Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

UPAYA PENGOBATAN DASAR


KASUS PAROTITIS

OLEH:
dr. Maulan Saputra
PENDAMPING:
dr. H. SARTONO, MM

PROGRAM DOKTER INTERNSHIP


PUSKESMAS PEMARON
2015

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KASUS UPAYA PENGOBATAN DASAR (F.6)
KASUS PAROTITIS

Brebes, Juni 2015

Peserta Program Internship

dr. Maulan Saputra

Pendamping Program Internship

dr. H. Sartono, MM

BAB I
PENDAHULUAN
A LATAR BELAKANG
Parotitis merupakan penyakit infeksi yang pada 30-40 % kasusnya merupakan
infeksi asimptomatik. Infeksi ini disebabkan oleh virus RNA untai tunggal negative
sense berukuran 100-600 nm, dengan panjang 15000 nukleotida termasuk dalam
genus Rubulavirus subfamily Paramyxsovirinae dan family Paramyxoviridae
(Sumarmo,2008). Penyebaran virus terjadi dengan kontak langsung, percikan ludah,
bahan mentah mungkin dengan urin. Sekarang penyakit ini sering terjadi pada orang
dewasa muda sehingga menimbulkan epidemi secara umum. Pada umumnya parotitis
epidemika dianggap kurang menular jika dibanding dengan morbili atau varicela,
karena banyak infeksi parotitis epidemika cenderung tidak jelas secara klinis (Warta
medika,2009).
Dalam perjalanannya parotitis epidemika dapat menimbulkan komplikasi
walaupun jarang terjadi. Komplikasi yang terjadi dapat berupa: Meningoencepalitis,
artritis, pancreatitis, miokarditis, ooporitis, orchitis, mastitis, dan ketulian.
Insidensi parototis epidemika dengan ketulian adalah 1 : 15.000. Meningitis
yang terjadi berupa Meningitis aseptik. Insidensi atau komplikasi dari parotitis
Meningoencephalitis sekitar 250/100.000 kasus. Sekitar 10% dari kasus ini
penderitanya berumur kurang dari 20 tahun. Angka rata-tata kematian akibat parotitis
Meningoencephalitis adalah 2%. Kelainan pada mata akibat komplikasi parotitis dapat
berupa neutitis opticus, dacryoadenitis, uveokeratitis, scleritis dan trombosis vena
central retina. Gangguan pendengaran akibat parotitis epidemika biasanya unilateral,
namun dapat pula bilateral. Gangguan ini seringkali bersifat permanen.
Sebagai dokter pada layanan primer, diagnosis parotitis harus dapat
ditegakkan, demikian pula dalam memberikan penatalaksanaan komprehensif
terhadap pasien. Upaya pengobatan dasar adalah konsep fungsional keberadaan dokter
pada tingkat layanan primer, oleh karena itu pengkajian terhadap kasus kompetensi 4
yang sering terjadi di masyarakat sangat penting untuk dilakukan.

B PERMASALAHAN
Pengobatan dasar pada layanan primer diharapkan dapat memberikan
penatalaksanaan komprehensif pada penyakit dengan kompetensi 4. Pasien

diharapkan tidak perlu mendapatkan penanganan lanjutan tingkat spesialis.


Penatalaksanaan ini diharapkan dapat memenuhi standar terapi medikamenosa dan
non medikamentosa, pencegahan komplikasi.
C TUJUAN
1. Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan dokter dan tenaga kesehatan dalam penanganan
kasus parotitis, baik diagnosis, pemeriksaan, penatalaksanaan hingga tindakan
lanjutan apabila terjadi komplikasi
2. Tujuan Khusus
Memenuhi tugas laporan program dokter internsip di Puskesmas Pemaron
D MANFAAT
Menjadi sumber referensi bagi tenaga kesehatan dan non tenaga kesehatan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Penyakit Gondongan (Mumps atau Parotitis) adalah suatu penyakit menular
dimana sesorang terinfeksi oleh virus (Paramyxovirus) yang menyerang kelenjar
ludah (kelenjar parotis) di antara telinga dan rahang sehingga menyebabkan
pembengkakan pada leher bagian atas atau pipi bagian bawah. Penyakit gondongan
tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemik atau epidemik, Gangguan
ini cenderung menyerang anak-anak dibawah usia 15 tahun (sekitar 85% kasus).
(Warta Medika,2009)

