Anda di halaman 1dari 124

PAJAK PENGHASILAN BADAN

(PPh BADAN)

Yulianto Dwi Purnandito


purnandito@gmail.com
1

PAJAK DI INDONESIA

Pasal 23A UUD 1945

Pajak dan pungutan lain yang bersifat


memaksa untuk keperluan Negara diatur
dengan undang-undang.

Dasar Hukum Pajak Penghasilan


UU No. 7 Tahun 1983 diubah dengan;
UU No. 10 Tahun 1991 diubah dengan;
UU No. 10 Tahun 1994 diubah dengan;
UU No. 17 Tahun 2000, diubah dengan;
UU No. 36 Tahun 2008 (berlaku mulai 1 Jan 2009)

Pengertian PPh

Pajak yang dikenakan terhadap subjek pajak


berkenaan dengan penghasilan yang diterima
atau diperolehnya dalam tahun pajak.

SUBJEK PAJAK

Orang Pribadi (OP)


Warisan
yang belum terbagi sebagai satu
kesatuan menggantikan yang berhak

SUBJEK PAJAK

Badan
Bentuk Usaha Tetap (BUT)
perlakuan perpajakannya
dipersamakan dengan Subjek Pajak
Badan

(Pasal 2 ayat (1) dan (2) UU Pajak Penghasilan (PPh))

SUBJEK PAJAK DALAM NEGERI

SUBJEK
PAJAK
SUBJEK PAJAK LUAR NEGERI

(Pasal 2 ayat (3) UU PPh)

OP yang bertempat tinggal di Indonesia,

Orang
Pribadi

SUBJEK
PAJAK
DALAM
NEGERI

Badan

OP yang berada di Indonesia lebih dari 183


hari dalam jangka waktu 12 bulan,
OP yang dalam suatu tahun pajak berada di
Indonesia dan mempunyai niat untuk
bertempat tinggal di Indonesia

Didirikan atau
bertempat
kedudukan di
Indonesia, kecuali
unit tertentu dari
badan pemerintah
yang memenuhi
kriteria:

Warisan yang belum terbagi sebagai satu


kesatuan menggantikan yang berhak

(Pasal 2 ayat (3) UU PPh)

pembentukannya
berdasarkan
ketentuan peraturan
perundang-undangan;
pembiayaannya
bersumber dari APBN
dan APBD;
penerimaannya
dimasukkan dalam
anggaran Pemerintah
Pusat atau Pemerintah
Daerah; dan
pembukuannya
diperiksa oleh aparat
pengawasan
fungsional negara

OP yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, OP yang berada di


Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan,
badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di
Indonesia, yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan
melalui BUT di Indonesia

SUBJEK PAJAK
LUAR NEGERI
OP yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, OP yang berada di
Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan,
dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan
di Indonesia, yang dapat menerima atau memperoleh
penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia

BUT menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia yang dapat berupa:
tempat kedudukan manajemen, cabang perusahaan, kantor perwakilan, gedung kantor, pabrik, bengkel,
gudang, ruang untuk promosi dan penjualan, pertambangan dan penggalian sumber alam, wilayah kerja
pertambangan minyak dan gas bumi, perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan,atau kehutanan, proyek
konstruksi, dll

(Pasal 2 ayat (4) dan (5) UU PPh)

SUBJEK PAJAK
DALAM NEGERI

SUBJEK PAJAK
LUAR NEGERI

ORANG PRIBADI:

ORANG PRIBADI DAN BADAN:

- Dimulai pada saat OP tersebut dilahirkan, berada,


atau berniat untuk bertempat tinggal di Indonesia
dan

- Dimulai pada saat OP atau badan tersebut

menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dan;

- Berakhir pada saat meninggal dunia atau


meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya

- Berakhir pada saat tidak lagi menjalankan usaha


atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha
tetap

BADAN:

ORANG PRIBADI DAN BADAN:

- Dimulai pada saat badan tersebut didirikan atau


bertempat kedudukan di Indonesia dan

- Dimulai pada saat OP atau badan tersebut


menerima atau memperoleh penghasilan dari
Indonesia dan;

- Berakhir pada saat dibubarkan atau tidak lagi


bertempat kedudukan di Indonesia

- Berakhir pada saat tidak lagi menerima atau


memperoleh penghasilan tersebut

WARISAN YANG BELUM TERBAGI:


- Dimulai pada saat timbulnya warisan yang belum
terbagi tersebut dan
- Berakhir pada saat warisan tersebut selesai dibagi

(Pasal 2A UU PPh)

Apabila kewajiban pajak subjektif OP yang


bertempat tinggal atau yang berada di
Indonesia hanya meliputi sebagian dari tahun
pajak, maka bagian tahun pajak tersebut
menggantikan tahun pajak

Kantor perwakilan negara asing

Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat


atau pejabat-pejabat lain
Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut; dan
tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain
memberikan pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota

Organisasi internasional, sesuai dengan PMK No.


166/PMK.11/2012
Para pejabat perwakilan organisasi internasional dengan
syarat: bukan WNI dan tidak menjalankan usaha,
kegiatan, atau pekerjaan lain untuk memperoleh
penghasilan dari Indonesia

(Pasal 3 UU PPh)

Sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan


baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha
yang meliputi :
Perseroan Terbatas (PT),
perseroan komanditer (CV),
perseroan lainnya,
Badan Usaha Milik Negara (BUMN),
Badan Usaha Milik Dearah (BUMD),
firma,
kongsi,
koperasi,
dana pensiun,

persekutuan,
perkumpulan,
yayasan,
organisasi massa,
organisasi sosial politik, atau
organisasi lainnya,
lembaga dan bentuk badan lainnya
termasuk kontrak investasi kolektif
dan bentuk usaha tetap (BUT).

(Penjelasan Pasal 2 ayat (1) huruf b UU PPh)


12

OBJEK PAJAK

OBJEK PAJAK
Pasal 4 ayat (1)

PENGHASILAN

SETIAP TAMBAHAN KEMAMPUAN EKONOMIS YANG :


Diterima atau diperoleh Wajib Pajak,
Berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia,
Dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah
kekayaan Wajib Pajak,

DENGAN NAMA DAN DALAM


BENTUK APAPUN
14

KLASIFIKASI
PENGHASILAN
OBJEK PAJAK

(Pasal 4 ayat (1)


UU PPh)

OBJEK PAJAK FINAL


(Pasal 4 ayat (2) UU
PPh)

NON OBJEK PAJAK


(Pasal 4 ayat (3) UU PPh)

OBJEK PAJAK NON


FINAL

Penghasilan dari pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh

Hadiah dari undian pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan

Laba usaha

Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta

penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan
pembayaran tambahan pengembalian pajak

bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian


utang

(Pasal 4 ayat (1) UU PPh)

16

10

11

12

Dividen

Royalti

Laba usaha

Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta

Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala


Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai denga jumlah
tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah

(Pasal 4 ayat (1) UU PPh)

17

13

14

15

Keuntungan selisih kurs mata uang asing


Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva

Premi asuransi

16

Iuran yang diterima/diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang


terdiri dari WP yang menjalankan usaha/pekerjaan bebas

17

Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang


belum dikenakan pajak

(Pasal 4 ayat (1) UU PPh)

18
19
20

Penghasilan dari usaha berbasis syariah


Imbalan bunga sesuai UU KUP
Surplus Bank Indonesia

(Pasal 4 ayat (1) UU PPh)

PPh final (dibayar sendiri atau dipotong pihak lain) tidak dapat
dikreditkan.

