Anda di halaman 1dari 55

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

Sesak Nafas Setelah Dipukul


1. Anatomi dan fisiologi thoraks beserta otak dan abdomen?
Otak

Thorax

Abdomen

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

2. Biomekanika trauma?
Biomekanik trauma adalah proses / mekanisme kejadian kecelakaan
pada saat sebelum, saat dan sesudah kejadian.
Informasi yang rinci mengenai biomekanik dari suatu kecelakaan
dapat membantu identifikasi sampai dengan 90 % dari trauma yang
diderita penderita. Informasi yang rinci dari biomekanik trauma ini
dimulai dengan keterangan dari keadaan / kejadian pada fase
sebelum terjadinya kecelakaan seperti minum alkohol, pemakaian

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

obat, kejang, sakit dada, kehilangan kesadaran sebelum tabrakan


dan sebagainya. Anamnesis yang berhubungan dengan fase ini
meliputi :
a. Tipe kejadian trauma, misalnya: tabrakan kendaraan bermotor,
jatuh atau trauma / luka tembus.
b. Perkiraan intensitas energi yang terjadi misalnya: kecepatan
kendaraan, ketinggian dari tempat jatuh, kaliber atau ukuran
senjata.
c. Jenis tabrakan atau benturan yang terjadi pada penderita: mobil,
pohon, pisau dan lain-lain.
Mekanisme trauma dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
tumpul, tembus, termal dan ledakanm (Blast Injury). Pada semua
kasus

diatas

terjadi

pemindahan

energi

(Transfer

energy)

kejaringan, atau dalam kasus trauma thermal terjadi perpindahan


energi (panas /dingin) kejaringan.
Pemindahan energi (transfer energy) digambarkan sebagai suatu
gelombang kejut yang bergerak dengan kecepatan yang bervariasi
melalui media yang berbeda-beda. Teori ini berlaku untuk semua
jenis gelombang seperti gelombang suara, gelombang tekanan
arterial, seperti contoh shock wave yang dihasilkan pada hati atau
korteks tulang pada saat terjadi benturan dengan suatu objek yang
menghasilkan pemindahan energi. Apabila energi yang dihasilkan
melebihi batas toleransi jaringan, maka akan terjadi disrupsi
jaringan dan terjadi suatu trauma.
Trauma Tembus (Penetrating Injury):
A. Senjata dengan energi rendah (Low Energy)
Contoh senjata dengan energi rendah adalah pisau dan alat
pemecah es. Alat ini
menyebabkan kerusakan hanya karena ujung tajamnya. Karena
energi

rendah,

biasanya

hanya

sedikit

menyebabkan

cidera

sekunder. Cedera pada penderita dapat diperkirakan dengan


mengikuti alur senjata pada tubuh. Pada luka tusuk, wanita
mempunyai kebiasaan menusuk kebawah, sedangkan pria menusuk
keatas karena kebiasaan mengepal.

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

Saat menilai penderita dengan luka tusuk, jangan diabaikan


kemungkinan luka tusuk multipel. Inspeksi dapat dilakukan dilokasi,
dalam perjalanan ke rumah sakit atai saat tiba di rumah sakit,
tergantung pada keadaan disekitar lokasi dan kondisi pasien.
B. Senjata dengan energi menengah dan tinggi (medium and
high energy)
Senjata

dengan

energi

menengah

contohnya

adalah

pistol,

sedangkan senjata dengan energi tinggi seperti senjata militer dan


senjata untuk berburu. Semakin banyak jumlah mesiu, maka akan
semakin

meningkat

kecepatan

peluru

dan

energi

kinetiknya.

Kerusakan jaringan tidak hanya daerah yang dilalui peluru tetapi


juga pada daerah disekitar alurnya akibat tekanan dan regangan
jaringan yang dilalui peluru. Peluru akibat senjata energi tinggi dan
menengah juga menyebabkan kavitasi / rongga yang lebih besar
dari lubang masuknya. Untuk senjata dengan energi menengah
biasanya menyebabkan kavitasi 3-6 kali dari ukuran frontal peluru,
sedangkan untuk energi tinggi akan lebih besar lagi, demikian juga
kerusakan jaringan yang ditimbulkannya akan lebih besar lagi.
Hal-hal lain yang mempengaruhi keparahan cidera adalah
hambatan udara dan jarak. Tahanan udara akan memperlambat
kecepatan peluru. Semakin jauh jarak tembak, akan semakin
mengurangi

kecepatan

peluru,

sehingga

kerusakan

yang

ditimbulkannya akan berkurang. Sebagian kasus penembakan


dilakukan dari jarak dekat dengan pistol, sehingga memungkinkan
cedera serius cukup besar.
bppsdmk.depkes.go.id
3. Mengapa pada keadaan darurat kesadaran menurun?
Benda tajam seperti pisau atau peluru menembus paruparudapat

menyayat

arterimenyebabkan

darah

jaringan

paru-paru

berkumpul

di

atau
ruang

pleuramengakibatkan pecahnya membran serosa yang melapisi


atau menutupi thorax dan paru-parupecahnya membran ini
memungkinkan masuknya darah ke dalam rongga pleurasetiap

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK


sisi

toraks

dapat

menahan

seseoranghipovolemia

30-40%

(kehilangan

dari

volume

darah)tidak

darah

adekuatnya

pengangkutan oksigen ke jaringan hipokasia jaringantermasuk


otak (gangguan perfusi serebral)penurunan kesadaran.
Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi. 1996. Jakarta:EGC.
Hipoksia, hiperkarbia, dan asidosis sering disebabkan oleh
trauma thorax. merupakan akibat dari oleh karena pulmonary
ventilation/perfusion mismatch (contoh kontusio, hematoma, kolaps
alveolus) dan perubahan dalam tekanan intratthorax (contoh :
tension pneumothorax, pneumothorax terbuka). Hiperkarbia lebih
sering disebabkan oleh tidak adekuatnya ventilasi akibat perubahan
tekanan intrathorax atau penurunan tingkat kesadaran. Asidosis
metabolik disebabkan oleh hipoperfusi dari jaringan (syok).
Syamsu Hidayat,R Dan Wim De Jong, Buku Ajar Bedah,
Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta,tahun 1995.
4. Mengapa pada penderita didapat dada asimetris, suara
hemithoraks kanan menghilang?
Benda tajam seperti pisau atau peluru menembus paru-parudapat
menyayat jaringan paru-paru atau arterimenyebabkan darah
berkumpul di ruang pleuramengakibatkan pecahnya membran
serosa

yang

melapisi

atau

menutupi

thorax

dan

paru-

parupecahnya membran ini memungkinkan masuknya darah ke


dalam rongga pleurasetiap sisi toraks dapat menahan 30-40% dari
volume darah seseorangpengembangan dada asimetris &
pada auskultasi: suara paru menghilang.
Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi. 1996. Jakarta:EGC.
5. Bagaimana hubungan hematom di temporal kanan dengan
kondisi pasien?
Trauma pada daerah temporalrobeknya salah satu cabang arteria
meningea media terjadi perdarahan di daerah temporalarteri
meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

spinosum dan jalan antara durameter dan tulang di permukaan dan


os temporaleterjadi perdarahan di antara tulang tengkorak dan
dura meterhematom epiduraldesakan oleh hematoma akan
melepaskan durameter lebih lanjut dari tulang kepala sehingga
hematom bertambah besarmenyebabkan tekanan pada lobus
temporalis otak kearah bawah dan dalambagian medial lobus
mengalami herniasi di bawah pinggiran tentorium timbulnya
tanda-tanda neurologik:
Tekanan dari herniasi unkus pda sirkulasi arteria yang mengurus
formation

retikularis

kesadaran.
Di
tempat

ini

di

medulla

terdapat

oblongatahilangnya

nuclei

saraf

cranial

ketiga

(okulomotorius)tekanan pada saraf ini mengakibatkan dilatasi

pupil dan ptosis kelopak mata.


Tekanan pada lintasan kortikospinalis yang berjalan naik pada
daerah

ini,

menyebabkan

kelemahan

respons

motorik

kontralateral, refleks hiperaktif atau sangat cepat, dan

tanda babinski positif.


Dengan makin membesarnya hematoma, maka seluruh isi otak
akan terdorong kearah yang berlawanan, menyebabkan tekanan
intracranial

yang

peningkatan

tekanan

besar.

Timbul

intracranial

tanda-tanda

antara

lain

lanjut

kekakuan

deserebrasi dan gangguan tanda-tanda vital dan fungsi


pernafasan.
Anderson S. McCarty L., Cedera Susunan Saraf Pusat,
Patofisiologi, edisi 4, Anugrah P. EGC, Jakarta,1995, 10141016.
Hafid A, Epidural Hematoma, Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi
kedua, Jong W.D. EGC, Jakarta, 2004, 818-819.
6. Mengapa pasien mengalami akral dingin dan pucat?
Akral dingin:
Perfusi jaringan turunO2 turun perfusi diutamakan pada organ
sentral daripada jaringan perifer akral dingin.

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi. 1996. Jakarta:EGC.


Pucat: sianosis.
7. Mengapa pasien tampak sesak dan sianosis?
Sesak nafas:
Trauma thorax pulmonary ventilation/perfusion mismatch
perubahan dalam tekanan intratthoraxtidak adekuatnya ventilasi
akibat perubahan tekanan intrathoraxsesak nafas.
Syamsu Hidayat,R Dan Wim De Jong, Buku Ajar Bedah,
Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta,tahun 1995.
Sianosis:
Sianosis adalah suatu keadaan di mana kulit dan membran
mukosa berwarna kebiruan akibat penumpukan deoksihemoglobin
pada pembuluh darah kecil pada area tersebut. Sianosis biasanya
paling terlihat pada bibir, kuku, dan telinga. Derajat sianosis
ditentukan dari warna dan ketebalan kulit yang terlibat. Sebenarnya,
penilaian akurat dari derajat sianosis ini sulit ditentukan, karena
tingkat penurunan saturasi oksigen yang dapat berakibat sianosis
berbeda pada tiap ras. Selain itu, pemeriksaan sianosis pada
membran mukosa, seperti mulut dan konjungtiva, lebih bermakna
daripada pemeriksaan pada kulit.
Penyebab dari penumpukan hemoglobin tereduksi bisa karena
peningkatan darah vena akibat dilatasi venula atau penurunan
saturasi oksigen di dalam darah.1 Sianosis biasanya muncul ketika
kadar hemoglobin tereduksi minimal 5 g/dL pada darah arteri.
Namun, tidak semua sianosis berhubungan dengan peningkatan
kadar hemoglobin tereduksi. Penyebab lain yang mungkin yaitu
adanya

pigmen

abnormal,

seperti

methemoglobin

atau

sulfhemoglobin, pada eritrosit.


