Anda di halaman 1dari 28

1

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA


PADA MATERI BANGUN RUANG DENGAN METODE
DEMONSTRASI PADA SISWA KELAS V SD N PUCOK ALUE
SA SIMPANG ULIM
NAMA
NIM
Email

: HAFSAH
: 823 527 301
: hafsah1973@gmail.com
ABSTRAK

Penelitian Perbaikan Pembelajaran ini berjudul Upaya Peningkatan Hasil


Belajar Matematika Pada Materi Bangun Ruang Dengan Metode Demonstrasi Pada
Siswa Kelas V SD N Pucok Alue Sa Simpang Ulim Aceh Timur . Adapun masalah yang
menjadi fokus kajian dalam penelitian ini adalah; Apakah Metode demonstrasi dapat
meningkatkan hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SDN Pucok Alue Sa Simpang
Ulim Aceh Timur dalam bangun ruang. Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka
tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk meningkatkan partisipasi aktif belajar
Matematika siswa kelas V SD Negeri Pucok Alue Sa Simpang Ulim Aceh Timur. Juga (2)
Untuk meningkatkan hasil belajar Matematika siswa Kelas V SD Negeri Pucok Alue Sa
Simpang Ulim.Aceh Timur. Penelitian ini dilakukan melalui proses pengkajian berdaur
(PTK) Dari hasil analisis data, kesimpulan yang diperoleh dari pengkajian ini adalah
peningkatan kemampuan siswa yang dapat dilihat dari meningkatnya nilai siswa. Pada
siklus pertama nilai anak yang mencapai KKM 9 anak (45%), nilai anak yang kurang
dari KKM 11 anak (55%). Pada siklus kedua, nilai anak yang mencapai KKM 17 anak
(85%). Terjadi peningkatan 40% pada siklus kedua. Bukti kualitatif menunjukkan: (1)
siswa lebih beminat menjalani pembelajaran (2) siswa lebih berani Metode Demonstrasi
dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa Kelas V.
Kata kunci : pembelajaran matematika, metode demonstrasi

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tingginya tuntutan masyarakat terhadap mutu lulusan pendidikan, dan
pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, secara tidak langsung
berdampak terhadap prilaku guru dalam merencanakan dan melaksanakan
pembelajaran. Dalam kondisi demikian tidak dapat dihindari adanya berbagai
perubahan dalam cara pandang dan melaksanakan pembelajaran. Sebagai contoh,
proses pembelajaran pada masa lalu dijalankan dengan cara duduk, dengar, catat

dan hafal (DDCH), menjadikan guru sebagai pusat dari segala aktifitas
pembelajaran sementara siswa menjadi objek pasif yang menunggu guru
menuangkan semua informasi.
Dalam pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian kompetensi oleh
siswa, cara pandang DDCH di atas tentu saja tidak sesuai lagi dengan cepatnya
perkembangan yang terjadi di sekitar kita. Apalagi guru menjadi satu-satunya
sumber dalam proses pembelajaran. Pada hakikatnya sebagai pendidik profesional
guru menginginkan agar para siswa mencapai hasil belajar yang tinggi, minimal
sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan.
Berdasarkan pengalaman mengajar sebagai guru kelas V, pada SD Negeri
Pucok Alue Sa terdapat beberapa masalah antara lain pemahaman siswa terhadap
pelajaran rendah, pembelajaran berlangsung kaku dan hasil belajar yang dicapai
siswa di bawah rata-rata KKM yang ditetapkan oleh sekolah. Padahal peneliti
sudah melaksanakan proses belajar mengajar dengan sungguh-sungguh. Hal ini
menimbulkan tanda tanya bagi peneliti, mengapa bisa terjadi demikian ?.
Pembelajaran yang berlangsung selama ini guru menjadi satu-satunya sumber
dalam proses pembelajaran. Apalagi Matematika merupakan pelajaran yang
membutuhkan pemahaman dan keterlibatan langsung siswa.
Melalui renungan terhadap masalah yang peneliti hadapi, timbul gagasan untuk
melaksanakan perbaikan terhadap kondisi pembelajaran yang ada, untuk itu
peneliti mengkaji kembali jurnal-jurnal penelitian tindakan kelas yang sudah ada
untuk mencari solusi terhadap masalah yang peneliti hadapi dengan menggunakan
metode yang mampu memotivasi siswa dalam belajar Sehingga pelajaran
Matematika menjadi pelajaran yang mudah dipahami dan menyenangkan bagi
siswa.
Berdasarkan permasalahan diatas peneliti mencoba mengadakan Penelitian
Tindakan Kelas dengan judul Upaya Peningkatan Hasil Belajar Matematika
Pada Materi Bangun Ruang dengan Metode Demonstrasi pada Siswa Kelas V
SD N Pucok Alue Sa Simpang Ulim
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukan diatas, maka penulis


merumuskan
masalah Penelitian sebagai berikut :
1. Apakah dengan metode demonstrasi dapat meningkatkan partisipasi aktif
belajar Matematika siswa kelas V SD Negeri Pucok Alue Sa Simpang
Ulim Aceh Timur ?
2. Apakah dengan metode Demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar
Matematika siswa Kelas V SD Negeri Pucok Alue Sa Simpang Ulim Aceh
Timur ?
C. Tujuan Penalitian Perbaikan Pembelajaran
Adapun Tujuan dari Penelitia Tindakan Kelas ini adalah sebagai berikut :
1.

Untuk meningkatkan partisipasi aktif belajar Matematika siswa kelas V

2.