Biaya-biaya yang digunakan untuk menghasilkan, menagih, dan


memelihara (3M) penghasilan yang dikenakan PPh final tidak dapat
dikurangkan dalam memperhitungkan PPh terutang pada akhir
tahun (dalam SPT Tahunan PPh).

Penghasilan yang dikenakan PPh final tidak digabung dalam


penghitungan pajak akhir tahun, tapi cukup dilaporkan saja.

penghasilan berupa
bunga deposito
dan tabungan
lainnya, bunga
obligasi dan surat
utang negara, dan
bunga simpanan
yang dibayarkan
oleh koperasi
kepada anggota
koperasi orang
pribadi;

penghasilan berupa
hadiah undian;

(Pasal 4 ayat (2) UU PPh)

penghasilan dari
transaksi saham
dan sekuritas
lainnya, transaksi
derivatif yang
diperdagangkan di
bursa, dan transaksi
penjualan saham
atau pengalihan
penyertaan modal
pada perusahaan
pasangannya yang
diterima oleh
perusahaan modal
ventura;

penghasilan dari
transaksi
pengalihan harta
berupa tanah
dan/atau
bangunan, usaha
jasa konstruksi,
usaha real estate,
dan persewaan
tanah dan/atau
bangunan; dan

penghasilan
tertentu lainnya.

21

Bantuan atau Sumbangan

Harta Hibahan
Warisan

Harta termasuk setoran tunai


Natura dan/atau kenikmatan
Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada OP

dividen atau bagian laba


iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun
(Pasal 4 ayat (3) UU PPh)

22

Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana


pensiun;

Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota


dari perseroan komanditer;
Penghasilan yang diterima atau diperoleh
perusahaan modal ventura;
Beasiswa;

Sisa Lebih yang diterima atau diperoleh badan atau


lembaga nirlaba
Bantuan atau santunan

(Pasal 4 ayat (3) UU PPh)

BENTUK USAHA TETAP (BUT)

Subjek
Pajak

BUT

Orang Pribadi

Badan

Bentuk usaha tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh:
orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di
Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka
waktu 12 (dua belas) bulan, SPLN Orang Pribadi
atau
badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia
SPLN Badan,
untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia.
(Pasal 2 ayat (5) UU PPh)
Kewajiban Pajak Subjektif:
Dimulai pada saat orang pribadi atau badan menjalankan usaha atau
kegiatan melalui suatu Bentuk Usaha Tetap.
Berakhir pada saat orang pribadi atau badan tidak lagi menjalankan usaha
atau kegiatan melalui suatu Bentuk Usaha Tetap
(Pasal 2A ayat (3) UU PPh)

BUT merupakan subjek pajak yang perlakuan perpajakannya dipersamakan dengan


subjek pajak badan (material dan formal).
25

BUT FISIK ATAU AKTIVA:


a. tempat kedudukan manajemen;
b. cabang perusahaan;
c. kantor perwakilan;
d. gedung kantor;
e. pabrik;
f. bengkel;
g. Gudang;
h. Ruang untuk promosi dan penjualan
i. pertambangan & penggalian sumber alam,
j. wilayah kerja pengeboran Migas
k. perikanan, peternakan, pertanian,
perkebunan, atau kehutanan;

Perwujudan BUT
BUT AGEN:
n. orang atau badan yang
bertindak selaku agen yang
kedudukannya tidak bebas,

BUT

BUT PROYEK:
l. proyek konstruksi, instalasi, atau proyek
perakitan;
BUT JASA:
m. pemberian jasa dalam bentuk apapun
oleh pegawai atau orang lain, sepanjang
dilakukan lebih dari 60 hari dalam jangka
waktu 12 bulan;
Subdit PKPI

BUT ASURANSI:
o. Agen atau pegawai dari
perusahaan asuransi yang
tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di
Indonesia yang menerima
premi
asuransi
atau
menanggung
risiko
di
Indonesia.
BUT E-COMMERCE:
p. komputer, agen elektronik,
atau peralatan otomatis yang
dimiliki, disewa, atau digunakan
oleh penye-lenggara transaksi
elektronik untuk menjalankan
kegiatan usaha melalui internet.
26

biaya-biaya BUT :
biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk
dibebankan adalah biaya yang berkaitan dengan usaha atau
kegiatan BUT, yang besarnya ditetapkan oleh Direktur
Jenderal Pajak;
pembayaran kepada kantor pusat yang tidak diperbolehkan
dibebankan sebagai biaya adalah :
royalti atau imbalan lainnya sehubungan penggunaan harta,
paten, atau hak-hak lainnya;
imbalan sehubungan dengan jasa manajemen dan jasa lainnya;
bunga, kecuali bunga yang berkenaan dengan usaha perbankan;

pembayaran yang diterima atau diperoleh dari kantor pusat


tidak dianggap sebagai Obyek Pajak, kecuali bunga yang
berkenaan dengan usaha perbankan.

BIAYA FISKAL

Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan


dengan kegiatan usaha
Biaya penyusutan fiskal dan/atau amortisasi;
Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh Menteri Keuangan (untuk OP);

Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta;


Kerugian dari selisih kurs;
Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang
dilakukan di Indonesia;
(Pasal 6 UU PPh)

Biaya penyusutan fiskal dan/atau amortisasi;

29

Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan (Pasal 6 UU PPh);

Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan memenuhi syarat tertentu
(Pasal 6 UU PPh);

Zakat dan sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib (PP Nomor 60 Tahun 2010);

Pembentukan dan pemupukan cadangan piutang tak tertagih khusus untuk usaha
bank, leasing, cadangan untuk usaha asuransi, Penjamin LPS, cad. Penanaman
kembali hutan, cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan, dan cad. Biaya
penutupan limbah (KMK Nomor : 204/KMK.04/2000);
30

31

Sumbangan Khusus
untuk :

Bencana
Nasional,
Penelitian dan
pengembangan
yang dilakukan
di Indonesia,
Pembangunan
infrastruktur
sosial,
Fasilitas
pendidikan
,
dan
Pembinaan
olahraga

Untuk biaya
telepon seluler:

Dibebankan
50%
Keputusan
Direktur
Jenderal Pajak
Nomor KEP 220/PJ./2002

Untuk Kendaraan
Dinas
dibebankan
50%
Keputusan
Direktur
Jenderal Pajak
Nomor KEP 220/PJ./2002

32

Biaya FISKAL
Beban-beban
golongan :

dapat

dibagi

dalam

(dua)

1. biaya yang mempunyai masa manfaat tidak


lebih dari 1 (satu) tahun merupakan biaya pada
tahun yang bersangkutan,

2. biaya yang mempunyai masa manfaat lebih


dari 1 (satu) tahun. pembebanannya dilakukan
melalui penyusutan atau melalui amortisasi.
33

BIAYA YANG TIDAK BOLEH


DIKURANGKAN

Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun


Biaya yang dibebankan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, atau
anggota

Pembentukan dan pemupukan dana cadangan


Premi asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna, dan asuransi bea siswa, yang
dibayar oleh WP OP
Penggantian/ imbalan pekerjaan/jasa yg diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan
Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau pihak
yang mempunyai hubungan istimewa

Pasal 9 UU PPh

Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan


Pajak penghasilan
Biaya yang dibebankan/dikeluarkan untuk kepentingan pribadi wp atau
orang yang menjadi tanggungan
Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham
Sanksi administrasi serta sanksi pidana di bidang perpajakan

Pasal 9 UU PPh

DEPRESIASI

untuk
pembelian,
pendirian,
penambahan,
perbaikan, atau perubahan harta berwujud,
kecuali tanah yang berstatus hak milik, hak guna
bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai,
yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun.

