke dokter jaga
UGD
4. Dokter melakukan anamnesa, pemeriksaan keadaan umum,
kesadaran dan tanda tanda vital, fisik dan psikiatrik, kemudian
memberikan instruksi therapy kegawat daruratan dan konsul pada
dokter spesialis jaga sesuai indikasi
5. Dokter membuat dan mengisi status rekam medik pasien
6. Setelah pasien tenang, berdasarkan indikasi medic atau social, maka
pasien dibuatkan surat untuk rawat inap yang ditanda tangani oleh
dokter jaga atau diberikan surat kontrol ke Poliklinik R.S.I.A. Buah
Hati Pamulang atau surat rujukan ke RS luar yang mempunyai
fasilitas lebih memadai
7. Keluarga atau pengantar pasien menyelesaikan masalah administrasi
pasien dibagian administrasi keuangan
8. Untuk pasien yang dirujuk ke RS lain dilampirkan fotokopi resep dan
hasil pemeriksaan penunjang bersama surat rujukan.

E. Unit Terkait

- Instalasi Rawat Inap


- Instalasi Rawat Jalan / Poliklinik
- Instalasi Farmasi
- Instalasi Laboratorium
- Instalasi Radiologi
- Instalasi Rekam Medik
- Adminsitrasi Pasien ( Pendaftaran dan Kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Prosedur Tetap
2. Kartu Berobat Pasien
3. Status Rekam Medik
4. Surat Rujukan atau surat control ( 3 rangkap )
5. Blanko Resep ( 3 rangkap )
6. Blanko Laboratorium
7. Blanko Radiologi
8. Form masuk rawat inap
9. Lembar Perincian biaya ( 3 rangkap )

Prosedur Bantuan Hidup Dasar


(BHD)
No. Dokumen : 3

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :

Halaman : 5 6

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
. Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Bantuan Hidup Dasar (BHD) adalah suatu tindakan medik yang harus
diberikan kepada pasien dalam kondisi Gawat dan Darurat sehingga
dapat mempertahankan fungsi vital kehidupan yang terdiri dari system
pernafasan dan cardiovascular.

B. Tujuan

Sebagai acuan dalam melaksanakan prosedur BHD pada pasien dengan


kondisi kegawatdaruratan sehingga dapat mempertahankan kehidupan.

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis


Sertifikat Pelatihan ACLS / PPGD
Standar Therapy R.S.I.A. Buah Hati Pamulang.

D. Prosedur

Perawat menilai keadaan pasien di ruang Triage dan melakukan Primary


Survey (ABC) :
1. A ( Airway = Jalan Nafas ); caranya yaitu:
* Extensi kepala dan angkat leher
* Extensi kepala dan dorong mandibula kedepan / angkat dagu
* Angkat dagu dan dorong mandibula kedepan
* Setelah itu periksa ada atau tidaknya sumbatan jalan nafas
2. B ( Breathing = Pernafasan ); untuk melakukan ventilasi dari mulut
penolong ke mulut pasien, hendaknya dengan cara :
* Mempertahankan kepala dan leher pasien / korban dalam salah satu
sikap yang telah disebutkan diatas
* Memencet hidung pasien / korban dengan dua jari atau menutup
hidung pasien / korban dengan pipi penolong
* Selanjutnya diberikan 2 x ventilasi dalam ( mulut ke mulut ), kemudian
segera raba denyut nadi karotis atau nadi femoralis
* Bila pasien / korban tetap henti nafas tapi denyut nadi masih teraba
maka diberikan ventilasi dalam setiap 5 detik
* Bila denyut nadi karotis tidak teraba maka berikan 2 x ventilasi dalam
setiap 5 detik. Tanda tanda bahwa ventilasi buatan kuat adalah bila
dada pasien / korban terlihat naik turun
* Pada beberapa pasien / korban ventilasi mulut ke hidung lebih efektif.
3. C ( Circulation = Sirkulasi ); caranya yaitu :
* Penolong berlutut disamping pasien / korban dan meletakkan pangkal
5

sebelah tangannya 2 jari dari episternum


* Tangan sebelahnya diletakkan diatas tangan pertama dengan jari jari
terkunci, posisi lengan lurus dan kedua bahu tepat diatas sternum
pasien / korban
* Lakukan Kompresi secara vertical berjarak 4 5 cm dengan menekan
sternum dan selanjutnya diadakan relaksasi (dalam waktu sama) tanpa
mengangkat kedua tangan dari dada pasien / korban
* Bila hanya ada 1 penolong = 30 x kompresi dan 2 ventilasi dalam,
harus selesai minimal 15 detik
* Bila ada 2 penolong = 15 x kompresi oleh 1 penolong dan 2 ventilasi
dalam oleh penolong lainnya, maksimal dalam 5 detik
* Kompresi dada harus dilakukan secara halus dan berirama.
E. Unit Terkait

- Instalasi Rekam Medik


- Administrasi Pasien ( Pendafataran dan Kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status Rekam Medik


2. Blanko Resep ( 3 rangkap )
3. Surat Rujukan ( 3 rangkap )
4. Surat Kontrol ( 3 rangkap )

Prosedur Tindakan Fixasi Tanpa


Medikasi
6

No. Dokumen : 4

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :

Halaman : 7

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
.. Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Adalah prosedur melakukan tindakan fiksasi tanpa medikasi pada pasien


dengan kondisi agresif dan gaduh gelisah agar tidak terjadi kemungkinan
yang membahayakan baik bagi pasien maupun orang sekelilingnya.

