Anda di halaman 1dari 31

PROMOSI KESEHATAN DI TEMPAT KERJA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Bekerja dengan tubuh dan lingkungan yang sehat, aman serta nyaman
merupakan hal yang di inginkan oleh semua pekerja. Lingkungan fisik tempat
kerja dan lingkungan organisasi merupakan hal yang sangat penting dalam
mempengaruhi sosial, mental dan fisik dalam kehidupan pekerja. Kesehatan
suatu lingkungan tempat kerja dapat memberikan pengaruh yang positif
terhadap kesehatan pekerja, seperti peningkatan moral pekerja, penurunan
absensi dan peningkatan produktifitas. Sebaliknya tempat kerja yang kurang
sehat atau tidak sehat (sering terpapar zat yang bahaya mempengaruhi
kesehatan) dapat meningkatkan angka kesakitan dan kecelakaan, rendahnya
kualitas kesehatan pekerja, meningkatnya biaya kesehatan dan banyak lagi
dampak negatif lainnya.
Pada umumnya kesehatan tenaga pekerja sangat mempengaruhi
perkembangan ekonomi dan pembangunan nasional. Hal ini dapat dilihat
pada negara-negara yang sudah maju. Secara umum bahwa kesehatan dan
lingkungan

dapat

mempengaruhi

pembangunan

ekonomi.

Dimana

industrilisasi banyak memberikan dampak positif terhadap kesehatan,


seperti meningkatnya penghasilan pekerja, kondisi tempat tinggal yang lebih
baik dan meningkatkan pelayanan, tetapi kegiatan industrilisasi juga
memberikan dampak yang tidak baik juga terhadap kesehatan di tempat
kerja dan masyarakat pada umumnya.
Dengan makin meningkatnya perkembangan industri dan perubahan
secara global dibidang pembangunan secara umum di dunia, Indonesia juga
melakukan perubahan-perubahan dalam pembangunan baik dalam bidang
tehnologi maupun industri. Dengan adanya perubahan tersebut maka

konsekuensinya terjadi perubahan pola penyakit karena hubungan dengan


pekerjaan. Seperti faktor mekanik (proses kerja, peralatan) , faktor fisik
(panas , Bising, radiasi) dan faktor kimia. Masalah gizi pekerja juga
merupakan hal yang sangat penting yang perlu diperhatikan, stress,
penyakit Jantung, tekanan darah tinggi dan lain-lainnya.
Masih sangat sedikit sekali pekerja dari perusahaan mendapatkan
pelayanan kesehatan keselamatan kerja yang memuaskan, karena banyak
para pimpinan perusahaan kurang menghubungkan antara tempat kerja,
kesehatan dan pembangunan. Padahal kita ketahui bahwa pekerja yang
sehat akan menjadikan pekerja yang produktif, yang mana sangat penting
untuk keberhasilan bisnis perusahaan dan pembangunan nasional. Untuk itu
promosi kesehatan di tempat kerja merupakan bagian yang sangat penting
di tempat kerja.
1.2

Rumusan Masalah

a.

Bagaimana promosi kesehatan di tempat kerja ?

b.

Bagaimana perilaku hidup bersih dan sehat di tempat kerja ?

c.

Bagaimana strategi terbaik untuk promosi kesehatan di tempat kerja ?

d.

Bagaimana kunci efektivitas program kesehatan di tempat kerja ?

e.

Bagaimana langkah mengembangkan promosi kesehatan di tempat kerja ?

1.3

Tujuan

a.

Untuk mengetahui promosi kesehatan di tempat kerja.

b.

Untuk mengetahui perilaku hidup bersih dan sehat di tempat kerja.

c.

Untuk mengetahui strategi terbaik untuk promosi kesehatan di tempat


kerja.

d.

Untuk mengetahui kunci efektivitas program kesehatan di tempat kerja.

e.

Untuk mengetahui langkah mengembangkan promosi kesehatan di tempat


kerja.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja


Resiko yang ditanggung oleh masing-masing pekerja ini berbeda satu
sama lainnya, tergantung pada lingkungan kerja masing-masing karyawan
tersebut. Oleh karena itu, promosi kesehatan dapat dilakukan oleh pimpinan
perusahaan atau tempat kerja yang kondusif bagi karywan atau pekerjanya.
Promosi kesehatan kerja adalah upaya memberdayakan masyarakat untuk
memelihara,

meningkatkan

dan

melindungi

kesehatan

diri

serta

lingkungannya.
Promosi kesehatan menempatkan masyarakat sebagai subyek bukan
obyek, sebagai pelaku bukan sasaran, dan aktif berbuat bukan pasif
menunggu. Upaya promosi kesehatan yang diselenggarakan di tempat kerja,
selain untuk memberdayakan masyarakat di tempat kerja untuk mengenali
masalah dan tingkat kesehatannya, serta mampu mengatasi, memelihara,
meningkatkan dan melindungi kesehatannya sendiri juga memelihara dan
meningkatkan tempat kerja yang sehat.
Tujuan Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja adalah :
a.

Mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat di tempat kerja.

b.

Menurunkan angka absensi tenaga kerja.

c.

Menurunkan angka penyakit akibat kerja dan lingkungan kerja.

d.

Menciptakan lingkungan kerja yang sehat, medukung dan aman.

e.

Membantu berkembangnya gaya kerja dan gaya hidup yang sehat


Memberikan dampak yang positif terhadap lingkungan kerja dan
masayarakat. Dua konsep yang sangat penting untuk meningkatkan
kesehatan pekerja dan lingkungannya adalah pencegahan dan peningkatan
kesehatan.
Secara mendasar promosi kesehatan di tempat kerja adalah perlu
melindungi individu (pekerja), lingkungan didalam dan diluar tempat kerja
dari bahan-bahan berbahaya, stress atau lingkungan kerja yang jelek. Gaya

kerja

yang

memperhatikan

kesehatan

dan

menggunakan

pelayanan

kesehatan yang ada dapat mendukung terlaksananya promosi kesehatan di


tempat kerja.
Keuntungan promosi kesehatan di tempat kerja, secara umum :
Promosi Kesehatan di tempat kerja mendorong tempat kerja dan tenaga
kerja yang sehat yang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi dan sosial.
Sasaran dari Promosi Kesehatan Di tempat Kerja yakni :
a.

Primer : Karyawan di tempat kerja.

b.

Sekunder : Pengelola K3, serikat atau organisasi pekerja.

c.

Tertier : Pengusaha dan manajer/ Direktur.


Keuntungan Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja
No
1

Bagi Perusahaan
Meningkatnya lingkungan
tempat kerja yang sehat
dan aman serta nyaman

Citra Perusahaan Positif

Meningkatkan moral staf

Menurunnya angka absensi

Meningkatnya produktifitas

Bagi pekerja
Lingkungan tempat kerja
menjadi lebih sehat
Meningkatnya percaya
diri
Menurunnya stress
Meningkatnya semangat
kerja
Meningkatnya
kemampuan

Menurunnya biaya
6

2.2

kesehatan atau biaya

Meningkatnya kesehatan.

asuransi.
Pencegahan terhadap

Lebih sehatnya keluarga

penyakit.

dan masyarakat

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat Kerja


PHBS di tempat kerja adalah upaya untuk memberdayakan para
pekerja agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih
dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan tempat kerja sehat.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat kerja antara lain :
a.

Tidak merokok di tempat kerja.

b.

Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja.

c.

Melakukan olahraga secara teratur atau aktifitas fisik.

d.

Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan
sesudah buang air besar dan buang air kecil.

e.

Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja.

f.

