Anda di halaman 1dari 14

PERANCANGAN KONTRAK

1.

Pengertian :

Perancangan Kontrak adalah dalam bahasa Inggeris disebut dengan contract Drafting.
Dalam bahasa Indonesia paling tidak dikenal 3 istilah yang berkaitan dengan perancangan
(drafting), yaitu 1. Rancangan; 2. Merancang; 3. Perancangan
-

Rancangan adalah segala sesuatu yang direncanakan

Merancang adalah mengatur /merencanakan segala sesuatu

Perancangan adalah proses atau cara merancang

Contract adalah hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk
menimbulkan akibat hukum atau hak dan kewajiban (prestasi). Oleh karena itu, merancang
kontrak adalah merupakan suatu aktivitas untuk mengatur dan merencanakan struktur (susunan),
anatomi dan substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak.
1.

Struktur (susunan)

- Kepala = Judul
- Leher = komparasi --identitas para pihak
- Badan = isi kontrak, pasal demi pasal
- Kaki = penutup

2.

Anatomi = keterkaitan = hubungan antara bagian-2 atau sistem.

3.

Substansi = isi kontrak, terdiri dari 2 macam, yaitu

- isi kontrak yang dinegosiasi --kontrak para pihak


- isi kontrak yang tidak dinegosiasi-- kontrak standar, menurut UU no. 8 tahun 1999 tentang
Perlindungan konsumen dianggap tidak pernah ada.

Kontrak biasa disebut dengan perjanjian (berlaku pasal 1338 KUH Perdata (selanjutnya disebut
KUHPer), merupakan suatu perjanjian yang berlaku sebagai Undang-undang bagi para pihak
yang membuatnya.
2.

Perjanjian terdiri dari :

- tertulis
- tidak tertulis
Perjanjian Selama diakui oleh para pihak harus ditaati, bila tidak maka disebut wanprestasi,--- Pengadilan. Bila dari awal ada rangkaian kata-kata bohong, maka ada unsur penipuan.
a.

Wanprestasi :

Melaksanakan tapi tidak sebagaimana mestinya

Terlambat dilaksanakan

Dilaksanakan sebagian

Keliru melaksanakan----ada perbedaan (disparitas)

b.

Unsur unsur sahnya suatu Perjanjian disebutkan dalam Pasal 1320 KUHPer

1). Sepakat kedua belah pihak


2). Cakap/legal capacity
3). Objek tertentu
4). Causa yang halal
Unsur-unsur tersebut disebut Rule of contract = aturan perilaku
c.

Sumber-sumber Perikatan :

Buku III KUHPer menebutkan bahwa Perikatan bersumber dari Perjanjian dan Undang-undang.
Undang-undang terdiri dari Undang-undang saja dan Undang-undang karena perbuatan manusia

(perjanjian). Perbuatan manusia ada yang sukarela dan ada yang melawan hukum
(onrechtmatige).
d.

Jenis-jenis Perjanjian

- Nominat = bernama (ada pada buku III KUHPer) misalnya Jua-beli, pinjam-meminjam, sewamenyewa.
- Innominat - tidak ada dalam pasal-pasal KUHPer misalnya Sewa-beli(muncul setelah KUHPer
dibuat), tetapi dasar hukumnya adalah Pasal 1338 ayat (1) KUHPer = kebebasan berkontrak
3.

Fungsi kontrak

1). Fungsi ekonomi -- menggerakan dari yang tidak bernilai menjadi bernilai
2). Fungsi hukum --- merupakan instrumen hukum atau sebagai alat bukti
4. Asas-Asas atau Prinsip-Prinsip Hukum Kontrak.
Di dalam Buku III KUHPer dikenal 5 macam asas hukum yaitu :
1). Asas Kebebasan berkontrak
2). Asas konsensualisme
3). Asas Pacta Sunt Servanda= asas kepastian hukum
4). Asas itikad baik
5). Asas Kepribadian
Ad 1) Kebebsan Berkontrak
Pasal 1338 ayat (1) KUHPer = kebebasan berkontrak dengan prinsip (asas) adalah :
a.

Setiap orang berhak membuat perjanjian atau tak membuat perjanjian

b.

Setiap orang bebas mengadakan pernjanjian dengan siapa saja-- tidak boleh lepas dari

pasal 1320 KUHPer tentang sahnya suatu perjanjian.

c.

Setiap orang Bebas memutuskan :

. isi perjanjian
. pelaksanaan perjanjian
. perssyaratan perjanjian
d.

