Anda di halaman 1dari 32

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Lengkap Praktikum Mikrobiologi Unit I dengan judul “Pengenalan

Alat Laboratorium dan Sterilisasi Alat” disusun oleh:

Nama : Ariandi

NIM : 071404075

Kelas/kelompok : A / II

Telah diperiksa dan dikonsultasikan kepada Asisten dan Koordinator Asisten,

maka dinyatakan diterima.

Makassar, November 2009

Koordinator Asisten Asisten

Erwin, S.Pd. Mustainah


NIM: 061404057

Mengetahui
Dosen penanggung jawab

Prof. Dr. Yusminah Hala, M.S.


NIP: 1961 12 12 1986 01 2002
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mikrobiologi merupakan bidang ilmu yang mempelajari bentuk, sifat,

kehidupan, penyebaran, dan manfaat jasad hidup termasuk mikroba. Didalam

bidang ilmu ini tercakup satu kelompok besar jasad hidup yang mempunyai

bentuk dan ukuran sangat kecil. Mikroba-mikrobia tersebut memiliki ukuran

sangat kecil sehingga memerlukan alat untuk mengamatinya, alat ini disebut

mikroskop. Selain mikroskop dilaboratorium juga terdapat alat-alat yang dapat

mendukung suatu pengamatan mikrobiologi.

Melancarkan dan memudahkan berlangsungnya praktikum mikrobiologi,

maka pengetahuan mengenai penggunaan alat sangat diperlukan. Peralatan dalam

suatu laboratorium pada dasarnya terdiri dar ipealatan gelas seperti piper, buret,

bachker, alat filtrai dan sebagainya. Peralatan lainnya seperti timbangan,

pemanas, mesin sentrifuge.

Peralatan merupakan alat yang sangat penting dalam laboratorium baik

laboratorim sederehana maupun untuk tujuan penelitian. Ada beberapa jenis kaca

sebagai bahan baku peralatan gelas tersebut dan setiap jenisnya mempunyai sifat

yang berbeda. Di dalam melakukan suatu percobaan di laboratorium, kadang-

kadang harus dipilih bahan peralatanyang cocok, sehingga tidak keliru atau salah

pengertian mengenai sifat bahan peralatan tersebut.

Alat praktikum tersebut digunakan, maka perlu dilakukan sterilisasi agar

peralatan tersebut bebas mikroba atau keadaan menjadi steril. Syarat utama
berhasil tidaknya suatu praktikum mikrobiologi ini adalah keadaan alat yang

steril, sehingga sebelum pelaksanaan praktikum selanjutnya sangat penting

dilakukan sterilisasi alat

Sterilisasi bertujuan untuk mendapatkan keadaan bebas mikroba. Dalam

pekerjaan penelitian atau praktikum bidang mikrobiologi, keadaan steril

merupakan syarat utama berhasil atau tidaknya suatu pekerjaan di laboratorium.

B. Tujuan

1. Untuk mengetahui bentuk dan nama-nama alat yang akan digunakan dalam

praktikum Mikrobiologi, bagian-bagian alat, fungsi alat, dan prinsip kerja dari

alat-alat tersebut.

2. Untuk mengetahui cara sterilisasi dari alat-alat tersebut baik sterilisasi dengan

menggunakan autoklaf ataupun dengan oven dan bunsen

C. Manfaat

1. Mahasiswa dapat menambah pengetahuan tentang alat-alat laoratorium,

terutama dari segi fungsi dan prinsip kerjanya, sehingga praktikan mampu

melakukan kinerja praktikum secara baik dan tepat

2. Mahasiwa dapat melakukan proses sterilisasi yang benar, baik menggunakan

autoklaf maupun dengan oven, sehingga mampu membedakan cara sterilisasi

tersebut dan mengetahui cara kerjanya masing-masing.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mikrobiologi adalah telaah mengenai organisme hidup yang berukuran

mikroskopis. Dua mikroorganisme terdiri dari lima kelompok organisme; bakteri,

protozoa, virus, sera algae dan cendawan mikroskopis. Dalam bidang mikrobiologi

kita mempelajari banyak segi mengenai jasad-jasad renik ini (juga dinanamakan

mikrobe atau protista): di mana adanya, ciri-cirinya, kekerabatan antara sesamanya

seperti juga dengan kelompok organisme lainnya, pengandaliannya, dan peranannya

dalam kesehatan serta kesejahtaraan kita. Mikroorganisme sangat erat kaitannya

dengan kehidupan kita (Pelczar, 1998).

Pada dasarnya setiap alat memiliki nama yang menunjukkan kegunaan alat,

prinsip kerja atau proses berlangsungnya ketika alat digunakan. Beberapa kegunaan

dapat dikenali berdasarkan namanya. Penamaan alat-alat yang berfungsi mengukur

biasanya diakhiri dengan kata meter seperti thermometer, spektometer dan lain-lain

(Taiyeb, 2001).

Secara umum fungsi setiap alat diberikan secara umum, karena tidak

mungkin semua fungsi diutarakan, dalam melakukan kegiatan di laboratorium. Untuk

memudahkan dalam memahami alat-alat laboratorium dapat digunakan dalam waktu

relative lama dan dalam keadaan baik, perlu pemeliharaan dan penyimpanan yang

memadai (Wirjosoemarto, 2004).

Porselen sebagai bahan pembuat alat laboratorium mempunyai keunggulan

tahan (resistant) terhadap suhu tinggi. Pada permukaan alat terbuat dari porselen

biasanya diupam (glazir), sehingga bahan porselen tidak tembus sinar. Selain bahan

porselen, masih ada lagi bahan alat laboratorium yang terbuat dari plastic. Plastik

dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok tergantung dari bahan


penyusunnya. Coba perhatikan alat laboratorium, misalnya corong, botol kimia, atau

gelas kimia. Alat-alat tadi dapat bersifat keras atau lentur, atau tembus sinar, tembus

pandang atau tidak tembus sinar. Hal tersebut disebabkan karena bahannya berbeda.

Bahan penyusun plastic berupa Polythene, Polypropylene, PVC dan Styrene

(Wirjosoemarto, 2004).