Menggunakan air bersih.

g.

Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar.

h.

Membuang sampah pada tempatnya.

i.

Mempergunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan.


Ada 4 langkah yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesehatan di
perusahaan dan karyawan yaitu :

a.

Lebih mengkomunikasikan dengan para karyawan tentang perhatian dan


tujuan yang terkait dengan kesehatan.

b.

Mengimplementasikan

program

promosi

kesehatan

untuk

membuat

pemahaman di tempat kerja.


c.

Membuat komitmen tetap untuk memelihara kesehatan dan kesejahteraan


karyawan.

d.
2.3
a.

Memulai kegiatan program kesehatan.


Strategi Terbaik Untuk Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja
Implementasi program perubahan gaya hidup karyawan (Berhenti merokok,
Program Fitness, Meningkatkan nutrisi, pengurangan stress dll).

b.

Program konsultasi dan penilaian resiko kesehatan di perusahaan.

c.

Menunjukkan dukungan manajemen terhadap program promosi kesehatan


khususnya membangun pernyataan misi promosi kesehatan perusahaan.

d.

Membangun budaya organisasi yang fleksibel, dukungan masyarakat,


responsif terhadap kebutuhan karyawan.

e.

Membangun kebijakan perusahaan untuk memelihara area bebas rokok dan


minuman keras dan narkoba di tempat kerja.

f.

Membentuk komite kesehatan dan keselamatan kerja dan melakukan


pertemuan secara reguler.

g.

Mengawasi efektivitas, biaya, keuntungan dan partisipasi dalam program


promosi kesehatan.

h.

Membuat

dan

memelihara

fasilitas

promosi

kesehatan

dengan

menghubungkan audit kualitas lingkungan kerja pada interval reguler dan


ambil langkah untuk identifikasi alamat area yang bermasalah.
i.

Komunikasi secara reguler dengan karyawan untuk menghormati promosi


kesehatan

2.4
a.

Kunci Efektivitas Program Kesehatan Di Tempat Kerja


Menunjukkan keterlibatan dan dukungan manajemen pada program
kesehatan.

b.
c.

melibatkan karyawan dalam tahapan perencanaan program.


Tawarkan program pada waktu dan tempat yang menyenagkan bagi
karyawan.

d.
e.

Membuat tujuan program dan identifikasi kebutuhan kesehatan karyawan.


Berikan hadiah terhadap prestasi dan keikutsertaan dalam pencapaian
tujuan program.

f.

Meyakinkan karyawan bahwa status kesehatan mereka adalah sangat


penting.

g.

Berikan program yang bervariasi untuk mempertemukan kebutuhan


karyawan.

h.

Membuat lingkungan tempat kerja mendukung usaha perubahan gaya


hidup.

i.
2.5

Membantu karyawan untuk mengerti dampak dari masalah kesehatan.


Langkah Mengembangkan Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja

Mengembangkan Promosi Kesehatan Di tempat Kerja dapat melalui 8


langkah yaitu :
a.

Menggalang dukungan manajemen.


Untuk mengembangkan Promosi kesehatan di tempat kerja, dukungan dan
komitmen dari para pengambil keputusan dari semua pihak sangat penting
sekali. Ini termasuk bukan saja sebagai sponsor, tetapi komitmen untuk
pelaksanaan

Promosi

kesehatan

tersebut.

Para

manager

hendaknya

membuat program dan informasi umum tentang pelaksanaan promosi


kesehatan yang diedarkan keseluruh staf untuk di diskusikan.
b.

Melaksanakan koordinasi.
Untuk lancarnya proses jalannya pelaksanaan, para pengambil keputusan
membentuk kelompok kerja (team) yang baik, contohnya panitia dari bagian
kesehatan, bagian keselamatan, lingkungan dan ketenagaan. Kelompok kerja
tersebut hendaknya mengikuti semua komponen yang terkait di semua
tingkatan di tempat kerja maupun di sektor terkait.

c.

Penjajakan Kebutuhan
Team hendaknya melakukan need assessmen. Hal ini untuk mengumpulkan
segala informasi yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan
kerja. Tujuan dari need assessmen ini adalah mengidentifikasi masalah yang
mempengaruhi kesehatan dan menjadikan nya program.

d.

Memprioritaskan Kebutuhan .
Team memproiritaskan masalah berdasarkan keinginan dan kebutuhan
masalah masalah yang mempengaruhi kesehatan.

e.

Menyusun perencanaan.
Berdasarkan prioritas masalah dan kebutuhan, team mengembangkan
perencanaan yaitu perencanaan jangka panjang dan jangka pendek lengkap
dengan goal dan tujuan, strateginya, aktifitasnya, biaya dan jadwal
pelaksanaan. Biaya perencanaan hendaknya diajukan setiap tahun anggaran

f.

Monitoring dan Evaluasi.


Monitoring dan Evaluasi merupakan hal yang sangat penting untuk melihat
seberapa baiknya program tersebut terlaksana, untuk mengidentifikasi

kesuksesan dan masalah-masalah yang ditemui dan umpan balik (feedback)


untuk perbaikan
g.

Revisi dan perbaikan program.


Setelah mendapatkan hasil dari evaluasi tentunya ada kekurangan dan
masukan yang perlu untuk pertimbangan dalam melakukan perbaikan
program, sekaligus merevisi hal yang sudah ada

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Upaya promosi kesehatan yang diselenggarakan di tempat kerja, selain
untuk memberdayakan masyarakat di tempat kerja untuk mengenali
masalah dan tingkat kesehatannya, serta mampu mengatasi, memelihara,
meningkatkan dan melindungi kesehatannya sendiri juga memelihara dan
meningkatkan tempat kerja yang sehat. Promosi kesehatan di tempat kerja
merupakan kegiatan dari, oleh dan untuk pekerja dalam menanamkan
perilaku hidup bersih dan sehat.
Keuntungan promosi kesehatan di tempat kerja, secara umum :
Promosi Kesehatan di tempat kerja mendorong tempat kerja dan tenaga
kerja yang sehat yang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi dan sosial.

3.2

Saran
Meningkatkan promosi kesehatan di tempat kerja adalah salah satu upaya
perbaikan efektifitas suatu perusahaan dari promosi kesehatan di tempat
kerja harus di giatkan di dalam sebuah perusahaan atau industri.

BAB I
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat)
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu strategi yang dicanangkan
oleh Departemen Kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan Millenium 2015 melalui rumusan
visi dan misi Indonesia Sehat, sebagaimana yang dicita-citakan oleh seluruh masyarakat Indonesia
dalam menyongsong Milenium Development Goals (MDGs).
"Health is not everything, but without health everything is nothing". Kesehatan memang
bukan segalanya, tetapi tanpa kesehatan segalanya menjadi tidak berarti. Setiap individu
mempunyai hak untuk hidup sehat, kondisi yang sehat hanya dapat dicapai dengan kemauan dan
keinginan yang tinggi untuk sehat serta merubah prilaku tidak sehat menjadi prilaku hidup sehat.
Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan prilaku yang dipraktekkan oleh setiap
individu dengan kesadaran sendiri untuk meningkatkan kesehatannya dan berperan aktif dalam
mewujudkan lingkungan yang sehat.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat harus diterapkan dalam setiap sisi kehidupan manusia
kapan saja dan dimana saja. PHBS di rumah tangga/keluarga, institusi kesehatan, tempat-tempat
umum, sekolah maupun di tempat kerja karena perilaku merupakan sikap dan tindakan yang akan
membentuk kebiasaan sehingga melekat dalam diri seseorang.
Perilaku merupakan respon individu terhadap stimulasi baik yang berasal dari luar maupun
dari dalam dirinya. PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) merupakan sekumpulan perilaku yang
dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang atau
keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan
kesehatan masyarakat. PHBS merupakan salah satu pilar utama dalam Indonesia Sehat dan
merupakan salah satu strategi untuk mengurangi beban negara dan masyarakat terhadap
pembiayaan kesehatan.
Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan social yang memungkinkan setiap
orang hidup produktif secara social dan ekonomi. (UU Kesehatan RI No. 23 tahun 1992)
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan sekaligus merupakan investasi sumber daya
manusia, serta memiliki kontribusi yang besar untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia
(IPM).
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang (organism) terhadap stimulus
yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan
(Simons-Morton et al.,1995). Perubahan-perubahan perilaku kesehatan dalam diri seseorang dapat
diketahui melalui persepsi. Persepsi adalah pengalaman yang dihasilkan melalui panca indera.
Dalam aspek biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme atau mahluk hidup
yang bersangkutan. (Notoatmodjo, 2005).
Dasar orang berperilaku dipengaruhi oleh :
a. Nilai

