Anda di halaman 1dari 26

REFERAT RADIOLOGI

TUMOR PARU

Oleh:
Alam Indramawan M, S. Ked

09700090

Ketut Aditya Raharja, S. Ked

09700224

Pembimbing:
dr. Budi Suhariyanto, Sp. Rad

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
RSUD BANGIL
2014
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada umumnya tumor paru terbagi atas tumor jinak (5%) antara lain adenoma,
hamartoma dan tumor ganas (90%) adalah karsinoma bronkogenik. Kanker paru atau
Karsinoma bronkus, tumor primer paru yang paling sering hampir 95%. Kanker paru
adalah pembunuh nomor satu diantara pria di USA. Namun, kanker paru ini meningkat
dengan angka yang lebih besar pada wanita dibanding pada pria dan sekarang melebihi
kanker payudara sebagai penyebab paling umum kematian akibat kanker pada wanita.1
Pada hampir 70% pasien kanker paru mengalami penyebaran ketempat limfatik
regional dan tempat lain pada saat di diagnosis. Sebagai akibat, angka survival pasien
kanker paru adalah rendah. Bukti-bukti menunjukkan bahwa karsinoma cenderung
untuk timbul ditempat jaringan parut sebelumnya (tuberculosis, fibrosis) dalam paru.
Sebagian besar kanker paru berasal dari sel-sel di dalam paru; tetapi kanker paru bisa
juga berasal dari kanker di bagian tubuh lainnya yang menyebar ke paru. Kanker paru
merupakan kanker yang paling sering terjadi, baik pada pria maupun wanita
Dugaan meningkat pada mereka yang merupakan bagian dari kelompok resiko
tinggi yaitu, apakah pasien merokok, apakah pasien telah terpapar dengan suatu bahan
berbahaya dalam pekerjaannya, dan pernakah pasien menderita fibrosis paru kronis.
Kebanyakan kasus kanker paru dapat dicegah jika merokok dihilangkan.
Di Amerika Serikat Kanker Paru adalah penyebab kematian kedua diantara semua
macam kanker. Kanker Paru bahkan menyebabkan kematian melebihi kanker payudara,
kanker prostat dan kanker usus besar, apabila kematian ketiga macam kanker ini
bersama-sama dihitung.1

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

Keganasan di rongga thorak mencakup kanker paru, tumor mediastinum,


metastasis tumor paru dan keganasan di pleura. Kanker paru dalam arti luas adalah
semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri
(primer) maupun metastasis tumor di paru.
Diagnosis sering terlambat atau Inoperable Stage, maka prognosanya jelek
dan survival rate rendah. Keluhan dan gejala hampir sama dengan penyakit paru lain,
sehingga sering tidak terpikirkan. Meningkatnya ilmu, ketrampilan dokter, alat
diagnostik dan perhatian penderita diagnosis semakin cepat. Penatalaksanaan baik
penderitaan berkurang, kualitas hidup meningkat dan ketahanan hidup lebih baik.
Deteksi dini sangat penting dan perlu di usahakan. 1
B. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui dan memahami penyakit tumor paru, terutama mengenai gambaran
radiologinya.
2. Memenuhi sebagian syarat untuk kepaniteraan klinik di bagian Radiologi RSUD
Bangil.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

