Anda di halaman 1dari 21

Responsi

KANDIDIASIS KUTIS

Disusun oleh :
FARAH MAULIDA
G0007010

Pembimbing :
Dr. Indah Julianto, dr, Sp.KK

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2011

STATUS RESPONSI
ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

Pembimbing

: Dr. Indah Julianto, dr, Sp.KK

Nama Mahasiswa

: Farah Maulida

NIM

: G0007010

KANDIDIASIS KUTIS
A. SINONIM
Sinonim dari kandidiasis kutis adalah :

Cutaneus Candidosis

Cutaneus Moniliasis

Cutaneus Dermatocandidosis 1
B. DEFINISI
Kandidiasis adalah penyakit infeksi primer atau sekunder yang
disebabkan oleh jamur genus Candida terutama Candida albicans. Penyakit
ini dapat berjalan akut, sub akut atau kronik, mengenai mulut, vagina, kulit,
kuku, kulit kepala, jari, tenggorokan, bronkhi, paru-paru, saluran pencernaan,
dan dapat pula sistemik mengenai endokardium, meningen sampai
septikemia.1,2,3 Sedangkan kandidiasis kutis merupakan salah satu jenis
kandidiasis yang menyerang kulit.4
C. KLASIFIKASI KANDIDIASIS
Berdasarkan tempat yang terkena, kandidiasis dapat dibagi sebagai
berikut :
1.

Kandidiasis selaput lendir, terdiri dari :

Kandidiosis oral (trush)


Perleche

Vulvoganititis
Balanitis atau balanopostitis
Kandidiosis mukokutan kronik
Kandidiosis bronkopulmonar dan paru
2.

Kandidiasis kutis terdiri atas:

a.

Lokalisata : daerah intertriginosa, dan daerah perianal

b.

Generalisata

c.

Paronikia dan onikomikosis

d.

Kandidiasis kutis granulomatosa.


3.

Kandidiosis sistemik

Endokarditis
Meningitis
Pielonefritis
Septikemia
4.

Reaksi id (kandidid) 1

D. EPIDEMIOLOGI
Penyakit kandidiasis ini ditemukan di seluruh dunia, dapat menyerang
semua umur, baik laki-laki maupun perempuan dan mempunyai penyebaran di
seluruh dunia. Candida adalah jamur patogen oportunistik yang paling
penting pada manusia. Di Amerika Serikat spesies Candida secara umum
merupakan kasus terpenting keempat dari infeksi aliran darah. 5 Angka
kematian yang disebabkan oleh kandidemia, yaitu terdapatnya Candida spp.
dalam darah, mencapai 30%. 6
Saat ini kasus kandidosis kutis masih banyak dijumpai. 4 Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Agung R, Sirait DP dan Soekandar TMSR di
Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang periode Januari 1995 sampai Desember
1998, didapatkan 399 kasus (1,72%) kandidosis kutis dari 23.078 pasien baru,
terdiri atas 166 laki-laki (41,60%) dan 233 perempuan (58,39%) dengan
kelompok umur terbanyak pada umur 0-1 tahun sejumlah 177 (44,36%).
Sedangkan berdasarkan penelitian pada periode Januari 1999 sampai

Desember 2004 oleh Puruhito B, Dewi AK, Soekandar TMSR, dan Soejoto
didapatkan 528 kasus kandidosis kutis (0,82%) dari 36.709 pasien baru di
Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr. Kariadi yang terdiri dari 193 laki-laki
(36,5%) dan 335 perempuan (63,5%), dimana kelompok umur terbanyak
adalah 0-1 tahun sebanyak 124 kasus (23,5%), terdiri dari laki-laki 45 (36,3%)
dan perempuan 79 (63,7%). Bagian tubuh yang paling banyak terdapat
kandidosis kutis adalah daerah genitokruris (21,7%). Penyakit ini didapatkan
di seluruh dunia dan dapat menyerang semua usia baik laki-laki ataupun
wanita.7
E. ETIOLOGI
Candida merupakan suatu flora normal terutama saluran pencernaan,
mukosa saluran pernafasan, vagina, uretra, kulit, dan di bawah jari-jari kuku,
tangan, dan kaki. Di tempat ini, ragi dapat menjadi dominan dan menyebabkan
keadaan patologik ketika daya tahan tubuh menurun.8
Lebih dari 150 species Candida telah diidentifikasi. Penyebab
tersering kandidiasis kutis adalah Candida albicans, kurang lebih sebanyak 70
persen.3,5,6 Penyebab lainnya adalah C. parapsilosis, C. tropicalis, C.
guilliermondii, C. krusei, C. pseudotropicalis, C. lusitaniae, C. zeylanoides
dan C. glabrata yang lebih jarang ditemukan.8
F. PATOGENESIS
Kelainan yang disebabkan oleh spesies Candida ditentukan oleh
interaksi yang kompleks antara patogenitas fungi dan mekanisme pertahanan
tubuh host.9
Faktor penentu patogenitas Candida adalah 9 :
1. Spesies : Genus Candida mempunyai 200 spesies, 15 spesies dilaporkan
dapat menyebabkan proses patogen pada manusia. C. albicans adalah
Candida yang paling tinggi patogenitasnya.
2. Daya lekat : Bentuk hifa dapat melekat lebih kuat daripada germtube,
sedang germtube melekat lebih kuat daripada sel ragi. Bagian terpenting