b. Sikap
c. Pendidikan/Pengetahuan
Kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum
sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula
(Notoatmodjo S.,2003)
2.2 Tujuan PHBS
Tujuan PHBS adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan
masyarakat agar hidup bersih dan sehat serta masyarakat termasuk swasta dan dunia usaha
berperan serta aktif mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

BAB II
PEMBAHASAN
3.1 Tatanan PHBS
PHBS berada di lima tatanan yakni:
1. Tatanan rumah tangga
Membudayakan hidup sehat tidaklah sulit harus ada kesadaran, keinginan dan kemauan untuk
memulainya. Setiap keluarga dapat menerapkan prinsip untuk hidup bersih serta menjadikan
perilaku sehat menjadi kebiasaan setiap anggota keluarga. Jika kebiasan yang baik telah
ditanamkan sejak dini maka tidaklah sulit melakukannya, karena sesuatu yang dilakukan sebagai
kebiasaan sangat mudah untuk dikerjakan. Tanamkan prinsip bahwa kesehatan merupakan suatu
"kebutuhan", sehingga kita akan termotivasi untuk mencapainya dan melakukannya.
Sepuluh indikator PHBS di tatanan rumah tangga:
a.

Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan.


Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menurunkan resiko gangguan pasca persalinan

dan mencegah infeksi neonatus.


b. Memberi Asi esklusif
Asi ekslusif secara nyata mampu menekan angka kematian balita, memberikan Asi ekslusif tidak
hanya memberikan manfaat bagi bayi namun bermanfaat juga bagi ibu. Ibu yang menyusui 20
persen terhindar dari resiko terkena kanker payudara dan kanker rahim.
c. Menimbang balita setiap bulan.
Jika keluarga memiliki balita wajib membawanya ke pos yandu untuk dilakukan penimbangan.
Menimbang berat badan merupakan parameter untuk menentukan status gizi balita, dengan
melakukan penimbangan setiap bulan dapat diketahui pertumbuhan dan perkembangan balita serta
dapat diketahui lebih awal jika terdapat indikasi kekurangan gizi.
d.

Menggunakan air bersih


Berbagai penyakit dapat diakibatkan oleh penggunaan air yang tidak bersih. Jika kondisi air yang
digunakan tidak jernih, keruh atau berbau sebaiknya air yang digunakan diolah terlebih dahulu agar
menjadi air bersih dengan menggunakan saringan sederhana.

e.

Mencuci tangan dengan air dan sabun.


Membiasakan untuk mencuci tangan setelah melakukan pekerjaan dan ketika akan mengerjakan

suatu pekerjaan hal ini secara nyata telah mencegah perpindahan kuman dan penyebaran penyakit
f.

yang disebabkan oleh berbagai bakteri penyebab infeksi antara lain hepatitis B, HIV/AIDS.
Menggunakan jamban sehat.
Kotoran manusia merupakan sumber penyebaran penyakit yang sangat kompleks antara lain tipus,
disentri, kolera, berbagai macam penyakit cacing, schisosomiasis dan sebagainya. Secara langsung

kotoran ini dapat mengkontaminasi makanan, minuman, sumber air, tanah dan sebagainya.
g. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu.
Mencuci dan membersihkan bak mandi dan tempat-tempat penyimpanan air minimal seminggu
sekali dan mengubur kaleng-kaleng bekas tindakan ini merupakan cara memberantas jentik-jentik
nyamuk demam berdarah. Karena nyamuk demam berdarah bertelur di tempat
genangan/penampungan air jernih bukan air got atau sejenisnya.
h.

Makan buah dan sayur setiap hari.


Sayur dan buah merupakan sumber gizi yang lengkap dan sehat serta mudah didapatkan. Dengan
mengkonsumsi sayur dan buah setiap hari kebutuhan gizi dapat terpenuhi.

i.

Melakukan aktifitas fisik setiap hari.


Aktifitas fisik, gerak badan atau melakukan pekerjaan di rumah akan meningkatkan kekuatan otot
dan menyehatkan badan.

j.

Tidak merokok didalam rumah.


Rokok berbahaya tidak saja bagi perokok tetapi juga terhadap orangorang disekelilingnya, untuk itu
hindarilah untuk merokok di dalam rumah.

2. Tatanan sekolah
Indikator PHBS di sekolah antara lain:
a.

Mencuci tangan dengan air bersih mengalir dan sabun.


Sebab air yang tidak bersih banyak mengandung kuman dan bakteri penyebab penyakit, bila
digunakan maka kuman dan bakteri berpindah ke tangan. Pada saat makan kuman dengan cepat
masuk ke dalam tubuh yang bisa menimbulkan penyakit antara lain diare, thypus, cacingan, flu

burung dll.
b. Mengkonsumsi jajanan di warung /kantin sekolah.
Jajan sembarangan tidak aman karena kita tidak tahu apakah bahan tambahan makanan (BTM)
yang digunakan seperti zat pewarna, pengawet, pemanis dan bumbu penyedapnya aman untuk
kesehatan atau tidak.
c. Menggunakan sampah pada tempatnya
Sampah akan menjadi tempat berkembang biak serangga dan tikus, menjadi sumber polusi dan
pencemaran terhadap tanah, air dan udara.Sampah menjadi media perkembangan kuman-kuman
penyakit yang dapat membahayakan kesehatan. Dan sampah juga bisa menimbulkan kecelakaan
dan kebakaran.

d.

Olah raga yang teratur dan terukur.


Manfaat olah raga yang teratur antara lain berat badan terkendali, otot lebih lentur dan tulang lebih
kuat, bentuk tubuh lebih ideal dan proporsional, daya tahan tubuh terhadap penyakit lebih baik dan

menghindarkan diri dari penyakit jantung, osteoporosis, diabetes, stroke dan hipertensi.
e. memberantas jentik nyamuk.
Untuk memutuskan mata rantai siklus hidup nyamuk, sehingga nyamuk tidak berkembang di
lingkungan sekolah. Khususnya jentik nyamuk Aedes aeghypty yang menyebabkan penyakit DBD,
karena nyamuk ini menggigit pada siang hari dimana siswa sedang belajar.
Perlu dilakukan kegiatan 3 m yaitu, menguras tempat-tempat penampungan air seminggu sekali
seperti vas bunga,bak mandi dll , menutup tempat-tempat penampungan air dengan rapat dan
mengubur barang bekas yang dapat menampung air hujan.
f.