A. Anatomi Fisiologi Paru


Paru-paru adalah organ pada system pernapasan (respirasi) dan berhubungan dengan
system peredaran darah (sirkulasi). Fungsinya adalah menukar oksigen dari udara dengan
karbon dioksida dari darah. Paru-paru terdiri dari organ-organ yang sangat kompleks.
Bernapas terutama digerakkan oleh otot diafragma (otot yang terletak antara dada dan perut).
Saat menghirup udara, otot diafragma akan mengerut, ruang yang menampung paru-paru
akan meluas. Begitu pula sebaliknya, saat menghembuskan udara, diafragma akan
mengembang dan paru-paru akan mengempis mengeluarkan udara. 1,2
Akibatnya, udara terhirup masuk dan terdorong keluar paru-paru melalui trakea dan
tube bronchial atau bronchi, yang bercabang-cabang dan ujungnya merupakan alveoli, yakni
kantung-kantung kecil yang dikelilingi kapiler yang berisi darah. Di sini oksigen dari udara
berdifusi ke dalam darah, dan kemudian dibawa oleh hemoglobin.
Selama hidup paru kanan dan kiri lunak dan berbentuk seperti spons dan sangat
elastic. Jika rongga thorax dibuka volume paru akan segera mengecil sampai 1/3 atau kurang.
Paru-paru terletak di samping kanan dan kiri mediastinum. Paru satu dengan yang lain
dipisahkan oleh jantung dan pembuluh-pembuluh besar serta struktur lain di dalam
mediastinum. Masing-masing paru berbentuk kerucut dan diliputi oleh pleura visceralis, dan
terdapat bebas di dalam cavitas pleuralis masing-masing, hanya dilekatkan pada mediastinum
oleh radix pulmonalis. 1,2
Setiap paru-paru memiliki :
a. Apeks : tumpul, menonjol ke atas ke dalam leher sekitar 2,5cm di atas clavicula
b. Permukaan costo-vertebral : menempel pada bagian dalam dinding dada
c. Permukaan mediastinal : menempel pada pericardium dan jantung
d. Basis pulmonis : terletak pada diafragma
Batas-batas paru :
Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

a. Apeks : atas paru (atas costae) sampai dengan di atas clavicula


b. Atas : dari clavicula sampai dengan costae II depan
c. Tengah : dari costae II sampai dengan costae IV
d. Bawah : dari costae IV sampai dengan diafragma

1. Pulmo Dexter/Paru Kanan


Pulmo dexter sedikit lebih besar dari pulmo sinister dan dibagi oleh fissura
obliqua dan fissura horizontalis pulmonis dexter menjadi tiga lobus : lobus superior,
lobus medius, dan lobus inferior. Fissura oblique berjalan dari pinggir inferior ke atas
dan ke belakang menyilang permukaan medial dan costalis sampai memotong pinggir
posterior sekitar 6,25cm di bawah apex pulmonis. Fissura horizontalis berjalan
horizontal menyilang permukaan costalis setinggi cartilage costalis IV dan bertemu
dengan fissure obliqua pada linea axillaris media.Pulmo dexter mempunyai sepuluh
segmen, yaitu lima buah segmen pada lobus superior, dua buah segmen pada lobus
medial, dan tiga buah segmen pada lobus inferior. Tiap-tiap segmen ini terbagi lagi
menjadi belahan-belahan yang bernama lobules. 1,2
Diantara lobules satu dengan yang lainnya dibatasi oleh jaringan ikat yang
berisi pembuluh darah, getah bening, dan saraf. Dalam tiap lobules terdapat sebuah
bronkeolus. Di dalam lobules, bronkeolus ini bercabang-cabang yang disebut duktus
alveolus. Tiap duktus alveolus berakhir pada alveolus yang diameternya antara 0,20,3mm.
Segmen pulmo dexter :
a. Lobus superior :
- Segmen apicale
- Segmen posterior
Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

b. Lobus medius :
c. Lobus inferior :
-

Segmen anterior
Segmen lateral
Segmen medial
Segmen apicobasal
Segmen mediobasal
Segmen anterobasal
Segmen laterobasal
Segmen posterobasal

Hilus pulmonalis dexter terdiri dari :


a.
b.
c.
d.

A. pulmonalis dextra
Bronchus principales dextra : bronchus lobaris superior, medius dan inferior
Vv. Pulmonalis dextra
Nodule lymphideus

2. Pulmo Sinister/Paru Kiri


Pulmo sinister dibagi oleh fissure oblique dengan cara yang sama menjadi dua
lobus : lobus superior dan lobus inferior. Pada pulmo sinister tidak ada fissure
horizontalis. 1,2
Segmen pulmo sinister :
a. Lobus superior :
-

Segmen apicoposterior

Segmen anterior

Segmen lingual superior

Segmen lingual inferior

b. Lobus inferior :
-

Segmen apicobasal

Segmen antero medial basal

Segmen laterobasal

Segmen posterobasal

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

Hilus pulmo sinister :


a.
b.
c.
d.

