Anda di halaman 1dari 19

HALAMANRRRRRRREFERAT SAMPUL

REFERAT
KLEPTOMANIA

Oleh
Zainal Abidin

NIM 030.08.267

Dokter Pembimbing:
dr. Safyuni Naswati, Sp.KJ

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


RUMAH SAKIT JIWA SOEHARTO HEERDJAN
PERIODE 10 AGUSTUS 2015 5 SEPTEMBER 2015
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA

LEMBAR PENGESAHAN

Nama mahasiswa

: Zainal Abidin (030.08.267)

Bagian

: Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa RSJ. Soeharto Heerdjan

Periode

: Periode 10 Agustus 1 September 2015

Judul

: Kleptomania

Pembimbing

: dr. Safyuni Naswati, Sp.KJ

Telah diperiksa dan disahkan pada tanggal :


Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu
Kesehatan Jiwa RSJ. Soeharto Heerdjan.

Jakarta,

Agustus 2015

dr. Safyuni Naswati, Sp. KJ

ii

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan atas segala nikmat,
rahmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang
berjudul Kleptomania dengan baik dan tepat waktu.
Referat ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Kepaniteraan Ilmu
Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti di Rumah Sakit Jiwa
Soeharto Heerdjan Periode 10 Agustus 2015 5 September 2015. Di samping itu,
referat ini ditujukan untuk menambah pengetahuan bagi kita semua tentang
gangguan kepribadian.
Melalui kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar
besarnya kepada dr. Safyuni Naswati, Sp.KJ selaku pembimbing dalam penyusunan
referat ini, serta kepada dokterdokter pembimbing lain yang telah membimbing
penulis selama di Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Jiwa Soeharto
Heerdjan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekanrekan anggota
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan serta
berbagai pihak yang telah memberi dukungan dan bantuan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna dan tidak
luput dari kesalahan. Oleh karena itu, penulis sangat berharap adanya masukan,
kritik maupun saran yang membangun. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih yang
sebesarbesarnya, semoga tugas ini dapat memberikan tambahan informasi bagi kita
semua.

Jakarta,

Agustus 2015
Penulis

Zainal Abidin
030.08.267

iii

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ........................................................................................... i
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv
BAB 1. PENDAHULUAN .................................................................................... 1
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 3
2.1 Definisi............................................................................................... 3
2.2 Epidemiologi ..................................................................................... 4
2.3 Etiologi .............................................................................................. 4
2.4 Gambaran Klinis .............................................................................. 7
2.5 Diagnosis ........................................................................................... 8
2.6 Diagnosis Banding ............................................................................ 9
2.7 Penatalaksanaan............................................................................. 10
2.8 Prognosis ......................................................................................... 13
BAB 3. PENUTUP............................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 15

iv

BAB 1. PENDAHULUAN

Kleptomania merupakan gangguan kebiasaan dan impuls yang tidak


terkendalikan (impulse control disorder). Kleptomania diartikan sebagai bentuk
gangguan impuls yang tidak dapat dikendalikan oleh individu untuk memiliki
barang-barang yang dilihatnya dengan cara mencuri. Gangguan ini dilakukan
secara berulang (kompulsi) dengan berbagai alasan yang tidak rasional untuk
memiliki benda-benda tersebut.1
Individu yang mempunyai gangguan kleptomania ditandai oleh kegagalan
menahan dorongan yang timbul untuk mencuri sesuatu yang tidak dibutuhkan atau
tidak menghasilkan uang, ketika dorongan untuk mencuri itu muncul, ia akan
merasa tidak nyaman, gelisah dan dorongan tersebut akan semakin kuat, setelah
perilaku tersebut tersalurkan, individu tersebut akan merasakan kepuasaan. Pada
saat-saat tertentu individu dapat merasakan penyesalan terhadap kebiasaan
tersebut, akan tetapi penyesalan tersebut tidak dapat menghentikan kebiasaan
buruk tersebut, justru ketika muncul dorongan itu kembali, ia akan kembali
mencuri.2
Beberapa penelitian psikoanalisa menyebutkan bahwa kleptomania
disebabkan oleh berbagai permasalahan dan fase masa anak-anak yang tidak
berjalan dengan semestinya, akibatnya dorongan mencuri merupakan salah satu
cara untuk mengembalikan masa tersebut. Secara pasti sebab-sebab kemunculan
kleptomania masih dalam perdebatan, namun diperkirakan ketidakseimbangan zat
kimia serotonin di dalam otak diduga menjadi penyebab bentuk abnormalitas
ini.1,2
Meskipun tidak ada data epidemiologi yang dilaporkan, tampaknya
kleptomania lebih banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki
dengan rasio laki-laki-perempuan adalah 1:3. Prevalensi kleptomania diperkirakan
sekitar 0,6 persen, dimana 3,8-24 persen ditangkap karena mencuri di toko. DSM