Tidak merokok.
Karena banyak sekali efek negatif yang ditimbulkan oleh rokok, antara lain terjangkit penyakit kanker
paru-paru, kanker mulut, penyakit jantung, batuk kronis, kelainan kehamilan, katarak, kerusakan
gigi, dan efek ketagihan serta ketergantungan terhadap rokok.
Di dalam sebatang rokok terkandung 4.000 bahan kimia dan 43 senyawa yang terbukti
menyebabkan kanker. Bahan utama rokok terdiri dari nikotin, tar dan CO.

g.

menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan,


Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan badan serta status gizi. Agar pertumbuhan

anak dapat berkembang secara optimal.


h. Menggunakan jamban.
Untuk menjaga agar lingkungan selalu bersih, sehat dan tidak berbau. Supaya tidak mencemari
sumber air dilingkungan sekitar.
Dan juga agar tidak mengundang datangnya serangga kecoa/ lalat yang dapat menjadi vektor
penyakit seperti diare, cholera, disentri, thypus, cacingan dll.
3. Tatanan tempat kerja
Indikator PHBS di tempat kerja antara lain :
Semua PHBS diharapkan dilakukan di tempat kerja. Namun demikian, tempat kerja telah masuk
kategori Tempat Kerja Sehat, bila masyarakat pekerja di tempat kerja :
1.
2.

Tidak merokok di tempat kerja


Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja.

3.
4.

Melakukan olahraga secara teratur/aktivitas fisik


Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar dan

buang air kecil


5. Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja.
6.
7.

Menggunakan air bersih.


Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar.

8.

Membuang sampah pada tempatnya. Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis
pekerjaan.
4. Tatanan tempat umum

a.

b.

c.

d.

a.

b.

c.

PHBS ditempat umum adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat pengunjung dan
pengelola tempat-tempat umum agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktekkan PHBS dan
berperan aktif dalam mewujudkan tempat-tempat umum sehat.
Tempat-tempat umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah atau swasta
atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat seperti sarana pariwisata,
transportasi, sarana ibadah, sarana perdagangan dan olahraga, rekreasi dan sarana sosial lainnya.
PHBS di Pasar
Menggunakan air bersih, Membuang sampah pada tempatnya, Menggunakan jamban, Tidak
merokok di pasar, Tidak meludah Sembarangan, Memberantas Jentik nyamuk
PHBS di tempat Ibadah
Menggunakan air bersih, Membuang sampah pada tempatnya, Menggunakan jamban, Tidak
merokok di tempat ibadah, Tidak meludah Sembarangan, Memberantas Jentik nyamuk
PHBS di Rumah Makan
Menggunakan air bersih, Membuang sampah pada tempatnya, Menggunakan jamban, Mencuci
tangan dengan air bersih dan sabun, Tidak merokok di rumah makan, Menutup makanan dan
minuman, Tidak meludah Sembarangan, Memberantas Jentik nyamuk
PHBS di Angkutan Umum(Bus, Angkot, Kereta, Pesawat, Kapal Laut dll)
Menggunakan air bersih, Membuang sampah pada tempatnya, Menggunakan jamban, Tidak
merokok di angkutan umum, Tidak meludah Sembarangan
Manfaat:
Bagi masyarakat:
Masyarakat menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit. Masyarakat mampu mengupayakan
lingkungan sehat, serta mampu mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan yang
dihadapi
Bagi tempat umum
Lingkungan menjadi lebih bersih, indah dan sehat sehingga meningkatkan citra tempat umum,
Meningkatkan pendapatan bagi tempat-tempat umum sebagai akibat dari meningkatnya
kunjungan pengguna tempat-tempat umum
Bagi pemerintah Kabupaten/kota
Peningkatan presentase tempat umum sehat menunjukkan kinerja dan citra pemerintah
kabupaten/kota yang baik Kabupaten /kota dapat dijadikan pusat pembelajaran bagi daerah lain
dalam pembinaan PHBS di tempat-tempat umum
5. Tatanan fasilitas kesehatan

Indikator PHBS di fasilitas kesehatan antara lain :


1. menggunakan air bersih,
2. menggunakan jamban yang bersih & sehat,
3. membuang sampah pada tempatnya,
4. tidak merokok,
5. tidak meludah sembarangan,
6. memberantas jentik nyamuk.

3.2 Sasaran PHBS Menurut Tatanan


Sasaran
Keluarga
Inst.
Kesehatan
Individu
Pasien
Primer
Pengantar/
Keluarga
Keluarga
Pasien
Petugas
Sekunder KK
Ortu/
Kes

Kader Kes
Mertua
Kader
Tersier

KK
Ket RT
Ket RW
Kades

Pimp.
Institusi di
Institusi
Kesehatan

Tempat
Kerja
Karyawan

Manager
Serikat
Buruh
Organisasi
Profesi
Direktur
Pemilik

Sekolah
Siswa

Tempat Umum

Guru

BK

Karyawan
Osis

Kepsek
Pemilik

Pengunjung
Masyarakat
Umum

Pegawai
Karyawan
Manager

Direksi
Pemilik

3.3 Media
Contoh Media Pamflet :
3.4 Aturan atau Kebijakan Mengenai PHBS

Pembinaan PHBS di Rumah Tangga telah menjadi bagian dari Kesatuan Gerak PKK-KBKesehatan sejak tahun 2005. Landasan hukum pembinaan PHBS adalah :
a. Undang-Undang no 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pemberdayaan Keluarga Sejahtera.
b. Undang-undang Nomor 23 Tahun 199 tentang Kesehatan.
c. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
d. Peraturan Pemerintah nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan
Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom

e. Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2001 tentang Pedoman Umum Pengaturan


Mengenai Desa dan Kelurahan.
f. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Kewenangan Wajib Standar
Pelayanan Minimal di Bidang Kesehatan.
g. Keputusan Menteri dalam Negeri dan Otonomi Daerah No. 53 tahun 2000 tentang
Gerakan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga.
h. Keputusan menteri Kesehatan RI Nomor 1193/Menkes/SK/X/2004 tentang Kebijakan
nasional Promosi Kesehatan.
i. Keputusan Menteri Kesehatan RI No 114/Menkes/SK/VIII/2005 tentang Pedoman
Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah.

BAB III
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Adapun yang menjadi kesimpulan dari tulisan diatas, sebagai berikut :
1. Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan prilaku yang dipraktekkan oleh setiap individu
dengan kesadaran sendiri untuk meningkatkan kesehatannya dan berperan aktif dalam mewujudkan
lingkungan yang sehat.
2. Tujuan PHBS adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan
masyarakat agar hidup bersih dan sehat serta masyarakat termasuk swasta dan dunia usaha
berperan serta aktif mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
3. Tatanan PHBS ada lima yaitu :
a. Tatanan sekolah
b.
c.

Tatanan Rumah tangga


Tempat umum

d.
e.

Tempat kerja
Fasilitas kesehatan

1.
2.
3.
4.

4.2 Saran
Diharapkan pembaca dapat berperilaku hidup bersih dan sehat dimanapun.
Lebih perduli akan lingkungan yang bersih dan sehat.
Dapat mengajarkan pola hidup bersih dan sehat sejak dini.
Kebersihan adalah bagian dari iman.