Melakukan suatu percobaan di laboratorium, kadang-kadang harus dipilih

bahan peralatan yang cocok, sehingga tidak keliru atau salah pengertian mengenai

sifat bahan peralatan tersebut. Peralatan gelas harus selalu bersih, yaitu dicuci dengan

larutan deterjen yang cukup hangat. Bila memungkinkan perlu dibilas dengan basa

atau asam, lalu dibilas sekali lagi dengan air bersih. Sebelum digunakan, peralatan

gelas tersebut dibilas sekali lagi dengan larutan yang akan digunakan yang akan di

simpan dalam peralatan tersebut. Peralatan gelas seperti pipet, labu takar dan lain-

lain, sangat teliti dan merupakan produksi kerajian dan teknologi yang berkualitas

tinggi. Namun demikian ketelitian tidak akan berarti bila selama analisa, penggunaan

alat dan prosedur tidak dikakukan dengan cermat dan tepat (Hala, 2009).

Menurut Junaidi (2009) Cara kerja sterilisasi adalah cara kerja agar terhindar

dari kontaminasi, cara kerja steril ini digunakan pada pembuatan media, pemeriksaan

kultur dan pembuatan preparat. Sterilisasi dapat dilakukan secara;

1. Fisik di bagi menjadi beberapa bagian antara lain:

a. ”Hot air Sterilization” oven. Bahan dari gelas dibungkus dengan alumunium

foil, suhu 170-250°C selama 2 jam.


b. Panas basah dengan tekanan, suhu 121°C selama 15 menit. Alat yang

digunakan adalah autoclav caranya: alat-alat gelas dibungkus lagi dengan

alumunium foil.

c. Pressure Cooker, caranya: panaskan air mendidih, biarkan klep uap terbuka

agar keluar uap kemudian klep uap ditutup, lihat suhu dan tekanan, bila suhu

telah 121°C dengan tekanan 1,5 atm, dijaga konstan selama 15 menit.

Kemudian buka klep uap hingga tercapai tekanan nol, dan setelah suhu

mencapai suhu kamar, alat dan bahan dikeluarkan.

1. Kimia yaitu dengan menggunakan zat-zat kimia seperti desinfektan, antiseptik

2. Radiasi yaitu dengan menggunakan sinar Ultraviolet, biasanya digunakan pada

ruangan dan alat-alat plastik.

3. Filter yaitu dengan menggunakan membran filter dan Vacum Pump

Pensterilan dengan uap tekanan dilakukan dalam outoklaf. Dalam outoclaf ini

uap berada dalam keadaan jenuh, dan peningkatan tekanan mengakibatkan suhu yang

tercaoai lebuh tinggi, yaitu dibawah tekanan 15 ib (2 ATM). Suhu dapat meningkat

mencapai 121oC. Bila uap itu dicampur dengan udara yang sama banyak, pada tekana

yang sama, maka suhu yang tercapai hanya 110oC. Itu sebabnya udara dalam

outoclaf harus dikeluarkan sampai habis untuk memperoleh suhu yang diinginkan

(121oC). Dalam suhu tersebut mikroorganisme dapat dimusnahkan dalam waktu yang

tidak lama yaitu sekitar 15-20 menit (Irianto, 2006).

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan tempat


Hari/tanggal : Rabu dan Selasa / 29 Oktober 2009 dan 3 November 2009

Waktu : Pukul 07.30 s.d 09.10 dan 16.00 s.d 17.45 WITA

Tempat : Laboratorium Biologi Bagian Mikrobiologi Lantai II

Barat FMIPA UNM Makassar

B. Alat dan Bahan

a. Alat

1. Coloni counter

2. Refrigenerator

3. Tabung teaksi

4. Tabung durham

5. Pipa V

6. Batang pengaduk

7. Batang penyebar

8. Pipet mikro

9. Ose bulat

10. Bunsen

11. Pipet ukur

12. Gelas ukur

13. Gelas kimia

14. Rak tabung

15. Cawan perti

16. Penjepit tabung

17. Botol pengencer


18. Botol sprayer

19. Sikat tabung

20. Mikroskop

21. Spektrofotometer

22. Autoklaf

23. Oven

24. Inkubator

25. Engkas

26. Vortex

27. Shaker

28. Waterbath

29. Centrifuge

30. Hot plate

31. Desikator

32. Neraca analitik

33. Labu erlenmeyer

34. Kaki tiga

35. Kasa

36. Pinset

37. Spoit

38. Corong

a. Bahan

a. Kertas Kwarto
b. Kertas Aluminium Oil

c. Kapas

d. Tissue

e. Air ledeng

A. Prosedur Kerja

1. Mengamati dan menggambar alat-alat tersebut lengkap dengan bagian-bagian

keterangannya dan nama alatnya

2. Memahami fungsi dan cara mengoperasikan alat-alat yang digunakan.

3. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam proses sterilisasi

4. Membersihkan alat-alat yang digunakan dan mengeringkannya dengan

mengunakan tissue, alat-alatnya yaitu tabung reaksi, cawan petri dan tabung

durham

5. Menyumbat tabung reaski dengan kapas dan membungkusnya lagi dengan

menggunakan kertas aluminium oil, kemudian menyimpannya dalam

bungkusan kertas yang sudah terklip.

6. Membungkus cawan petri bersama tabung durham dengan menggunakan

kertas Kwarto.

7. Melanjutkan dengan sterilisasi dengan menggunakan oven selama 2 jam

dengan suhu 160oC, yang perlu diingat alat-alat dalam oven harus tersusun

rapi dan sesuai aturan dengan benar.


B. Pembahasan

Peralatan Laboratorium

1. Coloni counter

Alat ini berfungsi untuk menghitung jumlah coloni bakteri atau

jamur. Cara menggunakannya yaitu setelah kita on-kan, kita menyimpan

cawan petri yang berisi bakteri atau jamur ke dalam kamar hitung, mengatur
alat penghitung pada posisi dan mulia menghitung dengan menggunakan

jarum penunjuk sambil melihat jumlah pada layar hitung (Taiyeb, 2001).

Coloni counter merupakan alat yang berfungsi sebagai penghitung

jumlah mikroba pada cawan petri menggunakan sinar dan luv. Perhitungan

mikroba dapat dilakukan dengan perbesaran menggunakan luv atau dengan

menandai beberapa koloni yang terdapat pada cawan petri menggunakan

bulpoint yang terdapat pada coloni counter dan juga menggunakan tombol

check (Anonim, 2009).

2. Refrigenerator

Refrigerator merupakan tempat untuk memadatkan medium yang

akan digunakan dalam praktikum mikrobiologi. Selain itu, juga digunakan

sebagai wadah tempat biakan organisme (Hala, 2009).

