Anda di halaman 1dari 23

PERCOBAAN 3

ANASTESI LOKAL

  • 1. Tujuan Percobaan

Mengenal dan menguasai teknik untuk mencapai anestetik lokal pada

hewan. Mengetahui cara pemberian anestetik lokal.

Mengetahui cara kerja anestetik lokal. Memahami faktor-faktor yang melandasi perbedaan-perbedaan dalam

sifat dan potensi anestetika lokal. Mengenal berbagai faktor yang mempengaruhi kerja anestetika lokal.

Dapat mengkaitkan daya kerja anestetika lokal dengan manifestasi gejala

keracunan serta pendekatan rasional untuk mengatasi keracunan ini

  • 2. Tinjauan Pustaka

Anestetik lokal adalah obat yang menghasilkan blokade konduksi atau blokade lorong natrium pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsang transmisi sepanjang saraf, jika digunakan pada saraf sentral atau perifir. Prinsip kerjanya adalah menghilangkan keterangsangan dari organ akhir yang menghantarkan nyeri dan menghilangkan kemungkinan penghantaran dari serabut saraf sensibel secara bolak-balik pada tempat tertentu, sebagai akibatnya rasa (sensasi) nyeri untuk sementara hilang.

Anastesi Lokal adalah obat yang diberikan secara oral (topikal atau suntikan) dalam kadar yang cukup dapat menghambatan hantaran implus pada syaraf yang dikenal oleh obat tersebut .Obat-obat ini menghilangkan rasa/sensasi nyeri (pada konsentrasi tinggi dapat mengurangi aktivitas motorik) terbatas pada daerah tubuh yang dikenai tanpa menghilangi kesadaran .Kebanyakan obat anestesi lokal adalah suatu ester atau amida dari derivat benzen sederhana . Secara Kimia, obat-obat anestesi lokal terdiri dari golongan senyawa kimia yang mirip dengan senyawa yang memblok kanal Na pada membran sel syaraf yang mudah

dirangsang .Tipe ikatan ini menentukan sifat farmakologi obat anestesi lokal, terutama anestesi lokal golongan ester (yang mempunyai ikatan ester) umumnya kurang stabil dan mudah dimetabolisme karena pada degredasi dan inaktif didalam tubuh , gugus tersebut akan dihidrolisis.

Anestetik lokal menghilangkan penghantaran saraf ketika digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan konsentrasi tepat. Bekerja pada sebagian Sistem Saraf Pusat (SSP) dan setiap serabut saraf. Kerja anestetik lokal pada ujung saraf sensorik tidak spesifik. Hanya kepekaan berbagai struktur yang dapat dirangsang berbeda. Serabut saraf motorik mempunyai diameter yang lebih besar daripada serabut sensorik. Oleh karena itu, efek anestetika lokal menurun dengan kenaikan diameter serabut saraf, maka mula-mula serabut saraf sensorik dihambat dan baru pada dosis lebih besar serabut saraf motorik dihambat.

dirangsang .Tipe ikatan ini menentukan sifat farmakologi obat anestesi lokal, terutama anestesi lokal golongan ester (yang

Karakteristik Obat Anastetik Lokal

Anestetik lokal ialah gabungan dari garam yang larut dalam air dan alkaloid yang larut dalam lemak yang terdiri dari bagian kepala cincin aromatik Tak jenuh bersifat lipofilik (paba para amino benzoic acid), bagian badan sebagai Penghubung terdiri dari cincin hidrocarbon dan bagian ekor yang terdiri dari Asam amino tersier bersifat hidrofilik.

Dalam bentuk basa bebas, anestetik lokal hanya sedikit larut dan tidak stabil dalam bentuk larutan. Oleh karena itu diperdagangkan dalam bentuk garam yang mudah larut dalam air, biasanya garam hidroklori. Anestetik lokal sering dikombinasikan dengan vasokonstriktor dengan maksud memperpanjang dan memperkuat kerja anestetik lokal dan juga mengurangi kecepatan absorpsi anestetik lokal sehingga akan mengurangi toksisitas sistemiknya. Vasokonstriktor yang digunakan epinefrin (1 dalam 200.000 bagian) dan norepinefrin (1 dalam 100.000 bagian).

Dosis toksik obat anestesi lokal, dipengaruhi oleh :

Jenis (sifat toksik inheren dan efek vasodilatasi) obat AL

 

Konsentrasi obat AL

Injeksi intravaskuler

Kecepatan injeksi

Vaskularisasi jaringan

Berat badan penderita

Kecepatan metabolisme dan ekskresi obat

Dosis toksik juga sangat dipengaruhi oleh apakah campuran vasokontriktor atau tidak.

digunakan

dengan

Penggolongan Anastetik Lokal

Berdasarkan jenis ikatan yang terdapat di dalam struktur kimia anestetik lokal, maka digolongkan menjadi dua golongan, yaitu :

1) Senyawa ester (terdapatnya ikatan ester). Contohnya : Kokain, Prokain, tetrakain dan Benzokain.