DAFTAR PUSTAKA
www.promosikesehatan.com (Online)
drmiftah.blogspot.com/2010/01/phbs (Online)
http://www.puskel.com/10-indikator-phbs-tatanan-rumah-tangga/ (Online)
http://www.analisadaily.com/news/read/2011/11/21/22519/budayakan_prilaku_hidup_bersih_dan
_sehat/#.T5jdO8hlftQ (Online)

(Online)

MAKALAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DI


PERUSAHAAN
Selasa, 20 Mei 2014
K3

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bekerja dengan tubuh dan lingkungan yang sehat, aman serta nyaman
merupakan hal yang di inginkan oleh semua pekerja. Lingkungan fisik tempat kerja
dan

lingkungan

organisasi

merupakan

hal

yang

sangat

penting

dalam

mempengaruhi sosial,mental dan phisik dalam kehidupan pekerja. Kesehatan suatu


lingkungan tempat kerja dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap
kesehatan pekerja, seperti peningkatan moral pekerja, penurunan absensi dan
peningkatan produktifitas. Sebaliknya tempat kerja yang kurang sehat atau tidak
sehat

(sering

terpapar

zat

yang

bahaya

mempengaruhi

kesehatan)

dapat

meningkatkan angka kesakitan dan kecelakaan, rendahnya kualitas kesehatan


pekerja, meningkatnya biaya kesehatan dan banyak lagi dampak negatif lainnya.
Pada umumnya kesehatan tenaga pekerja sangat mempengaruhi perkembangan
ekonomi dan pembangunan nasional. Hal ini dapat dilihat pada negara-negara yang
sudah maju. Secara umum bahwa kesehatan dan lingkungan dapat mempengaruhi
pembangunan ekonomi. Dimana industrilisasi banyak memberikan dampak positif
terhadap kesehatan, seperti meningkatnya penghasilan pekerja, kondisi tempat

tinggal yang lebih baik dan meningkatkan pelayanan, tetapi kegiatan industrilisasi
juga memberikan dampak yang tidak baik juga terhadap kesehatan di tempat kerja
dan masyarakat pada umumnya.(
Dengan makin meningkatnya perkembangan industri dan perubahan secara global
dibidang pembangunan secara umum di dunia, Indonesia juga melakukan
perubahan-perubahan dalam pembangunan baik dalam bidang tehnologi maupun
industri.

Dengan

adanya

perubahan

tersebut

maka

konsekuensinya

terjadi

perubahan pola penyakit / kasus-kasus penyakit karena hubungan dengan


pekerjaan. Seperti faktor mekanik (proses kerja, peralatan) , faktor fisik (panas ,
Bising, radiasi) dan faktor kimia. Masalah gizi pekerja juga merupakan hal yang
sangat penting yang perlu diperhatikan, stress, penyakit Jantung, tekanan darah
tinggi dan lain-lainnya. Perubahan ini banyak tidak disadari oleh pengelola tempat
kerja atau diremehkan. Atau walaupun mengetahui pendekatan pemecahan
masalahnya hanya dari segi kuratif dan rehabilitatif saja tanpa memperhatikan akan
pentingnya promosi dan pencegahan.Promosi kesehatan ini dikembangkan dengan
adanya Deklarasi Jakarta hasil dari konferensi Internasional Promosi Kesehatan di
Jakarta bulan juli 1997. Dengan komitmen yang tinggi Indonesia ikut berperan
dalam melakukan kegiatan tersebut terutama melalui program perilaku hidup bersih
yang dilakukan di beberapa tatanan diantaranya adalah tatanan tempat kerja.
masih sangat sedikit sekali pekerja dari perusahaan mendapatkan pelayanan
kesehatan keselamatan kerja yang memuaskan, karena banyak para pimpinan
perusahaan

kurang

menghubungkan

antara

tempat

kerja,

kesehatan

dan

pembangunan. Padahal kita ketahui bahwa pekerja yang sehat akan menjadikan
pekerja yang produktif, yang mana sangat penting untuk keberhasilan bisnis
perusahaan dan pembangunan nasional. Untuk itu promosi kesehatan di tempat
kerja merupakan bagian yang sangat penting di tempat kerja (Higene Perusahaan
Dan Kesehatan Kerja, 1991)
B.

Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan K3 di perusuhaan?
2. Apa fungsi dan tujuan dari K3 ?
3. Apa APD (alat pelindung diri) yang digunakan di perusahaan?
4. Apa fungsi kesmas terhadap K3?
C.
Maksud dan tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian kesehatan dan keselamatan kerja

2. Untuk mengetahui fungsi dan tujuan kesehatan dan keselamatan kerja.


3. Untuk mengetahui peran atau tugas kesehatan masyarakat terhadap K3
4. Untuk mengetahui kesehatan dan keselamatan kerja di perusahaan
D.

Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini khususnya untuk mahasiswa
adalah untuk menambah pengetahuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja
diperusahaan, dan diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca makalah ini serta
untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar-dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3)


Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah suatu sistem program yang dibuat
bagi pekerja maupun pengusaha sebagai upaya pencegahan (preventif) timbulnya
kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja
dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dan
penyakit akibat hubungan kerja, dan tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian.
Kesehatan dan keselatan kerja (K3) adalah hal yang sangat penting bagi setiap
orang yang bekerja dalam lingkungan perusahaan, terlebih yang bergerak di bidang
produksi khususnya, dapat pentingnya memahami arti kesehatan dan keselamatan
kerja dalam bekerja kesehariannya untuk kepentingannya sendiri atau memang
diminta untuk menjaga hal-hal tersebut untuk meningkatkan kinerja dan mencegah
potensi kerugian bagi perusahaan.
Namun

yang

menjadi

pertanyaan

adalah

seberapa

penting

perusahaan

berkewajiban menjalankan prinsip kesehatan dan keselamatan kerja di lingkungan


perusahaannya. Patut diketahui pula bahwa ide tentang kesehatan dan keselamatan
kerja

sudah ada sejak 20 (dua puluh) tahun lalu, namun sampai kini masih ada

pekerja dan perusahaan yang belum memahami korelasi kesehatan dan kselamatan

kerjaa

dengan

peningkatan

kinerja

perusahaan,

bahkan

tidak

mengetahui

aturannya tersebut. Sehingga seringkali mereka melihat peralatan kesehatan dan


keselamatan kerja adalah sesuatu yang mahal dan seakan-akan mengganggu
proses berkerjanya seorang pekerja. Untuk menjawab itu kita harus memahami
filosofi pengaturan kesehatan dan keselamatan kerja yang telah ditetapkan
pemerintah dalam undang-undang ( Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu
Prilaku Kesehatan 2004).
B.

Undang-Undang Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3)


UU Keselamatan Kerja yang digunakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan
kerja, menjamin suatu proses produksi berjalan teratur dan sesuai rencana, dan
mengatur agar proses produksi berjalan teratur dan sesuai rencana, dan mengatur
agar proses produksi tidak merugikan semua pihak. Setiap tenaga kerja berhak
mendapatkan perlindungan keselamatan dalam melakukan pekerjaannya untuk
kesejahteraan dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional.
UU Keselamatan Kerja yang berlaku di Indonesia sekarang adalah UU
Keselamatan Kerja (UUKK) No. 1 tahun 1970. Undang-undang ini merupakan
undang-undang pokok yang memuat aturan-aturan dasar atau ketentuan-ketentuan
umum tentang keselamatan kerja di segala macam tempat kerja yang berada di
wilayah kekuasaan hukum NKRI.
Dasar hukum UU No. 1 tahun 1970 adalah UUD 1945 pasal 27 (2) dan UU No.
14 tahun 1969. Pasal 27 (2) menyatakan bahwa: Tiap-tiap warganegara berhak
atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Ini berarti setiap
warga negara berhak hidup layak dengan pekerjaan yang upahnya cukup dan tidak
menimbulkan kecelakaan/ penyakit. UU No. 14 tahun 1969 menyebutkan bahwa
tenaga kerja merupakan modal utama serta pelaksana dari pembangunan. Ruang
lingkup pemberlakuan UUKK dibatasi oleh adanya 3 unsur yang harus dipenuhi
secara kumulatif terhadap tempat kerja.
Tiga unsur yang harus dipenuhi adalah:
1. Tempat kerja di mana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha.
2. Adanya tenaga kerja, dan
3. Ada bahaya di tempat kerja (Sumamur, 1981).
UUKK bersifat preventif, artinya dengan berlakunya undang-undang ini,
diharapkan kecelakaan kerja dapat dicegah. Inilah perbedaan prinsipil yang

membedakan dengan undang-undang yang berlaku sebelumnya. UUKK bertujuan


untuk mencegah, mengurangi dan menjamin tenaga kerja dan orang lain ditempat
kerja untuk mendapatkan perlindungan, sumber produksi dapat dipakai dan
digunakan

secara

aefisien,

dan

proses

produksi

berjalan

lancar

(Hukum

Keselamatan dan Kesehatan Kerja,2007).