SD Negeri Pucok Alue Sa Simpang Ulim Aceh Timur.


Untuk meningkatkan hasil belajar Matematika siswa Kelas V SD Negeri
Pucok Alue Sa Simpang Ulim.Aceh Timur.

D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran


Hasil penelitian Perbaikann Pembelajaran ini diharapkan dapat bermanfaat
bagi :
1. Siswa: menbantu siswa dalam meningkatkan partisipasi aktif belajar
Matematika serta dapat meningkatkan hasil belajar Matematika
2. Guru; Menemukan model pembalajaran yang tepat dan sesuai dengan
kompetensi yang diajarkan dalam upaya mengoptimalkan proses belajar
dan meningkatkan hasil belajar siswa
3. Sekolah; memiliki dokumen hasil penelitian dan memiliki guru yang
profesional dalam proses pembelajaran Matematika
4. Masyarakat Pembaca :; Sebagai bahan bacaan dalam memperbaiki
pembelajaran dan bahan referensi dalam melakukan penelitian selanjutnya.
II. KAJIAN PUSTAKA
A.

Pengertian Matematika

Matematika (dari bahasa Yunani :mathem atika) secara umum ditentukan


sebagai kajian pola dari struktur, perubahan, dan ruang, tak resminya seorang
dapat mengatakannya sebagai penulisan bilangan dan angka. Sedangkan di dalam
pandangan formalis, Matematika adalah pemeriksaan aksioma yang mengeaskan
struktur abstrak menggunakan logika simbolik dan notasi Matematika, pandangan
lain tergambar dalam filosofi Matematika.
Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikus sering mempunyai asal
dari ilmu pengetahuan alam, sangat umum di fisika, tetapi mathematikus juga
mengeaskan dan menyelidiki struktur untuk sebab hanya dalam ilmu pasti, karena
struktur mungkin menyediakan, untuk kajian, generalisasi pemersatu bagi
beberapa sub-bidang, atau alat bantu untu penghitungan biasa.
Dalam topik pembahasan Matematika, terdapat satu topik yang paling
mendasar, yaitu bagun ruang. Bangun ruang adalah subuah bagunan yang
memiliki sisi, rusuk dan titik sudut. Sisi adalah bidang atau permukaan yang
membatasi bangun ruang. Rusuk adalah garis yang merupakan pertemuan dari dua
sisi bangun ruang. Titik sudut adalah titik pertemuan dari tiga buah rusuk pada
bangun ruang.
B.
1.

Pengertian dan Prinsip-Prinsip Pendekatan Keterampilan Proses


Pengertian
Pendekatan keterampilan proses pada hakikatnya adalah suatu pengelolaan

kegiatan belajar-mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan
kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar (Semiawan, 1992). Pendekatan
keterampilan proses ini dipandang sebagai pendekatan yang oleh banyak pakar
paling sesuai dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah dalam rangka
menghadapi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang semakin cepat dewasa ini.
Sumatowa

(2006:

138)

mengemukakan

bahwa

keunggulan

keterampilan proses didalam proses pembelajaran, antara lain :

pendekatan

a. Siswa terlibat langsung dengan objek nyata sehingga dapat dengan mudah
pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
Siswa menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari.
Melatih siswa untuk berfikir lebih kritis.
Melatih siswa untuk bertanya dan terlibat lebih aktif dalam pembelajaran.
Mendorong siswa untuk menemukan konsep-konsep baru.
Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menggunakan metode

b.
c.
d.
e.
f.

ilmiah.
2.

Pendekatan Keterampilan Proses

Menurut (Semiawan, 1992), terdapat sepuluh keterampilan proses yaitu : (1)


kemampuan mengamati, (2) kemampuan menghitung, (3) kemampuan mengukur,
(4) kemampuan mengklasifikasi, (5) kemampuan menemukan hubungan, (6)
kemampuan membuat prediksi (ramalan), (7) Kemampuan melaksanakan
penelitian (percobaan), (8) kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data, (9)
kemampuan menginterpretasikan data, dan (10) kemampuan mengkomunikasikan
hasil.
a.

Mengamati :
Mengamati merupakan salah satu keterampilan yang sangat penting untuk

memperoleh pengetahuan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam


pengembangan ilmu pengetahuan. Kegiatan ini tidak sama dengan kegiatan
melihat. Pengamatan dilaksanakan dengan memanfaatkan seluruh panca indera
yang mungkin biasa digunakan untuk memperhatikan hal yang diamati, memilahmilah bagiannya berdasarkan kriteria tertentu, juga berdasarkan tujuan
pengamatan, serta mengolah hasil pengamatan dan menuliskan hasilnya.
b.

Kemampuan Menghitung :

Kemampuan menghitung dalam pengertian yang luas, merupakan salah satu


kemampuan yang penting dalam kehidupan sehari-hari dapat dikatakan bahwa
dalam semua aktivitas kehidupan manusia memerlukan kemampuan ini.
c.

Kemampuan Mengukur :
Dalam pengertian yang luas, kemampuan mengukur sangat diperlukan

dalam kehidupan sehari-hari, dimana seseorang dapat mengetahui sesuatu yang


diamatinya dengan mengukur apa yang diamatinya.
d.

Kemampuan Mengklasifikasi :

Kemampuan mengklasifikasi merupakan kemampuan mengelompokkan atau


menggolongkan sesuatu yang berupa benda, fakta, informasi, dan gagasan.
Pengelompokkan ini didasarkan pada karakteristik atau ciri-ciri yang sama dalam
tujuan tertentu, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan
ilmu pengetahuan.
e.