IV menyebutkan bahwa kleptomania muncul kurang dari 5% dari kasus pencurian


toko yang teridentifikasi.3
Sebuah studi terkini pada pada pasien dewasa yang dirawat di rumah sakit
dengan gangguan jiwa multipel (n=240) ditemukan bahwa 7,8% (n=16) terdapat
gejala konsisten dengan diagnosis kleptomania, dan 9,3% (n=19) mempunyai
diagnosis kleptomania seumur hidup. Dalam studi pada 102 remaja yang dirawat
karena berbagai macam gangguan jiwa ditemukan bahwa 8,8% (n=9) menderita
kleptomania. Karena angka kejadian pada remaja dan dewasa hampir sama,
menunjukkan bahwa jika kleptomania tidak ditanganin maka akan menjadi kronis.
Hasil temuan ini sesuai dengan studi selanjutnya. Suatu studi dimana diperiksa
107 pasien dengan depresi ditemukan 3,7% nya menderita kleptomania. Dalam
studi pada pasien dengan ketergangtungan alkohol, dilaporkan 3,8% ditemukan
gejala kleptomania yang konsisten.4

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi
Kleptomania pertama kali dijelaskan pada tahun 1816 oleh Andre Matthey

seorang psikiater dari Swiss, pada saat itu disebut dengan klopemanie yang
yang dijelaskan sebagai suatu tindakan mencuri kompulsif barang tidak berharga
dan tidak dibutuhkan. Pada 1838, Marc dan Esquirol, dalam menggambarkan
sebuah kasus, membuat istilah kleptomania. Esquirol melaporkan bahwa
individu dengan gangguan ini sering mencoba untuk menghindari perilaku
mencuri. Pada akhir 1800an, beberapa penulis menghubungkan kleptomania
dengan intoksikasi suasana dari penemuan terbaru pusat perbelanjaan di
perkotaan. Pada abad ke 19 dan awal abad 20, diskusi tentang kleptomania
menjadi perdebatan terus menerus dalam bidang kedokteran. Psikoanalis
menginterpretasikan gejala-gejala kleptomania sebagai refleksi dari pertahanan
ego bawah sadar terhadap kecemasan, naluri yang terlarang, konflik yang tidak
diselesaikan, atau dorongan seksual.2
Ciri penting dari kleptomania adalah kegagalan rekuren untuk menahan
impuls untuk mencuri benda-benda yang tidak diperlukan untuk pemakaian
pribadi atau yang memiliki arti ekonomi. Benda-benda yang diambil seringkali
dibuang, dikembalikan secara rahasia, atau disimpan bahkan disembunyikan.1,2
Seperti gangguan pengendalian impuls lainnya, kleptomania ditandai oleh
ketegangan yang memuncak sebelum tindakan, diikuti oleh pemuasan dan
peredaan ketegangan dengan atau tanpa rasa bersalah, penyesalan, atau depresi
selama tindakan. Biasanya mecuri pada kleptomania adalah tidak direncanakan
dan tidak melibatkan orang lain.1,2,3
Kebanyakan orang dengan kleptomania tidak mencuri untuk kebutuhan
pribadi dan seirngkali mempunyai uang yang cukup untuk membeli barang barang
yang mereka beli. Lebih lanjut mereka menyadari bahwa itu merupakan perilaku
kriminal. Beberapa orang dapat mengidentifikasi pemicu spesifik terhadap