C. Tujuan dan fungsi Kesehatan, Keselamatan Dan Keamanan Kerja
Kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja bertujuan untuk menjamin
kesempurnaan atau kesehatan jasmani dan rohani tenaga kerja serta hasil karya
dan budayanya. Secara singkat, ruang lingkup kesehatan, keselamatan, dan
keamanan kerja adalah sebagaai berikut :
1. Memelihara lingkungan kerja yang sehat.
2. Mencegah, dan mengobati kecelakaan yang disebabkan akibat pekerjaan sewaktu
3.
4.
5.
6.

bekerja.
Mencegah dan mengobati keracunan yang ditimbulkan dari kerja
Memelihara moral, mencegah, dan mengobati keracunan yang timbul dari kerja.
Menyesuaikan kemampuan dengan pekerjaan, dan
Merehabilitasi
pekerja
yang
cedera
atau
sakit
akibat
pekerjaan.
Keselamatan kerja mencakup pencegahan kecelakaan kerja dan perlindungan
terhadap terhadap tenaga kerja dari kemungkinan terjadinya kecelakaan sebagai
akibat dari kondisi kerja yang tidak aman dan atau tidak sehat.
Syarat-syarat kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja ditetapkan sejak
tahap

perencanaan,

pembuatan,

pengangkutan,

peredaran,

perdagangan,

pemasangan, pemakaian, penggunaan, pemeliharaan, dan penyimpanan bahan,


barang, produk teknis, dan aparat produksi yang mengandung dan dapat
menimbulkan bahaya kecelakaan.
Adapun yang menjadi tujuan keselamatan kerja adalah sebagai berikut:
1)

Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan


untuk

kesejahteraan

hidup

dan

meningkatkan

produksi

serta

produktivitas

nasional.
2) Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada ditempat kerja.
3) Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.

Dalam hubungan kondisi-kondisi dan situasi di Indonesia, keselamatan kerja


dinilai seperti berikut:
1. Keselamatan kerja adalah sarana utama untuk pencegahan kecelakaan, cacat dan
kematian sebagai akibat kecelakaan kerja. Keselamatan kerja yang baik adalah
pintu gerbang bagi keamanan tenaga kerja, kecelakaan selain menjadi sebab
hambatan-hambatan langsung juga merupakan kerugian-kerugian secara tidak
langsung, yakni kerusakan mesin dan peralatan kerja, terhentinya proses produksi
untuk beberapa saat, kerusakan pada lingkungan kerja dan lain-lain. Biaya-biaya
sebagai akibat kecelakaan kerja, baik langsung ataupun tidak langsung, cukup
bahkan kadang-kadang terlampau besar sehingga bila diperhitungkan secara
nasional hal itu merupakan kehilangan yang berjumlah besar.
2.

Analisa kecelakaan secara nasional berdasarkan angka-angka yang masuk atas


dasar wajib lapor kecelakaan dan data kompensasinya, dewasa ini seolah-olah
relatif rendah dibandingkan dengan banyaknya jam kerja tenaga kerja.

3.

Potensi-potensi bahaya yang mengancam keselamatan pada berbagai sektor


kegiatan ekonomi jelas dapat diobservasi, misalnya: (a) Sektor pertanian yang juga
meliputi

perkebunan

menampilkan

aspek-aspek

bahaya

potensial

seperti

modernisasi pertanian dengan penggunaan racun-racun hama dan pemakaian alat


baru seperti mekanisasi. (b) Sektor industri disertai bahaya-bahaya potensial seperti
keracunan- keracunan bahan kimia, kecelakaan-kecelakaan oleh mesin, kebakaran,
ledakan-ledakan dan lain-lain. (c) Sektor pertambangan mempunyai risiko-risiko
khusus sebagai akibat kecelakaan tambang, sehingga keselamatan pertambangan
perlu dikembangkan secara sendiri, minyak dan gas bumi termasuk daerah rawan
kecelakaan. (d) Sektor perhubungan ditandai dengan kecelakaan-kecelakaan lalu
lintas darat, laut dan udara serta bahaya-bahaya potensial pada industri pariwisata,
demikian pula telekomunikasi mempunyai kekhususan dalam risiko bahaya. (e)
Sektor jasa, walaupun biasanya tidak rawan kecelakaan juga menghadapkan
problematik bahaya kecelakaan khusus.
4.

Menurut observasi, angka frekuensi untuk kecelakaan-kecelakaan ringan yang


tidak menyebabkan hilangnya hari kerja tetapi hanya jam kerja masih terlalu tinggi.
Padahal dengan hilangnya satu atau dua jam sehari mengakibatkan kehilangan jam
kerja yang besar secara keseluruhan.

5.

Analisa kecelakaan memperlihatkan bahwa untuk setiap kecelakaan ada faktor


penyebabnya, sebab-sebab tersebut bersumber kepada alat-alat mekanik dan
lingkungan serta kepada manusianya sendiri. Untuk mencegah kecelakaan,
penyebab-penyebab ini harus dihilangkan.

6.

85% dari sebab-sebab kecelakaan adalah faktor manusia, maka dari itu usahausaha

keelamatan

selain

ditujukan

kepada

teknik

mekanik

juga

harus

memperhatikan secara khusus aspek manusiawi. Dalam hubungan ini, pendidikan


dan penggairahan keselamatan kerja kepada tenaga kerja merupakan sarana yang
sangat penting.
7.

Sekalipun upaya-upaya pencegahan telah maksimal, kecelakaan masih mungkin


terjadi dan dalam hal ini adalah besar peranan kompensasi kecelakaan sebagai
suatu segi jaminan sosial untuk meringankan bebab penderita (www.google.com)

D.

Tugas Kesehatan Masyarakat Dalam Kesehatan Dan Keselamatan Kerja


(K3)
1. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, pemeriksaan berkala dan pemeriksaan
kesehatan khusus.
2. Pembinaan dan pengawasan atas penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga kerja.
3. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja
4. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan sanitair.
5. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan untuk kesehatan tenaga kerja
6. Pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit umum dan penyakit akibat
Kerja.
7. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
8. Pendidikan kesehatan untuk tenaga kerja dan latihan untuk petugas
9. Memberikan nasihat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja,
pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan
makanan di tempat kerja
10. Membantu usaha rehabilitasi akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja
Pembinaan dan pengawasan terhadap tenaga kerja yang mempunyai
kelainan
tertentu dalam Kesehatannya
11. Memberikan laporan berkala tentang pelayanan kesehatan kerja kepada
Pengurus (www.Tugas Kesehatan Masyarakat Dalam Kesehatan
Keselamatan Kerja.com).