Kemampuan Menemukan Hubungan.

Kemampuan ini merupakan kemampuan penting yang perlu dikuasai oleh siswa.
Yang termasuk dalam kemampuan ini adalah : fakta, informasi, gagasan,
pendapat, ruang, dan waktu. Kesemuanya merupakan variabel untuk menentukan
hubungan antara sikap dan tindakan yang sesuai.
f.

Kemampuan Membuat Prediksi (Ramalan).

Ramalan yang dimaksud di sini bukanlah sembarang perkiraan, melainkan


perkiraan yang mempunyai dasar atau penalaran. Kemampuan membuat ramalan
atau perkiraan yang di dasari penalaran baik dalam kehidupan sehari-hari maupun
dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam teori penelitian, kemampuan
membuat ramalan ini disebut juga kemampuan menyusun hipotesis. Hipotesis
adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau
pengamatan tertentu. Dalam kerja ilmiah, seorang ilmuwan biasanya membuat
hipotesis yang kemudian diuji melalui eksperimen
C.

Alat Peraga

Pengertian alat peraga menurut Estiningsih (1994) adalah media pembelajaran


yang mengandung atau membawakan ciri-ciri dari konsep yang dipelajari. Alat
peraga merupakan salah satu faktor untuk mencapai efisiensi hasil belajar (Moh.
Surya, 1992: 75).
Fungsi dari alat peraga ialah memvisualisasikan sesuatu yang tidak dapat dilihat
atau sukar dilihat, hingga nampak jelas dan dapat menimbulkan pengertian atau
meningkatkan persepsi seseorang (R.M. Soelarko, 1995: 6).
Ada enam fungsi pokok dari alat peraga dalam proses belajar mengajar yang
dikemukakan oleh Nana Sudjana dalam bukunya Dasar-dasar Proses belajar
mengajar (2002: 99-100):

a. Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar bukan merupakan


fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantu
untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif;
b. Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseluruhan
situasi mengajar;
c. Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan
isi pelajaran;
d. Alat peraga dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan atau bukan
sekedar pelengkap;
e. Alat peraga dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat
proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap
pengertian yang diberikan guru;
f. Penggunaan alat peraga dalam

pengajaran

diutamakan

untuk

mempertinggi mutu belajar mengajar Dalam menggunakan alat peraga


hendaknya

guru

memperhatikan

sejumlah

prinsip

tertentu

agar

penggunaan alat peraga tersebut dapat mencapai hasil yang baik. Prinsipprinsip ini adalah sebagai berikut (Nana Sudjana,2002: 104-105):
a. Menentukan jenis alat peraga dengan tepat, artinya sebaiknya guru
memilih terlebih dahulu alat peraga manakah yang sesuai dengan
tujuan dan bahan pelajaran yang hendak diajarkan;
b. Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat, artinya perlu
diperhitungkan tingkat kemampuan/kematangan anak didik;
c. Menyajikan alat peraga dengan tepat;
d. Menempatkan dan memperlihatkan alat peraga pada waktu, tempat,
dan situasi yang tepat.
Dalam penelitian ini, alat peraga berasal dari bahan kardus dibuat oleh
siswa sesuai dengan petunjuk-petunjuk guru terkait dengan pembelajaran dalam
bangun ruang sisi datar. Misalnya,siswa ditugaskan balok, kubus, prisma dan
limas dengan bahan kardus yang tidak terpakai. Pembuatan ini menggunakan
ukuran yang telah ditentukan oleh guru melalui petunjuk pembuatan tugas mandiri
tersebut. Hasil akhir yang akan dikumpulkan siswa berupa bangun-bangun seperti
yang ditugaskan serta dalam kemasan atau desain yang menarik. Jadi, siswa dapat
berkreasi terhadap tugas sesuai dengan penampilan hasil akhirnya. Penilaian yang
dilakukan guru berupa penilaian proses dan produk. Penilaian proses selain

runtutan pembuatan juga evaluasi tertulis yang dilaksanakan pada akhir


pembahasan bab tersebut. Sedangkan, penilaian produk dapat dilakukan dengan
melihat hasil akhir produk bangun yang telah dibuat siswa dengan bahan kardus
serta dikemas dalam bentuk yang baik dan menarik.
D.

Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan

barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan sesuatu kegiatan, baik secara
langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan
pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan (Muhibbin Syah, 2000).Metode
demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses
atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran (Syaiful Bahri
Djamarah, 2000).
Manfaat psikologis pedadogis dari metode demonstrasi adalah :
a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan.
b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam
diri siswa (Darajat, 1985)
Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut :
a. Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau
kerja suatu benda.
b. Memudahkan berbagai jenis penjelasan.
c. Kesalahan-kesalahan yang terjadi hasil dari ceramah dapat diperbaiki
melalui pengamatan dan contoh konkret, dengan menghadirkan objek
sebenarnya (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).
Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut :
a. Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang
diperuntukkan.
b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
c. Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai
E.

apa yang didemonstrasikan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).