Pada umumnya sianosis menjadi jelas bila konsentrasi rata-rata dari
Hb yang tereduksi pada pembuluh darah kapiler melebihi 4 gr/dl.
Untuk menimbulkan sianosis, yang lebih

berperan adalah jumlah

absolut Hb yang tereduksi daripada jumlah relatifnya. Dengan


demikian, pada penderita dengan anemia berat, jumlah relatif dari

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

Hb yang tereduksi pada darah vena dapat sangat banyak bila


dibandingkan dengan jumlah total Hb dalam darah. Namun karena
konsentrasi Hb turun, jumlah Hb yang tereduksi tetap kecil dan
karenanya, pasien denagn anemia berat dan bahkan dengan
desaturasi arteri yang jelas, tidak tampak sianosis.
Makin tinggi kandungan total Hb, makin besar tendensi
terjadinya sianosis. Dengan demikian, pasien dengan polisitemia
yang jelas cenderung untuk menjadi sianosis pada tingkat SaO2
yang lebih tinggi dibandingkan pasien dengan nilai hematokrit
normal.
Snell RS. Clinical Anatomy for Medical Student. 6th ed.
Sugiharto L, Hartanto H, Listiawati E, Susilawati, Suyono J,
Mahatmi

T,

dkk,

penerjemah.

Anatomi

Klinik

Untuk

Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6. Jakarta: EGC: 2006.740-59.


8. Kelainan apa saja yang mungkin didapat karena luka tusuk
pada hemithoraks ICS V?
Idem no. 12.
9. Mengapa dokter memberi oksigen dengan face mask dan
menutup luka dada dengan perban tapi kondisi pasien
semakin turun? sudah benarkah?
Indikasi Pemberian Oksigen:
Efektif diberikan pada klien yang mengalami:
a. Gagal nafas
Ketidakmampuan tubuh dalam mempertahankan tekanan parsial
normal O2 dan CO2 di dalam darah, disebabkan oleh gangguan
pertukaran O2 dan CO2

sehingga sistem pernapasan tidak

mampu memenuhi metabolisme tubuh.


b. Gangguan jantung (gagal jantung)
Ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah
yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap
nutrien dan oksigen.
c. Kelumpuhan alat pernafasan
Suatu keadaan dimana terjadi kelumpuhan pada alat pernapasan
untuk

memenuhi

kebutuhan

oksigen

karena

kehilangan

kemampuan ventilasi secara adekuat sehingga terjadi kegagalan


pertukaran gas O2 dan CO2.

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK


d. Perubahan pola napas.
Hipoksia (kekurangan
(kesulitan

bernapas,

oksigen
misal

dalam

pada

jaringan),

pasien

dyspnea

asma),sianosis

(perubahan warna menjadi kebiru-biruan pada permukaan kulit


karena kekurangan oksigen), apnea (tidak bernapas/ berhenti
bernapas), bradipnea (pernapasan lebih lambat dari normal
dengan frekuensi kurang dari 16x/menit), takipnea (pernapasan
lebih cepat dari normal dengan frekuensi lebih dari 24x/menit
(Tarwoto&Wartonah, 2010:35).
e. Keadaan gawat (misalnya : koma)
Pada keadaan gawat, misal pada pasien koma tidak dapat
mempertahankan sendiri jalan napas yang adekuat sehingga
mengalami penurunan oksigenasi.
f. Trauma paru
Paru-paru sebagai alat penapasan, jika terjadi benturan atau
cedera akan

mengalami gangguan untuk melakukan inspirasi

dan ekspirasi.
g. Metabolisme yang meningkat: luka bakar
Pada luka bakar, konsumsi oksigen oleh jaringan akan meningkat
dua kali lipat sebagai akibat dari keadaan hipermetabolisme.
h. Post operasi
Setelah operasi, tubuh akan kehilangan banyak darah dan
pengaruh dari obat bius akan mempengaruhi aliran darah ke
seluruh tubuh, sehingga sel tidak mendapat asupan oksigen yang
cukup.
i. Keracunan karbon monoksida
Keberadaan CO di dalam tubuh akan sangat berbahaya jika
dihirup karena akan menggantikan posisi O2 yang berikatan
dengan hemoglobin dalam darah.
Kontraindikasi:
Tidak ada konsentrasi pada pemberian terapi oksigen dengan syarat
pemberian jenis dan jumlah aliran yang

tepat. Namun demikan,

perhatikan pada khusus berikut ini


a. Pada klien dengan PPOM (Penyakit Paru Obstruktif Menahun)
yang mulai bernafas spontan maka pemasangan masker partial
rebreathing dan non rebreathing dapat menimbulkan tanda dan
gejala keracunan oksigen. Hal ini dikarenakan jenis masker

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

rebreathing dan non-rebreathing dapat mengalirkan oksigen


dengan konsentrasi yang tinggi yaitu sekitar 90-95%
b. Face mask tidak dianjurkan pada klien yang mengalami muntahmuntah
c. Jika klien terdapat obstruksi nasal maka hindari pemakaian nasal
kanul.
(Aryani, 2009:54).
Perkiraan

Kehilangan

Cairan

Presentasi Penderita Semula:

dan

Darah,

Berdasarkan

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

KELAS I
Kehilangan

Sampai

Darah (mL)

750

Kehilangan

Sampai

Darah (%

15%

Kelas II

Kelas III

Kelas IV

750-1500 1500-2000

>2000

15%-30% 30%-40%

>40%

volume
darah)
Denyut Nadi

<100

>100

>120

>140

Tekanan

Normal

Normal

Menurun

Menurun

Menurun

Menurun

Menurun

20-30

30-40

>35

20-30

5-15

Tidak

Darah
Tekanan nadi Normal
(mm Hg)
Frekuensi

atau Naik
14-20

Pernafasan
Produksi Urin >30

berarti

(Ml/jam)
CNS/ Status
Mental

Sedikit

Agak

cemas

cemas

Cemas,
bingung

Bingung,les
u
(lethargic)

Penggantian Kristaloid

Kristaloid Kristaloid

Cairan
(Hukum 3:1)

Advanced Trauma Life Support.

dan darah

Kristaloid
dan darah

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

10.
Apa indikasi bebat dan tujuanya?
BEBAT
Definisi:
Pembalutan/bebat adalah penutupan suatu bagian tubuh yang
cedera dengan bahan tertentu dan dengan tujuan tertentu.
Pembebatan
mengurangi

mempunyai
bengkak,

peran

kontaminasi

penting
oleh

dalam

membantu

mikroorganisme

dan

membantu mengurangi ketegangan jaringan luka.


Tujuan pembalutan meliputi satu atau lebih hal-hal berikut:
A. Menahan sesuatu seperti:
menahan penutup luka
menahan pita traksi kulit
menahan bidai
menahan bagian tubuh yang cedera dari gerakan dan geseran
(sebagai "splint")
menahan rambut kepala di tempat
B. Memberikan tekanan, seperti terhadap :
kecenderungan timbulnya perdarahan atau hematom
adanya ruang mati (dead space)
C. Melindungi bagian tubuh yang cedera.
D. Memberikan "support" terhadap bagian tubuh yang cedera.
Manfaat bebat:
a. Menopang suatu luka, misal tulang yang patah.
b. Mengimobilisasi luka, misal bahu yang keseleo.
c. Memberikan tekanan, misal pada ekstremitas inferior dapat
meningkatkan laju darah vena.
d. Menutup luka, misal pada operasi abdomen yang luas.
e. Menopang bidai (dibungkuskan pada bidai).
f. Memberi kehangatan, misal bandage flanel pada sendi rematik.
Torniket

tidak

berguna.

Disamping

itu

torniket

menyebabkan

sindroma reperfusi dan


menambah berat kerusakan primer. Alternatif yang disebut bebat
tekan itu sering
disalah mengerti. Perdarahan hebat karena luka tusuk dan luka
amputasi dapat
dihentikan dengan pemasangan kasa padat subfascial ditambah
tekanan manual pada arteri disebelah proksimal ditambah bebat
kompresif (tekan merata) diseluruh bagian anggota gerak tersebut.
Primary Trauma Care Foundation.

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK


11.

JOKO WIBOWO S
(012116424)

Bagaimana interpretasi vital

sign (RR=40/menit, TD

90/60 mmHg, N=120x/menit) dan GCS 11?


TD:

NADI:
Normal
: 60-100 x/menit
Takikardi
: >100 x/menit
Bradikardi : < 60x/menit
RESPIRASI RATE:
Normal
: 14 20 x/menit
pada keadaan istirahat :14-18 x/menit
Pada bayi bisa
: 44 x/menit
Bates, B. 1998. Buku Saku Pemeriksaan Fisik Dan Riwayat
Kesehatan. Edisi II, Penerbit Buku kedokteran-EGC. Jakarta.
Skala koma Glasgow (Glasgow Coma Scale/GCS):
A. Eye opening (nilai maksimum 4)
a. 4
: membuka mata spontan
b. 3
: membuka mata bila diajak bicara
c. 2
: membuka mata dengan rangsang nyeri
d. 1
: tidak ada respon
B. Verbal respon (nilai maksimum 5)
a. 5
: berbicara normal
b. 4
: berbicara mengacau
c. 3
: berbicara tidak jelas (masih terdengar kata-kata)
d. 2
: mengeluarkan suara
e. 1
: tidak ada respon
C. Motor respon (nilai maksimum 6)
a. 6
: bergerak mengikuti perintah
b. 5
: bergerak terhadap nyeri, dapat melokalisir nyeri
c. 4
: bergerak menjauh terhadap rangsang nyeri
d. 3
: melakukan gerak fleksi terhadap rangsang
e. 2
: melakukan gerak ekstensi terhadap rangsang
f. 1
: tidak ada respon
Interpretasi:

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

Cedera Kepala Ringan (CKR)


: GCS 14-15
Cedera Kepala Sedang (CKS)
: GCS 9-13
Cedera Kepala Berat (CKB): GCS < 8

Klasifikasi GCS:
i. GCS Ringan (14-15)penderita sadar namun dapat mengalami
amnesia berkaitan dengan cedera yang dialaminya.
GCS Sedang (9-13)penderita masih mampu menuruti perintah

ii.

sederhana, namun biasanya tampak bingung atau mengantuk


dan dapat disertai deficit neurologis.
GCS berat (3-8)cedera kepala berat tidak mampu melakukan

iii.

perintah sederahana walaupun status kardiopulmonernya telah


stabil.
Lateralisasi:
i.