dorongan untuk mencuri. Sebagai tambahan, peningkatan ketegangan dan tekanan


untuk mencuri diikuti dengan kepuasan atau kelegaan segera, mereka juga sering
mengalami perasaan bersalah dan malu.5
Pada dasarnya pencurian bisa terdapat dalam episode tertentu atau lebih
kronis. Selain itu juga ada periode remisi yang lama antar episode pencurian.
Banyak penderita kleptomania membuat strategi tersendiri dalam usahanya untuk
menahan diri dari perilaku tersebut. Mereka biasanya menghindari pusat
perbelanjaan, mereka hanya pergi berbelanja jika ada yang menemani atau bahkan
berhenti pergi berbelanja sama sekali. Mereka juga bisa menjauhkan diri secara
sosial sebagai usaha untuk mengurangi kesempatan dalam mencuri.5

2.2

Epidemiologi
Tidak ada data epidemiologi yang dilaporkan. Meskipun tidak ada data

epidemiologi yang dilaporkan, tampaknya kleptomania lebih banyak ditemukan


pada perempuan dibandingkan laki-laki.

2.3

Etiologi
Etiologi kleptomania pada dasarnya belum diketahui, beberapa penelitian

psikoanalisa menyebutkan bahwa kleptomania disebabkan oleh berbagai


permasalahan dan fase masa anak-anak yang tidak berjalan dengan semestinya,
akibatnya dorongan mencuri merupakan salah satu cara untuk mengembalikan
masa tersebut.1
Walaupun etiologi kleptomania masih belum jelas namun ada beberapa
hipotesis yang menyatakan adanya disfungsi serotogenik pada korteks prefrontal
ventromedial yang mendasari kegagalan pengendalian impuls pada individu
kleptomania. Pada suatu studi yang meneliti individu kleptomania dilaporkan
bahwa jumlah dari 5-HT transporter pada individu kleptomania adalah lebih
sedikit jika dibandingkan dengan individu yang normal.2

Faktor Psikososial
Gejala kleptomania cenderung muncul pada saat adanya stress berat,
seperti kehilangan, perpisahan, dan berakhirnya sebuah hubungan yang penting.
Beberapa psikoanalis menekankan munculnya impuls yang agresif pada
kleptomania, penulis lainnya menemukan adanya aspek dari libido.3
Penulis psikoanalisis memfokuskan pada pencurian yang dilakukan oleh
anak-anak dan remaja. Anna freud menemukan bahwa pencurian pertama dari
dompet ibu mengindikasikan semua pencurian berasal dari hubungan ibu dan
anak. Karl Abraham menulis adanya perasaan anak yang diabaikan, disakiti, dan
tidak diinginkan. Sebuah teori membuat tujuh kategori mencurian pada anak-anak
yang dilakukan secara kronis, yaitu :3
1.

Sebagai cara memulihkan hubungan ibu dan anak yang hilang.

2.

Sebagai suatu tindakan yang agresif.

3.

Sebagai suatu pertahanan melawan rasa takut dilukai.

4.

Sebagai cara mencari hukuman.

5.

Sebagai cara memulihkan atau menambah harga diri.

6.

Berhubungan dengan dan sebagai reaksi terhadap rahasia keluarga.

7.

Sebagai rangsangan dan pengganti untuk tindakan seksual.