Motivasi Belajar
Guru harus mampu membangkitkan motivasi belajar siswa. Motivasi

seseorang tidak dapat diketahui secara langsung. Motivasi seseorang dapat kita

interpretasikan dari tingkah lakunya. Motivasi merupakan suatu perubahan tenaga


di dalam diri/pribadi seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksireaksi dalam mencapai tujuan. Kerja sama yang dilaksanakan antara siswa dalam
kelompoknya dengan sikap penuh semangat, merupakan salah satu wujud dari
telah terjadinya motivasi dalam belajar.
Tugas utama pendidik adalah menciptakan kondisi atau bertindak sebagai
fasilisator agar siswa dapat tumbuh dan tergerak untuk belajar berkelompok
sehingga menemukan sendiri pengetarkan usahaahuannya dari hasil percobaan
dan diskusi kelompok mereka. Untuk menggalang kerja sama dalam belajar,
dapat dilakukan guru melalui keterlibatan siswa secara langsung dan teknik kerja
kelompok kecil.
Faktor emosional sangat berpengaruh perhatian terhadap sesuatu. Hal ini
dapat dilihat dari berapa lama memperhatikan, seberapa jauh usaha memahami
pelajaran dan bagaimana perasaan ikut ambil bagian dalam kegiatan belajar.
Aspek penting motivasi menurut Keller yaitu attention (kemenarikan da
kebergunaan untuk dipertimbangkan), relevance ( keberkaitan dengan tujuan),
confidence (kesuksesan berdasarkan usahanya sendiri) dan satisfagtion (berkenaan
dengan penghargaan yang diterima pelajar dari pembelajaran itu) Keller dalam
(Sri Anitah. 2008:99)
F.

Media Pembelajaran
Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah

teknologi

pembawa

pesan

yang

dapat

dimanfaatkan

untuk

keperluan

pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media


pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi atau materi
pembelajaran.

Sedangkan,

National,

Education,

Association

(1969)

mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam


bentuk cetak maupun pandang - dengan, termasuk teknologi perangkat keras.
Dari pendapat-pendapat yang ada di atas dapatlah disimpulkan bahwa media
pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat
merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik dalam mengikuti
pelajaran sehingga mendorong pencapaian proses belajar pada diri peserta didik.

10

Sebagai kelengkapannya maka dapat diketahui beberapa jenis media belajar,


diantaranya :
~
~
~
~

Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, postr, kartu, komik.


Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya.
Projekted Still Media : slide, proyektor, dan sejenisnya.
Projected Motion Media : film, televisi, vidio, (VCD, DVD, VTR),
komputer dan sejenisnya

Dari pendapat-pendapat yang ada di atas dapatlah disimpulkan bahwa media


pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat
merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik dalam mengikuti
pelajaran sehingga mendorong pencapaian proses belajar pada diri peserta didik..
G.

Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas dengan

menggunakan prosedur penelitian seperti berikut ini!


Modifikasi model Penelitian tindakan dari Kemmis dan Tagart
Permasalaha
n
Refleksi 1

Perencanaan
tindakan
siklus 1

Pelaksanaan
tindakan
siklus 1

Pengamatan
tindakan
siklus 1
Perencanaan
Perencanaan
Pelaksanaan
Permasalahan
tindakan
siklus
tindakan
tindakan
baru hasil
I
siklus
2
siklus 2
refkeksi
Pengamatan
Refleksi 2
Evaluasi 2
tindakan
Gambar 2.1 Modifikasi model Perencanaan
Penelitian tindakan dari Kemmis
dan Tagart
siklus
2
tindakan siklus
Keterangan:
Siklus
I
selanjutny
Evaluasi 1

Perencanaan.
a

Uraikan langkah-langkah kolaborasi yang dilakukan, fakta-fakta empiris


yang diperlukan dalam rangka tindakan, sosialisasi esensii tindakan dan scenario
pembelajaran yang akan dilaksanakan pada guru sejawat dan siswa, perangkatperangkat pembelajaran yang perlu disiapkan dan dikembangkan, lembaranlembaran evaluasi dan instrumen lain berikut kriteria penilaian yang akan
disiapkan dan dikembangkan.

11

Pelaksanaan.
Uraikan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan skenario yang telah
dikembangkan pada langkah perencanaan. Langkah-langkah pembelajaran ini
akan sesuai dengan hakikat teori yang mendasari strategi pembelajaran, atau
sesuai dengan sintaks model pembelajaran yang diadaptasi. Langkah-langkah
pembelajaran tersebut hendaknya dibuat secara rinci, karena akan mencerminkan
kualitas proses pembelajaran yang akan dihasilkan.
Observasi/Evaluasi.
Observasi dilakukan terhadap interaksi-interaksi akademik yang terjadi
sebagai akibat tindakan yang dilakukan. Interaksi-interaksi yang dimaksud dapat
mencakup interaksi antara siswa dengan materi pelajaran, interaksi antar siswa,
interaksi antara siswa dengan guru. Oleh sebab itu, uraian secara jelas tindakan
yang dilakukan tertuju pada interaksi yang mana saja, bagaimana melakukan
observasi, seberapa sering obserbasi itu dilakukan, dan apa tujuan observasi
tersebut. Observasi yang utuh akan mencerminkan proses tindakan yang
berlangsung. Untuk memperoleh data yang lebih akurat, observasi sering
dilengkapi dengan perekaman dengan tape atau video. Evaluasi biasanya
dilakukan untuk mengukur obyek produk, misalnya kualitas proses pembelajaran,
sikap siswa, kompetensi praktikal, atau tanggapan siswa. Untuk itu, uraikan
evaluasi yang dilakukan, jenisnya dan tujuannya, dan untuk mengukur apa
evaluasi itu dilakukan.
Refleksi.
Hasil observasi dan evaluasi selanjutnya direfleksi tingkat ketercapaiannya
baik yang terkait dengan proses maupun terhadap hasil tindakan. Refleksi ini
bertujuan

untuk

memformulasikan

kekuatan-kekuatan

yang

ditemukan,

kelemahan-kelemahaman dan atau hambatan-hambatan yang mengganjal upaya


dalam pencapaian tujuan secara optimal, dan respon siswa. Refleksi ini harus
dijelaskan secara rinci. Tujuannya adalah untuk melakukan adaptasi terhadap
strategi/pendekatan

/metode/model

pembelajaran

yang

diterapkan,

lebih

12

memantapkan perencanaan, dan langkah-langkah tindakan yang lebih spesifik


dalam rangka pelaksanaan tindakan selanjutnya.
III. PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
H.

