Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Resusitasi jantung paru adalah serangkaian penyelamatan hidup pada henti
jantung. Walaupun pendekatan yang dilakukan dapat berbeda-beda, tergantung
penyelamat, korban, dan keadaan sekitar, tantangan mendasar tetap ada, yaitu bagaimana
melakukan RJP yang lebih dini, lebih cepat dan lebih efektif. Untuk menjawabnya,
pengenalan akan adanya henti jantung dan tindakan segera yang harus dilakukan menjadi
prioritas dari tulisan ini.1
Manifestasi komplikasi penyakit jantung dan pembuluh darah yang paling sering
diketahui dan bersifat fatal adalah kejadian henti jantung mendadak. Sampai saat ini,
kejadian henti jantung mendadak merupakan penyebab kematian tertinggi di Amerika
dan Kanada. Walaupun angka insiden belum diketahui secara past, akan tetapi pihak
pusat pengendalian, pencegahan, dan kontrol penyakit Amerika serikat memperkirakan
sekitar 330.000 orang meninggal karena penyakit jantung koroner di luar rumah sakit
atau di ruang gawat darurat. 250.000 diantaranya meninggal di luar rumah sakit. Di
Indonesia sendiri, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar ( RISKESDAS) tahun 2007,
hanya disebutkan prevalensi nasional penyakit jantung sebesar 7,2%, namun angka
kejadian henti jantung mendadak belum didapatkan. 1,2
Tindakan bantuan hidup jantung dasar bukan merupakan satu jenis keterampilan
tindakan tunggal semata, melainkan suatu kesinambungan tidak terputus antara
pengamatan serta intervensi yang dilakukan dalam pertolongan. Keberhasilan
pertolongan yang dilakukan, ditentukan oleh kecepatan dalam memberikan tindakan awal
bantuan hidup jantung dasar, membuat para ahli berpikir bagaimana cara untuk
melakukan suatu tindakan bantuan hidup dasar yang efektif serta melatih sebanyak
mungkin orang awam dan paramedis yang dapat melakukan tindakan tersebut secara
baik dan benar. Oleh karena itu pula, hampir rata-rata di setiap negara maju memiliki
1 | Page

standar tindakan bantuan hidup jantung dasar masing-masing. Secara umum, pengamatan
serta intervensi yang dilakukan dalam tindakan bantuan hidup jantung dasar merupakan
satu rantai tak terputus, disebut sebagai rantai kelangsungan hidup (chain of survival),
yang akan dibahas lebih lanjut.

Bantuan hidup dasar boleh dilakukan oleh orang awam dan juga orang yang
terlatih dalam bidang kesehatan. Ini berarti bahwa RJP boleh dilakukan dan dipelajari
dokter, perawat, para medis dan juga orang awam. 1,2
Menurut

American

Heart

Associaton,

rantai

kehidupan

mempunyai hubungan erat dengan tindakan jantung paru, karena


penderita yang diberikan RJP, mempunyai kesempatan yang amat
besar untuk dapat hidup kembali.

Tujuan utama pelaksanaan Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah


untuk

mempertahankan

kehidupan,

memperbaiki

kesehatan,

mengurangi penderitaan dan membatasi disabilitas tanpa melupakan


keputusan pribadi.

2 | Page

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi
Resusitasi Jantung Paru yang biasa kita kenal dengan nama RJP atau
Cardiopulmonary Resuscitation adalah usaha untuk mengembalikan fungsi pernafasan
dan atau sirkulasi akibat terhentinya fungsi dan atau denyut jntung. Resusitasi sendiri
berarti menghidupkan kembali, dimaksudkan sebagai usaha-usaha untuk mencegah
berlanjutnya episode henti jantung menjadi kematian biologis. Dapat diartikan pula
sebagai usaha untuk mengembalikan fungsi pernafasn dan atau sirkulasi yang kemudian
memungkinkan untuk hidup normal kembali setelah fungsi pernafasan dan atau sirkulasi
gagal.3
Keadaan henti nafas dan atau henti jantung ini bisa disebabkan
karena korban mengalami serangan jantung (heart attack), tenggelam,
tersengat arus listrik, keracunan, kecelakaan dan lain-lain. Pada kondisi
napas dan denyut jantung berhenti maka sirkulasi darah dan
transportasi oksigen berhenti, sehingga dalam waktu singkat organorgan tubuh terutama organ vital akan mengalami kekurangan oksigen
yang berakibat fatal bagi korban dan mengalami kerusakan. Organ
yang paling cepat mengalami kerusakan adalah otak, karena otak
hanya akan mampu bertahan jika ada asupan gula/glukosa dan
oksigen. Jika dalam waktu lebih dari 10 menit otak tidak mendapat
asupan

oksigen

dan

glukosa

maka

otak

akan

mengalami

kematiansecara permanen. Kematian otak berarti pula kematian si


korban. Oleh karena itu GOLDEN PERIODE (waktu emas) pada korban
yang mengalami henti napas dan henti jantung adalah dibawah 10
menit. Artinya dalam watu kurang dari 10 menit penderita yang
3 | Page

mengalami henti napas

dan henti jantung harus sudah mulai

mendapatkan pertolongan. Jika tidak, maka harapan hidup si korban


sangat kecil. Adapun pertolongan yang harus dilakukan pada penderita
yang mengalami henti napas dan henti jantung adalah dengan
melakukan resusitasi jantung paru / CPR.

