Anda di halaman 1dari 18

komunikasi dalam pelayanan kesehatan

Selasa, 25 November 2008


komunikasi dalam pelayanan kesehatan
PENDAHULUAN
Sepanjang rentang daur kehidupannya manusia sesungguhnya melakukan komunikasi dari mulai
manusia itu masih dirahim ibunya, lalu dilahirkan sampai dengan menjelang meninggal atau
kematiannya. Karena itu komunikasi tidak bisa dipisahkan dari setiap individu yang hidup.
Komunikasi juga merupakan hal yang sangat penting bagi individu dalam melakukan interaksi.
Kadangkala individu merasakan komunikasi menjadi tidak efektif karena kesalahan dalam
menafsirkan pesan yang diterimanya. Hal ini disebabkan karena setiap manusia mempunyai
keterbatasan dalam menelaah komunikasi yang disampaikan. Kesalahan dalam menafsirkan
pesan bisa disebabkan karena persepsi yang berbeda-beda.
Hal ini juga sering terjadi pada institusi pelayanan kesehatan, misalnya pasien sering komplain
karena tenaga kesehatan tidak mengerti maksud pesan yang disampaikan pasien, sehingga pasien
tersebut menjadi marah dan tidak datang lagi mengunjungi pelayanan kesehatan tersebut. Atau
contoh lain adalah selisih faham atau pendapat antara tenaga kesalahan karena salah
mempersepsikan informasi yang diterima yang berakibat terjadinya konflik antara tenaga
kesehatan tersebut.
Jika kesalahan penerimaan pesan terus menerus berlanjut dapat berakibat pada ketidakpuasan
baik dari pasien maupun tenaga kesehatan. Kondisi ketidak puasan tersebut akan berdampak
pada rendahnya mutu pelayanan yang diberikan tenaga kesehatan, dan larinya pasien kepada
institusi pelayanan kesehatan lainnya yang dapat memberikan kepuasan.
Untuk menghindari rendahnya mutu pelayanan yang diberikan tenaga kesehatan (perawat) dan
hilangnya pasien atau pelanggan ke tempat lain maka alangkah sangat bijaksana dan tepat, jika
suatu institusi pelayanan kesehatan dapat meningkatkan kualitas pelayanannya. Salah satu
bentuknya adalah dengan meningkatkan kemampuan komunikasi yang baik dan tepat bagi
perawat. Berikut akan dibahas secara detail komunikasi yang baik dan efektif.
TUJUAN
1. Memahami pentingnya komunikasi yang efektif serta memiliki keterampilan baru dalam
berkomunikasi
2. Mengetahui cara bersikap kepada pelanggan baik internal (tenaga kesehatan) maupun
eksternal (pasien, keluarga)

3. Mengetahui cara menggunakan teknik komunikasi yang baik dalam menangani keluhan
pelanggan dan mampu mempraktekkannya

KOMUNIKASI UMUM
Komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi atau proses pemberian arti sesuatu antara
dua atau lebih orang dan lingkungannya bisa melalui simbol, tanda atau perilaku yang umum,
dan biasanya terjadi dua arah.
Komponen dalam komunikasi:

1. Sender (pemberi pesan): individu yang bertugas mengirimkan pesan.

2. Receiver (penerima pesan): seseorang yang menerima pesan. Bisa bernbentuk pesan yang
diterima maupun pesan yang sudah diinterpretasikan.

3. Pesan : informasi yang diterima, bisa berupa kata, ide atau perasaan. Pesan akan efektif
bila jelas dan terorganisir yang diekspresikan oleh si pengirim pesan.

4. Media: metode yang digunakan dalam pesan yaitu kata, bisa dengan cara ditulis,
diucapkan, diraba, dicium. Contoh: catatan atau surat adalah kata; bau badan atau cium
parfum adalah penciuman (dicium), dan lain-lain.