Subjek Penelitian,Tempat dan Waktu Penelitian, Pihak Yang


Membantu
1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian Perbaikan Pembelajaran adalah siswa Kelas V SD
Negeri Pucok Alue Sa Kecamatan Simpang Ulim Aceh Timur Tahun
Pelajaran 2013/2014. Berjumlah 20 orang terdiri dari 14 orang laki2.

laki dan 6 orang perempuan.


Tempat Penelitian
Tempat Penelitian Perbaikan Pembelajaran dilaksanakan pada SDN

3.

Pucok Alue Sa, Kecamatan Simpang Ulim Aceh Timur.


Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, siklus pertama pada tanggal
17 April 2014, siklus kedua pada tanggal 24 April 2014 dan sesuai
dengan

jadwal kegiatan. Penelitian ini dibantu oleh supervisor II

sebagai rekan kerja dan pengamat dalam penelitian, serta kepala


4.

sekolah sebagai penanggung jawab.


Pihak Yang Membantu
Penelitian ini sangat terbantu oleh Pihak Universitas UT Pokjar Julok,
yang memberikan sangat banyak masukan terhadap kesempurnaan
pelaksanaan penelitian ini. Terutama Kepala Pokjar Julok Bapak H.
Rusli Harun, S.Pd.M.Pd

yang telah menfasilitasi supervisor-

supervisor yang handal demi keberhasilan bersama dalam pelaksanaan


I.

kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional ini.


Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pada

dasarnya PTK merupakan suatu proses yang dilakukan guru untuk mendapatkan
perbaikan, perubahan dan peningkatan pembelajaran yang lebih baik, sehingga
tujuan pembelajaran dapat dicapai lebih optimal. Prosedur penelitian ini

13

direncanakan berlangsung dua siklus masing-masing siklus dilaksanakan empat


tahap,yaitu :
1. Perencanaan
2. Pelaksanaan
3. Pengumpulan Data
4. Refleksi
Empat tahap dalam satu putaran adalah :
1. Perencanaan
Sebelum melakukan penelitian pada tahap ini penulis menentukan
rumusan masalah, tujuan penelitian, serta rencana tindakan yang akan
dilaksanakan pada proses belajar mengajar. Selain itu juga dipersiapkan
instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran yang akan digunakan.
2. Tindakan atau Pelaksanaan
Pada tahap ini tindakan yang harus dilaksanakan penulis sebagai upaya
untuk perbaikan kegiatan pembelajaran serta mengamati proses dan hasil
belajar mengajar dilakukan oleh supervisor 2.

3. Pengumpulan Data
Selama berlangsung tindakan peneliti juga mengumpulkan data-data hasil
tindakan sebagai umpan balik, juga data hasil belajar serta data
pengamatan oleh supervisor 2.
4. Refleksi (analisis dan interpretasi)
Pada tahap ini peneliti bersama guru dan teman sejawat sebagai pengamat
melihat serta mempertimbangkan hasil dan dampak dari tindakan yang
dilakukan.
Prosedur Penilaian Siklus I
1. Rencana Tindakan Perbaikan atau Tahap Rancangan
a. Penyusunan RPP (Rencana Perbaikan Pembelajaran) untuk observasi
proses belajar mengajar yang bisa dilakukan guru, pada pelajaran
matematika. Banyak ditemukan kesalahan konsep ketika menerangkan
materi pelajaran. Setelah itu peneliti menyusun rencana pembelajaran
dengan metode demonstrasi berdasarkan materi pelajaran yang diberikan.
b. Kegiatan selanjutnya terdiri dari kegiatan merumuskan tujuan
pembelajaran, menyususn langkah-langkah pembelajaran, merencanakan
alat yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan diajarkan.

14

c. Mempersiapkan daftar pengamatan sebagai acuan untuk mengumpulkan


data tentang prestasi belajar siswa dalam mengikuti pelajaran matematika
serta menyiapkan perkembangan prestasi.
d. Memberikan ntes di akhir pelajaran yang dimaksud untuk mengetahui
perkembangan prestasi.
2. Pelaksanaan Perbaikan
a. Saat pelaksanaan tindakan, peneliti bertindak sebagai guru dibantu oleh
supervisor II sebagai pengamat yang memantau jalannya proses
pembelajaran yang hasilnya berupa rekaman data kegiatan pembelajaran.
b. Guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode
demonstrasi

untuk

meningkatkan

prestasi

belajar

dimana

guru

menggunakan media yang mendukung sesuai dengan materi yang


disampaikan, guru kemudian memberikan pertanyaan-pertanyaan dan
tugas-tugas dehingga siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan guru.
3. Pengumpulan Data
a. Pada waktu mengajar, peneliti dibantu teman sejawat untuk melakukan
pengumpulan data dengan cara mencatat kejadian-kejadian selama
kegiatan pembelajaran berlangsung untuk mengetahui sejauh mana data
prestasi belajar siswa sebelum dan sesudah diberi tindakan.
b. Untuk mengetahui perkembangan prestasi, siswa diberi angket prestasi
belajar pada awal kegiatan sebelum melakukan tindakan dan juga pada
lembar jawaban observasi prestasi belajar yang dibawa peneliti. Untuk
mengetahui perkembanagn prestasi belajar siswa dilakukan melalui tes
yang diberikan setiap akhir siklus.
4. Refleksi
Dari hasil observasi, dilakukan analisis pada tindakan I kemudian dilanjutkan
dengan refleksi yang dilakukan bersama supervisor II, perlu dilakukan
tindakan selanjutnya.