A. pulmonalis sinistra
Bronchus principales sinistra
Vv. Pumonalis sinistra
Noduli lymphoideus

Pada pulmo sinister terdapat incisura cardiac yang merupakan lengkung untuk jantung
(cardiac notch) dan impression cardiac yang lebih besar, karena 2/3 jantung terletak di
pulmo sinistra. 1,2

Gambar 1. Lobus Paru Dextra dan Sinistra

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

Gambar 2. Segmen Paru Dextra dan Sinistra

Gambar 3. Batas-batas Paru

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

Gambar 4. Gambaran Radiologi Paru Normal

B. Tumor Paru
1. Definisi Tumor Paru
Tumor adalah neoplasma pada jaringan yaitu pertumbuhan jaringan baru yang
abnormal. Paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut dan letaknya didalam
rongga dada. Jenis tumor paru dibagi untuk tujuan pengobatan, meliputi SCLC (Small
Cell Lung Cancer) dan NSLC (Non Small Cell Lung Cancer/Karsinoma Skuamosa,
adenokarsinoma, karsinoma sel besar). 1,2,3
Kanker paru adalah tumor berbahaya yang tumbuh diparu, sebagian besar
kanker paru berasal dari sel-sel didalam paru tapi dapat juga berasal dari bagian tubuh
lain yang terkena kanker.

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

Tumor paru merupakan abnormalitas dari sel sel yang mengalami proliferasi
dalam paru. Kanker paru merupakan keganasan pada jaringan paru. Karsinoma
bronkogenik adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas.4,5
2. Etiologi
Meskipun etiologi sebenarnya dari kanker paru belum diketahui, tetapi ada
beberapa faktor yang agaknya bertanggung jawab dalam peningkatan insiden kanker
paru:
a. Merokok.
Tak diragukan lagi merupakan faktor utama. Suatu hubungan statistik yang
defenitif telah ditegakkan antara perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari)
dari kanker paru (karsinoma bronkogenik). Perokok seperti ini mempunyai
kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. Selanjutnya orang
perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaannya akan kembali
ke pola resiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. Hidrokarbon
karsinogenik telah ditemukan dalam ter dari tembakau rokok yang jika dikenakan
pada kulit hewan, menimbulkan tumor.
b. Radiasi.
Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg dan
penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50 % meninggal akibat kanker paru)
berkaitan dengan adanya bahan radioaktif dalam bentuk radon. Bahan ini diduga
merupakan agen etiologi operatif.
c. Kanker paru akibat kerja.
Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel
(pelebur nikel) dan arsenic (pembasmi rumput). Pekerja pemecah hematite (paru
paru hematite) dan orang orang yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat
juga mengalami peningkatan insiden.
d. Polusi udara.

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi
dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya
karsinogen dari industri dan uap diesel dalam atmosfer di kota.
e. Genetik.
Terdapat perubahan/mutasi beberapa gen yang berperan dalam kanker paru,
yakni:
1) Proton oncogen.
2) Tumor suppressor gene.
3) Gene encoding enzyme.
f. Diet.
Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi betakaroten, selenium dan vitamin A
menyebabkan tingginya resiko terkena kanker paru. 6
3. Patofisiologi
Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ subbronkus menyebabkan
cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya
pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia, hyperplasia dan displasia.
Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia
menembus ruang pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung
pada kosta dan korpus vertebra. Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu
cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus
dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal. Gejala gejala yang timbul dapat
berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan dingin.Wheezing unilateral dapat
terdengan pada auskultasi.
Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya
metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur struktur
terdekat seperti kelenjar limfe, dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka.
Sebab-sebab keganasan tumor masih belum jelas, tetapi virus, faktor
lingkungan, faktor hormonal dan faktor genetik semuanya berkaitan dengan resiko
terjadinya tumor. Permulaan terjadinya tumor dimulai dengan adanya zat yang
bersifat intiation yang merangasang permulaan terjadinya perubahan sel. Diperlukan