Disebabkan karena adanya suatu proses pada satu sisi otak,

ii.

seperti misalnya perdarahan intracranial


Pupilkedua pupil harus selalu diperiksa.

Biasanya

sama

lebar(3mm) dan reaksi sama cepat. Apabila salah satu lebih lebar
iii.

(>1mm) maka keadaan ini disebut anisokor.


Motorikdilakukan perangsangan pada kedua

lengan

dan

tungkai.
Advanced Trauma Life Support.
12.
Macam2 trauma pada thoraks dan penangananya?
Pembagian trauma thorax:
A. Trauma mengancam jiwa identifikasi dengan primary
survey:
a) Tension pneumothoraks
b) Open pneumothoraks
c) Massive hematothoraks
d) Flail chest
e) Cardiac tamponade
B. Trauma thorax yang potensial mengancam nyawa:
a) Kontusio pulmonum dengan atau tanpa flail chest
b) Rupture aorta thorakalis
c) Cedera trakea dan Bronkus
d) Perforasi esofagus
e) Robekan diafragma
f) Contusio miokard
C. Trauma thoraks yang berat:

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK


a)
b)
c)
d)

Subcutaneus emphysema
Pneumothoraks
Hemothoraks
Fraktur costa

A. Trauma mengancam jiwa identifikasi dengan primary


survey:
a) Tension Pneumothorax
Patofisiologi
Tension pneumothorax berkembang ketika terjadi one-wayvalve (fenomena ventil), kebocoran udara yang berasal dari
paru-paru atau melalui dinding dada masuk kedalam
rongga pleura dan tidak dapat keluar lagi (one-way-valve).
Akibat udara yang masuk kedalam rongga pleura yang
tidak dapat keluar lagi, maka tekanan di intrapleural akan
meninggi, paru-paru menjadi kolaps, terjadi displacement
mediastinum dan trachea. Pada sisi yang berlawanan vena
cava superior atau vena cava inferior terjadi gangguan
venus

return

ke

jantung,

terjadi

kompresi

paru

kontralateral, terjadi hypoxia, hypotensi.


Etiologi
Penyebab tersering dari tension pneumothorax adalah
komplikasi

penggunaan

ventilasi

mekanik

(ventilator)

dengan ventilasi tekanan positif pada penderita dengan


kerusakan pada pleura viseral. Tension pneumothorax
dapat

timbul

sebagai

komplikasi

dari

pneumotoraks

sederhana akibat trauma toraks tembus atau tajam dengan


perlukaan parenkim paru tanpa robekan atau setelah salah
arah pada pemasangan kateter subklavia atau vena
jugularis interna. Kadangkala defek atau perlukaan pada
dinding

dada

juga

dapat

menyebabkan

tension

pneumothorax, jika salah cara menutup defek atau luka


tersebut dengan pembalut (occlusive dressings) yang
kemudian

akan

menimbulkan

mekanisme

flap-valve.

Tension pneumothorax juga dapat terjadi pada fraktur

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK


tulang

belakang

toraks

yang

mengalami

pergeseran

(displaced thoracic spine fractures).


Gejala klinis
Tension pneumothorax di tandai dengan gejala nyeri dada,
sesak, distres pernafasan, takikardi, hipotensi, deviasi
trakea, hilangnya suara nafas pada satu sisi dan distensi

vena leher.
Diagnosis
Diagnosis tension pneumothorax ditegakkan berdasarkan
gejala klinis, dan terapi tidak boleh terlambat oleh karena

menunggu konfirmasi radiologi.


Pemeriksaan penunjang
Radiologis : foto polos thoraks
Penatalaksanaan
Tension pneumothorax membutuhkan dekompresi segera
dan penanggulangan awal dengan cepat berupa insersi
jarum yang berukuran besar (ukuran 14 atau 16 gauge)
pada sela iga dua garis mid-clavicular pada hemitoraks
yang mengalami kelainan. Tindakan ini akan mengubah
tension pneumothorax menjadi pneumotoraks sederhana
(catatan

kemungkinan

terjadi

pneumotoraks

yang

bertambah akibat tertusuk jarum). Evaluasi ulang selalu


diperlukan.

Terapi

definitif

selalu

dibutuhkan

dengan

pemasangan thorax drain dan WSD.


b) Open pneumothoraks (sucking chest wound)
Patofisiologi
Adanya defek atau luka yang besar yang tetap terbuka
pada dinding thorax dan paru menimbulkan Sucking chest
wound around sehingga terjadi keseimbangan antara
tekanan intra thorax dengan tekanan udara atmosfir. Jika
defek pada dinding dada mendekati 2/3 dari diameter
trakea maka udara akan cenderung mengalir melalul defek
karena mempunyai tahanan yang kurang atau lebih kecil
dibandingkan dengan trakea. Akibatnya ventilasi terganggu

sehingga menyebabkan hipoksia dan hiperkapnia.


Diagnosa

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

Diagnosa ditegakkan bila terdapat sucking chest wound,

hypoxia, dan hipoventilasi.


Penanganan
Penanganannya, langkah awal dengan menutup luka.
Gunakan kasa steril yang diplester hanya pada 3 sisinya
saja. Dengan penutupan seperti ini diharapkan akan terjadi
efek Flutter Type Valve dimana saat inspirasi kasa penutup
akan menutup luka, mencegah kebocoran udara, dari
dalam.

Saat

ekspirasi

kasa

penutup

terbuka

untuk

menyingkirkan udara keluar. Setelah itu maka sesegera


mungkin dipasang selang dada yang harus berjauhan dari
luka primer. Menutup seluruh sisi luka akan menyebabkan
terkumpulnya udara didalam rongga pleura yang akan
menyebabkan tension pneumothorax kecuali jika selang
dada sudah terpasang. Kasa penutup sementara, yang
dapat dipergunakan adalah Plastic Wrap atau Petrolatum
Gauze,

sehingga

penderita

dapat

dilakukan

evaluasi

dengan cepat dan dilanjutkan dengan penjahitan luka.


c) Hematothorax
Hematothorax diklasifikasikan atas jumlah darah yang keluar,
yaitu
Minimal / ringan 350 ml
Sedang 350 ml-1500 ml
Masif terjadi bila perdarahan di atas 1.500 cc.
Tingkat perdarahan setelah evakuasi hemothorax secara klinis
lebih penting. Jika kondisi ini terjadi, maka disebut sebagai
hemopneutoraks.
Hemotoraks dapat terjadi pada cedera thorax yang jelas.
Mungkin akan terjadi penurunan suara saat bernafas dan
harus segera dilakukan ronsen dada. Di tangan dokter yang
berpengalaman,

ultrasound

dapat

mendiagnosa

pneumotoraks dan hemotoraks, namun teknik ini jarang


dilakukan sekarang ini. Tuba torakstomi harus dipasang secara
hati-hati untuk semua jenis hemathorax dan pnemuothorak.

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

Dalam 85%, tube toraktomi adalah satu-satunya metode yang


dapat dilakukan. Jika pendarahan terus terjadi maka lebih baik
dari sistemik daripada arteri pulmonary.
Biasanya hematothorax ini terjadi pada luka tusuk dengan
sobeknya pembuluh darah hilus atau sistemik.
a. Pada umumnya pembuluh darah intercostal dan mamaria
interna terluka.
b. Setiap hemithorax dapat menampung hingga 3 liter darah.
c. Vena pada leher dapat menjadi datar karena hipovolemia
atau menjadi tegang karena efek mekanis dari darah di
dalam thorax.
d. Robeknya pembuluh darah hilus atau pembuluh darah

besar dapat mengakibatkan shock.


Diagnosa
a. Shock hemorrhagic.
b. Tidak adanya atau melemahnya suara paru unilateral.
c. Pekak unilateral pada perkusi.
d. Vena leher menjadi datar.
e. Foto thorax menunjukan gambaran radioopaque
unilateral.
Pengobatan
a. Pasang intubasi pada pasien dengan shok atau dengan
kesulitan bernafas.
b. Pasang infus ukuran besar dan sediakan darah untuk
transfusi sebelum terjadi dekompresi.
c. Jika tersedia, pasangkan autotransfusi pada system
pengumpul chest tube.
d. Lakukan thoracostomy tube dengan kateter ukuran
besar (36F atau 40F) pada celah intercostal keempat.
Chest

tube

kedua

sewaktu-waktu

dibutuhkan

untuk

mengeringkan hemothorax dengan lebih adekwat.

Indikasi thoracotomy:
a. Dekompensasi hemodinamika

atau

iritabilitas

yang

masih berlangsung akibat perdarahan dada.


b. Perdarahan yang 1500 mL sejak permulaan.
c. Perdarahan > 200ml/ jam yang masih berlangsung
selama 4jam.

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

d. Hemothorax yang tidak berhasil di drainase secara


tuntas, meskipun telah menggunakan 2 chest tube yang
berfungsi dan diposisikan secara benar.
e. Pertimbangkan Video Assisted Thoracoscopy (VATS)
sejak dini untuk hemothorax yang tidak tuntas di
drainase atau hemothorax yang menggumpal.
d) Flail Chest
Patofisiologi
Flail chest terjadi ketika segmen dinding dada tidak lagi
mempunyai kontinuitas dengan keseluruhan dinding dada.
Keadaan tersebut terjadi karena fraktur iga multipel pada
dua atau lebih tulang iga dengan dua atau lebih garis
fraktur. Adanya segmen flail chest (segmen mengambang)
menyebabkan gangguan pada pergerakan dinding dada.
Jika kerusakan parenkim paru dibawahnya terjadi sesuai
dengan kerusakan pada tulang maka akan menyebabkan
hipoksia yang serius.
Kesulitan utama pada kelainan Flail Chest yaitu trauma
pada parenkim paru yang mungkin terjadi (kontusio paru).
Walaupun

ketidak-stabilan

dinding

dada

menimbulkan

gerakan paradoksal dari dinding dada pada inspirasi dan


ekspirasi, defek ini sendiri saja tidak akan menyebabkan
hipoksia. Penyebab timbulnya hipoksia pada penderita ini
terutama disebabkan nyeri yang mengakibatkan gerakan
dinding dada yang tertahan dan trauma jaringan parunya.
Flail Chest mungkin tidak terlihat pada awalnya, karena
splinting

(terbelat)

dengan

dinding

dada.

Gerakan

pernapasan menjadi buruk dan toraks bergerak secara

asimetris dan tidak terkoordinasi.