15

Prosedur PenilaianSiklus II
1. Rencana Tindakan Perbaikan (perencanaan)
a. Rencana tindakan kelas siklus II disusun berdasarkan hasil analisis dan
refleksi selama siklus I. Pada siklus I guru menyampaikan materi dengan
metode demonstrasi dengan menggunakan media gambar tidak dengan
media benda nyata.
b. Menyusun rencana perbaikan pembelajaran siklus II sebagai kelengkapan
proses belajar mengajar
c. Mempersiapkan daftar pengamatan sebagai acuan untuk mengumpulkan
data prestasi belajar siswa dalam mengikuti pelajaranmatematika serta
menyiapkan bahan penelitian.
d. Memberikan tes pada akhir pelajaran untuk mengetahui perkembangan
prestasi belajar siswa.
2. Pelaksanaan Perbaikan
a.

Hasil analisisTindakan pada siklus II disusun berdasarkan refleksi Hasil


tindakan pertama. Hasil analisis data pada siklus I digunakan sebagai
acuan refleksi untuk menentukan rencana tindakan tahap ke I dengan

mengadakan beberapa perbaikan rencana tindakan tahap pertama.


b. Pada siklus II ini lebih banyak memberikan kesempatan pada siswa untuk
mendemonstrasikan dan membuat bangun ruang dengan menggunakan
media. Pada saat pelaksanaan tindakan ini didapat hasil rekaman data
tentang kegiatan pembelajaran dari supervisor II.
3. Pengumpulan Data
Untuk mengetahui perkembangan prestasi belajar siswa dilakuakan pengisian
lembar observasi prestasi belajar siswa melalui tes yang memberikan setiap
akhir siklus.
4. Refleksi

16

Berdasarkan data tentang prilaku siswa yang diperoleh pada pemberian


tindakan yang berupa data jawaban tes siswa baik prestasi belajar maupun
pemantauan proses Pembelajaran di kelas, maka data tersebut diolah dan
dianalisis. Hasil analisis tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai salah satu
masukan untuk melakukan refleksi dan digunakan sebagai bahan untuk
menyusun tindakan selanjutnya.
Instrumen Penelitian
Instrumen Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Lembar Observasi
Lembar ini digunakan untuk mengamati peneliti dalam kegiatan perbaikan
pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi
2. Lembar Aktivitas Siswa
Lembar ini digunakan untuk mengetahui aktifitas siswa dalam proses
pembelajaran
Sebagai penunjang pengumpulan data diperlukan perangkat pembelajaran sebagai
berikut :
1. Rencana perbaikan pembelajaran
2. Lembar Kerja Siswa
J.

Teknik Analisis Data


Data yang diperoleh dalam penelitian ini diperoleh dari lembar observasi

pengelolaan pembelajaran, pemberian tugas, lembar penilaian aktivitas siswa dan


tes hasil belajar siswa dianalisis dengan cara sebagai berikut:
~ Tes hasil belajar
Analisis data pre-tes dan post-tes hasil belajar siswa dilakukan untuk
mengetahui peningkatan kompetensi kognitif siswa akibat adanya
perbaikan pembelajaranyaitu dengan menggunakan model pembelajaran
untuk menentukan peningkatan kompetensi kognitif belajar siswa
dianalisis dengan menggunaklan topik deskriptif atau prosentase(%)
sebagai berikut :

17

~ Hasil daya serap dapat diketahui


Ketuntasan siswa ditentukan dari daya serap yang lebih dari 70 %.
~ Ketuntasan Kelas menggunakan persamaan ;

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


K.

Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran


a. Hasil Penelitian Siklus I
Untuk memperoleh gambaran dari hasil penelitian diperlukan data.
Data tersebut adalah sejumlah fakta yang diguanakan sebagai sumber atau
masukan untuk menentukan kesimpulan atau keputusan yang diambil.
Yang menjadi topik pengamatan adalah kegiatan siswa pada mata
pelajaran matematika tentang bangun ruang.
Sebelum dilakukan tindakan perbaikan prestasi belajar matematika
kelas V nilai tertinggi 75 dan nilai terendah 30 sedangkan nilai rata-rata
52,25 dan persen ketuntasan kelas 15% dari 20 0rang siswa. Setelah
diadakan penelitian pada siklus I masih belum menunjukkan hasil yang
memuaskan

bahwa

kemampuan

siswa

dalam

memahami

materi

pembelajaran yaitu mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang dengan


metode demonstrasi, prestasi belajar siswa dan aktifitas siswa serta
pemahaman terhadap materi masih kurang maksimal. Dari hasil tes yang
dilakukan diperoleh nilai nilai tertinggi 85 dan nilai terendah 45 sedangkan
nilai rata-rata 60,80. Dan ketuntasan kelas 45 % dari 20 orang siswa
sedangkan partisipasi aktif 48,75%.