3. Tabung reaksi

Tabung reaksi berfungsi sebagai tempat media pertumbuhan mikroba

alam bentuk media tegak atau miring yang disumbat dengan kapas,

dibulatkan lalu disterilkan dengan kapas berada tetap di atasnya dan diikat

(Anonim, 2009).

Prinsip kerjanya yaitu pada waktu memanaskan media yang ada di

dalam tabung reaksi, tabung reaksi harus berada dalam keadaan miring

diatas nyala api dan mulut tabung jangan sekali-kali menghadap pada diri

kita atau orang lain. Tabung reaksi yang disterilkan di dalam autoklaf harus

ditutup dengan kapas dan aluminium foil (Taiyeb, 2001).

4. Tabung durham
Tabung Durham berfungsi untuk menangkap gas O2 yang dihasilkan

dari hasil fermentasi mikroorganisme biasa digunakan dalam medium cair.

Cara sterilisasinya menggunakan alat otoklaf (Anonim, 2009).

Merupakan tabung reaksi yang berukuran kecil. Dalam

penggunaannya, maka tabung durham itu ditempatkan terbalik di dalam

tabung reaksi yang lebih besar dan tabung ini kemudian diisi dengan

medium cair. Setelah seluruhnya disterilkan, dan medium sudah dingin,

maka dapat dilakukan inokulasi. Jika bakteri yang ditumbuhkan dalam

media tersebut memang menghasilkan gas, maka gas akan tampak sebagai

gelembung pada dasar tabung durham (Dwidjoseputro, 1998).

5. Pipa V

Untuk menyebarkan cairan dipermukaan agar bakteri yang

tersuspensi dalam cairan dapat tersebar rata dalam pipa

6. Batang pengaduk

Batang pengaduk berfungsi untuk mengaduk dan menghomogenkan

larutan. Batang pengaduk berbentuk seperti pipa kecil yang terbuat dari

kaca. Batang pengaduk yang digunakan dalam praktikum ini biasanya

terbuat dari kaca atau dari pyrex sehingga dapat dipanaskan dengan

autoklaf. Alat ini berfungsi untuk mengaduk bahan kimia atau

menghomogenkan medium yang akan dibuat (Irianto, 2004).

7. Batang penyebar
Alat ini biasa digunakan sebagai alat praktikum mikrobiologi.

Batang penyebar digunakan untuk menyebarkan biakan bakteri yang

terdapat di atas wadah pembiakan. Bentuknya segitiga kecil. Biasanya

fungsi alat ini sesuai dengan namanya, yaitu sebagai alat penyebar

mikrobia-mikrobia (Irianto, 2004).

8. Ose bulat

Ose berfungsi untuk mengambil dan menggores MO, terdiri dari ose

lurus untuk menanam MO dan ose bulat untuk menggores MO yang

biasanya berbentuk zig-zag (Anonim, 2009).

Berfungsi untuk memindahkan atau mengambil koloni suatu mikrobia

ke media yang akan digunakan kembali. Ose bulat juga digunakan untuk

menginokulasi bakteri yang tergolong dalam fakultatif aerob. Prinsip

kerjanya yaitu ose disentuhkan pada bagian mikrobia kemudian

menggosokkan pada kaca preparat untuk diamati (Taiyeb, 2001).

9. Pipet mikro

Pipet mikro berfungsi untuk mengambil dan memindahkan zat cair

dengan volume tertentu. Pipet mikro digunakan untuk mengambil larutan

atau memindahkan larutan dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Cara

penggunaannya yaitu dengan memasukkan ujung pipet ke dalam wadah

yang berisi cairan kemudian menekan kembali untuk mengeluarkan cairan

yang terdapat di dalam pipet pada wadah yang ada (Taiyeb, 2001).

10. Bunsen
Bunsen merupakan alat yang digunakan untuk pemijaran serta untuk

mensterilisasikan mikroba. Bunsen juga mempunyai fungsi lain, yakni

mengamankan praktikan pada saat melakukan penanaman medium

(Anonim, 2009).

Bunsen digunakan untuk memanaskan medium, mensterilkan jarum

inokulasi dan alat-alat yang terbuat dari platina dan nikrom seperti jarum

platina dan ose. Cara menggunakannya yaitu menyalakan Bunsen lalu

memanaskan alat-alat tersebut di atas api sampai pijar. Alat ini juga

digunakan dalam pengerjaan secara aseptik yaitu dengan mendekatkan di

sekitar tempat pengerjaan mikrobia untuk menghindari terjadinya

kontaminasi (Taiyeb, 2001).

11. Pipet ukur

Pipet ukur adalah alat yang berfungsi sebagai pengambil larutan atau

sampel sesuai dengan jumlah yang kita tentukan (Anonim, 2009).

12. Gelas ukur

Gelas ukur digunakan untuk menakar air suling dan bahan kimia

yang akan digunakan. Ukuran gelas ini bermacam-macam, mulai dari

volume 25 ml sampai dengan volume 250 ml. jenis gelas ukur ada yang

tahan panas (pyrex) dan ada pula yang tidak tahan panas (gelas biasa).

Pembuatan larutan sterilisasi eksplan, yaitu chlorox selalu menggunakan

gelas ukur. Pada saat menggunakan gelas ukur perlu diperhatikan cara

membaca skala pada gelas ukur (Taiyeb, 2001).

13. Gelas kimia


Fungsinya untuk menyimpan atau memanaskan dan mencampurkan

senyawa meskipun skala tidak terlalu tinggi. Prinsip kerjanya yaitu apabila

ingin mencampurkan suatu senyawa missal 800 ml, maka kita pakai gelas

kimia yang skala 800 ml. Kita hanya tinggal memasukkan senyawa yang

akan dicampur (Taiyeb, 2001).

14. Rak tabung

Berfungsi sebagai tempat dudukan tabung, prinsip kerjanya yaitu

tabung reaksi diletakkan sesuai tempat (lubang yang tersedia) dan disimpan

ditempat yang aman (Hala, 2009).

15. Cawan petri

Alat ini sejenis dengan gelas kimia yang mutlak dibutuhkan dalam

kultur jaringan. Cawan petri biasanya disterilkan bersama dengan kertas

saring di dalamnya. Cawan petri perlu dicuci bersih kemudian dikeringkan,

setelah kering dibungkus dengan kertas putih cokelat untuk disterilisasi

dengan oven. Alat ini berfungsi untuk pembuatan kultur media (Hala, 2009).