B. Tujuan

Sebagai acuan untuk prosedur fiksasi tanpa medikasi pada pasien gaduh
gelisah yang membahayakan dirinya maupun orang lain disekitarnya.

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis


Standar Pelayanan Minimal
Standar Therapy R.S.I.A. Buah Hati Pamulang.

D. Prosedur

E. Unit Terkait

1. Dokter dan Perawat menjelaskan kepada pasien dan keluarganya; apa


alasan dan tahapan fiksasi yang akan dilakukan
2. Perawat menjelaskan lamanya pasien di fiksasi
3. Mendapat persetujuan dari keluarga pasien untuk dilakukan tindakan
fiksasi dalam bentuk Informed Consent
4. Perawat bekerja sama dengan petugas keamanan melakukan fiksasi
5. Fiksasi dilakukan secara fisik dengan mengikat kedua lengan dan kaki
pasien pasien dengan menggunakan manset atau tali fiksasi
6. Dokter jaga konsul ke dokter spesialis jaga sesuai indikasi
7. Melakukan evaluasi tentang keadaan umum pasien dan tanda tanda
vital selama di fiksasi
8. Membantu pemenuhan kebutuhan dasar selama di fiksasi; termasuk:
makan, minum, b.a.b, b.a.k, kebersihan diri dan merubah posisi pasien
9. Perawat melepaskan fiksasi bila pasien sudah tenang.
- Instalasi Rekam Medik
- Administrasi Pasien ( Pendaftaran dan Kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status Rekam Medik


2. Surat Persetujuan Tindakan Medik ( Informed Consent )

Prosedur Tindakan Fiksasi Dengan


Medikasi
No. Dokumen : 5

No.Revisi :

Halaman : 8 9

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Adalah prosedur melakukan tindakan fiksasi tanpa medikasi pada pasien


dengan kondisi agresif dan gaduh gelisah agar tidak terjadi kemungkinan
yang membahayakan bagi pasien maupun orang sekitarnya.

B. Tujuan

Sebagai acuan untuk prosedur fiksasi dengan medikasi pada pasien


gaduh gelisah yang dapat membahayakan dirinya maupun orang lain
disekitarnya.

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis


Standar Pelayanan Minimal
Standar Therapy R.S.I.A. Buah Hati Pamulang.

D. Prosedur

E. Unit Terkait

1. Dokter Jaga dan perawat menjelaskan kepada pasien dan keluarganya


apa alasan dan tahapan fiksasi yang akan dilakukan
2. Mendapat persetujuan dari keluarga pasien untuk tindakan fiksasi tsb.
dalam bentuk Informed Consent
3. Perawat atas instruksi dokter jaga melakukan fiksasi
4. Fiksasi dilakukan dengan medikasi dalam bentuk obat injeksi
Haloperidol 5 mg dan Valium 10 mg secara IM / IV
5. Dokter jaga konsulkan ke dokter spesialis jaga sesuai indikasi
6. Melakukan evaluasi tentang keadaan umum pasien dan tanda tanda
vital selama di fiksasi
7. Membantu pemenuhan kebutuhan dasar selama di fiksasi; termasuk:
makan, minum, b.a.b, b.a.k, kebersihan diri dan merubah posisi pasien
- Instalasi Rawat Inap
- Instalasi Laboratorium
- Instalasi Rekam Medik
- Administrasi Pasien ( Pendaftaran dan Kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status Rekam Medik


2. Surat Persetujuan Tindakan Medik ( Informed Consent )
3. Form masuk rawat inap

Prosedur Penatalaksanaan Pasien


dengan Penganiayaan

No. Dokumen : 6

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :
Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
.. Februari 2012

dr.
NIP :
9

Halaman : 10

A. Pengertian

Adalah prosedur penatalaksanaan pasien yang mengalami penganiayaan


fisik sehingga memerlukan pengobatan segera karena kondisi kegawat
daruratan.

B. Tujuan

Sebagai acuan dalam memberikan pengobatan kepada pasien yang


mengalami penganiayaan fisik.

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis

D. Prosedur

E. Unit Terkait

- Perawat UGD menyeleksi pasien di Triage


- Dokter jaga melakukan pemeriksaan fisik secara cermat untuk
menemukan bukti penganiayaan dan mencatat semua hasil
pemeriksaan
- Dokter jaga memberikan therapy yang optimal dan melakukan tindakan
medik sesuai indikasi
- Dokter jaga melakukan konsultasi ke dokter spesialis yang diperlukan
- Melakukan rujukan ke Instalansi Rawat Inap atau RS dengan fasilitas
yang lebih memadai.
- Instalansi Rawat Inap
- Instalansi Farmasi
- Instalansi Rekam Medik
- Administrasi Pasien ( Pendaftaran dan Kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status Rekam Medik


2. Blanko Resep ( 3 rangkap )
3. Surat Konsul Dokter
4. Form masuk rawat inap
5. Surat Rujukan ( 3 rangkap )
6. Surat Keterangan Pemeriksaan Luar Forensik ( 3 rangkap )

Prosedur Penatalaksanaan Korban


Pemerkosaan dan Kekerasan
Seksual
No. Dokumen : 7

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :
Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
.. Februari 2012

dr.
NIP :

10

Halaman : 11 12

A. Pengertian

Adalah pemberian intervensi baik secara fisik maupun psikologis pada


pasien yang menjadi korban pemerkosaan dan kekerasan seksual.