Penyebab
Trauma tumpul thoraks yang hebat
Gejala klinis
Berupa gangguan respirasi dari ringan sampai berat.
Pada inspeksi: deformitas dinding thoraks disertai
gerakan paradoksal dinding thoraks yang patah.

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

Pada palpasi: nyeri tekan dan nyeri tekan sumbu disertai

krepitasi.
Pada foto polos thoraks: patah tulang iga mltiple dan

segmental atau lebih dari 2 garis fraktur.


Diagnosis
Terjadi hypoxia, hipoventilasi, pekak. Thoraks ipsilateral
waktu perkusi, hilangnya atau menurunnya suara nafas,
hypotensi, meningkatnya vena leher. Pada X foto thoraks

tampak effusi yang besar.


Pemeriksaan penunjang
Laboratorium: Pemeriksaan analisis gas darah yaitu adanya
hipoksia akibat kegagalan pernafasan, darah lengkap,
saturasi O2.
Radiologi: foto toraks AP/Lateral akan lebih jelas karena
akan terlihat fraktur iga yang multipel, akan tetapi

terpisahnya sendi costochondral tidak akan terlihat.


Penatalaksanaan
1) Segera lakukan intubasi apabila ada shock atau gejala
dari depresi pernafasan seperti :
a. Nafas yang sulit yang membutuhkan penggunaan
otot-otot pernafasan tambahan.
b. Respiratory rate > 35x/ menit atau < 8x/ menit.
c. Saturasi O2 < 90%, PaO2 < 60mmHg.
d. PaCO2 > 55 mmHg.
2) Pertimbangkan intubasi untuk pasien dengan riwayat
hemodinamik yang tidak stabil, kebutuhan pembedahan
untuk

memperbaiki

masalah

lain,

COPD,

penyakit

jantung, atau pada usia-usia tertentu.


3) Pindahkan pasien ke Surgical Intensive Care Unit (SICU).
Kondisi pasien dengan flail chest biasanya memburuk
dengan hypoxemia dan insufisiensi respiratory.
4) Pengendalian Nyeri
a. Regional anastesi berupa blok epidural merupakan
yang paling efektif untuk menghilangkan nyeri pada
pasien dengan trauma dinding dada.
b. Opioid sistemik yang diberikan dengan infus continu
atau PCA (Patient Controlled Anesthesia).
c. Blok nervus intercostal.

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

5) Monitor pulse oximetry dan jika tersedia monitor secara


continu tidal CO2.
6) Sediakan pulmonary

hygiene,

termasuk

insentif

spirometri dan batuk-napas dalam. Analgesik yang


adekwat dan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP)
memudahkan intubasi.
e) Cardiac Temponade
Tamponade jantung sering disebabkan oleh luka tembus.
Walaupun demikian, trauma tumpul juga dapat menyebabkan
perikardium terisi darah baik dari jantung, pembuluh darah
besar

maupun

dari

pembuluh

darah

perikard.

Perikard

manusia terdiri dari struktur jaringan ikat yang kaku dan


walaupun relatif sedikit darah yang terkumpul, namun sudah
dapat

menghambat

aktivitas

jantung

dan

mengganggu

pengisian jantung. Mengeluarkan darah atau cairan perikard,


sering hanya 15 ml sampai 20 ml, melalui perikardiosintesis
akan segera memperbaiki hemodinamik.
Diagnosa
a. Jika sadar, pasien sangat gelisah melawan dan tidak
mau berbaring.
b. Kecurigaan tamponade pada mereka dengan hipotensi
yang menetap, asidosis dan kadar basa yang rendah,
walaupun resusitasi darah dan resusitasi cairan telah
adekwat,

khususnya

perdarahan keluar.
c. Tanda-tanda klasik.

apabila
JVD

tidak

(terdiri

sedang

dari

terjadi

peningkatan

tekanan vena, penurunan tekanan arteri dan suara


jantung menjauh) tampak pada 33% pasien yang
mengalami tamponade. JVD dapat tidak tampak pada
hipovolemia.

Pulsus

paradoxus

adalah

penurunan

tekanan sistolik lebih dari 10mmHg selama inspirasi dan


mengarah ke tamponade. Kussmaul sign merupakan
tanda yang nyata dari tamponade; inspirasi pada
pernafasan spontan pasien mengakibatkan peningkatan

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JVD. Tanda-tanda klasik dari tamponade jantung tidak


khas. Shock atau hipotensi yang terus berlangsung
tanpa kehilangan darah adalah pemicu yang biasanya
mengarahkan ke cedera ini.
d. Jika tersedia kateter arteri pulmonary. Tekanan jantung
kanan atau kiri dapat tampak untuk diseimbangkan.
Tekanan vena sentral hampir mendekati tekanan arteri
pulmonary dan keduanya akan meningkat.
e. Jika tersedia, test ultrasound FAST dapat dilaksanakan
untuk mengidentifikasi cairan pericardial.
Gambaran positif pericardial yang tampak pada FAST
adalah pasien Unstable, yang merupakan indikasi
untuk melakukan tindakan sternotomy median atau
thoracotomy anterolateral sinistra.
Gambaran yang meragukan dari pericardial yang
tampak pada FAST atau test positif pada pasien yang
stabil menuntut dilakukannya operasi pericardial
window.
Gambaran FAST negative pada luka tusuk dapat
menunjukkan

false

negative

secondary

hingga

dekompresi dari cairan pericardial kedalam rongga

pleura.
Pemeriksaan penunjang
a. X-foto thorax : tampak bayangan mediastinum melebar
b. Ekokardiogram : tampak terlihat bekuan darah dan
cairan di sekeliling jantung
c. Punksi pericard (pericardiosentesis) : keluar darah.

Penatalaksanaan
Pada umumnya multiple intervensi berikut ini dilakukan
secara bersamaan. Pengobatan ini dapat di lakukan baik di
Emergency Department (ED) atau di Operating Room (OR),
tergantung kondisi klinis pasien.
a. Tentukan kebutuhan intubasi, oxigenasi, dan volume
awal resusitasi.
b. Pericardiosentesis dapat digunakan sebagai maneuver
sementara

untuk

mengurangi

tamponade

hingga

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

pengobatan definitive dapat dilakukan. Hal ini sering


sulit dilaksanakan karena prosedurnya yang sulit dan
jumlah darah yang sedikit di dalam kantung.
c. Jika pasien dalam keadaan Extreme, thoracotomy
anterolateral sinistra dapat dilakukan guna mengurangi
tamponade.
d. Jika pasien Unstable, sternotomy segera dilakukan di
OR.
e. Jika pasien Stable, pemeriksaan pericardial window
dapat

dilakukan

di

dalam

OR

untuk

meyakinkan

diagnosis. Jika masih meninggalkan darah di dalam


kantung/sac perluas insisi menjadi sternotomy.
B. Trauma thorax yang potensial mengancam nyawa
a) Kontusio Pulmonum dengan atau tanpa flail chest
Kontusio paru adalah memar atau peradangan pada paru
yang

dapat

terjadi

pada

cedera

tumpul

dada

akibat

kecelakaan kendaraan atau tertimpa benda berat. Etiologinya


dapat dikarenakan trauma thorax, kecelakaan lalu lintas,
terjadi terutama setelah trauma tumpul thorax dapat pula
terjadi pada trauma tajam dengan mekanisme perdarahan
dan edema parenkim. Manifestasi Klinis, dapat timbul atau
memburuk dalam 24-72 jam setelah trauma, dispnea, PO
arteri, infiltrat terlokalisir pada foto thorax, pada kondisi berat
dapat

disertai

sekret

trakeobronkial

yang

banyak,

hemoptisis, dan edema paru.


Berikan analgetik (intermitten atau kontinyu dengan morphine
parenteral dapat juga dengan thoracic epidural) dan tindakan
toilet pulmonalis sangatlah penting. Penderita harus dimonitor
di ICU untuk 24 48 jam. Monitoring dengan pulse oximeter,
pemeriksaan
perlengkapan

analisis
alat

gas

bantu

darah,

monitoring

pernafasan

EKG

diperlukan

dan
untuk

penanganan yang optimal. Jika kondisi penderita memburuk


dan perlu ditransfer maka harus dilakukan intubasi dan

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

ventilasi terlebih dahulu. Faktor predisposisi dilakukan intubasi


atau ventilasi mekanis:
a. Kontusi berat dengan hypoxia (Pa02 < 65 mmHg atau 8,6
kPa dalam udara ruangan, Sa02< 90 %)
b. Pre-existing chronic pulmonary disease
c. Gangguan tingkat kesadaran
d. Trauma abdomen mengakibatkan ileus atau explorasi
laparotomi.
e. Trauma tulang yang memerlukan imobilisasi
f. Renal failure
g. Poor cough effort, atelektasis, lobar collapse.
b) Rupture Aorta Thoracalis
Pada mumnya penyebab tersering kematian tiba-tiba setelah
kecelakaan atau jatuh (trauma deselerasi hebat) 90% dari
keadaan di atas adalah fatal, ini adalah prioritas didalam
emergency room. Separuh dari penderita meninggal karena
tidak terdiagnosa atau tidak mendapatkan terapi. Robekan
biasanya terjadi di belakang dari muara a. subclavia pada
tempat insersi dari ligamentum arteriousum.
Diagnosa
I. Tanda-tanda klinis:
a. Tekanan darah ekstremitas atas yang asimetri dan
b.
c.
d.
e.

hypertensi ekstremitas atas.


Tekanan nadi yang meningkat.
Robekan pada dinding dada.
Nyeri scapula posterior. Murmur intrascapula.
Separuh dari pasien dengan cedera pembuluh darah

besar dari trauma tumpul tidak menunjukkan gejala.


II.
Tanda-tanda pada foto thorax:
a. Mediastinum yang melebar (> 8cm) ini merupakan tanda
b.
c.
d.
e.

yang paling sering ditemukan.


Fraktur dari tiga costa pertama, scapula atau sternum.
Obliterasi dari aorta knob.
Deviasi dari trachea ke kanan.
Tampak pleura cap, biasanya pada sisi kiri tapi kadang-

kadang bilateral.
f. Peninggian dan pergeseran ke kanan dari bronchus utama
kanan.
g. Depresi dari bronchus utama kiri lebih dari 40% dari
horizontal.

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

h. Obliterasi dari jendela aorta pulmonary.


i. Deviasi dari nasogastric tube (oesophagus) ke kanan jarang
terjadi, tetapi merupakan tanda yang mendukung.
j. Efusi pleura kiri.
k. Tidak ada satu-satunya tanda yang dapat meyakinkan atau
menyingkirkan dugaan cedera aorta. Tetapi bagaimanapun,
pelebaran mediastinum adalah tanda yang paling sering
ditemukan pada foto thorax dan harus dievaluasi lebih
lanjut.
15% pasien dengan traumatik ruptur aorta memiliki foto
III.

thorax yang normal.