Parotitis ialah penyakit virus akut yang biasanya menyerang kelenjar ludah
terutama kelenjar parotis (sekitar 60% kasus). Gejala khas yaitu pembesaran kelenjar
ludah terutama kelenjar parotis. Pada saluran kelenjar ludah terjadi kelainan berupa
pembengkakan sel epitel, pelebaran dan penyumbatan saluran. Pada orang dewasa,
infeksi ini bisa menyerang testis (buah zakar), sistem saraf pusat, pankreas, prostat,
payudara dan organ lainnya. Adapun mereka yang beresiko besar untuk menderita
atau tertular penyakit ini adalah mereka yang menggunakan atau mengkonsumsi obatobatan tertentu untuk menekan hormon kelenjar tiroid dan mereka yang kekurangan
zat Iodium dalam tubuh (Sumarmo,2008).
B. ETIOLOGI
Agen penyebab parotitis epidemika adalah anggota dari kelompok
paramyxovirus, yang juga termasuk didalamnya virus parainfluenza, measles, dan
virus newcastle disease. Ukuran dari partikel paramyxovirus sebesar 90 300 m.
Virus telah diisolasi dari ludah, cairan serebrospinal, darah, urin, otak dan jaringan
terinfeksi lain. Mumps merupakan virus RNA rantai tunggal genus Rubulavirus
subfamily Paramyxovirinae dan family Paramyxoviridae.Virus mumps mempunyai 2
glikoprotein yaitu hamaglutinin-neuramidase dan perpaduan protein. Virus ini juga
memiliki dua komponen yang sanggup memfiksasi, yaitu : antigen S atau yang dapat
larut (soluble) yang berasal dari nukleokapsid dan antigen V yang berasal dari
hemaglutinin permukaan.
Virus ini aktif dalam lingkungan yang kering tapi virus ini hanya dapat
bertahan selama 4 hari pada suhu ruangan. Paramyxovirus dapat hancur pada suhu <4
C, oleh formalin, eter, serta pemaparan cahaya ultraviolet selama 30 detik.Virus
masuk dalam tubuh melalui hidung atau mulut.Virus bereplikasi pada mukosa saluran
napas atas kemudian menyebar ke kalenjar limfa local dan diikuti viremia umum
setelah 12-25 hari (masa inkubasi) yang berlangsung selama 3-5 hari.Selanjutnya
lokasi yang dituju virus adalah kalenjar parotis, ovarium, pancreas, tiroid, ginjal,
jantung atau otak.Virus masuk ke system saraf pusat melalui plexus choroideus lewat
infeksi pada sel mononuclear. Masa penyebaran virus ini adalah 2-3 minggu melalui
dari ludah, cairan serebrospinal, darah, urin, otak dan jaringan terinfeksi lain. Virus
dapat diisolasi dari saliva 6-7 hari sebelum onset penyakit dan 9 hari sesudah
munculnya pembengkakan pada kalenjar ludah. Penularan terjadi 24 jam sebelum
pembengkakan kalenjar ludah dan 3 hari setelah pembengkakan menghilang
(Sumarmo,2008)

C. EPIDEMIOLOGI
Parotitis merupakan penyakit endemik pada populasi penduduk urban. Virus
menyebar melalui kontak langsung, air ludah, muntah yang bercampur dengan saliva
dan urin. Epidemi tampaknya terkait dengan tidak adanya imunisasi, bukan pada
menyusutnya imunitas.
Parotitis merupakan penyakit endemik pada komunitas besar, dan menjadi
endemik setiap kurang lebih 7 tahun. Relatif jarang terjadi epidemi, terbatas pada
kelompok yang berhubungan erat, yang hidup dalam rumah, perkemahan, barak
tentara, asrama atau sekolah. Ada penurunan insiden sejak pengenalan vaksin parotitis
epidemika pada tahun 1968.
Dalam setahun, parotitis banyak terjadi pada musim dingin. Golongan umur
yang terkena 5 15 tahun. Juga ditemukan pada usia dibawah 30 tahun. Parotits
kadang juga terjadi pada usia dibawah 4 tahun dan siatas 40 tahun. Namun meskipun
demikian, pada daerah yang terisolasi atau daerah yang tidak ada sejarah pernah
endemik parotitis ditemukan kejadian parotitis pada usia dibawah 1 tahun sebesar
17% dan umur 3 4 tahun sebesar 70% - 80%. Gender juga berpengaruh terhadap
angka kejadian parotitis. Laki-laki lebih sering terkena parotitis dibandingkan
perempuan.

