Anda di halaman 1dari 9

No. ID dan Nama Peserta : dr.

Sarnisyah Dwi Martiani


No. ID dan Nama Wahana: RSUD H. Padjonga Dg Ngalle Takalar
Topik: Hipertensi Stage II JNC-7
Tanggal (kasus) : 21 Oktober 2014
Nama Pasien : Tn. S
No. RM: 145227
Jenis Kelamin : Laki laki
Umur

: 87 tahun

Tanggal presentasi : 31 Januari 2015

Pendamping:

dr. Irmastuti, MARS


Tempat presentasi: RSUD H. Padjonga Dg Ngalle Takalar
Obyek presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Deskripsi:

Bayi

Anak

Remaja

Dewasa

Lansia

Bumil

Pasien ke UGD dengan keluhan nyeri tengkuk sejak 1 minggu yang lalu, nyeri kepala
(+)Riwayat HT (+) namun pasien berobat tidak teratur.
Tujuan: : Menegakkan diagnosis Hipertensi, penanganan serta pencegahan terjadinya
komplikasi.
Bahan

Tinjauan

Riset

bahasan:
Cara

pustaka
Diskusi

Presentasi dan E-mail

membahas:
Data Pasien:
Nama klinik

Kasus

Audit
Pos

diskusi
Nama: Tn S
No.Registrasi:
RSUD H. Padjonga Dg Ngalle

Takalar
Data utama untuk bahan diskusi:

Pasien ke UGD dengan keluhan nyeri tengkuk sejak 1 minggu yang lalu.
Demam (-), nyeri kepala (+), pusing (-)
Nyeri menelan (-), batuk (-), sesak(-), nyeri dada (-)
Riwayat HT (+) namun pasien berobat tidak teratur, Riwayat DM (-), Riwayat trauma (-)
Riwayat merokok (-), Riwayat konsumsi alkohol (-)
BAB: Kesan normal
BAK: lancar, kesan normal
1

Daftar Pustaka:
1. Fisher Nomi, Williams Gordon. Hypertensive Vascular Diease. Harrison Tinsley R,
editor. Harrisons Principle of Internal Medicine. 16th edition. United Nations of America:
McGraw-Hill. 2005. P.1463-80
2. Schwartz Gary L. Hypertension. Habermann Thomas, Ghosh K. Amit, editors. Mayo
Clinic Internal Medicine Concise Textbook. USA: Mayo Clinic Scientific Press and
Informa Healthcare USA, INC. 2008. P 429-64
3. Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation
and Treatment of High Blood Pressure. U.S. Department Health and Human Services.
August. 2004
4. Camm AJ, BUnce N. Cardiovascular Disease. Kumar Parveen, Clark Micheal, editors.
Kumar & Klarks Clinicak Medicine. Seventh Edition. UK: Saunders Elsevier. 2005.
p.798-804
5. Kowalak Jenifer, Cardiovascular System. Kowalak Jenifer, Cavallini Mario, editors.
Handbook of Pathopisiology. US: Springhouse Corporation. 2001.p.120-4
6. Hafrialdi. Antihipertensi. Gunawan Gan Sulistia, editor. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5.
Jakarta: Departemen farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Indonesia. 2007.
h.341-60

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:


1. Subyektif:
Seorang laki laki 87 tahun datang ke UGD dengan keluhan nyeri tengkuk sejak 1 minggu yang
lalu. Nyeri pada tengkuk dirasakan memberat sejak 3 hari terakhir dan dirasakan terus menerus
tapi ada perbaikan jika pasien baring. Nyeri tengkuk disertai dengan sakit kepala (+).
BAK : kesan normal
BAB : kesan normal
Riwayat merokok (-), riwayat mengkonsumsi alkohol (-)
Riwayat menderita Hipertensi sebelumnya (+) namun pasien tidak berobat secara teratur.
2. Obyektif:
Pemeriksaan Fisis
Stasus Generalis: sakit ringan/ Gizi cukup/ sadar
Status Vitalis
Tekanan Darah

: 170/100 mmHg

Nadi

: 96x/menit, regular, kuat angkat

Pernafasan

: 20 x/menit, BP: tipe thoracoabdiominal


2

Suhu

: 36,6 C

Status lokalis:
Mata :

konjungtiva anemis : -/-

Bibir :

Leher :