B. Tujuan

Seabagai acuan dalam penatalaksanaan pasien yang mengalami


pemerkosaan dan kekerasan seksual.

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis

D. Prosedur

E. Unit Terkait

1. Perawat UGD menyeleksi pasien di Triage


2. Dokter jaga dan perawat UGD bersikap menenangkan dan mendukung
pasien yang mengalami suatu stress karena ancaman yang tidak
terduga sebelumnya, sehingga korban seringkali bingung selama
periode sesudah kejadian pemerkosaan
3. Perawat mencatat seluruh identitas pasien dan keterangan
keluarganya
4. Dokter memeriksa keadaan fisik pasien dan dokter melakukan
pemeriksaan biakan lendir dari oral, anal dan vaginal bersama dengan
petugas laboratorium
6. Dokter jaga konsul ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan serta
psikiatri untuk mendapatkan pemeriksaan yang akurat
7. Pasien dikirim ke ruang rawat inap atau ke RS dengan fasilitas yang
lebih memadai atau ke Pusat krisis / layanan Psikologis.
- Instalasi Rawat Inap
- Instalasi Laboratorium
- Instalasi Farmasi
- Instalasi Rekam Medik
- Administrasi Pasien ( Pendaftaran dan Kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status Rekam Medik


2. Blanko Resep ( rangkap 3 )
3. Blanko Laboratorium
4. Form masuk rawat inap
5. Surat Rujukan ( 3 rangkap )
6. Surat Keterangan Forensik ( 3 rangkap )

11

Prosedur Penanganan Tingkah


Laku Percobaan Bunuh Diri

No. Dokumen : 8

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

A. Pengertian

No.Revisi :

Halaman : 13 14

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
.. Februari 2012

dr.
NIP :
Adalah prosedur untuk melakukan intervensi medis dan psikologis pada
pasien yang melakukan percobaan bunuh diri dengan berbagai sebab
dan cara sehingga tidak terjadi kondisi yang lebih buruk.
12

B. Tujuan

Sebagai acuan dalam penatalaksanaan pasien yang melakukan


percobaan bunuh diri.

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis

D. Prosedur

E. Unit Terkait

1. Perawat UGD dibantu dengan petugas keamanan dan keluarga pasien


melakukan pengawasan langsung
2. Hindari pengikatan
3. Pasien tidak diizinkan meninggal ruangan UGD
4. Dampingi saat menerima telepon
5. Teliti barang milik pasien / hindari barang barang berbahaya
6. Monitor setiap 15 menit secara teratur
7. Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan terhadap pasien dan
tindakan pengawasan yang harus dilakukan oleh keluarganya
8. Teliti pengunjung yang datang agar tidak meninggalkan barang
berbahaya dalam ruang pasien
9. Dokter jaga UGD melakukan wawancara secara intensif termasuk
aspek psikiatrik, penentuan fisik diagnostik, therapy medikamentosa,
psikotropika supportif dan intervensi krisis dan mencatatnya dalam
status rekam medic
10.Dokter jaga konsul kepada Psikiater atau Internis sesuai indikasi
11.Alih rawat ke Instalansi rawat inap atau rujuk ke RS dengan fasilitas
yang lebih memadai.
- Instalasi Rekam Medik
- Instalasi Rawat Inap
- Intalasi Farmasi
- Administrasi Pasie ( Pendaftaran dan Kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status Rekam Medik


2. Prosedur Therapy
3. Blanko Resep ( 3 rangkap )
4. Form Observasi pasien
5. Form masuk rawat inap
5. Surat Rujukan ( 3 rangkap )

13

Prosedur Penanganan Pasien


Delirium
No. Dokumen : 9

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :

Halaman : 15 16

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
.. Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Adalah Prosedur pemberian therapy kepada pasien yang mengalami


kondisi penurunan kesadaran disertai gaduh gelisah akibat gangguan
sistemik maupun susunan syaraf pusat ( SSP ).

B. Tujuan

Sebagai acuan dalam penatalaksanaan pasien dengan penurunan


kesadaran disertai gaduh gelisah.

14

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis


Standar Pelayanan Minimal
Standar Therapy R.S.I.A. Buah Hati Pamulang.