Berdasarkan sejarah, aorthography adalah gold standar
untuk diagnosa. Hingga 10% dari semua angiogram
menunjukkan positif saat ada indikasi umum dan hanya 2-

IV.

3% yang menunjukkan false negatif.


Chest Computed Tomography (CCT) telah menjadi alat
diagnosa yang penting bagi cedera aorta. Standar CT
scanner dapat menunjukkan hematoma mediastinal yang
mengarah ke cedera aorta. Helical dan kecepatan tinggi,
resolusi tinggi dari scanner dapat menunjukkan diagnosa
definitif dari cedera aorta, melebihi angiography dan
segala kelebihannya. Waktu untuk melakukan scan dan
injeksi bolus sangat berperan untuk pembelajaran yang
tepat.
a. Non specifik mediastinum hematoma ditemukan pada
CT Thorax untuk diagnosa yang tepat.
b. Definitif diagnosa dari cedera aorta yang ditemukan
dengan

helical

scanners.

Juga

membutuhkan

aortography, bergantung dari kemampuan ahli bedah


yang melakukan terapi perbaikan.
c. Negatif scan menentukan cedera
V.

aorta

dengan

sensitivitas 92%.
Transesophageal Echocardiogram (TEE) tidak dapat lebih
diandalkan daripada angiogram untuk mendiagnosa cedera
aorta. TEE yang positif meyakinkan lokasi cedera dan
mempercepat managemen. Jika TEE negatif, dibutuhkan

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

aortogram untuk meyakinkan tidak adanya cedera. TEE


adalah pilihan sempurna untuk pasien yang :
a. Harus dipindahkan langsung ke OR untuk perdarahan
lainnya.
b. Memiliki mediastinum yang sangat lebar dan sangat
dicurigai memiliki cedera aorta thoracalis.
c. Memiliki resiko tinggi untuk dibawa ke radiologi.
Saat telah stabil TEE negatif diikuti oleh CT thorax atau
aortography.
Penatalaksanaan
I.
Bebaskan jalan nafas, sesuai yang dibutuhkan.
II.
Kendalikan dan cegah hipertensi. Upaya mengurangi

tekanan

dinding

aorta

sebelum

operasi

dapat

meningkatkan resiko ruptur. Beta blocker dapat dipakai


untuk terapi pengganti hanya bila ada kemungkinan
perdarahan yang signifikan dan cedera yang lain telah
disingkirkan. Sasaran dan tekanan darah sistolik harus
III.

mendekati 100mmHg.
Jika pasien memiliki hematoma mediastinum yang stabil
disertai

cedera

abdomen,

pertama-tama

lakukan

laparatomy. Hati-hati jangan sampai menutup abdomen


terlalu

kencang

atau

menjepit

aorta,

yang

dapat

meningkatkan tekanan aorta proximal. Intraoperatif TEE


IV.

dapat digunakan untuk mengevaluasi aorta thoracalis.


Beberapa tehnik yang ada untuk melakukan perbaikan
definitive.
a. Perbaikan full cardiac bypass sering membutuhkan
heparin dalam dosis yang besar dan tidak dapat
dilakukan pada kasus dengan banyak cedera organ,
fraktur pelvis, atau cedera otak traumatic.
b. Perbaikan selama pasif bypass dengan heparin bonded
shunt atau tidak melakukan bypass sama sekali, dapat
dilakukan, walaupun jarang. Angka kejadian paraphlegia
dilaporkan lebih rendah dengan full ataupun passive
bypass.
c. Endovascular aorta stent graft kini ada di beberapa
pusat

kesehatan

dan

menawarkan

kelebihan

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

menghindari thoracotomy pada pasien yang memiliki


hubungan

pulmonary

compromise

yang

signifikan.

Penggunaan jangka panjang dan ketahanan stent ini


belum diketahui.
c) Cedera trakea dan Bronkus
Cedera ini jarang tetapi mungkin disebabkan oleh trauma
tumpul atau trauma tembus, manifestasi klinisnya yaitu yang
biasanya timbul dramatis, dengan hemoptisis bermakna,
hemopneumothorax, krepitasi subkutan dan gawat nafas.
Trauma trakea: Cedera ini jarang tetapi mungkin
disebabkan oleh trauma tumpul /trauma tusuk.
Manifestasi klinisnya: Fraktur larynx adanya trias suara
serak, subcutaneus emphysema dan teraba fraktur dan

krepitasi larynx
Diagnosa: fiberoptic laryngoscopy
Diperlukan terapi operasi definitif
Trauma bronchus: biasanya trauma benda tumpul
Terjadi 1 inci dr carina tampak terjadi hemoptysis,
subcutaneus

emphyema/tension

pneumothorax,

khas

adanya pneumothorax dengan kebocoran udara


Bronchoscopy
Penanganan thoracotomy
d) Perforasi Esofagus
a. Kebanyakan merupakan trauma tembus terdapat pada luka
tumpul esophagus (insiden < 0,1%). Variasi presentasi
tergantung lokasi luka:
Esofagus servicalis:
Emfisema subcutan, hematemesis.
Esofagus thoracalis:
Emfisema mediastinum, emfisema subcutan, emfisema
pleura, udara pada retroesofagus. Demam tanpa sebab
24 jam dari luka.
Esofagus intraabdominal:
Tanpa
gejala,
kemungkinan
hemoperitoneum.
b. Diagnosa

pneumoperitoneum,

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK


Menembus

selaput

mediastinum

atau

leher

dapat

menunjukkan luka esophagus.


Adanya trauma tembus yang banyak pada trakheoktomi
atau laparatomi.
Esofagoskopi dan

esofagogram

biasanya

sensitive

(60%), kombinasi keduanya bisa mempelajari tentang


luka esophagus.
CT scan dilakukan pada pasien yang stabil.
c. Penatalaksanaan
I. Operasi terbuka
Cervical
Insisi leher pada salah satu sisi sepanjang batas anterior
dari otot sternocleidomastoideus.
Thorax bagian atas
Thoracotomi posterolateral kanan pada interkostal ke 5.
Thorax bagian bawah
Thoracotomi posterolateral kiri pada intercostal ke 6.
II.
Perbaikan Definitif
a. Luka kurang dari 6 jam
Pertama-tama tutup dengan dua lapisan kedap
sutura dan tutup pleura atau otot flap intercostalis.
Perbaikan esophagus bagian bawah dapat di tutup
lagi dengan Nisser wrap, drain.
b. Luka komplex atau > 12 jam
Perbaiki luka seperti diatas, lakukan eesfagostomi
cervical dan pertimbangkan menjahit esophagus
bagian bawah dengan tanda-tanda mediastinitis.
Drainase

pada

rongga

dada

dan

gastrektomi

keduanya merupakan indikasi.


c. Luka 6-12 jam
Masih controversial, bagaimanapun jika terdapat
shock

dengan

trauma

multiple

dapat

dipertimbangkan hal di atas.


e) Robekan Diafragma
a. Trauma Tumpul
Trauma tumpul diafragma secara klasik besar, radial dan
lokasinya

posterolateral.

Terjadi

65-80%

pada

kasus

hemidiaphragma kiri. Ruptur diafragma adalah tanda dari


trauma intraabdominal.

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

b. Trauma tembus
Luka kecil, tapi lebih sering pada kepala.
Ketika terdiagnosa trauma tersebut

membutuhkan

perbaikan operasi, oleh karena trauma tersebut tidak


sembuh spontan dan dapat menyebabkan hernia atau
strangulasi dari usus dalam waktu yang lama.
c. Diagnosa
I. Diagnosa dapat sangat sulit, tetapi berdasarkan
mekanismenya terdapat index kecurigaan:
Deselerasi cepat atau kerusakan langsung

pada

abdomen bagian atas.


Trauma dada sebagian, fraktur rusuk bagian bawah.
Luka tembus pada dada dan abdomen.
II.
foto thorax hanya mendiagnosa 25-50% kasus trauma
tumpul. Beberapa kemungkinannya adalah:
Elevasi hemidiafragma atau atelektasis lobus bagian
bawah.
Hemithorax pada nasogastric kiri.
Lambung, colon, atau usus pada bagian bawah dada.
Trauma tembus dan kerusakan usus, diafragma terlihat
normal.
Tekanan positif menyebabkan tamponade hernia alat
dalam dan memperlihatkan foto thorax normal setelah
III.

extubasi, herniasi akan tampak pada foto thorax.


Pada hemidiafragma kanan jarang di diagnosa dengan

IV.

foto thorax oleh karena adanya hepar.


CT scan dapat salah, pada luka diafragma terlihat

V.

gambaran kosong hernia alat-alat dalam.


Diagnosa Peritoneal Lavage (DPL) menghasilkan negatif
palsu pada 25-34% luka diafragma. Jika tampak pada
rongga dada ipsilateral, cairan DPL dapat diteliti diluar

VI.

rongga dada.
Visualisasi secara langsung luka dengan laparatomi,
laparoskopi, atau thoracoskopi merupakan diagnosa

utama.
d. Penatalaksanaan
I. Perbaikan diafragma.

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK


II.

Perbaikan awal dilakukan dengan laparatomi, pada


kebanyakan

kasus

dengan

tidak

ada

penyerapan,

III.

masalah potongan horizontal sutura.


Thorakotomi
dibutuhkan
untuk

IV.

kerusakan yang besar pada hernia.


Peralatan prostetik atau flaps terkadang dibutuhkan

V.

untuk menutup kerusakan.


Tingkat kematian sekitar 25-40% oleh karena berkaitan

mengembalikan

dengan trauma keras.


f) Kontusio Miocard
Istilah trauma tumpul pada jantung biasanya menggambarkan
berbagai tingkatan trauma pada jantung. Ini dapat dari
memar pada otot jantung yang asimptomatis, sampai dengan
disaritmia dengan gejala klinis yang signifikan, gagal jantung
akut, trauma katub atau rupture kardia. Walaupun jarang,
trauma

jantung

dapat

menyebabkan

ketidakstabilan

hemodinamik.
Komplikasi yang sering dari trauma tumpul pada otot jantung
adalah

disaritmia

seperti

takikardi,

kontraksi

premature

atrium, atrial fibrilasi, dan kontraksi premature ventricular.