Catatan :
1. Mati Klinis
Tidak ditemukan adanya pernapasan dan denyut nadi, bersifat
reversibel, penderita punya kesempatan waktu 4-6 menit untuk
dilakukan resusitasi tanpa kerusakan otak.
2. Mati Biologis
Biasanya terjadi dalam waktu 8-10 menit dari henti jantung, dimulai
dengan kematian sel otak, bersifat irreversibel. (kecuali berada di
suhu yang ekstrim dingin, pernah dilaporkan melakukan resusitasi
selama 1 jam/ lebih dan berhasil). Pada korban yang sudah tidak
ada refleks mata dan terjadi kerusakan batang otak tidak perlu
dilakukan RJP.

2. 2

Indikasi
2.2.1. Henti nafas
Bila terjadi henti nafas primer, jantung dapat terus memompa
darah selama beberapa menit, dan sisa O 2 yang ada dalam paru dan
darah akan terus beredar ke otak dan organ vital lain. Penanganan dini
pada korban dengan henti nafas atau sumbatan jalan nafas dapat
mencegah henti jantung.10
Henti nafas dapat disebabkan oleh sumbatan jalan napas atau
akibat

depresi

pernapasan

baik

di

sentral

maupun

perifer.

Berkurangnya oksigen di dalam tubuh akan memberikan suatu


keadaan yang disebut hipoksia. Frekuensi napas akan lebih cepat dari
4 | Page

pada keadaan

normal. Bila berlangsung lama akan memberikan

kelelahan pada otot-otot pernapasan. Kelelahan otot-otot napas akan


mengakibatkan terjadinya penumpukan sisa-sisa pembakaran berupa
gas CO2, kemudian mempengaruhi SSP dengan menekan pusat napas.
Keadaan inilah yang dikenal sebagai henti nafas. Pada awal henti
napas, jantung masih berdenyut, masih teraba nadi, pemberian O 2 ke
otak dan organ vital lainnya masih cukup sampai beberapa menit.
Kalau henti napas mendapat pertolongan segera maka pasien akan
terselamatkan

hidupnya

dan

sebaliknya

kalau

terlambat

akan

berakibat henti jantung.

2.2.2. Henti Jantung


Pada saat terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti sirkulasi. Henti
sirkulasi ini akan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen.
Pernafasan yang terganggu merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung. Henti
jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba (karotis, femoralis, radialis) disertai
kebiruan atau pucat sekali, pernafasan berhenti atau satu-satu, dilatasi pupil, tak bereaksi
terhadap rangsang cahaya dan pasien tidak sadar. Bantuan hidup dasar merupakan bagian
dari pengelolaan gawat darurat medik yang bertujuan untuk:5
a. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi.
b. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi dari korban yang
mengalami henti nafas atau henti jantung melalui resusitasi jantung paru (RJP).
Resusitasi jantung paru terdiri dari dua tahap yaitu:
a. Survei primer: dapat dilakukan oleh setiap orang.
Tahapan pelaksanaan survei primer bantuan hidup dasar yang terbaru makin
disederhanakan dengan mengutamakan sirkulasi daripada pemberian bantuan nafas,
langkah-langkahnya terdiri dari CAB yaitu Circulation (penilaian denyut nadi),
Airway (pembukaan jalan nafas), Breathing (Penilaian jalan nafas dan pemberian
nafas bantuan).2
b. Survei sekunder: dapat dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis terlatih dan
merupakan lanjutan dari survei primer.5
5 | Page

2.3

Sistem Pernafasan dan Sirkulasi


Tubuh manusia terdiri dari beberapa sistem, diantaranya yang utama adalah
sistem pernafasan dan sistem sirkulasi. Kedua sistem ini merupakan komponen utama
dalam mempertahankan hidup. Terganggunya salah satu fungsi ini dapat mengakibatkan
ancaman kehilangan nyawa. Tubuh dapat menyimpan makanan untuk beberapa minggu
dan menyimpan air untuk beberapa hari, tetapi hanya dapat menyimpan oksigen (O )
untuk beberapa menit saja.
Sistem pernafasan mensuplai oksigen kedalam tubuh sesuai dengan kebutuhan
dan

juga

mengeluarkan

karbondioksida

(CO2).