D. KLASIFIKASI
1. Parotitis Kambuhan
Anak-anak mudah terkena parotitis kambuhan yang timbul pada usia antara 1
bulan hingga akhir masa kanak-kanak. Kambuhan berarti sebelumnya anak telah
terinfeksi virus kemudian kambuh lagi.
2. Parotitis Akut
Parotitis akut ditandai dengan rasa sakit yang mendadak, kemerahan dan
pembengkakan pada daerah parotis. Dapat timbul sebagai akibat pasca-bedah
yang dilakukan pada penderita terbelakang mental dan penderita usia lanjut,
khususnya apabila penggunaan anestesi umum lama dan adanya gangguan
dehidrasi.
E. MANIFESTASI KLINIS
Tidak semua orang yang terinfeksi oleh virus Paramyxovirus mengalami
keluhan, bahkan sekitar 30-40% penderita tidak menunjukkan tanda-tanda sakit
(subclinical). Namun demikian mereka sama dengan penderita lainnya yang
mengalami keluhan, yaitu dapat menjadi sumber penularan penyakit tersebut. Masa

tunas (masa inkubasi) penyakit Gondong sekitar 12-24 hari dengan rata-rata 17-18
hari. Adapun tanda dan gejala yang timbul setelah terinfeksi dan berkembangnya
masa tunas dapat digambarkan sebagai berikut :
Pada tahap awal (1-2 hari) penderita Gondong mengalami gejala: demam
(suhu badan 38,5 40 derajat celcius), sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu
makan, nyeri rahang bagian belakang saat mengunyah dan adakalanya disertai kaku
rahang (sulit membuka mulut).
Selanjutnya terjadi pembengkakan kelenjar di bawah telinga (parotis) yang
diawali dengan pembengkakan salah satu sisi kelenjar kemudian kedua kelenjar
mengalami pembengkakan.Pembengkakan biasanya berlangsung sekitar 3 hari
kemudian berangsur mengempis.Kadang terjadi pembengkakan pada kelenjar di
bawah rahang (submandibula) dan kelenjar di bawah lidah (sublingual).Pada pria
dewasa adalanya terjadi pembengkakan buah zakar (testis) karena penyebaran melalui
aliran darah.

F. PATOGENESIS
Pada umumnya penyebaran paramyxovirus sebagai agent penyebab parotitis
(terinfeksinya kelenjar parotis) antara lain akibat:
1.
2.
3.
4.

Percikan ludah
Kontak langsung dengan penderita parotitis lain
Muntahan
urine
Virus tersebut masuk tubuh bisa melalui hidung atau mulut. Biasanya kelenjar

yang terkena adalah kelenjar parotis. Infeksi akut oleh virus mumps pada kelenjar
parotis dibuktikan dengan adanya kenaikan titer IgM dan IgG secara bermakna dari
serum akut dan serum konvalesens. Semakin banyak penumpukan virus di dalam
tubuh sehingga terjadi proliferasi di parotis/epitel traktus respiratorius kemudian
terjadi viremia (ikurnya virus ke dalam aliran darah) dan selanjutnya virus berdiam di
jaringan kelenjar/saraf yang kemudian akan menginfeksi glandula parotid. Keadaan
ini disebut parotitis.
Akibat terinfeksinya kelenjar parotis maka dalam 1-2 hari akan terjadi demam,
anoreksia, sakit kepala dan nyeri otot (Mansjoer, 2000). Kemudian dalam 3 hari
terjadilah pembengkakan kelenjar parotis yang mula-mula unilateral kemudian

bilateral, disertai nyeri rahang spontan dan sulit menelan. Pada manusia selama fase
akut, virus mumps dapat diisoler dari saliva, darah, air seni dan liquor. Pada pankreas
kadang-kadang terdapat degenerasi dan nekrosis jaringan.
G. PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada pasien parotitis akan didapatkan antara lain :
a. Pada inspeksi terlihat pembengkakan dan eritm pada kulit leher, baik
unilateral maupun bilateral.
b. Kelenjar parotisyang mengalami inflmasi biasanya teraba kenyal.
c. Kelenjar
submandibularis
dan
sublingualis
juga
mengalami
pembengkakan.
d. Adanya nyeri telan
2. Pemeriksaan Penunjang
a. Darah rutin
Tidak spesifik, gambarannya seperti infeksi virus lain, biasanya leukopenia
ringan yakni kadar leukosit dalam satu liter darah menurun. Normalnya
leukosit dalam darah adalah 4 x 109 /L darah .dengan limfositosis relatif,
namun komplikasi sering menimbulkan leukositosis polimorfonuklear
tingkat sedang.
b. Amilase serum
Biasanya ada kenaikan amilase serum, kenaikan cenderung dengan
pembengkakan parotis dan kemudian kembali normal dalam kurang lebih
2 minggu.Kadar amylase normal dalam darah adalah 0-137 U/L darah.
c. Pemeriksaan serologis
Ada tiga pemeriksaan serologis yang dapat dilakukan untuk menunjukan
adanya infeksi virus (Nelson, 2000), yaitu:
Hemaglutination inhibition (HI) test
Uji ini menerlukan dua spesimen serum, satu serum dengan onset cepat
dan serum yang satunya di ambil pada hari ketiga. Jika perbedaan titer

spesimen 4 kali selama infeksi akut, maka kemungkinannya parotitis.