Perubahan EKG lainnya yang mungkin dapat terlihat adalah
Right Bundle Branch Block atau trauma akut dengan ST
elevasi dan gelombang T yang datar.
a. Diagnosis
Dari beberapa literature masih

terdapat

perdebatan

tentang kriteria diagnosa secara signifikan


I. 12 lead EKG dapat dilakukan sebagai screaning test
II.

pada pasien yang dicurigai


ECG dinyatakan positif jika menunjukkan gambaran
disaritmia, atrial atau ventrikuler ektopi, perubahan ST,

III.

Bundle Branch Block, atau block hemifasciculer.


Ecochardiography (Echo) dapat digunakan

untuk

memperkirakan gerak dinding dada dan kompetensi


katub.

Trans

Thoracic

Echocardiogram

(TTE)

lebih

nyaman bagi pasien dan non infasif walaupun kadang

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

secara teknis terbatas. TEE lebih infasif dan digunakan


ketika TE tidak adekwat.
Bukti baru level cardiac troponin 1 (cTn1) berhubungan

IV.

dengan resiko aritmia dan komplikasi BCI. Penelitian


oleh Rajan dan Zellweger level yang menurun sampai
0,05 g/L, 6 jam setelah trauma pada pasien tanpa
gejala

klinis

menunjukkan

resiko

komplikasi,

hasil

tersebut specific untuk BCI.


Presentasi fraktur sternum tidak berhubungan dengan

V.

presentasi.
b. Tatalaksana
Pasien dengan iskemia pada EKG atau elevasi cardia
level enzim sama dengan infark miocard.
Jika ekokardiografi menunjukkan memar (hipokinesis
atau pergerakan abnormal dinding dada) kirim pasien ke
ICU.
Jika tanda-tanda penderita berkembang dan gejala dari
gagal jantung akut. Mulai monitoring secara invasive
dengan pemasangan arteri kateter.
a. Lanjutan EKG dilakukan pada

gambaran

awal

abnormal atau tanda-tanda baru.


b. Trauma tumpul kardia bukan kontra indikasi absolute
untuk operasi.
C. Trauma thorax yang berat
a) Subcutaneus emphisema
Terjadi akibat trauma yang mengenai jalan nafas, paru, dan
jarang karena trauma ledakan. Apabila ditemukan tanda
trauma tersebut, maka perlu dipasang thorax tube.
b) Pneumothorax
Diakibatkan masuknya udara pada ruang potensial antara
pleura viseral dan parietal. Dislokasi fraktur vertebra torakal
juga

dapat

Laserasi

ditemukan

paru

bersama

merupakan

dengan

penyebab

pneumothorax.
tersering

dari

pneumothorax akibat trauma tumpul.


Dalam keadaan normal rongga thorax dipenuhi oleh paru-paru
yang pengembangannya sampai dinding dada oleh karena

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

adanya tegangan permukaan antara kedua permukaan pleura.


Adanya udara di dalam rongga pleura akan menyebabkan
kolapsnya jaringan paru. Gangguan ventilasi-perfusi terjadi
karena darah menuju paru yang kolaps tidak mengalami
ventilasi sehingga tidak ada oksigenasi. Ketika pneumothorax
terjadi, suara nafas menurun pada sisi yang terkena dan pada
perkusi hipersonor. Foto thorax pada saat ekspirasi membantu
menegakkan diagnosis.
Terapi
terbaik
pada

pneumothorax

adalah

dengan

pemasangan chest tube lpada sela iga ke 4 atau ke 5, anterior


dari garis mid-aksilaris. Bila pneumotoraks hanya dilakukan
observasi atau aspirasi saja, maka akan mengandung resiko.
Sebuah selang dada dipasang dan dihubungkan dengan WSD
dengan atau tanpa penghisap, dan foto toraks dilakukan untuk
mengkonfirmasi pengembangan kembali paru-paru. Anestesi
umum atau ventilasi dengan tekanan positif tidak boleh
diberikan pada penderita dengan pneumothorax traumatik
atau pada penderita yang mempunyai resiko terjadinya
pneumothorax intraoperatif yang tidak terduga sebelumnya,
sampai dipasang chest tube. Pneumothorax sederhana dapat
menjadi life thereatening tension pneumothorax, terutama
jika awalnya tidak diketahui dan ventilasi dengan tekanan
posiif diberikan. Thorax penderita harus dikompresi sebelum
penderita dirujuk.
c) Hemothorax
Penyebab utama dari hemothorax adalah laserasi paru atau
laserasi dari pembuluh darah interkostal atau arteri mamaria
internal yang disebabkan oleh trauma tajam atau trauma
tumpul.
Tampak efusi pada thorax foto dan hilangnya suara nafas.
Dislokasi

fraktur

dari

vertebra

torakal

juga

dapat

menyebabkan terjadinya hemothorax. Biasanya perdarahan


berhenti spontan dan tidak memerlukan intervensi operasi.
Hemothorax akut yang cukup banyak sehingga terlihat pada

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

foto thorax, sebaiknya diterapi dengan selang dada (Thorax


tube) kaliber besar. Selang dada tersebut akan mengeluarkan
darah dari rongga pleura, mengurangi resiko terbentuknya
bekuan darah di dalam rongga pleura (hemothorax atau
fibrothorax), dan dapat dipakai dalam memonitor kehilangan
darah selanjutnya.
Evakuasi darah atau cairan juga memungkinkan dilakukannya
penilaian terhadap kemungkinan terjadinya ruptur diafragma
traumatik. Walaupun banyak faktor yang berperan dalam
memutuskan

perlunya

indikasi

operasi

pada

penderita

hemothorax, status fisiologi dan volume darah yang kelur dari


selang dada merupakan faktor utama.
Hematothorax diklasifikasikan atas jumlah darah yang keluar,
yaitu
Minimal / ringan 350 ml, Sedang 350 ml - 1500 ml dan masif
terjadi bila perdarahan di atas 1.500 cc.
Sebagai patokan bila darah yang dikeluarkan secara cepat
dari selang dada sebanyak 1.500 ml, atau bila darah yang
keluar lebih dari 200 ml tiap jam untuk 2 sampai 4 jam, atau
jika membutuhkan transfusi darah terus menerus, eksplorasi
bedah herus dipertimbangkan.
d) Fraktur costae
Merupakan komponen dari dinding thorax yang paling sering
mngalami trauma, perlukaan pada iga sering bermakna, Nyeri
pada pergerakan akibat terbidainya iga terhadap dinding
thorax secara keseluruhan menyebabkan gangguan ventilasi.
Batuk yang tidak efektif intuk mengeluarkan sekret dapat
mengakibatkan insiden atelaktasis dan pneumonia meningkat
secara bermakna dan disertai timbulnya penyakit paruparu.
Fraktur sternum dan skapula secara umum disebabkan oleh
benturan langsung, trauma tumpul jantung harus selalu
dipertimbangkan bila ada asa fraktur sternum. Yang paling
sering mengalami trauma adalah iga bagian tengah (iga ke 4
sampai ke 9).

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

Costae bagian atas (costae ke-1 sampai ke-3 ) dilindungi oleh


struktur tulang dari lengan bagian atas, tulang skapula,
humerus

dan

klavikula

dengan

seluruh

otot-otot

yang

merupakan pelindung terhadap trauma costae tersebut. Bila


ditemukan fraktur tulang skapula, costae pertama dan kedua
atau sternum harus curiga akan adanya trauma yang luas
yang meliputi kepala, leher, medula spinalis, paru-paru dan
pembuluh

darah

besar.

Karena

adanya

trauma-trauma

penyerta tersebut, mortalitas akan meningkat menjadi 35%.


Konsultasi bedah harus dilakukan.
Kompresi
anteroposterior
dari

rongga

toraks

akan

menyebabkan lengkung costae akan lebih melengkung lagi ke


arah lateral dengan akibat timbulnya fraktur pada titik tengah
(bagian lateral) costae. Trauma langsung pada costae akan
cenderung menyebabkan fraktur dengan pendorongan ujungujung fraktur masuk ke dalam rongga pleura dan potensial
menyebabkan trauma intratorakal seperti pneumothorax.
Seperti kita ketahui pada penderita dengan usia muda dinding
dada lebih fleksibel sehingga jarang terjadi fraktur costae,
oleh karena itu adanya fraktur costae multipel pada penderita
usia muda memberikan informasi pada kita bahwa trauma
yang terjadi sangat besar dibandingkan bila terjadi trauma
yang sama terjadi pada orang tua. Patah tulang costae (ke-10
sampai ke-12) harus curiga kuat adanya trauma terhadap
hepatosplenik. Akan ditemukan nyeri tekan pada palpasi dan
krepitasi pada penderita dengan trauma costae. Jika teraba
atau terlihat adanya deformitas, harus curiga fraktur costae.
Foto thorax harus dibuat untuk menghilangkan kemungkinan
trauma intratorakal dan bukan untuk mengidentifikasi fraktur
costae. Teknik khusus untuk visualisasi costae selain harganya
mahal, tidak dapat mendeteksi seluruh costae, posisi yang
dibutuhkan untuk pembuatan x-ray tersebut menimbulkan
rasa

nyeri

dan

tidak

mengubah

tindakan,

sehingga

pemeriksaan ini tidak dianjurkan. Plester costae, pengikat

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

costae dan bidai eksternal merupakan kontra indikasi. Yang


penting adalah menghilangkan rasa sakit agar penderita
dapat

bernafas

dengan

baik.

Blok

interkostal,

anestesi

epidural dan analgesik sistemik dapat dipertimbangkan untuk


mengatasi rasa nyeri.
Wim De jong, Sjamsuhidajat. Buku ajar Ilmu Bedah; Edisi 2.
EGC. Jakarta. 2005. Hal 93-95.

Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi. 1996. Jakarta:EGC.


PUNGSI?
Untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan, sitologi,
berat jenis. Pungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan
posterior, pada sela iga ke-8. Didapati cairan yang mungkin serosa
(serotorak), berdarah (hemotoraks), pus (piotoraks) atau kilus
(kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil
bendungan) atau eksudat (hasil radang).
Indikasinya:
Menghilangkan sesak yang ditimbulkan cairan
Bila terapi spesifik pada penyakit primer tidak efektif atau gagal

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

Bila terjadi reakumulasi cairan


Kerugiannya: hilangnya protein, infeksi, pneumothoraxs.

WSD?
Pada trauma toraks WSD dapat berarti:
a) Diagnostik: menentukan perdarahan dari pembuluh darah
besar atau kecil, sehingga dapat ditentukan perlu operasi
torakotomi atau tidak, sebelum penderita jatuh dalam shok.
b) Terapi: Mengeluarkan darah,cairan atau udara yang terkumpul
di

rongga

pleura.