(Pasal 11 ayat (1) UU PPh )

38

dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat


yang telah ditentukan bagi harta tersebut (metode Garis
Lurus) ayat (1)
dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat,
yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas
nilai sisa buku, dan pada akhir masa manfaat nilai sisa buku
disusutkan sekaligus, dengan syarat dilakukan secara taat asas
(Metode Saldo Menurun) ayat (2)

(Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU PPh )

39

Kelompok Harta
Berwujud
I. Bukan bangunan
Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 3
Kelompok 4
II. Bangunan
Permanen
Tidak Permanen

(Pasal 9 ayat (6) UU PPh )

Masa
Garis Lurus Saldo Menurun
Manfaat

4 tahun
8 tahun
16 tahun
20 tahun

25%
12,5%
6,25%
5%

20 tahun
10 tahun

5%
10%

Daftar Kelompok
Harta (PMK no.
96/PMK.03.2009)

50%
25%
12,5%
10%

Untuk perusahaan
penanam modal
mekanisme penyusutan
mengacu pada PP 52 Tahun
40
2011

DEPRESIASI
Termasuk Kelompok I
1. Mebel dan peralatan dari kayu atau rotan termasuk meja, bangku,
kursi, almari dan sejenisnya yang bukan bagian dari bangunan.
2. Mesin kantor seperti mesin tik, mesin hitung, duplikator, mesin
fotokopi, mesin akunting/pembukuan, komputer, printer, scanner
dan sejenisnya.
3. Perlengkapan lainnya seperti amplifier, tape/cassette, video
recorder, televisi dan sejenisnya.
4. Sepeda motor, sepeda dan becak.
5. Alat perlengkapan khusus (tools) bagi industri/jasa yang
bersangkutan.
6. Alat dapur untuk memasak, makanan dan minuman.
7. Dies, jigs, dan mould.
41

DEPRESIASI
Termasuk Kelompok II
1. Mabel dan peralatan dari logam temasuk meja,
bangku, kursi, almari dan sejenisnya yang bukan
merupakan bagian dari bangunan. Alat pengatur
udara seperti AC, kipas angin dan sejenisnya.
2. Mobil, bus, truk speed boat dan sejenisnya.
3. Container dan sejenisnya.

42

DEPRESIASI
Contoh penggunaan metode garis lurus:
Sebuah gedung yang harga perolehannya
Rp1.000.000.000,- dan masa manfaatnya 20
tahun,
penyusutannya setiap tahun adalah sebesar
Rp1.000.000.000,- x 5% = Rp50.000.000,43

DEPRESIASI
Contoh penggunaan metode saldo menurun:
Sebuah mesin yang dibeli dan ditempatkan pada
bulan Januari 2009 dengan harga perolehan
sebesar Rp150.000.000,- Masa manfaat dari
mesin tersebut adalah 4 tahun. penghitungan
penyusutannya adalah sebagai berikut.

44

DEPRESIASI
Tahun

Tarif

Penyusutan

Harga Perolehan

Nilai Sisa Buku


150.000.000,-

2009

50%

75.000.000,-

75.000.000,-

2010

50%

37.500.000,-

37.500.000,-

2011

50%

18.750.000,-

18.750.000,-

2012

Disusutkan sekaligus

18.750.000,-

45

AMORTISASI

untuk memperoleh harta tak berwujud (hak cipta, hak


paten, dan lainnya) dan pengeluaran lainnya termasuk
biaya perpanjangan hak guna bangunan, hak guna
usaha, hak pakai, dan muhibah (goodwill)
yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun
yang dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan

(Pasal 11A UU PPh )

47

dalam bagian-bagian yang menurun selama


masa manfaat, yang dihitung dengan cara
menerapkan tarif amortisasi atas pengeluaran
tersebut atau atas nilai sisa buku dan pada akhir
masa manfaat diamortisasi sekaligus dengan
syarat dilakukan secara taat asas. (Saldo
Menurun)

(Pasal 11A ayat (1) UU PPh )

48

Kelompok Harta
Tak Berwujud

Masa
Manfaat

Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 3
Kelompok 4

4 tahun
8 tahun
16 tahun
20 tahun

(Pasal 11A ayat (2) UU PPh )

Tarif Amortisasi
Garis
Lurus

Saldo
Menurun

25%
12,5%
6,25%
5%

50%
25%
12,5%
10%
49

AMORTISASI
Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi
komersial yang mempunyai masa manfaat lebih dari
1 tahun, dikapitalisasi dan kemudian diamortisasi
misalnya
biaya studi kelayakan
biaya produksi percobaan
tidak termasuk biaya-biaya operasional yang
sifatnya rutin,
50

PENGHITUNGAN PPh BADAN

MELAMPIRKAN LAPORAN KEUANGAN LENGKAP SEPERTI:


NERACA, LAPORAN RUGI LABA, DAFTAR PENYUSUTAN, DAN
LAIN-LAIN
YANG DIISI TERLEBIH DAHULU ADALAH FORMULIR LAMPIRAN,
BUKAN INDUKNYA

DI SETIAP LEMBAR JANGAN LUPA MENGISI IDENTITAS SEPERTI


NAMA, NPWP DAN TAHUN PAJAKNYA
JANGAN LUPA MEMBUBUHKAN TANDA TANGAN, KARENA JIKA
TIDAK SPT YANG ANDA LAPORKAN DIANGGAP TIDAK SAH
JIKA SPT MENUNJUKKAN KURANG BAYAR, KEKURANGAN
TERSEBUT HARUS DIBAYAR PALING LAMBAT SEBELUM SPT
DILAPORKAN
PEMBAYARAN DAPAT DILAKUKAN DI KANTOR POS ATAU BANK
52

BAGAIMANA
MENGHITUNG
PAJAK?

XXXX

JUMLAH SELURUH PENGHASILAN BRUTO


BIAYA

XXXX

JUMLAH PENGHASILAN NETO KOMERSIAL

XXXX

KOREKSI FISKAL
POSITIF
NEGATIF

XXXX
(XXX)

PENGHASILAN NETO FISKAL

XXXX

KOMPENSASI KERUGIAN

XXXX

PENGHASILAN KENA PAJAK

XXXX

PPh TERUTANG

XXXX

KREDIT PAJAK

XXXX

DIPOTONG/DIPUNGUT PIHAK KETIGA

XXXX
XXXX

TELAH DIBAYAR SENDIRI

(-)

(+)

(-)

(+)

JUMLAH KREDIT PAJAK

XXXX

KURANG/LEBIH BAYAR

XXXX

(-)
53

Penghitungan Penghasilan
Seluruh Wajib Pajak Badan
(tidak memandang omzet)

WAJIB PEMBUKUAN
Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip
taat asas dan dengan stelsel akrual atau
stelsel kas
54

Pembukuan
proses pencatatan yang dilakukan secara teratur
data & informasi keuangan