untuk melekat adalah suatu glikoprotein permukaan atau mannoprotein.


Daya lekat juga dipengaruhi oleh suhu lingkungan.
3. Dimorfisme : C. albicans merupakan jamur dimorfik yang mampu
tumbuh dalam kultur sebagai blastospora dan sebagai pseudohifa.
Dimorfisme terlibat dalam patogenitas Candida. Bentuk blastospora
diperlukan untuk memulai suatu lesi pada jaringan dengan mengeluarkan
enzim hidrolitik yang merusak jaringan. Setelah terjadi lesi baru
terbentuk hifa yang melakukan invasi.
4. Toksin : Toksin glikoprotein mengandung mannan sebagai komponen
toksik. Glikoprotein khususnya mannoprotein berperan sebagai adhesion
dalam kolonisasi jamur. Kanditoksin sebagai protein intraseluler
diproduksi bila C. albicans dirusak secara mekanik.
5. Enzim : Enzim diperlukan untuk melakukan invasi. Enzim yang
dihasilkan oleh C. albicans ada 2 jenis yaitu proteinase dan fosfolipid.
Faktor-faktor yang mempengaruhi mekanisme pertahanan host :
1. Sawar mekanik : Kulit normal sebagai sawar mekanik terhadap invasi
Candida. Kerusakan mekanik pertahanan kulit normal merupakan faktor
predisposisi terjadinya kandidiasis.
2. Substansi antimikrobial non spesifik : Hampir semua hasil sekresi dan
cairan dalam mamalia mengandung substansi yang bekerja secara non
spesifik menghambat atau membunuh mikroba.
3. Fagositosis dan intracellular killing : Peran sel PMN dan makrofag
jaringan untuk memakan dan membunuh spesies Candida merupakan
mekanisme

yang

sangat

penting

untuk

menghilangkan

atau

memusnahkan sel jamur. Sel ragi merupakan bentuk Candida yang siap
difagosit oleh granulosit. Sedangkan pseudohifa karena ukurannya, susah
difagosit. Granulosit dapat juga membunuh elemen miselium Candida.
Makrofag berperan dalam melawan Candida melalui pembunuhan
intraseluler melalui sistem mieloperoksidase (MPO).

4. Respon imun spesifik : imunitas seluler memegang peranan dalam


pertahanan melawan infeksi Candida. Terbukti dengan ditemukannya
defek spesifik imunitas seluler pada penderita kandidiasis mukokutan
kronik, pengobatan imunosupresif dan penderita dengan infeksi HIV.
Sistem imunitas humoral kurang berperan, bahkan terdapat fakta yang
memperlihatkan

titer

antibodi

anti-Candida

yang

tinggi

dapat

menghambat fagositosis.3,9
Mekanisme imun seluler dan humoral yang terlibat dalam infeksi
Candida adalah sebagai berikut: tahap pertama timbulnya kandidiasis kulit
adalah menempelnya Candida pada sel epitel disebabkan adanya interaksi
antara glikoprotein permukaan Candida dengan sel epitel. Kemudian Candida
mengeluarkan zat keratinolitik (fosfolipase), yang menghidrolisis fosfolipid
membran sel epitel. Bentuk pseudohifa Candida juga mempermudah invasi
jamur ke jaringan. Dalam jaringan, Candida mengeluarkan faktor kemotaktik
neutrofil yang akan menimbulkan reaksi radang akut. Lapisan luar Candida
mengandung

mannoprotein

yang

bersifat

antigenik

sehingga

akan

mengaktifasi komplemen dan merangsang terbentuknya imunoglobulin.