Mengembalikan

tekanan

rongga

pleura

sehingga "mechanic of breathing", dapat kembali seperti yang


seharusnya.
c) Preventive: Mengeluarkan udara atau darah yang masuk ke
rongga pleura sehingga "mechanic of breathing" tetap baik.
Penyulit pemasangan WSD adalah perdarahan dan infeksi atau
super infeksi. Oleh karena itu pada pemasangan WSD harus
diperhatikan anatomi pembuluh darah interkostalis dan harus
diperhatikan sterilitas.
Indikasi pemasangan WSD:
a. Hematotoraks
b. Pneumotoraks
Indikasi pemasangan WSD

pada

pneumotoraks

karena

trauma tajam atau trauma tembus toraks:


a. Sesak nafas atau gangguan nafas
b. Bila gambaran udara pada foto toraks lebih dari seperempat
c.
d.
e.
f.

rongga torak sebelah luar


Bila ada pneumotorak bilateral
Bila ada tension pneumotorak setelah dipunksi
Bila ada haemotoraks setelah dipunksi
Bila pneumotoraks yang tadinya konservatif pada pemantauan

selanjutnya ada perburukan


Macam-macam WSD:
a. Single Bottle Water Seal System

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

b. Two Bottle System

c. Three Bottle System

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

Saryono, Water Seal Drainage (WSD), Lab. Ketrampilan


Medik PPD Unsoed.
13.
Apa saja px penunjang yang dibutuhkan?
Laboratorium:
a. Hematokrit dari cairan pleura
Pengukuran hematokrit hampir tidak pernah diperlakukan

pada pasien dengan hematothorax traumatis.


Diperlakukan untuk analisis berdarah nontraumatik efusi
dari penyebabnya. Dalam khusus tersebut, sebuah efusi
pleura dengan hematokrit lebih dari 50 % dari yang

hematokrit beredar deanggap sebagai hematothorax.


Imaging:
a. Chest radiography
Dada yang tegak sinar rongent adalah ideal studi

diagnostik utama dalam evaluasi hematothorax.


Dalam unscarred normal rongga pleura yang hemothtorax
dicatat

sebagai

meniskus

cairan

menumpulkan

costophiremic diafragmatik sudut atau permukaan dan


pelacakan atas margin pleura dinding dada ketika dilihat
pada dada tegak film sinar-X. Hal ini pada dasarnya sama

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

penampilan radiography dada yang ditemukan dengan

efusi pleura.
Dalam kasus-kasus dimana jaringan atau sisfisis pleura
hadir, koleksi tidak dapat bebas untuk menempati posisi
yang paling tergantung didalam dada tapi menempati
posisi yang paling tergantung didalam dada, tapi akan
mengisi ruang pleura bebas apapun tersedia. Situasi ini
mungkin membuat penampilan klasik lapisan pluida pada

dada X-ray film.


Sebanyak 400-500 ml darah diperlukan untuk melenyapkan
costapherenic sudut seperti terlihat pada dada tegak sinar

rongent.
Dalam pengaturan trauma akut, telentang portabel dada
sinar rongent mungkin menjadi yang pertama dan satusatunya pandangan tersedia dari yang untuk membuat
keputusan mengenai terapi definitif, kehadiran dn ukuran
hematothorax jauh lebih sulit untuk mengevaluasi pada
film terlentang. sebanyak 1000 ml darah mungkin akan
terjawab saat melihat dada terlentang portabel X-ray film.
Hanya

kekaburan

umum

yang

terkena

bencana

hematothorax dapat dicatat.


Dalam kasus trauma hematothorax sering dikaitkan dengan
dada lainnya, luka-luka terlihat di dada sinar rongent,
seperti patah tulang iga, pneumotorax , atau pelebaran

mediatinum superior.
Studi-studi tambahan seperti USG atau CT scan mungkin
kadang-kadang diperlukan untuk identitas dan kualifikasi

dari hematothorax dicatat disebuah dataran sinar rongent.


b. Ultrasonography
Ultrasonography USG digunakan dibeberapa pusat trauma

dalam evaluasi awal pasien untuk hematothorax.


Salah satu kekurangan dari USG untuk identifikasi
traumatis terkait hematothorax adalah bahwa luka segera
terlihat pada radiography dada pada pasien trauma, seperti

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

cedera tulang, melebar mediastinum dan pneumothorax,

tidak mudah diidentifikasi di dada Ultrasonograp gambar.


Ultrasonography lebih mungkin memainkan peran yang
saling melengkapi dalam kasus-kasus tertentu dimana X-

ray dada temuan hematothorax yang samar-samar.


c. CT-scan
CT scan sangat akurat studi diagnostik cairan pleura /

darah.
Dalam pengaturan trauma tidak memegang peran utama
dalam diagnostik hematothorax tetapi melengkapi dada
radiography.

Karena

banyak

korban

trauma

tumpul

melakukan rongrnt dada dan / CT scan perut evaluasi, tidak


dianggap hematothorax didasarkan pada radiography dada

awal dapat diidentifikasi dan diobati.


Saat ini CT scan adalah nilai terbesar kemudian dalam
perjalanan

trauma

dada

pasien

untuk

lokalisasi

dan

klasifikasi dari setiap koleksi mempertahankan gumpalan


dalam rongga pleura.
Pusponegoro, A.D (1995). ilmu bedah . FK UI: Jakarta.
14.

Bagaimana penanganan yang tepat pada pasien tsb?

PRIMARY SURVEY
A. Airway dengan kontrol servikal
1. Penilaian
a. Mengenal patensi airway (inspeksi, auskultasi, palpasi)
b. Penilaian secara cepat dan tepat akan adanya obstruksi
2. Pengelolaan airway
a. Lakukan chin lift dan atau jaw thrust dengan kontrol
servikal in-line immobilisasi
b. Bersihkan airway dari benda asing bila perlu suctioning
dengan alat yang rigid
c. - Pasang pipa nasofaringeal atau orofaringeal
- Pasang airway definitif sesuai indikasi

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK


Kebutuhan untuk
3.

Kebutuhan untuk ventilasi

perlindungan airway
Tidak sadar

Apnea
Paralisis neuromuskuler
Tidak sadar

Fraktur maksilofasial

Usaha nafas yang tidak adekuat


Takipnea
Hipoksia
Hiperkarbia
Sianosis

Bahaya aspirasi

Cedera kepala tertutup berat yang

Perdarahan

membutuhkan hiperventilasi

Muntah - muntah

singkat,
bila terjadi penurunan keadaan
neurologis

Bahaya sumbatan
Hematoma leher
Cedera laring, trakea
Stridor
Fiksasi leher
4. Anggaplah bahwa terdapat kemungkinan fraktur servikal pada
setiap penderita multi trauma, terlebih bila ada gangguan
kesadaran atau perlukaan diatas klavikula.
5. Evaluasi
B. Breathing dan Ventilasi-Oksigenasi
1. Penilaian
a. Buka
leher
dan
dada
penderita,

dengan

memperhatikan kontrol servikal in-line immobilisasi

tetap

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

b. Tentukan laju dan dalamnya pernapasan


c. Inspeksi dan palpasi leher dan thoraks untuk mengenali
kemungkinan terdapat deviasi trakhea, ekspansi thoraks
simetris atau tidak, pemakaian otot-otot tambahan dan
tanda-tanda cedera lainnya.
d. Perkusi thoraks untuk menentukan redup atau hipersonor
e. Auskultasi thoraks bilateral
2. Pengelolaan
a. Pemberian oksigen konsentrasi tinggi (non rebreathing
mask 11-12 liter/menit)
b. Ventilasi dengan Bag Valve Mask
c. Menghilangkan tension pneumothorax
d. Menutup open pneumothorax
e. Memasang pulse oxymeter
3. Evaluasi
C. Circulation dengan kontrol perdarahan
1. Penilaian
a. Mengetahui sumber perdarahan eksternal yang fatal
b. Mengetahui sumber perdarahan internal
c. Periksa nadi: kecepatan, kualitas, keteraturan, pulsus
paradoksus. Tidak diketemukannya pulsasi dari arteri besar
merupakan

pertanda

diperlukannya

resusitasi

masif

segera.
d. Periksa warna kulit, kenali tanda-tanda sianosis.
e. Periksa tekanan darah
2. Pengelolaan
a. Penekanan langsung pada sumber perdarahan eksternal
b. Kenali perdarahan internal, kebutuhan untuk intervensi
bedah serta konsultasi pada ahli bedah.
c. Pasang kateter IV 2 jalur ukuran besar sekaligus mengambil
sampel darah untuk pemeriksaan rutin, kimia darah, tes
kehamilan (pada wanita usia subur), golongan darah dan
cross-match serta Analisis Gas Darah (BGA).
d. Beri cairan kristaloid yang sudah dihangatkan dengan
tetesan cepat.
e. Pasang PSAG/bidai pneumatik untuk kontrol perdarahan
pada pasien-pasien fraktur pelvis yang mengancam nyawa.
f. Cegah hipotermia
3. Evaluasi
D. Disability
1. Tentukan tingkat kesadaran memakai skor GCS/PTS

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

2. Nilai pupil : besarnya, isokor atau tidak, reflek cahaya dan


awasi tanda-tanda lateralisasi
3. Evaluasi dan Re-evaluasi aiway, oksigenasi, ventilasi dan
circulation.
E. Exposure/Environment
1. Buka pakaian penderita
2. Cegah hipotermia : beri selimut hangat dan tempatkan pada
ruangan yang cukup hangat.
RESUSITASI
A. Re-evaluasi ABCDE
B. Dosis awal pemberian cairan kristaloid adalah 1000-2000 ml
pada dewasa dan 20 mL/kg pada anak dengan tetesan cepat
C. Evaluasi resusitasi cairan
1. Nilailah respon penderita terhadap pemberian cairan awal
2. Nilai perfusi organ ( nadi, warna kulit, kesadaran dan produksi
urin ) serta awasi tanda-tanda syok
D. Pemberian cairan selanjutnya berdasarkan respon terhadap
pemberian cairan awal.
1. Respon cepat
Pemberian
cairan

diperlambat

sampai

kecepatan

maintenance
Tidak ada indikasi bolus cairan tambahan yang lain atau

pemberian darah
Pemeriksaan darah dan cross-match tetap dikerjakan
Konsultasikan pada ahli bedah karena intervensi operatif

mungkin masih diperlukan


2. Respon Sementara
Pemberian cairan tetap dilanjutkan, ditambah dengan

pemberian darah
Respon terhadap pemberian darah menentukan tindakan

operatif
Konsultasikan pada ahli bedah.
3. Tanpa respon
Konsultasikan pada ahli bedah
Perlu tindakan operatif sangat segera
Waspadai kemungkinan syok non

hemoragik

tamponade jantung atau kontusio miokard


Pemasangan CVP dapat membedakan keduanya.