D. Prosedur

E. Unit Terkait

1. Perhatikan keadaan darurat ABC ( Airway Breathing Circulation )


2. Berikan O2 sesuai instruksi dokter jaga UGD
3. Periksa pemeriksaan Laboratorium dan rekam jantung ( EKG ) sesuai
instruksi dokter jaga
4. Kolaborasi pemberian obat
5. Mencegah terjadinya cedera
6. Pasien ditempatkan dilingkungan yang tidak meimbulkan defensial
sensorik stimulus berlebih
7. Ciptakan lingkungan Therapeutik
8. Bantu untuk memperhatikan orientasinya
9. Dokter jaga UGD konsultasi dengan Neurology, internis dan psikiater
10.Alih rawat ke ruang HCU atau kirim ke RS yang fasilitasnya lebih
memadai, setelah kondisi kegawatdaruratan pasien teratasi.
- Instalasi Rekam Medik
- Instalasi HCU
- Instalasi Laboratorium
- Instalasi Farmasi
- Administrasi Pasien ( Pendaftaran dan Kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Prosedur Tetap
2. Status rekam medik
3. Blanko Laboratorium
4. Blanko EKG
5. Form Observasi
6. Form masuk HCU
7. Blanko Resep ( 3 rangkap )
8. Form Status Tindakan
9. Surat Rujukan ( 3 rangkap )

15

Prosedur Penanganan Kasus Keracunan


Massal
No. Dokumen : 10

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :

Halaman : 17 18

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
.. Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Adalah Pengobatan yang diberikan kepada pasien yang mengalami


keracunan dengan berbagai penyebab yang terjadi secara bersamaan
atau massal ( > 10 orang ) dengan sebab dan dalam waktu yang sama.

B. Tujuan

Sebagai acuan dalam penatalaksanaan pasien pasien yang mengalami


keracunan secara massal.

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis

16

D. Prosedur

E. Unit Terkait

1. Dokter jaga UGD mengidentifikasikan keracunan massal bila korban


keracunan lebih dari 10 orang dalam waktu yang sama / berdekatan
dan diduga oleh penyebab ( makanan ) yang sama
2. Dokter jaga segera melapor kepada Tim Penanggulangan Keracunan
RS dan bertindak sebagai Ketua bila Ketua Tim belum tiba / hadir
3. Ketua Tim melapor kepada Direktur dan mengadakan konsultasi
dengan Dinas Kesehatan tingkat II
4. Perawat UGD mempersiapkan koridor / tempat penampungan korban
bila korban lebih dari 15 orang
5. Petugas keamanan mengamankan UGD dan lokasi penampungan
korban
6. Petugas bagian Logistik farmasi menyediakan obat dan BHP / peralatan
secukupnya
7. Ketua Tim memobilisasi dokter, perawat, satpam tambahan bila
diperlukan
8. Petugas rekam medik melakukan identifikasi pasien / korban
9. Petugas dapur mempersiapkan makanan bagi pasien / korban dan
petugas
10.Dokter jaga dan perawat UGD menseleksi pasien di Triage,
prioritaskan pertolongan berdasarkan tingkat kegawatan pasien /
korban
11.Perawat melakukan stabilisasi ABC bila keracunan < 2 jam dilakukan
pengeluaran isi lambung dengan cara merangsang muntah, bila perlu
dilakukan Bilas Lambung, diberikan Antidotum Activated Charcoal
(NORIT) 40 gram dicampur larutan gula / sirup
12.Perawat melakukan investigasi racun
13.Anamnesa / Allo-anamnesa pasien / korban, keluarga / orang lain yang
terlibat dalam pemberian, pengolahan makanan yang dicurigai
14.Ambil sampel makanan yang dicurigai kemudian masukkan dalam
toples / plastik bersih dan ditutup rapat
15.Ambil sampel dari bilas lambung beberapa pasien / korbandan
diserahkan ke bagian Laboratorium untuk diserahkan pemeriksaannya
ke Laboratorium Kesehatan Daerah ( LabKesDa ) dengan permintaan
tertulis
16.Ketua Tim membuat laporan tertulis dan bila diminta dapat memberikan
keterangan kepada kepolisian, media massa, dll.
17.Dokter jaga UGD konsul ke dokter internis jaga
18.Setelah kondisi gawat darurat teratasi maka pasien dikirim ke instalansi
rawat inap atau dirujuk ke RS dengan fasilitas lebih memadai
- Instalasi Rekam Medik
- Instalasi Farmasi
- Instalasi Laboratorium
- Instalasi Rawat Inap
- Instalasi Gizi
- Administrasi pasien ( Pendaftaran dan Kasir )

17

F. Dokumen Terkait

1. Status rekam medik


2. Form observasi pasien
3. Form laporan keracunan
4. Form masuk rawat inap
4. Blanko Laboratorium
5. Blanko Resep ( 3 rangkap )
6. Surat rujukan ( 3 rangkap )

Prosedur Penatalaksanaan Syok


Anafilaktik
No. Dokumen : 11

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :

Halaman : 19 20

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
.. Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Adalah prosedur pemberian therapy kepada pasien yang mengalami


kondisi syok akibat adanya reaksi alergi terhadap sesuatu zat sehingga
terjadi kondisi kegawatdaruratan.

B. Tujuan

Sebagai prosedur dalam melakukan penatalaksanaan pasien yang


mengalami kondisi syok anafilaktik.

18

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis


Standar Pelayanan Minimal
Standar Therapy R.S.I.A. Buah Hati Pamulang.