Setiap orang bebas menentukan bentuk perjanjian apakah tertulis atau lisan.

Kebebasan ini dibatasi oleh Undang-undang dan kesusilaan.


Ad 2). Asas Konsensualisme-praising
Di dalam asas kepemilikan disebutkan bahwa semua orang berhak memiliki sesuatu. Asas
kepemilikian ini mempunyai norma hukum Pasal 362 KUHP, yang pada prinsipnya tidak boleh
mengambil milik orang lain tanpa persetujuan pemiliknya, bila mengambil tanpa pertujuan,
maka dikenakan pasal 362 KUHP tentang pencurian ( Norma = siku-siku = aturan ).
Asas konsensualisme -Pasal 1320 KUHPer
1.

Sepakat kedua belah pihak

2.

Cakap/legal capacity

3.

Objek tertentu

4.

Causa yang halal

Menurut Prof Subekti, butir 1 dan 2 merupakan unsur subjektif bila tidak memenuhi syaratsyratnya dapat dibatalkan. Butir 3 dan 4 merupakan unsur objketif bila idak memenuhi unsur ini,
maka kontrak atau perjanjian batal demi hukum. Batal/tidak batal melalui proses pengadilan.
Asas Pacta Sunt Servanda= asas kepastian hukum.
Pacta = Pactum = Perjanjian.
Adalah asas yang menggariskan bahwa semua pihak termasuk Hakim harus menghormati
substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak, sebagaimana layaknya sebuah Undang-undang.

Asas Pacta Sunt Servada dapat ditemukan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPer yang berbunyi
Perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya
Ad 4. Causa yang hal
Objek atau hal-hal yang dapat diperjanjikan hanyalah hal-hal yang diizinkan oleh hukum dan
kesusilaan.
5.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam Perancangan kontrak.

Pada dasarnya kontrak yang dibuat para pihak berlaku sebagai Undang-undang bagi mereka yang
membuatnya artinya kontrak dibuat oleh para pihak disamakan kekuatan mengikatnya dengan
Undang-undang. Oleh karena itu untuk merancang kontrak diperlukan ketelitian dan kecermatan
dari para pihak baik dari pihak kreditor maupun debitor, pihak investor maupun daripihak negara
yang bersangkutan.Begitu pula terhadap perancangan kontrak dan notaris.
Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan para pihak yang akan mengadakan dan membuat
kontrak adalah :
1). Kewenangan hukum para pihak = kemampuan para pihak sebagai subjek hukum (orang atau
Badan Hukum)
2). Perpajakan
3). Alas hak yang sah
4). Masalah keagrariaan
5). Pilihan hukum (choice of law)
6). Penyelesaian sengketa
7). Pengakhiran kontrak
8). Bentuk Perjnjian Standar
Ad 1). Kemapuan para pihak atau legal capacity sebaga subjek hukum orag atau badan hukum

Ad 2). Pada dasarnya setiap kontrak yang dibuat para pihak menyandang kewajiban untuk
membayar pajak kepada negara, apakah PPH (pajak penghasilan). Bea peralihan hak atas tanah
dan bangunan, bea meterai.Akan tetapi perlu diketahui bahwa pengenaan pajak tergantung pada
objek kontrak.
Ad 3). Alas hak yang sah:
Sebelum kontrak disetujui oleh para pihak, harus diperhatikan mengenai objek kontrak apakah
merupakan milik yang sah dari para pihak atau bukan. Alas hak adalah peristiwa hukum yang
merupakan dasar penyerahan suatu barang, misalnya tukar-menukar, jual-beli, sewa-menyewa.
Ad 4). Keagrariaan.
Perancang kontrak juga harus memperhatikan masalah-masalah hukum yang berkaitan dengan
keagrariaan. Pemahaman keagrariaan berkaitan dengan transaski yang objeknya tanah karena
sudah menjadilogika umum bahwa pada dasarnya semua orang dapat memiliki hak atas tanah,
yang membedakannya adalah jenis hak atas tanah yang boleh dimilikinya.
Ad 5). Pilihan hukum
Di dalam kontrak yang berlaku secara internasional, pilihan hukum menajdi hal yang sangat
penting dalam pembuatan dan perancangan kontrak. Istilah pilihan hukum adalah terjemahan
dari bahasa Inggeris Choice of Law yaitu pilihan yang berkaitan dengan hukum apakah yang
digunakan jika terjadi sengketa antara para pihak. Hukum yang digunakan adalah hukum yang
ditentukan dalam kontrak-lihat hukum kontrak internaasional.
Ad 6). Penyelesaian sengketa
Kontrak tidak selamanya dilaksanakan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu dalam setiap
perjanjian perlu dimasukkan klausula mengenai penyelesaian sengketa, apabila salah satu pihak
tidak memenuhi perjanjian atau wanprestasi.
Penyelesaian sengketa dapat ditempuh dengan 2 cara, yaitu :
1). Dispute resolustion -- tradisional Pengadilan/litigasi