5. Umpan balik: penerima pesan memberikan informasi/ pesan kembali kepada pengirim
pesan dalam bentuk komunikasi yang efektif. Umpan balik merupakan proses yang
kontinyu karena memberikan respons pesan dan mengirimkan pesan berupa stimulus
yang baru kepada pengirim pesan.
Berikut ini gambar tentang komunikasi yang akan terjadi pada setiap individu pengirim dan
penerima pesan.

Komunikasi menjadi penting karena :

Dapat merupakan sarana terbina hubungan yang baik antara pasien dan tenaga kesehatan

Dapat melihat perubahan perilaku yang terjadi pada individu atau pasien

Dapat sebagai kunci keberhasilan tindakan kesehatan yang telah dilakukan

Dapat sebagai tolak ukur kepuasan pasien

Dapat sebagai tolak ukur komplain tindakan dan rehabilitasi

Prinsip-prinsip komunikasi yang penting untuk diketahui :

Komunikasi bukanlah benda, ia sebuah proses

Komunikasi bersifat kompleks

Komunikasi tidak dapat digantikan

Komunikasi melibatkan keterlibatan yang total dari kepribadian kita

KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terjatara dua individu atau lebih dan pesan

berisi verbal maupun non verbal. Komunikasi ini sering digunakan dalam kegiatan sehari-hari
dan penting untuk kehidupan sosial, dengan tujuan:

Dapat untuk bertukar pikiran

Dapat membantu menyelesaikan masalah

Dapat membantu membuat keputusan

Dapat melakukan tindakan yang sesuai dengan kehidupannya

Dalam melakukan proses komunikasi interpersonal dipengaruhi oleh beberapa faktor terhadap isi
pesan dan sikap penyampaian pesan antara lain:

Perkembangan
Pada prinsipnya dalam berkomunikasi yang perlu diperhatikan adalah siapa yang diajak
berkomunikasi. Maka dalam berkomunikasi isi pesan dan sikap menyampaikan pesan harus
disesuaikan apakah yang kita ajak bicara adalah anak-anak, remaja, dewasa atau usia lanjut. Pasti
akan berbeda dalam berkomunikasi

Persepsi
Persepsi adalah pandangan personal terhadap suatu kejadian. Persepsi dibentuk oleh harapan dan
pengalaman. Kadangkala persepsi merupakan suatu hambatan kita dalam berkomunikasi. Karena
apa yang kita persepsikan belum tentu sama dengan yang dipersepsikan oleh orang lain.

Nilai
Nilai adalah standar yang mempengaruhi perilaku sehingga sangat penting bagi pemberi
pelayanan kesehatan untuk menyadari nilai seseorang.

Latar belakang budaya


Gaya berkomunikasi sangat dipengaruhi oleh faktor budaya. Budaya inilah yang akan membatasi
cara bertindak dan berkomunikasi.

Emosi
Emosi adalah perasaan subjektif tentang suatu peristiwa. Dalam berkomunikasi kita harus tahu
emosi dari orang yang akan kita ajak berkomunikasi. Karena emosi ini dapat menyebabkan salah
tafsir atau pesan tidak sampai.

Pengetahuan
Komunikasi akan sulit dilakukan jika orang yang kitan ajak berkomunikasi memiliki tingkat
pengetahuan yang berbeda. Untuk itu maka kita harus bisa menempatkan diri sesuai dengan
tingkat pengetahuan yang kita ajak bicara

Peran
Gaya komunikasi harus di sesuaikan dengan peran yang sedang kita lakukan. Misalnya ketika
kita berperan membantu pasien akan berbeda ketika kita berperan atau berkomunikasi dengan
tenaga kesehatan yang lain.

Tatanan interaksi
Komunikasi interpersonal akan lebih efektif jika dilakukan dalam lingkungan yang menunjang.
Kalau tempatnya bising, ruangan sempti, tidak leluasa untuk berkomunikasi dapat
mengakibatkan ketegangan dan tidak nyaman.