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

perangsangan yang lama dan berkesinambungan untuk memicu timbulnya penyakit


tumor.
Intiation agen biasanya bisa berupa unsur kimia, fisik atau biologis yang
berkemampuan bereaksi langsung dan merubah struktur dasar dari komponen genetik
(DNA). Keadaan selanjutnya diakibatkan keterpaparan yang lama ditandai dengan
berkembangnya neoplasma dengan terbentuknya tumor, hal ini berlangsung lama
mingguan sampai tahunan.
Kanker paru bervariasi sesuai tipe sel daerah asal dan kecepatan
pertumbuhan. Empat tipe sel primer pada kanker paru adalah karsinoma epidermoid
(sel skuamosa). Karsinoma sel kecil (sel oat), karsinoma sel besar (tak terdeferensiasi)
dan adenokarsinoma. Sel skuamosa dan karsinoma sel kecil umumnya terbentuk di
jalan napas utama bronkial. Karsinoma sel kecil umumnya terbentuk dijalan napas
utama bronkial. Karsinoma sel besar dan adenokarsinoma umumnya tumbuh dicabang
bronkus perifer dan alveoli. Karsinoma sel besar dan karsinoma sel oat tumbuh sangat
cepat sehingga mempunyai progrosis buruk. Sedangkan pada sel skuamosa dan
adenokar. Paru merupakan organ yang elastis, berbentuk kerucut dan letaknya di
dalam rongga dada atau toraksinoma prognosis baik karena pertumbuhan sel ini
lambat.
4. Manifestasi Klinis
a. Lokal (tumor tumbuh setempat) :
1)
Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis
2)
Hemoptisis
3)
Mengi (wheezing / stridor) karena ada obstruksi saluran napas
4)
Kadang terdapat kavitas seperti abses paru
5)
Atelektasis
b. Invasi lokal :
1) Nyeri dada
2) Dispneu karena efusi pleura
3) Invasi ke perikardium (terjadi tamponade atau aritmia)
4) Sindrom vena kava superior
5) Sindrom Horner (anhidrosis facialis, ptosis, miosis)
6) Suara serak, karena penekanan nervus laringis rekuren
7) Sindrom Pancoast, karena invasi pada pleksus brakhialis dan saraf
simpatis servikalis

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

c. Gejala penyakit metastasis :


1) Pada otak, tulang, hati, adrenal
2) Limfadenopati servikal dan supraklavikula
d. Sindrom paraneoplastik, terdapat pada 10 % kanker paru dengan gejala :
1) Sistemik : penurunan berat badan, anoreksia, demam
2) Hematologi : leukositosis, anemia, hiperkoagulasi
3) Hipertrofi osteoartropati
4) Neurologis : demensia, ataksia, tremor, neuropati perifer
5) Neuromiopati
6) Endokrin : sekresi berlebihan hormon paratiroid (hiperkalsemia)
7) Dermatologis : eritema multiformis, hiperkeratosis, jari tabuh
8) Renal : syndrome of inappropriate antidiuretic hormone (SIADH)
e. Asimtomatik dengan kelainan radiologis
5. Pemeriksaan diagnostik
a. Radiologi.
1) Foto thorax posterior anterior (PA) dan leteral
Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker
paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi. Dapat menyatakan massa
udara pada bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi tulang rusuk atau
vertebra.
2) Bronkhografi.
Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.
3) CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.
4) MRI, untuk menunjukkan keadaan mediastinum.
b. Laboratorium.
1) Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).
Dilakukan untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma.
2) Pemeriksaan fungsi paru dan GDA
Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan ventilasi.
3) Tes kulit, jumlah absolute limfosit.
Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada kanker paru).
c. Histopatologi.
1) Bronkoskopi.
Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian, dan pembersihan sitologi lesi
(besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).
2) Biopsi Trans Torakal (TTB).
Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2
cm, sensitivitasnya mencapai 90 95 %.
3) Torakoskopi.
Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara
torakoskopi.
4) Mediastinosopi.
Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat.
5) Torakotomi.