2). Alternative Dispute resolution (ADR) -- alternatif penyelesaian masalah-non litigasi ,


yaitu :
- Negosiasi
- Mediasi
- Arbitrase
- Konsiliasi
- Jasa-jasa dsb
Bila cara penyelesian sengketa ditempuh cara arbitrase, maka Putusan arbitrase adalah final and
binding = terakhir dan mengikat.
Cara ini juga telah diatur dalam Undng-undang No 30 tahun 1999 ---- Arbitrase sebagai ADR
(alternative dispute Resolution)
Pola penyelesaian sengketa adalah suatu bentuk atau kerangka untuk mengakhiri suatu pertikaian
atau sengketa yang terjadi antara para pihak.
Pola penyelesaian sengketa dapat dibagi menjadi 2 macam :
1.

Melalui Pengadilan (litigasi)

2.

Melalui Alternative Dispute Resolution (ADR)-non litigasi

6.

Penggunaan Sistem Litigasi atau Pengadilan Mempunyai Kelebihan dan Kekurangan

dalam Penyelesaian Sengketa.


a.

Keuntungan-Keuntungan Penyelesaian Sengketa Melalui Litigasi :

1). Dalam mengambil alih keputusan para pihak, litigasi sekurang-kurangnya dalam batas
tertentu menjamin bahwa kekuasaan tidak dapat mempengaruhi hasil dan dapat menjamin
ketenteraman sosial.

2)

Litigasi sangat baik untuk menemukan kesalahan-kesalahan dan masalah-masalah dalam

posisi pihak lawan.


3)

Litigasi memberikan suatu standar bagi prosedur yang adil dan memberikan peluang yang

luas kepada para pihak untuk didengarkan keterangannya sebelum mengambil keputusan.
4)

Litigasi membawa nilai-nilai masyarakat untuk penyelesaian sengketa pribadi.

5)

Dalam sistem litigassi para hakim menerapkan nilai-nilai masyarakat yang terkadung

dalam hukum untuk menyelesaikan sengketa. Pasal 27 UU Kehakiman menyebutkan bahwa


hakim wajib menggali nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat sebelum memutus perkara.
b.

Kekurangan Litigasi yaitu :

1). Memaksa para pihak pada posisi yang ekstrim


2). Memerlukan pembelaan (advokasi) atas setiap maksud yang dapat mempengaruhi putusan
3). Benar-benar mengangkat seluruh persoalan dalam suatu perkara, baik persolahan materi
(substantif) maupun prosedur untuk persamaan kepentingan dan mendorong para pihak elakukan
penyelidikan fakta yang ekstrim.
4) Menyita waktu dan meningkatkan biayakeuangan
5). Fakta-fakta yang dapat dibuktikan membentuk kerangka persoalan. Para pihak tidak selalu
mampu mengungkapkan kehawatiran mereka yang sebenarnya.
6). Tidak mengupayakan untuk memperbaiki atau memulihkan hubungan para pihak yang
bersengketa.
7). Tidak cocok untuk sengketa yang bersifat Policentris yaitu sengketa yang melibatkan banyak
pihak, banyak persoalan dan beberapa kemungkinan.
AKTA
Tinjauan yuridis tentang akta
1.

Pengertian Akta

Istilah akta merupakan terjemahan dari Bahasa Belanda , yaitu acta, Perancis = Acte = Inggeris
Died.
Menurut I G Ray Wijaya bahwa akta adalah suatu pernyataan tertulis yang ditanda tangani dibuat
oleh seseorang atau oleh pihak-pihak dengan maksud dapat digunakan sebagai alat bukti dalam
proses hukum.
Dalam kamus bahasa Indonesia, akt diartikan sebagai surat tanda bukti berisi pernyataanresmi
yang dibuat menurut peraturan yang berlaku yang disaksikan dan disahkan oleh notaris atau
pejabat pemerintah yang berwenang.
2.

Unsur-unsur akta ada 4 macam :

1.

Surat tanda bukti

2.

Isinya pernyataan resmi

3.

Dibuat menurut peraturan yang berlaku

4.