Pembukuan

harta

kewajiban

ph & biaya

modal

Jumlah Harga Perolehan & Penyerahan Barang/Jasa

laporan keuangan
neraca

laporan laba rugi

*Berdasarkan Pasal 1 angka 29 UUKUP


55

Ketentuan-ketentuan Pembukuan
Pembukuan atau pencatatan tersebut harus diselenggarakan dengan:
memperhatikan iktikad baik dan mencerminkan keadaan atau
kegiatan usaha yang sebenarnya
menggunakan huruf latin, angka Arab, satuan mata uang
rupiah, dan disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam
bahasa asing yang diizinkan oleh Menkeu
harus diselenggarakan di Indonesia
diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel
akrual dan stelsel kas
Perubahan terhadap metode pembukuan dan/atau tahun buku harus mendapat
persetujuan dari Dirjen Pajak
*Berdasarkan Pasal 28 UUKUP
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

56

Pembukuan dalam
Bahasa Asing & Mata Uang Selain Rupiah
$
WP dapat menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan Bahasa Inggris dan
satuan mata uang Dollar AS:

WP dalam rangka PMA

WP dalam rangka Kontrak


Karya

WP Kontraktor KKS

Bentuk Usaha Tetap

Kontrak Investasi Kolektif (KIK)


WP yg mendaftarkan emisi sahamnya di bursa efek LN
WP yang berafiliasi langsung dengan perusahaan induk di luar negeri
*Berdasarkan PMK No. 196/PMK.03/2007
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

57

Penyimpanan Pembukuan

Buku, catatan, dan


dokumen
termasuk hasil
pengolahan data

dasar
pembukuan/
pencatatan

10 tahun

di Indonesia

*Berdasarkan Pasal 28 UUKUP


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

58

SANKSI-SANKSI
Setiap orang yang dengan sengaja:
memperlihatkan pembukuan atau
pencatatan yang palsu
tidak menyelenggarakan pembukuan
atau pencatatan di Indonesia

tidak memperlihatkan atau tidak


meminjamkan buku, catatan, atau
dokumen lain
tidak menyimpan buku, catatan, atau
dokumen yang menjadi dasar
pembukuan atau pencatatan

menimbulkan kerugian pada


pendapatan negara

dipidana dengan pidana penjara 6


bulan - 6 tahun

dan
dan denda 2-4x jumlah pajak
terutang yang tidak/kurang dibayar
*Berdasarkan Pasal 39 UUKUP

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

59

KOMPENSASI KERUGIAN

Apabila
penghasilan
bruto
setelah
pengurangan biaya didapat kerugian, maka
kerugian tersebut dikompensasikan dengan
penghasilan mulai tahun pajak berikutnya
berturut-turut sampai dengan 5 tahun.

60

KOMPENSASI KERUGIAN
PT ABADI JAYA dalam tahun 2009 menderita kerugian
fiskal sebesar Rp1.200.000.000,- (satu miliar dua ratus
juta rupiah). Dalam 5 (lima) tahun berikutnya laba rugi
fiskal PT ABADI JAYA sebagai berikut :

2010
2011
2012
2013
2014

:laba fiskal Rp200.000.000,: rugi fiskal (Rp300.000.000,-)


: laba fiskal Rp N I H I L
: laba fiskal Rp100.000.000,: laba fiskal Rp800.000.000,61

KOMPENSASI KERUGIAN
Rugi fiskal tahun 2009

(Rp1.200.000.000,-)

Laba fiskal tahun 2010

Rp 200.000.000,- (+)

Sisa rugi fiskal tahun 2009

(Rp1.000.000.000,-)

Rugi fiskal tahun 2011

(Rp 300.000.000,-)

Sisa rugi fiskal tahun 2009

(Rp1.000.000.000,-)

Laba fiskal tahun 2012

Rp

Sisa rugi fiskal tahun 2009

(Rp1.000.000.000,-)

Laba fiskal tahun 2013

Rp 100.000.000,- (+)

Sisa rugi fiskal tahun 2009

(Rp 900.000.000,-)

Laba fiskal tahun 2014

Rp 800.000.000,- (+)

Sisa rugi fiskal tahun 2009

(Rp 100.000.000,-)

NIHIL

(+)

62

Penghasilan Kena Pajak (Ph Kena Pajak)


Penghasilan Kena Pajak merupakan dasar
penghitungan
untuk
menentukan
besarnya PPh yang terutang
Untuk keperluan penerapan tarif pajak,
jumlah Penghasilan Kena Pajak dibulatkan
ke bawah dalam ribuan rupiah penuh.
63

Penghasilan Kena Pajak (Ph Kena Pajak)


Contoh:
-Peredaran bruto
-Biaya untuk mendapatkan, menagih,
dan memelihara penghasilan
-Laba usaha (penghasilan neto usaha)

-Penghasilan lainnya
-Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan lainnya tersebut

-Jumlah seluruh penghasilan neto


-Kompensasi kerugian
--Penghasilan Kena Pajak

Rp

6.000.000.000,-

Rp
Rp

5.400.000.000,-(-)
600.000.000,-

Rp

50.000.000,-

Rp
Rp

30.000.000,-(-)
20.000.000,-(+)

Rp
Rp
Rp

620.000.000,10.000.000,-(-)
610.000.000,64

Tarif sebelum
tahun pajak 2009
Omzet di atas 50 M
(Pasal 17 ayat (1) huruf b &
ayat (2a) UU PPh)

Omzet s.d. 50 M
Tarif PPh Badan

(Pasal 31E UU PPh)

Perseroan terbuka (tbk)


(Pasal 17 ayat (2b) UU PPh)

Tarif tahun pajak


2009
Tarif tahun pajak
2010 s.d.
sekarang

Tahun

Sebelum Tahun 2009

Lapisan Penghasilan

Tarif

s.d Rp 50.000.000

10%

Di atas Rp50.000.000 s.d. Rp 100.000.000

15%

Di atas Rp100.000.000

30%

Tahun 2009
Tahun 2010 - sekarang

(Pasal 17 ayat (1) huruf b & ayat (2a) UU PPh)

28 %

25 %

Jumlah Penghasilan Kena Pajak (PKP)


:
1. Untuk tahun pajak 2008
X Rp 50.000.000
X Rp 50.000.000
X Rp 90.000.000
Jumlah
2. Untuk tahun pajak 2009 :
X 190.000.000

Rp 190.000.000

=
=
=

Rp 5.000.000
Rp 7.500.000
Rp 27.000.000
Rp 39.500.000

Rp 53.200.000

3. Untuk tahun pajak 2010-sekarang:


X 190.000.000
=
Rp 47.500.000

Omzet sampai dengan 4,8 M


pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif pasal 17

Sisa omzet yang telah dikurangi bagian 4,8 M


tetap menggunakan tarif pasal 17

Bagian Omzet

Tahun 2009

Tahun 2010

Bagian omzet s.d. 4,8 M

14 %

12.5%

Bagian omzet 4,8 s.d. 50 M

28 %

25 %

(Pasal 31E UU PPh )

PT X tahun 2009
Peredaran Usaha (Omzet)
Penghasilan Kena Pajak (PKP)
Uraian

Rp. 30.000.000.000
Rp. 5.000.000.000

Omzet

PKP

Tarif

PPh

800.000.000

14%

112.000.000

28%

1.176.000.000

4,8 M
Fasilitas

4,8 M
30 M

5M

Tarif biasa

4,8 M s.d 30 M
(sisanya)

4.200.000.000

Total

30.000.000.000

5.000.000.000

Jumlah PPh Terutang

1.288.000.000

Untuk Perseroan Terbuka


(minimal 40% saham dimiliki publik)
mendapatkan pengurangan tarif 5%

Tarif pajak 2009


Tarif Pajak 2010 s.d. sekarang
(Pasal 17 ayat (2b) UU PPh)