Neutralization (NT) test
Dengan cara mencampur serum penderita dengan medium untuk
biakan fibroblas embrio anak ayam dan kemudian diuji apakah terjadi
hemadsorpsi.

Pengenceran

serum

yang

mencegah

terjadinya

hemadsorpsi dinyatakan oleh titer antibodi parotitis epidemika. Uji


netralisasi asam serum adalah metode yang paling dapat dipercaya

untuk menemukan imunitas tetapi tidak praktis dan tidak mahal.


Complement Fixation (CF) test

Tes fiksasi komplement dapat digunakan untuk menentukan jumlah


respon antibodi terhadap komponen antigen S dan V bagi diagnosa
infeksi parotitis epidemika akut. Antibodi terhadap antigen V mencapai
titer puncak dalam 1 bulan dan menetap selama 6 bulan berikutnya dan
kemudian menurun secara lambat 2 tahun sampai suatu jumlah yang
rendah dan tetap ada. Peningkatan 4 kali lipat dalam titer dengan
analisis standar apapun menunjukan infeksi yang baru terjadi.
Antibodi terhadap antigen S timbul cepat, sering mencapai maksimum
dalam satu minggu setelah timbul gejala, hilang dalam 6 sampai 12

minggu.
Pemeriksaan Virologi
Isolasi virus jarang sekali digunakan untuk diagnosis. Isolasi virus
dilakukan dengan biakan virus yang terdapat dalam saliva, urin, likuor
serebrospinal atau darah. Biakan dinyatakan positif jika terdapat
hemardsorpsi dalam biakan yang diberi cairan fosfat-NaCl dan tidak
ada pada biakan yang diberi serum hiperimun.

H. DIAGNOSIS BANDING
Pada umumnya diagnosis klinik parotitis mudah ditegakkan, tetapi pada kasus
tertentu perlu dibedakan dengan penyakit lain yang member gambaran klinis hampir
sama, yaitu :
a. Parotitis supurative, pada penyakit ini sering terjadi pengeluaran nanah dari
dalam kelenjar parotis bila dilakukan penekanan dan terjadi leukositosis.
b. Kalkulus saliva, akibat sumbatan saluran kelenjar parotis yang menyebabkan
pembengkakan interminten.
c. Sialolithiasis (batu parotis), gejala yang ditimbulkan diantara pembesarkan
kelenjar parotis yang berlangsung lambat dan terus menerus disertai perasaan
nyeri yang ringan sampai berat.
d. Limfadenitis preaurikuler atau servikal anterior karena sebab apapun.
e. Tumor parotis, ditandai dengan pembesaran kelenjar parotis yang berlangsung
cepat dan progresif, umumnya unilateral dan tidak disertai rasa nyeri.
f. Sjorgen`s syndrome (Parotitis, keratokonjuntivitis, tidak adanya air mata)
I. PENATALAKSANAAN
Parotitis merupakan penyakit yang bersifat self-limited (sembuh/hilang
sendiri) yang berlangsung kurang lebih dalam satu minggu. Tidak ada terapi spesifik
bagi infeksi virus Mumps oleh karena itu pengobatan parotitis seluruhnya
simptomatis dan suportif.

Pasien dengan parotitis harus ditangani dengan kompres hangat, sialagog


seperti tetesan lemon, dan pijatan parotis eksterna. Cairan intravena mungkin
diperlukan untuk mencegah dehidrasi karena terbatasnya asupan oral. Jika respons
suboptimal atau pasien sakit dan mengalami dehidrasi, maka antibiotik intravena
mungkin lebih sesuai.
Berikut tata laksana yang sesuai dengan kasus yang diderita:
1. Penderita rawat jalan
Penderita baru dapat dirawat jalan bila tidak ada komplikasi (keadaan
umum cukup baik).
a.
b.
c.
d.
e.

Istirahat yang cukup, di berikan kompres.


Pemberian diet lunak dan cairan yang cukup
Kompres panas dingin bergantian
Medikamentosa
Analgetik-antipiretik bila perlu
metampiron : anak > 6 bulan 250 500 mg/hari maksimum 2 g/hari
parasetamol : 7,5 10 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis
hindari pemberian aspirin pada anak karena pemberian aspirin
berisiko menimbulkan Sindrom Reye yaitu sebuah penyakit langka
namun mematikan. Obat-obatan anak yang terdapat di apotik belum
tentu bebas dari aspirin. Aspirin seringkali disebut juga sebagai
salicylate atau acetylsalicylic acid.