Hambatan psikologis dalam proses komunikasi:

Adanya perbedaan persepsi

Terlalu cepat menyimpulkan

Adanya pandangan stereotipe

Kurangnya pengetahuan

Kurangnya minat

Sulit mengekspresikan diri

Adanya emosi

Adanya tipe kepribadian tertentu

KOMUNIKASI NON VERBAL


Bila diamati dalam kehidupan sehari-hari kadang-kadang kita menggunakan bahasa tubuh dalam
melakukan komunikasi. Mungkin penggunaan bahasa tubuh dalam berkomunikasi bisa dengan
disengaja ataupun tidak disengaja. Hal ini akan berpengaruh pada pesan yang disampaikan
sehingga pesan dengan menggunakan bahasa tubuh tersebut dapat diterima kadangkala juga
tidak. Tetapi pada dasarnya komunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh lebih mudah
diterima dan dicerna oleh penerima pesan dibandingkan dengan komunikasi verbal.

Hal ini didukung dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa:

1. 55% menggunakan bahasa tubuh atau dari ekspresi tubuh


2. 38% dari nada suara
3. 7% dari kata-kata yang diungkapkan

Jika melihat pada hasil penelitian maka komunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh atau
yang dikenal dengan komunikasi non verbal sangat berperan penting dalam penerimaan pesan
yang disampaikan. Komunikasi non verbal juga secara tidak sengaja dapat menimbulkan
motivasi dan indikasinya lebih akurat dari kata yang disampaikan seseorang dengan hal yang
diucapkan.
Yang dimaksud dengan komunikasi non verbal adalah isyarat, tekanan suara, pergerakan tubuh,
ekspresi wajah, dan penampilan fisik.
Bahasa non verbal dapat dikatagorikan dan diamati menjadi 4 (empat) yaitu:
1. Penampilan fisik, lebih pada ke arah pandangan seseorang terhadap orang lain.
penampilan seseorang meliputi karakteristik fisik dan cara berpakaian. Pakaian dan
perhiasan atau dandanan merupakan sumber informasi tentang seseorang. Pakaian
menggambarkan status sosial, budaya, agama, konsep diri, dan lain-lain.
2. Jarak, prinsipnya setiap orang punya jarak untuk berkomunikasi tergantung pada
kenyamanan dan kedekatan hubungannya. Jarak merupakan isyarat yang umum
digunakan saat melakukan hubungan antara dua orang.. Biasanya hal ini berhubungan
dengan norma sosial budaya dan adat istiadat individu.
3. Gerakan tubuh, yang termasuk adalah gerakan tangan, gerakan kaki, gerakan kepala,
ekspresi wajah (misalnya tersenyum), kontak mata dan postur tubuh. Gerakan-gerakan ini
bisa memberi makna tertentu yang artinya tergantung dari budaya dimana bahasa itu
berlaku.
4. Sentuhan merupakan kecepatan dari individu dan tindakan. Kemungkinan pesan yang
disampaikan dalam bentuk nonverbal (Smith et al, 1997). Respon individu dipengaruhi
oleh tempat, latar belakang sosial budaya, jenis hubungan, komunikasi berdasarkan jenis
kelamin, usia dan harapan. Sentuhan dapat dilakukan saat individu melakukan pertemuan
pertama kali atau berhubungan dengan orang lain. Konsep sentuhan yang terapeutik
adalah dengan jalan melakukan jabat tangan atau menggunakan sikap terbuka dalam
membatu pasien yang mengalami sakit atau memerlukan bantuan. Sentuhan merupakan
awal dan dasar dalam melakukan komunikasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Fortinas, K.M. and Worret, P.A.H. (2004). Psychiatic mental health nursing. Third
edition. St. Louis: Mosby.
2. Potter and Perrys. (2001). Fundamental of nursing. Australia: St. Louis, Missouri.
3. Stuart, G.W., and Laraia, M.T. (2001). Principles and practice of psychiatric nursing.
Seventh edition. St. Louis: Mosby Inc