= 23%
= 20%

PPh ditanggung Pemerintah


atas penghasilan yang diterima atau diperoleh :
Kontraktor,
Konsultan, dan
Pemasok (supplier) Utama
dari pekerjaan yang dilakukan dalam rangka
pelaksanaan proyek-proyek Pemerintah yang dibiayai :
dana hibah
dana pinjaman luar negeri
71

PPh ditanggung Pemerintah


sebesar jumlah PPh yang tidak bersifat final
dihitung dengan formula
DANA PINJAMAN LN/HIBAH X PPh TERUTANG
TOTAL BIAYA PROYEK

72

PENGEMBALIAN/PENGURANGAN PPh PASAL 24


YANG TELAH DIKREDITKAN

Apabila pajak atas penghasilan dari luar negeri


yang
dikreditkan
ternyata
kemudian
dikurangkan atau dikembalikan
Maka:
pajak yang terutang harus ditambah dengan
jumlah tersebut pada tahun pengurangan atau
pengembalian itu dilakukan.
73

PENGEMBALIAN/PENGURANGAN PPh PASAL 24


YANG TELAH DIKREDITKAN

Misalnya, dalam tahun 2010, Wajib Pajak


mendapat pengurangan pajak atas penghasilan
luar negeri tahun pajak 2009 sebesar
Rp5.000.000,- yang semula telah termasuk dalam
jumlah pajak yang dikreditkan terhadap pajak
yang terutang untuk tahun pajak 2009,
maka jumlah sebesar Rp5.000.000,- tersebut
ditambahkan pada PPh yang terutang dalam
tahun pajak 2010.
74

Kredit Pajak Dalam Negeri


Merupakan PPh Yang Telah Dipotong / Dipungut Oleh
Pihak Lain di Dalam Negeri, berasal dari :
pemungutan pajak atas penghasilan dari kegiatan di
bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain (PPh
Pasal 22);
pemotongan pajak atas penghasilan berupa deviden,
bunga, royalti, sewa, hadiah dan penghargaan,
danimbalan jasa (PPh Pasal 23);
75

Contoh:

PPh yang terutang


Kredit pajak:
PPh Pasal 22
PPh Pasal 23
PPh yang dapat dikreditkan
PPh YANG HARUS DIBAYAR SENDIRI

Rp 80.000.000,Rp 10.000.000,Rp 5.000.000,Rp 15.000.000,Rp 65.000.000,-

76

Kredit Pajak Luar Negeri

Merupakan
pajak yang dibayar atau
terutang atas penghasilan dari luar negeri
yang boleh dikreditkan (PPh Pasal 24)

77

Contoh:

PT A di Indonesia merupakan pemegang


saham tunggal dari Z Inc. di Negara X. Z Inc.
tersebut dalam tahun 2009 memperoleh
keuntungan sebesar US$100.000,PPh yang berlaku di negara X adalah 48%
dan Pajak Dividen adalah 38%.
Penghitungan pajak atas dividen tersebut
adalah sebagai berikut:
78

Penghitungan pajak atas dividen tersebut adalah sebagai berikut:

Keuntungan Z Inc

US$ 100,000.00

PPh (Corporate income tax)


atas Z Inc.: (48%)

US$ 48,000.00 (-)


US$ 52,000.00

Pajak atas dividen (38%)

US$ 19,760.00 (-)

Dividen yang dikirim ke Indonesia

US$ 32,240.00

79

PPh yang dapat dikreditkan terhadap seluruh PPh yang


terutang atas PT A adalah pajak yang langsung
dikenakan atas penghasilan yang diterima atau
diperoleh di luar negeri, dalam contoh di atas yaitu
jumlah sebesar US$19,760.00.

PPh (Corporate income tax) atas Z Inc. sebesar


US$48,000.00 tidak dapat dikreditkan terhadap PPh
yang terutang atas PT A, karena pajak sebesar
US$48,000.00 tersebut tidak dikenakan langsung atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh PT A dari luar
negeri, melainkan pajak yang dikenakan atas
keuntungan Z Inc. di negara X.
80

PPh YANG DIBAYAR SENDIRI


pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri :
pembayaran oleh Wajib Pajak sendiri berupa
PPh Pasal 25.
Pokok Pajak dalam STP PPh Pasal 25

81

PPh Pasal 25
Pelunasan dilakukan untuk setiap bulan
Pelunasan pajak merupakan angsuran pajak
yang boleh dikreditkan terhadap Pajak
Penghasilan yang terutang untuk tahun pajak
yang bersangkutan,

82

Pokok Pajak dalam STP PPh Pasal 25


Tidak termasuk bunga dan sanksi administrasi
Walaupun STP belum dibayar tetap dapat
dikreditkan karena proses penagihan STP akan
tetap berjalan s.d STP tersebut dilunasi

83

PPh Pasal 29 (Kurang Bayar)


Apabila pajak yang terutang untuk suatu
tahun pajak ternyata lebih besar daripada
kredit pajak, kekurangan pembayaran pajak
yang terutang harus dilunasi sebelum Surat
Pemberitahuan Tahunan PPh disampaikan.

84

PPh Pasal 28 (Lebih Bayar)


Apabila pajak yang terutang untuk suatu tahun pajak
ternyata lebih kecil dari jumlah kredit pajak, maka setelah
dilakukan pemeriksaan, kelebihan pembayaran pajak
dikembalikan setelah diperhitungkan dengan utang pajak
berikut sanksi-sanksinya
Dengan mempertimbangkan :
kebenaran materiil tentang besarnya pajak penghasilan
yang terutang;
keabsahan bukti-bukti pungutandan bukti-bukti potongan
pajak serta bukti pembayaran pajak oleh Wajib Pajak
sendiri selama dan untuk tahun pajak yang bersangkutan.
85

Pelaporan PPh BADAN

1. Pelaporan Masa : Menggunakan SPT Masa (Lembar ke


-3 SSP)
2. Pelaporan Tahunan : SPT Tahunan :
a. SPT 1771 :
Untuk WP BADAN PEMBUKUAN RUPIAH
b. SPT 1771 $ :
Untuk WP BADAN YANG MENDAPAT IZIN MENKEU
UNTUK MENYELENGGARAKAN PEMBUKUAN DALAM
MATA UANG ASING
87

JATUH TEMPO PEMBAYARAN DAN PELAPORAN

1. Pembayaran Masa : Paling Lambat Tanggal 15 Masa Pajak Berikutnya


2. Pelaporan Masa : Paling Lambat Tanggal 20 Masa Pajak Berikutnya
(sesuai Per 22/PJ/2008 WP yang membayar ditempat pembayaran
online sudah dianggap lapor)
3. Pembayaran Tahunan / Pasal 29 : Paling Lambat Sebelum SPT
Disampaikan
4. Pelaporan SPT Tahunan : Paling Lambat Akhir Bulan Ke Empat Setelah
Tahun Pajak Berakhir

88

April 2014

30

ATAU

(PASAL 3 AYAT (3) HURUF c, UU KUP)

4 BULAN SETELAH
TAHUN BUKU BERAKHIR
(BAGI WP YANG TAHUN
BUKUNYA TIDAK SAMA
DENGAN TAHUN
TAKWIM)

www.pajak.go.id

Download/
unduh

Ambil
sendiri

KPP / KP2KP

Mobil Pajak Keliling/


Pojok Pajak

Laporan
Keuangan

Bayar

Hitung
Kurang Bayar (KB)

Isi SPT

Lebih Bayar (LB)


Nihil (N)

Lapor
Langsung ke KPP/KP2KP
Kantor Pos/Kurir/Jasa
Pengiriman
91

Jangan lupa
menyimpan
Bukti
Penyampaian
SPT Tahunan

Pojok Pajak

KPP/KP2KP
Langsung

Drop Box

Tempat lain

Media
Penyampaian
SPT Tahunan

Mobil Pajak

Kantor Pos
Perusahaan ekspedisi/kurir

e-Filing

dengan bukti pengiriman surat


ke KPP tempat WP terdaftar

melalui website DJP


(www.pajak.go.id) khusus
formulir 1770 S & 1770 SS

LEMBAR INFORMASI AMPLOP SPT TAHUNAN


NPWP

Nama Wajib Pajak

Tahun Pajak

Status SPT *

Nihil

Kurang Bayar

Jenis SPT*

SPT Tahunan

SPT Tahunan Pembetulan Ke- ...