2)

Senyawa amida (terdapatnya ikatan Dibukain, Mepivakain dan Prilokain.

amida). Contohnya : Lidokain,

Berdasarkan teknik pemberian anestetik lokal :

1) Anestesi permukaan, yaitu mengoleskan atau penyemprotan analgetik

2)

lokal diatas selaput mukosa seperti mata, hidung atau faring. Anestesi Inhalasi, yaitu penyuntikan larutan analgetik lokal langsung

3)

diarahkan disekitar tempat lesi, luka atau insisi. Cara inflitrasi yang sering digunakan adalah blokade lingkar dan obat suntikan intradermal atau subkutan. Anestesi Blok, yaitu penyuntikan analgetika lokal langsung kesaraf

4)

utama atau pleksus saraf. Hal ini bervariasi dari blokade pada saraf tunggal, misalnya saraf oksipital dan pleksus brakialis, anestesi spinal, anestesi epidural, dan anestesi kaudal. Pada anestesi spinal, analgetik lokal disuntikan langsung kedalam ruang subaraknoid diantara konus medularis dan bagian akhir ruang subaraknoid. Anestesi epidural diperoleh dengan menyuntikkan zat anestesi lokal kedalam ruang epidural. Pada anestesi kaudal, zal analgetik lokal disuntikan melalui hiatus sakralis. Analgesi Regional, yaitu penyuntikan larutan analgetik lokal intravena. Ekstrimitas dieksanguinasi dan diisolasi bagian proksimalnya dari sirkulasi sistemik dengan turniket pneumatik.

Farmakokinetik

Anestesi lokal biasanya diberikan secara suntikan ke dalam daerah serabut saraf yang akan menghamba. Oleh karena itu, penyerapan dan distribusi tidak terlalu penting dalam memantau mula kerja efek dalam menentukan mula kerja anestesi dan halnya mula kerja anestesis umum terhadap SPP dan toksisitasnya pada jantung. Aplikasi topikal anestesi lokal bagaimanapun juga memerlukan difusi obat guna mula keja dan lama kerja efek anestesinya.

a)

Absorbsi Absorbsi sistemik suntikan anestesi lokal dari tempat suntika dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain dosis, tempat suntikan, ikatan obat jaringan, adanya bahan vasokonstriktor, dan sifat fisikokimia obat. Aplikasi anestesi lokal pada daerah yang kaya vaskularisasinya seperti mukosa trakea

menyebabkan penyerapan obat yang sangat cepat dan kadar obat dalam darah yang lebih tinggi dibandigkan tempat yang perfusinya jelek, seperti tendo. Untuk anestesi regio yang menghambat saraf yang besar, kadar darah maksimum anestesi lokal menurun sesuai dengantempat pemberian yaitu:

interkostal (tertinggi) > kaudal > epidural > pleksus brankialis > saraf insciadikus (terendah).

Bahan vasokonstriktor seperti epinefrin mengurangi penyerapan sistematik anestesi lokal dari tempat tumpukan obat dengan menguragi aliran darah di daerah ini. Keadaan ini menjadi nyata terhadap obat yang massa kerjanya singkat atau menengah seperti prokain, lidokain, dan mepivakain (tidak untuk prilokain). Ambilan obat oleh saraf diduga diperkuat oleh kadar obat lokal yang tinggi ,dan efek dari toksik sistemik obat akan berkurang karena kadar obat yang masuk dalam darah hanya 1/3-nya saja.

  • b) Distribusi Anestesi lokal amida disebar meluas dalam tubuh setelah pemberian bolus intravena. Bukti menunjukkan bahwa penyimpanan obat mungkin terjadi dalam jaringan lemak.setelah fase distribusi awal yang cepat, yang mungkin menandakan ambilan ke dalam organ yang perfusinya tinggi seperti otak, ginjal, dan jantung, dikuti oleh fase distribusi lambat yang terjadi karena ambilan dari jaringan yang perfusinya sedang, seperti otot dan usus. Karena waktu paruh plasma yang sangat singkat dari obat tipe estesr (lihat bawah), maka distribusinya tidak diketahui.

  • c) Metabolisme dan ekskresi Anestesi lokal diubah dalam hati dan plasma menjadi metabolit yang mudah larut dalam air dan kemudian diekskresikan ke dalam urin. Karena anestesi lokal yang bentuknya tak bermuatan mudah berdifusi melalui lipid, maka sedikit atau tidak ada sama sekali bentuk netralnya yang diekskresikan kerana bentuk ini tidak mudah diserap kembali oleh tubulus ginjal.