seperti

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

TAMBAHAN PADA PRIMARY SURVEY DAN RESUSITASI


A. Pasang EKG
1. Bila ditemukan bradikardi, konduksi aberan atau ekstrasistole
harus dicurigai adanya hipoksia dan hipoperfusi
2. Hipotermia dapat menampakkan gambaran disritmia
B. Pasang kateter uretra
1. Kecurigaan adanya ruptur uretra merupakan kontra indikasi
pemasangan kateter urine
2. Bila terdapat kesulitan pemasangan kateter karena striktur
uretra

atau

BPH,

jangan

dilakukan

manipulasi

atau

instrumentasi, segera konsultasikan pada bagian bedah


3. Ambil sampel urine untuk pemeriksaan urine rutine
4. Produksi urine merupakan indikator yang peka untuk menilai
perfusi ginjal dan hemodinamik penderita
5. Output urine normal sekitar 0,5 ml/kgBB/jam pada orang
dewasa, 1 ml/kgBB/jam pada anak-anak dan 2 ml/kgBB/jam
pada bayi
C. Pasang kateter lambung
1. Bila terdapat kecurigaan fraktur basis kranii atau trauma
maksilofacial yang merupakan kontraindikasi pemasangan
nasogastric tube, gunakan orogastric tube.
2. Selalu tersedia alat suction selama pemasangan kateter
lambung, karena bahaya aspirasi bila pasien muntah.
D. Monitoring hasil resusitasi dan laboratorium
Monitoring didasarkan atas penemuan klinis; nadi, laju nafas,
tekanan darah, Analisis Gas Darah (BGA), suhu tubuh dan output
urine dan pemeriksaan laboratorium darah.
E. Pemeriksaan foto rotgen dan atau FAST
1. Segera lakukan foto thoraks, pelvis dan servikal lateral,
menggunakan mesin x-ray portabel dan atau FAST bila
terdapat kecurigaan trauma abdomen.
2. Pemeriksaan foto rotgen harus selektif dan jangan sampai
menghambat proses resusitasi. Bila belum memungkinkan,
dapat dilakukan pada saat secondary survey.
3. Pada wanita hamil, foto rotgen yang mutlak diperlukan, tetap
harus dilakukan.
SECONDARY SURVEY

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

A. Anamnesis
Anamnesis yang harus diingat:
A : Alergi
M : Mekanisme dan sebab trauma
M : Medikasi ( obat yang sedang diminum saat ini)
P : Past illness
L : Last meal (makan minum terakhir)
E

: Event/Environtment yang berhubungan dengan kejadian

perlukaan.
B. Pemeriksaan Fisik
Hal yang Identifikasi/
Penilaian
Dinilai
Tingkat
Kesadara
n

tentukan
Beratnya

Skor GCS

trauma

Penemuan

Konfirmasi

Klinis

dengan

8, cedera
kepala berat

kapitis

9 -12,
cedera

CT Scan
Ulangi tanpa
relaksasi
Otot

kepala
sedang
13-15,
cedera
kepala
ringan
Pupil

Jenis cedera Ukuran


kepala
Luka pada
mata

Bentuk
Reaksi

"mass

CT Scan

effect"
Diffuse
axional
injury
Perlukaan
mata

Kepala

Luka pada

Inspeksi

Luka kulit

CT Scan

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK


kulit kepala
Fraktur
tulang
tengkorak

adanya luka
dan fraktur
Palpasi
adanya
fraktur

Maksilof
asial

Luka
jaringan
lunak
Fraktur
Kerusakan

Inspeksi :
deformitas

JOKO WIBOWO S
(012116424)

kepala
Fraktur
impresi
Fraktur basis
Fraktur

Foto tulang

tulang wajah

wajah

Maloklusi
Palpasi :
krepitus

syaraf

Cedera

CT Scan

jaringan

tulang wajah

lunak

Luka dalam
mulut/gigi
Leher

Cedera pada Inspeksi


faring
Fraktur
servikal

Palpasi
Auskultasi

Kerusakan

Deformitas
faring

subkutan

Murmur

Cedera

Tembusnya

esofagus

Angiografi/

Emfisema

Hematoma

vaskular

Foto servikal

Doppler

Esofagoskop
i
Laringoskopi

platisma

Gangguan

Nyeri, nyeri

neurologis

tekan C
spine

Toraks

Perlukaan
dinding
toraks

Inspeksi
Palpasi

Jejas,
deformitas,
gerakan

Foto toraks
CT Scan

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK


Emfisema

Auskultasi

subkutan
Pneumo/

JOKO WIBOWO S
(012116424)

Paradoksal

Angiografi

Nyeri tekan

dada,

hematotorak

krepitus

Bising nafas

Cedera

berkurang

bronchus

Bunyi

Kontusio

jantung jauh

paru

Krepitasi

Kerusakan

mediastinu

aorta

torakalis

Bronchoskop
i
Tube
torakostomi
Perikardio
sintesis
USG TransEsofagus

Nyeri
punggung
hebat

Hal yang Identifikasi/ Penilaian


Dinilai

tentukan

Abdomen Perlukaan
/

dd.

pinggang

Abdomen
Cedera
intraperitoneal
Cedera

Inspeksi
Palpasi
Auskultasi
Tentukan
arah
penetrasi

retroperiton

Penemuan

Konfirmasi

klinis

dengan

Nyeri, nyeri

DPL

tekan abd.
Iritasi
peritoneal
Cedera
organ
viseral
Cedera

eal

FAST
CT Scan
Laparotomi
Foto dengan
kontras
Angiografi

retroperiton
eal

Pelvis

Cedera

Palpasi

Cedera

Foto pelvis

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

JOKO WIBOWO S
(012116424)

Genito-

simfisis

Genito-

urinarius

pubis untuk

rinarius

pelebaran

(hematuria)

Fraktur
pelvis

Nyeri tekan
tulang pelvis
Tentukan

Fraktur
pelvis
Perlukaan

instabilitas

perineum,

pelvis

rektum,

(hanya satu

vagina

kali)

Urogram
Uretrogram
Sistogram
IVP
CT Scan
dengan
kontras

Inspeksi
perineum
Pem.
Rektum
/vagina
Medula
spinalis

Trauma
kapitis
Trauma
medulla

Pemeriksaan "mass
motorik
Pemeriksaan
sensorik

spinalis

kolumna
Vertebralis
Kerusakan

Tetraparesis

radiks

perifer

is

MRI

Cedera

syaraf

vertebral lnstabilitas

unilateral

Paraparesis

Trauma

Kolumna Fraktur

effect"

Foto polos

syaraf
Respon
verbal
terhadap
nyeri,
tanda

Fraktur atau Foto polos


dislokasi

CT Scan

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK


syaraf

JOKO WIBOWO S
(012116424)

lateralisasi
Nyeri tekan
Deformitas

Ekstremi Cedera
tas

jaringan
lunak

Inspeksi
Palpasi

Fraktur
Kerusakan
sendi
Defisit
neurovascular

Jejas,
pembengka
kan, pucat
Malalignment
Nyeri, nyeri
tekan,
Krepitasi

Foto ronsen
Doppler
Pengukuran
tekanan
komparteme
n
Angiografi

Pulsasi
hilang/
berkurang
Komparteme
n
Defisit
neurologis

TAMBAHAN PADA SECONDARY SURVEY


A. Sebelum dilakukan pemeriksaan tambahan, periksa keadaan
penderita dengan teliti dan pastikan hemodinamik stabil
B. Selalu siapkan perlengkapan resusitasi di dekat penderita karena
pemeriksaan tambahan biasanya dilakukan di ruangan lain
C. Pemeriksaan tambahan yang biasanya diperlukan :
1. CT scan kepala, abdomen
2. USG abdomen, transoesofagus
3. Foto ekstremitas
4. Foto vertebra tambahan
5. Urografi dengan kontras
RE-EVALUASI PENDERITA

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK

A. Penilaian ulang terhadap penderita, dengan mencatat dan


melaporkan setiap perubahan pada kondisi penderita dan respon
terhadap resusitasi.
B. Monitoring tanda-tanda vital dan jumlah urin
C. Pemakaian analgetik yang tepat diperbolehkan
TRANSFER KE PUSAT RUJUKAN YANG LEBIH BAIK
A. Pasien dirujuk apabila rumah sakit tidak mampu menangani
pasien karena keterbatasan SDM maupun fasilitas serta keadaan
pasien yang masih memungkinkan untuk dirujuk.
B. Tentukan indikasi rujukan, prosedur rujukan dan kebutuhan
penderita selama perjalanan serta komunikasikan dengan dokter
pada pusat rujukan yang dituju.
Advanced Trauma Life Support.
TERAPI:
Hemothorax akut yang cukup banyak sehingga terlihat pada foto
thorax, sebaiknya diterapi dengan selang dada (Thorax tube) kaliber
besar. Selang dada tersebut akan mengeluarkan darah dari rongga
pleura, mengurangi resiko terbentuknya bekuan darah di dalam
rongga pleura (hemothorax atau fibrothorax), dan dapat dipakai
dalam memonitor kehilangan darah selanjutnya.
Evakuasi darah atau cairan juga memungkinkan dilakukannya
penilaian
traumatik.

terhadap

kemungkinan

Walaupun

banyak

terjadinya

faktor

yang

ruptur

diafragma

berperan

dalam

memutuskan perlunya indikasi operasi pada penderita hemothorax,


status fisiologi dan volume darah yang kelur dari selang dada
merupakan faktor utama.
Hematothorax diklasifikasikan atas jumlah darah yang keluar, yaitu
Minimal / ringan 350 ml, Sedang 350 ml - 1500 ml dan masif terjadi
bila perdarahan di atas 1.500 cc.
Sebagai patokan bila darah yang dikeluarkan secara cepat dari
selang dada sebanyak 1.500 ml, atau bila darah yang keluar lebih
dari 200 ml tiap jam untuk 2 sampai 4 jam, atau jika membutuhkan

JOKO WIBOWO S
(012116424)

LBM 5 KEGAWATDARURATAN MEDIK


transfusi

darah

terus

menerus,

eksplorasi

bedah

herus

dipertimbangkan.
Wim De jong, Sjamsuhidajat. Buku ajar Ilmu Bedah; Edisi 2.
EGC. Jakarta. 2005. Hal 93-95.