Sistem

sirkulasi

inilah

yang

bertanggungjawab memberikan suplai oksigen dan nutrisi keseluruh jaringan tubuh.7,8


Komponen-komponen yang berhubungan dengan sirkulasi adalah:
1. Jantung
2. Pembuluh Darah ( Arteri, Vena, Kapiler)
3. Darah dan kompone-komponennya.
Jantung berfungsi untuk memompa darah dan kerjanya sangat berhubungan erat
dengan sistem pernafasan, pada umumnya semakin cepat kerja jantung semakin cepat
pula frekuensi pernafasan dan sebaliknya.7,8

6 | Page

Jantung dapat berhenti bekerja karena banyak sebab, diantaranya:


1. Penyakit jantung
2. Gangguan pernafasan
3. Syok
4. Komplikasi penyakit lain: Stroke
5. Penurunan kesadaran

2.4

Resusitasi Jantung Paru


Resusitasi yang berhasil setelah terjadinya henti jantung membutuhkan gabungan
dari tindakan yang terkoordinasi yang ditunjukkan dalam Chain of Survival, yang
meliputi :
a. Pengenalan segera terhadap henti jantung dan aktivasi dari emergency response
system
b. RJP yang awal dengan menekankan pada kompresi dada
c. Defibrilasi yang cepat
7 | Page

d. Advanced life support yang efektif


e. Perawatan post-cardiac arrest yang terintegrasi
RJP secara tradisional telah menggabungkan kompresi dan nafas buatan dengan
tujuan untuk mengoptimalkan sirkulasi dan oksigenasi. Karakteristik penolong dan
penderita dapat mempengaruhi aplikasi yang optimal dari komponen RJP.8,9
Semua orang dapat menjadi penolong untuk penderita henti jantung. Kompresi dada
merupakan dasar dari RJP. Semua penolong, tanpa melihat telah mendapat pelatihan atau
tidak, harus memberikan kompresi dada pada setiap penderita henti jantung. Karena
sangat penting, kompresi dada harus menjadi tindakan awal pada RJP untuk setiap
penderita pada semua usia. Penolong yang telah terlatih harus berkoordinasi dalam
melakukan kompresi dada bersamaan dengan ventilasi, sebagai suatu tim.8
Sebagian besar henti jantung pada dewasa terjadi secara tiba-tiba, sebagai akibat dari
kelainan jantung, sehingga sirkulasi yang dihasilkan dari kompresi dada menjadi sangat
penting. Berlawanan dengan hal itu, henti jantung pada anak-anak seringkali karena
asfiksia, dimana membutuhkan baik ventilasi maupun kompresi dada untuk hasil yang
optimal. Dengan demikian nafas buatan pada henti jantung menjadi lebih penting untuk
anak-anak daripada untuk dewasa.8

2.5

Bantuan Hidup Dasar


Tujuan bantuan hidup dasar ialah untuk oksigenasi darurat secara efektif pada organ
vital seperti otak dan jantung melalui ventilasi buatan dan sirkulasi buatan sampai paru
dan jantung dapat menyediakan oksigen dengan kekuatan sendiri secara normal.
Resusitasi mencegah agar supaya sel-sel tidak rusak akibat kekurangan oksigen. Bantuan
hidup dasar (Basic Life Support) atau resusitasi ABC atau resusitasi kardiopulmoner
berarti menjaga jalan napas tetap paten (A), membuat napas buatan (B) dan membuat
sirkulasi buatan dengan pijatan jantung (C). Tindakan ini dilakukan tanpa alat atau
dengan alat yang sederhana dan harus dilakukan dengan cepat dalam waktu kurang dari 4
menit pada suhu normal secara baik dan terarah.3
8 | Page

a. Fase I. terdiri dari langkah yang di A (airway), B (breathing), C (circulation).


- A (airway)
: menjaga jalan nafas tetap terbuka
- B (breathing) : ventilasi paru dan oksigenasi yang adekuat
- C (circulation) : mengadakan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung paru
b. Fase II. Advance Life Su pport (ALS), yaitu BLS ditambah dengan D (drug) dan E
(EKG)
- D (drugs)

: pemberian obat-obatan termasuk cairan.

Adrenalin
Mekanisme kerja merangsang reseptor alfa dan beta, dosis yang
diberikan 0,5 1 mg iv diulang setelah 5 menit sesuai kebutuhan dan
yang perlu diperhatikan dapat meningkatkan pemakaian O 2 myocard,
takiaritmi, fibrilasi ventrikel.
Lidokain
Meninggikan ambang fibrilasi dan mempunyai efek antiaritmia dengan
cara meningkatkan ambang stimulasi listrik dari ventrikel selama
diastole. Pada dosis terapeutik biasa, tidak ada perubahan bermakna
dari kontraktilitas miokard, tekanan arteri sistemik, atau periode
refrakter absolut. Obat ini terutama efektif menekan iritabilitas
sehingga mencegah kembalinya fibrilasi ventrikel setelah defibrilasi
yang berhasil, juga efektif mengontrol denyut ventrikel prematur yang
multi fokal dan episode takhikardi ventrikel. Dosis 50-100 mg diberikan
iv sebagai bolus, pelan-pelan dan bisa diulang bila perlu. Dapat
dilanjutkan dengan infus kontinu 1-3 mg/menit, biasanya tidak lebih
dari 4 mg/menit, berupa lidocaine 500 ml dextrose 5 % larutan (1
mg/ml).
Sulfas Atropin
Mengurangi tonus vagus, memudahkan konduksi atrio ventrikuler dan
mempercepat denyut jantung pada keadaan sinus bradikardi. Paling
berguna dalam mencegah arrest pada keadaan sinus bradikardi
sekunder karena infark miokard, terutama bila ada hipotensi. Dosis
yang dianjurkan mg, diberikan iv. Sebagai bolus dan diulang dalam
interval 5 menit sampai tercapai denyut nadi >60 /menit, dosis total
tidak boleh melebihi 2 mg kecuali pada blok atrioventrikuler derajat 3
yang membutuhkan dosis lebih besar.
9 | Page