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TENGAH


RSUD TUGUREJO SEMARANG

A. Latar Belakang
Keselamatan (safety) telah menjadi isu global termasuk juga untuk rumah sakit. Ada lima
isu penting yang terkait dengan keselamatan di rumah sakit yaitu : keselamatan pasien (paitent
safety), keselamatan pekerja atau petugas kesehatan, keselamatan bangunan dan peralatan di
rumah sakit yang bisa berdampak terhadap keselamatan pasien dan petugas, keselamatan
lingkungan (green productivity) yang berdampak terhadap pencemaran lingkungan dan
keselamatan bisnis rumah sakit yang terkait dengan kelangsungan hidup rumah sakit. Kelima
aspek keselamatan tersebut keselamatan pasien merupakan prioritas utama untuk dilakukan oleh
rumah sakit. Keselamatan pasien merupakan prinsip dasar dari pelayanan kesehatan yang
memandang bahwa keselamatan merupakan hak bagi setiap pasien dalam menerima pelayanan
kesehatan.1

Di Indonesia data tentang kejadian tidak diharapkan (KTD) apalagi kejadian nyaris cedera
(KNC) masih langka, namun di lain pihak terjadi peningkatan tuduhan mal praktek, yang
belum tentu sesuai dengan pembuktian akhir. Mengingat keselamatan pasien sudah menjadi
tuntutan masyarakat maka pelaksanaan program keselamatan pasien rumah sakit perlu dilakukan,
maka rumah sakit perlu melaksanakan sasaran keselamatan pasien (SKP). Sasaran keselamatan
pasien tersebut meliputi ketepatan identifikasi pasien, peningkatan komunikasi yang efektif,
peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai, kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepatpasien operasi, pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan, dan pengurangan risiko
pasien jatuh. Dari enam sasaran keselamatan pasien, unsur yang utama dari layanan asuhan ke
pasien adalah komunikasi efektif.2
Komunikasi yang tidak efektif akan menimbulkan risiko kesalahan dalam pemberian asuhan
keperawatan. Sebagai contoh kesalahan dalam pemberian obat ke pasien, kesalahan melakukan
prosedur tindakan perawatan. Mencegah terjadinya risiko kesalahan pemberian asuhan
keperawatan maka perawat harus melaksanakan sasaran keselamatan pasien : komunikasi efektif
di Instalasi Rawat Inap. Komunikasi efektif dapat dilakukan antar teman sejawat (dokter dengan
dokter/ perawat dengan perawat) dan antar profesi (perawat dengan dokter).
Kualitas suatu rumah sakit sebagai institusi yang menghasilkan produk teknologi jasa
kesehatan sudah tentu tergantung juga pada kualitas pelayanan medis dan pelayanan keperawatan
yang diberikan kepada pasien (Tjiptono,2001). Menurur Walker, Evan dan Robbson (2003),
komunikasi efektif dalam praktik keperawatan profesional merupakan unsur utama bagi perawat
dalam melaksanakan asuhan keperawatan dalam mencapai hasil yang optimal. Kegiatan
keperawatan yang memerlukan komunikasi efektif adalah saat serah terima tugas (handover) dan
komunikasi lewat telepon.3 Berdasarkan latar belakang diatas maka implementasi sasaran
keselamatan pasien : komunikasi efektif harus dilakukan oleh perawat professional.

B. Pokok Permasalahan
Komunikasi yang tidak efektif akan menimbulkan risiko kesalahan dalam pemberian asuhan
keperawatan. Sebagai contoh kesalahan dalam pemberian obat ke pasien, kesalahan melakukan
prosedur tindakan perawatan, kesalahan interprestasi atau mis komunikasi.
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Diharapkan perawat dapat menerapkan implementasi sasaran keselamatan pasien dengan
komunikasi secara efektif dalam pemberian asuhan keperawatan.
2.
a.
b.
c.

Tujuan khusus
Diharapkan dapat menghindarkan kejadian kesalahan pemberian obat.
Diharapkan dapat menghindarkan kesalahan melakukan tindakan.
Diharapkan dapat menghindarkan mis komunikasi.