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

Totakotomi untuk diagnostik kanker paru dikerjakan bila bermacam macam


prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor.

6. Klasifikasi Tumor Paru


a. Tumor Jinak Paru
Tumor jinak paru jarang dijumpai, hanya sekitar 2% dari seluruh tumor paru,
biasanya ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan rutin, karena tumor jinak jarang
memberikan keluhan dan tumbuh lambat sekali. Tumor jinak paru yang sering dijumpai
adalah hamartoma. Jenis tumor jinak lain yang lebih jarang dijumpai adalah fibroma,
kondroma, lipoma, hemangioma, tumor neurogenik, papiloma, leiomiofibroma, dan lainlain. 1,3
1) Hamartoma
Hamartoma merupakan tumor jinak paru yang pertambahan besarnya
berlangsung dengan sangat lambat. Tumor ini jarang didapati pada anak-anak,
biasanya di atas umur 40 tahun. Sebagian besar (90%0 ditemukan di perifer paru dan
sebagian lagi di sentral (endobronkial) dan sering terdapat di beberapa bagian paru
(multiple).
Bentuk tumor bulat atau bergelombang (globulated) dengan batas yang tegas.
Biasanya ukuran kurang dari 4 cm dan sering mengandung kalsifikasi berbentuk
bercak-bercak garis atau gambaran pop corn. Kalsifikasi ini akan bertambah dengan
bertambah besarnya tumor. Pembentukan kavitas tidak pernah terjadi. 1,3

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

Gambar 5. Hamartoma
2) Kista Paru
Terbentuknya kista paru merupakan hiperinflasi udara ke dalam parenkim paru
melalui suatu celah berupa klep akibat suatu peradangan kronis. Kista paru dapat pula
disebabkan kelainan kongenital yang secara radiologik tidak dapat dibedakan dengan
kista paru didapat (akibat peradangan). Gambaran radiologik memberi bayangan bulat
berdinding tipis dengan ukuran bervariasi. Bila kista paru lebih dari satu dan tersebar
di kedua paru dikenal sebagai paru polikistik. 1,3

Gambar 6. Kista Paru


b. Tumor Ganas Paru
Semua keganasan mengenai paru, baik berasal dari paru sendiri maupun dari
tempat lain yang bermetastasis ke paru. 1,3

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

Secara garis besar kanker paru dibagi menjadi 2 bagian yaitu Small Cel Lung
Cancer (SCLC) dan Non Small Cel Lung Cancer (NCLC).
a. Small Cell Lung Cancer (SCLC)
Kejadian kanker paru jenis SCLC ini hanya sekitar 20 % dari total kejadian
kanker paru. Namun jenis ini berkembang sangat cepat dan agresif. Apabila
tidak segera mendapat perlakuan maka hanya dapat bertahan 2 sampai 4 bulan.
(2)

b. Non Small Cell Lung Cancer


80 % dari total kejadian kanker paru adalah jenis NSCLC. Secara garis besar
dibagi menjadi 3 yaitu: . (2)

Adenocarsinoma, jenis ini adalah yang paling banyak ditemukan (40%).(2)

Karsinoma Sel Sekuamosa, banyaknya kasus sekitar 20 30 %.(4)

Karsinoma Sel Besar, banyaknya kasus sekitar 10 15 %. (2)


Sebagian besar pasien yang didiagnosa dengan NSCLC (70 80 %) sudah
dalam stadium lanjut III IV.(2)

Klasifikasi tumor ganas paru menurut Leebow adalah :


I.

Tumor ganas epitelial (Primary malignant epithelial tumours)


A. Karsinoma bronkogen
1. Epidermoid (squamous cell ca) : 45-60%.
2. Adenokarsinoma : 15%.
3. Karsinoma anaplastik : 30%.
4. Campuran (mixed).

