Anda di halaman 1dari 17

REVISI

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL II


Topik

: RESIN KOMPOSIT

Kelompok

: B10

Tgl. Praktikum : 15 Oktober 2014


Pembimbing

: Dr.Elly Munadziroh, drg., MSi

No. Nama

NIM

ZULFA F PRANADWISTA

021311133105

DEA AISYAH

021311133107

MEIDIANA ADININGSIH

021311133108

DINDA KHAIRUNNISA R

021311133109

JERRY SAIFUDIN

021311133110

DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2014

1.

TUJUAN

1.1.

Melakukan manipulasi komposit secara tepat.

1.2.

Mengetahui perbedaan kekerasan hasil polimerisasi resin komposit berdasarkan


pengamatan.

2.

LANDASAN TEORI

Resin komposit digunakan untuk menggantikan struktur gigi yang hilang dan
memodifikasi kontur dan warna gigi sesuai dengan gigi asli, sehingga meningkatkan
estetika wajah. (Craig 2002, 232 )
Resin komposit juga digunakan sebagai bahan pengisi anterior dan posterior.
Produk dengan komposisi yang sama juga diterapkan sebagai pit dan fissure sealant,
composites luting (misalnya, untuk luting keramik dan restorasi komposit tidak
langsung), memasang selubung mahkota dan perlekatan ortodontik. Selanjutnya resin
komposit digunakan untuk mahkota sementara dan bridge dan yang paling baru sealer
untuk saluran akar. (Schmalz 2009, 99)

Gambar 1. Tipe restorasi dan komposit yang direkomendasikan


Sumber: craig (233)

Resin komposit secara umum

memiliki

empat komponen utama: matriks

organik polimer, partikel pengisi anorganik, bahan penghubung, dan sistem inisiatorakselerator. Matriks polimer organik pada sebagian besar komposit berupa oligomer

aromaticor urethane diacrylate. Cairan Oligomerase mempunyai viskositas kental.


Partikel anorganik yang tersebar dapat terdiri dari beberapa bahan anorganik seperti
kaca atau kuarsa (partikel halus) atau silika koloid (partikel microfine). Diagram dua
dimensi halus dan partikel microfine dikelilingi oleh matriks polimer. Coupling agent
pada resin komposit ialah organosilane yang di aplikasikan pada partikel anorganik
sebelum dicampur dengan oligomer yang tidak bereaksi. Organisalane yang
mengandung gugus fungsional seperti metoksi yang menghidrolisis dan bereaksi dengan
filler anorganik, dan juga kelompok organic tak jenuh yang bereaksi dengan oligomer
selama proses polimerisasi. (Craig 2002, 233)

2.1.

Klasifikasi Resin Komposit

2.1.1. Berdasarkan ukuran partikel filler


Small (Fine) Particle Composite (Anusavice 2013, 281)

Ukuran partikel antara 0,1 hingga 10 m.

Lebih mudah dipoles.

Beban filler 77%-88% lebih tinggi dari pada komposit macrofilled.

Cocok untuk restorasi region anterior.

Microfilled Composite (Anusavice 2013, 281-282)

Partikel koloid silica anorganik dengan ukuran 0,01 0,1 m yang tertanam di
dalam partikel filler resin dengan ukuran 5-50 m.

Memiliki luas permukaan yang sangat besar karena ukuran partikel yang sangat
kecil, yaitu antara 50-400 m2 per gram.

Viskositas tinggi dan sulit untuk dimanipulasi

Sangat mudah dipoles

Kekuatan lemah, sehingga tidak cocok utnuk permukaan dengan tekanan yang
tinggi.

Cocok untuk restorasi kelas III dan V

Hybrid Composite (Anusavice 2013, 283)

Partikel filler merupakan campuran antara microfine dan fine untuk


mendapatkan perpaduan permukaan yang halus dan kekuatan yang tinggi.