16. Penjepit tabung

Digunakan untuk menjepit tabung yang akan digunakan saat

pembakaran. Prinsip kerjanya yaitu memegang lengan tabung reaksi

kemudian memasukkan tabung reaksi ke mulut penjepit tabung

(Taiyeb, 2001).

17. Botol pengencer

Botol pengencer berfungsi sebagi wadah tempat mengencerkan

berbagai macam larutan (Anonim, 2009).


18. Botol sprayer

Berfungsi sebagai tempat alcohol.

19. Sikat tabung

Alat ini digunakan untuk membersihkan tabung reaksi dan alat-alat

laboratorium yang mulut tabungnya kecil. Penggunaannya dengan cara

memasukkan seluruh bagian sikat pada tabung reaksi/alat yang akan

dibersihkan lalu menggosoknya/disikat hingga ke bagian dasarnya

(Lahay, 2004).

20. Mikroskop

Mikroskop berfungsi sebagai alat bantu untuk melihat

mikroorganisme yang tak dapat dilihat oleh mata. Cara penggunaan

mikroskop adalah dengan membelakangi bagian belakang mikroskop.

Mikroskop cahaya (Monokoler) berfungsi untuk melihat objek dengan

bantuan cahaya. Mikroskop ini digunakan dengan satu mata, sehingga

bayangan yang terlihat hanya memilki panjang dan lebar, dan memberikan

gambaran mengenai tingginya. Prinsip kerja dari mikroskop ini adalah

dengan memantulkan cahaya melalui cermin, lalu diteruskan hingga lensa

objektif (Anonim, 2009)

21. Spektrofotometer

Alat ini dapat mengukur kepekatan sel dalam suspensi dalam % T

atau OD (jumlah cahaya yang diabsorbsi dan disebarkan). Dalam

penggunaannya yaitu spektrofotometer dikalibrasikan mempunyai daya

absorbsi 0 bila tidak ada sel. Ini dilakukan dengan memasukkan cuvet yang
berisi larutan. Kerapatan suatu suspensi tidak langsung menunjukkan jumlah

sel dalam suatu populasi, namun jumlah cahaya yang disebarkan oleh

populasi tersebut. Untuk memperoleh jumlah mikroorganisme maka nilai

kerapatan optik harus disetarakan dulu dengan jumlah mikroorganisme

(Dwidjoseputro, 1998).

22. Autoklaf

Berfungsi untuk sterilisasi media, maupun alat-alat seperti pipet,

scalpel, pinset, cawan petri, botol mutlak dibutuhkan autoklaf. Cara

penggunaannya yaitu mengisi air sampai dasar yang berlubang, kemudian

alat dinyalakan. Materi yang akan disterilkan dimasukkan. Selanjutnya

penutup autoklaf dipasang dan skerup dikencangkan. Kran pengatur tempat

keluar uap dibiarkan terbuka dan ditutup hingga tekanan uap naik 2 atm dan

suhu 1210C selama 15-30 menit. Apabila sterilisasi telah selesai, autoklaf

dibiarkan sampai tekanan turun hingga 00C. Kran uap air dibuka secara

perlahan-lahan (Ali dan Hala, 2008).

23. Oven

Alat ini digunakan untuk sterilisasi alat-alat yang tahan terhadap

panas tinggi misalnya cawan petri, tabung reaksi, labu Erlenmeyer, dan lain-

lain. Alat ini umumnya dilengkapi termometer. Prinsip kerjanya yaitu alat-

alat yang ingin disterilkan dibungkus dalam kertas kemudian dimasukkan

dalam oven lalu ditutup. Setelah itu mengaktifkan tombol power dan

mengatur suhu yang diinginkan. Temperatur yang digunakan untuk alat ini

umumnya 1800 C selama 2 jam (Ali dan Hala, 2008).


24. Inkubator

Inkubator adalah suatu unit/suatu kabinet yang suhunya dapat diatur

untuk menyimpan organisme guna tujuan tertentu. Di dalam laboratorium

mikrobiologi digunakan untuk menumbuhkan bakteri pada suhu tertentu,

menumbuhkan ragi dan jamur, menyimpan biakan murni mikroorganisme I

pada suhu rendah. Inkubator biasanya hanya dapat diatur di atas suhu

kamar, sedangkan cooled inkubator dapat diatur baik pada suhu di bawah

maupun diatas suhu kamar. Prinsip kerjanya yaitu mengubah energi listrik

menjadi energi panas. Kawat nikelin akan menghambat aliran elektron yang

mengalir sehingga mengakibatkan peningkatan suhu kawat (Taiyeb, 2001).

25. Engkas

Merupakan sebuah kotak tertutup, terbuat dari kaca/playwood yang

dibagian depannya terdapat dua lubang untuk memasukkan tangan pemakai.

Untuk mensterilkan bagian dalamnya bisa dilakukan dengan cara

menyemprotkan alkohol 95% atau formalin cair. Fungsinya sebagai tempat

untuk mengambil bakteri (menghindari kontaminasi langsung). Dapat juga

digunakan sebagai tempat menanam eksplan dan sub kultur (pengganti

laminar air flow) pada kultur jaringan (Taiyeb, 2001).

26. Vortex

Vortex merupakan peralatan elektronik yang berfungsi untuk

mengaduk senyawa kimia yang ada dalam suatu tabung reaksi atau wadah.

Prinsip kerjanya yaitu dengan adanya tegangan yang diberikan, maka tabung

reaksi yang berisi larutan akan tercampur rata (Dwidjoseputro, 1998).


27. Shaker

Shaker digunakan untuk menghomogenkan larutan. Prinsip kerjanya

yaitu tabung reaksi yang berisi larutan ditaruh di lubang pada shaker

kemudian menekan tombol ON dengan mengatur kecepatannya

(Lahay, 2004).

28. Waterbath

Alat ini berfungsi untuk memanaskan dan menginkubasi serta sebagai

tempat pengujian aktivitas enzim. Penggunaannya dihubungkan dengan arus

listrik dan mengisi bagian dalam dengan air. Setelah itu mengatur suhunya

sampai sesuai dengan yang diinginkan (Taiyeb, 2001).