D. Prosedur

E. Unit Terkait

1. Segera baringkan pasien terlentang dengan posisi kaki lebih tinggi


daripada badan ( Trendelenburg )
2. Bebaskan jalan nafas
3. Monitoring tekanan darah dan nadi
4. Reaksi Anafilaktik yang terjadi karena pengobatan secara parentheral
(suntikan ), maka bagian proximal tempat penyuntikan harus diikat
dengan karet Torniquet dan pertahankan selama minimal 25 menit
5. Beri secepatnya Adrenalin 1:1000 sebanyak 0,3 cc secara SC / IM
6. Ulangi injeksi Adrenalin 0,3 cc SC / IM tsb. bila dalam 5 15 menit
tekanan darah belum naik
7. Pasang infuse Dextrose 5% atau NaCl 0,9% 10 20 tetes / menit
8. Berikan Aminophyllin 4 mg / kgBB dalam infuse D5% secara IV
perlahan
9. Bila perlu berikan Cortisone inj 2 cc IM atau Oradexon 1 mg 1mpul IV
10.Bila perlu injeksi Delladryl 1 cc IM
11.Bila terjadi Apneu / Henti nafas lakukan resusitasi jantung paru / RJP
12.Observasi di UGD
13.Kirim ke ruang HCU untuk perawatan lebih lanjut
- Instalasi Rekam Medik
- Instalasi HCU
- Administrasi Pasien ( pendaftaran dan kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status rekam medik


2. Form Observasi pasien
3. Blanko resep ( 3 rangkap )
4. Form masuk Rawat HCU

19

Prosedur Penatalaksanaan Penyakit


Menular
No. Dokumen : 12

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :

Halaman : 21

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
. Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Adalah prosedur dalam memberikan therapy kepada pasien yang


menderita penyakit infeksi yang mudah menular kepada orang lain.

B. Tujuan

Sebagai acuan dalam penatalaksanaan pasien yang mengalami penyakit


infeksi yang menular

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis


Standar Pelayanan Minimal
Standar Therapy R.S.I.A. Buah Hati Pamulang.
20

D. Prosedur

E. Unit Terkait

1. Perawat UGD menyeleksi pasien di Triage


2. Dokter jaga UGD memeriksa dengan teliti disertai dengan pemeriksaan
penunjang mendis ( Laboratorium, Radiologi )
3. Dokter jaga memberikan pertolongan pertama sesuai kondisi pasien
4. Setelah dokter jaga mengetahui diagnosa pasien adalah penyakit
menular maka memutuskan untuk merujuk pasien ke RS dengan
fasilitas yang memadai
5. Perawat UGD mempersiapkan ambulans dan perawat pendamping
6. Dokter jaga UGD melapor kepada Direktur bila terjadi KLB ( kejadian
luar biasa ).
- Instalasi Rekam Medik
- Instalasi Laboratorium
- Instalasi Radiologi
- Administrasi Pasien ( pendaftaran dan kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status rekam medik


2. Blanko Laboratorium
3. Blanko Radiologi
4. Surat rujukan

Prosedur Penanganan Kecelakaan


No. Dokumen : 13

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :

Halaman : 22 23

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
... Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Adalah prosedur penatalaksanaan pasien yang mengalami kecelakaan


dalam hal ini khususnya kecelakaan lalu lintas.

B. Tujuan

Sebagai acuan dalam pemberian therapy kepada pasien yang mengalami


kecelakaan lalu lintas

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis


Standar Pelayanan Minimal
Standar Therapy R.S.I.A. Buah Hati Pamulang.

21

D. Prosedur

E. Unit Terkait

1. Baringkan pasien dengan posisi telentang tanpa bantal


2. Perawat UGD lakukan pemeriksaan tanda tanda vital pasien
3. Dokter jaga UGD melakukan anamnesa penyebab KLL ( Auto / Alloanamnesa )
4. Dokter jaga dan perawat periksa luka yang terjadi / ada di seluruh tubuh
5. Pasang infus pada pasien yang mengalami perdarahan hebat dan
terlihat tanda2 syok
6. Lakukan penjahitan luka dan penghentian perdarahan pada luka robek
7. Pasang bidai / spalk pada pasien yang dicurigai ada fraktur pada alat
alat gerak atas / bawah dan lakukan photo rontgen
8. Observasi adanya muntah, perdarahan dan penurunan kesadaran pada
pasien yang dicurigai adanya trauma kepala dan dokter jaga konsul
kepada dokter neurologi
9. Berikan therapy medikamentosa yang adequate
10.Bila kondisi klinis sudah teratasi, maka alih rawat inap atau rujuk ke RS
dengan fasilitas yang memadai ( sesuai dengan indikasi ).
- Instalasi Rekam Medik
- Instalasi Radiologi
- Instalasi Farmasi
- Instalasi Rawat Inap
- Administrasi Pasien ( pendaftaran dan kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status rekam medik


2. Blanko Radiologi
3. Blanko Rawat Inap
4. Blanko Resep ( 3 rangkap )
5. Surat rujukan ( 3 rangkap )

22

Prosedur Penggunaan Bidai / Spalk


No. Dokumen : 14

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :

Halaman : 24

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
.. Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Adalah prosedur pemasangan bidai / spalk yang berfungsi untuk


memfiksasi bagian anggota gerak tubuh yang mengalami dislokasi atau
fraktur agar kondisinya tidak menjadi lebih buruk.

B. Tujuan

Sebagai acuan untuk melakukan tindakan pemasangan bidai / spalk


pasien yang mengalami dislokasi atau fraktur pada anggota gerak
tubuhnya.