Imunoglobulin ini akan membentuk kompleks antigen-antibodi di permukaan
sel Candida, yang dapat melindungi Candida dari fungsi imunitas tuan rumah.
Selain itu Candida juga akan mengeluarkan zat toksik terhadap netrofil dan
fagosit lain.8,9,10

Adanya interaksi antara glikoprotein permukaan


Candida dengan sel epitel kulit
5

Candida menempel pada sel epitel kulit

Candida mengeluarkan zat keratinolitik (fosfolipase)

Fosfolipid membran sel epitel kulit terhidrolisis,


Candida masuk ke tubuh

Tubuh mengaktifkan semua komponen sistem imun

Candida akan difagosit oleh makrofag, neutrofil, dan


sel dendritik imatur

Candida juga melepaskan antigen berupa mannan yang


akan ditangkap oleh sel APC seperti sel dendritik

Dipresentasikan sebagai peptida spesifik ke sel T

Sel T mengaktifkan sel-sel sistem imun/efektor lainnya seperti sel B


untik memproduksi antibodi dan sel Th1 yang mengaktifkan
makrofag sebagai sel efektor untuk eliminasi Candida

Gambar 1. Skema Mekanisme Sistem Imun pada Kandidiasis


G. GAMBARAN KLINIS

Manifestasi klinis yang terjadi pada kandidiasis dapat dibedakan


berdasarkan tempat yang terkena.1 Gambaran klinis kandidosis kutis ditandai
dengan adanya lesi kulit yang akut, mula-mula kecil kemudian meluas, berupa
makula eritem, batas tegas, pada bagian tepi kadang-kadang tampak papul dan
skuama, serta sering terjadi erosi/basah, yang berasal dari vesikel yang pecah.
Di sekelilingnya terdapat lesi satelit yaitu lesi yang lebih kecil atau lesi
penyerta yang terletak di dekat lesi utama berupa vesikel atau pustul yang
kecil. 4
Berdasarkan letaknya, manifestasi klinis pada kandidiasis kutis dapat
dibedakan sebagai berikut :
1.

Kandidiasis intertriginosa
Kandidiasis Intertriginosa merupakan kandidiasis yang sering
menyerang orang-orang gemuk, terjadi pada tempat-tempat di mana dua
permukaan kulit saling menempel, seperti pada daerah lipatan kulit ketiak,
lipat paha, intergluteal, lipat payudara, antara jari tangan atau kaki. 10,11 Lesi
berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah dan eritematosa. Lesi
tersebut dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul
kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan daerah yang erosif dengan
pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi primer.3

Gambar 2. Kandidiasis Intertriginosa

2. Kandidiasis perianal

Lesi berupa maserasi seperti infeksi dermatofit tipe basah. Penyakit


ini menimbulkan pruritus ani. Kandidiasis perianal dapat muncul dengan
atau tanpa keterlibatan genital. Walaupun biasanya berawal disekitar tepi
anus dengan eritema non-spesifik, nyeri dan iritasi, penjalaran ke
perineum sering dijumpai, dengan gambaran klasik berkembang seiring
penjalarannya. Adanya pustul satelit biasanya merupakan indikasi untuk
terapi.3

Gambar 3. Kandidiasis Perianal


3. Kandidiasis kutis generalisata
Lesi terdapat pada glabrous skin, biasanya juga pada lipat
payudara, intergluteal dan umbilikus. Sering disertai glositis, stomatitis
dan paronikia. Lesi berupa ekzematoid, dengan vesikel-vesikel dan pustulpustul. Penyakit ini sering terdapat pada bayi, mungkin karena ibunya
menderita

kandidiasis

vagina

atau

mungkin

karena

gangguan

imunologik.1,3

Gambar 4. Kandidiasis Kutis Generalisata


4. Paronikia dan onikomikosis
Sering diderita oleh orang-orang yang pekerjaannya berhubungan
dengan air. Ditandai dengan edem kemerahan pada tepi kuku yang terasa
nyeri menyerupai paronikia oleh bakteri, dan bila dilakukan penekanan
kadang-kadang keluar eksudat seperti krim.2,3