Isoproterenol
Merupakan obat pilihan untuk pengobatan segera (bradikardi hebat
karena complete heart block). Ia diberikan dalam infus dengan jumlah
2 sampai 20mg/menit (1-10 ml larutan dari 1 mg dalam 500 ml
dectrose 5 %), dan diatur untuk meninggikan denyut jantung sampai
kira-kira 60 kali/menit. Juga berguna untuk sinus bradikardi berat yang
tidak berhasil diatasi dengan Atropine.
Propranolol
Suatu beta adrenergic blocker yang efek anti aritmianya terbukti
berguna untuk kasus-kasus takhikardi ventrikel yang berulang atau
fibrilasi ventrikel berulang dimana ritme jantung tidak dapat diatasi
dengan Lidocaine. Dosis umumnya adalah 1 mg iv, dapat diulang
sampai total 3 mg, dengan pengawasan yang ketat.
Kortikosteroid
Kortikosteroid sintetis (5 mg/kgBB methyl prednisolon sodium succinate atau 1mg/kgBB
dexamethasone fosfat) untuk pengobatan syok kardiogenik atau shock lung akibat henti
jantung. Bila ada kecurigaan edema otak setelah henti jantung, 60-100 mg methyl
prednisolon sodium succinate tiap 6 jam akan menguntungkan. Bila ada komplikasi paru
seperti pneumonia post aspirasi, maka digunakan dexamethason fosfat 4-8 mg tiap 6 jam.
-

E ( EKG )

: diagnosis elektrokardiografis secepat mungkin untuk mengetahui

fibrilasi ventrikel.
c. Fase III. Prolonged Life Support (PLS), yaitu penambahan dari BLS dan ALS, G
-

(gauge), H (head), I (Intensive care).


G (gauge)
: Pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring penderita secara

terus menerus, dinilai, dicari penyebabnya dan kemudian mengobatinya.


H (Head)
: tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistem saraf
dari kerusakan lebih lanjut akibat terjadinya henti jantung, sehingga dapat dicegah

terjadinya neurologic yang permanen.


I (Intensive Care) : perawatan intensif di ICU, yaitu : tunjangan ventilasi :
trakheostomi, pernafasan dikontrol terus menerus, sonde lambung, pengukuran pH,
pCO2 bila diperlukan dan tunjangan sirkulasi mengedalikan jika terjadinya
kejang.1,7

10 | P a g e

Sebelum melakukan tahapan A (airway) terlebih dahulu dilakukan prosedur awal pada
pasien/korban, yaitu:
a. Memastikan keamanan lingkungan
Aman bagi penolong maupun aman bagi pasien/korban itu sendiri.
b. Memastikan kesadaran pasien/korban
Dalam memastikan pasien/korban (memeriksa respon pasien/korban) dapat
dilakukan dengan menyentuh atau menggoyangkan bahu pasien/korban dengan
lembut

dan

mantap,

sambil

memanggil

namanya

atau

Pak!!!/

Bu!!!!/

Mas!!!/Mbak!!!, dll.
c. Meminta pertolongan
Bila diyakini pasien/korban tidak sadar atau tidak ada respon segera minta
pertolongan dengan cara : berteriak tolong !!! beritahukan posisi dimana,
pergunakan alat komunikasi yang ada, atau aktifkan bel/sistem emergency yang ada
(bel emergency di rumah sakit).
d. Memperbaiki posisi pasien/korban
Tindakan BHD yang efektif bila pasien/korban dalam posisi telentang, berada pada
permukaaan yang rata/keras dan kering. Bila ditemukan pasien/korban miring atau
telungkup pasien/korban harus ditelentangkan dulu dengan membalikkan sebagai
satu kesatuan yang utuh untuk mencegah cedera/komplikasi.
e. Mengatur posisi penolong
Posisi penolong berlutut sejajar dengan bahu pasien/korban agar pada ssat
memberikan batuan nafas dan bantuan sirkulasi penolong tidak perlu banyak
pergerakan.