Nilai ini belum mencapai nilai

Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan di SDN Pucok Alue Sa,


Kecamatan Simpang Ulim Kabupaten Aceh Timur.
Untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.1. sebagai berikut :
Tabel 4.1 Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas V Siklus I

18

No

Nama Siswa

L/P

KKM

Sebelum

Nilai

Siklus

siklus I

TUNTAS
YA

TDK

M. Khaidir

63

35

50

Zuriatina

63

40

50

Darkasyi

63

45

50

Irhamna

63

70

80

M. Aldian

63

45

55

Muyassar

63

40

55

M.Fajar

63

50

60

8.

M. Naufal

63

55

60

Mukarram

63

55

70

10

M. Azwir

63

35

45

11

M. Hatami

63

50

55

12

M. Fathir

63

70

70

13

M. Asyraf

63

65

70

14

Muliani

63

55

63

15

Nanda Sari

63

55

63

16

Nursimah

63

60

65

17

Rika Rahma. M

63

60

65

18

Ulfia Rahmi

63

55

60

19

Fathurrahman

63

75

85

20

M. Rizki

63

30

45

JUMLAH

1045

1216

11

RATA-RATA

52,25

60,80

45%

55%

19

Tabel 4.2 Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus I


No

Aspek yang diamati


Siswa memperhatikan
penjelasan atau pertanyaan
Siswa

terdorong

melakukan

peragaan

Keterlibatan

Persentase

siswa/orang

keterlibatan

18

90%

10

50%

Bertanya hal yang tak jelas

35%

Menjawab pertanyaan

40%

Mengambil kesimpulan

15

75%

10

50%

25%

25%

9,75

48,75%

Terjadi interaksi siswa dengan


siswa
Terjadi interaksi siswa dengan
guru
Siswa

mengemukakan

pendapat

Rata rata

b. Hasil Penelitian Siklus II


Pada siklus II peneliti memperbaiki hal-hal yang masih belum
optimal yang ditemukan dalam perbaikan siklus I
1. Perencanaan

20

Bersama teman sejawat merencanakan kembali tindakan untuk


memperbaiki keadaan yang terjadi pada siklus I. Sebagaimana
yang tersaji dalam RPP siklus II.
2. Pelaksanaan Perbaikan
~ Melaksanakan pembelajaran

sesuai

dengan

Rencana

Perbaikan yang telah disusun.


~ Melakukan penilaian
3. Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan terangkum dalam tabel 4.3.
Tabel. 4.3 Lembar Pengamatan Aktifitas Siswa Siklus II
No

Aspek yang diamati


Siswa memperhatikan
penjelasan atau pertanyaan
Siswa

terdorong

melakukan

peragaan

Keterlibatan

Persentase

siswa/orang

keterlibatan

19

95%

15

75%

Bertanya hal yang tak jelas

17

85%

Menjawab pertanyaan

17

85%

Mengambil kesimpulan

18

90%

17

85%

12

60%

15

75%

16,25

81,25%

Terjadi interaksi siswa dengan


siswa
Terjadi interaksi siswa dengan
guru
Siswa

mengemukakan

pendapat
RATA RATA

21

Setelah dilakukan tindakan pada siklus II dapat dilihat hasil bahwa


kemampuan

siswa

dalam

memahami

materi

pembelajaran

meningkat dari siklus sebelumnya. Nilai tertinggi 90 dan nilai


terendah 60 sedangkan nilai rata-rata kelas meninggkat menjadi 72
sedangkan ketuntasan kelas mencapai 85% dan partisipasi aktif
siswa meningkat menjadi 81,25%.
Tabel 4.4. Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas V Siklus II

No

Nama Siswa

L/P

Nilai

KKM

Nilai
Siklus I

siklus II

TUNTAS
YA

TDK

M. Khaidir

63

50

60

Zuriatina

63

50

60

Darkasyi

63

50

60

Irhamna

63

80

85

M. Aldian

63

55

65

Muyassar

63

55

70

M.Fajar

63

60

80

8.

M. Naufal

63

60

75

Mukarram

63

70

80

10

M. Azwir

63

45

65

11

M. Hatami

63

55

80

12

M. Fathir

63

70

65

13

M. Asyraf

63

70

70

14

Muliani

63

63

65

15

Nanda Sari

63

63

65

16

Nursimah

63

65

75

17

Rika Rahma. M

63

65

70

22

No

Nama Siswa

L/P

Nilai

TUNTAS

KKM

Nilai
Siklus I

siklus II

YA

18

Ulfia Rahmi

63

60

85

19

Fathurrahman

63

85

90

20

M. Rizki

63

45

75

JUMLAH

1216

1440

17

RATA-RATA

52,25

72

L.

TDK

85% 15%

Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran


1. Pembahasan Siklus I
Dari hasil pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar
matematika tentang sifat-sifat bangun ruang di kelas V masih terdapat
beberapa hal yang perlu untuk diperbaiki, hasil belajar belum mencapai
patokan yang telah ditetapkan, siswa belum dapat memahami sepenuhnya
materi yang diajarkan. Nilai tertinggi 85 dan nilai terendah 45 sedang
nilai rata-rata 60,80.
Beberapa hal yang menyebabkan hal ini antara lain :
a. Peragaan yang masih bersifat klasikal sehingga sebagian siswa
kurang jelas melihat apa yang didemonstrasikan oleh guru
b. Siswa masih kurang aktif untuk bertanya dan mencoba sendiri alat
peraga
c. Kurangnya jumlah alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran
menyebabkan pembelajaran sedikit terganggu
d. Belum adanya kelompok.
Hasil belajar tampak belum terjadi peningkatan yang memuaskan,
sebagaimana grafik nilai hasil belajar siklus I gambar 4.1.