Disahkan, disaksikan oleh notaris atau pejabat pemerintah yang berwenang.

Ad 1. Surat tanda bukti merupakan tulisan yang menyatakan kebenaran sesuatu peristiwa atau
perbuatan hukum.
Ad 2. Isinya; pernyataan resmi artinya bahwa apa yang tertulis dalam akta itu merupakan
pernyataan resmi atau sah dari pejabat atau para pihak.
Ad 3. Dibuat menurut peraturan yang berlaku artinya bahwa akta yang dibuat di muka pejabat
atau dibuat oleg para pihak selalu berdaasarkan pada peraturan perundang-undangan yang
berlaku, misalnya akta perkawinan berdasarkan UU No 1 tahun 1974.
Ad.4. Disahkan oleh notaris atau pejabat yang berwenang (untuk akta otentik)
3.

Jenis-Jenis Akta

Pada dasarnya akta dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu


1.

Akta di bawah tangan

2.

Akta otentik

Ad 1. Akta di bawah tangan


Adalah merupakan akta yang dibuat oleh para pihak tanpa perantaraan seorang pejabat.
Akta ini dapat dibagi menjadi 3 jenis :
a.

Para pihak menada tangani kontrak diatas meterai

b. Akta di bawah tangan yang didaftar atau waarmerken = warmerking = didaftar oleh notaris
atau pejabat yang berwenang, misalnya disahkan oleh notaris adalah pada tanggal didaftar
misalnya tgl 12-1-2012 bukan pada tanggal dibuatnya akta tersebut.
c. Akta di bawah tangan yang di legalisasi oleh notaris atau pejabat yang berwenang. Menurut
UU No 30 thn 2004 tentang jabatan notaris. Pasal 15 ayat (2) huruf a dan b menyatakan bahwa
istilah yang digunakan untuk akta di bawah tangan yang dilegalisasi Adalah akta di bawah
tangan yang di sahkan. Sementara istilah akta di bawah tangan yang didaftar (waarmerken)
adalah akta yang dibukukan.
Makna dilakukan pengesahan akta di bawah tangan (dilegalisasi) :
1.

Notaris menjamin bahwa benar orang yang tercantum namanya dalam kontrak adalah

orang yang menanda tangani kontrak.


2.

Notaris menjamin bahwa tanggal tanda tangan tersebut dilakukan dengan dalam tanggal

yang disebutkan dalam kontrak.


Ad 2. Akta otentik
Adalah akta yang dibuat dengan beberapa formalitas tertentu dihadapan seorang notaris atau
pejabat yang memenuhi syarat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Akta otentik
dikonstruksikan dari segi bentuk akta dan pejabat yang membuatnya adalah sebagai berikut :
1.

Notaris

2.

Walikota/bupati

3.

Panitra

4.

Pejabat-pejabat yang memenuhi syarat.

MEMORANDUM OF UNDERSTANDING ( MoU )

1.

Pengertian

MoU atau kerjasama saling mengerti atau nota kesepahaman adalah suatu istilah yang terdiri
dari 2 (dua) kata yaitu Memorandum dan Understanding. Seacara gramatika MoU diartikan
sebagai nota kesepahaman. Menurut kamus hukum (Balck Law Dictionary) bahwa yang
dimaksud dengan memorandum adalah dasar memulai penyusunan kontrak formal di masa yang
akan datang. Sedangkan understanding adalah pernyataan persetujuan secara tidak langsung
terhadap hubungannya dengan persetujuan lain, baik secara lisan maupun secara tertulis. Jika dua
kata itu diterjemahkan, maka dapat dirumuskan bahawa MoU adalah dasar penyusunan kontrak
pada masa yang akan datang yang didasarkan pada hasil permufakatan para pihak, baik secara
lisan maupun secara tertulis.
Menurut Munir Fuady bahwa yang dimaksud dengan MoU adalah perjanjian pendahuluan dalam
arti nantinya akan diikuti dan dijabarkan dalam perjanjian lain yang mengaturnya secara detail.
Oleh karena itu memorandum of understanding berisikan hal-hal yang pokok saja. Begitu pula
Erman Rajaguguk mengartiakn MoU sebagai dokumen yang memuat saling pengertian di antara
para pihak sebelum perjanjian dibuat. Isi dari MoU harus dimasukkan ke dalam kontrak,
sehingga ia mempunyai kekuatan mengikat.
2. Unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian MoU adalah :
1). MoU sebagai perjanjian pendahuluan
2). Isi MoU hanya mengenai hal-hal yang pokok
3). Isi MoU dimasukkan ke dalam kontrak.