2. Penderita rawat inap


Penderita dengan demam tinggi, keadaan umum lemah, nyeri kepalahebat,
gejala saraf perlu rawat inap diruang isolasi
a. Diet lunak, cair dan TKTP
b. Analgetik-antipiretik
c. Berikan kortikosteroid untuk mencegah komplikasi
J. PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap parotitis epidemika dapat dilakukan secara imunisasi
pasif dan imunisasi aktif.
1. Pasif

Gamma globulin parotitis tidak efektif dalam mencegah parotitis atau mengurangi
komplikasi.
2. Aktif
Dilakukan dengan memberikan vaksinasi dengan virus parotitis epidemika yang
hidup tapi telah dirubah sifatnya (Mumpsvax-merck, sharp and dohme) atau
diberikan subkutan pada anak berumur 15 bulan (Ngastiyah, 2007). Vaksin ini
tidak menyebabkan panas atau reaksi lain dan tidak menyebabkan ekskresi virus
dan tidak menular. Menyebabkan imunitas yang lama dan dapat diberikan
bersama vaksin campak dan rubella (MMR yakni vaksin Mumps, Morbili,
Rubella). Pemberian vaksinasi dengan virus mumps, sangat efektif dalam
menimbulkan peningkatan bermakna dalam antibodi mumps pada individu yang
seronegatif sebelum vaksinasi dan telah memberikan proteksi 15 sampai 95 %.
Proteksi yang baik sekurang-kurangnya selama 12 tahun dan tidak mengganggu
vaksin terhadap morbili, rubella, dan poliomielitis atau vaksinasi variola yang
diberikan serentak.
Kontraindikasi: Bayi dibawah usia 1 tahun karena efek antibodi maternal;
Individu dengan riwayat hipersensitivitas terhadap komponen vaksin; demam
akut; selama kehamilan; leukimia dan keganasan; limfoma; sedang diberi obatobat imunosupresif, alkilasi dan anti metabolit; sedang mendapat radiasi.
Belum diketahui apakah vaksin akan mencegah infeksi bila diberikan
setelah pemaparan, tetapi tidak ada kontraindikasi bagi penggunaan vaksin
Mumps dalam situasi ini
K. KOMPLIKASI
Komplikasinya meliputi septicemia, osteomielitis mandibular, ekstensi fasial,
obstruksi jalan napas, mediastinitis, thrombosis vena jugulris interna, dan disfungsi
nervus fasialis. Gondongan telah dilaporkan menyebabkan meningoensefalitis,
pankretitis, orkitis, miokarditis, perikarditis, arthritis, dan nefritis.
Hampir semua anak yang menderita gondongan akan pulih total tanpa
penyulit, tetapi kadang gejalanya kembali memburuk setelah sekitar 2 minggu.
Keadaan seperti ini dapat menimbulkan komplikasi, dimana virus dapat menyerang
organ selain kelenjar liur. Hal tersebut mungkin terjadi terutama jika infeksi terjadi
setelah masa pubertas.

Dibawah ini komplikasi yang dapat terjadi akibat penanganan atau pengobatan
yang kurang dini menurut Nelson (2000) :
1. Meningoensepalitis
Penderita mula-mula menunjukan gejala nyeri kepala ringan, yang kemudian
disusul

oleh

muntah-muntah,

gelisah

dan

suhu

tubuh

yang

tinggi

(hiperpireksia).Komplikasi ini merupakan komplikasi yang sering pada anakanak.


2. Ketulian
Tuli saraf dapat terjadi unilateral, jarang bilateral walaupun insidensinya rendah
(1:15.000), parotitis adalah penyebab utama tuli saraf unilateral, kehilangan
pendengaran mungkin sementara atau permanen.
3. Orkitis
Peradangan pada salah satu atau kedua testis. Setelah sembuh, testis yang terkena
mungkin akan menciut. Jarang terjadi kerusakan testis yang permanen Sehingga
kemandulan dapat terjadi pada masa setelah puber dengan gejala demam tinggi
mendadak, menggigil mual, nyeri perut bagian bawah, gejala sistemik, dan sakit
pada testis. Testis paling sering terinfeksi dengan atau tanpa epidedimitis. Bila
testis terkena infeksi maka terdapat perdarahan kecil. Orkitis biasanya menyertai
parotitis dalam 8 hari setelah parotitis. Keadaan ini dapat berlangsung dalam 3
14 hari.Testis yang terkena menjadi nyeri dan bengkak dan kulit sekitarnya
bengkak dan merah. Rata-rata lamanya 4 hari.Sekitar 30-40% testis yang terkena
menjadi atrofi. Gangguan fertilitas diperkirakan sekitar 13%. Tetapi infertilitas
absolut jarang terjadi.
4. Ensefalitis atau Meningitis
Peradangan otak atau selaput otak.Gejalanya berupa sakit kepala, kaku kuduk,
mengantuk, koma atau kejang. 5-10% penderita mengalami meningitis dan
kebanyakan akan sembuh total. 1 diantara 400-6.000 penderita yang mengalami
ensefalitis cenderung mengalami kerusakan otak atau saraf yang permanen, seperti
ketulian atau kelumpuhan otot wajah.