Tipe ester anestesi lokal dihidrolisis sangat cepat di dalam darah oleh butirilkolinesterase (pseudokolinesterase). Oleh karena itu, obatini khas sekali mempunyai waktu paruh yang sangat singkat, kurang dari 1 menit untuk prokain dan kloroprokain. Penurunan pembersihan anestesi lokal leh hati ini harus diantisipasi dengan menurunkan aliran darah kehati. Sebagai contoh, pembersihan lidokain oleh hati pada binatang yang dianestesi dengan halotan lebih lambat dari pengukuran binatang yang diberi nitrogen oksida dan kurare. Penurunan pembersihan ini berhubungan penurunan aliran darah ke dalam hati dan penekanan mikrosom hati karena halotan. Propranolol dapat memperpanjang waktu paruh anestesi lokal amida.

Farmakodinamik

Isyarat dalam serabut saraf dihantarkan melalui impuls listrik yang terbentuk pada awalnya di setiap membran sel syaraf. Setiap membran sel syaraf (demikian juga semua membran sel tubuh lainnya) mempunyai potensial listrik sebesar -90 mV pada keadaan istirahat. Potensial listrik ini terbentuk karena adanya perbedaan konsentrasi ion natrium di dalam dan di luar membran sel, dimana konsentrasi di luar membran ( 142 mEq/L) lebih besar daripada di dalam membran sel ( 14 mEq/L), sementara konsentrasi anionnya sama ( 150 mEq/L). Keadaan ini menyebabkan suasana di dalam membran sel lebih negatif ketimbang di luar.

Pada saat timbulnya rangsangan terhadap sel syaraf ( baik rangsangan kimia, fisik maupun listrik ) membran sel menjadi lebih permeabel terhadap ion natrium sehingga terjadi aliran ion natrium dari luar ke dalam sel melalui kanal natrium. Hal ini menimbulkan situasi dimana konsentrasi ion natrium di dalam membran sekarang menjadi lebih besar ketimbang di luar membran sel dan menyebabkan potensial listrik berubah dari -90mV menjadi +45mV. Perubahan ini disebut dengan peristiwa depolarisasi. Impuls listrik inilah yang nantinya menghantarkan isyarat sepanjang serabut syaraf.

Obat anestetik lokal berikatan dengan reseptor khusus di kanal natrium sehingga menimbulkan blokade yang mencegah aliran natrium. Hal ini lebih lanjut mencegah terjadinya perubahan potensial listrik yang artinya juga mencegah timbulnya impuls listrik sehingga hantaran isyarat tidak terjadi.

Efek Samping penggunaan Obat Anastesi Lokal

Seharusnya obat anestesi local diserap dari tempat pemberian obat. Jika

kadar obat dalam darah menigkat terlalu tinggi, maka akan timbul efek pada berbagai sistem organ.

  • a) Sistem Saraf Pusat Efek terhadap SSP antara lain ngantuk, kepala terasa ringan, gangguan visual dan pendengaran, dan kecemasan. Pada kadar yang lebih tinggi, akan timbul pula nistagmus dan menggigil. Akhirnya kejang tonik klonik yang terus menerus diikuti oleh depresi SSP dan kematian yang terjadi untuk semua anestesi local termasuk kokain. Reaksi toksik yang paling serius dari obat anestesi local adalah timbulnya kejang karena kadar obat dalam darah yang berlebihan. Keadaan ini dapat dicegah dengan hanya memberikan anestesi local dalam dosis kecil sesuai dengan kebutuhan untuk anestesi yang adekuat saja.

  • b) Sistem Saraf Perifer (Neurotoksisitas) Bila diberikan dalam dosis yang berlebihan, semua anestesi local akan menjadi toksik terhadap jaringan saraf.

  • c) Sistem Kardiovaskular Efek

kardiovaskular

anestesi local akibat sebagian dari efek langsung

terhadap jantung dan membrane otot polos serta dari efek secara tidak langsung melalui saraf otonom. Anestesi local menghambat saluran natrium jantung sehingga menekan aktivitas pacu jantung, eksitabilitas, dan konduksi jantung menjadi abnormal. Walaupun kolaps kardiovaskular dan kematian biasanya timbul setelah pemberian dosis yang sangat tinggi, kadang-kadang dapat pula terjadi dalam dosis kecil yang diberikan secara infiltrasi.

  • d) Darah Pemberian prilokain dosis besar selama anestesi regional akan menimbulkan penumpukan metabolit o-toluidin, suatu zat pengoksidasi yang mampu mengubah hemoglobin menjadi methemeglobin. Bila kadarnya cukup besar maka warna darah menjadi coklat.

  • e) Reaksi alergi

 

Reaksi

ini sangat

jarang terjadi dan

hanya terjadi pada sebagian kecil

populasi.

Obat-Obat Anastesi Lokal

  • 1. Kokain (benzoylmetilekgonin) Anestetikum dari kelompok ester ini berkhasiat vasokontriksi dan bekerjanya lebih lama, mungkin karena merintangi re-uptake noradrenalin di ujung neuron adrenergic sehingga kadarnya di daerah reseptor meningkat. Selain itu, kokain juga memiliki efek simpatomimetik sentral dan perifer.