Gambar 1. Cek kesadaran dan Aktifkan Sistem Emergensi

11 | P a g e

2.5.1. A (AIRWAY) Jalan Nafas


Jika diagnosis henti jantung telah ditegakkan, maka resusitasi harus segera
dimulai. Letakkan pasien pada posisi telentang pada alas keras ubin atau selipkan papan
jika pasien diatas kasur. Jika tonus otot pasien hilang, lidah akan menyumbat faring dan
epiglottis akan menyumbat laring. Lidah dan epiglottis penyebab utama tersumbatnya
jalan napas pada pasien tidak sadar.3 Untuk menghindari hal ini, maka dilakukan
beberapa tindakan atau parasat misalnya:
1. Parasat kepala tengadah-dagu diangkat (head tilt-chin lift maneuver)
Parasat ini dilakukan jika tidak ada trauma pada leher. Satu tangan penolong
mendorong dahi kebawah supaya kepala tengadah, tangan lain mendorong dagu
dengan hati-hati tengadah, sehingga hidung menghadap keatas dan epiglottis terbuka,
sniffing position, posisi cium, posisi hirup.3
2. Perasat dorong rahang bawah (jaw-thrust maneuver)
Pada pasien dengan trauma leher, rahang bawah diangkat didorong kedepan pada
sendinya tanpa menggerakkan kepala-leher. Karena lidah melekat pada rahang
bawah, maka lidah ikut tertarik dan jalan napas terbuka.3
Jika henti jantung terjadi diluar rumah sakit: letakan pasien dalam posisi terlentang,
lakukan manuever triple airway (kepala tengadah, rahang didorong kedepan, mulut
dibuka) dan jika mulut ada cairan, lender atau benda asing lainnya, bersihkan dahulu
sebelum memberikan napas buatan.3

a)

(b)

Gambar 2. Pembebasan Jalan Nafas teknik Head tilt chin lift (a) dan tehnik jaw thrust manuver (b)

2.5.2. B (BREATHING) Bantuan Nafas


12 | P a g e

Pasien dengan henti napas, tidurkan dalam posisi terlentang. Napas buatan tanpa
alat dapat dilakukan dengan cara mulut ke mulut (the kiss of life, mouth-to-mouth), mulut
ke hidung (mouth-to-nose), mulut ke stoma trakeostomi atau mulut ke mulut via sungkup
muka. 3
a. Mulut ke mulut (mouth-to-mouth)
Merupakan cara yang cepat dan efektif. Pada saat memberikan penolong tarik nafas
dan mulut penolong menutup seluruhnya mulut pasien/korban dan hidung
pasien/korban harus ditutup dengan telunjuk dan ibu jari penolong.Volume udara
yang berlebihan dapat menyebabkan udara masuk ke lambung. 3

Gambar 3. Pemberian nafas dari mulut ke mulut

b. mulut ke hidung (mouth-to-nose),


Direkomendasikan bila bantuan dari mulut korban tidak memungkinkan, misalnya
pasien/korban mengalami trismus atau luka berat. Penolong sebaiknya menutup
mulut pasien/korban pada saat memberikan bantuan nafas. 3

13 | P a g e

Gambar 4. Pernafasan dari mulut ke hidung

c. mulut ke stoma trakheostomi


Dilakukan pada pasien/korban yang terpasang trakheostomi atau mengalami
laringotomi.3

Gambar 5. Pernafasan mulut ke stoma.

2.5.3. C (CIRCULATION) Bantuan Sirkulasi


Terdiri dari 2 tahap :
1.

Memastikan ada tidaknya denyut jantung pasien/korban


Ditentukan dengan meraba arteri karotis didaerah leher pasien/korban dengan cara
dua atau tiga jari penolong meraba pertengahan leher sehingga teraba trakea,
kemudian digeser ke arah penolong kira-kira 1-2 cm, raba dengan lembut selam 5
10 detik. Bila teraba penolong harus memeriksa pernafasan, bila tidak ada nafas
berikan bantuan nafas 12 kali/menit. Bila ada nafas pertahankan airway
pasien/korban.7,8

2.

Memberikan bantuan sirkulasi


Jika dipastikan tidak ada denyut jantung berikan bantuan sirkulasi atau kompresi
jantung luar dengan cara:
- Tiga jari penolong ( telunjuk,tengan dan manis) menelusuri tulang iga
pasien/korban yang dekat dengan sisi penolong sehingga bertemu tulang dada
(sternum).
14 | P a g e

Dari tulang dada (sternum) diukur 2- 3 jari ke atas. Daerah tersebut merupakan
tempat untuk meletakkan tangan penolong, atau dengan kata lain, titik kompresi

terletak pada 1/3 bagian bawah tulang sternum.


Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak
tangan diatas telapak tangan yang lain. Hindari jari-jari menyentuh didnding dada

pasien/korban.
Posisi badan penolong tegak lurus menekan dinding dada pasien/korban dengan
tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 30 kali dengan kedalaman

penekanan 1,5 2 inchi ( 3,8 5 cm).