5. Ooforitis
Timbulnya nyeri dibagian pelvis ditemukan pada sekitar 7% pada penderita
wanita pasca pubertas
6. Pankreatitis
Peradangan pankreas, bisa terjadi pada akhir minggu pertama.Penderita
merasakan mual dan muntah disertai nyeri perut. Gejala ini akan menghilang
dalam waktu 1 minggu dan penderita akan sembuh total. Nyeri perut sering ringan
sampai sedang muncul tiba-tiba pada parotitis. Biasanya gejala nyeri epigastrik
disertai dengan pusing, mual, muntah, demam tinggi, menggigil, lesu, merupakan
tanda adanya pankreatitis akibat mumps.
7. Nefritis
Kadang-kadang kelainan fungsi ginjal terjadi pada setiap penderita dan viruria
terdeteksi pada 75%. Frekuensi keterlibatan ginjal pada anak-anak belum
diketahui. Nefritis yang mematikan, terjadi 10-14 hari sesudah parotitis.Nefritis
ringan dapat terjadi namun jarang. Dapat sembuh sempurna tanpa meninggalkan
kelainan pada ginjal.
8. Tiroiditis
Walaupun tidak biasa, pembengkakan tiroid yang nyeri dan difus dapat terjadi
pada umur sekitar 1 minggu sesudah mulai parotitis dengan perkembangan
selanjutnya antibodi antitiroid pada penderita.
9. Miokarditis
Manifestasi jantung yang serius sangat jarang terjadi, tetapi infeksi ringan
miokardium mungkin lebih sering daripada yang diketahui.Miokarditis ringan
dapat terjadi dan muncul 510hari pada parotitis. Gambaran elektrokardiografi
dari miokarditis seperti depresi segmen S-T, flattening atau inversi gelombang T.
Dapat disetai dengan takikardi, pembesaran jantung dan bising sistolik.
10. Artritis

Jarang ditemukan pada anak-anak.Atralgia yang disertai dengan pembengkakan


dan kemerahan sendi biasanya penyembuhannya sempurna. Manifestasi lain yang
jarang tapi menarik pada parotitis adalah poliarteritis yang sering kali berpindahpindah. Gejala sendi mulai 1-2minggu setelah berkurangnya parotitis.Biasanya
yang terkena adalah sendi besar khususnya paha atau lutut.Penyakit ini berakhir 112 minggu dan sembuh sempurna.
11. Kelainan pada mata
Komplikasi ini meliputi dakrioadenitis, pembengkakan yang nyeri, biasanya
bilateral, dari kelenjar lakrimalis; neuritis optik (papillitis) dengan gejala-gejala
bervariasi dari kehilangan penglihatan sampai kekaburan ringan dengan
penyembuhan dalam 1020 hari; uveokeratitis, biasanya unilateral dengan
fotofobia, keluar air mata, kehilangan penglihatan cepat dan penyembuhan dalam
20 hari; skleritis, tenonitis, dengan akibat eksoftalmus; trombosis vena sentral.

BAB III
KASUS
A. IDENTITAS
Tanggal dilakukan anamnesis adalah 09 Juni 2015
1. Pasien
Nama
: An. AS
Umur
: 7 TH
JK
: Laki-Laki
Alamat
: Padasugih