Sklera Ikterus

: -/-

Sianosis

:-

Nyeri Tekan

:-

Massa tumor

:-

Pembesaran KGB

:-

Thoraks
Inspeksi

: Simetris kiri=kanan

Palpasi : MT(-), NT(-), VF kanan = kiri


Perkusi

: Sonor kanan = kiri

Auskultasi

: BP: vesikulerr, Rh -/-, Wheezing -/-

Cor
Inspeksi

: Iktus cordis tidak tampak

Palpasi

: Iktus cordis tidak tampak

Perkusi

: Pekak, batas jantung kesan normal ( batas jantung kanan terletak pada linea

sternalis kanan, batas jantung kiri sesuai ictus cordis terletak pada sela iga 5-6 linea
medioklavikularis kiri )
Auskultasi
Abdomen

: Bunyi jantung I/II murni reguler, bunyi tambahan (-)


:

Inspeksi

: datar, ikut gerak nafas

Auskultasi

: Peristaltik usus (+) kesan normal

Palpasi

: Nyeri Tekan (-), Massa Tumor (-)

Perkusi

: Tympani (+), Asites (-)

Ekstremitas
3. Assesment

: Dalam batas normal

Anamnesis diperoleh informasi bahwa pasien datang ke UGD RSUD H. Padjonga Dg


Ngalle Takalar dengan keluhan nyeri tengkuk yang dirasakan sejak 1 minggu yang lalu dan
3

semakin memberat sejak 3 hari terakhir. Keluhan disertai nyeri kepala. Dari pemeriksaan tanda
vital didapatkan tekanan darah 170/100 mmHg. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisis pasien
dapat didiagnosa hipertensi grade II, dimana pasien memang telah memilki riwayat penyakit
hipertensi sebelumnya namun tidak berobat secara teratur.
Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang sering ditemukan pada Negara
berkembang. Secara umum, hipertensi tidak bergejala, mudah dideteksi, biasanya mudah diobati
dan sering menyebabkan komplikasi kematian bila tidak ditangani.
Saat ini untuk orang dewasa, hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah
sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih tinggi dan atau peningkatan tekanan darah diastolik
mencapai 90 mmHg atau lebih tinggi. Hipertensi dibagi menjadi dua tingkatan baik bersadarkan
sistolik maupun diastolik darah (Tabel 1). Tekanan darah sistolik antara 120 dan 139mm Hg atau
tekanan darah diastolik antara 80 dan 89 mm Hg dikategorikan prehipertensi. Orang dengan
prehipertensi memiliki peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan perkembangan hipertensi
dari waktu ke waktu dibandingkan dengan orang dengan tekanan darah normal.

Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah pada Pasien Dewasa dengan


Usia 18 tahun dan lebih.2*

Tekanan darah meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Tekanan darah sistolik
meningkat sepanjang hidup, tetapi tekanan darah diastolik cenderung stabil pada usia dekade
kelima. Dengan demikian, baik insiden dan prevalensi hipertensi meningkat dengan
bertambahnya usia, dan hipertensi sistolik terisolasi menjadi subtipe yang paling umum pada
orang tua. Untuk orang setengah baya dengan tekanan darah normal yang hidup sampai usia 85
tahun, masa residual risiko mengembangkan hipertensi adalah 90%.
Selain usia, faktor-faktor lain yang terkait dengan peningkatan risiko hipertensi yang
tidak dapat diubah (nonreversible) termasuk ras Afrika Amerika atau memiliki riwayat keluarga
hipertensi. Faktor yang dapat diubah (reversible) termasuk memiliki tekanan darah dalam
4

rentang prehipertensi, kelebihan berat badan, memiliki gaya hidup yang kurang gerak, diet
mengkomsumsi tinggi natrium- rendah kalium, asupan alkohol yang berlebih.
Secara umum, hipertensi tidak bergejala. Namun beberapa tanda dan gejala dapat terjadi
pada pasien hipertensi, yaitu:

Peningkatan tekanan darah pada pembacaan setidaknya dua kali berturut-turut setelah

penyaringan awal
Nyeri kepala oksipital (kemungkinan memburuk pada di pagi hari sebagai akibat dari

peningkatan tekanan intrakranial); mual dan muntah juga dapat terjadi


Epistaksis yang mungkin karena keterlibatan vaskular
Bruits (yang dapat didengar melalui aorta perut atau karotis, arteri ginjal, dan femoralis)

disebabkan oleh stenosis atau aneurisma


Pusing, kebingungan, dan kelelahan yang disebabkan oleh perfusi jaringan menurun

karena vasokonstriksi pembuluh darah


Penglihatan kabur sebagai akibat dari kerusakan retina
Nokturia disebabkan oleh peningkatan aliran darah ke ginjal dan peningkatan filtrasi

glomerular
Edema yang disebabkan oleh peningkatan tekanan kapiler.