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis

23

D. Prosedur

E. Unit Terkait

1. Dokter jaga UGD melakukan anamnesa ( Auto / Allo-anamnesa )


2. Perawat periksa tanda tanda vital pasien
3. Dokter jaga lakukan pemeriksaan akan adanya tanda tanda fraktur
atau dislokasi
4. Observasi keadaan luka fraktur terbuka atau tertutup
5. Pasang bidai / spalk pada daerah fraktur atau dislokasi pada bagian kiri
dan kanannya
6. Lakukan rontgen pada bagian yang mengalami fraktur atau dislokasi
7. Rujuk ke RS dengan fasilitas yang lebih memadai.
- Instalasi Rekam Medik
- Instalasi Radiologi
- Administrasi Pasien ( Pendaftaran dan Kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status rekam medik


2. Surat Rujukan ( 3 rangkap )
3. Blanko resep ( 3 rangkap )
4. Blanko Radiologi

Prosedur Penanganan Luka


Terbuka
No. Dokumen : 15

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :

Halaman : 25 26

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
.. Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Adalah prosedur memberikan pengobatan luka terbuka yang disebabkan


oleh perlukaan tumpul maupun tajam sehingga terjadi perdarahan yang
cukup bermakna.

B. Tujuan

Sebagai acuan dalam penatalaksanaan pasien dengan luka terbuka yang


menimbulkan perdarahan.

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis


Standar Pelayanan Minimal
Standar Therapy R.S.I.A. Buah Hati Pamulang.

24

D. Prosedur

E. Unit Terkait

1. Perawat UGD membersihkan luka dan sekitarnya dengan Bethadine /


NaCl 0,9% ( Asepsis dan Antisepsis )
2. Menghentikan sumber darah yang keluar dengan menekan luka tsb.
3. Menyiapkan Minor set dan obat anesthesi injeksi dan spuit 3 cc
4. Dokter jaga UGD memberikan Anesthesi lokal dan bersihkan kembali
luka dengan H2O2 3%
5. Menjahit luka bagian dalam ( dengan cat gut ), dan menjahit luka bagian
luar ( dengan silk )
6. Rapihkan bentuk jahitan
7. Perawat membersihkan luka yang dijahit dan luka jahitan diberi salep
antibiotik
8. Lakukan pembalutan luka yang dijahit
9. Dokter jaga memberikan therapy oral, oles dan suntikan ( anti tetanus )
10.Dokter jaga dan perawat mengingatkan pasien untuk kontrol lukanya di
UGD.
- Instalasi Rekam Medik
- Instalasi Farmasi
- U.G.D
- Administrasi Pasien ( Pendaftaran dan Kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status rekam medik


2. Blanko resep ( 3 rangkap )
3. Surat kontrol

25

Prosedur Penanganan Luka Bakar


No. Dokumen : 16

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :

Halaman : 27 28

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
.. Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Adalah luka yang disebabkan terbakarnya jaringan tubuh baik oleh api
maupun zat kimia yang bersifat eksplosif dan dapat menimbulkan kondisi
kegawatdaruratan tergantung derajat luka bakarnya.

B. Tujuan

Sebagai acuan dalam penatalaksanaan luka bakar sesuai dengan


derajatnya baik yang disebabkan oleh api ataupun zat kimia lain.

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis

D. Prosedur

1. Bebaskan jalan nafas, beri O2


2. Atasi keadaan syok, segera pasang infuse
3. Bila pasien sadar ( tidak gawat ) timbang berat badannya
4. Dokter jaga UGD melakukan anamnesa ( bagaimana terjadinya luka
bakar?, apa yang menyebabkan sewaktu terbakar?, memakai baju
apa?, berapa lama kontak dengan penyebab luka bakar? )
5. Hitung luas luka bakar ( Rule Of Nine ) :
Kepala dan leher 9%; Lengan dan tangan 9%; Badan atas, depan dan
belakang 18%; Paha, betis dan kaki 18%; Genitalia externa 1%
26

Berikan morfin 10% IV / diencerkan dalam larutan Isotonik 5 cc pada


pasien yang kesakitan sekali
Pasang Catheter
Berikan antibiotic dan serum ATS 3000 U pada dewasa dan dosis
pada anak anak
Lakukan perawatan luka; luka ditutup dengan kassa vaselin tipis
(proforin) atau bioplacenton gel
Alih rawat ke instalansi rawat inap atau rujuk ke RS yang fasilitasnya
memadai.
E. Unit Terkait

- Instalasi rekam medik


- Instalasi farmasi
- Instalasi Rawat inap
- Administrasi pasien ( Pendaftaran dan kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status rekam medik


2. Form observasi
3. Form masuk rawat inap
4. Blanko resep ( 3 rangkap )
5. Surat rujukan ( 3 rangkap )

27

Prosedur Penanganan Trauma


Kepala
No. Dokumen : 17

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :

Halaman : 29 30

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
.. Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Adalah prosedur pengobatan kepada pasien yang mengalami luka


tertutup akibat trauma tumpul pada regio kepala yang dapat berakibat
fatal.

B. Tujuan

Sebagai acuan dalam penatalaksanaan pada pasien yang mengalami


luka kepala tertutup akibat trauma tumpul.