D. Manfaat
Dengan berkomunikasi secara efektif dapat menjalin saling pengertian dengan teman
sejawat perawat atau perawat dengan dokter karena komunikasi memiliki manfaat, antara lain
adalah:
1. Tersampaikannya gagasan atau pemikiran kepada orang lain dengan jelas sesuai dengan yang
dimaksudkan.
2. Adanya saling kesefahaman dalam suatu permasalahan, sehingga terhindar dari salah persepsi.
3. Memberikan sesuatu pesan kepada pihak tertentu, dengan maksud agar pihak yang diberi
informasi dapat memahaminya.

E. Analisis dan Pembahasan

Berdasarkan kebijakan Pemerintah yaitu Permenkes RI No 1691 Tahun 2010 tentang


Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No 1691 setiap rumah
sakit wajib mengupayakan pemenuhan sasaran keselamatan pasien. Sasaran keselamatan pasien
meliputi tercapainya ketepatan identifikasi pasien, peningkatan komunikasi yang efektif,
peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai, kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepatpasien operasi, pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan, dan pengurangan risiko
pasien jatuh.2
Enam unsur sasaran keselamatan pasien yang utama dari layanan asuhan ke pasien adalah
komunikasi efektif. Menghindari risiko kesalahan dalam pemberian asuhan keperawatan pasien
dan meningkatkan kesinambungan perawat dan pengobatan maka diharuskan menerapkan
komunikasi efektif.
Standar akreditasi RS 2012 SKP.2 / JCI IPSG.2 mensyaratkan agar rumah sakit menyusun
cara komunikasi yang efektif, tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan dapat dipahami penerima.
Hal itu untuk mengurangi kesalahan dan menghasilkan perbaikan keselamatan pasien.4
Komunikasi adalah penyebab pertama masalah keselamatan pasien (patient safety).
Komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan berarti dalam hubungan antar manusia.
Komunikasi yang efektif yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan dipahami oleh penerima
mengurangi kesalahan dan meningkatkan keselamatan pasien.3
1.

Faktor yang dapat mendukung komunikasi efektif3 :

a. Dalam profesi keperawatan komunikasi menjadi lebih bermakna karena merupakan metoda
utama dalam mengimplementasikan proses keperawatan.
b. Komunikator merupakan peran sentral dari semua peran perawat yang ada.
c. Kualitas komunikasi adalah faktor kritis dalam memenuhi kebutuhan klien.

2.

Faktor yang tidak mendukung komunikasi efektif3 :

a. Tanpa komunikasi yang jelas, dapat memberikan pelayanan keperawatan yang tidak efektif,
b. Tidak dapat membuat keputusan dengan klien/keluarga,
c. Tidak dapat melindungi klien dari ancaman kesejahteraan,
d. Tidak dapat mengkoordinasi dan mengatur perawatan klien serta memberikan pendidikan
kesehatan.
3.

Aspek yang harus dibangun dalam komunikasi efektif adalah3 :

a. Kejelasan
Dalam komunikasi harus menggunakan bahasa secara jelas, sehingga mudah diterima dan
dipahami oleh komunikan
b. Ketepatan
Ketepatan atau akurasi ini menyangkut penggunaan bahasa yang benar dan kebenaran informasi
yang disampaikan.
c. Konteks
Maksudnya bahwa bahasa dan informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan
lingkungan dimana komunikasi itu terjadi.
d. Alur
Bahasa dan informasi yang akan disajikan harus disusun dengan alur atau sistematika yang jelas,
sehingga pihak yang menerima informasi cepat tanggap.
e. Budaya
Aspek ini tidak saja menyangkut bahasa dan informasi, tetapi juga berkaitan dengan tata krama
dan etika. Artinya dalam berkomunikasi harus menyesuaikan dengan budaya orang yang diajak