Beberapa pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis:

Pengukuran tekanan darah yang berulang akan sangat bermanfaat


Unrinalisis dapat menunjukkan adanya protein, sel darah merah atau sel darah putih,
pada penyakit ginjal: adanya katekolamin yang dihubungkan dengan pheochromasitoma,

atau glukosa yang menunjukkan adanya dibetes.


Pengujian laboratorium dapat mengungkapkan adanya peningkatan nitrogen urea dan
kadar kreatinin serum dari penyakit ginjal, atau hipokalemia menunjukkan disfungsi

adrenal (hiperaldosteronisme primer).


Hitung darah lengkap dapat mengungkapkan penyebab hipertensi misalnya polisitemia

dan anemia.
Excretory urography dapat mengungkapkan adanya atrofi ginjal yang mengarah ke
penyakit ginjal kronik. Satu ginjal lebih kecil dari ginjal sebelahnya menunjukkan

penyakit ginjal unilateral.


Elektrocardiografi (EKG) dapat menunjukkan adanya hipertrofi ventrikel kiri atau

iskemik jantung.
Foto X-ray dada dapat menunjukkan kardiomegali
Echokardiografi dapat mengungkapkan adanya hipertrofi ventrikel kiri.
Pasien dengan tekanan diastolik 90 mmHg atau tekanan sistolik 140 mmHg harus
5

ditangani. Perubahan gaya hidup dapat menurunkan tekanan darah dan harus digalakkan untuk
semua orang dengan prehipertensi. Modifikasi mungkin cukup sebagai terapi awal untuk
beberapa orang dengan hipertensi stadium 1. Perlu terapi tambahan bagi mereka dengan
hipertensi yang lebih parah.
Dalam lebih dari 50% dari orang dengan tahap 1 hipertensi, tekanan darah dapat
dikontrol dengan terapi obat tunggal. Faktor penting untuk pertimbangkan ketika memilih obat
untuk terapi awal adalah khasiat sebagai monoterapi, rute eliminasi, interaksi obat, efek
samping, dan biaya. Pemilihan obat yang tepat adalah penting untuk menjaga kepatuhan jangka
panjang.
Pengobatan monoterapi meliputi diuretik tiazid, beta-bloker, calcium channel blockers
(CCB),ACE-inhibitors (ACEIs) dan Angiotensi Receptor Blockers (ARBs). Kombinasi dosis
rendah juga dapat digunakan untuk terapi awal. Tiazid sebaiknya diberikan sebagai terapi awal
pasien hipertensi tanpa komplikasi yang tidak memiliki pilihan yang jelas untuk jenis lain.
Obat kelas lain dipertimbangan untuk diberikan apabila diuretik tidak efektif atau ada
kontraindikasi atau dengan pengaturan obat lain yang memiki alternative pada kondisi tertentu
(misalnya ACEIs pada pasien hipertensi dengan gagal jantung kongestif). Antagonis alfa yang
bekerja sentral (clonidin, methyldopa, guanabenz dan guanfacine) dan vasodilator (hydralazine
dan mnoxidil) dapat dipertimbangkan dalam kondisi pseudotolasnsi. Pseudotoleransi adalah
stimulasi reflex dari sistem rennin-angiotensin-aldosteron atay sistem saraf simpatis yang
menyebabkan retensi cairan, peningkatan resistensi vascular, atau peningkatan curah jantung
dengan hilangnya kemanjuran dengan penggunaan jangka panjang. Oleh karena itu sejumlah
obat tidak diberikan sendiri. Obat efek sentral (-agonist cocok ketika diberikan dengan diuretic,
vasodilator paling baik diberikan sebagai obat ketiga dalam kombinasi diuretic dan adrenergik
inhibitor. Adapula obat yang lebih baik pada sejumlah umur dan ras tertentu (diuretik dan CCB
lebih efektif pada ras Afro-Amerika dan pasien usia: beta-bloker , ACEI dan ARB lebih efektif
pada pasien kulit putih dan dan pasien yang lebih muda. Dengan terapi kombinasi, memastikan
obat bekerja kombinasi dan dua obat dari kelas yang sama tidak boleh diberikan. Biasanya, salah
satu obat kombinasi adalah diuretik kelemahan dan impotensi. Impotensi merupakan efek
sampiang yang paling berpotensi pada semua obat anti hipertensi.
Dikenal ada 2 kelompok obat lini pertama yang lazim digunakan untuk pengobatan awal
hipertensi yang itu diuretic, beta-bloker, ACE-inhbitor, ARB dan antagonis kalsium. Pada JNCVII, penyekat reseptor alfa adrenergik tidak dimasukkan dalam lini pertama.
Berikut ini pembagian obat lini pertama hipertensi:
6