Faktor Biologis
Penyakit pada otak dan retardasi mental telah dihubungkan dengan
kleptomania, dimana juga berhubungan dengan gangguan kontrol impuls lainnya.
Tanda-tanda neurologis fokal, atrophy cortical, dan pembesaran ventrikel lateral
ditemukan pada beberapa pasien kleptomania. Telah ditemukan juga teori
mengenai gangguan pada metabolisme monoamin, khususnya serotonin.3
Meskipun patogenesis neurobiologi bisa dibilang indikator paling valid
dari gangguan terkait, hanya ada sejumlah kecil penelitian tentang kemungkinan
neurobiologi kleptomania. Dalam sebuah penelitian pengangkutan platelet
serotonin, disfungsi yang sama terlihat pada subjek dengan
dibandingkan individu dengan gangguan obsesif-kompulsif.

kleptomania

Sebuah laporan kasus menemukan bahwa kerusakan jaras orbitofrontalsubkortikal dapat mengakibatkan kleptomania. Laporan kasus lain menemukan
kleptomania berasal dari trauma kepala dan defisit perfusi pada lobus temporal
kiri. Selain itu, penelitian baru-baru ini memeriksa mikrostruktur materi putih
lobus frontal yang menemukan bahwa penderita kleptomania integritas materi
putih di daerah frontal inferiornya telah menurun signifikan dan karena itu
berakibat gangguan konektivitas pada traktus dari limbik ke daerah thalamus dan
prefrontal.6
Selain

itu,

respon

terhadap

intervensi

farmakologi

juga

dapat

menginformasikan tentang kemungkinan yang mendasari mekanisme biologi dari


kleptomania. Semula ada saran yang kleptomani, seperti gangguan obsesif
kompulsif, mungkin menunjukkan respon khusus terhadap serotonin reuptake
inhibitor (SRIS). Data dari laporan kasus, Namun, telah dapat disimpulkan,
dengan beberapa

kasus menunjukkan kleptomani yang merespon

obat

serotonergik dan lain-lain tidak mendukung hipotesis.6


Alasan kekurangan kemungkinan obsesif model spektrum kompulsif
seperti berkaitan dengan kleptomani mungkin karena heterogenitas kleptomania.
Mungkin hanya beberapa orang dengan kleptomani berbagi fitur umum dengan
gangguan obsesif kompulsif. Konseptualisasi semua individu dengan kleptomani
sebagai kesamaan bisa terlalu luas. Selain itu, akan ada subtipe kleptomani yang
lebih seperti gangguan obsesif kompulsif, sedangkan subtipe kleptomani lain
memiliki lebih banyak umum dengan gangguan adiksi atau suasana hati.6

Faktor Genetik dan Keluarga


Dalam sebuah penelitian, 7% dari keluarga pasien generasi pertama
mempunyai gangguan obsesive kompulsif. Selain itu juga ditemukan adanya
mood yang meningkat pada anggota keluarga pasien kleptomania.3
Hubungan antara kleptomania dengan gangguan obsesif-kompulsif bisa
juga diperlihatkan dengan meenunujukkan bahwa gangguan obsesif-kompulsif
biasanya berhubungan dengan penderita kleptomania. Penelitian tentang riwayat
keluarga kleptomania sangat terbatas. Dua penelitian tanpa kontrol menemukan

bahwa 7% sampai 25% anggota keluarga penderita kleptomania bisa menderita


gangguan obsesif kompulsif. Hanya pada penelitian dengan menggunakan
kelompok kontrol, tidak ditemukan perbedaan yang berarti pada rasio gangguan
obsesifkompulsif antara keluarga generasi pertama dari penderita kleptomania
dibandingkan kontrol.6