Gambar 5. Paronikia dan Onikomikosis


5. Diaper disease
Sering pada bayi yang popoknya selalu basah dan jarang diganti
yang dapat menimbulkan dermatitis iritan, yang juga sering dierita
neonatus sebagai gejala sisa dermatitis oral dan perianal. Erupsi biasanya
berawal dari daerah perianal, meluas melibatkan perineum dan pada kasus
berat meluas pada paha atas, abdomen bawah dan punggung bawah. 6

Mula-mula kulit daerah perianal eritem, edem, terbentuk papul disertai


pustul, erosif dan basah, serta terdapat skuama koralet pada tepi lesi.1,3

Gambar 6. Diaper Disease


6.

Kandidosis Granulomatosa
Kebanyakan penderitanya adalah anak-anak. Lesi umumnya
mengenai wajah namun dapat pula timbul pada kulit kepala berambut
(skalp), jari tangan, badan, kaki dan faring. Kelainan berupa papul
hiperkeratotik yang ditutupi dengan krusta tebal kuning kecoklatan
(granuloma). Kadang-kadang lesi tumbuh menonjol sampai 2 cm
menyerupai tanduk.3

Gambar 7. Kandidiosis Granulomatosa

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG

10

Pemeriksaan penunjang pada dasarnya merupakan pemeriksaan


laboratorium yang dapat menunjukkan adanya jamur dalam jaringan, yang
dapat dilakukan secara langsung atau kultur.
1.

Pemeriksaan mikroskopis dengan KOH yang positif memastikan diagnosis


klinis penyakit kulit akibat jamur sedangkan pemeriksaan KOH 10%
negatif tidak menyingkirkan diagnosis penyakit tersebut.11 Hasil positif
kandidiasis menunjukkan adanya budding yeast cells (2 spora seperti angka
8), dengan atau tanpa pseudohifa atau hifa.11

Gambar 8. Candida albicans pada pemeriksaan mikroskopis


2.

Kultur Candida umumnya mudah tumbuh dalam suhu kamar (25-30C) dan
suhu 37C pada agar Saboraud glukosa atau Mycosel, dengan atau tanpa
antibiotik untuk menekan pertumbuhan bakteri. Dalam 24-48 jam terbentuk
koloni bulat, basah, mengkilat seperti koloni bakteri, berukuran sebesar
jarum pentul. Satu hingga dua hari kemudian koloni lebih besar, putih
kekuningan.3

11

Gambar 9. Hasil Kultur C.albicans


3.

Pemeriksaan histopatologi
Gambaran

histopatologis

kandidiasis

superfisialis

dapat

menyerupai reaksi radang akut, terdapat mikroabses yang berisi sel


mononuklear dengan infiltrasi limfosit pada dermis bagian atas. Dengan
pewarnaan hematoksilin-eosin tampak blastospora dan pseudohifa yang
akan lebih jelas tampak dengan pewarnaan khusus seperti PAS dan
pewarnaan Gomori. Sel ragi berbentuk lonjong dengan ukuran 3-6 mikron.3
4.

Pemeriksaan glukosa dan reduksi urine untuk melihat adanya diabetes


mellitus pada pasien.11

I. DIAGNOSIS
Diagnosis kandidiasis kutis ditegakkan berdasarkan anamnesis berupa
adanya gejala yang khas sesuai dengan jenis kandidiasis kutis yang diderita
pasien, disertai dengan hasil pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan
mikroskopis dengan KOH menunjukkan hasil positif.11
J. DIAGNOSIS BANDING
Gambaran klinis dermatomikosis superfisialis khususnya kandidiasis
biasanya sangat karakteristik dan dapat mengarahkan diagnosis meskipun
terkadang lesi mirip penyakit lain. Gambaran klinis dapat menjadi tidak khas
disebabkan berbagai faktor, misalnya infeksi sekunder, pengobatan yang
menimbulkan dermatitis kontak iritan dan alergi serta faktor yang

12

mengganggu respon peradangan dan respon imun, misalnya pengobatan


kortikosteroid serta penyakit tertentu.12
Diagnosis banding pada kandidiasis kutis adalah sebagai berikut :
1.

Kandidiasis intertriginosa perlu dibedakan dengan dermatitis seboroik,


dermatitis kontak, dermatofitosis, dan eritrasma.