Daya kerja stimulasinya terhadap SSP (cortex) menimbulkan beberapa gejala, seperti gelisah, ketegangan, dan meningkatnya kapasitas dan tenaga sehingga tahan lama untuk bekerja lama karena hilangnya perasaan lelah.

Penggunaannya hanya untuk enestesia permukaan pada pembedahan di hidung, tenggorok, telinga atau mata. Penggunaannya sebagai tetes mata sudah di tinggalkan berhubung resiko akan cacat kornea dan sifat midriasisnya. Penggunaannya yang terlalu sering dengan konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan necrosis (mati jaringan) akibat vasokontriksi setempat. Kehamilan : kokain dapat meningkatkan resiko abortus dan cacat pada janin, terutama pada saluran urinnya. Dosis: kedokteran mata: larutan (HCL) 1-4 %, anesthesia hidung, telinga, dan tenggorok 1-10%.

Ester ini merupakan derivate dari asam p-amino benzoate yang reabsorbsinya lambat. Khasiat anestetik obat ini lemah, sehingga hanya digunakan pada anestesi permukaan untuk menghilangkan nyeri dan gatal-gatal (pruritus).

Benzokain digunakan dalam suppositoria (250-500 mg untuk Rako) atau salep (2%) anti-wasir (untuk Borraginol), juga dalam salep kulit, bedak tabor 5-20% dan lotion anti-sunburn (3%, Benzomid).

  • 3. Prokain: Novocaine, etokain Derivat-benzoat ini yang disintesa pada tahun 1905 tidak begitu toksis dibandingkan kokain. Anestetik local dari kelompok-ester ini bekerja singkat dalam tubuh zat ini dengan cepat dan sempurna dihidrolisa oleh kolinesterase menjadi dietilamino etanol dan PABA (asam para-aminobenzoat), yang mengantagonir daya kerja sulfonamide. Reabsorbsinya di kulit buruk, maka hanya digunakan sebagai injeksi dan sering kali bersamaan dengan adrenalin untuk memperpanjang daya kerjanya.sebagai anestetik local, prokain sudah banyak di gantikan oleh lidokain karena efek-efek sampingnya. Efek sampingnya yang serius adalah:

Hipersensitasi

Kadang-kadang pada dosis rendahsudah dapat menyebabkan kematian

dan kolaps dan kematian. Reaksi terhadap preparat kombinasi proka penisilin. Berlainan dengan

kokain, zat tidak mengakibatkan adiksi. Dosis: 0,25-0,5%

  • 4. Oksibuprokain (benoxinate, Novesin) Merupakan derivate-oksibutil (1954) yang tidak bersifat merangsang, terutama digunakan pada kedokteran THT dan mata. Tetapi pemakaiannya harus berhati-hati bila terdapat selaput lender yang rusak atau adanya peradangan setempat. Mulai kerjanya cepat dan kuat (dalam 1 menit) dan bertahan lebih kurang 10 menit. Toksisitasnya ringan dan menurut laporan tidak menimbulkan reaksi alergi.

Adalah derivate benzoat dengan gugus-metil pada atom(1941). Khasiatnya lebih kurang 10 kali lebih kuat dari pada prokain, tetapi juga beberapa kali lebih toksis. Mulai kerjanya cepat dan berlangsung lama, sedangkan resorpsinya dari mukosa jauh lebih baik daripada prokain

  • 6. Lidokain : lignokain, Xylocaine Derivate-asetanlida ini ( 1947) termasuk kelompok amida dan merupakan obat pilihan utama untuk untuk anastesia permukaan ataupun filtrasi . zat ini digunakan pada selaput lender dan kulit untuk nyeri,perasaan terbakar dan gatal . Dibandingkan prokain, khasiatnya lebih kuat dan lebih cepat kerjanya (setelah beberapa menit) juga bertahan lebih lama. Penggunaan : lidokain banyak digunakan setelah infark jantung sebagai obat pencegah aritmia ventricular( di bagian ICCU) dan pada bedah jantung . Efek sampingnya adalah Mengantuk, Pusing, Sukar bicara, Hipotensi, dan Konvulsi. Semua efek SSP yang terutama timbul pada overdose.

  • 7. Prilokain (Citanest) Adalah derivate yang mulai kerja dan kekuatannya sama dengan lidokain. Toksisitasnya lebih rendah daripada lidokain, karena efek vasodilatasinya lebih ringan sehingga reabsorbsinya juga lebih lambat dan perombakannya lebih cepat . di dalam hati, zat ini dirombak menjadi o-toluidin dan metabolit lain . ekskresinya melalui kemih ( kurang dari 1%) . obat ini digunakan pada anstesia permukaan 4% dan secara parenteral 1-1,5% dengan atau tanpa adrenalin.