Tekanan pada dada harus dilepaskan dan dada dibiarkan mengembang kembali ke
posisi semula setiap kali kompresi. Waktu penekanan dan melepaskan kompresi

harus sama ( 50% duty cycle).


Tangan tidak boleh berubah posisi.
Ratio bantuan sirkulasi dan bantuan nafas 30 : 2 baik oleh satu penolong maupun
dua penolong. Kecepatan kompresi adalah 100 kali permenit. Dilakukan selama 4
siklus.

Tindakan kompresi yang benar akan menghasilkan tekanan sistolik 60 80 mmHg dan
diastolik yang sangat rendah. Selang waktu mulai dari menemukan pasien/korban sampai
dilakukan tindakan bantuan sirkulasi tidak lebih dari 30 detik.8

Gambar 6. Kompresi dada

15 | P a g e

2.5.4. D (DEFIBRILATION) Terapi Listrik


Terapi dengan memberikan energi listrik dilakukan pada pasien/korban yang
penyebab henti jantung adalah gangguan irama jantung. Penyebab utama adalah ventrikel
takikardi atau ventrikel fibrilasi. Pada penggunaan orang awam tersedia alat Automatic
External Defibrilation (AED).3 Tahapan defibrilasi :

Gambar 7. Defibrilasi
-

Nyalakan AED, pasang dan tempelkan AED sesegera mungkin

Ikuti petunjuk, lihat irama monitor.


Bila irama yang terlihat pada monitor adalah fibrilasi ventrikel/ventrikel takikardia
tanpa nadi, maka dilakukan pemberian kejut listrik dengan memilih energi sebesar
360 J pada alat defibrilator monofasik atau 200 J pada alat bifasik. Listrik dialirkan
dengan menekan tombol discharge (bergambar listrik) yang berada di kedua gagang.
Segera lakukan RJP selama 2 menit (kurang lebih sebanyak 5 siklus). Setelah dua
menit, lakukan evaluasi. Bila irama yang terlihat di monitor adalah irama yang harus
diberikan kejut listrik yaitu VT tanpa nadi atau VF, maka dilakukan pemberian kejut
listrik kembali. Bila irama yang terlihat asistol, maka lakukan RJP sebanyak 2 menit/
5 siklus, selanjutnya lanjutkan sesuai algoritme PEA/asistole.4

Minimalisir interupsi, kompresi baik sebelum atau sesudah kejut listrik.


Lanjutkan kompresi dada segera setelah kejut listrik (meminimalkan gangguan)

PENILAIAN ULANG

16 | P a g e

Sesudah 4 siklus ventilasi dan kompresi kemudian pasien/korban dievaluasi kembali :


-

Jika tidak ada denyut jantung dilakukan kompresi dan bantuan nafas dengan ratio

30:2
Jika ada nafas dan denyut jantung teraba letakkan korban pada posisi sisi mantap

(recovery position)
Jika tidak ada nafas tetapi teraba denyut jantung, berikan bantuan nafas sebanyak 12
kali permenit dan monitor denyut jantung setiap saat.

2.6

Panduan RJP 2010


2.6.1. Menekankan pada RJP yang berkualitas secara terus menerus
AHA Guidelines for CPR and ECC 2010 mengutamakan kebutuhan RJP yang
berkualitas tinggi, hal ini mencakup:
a. Kecepatan kompresi paling sedikit 100 x/menit (perubahan dari kurang lebih 100
x/menit)
b. Kedalaman kompresi paling sedikit 2 inchi (5 cm) pada dewasa dan paling sedikit
sepertiga dari diameter anteroposterior dada pada penderita anak-anak dan bayi
(sekitar 1,5 inchi [4cm] pada bayi dan 2 inchi [5cm] pada anak-anak)
Batas antara 1,5 hingga 2 inchi tidak lagi digunakan pada dewasa, dan kedalaman
mutlak pada bayi dan anak-anak lebih dalam daripada versi sebelumnya dari AHA
Guidelines for CPR and ECC
c. Memberi kesempatan daya rekoil dada (chest recoil) yang lengkap setiap kali selesai
kompresi
d. Meminimalisasi gangguan pada kompresi dada
e. Menghindari ventilasi yang berlebihan
Tidak ada perubahan dalam rekomendasi untuk rasio kompresi-ventilasi yaitu
sebanyak 30:2 untuk dewasa, anak-anak, dan bayi (tidak termasuk bayi yang baru lahir).
AHA Guidelines for CPR and ECC 2010 meneruskan rekomendasi untuk memberikan
nafas buatan sekitar 1 detik. Begitu jalan nafas telah dibebaskan, kompresi dada dapat
dilakukan secara terus menerus (dengan kecepatan paling sedikit 100 x/menit) dan tidak
lagi diselingi dengan ventilasi. Nafas buatan kemudian dapat diberikan sekitar 1 kali

17 | P a g e

nafas setiap 6 sampai 8 detik (sekitar 8-10 nafas per detik). Ventilasi yang berlebihan
harus dihindari. 1,2
2.6.2. Perubahan dari A-B-C menjadi C-A-B
Perubahan yang utama pada BLS, urutan dari Airway-Breathing-Circulation
berubah

menjadi

Compression-Airway-Breathing.