Perubahan Data*

Ada

Tidak Ada

Lebih Bayar

Jika ada perubahan data Wajib Pajak, maka tempelkan formulir perubahan data pada amplop SPT Tahunan

No. Telp/HP

Pernyataan

Dengan menyadari sepenuhnya atas segala akibat termasuk sanksi-sanksi sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku, saya menyatakan bahwa informasi pada amplop ini sesuai dengan SPT Tahunan yang
terdapat dalam amplop ini.

Tanda Tangan

DENDA &
BUNGA

PIDANA KARENA
ALPA

PIDANA KARENA
SENGAJA

Ps. 7 UU KUP

Ps. 38 UU KUP

Ps. 39 UU KUP

TIDAK MENYAMPAIKAN SPT atau

Rp 1.000.000
dan 2% dari
Kurang Bayar

MENYAMPAIKAN SPT:
ISINYA TIDAK BENAR
TIDAK LENGKAP
MELAMPIRKAN KETERANGAN YANG
ISINYA TIDAK BENAR

kurungan paling singkat 3 bln


atau paling lama 1 tahun dan
denda paling sedikit 1 kali dari
pajak yg terhutang atau 2 kali
dari pajak terhutang
94

penjara paling singkat 6 bulan


dan paling lama 6 tahun dan
denda paling sedikit
2 x dari jumlah pajak terutang
dan paling banyak 4 kali dari
jumlah pajak terutang

Isilah SPT Tahunan


Anda dengan
BENAR,
LENGKAP, dan
JELAS

PPh Pasal 25
Pelunasan PPh Badan yang dilakukan setiap
bulan dan merupakan angsuran pajak yang
boleh dikreditkan terhadap PPh Badan yang
akan terutang untuk tahun pajak yang
bersangkutan

Angsuran PPh Pasal 25


Angsuran PPh Pasal 25 =

PPh terutang SPT Tahunan PPh Badan tahun


sebelumnya - (PPh Pasal 22 + Pasal 23 + PPh
Pasal 24 tahun sebelumnya)
-------------------------------------------------------------12 bulan

Angsuran PPh Pasal 25


Contoh 1:
PPh yang terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh tahun
2009 dikurangi:
a.

Rp 50.000.000,-

PPh yang dipungut oleh pihak lain (Pasal 22)


Rp25.000.000,-

b.

PPh yang dipotong oleh pihak lain (Pasal 23)


Rp 2.500.000,-

c.

Kredit PPh luar negeri (Pasal 24)


Rp 7.500.000,- (+)

Jumlah kredit pajak

Rp35.000.000,- (-)

Selisih

Rp15.000.000,-

Angsuran PPh Pasal 25 yang harus dibayar sendiri setiap bulan


untuk tahun 2010 adalah sebesar Rp1.250.000,- (Rp15.000.000,dibagi 12).

Angsuran PPh Pasal 25


Besarnya angsuran PPh Pasal 25 untuk bulan-bulan sebelum SPT
Tahunan PPh disampaikan sama dengan besarnya angsuran
pajak untuk bulan terakhir tahun pajak yang lalu.
Contoh:

SPT Tahunan PPh disampaikan oleh Wajib Pajak orang pribadi pada bulan Februari
2010, besarnya angsuran pajak yang harus dibayar Wajib Pajak tersebut untuk
bulan Januari 2010 adalah sebesar angsuran pajak bulan Desember 2009

bulan September 2009 diterbitkan keputusan pengurangan angsuran pajak


menjadi nihil sehingga angsuran pajak sejak bulan Oktober sampai dengan
Desember 2009 menjadi nihil, besarnya angsuran pajak yang harus dibayar Wajib
Pajak untuk bulan Januari 2010 tetap sama dengan angsuran bulan Desember
2009, yaitu nihil.

Angsuran PPh Pasal 25


Menteri Keuangan menetapkan penghitungan
besarnya angsuran pajak bagi:
Wajib Pajak baru;
bank, BUMN, BUMD, Wajib Pajak masuk
bursa, dan Wajib Pajak lainnya yang
berdasarkan ketentuan peraturan perUUan
harus membuat laporan keuangan berkala;

PENGENAAN PPH DENGAN


OMZET TERTENTU

102

Subjek Pajak
Orang pribadi
Badan, tidak termasuk BUT,
yang menerima penghasilan dari usaha dengan peredaran
bruto tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 (satu) Tahun Pajak.

103

Pengecualian Subjek Pajak


WP OP yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa
yang dalam usahanya menggunakan sarana atau prasarana yang
dapat dibongkar pasang, baik yang menetap maupun tidak menetap
dan menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan
umum yang tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan,
misalnya pedagang makanan keliling, pedagang asongan, warung
tenda di trotoar, dan sejenisnya.

WP badan yang belum beroperasi secara komersial atau yang dalam


jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial
memperoleh peredaran bruto melebihi Rp4,8 miliar.

104

Objek Pajak
Penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak
dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 tahun.
Peredaran bruto merupakan peredaran bruto dari usaha, termasuk
dari usaha cabang.
tidak termasuk peredaran bruto dari:

Jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas;


penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri;
usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan
yang bersifat final dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan tersendiri; dan
penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.

105

Jasa Sehubungan dengan


Pekerjaan Bebas
a. pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris;
b. pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang
sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model,
peragawan/peragawati, pemain drama, dan penari;
c. olahragawan;
d. penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;
e. pengarang, peneliti, dan penerjemah;
f. agen iklan;
g. pengawas atau pengelola proyek;
h. perantara;
i. petugas penjaja barang dagangan;
j. agen asuransi; dan
k. distributor perusahaan pemasaran berjenjang (multilevel marketing) atau
penjualan langsung (direct selling) dan kegiatan sejenis lainnya.

106

Dasar Penentuan Dikenakan PPh Final (1)


Pengenaan PPh didasarkan pada peredaran bruto dari usaha
dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun
Pajak yang bersangkutan yang tidak melebihi Rp4,8 Miliar.