BAB III

Dan

PEMBAHASAN

A. Definisi Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3)


Keselamatan dan kesehatan kerja

adalah suatu pemikiran dan upaya untuk

menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga


kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk
menuju masyarakat adil dan makmur (Mangkunegara, 2002)
keselamatan kerja merupakan

untuk menciptakan suasana kerja yang aman

dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan
(Sumamur, 2001)
Kesehatana dan keselamatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses
produksi baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia
merdeka

menimbulkan

konsekwensi

meningkatkan

intensitas

kerja

yang

mengakibatkan pula meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan kerja (Higene


Perusahaan Dan Kesehatan Kerja,1991)

B. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Di Perusahaan


1. Definisi perusahaan
Perusahaan adalah sutu organisasi dimana sumber daya (input) dasar seperti
bahan dan tenaga kerja dikelola serta diproses untuk menghasilkan barang atau
jasa (output) kepada pelanggan. Hampir di semua perusahaan mempunyai tujuan
yang sama, yaitu memaksimalkan laba. Jenis perusahaan dibedakan menjadi tiga,
yaotu: perusahaan manufaktur, perusahaan dagang, dan perusahaan jasa
2.

perusahaan PT.freepout
PT Freeport Indonesia adalah perusahaan tambang paling tua beroperasi di
Indonesia. Bahkan perusahaan tambang Amerika Serikat inilah yang mengarahkan
kebijakan pertambangan Indonesia. Terbukti Kontrak Karya (KK) PT FI ditetapkan
sebelum UU No 11 tahun 1967 tentang pertambangan Umum. Dan catatan buruk
akibat dampak pertambangannya di Papua sangatlah luar biasa.

Dimulai dengan digusurnya ruang penghidupan suku-suku di pegunungan


tengah Papua. Tanah-tanah adat tujuh suku, diantaranya suku Amungme dan Nduga
dirampas awal masuknya PT FI dan dihancurkan saat operasi tambang berlangsung.
Limbah tailing PT FI telah meniumbun sekitar 110 km2 wilayah estuari tercemar,
sedangkan 20 40 km bentang sungai Ajkwa beracun dan 133 km2 lahan subur
terkubur

(http://inspirasi

bangsa.com/pt-freeport-indonesia-lanjutkan-operasi-

tambang-bawah-tanah/)
STRUKTUR ORGANSASI PERUSAHAAN

a.
b.

Kesehatan dan keselamatan kerja direktur berperan dalam mengandalikan system


manajemen dalam suatu organisasi perusahaan.
Kesehatan dan keselamatan kerja manajer kontruksi
Konstruksi mempunyai tugas memberikan pertimbangan teknis kepada direktur
perusahaan , terhadap perencanaan struktur pengorganisasian dibawah tanah oleh
konsultan perencana/ arsitek dalam rangka permohonan IM.
Bekerja sama dengan tim di area proyek mempersiapkan Alat Pelindung Diri,dll.

a)Membuat ijin kerja khusus untuk memulai bekerja


b) Memberikan safety briefing sebelum memulai pekerjaan.
c) Melakukan SHE Induksi bagi karyawan baru
d) Melakukan pemeriksaan rutin kendaraan dan peralatan yang digunakan dalam
e)
f)
g)
h)
i)
j)

proyek.
Melakukan pemeriksaan rutin peralatan keadaan tanggap darurat
Melakukan inspeksi / safety patrol si area kerja dan
ginformasikan ke karyawan jika ada temuan.
Memeriksa area sebelum dan sesudah waktu kerja
Melakukan investigasi kecelakaan.
Mengkoordinasikan evakuasi pekerja / karyawan dalam hal terjadi keadaan

darurat.
k)
Memberikan SWA (Stop Otoritas Kerja) di lapangan untuk pekerjaan yang
berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja atau kerusakan peralatan.
l)
Memberikan saran dan masukkan untuk program pembangunan SHE
m) Memberikan peringatan kepada pekerja yang tidak memakai atau penyalahgunaan
alat.

n)

Membuat laporan tiap bulan kinerja SHE di Site (KPI) dan didistribusikan ke kantor
pusat dan Pertamina (Sumber:Kesehatan dan keselamatan kerja dengan Komitmen

c.

Pekerja, USU Respositori)


Kesehatan dan keselamatan kerja bagian tim arsitek
arsitek berperan sebagai pendamping, atau wakil dari pemberi tugas (pemilik
bangunan). Arsitek harus mengawasi agar pelaksanaan di lapangan/proyek sesuai
dengan bestek dan perjanjian yang telah dibuat. Dalam proyek yang besar, arsitek
berperan sebagai direksi, dan memiliki hak untuk mengontrol pekerjaan yang
dilakukan kontraktor. Bilamana terjadi penyimpangan di lapangan, arsitek berhak
menghentikan, memerintahkan perbaikan atau membongkar bagian yang tidak
memenuhi persyaratan yang disepakati.

d. Kesehatan dan keselamatan kerja tim kontruksi


1. Tugas Kontruksi
a) Sebelum bekerja di area perusahaan, kontraktor harus mengisi form ijin kerja
b)

kontraktor. ( disetujui oleh Manager seksi di perusahaan)


Pimpinan kontraktor harus memastikan bahwa peralatan K3L yang dipersyaratkan
dalam bekerja telah dipenuhi dan digunakan oleh karyawannya.( Alat pelindung diri,

c)
d)

Alat pemadam kebakaran, dll )


Kontraktor harus mematuhi peraturan yang berlaku di PT FREEPOUT INDONESIA .
Apabila kontraktor melakukan pekerjaan yang termasuk dalam pekerjaan khusus
maka kontraktor harus mengikuti ketentuan yang ada dalam prosedur ijin kerja

e)

khusus.
Apabila di dalam pekerjaan tersebut mengandung potensi bahaya untuk terjadinya
pencemaran lingkungan maka kontraktor harus mengikuti ketentuan yang ada

dalam prosedur ijin kerja khusus.


f) Setelah selesai bekerja kontraktor harus membersihkan tempat kerja.

2. Fungsi Apd Tim Kontruks ( Alat Pelindung Diri )


a) Helmet Melindungi kepala dari benda keras, saat terjatuh, kejatuhan
benda.
b) Topi Sebagai identitas untuk membedakan antara karyawan, kontraktor,
dan lain-lain.
c) Sabuk Pengaman Mencegah jatuh dari atas pada saat bekerja di tempat
yang tinggi.
d) Kaca mata safety Melindungi mata dari benda kecil / serbuk yang

mengenai mata.
e) Kaca mata Melindungi mata dari percikan benda berbahya
f) Masker kain Melindungi alat pernapasan dari masuknya debu.
g) Masker Gas Melindungi alat pernapasan dari masuknya zat berbahaya (
gas, bahan kimia dan bau yang enyengat )
h) Sarung tangan katun Untuk menangani benda yang panas dan tajam
i) Sepatu safety Melindungi kaki dari kejatuhan benda berat, menginjak
benda tajam (Slamet Saksono, 1988)

e.

Kesehatan dan keselamatan kerja karyawan pekerja tambang


Alat pelindung diri adalah seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja

untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya


potensi bahaya/kecelakaan kerja. Alat pelindung diri dipakai sebagai upaya terakhir
dalam usaha melindungi tenaga kerja apabila usaha rekayasa (engineering) dan
administratif tidak dapat dilakukan dengan baik. Namun pemakaian alat pelindung
diri bukanlah pengganti dari kedua usaha tersebut, namun sebagai usaha akhir.