  • 8. Mepivakain, Scandicaine Derivate-piperidin

ini

termasuk

kelompok-amida yang mulai kerja dan

kekuatannya mirip lidokain tetapi berthan sedikit lama . tidak berkhasiat

vasodilatasi sehingga tidak perlu ditambahkan vasokonstraktor. Obat ini terutama digunakan sebagai aastesia infiltrasi dan enis anastesia parenteral pada pembedahan dental, mata dan THT.

9.

Cinchokain

Derivate-kinolin ini dari tipe amida yang beberapa kali lebih kuat daripada lidokain tetapi juga lebih toksis.kerjanya bertahan lebih lama dan juga bersifat

vasodilatasi. Obat ini banyak digunakan sebagai anestetikum permukaan antara lain dalam suppositoria anti wasir atau dalam salep untuk nyeri dan gatal gatal, tidak menimbulkan hipersensitasi. efeknya tampak setelah ca 15 menit dan berlangsung 24 jam.

  • 10. Artikain Derivate-tiofen ini merupakan zat anestetik local dari kelompok-amida dengan kerja panjang ( 1976 0 terikat pada protein plasma ca 95%. Efeknya timbul setelah 3 menit dan berlangsung agak lama, ca 45-90 menit. Obat ini digunakan untuk pembedahak kevil dan di kedokteran gigi . karena artikain memiliki daya penetrasi tulang yang lebih baik dibandingkan lidokain. Efek samping : Pada orang yang alergi terhadap zat pengisi lubang gigi amalgam dan artukain dapat timbul keluhan kesehatan serius. Dosis dewasa sekalinya 400mg ..

  • 11. Benzilalkohol Cairan ini melarut dalam air dan berkhasiat anastetis dan anti gatal lemah begitupula bakteriostatis terhadap kuman.

3.

Alat dan Bahan

a)

Alat

Alat suntik

Stopwatch

Gunting

Vial

b)

Bahan

Larutan NaCl Fisiologis 0,5 ml.

Prokain HCl 2 % 0,5 ml.

Sikat bulu

Kelinci

  • 4. Prosedur Kerja

1)

Gunting bulu mata kelinci.

2) Teteskan ke dalam kantong konjungtivanya Larutan Anestetik lokal

3)

Prokain hidroksida 2 % 0,5 ml pada mata kanan kelinci. Pada mata kiri tiap kelinci diteteskan Larutan Nacl Fis 0,5 ml sebagai

4)

kontrol. Tutup mata masing-masing kelopak mata selama satu menit.

5) Catat ada atau tidaknya refleks mata setiap 5 menit dengan

 

menggunakan aplikator tiap kali pada permukaan kornea masing-

6)

masing mata tiap kelinci. Bandingkan pada mata kiri sebagai kontrol. Catat dan tabelkan pengamatan dengan penentuan secara seksama saat

7)

muncul dan hilangnya efek. Bahas eksperimen ini selengkap mungkin.

8) Tarik kesimpulan dan berikan komentar-komentar saudara untuk

 

eksperimen ini.

  • 5. Hasil dan Pembahasan

a)

Hasil

b) Pembahasan Pada praktikum ini dilakukan anastesi pada kelinci dengan tujuan Memahami faktor-faktor yang melandasi perbedaan-perbedaan

b)

Pembahasan

Pada praktikum ini dilakukan anastesi pada kelinci dengan tujuan Memahami faktor-faktor yang melandasi perbedaan-perbedaan dalam sifat dan potensi anestetika lokal. Obat yang digunakan dalam menimbulkan anastesia disebut sebagai anestetik, dan kelompok obat ini dibedakan dalam anastetik umum dan anastetik local. Bergantung pada dalamnya pembiusan, anastetik umum dapat memberikan efek analgesia yaitu hilangnya sensasi nyeri , atau efek anestesia yaitu analgesia yang disertai hilangnya kesadaran, sedangkan aestetik local hanya dapat menimbulkan efek analgesia. Anestetik umum bekerja di susunan saraf pusat sedangkan anesteti local bekerja langsung pada serabut saraf di perifer.

Anestesi lokal atau yang sering disebut pemati rasa adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup. Anestesi lokal bekerja pada tiap bagian susunan saraf dengan cara merintangi secara bolak- balik penerusan impuls-impuls saraf ke Susunan Saraf Pusat (SSP) dan dengan demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas atau rasa dingin.

Anestesi lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya terutama di selaput lendir.Disamping itu, anestesia lokal mengganggu fungsi semua organ dimana terjadi konduksi/transmisi dari beberapa impuls.Artinya, anestesi lokal mempunyai efek yang penting terhadap SSP, ganglia otonom, cabang-cabang neuromuskular dan semua jaringan otot.

Salah satu obat anestetik local yakni Prokain. Prokain adalah ester aminobenzoat untuk infiltrasi, blok, spinal, epidural, merupakan obat standart untuk perbandingan potensi dan toksisitas terhadap jenis obat-obat anestetik local lain.