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis


Standar Pelayanan Minimal
Standar Therapy R.S.I.A. Buah Hati Pamulang.

D. Prosedur

Komotio Serebri :
1. Pasien harus istirahat baring ditempat tidur sehingga semua keluhan
hilang; keluhan diobati secara simptomatik
2. Tanda tanda vital dan kesadaran harus dikontrol setiap 30 menit
selama 24 jam pertama
3. Setelah keluhan keluhan seperti nyeri, mual / muntah sudah tidak
ada lagi, maka pasien mulai dimobilisasi dengan mengizinkan duduk
ditempat tidur, kalau pasien tidak mengeluh nyeri maka keesokkan
harinya boleh berdiri dan jalan
4. Bilamana pasien dengan duduk masih terasa sakit kepala maka pasien
harus berbaring lagi dan mobilisasi dicoba lagi keesokkan harinya
28

5. Kalau pasien pulang maka harus dipesankan untuk datang kontrol


seminggu setelah meninggalkan RS
6. Setelah keluar dari RS segala aktivitas disesuaikan dengan
kemampuan pasien.
Kontusio Serebri :
1. Baringkan pasien dengan posisi miring supaya muntah atau darah
tidak masuk kedalam jalan nafas
2. Periksa tanda tanda vital dan evaluasi kesadaran dengan Glasgow
Coma Scale ( GCS )
3. Lakukan penghisapan lender dan muntah darah dari jalan nafas
4. Atasi perdarahan dan segera pasang infus
5. Berikan O2
6. Setelah keadaan pasien stabil, dokter jaga konsul ke dokter Neurologi
7. Rujuk pasien ke RS yang fasilitasnya memadai
E. Unit Terkait

- Instalasi Rekam Medik


- Instalasi Farmasi
- Administrasi Pasien ( Pendaftaran dan Kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status rekam medic


2. Form Evaluasi pasien
3. Form Observasi pasien
4. Blanko Resep ( 3 rangkap )
5. Surat rujukan ( 3 rangkap )

29

Prosedur Penatalaksanaan Status


Asmatikus
No. Dokumen : 18

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :

Halaman : 31 32

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
.. Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Adalah prosedur pemberian therapy kepada pasien yang sedang


mengalami gangguan sesak nafas berat yang tidak member perbaikan
pada pengobatan yang lazim.

B. Tujuan

Sebagai acuan dalam penatalaksanaan kondisi pasien yang sesak nafas


beratagar tidak jatuh dalam kondisi yang membahayakan dirinya.

C. Kebijakan
D. Prosedur

E. Unit Terkait

Standar Pelayanan Medis


Standar Pelayanan Minimal
Standar Therapy R.S.I.A. Buah Hati Pamulang.
1. Perawat UGD menyeleksi pasien di Triage dan segera memberikan O2
dengan kanula nasal
2. Dokter jaga UGD melakukan anamnesa, pemeriksaan keadaan umum,
tanda tanda vital dan menilai berat ringannya serangan
3. Dokter jaga memberikan therapy / tindakan sesuai dengan
penatalaksanaan serangan asma
4. Lakukan pemeriksaan penunjang ( Radiologi dan Laboratorium ) dan
konsul ke dokter Internis
5. Setelah serangan asma reda lakukan evaluasi dan cari factor penyebab
6. Observasi maksimal 12 jam, dilanjutkan dengan alih rawat ke rawat
inap atau rujuk ke RS dengan fasilitas memadai atau pulang dengan
rawat jalan di Poliklinik R.S.I.A. Buah Hati Pamulang
7. Pasien yang dirujuk menggunakan ambulance yang diikuti dengan
pemberian O2 dan didampingi oleh perawat UGD sampai ke RS yang
fasilitasnya memadai.
- Instalasi Rekam Medik
30

- Instalasi Rawat Inap


- Instalasi Farmasi
- Instalasi Radiologi
- Instalasi Laboratorium
- Administrasi Pasien ( Pendaftaran dan Kasir )
F. Dokumen Terkait

1. Status rekam medik


2. Form masuk rawat inap
3. Blanko Radiologi
4. Blanko Laboratorium
5. Blanko Resep ( 3 rangkap )
6. Form Surat rujukan ( 3 rangkap )
7. Form Obaservasi

31

Prosedur Penatalaksanaan
Sindrom Status Epileptikus
No. Dokumen : 19

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :

Halaman : 33 34

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
.. Februari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Adalah prosedur pemberian therapy kepada pasien yang sedang


mengalami gangguan kejang yang berlangsung cukup lama atau
berulang dalam waktu pendek tanpa diselingi keadaan sadar.

B. Tujuan

Sebagai acuan dalam penatalaksanaan pasien yang mengalami kejang


agar tidak jatuh dalam kondisi yang membahayakan dirinya.

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis


Standar Pelayanan Minimal
Standar Therapy R.S.I.A. Buah Hati Pamulang.