2.1.2. Berdasarkan Karakteristik Manipulasi


Flowable Composite (Anusavice 2013, 285)

Modifikasi komposit small paricle dengan komposit hybrid.

Memiliki viskositas yang rendah karena beban filler yang berkurang, sehingga
mudah mengisi celah-celah kavitas.

Cocok digunakan sebagai based dan liner cavity, khususnya pada restorasi kelas
I dan II.

Dapat pula digunakan sebagai pit and fissure sealant.

Condensable (Packable) Composite (Anusavice 2013, 286)

Memiliki konsistensi yang plastis.

Memiliki working time yang cukup lama.

Dapat dikondensasi utnuk meningkatkan kekuatan.

2.1.3. Berdasarkan aktivasi atau inisiasi


a. Light-Cured Komposit
Tersedia dalam berbagai variasi warna, jarum suntik, dan compules. Jarum
suntik terbuat dari plastik buram berfungsi

untuk melindungi bahan dari

paparan cahaya sehingga dapat bertahan lama dalam penyimpanan. Jika dikemas
sebagai compules, kompiler ditempatkan di ujung jarum suntik, dan pasta
diekstrusi setelah ujung pelindung dibuka. Keuntungan dari compules adalah
kemudahan penempatan pasta komposit, serta penurunan infeksi silang.
b. Self-Cured Komposit
Self- and composites dual-cured biasanya dikemas dalam jarum suntik untuk
tabung pasta dan katalis dan memerlukan pencampuran. (Craig 2002, 236-237)

2.2.

Reaksi Setting

Material resin komposit yang paling sering digunakan adalah material resin komposit
aktivasi cahaya atau light-cure komposit. Resin komposit aktivasi cahaya menggunakan
champoroquinon sebagai photosensitizer untuk menyerap cahaya biru dengan panjang
gelombang 400 sampai 500 nm. Champoroquinon yang telah menyerap cahaya
kemudian membentuk excited-state complex (exciplex) dengan donor electron dari
senyawa

amin

seperti

dimetilaminoetil

metakrilat

(DMAEMA)

membentuk

(DMAEMA:)2CQ . Struktur gabungan antara champoroqunina antara DMAEMA ini


selanjutnya memisahkan diri masing-masing membentuk dua buah radikal bebas yang
siap untuk menginisiasi reaksi polimerisasi adisi. (Anusavice 2013, 289)
3

2.3.

Pengaruh Intensittas Cahaya dan Ketebalan Restorasi


Intensitas cahaya menurun saat cahaya dijauhkan dari suatu obyek. Penetrasi

cahaya yang masuk ke dalam restorasi komposit tergantung pada panjang gelombang
cahaya, pancaran yang dihasulkan serta hamburan cahaya yang diterima oleh restorasi.
Intensitas cahaya pada permukaan restorasi merupakan faktor penting dalam
kesempurnaan proses kuring. Jarak minimal cahaya degnan permukaan restorasi yang
diharuskan untuk mendapatkan hasil yang optimal adalah 1 mm. Waktu standar utntuk
proses kuring adalah 20 detik. Pada dasarnya, ini cukup digunakan untuk restorasi
dengan ketebalan 2 hingga 2,5 mm. (Sakaguchi 2012, 179) Jika kavitas yang akan
direstorasi memiliki ukuran yang besar, waktu kuring harus ditingkatkan untuk
mendapatkan komposit dengan polimerisasi yang sempurna. (Mc Cabe 2008, 204)

3.

CARA KERJA

3.1.

Bahan

a. Resin Komposit aktivasi sinar tampak (light activated resin composite), bentuk
sediaan pasta tunggal
b. Vaselin

A
C
D

B
F

Gambar 3.1. Alat dan bahan yang digunakan. A. resin komposit, B. plat kaca, C. sonde,
D. plastic filling instrument, E. cetakan, F. pemberat
3.2.