2.4

Gambaran Klinis
Ciri penting dari kleptomania terdiri dari dorongan atau impus yang

rekuren, intrusif dan tidak dapat ditahan untuk mencuri benda-benda yang tidak
diperlukan. Pasien kleptomania mungkin juga mengalami depresi atau kecemasan.
Pasien kleptomania tidak selalu mempertimbangkan kemungkinan penangkapan
mereka, kendatipun penahanan yang berulang menyebabkan penderitaan dan rasa
malu. Pasien kleptomania mungkin merasa bersalah dan cemas setelah mencuri
namun hal ini tidak dapat menghentikannya. Sebagian besar pasien kleptomania
mencuri dari toko, tetapi mereka juga dapat mencuri dari anggota keluarga atau
teman mereka sendiri.1,2,3,4
Individu dengan kleptomania menyebutkan bahwa barang curian biasanya
dengan nilai yang kecil dan mudah didapat. Setelah mencuri barang tersebut,
penderita kemudian akan membuang, menimbun, mengembalikan secara
sembunyi-sembunyi, atau menghadiahkannnya kepada orang lain. Penderita
mungkin bisa menghindar saat tertangkap, tetapi tantangan biasanya tidak
sepenuhnya dalam jumlah. Meskipun perasaan senang, kepuasan atau pembebasan
pengalaman dialami pada waktu mencuri, penderita akan mengalami perasaan
bersalah, depresi atau penyesalan segera.6
Rata-rata onset usia perilaku mencuri adalah selama masa remaja,
meskipun ada laporan baru bahwa onset usia perilaku mencuri terjadi paling cepat
saat usia 4 tahun dan paling lambat pada usia 77 tahun. Usia yang penting untuk
evaluasi adalah paling lambat pada usia 30 tahun. Wanita biasanya
memperlihatkan evaluasi pada usia yang lebih muda daripada pria. Panjangnya
masa antara onset dan waktu evaluasi memperkuat rasa bersalah, malu dan
kerahasiaan yang terlibat dalam gangguan ini.6

Mayoritas luas individu dengan kleptomania mencuri di toko. Dalam


sebuah penelitian, 68,2% individu dilaporkan bahwa nilai barang curian
meningkat diatas durasi gangguan dengan toleransi. Sebagian besar individu
dengan kleptomania selalu tidak berhasil dalam menghentikan perilakunya.
Ketidakmampuan menghentikan perilakunya membawa penderita pada perasaan
malu dan rasa bersalah. Banyak penderita kleptomania (64-87%) kadang-kadang
telah mengerti akibat dari perilaku mencuri mereka, dengan presentase sedikit
(15-23%) masuk penjara.6
Sekitar sepuluh tahun yang lalu, para peneliti menyarankan bahwa salah
satu cara untuk memahami gangguan kontrol impuls seperti kleptomania,
merupakan bagian dari spektrum obsesif-kompulsif. Konsep ini didasarkan pada
apa yang kemudian dikenal tentang karakteristik klinis dari gangguan, transmisi
keluarga dan respons baik farmakologi dan pengobatan intervensi psikososial.
Selama 5 tahun terakhir, telah terjadi peningkatan dramatis dalam penelitian
tentang kleptomania. Hasil penelitian ini adalah lebih rinci pemahaman
kleptomania dan gambaran kompleks dihubungkan dengan gangguan obsesifkompulsif. Selain itu, model lain untuk memahami kleptomani telah disarankan
dan penelitian menunjukkan bahwa diagnosa perilaku kleptomania mungkin jauh
lebih heterogen dari pikiran awal.6

2.5

Diagnosis
Kriteria untuk mendiagnosa kleptomania berdasarkan Diagnostic and

Statistical Manual of Mental Disorders, edisi keempat, teks revisi (DSM-IV-TR),


yaitu :3
1.

Kegagalan berulang dalam menahan impuls untuk mencuri bendabenda yang tidak diperlukan untuk keperluan pribadi atau untuk nilai
ekonominya.

2.

Meningkatnya perasaan ketegangan segera sebelum melakukan

pencurian.
3.

Rasa senang, puas, atau redanya rasa ketegangan pada saat bersamaan
melakukan pencurian.

4.

Mencuri tidak dilakukan untuk mengekspresikan kemarahan atau


balas dendam, dan bukan sebagai respon suatu waham atau halusinasi.

5.

Mencuri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan konduksi,


episode manik, atau gangguan kepribadian antisosial.