29. Centrifuge

Centrifuge merupakan alat yang berfungsi sebagai pemisah zat dalam

cairan yang diduga dapat mengendap dengan cara pemutaran menggunakan

kekuatan rotasi. Dengan pemutaran kecepatan tertentu, zat-zat yang tidak

terlarut akan mengendap. Satuaan yang digunakan pada centrifuge adalah

Rpm (Rotation per meter). Perinsip kerja dari alat ini adalah zat yang akan

dipisahkan dimasukkan kedalam tabung yang terdapat pada centrifuge,

kemudian menutup lubang pada centrifuge agar udar yang masuk tidak

mempengaruhi zat yang akan dipisah. Setelah itu tentukan waktu dan rotasi

putaran yang diinginkan, dengan memutar tombol Timer dan Rotation

(Anonim, 2009)

30. Hot plate


Alat ini digunakan untuk mengocok media cair sambil dipanasi. Alat

ini juga dapat dipakai untuk melarutkan ferri tartrat yang tidak mudah

dilarutkan. Dilakukan dengan cara menambah air pada ferri tartrat lalu

meletakkannya di atas hot plate. Setelah dihubungkan dengan arus listik,

alat ini akan menghomogenkan sekaligus memanaskannya (Lahay, 2004).

31. Desikator

Alat ini berfungsi untuk memanaskan dan menginkubasi serta sebagai

tempat pengujian aktivitas enzim. Penggunaannya dihubungkan dengan arus

listrik dan mengisi bagian dalam dengan air. Setelah itu mengatur suhunya

sampai sesuai dengan yang diinginkan (Taiyeb, 2001).

32. Neraca analitik

Merupakan Alat ini berfungsi untuk menimbang bahan yang akan

digunakan dalam praktikum dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Prinsip

kerjanya yaitu meletakkan bahan pada timbangan tersebut kemudian melihat

angka yang tertera pada layar, dan angka itu merupakan berat dari bahan

yang ditimbang (Ali dan Hala, 2008).

33. Labu erlenmeyer

Labu erlenmeyer berfungsi sebagai tempat penyimpanan medium,

memanaskan larutan, dan menampung hasil dari penyaringan. Alat ini dapat

disterilisasikan dengan ditutup terlebih dahulu bagian atas dengan kapas,

lalu disterilisasi dengan menggunakan otoklaf (Anonim, 2009).

34. Kaki tiga


Alat ini digunakan sebagai salah satu alat dalam mensterilkan alat-

alat yang terbuat dari platina dan sebagainya (larutan). Prinsip kerjanya

yaitu alat ini sebagai penyangga wadah dari larutan atau alat yang akan

disterilkan sementara alat pembakar (bunsen) berada di bawah alat ini

(Taiyeb, 2001).

35. Kasa

Kasa merupakan salah satu bagian dari rangkaian alat-alat kaki tiga

dan Bunsen. Dalam hal ini, kasa digunakan sebagai tempat meletakkan labu

Erlenmeyer pada saat dipanaskan (disterilisasi) (Taiyeb, 2001).

36. Pinset

Pinset berfungsi untuk menjepit atau mengambil pencadang,

sterilisasinya dapat dilakukan dengan dibakar menggunakan lampu spiritus.

Sedangkan pencadang berfungsi untuk melihat daerah hambatan atau zona

halo yang diisi dengan antibiotik. Ukurannya yaitu diameter luar = 8 mm,

diameter dalam = 6 mm, panjang = 10 mm (Anonim, 2009).

37. Spoit

Spoit berfungsi untuk mengambil larutan, zat hasil pengukuran, atau

zat yang mau diuji. Alat ini dapat disterilisasikan dengan menggunakan

otoklaf (uap air bertekanan) dimana sebelum disterilisai dibungkus terlebih

dahulu (Anonim, 2009).

38. Corong

Merupakan alat yang digunakan dalam proses penyaringan dan

memindahkan medium cair dari tempat yang besar ke tempat yang kecil
misalnya pada gelas kimia ke labu Erlenmeyer, prinsip kerjanya yaitu

meletakkan corong pada bagian mulut labu dan di pegang lalu cairan

dipindahkan (Ali dan Hala, 2008).

STERILISASI

Sterilisasi kering dilakukan dengan alat oven ini, biasanya digunakan suhu

160oC – 165oC selama 2 jam. Cara ini baik dilakukan terhadap alat-alat kering

terbuat dari kaca, seperti tabung reaksi, cawan petri, labu Erlenmeyer, pipet dan lain-

lain.

Menurut Junaidi (2009) Cara kerja sterilisasi adalah cara kerja agar terhindar

dari kontaminasi, cara kerja steril ini digunakan pada pembuatan media, pemeriksaan

kultur dan pembuatan preparat. Sterilisasi dapat dilakukan secara;

1. Fisik di bagi menjadi beberapa bagian antara lain:

a. ”Hot air Sterilization” oven. Bahan dari gelas dibungkus dengan alumunium

foil, suhu 170-250°C selama 2 jam.

b. Panas basah dengan tekanan, suhu 121°C selama 15 menit. Alat yang

digunakan adalah autoclav caranya: alat-alat gelas dibungkus lagi dengan

alumunium foil.

c. Pressure Cooker, caranya: panaskan air mendidih, biarkan klep uap terbuka

agar keluar uap kemudian klep uap ditutup, lihat suhu dan tekanan, bila suhu

telah 121°C dengan tekanan 1,5 atm, dijaga konstan selama 15 menit.

Kemudian buka klep uap hingga tercapai tekanan nol, dan setelah suhu

mencapai suhu kamar, alat dan bahan dikeluarkan.

1. Kimia yaitu dengan menggunakan zat-zat kimia seperti desinfektan, antiseptik


2. Radiasi yaitu dengan menggunakan sinar Ultraviolet, biasanya digunakan pada

ruangan dan alat-alat plastik.

3. Filter yaitu dengan menggunakan membran filter dan Vacum Pump

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpula:

Berdasarkan hasil praktikum ini kita dapat menarik kesimpulan

sebagai berikut;

1. Praktikan melakukan pengamatan langsung, kita dapat mengetahui alat-alat apa

saja yang digunakan pada praktikum mikrobiologi beserta mengetahui bagian-

bagiannya, fungsinya dan prinsip kerjanya.

2. Alat-alat yang digunakan pada praktikum harus steril sehingga perlu dilakukan

sterilisasi alat-alat sebelum digunakan. Adapun alat untuk sterilisasi kering

adalah oven dengan suhu sterilisasi 160oC selama 2 jam

A. Saran

1. Diharapkan kepada praktikan agar tetap menjaga kekompakan antar

kelompok supaya hasil yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan

2. Diharapkan kepada praktikan agar teliti didalam melakukan sterilisasi alat.


3. Jumlah asisten diperbanyak sesuai dengan jumlah kelompok yang ada agar

praktikum dapat lebih terarah dan efisien

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Alimuddin. 2005. Mikrobiologi Dasar Jilid I. Makasar: Badan Penerbit


Universitas Negeri Makassar

Anonim. 2009. Pengenalan Alat Laboratorium dan Fungsinya. www.list-


wordpress.com/alat-alat laboratorium-fungsi-prinsip kerja.html. Diakses
pada tanggal 30 Oktober 2009
.
Dwidjoseputro. 1990. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Bambatang

Hala, Yusminah, Oslan Jumadi. 2009. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Dasar.


Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Irianto, Koes. 2007. Mikrobiologi. Bandung: Yrama Widya.

Junaidi, Wawan. 2009. Definisi Sterilisasi. http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/


07/definisi-sterilisasi.html. Diakses pada tanggal 3 November 2009.

Lahay, Tutje. 2004. Teknik Laboratorium. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Pelczar, M.J dan E.C.S. Chan. 1994. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: Universitas
Indonesia Press.

Taiyeb, M. 2001. Pengenalan Alat Laboratorium. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA


UNM.
Anonim. 2009. Pengenalan Alat Laboratorium dan Fungsinya. www.list-
wordpress.com/alat-alat laboratorium-fungsi-prinsip
kerja.html. Diakses pada tanggal 30 Oktober 2009
· Mikroskop Cahaya (Brightfield Microscope)
Salah satu alat untuk melihat sel mikroorganisme adalah
mikroskop cahaya. Dengan mikroskop kita dapat mengamati sel
bakteri yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Pada
umumnya mata tidak mampu membedakan benda dengan diameter
lebih kecil dari 0,1 mm. berikut merupakan uraian tentang cara
penggunaan bagian-bagiandan spesifikasi mikroskop cahaya merk
Olympus CH20 yang dimiliki Laboratorium Mikrobiologi.
Bagian-bagian Mikroskop:
1. Eyepiece / oculars (lensa okuler)
Untuk memperbesar bayangan yang dibentuk lensa objektif
1. Revolving nosepiece (pemutar lensa objektif)
Untuk memutar objektif sehingga mengubah perbesaran
1. Observation tube (tabung pengamatan / tabung okuler)
2. Stage (meja benda)
Spesimen diletakkan di sini
1. Condenser (condenser)
Untuk mengumpulkan cahaya supaya tertuju ke lensa objektif
1. Objective lense (lensa objektif)
Memperbesar spesimen
1. Brightness adjustment knob (pengatur kekuatan lampu)
Untuk memperbesar dan memperkecil cahaya lampu
1. Main switch (tombol on-off)
2. Diopter adjustmet ring (cincin pengatur diopter)
Untuk menyamakan focus antara mata kanan dan kiri
1. Interpupillar distance adjustment knob (pengatur jarak interpupillar)
2. Specimen holder (penjepit spesimen)
3. Illuminator (sumber cahaya)
4. Vertical feed knob (sekrup pengatur vertikal)
Untuk menaikkan atau menurunkan object glass
1. Horizontal feed knob (sekrup pengatur horizontal)
Untuk menggeser ke kanan / kiri objek glas
1. Coarse focus knob (sekrup fokus kasar)
Menaik turunkan meja benda (untuk mencari fokus) secara kasar dan cepat
1. Fine focus knob (sekrup fokus halus)
Menaik turunkan meja benda secara halus dan lambat
1. Observation tube securing knob (sekrup pengencang tabung okuler)
2. Condenser adjustment knob (sekrup pengatur kondenser)

·
Autoklaf (Autoclave)
Diagram autoklaf vertical
1. Tombol pengatur waktu mundur (timer)
2. Katup pengeluaran uap
3. pengukur tekanan
4. kelep pengaman
5. Tombol on-off
6. Termometer
7. Lempeng sumber panas
8. Aquades (dH2O)
9. Sekrup pengaman
10. batas penambahan air
Autoclave adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang
digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan. Tekanan
yang digunakan pada umumnya 15 Psi atau sekitar 2 atm dan dengan suhu 121oC
(250oF). Jadi tekanan yang bekerja ke seluruh permukaan benda adalah 15 pon tiap
inchi2 (15 Psi = 15 pounds per square inch). Lama sterilisasi yang dilakukan
biasanya 15 menit untuk 121oC.
Cara Penggunaan :
1. Sebelum melakukan sterilisasi cek dahulu banyaknya air dalam autoklaf. Jika air
kurang dari batas yang ditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas tersebut.
Gunakan air hasil destilasi, untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat.
2. Masukkan peralatan dan bahan. Jika mensterilisasi botol beretutup ulir, maka tutup
harus dikendorkan.
3. Tutup autoklaf dengan rapat lalu kencangkan baut pengaman agar tidak ada uap
yang keluar dari bibir autoklaf. Klep pengaman jangan dikencangkan terlebih dahulu.
4. Nyalakan autoklaf, diatur timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121oC.
5. Tunggu samapai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoklaf
dan terdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman ditutup
(dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15’ dimulai sejak
tekanan mencapai 2 atm.
6. Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen turun
hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preisure gauge
menunjuk ke angka nol). Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan keluarkan isi
autoklaf dengan hati-hati.