2. Orangtua Pasien
Nama
: Ny. A
Umur
: 39 TH
JK
: Perempuan
Alamat
: Padasugih
Pekerjaan : Berdagang
Pendidikan : SD
Agama
: Islam
B. ANAMNESIS
Anamnesa dilakukan secara alloanamnesa dengan ibu pasien pada hari Selasa
tanggal 09 Juni 2015
1. Keluhan Utama
Leher kanan benjol/bengkak sejak 2 hari yang lalu
2. Keluhan Tambahan
Demam, batuk, pilek, pusing, nafsu makan menurun
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Dua hari sebelum datang ke PKD, pasien mengeluh leher kanan mulai
membengkak yang terasa nyeri saat perabaan. Bengkak pada leher tersebut di
rasakan semakin hari semakin membesar, Keluhan bengkak tersebut disertai
dengan keluhan nyeri teggorokan dan nyeri menelan. Keluhan ini disertai demam
yang tiba-tiba meninggi namun dengan frekuensi yang naik turun, tidak disertai
menggigil dan kejang. Selain itu pasien juga mengeluhkan batuk berdahak, dahak
sulit dikeluarkan, pilek, pusing, namun tidak sesak napas. Pasien juga mengeluh
nafsu makan menurun, namun tidak mual dan muntah, BAB dan BAK biasa tidak
ada keluhan. Pasien belum berobat untuk keluhan ini. Ibu pasien mengatakan
bahwa ada tetangga di lingkungan dan teman-temannya yang menderita keluhan
yang sama seperti ini sebelumnya
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat keluhan yang sama disangkal. Riwayat alergi disangkal.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluhan yang sama disangkal. Riwayat alergi disangkal. Riwayat
tetangga/ teman bermain dengan keluhan yang sama diketahui banyak yang
mengalami keluhan serupa.
6. Riwayat Kebersihan Diri
Anak mandi dengan sabun antiseptik 2x sehari. Kebersihan rambut kesan cukup,
kebersihan kuku buruk. Anak tidak rajin mencuci tangan dan menggunting kuku.
7. Riwayat Lingkungan
Tinggal di rumah yang berdempetan dengan rumah tetangga. Pencahayaan dalam
rumah cukup. Aliran udara dalam rumah cukup. Kebersihan di dalam rumah
cukup, kebersihan di luar rumah cukup. Sumber air dari sumur. Tidak memelihara
hewan ternak.

8. Riwayat Sosial Ekonomi


Kesan ekonomi menengah kebawah. Pasien mendapatkan jaminan kesehatan
untuk pengobatan.
9. Riwayat Kelahiran
Lahir normal pervaginam dengan bantuan bidan. Berat lahir diatas 2500 gr,
panjang diatas 45 cm. Tidak ada masalah selama kehamilan dan persalinan.
10. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
Anak tumbuh setara dengan teman seusianya. Rajin mengikuti posyandu, grafik
pertumbuhan tidak pernah berada dibawah garis merah. Anak aktif berkegiatan
bersama teman-teman seusianya, tidak menunjukkan tanda-tanda keterlambatan
perkembangan.
11. Riwayat Imunisasi
Imunisasi dasar lengkap di posyandu mengikuti jadwal yang diberikan bidan desa.
12. Riwayat Makan
Mendapatkan ASI sampai usia 1 tahun. Mulai makan pada usia 4 bulan, makan
pertama adalah bubur susu dan pisang yang dilumatkan. Tidak ada gangguan
makan. Anak sering jajan, tetapi tidak pilih-pilih makanan.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum: baik
Kesadaran: compos mentis
Vital Sign:
Nadi: 90x/ menit
Suhu: 37,68* C
Pernafasan: 16x/ menit
Kepala: konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), edema (-/-), ptosis (-/-)
Leher: Pembesaran kelenjar submandibularis (-/+), nyeri telan (+), nyeri tekan (+)
Thoraks:
Jantung: S1 > S2 reguler, bising (-)
Paru: pengembangan paru simetris, suara dasar vesikuler, suara tambahan (-)
Abdomen:
Supel, timpani, BU (+) dbn, nyeri tekan (-)
Hepar: kesan ukuran dbn, tidak teraba massa
Lien: kesan ukuran dbn
Ekstrimitas: edema (-), akral dingin (-) kuku tampak kotor dan panjang

Status Lokalis :
Benjolan a/r Submandibula dextra, bentuk bulat, difus, permukaan rata, konsistensi
kenyal, batas tidak tegas, terfiksir, nyeri tekan (+).

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tidak dilakukan.
E. DIAGNOSIS
Parotitis / Gondongan
F. PENATALAKSANAAN
Non medikamentosa:
- Isolasi (menggunakan masker) untuk mencegah penularan
- Istirahat selama periode demam
- Menjaga personal hygiene
- Berikan makan lembut sedikit demi sedikit dan makanan kecil tambahan yang
-

tepat. Menghindari makanan asam dan pedas.


Berikan minum yang sedikit-sedikit tetapi sering.