Kriteria untuk mendiagnosa kleptomania (curi patologis) berdasarkan PPDGJ-III,


yaitu :7
1.

Adanya peningkatan rasa tegang sebelum, dan rasa puas selama dan
segera sesudah melakukan tindakan pencurian

2.

Meskipun upaya untuk menyembunyikan biasanya dilakukan, tetapi


tidak setiap kesempatan yang ada digunakan.

3.

Pencurian basanya dilakukan sendiri (solitary act), tidak bersamasama dengan pembantunya.

4.

Individu mungkin tampak cemas, murung dan rasa bersalah pada


waktu diantara episode pencurian tetapi hal ini tidak mencegahnya
mengulangi perbuatan tersebut.

Curi patologis harus dibedakan dari:


1. Pencurian berulang di toko tanpa gangguan jiwa yang nyata, dimana
perbuatannya direncanakan dengan lebih hati-hati dan terdapat motif
keuntungan pribadi yang jelas.
2. Gangguan mental organik (F00-F09), dimana berulang kali gagal untuk
membayar belanjaan sebagai konsekuensi berkurangnya daya ingat dan
kemerosotan fungsi intelektual lain
3. Gangguan depresif dengan pencurian (F30-F33), beberapa penderita
depresi melakukan pencurian dan mungkin akan tetap mengulanginya
selama gangguan depresif masih ada.

2.6

Diagnosis Banding
Perbedaan utama antara kleptomania dengan bentuk mencuri lainnya

adalah untuk suatu diagnosis kleptomania, mencuri harus selalu mengikuti


kegagalan untuk menahan impuls dan harus merupakan tindakan yang tersendiri,
dan benda-benda yang dicuri tidak dipergunakan dan tidak memiliki arti ekonomi.

10

Pada mencuri tanpa gangguan jiwa biasanya tindakan itu direncanakan dan benda
yang dicuri biasanya untuk digunakan atau memiliki nilai ekonomi.1
Episode pencurian kadang-kadang terjadi pada masa gangguan psikotik,
seperti pada episode manik akut, depresi berat dengan gejala psikotik, atau
skizoprenia. Pencurian psikotik merupakan hasil dari peningkatan atau penurunan
patologis dari mood atau perintah dari halusinasi atau delusi. Pencurian pada
individu dengan gangguan kepribadian antisosial merupakan suatu yang sengaja
dilakukan untuk meningkatkan percaya diri, dengan beberapa tingkat persiapan
dan perencanaan, biasanya dilakukan dengan orang lain. Pencurian antisosial
biasanya melibatkan perilaku yang membahayakan atau kekerasan, khususnya
menghindari penangkapan. Rasa bersalah dan penyesalan jarang sekali muncul,
atau pasien selalu berbohong. Intoksikasi akut obat dan alkohol bisa memicu
pencurian pada individu dengan gangguan jiwa lainnya atau tanpa psikopatologi
yang berat. Pasien dengan Alzheimer atau penyakit organik demensia lainnya bisa
saja meninggalkan toko tanpa membayar, yang lebih mengarah pada kelalaian
daripada pencurian.3

2.7

Penatalaksanaan
Kebanyakan pasien menolak untuk mendapatkan bantuan sampai mereka

terlibat dalam proses hukum. Tidak ada terapi yang paling efektif dalam
penyembuhan gangguan ini, walaupun demikian beberapa terapi dapat diberikan.
Terapi yang dapat diberikan adalah secara farmakologis dan psikoterapi.1,2

a. Psikofarmaka
Ada beberapa obat yang dilaporkan berhasil dan dapat digunakan pada
penderita kleptomania, yaitu :
1) Antidepressant
Karena kleptomania pada awalnya merupakan suatu bentuk gangguan
obsesif kompulsif, pendekatan farmakologis pertama adalah penggunaan Selective
Serotonin Reuptake inhibitors (SSRIs). Beberapa laporan kasus menunjukkan
SSRIs mempunyai beberapa kamanjuran dalam pengobatan kleptomania.6