· Inkubator (Incubator)
Inkubator adalah alat untuk menginkubasi atau memeram mikroba pada suhu yang
terkontrol. Alat ini dilengkapi dengan pengatur suhu dan pengatur waktu. Kisaran
suhu untuk inkubator produksi Heraeus B5042 misalnya adalah 10-70oC..
· Hot plate stirrer dan Stirrer bar
Hot plate stirrer dan Stirrer bar (magnetic stirrer) berfungsi untuk
menghomogenkan suatu larutan dengan pengadukan. Pelat (plate) yang terdapat
dalam alat ini dapat dipanaskan sehingga mampu mempercepat proses homogenisasi.
Pengadukan dengan bantuan batang magnet Hot plate dan magnetic stirrer seri SBS-
100 dari SBS® misalnya mampu menghomogenkan sampai 10 L, dengan kecepatan
sangat lambat sampai 1600 rpm dan dapat dipanaskan sampai 425oC.
· Colony counter
Alat ini berguna untuk mempermudah perhitungan koloni yang tumbuh setelah
diinkubasi di dalam cawankarena adanya kaca pembesar. Selain itu alat tersebut
dilengkapi dengan skala/ kuadran yang sangat berguna untuk pengamatan
pertumbuhan koloni sangat banyak. Jumlah koloni pada cawan Petri dapat ditandai
dan dihitung otomatis yang dapat di-reset.
· Biological Safety Cabinet
Biological Safety Cabinet (BSC) atau dapat juga disebut Laminar Air Flow (LAF)
adalah alat yang berguna untuk bekerja secara aseptis karena BSC mempunyai pola
pengaturan dan penyaring aliran udara sehingga menjadi steril dan aplikasisinar UV
beberapa jam sebelum digunakan. Prosedur penggunaan BSC seri 36212, Purifier™
Biological Safety Cabinet dari LABCONCO yang dimiliki laboratorium
mikrobiologi adalah sebagai berikut:
1. Hidupkan lampu UV selama 2 jam, selanjutnya matikan segera sebelum mulai
bekerja
2. Pastikan kaca penutup terkunci dan pada posisi terendah
3. Nyalakan lampu neon dan blower
4. Biarkan selama 5 menit
5. Cuci tangan dan lengan dengan sabun gemisidal / alkohol 70 %
6. Usap permukaan interior BSC dengan alkohol 70 % atau desinfektan yang cocok
dan biarkan menguap
7. masukkan alat dan bahan yang akan dikerjakan, jangan terlalu penuh (overload)
karena memperbesar resiko kontaminan
8. Atur alat dan bahan yang telah dimasukan ke BSC sedemikian rupa sehingga
efektif dalam bekerja dan tercipta areal yang benar-benar steril
9. Jangan menggunakan pembakar Bunsen dengan bahan bakar alkohol tapi gunakan
yang berbahan bakar gas.
10. Kerja secara aseptis dan jangan sampai pola aliran udara terganggu oleh aktivitas
kerja
11. setelah selesai bekerja, biarkan 2-3 menit supaya kontaminan tidak keluar dari
BSC
12. Usap permukaan interior BSC dengan alkohol 70 % dan biarkan menguap lalu
tangan dibasuh dengan desinfektan
13. Matikan lampu neon dan blower
· Mikropipet (Micropippete) dan Tip
Mikropipet adalah alat untuk memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil,
biasanya kurang dari 1000 µl. Banyak pilihan kapasitas dalam mikropipet, misalnya
mikropipet yang dapat diatur volume pengambilannya (adjustable volume pipette)
antara 1µl sampai 20 µl, atau mikropipet yang tidak bisa diatur volumenya, hanya
tersedia satu pilihan volume (fixed volume pipette) misalnya mikropipet 5 µl. dalam
penggunaannya, mukropipet memerlukan tip.

Cara Penggunaan :
1. Sebelum digunakan Thumb Knob sebaiknya ditekan berkali-kali untuk
memastikan lancarnya mikropipet.
2. Masukkan Tip bersih ke dalam Nozzle / ujung mikropipet.
3. Tekan Thumb Knob sampai hambatan pertama / first stop, jangan ditekan lebih ke
dalam lagi.
4. Masukkan tip ke dalam cairan sedalam 3-4 mm.
5. Tahan pipet dalam posisi vertikal kemudian lepaskan tekanan dari Thumb Knob
maka cairan akan masuk ke tip.
6. Pindahkan ujung tip ke tempat penampung yang diinginkan.
7. Tekan Thumb Knob sampai hambatan kedua / second stop atau tekan semaksimal
mungkin maka semua cairan akan keluar dari ujung tip.
8. Jika ingin melepas tip putar Thumb Knob searah jarum jam dan ditekan maka tip
akan terdorong keluar dengan sendirinya, atau menggunakan alat tambahan yang
berfungsi mendorong tip keluar.

· Cawan Petri (Petri Dish)


Cawan petri berfungsi untuk membiakkan (kultivasi) mikroorganisme. Medium
dapat dituang ke cawan bagian bawah dan cawan bagian atas sebagai penutup.
Cawan petri tersedia dalam berbagai macam ukuran, diameter cawan yang biasa
berdiameter 15 cm dapat menampung media sebanyak 15-20 ml, sedangkan cawan
berdiameter 9 cm kira-kira cukup diisi media sebanyak 10 ml.
· Pipet Ukur (Measuring Pippete)
Pipet ukur merupakan alat untuk memindahkan larutan dengan volume yang
diketahui. Tersedia berbagai macam ukuran kapasitas pipet ukur, diantaranya pipet
berukuran 1 ml, 5 ml dan 10 ml. Cara penggunaanya adalah cairan disedot dengan
pipet ukur dengan bantuan filler sampai dengan volume yang diingini. Volume yang
dipindahkan dikeluarkan menikuti skala yang tersedia (dilihat bahwa skala harus
tepat sejajar dengan mensikus cekung cairan) dengan cara menyamakan tekanan
filler dengan udara sekitar.
· Pipet tetes (Pasteur Pippete)
Fungsinya sama dengan pipet ukur, namun volume yang dipindahkan tidak
diketahui. Salah satu penerapannya adalah dalam menambahkan HCl / NaOH saat
mengatur pH media, penambahan reagen ada uji biokimia, dll.
· Tabung reaksi (Reaction Tube / Test Tube)
Di dalam mikrobiologi, tabung reaksi digunakan untuk uji-uji biokimiawi dan
menumbuhkan mikroba.Tabung reaksi dapat diisi media padat maupun cair. Tutup
tabung reaksi dapat berupa kapas, tutup metal, tutup plastik atau aluminium foil.
Media padat yang dimasukkan ke tabung reaksi dapat diatur menjadi 2 bentuk
menurut fungsinya, yaitu media agar tegak (deep tube agar) dan agar miring (slants
agar). Untuk membuat agar miring, perlu diperhatikan tentang kemiringan media
yaitu luas permukaan yang kontak dengan udara tidak terlalu sempit atau tidak
terlalu lebar dan hindari jarak media yang terlalu dekat dengan mulut tabung karena
memperbesar resiko kontaminasi. Untuk alas an efisiensi, media yang ditambahkan
berkisar 10-12 ml tiap tabung.

· Labu Erlenmeyer (Erlenmeyer Flask)


Berfungsi untuk menampung larutan, bahan atau cairan yang. Labu Erlenmeyer
dapat digunakan untuk meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi
media, menampung akuades, kultivasi mikroba dalam kultur cair, dll. Terdapat
beberapa pilihan berdasarkan volume cairan yang dapat ditampungnya yaitu 25 ml,
50 ml, 100 ml, 250 ml, 300 ml, 500 ml, 1000 ml, dsb.
· Gelas ukur (Graduated Cylinder)
Berguna untuk mengukur volume suatu cairan, seperti labu erlenmeyer, gelas ukur
memiliki beberapa pilihan berdasarkan skala volumenya. Pada saat mengukur
volume larutan, sebaiknya volume tersebut ditentukan berdasarkan meniskus cekung
larutan.