Salah satu obat anestetik local yakni Prokain. Prokain adalah ester aminobenzoat untuk infiltrasi, blok, spinal, epidural,

Procaine Hydrochlorida

Indikasi Diberikan intarvena untuk pengobatan aritmia selama anestesi umum, bedah

jantung, atau induced hypothermia.

Kontraindikasi Pemberian intarvena merupakan kontraindikasi untuk penderita miastemia gravis karena prokain menghasilkan derajat blok neuromuskuler. Dan prokain juga tidak boleh diberikan bersama-sama dengan sulfonamide.

Bentuk sediaan obat Sediaan suntik prokain terdapat dalam kadar 1-2% dengan atau tanpa epinefrin untuk anesthesia infiltrasi dan blockade saraf dan 5-20% untuk anestesi spinal.sedangkan larutan 0,1-0,2 % dalam garam faali disediakan untuk infuse IV. Untuk anestesi kaudal yang terus menerus, dosis awal ialah 30 ml larutan prokain 1,5%.

Diagnosis Kelas therapy : obat anastesi Sub kelas therapy : anestesi local Nama obat dagang : novokain, etokain, gerovital Nama obat generic : prokain

Mekanisme kerja obat

Pemberian prokain dengan anestesi infiltrasi maximum dosis 400 mg dengan durasi 30-50, dosis 800 mg, durasi 30-45. Pemberian dengan

anestesi epidural dosis 300-900, durasi 30-90, onset 5-15 mnt. Pemberian dengan anestesi spinal : preparatic 10%, durasi 30-45 menit.

Efek therapy Pada penyuntikan prokain dengan dosis 100-800 mg, terjadi analgesia umum ringan yang derajatnya berbanding lurus dengan dosis. Efek maksimal berlangsung 10-20 menit, dan menghilang sesudah 60 menit. Efek ini mungkin merupakan efek sentral, atau mungkin efek dari dietilaminoetanol yaitu hasil hidrolisis prokain.

Efek samping Efek samping yang serius adalah hipersensitasi,yang kadang-kadang pada dosis rendah sudah dapat mengakibatkan kolaps dan kematian. Efek samping yang harus dipertimbangkan pula adalah reaksi alergi terhadap kombinasi prokain penisilin. Berlainan dengan kokain, zat ini tidak mengakibatkan adikasi.

Cara pemberian obat. Cara pemberian obat bius prokain deberikan secara injeksi interavena pada atau sekitar jaringan yang akan di anestesi, sehingga mengakibatkan hilangnya rasa di kulit dan di jaringan yang terletak lebih dalam, misalnya:

pada praktek THT atau pencabutan gigi. Dosis pemberian obat Dosis 15 mg/kgbb. Untuk infiltrasi : larutan 0,25-0,5 dosis maksimum 1000 mg. onset : 2-5 menit, durasi 30-60 menit. Bisa ditambah adrenalin (1 :

100.000). Dosis untuk blok epidural (maksimum) 25 ml larutan 1,5%. Untuk kaudal : 25 ml larutan 1,5%. Spinal analgesia 50-200 mg tergantung efek yang di kehendaki, lamanya 1 jam.

6.

Kesimpulan

 

Anastesi

lokal

menyebabkan

hilangnya rasa sakit tanpa disertai

hilangnya kesadaran. Anestetik lokal merupakan obat yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup. (Dani kusumah). Anastesi lokal adalah obat yang menghasilkan blokade konduksi pada dinding saraf yang bersifat sementara. Setelah kerja obat habis maka obat akan keluar dari sel saraf tanpa menimbulkan kerusakan pada struktur sel saraf tersebut.

Anastesi lokal atau zat-zat penghalang rasa setempat adalah obat yang

pada penggunaan lokal merintangi secara reversibel penerusan impuls- impuls syaraf ke SSP dan demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas, atau dingin. Efek samping anastesi lokal adalah akibat dari efek depresi terhadap

SSP dan efek kardiodepresifnya (menekan fungsi jantung) dengan gejala penghambatan pernafasan dan sirkulasi darah. Anastesi local dapat digolongkan secara kimiawi dalam beberapa kelompok sebagai berikut :

1.

Senyawa-ester

(PABA)

:

kokain,

benzokain,

prokain,

 

oksibuprokain, dan tetrakain

 
 

2.

Senyawa-amida : lidokain dan prilokain, mepivakain dan

 

bupivakain, cinchokain, artikain, dan pramokain;

 
 

3.

Lainnya : fenol, benzilalkohol, cryofluo-ran, dan etilklorida.

4.

Obat anestetik local yang kami gunakan adalah Prokain 2% 0,5 ml dan

NaCl sebagai control. Hasil yang didapatkan dari Kelompok kami, obat mulai bekerja pada menit ke 5 dan mencapai maksimal pada menit ke 15. Dan efek menghilang pada menit ke 35. Hasil yang didapatkan tidak berbeda jauh dengan literature.