3.

Dasar Hukum Pengaturan MoU :

MoU tidak diatur secara khusus dalam Undang-undang tetap di dalam KUHPer diatur secara
tersirat pada pasal 1320 dan 1338 KUHPer (dapat ditafsirkan secara tersirat). Pasal 1338
KUHPer menjadi dasar hukum kebebasan berkontrak yaitu :
- Bebas berbuat atau tidak berbuat
- Bebas melakukan perjanjian kepada ssiapa saja
- Bebas menentukan isi perjanjian
- Bebas menentukan bentuk perjanjian
Kebebasan dibatasi oleh Undang-undang dan kesusilaan
Secara internasional dapat ditemukan dalam Undang-undang no 24 tahun 2000 tentang
perjanjian internasional. Pasal 1 huruf a disebutkan bahwa perjanjian internasional adalah
perjanjian dalam bentuk dan nama tertentu yang diatur dalam hukum internasional yang dibuat
secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik.

Dari pnegertian tersebut maka perjanjian internasional dalam prakteknya dapat dissamakan
dengan :
1.

Treaty = perjanjian

2.

Konvention = perjanjian yang pesertanya lebih dari dua negara.

3.

Agreement = persetujuan

4.

Memorandum of Understanding = nota kesepahaman

5.

Protokol = surat-surat resmi yang memuat hasil perundingan atau pernyataan resmi dari

hasil perundingan
6.

Charter = piagam

7.

Declaration = deklarasi = pernyataan

8.

Final act = keputusan final = keputusan akhir

9.

Exchange of note = pertukaran nota

10.

Agreed minutes = notulen yang disetujui.

Pengertian Kontrak
Menurut Subekti, kontrak adalah perjanjian yang dibuat secara tertulis. Dasar yuridisnya
mengacu kepada hukum perjanjian. Dalam hukum perjanjian yang menganut suatu sistem
terbuka, maka dalam pembuatan kontrak masih tetap diizinkan memasukkan klausul-klausul
yang telah disepakati para pihak. Hal ini dikenal dengan kebebasan berkontrak. Kebebasan ini
tetap mempunyai rambu-rambu, yaitu tidak boleh bertentangan dengan UU, ketertiban umum,
dan kesusilaan. Jika hal ini tetap terjadi, maka kontrak dianggap batal demi hukum.
Syarat sahnya suatu kontrak terdapat pula dalam hukum perjanjian. Berupa: sepakat, cakap, hal
tertentu dan causa yang halal.
01 Sept 08
Muhammad Basri
Asas-Asas Hukum Dalam Kontrak
1. Asas Konsensualitas
Asas di mana persetujuan dapat terjadi sesuai dengan kehendak (persesuaian pendapat). Ini
terdapat dalam pasal 1320 KUHPerdata.
2. Asas Mengikat Sebagai UU (pacta sunt servanda)
Asas ini menjadi tidak ada dalam 3 hal:
a. Ada paksaan

b. Ada kekhilafan
c. Ada penipuan
3. Asas Itikad Baik
Menurut Subekti, itikad baik di waktu membuat suatu perjanjian berarti berkenaan dengan
kejujuran.
Menurut Prof. Wry, Bahwa kedua belah pihak harus berlaku yang satu terhadap yang lain seperti
patut, sopan, tanpa tipu daya, tanpa akal-akalan, tidak melihat kepentingan sendiri saja tetapi
juga dengan melihat kepeningan orang lain.
Itikad baik yaitu suatu sikap batin atau kejiwaan manusia yang jujur, terbuka dan tulus ikhlas.
Sedangkan jika dihubungkan dengan pasal 1338 (3) dapat disimpulkan bahwa itikad baik harus
digunakan pada saat pelaksanaan kontrak. Hal tersebut berarti bahwa selain ketentuan yang telah
disepakati dalam kontrak yang wajib dilaksanakan oleh para pihak, juga ketentuan yang tidak
tertulis yang berfungsi sebagai penambah dari ketentuan atau kontrak tersebut.
08 Sept 08
Abrar Saleng
Kontrak
Kontrak adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh dua orang pihak, yang dimana orang di
dalamnya dituntut untuk melakukan suatu hal yang biasa disebut prestasi. Kontrak sama dengan
perjanjian.
Muatan kontrak:
- Selalu komersial
- Selalu tertulis
- Berkaitan dengan dunia internasional
- Ditentukan oleh kontraknya sendiri