· Batang L (L Rod)
Batang L bermanfaat untuk menyebarkan cairan di permukaan agar supaya bakteri
yang tersuspensi dalam cairan tersebut tersebar merata. Alat ini juga disebut
spreader.

· Mortar dan Pestle


Mortar dan penumbuk (pastle) digunakan untuk menumbuk atau menghancurkan
materi cuplikan, misal daging, roti atau tanah sebelum diproses lebih lanjut.

· Beaker Glass
Beaker glass merupakan alat yang memiliki banyak fungsi. Di dalam mikrobiologi,
dapat digunakan untuk preparasi media media, menampung akuades dll..
· Pembakar Bunsen (Bunsen Burner)
Salah satu alat yang berfungsi untuk menciptakan kondisi yang steril adalah
pembakar bunsen. Untuk sterilisasi jarum ose atau yang lain, bagian api yang paling
cocok untuk memijarkannya adalah bagian api yang berwarna biru (paling panas).
Perubahan bunsen dapat menggunakan bahan bakar gas atau metanol.
· Glass Beads
Glass Beads adalah manik-manik gelas kecil yang digunakan untuk meratakan
suspensi biakan dengan menyebarkan beberapa butir di atas permukaan agar dan
digoyang merata. Glass beads digunakan pada teknik spread plate yang fungsinya
sama dengan batang L atau Spreader.
· Tabung Durham
Tabung durham berbentuk mirip dengan tabung reaksi namun ukurannya lebih kecil
dan berfungsi untuk menampung/menjebak gas yang terbentuk akibat metabolisme
pada bakteri yang diujikan. Penempatannya terbalik dalam tabung reaksi dan harus
terendam sempurna dalam media (jangan sampai ada sisa udara).
· Jarum Inokulum
Jarum inokulum berfungsi untuk memindahkan biakan untuk ditanam/ditumbuhkan
ke media baru. Jarum inokulum biasanya terbuat dari kawat nichrome atau platinum
sehingga dapat berpijar jika terkena panas. Bentuk ujung jarum dapat berbentuk
lingkaran (loop) dan disebut ose atau inoculating loop/transfer loop, dan yang
berbentuk lurus disebut inoculating needle/Transfer needle. Inoculating loop cocok
untuk melakukan streak di permukaan agar, sedangkan inoculating needle cocok
digunakan untuk inokulasi secara tusukan pada agar tegak (stab inoculating). Jarum
inokulum ini akan sangat bermanfaat saat membelah agar untuk preprasi Heinrich’s
Slide Culture.
· Pinset
Pinset memiliki banyak fungsi diantaranya adalah untuk mengambil benda dengan
menjepit misalnya saat memindahkan cakram antibiotik.
· pH Indikator Universal
berguna untuk mengukur/mengetahui pH suatu larutan. Hal ini sangat penting dalam
pembuatan media karena pH pada media berpengaruh terhadap petumbuhan
mikroba. Kertas pH indikator dicelupkan sampai tidak ada perubahan warna
kemudian strip warna dicocokkan dengan skala warna acuan.
· Pipet Filler / Rubber Bulb
Filler adalah alat untuk menyedot larutan yang dapat dipasang pada pangkal pipet
ukur. Karet sebagai bahan filler merupakan karet yang resisten bahan kimia. Filler
memiliki 3 saluran yang masing-masing saluran memiliki katup. Katup yang
bersimbol A (aspirate) berguna untuk mengeluarkan udara dari gelembung. S
(suction) merupakan katup yang jika ditekan maka cairan dari ujung pipet akan
tersedot ke atas. Kemudian katup E (exhaust) berfungsi untuk mengeluarkan cairan
dari pipet ukur.
http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/07/definisi-sterilisasi.html

DEFINISI-STERILISASI
Sterilisasi merupakan Metode praktis yang dirancang untuk
membersihkan dari mikroorganisme, atau sengaja untuk
menghambat pertumbuhannya, yang nyata dari kepentingan dasar
di banyak keadaan. Jenis dari mikroorganisme sangat berbeda
dalam kelemahannya terdapat berbagai macam agen antimikroba,
dan lebih banyak lagi, afek yang praktis dari agen ini pada adanya
keadaan nyatayang sangat besar dipengaruhi oleh keadaan sekitar.
Banyak yang akan bertahan, contohnya, pada cuaca tertentu
organisme memiliki kulit, pada beberapa tubuh zat cair atau pada
udara, Air, makanan, kotoran, atau ruangan berdebu. Caranya
harus dirubah, oleh karena itu, dengan masalah nyata. Hal ini tidak
mungkin, bagaimanapun pada garis besarnya tentunya prinsip
dasar digaris bawahi pada umumnya digunakan cara untuk
memusnahkan dan mengontrol kehidupan mikroba (Burdon, 1969).

Cara kerja sterilisasi adalah cara kerja agar terhindar dari


kontaminasi, cara kerja steril ini digunakan pada pembuatan
media, pemeriksaan kultur dan pembuatan preparat. Sterilisasi
dapat dilakukan secara; (1) Fisik di bagi menjadi beberapa bagian
antara lain (a) dengan ”Hot air Sterilization” oven. Bahan dari gelas
dibungkus dengan alumunium foil, suhu 170-250°C selama 2 jam.
(b) panas basah dengan tekanan, suhu 121°C selama 15 menit.
Alat yang digunakan adalah autoclave, caranya: alat-alat gelas
dibungkus lagi dengan alumunium foil. (c) Pressure Cooker,
caranya: panaskan air mendidih, biarkan klep uap terbuka agar
keluar uap kemudian klep uap ditutup, lihat suhu dan tekanan, bila
suhu telah 121°C dengan tekanan 1,5 atm, dijaga konstan selama
15 menit. Kemudian buka klep uap hingga tercapai tekanan nol,
dan setelah suhu mencapai suhu kamar, alat dan bahan
dikeluarkan. (2) Kimia yaitu dengan menggunakan zat-zat kimia
seperti desinfektan, antiseptik. (3) Radiasi yaitu dengan
menggunakan sinar Ultraviolet, biasanya digunakan pada ruangan
dan alat-alat plastik. (4) Filter yaitu dengan menggunakan
membran filter dan Vacum Pump (Anonim, 2007).