23

Selain itu ketuntasan kelas belum mencapai 80 % hal ini terlhat dari
grafik persen ketuntasan kelas siklus I, gambar 4.2.
2. Pembahasan Siklus II
Perubahan yang

dilakukan dengan membagi siswa dalam kelompok-

kelompok kecil berhasil

memberikan dampak yang baik dalam

pembelajaran, siswa dapat memperhatikan dengan jelas apa yang


didemonstrasikan oleh teman dan guru dalam kelompoknya dan terjadi
interaksi yang baik antara teman dan guru dalam kelompok tersebut.
Pada siklus II pengamatan yang didapat antara lain :
Keterlibatan siswa dalam pembelajaran semakin baik dan meningkat, karena
demonstrasi dilakukan dalam kelompok yang masing-masing terdiri dari 4
orang siswa.
a. Interaksi siswa dengan siswa sangat sering terjadi dalam kelompok
masing-masing
b. Hampir semua

siswa

mencoba alat peraga yang ada di setiap

kelompok
c. Siswa antusias menjawab pertanyaan guru
d. Hasil akhir pembelajaran siklus II meningkat dibanding siklus I dari
rata-rata 60,80 menjadi 72, dan ketuntasan kelas meningkat dari 45
% menjadi 85 %. Hal ini dapat dilihat pada grafik hasil belajar dan
ketuntasan kelas gambar 4.3 dan gambar 4.4.
Secara keseluruhan pembelajaran menjadi bergairah dan tidak
monoton pada satu sumber belajar, siswa dapat mencoba sendiri dan
mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang apa yang
mereka

pelajari.

Siswa dan guru menjadi

antusias

dalam

pembelajaran, ini menjadi sesuatu yang baik yang akan membawa


pada senang belajar yang akhirnya meningkatkan hasil belajar siswa.

24

Gambar.4.1. Nilai Hasil Belajar Siklus I

25

Gambar.4.2. Persen Ketuntasan Kelas(%) Siklus I

Gambar.4.3. Nilai Hasil Belajar Siklus II

26

Gambar.4.4. Persen Ketuntasan Kelas(%) Siklus II

Gambar.4.5. Partisipasi Aktif Siswa (%)

27

V. KESIMPULAN DAN SARAN SERTA TINDAK LANJUT


A.

Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilalukukan, peneliti dapat menyimpulkan

sebagai berikut :
1. Pembelajaran matematika dengan menggunakan metode demonstrasi dapat
meningkatkan hasil belajar siswa /prestasi belajar siswa Kelas V SDN
Pucok Alue Sa Simpang Ulim Kabupaten Aceh Timur.
2. Terjadi peningkatan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran
matematika dengan menggunakan metode pembelajaran demonstrasi
3. Dengan
menggunakan metode demonstrasi pada pembelajaran
matematika dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa kelas V SDN
Pucok Alue Sa Simpang Ulim Kabupaten Aceh Timur.
4. Merangsang daya kreatitas siswa untuk berkarya dan berpartisipasi
langsung dengan objek yang dipelajari
B.

Saran dan Tindak Lanjut


Dari hasil pembahasan dan kesimpulan peneliti dapat menyarankan :
1. Mempersiapkan prosedur demontrasi dengan sangat teliti sebelum
melakukan pembelajaran dengan metode demostrasi, dan hendaknya siswa
dapat berperan langsung dalam demonstrasi tersebut dengan pemilihan alat
peraga yang mudah didapat, murah dan tidak berbahaya bagi siswa.
2. Dikombinasikan dengan model pembelajaran kooperatif yang cocok
karena tidak semua model kooperatif dapat dipakai dalam metode
demonstrasi hal tersebut untuk lebih maksimalkan peran siswa dalam
pembelajaran dan memberikan kegairahan belajar yang dapat menjadi
pengalaman belajar yang sangat baik bagi siswa.
3. Melakukan penelitian dengan menggunakan metode yang lain sebagai
variasi, untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang
akan meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa

serta dapat

menambah kasanah penelitian guru yang akan meningkatkan kinerja dan


profesionalisme guru.

28

DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas ( 2008 ) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kelas IV
Gatot Muhsetyo, dkk.
Pembelajaran Matematika SD (PDGK 4406)
Penerbit Universitas Terbuka
I.G.A.K Wardani, Kuswara. Penelitian Tindakan Kelas (IDIK 4008)
Penerbit Universitas Terbuka
Kurikulum (2004), Mata Pelajaran Matematika. Jakarta , Depdiknas
Moedjiono dan Moh. Dimyati. (1991), Strategi Belajar Mengajar.Jakarta
Depdikbud. Ditjen Pendidikan Tinggi Proyek pembinaan tenaga
Kependidikan
Sudjana, Nana. 2008. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.
Bandung : Remaja Rosdakarya.
TIM TAP FKIP. UT. Panduan Tugas Akhir Program Sarjana FKIP
(IDIK4500). Penerbit Universitas Terbuka
TIM FKIP Pemantapan Kemapuan Profesional (PDGK 4501)
Penerbit Universitas Terbuka
Udin S. Winataputra, MA Drs. H., dkk. Strategi Belajar Mengajar
2201) Penerbit Universitas Terbuka

(PGSD