Alat

a. Cetakan teflon ukuran diameter 4 mm, tebal 2 mm dan tebal 5 mm


b. Plat kaca
c. Celluloid strip
d. Plastic filling
4

e. Light curing unit (halogen atau LED)


f. Sonde
g. pemberat

Gambar 3.2. A. light curing unit, B. pengukur panjang gelombang sinar.

3.3.

Langkah kerja
Untuk cetakan teflon tinggi 2 mm, dilakukan penyinaran dengan jarak 0 mm dan
10 mm.
Untuk cetakan teflon tinggi 5 mm, dilakukan penyinaran dengan jarak 0 mm dan
10 mm.

a. Semua alat dan bahan yang akan di gunakan disiapkan terlebuh dahulu
b. Permukaan cetakan teflon di olesi dengan vaselin, kemudian diletakkan diatas
lempeng kaca yang telah dilapisi celluloid strip bagian bawahnya.
c. Bahan tumpatan resin komposit dikeluarkan dari tube, kemudian dimasukkan
sedikit demi sedikit ke dalam cetakan teflon tinggi 2 mm memakai plastic filling.
Cetakan diisi hingga terisi penuh dengan resin komposit tanpa ada rongga.
d. Light curing halogen di lakukan pengecekan intensitas sinar terlebih dahulu
sebelum di gunakan. Pengecekan dapat dilakukan menggunakan cure light meter
(antara 400-500 nm). Bila menggunakan LED, intensitas sinar dilakukan
pengecekan dengan cara menempelkan light tip pada perangkat yang tersedia.

e. Celluloid strip diletakkan diatas cetakan teflon yang telah berisi resin komposit,
kemudian diberi pemberat berupa model kerja selama 30 detik, ujung alat curing
(light tip) ditempelkan pada celluloid strip dan di sinar selama 25 detik.
f. Resin komposit yang telah berpolimerisasi atau mengeras dilakukan pengecekan
dengan cara melepas celluloid strip dari permukaan cetakan.
g. Hasil kekerasan permukaan yang terkena light tip alat curing langsung (0 mm)
dibedakan dengan permukaan yang jauh dari light tip alat curing (10 mm)
dengan cara digores dengan sonde.
h. Tahap a-g diulangi pada cetakan dengan tinggi 5 mm
i. Pada ketebalan cetakan 8 mm saat mengisi cetakan dengan resin komposit
dilakukan dengan cara membuat 4 layer. Setiap terisi satu layer, resin di ratakan
dengan menggunakan ujung sonde yamg tumpul. Setelah itu baru dilakukan
penyinaran. Proses ini dilakukan hingga layer ke 4.

4.

HASIL PRAKTIKUM

Tabel 3.1. Tabel konsistensi resin komposit stelah proses polimerisasi dengan berbagai
perlakuan.

No

Diameter
Cetakan

Jarak light tip alat


curing
0 mm

1.

2 mm

652 nm

10
mm

Keterangan
0 mm

10 mm

Atas

Bawah

182nm

Mengeras
sempurna

Keras, namun
masih sedikit
berbekas saat
diuji dengan
sonde

2.

5 mm

654 nm

196nm

Mengeras
sempurna

3.

8mm
(sempit)

698 nm

Mengeras
sempurna

Atas
Masih banyak
berbekas saat
diuji dengan
sonde.

Bawah

Lunak

Lebih lunak

Masih banyak
berbekas saat diuji
dengan sonde.

Sangat
Lunak

Lunak

658 nm (I)
4.

8mm
(lebar)

678 nm (II)
582 nm (III)

- Tidak ada celah


- Mengeras sempurna

694 nm (IV)