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

III.
IV.

B. Karsinoma bronkiolar (Alveolar cell carsinoma/Pulmonary adenomatosis)


C. Adenoma bronkial
Sarkoma
A. Differentiated spindle cell sarcoma
B. Differentiated sarcoma
C. Limfosarkoma primer
Mixed epithelial and sarcomatous tumor (Carcinosarcoma)
Neoplasma asal sistem retikuloendotelial (RES) dalam paru

V.

Metastasis pada paru

II.

Sebagian besar (45-60%) tumor ganas paru termasuk karsinoma bronkogen


adalah jenis epidermoid. Agaknya insiden karsinoma paru mempunyai kecenderungan
meningkat, mungkin berhubungan dengan meningkatnya polusi udara dan mental
stress yang sering dihubung-hubungkan. Salah satu pendekatan diagnosis dini adalah
pemeriksaan radiologik. 3
Dikatakan karsinoma epidermoid ditemukan terutama pada laki-laki dengan
rasio 10-20 banding 1 dengan golongan umur terbanyak pada 60 tahun. Karsinoma
epidermoid dapat mengalami nekrosis dan membentuk kavitas; tumor ini dapat
menjalar melalui hematogen pada stadium lanjut.
Adenokarsinoma lebih sering ditemukan pada wanita dan letaknya sering di
perifer paru, kadang-kadang di sentral, perkembangan jenis tumor ini cepat dan cepat
bermetastasis melalui hematogen atau limfogen.
Karsinoma anaplastik sering ditemukan sentral dengan pembesaran kelenjar
hilus dan metastasis melalui saluran limfe, oleh karena itu sering dianggap suatu
limfosarkoma. Jenis ini jarang mengalami nekrosis dan membentuk kavitas.
Karsinoma sel alveolar bersifat multilokal tetapi beberapa penyelidik
menganggap fokus tunggal (single focus) dengan cepat menjalar secara limfogen.
Ada 2 bentuk yaitu :
1. Bentuk noduler
2. Bentuk difus yang secara radiologik menyerupai konsolidasi pneumonia

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

Adenoma bronkial digolongkan ke dalam tumor ganas karena bermetastasis


secara limfogen, tetapi prognosisnya lebih baik dibanding tumor ganas paru lain
meskipun pada operasi sudah ditemukan metastasis ke kelenjar hilus. Tumor ini
terjadi pada umur relatif muda dan frekuensi pada wanita lebih daripada laki-laki (five
years survival rate 90% atau lebih).
Gambaran radiologik
Pemeriksaan radiologik untuk mencari tumor ganas bermacam-macam antara
lain bronkografi invasif, CT-Scan dengan pesawat yang canggih, tetapi pemeriksaan
radiologik konvesional (toraks PA, lateral, fluoroskopi) masih tetap mempunyai nilai
diagnostik yang tinggi, meskipun kadang-kadang tumor itu sendiri tidak terlihat tetapi
kelainan sebagai akibat adanya tumor akan sangat dicurigai ke arah keganasan,
misalnya kelainan emfisema setempat, atelektasis, peradangan sebagai komplikasi
tumor atau akibat bronkus terjepit dan pembesaran kelenjar hilus yang unilateral.
Efusi pleura yang progresif dan elevasi diafragma (paralisis nervus frenikus) juga
perlu dipertimbangkan sebagai akibat tumor ganas paru). 3
1) Atelektasis
Gambaran perselubungan padat akibat hilangnya aerasi yang disebabkan
sumbatan bronkus oleh tumor, dapat terjadi secara segmental, lobaris, atau
seluruh hemitoraks. Gambaran atelektasis yang disebabkan oleh penyumpatan
bronkus lainnya. 3

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

Gambar 7. Atelektasis
2) Pembesaran hilus unilateral
Suatu perbedaan besar hilus antara kedua hilus atau perbedaan besar hilus
dengan foto-foto sebelumnya perlu dicurigai adanya suatu tumor dan perlu penelitian
bronkus dengan tomografi atau bronkoskopi. 3

Gambar 8. Pembesaran hilus unilateral


3) Emfisema lokal (setempat)
Penyumbatan sebagian lumen bronkus oleh tumor akan menghambat
pengeluaran udara sewaktu ekspirasi sehingga terjadi densitas yang rendah atau
emfisema setempat dibandingkan daerah lain.