Hal

ini

untuk

menghindari

penghambatan pada pemberian kompresi dada yang cepat dan efektif. Mengamankan
jalan nafas sebagai prioritas utama merupakan sesuatu yang memakan waktu dan
mungkin tidak berhasil 100%, terutama oleh penolong yang seorang diri.
Mayoritas besar henti jantung terjadi pada dewasa dan penyebab paling umum
adalah Ventricular Fibrilation atau pulseless Ventricular Tachycardia. Pada penderita
tersebut, elemen paling penting dari Basic Life Support adalah kompresi dada dan
defibrilasi yang segera. Pada rangkaian A-B-C, kompresi dada seringkali tertunda ketika
penolong membuka jalan nafas untuk memberikan nafas buatan, mencari alat pembatas
(barrier devices), atau mengumpulkan peralatan ventilasi. Setelah memulai emergency
response system hal berikutnya yang penting yaitu untuk segera memulai kompresi dada.
Hanya RJP pada bayi yang merupakan perkecualian dari protokol ini, dimana urutan yang
lama tidak berubah. Hal ini berarti tidak ada lagi look, listen, feel, sehingga komponen ini
dihilangkan dari panduan.1,2
Dengan merubah urutan menjadi C-A-B kompresi dada akan dimulai sesegera
mungkin dan ventilasi hanya tertunda sebentar (yaitu hingga siklus pertama dari 30
kompresi dada terpenuhi, atau sekitar 18 detik). Sebagian besar penderita yang
mengalami henti jantung diluar rumah sakit tidak mendapatkan pertolongan RJP oleh
orang-orang disekitarnya. Terdapat banyak alasan untuk hal tersebut, namun salah satu
hambatan yang dapat timbul yaitu urutan A-B-C, yang dimulai dengan prosedur yang
paling sulit, yaitu membuka jalan nafas dan memberikan nafas buatan. Memulai
pertolongan dengan kompresi dada dapat mendorong lebih banyak penolong untuk
memulai RJP.

18 | P a g e

Algoritme Bantuan Hidup Dasar (dikutip dari 2010 AHA Guidelines for cardiopulmonary
resuscitation)

2.6.3. Rata-rata kompresi


Sebaiknya dilakukan kira kira minimal 100 kali/ menit. Jumlah kompresi dada
yang dilakukan per menit selama RJP sangat penting untuk menentukan kembalinya
19 | P a g e

sirkulasi spontan (return of spontaneous circulation [ROSC]) dan fungsi neurologis yang
baik. Jumlah yang tepat untuk memberikan kompresi dada per menit ditetapkan oleh
kecepatan kompresi dada dan jumlah serta lamanya gangguan dalam melakukan
kompresi (misalnya, untuk membuka jalan nafas, memberikan nafas buatan, dan
melakukan analisis AED [Automated Electrical Defibrilator]). 7,8,9
Pada sebagian besar studi, kompresi yang lebih banyak dihubungkan dengan
tingginya rata-rata kelangsungan hidup, dan kompresi yang lebih sedikit dihubungkan
dengan rata-rata kelangsungan hidup yang lebih rendah. Kesepakatan mengenai kompresi
dada yang adekuat membutuhkan penekanan tidak hanya pada kecepatan kompresi yang
adekuat, tapi juga pada meminimalkan gangguan pada komponen penting dari CPR
tersebut. Kompresi yang inadekuat atau gangguan yang sering (atau keduanya) akan
mengurangi jumlah total kompresi yang diberikan per menit.

2.6.4. Kedalaman Kompresi


Untuk dewasa kedalaman kompresi telah diubah dari jarak 1 - 2 inch menjadi
minimal 2 inch (5 cm). Kompresi yang efektif (menekan dengan kuat dan cepat)
menghasilkan aliran darah dan oksigen dan memberikan energi pada jantung dan otak.
Kompresi menghasilkan aliran darah terutama dengan meningkatkan tekanan
intrathorakal dan secara langsung menekan jantung. Kompresi menghasilkan aliran
darah, oksigen dan energi yang penting untuk dialirkan ke jantung dan otak.