berkomunikasi, baik dalam penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal, agar tidak
menimbulkan kesalahan persepsi.
Kerangka komunikasi efektif yang digunakan di rumah sakit adalah komunikasi SBAR
(Situation, Background, Assessment, Recommendation), metode komunikasi ini digunakan pada
saat perawat melakukan handover ke pasien. Komunikasi SBAR adalah kerangka teknik
komunikasi yang disediakan untuk petugas kesehatan dalam menyampaikan kondisi pasien.
SBAR adalah metode terstruktur untuk mengkomunikasikan informasi penting yang
membutuhkan perhatian segera dan tindakan berkontribusi terhadap eskalasi yang efektif dan
meningkatkan keselamatan pasien. SBAR juga dapat digunakan secara efektif untuk
meningkatkan serah terima antara shift atau antara staf di daerah klinis yang sama atau berbeda.
Melibatkan semua anggota tim kesehatan untuk memberikan masukan ke dalam situasi pasien
termasuk memberikan rekomendasi. SBAR memberikan kesempatan untuk diskusi antara
anggota tim kesehatan atau tim kesehatan lainnya.
Keuntungan dari penggunaan metode SBAR adalah
-

Kekuatan perawat berkomunikasi secara efektif.

Dokter percaya pada analisa perawat karena menunjukkan perawat paham akan kondisi pasien.

Memperbaiki komunikasi sama dengan memperbaiki keamanan pasien.


Metode SBAR sama dengan SOAP yaitu Situation, Background, Assessment,
Recommendation. Komunikasi efektif SBAR dapat diterapkan oleh semua tenaga kesehatan,
diharapkan semua tenaga kesehatan maka dokumentasi tidak terpecah sendiri-sendiri.
Diharapkan dokumentasi catatan perkembangan pasien terintegrasi dengan baik. sehingga tenaga
kesehatan lain dapat mengetahui perkembangan pasien.5

1.

Situation : Bagaimana situasi yang akan dibicarakan/ dilaporkan?

Mengidentifikasi nama diri petugas dan pasien.

Diagnosa medis

Apa yang terjadi dengan pasien yang memprihatinkan

2.

Background : Apa latar belakang informasi klinis yang berhubungan dengan situasi?

Obat saat ini dan alergi

Tanda-tanda vital terbaru

Hasil laboratorium : tanggal dan waktu tes dilakukan dan hasil tes sebelumnya untuk
perbandingan

Riwayat medis

Temuan klinis terbaru

3.

Assessment : berbagai hasil penilaian klinis perawat

Apa temuan klinis?

Apa analisis dan pertimbangan perawat

Apakah masalah ini parah atau mengancam kehidupan?

4.

Recommendation : apa yang perawat inginkan terjadi dan kapan?

Apa tindakan / rekomendasi yang diperlukan untuk memperbaiki masalah?

Apa solusi yang bisa perawat tawarkan dokter?

Apa yang perawat butuhkan dari dokter untuk memperbaiki kondisi pasien?

Kapan waktu yang perawat harapkan tindakan ini terjadi?


Sebelum serah terima pasien, perawat harus melakukan :

1.

Perawat mendapatkan pengkajian kondisi pasien terkini.

2.

Perawat mengkumpulkan data-data yang diperlukan yang berhubungan dengan kondisi pasien
yang akan dilaporkan.

3.

Perawat memastikan diagnosa medis pasien dan prioritas masalah keperawatan yang harus
dilanjutkan.

4.

Perawat membaca dan pahami catatan perkembangan terkini & hasil pengkajian perawat shift
sebelumnya.

5.

Perawat menyiapkan medical record pasien termasuk rencana perawat harian.


Contoh komunikasi efektif SBAR antar shift dinas/ serah terima :
Situation (S) :
Nama : Tn.A umur 35 tahun, tanggal masuk 8 Desember 2013 sudah 3 hari perawatan, DPJP : dr
Setyoko, SpPD, diagnosa medis : Gagal ginjal kronik.
Masalah keperawatan:

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit lebih

Perubahan kebutuhan nutrisi kurang


Background (B) :

Pasien bedrest total , urine 50 cc/24 jam, balance cairan 1000 cc/ 24 jam.