Jawaban Pertanyaan :

  • 1. Bahas secara singkat penggolongan kimia dari anastetika local

Jawaban :

Senyawa-ester (PABA) : kokain, benzokain, prokain, oksibuprokain, dan tetrakain Senyawa-amida : lidokain dan prilokain, mepivakain dan bupivakain, cinchokain, artikain,dan pramokain Lainnya : fenol, benzilalkohol, cryofluo-ran, dan etilklorida.

2.

Bahas cara pemberiannya dan jenis anastetika yang bisa dicapai dengannya.

Jawaban :

Melalui-Pernafasan

Beberapa obat anestesi berupa gas seperti isoflurane dan nitrous oxide, dapat dimasukkan melalui pernafasan atau secara inhalasi. Gas-gas ini mempengaruhi kerja susunan saraf pusat di otak, otot jantung, serta paru- paru sehingga bersama-sama menciptakan kondisi tak sadar pada pasien. Injeksi Intravena

Sedangkan obat ketamine, thiopetal, opioids (fentanyl, sufentanil) dan propofol adalah obat-obatan yang biasanya dimasukkan ke aliran vena. Obat-obatan ini menimbulkan efek menghilangkan nyeri, mematikan rasa secara menyeluruh, dan membuat depresi pernafasan sehingga membuat pasien tak sadarkan diri. Injeksi Pada Spinal/Epidural

Obat-obatan jenis iodocaine dan bupivacaine yang sifatnya lokal dapat diinjeksikan dalam ruang spinal (rongga tulang belakang) maupun epidural untuk menghasilkan efek mati rasa pada paruh tubuh tertentu. Misalnya, dari pusat ke bawah. Beda dari injeksi epidural dan spinal adalah pada teknik injeksi. Injeksi Lokal Iodocaine dan bupivacaine juga dapat di injeksi di bawah lapisan kulit untuk menghasilkan efek mati rasa di area lokal. Dengan cara kerja memblokade impuls saraf dan sensasi nyeri dari saraf tepi sehingga kulit akan terasa kebas dan mati rasa.

  • 3. Apakah

anastetika

local

bisa

dipakai

sebagai

anastetika

permukaan?

jelaskan!

Jawaban :

Sebagai suntikan banyak digunakan sebagai penghilang rasa oleh dokter gigi untuk mencabut geraham atau oleh dokter keluarga untuk pembedahan kecil seperti menjahit luka di kulit. Sediaan ini aman dan pada kadar yang tepat tidak

akan mengganggu proses penyembuhan luka.tetapi Pemberian anestetik lokal pada kulit akan menghambat transmisi impuls sensorik apabila tidak dipakai dengan dosis dan aturan pemberian yang sesuai.

  • 4. Bahas mekanisme kerja dan penerapannya dalam bidang anastesi

Jawaban :

  • a) Anestesi umum Mekanisme Kerja Sebagai anastesi inhalasi digunakan gas dan cairan terbang yang masing ± masing sangat berbeda dalam kecepatan induksi, aktivitas, sifat melemaskan ototmaupun menghilangkan rasa sakit. Untuk mendapatkan reaksi yang secepat ± cepatnya, obat ini pada permulaan harus diberikan dalam dosis tinggi, yangkemudia diturunkan sampai hanya sekadar memelihara keseimbangan antara pemberian dan pengeluaran (ekshalasi). Keuntungan anastetika-inhalasi dibandingkan dengan anastesi-intravena adalah kemungkinan untuk dapat lebihcepat mengubah kedalaman anastesi dengan mengurangi konsentrasi dari gas/uapyang diinhalasi. Kebanyakan anastesi umum tidak di metabolisasikan oleh tubuh,karena tidak bereaksi secara kimiawi dengan zat-zat faali. Mekanisme kerjanya berdasarkan perkiraan bahwa anastetika umum di bawah pengaruh protein SSP dapat membentuk hidrat dengan air yang bersifat stabil. Hidrat gas ini mungkindapat merintangi transmisi rangsangan di sinaps dan dengan demikian mengakibatkan anastesia.

  • b) Anestesi local Mekanisme Kerjanya Anatetika local mengakibatkan kehilangan rasa dengan jalan beberapacara. Misalnya dengan jalan menghindarkan untuk sementara pembentukan dantransmisi impuls melalui sel saraf ujungnya.

Pusat mekanisme kerjanya terletak dimembrane sel. Seperti juga alcohol dan barbital, anastetika local menghambat penerusan impuls dengan jalan menurunkan permeabilitas membrane sel saraf untuk ion-natrium, yang perlu bagi fungsi saraf yang layak. Hal ini disebabkanadanya persaingan dengan ion-kalsium yang berada berdekatan dengan saluran-saluran natrium di membrane neuron. Pada waktu bersamaan, akibat turunnya lajudepolarisasi, ambang kepekaan terhadap rangsangan listrik lambat laun meningkat, sehingga akhirnya terjadi kehilangan rasa setempat secara reversible.