Kegunaannya melindungi kepala terhadap bahaya listrik, mekanik, kimia,


panas dll. Terbuat dari bahan polyethylene, plastik, katun, aluminium dan bahan
sintetis lainnya. Contohnya :
1.

Pelindung wajah dan mata


Kegunaannya melindungi mata dari loncatan bunga api, loncatan
benda-benda kerja, percikan bahan kimia dan sinar yang bersifat keras
2. Topi Pengaman (helmet), melindungi kepala dari kemungkinan benturan
atau pukulan dan kejatuhan benda.

3. Pelindung telinga
Memiliki kegunaan melindungi pendengaran petugas dari suara keras yang
melampaui batas kekuatan pendengar dengan spesifikasi sesuai tempat kerja.
Pelindung telinga ini terbuat dari karet.
)
4. Pelindung Kaki

Kegunaannya melindungi kaki terhadap bahaya listrik, mekanik, kimia,


panas, dll. Dengan spesifikasi daya sekat 1 6 kV, 6 20 kV dan terbuat
dari bahan karet, kulit, kanvas, dan bahan sintesis lainnya.

5. Pelindung Tangan
Kegunaannya melindungi tangan terhadap bahaya listrik, mekanik, kimia,
panas dll , dengan spesifikasi daya sekat l.000 Volt, I-6 kV, 6 k V. Terbuat
dari bahan katun, nilon, kanvas, kufit, karet, lapisan asbes dan bahan
sintetis lainnya dan memiliki ukuran pendek dan panjang.

6.

Pakaian Pelindung
Kegunaannya melindungi badan terhadap bahaya listrik, mekanik, kimia,
panas dll. Dengan spesifikasi besar (LL), besar (L), sedang (M) dan kecil (S). terbuat
dari bahan katun, karet, neoprene, polveethane, campuran/lapisan sabes, timah
hitam dan bahan sintesis lainya.

C. Peran K3 Terhadap Upaya Kesehatan Masyarakat


Peran tenaga kesehatan dalam menangani korban kecelakaan kerja adalah
menjadi melalui pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan
kesehatan pekerja yang meliputi pemeriksaan awal, pemeriksaan berkala dan
pemeriksaan khusus. Untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan sakit pada tempat
kerja dapat dilakukan dengan penyuluhan tentang kesehatan dan keselamatan
kerja. Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya.
Dalam bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang
sangat penting untuk diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau
kecelakaan dalam bekerja akan berdampak pada diri, keluarga dan lingkungannya.
Salah satu komponen yang dapat meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah
tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan mempunyai kemampuan untuk menangani
korban dalam kecelakaan kerja dan dapat memberikan penyuluhan kepada
masyarakat untuk menyadari pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan
upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani
tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan
budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera. Sedangkan pengertian

secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha
mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada umumnya belum
memuaskan. Dari beberapa hasil penelitian didapat gambaran bahwa 30-40%
masyarakat pekerja kurang kalori protein, 30% menderita anemia gizi dan 35%
kekurangan

zat

besi

tanpa

anemia.

Kondisi

kesehatan

seperti

ini

tidak

memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan produktivitas yang optimal
(Hubungan

Sikap

Pekerja

Terhadap

Penerapan

Program

Kesehatan

Dan

Keselamatan Kerja Dengan Komitmen Pekerja, 2007)


Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat saling berkaitan. Pekerja yang
menderita gangguan kesehatan atau penyakit akibat kerja cenderung lebih mudah
mengalami kecelakaan kerja. Menengok ke negara-negara maju, penanganan
kesehatan pekerja sudah sangat serius. Mereka sangat menyadari bahwa kerugian
ekonomi (lost benefit) suatu perusahaan atau negara akibat suatu kecelakaan kerja
maupun penyakit akibat kerja sangat besar dan dapat ditekan dengan upaya-upaya
di bidang kesehatan dan keselamatan kerja (Hubungan Sikap Pekerja Terhadap
Penerapan Program Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Dengan Komitmen Pekerja,
2007)
Di negara maju banyak pakar tentang kesehatan dan keselamatan kerja dan
banyak buku serta hasil penelitian yang berkaitan dengan kesehatan tenaga kerja
yang telah diterbitkan. Di era globalisasi ini kita harus mengikuti trend yang ada di
negara maju. Dalam hal penanganan kesehatan pekerja, kitapun harus mengikuti
standar internasional agar industri kita tetap dapat ikut bersaing di pasar global.
Dengan berbagai alasan tersebut rumah sakit pekerja merupakan hal yang sangat
strategis. Ditinjau dari segi apapun niscaya akan menguntungkan baik bagi
perkembangan ilmu, bagi tenaga kerja, dan bagi kepentingan (ekonomi) nasional
serta untuk menghadapi persaingan global. Diharapkan di setiap kawasan industri
akan berdiri rumah sakit pekerja sehingga hampir semua pekerja mempunyai akses
untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif. Setelah itu perlu
adanya rumah sakit pekerja sebagai pusat rujukan nasional. Sudah barang tentu hal
ini juga harus didukung dengan meluluskan spesialis kedokteran okupasi yang lebih
banyak lagi (Hubungan Sikap Pekerja Terhadap Penerapan Program Kesehatan Dan
Keselamatan Kerja Dengan Komitmen Pekerja, 2007).

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebagai suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha,
kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 diharapkan dapat menjadi upaya
preventif terhadap timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja
dalam lingkungan kerja. Pelaksanaan K3 diawali dengan cara mengenali hal-hal
yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan
kerja, dan tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian. Tujuan dari dibuatnya sistem
ini adalah untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan kerja dan
penyakit akibat hubungan kerja.
Setelah kita memahami apa yang dimaksud dengan kesehatan dan keselamatan
kerja, maka kita dapat menyimpulkan bahwa, Peranan K3 terhadap upaya
kesehatan masyarakat adalah:
1.

Agar dalam menangani korban kecelakaan kerja lebih cepat.

2.

Untuk mencegah kecelakaan dan sakit pada pekerja di tempat mereka


bekerja.

3.

Menunjukan cara yang lebih baik untuk selamat menghilangkan kondisi


kelalaian.

4.

Memperbaiki kesadaran terhadap setiap masyarakat dalam kesehan


keselamatan kerja

5.

B.

Mengurangi kerugian bagi pekerja dan pengusaha

Saran
Dengan adanya system kesehatan dan keselamataan kerja para karyawan atau
pekerja dapat lebih memperhatikan kesehatan dan keselamatannya dalam bekerja

sehingga resiko terkena kecelakaan kerja dapat diantisipasi dengan penggunaan


alat pelindung diri (APD) yang khusus.

DAFTAR PUSTAKA
Ferdinan Siahaan .,2005. Hubungan Sikap Pekerja Terhadap Penerapan
Program
Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Dengan Komitmen Pekerja, Usu
Respositori.
Notoatmodjo S, 2004. Pengantar Pendidikan Kesehatan Dan Ilmu prilaku
Kesehatan.Jakarta:Rineka Cipta
Notoatmodjo Prof.Dr. Soekidjo.2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu Dan
Seni.Jakarta:Rineka Cipta.
Silalahi, Bennett N.B. Dan Silalahi,Rumondang.1991. Manajemen Keselatan Dan
Kesehatan Kerja (S.L): pustaka binaman pressindo.
Suma'mur .1991. Higene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja: Jakarta Muhammad
Hajir-Nurrohim/52/872/409.