2.

Paronikia Candida dan onikomikosis akut harus dibedakan dengan


paronikia oleh stafilokokus, dan tinea unguinum.

3.

Pada kandidiasis perianal harus dibedakan dengan tinea, dermatitis.

4.

Kandidiasis popok dibedakan dengan dermatitis kontak, dermatitis


seboroik, dan psoriasis.

5.

Granuloma Candida dibedakan dengan deep mycosis.3

K. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan nonmedikamentosa secara umum adalah sebagai
berikut : 1) Menghindari faktor predisposisi, 2) Menjaga kelembaban kulit, 3)
Mengurangi kontak dengan air, dan 4) Berpakaian yang nyaman, tidak sempit
dan bahan menyerap keringat.3
Penatalaksanaan medikamentosa pada kandidiasis kutis adalah sebagai
berikut : Pengobatan dengan nistatin, klotrimazol atau mikonazol topikal 2
kali sehari. Pasien dengan infeksi yang luas ditambahkan dengan flukonazol
oral 100 mg selama 1-2 minggu atau itrokonazol oral 100 mg 1-2 minggu.12,13
L. PROGNOSIS
Prognosis penyakit ini umumnya baik tergantung pada faktor
predisposisi dan beratnya penyakit. 1,3

DAFTAR PUSTAKA

13

1. Kuswadji. Kandidosis. Dalam : Djuanda A., Hamzah M., Aishah S., Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi IV, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta, 2006, pp; 103-6.
2. Fatta M. Kandidosis, Dalam : Marwali Harahap. Ilmu Penyakit Kulit.
Cetakan I, Hipokrates, Jakarta, 2000, pp ; 81-2.
3. Lies M.R, Sri W. Kandidiasis Kutan dan Mukokutan. Dalam :
Dermatomikosis superfisialis. Balai Penerbit FKUI. Jakarta, 2005, pp : 5566.
4. Rarasati P.N. Kesesuaian Pemeriksaan Laboratorium antara Lesi Utama dan
Lesi Satelit pada Penderita Kandidiosis Kutis. 2004. Available from
http://eprints.undip.ac.id/24415/1/Putri.pdf. 22 Agustus 2011, pp : 5-9.
5. Scott L F. Cutaneous Candidiasis. Available from http://www.emedicine.com/
2008.
6. Tyasrini E, Winata T, Susantina. Hubungan antara Sifat dan Metabolit
Candida

spp.

dengan

Patogenesis

Kandidiasis.

Available

from

http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/3407176182.pdf. 22 Agustus 2011,


pp:1-2
7. Puruhito B, Dewi AK, Soekandar TMSR, Soejoto. Kandidiasis kutis di RS
Dr. Kariadi Semarang selama periode 6 tahun (1 Januari 1999 31 Desember
2004). Disampaikan pada Kongres Nasional XI Perdoski, Jakarta, 6-9 Juli,
2005.
8. Simatupang

M.M.

Candida

albicans.

Available

from

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1935/1/09E01452.pdf.

22

Agustus 2011, pp : 1-2.


9. Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffith C. Rooks Text Book of
Dermattology 7th edition. Australia : Blackwell Science Ltd, 2004, p : 31.
10. Gaspari A, Tyring S.K. Clinical and Basic Immunodermatology. British
Library. English, 2005, pp : 373-87.
11. Murtiastutik D, Ervianti E, Agusni I, Suyoso S. Atlas Penyakit Kulit dan
Kelamin Edisi 2. Surabaya : Airlangga University, 2010, pp: 76-81.

14

12. Sandy S Suharno. Tantien Nugrohowati, Evita H. F. Kusmarinah. Mekanisme


Pertahanan Pejamu pada Infeksi Kandida. Dalam : Media Dermatovenereologica Indonesiana, Jakarta, 2000, pp : 187-92.
13. Graham R., Burns B.T. Lecture Notes Dermatologi 8 th edition. Surabaya:
Erlangga, 2005, p : 40.

STATUS PENDERITA

15

I.

II.

IDENTITAS PENDERITA
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama

:
:
:
:

Ny. S
49 tahun
Perempuan
Islam

Status

Menikah

Pekerjaan
Alamat
Tanggal Pemeriksaan
No. RM

:
:
:
:

Ibu Rumah Tangga


Perum Barito RT 11/ 03 Kartasura Sukoharjo
20 Agustus 2011
01073157

ANAMNESIS
A.