Pada percobaan menggunakan light tip alat curing dengan jarak

0 mm

didapatkan empat hasil percobaan. Percobaan pertama menggunakan diameter cetakan 2


mm dan intensitas sinar 652 nm didapatkan hasil yang masih sedikit meninggalkan
bekas saat diuji dengan sonde pada bagian bawah cetakan dan keras pada bagian atas
cetakan. Percobaan kedua menggunakan diameter cetakan 5 mm dan intensitas sinar
654 nm didapatkan konsistensi permukaan bawah lebih lunak dibandingkan dengan
cetakan ber-diameter 2 mm. Percobaan ketiga menggunakan cetakan ber-diameter 8mm
tetapi lubangnya sempit dan intensitas sinar 698 nm didapatkan konsistensi yang lunak
baik bagian atas cetakan maupun bagian bawah cetakan. Sedangkan percobaan terakhir
dengan menggunakan cetakan ber-diameter 8 mm, dibagi menjadi empat layer, layer
pertama dengan intensitas sinar 658 nm, layer kedua dengan menggunakan intensitas
sinar 678 nm, layer ketiga dengan menggunakan intensitas sinar 582 nm, dan layer
keempat dengan menggunakan intensitas sinar 694 didapatkan hasil yang mengeras
sempurna serta tidak ada celah antara layer satu dengan yang lain karena ditekan
dengan ujung sonde yang tumpul.

Gambar 4.1. Hasil resin komposit yang telah dikuring di dalam cetakan.
Pada percobaan menggunakan light tip alat curing 10 mm didapatkan dua hasil
percobaan. Percobaan pertama dengan menggunakan diameter cetakan 2mm dan

intensitas sinar 182 nm didapatkan hasil pada bagian atas sudah keras tetapi masih
meninggalkan bekas yang cukup dalam saat diuji dengan sonde dan bagian bawah yang
masih lunak. Percobaan kedua dengan menggunakan diameter 5 mm dan intensitas sinar
196 nm didapatkan hasil yang masih sangat lunak baik pada bagian atas maupun bagian
bawah.
5.

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan manipulasi resin komposit dengan tiga variasi

ketebalan dan dua variasi jarak penyinaran, serta intensitas yang berbeda. Waktu
penyinaran tetap yaitu 25 detik. Pada manipulasi dengan jarak penyiaran 0 mm yang
pertama dengan ketebalan 2 mm dan intensitas sinar 652 nm, hasil yang didapatkan
menunjukan bagian atas mengeras dengan sempurna dan di bagian bawah sedikit
menghasilkan berbekas saat diuji dengan sonde. Hal ini hampir sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa light cured dapat menembus dan mengeraskan resin komposit
dengan sempurna pada ketebalan 2 mm. Pada manipulasi yang kedua dengan ketebalan
5 mm, dan intensitas sinar 654 nm, didapatkan bagian atas mengeras dengan sempurna,
dan sisi bawah masih agak lunak. Pada manipulasi yang kedua ini, sisi bawah cetakan
yang lunak disebabkan oleh sinar tidak mampu menembus ketebalan resin komposit
lebih dari 3 mm dalam waktu kurang dari 40 detik, sehingga radikal bebas yang
dihasilkan dari proses penyinaran kurang mencukupi untuk membantu proses
polimerisasi resin komposit di bagian bawah cetakan.
Pada manipulasi yang ketiga dengan ketebalan resin komposit 8 mm dan
intensitas penyinaran 698 nm, sinar lampu LED yang digunakan tidak dapat menembus
ketebalan 8 mm secara langsung dalam waktu 25 detik sehingga didapatkan hasil di
bagian atas sudah mengeras dan di bagian bawah cetakan masih lunak. Sinar yang
digunakan dalam percobaan ini tidak dapat menembus resin komposit hingga bagian
dasar, sehinggga pada bagian dasar hanya dihasilkan sedikit atau bahkan tidak sama
sekali radikal bebas untuk membantu proses polimerisasi.
Penyinaran bertahap dilakukan pada percobaan ini yaitu dengan ketebalan 8
mm, dan jarak sinar 0 mm. Proses penyinaran berlapis ini dilakukan dengan perhitungan
bahwa sinar dapat menembus sempurna ketebalan 2 mm sehingga pada ketebalan 8 mm
dilakukan minimal 4 kali proses penyinaran, dengan perkiraan komposit yang telah
masuk tiap lapisnya setebal 2 mm. Pada penyinaran lapisan pertama menggunakan