20 | P a g e

2.6.5. RJP Dengan Tangan Saja (Hands Only CPR)


Secara teknis terdapat perubahan dari petunjuk RJP 2005, namun AHA
mengesahkan tehnik ini pada tahun 2008. Untuk penolong yang belum terlatih
diharapkan melakukan RJP pada korban dewasa yang pingsan didepan mereka. Hands
Only CPR (hanya dengan kompresi) lebih mudah untuk dilakukan oleh penolong yang
belum terlatih dan lebih mudah dituntun oleh penolong yang ahli melalui telepon.
Kompresi tanpa ventilasi (Hands Only CPR) memberikan hasil yang sama jika
dibandingkan kompresi dengan menggunakan ventilasi. 7,8

2.6.6. Identifikasi pernafasan agonal oleh pengantar (Dispatcher Identification of


Agonal Gasps)
Penolong diajarkan untuk memulai RJP jika korban tidak bernafas atau sulit
bernafas. Penyedia layanan kesehatan seharusnya diajarkan untuk memulai RJP jika
korban tidak bernafas atau pernafasan yang tidak normal. Pengecekan kecepatan
pernafasan seharusnya dilakukan sebelum aktivasi emergency response system. 1,2
2.6.7. Penekanan krikoid
Penekanan krikoid adalah suatu teknik dimana dilakukan pemberian tekanan pada
kartilago krikoid penderita untuk menekan trakea kearah posterior dan menekan
esophagus ke vertebra servikal. Penekanan krikoid dapat menghambat inflasi lambung
dan mengurangi resiko regurgitasi dan aspirasi selama ventilasi dengan bag-mask namun
hal ini juga dapat menghambat ventilasi. Saat ini penggunaan rutin penekanan krikoid
tidak lagi direkomendasikan. Penelitian menunjukkan bahwa penekanan krikoid dapat
menghambat kemajuan airway dan aspirasi dapat terjadi meskipun dengan aplikasi yang
tepat. 7
2.6.8. Aktivasi Emergency Response System.
Aktivasi emergency response system seharusnya dilakukan setelah penilaian
respon penderita dan pernafasan, namun seharusnya tidak ditunda. Menurut panduan
tahun 2005, aktivasi segera dari sistem kegawatdaruratan dilakukan setelah korban yang
tidak merespon. Jika penyedia pelayanan kesehatan tidak merasakan nadi selama 10
detik, RJP harus segera dimulai dan menggunakan defibrilator elektrik jika tersedia. 7

21 | P a g e

2.6.9

Tim Resusitasi
Dibutuhkan suatu tim agar resusitasi berjalan dengan baik dan efektif. Misalnya :

satu penolong mengaktifkan respon sistem kegawatdaruratan sedangkan penolong kedua


melakukan kompresi dada, penolong ketiga membantu ventilasi atau memakaikan bag
mask untuk membantu pernafasan dan penolong ke-empat mempersiapkan defibrilator. 8,9

Tabel perbandingan dasar BLS pada dewasa, anak-anak dan bayi (termasuk RJP pada neonatus).

22 | P a g e

BAB III
23 | P a g e

KESIMPULAN
Resusitasi

jantung

paru

adalah

usaha

yang

dilakukan

untuk

apa-apa

yang

mengindikasikan terjadinya henti nafas atau henti jantung. Kompresi dilakukan terlebih dahulu
dalam kasus yang terdapat henti pernafasan atau henti jantung karena setiap detik yang tidak
dilakukan kompresi merugikan sirkulasi darah dan mengurangkan survival rate korban. Prosedur
RJP terbaru adalah kompresi dada 30 kali dengan 2 kali napas buatan. Fase-fase pada RJP adalah
Bantuan Hidup Dasar, Bantuan Hidup Lanjut dan Bantuan terus-menerus. Sistem RJP yang
dilakukan sekarang adalah adaptasi dan pembaharuan dari pedoman yang telah diperkenalkan
oleh Peter Safar dan kemudiannya diadaptasi oleh American Heart Association.

DAFTAR PUSTAKA
24 | P a g e

1. American Heart Association. 2010. Part 4 Adult Basic Life Support in Circulation
Journal.
2. Subagjo A, Achyar, Ratnaningsih E, Sugiman T, Kosasih A, Agustinus R. 2011. Bantuan
Hidup Jantung Dasar BCLS Indonesia. Edisi 2011. Jakarta : Perhimpunan Dokter
Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI)
3.

Latief S.A. 2007. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi Kedua. Penerbit FKUI. Jakarta.

4. Sunatrio S, Joenoerham J. 2004. Anestesiologi. Edisi I. Jakarta : Bagian Anestesiologi


dan terapi Intensif FKUI. p. 157-8
5. Siahaan, Olan SM. Resusitasi Jantung Paru dan Otak. Cermin Dunia Kedokteran. 1992.
6. Wiryana IM, Sujana IBG, Sinardja K, Budiarta IG. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan
Reanimasi. Jakarta : Indeks. 2010.
7. Miller RD. Anesthesia, 5th ed. Churcill Livingstone. Philadelphia. 2000.
8. Peter Safar and the ABC of Resuscitation. Diakses dari
http://en.wikipedia.org/wiki/ABC_(medicine)
9. Peter J. Safar. Diaskes dari http://www.laerdalfoundation.org/dok/Peter_Safar.pdf

25 | P a g e