2012
Omzet perdagangan
Rp4 miliar

2013

2013
dikenai PPh Umum s.d
sebelum berlaku PP 46
Tahun 2013
PPh final 1% Juli s.d.
2014
Des 2013 meskipun
total omzet tahun
berjalan misalnya Rp5
miliar

2014
Jika omzet 2013 Rp5
miliar maka tahun
2014 dikenai dengan
Tarif Umum
2015
Ketentuan UU PPh

Dalam hal pada tahun berjalan, peredaran bruto sudah melebihi Rp4,8 miliar,
tetap dikenai PPh final sampai dengan akhir Tahun Pajak dan tahun
berikutnya dikenai ketentuan PPh umum.
107

Penentuan Peredaran Bruto


CV Andik memiliki usaha penjualan gerabah dan memiliki peredaran
bruto:
Januari s.d Desember 2013 sebesar Rp4.000.000.000,00
Januari s.d Oktober 2014 sebesar Rp5.000.000.000,00
2013

2013

2015

2014

2014

108

Dasar Penentuan Untuk Dikenakan PPh Final (2)


Dasar peredaran bruto Rp4,8 miliar untuk dapat dikenai PPh final :
peredaran bruto tahun terakhir (setahun atau disetahunkan, dalam hal
tahun terakhir meliputi kurang dari 12 bulan).
Dalam hal WP baru terdaftar pada Tahun Pajak yang sama sebelum PP
ini berlaku dasar Peredaran Bruto adalah: akumulasi peredaran
bruto dari bulan berdiri s.d. bulan sebelum PP ini berlaku, yang
disetahunkan.
Dalam hal WP baru terdaftar setelah PP ini berlaku dasar peredaran
bruto adalah: peredaran bruto bulan pertama disetahunkan.

109

Penentuan Peredaran Bruto


Rajesh Memiliki Tiga
Toko Tekstil

Pasar A
Rp80.000.000,00

Pasar B
Rp250.000.000,00

Pasar C
Rp400.000.000,00

Peredaran bruto usaha perdagangan tekstil Rajesh sebagai dasar pengenaan


Pajak Penghasilan yang bersifat final adalah sebesar:
Dasar Pengenaan PPh Final= Rp80.000.000,00 + Rp250.000.000,00 +
Rp400.000.000,00
= Rp730.000.000,00

110

Penentuan Peredaran Bruto

Butik di Batam
Rp3.000.000.000,00
Di dalamnya termasuk omset
penjualan ke Mr. X di Singapura
sebesar Rp50.000.000

IRINE
(Pengusaha
Butik Pakaian)

Butik di Singapura
Rp5.000.000.000,00

Penghasilan Sewa
Apartemen di
Singapura
Rp100.000.000,00

Peredaran bruto usaha sebagai dasar pengenaan Pajak


Penghasilan yang bersifat final adalah sebesar Rp3.000.000.000,00
Penghasilan yang diterima Irine dari sewa apartemen dan butik di Singapura, tidak
diperhitungkan dalam menghitung batasan peredaran bruto untuk dapat dikenai PPh
bersifat final

111

Penentuan Peredaran Bruto


Gatut Kaca terdaftar sebagai Wajib Pajak baru pada bulan
November 2014. Pada bulan November 2014 tersebut,
memperoleh peredaran bruto sebesar Rp15.000.000,00 (lima
belas juta rupiah).
peredaran bruto November 2014 disetahunkan: 12/1 x
Rp15.000.000,00 = Rp180.000.000,00

Karena penghasilan bulan November 2014 (bulan pertama mulai


terdaftar sebagai Wajib Pajak) yang disetahunkan tidak melebihi
Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah), maka
penghasilan yang diperoleh di tahun 2014 dikenai Pajak Penghasilan
yang bersifat final sesuai dengan Peraturan Pemerintah ini.

112

Tarif
Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak dengan peredaran bruto tidak
melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 tahun dikenai PPh final
dengan tarif sebesar 1% (satu persen) dari jumlah
peredaran bruto setiap bulan dari setiap tempat usaha
Pajak Penghasilan terutang dihitung berdasarkan tarif
1% (satu persen) dikalikan dengan dasar pengenaan
pajak, yaitu jumlah peredaran bruto setiap bulan dari
setiap tempat usaha

113

Penerapan Tarif
PT Daya Tangkap memenuhi kriteria WP yang dikenai PPh yang bersifat final
sesuai PP ini.
Pada bulan Agustus 2013 memperoleh penghasilan dari usaha penjualan
sebesar Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
Pajak Penghasilan (PPh) yang bersifat final yang terutang untuk bulan Agustus
2013 dihitung sebagai berikut:
PPh final = 1% x Rp50.000.000,00
= Rp500.000,00
Kewajiban PT Daya Tangkap atas Kegiatan Usaha pada Bulan Agustus
2013:
menyetor PPh yang bersifat final sebesar Rp500.000,00 ke kantor pos
atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan dengan
menggunakan SSP atau sarana administrasi lain yang dipersamakan
paling lambat tanggal 16 September 2013.
Apabila SSP tersebut telah mendapat validasi dengan NTPN,
PT..Daya Tangkap dianggap telah melaporkan SPT Masa PPh Pasal
4 ayat (2) Agustus 2013.
114

Penghasilan yang Dikenai PPh Final


Tersendiri
Penghasilan yang telah dikenai PPh dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri
(a.l. konstruksi), tidak dikenai PPh yang bersifat final
berdasarkan PP ini.
Peredaran bruto usaha Wajib Pajak yang bersangkutan
dalam 1 (satu) tahun tidak melebihi Rp4,8 miliar tidak
dikenai PPh yang bersifat final berdasarkan PP ini,
tetapi mengikuti ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan yang mengatur mengenai
pengenaan pajak atas penghasilan tersebut.

115

Penghasilan dari Luar Negeri


Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas
penghasilan dari luar negeri yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak dapat dikreditkan terhadap Pajak
Penghasilan yang terutang berdasarkan ketentuan
Undang-Undang Pajak Penghasilan dan peraturan
pelaksanaannya.
(sesuai ketentuan Pasal 24 UU PPh dan aturan pelaksanaan yang mengatur
tentang Kredit Pajak Luar Negeri)

116

Pemotongan/Pemungutan PPh
Penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh WP yang dikenai
PPh bersifat final menurut PP ini, yang berdasarkan ketentuan UU PPh
wajib dilakukan pemotongan dan/atau pemungutan PPh yang tidak
bersifat final, dapat dibebaskan dari pemotongan dan/atau
pemungutan PPh oleh pihak lain.
Pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan PPh oleh pihak
lain diberikan melalui Surat Keterangan Bebas dengan Tata Cara
sebagaimana dimaksud PER-01/PJ/2011
Contoh:
o Bengkel mobil menerima pembayaran atas jasa reparasi mobil.
Atas pembayaran tersebut dipotong PPh Pasal 23 kecuali pemilik
bengkel memiliki SKB Potput.
o Toko ATK menjual buku kepada sekolah negeri. Bendahara sekolah
memungut PPh Pasal 22 kecuali pemilik toko memiliki SKB Potput.
117

Pemotongan/Pemungutan oleh Pihak Lain


Penyerahan Barang

CV. ABADI
MEBELINDO
Rekanan Pemerintah yang
termasuk dalam kriteria WP yang
dikenai PPh Final

Juli 2013
Pembayaran senilai
Rp20.000.000,00

Bendahara Pemerintah
memungut PPh Pasal 22 sebesar
1,5% x Rp20.000.000,00=
Rp300.000,00
dalam hal WP tidak memiliki SKB

Bendahara
Pemerintah

WP dibebaskan dari
Pemungutan apabila
memiliki SKB

Kewajiban CV Abadi Mebelindo:


menyetorkan PPh bersifat final sebesar Rp200.000,00 paling lambat pada tanggal 15

Agustus 2013.
Dalam hal SSP-nya telah mendapat validasi dengan NTPN, dianggap telah
menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2) tanggal 15 Agustus 2013.
dalam hal CV Abadi Mebelindo menyetorkan pada tanggal 22 Agustus 2013 dan SSP-nya telah
mendapat validasi dengan NTPN, maka CV Abadi Mebelindo terlambat melakukan penyetoran
dan dianggap menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2) tanggal 22 Agustus 2013.