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

Karsinoma bronkogen jenis anaplastik sering mengenai bronkus utama yang


mengakibatkan pelebaran mediastinum. Keadaan ini sukar dibedakan dengan limfoma
maligna. 3

Gambar 9. Emfisema lokal (setempat)


4) Kavitas atau abses yang soliter
Suatu kavitas soliter dengan tanda infeksi yang tidak berarti terutama pada
orang berusia lanjut, perlu dipikirkan suatu karsinoma bronkogen jenis epidermoid.
Biasanya dinding kavitas tebal dan irregular. 3

Gambar 10. Foto Thorax Posisi Lateral, tampak adanya cavitas dengan air-fluid level
yang merupakan karakteristik dari abses paru.
5) Pneumonitis yang sukar sembuh
Peradangan paru sering disebabkan aerasi tidak sempurna akibat sumbatan
sebagian bronkus dan pengobatan dengan antibiotik umumnya tidak memberikan
hasil yang sempurna atau berulang kembali peradangannya. Sering setelah

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

peradangan berkurang, di daerah peradangan berkurang, di daerah peradangan terlihat


gambaran massa yang sangat dicurigai sebagai keganasan paru. 3
6) Nodul soliter pada paru
Bayangan nodul pada paru berukuran beberapa milimeter sampai 4 cm atau
lebih dan tidak mengandung kalsifikasi harus diutamakan pada kecurigaan sebagai
karsinoma bronkogen terutama pada usia di atas 40 tahun.
Bayangan nodul sering menjadi masalah perdebatan dalam hal menentukan
keganasan. Ada pendapat mengatakan bahwa sifat nodul yang ganas batasnya tidak
jelas, apalagi berbenjol-benjol atau adanya nodul-nodul kecil sekitarnya sebagai
gambaran satelit atau adanya gambaran kaki-kaki infiltrasi yang berasal dari nodul
tersebut (pseudopodi). 3

Gambar 11. Bentuk nodul dengan kaki (pseudopodi)


Bercak kalsifikasi dalam nodul sering dinyatakan sebagai proses jinak. Bila
suatu nodul tidak terlihat adanya kalsifikasi, maka perlu dilakukan pemeriksaan
tomografi untuk memastikan adanya kalsifikasi di dalamnya; tetapi nodul yang ganas
bisa berkalsifikasi di dalamnya. Keadaan ini dapat terjadi bila tumor ganas tumbuh
sekitar sisa proses peradangan lama atau sisa efek primer (Ghon tubercle). Dapat pula

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

terjadi pada tumor ganas yang memang mengalami kalsifikasi, meskipun keadaan ini
jarang terjadi.

7) Efusi pleura
Adanya gambaran cairan dalam rongga pleura yang cepat bertambah
(progresif) atau bersamaan ditemukan bayangan massa dalam paru, perlu
dipertimbangkan suatu keganasan paru yang sudah bermetastasis ke pleura. Biasanya
cairan pleura tersebut terdiri atas cairan darah. 3

Gambar 12. Efusi pleura


8) Elevasi diafragma
Letak tinggi diafragma sesisi dengan bayangan massa tumor yang diakibatkan
kelumpuhan nervus frenikus dapat diperlihatkan pada pemeriksaan fluoroskopi di
mana pergerakan diafragma berkurang atau tak ada sama sekali.3

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

Gambar 13. Elevasi diafragma

9) Perselubungan dengan destruksi tulang sekitarnya


Suatu perselubungan padat terutama dipuncak paru dengan gambaran
destruksi tulang iga atau korpus vertebra sekitarnya merupakan tumor ganas primer
pada paru (sulkus superior) yang lanjut yang dikenal sebagai tumor Pancoast, klinis
disertai dengan sindroma Horner.3