11

Fluoxentine,

fluvotamine,

dan

proxetine

telah

digunakan

sebagai

monoterapi dalam pengobatan kleptomania. Pemilihan penggunaan SSRIs pada


pengobatan kleptomania karena diyakini bahwa pada penderita kleptomania
terjadi disfungsi serotogenik. Respon penggunaan SSRIs pada pasien kleptomania
berupa penurunan keinginan mencuri, perilaku mencuri, dan peningkatan fungsi
social serta fungsi pekerjaan.6
Beberapa SSRIs telah dilaporkan keberhasilannya pada beberapa kasus :
fluoxentine pada 2 dari 10 pasien, dengan remisi 3 dan 11 bulan (McElroy et al.
1991) dan pada 4 pasien mengalami remisi 7, 12, 18, dan 20 bulan (Lepkifker et
al. 1999); fluvotamine, dengan remisi selama 9 bulan (Chong and Low 1996); dan
paroxetine, dengan remisi selama 3 bulan (Krause 1999; Lepkifker et al. 1999).2

2) Atypikal antipsikotik

3) Mood stabilizers
Obat ini memberikan ketenangan bila terjadi perubahan mood berupa
dorongan dorongan kuat untuk mencuri timbul secara mendadak.
4) Naltrexone
Merupakan opioid antagonis competitif kerja lama, khususnya pada
reseptor mu, dan juga reseptor kappa dan lamba. Pasien yang mendapatkan
naltrexone sering melaporkan berkurangnya keinginan yang mendesak untuk
mencuri. Keinginan mencuri yang mendesak tidak mungkin hilang tetapi
berkurang sehingga pasien dapat menolak/menekan keinginan tersebut dengan
lebih mudah. Naltrexone digunakan dalam studi pengobatan pertama kleptomani
dan menunjukkan penurunan yang signifikan dalam intensitas dorongan untuk
mencuri dan perilaku mencuri.2,6
Dannon et al melaporkan dua pasien kleptomania yang memberi respon
terhadap naltrexone. Pasien merupakan pasien yang tidak dirawat inap, satu
pasien diberikan 50mg/hari, yang lainnya 100mg/hari. Dalam satu sampai tiga
minggu, kedua pasien ini melaporkan adanya pengurangan gejala kleptomania,
khususnya pengurangan dorongan untuk mencuri. Laporan kasus lainnya pada

12

remaja dengan kleptomania menunjukkan bahwa naltrexone 50mg/hari efektif


untuk mengurangi dorongan untuk mencuri. Dosis rata-rata untuk naltrexone yang
efektif adalah 148mg/hari.6

b. Psikoterapi
Terapi yang digunakan dalam penyembuhan kleptomania adalah
Cognitive-Behavioral Therapy (CBT). Pada CBT individu diharapkan dapat
mengindentifikasi perilaku yang salah, pikiran negatif dan mengubah pikiran dan
perilaku tersebut secara lebih sehat. Pada Cognitive-Behavioral Therapy diberikan
beberapa perlakuan seperti covert sensitization, dimana individu diminta untuk
membangkitkan hal-hal yang tidak mengenakkan saat akan mencuri misalnya
pasien di intruksikan untuk membayangkan jika diri nya mencuri dan
membayangkan efek negatifnya seperti tertangkap atau perasaan mual dan sesak
nafas. Aversion therapy merupakan sesi dimana individu berusaha mengatur
pernafasan secara tepat, menahan nafas untuk beberapa saat ketika rasa tidak
nyaman muncul yang akan melawan dorongan-dorongan untuk mencuri tersebut
untuk kembali muncul. Systematic desensitization, membantu pasien untuk
mencapai keadaan relaksasi melalui relaksasi otot dan memerintahkan pasien
untuk membayangkan tindakan selain episode mencuri, juga menyarankan bahwa
pasien lebih baik mengontrol dorongan untuk mencuri dengan mengontrol
kecemasan.7
Penatalaksanaan yang mengkombinasikan CBT dengan obat telah
menunjukkan keuntungan pada pasien dalam suatu laporan kasus. Seorang pasien
pria 43 tahun dengan cedera tumpul pada regio fronto temporal kepala yang
menyebabkan timbulnya gejala mirip kleptomania diterapi dengan citalopram dan
CBT dan dilaporkan adanya pengurangan dari seluruh gejala kleptomania.
Seorang pasien wanita 77 tahun dengan onset kleptomania yang lambat (usia 73
tahun) dilaporkan berhentinya semua pencurian yang dilakukan setelah terapi
dengan pemberian kombinasi CBT, sertraline 50mg/hari, terapi menasehati diri
sendiri, dan membuat larangan sendiri dalam berbelanja.7