118

Angsuran Masa
Setoran bulanan merupakan PPh Pasal 4 ayat (2), bukan
PPh Pasal 25.
Jika penghasilan semata-mata dikenai PPh final, tidak
wajib PPh Pasal 25.
Jika ada penghasilan lain selain yang dikenai PPh Pasal
4 ayat (2) sesuai ketentuan PP ini, maka atas
penghasilan tersebut dikenai PPh sesuai dengan
ketentuan umum.
Jika ada angsuran PPh Pasal 25 atau PPh yang
dipotong/dipungut pihak lain boleh dikreditkan terhadap
PPh terutang tahun pajak ybs. kecuali untuk penghasilan
yang pengenaan pajaknya bersifat final.

119

Simulasi Pengisian SSP


0 4 1

4 2 0

Diisi dengan:
Kode Akun
Pajak 411128
(Untuk Jenis
Pajak PPh Final)
dan
Kode Jenis
Setoran 420
(untuk
pembayaran
PPh Final
peredaran bruto
tertentu)

PPh Pasal 4 ayat (2) Bulan Agustus 2013

120

Angsuran Masa
Angsuran pajak pada Tahun Pajak pertama Wajib Pajak tidak
dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final:
bagi Wajib Pajak bank, BUMN, BUMD, Wajib Pajak masuk
bursa, dan Wajib Pajak lainnya yang harus membuat laporan
keuangan berkala, dan WP OPPT sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 25 ayat (7) huruf b dan huruf c UU PPh; dan
bagi selain Wajib Pajak diatas, angsuran pajak diperlakukan
seperti Wajib Pajak Baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal
25 ayat (7) huruf a UU PPh,
besaran angsuran pajak adalah sesuai dengan besarnya angsuran
pajak sebagaimana diatur dalam PMK 255/PMK.03/2008 std
PMK 208/PMK.03/2009.

121

Penyetoran dan Pelaporan


Penyetoran paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya
setelah Masa Pajak berakhir.
SSP berfungsi sekaligus sebagai SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2).
Jika SSP telah divalidasi dengan NTPN dianggap telah lapor SPT
Masa PPh Pasal 4 ayat (2).
Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.

SPT Tahunan :
o Dilaporkan pada kelompok penghasilan yang dikenai pajak final
dan/atau bersifat final.
o Formulir SPT Tahunan menggunakan Form 1770 untuk Wajib
Pajak orang pribadi dan 1771 untuk Wajib Pajak badan masih
mengakomodasi
122

FORMULIR

SPT TAHUNAN

1771

IDENTITAS

TAHUN PAJAK

PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN


PERHATIAN :

NPWP

NAMA WAJIB PAJAK

JENIS USAHA

NO. TELEPON

PERIODE PEMBUKUAN

BERI TANDA "X" PADA

SPT PEMBETULAN
KE-

(KOTAK PILIHAN) YANG SESUAI

KLU :
NO. FAKS :

s.d.

NEGARA DOMISILI KANTOR PUSAT (khusus BUT)


PEMBUKUAN / LAPORAN KEUANGAN

NAMA KANTOR AKUNTAN PUBLIK

NPWP KANTOR AKUNTAN PUBLIK

NAMA AKUNTAN PUBLIK

N P W P AKUNTAN PUBLIK

NAMA KANTOR KONSULTAN PAJAK

N P W P KANTOR KONSULTAN PAJAK

NAMA KONSULTAN PAJAK

NPWP KONSULTAN PAJAK

DIAUDIT

OPINI AKUNTAN

TIDAK DIAUDIT

A. PENGHASILAN
KENA PAJAK
B. PPh TERUTANG
C. KREDIT PAJAK
D. PPh KURANG/ LEBIH BAYAR

Pengisian SPT Tahunan


PPh Wajib Pajak Badan

RUPIAH *)

*) Pengisian kolom-kolom yang berisi nilai rupiah harus tanpa nilai desimal (contoh penulisan lihat buku petunjuk hal. 3)

(1)

2 0

SEBELUM MENGISI, BACA DAHULU BUKU PETUNJUK PENGISIAN


ISI DENGAN HURUF CETAK/DIKETIK DENGAN TINTA HITAM

KEMENTERIAN KEUANGAN RI
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

(2)

(3)

1.

PENGHASILAN NETO FISKAL


1
(Diisi dari Formulir 1771-I Nomor 8 Kolom 3) .

2.

KOMPENSASI KERUGIAN FISKAL


(Diisi dari Lampiran Khusus 2A Jumlah Kolom 8)

3.

PENGHASILAN KENA PAJAK (1-2) ........

4.

PPh TERUTANG (Pilih salah satu sesuai dengan dengan kriteria Wajib Pajak. Untuk lebih jelasnya, lihat Buku Petunjuk Pengisian SPT)

a.

Tarif PPh Ps. 17 ayat (1) Huruf b X Angka 3 .

b.

Tarif PPh Ps. 17 ayat (2b) X Angka 3 .

c.

Tarif PPh Ps. 31E ayat (1)

(Lihat Buku Petunjuk)

5.

PENGEMBALIAN / PENGURANGAN KREDIT PAJAK LUAR NEGERI


5
(PPh Ps. 24) YANG TELAH DIPERHITUNGKAN TAHUN LALU .

6.

JUMLAH PPh TERUTANG (4 + 5) .....

7.

PPh DITANGGUNG PEMERINTAH (Proyek Bantuan Luar Negeri) ......

8.

a.

KREDIT PAJAK DALAM NEGERI


8a
(Diisi dari Formulir 1771-III Jumlah Kolom 5) .............

b.

KREDIT PAJAK LUAR NEGERI


8b
(Diisi dari Lampiran Khusus 7A Jumlah Kolom 8) .........

8c

c. JUMLAH ( 8a + 8b ) ........
9.

10.

11.

12.
13.

a.

PPh YANG HARUS DIBAYAR SENDIRI

b.

PPh YANG LEBIH DIPOTONG / DIPUNGUT

(6 7 8c).

PPh YANG DIBAYAR SENDIRI


10a
a. PPh Ps. 25 BULANAN .........
10b

b.

STP PPh Ps. 25 (Hanya Pokok Pajak) .....

c.

JUMLAH (10a + 10b) ....

a.

PPh YANG KURANG DIBAYAR (PPh Ps. 29)

b.

PPh YANG LEBIH DIBAYAR (PPh Ps. 28A)

(9 10c)..

10c

11

PPh YANG KURANG DIBAYAR PADA ANGKA 11.a DISETOR TANGGAL


PPh YANG LEBIH DIBAYAR PADA ANGKA 11.b MOHON :
a.

DIRESTITUSIKAN

Khusus Restitusi untuk Wajib Pajak dengan Kriteria Tertentu :

TGL
b.

BLN

THN

DIPERHITUNGKAN DENGAN UTANG PAJAK


Pengembalian Pendahuluan (Pasal 17C atau Pasal 17D UU KUP)

Diisi dengan Jumlah PPh


Pasal 4 ayat (2) yang Telah
Disetor
Diisi Jumlah Peredaran Bruto
Selama Satu Tahun Pajak
Diisi dengan Penghasilan
Usaha WP yang Memiliki
Peredaran Bruto Tertentu

Penghasilan Usaha WP yang Memiliki


Peredaran Bruto Tertentu