D. Prosedur

1. Perawat UGD menyeleksi pasien di Triage


2. Pasien Anak anak :
a. Jalan nafas harus dijaga supaya tetap bebas
Antara kedua rahang diletakkan karet agar lidah tidak tergigit
Baju yang ketat harus dilonggarkan
Pasien ditempatkan yang bebas terjaga untuk menghindari cedera.
b. Dokter jaga memberikan injeksi Diazepam ( Valium ) IV perlahan
lahan dengan dosis :
BB sampai dengan 10 kg = 0,5 0,7 mg / kg BB, min. 2,5 mg
BB 10 20 kg = 0,5 mg / kg BB, min. 7,5 mg
BB > 20 kg = 0,5 mg / kg BB
Bila dalam 20 menit setelah suntikan masih kejang maka dilakukan
suntikan ke 2 dengan dosis yang sama dengan IV
Bila dalam 20 menit setelah suntikan ke 2 masih kejang, berikan
suntikan ke 3 dengan dosis sama dengan IV
c. Bila kejang sudah berhenti, maka diberikan fenobarbital IM, dengan
dosis awal :
Neonatus : 30 mg
Usia 1 bulan 1 tahun : 50 mg
Usia > 1 tahun : 75 mg
32

d. Bila kesadaran menurun beri infus NaCl 0,9% : Dextrose 5% (1:1)


e. Injeksi Corticosteroid ( mis: Dexamethason - 1 ampul setiap 6 jam
sampai keadaan membaik
f. Bila suhu meningkat, kompres dengan es, bisa diberikan Chlorpro mazine 2 4 mg / kg BB / hari.
3. Pasien Dewasa :
a. Bebaskan jalan nafas
Letakkan karet antara kedua rahang
Longgarkan pakaian
Tempatkan pasien ditempat yang bebas dan terjaga untuk menghindari cedera
b. Dokter jaga memberikan therapy Diazepam dengan dosis :
- Awal datang suntikan 10 20 mg IV perlahan lahan
- Bila kejang masih timbul ulangi suntikan diatas sebanyak 3 x dgn
jarak suntikan 30 60 menit dari suntikan sebelumnya
Bila suhu meningkat dapat diberikan Chlorpromazine 50 100 mg
IM / IV
c. Lakukan pemeriksaan penunjang dan dokter jaga konsul ke dokter
neurologi dan psikiatri
d. Setelah serangan reda lakukan evaluasi dan cari factor penyebab
e. Observasi maksimal 24 jam dilajutkan dengan rawat inap / dirujuk
ke RS dengan fasilitas yang memadai atau pulang dgn rawat jalan
ke Poliklinik Syaraf / Anak di R.S.I.A. Buah Hati Pamulang.
E. Unit Terkait

- Instalasi Rekam Medik


- Instalasi Rawat Inap
- Instalasi Farmasi
- Instalasi Radiologi
- Instalasi Laboratorium
- Instalasi Gizi
- Administrasi Pasien ( Pendafataran dan Kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status rekam medic


2. Form Observasi pasien
3. Form masuk rawat inap
4. Blanko Resep ( 3 rangkap )
5. Blanko Radiologi
6. Blanko Laboratorium
7. Form Gizi
8. Surat Rujukan ( 3 rangkap )

33

Prosedur Penatalaksanaan Infark


Miocard Akut
No. Dokumen : 20

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.Revisi :

Halaman : 35 36

Ditetapkan Oleh
Direktur Utama

Tanggal Terbit :
.. Febuari 2012

dr.
NIP :

A. Pengertian

Adalah prosedur dalam melakukan tindakan pertolongan pertama kepada


pasien yang mengalami gangguan sakit dada kiri yang hebat berlangsung
terus menerus sehingga menimbulkan kondisi gawat darurat.

B. Tujuan

Sebagai acuan dalam penatalaksanaan pasien yang mengalami


serangan jantung sehingga tidak jatuh dalam kondisi yang mengancam
jiwanya.

C. Kebijakan

Standar Pelayanan Medis


Standar Pelayanan Minimal
Standar Therapy R.S.I.A. Buah Hati Pamulang.

D. Prosedur

E. Unit Terkait

1. Perawat UGD menyeleksi pasien di ruang Triage


2. Dokter Jaga dan perawat UGD memeriksa, melakukan perawatan dan
tindakan, berupa :
a. Tirah baringkan pasien di ruang Observasi
b. Berikan O2 2 4 liter / menit
c. Pasang infus Dextrose 5% / NaCl 0,9%
d. Pasang dan antau EKG pasien
e. Atasi nyeri dengan Nitrogliserin Sublingual atau morfin SO4 2,5 5 mg
IV, dapat diulang setiap 5 30 menit sampai rasa nyeri hilang
f. Berikan Diazepam injeksi 5 mg IV atau oral untuk mengatasi rasa takut
atau gelisah
g. Mengatasi Bradikardia dengan Sulfas Atropine 0,5 mg
h. Mengatasi arytmia ventricular berikan Lidokain ( Xylocard ) 50 mg IM /
IV
3. Dokter jaga akan berkonsultasi dengan dokter internis
4. Setelah kondisi pasien stabil, segera pasien dirujuk ke RS yang
mempunyai fasilitas peralatan yang lebih memadai.
- Instalasi rekam medik
- Instalasi farmasi
34

- Administrasi pasien ( Pendaftaran dan kasir )

F. Dokumen Terkait

1. Status rekam medik


2. Form observasi
3. Blanko resep ( 3 rangkap )
4. Surat rujukan ( 3 rangkap )

35