13

2.8

Prognosis
Kleptomania dapat mulai muncul pada masa anak-anak, walaupun

kebanyakan anak- anak dan remaja yang mencuri tidak akan menjadi kleptomania
pada saat dewasa. Onset gangguan ini sering muncul pada masa remaja akhir.
Wanita lebih sering mencari pertolongan psikiatri daripada pria. Pria lebih sering
dimasukkan ke penjara. Pria cenderung memeperlihatkan gangguan ini pada usia
50 tahun dan wanita usia 35 tahun.3
Perjalanan penyakit ini bisa bertambah dan berkurang tapi cenderung
menjadi kronis. Angka kesembuhan spontan tidak diketahui. Pada pasien dengan
penyakit yang serius biasanya sering tertangkap dan ditahan. Kebanyakan pasien
biasanya secara sadar mempertimbangkan konsekuensi dari perilaku mereka.
Prgonosis dengan pengobatan bisa baik, tapi sedikit pasien yang datang secara
sadar untuk mencari pertolongan.3

BAB 3. PENUTUP

1. Ciri penting dari kleptomania terdiri dari dorongan atau impus yang
rekuren, intrusif dan tidak dapat ditahan untuk mencuri benda-benda yang
tidak diperlukan.
2. Pasien kleptomania mungkin merasa bersalah dan cemas setelah mencuri
namun hal ini tidak dapat menghentikannya.
3. Diagnosis kleptomania ditegakkan berdasarkan PPDGJ-III atau DSM IV.
4. Pencurian pada kleptomania harus dibedakan dengan pencurian lain
seperti pencurian pada gangguan psikotik, gangguan kepribadian
antisosial, atau pada pasien Alzheimer.
5. Kebanyakan pasien menolak untuk mendapatkan bantuan sampai mereka
terlibat dalam proses hukum. Psikofarmaka yang dapat digunakan adalah
antidepresan SSRIs,

mood stabilizer, dan naltrexone, sedangkan

psikoterapi yang digunakan adalah Cognitive-Behavioral Therapy (CBT).

15

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan & Sadock. 2007. Synopsis of Psychiatry : Behavioral


Sciences/Clinical Psychiatry. 10th Edition : Jilid 1. Penerbit : Lippincott
Williams & Wilkins
2. Sadock, Benjamin J. dan Sadock, Virginia A. 2000. Kaplan & Sadock's
Comprehensive Textbook of Psychiatry 7th edition. Lippincott Williams &
Wilkins Publishers.
3. Maslim, Rusdi. 2002. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas
Dari PPDGJ-III. Jakarta.
4. Raja, Yuva. Kleptomania. http://www.scribd.com/doc/57561602/Kleptomania
5. Sudibio. Kleptomania. http://www.scribd.com/doc/43614579/Kleptomania
6. Basyaruddin.
http://www.scribd.com/doc/56233521/Kleptomania

Kleptomania.

7. Grant, Jon E. dan Odlaug, Brian L. 2008. Kleptomania: Clinical


Characteristics and Treatment. Rev. Bras. Psiquiatr. 30 (S11-5).