Gambar 14. Tumor pancoast, perselubungan padat di paru kanan atas dengan destruksi
tulang iga I-II kanan.
10) Metastasis paru
Paru merupakan salah satu alat tubuh yang sering dihinggapi penyebaran
tumor ganas asal tempat lain. Penyebaran dapat melalui hematogen dan limfogen. 3
a) Metastasis hematogen

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

Tumor ganas anak yang sering bermetastasis ke paru adalah tumor


Wilms, neuroblastoma, sarkoma osteogenik, sarkoma Ewing; sedangkan
tumor ganas dewasa adalah karsinoma payudara, tumor-tumor ganas alat
cerna, ginjal, dan testis.
Gambaran radiologik dapat bersifat tunggal (soliter) atau ganda
(multiple) dengan bayangan bulat berukuran beberapa milimeter sampai
beberapa sentimeter, batas tegas. Bayangan tersebut dapat mengandung
bercak kalsifikasi, misalnya pada penyebaran sarkoma osteogenik dan
kavitas dapat terbentuk meskipun jarang (5%) yang disebabkan nekrosis
iskemik.3
b) Metastasis limfogen
Penyebaran melalui saluran limfogen sering menyebabkan
pembesaran kelenjar mediastium yang dapat mengakibatkan penekanan
pada trakea, esofagus, dan vena kava superior, dengan keluhankeluhannya.3
Penyebaran juga bisa menetap di saluran limfe peribronkial atau
perivaskular yang secara radiologik memberi gambaran bronkovaskular
yang kasar secara dua sisi atau satu sisi hemitoraks atau gambaran garisgaris berdensitas tinggi yang halus seperti rambut.
Beberapa penyebaran tumor ganas misalnya karsinoma tiroid,
silidroma dan kelenjar air liur dapat menetap di paru bertahun-tahun
dengan keadaan umum yang baik.

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

a.
b.
Gambar 15: a. Metastasis Paru Hematogen

b. Metastasis Paru Limfogen

BAB III
KESIMPULAN
Tumor adalah neoplasma pada jaringan yaitu pertumbuhan jaringan baru yang
abnormal. Paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut dan letaknya didalam
rongga dada.
Kanker paru adalah tumor ganas yang tumbuh diparu, sebagian besar kanker
paru berasal dari sel-sel didalam paru tapi dapat juga berasal dari bagian tubuh lain
yang terkena kanker.
Tumor paru merupakan abnormalitas dari sel sel yang mengalami proliferasi
dalam paru. Kanker paru merupakan keganasan pada jaringan paru. Karsinoma
bronkogenik adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas.4,5
Penyebab tumor paru yakni dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/
sub bronkus menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan
karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia,
hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia,
hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa
diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra. Lesi yang letaknya sentral
berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil

dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal. Gejala gejala
yang timbul dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan dingin.

DAFTAR PUSTAKA
1. Price, Sylvia. 2004. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Volume
2 Edisi 6 Jakarta : EGC.
2. Underwood, J.C.E, (1999), Patologi Umum dan Sistematik, Edisi 2, Jakarta: EGC.
3. Sjahriar Rasad. 2011. Radiologi Diagnostik. Edisi Kedua. Badan Penerbit FKUI.
Jakarta.
4. Amin, Z. (2007). Kanker Paru. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II
Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.
5. Kligerman, S., Abbott, G. (2010). A Radiologic Review Of The New TNM
Classification Of Lung Cancer. Dari
http://www.ajronline.orgcgireprint1943562.pdf
6. Sjamsuhidajat, R., de Jong, W. (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta :
EGC.
7. Sutton, D. (1995). Buku Ajar Radiologi Untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 5.
Jakarta : Hipokrates.
8. Perhimpunsn Dokter Paru Indonesia, Kanker Paru, Pedoman Diagnosis dan
penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: 2003.

Referat Radiologi - Ketut Aditya & Alam Indramawan - RSUD Bangil