Medikamentosa:
- Syr. Paracetamol 125mg/ 5 ml: 3 x 1 sendok takar (5 ml), diberikan bila panas
-

tinggi tidak turun setelah dikompres


GG tab 3 x 50 mg
Vit B6 2 x 1

BAB IV
PEMBAHASAN
An. AS, 4 TH, Laki-Laki datang ke puskesmas dengan diantar oleh ibunya, mengeluh muncul
benjolan di leher kanan. Benjolan muncul di leher sejak 2 hari yang lalu, terasa nyeri saat di
tekan, keluhan tersebut di rasakan semakin hari semakin membesar, dan disertai dengan
keluhan nyeri teggorokan dan nyeri menelan. Keluhan ini disertai demam yang tiba-tiba
meninggi namun dengan frekuensi yang naik turun, batuk berdahak, dahak sulit dikeluarkan,

pilek, pusing, namun tidak sesak napas. Pasien mengeluh nafsu makan menurun namun tidak
mual dan muntah. Pasien belum berobat untuk keluhan ini. Ibu pasien mengatakan bahwa ada
tetangga di lingkungan dan teman-temannya yang menderita keluhan yang sama seperti ini
sebelumnya. Riwayat keluhan yang sama disangkal. Riwayat alergi disangkal. Riwayat
keluhan yang sama disangkal. Riwayat kebersihan diri kurang. Riwayat lingkungan tempat
tinggal cukup sehat. Riwayat sosial ekonomi menengah kebawah. Riwayat kelahiran baik,
tumbuh kembang dbn, imunisasi sesuai anjuran, riwayat makan dbn, tidak ASI ekslusif.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan kesan febris. Tidak ada kesan kelainan organ dan
sistem organ. Status Lokalis : Benjolan pada regio Submandibula dextra, bentuk bulat, difus,
permukaan rata, konsistensi kenyal, batas tidak tegas, terfiksir, nyeri tekan (+). Dengan
melihat hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik ditegakkan diagnosis kerja Paotitis yang
kemudian

diberikan

penatalaksanaan

medikamentosa

berupa

antipiretik,

analgetik,

ekspetoran dan multivitamin tambahan serta non medikamentosa yaitu Isolasi (menggunakan
masker) untuk mencegah penularan, Istirahat selama periode demam, Menjaga personal
hygiene, Berikan makan lembut sedikit demi sedikit dan makanan kecil tambahan yang tepat.
Menghindari makanan asam dan pedas, Berikan banyak minum.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Parotitis merupakan penyakit yang bersifat self-limited (sembuh/hilang sendiri) yang
berlangsung kurang lebih dalam satu minggu. Tidak ada terapi spesifik bagi infeksi
virus Mumps oleh karena itu pengobatan parotitis seluruhnya simptomatis dan
suportif. Hampir semua anak yang menderita gondongan akan pulih total tanpa
penyulit, tetapi kadang gejalanya kembali memburuk setelah sekitar 2 minggu.
Keadaan seperti ini dapat menimbulkan komplikasi, dimana virus dapat menyerang
organ selain kelenjar liur. Hal tersebut mungkin terjadi terutama jika infeksi terjadi
setelah masa pubertas. Komplikasi yang dapat timbul dan harus diwaspadai meliputi

septicemia, osteomielitis mandibular, ekstensi fasial, obstruksi jalan napas,


mediastinitis, thrombosis vena jugulris interna, dan disfungsi nervus fasialis. Pada
beberapa kasus juga telah dilaporkan dapat menyebabkan meningoensefalitis,
pankretitis, orkitis, miokarditis, perikarditis, arthritis, dan nefritis.
B. SARAN
1. Pemberian Vaksin, Vaksin umum yang diberikan adalah dalam bentuk kombinasi
MMR ( mumps, measles, rubella). Vaksin MMR mulai diberikan pada umur 12-15
bulan dan pemberian ulangan diberikan pada usia 4-6 tahun.
2. Pencegahan penyebaran virus, dilakukan melalui pola hidup sehat dan menjauhi
atau menghindari kontak dengan penderita

DAFTAR PUSTAKA
Abbas Merdjani, 2002. Parotitis Epidemika, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak : infeksi dan
penyakit tropis ; Balai Penerbit FKUI Jakarta
Anonim, 2005, Pediatric Clinical Practice Guideline for Parotitis, diambil dari
http://www.hc-sc.gc.ca/fnisah-spnia/pubs/services/2001pedguide/chap18beng.php
Anonim,2008.parotitis,diambil dari http://www.wikipedia.com/parotitis.htm
Brunell A. Philip, 1995. Buku Ajar pediatric Rudolph. Ed 20, Jakarta, EGC.
Jerry

W.

Templer,

2008.

Parotitis

diambil

dari

http://www.emedicine.medscape.com/Parotiti/882461-print.htm
Komite medic, Standar Pelayanan Medis parotitis Epidemika, Standar Pelayanan Medik
RSUP dr.Sardjito ; Penerbit Medika fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada
Snell S. Richard, 2006. Anatomi Klinik, Ed-6. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.