Keluhan Utama :

Gatal di selangkangan
B.

Riwayat Penyakit Sekarang :


Kurang lebih sejak 2 bulan yang lalu pasien merasa gatal di daerah

selangkangan. Pada saat awal terjadi gatal, pasien mengaku terdapat kulit
yang berwarna kemerahan dan agak basah di selangkangannya, namun
saat ini sudah berubah menjadi agak kehitaman dan kering. Rasa gatal
kadang-kadang disertai panas seperti rasa terbakar dan agak clekit-clekit.
Gatal dirasakan muncul terutama pada saat kepanasan dan berkeringat.
Kira-kira satu bulan ini pasien mencoba mengobati dengan memakai
bedak salisil namun keluhan gatal masih dirasakan.
Karena rasa gatal tidak kunjung hilang maka pasien memeriksakan
diri ke RSDM.

C.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat sakit serupa
Riwayat alergi obat
Riwayat alergi makanan

: disangkal
: disangkal
: disangkal

Riwayat asma

: disangkal

16

Riwayat hipertensi

: (+) sejak 10 tahun yang lalu

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat medik lain

: pasien merupakan konsulan dari bagian THT


dengan post epistaksis et causa suspek
karsinoma nasofaring

D. Riwayat Keluarga :
Riwayat sakit serupa
Riwayat alergi makanan
Riwayat alergi obat
Riwayat Asma
Riwayat DM
Riwayat hipertensi

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: (+) ayah kandung

E. Riwayat Kebiasaan :
Pasien biasa mandi 2x sehari, dan memakai handuk sendiri dengan
sumber air dari PAM. Ganti pakaian dalam 2x sehari dan pakaian luar
1x sehari, ganti seprei sebulan sekali.
F. Riwayat Ekonomi :
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal bersama
seorang suami dan dua orang anak.

III.

PEMERIKSAAN FISIK
A.

Status generalis
1. Keadaan umum
Vital Sign

: baik, compos mentis, gizi kesan berlebih


Tensi

: 140/90 mmHg

Respirasi Rate

: 20x /menit

Nadi

: 88x /menit

17

Suhu

: afebril

2. Kepala
3. Mata
4. Hidung
5. Mulut
6. Leher
7. Punggung
8. Dada
9. Abdomen
10.Inguinal dan anogenital

: dalam batas normal


: dalam batas normal
: dalam batas normal
: dalam batas normal
: terdapat pembesaran pada leher
: dalam batas normal
: dalam batas normal
: dalam batas normal
: lihat status dermatologis

11. Ekstremitas atas

: dalam batas normal

12.Ekstremitas bawah

: dalam batas normal

B. Status Dermatologis

Regio inguinalis:
Tampak lesi di regio inguinal berupa patch hiperpigmentasi yang
berbatas tegas disertai skuama halus.

Gambar 10. Regio inguinalis sinistra

18

Gambar 11. Regio Inguinalis dextra


IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Dilakukan pemeriksaan kerokan kulit dari lesi yang ada menggunakan
larutan KOH 10%. Dari pemeriksaan tersebut, ditemukan adanya budding
yeast cell (+).

Gambar 12. Hasil Pemeriksaan Mikroskopis dengan KOH10%


menunjukkan adanya Budding yeast cell
V.

USULAN PEMERIKSAAN
Pemeriksaan biakan jamur pada medium agar dekstrosa Sabouraud.

19

VI.

DIAGNOSIS BANDING
Kandidiasis kutis
Tinea cruris
Eritrasma

VII.

DIAGNOSIS KERJA
Kandidiasis kutis

VIII.

TERAPI
A.

Non medikamentosa
Edukasi pasien mengenai :
-

Menjaga kebersihan dan menjaga kulit agar tidak lembab

Menghindari obesitas

Memakai pakaian yang menyerap keringat

B.

Medikamentosa
-

Topikal
Miconazole cream 2% 2 dd ue

Sistemik
Ketoconazole tab 200 mg 1 x 1, Interhistin 2x1 tablet

IX.

PROGNOSIS
Ad vitam
Ad sanam
Ad fungsionam
Ad kosmetikam

: bonam
: bonam
: bonam
: bonam

20