1. Diuretik
Diuretik bekerja dengan meningkatkan ekskresi natrium, air dan klorida
sehingga menurunkan volume darah dan cairan ekstraseluler. Penelitianpenelitian besar membuktikan bahwa efek proteksi kardiovaskuler diuretic belum
dikalahkan oleh obat lain sehingga diuretic dianjurkan untuk sebagian besar kasus
hipertensi ringan dan sedang. Bahkan bila menggunakan kombinasi dua atau
lebih antihipertensi, maka salah satunya adalah diuretik.
Sampai sekarang diuretik golongan tiazid merupakan obat utama dalam
terapi hipertensi. Sebagian penelitian besar membuktikan bahwa diuretik terbukti
paling efektif dalam menurunkan risiko kardiovaskuler.
Diuretik bekerja dengan menghambat transport bersama Na-Cl di tubulus
distal ginjal, sehingga ekskresi Na+ dan Cl- meningkat.Beberapa obat golongan
diuretic antara lain hidroklorotiazid, bendroflumetiazid, klorotiazid dan diuretik
lain yang memiliki gugus aryl-sulfonamida. Pemberian 1x sehari.
2. Beta bloker
Beta-bloker bekerja dengan (1) menurunkan frekuensi denyut jantung dan
kontraktilitas miokard sehingga menurunkan curah jantung, (2) hambatan sekresi
rennin di sel jungstaglomeruler ginjal dengan akibat penurunan kadar angiotensin
II, (3) efek sentral yang mempengaruhi aktivitas baroreseptor, perubahan aktivitas
neuron adrenergik perifer dan oeningkatan sintesis prostasiklin.
Dari berbagai beta-bloker, atenolol merupakan obat yang sering dipilih.
Dosis lazim 50-100 mg per oral sehari. Metoprolol diberikan dua kali sehari
dengan dosis 50-100 mg. Labetolol diberikan dua kali sehari maksimal 300 mg,
dam karvedilol sekali sehari maksimal 50 mg.
3. Angiotensin Converting Enzym (ACE) inhibitor dan Angiotensin Reseptor
Blocker (ARB)
ACE-inhibitor bekerja dengan menghambat perubahan angiotensin I
menjadi angiotensin II sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan sekresi
aldosteron. Pada gagal jantung kongestif, ACEI mengurangi beban jantung dan
akan memperbaiki keadaan pasien.
ACEI dibedakan atas dua kelompok yaitu: 1) yang bekerja langsung,
contohnya Captopril dosis 25-100 mg 2-3x sehari dan lisinopril 10-40 mg 1x
7

sehari. 2) Prodrug, contohnya enalapril, kuinapril, perindopril, ramipril,


silazapril, benazepril, fosinopril dan lain-lain.
ARB bekerja dengan memblok reseptor AT 1 sehingga terjadi
vasokontriksi, sekresi aldosteron, rangsangan saraf simpatis, stimulasi jantung,
efek renal serta efek jangka panjang berupa hipertrofi otot polos pembuluh darah
dan miokard. Obat ARB seperti Losartan 25-100 mg 1-2x sehari, valsartan,
irberstan, telmisartan dan candesartan 1x sehari.
4. Antagonis Kalsium
Antagonis kalsium meghambat influx kalsium pada sel otot polos
pembuluh darah dan miokard. Di pembuluh darah, antagonis kalsium terutama
menimbulkan relaksasi arteriol, sedangkan vena kurang dipengaruhi. Penurunan
resistensi perifer ini sering diikuti oleh reflek takikardia dan vasokontriksi,
terutama menggunakan golongan dihidropiridin kerja pendek (nifedipin). Dossi
nifedipin 3-4x sehari tab 100 mg. Sedangkan diltiazem 80-180 mg 3x sehari dan
verapamil 80-320 mg 2-3x sehari tidak menimbulkan takikardia karena efek
kronotropik negative langsung pada jantung. Bila reflex takikardia kurang baik,
seperti pada orang tua, maka pemberian antagonis kalsium dapat menimbulkan
hipotensi yang berlebihan.
4. Rencana Penatalaksanaan
Diagnosis: Hipertensi Stage II JNC-7
Penatalaksanaan
Diet rendah garam
Captopril 25 3x1 tab/PO
Asam mefenamat 500mg 3x1 tab/PO
Edukasi

Edukasi pada pasien agar mengubah pola hidup dan pola makan begitu pun menu

makanannya.
Edukasi pada pasien agar rutin meminum obat dan memantau tekanan darah agar
tekanan darah pasien senantiasa terkontrol.

Takalar, 31 Januari 2015


8

Peserta,

(dr. Sarnisyah Dwi Martiani)

Pendamping,

(dr. Irmastuti, MARS)