  • 5. Diantara anastetika local yang yang digunakan pada percobaan ini ,mana

yang lebih potensial? Terangkan.

Jawaban :

Persyaratan obat yang boleh digunakan sebagai anestesi local :

Tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen Batas keamanan harus lebar Efektif dengan pemberian secara injeksi atau penggunaan setempat pada

membran mukosa Mulai kerjanya harus sesingkat mungkin dan bertahan untuk jangka waktu

yang yang cukup lama Dapat larut air dan menghasilkan larutan yang stabil, juga stabil terhadap

pemanasan.

Anatesi lokal yang bersifat ideal

Anastesi local sebaiknya tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen. Kebanyakan anastesi local memenuhi syarat ini. Batas keamanan harus lebar, sebab anastesi local kan diserap dari tempat suntikan.

Mula kerja harus sesingkat mungkin, sedangkan masa kerja harus cukup lama sehingga cukup waktu untuk melakukan tindakan operasi, tetapi tidak demikian

lama sampai memperpanjang masa pemulihan, zat anastesi local juga harus larut dalam air stabil dalam larutan dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan

Mekanisme kerja Anastesi lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf, tempat kerja utamanya di aksoplasma hanya sedikit saja. Sebagaimana diketahui, potensial aksi saraf terjadi krena adanya adanya peningkatan sesaat (sekilas) permeabilitas membrane terhadap ion Na+ akibat depolarisasi ringan pada membrane. Proses fundamental inilah yang dihambat oleh anastesi local hal ini terjadi karenma adanya interaksi langsung antara zat anastesik lokal dengan kanal Na+ yang peka terhadap adanya perubahan voltase muatan listrik ( voltage sensitive channels) dengan semakin bertambahnya efek anastesi local didalam saraf, maka ambang rangsang membrane akan meningkat secara bertahap, kevcepatan peningkatan potensial aksi menurun, konduksi impuls melambat dan factor pengaman ( safety factor ) konduksi saraf juga berkurang. Factor – factor ini akan mengakibatkan penurunan menjalarnya potensial aksi dengan demikian mengakibatkan kegagalan konduksi saraf.

  • 6. Keburukan apa yang dapat timbul bila permukaan kornea dianastesi untuk

periode waktu yang lama dan apa alasanya?

Jawaban :

Pada awalnya pasien akan menderita distorsi ringan kabur dan visi mereka yang dapat dikoreksi dengan kacamata atau kontak. Pada tahap ini, kehilangan visi sering muncul tidak berbeda bias lainnya cacat mata seperti miopia (sightedness pendek) dan Silindris. Akan tetapi, sering perubahan pada resep lensa mungkin diperlukan sebagai kornea makin menipis. Mata tidak selalu berlangsung pada kecepatan yang sama, sehingga beberapa pasien mungkin menemukan satu mata secara signifikan lebih buruk daripada yang lain. Menyebabkan kornea menipis, kornea kering sehingga mudah timbul keratitis. kelumpuhan saraf, adanya endapan di kornea (reversibel), dampak pada kualitas air mata.

Kematian Jaringan Kornea (Ulkus Kornea)

Kematian Jaringan Kornea (Ulkus Kornea)Ulkus kornea merujuk pada hilangnya sebagian kornea akibat kematian jaringan kornea. Kedoteran menyebut fenomena ini dengan ulkus kornea.

Gejala :

Gejala dari penyakit ini; mata merah, sakit ringan, fotofobia, penglihatan menurun, kadang kotor. Pada pemeriksaan sering ditemui kekeruhan berwarna putih pada kornea. Penyebabnya, bakteri, jamur, cairan pencuci lensa kontak.

Pengobatan :

Pengobatan

untuk

penyakit

ini

bertujuan

membatasi

hidup

bakteri

dengan

pemberian antibiotik.

DAFTAR PUSTAKA

Boulton, Thomas B. 1994. Anestesiologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Ganiswara,

Silistia

G.

1995.

Farmakologi

dan

Terapi

(Basic

Therapy

Pharmacology). Jakarta : Alih Bahasa: Bagian Farmakologi F K U I.

Goodman LS and Gillman AG. 1985. The pharmacological Basic of therapeutics, 7th. MacMillan Publishing Company.

Katzung B.G. 1989. Basic and Clinical pharmachology.4th.ed.(1989). Appleton & Lange, A publishing Division of Prentice Hall International Inc.Conecut USA.

Kee, Joyce. L. 1996. Farmakologi. Jakarta : EGC.

Michael. B Dobson. 1994. Penuntun Praktis Anestesi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Obstretri Williams. 2009. Panduan Ringkas Anestesi. Jakarta : EGC.

Staf

Pengajar

Departemen

Farmakologi

Fak.

Kedokteran

UNSRI.

2008.

Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : EGC.