intensitas 658 nm, dengan waktu tetap tiap penyinaran yaitu 25 detik, sebelum
penyinaran resin komposit dilakukan kondensasi sampai semua celah terisi oleh resin
komposit, sama seperti penyinaran langsung tetap memakai celluloid strip diatasnya dan
dilakukan penyinaran. Cara ini dilakukan terus pada tiap tahap. Kemudian dilakukan
pelapisan yang kedua dengan intensitas sinar 678 nm, pada penyinaran lapisan ketiga
dengan intensitas sinar 582 nm, dan penyinaran pada lapisan keempat dengan intensitas
sinar 694 nm. Hasil yang didapatkan adalah sisi atas dan bawah cetakan mengeras
dengan sempurna tanpa ada celah. Hal ini membuktikan bahwa melakukakan
penyinaran secara berlapis dapat memaksimalkan radikal bebas yang diperlukan untuk
polimerisas di setiap bagian pada restorasi dengan ketebalan yang lebih dari 2- 3 mm,
walaupun membutuhkan waktu yang lebih lama.
Pada manipulasi berikutnya dengan variasi ketebalan yang sama, waktu yang
sama namun jarak penyinarandiubah menjadi 10 mm dan intensitas sinar tiap
penyinaran berbeda. Pada manipulasi pertama dengan ketebalan 2 mm, dan intensitas
sinar 182 nm, didapatkan hasil pengerasan yang kurang sempurna di bagian atas,
dibuktikan dengan masih adanya bekas saat dilakukan pengujian dengan sonde dan di
sisi bawah cetakan masih cukup lunak. Pada percobaan degan ketebalan 5 mm dengan
intensitas sinar 196 nm, didapatkan hasil pada sisi atas cetakan masih didapatkan bekas
yang cukup dalam dengan pengujian menggunakan sonde dan pada sisi bawah masih
sangat lunak. Hasil-hasil pada percobaan dengan jarak penyinaran 10 mm dapat
dipengaruhi oleh ketebalan resin komposit dan jarak sinar. Dengan jarak sinar 10 mm
secara otomatis intensitas yang dihasilkan pun akan semakin kecil, sehingga sinar yang
menginisiasi reaksi sangat kurang mencukupi untuk menghasilkan radikal bebas yang
akan digunakan untuk proses polimerisasi atau pengerasan.

6.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum dan analisa yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan
sebagai berikut:

Jarak cahaya dan permukaan restorasi yang semaikin jauh menghasilkan


intensitas cahaya yang semakin kecil.

Material restorasi resin komposit yang dimanipulasi dengan intensitas cahaya


yang semakin kecil menyebabkan radikal bebas yang dihasilkan untuk proses
polimerisasi atau pengerasan semakin kecil dari pada intensitas cahaya yang
lebih besar

Material restorasi resin komposit yang dimanipulasi dengan ketebalan restorasi


yang semakin tebal menyebabkan radikal bebas yang dihasilkan pada
permukaan paling bawah semakin sedikit dari pada ketebalan restorasi yang
lebih tipis.

10

7. DAFTAR PUSTAKA
Annusavice K. J. 2013. Philips Science of Dental Materials. 12th ed. St Louis :
Elsevier Saunders. pp. 281-289.
Craig, Robert J, Powers JM. 2002. Restorative Dental Material. 11th .Mosby:
London. Pp 232-236
Mc Cabe, J.F dan A.W.G. Walls. Applied Dental Material. 9th ed. 2008.
Blackwell Science publ. pp 204.
Sakaguchi RL, Powers JM. 2013. Craigs Restorative Dental Materials. 13th ed.
Philadelphia: Elsevier. p. 236-237.
Schmalz GD dan Bindslev DA. 2009. Biocompatibility of Dental Materials.
Berlin: Springer. P. 99

11

12

13

14

15

16

Anda mungkin juga menyukai