Mual tetap ada selama dirawat, ureum 300 mg/dl.

Pasien program HD 2x seminggu Senin dan Kamis.

Terpasang infuse NaCl 10 tetes/menit

Dokter sudah menjelaskan penyakitnya tentang gagal ginjal kronik

Diet : rendah protein 1 gram


Assessment (A) :

Kesadaran composmentis, TD 150/80 mmHg, Nadi 100x/menit, suhu 37 0C, RR 20 x/menit,


oedema pada ekstremitas bawah, tidak sesak napas, urine sedikit, eliminasi faeses baik.

Hasil laboratorium terbaru : Hb 9 mg/dl, albumin 3, ureum 237 mg/dl

Pasien masil mengeluh mual.

Recommendation (R) :
-

Awasi balance cairan

Batasi asupan cairan

Konsul ke dokter untuk pemasangan dower kateter

Pertahankan pemberian pemberian deuritik injeksi furosemit 3 x 1 amp

Bantu pasien memenuhi kebutuhan dasar pasien

Jaga aseptic dan antiseptic setiap melakukan prosedur


Contoh komunikasi efektif SBAR antar perawat dengan dokter lewat telepon :
Situation (S) :

Selamat pagi Dokter, saya Noer rochmat perawat Nusa Indah 2


Melaporkan pasien nama Tn A mengalami penurunan pengeluaran urine 40 cc/24 jam,
mengalami sesak napas.
Background (B) :

Diagnosa medis gagal ginjal kronik, tanggal masuk 8 Desember 2013, program HD hari SeninKamis

Tindakan yang sudah dilakukan posisi semi fowler, sudah terpasang dower kateter, pemberian
oksigen 3 liter/menit 15 menit yang lalu.

Obat injeksi diuretic 3 x 1 amp

TD 150/80 mmHg, RR 30 x/menit, Nadi 100 x/menit, oedema ekstremitas bawah dan asites

Hasil laboratorium terbaru : Hb 9 mg/dl, albumin 3, ureum 237 mg/dl

Kesadaran composmentis, bunyi nafas rongki.

Assessment (A) :
-

Saya pikir masalahnya gangguan pola nafas dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
lebih

Pasien tampak tidak stabil


Recommendation (R) :

Haruskah saya mulai dengan pemberian oksigen NRM

Apa advise dokter? Perlukah peningkatan diuretic atau syringe pump?

Apakah dokter akan memindahkan pasien ke ICU?

F. Kesimpulan
Komunikasi efektif adalah unsur utama dari sasaran keselamatan pasien karena komunikasi
adalah penyebab pertama masalah keselamatan pasien (patient safety). Komunikasi yang efektif
yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan dipahami oleh penerima mengurangi kesalahan dan
meningkatkan keselamatan pasien. Maka dalam komunikasi efektif harus dibangun aspek
kejelasan, ketepatan, sesuai dengan konteks baik bahasa dan informasi, alur yang sistematis, dan
budaya.
Kerangka komunikasi yang efektif yang digunakan adalah komunikasi model SBAR
(Situation, Background, Assessment, Recommendation). Metode ini digunakan secara efektif saat
serah terima antara shift atau antara staf di daerah klinis yang sama atau berbeda. SBAR juga
digunakan untuk diskusi antara anggota tim kesehatan atau tim kesehatan lainnya (perawat
dokter).

G. Saran

Dengan komunikasi efektif diharapkan tidak terjadi kesalahan dalam pemberian asuhan ke
pasien. Komunikasi efektif dengan metode SBAR akan terbentuk catatan dokumentasi tidak
terpecah sendiri-sendiri. Sehingga disarankan dokumentasi catatan perkembangan pasien
terintegrasi dengan baik, sehingga tenaga kesehatan lain dapat mengetahui perkembangan pasien.